WEIRD WAY

WEIRD WAY

Cast:    Choi Min Ho, Choi Hyun Mi, Lee Tae Min, Park Ji Eun

Author: Nisaa~

Genre: Romance (?)

Length : Oneshot

Hyun Mi POV

‘Huuh… sebal!! Kenapa sih gadis itu lagi yang datang?!’ gerutuku sambil mebuka pintu.

“Annyonghaseo… Apa Min Ho-oppa ada?” tanya gadis setelah kubuka pintu.

Kuamati baju gadis itu. Baju lengan pendek warna pink dan rok pendek warna putih juga tas warna pink melingkar di bahunya. Aku mengangguk, “Masuklah. Dia sedang mandi.”

Gadis itu masuk. Aku mempersilahkannya duduk.

“Sepi sekali.” denga nada yang tidak ramah.

“Aku ingin tau, sebenarnya apa hubunganmu dengannya?”

Gadis itu menatapku sebentar lalu ia memalingkan mukanya, “Aku teman satu kuliah Min Ho. Mungkin sebentar lagi, aku akan jadi pacarnya.”

“Kau benar-benar suka pada Min Ho?” tanyaku datar.

“Apa aku harus jawab. Memang kau siapa? Kau bukan adik Min Ho-oppa kan? Dia kan tidak punya adik perempuan.”

Aku hanya menatapnya. Ugh..nada bicaranya itu!!!!

“apa Min Ho bilang ia akan jadi pacarmu?”

Ketika ia akan menjawab, langsung kuserobot, “Ah… sudahlah.. tidak usah kau jawab. Aku mau panggil Min Ho dulu.”

Aku naik ke lantai atas. Kubuka pintu kamar oppa. Tampak oppa yang baru selesai mandi.

“Oppa… ada tamu. Gadis yang kemarin.” panggilku. Aku masuk dan duduk di atas kasurnya.

“Hah? Dia datang?”

Aku mengerucutkan bibirku.

“Hyunnie, kau kenapa?” tanya oppa sambil menggantungkan handuknya di pintu kamar mandi.

“Tidak… aku tidak apa-apa. Hmmm… oppa, siapa sih gadis itu?”

Min Ho-oppa duduk disampingku, “Dia bukan siapa-siapa oppa.”

“Dia bukan teman oppa?”

“Oppa baru mengenalnya seminggu yang lalu.”

“Sebenarnya aku tidak perlu heran,oppa. Tapi, baru kali ini ada gadis yang berani ke rumah, apalagi gadis ini datang sendiri.”

Oppa tertawa mendengar celotehan-ku. Diraihnya tanganku, “Kkaja…temani aku. Aku yakin ia takkan berani macam-macam kalau ada dongsaeng-ku.”

“Oppa… ia tidak tau kalau oppa punya adik perempuan.”

“Benarkah?” tanya Min Ho-oppa heran.

Aku mengangguk, “Dia sangat tidak sopan saat bicara denganku, oppa… nada bicaranya itu seperti meremehkanku.”

Min Ho-oppa terkejut mendengar ucapanku, “Lalu, kenapa tidak kau bilang bahwa kau adik oppa.”

“Untuk apa kubilang,oppa. Seharusnya kalau dia memang perempuan baik, dia akan sopan pada siapa saja. Apa dia bersikap manis didepan oppa?”

Min Ho-oppa mengangguk.

“Oppa, begini saja. Oppa jangan mengatakan bahwa aku adik oppa.”

“Kau masih ingin menguji nya Hyun Mi?”

“Sebenarnya aku tak perlu lagi mengujinya. Tapi, aku ingin tau sifat aslinya.”

Min Ho-oppa menarik nafas panjang, “Baiklah…!”

Aku tersenyum. Min Ho-oppa juga tersenyum manis.

“Oia, oppa… ada untungnya juga umma tidak meletakkan foto keluarga kita di ruang tamu.”

Min Ho-oppa tertawa.

Min Ho POV

Ash.. benar-benar tidak kuduga. Gadis ini datang lagi. Song Jae Kyung. Aku baru mengenalnya seminggu atau lebih tepatnya 6 hari yang lalu. Dari matanya aku tau, ia suka padaku. Bukan suka yang tulus (sama seperti yeoja-yeoja yang ingin dekat denganku). Ia hanya suka aku karena aku (ehem) tampan. Buktinya, Hyun Mi bilang, Jae Kyung tidak berbicara dengan sopan padanya.

“Ehem.”

Gadis itu berdiri dan menyapaku dengan manis, “Annyonghaseo, Min Ho-oppa.”

Aku langsung duduk di sofa yang ada di depannya, “Ada apa kau kemari?”

Ia tersenyum lalu duduk, “Aku datang kemari untuk minta bantuanmu.”

“Bantuan apa?”

“Aku ingin masuk klub seni kampus kita. Kudengar kau tergabung di klub seni. Apa kau bisa membantuku?” tanya nya dengan nada yang sangat manis.

Aigoo…alasan macam apa itu? apa ia tak bisa mengatakannya melalui telpon, sms atau di kampus saja? Dia bodoh sekali. Lagipula, kenapa harus aku? Ketua klub seni kan Jong Hyun.

Tiba-tiba Hyun Mi datang membawakan 2 gelas minuman. Ia meletakkan satu di depan ku dan di depan satu lagi di depan Jae Kyung.

“Gomawo.” Ujar Jae Kyung singkat tanpa menatap Hyun Mi.

Hyun Mi tampak sedikit kesal. Ia langsung kembali ke dapur dan sepertinya ia akan langsung masuk ke kamar. Ternyata tidak. Hyun Mi malah duduk di ruang keluarga. Aku tau ia menguping.

“Oppa, apa kau bisa membantu ku?” ulang Jae Kyung.

Kutatap Jae Kyung kesal. Aku benar-benar tidak suka dongsaeng-ku tidak dihargai seperti itu. Baiklah, aku sudah melihat sendiri sifat aslinya. Kurasa aku harus membuatnya menjauh dari hidupku. Aku tidak mau kejadian beberapa tahun yang lalu terulang. Yah, walaupun sekarang Hyun Mi sudah menjadi gadis yang kuat, tetap saja aku mengkhawatirkannya.

“Maaf, kau pikir aku tidak sibuk? Lagipula, aku bukan siapa-siapa mu.”

Ia terkejut mendengar jawabanku, “Maksud oppa?”

“Apa kau bersikap manis hanya di depanku, Jae Kyung?”

Jae Kyung terkejut sekali tampaknya.

“Sebaiknya kau pergi dari sini sekarang. Aku yakin adikku juga tidak suka melihatmu ada di rumah ini.”

Jae Kyung terperangah, “A…adik? Adik katamu? Jadi…?”

Hyun Mi muncul di saat yang tepat, “Ne. Namaku Hyun Mi dan aku adalah adik  Min Ho-oppa!”

“Aku sudah dengar semuanya dari Hyun Mi dan aku sudah melihat reaksimu terhadapnya tadi. Asal kau tau, aku paling tidak suka melihat adikku ditanggapi seperti itu!”

Jae Kyung berdiri. Min Ho-oppa juga berdiri.

“Kau cantik, tapi sayang sekali hatimu tidak secantik wajahmu. Seharusnya, kau tidak melihat siapa yang kau hargai tapi menghargai siapa saja yang kau lihat.” Hyun Mi berdiri di sebelahku.

Aigo…Hyun Mi terdengar dewasa sekali.

“Hyun Mi… maafkan aku.” Jae Kyung menatap Hyun Mi.

Hyun Mi hanya terdiam.

“Baiklah, Jae Kyung, kurasa kau tidak lupa pintu keluar kan?” tanyaku.

Jae Kyung mengambil tasnya yang ada diatas kursi, “Maafkan aku. Aku permisi.”

“Onnie…” panggil Hyun Mi.

Jae Kyung berhenti dan menoleh ke arah Hyun Mi (mukanya penuh harap), “Ne…?”

“Lainkali, kalau ke rumah seorang namja, jangan gunakan baju seperti itu lagi.”

***

“Oppa… kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Hyun Mi yang sedang menonton bola.

Hyun Mi memang suka menonton bola. Klub kesukaannya Manchester United juga FC Seoul. Kalau di liga jepang ia senang sekali dengan Urawa Reds dan Kashima Antlers. Ia suka Urawa Reds karena ada Hasebe yang menurutnya tampan sekali. Tapi, sejak Hasebe pindah ke Wolfsburg, ia jadi tidak suka dengan Urawa Reds. Haha…menurutku itu lucu sekali. Tapi, dari dulu sampai sekarang ia pendukung fanatik Manchester United dan FC Seoul juga Timnas Korea Selatan tentunya.

Aku menggeleng, “Sejak kapan kau jadi dewasa seperti tadi pagi itu, Hyun Mi?”

Hyun Mi langsung menatapku, “Apanya yang dewasa?”

“Ucapanmu tadi, Hyun Mi. Kau sudah dewasa sekarang.” Aku tertawa.

Hyun Mi mendengus, “Ash…jangan tertawa.”

“Hyun Mi, ajumma kapan kembali?” tanyaku. Ajumma yang kumaksud adalah seorang wanita yang sangat baik hati yang selalu membantu keperluan kami. Ajumma juga yang merawat kami ketika kecil dan sampai sekarang ini.

Saat ini, orang tuaku sedang di Los Angeles. Appa dipercaya Haraboji untuk memimpin perusahaan nya yang ada disana. Makanya, umma dan appa tinggal disana. Kurasa untuk waktu yang lama. Tapi, setiap liburan mereka akan pulang ke Seoul. Sebenarnya bisa saja aku dan Hyun Mi sekolah disana, tapi, aku benar-benar tidak mau. Hyun mi juga. Terkadang, halmoni dan haraboji juga Jong Min-ajussi yang tinggal di Daejeon datang ke Seoul untuk mengunjungi kami.

“Ajumma bilang minggu depan,oppa.” Jawab Hyun Mi. matanya tidak lepas dari layar TV.

Aku manggut-manggut, “Hyun Mi, hari ini kita makan diluar saja ya?”

“Curaaang… Oppa curaaang! Malam ini kan waktunya oppa yang masak. Tadi pagi aku sudah masak.”

Aku tersenyum lalu kuambil bantalnya, “Kalau begitu, malam ini kita tidak usah makan.”

Kali ini aku sukses membuatnya berpaling dari TV. Matanya melotot, “Enak saja! Oppa, aku lapar tau!”

Aku tertawa. Kucubit pipinya pelan, “Kau ini, diajak makan diluar, kau tak mau.”

Ia mendengus sebel lalu kembali menatap TV, “Terserah oppa saja. Yang penting aku makan.”

Aku pindah duduk ke bawah, karpetnya hangat.

“Ya, Hyunnie~ kau merajuk?” aku merangkul bahunya.

Ia tampak serius, “Assh…oppa! Kau tidak lihat, aku sedang asyik nonton.”

Kualihkan pandanganku ke TV, 2010 East Asian Football Championship, Japan vs South Korea. Pertandingannya seru sekali. Dan saat ini sudah menit ke-69.

“Ayo-lah Ji Sung-oppa…!!” Hyun Mi tampak tegang, “Oper…! Ayo, oper bolanya!!!”

Hyun Mi menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“Omonaa, Jae Sung-oppa!!!!! GOL!!!!! Yeees!!!!!” Hyun Mi langsung berdiri dan loncat-loncat di atas karpet.

Aku tertawa melihat tingkahnya, “Kau ini, senang sekali. Sudahlah, kan sudah 3-1, ayo kita pergi makan.”

Hyun Mi menghempaskan dirinya ke sofa, “Tidak mau. Aku ingin melihat Hasebe.”

“Asssh… kau ini kan pendukung Korea Selatan, kenapa kau malah ingin melihat Hasebe?” aku tak perlu mendongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya.

Hyun Mi cengengesan. Ditatapnya mataku, “Oppa, aku suka sekali Hasebe. Tapi, aku bukan pendukung Jepang.”

Aku tertawa pelan, “Arasso… Ya sudah, oppa mau ke atas dulu.”

“Tunggu, oppa mau mengambil sesuatu?”

“Ne…kunci mobil dan jaket.” aku melangkah menuju tangga.

“Tolong ambilkan jaketku dong,oppa…?” ia tersenyum manis.

Aku tersenyum melihat tingkahnya, “ Baiklah.”

“Gomawo, oppa! Jaketku ada di lemari. Jaket warna abu-abu ya,oppa…!” samar-samar kudengar suaranya.

***

Esoknya di sekolah

“Hyun Miiii…!!!” panggil sesorang. Lebih tepatnya teriak. Ia berlari kearahku.

“Annyonghaseoo, Tae Min!!!” sapaku begitu ia sampai di depanku.

“Annyong, Hyun Mi!” Tae Min tersenyum, “Ayo ke kelas!”

Aku tersenyum melihatnya. Lee Tae Min adalah temanku sejak SMP. Bukan teman, dia adalah sahabatku yang sangat baik. Namja ini sangat manis dan pintar. Aigoo…dia begitu sempurna. Tapi, jangan salah sangka. Aku hanya menganggap dia sebagai sahabatku. Oia, umma ku adalah sahabat umma Tae Min sejak kecil. Umma ku dulu tinggal di Busan sejak kecil dan keluarga Tae Min juga tinggal di Busan, hingga akhirnya ketika Tae Min akan melanjutkan ke SMP, keluarga Tae Min pindah Seoul.

“Hyun, nanti pulang sekolah umma ku menyuruhmu datang ke rumah.”

“Ada apa?” tanyaku sambil duduk di bangkuku.

“Aku tidak tau. Umma tidak memberitahuku.” Tae Min meletakkan tasnya di mejanya.

Aku tertawa, “Untuk apa ajumma memberitahumu… hahaha…”

Tae Min mengerucutkan bibirnya, “Apa maksudmu Choi Hyun Mi?”

“Tidak. Aku tidak bermaksud apa-apa kok, Lee Tae Min.” ujarku sambil tertawa.

***

“Annyonghaseo,ajumma…” kubungkukkan badanku sedikit.

“Annyonghaseo, Hyun Mi. Apa tadi kau ke rumah, Hyun Mi?”

“Tidak. Tae Min bilang, ajumma ada di restaurant. Jadi aku langsung kesini.”

Tae Min nyengir, “Padahal kau tadi ngotot sekali mau ke rumahku.”

Ajumma tertawa. Aku menatapnya kesal, “Aku hanya sedang kangen dengan Rabbit-mu.”

“Aigoo… Tae Min tidak menceritakannya padamu ya? Rabbit kan sudah mati 5 hari yang lalu.” Ajumma masuk ke dapur.

“Mwo?!!”

Tae Min cengengesan, “Mianhae, aku lupa. Kita kan sedang ujian minggu lalu. Makanya aku tidak memberitahumu. Aku takut kau pingsan mendengarnya.”

“Assh… Tae Min kau berlebihan sekali. Mana mungkin begitu. Setidaknya kau beritahu aku.” Aku menatapnya kesal.

“Mianhae, Hyun Mi. Lagipula, salahmu sendiri. Kenapa kau tidak sering-sering main ke rumah…?”

Aku memukul lengannya pelan, “Tae Min, kau pikir minggu lalu aku santai-santai saja di rumah? Asal kau tau, aku belajar!”

Tae Min tertawa, “Setidaknya kau datang ke rumah untuk belajar.”

“Bilang saja, kau ingin aku ke rumahmu. Ahaha… Iya kan?” aku tertawa.

“Tidak. Lagipula untuk apa…? Kan kita sudah bertemu di sekolah.” Tae Min duduk di kursi restaurant yang ada tepat di depannya.

Ajumma keluar dari dapur, “Hyun Mi, duduklah dulu.”

Aku mengangguk, “Gomawo, ajumma. Oia, sebenarnya ada apa,ajumma? Kenapa ajumma meminta ku datang siang ini?”

“Ini jam 3 tau. Bukan sore lagi.” Tae Min menjulurkan lidahnya sebelum masuk ke ruangan di dalam. Ruangan itu seperti ruang keluarga. Ada beberapa buah sofa empuk, TV, lemari, kulkas, dan dapur kecil. Restaurant ini milik Ajumma dan ajussi (umma dan appa Tae Min). Restaurant keluarga Tae Min ini sudah memliki beberapa cabang. Yang pertama itu di Busan. Yang di Seoul ini, restaurant kedua.

Aku mendelik sebal. Restaurant tampak tidak terlalu ramai.

Ajumma tertawa, “Kalian ini… ahaha… tidak, ajumma dengar Il Hwa-ajumma sedang pulang ke Gwangju ya?”

“Iya, ajumma. Il Hwa-ajumma pergi hari sabtu kemarin.”

“Lalu, siapa yang memasak?” tanya ajumma.

“Aku dan Min Ho-oppa. Bergantian. Tapi, kemarin oppa curang, ia malah mengajakku makan diluar.”

“Aigoo…Oppa-mu itu praktis sekali ya? Haha…” ajumma tertawa.

“Tidak. Dia itu hanya tidak suka memasak, ajumma.” Ujarku.

“Ya, sudah. Kau tau kan, Hyun Mi, umma-mu memintaku untuk menjaga dan mengawasi kalian. Jadi, selama Il Hwa-ajumma ada di Gwangju, datanglah kesini untuk makan siang dan makan malam. Kalau kalian sedang sibuk, kalian telpon saja ajumma. Akan ajumma kirimkan pegawai disini untuk mengantar makanan ke rumah.”

“Ajumma, kami tidak mau merepotkan.”

“Kau selalu berkata seperti itu. ini sama sekali tidak merepotkan ajumma. Kau ini… kau harus menerimanya. Ok?”

“Baiklah, ajumma. Tapi, apa benar-benar tidak merepotkan ajumma atau restaurant?”

“Tidak. Kalian kan sudah ajumma anggap seperti anak-anak ajumma sendiri. Jadi, ini sama sekali tidak merepotkan. Satu lagi, ajumma tidak mau menerima uang dari kalian. Arasso?”

“Maksud ajumma…?”

“Kalian tak boleh membayarnya.” Ajumma tersenyum, “Kau tak boleh menolaknya, Hyun Mi.”

Aku berdiri dan membungkuk, “Gomawo,ajumma…”

Ajumma tersenyum. Ia berdiri lalu dipeluknya aku.

***

Min Ho POV

“Sillyehamnida…” aku membuka pintu restaurant.

“Ah… kalian datang.” Ajumma menghampiri kami. Sepertinya ia mau pulang.

“Ne,ajumma.” Hyun Mi tersenyum.

“Kalian tidak usah merasa sungkan. Ayo, duduk-lah. Ajumma harus pergi dulu sekarang.”

“Mau kemana,ajumma?” tanyaku sambil duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu keluar.

“Ajumma harus ke Incheon. Melihat restaurant disana.” Ajumma memeriksa tasnya, “Aigoo… ajumma lupa sesuatu.”

Ajumma masuk ke ruangannya sebentar, lalu mengambil barang yang ditinggalkannya. Ternyata hp ajumma.

“Untung diperiksa dulu. Ji Eun!” ajumma memanggil pegawainya.

“Ne~.”

Ternyata seorang gadis yang masih muda.

“Ajumma pergi dulu. Tolong jaga baik-baik restaurant ini.” Ajumma mengalihkan pandangannya pada kami, “Ah ya… Min Ho, Hyun Mi… ini sepupunya Tae Min. Ia bekerja disini.”

“Ya sudah…ajumma pergi dulu ya. Ji Eun, tolong layani mereka ya..? Annyongi Gyeseyo…!”

“Annyongi gaseyo,ajumma…!” jawab Hyun Mi.

Ajumma tersenyum pada kami sebelum menutup pintu kaca restaurant.

“Onnie, kau sepupunya Tae Min ya?” tanya Hyun Mi pada gadis yang sedang berdiri di hadapan kami. aku terkejut melihat Hyun Mi yang menyapa gadis itu duluan. Biasanya ia tidak sembarangan menyapa seorang yeoja yang ada di sekitar kami.

“Ne. Park Ji Eun imnida.. Namamu Hyun Mi kan?” Ujarnya sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali.

Hyun Mi sedikit terkejut, “Ah… kenapa onnie bisa tau namaku?”

“Di kamar Tae Min ada foto kalian berdua. Kalian tampak dekat sekali.”

“Ne… aku sahabatnya Tae Min. oia, onnie, ini oppa-ku.”

Aku tersenyum kearahnya, “Choi Min Ho imnida.”

Ia tersenyum lagi. Kenapa senyumnya manis sekali? Wajahnya juga sangat cantik. Hyun Mi juga terlihat senang berbicara dengannya.

“Oh ya, kalian mau pesan apa?” tanya Ji Eun.

“Hmmm… aku pesan samgyetang (sup daging ayam ginseng) saja.” Ujarku.

“Aku sama dengan oppa-ku, onnie.” Hyun Mi tersenyum.

“Baiklah… tunggu ya…”

***

Hyun Mi POV

Ji Eun-onnie cantik sekali. Kulitnya putih, rambutnya panjang dan sedikit coklat, dan ia kelihatan sangat ramah. Entah mengapa aku merasa nyaman berbicara dengan Ji Eun-onnie. Matanya polos dan ada ketulusan disana.

“Baiklah, Jong In, aku pulang dulu ya…!” Ji Eun-onnie mengambil tas nya.

“Ne… Josimae, Ji Eun.”

Onnie tampak tersenyum dan melangkah menuju pintu.

“Onnie, mau pulang ya?” tanya ku.

Ji Eun-onnie tersenyum dan mengangguk.

“Onnie tinggal dimana?”

“Aku tinggal di rumah Tae Min. Aku pulang dulu ya? Sillyehamnida, Hyun Mi, Min Ho.” Ia membuka pintu.

“Onnie…” panggilku. Aku diam sejenak.

Ji Eun-onnie menoleh kearahku, “Ne…”

“Pulang bersama-ku saja,onnie. Oppa-ku bawa mobil. Rumahku kan dekat dengan rumah Tae Min.” aku tersenyum, “Mau ya,onnie?”

Aku tau Min Ho-oppa sedang menatapku. Kurasa ia heran melihatku. Aku kan tidak pernah mengizinkan seorang yeoja ikut bersama kami dalam satu mobil. Tapi, entah kenapa, Ji Eun-onnie terasa berbeda.

Ji Eun-onnie terdiam sejenak, “Baiklah. Tapi, apa boleh?”

Min Ho-oppa tersenyum kearah Ji Eun-onnie. Senyumnya manis sekali. Selama ini dia tersenyum begitu hanya kepadaku dan orang-orang yang dekat dengannya. Oppa juga tidak sembarangan tersenyum pada seorang yeoja. Sejak kejadian itu…… Tapi, sekarang……? Aigoo,jangan-jangan……

“Tidak apa-apa, Ji Eun. Hyun Mi kan sudah mengajakmu.”

Aku langsung menatap Min Ho-oppa. Tapi, sepertinya ia tidak sadar kalau sedang diperhatikan.

“Gomawo, Min Ho, Hyun Mi.”

Aku bangkit dari dudukku dan menuju ke dapur, “Seung Ki-ajussi, aku dan Min Ho-oppa pulang dulu ya….”

“Ne…sering-sering kemari. Belakangan ini kau jarang kemari. Umma Tae Min bilang sudah bilang seperti itu.”

“Ajussi merindukanku yah?” aku tertawa kecil, “Baiklah…Gomawo, ajussi.”

“Ne. baiklah, josimae. Oia, bilang pada oppa-mu, Ji Eun itu belum punya namjachingu.” Ajussi tertawa.

“Jinca?”

“Kau tertarik pada Ji Eun juga ya? Dia memang cantik dan baik hati sekali. Kalau sedang sepi, ia sering membantu ajussi di dapur. Padahal tugasnya bukan di dapur.”

“Waah… kalau begitu, aku tertarik sekali menjadikannya kakak iparku.”

Seung Ki-ajussi tertawa.

“Baiklah,ajussi. Aku pulang dulu. Gomawo,ajussi…!”

“Ne… Josimae…!” ajussi mencuci pisaunya.

***

Ji Eun POV

“Terimakasih sudah mengantarku ya? Apa kalian mau mampir dulu?” aku turun dari mobil.

Hyun Mi menggeleng, “Sama-sama,onnie. Kami tidak akan mampir dulu. Lain kali saja. Mm…atau oppa ingin mampir dulu?”

Min Ho tersenyum. Senyumnya manis sekali.

“Kami akan langsung pulang, Ji Eun.”

Aku menganggukkan kepalaku, “Ya sudah kalau begitu. Sekali lagi, gomawo…”

Min Ho menatapku. Entah kenapa jantungku berdegup kencang. ‘tenang Ji Eun,tenang…’

“Sama-sama, Ji Eun. Kami pulang dulu ya.”

Hyun Mi melambaikan tangannya, “Sampai jumpa,onnie…!”

Setelah mobil mereka berbelok dan menghilang dari pandanganku, aku masuk ke rumah. Kubuka pintu pagar. Tampak Tae Min sedang duduk di halaman rumah.

“Annyong, Tae Min…” aku tersenyum.

“Kau sudah pulang, noona?” Tae Min berdiri dan menghampiriku, “Aku tadi dengar suara Hyun Mi. Apa noona pulang bersamanya?”

Aku masuk ke dalam rumah. Kulepas sepatuku, “Ne… Aku pulang bersama Hyun Mi dan Min Ho. Mereka tadi ke restaurant.”

Tae Min terus mengikutiku hingga ke kamar, “Noona sudah kenalan dengan Min Ho-hyung?”

Aku mengangguk.

“Noona cerita banyak dengannya?”

“Tidak juga. Memangnya kenapa sih, Tae Min?”

Tae Min menggeleng, “Annyio. Aku hanya ingin tau. Min Ho-hyung itu populer di kampusnya. Banyak yeoja yang ingin menjadi pacarnya. Tapi, dari dulu ia hanya pernah satu kali pacaran.”

“Mwo? Satu kali? Dia kan tampan.” Kugantungkan tas dan jaketku lalu aku duduk di atas kasurku.

“Ne. Itupun berakhir dengan kenyataan yang sulit dipercaya.”

Aku heran dan penasaran, “Maksudmu?”

“Aku yakin, noona takkan menceritakan ini pada orang lain. Memang sih, Hyun Mi tidak bilang kalu aku tidak boleh menceritakannya pada siapa-siapa.”

“Aku takkan menceritakannya pada siapa-siapa. Lagipula, untuk apa kuceritakan.”

Tae Min menatap mataku, “Baiklah… noona, ternyata pacar pertama Min Ho-hyung itu hanya bersikap manis di depannya. Dibelakang Min Ho-hyung, gadis itu sering berlaku jahat pada Hyun Mi. Gadis itu sering mengancam Hyun Mi. Ia bilang kalau Hyun Mi mengadukannya atau menyuruh Min Ho-hyung memutuskannya, ia takkan segan-segan pada Hyun Mi. waktu itu Min Ho-hyung baru-baru kuliah dan Hyun Mi masih kelas 6 SD. Coba noona bayangkan, apa yang bisa dilakukan seorang gadis kecil jika menghadapi situasi seperti itu?”

Aku terkejut mendengarnya, “Omona…! Apa itu benar terjadi,taem?”

Tae Min mengangguk.

“Lalu, apa Min Ho tau?”

“Waktu itu aku baru pindah ke Seoul. Aku menemukan Hyun Mi sedang menangis di dekat tangga sekolah. Aku mencoba menghiburnya dan sejak itu kami berteman baik sampai sekarang.” Tae Min diam sebentar lalu melanjutkannya lagi, “Hyun Mi menceritakan semuanya kepadaku tepat seminggu setelah pertemuan kami di tangga. Aku mencoba membantu nya. Dan akhirnya, ia berani mengatakan semuanya pada Min Ho-hyung.”

“Apa gadis itu tidak waras?”

“Psikopat maksudmu,noona?”

Aku mengangguk.

“Entahlah. Saat mengetahui yang apa yang sudah terjadi pada dongsaeng-nya, Min Ho-oppa sangat marah. Ia mendatangi gadis itu dan memaki-maki gadis itu. dan sejak itu, gadis itu menghilang entah kemana. Kudengar gadis itu diungsikan orangtuanya ke luar negri.”

Aku tidak tau kisah seperti ini benar-benar ada. Gadis itu kejam sekali. Hyun Mi masih kelas 6 SD dan dia tega mengancam anak kecil seperti Hyun Mi. Aku memikirkan perasaan Hyun Mi.

“Min Ho benar-benar menyayangi Hyun Mi ya?”

Tae Min mengangguk, “Tentu saja. Karena Min Ho-hyung sangat menginginkan seorang adik perempuan. Perbedaan umur mereka 7 tahun. Mungkin itu yang membuat Min Ho-oppa sangat menyayangi Hyun Mi.”

Aku terdiam sejenak, “Lalu, mengapa kau cerita kan kisah ini padaku, taem?”

Tae Min tersenyum, “Karena sejak saat itu, belum ada seorang yeoja pun yang diizinkan Hyun Mi untuk mendekati oppa-nya. Memang, ia tidak melarang. Tapi, ia tidak suka melihat yeoja-yeoja yang ada di sekeliling Min Ho-hyung.”

Aku terdiam, “Lalu…?”

“Lalu apanya?”

“Kenapa Hyun Mi malah mengajakku pulang bersamanya dan Min Ho?”

“Assh… Noona ini… kau sudah hampir tamat kuliah, tapi pemikiranmu pendek.”

Aku mencubit tangannya, “Aku serius, taem.”

“Sakit, noona!” ia mengelus tangannya, “Haah… masa aku harus bilang, Hyun Mi mengizinkanmu untuk mendekati Min Ho-oppa dan dirinya.”

Aku terperangah mendengar ucapan Tae Min.

***

Min Ho POV

“Hyuuun…oppa mau bicara sebentar.” Aku duduk di sofa dan menyalakan TV.

Hyun Mi segera turun dan duduk disampingku setelah menyimpan jaketku dan jaketnya diatas.

“Aku juga mau bicara,oppa. Tapi, oppa duluan saja.”

“Menurutmu Ji Eun itu bagaimana?” tanyaku.

Senyum terkembang di wajahnnya, “Aku juga ingin membicarakan Ji Eun-onnie.”

“Jinca?”

Dia mengangguk, “Sekarang aku jawab ya? Menrutku, Ji Eun-onnie itu orangnya sangat baik. Matanya tulus dan dia sangat ramah. Seung Ki-ajussi juga bilang seperti itu.”

Kutatap wajahnya. Ia sepertinya senang sekali bercerita tentang Ji Eun, “Seung Ki-ajussi bilang seperti itu?”

“Ne. jarang-jarang kan Seung Ki-ajussi mengatakan seorang gadis cantik itu baik?”

Aku tertawa kecil, “Kecuali kau tentunya.”

Ia tertawa mendengar ucapanku, “Asssh… tentu saja. Aku kan sudah lama mengenal Seung Ki-ajussi.”

“Lalu, apa yang mau kau bicarakan dengan oppa?” tanyaku.

“Ji Eun-onnie. Apa oppa merasakan sesuatu?”

Aku terkejut mendengar pertanyaannya.

“Tidak usah dijawab,oppa. Aku tadi melihat oppa tersenyum manis kepadanya. Aku tau, sejak kejadian waktu itu, oppa tidak pernah sembarangan bertingkah di depan seorang yeoja. Aku senang berada di dekat Ji Eun-onnie, karena kulihat oppa tersenyum manis kepada Ji Eun-onnie dan tatapan oppa lembut padanya.”

Aku menghela nafas panjang, “Hyun, justru oppa yang merasa senang. Oppa terkejut melihatmu menyapa seorang yeoja duluan dan tersenyum manis kearahnya. Oppa jarang melihatmu begitu.”

“Oppa, ini ribet yah. Aku senang berada di dekat onnie karena oppa bisa tersenyum manis padanya dan oppa senang berada dekat dengan onnie, karena aku bisa tersenyum dan menyapa duluan seorang yeoja yang baru kukenal. Apa onnie sengaja dikirimkan untuk kita?”

***

Sudah 3 bulan sejak pertemuan kami dengan Ji Eun. Kulihat Hyun Mi semakin dekat dengan Ji Eun. Ji Eun sepertinya menyayangi Hyun Mi. Ia cerita padaku, ia tak mempunyai adik atau kakak. Ia sering merasa kesepian. Kedua orang tuanya yang ada di Ulsan sibuk sekali. Makanya, ia memutuskan pindah ke Seoul. Awalnya Ji Eun tinggal bersama temannya. Tapi, 3 bulan yang lalu temannya melanjutkan kuliah ke Paris. Sejak itulah ia tinggal bersama Lee-ajumma.

Entah mengapa, saat menatap mata Ji Eun, aku merasa tenang walaupun kurasakan jantungku berdegup kencang sekali. Aku juga merasa tenang sekali melihat Hyun Mi tertawa bersama Ji Eun. Sepertinya ucapan Hyun Mi benar. Ji Eun dikirimkan untuk kami.

“Haahaha… oppa, kau melamun?” tanya Ji Eun. Ia sepertinya tertawa kencang sekali. Matanya sampai berair begitu.

“Tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Aku tersenyum.

Tae Min dan Hyun Mi saat ini sedang belajar bersama Ji Eun di rumah kami. minggu depan mereka akan menghadapi ujian akhir mereka.

“Memikirkan Ji Eun-onnie yaaaaaa?” tanya Hyun Mi tepat sasaran.

Aku sedikit gelagapan. Kualihkan pandanganku.

Tae Min tertawa, “Hyuuung… kau memikirkan noona? Haha…”

“Omonaaa… muka Ji Eun-onnie bersemu pink…!” teriak Hyun Mi heboh.

Kulihat muka Ji Eun. Benar. Pipinya yang putih tampak pink merona.

“Tidak. Muka ku tidak kenapa-kenapa.” Ji Eun mengelak. Apa ia juga menyukai ku?

“Sudah…sudah… kalian ini belajar saja.” Aku kembali menatap layar laptop-ku.

“Kami sudah selesai,oppa…!” Hyun Mi membereskan buku-bukunya.

“Hyung, sudahlah…akui saja. Memangnya susah ya?” Tae Min duduk di sofa disampingku.

Aku mencubit pipinya yang putih mulus itu, “Apa yang harus kuakui? Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Sakit,hyung…” ia mengelus pipinya.

Ji Eun berdiri dari duduknya, “Sudahlah,kalian ini kenapa berlebihan begitu.”

Tae Min tertawa, “Aigooo… Hyun, sebentar lagi kita akan menjadi saudara. Dan nama Ji Eun-noona akan berubah menjadi… Choi Ji Eun!!!”

Hyun Mi berdiri, “Hahaha……menyenangkan sekali. Lalu, nama anak mereka siapa, taemin?”

Kulemparkan bantal sofa ke arah Hyun Mi. Hyun Mi mengelak.

“Nama anak mereka Choi Hyun Min!!!!” jawab Tae Min dengan semangat.

Aigoooo… mereka ini konyol, polos, jahil, atau apa siih?

Ji Eun mengambil bukunya, “Haaah… kalian ini kenapa sih? Min Ho, aku pamit dulu ya…”

Aku mengangguk. Hyun Mi dan Tae Min tertawa.

“Aiish…onnie… jangan marah,,,,”

Ji Eun tersenyum melihat tingkah Hyun Mi, “Annyio…aku tidak marah. Aku hanya ingin pulang. Lagipula, kita sudah selesai belajar kan?”

Hyun Mi meraih tangan Ji Eun, “Jinca?”

Ji Eun tersenyum, di elusnya rambut Hyun Mi, “Ne~ aku pulang dulu ya… dadah…”

Aku hanya tersenyum di balik laptopku. Anak-anak ini…

***

Hyun Mi POV

“Aku bosaaaan melihat mereka malu-malu kucing begitu, Tae Min!!” ujarku di depan muka Tae Min.

Tae Min mencubit hidungku, “Aku lebih bosan. Haaah… Ji Eun-noona itu terlalu polos, Hyun Mi!!”

“Min Ho-oppa juga tidak berani mengatakannya!!!!”

Hening.

“AAAH!!” teriak Tae Min tiba-tiba, “Aku punya ide, Hyun!!! sini kubisikkan!!”

Aku mendekatkan telingaku ke telinga Tae Min. Tae Min membisikkan idenya. Setelah selesai ia menatapku.

“Kau yakin ini akan berhasil?” tanyaku tidak yakin.

Tae Min tertawa, “Kau tidak nonton film di tv, Hyun Mi? haha… ini sudah pasti berhasil.”

“Hmm…baiklah… tapi, kau tanggung dosaku!!” aku berlari ke kelas.

“YA!! HYUN MI!!!!”

***

Min Ho POV

“OPPA!!!” teriak Hyun Mi.

Aku segera terlonjak dan menoleh ke belakang.

“Kau membuat oppa kaget!!”

Ia malah memelukku erat, “Oppa!”

“Ya, Hyun Mi kau kenapa?” tanyaku. Ia melepas pelukannya.

“Oppa… ternyata Ji Eun-onnie……”

Ji Eun POV

“Noona!!!!!” teriak Tae Min begitu melihatku membuka pintu gerbang rumah. Dia berlari menghampiriku.

“Ada apa, Tae Min?” tanyaku. Tidak biasanya anak ini begini.

“Noona, ternyata… Min Ho-hyung……”

***

Min Ho POV

Aku baru mau menelpon Ji Eun, dia malah lebih dulu mengirim sms padaku.

Min Ho…aku ingin bertemu sekarang. Ktunggu di taman belakang.

Aku segera memasang sepatuku dan berlari ke taman belakang. Aku bahkan tidak sempat pamit pada Il Hwa-ajumma ataupun Hyun Mi. Aku mempercepat lariku.

Aku sampai di taman. Aku langsung melihat seorang yeoja yang duduk di sebuah bangku panjang. Aku segera menghampirinya.

“Ji Eun…!” teriakku.

Ji Eun berdiri dan berlari ke arahku. Ia memelukku erat.

“Min Ho… mianhae…” ia terisak.

“Annyio, Ji Eun… aku yang harusnya minta maaf padamu.” Ujarku pelan.

“Saranghaeyo, Min Ho… jongmal saranghaeyo…” ujarnya pelan. Suaranya sedikit bergetar.

Aku tertegun.

“Saranghaeyo…na do saranghaeyo, Ji Eun. Maafkan aku baru mengatakannya sekarang.” Aku mengelus rambutnya.

Tuhan… biarkan aku membahagiakan Ji Eun…

Ji Eun POV

“Saranghaeyo…na do saranghaeyo, Ji Eun. Maafkan aku baru mengatakannya sekarang.” Ujar Min Ho pelan. Dielusnya rambutku lembut.

Aku bahagia sekali Min Ho… Ya Tuhan… tolong biarkan aku membahagiakannya.

Hyun Mi POV

“Aigooo… romantisnyaaa!!! Ya, Tae Min, kau menginjak kakiku…!” bisikku.

“Ah, Mian!!!” Tae Min melepas kakinya.

“Sssst… jangan berisik, Tae Min! nanti kita ketahuan!!”

“Kenapa aku terus sih?!!” ujar Tae Min pelan.

Aku berbalik ke arah Tae Min, “Tae Min, kau bilang apa pada Ji Eun-onnie?”

Tae Min tertawa pelan, “Aku bilang, Min Ho-hyung menderita leukimia stadium akut dan umurnya tinggal 1 minggu lalu!”

Aku tertawa, “Kau ini!! tapi, bagus!!”

“Kau sendiri, Hyun Mi?” tanya Tae Min sambil tertawa.

“Aku lebih parah, kubilang Ji Eun-onnie kanker usus stadium akut dan umurnya hanya tinggal 3 hari!!! Haha…”

Tae Min tertawa, “Lalu, kapan kita beritahu yang sebenarnya?”

Aku tertawa, kutarik tangan Tae Min, “Sudahlah, sekarang kita pulang… masalah itu tidak usah kita pikirkan!! Yang penting kita sebentar lagi akan menjadi saudara!!”

Tae Min tertawa, “Kkaja!”

END

Ni FF juga udah lama nganggur. Endingnya kagak kelar-kelar. Makanya, tadi kepikiran dibikin endingnya (ngaco bin geje) kayak gini. Hehe… ya udah deh, makasih udah baca…!!! Jangan lupa komen’a! Tengkiyu! J

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

26 thoughts on “WEIRD WAY”

  1. Aigo taemin sama HyunMi jail jga ya,,
    Minhoo so sweet, gg nahan byangin muka minho yg trsnyum manis
    two thumbs up author,,
    d’tunggu krya laen na ‎​(•̃o•̃’l)

  2. Aishh..dasar nih tAem n hyun mi,kurang krjaan aja,pke acra ngbogongin minho n ji eun ttg pnyakit parah n umr mreka tnggl dkit lg..hahahaha

    tp bner jga sih,klw gak d bhongin kea gtu,minho-jieun pzti lma bgt brw ngakuin prasaan mreka..
    hehe

    ^^

  3. Baru baca…
    Seruuu…
    Taemin jail jg yah…
    Kalo minho sm Ji eun,gmn kalo taemin sm Hyun mi ?hehe..^abaikan^

  4. JIAAAAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!
    apa2an itu penyakit nya?!
    parah amat deh si hyunmi sama taemin!!
    ada2 aja ide nya
    niiiiiiiice ^^

  5. horee~~ akhirnya minho ma jieun jadian…
    Pejenya ya bang minho, mpok jieun` *plakk*

    lucu, ^^
    terus nantinya gmn itu
    klo sbenernya minho n jieun itu sehat walafiat..
    sudahlah yg penting mereka bhagia,, wkwkwk

  6. huaa lucuu .
    dasaar taeminniku ini jahil skali yah ..
    sukaa bgd ama ending.a chingu !
    daebak ^^d

  7. AMPPUUUNN!!!
    itu bocah 2 ngerjainnya keterlaluan….
    wkwkwkwk.. evil couple tuh!!

    aduh.. ji eun, minho yg sabar ya punya dongsaeng kaya mereka hahahah
    GOOD JOB THOR~ b 😀 d

  8. bkin ngkak ni FF. kren klo pny shbt kyk taemin n hyunmi. psti prut bkl mles trz dgn kjhiln mrk b’2. hahahaha… 😀

  9. haha ga kebayang kalo minho sama jieun tau yg sebenarnya . Ckckck tingkah laku anak kecil . Tp sebenernya minho sama jieun yg ke kanak2an . Hahaha
    ngakak baca ini ff sumpah knren lah b^^d

  10. Hyun Min sama Taemin lucuuuuu huhu my boy :*
    aah kebayang deh senyum manisnya minho kyk gmn @_@
    ngakak bgt baca kebohongan taemin hyunmin huahahaha xD
    bikin yg lain lagi ya :3
    yg ini rame xD

  11. hahahaha.. FF dirimu chingu.. daebak…

    hahaha.. itu bocah dua… ngerjain orang tua… ckckck…
    kasihan~~ tapi lucu… lanjutkan (!!!)

    bikin yg kyak gini lagi ya author.. aku suka… *apasih*
    ^^

  12. waaaa.. TaeMin sama HyunMi sangat iseng.
    untungnya MinHo sama JiEun. jadi HyunMi gak dijahatin lagi deh.

    nice ff chingu. ditunggu karya selanjutnya

  13. jadi pengend punya kaka cowo de *curhat*
    aaahh . pdhal seru nii klo d jadiin sequel . kn lucuu klo taeminnya jg jadian sama hyun mi (?)
    hahaha .
    nice FF dear 🙂

  14. huahahahaha… pasti minho ma ji eun nyadarnya pas udah lewat seminggu!!! (ni orang koq kagak mati2 yak???) hahaha.. gokiiiiilll..!!!!

  15. Udah dipost yah? Ehem..oke deh.. GOMAWO BWT SMWA YG UDAH BACA FF NI. GOMAWO 4 UR KOMEN 2..! 🙂
    MIAN, AK BLM BS REPLY KOMENNYA SATU2..AKU MSH OL LWT HP… MKASI YAH, SMWANYA…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s