3 Missions Before I Die

Judul : 3 Missions before I die

Author : Zulva a.k.a Vaza a.k.a Ayumivaza

Genre : Friendship, Romance, tentukan sendiri (?)

Casts : Kim Kibum, Lee Youn Hee, Lee Jonghyun, Minho, Jinki, Taemin.

Karena sering baca ff di sini, aku jadi tertarik untuk buat ff  juga. Jadi inilah ff perdanaku. Miiian kalau ceritanya gaje, soalnya authonya juga gaje *plakk* Selamat membaca … dan jangan lupa komen ^^

Kibum membuka amplop itu dengan kasar. Dia sama sekali tidak peduli dengan amplop itu maupun isinya. Apa yang mungkin terjadi? Dia hanya seorang namja berudia 19 tahun yang sehat walafiat, baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung. Pikiran itu membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak. Seorang Kim Kibum baik hati? Yang benar saja!

Kibum melirik yeoja di sebelahnya. Yeoja itu memandang amplop di tangan Kibum dengan campuran antara rasa tertarik dan penasaran.

“Yaa! Young Hee, kau saja yang baca. Bukannya dari awal kau yang ribut menyuruhku melakukan tes ini,” kata Kibum, sebelum akhirnya dia melempar amplop itu tepat di depan muka si yeoja.

Young Hee mendelik marah. Dia memungut amplop yang jatuh di depannya dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam. Jari-jarinya yang mulus membuka lipatan kertas satu demi satu. Dia membaca surat itu dengan seksama, kemudian wajahnya berubah pucat.

“YOUNG HEE,” teriak Kibum sambil mengguncang pundak Young Hee, “mengapa kau pucat begitu? Kau mau menakutiku ya? Palli, bacakan isi surat terkutuk itu.”

“Di sini tertulis kau menderita kanker stadium 4 dan hidupmu hanya tinggal dihitung hari,” Young Hee memandang wajah Kibum yang shock, “baca sendiri kalau tidak percaya!”

Kibum merampas surat itu dan membacanya. Young Hee benar. Dan di bagian bawah surat itu tertera tanda tangan Lee Jonghyun, kakak Young Hee sekaligus dokter yang memeriksanya.

“MWO? Ini semua salahmu! Kau yang menyuruhku melakukan check up terkutuk ini. Kau dan kakakmu pasti sedang menertawakanku, iya kan?”

“Yaa! Kibum! Aku menyuruhmu check up juga untuk kebaikanmu. Kau ini memang benar-benar gila! Hidupmu tinggal satu hari dan kau masih sempat berteriak kepadaku.”

“Ini tidak mungkin,” kata Kibum seolah pada dirinya sendiri. Dia memandang kertas itu tidak percaya, “Aku tidak pernah melakukan hal yang salah. Aku selalu baik pada …”

“HAH!?” potong Young Hee, “Seorang Kim Kibum baik hati? Yang benar saja!”

“Hey! Dasar plagiat! Itu tadi yang kau ucapkan adalah kata-kataku!”

“Sekarang aku yakin kau benar-benar gila. Hey, Kim Kibum, Kau tidak pernah mengucapkan kata-kata itu sekalipun hari ini.”

“Aku mengucapkan kata-kata itu dalam pikiranku! Tanya aja authornya kalau gak percaya” kata Kibum tidak mau kalah *author: gak usah bawa-bawa gua dong*

“Kalaupun aku bisa membaca pikiran orang, aku sama sekali tidak berminat masuk ke dalam OTAK KOTORMU itu!”

“LEE YOUNG HEE! Kau benar-benar …” Kibum mengangkat tangannya, seperti ingin menampar, tapi kemudian membatalkannya. Dia duduk lemas di kursi, lalu menangis.

*********

5 menit …

10 menit …

20 menit …

Sudah 20 menit mereka duduk tanpa suara. Dan 20 menit adalah waktu terlama yang bisa ditoleransi Young Hee untuk menekan kesabarannya. Sekarang waktunya untuk memecah keheningan. Ia harus melakukannya, harus!

“Yaa, Kim Kibum, kau belum mati kan? Kumohon, jangan mati sekarang. Kau masih ada hutang 10.000 won padaku. Lunasi dulu hutangmu, baru kau bisa mati dengan tenang,” kata Young Hee berusaha memecah keheningan di antara mereka. Tapi Kibum tetap diam, telapak tangan menutupi wajahnya yang pucat. Dari sela-sela jari Kibum, Young Hee bisa melihat air mata jatuh satu demi satu. Kibum tetap seperti itu sejak 20 menit yang lalu.

“Kibum-ssi, ayo kita main monopoli.” Sunyiii.

“Kibum-ssi, lihat itu ada Nicole KARA!” Masih tidak ada jawaban.

“Kibum-ssi, kalau kau begini terus, maka aku yang akan mati. Dan kalau itu terjadi, maka aku akan memberitahu semua orang kalau kau yang menyebabkanku mati.”

Sepertinya usaha terakhir Young Hee berhasil. Kibum mengangkat wajahnya, matanya merah. Dia menatap Young Hee nanar, lalu tersenyum miris, “Jonghyun hyung tidak akan memaafkanku kalau kau sampai mati. Apakah aku sejahat itu sampai membuatmu menderita?”

“Aiigoo, Kibum. Apakah selama ini kau tidak menyadari bahwa kau ini anak yang menyebalkan? Ingat waktu kau memberikan kisi-kisi soal yang salah pada Jin Ki hingga dia mendapatkan nilai rendah? Kau kan tahu betapa berartinya nilai bagi anak pintar seperti Jin Ki…”

“Itu karena dia tidak mau memberikan contekan padaku. Pelit sih jadi orang,” bantah Kibum tidak mau kalah

“Lalu kau juga pernah memakainkan Taemin wig ketika dia tidur, memotrertnya, lalu menyebarkannya ke seluruh kampus…”Young Hee tidak berhenti nyerocos.

“Siapa suruh punya wajah seperti perempuan…”

“Lalu kau merebut Hye Rin dari Minho. Aku tahu kau tidak benar-benar menyukai Shin Ra, kau hanya iri melihat Minho mendapatkan yeoja tercantik di kampus. Iya kan?”

“Aku hanya ingin memberi pelajaran pada si sok keren Minho. Lagian aku sudah memutuskan hubungan dengan gadis manja menyebalkan bernama Shin Ra …”

Entah mengapa, Young Hee benar-benar senang mendengar pernyataan Kibum yang terakhir. Dia kembali memutar otak mencari kesalahan-kesalahan Kibum, “Oh ya, kau pernah bilang pada Jonghyun oppa kalau aku kecelakaan. Oppa sampai membawa ambulans dan teman-teman dokternya, tapi ternyata dia menemukanku dalam keadaan sehat walafiat. Kau tahu betapa malunya oppa pada teman-temannya?”

“Aku mengerjainya karena sifat sok-sokan kakakmu itu, baru berapa bulan jadi dokter aja udah belagu. Hey, tunggu dulu! Kau mengatakan itu semua seakan-akan aku ini orang jahat!”

“Itu karena kau memang jahat, Kibum. Kau saja yang tidak punya kaca sampai tidak menyadarinya.”

Kibum diam lagi. Tatapannya kosong. Apakah dia sejahat itu? Tidak, dia punya alasan yang kuat untuk melakukan semua itu, tapi Young Hee tidak akan mengerti. Ya, Young Hee tidak akan mengerti, jadi dia tidak perlu menjelaskannya.

“Jadi apa yang harus kita, maksudku yang harus ‘aku’ lakukan dalam dalam hari-hari terakhir ini?” Tanya Kibum, badannya menjadi lesu.

Young Hee mengangkat wajahnya, sekarang mata mereka bertatapan, “Kau tahu? Di sini tertulis kau bisa mati kapan saja, dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Menurutku kau harus menyelesaikan semua masalhmu hari ini, Kibum, jadi kau harus minta maaf pada mereka semua.”

Kibum menatap Young Hee tidak percaya, berharap ada sedikit lelucon dalam kata-katanya. Tapi Young Hee benar-benar serius. Apakah dia, Kim Kibum, harus melakukan hal yang paling dia benci, merendahkan derajatnya dan meminta maaf?

*****

“Mau apa kalian kemari?”

Sosok tinggi jangkung menyambut mereka di depan pintu. Sepertinya dia benar-benar terganggu dengan kehadiran dua makhluk tidak diundang.

“Minho-ssi, mianhe jika kami mengganggumu. Kami janji tidak akan lama-lama. Kami ke sini karena ada sesuatu yang ingin Kibum katakan,” Young Hee menarik Kibum yang dari tadi hanya menunggu di belakang. Sekarang Kibum dan Minho berhadapan.

“Mmmm, Minho. Aku tadi mau ngomong apa ya? Oh iya, a.. aku mau minta maaf kalau selama ini aku ada salah, walaupun aku tahu aku gak pernah berbuat salah sama … AWWW, YOUNG HEE, SAKIT TAU!” teriak Kibum sambil mengelus lengannya yang dicubit Young Hee. Young Hee, sang pelaku, hanya memasang wajah polos seakan-akan dia tidak melakukakan sesuatu yang salah.

“Maksudmu masalah Shin Ra? Baiklah, aku akan memaafkanmu, tapi kau harus menyerahkan gadis itu kepadaku, dia cukup manis,” kata Minho, jarinya menunjuk Young Hee. Young Hee bisa merasakan wajahnya memerah. Young Hee menatap Kibum, menunggu jawabannya.

“Oh, ambil saja. Dengan senang hati akan aku berikan padamu. Aku juga tidak membutuhkan yeoja pabo yang selalu mengikutiku ke mana-mana.”

Young Hee memandang namja di sebelahnya dengan kecewa. Hanya begitukah pandangan Kibum tentangnya? Apa dia berharap terlalu banyak?

“Hahahaha.. aku hanya becanda,” Minho tersenyum, senyumnya sangat manis, “Aku sudah memaafkanmu dari dulu, Kibum, malah aku ingin berterima kasih padamu. Kau membuatku menyadari bahwa Shin Ra bukanlah gadis yang setia, dia bahkan bukan gadis yang baik untukku. Kkaja, pergilah! Sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar merebut pacarmu itu.”

“Gomawo, Minho, karena kau sudah mengerti. Dan sekedar pemberitahuan, gadis bodoh ini bukan pacarku.” Mereka berpamitan, lalu melanjutkan perjalanan dengan mobil Kibum. Misi pertama selesai dengan mudah.

*****

“Kumohon, Jinki, apa kau masih tidak mau memaafkanku?” Mereka sudah memohon selama setengah jam, tapi Jinki benar-benar keras kepala.

“Memaafkanmu, Kibum? Jangan bercanda! Kau telah menghancurkan koleksi nilai sempurnaku dengan angka merah!”

“Yaa~ Jinki. Kau bilang nilai 6 itu angka merah? Aku mungkin harus begadang di perpustakaan baru bisa mendapatkan nilai segitu,” kali ini Kibum benar-benar meledak.

“Itu memang karena otakmu yang …”

“Yang apa? Tidak ada yang salah dengan otakku. Aku memang tidak pintar, tapi aku tidak pelit seperti kau!” Mereka saling melotot, sepertinya tidak ada yang mau mengalah.

“Jinki-ssi, kulihat kau memiliki ensiklopedia bebas. Apa aku boleh meminjamnya?” Young Hee akhirnya buka suara. Kibum meliriknya kesal, bagaimana bisa dia berkata begitu di saat seperti ini?

“Hah? Apa kau bilang tadi?” sepertinya Jinki juga terkejut dengan perkataan Young Hee yang di luar topik.

“Aku bilang, aku mau meminjam ensiklopedia. Apakah boleh?”

“Oh, ensiklopedia ya? Ada sih, tapi tidak lengkap, aku tidak punya yang edisi lima sampai tujuh,” kata Jinki sambil menunjuk tumpukan bukunya.

“Young Hee, buat apa kau meminjam pada si pelit ini? Dia itu cuma banyak alasan, sebenernya dia sama sekali tidak mau meminjamimu. Kenapa kau tidak pinjam padaku saja sih? Aku juga punya ensiklopedia seperti itu,” tukas Kibum kesal.

“Yaa~ aku tidak bohong! Aku memang tidak punya edisi yang lima sampai tujuh.”

“Jinki-ssi, bagaimana kalau …” Young Hee membisikkan sesuatu ke telinga Jinki dengan misterius, membuat Kibum penasaran. Dia berusaha ikut mendengar tapi hasilnya nihil.

“Benarkah? Kau serius?” Jinki membelalkkan matanya tidak percaya.

Young Hee mengangguk mantap, “Tentu saja. Kau bisa pegang janjiku.”

Wajah Jinki terlihat bingung, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. “Baiklah, Kibum, aku sudah memaafkanmu. Sekarang pergilah! Aku sudah pusing melihat wajahmu itu,”kata Jinki pada akhirnya. Dia mendorong Kibum dan Young Hee keluar dari rumahnya, lalu menutup pintu tepat di depan wajah mereka tanpa membiarkan mereka mengucapkan sepatah katapun.

“Apa yang kau katakan sampai membuatnya berubah pikiran?” Tanya Kibum penasaran setelah mereka berada agak jauh dari rumah Jinki.

“Tidak ada. Aku hanya bilang akan memberikannya ensiklopedia edisi lima sampai tujuh secara cuma-cuma, asal dia mau memaafkanmu,”jawab Young Hee santai.

“Oooh, begitu,” tapi tunggu dulu, sepertinya ada yang janggal.”Young Hee, tapi kan kau tidak punya ensiklopedia seperti itu.”

“Aku memang tidak punya, tapi kau kan punya. Tadi kau bilang begitu kan? Jadi ya, kau harus merelakan ensiklopedia itu untuk Jinki.”

“MWO? Kau mau memberikan ensiklopediaku pada si pelit itu? Secara Cuma-Cuma?”

“Iya, Kim Kibum. Lagian kau tidak membutuhkannya lagi, kau kan mau mati,” Young Hee menepuk pundak Kibum dengan wajah sok perihatin.

Kibum memandang yeoja di sebelahnya. “Segitu mudahnya kah dia mengucapkan kata ‘mati’? Seperti ini semua hanya lelucon, atau memang ini hanya mimpi? Apa dia tidak sedih? Bukankah hidupku sudah diambang penghabisan? Mengapa dia tidak menangis, atau memelukku, atau berkata ‘saranghae’? Oh, Tuhan, aku bahkan belum sempat membuat pengakuan padanya. Apakah aku masih punya waktu?” Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam benak Kibum, namun dia hanya bisa menghela nafas dan kembali focus pada setirnya.

*****

Wajah Taemin langsung tidak enak begitu melihat Kibum, tapi langsung berubah cerah saat melihat Young Hee juga datang.

“Young Hee, ayo masuk. Jarang-jarang kau mau main ke sini,” kata Taemin ceria. Dia menarik tangan Young Hee dan mengajaknya masuk, mengabaikan Kibum begitu saja seakan-akan dia tidak ada di sana.

“Taemin~ah, rumahmu sangat bagus. Kalau tahu begitu aku akan sering-sering main ke sini. Apa kau tinggal sendiri?” tanya Young Hee begitu mereka sudah duduk.

“Tidak, aku tinggal dengan hyungku. Umma juga sering datang kemari. Tadi pagi umma baru datang dari Incheon. Beliau sedang istirahat di atas. Oh ya, kau mau minum apa?” Tanya Taemin. Kata ‘kau’ dengan amat sangat jelas menyiratkan bahwa kehadiran Kibum benar-benar tidak diharapkan.

“Tidak usah repot-repot Taemin~ah, air putih saja.”

“Tuh, liat kan? Aku jadi kayak tembok aja di sini,” kata Kibum ketika Taemin pergi mengambil minuman. Young Hee menempelkan jari telunjuk di bibirnya, menyuruh Kibum diam, dan memasang wajah ‘biar-aku-yang-tangani’

“Ini minumannya, diminum ya,” Taemin datang dengan hanya membawa—sudah diduga—satu gelas air putih. Kibum mendengus kesal dan sudah siap membuka mulut, tapi tiba-tiba seorang wanita muda muncul dari arah dapur. Wanita itu cantik, pakaiannnya juga terkesan mewah. “Nuguseyo, Taemin~ah?”

“Umma,” Taemin menghampiri wanita itu dan mengajaknya ikut duduk, “perkenalkan, ini ummaku, beliau baru datang dari Incheon. Umma, ini Lee Young Hee, oh, tunggu sebentar, handphoneku berbunyi.” Taemin beranjak untuk menjawab teleponnya. Tak berapa lama kemudian, dia kembali ke ruang tamu. Mukanya terlihat bingung.

“Lee Young Hee, sini sebentar,” Taemin menarik tangan Young Hee menjauhi Kibum dan ummanya, “Aku sekarang ada latihan dance untuk pertandingan besok, tapi aku tidak mungkin meninggalkan ummaku karena dia baru datang dan besok akan kembali lagi ke Incheon. Kau mau menemaninya jalan-jalan keliling Seoul kan? Mau ya? Mau ya?” Taemin mulai melancarkan serangan aegyo-nya, membuat Young Hee tersihir untuk sementara dan lupa daratan *halah, author lebay*

Young Hee tersenyum penuh arti, “Boleh, tapi ada syaratnya.”

*******

“Hoahh! Aku capek! Benar-benar membuang waktu saja,” Kibum mengomel sepanjang jalan sambil menyetir mobil. Mereka sudah membuang 5 jam waktu berharganya hanya demi kata maaf. Benar-benar menyusahkan.

“Setidaknya Taemin sudah memaafkanmu, Kibum. Lagian ummanya Taemin baik kok, dan perjalanan tadi cukup menyenangkan.”

“Iya, kamu mah enak, orang semuanya aku yang bayar,” kata Kibum jengkel. Dia benar-benar terkejut waktu Young Hee mengatakan bahwa Taemin akan memaafkannya asalkan mereka mengajak ummanya jalan-jalan. Yah, it’s fine. Cuma jalan-jalan aja kan? Tapi yang bikin jengkel, ummanya Taemin pake acara ketinggalan dompet, yang membuat Kibum terpaksa membayar belanjaannya yang bejibun.

“Kibum, aku turun dulu ya. Gomawo tumpangannya dan jaga dirimu baik-baik,” kata Young Hee begitu sampai di rumahnya. Dia melepaskan seatbelt dan membuka pintu mobil.

“Lee Young Hee … Tunggu dulu! Ada yang mau kukatakan.”

Young Hee membeku di tempat, tangannya mencengkeram gagang pintu mobil yang belum sempat terbuka. Ia membalikkan badannya menghadap Kibum, “Ne, woaeyo Kibum ah?”

“Anni .. Tidurlah yang nyenyak”

“Kau juga.”

Kibum hanya bisa menatap nanar Young Hee yang turun dari mobilnya begitu saja. Dia menunggu sampai gadis itu masuk rumah, baru kemudian memacu mobilnya. Hanya begini sajakah akhir kisahnya?

******

Kibum POV

Sakit. Kepalaku sakit sekali. Tanganku meraba-raba mencari tombol lampu, aku tidak bisa terus barada dalam kegelapan seperti ini. Tanganku mendeteksi keberadaan sebuah benda seperti saklar, dan aku menekannya. Seketika cahaya lampu menerangi seluruh ruangan, membuat semua benda di kamarku terlihat jelas. Aku menghampiri kasurku dengan terhuyung-huyung, kepalaku terasa berat dan badanku sangat lemas. Aku merebahkan diriku disana, rasanya sangat nyaman, seperti tidur di atas gumpalan awan. Aku memandang langit-langit kamarku yang dicat putih polos, dan memikirkan semua kejadian tadi. Tanpa terasa air mata yang dari tadi kutahan selama 12 jam, mulai mengalir satu persatu. Yah, aku menangis. Aku membuka topeng yang kupakai sejak tadi, dan inlah aku yang sebenarnya, seorang Km Kibum yang cengeng dan lemah.

Aku tidak pernah membayangkan ini semua akan terjadi padaku. Bukankah ini hanya terjadi pada drama-drama romantis, dimana salah satu tokohnya mengidap penyakit mematikan dan divonis hidup tidak lama lagi? Hal itu tidak mungkin terjadi padaku, tidak mungkin! Aku bahkan tidak pernah merasakan sakit apapun. Ini semua pasti hanya lelucon, atau mimpi. Yah, ini mimpi. Tapi mengapa Minho, Jinki, dan Taemin ada di sana? Aku tidak pernah mengundang mereka untuk masuk ke dalam mimpiku. Bukan hal aneh kalau Young Hee hadir dalam mimpiku, tapi Minho, Jinki, dan Taemin? Oh Tuhan, ini bukan mimpi, ini kenyataan yang mengerikan.

“Kau tahu? Di sini tertulis kau bisa mati kapan saja, dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Menurutku kau harus …” Kata-kata Young Hee kembali terngiang di kepalaku. Oh Tuhan, suara itu .. Sanggupkah aku meninggalkan suara itu? Sanggupkah aku kehilangan orang yang paling kucintai? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok .. Ya, tidak ada yang tahu. Aku harus membuat pengakuan sekarang, sebelum semuanya terlambat. Kisahku tidak boleh berakhir seperti ini!

Aku berjalan menghampiri komputerku. Aku terlalu pengecut untuk meneleponnya secara langsung. Aku tidak mau dia tahu aku menangis, aku tidak mau dia tahu sisi lain diriku yang lemah. Itulah mengapa dari tadi aku hanya memasang wajah sok tegar dan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa, padahal hatiku menangis. Aku tidak mau membuatnya sedih.

Dear Lee Young Hee

Hai, pabo! Kau pasti sudah tidur jam segini. Iya kan? Kau kan tukang tidur, jadi aku tidak menyalahkanmu kalau kau sudah berkelana di alam mimpi.  Tapi kalau kau belum tidur, aku harap kau membuka inboxmu dan membaca e-mailku ini. E-mail ini aku buat hanya untuk berjaga-jaga, kau tahu maksudku kan? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.

Young Hee, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Saat aku melihat surat vonis itu rasanya aku ingin berteriak sekeras-kerasnya, menangis dan memaki-maki takdirku. Tapi aku teringat akan dirimu. Aku ingat kau berdiri di sebelahku. Aku tidak ingin kau melihatku seperti itu, aku takut kau menjadi sedih. Aku tidak ingin membuatmu menangis, tapi sebagian kecil hatiku berharap agar kau menangis. Yah, aku sedikit berharap kau menangis. Mengapa kau tidak menangis Young Hee? Bukankah hidupku hanya tinggal beberapa hari? Meskipun seandainya kau tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapku, tidak bisakah kau ikut menangisi takdirku? Sebagai seorang teman?

Lalu kau mengatakan kata-kata itu. Kau bilang aku harus minta maaf, padahal kau tahu aku paling tidak suka meminta maaf. Tapi semua itu aku lakukan demi kau, walaupun aku tahu pasti aku tidak pantas minta maaf pada mereka semua. Ingatkah waktu Jinki dan kau satu kelompok dalam perlombaan fisika, dan kau melakukan satu kesalahan kecil hingga membuat kelompok kalian kalah? Aku ingat dengan jelas bagaiman Jinki membentak dan memaki-makimu di depan umum. Aku benci itu. Aku benci cara dia mempermalukanmu. Menurutku pembalasan yang aku berikan tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau rasakan. Taemin? Aku juga benci anak itu. Tidak sadarkah kau telah dimanfaatkan olehnya? Dia selalu menggunakan aegyo dan muka manisnya untuk memanipulasimu. Aku tahu kau selalu mengerjakan PR-nya, meneraktirnya es krim, melakukan apa saja untuknya, hanya karena kau tidak tega melihat wajah innocent-nya. Anak itu benar-benar seperti Lucifer. Lalu Minho. Dia benar-benar buaya darat. Dia taruhan dengan teman-temannya, bahwa dia akan memacari yeoja tercantik dan terpintar secara bersamaan. Dia sudah mendapatkan yang tercantik, dan dia hanya tinggal membutuhkan yang terpintar. Jadi Minho mengincarmu, Young Hee, untuk memenangkan taruhannya. Aku tidak bisa menerima itu. Aku tidak bisa membayangkan kau dipermainkan olehnya, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Untunglah Shin Ra segera tau kalau dia hanya dijadikan taruhan. Jadi kami, aku dan Shin Ra, merancang sekenario palsu dimana kami pura-pura pacaran untuk membalas Minho dan mempermalukannya di depan teman-temannya. Kau lihat? Aku melakukan itu semua demi kau, demi melindungimu. Aku tidak suka melihatmu dibentak, dimanfaatkan, atau dipermainkan. Itu karena aku begitu menyayangimu … tidak … aku begitu mencintaimu.

Aku begitu mencintaimu, Lee Young Hee. Butuh 19 tahun bagiku untuk menyadari semua itu, padahal waktuku tidak lagi banyak. Aku terlalu pengecut untuk mengatakannya padamu. Aku takut kau akan benci padaku. Aku sangat takut akan hal itu. Sampai sekarangpun aku masih takut, tapi sekarang ada ketakutan yang lebih besar. Aku takut pada kematian. Aku tidak menyangka dia akan sedekat ini denganku. Aku takut pada kenyataan bahwa aku akan meninggalkan kamar ini, orang tuaku, dan kau … Aku tidak sanggup berpisah darimu. Aku tidak sanggup membayangkan kau sendirian tanpa aku. Siapa yang akan melindungimu? Menjagamu?

Lee Young Hee, berjanjilah kau akan bahagia, dengan atau tanpa aku. Kau harus menjadi gadis yang kuat, arasso? Terima kasih telah membuat hari-hariku lebih bermakna. Sarangheyo ….

******

Aku membuka mata.

Badanku terasa sakit, ternyata aku tertidur di meja computer. Aku berdiri dan merenggangkan otot-ototku yang kaku. Sepertinya Tuhan masih memberikanku satu hari lagi. Mejaku agak basah. Aku tidur sambil menangis. Aku mengambil tissue dan mengelapnya, Tanganku tanpa sengaja menyenggol mouse, menyebabkan computer yang belum sempat kumatikan itu kembali menyala. Oh, ada e-mail masuk. Aku membukanya dengan segera. Dari Young Hee…

To : Kim Kibum

Aku ingin menyampaikan kalau e-mailmu sudah sampai dengan selamat, tidak perlu khawatir. (^_^) Aku sudah membacanya bersama Jonghyun oppa. Kau tahu? E-mailmu membuat kami tertawa terbahak-bahak, Jonghyun oppa bahkan sampai berguling-guling di lantai. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajahmu saat membuatnya. Wkwkwkwkw .. Haduh, aku sakit perut karena kebanyakan ketawa f(-_-)

Nah, ini bagian terpentingnya. Siapkan jantungmu kalau kau tidak mau benar-benar mati.

Kim Kibum, aku juga mau membuat pengakuan, sebenarnya …  SURAT VONIS  ITU PALSU … Wkwkwkwk … Senangnya … Dari dulu aku ingin sekali mengerjaimu. \(^o^)/ Lagian kau pabo, kau kan sudah tahu kalau kakakku itu dokter, jadi aku bisa dengan mudah membuat surat seperti itu. Awalnya Jonghyun oppa juga tidak setuju, tapi dia masih dendam sama kejadian tempo hari waktu kau mempermainkannya. Jadilah kami mengerjaimu. Sebenarnya check up itu tidak main-main, Jonghyun oppa benar-benar memeriksamu, hanya saja kami menyembunyikan surat yang asli dan memberikanmu surat vonis palsu. Suratnya yang asli ada di tanganku. Di sini tertulis kau sehat sehat saja, hanya ada sedikit masalah di bagian lambung, tapi tidak parah. Setidaknya kau tidak akan mati dalam waktu dekat (~_~)

Sekarang kau pasti tidak heran mengapa aku tidak menangis. Aku tidak bisa menangis, Kibum, aku bahkan ingin tertawa melihat wajahmu yang pura-pura tegar. Tapi aku senang kau akhirnya minta maaf, meskipun menurut penjelasanmu kau tidak salah, tapi apa salahnya minta maaf? Aku hanya ingin memberimu sedikit pelajaran, Kibum, dan aku yakin sekarang kau sudah berubah. Yah, meskipun begitu aku ingin berterima kasih padamu. Terima kasih atas segala yang telah kau lakukan padaku. Terima kasih karena kau telah menjadi Guardian Angel-ku.

Sudah dulu ya. Jangan disesali Kibum, ambil aja hikmahnya, setidaknya sekarang kau harus membeli ensiklopedia baru. Wkwkwkw .. Oh ya, dapet salam dari Jonghyun oppa, katanya kau tidak perlu khawatir, kalau kau mati, dia akan menyewa bodyguard lain untuk menjagaku.

NADO SARANGHE KIM KIBUM … Wkwkwkwk (^.^)

Dari ‘yeoja yang telah membuat hidupmu lebih bermakna’,

Lee Young Hee

PS : Kau tidak akan menemukanku dan oppa dalam dua minggu ini, karena kami sekeluarga sedang liburan ke Pusan. Jadi lebih baik kau simpan omelan dan maki-makianmu itu sampai kami kembali (~.^)v

Aku membaca e-mail itu dengan seksama. Dua kali. Tiga kali. Hah! Jadi aku tidak akan mati? Benar kataku, ini semua hanya lelucon! Pantas saja aku tidak pernah merasakan sakit apapun. Leganya … Tunggu dulu, seharusnya reaksiku tidak begini. Aku memang lega dan senang, tapi seharusnya aku merasakan emosi yang lain. Aku seharusnya melakukan sesuatu, tapi apa? Aku begitu shock sampai otakku tidak bekerja secara sempurna. Aku harus menjernihkan otakku dulu.

Satu menit kemudian

“YAA~ LEE YOUNG HEE! KAU KURANG AJAR” teriakku begitu otakku jernih, Aku baru sadar kalau aku dipermainkan (-_-) “HA! TUNGGU SAJA! KALAU SAMPAI KAU DAN KAKAKMU ITU KEMBALI! AIISH, KAU BENAR-BENAR YEOJA PABO! SEHARUSNYA AKU TIDAK MENGIRIM E-MAIL ITU! AAAARGH…”

***End***

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

59 thoughts on “3 Missions Before I Die”

  1. Hahaha
    KiBum manly banget, lindungin YoungHee dengan segala cara.
    Tapi asli kerjainnya hebat banget, Sampai ngakak ga keruan dari pengakuan YoungHee

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s