DREAM FROM HEAVEN

DREAM FROM HEAVEN

Cast:    Hanna Meulensteen, Choi Min Ho, Kim Jong Hyun, Lee Jin Ki, Song Hae Ri, Kim Ki Bum, Lee Young Hee

Author: Nisaa~

Genre: Romance

Length : Oneshot

Hanna POV

Sudah 3 tahun dia pergi meninggalkanku. Pergi tanpa memberitahuku. Jangan kira, ia akan kembali. Karena ia takkan kembali. Dia mengalami kecelakaan pesawat dalam perjalanannya kembali ke Seoul. Aku terpukul saat itu. Apalagi saat ku tau, jenazahnya tak ditemukan. Aku benar-benar shock. Umma dan Appa-ku yang waktu itu ada di Paris langsung kembali ke Seoul. Umma, appa, bahkan Kim-ajumma dan Kim-ajussi terus membujukku, menghiburku. Sahabatku, Kim Jong Hyun juga terpukul, namun ia berusaha mengikhlaskan kepergian sahabatnya itu. Perlu waktu berminggu-minggu sampai akhirnya aku kuat menhadapi dunia ku kembali.

Namaku Hanna Meulensteen. Aku bukan orang korea. Tapi, umma ku adalah orang korea. Appa ku orang jerman. Aku sekolah di Korea dan sudah lama tinggal di Korea.

Dan tepat hari ini 3 tahun yang lalu, peristiwa itu terjadi. Karena banyak jenazah yang tak ditemukan, pemerintah membuat monumen peringatan. Disana tertulis nama-nama mereka yang turut menjadi korban kecelakaan itu.

Aku berdoa di depan monumen ini. Banyak orang-orang yang juga berdoa dan membawa bunga ke monumen hari ini. Selesai berdoa kuletakkan satu buket bunga tulip warna putih didepan monumen itu.

“Tulip putih…”

Aku menoleh ke arah suara. Ternyata seorang laki-laki yang tinggi. Ia mengenakan jaket bewarna hitam. Rambutnya sedikit coklat dan ia memakai kacamata hitam.

“Ya?”

Laki-laki itu tampak tersenyum. Senyum yang kurasa senyum yang sedih.

“Yeojachingu-ku…dia suka sekali bunga tulip putih.”

Aku menatapnya, “Apa yeojachingu-mu……”

“Ne…3 tahun yang lalu.” Ia mengalihkan pandangannya ke monumen besar yang ada di depan kami. Dibukanya kacamata hitamnya.

“Aku juga.” Kataku pelan.

“Namjachingu-mu?” tanya nya.

Aku mengangguk pelan, “Ini memang terasa berat. Tapi, aku sudah benar-benar merelakannya. Aku tau ia tak mau melihatku sedih.”

Laki-laki itu terdiam.

“Ah…maaf. Aku sudah bicara terlalu…”

“Tidak apa-apa.” potongnya cepat, “aku juga merasa seperti itu. Aku yakin, ini memang jalan hidupku. Ini adalah takdirku.”

Aku mengangguk. Kuambil setangkai tulip putih dari buket bunga di depanku. Ku berikan pada laki-laki itu, “Ini… untuk yeojachingu-mu.”

Laki-laki itu menatapku, “Bukankah ini untuk namjachingu-mu?”

“Gwenchana…itu, masih banyak.” Tunjukku kearah buket bunga-ku.

“Gamsahamnida…” ia mengambil bunga tulip itu dari tanganku. Ia tersenyum lalu di letakkannya bunga itu didepan monumen. Dipejamkannya matanya. Sepertinya ia sedang berdoa.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah monumen besar di depanku. Kutatap namanya. Kusentuh namanya dengan tangan kananku. Sementara tangan kiriku menggenggam erat kalungku dengan liontin berbentuk kunci pemberian Ki Bum di hari ulang tahunku yang ke 18 tahun.

“Kim Ki Bum? Apa dia namjachingu-mu?” tanya seseorang. Ternyata laki-laki tadi. Ia sudah selesai berdoa.

“Ne…kau sendiri?”

Ia melangkah ke samping. Ditariknya lembut tanganku kiriku yang masih memegang kalungku. Kalungku terjatuh.

“Mian…” ujarnya sambil membungkuk untuk mengambil kalungku.

“Gwenchana.” Aku tersenyum sambil meraih kalungku, “Umm…siapa nama yeojachingu mu?”

Ditunjuknya sebuah nama.

“Lee Young Hee?” tanyaku pelan.

Laki-laki itu mengangguk. Kami terdiam sebentar menatap monumen itu.

“Apa kau sudah selesai?” tanya nya.

Aku mengangguk, “Ne.. aku harus pergi sekarang.”

“Kau mau kemana?”

“Aku harus kuliah, aku duluan ya.” Aku sedikit membungkuk.

“Ne…” jawabnya sambil tersenyum.

Min Ho POV

Ada yang aneh denganku hari ini. Aku tidak tau apa. Tadi pagi seharusnya aku menjemput Hae Ri dan Jin Ki-hyung dan pergi bersama-sama ke monumen. Tapi, tadi pagi entah kenapa aku langsung menuju kesini. Dan biasanya aku membawa bunga untuk Young Hee. Ahh..ada apa denganku?

Seoul National University.

Aku melangkah menuju perpustakaan. Aku hanya ingin mengembalikan buku hari ini. Perpustakaan tampak sepi. Hanya ada beberapa orang mahasiswa. Aku langsung menghampiri petugas perpustakaan dan mengembalikan bukunya. Setelah selesai, aku langsung ke luar. Tampak seorang yeoja berlari kearahku.

“Ya! Min Ho, kenapa kau tadi tidak mengajakku?” cerocosnya begitu sampai di hadapanku.

“Maaf ya Hae Ri..aku tadi ingin menjemputmu dan Jin Ki-hyung, tapi, entah kenapa aku malah langsung menuju monumen. Maaf ya?”

“Kau tidak bohong?” tanya Hae Ri.

“Tentu saja tidak.” Ujarku.

Hae Ri menarik tanganku dan langsung berjalan ke taman kampus.

“Naah… itu Jin Ki-oppa! Oppaaaaaaaa!!!” panggil Hae Ri.

Jin Ki-hyung melambaikan tangannya.

Hae Ri sedikit berlari ke arah Jin Ki-hyung. Mukanya tampak serius. Ia langsung duduk begitu sampai di tempat Jin Ki-hyung.

“Annyong, hyung…” sapaku. Aku duduk di depannya.

Jin Ki-hyung tersenyum, “Annyong…”

“Ya,oppa. Apa kau mengalami kejadian aneh?” tanya Hae Ri.

“Aneh bagaimana?” tanya Jin Ki-hyung balik.

Aku menatap Hae Ri bingung.

“Aneh. Tidak biasanya.” Jawab Hae Ri.

Jin Ki-hyung tampak mengingat-ingat, “Mmm…tidak ada. Paling cuma Min Ho yang tidak menjemputku. Padahal aku sudah menunggumu. Kau tau?”

“Mianhae, hyung. Aku tak tau kenapa. Padahal aku tidak pernah lupa menjemput kalian kan?”

Jin Ki-hyung tersenyum, “Tidak apa. Nanti siang aku akan kesana.”

Hae Ri terdiam.

“Ya! Hae Ri kau sedang memikirkan apa?” tanyaku.

“Apa Young Hee kembali?” tanyanya pelan.

Angin dingin tiba-tiba berhembus. Padahal ini musim panas. Musim gugur masih 1,5 bulan lagi.

Aku terkejut, “Apa maksudmu, Hae Ri??”

Jin Ki-hyung juga terkejut, “Hae Ri?!”

Hae Ri menggelengkan kepalanya, “Tadi malam aku bermimpi, Young Hee menghampiriku. Dia membawa tulip putih. Dia menyuruhku untuk memberikannya pada seorang yeoja. Aku tak ingat wajah yeoja itu. lalu…”

“Lalu apa?” tanya Jin Ki-hyung penasaran.

Hae Ri tampak berfikir keras, “Maaf. Kenapa aku bisa lupa ya? Aigo…! Padahal tadi pagi aku ingat sekali.”

Aku menarik nafas panjang, “Ini hanya kebetulan. Aku tak percaya hal-hal seperti itu.”

Aku terpaksa berkata begitu. Hae Ri tampak tidak puas dengan ucapanku barusan.

“Hae Ri~ah, kau ini jangan bicara yang tidak-tidak.” Jin Ki-hyung menutup buku tebalnya dan memasukkannya kedalam tas.

Hae Ri terdiam. Bibir mengerucut.

“Kau sedang berfikir? Jelek sekali tampangmu.” ejekku.

Hae Ri melotot. Matanya yang bulat jadi semakin bulat.

“Haha…lucu sekali kau, Hae Ri. Matamu seperti telur.” Jin Ki-hyung tertawa keras.

Aku tertawa geli melihat muka Hae Ri.

“Assh! Kalian ini! Ya, Jin Ki-oppa! Masih mending mataku bulat, matamu? Kau tau bentuk matamu saat kau sedang tertawa? Hanya satu garis! Bahkan sekarang matamu hilang!”

Tawa Jin Ki-hyung sedikit mereda, “Biar saja. Aku tak peduli. Yang penting aku bisa melihat.”

“Lalu, ketika kau tertawa, apa kau bisa melihat? Hah?”

“Mana mungkin kau bisa,hyung…” ujarku.

“Biar saja!”

Aku dan Hae Ri tertawa.

“Oia, hyung, apa bisa aku titip lili putih?” tanyaku tiba-tiba.

“hah? Apa?”

“Lili putih,oppa!!!” triak Hae Ri tepat di telinga Jin Ki-hyung.

“YA!!! Hae Ri, kau ini!!! Ashh….!” Jin Ki-hyung mengelus-elus telinganya.

“Ya! Aku serius.” Kataku sambil menatap mereka tajam.

“Oh..iya. tentu saja boleh. Memangnya untuk siapa?” tanya Jin Ki-hyung.

“Tadi pagi aku lupa membawa bunga ke monumen.”

“Benarkah, Min Ho??” tanya Hae Ri.

Aku mengangguk pelan.

“Aneeh… biasanya kau tak pernah lupa membawa bunga ke monumen.” gumam Hae Ri.

***

Hanna POV

“Jong Hyuun.” panggilku.

Jong Hyun menoleh dan langsung menghampiriku, “Ya! Hanna, kenapa hp mu tidak aktif?”

“hp mu yang tidak aktif! Dari tadi aku mencoba menghubungimu tapi hp mu tidak aktif!”

Jong Hyun mengeluarkan hp-nya, “Lihat, hp ku aktif kok.”

Ku ambil hp ku dari tasku, “Dan hp ku juga aktif.”

“Apa nomorku sudah benar?” tanya Jong Hyun.

“Tentu saja. Aku tak pernah menukar nomormu. Lagipula, itu pertanyaan konyol.”

Jong Hyun terdiam sebelum akhirnya tertawa kecil, “Aneh. Jadi, tadi pagi kau kemari dengan siapa?”

“Aku naik bus.” jawabku singkat.

“Ooh.. Ya sudah. Sekarang kau mau kemana?” tanya Jong Hyun, “Biar ku antar.”

“Kau tidak mau berdoa untuk Ki Bum?”

Jong Hyun malah mengacak rambutku.

“Ya! Aku bukan anak kecil, Jong Hyun.”

Jong Hyun terkekeh, “aku selalu mendoakan Ki Bum, Hanna. Lagipula sekarang sedang ramai sekali.”

Aku hanya tersenyum.

“Ayo, kita pulang!” kata Jong Hyun. Ditariknya tanganku pelan menuju parkiran.

Author POV

“Umma! Aku benar-benar melihat Appa!” rengek anak kecil itu.

Umma-nya memeluk anak itu.

“Percayalah, umma! Aku tidak bohong.” anak kecil itu berusaha melepas pelukan umma-nya.

Hanna menghampiri mereka.

“Annyonghaseo..” sapa Hanna.

Umma anak itu berdiri, “ah.. Annyonghaseo..”

“Apa boleh aku tau, apa yang terjadi?”

Umma anak itu mengangguk, “Anak ku bilang ia melihat Appa-nya. Padahal itu tidak mungkin. Appa-nya sudah meninggal 3 tahun yang lalu.”

Hanna terkejut. Ia berjongkok untuk berbicara dengan anak itu, “Halo.. Nama ku Hanna. Namamu siapa?”

“Nama ku Im Ju Hwan. Kakak, apa kakak percaya denganku?”

Hanna mengangguk, “Apa kau mau menceritakannya padaku?”

“Ne.. Tadi pagi ketika akan berangkat ke monumen, aku melihat appa sedang berdiri di samping mobil. Ketika aku memanggilnya, appa tersenyum padaku dan appa langsung menghilang. Aku tidak bohong,kak!”

Hanna terkejut mendengar cerita Ju Hwan. Ia mengangguk dan tersenyum manis, “Aku percaya padamu Ju Hwan.”

Anak itu kelihatan senang. Aku berdiri dan menatap umma nya, “Ajumma, setelah itu apa yang terjadi?”

Ajumma itu menarik nafas panjang, “Aku tak tau, tapi ban mobilku bocor. Padahal aku yakin tadi malam ban mobilku masih baik-baik saja.”

Dahi Hanna berkerut, “Lalu setelah ajumma tau ban itu bocor, apa sesuatu terjadi?”

“Ne.. teman appa nya datang dan mengajak kami bersama-sama ke monumen. Padahal temannya itu tidak pernah mengajak kami untuk pergi bersama dan aku sama sekali tidak menelponnya. Lagipula, teman suamiku itu tidak pernah datang ke rumah sejak 3 tahun yang lalu.” Ajumma terdiam.

Hanna POV

Aku terpaku. ‘Mana mungkin ini semua hanya kebetulan semata. Apa mungkin appa nya Ju Hwan……..? Tapi, appa nya Ju Hwan sudah meninggal. Tunggu…aku dan Jong Hyun mengalami kejadian yang aneh juga. Nomor kami sama-sama tidak aktif. Padahal hp ku aktif, nomorku aktif. Hp dan nomor Jong Hyun juga aktif. Ajumma bertemu dengan teman appa-nya Ju Hwan dan aku…? Aku tidak bertemu dengan siapa-siapa. Mungkin kebetulan saja.’

“Yoo Mi, ayo kita pulang.”seorang pria menghampiri kami.

Ajumma menoleh ke asal suara, “Ah..kau sudah selesai?”

Pria itu mengangguk.

Aku tersenyum, “Kalau begitu, aku juga harus pulang,ajumma. Temanku sudah menungguku. Ju Hwan, kkak pulang dulu ya?”

Ju Hwan mengangguk, “Sampai bertemu lagi ya, kak..!”

Aku tersenum, “Ajumma, aku permisi dulu.”

Ajumma tersenyum dan mengangguk. Kulambaikan tanganku pada Ju Hwan. Kumhampiri Jong Hyun yang dari tadi memperhatikan kami.

“I’m sorry, Jong Hyun.”

“Tidak apa. Memangnya apa yang terjadi?”

“Jong Hyun, ternyata bukan hanya kita yang mengalami kejadian aneh seperti ini. Anak tadi juga mengalami kejadian aneh.”

Jong Hyun terkejut, “Aneh bagaimana?”

Kuceritakan semuanya pada Jong hyun. Ia tampak benar-benar terkejut. Lagipula mana mungkin Ju Hwan berbohong. Dia seorang anak kecil yang polos. Aku bisa melihat itu semua dari matanya.

“Apa mungkin ia salah lihat? Mungkin saja itu bukan appa nya.” tanya Jong Hyun. Ia berusaha mencari-cari kemungkinan yang ada.

“Mana mungkin. Umurnya sekitar 10 atau 9 tahun dan 3 tahun yang lalu umurnya sekitar 7 atau 6 tahun. Aigoo, Jong Hyun! Mana mungkin dia bisa salah lihat.”

“Lalu umma nya bertemu dengan teman appa-nya. Apa itu hanya kebetulan..?”

Aku terdiam sejenak, “Kebetulan yang sangat aneh. Apa temannya appa-nya tau kalau ban mobil umma nya bocor? Maksudku, teman appa-nya itu tidak pernah menjemput mereka. Jangankan menjemput, ke rumah mereka saja tidak pernah sejak 3 tahun yang lalu.”

“Jangan-jangan, laki-laki itu dikirimkan appa-nya anak itu untuk menggantikannya..?” kata Jong Hyun tiba-tiba.

Aku mengangguk, “Bisa saja.”

Jong Hyun  terdiam sejenak. Angin sejuk berhembus menerpaku dan Jong Hyun.

“Apa mugkin mereka semua kembali…?” gumam Jong Hyun pelan.

###

Author POV

“Hae Ri… gadis itu adalah alasanku kembali. Tolong berikan tulip putih ini padanya. Ini adalah lambang ketulusan cinta Min Ho padaku, dan gadis itulah yang harus menerimanya saat ini…”

Young Hee memberikan setangkai tulip putih pada Hae Ri. Hae Ri memandang ke depannya. Disana ada seorang gadis mengenakan dress putih selutut, rambutnya yang panjang digerai begitu saja.

“Young Hee, apa maksudmu?”

Young Hee tersenyum manis. Walaupun bingung, Hae Ri tetap melangkah menuju gadis yang ada di depannya, wajahnya tidak terlalu jelas, karena cahaya yang terlalu berlebihan. Hanya tampak sebuah kalung dengan liontin kunci di tangannya.

Jin Ki mengguncang tubuh Hae Ri yang masih tertidur pulas di ranjangnya,            “YA!!! Sekarang sudah pagi!!! Ayo banguuuun!!!”

Hae Ri tersentak dari tidurnya, ia langsung terduduk di ranjangnya itu. jin Ki menghampirinya,

“Kau kenapa, Hae Ri? Aku terlalu keras membangunkanmu ya? Biasanya kau tidak pernah terlonjak begitu.”

Hae Ri menggelengkan kepalanya, “Annyio,oppa… aku bermimpi lagi. Mimpinya masih sama dengan tadi malam.”

Jin Ki tampak terkejut, “Jinca??”

“Sepertinya Young Hee benar-benar kembali.”

“Kau ingat mimpi-mu, Hae Ri?”

Hae Ri tampak berfikir, mungkin mengingat-ingat kembali.

“AH!!! AKU INGAT!!”

Jin Ki terlonjak dari duduknya.

“Mianhae, oppa!! Aku ingat sedkit… Dalam mimpiku, Young Hee bilang, ‘gadis itu adalah alasanku kembali’ aku hanya ingat itu.”

Kali ini Jin Ki yang tampak berfikir, “Riii… kau tau kan aku orang yang bagaimana? Aku tidak percaya hal-hal seperti itu. tapi kali ini, aku percaya, karena aku juga bermimpi tentang Young Hee tadi malam. Aku hanya ingat sebgian. Dalam mimpiku, Young Hee membawaku ke sebuah taman yang luas. Aku disuruhnya untuk mengambilkan bunga tulip putih untuk kuberikan pada seorang gadis..”

Hae Ri terkejut. Diguncang-guncangkannya bahu Jin Ki.

“Benarkah???!!! Apa kau serius, oppa?????!!!!!!”

Jin Ki mengangguk.

“Kita harus bertemu dengan Min Ho sekarang juga!! Kkaja,oppa!!!!” Hae Ri meloncat dari tempat tidurnya.

“Rii~~ apa kau akan pergi keluar rumah dengan tampang dan baju seperti itu??”

Hae Ri yang sudah akan membuka pintu kamarnya menepuk jidatnya, “Aigooo~ aku kan belum mandi. Untung kau mengingatkanku,oppa… hehehe… aku mandi dulu.”

Jin Ki hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Hae Ri, “Baiklah, aku tuggu di ruang keluarga-mu ya…”

###

Min Ho POV

“Min Ho,  sudah cukup lama aku meninggalkanmu sendirian. Kau pasti kesepian. Tapi tenang saja. Jika ada seorang gadis yang memberimu……………”

“YAAAA!!!! MIN HOOO!!!!!!!!!” teriak seseorang di telingaku. Aku langsung terbangun dari lamunanku. Entah kenapa aku melamunkan mimpiku tadi malam.

“Min Hoooo… kau sedang melamun yaaah??” ia duduk disampingku. Tentu saja orang yang baru saja berteriak di telingaku.

“Aiiish!!!! Hae Rii!! Berisik sekali kau ini!” aku mengelus telingaku. Hae Ri hanya cegengesan/

Jin Ki-hyung duduk di depanku, “Kau sedang memikirkan apa, Min Ho?”

“Tadi malam aku mimpi tentang Young Hee, hyung…”

Hae Ri langsung memasang tampang serius, “Jinca?!!”

Aku mengangguk.

“Mimpi apaa?!” tanya Hae Ri penasaran.

“Aku bermimpi, Young Hee datang padaku. Ia bilang, jika ada seorang gadis yang memberiku sebatang lili putih, maka dia adalah gadis yang dikirimkan untukku.” Ucapku pelan.

“Lalu, apa kau pernah diberi sebatang lili putih oleh seorang gadis?” tanya Jin Ki-hyung.

Aku terdiam.

“Min Ho…!” Hae Ri mengguncang tanganku.

“Kemarin, saat aku ke monumen, ada seorang gadis. Ia memberiku sebatang tulip putih untuk Young Hee. Gadis itu datang kesana karena kehilangan namjachingu nya.”         Ujarku pelan.

Hae Ri terdiam.

“Apa artinya ini?” ucap Jin Ki pelan.

Hae Ri POV

Young Hee… apa maksudmu dengan mimpi-mimpi itu? kau datang ke mimpiku. Mengatakan bahwa gadis itu adalah alasanmu kembali. Apa kau benar-benar kembali? lalu kau datang ke mimpi Jin Ki-oppa, menyuruhnya memberikan lili… tunggu!!! Mimpiku sama dengan Jin Ki-oppa!! Young Hee menyuruhku memberikan sebatang lili putih pada seorang gadis. Ne! benar! Lalu apa kaitannya dengan mimpi Min Ho ya?          Hmm… Min Ho bilang, jika ada seorang gadis yang memberikan lili putih padanya, maka itulah gadis yang dikirimkan untuknya dan Min Ho sudah bertemu dengan gadis itu.

Tunggu! Kalau kusambung-sambungkan jadinya begini, gadis itu memberikan sebatang lili pada Min Ho, lalu Min Ho meletakkannya di depan monumen, hmm… kemudian Young Hee memintaku dan Jin Ki-oppa untuk memberikn lili putih kepada seorang gadis. Apa gadis yang memberikan lili itu sama dengan gadis yang ada di mimpi ku ya? Aku berusaha mengingat-ingat kembali bagaimana muka gadis itu. aigo…aku tidak ingat apa-apa.

Aku terus berjalan. Tanpa sadar seorang anak kecil berambut pendek menabrakku. Aku segera tersadar dari lamunanku.

“Aigo, Mianhae…!” aku segera berjongkok untuk membantunya berdiri, “Kau tidak apa-apa adik kecil? Dimana rumahmu?”

“Gwenchana, onnie. Aku tidak apa-apa. Rumahku diujung gang itu.” ia berdiri.

“Benar kau tidak apa-apa? Onnie antar pulang ya?”

Ia menggeleng, “Rumahku sudah dekat, kok Onnie…”

“Baiklah…maafkan onnie ya?”

Ia tersnyum lalu mengangguk, “Ah, dimana kalungku?”

Aku mengedarkan pandanganku. Ternyata kalung itu ada di sebelah sepatuku. Ku ambil perlahan, “Ini kalungmu?”

“Ne, onnie. Itu kalungku.”

Kalung yang lucu. Kalung perak dengan liontin kunci antik. Kurasa aku pernah melihatnya.

“Onnie…” panggil anak itu.

Aku segera tersadar. Kuberikan kalung itu pada nya. Setelah mengucapkan gomawo, ia segera berlalu meninggalkanku.

Omo! Kalung itu yang ada di mimpiku!! Gadis itu memegang sebuah kalung yang mirip dengan kalung tadi!!!

Aku segera brdiri dan melihat ke arah ujung gang, gadis kecil itu sudah tidak ada. Cepat sekali jalannya. Aku langsung berlari ke rumah Min Ho.

Sampai di rumah Min Ho, kuliat Min Ho sedang termenung di teras rumahnya.

Min Ho POV

Kulihat Hae Ri terengah-engah menghampiriku.

“Min Ho, apa gadis yang memberimu lili itu punya kalung berbentuk kunci?”

Aku berusaha mengingat, waktu itu gadis itu sempat menjatuhkan sebuah kalung dan liontinnya…

“AH, NE!! Kau benar Hae Ri!”

“Berarti aku benar…” Hae Ri duduk disampingku.

“Benar apanya?” tanyaku pelan.

Ia menatap mataku, “Min Ho, ini hal yang mungkin tidak masuk akal, tapi…”

“Young Hee?”

“Ne…tentang mimpi-mimpiku, kau dan Jin Ki-oppa.”

“Apa maksudmu?”

“Yong Hee benar-benar kembali, Min Ho. Ia datang ke mimpiku dan Jin Ki-oppa. Mimpi yang sama. Ia menyuruhku memberikan sebatang lili untuk seorang gadis. Sementara kau bermimpi, jika ada gadis yang memberimu lili, maka itu adalah gadis yang dikirimkan untukmu.” Ujarnya pelan.

“Lalu?”

“Kalau semua mimpi-mimpi kita disambungkan, maka, kurasa begini, Young Hee menyuruhku dan Jin Ki-oppa memberikan setangkai lili putih untuk gadis itu, lalu gadis itu yang memberikan lili putih untukmu. Atau bisa saja, dimulai dari gadis itu memberikan lili padamu, lalu, kau memberikan lili itu pada Young Hee, Young Hee lalu menyuruhku atau Jin Ki-oppa memberikannya kembali pada gadis itu dan gadis itu memberikan lagi padamu…aah, pokoknya begitu…” Hae Ri mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja.

“Lalu, gadis itu siapa?”

“Tentu saja gadis yang memberi mu lili putih kemarin. Gadis yang memiliki kalung dengan liontin kunci.”

***

Hanna POV

“Hanna… aku mencintaimu selamanya. Tapi, jangan terus-terusan terpaku pada kenyataan ini. Dunia kita sudah berbeda, Hanna… ada seorang laki-laki yang sudah menunggumu di luar sana… ia kehilangan yeojachingu-nya 3 tahun yang lalu…temui dia, Hanna… dia menunggumu…dia menunggumu…”

“KI BUM!!!!!!!!!” aku terbangun dari tidurku. Nafasku tersengal-sengal.

Mimpi itu lagi. Haah… Ki Bum, apa maksudmu…? Siapa yang kau maksud itu, Ki Bum??

Air mataku mengalir satu persatu. Apa maksudmu dengan mimpi-mimpi itu, Ki Bum?

***

Min Ho POV

“Temui gadis itu… temui dia…”

Kata-kata Young Hee di mimpiku tadi malam terus terniang-niang di kepalaku. Entah kenapa aku melajukan mobilku ke arah monumen. Hatiku dari tadi menyuruhku pergi ke sana…! Young Hee…

Hanna POV

“Namanya Min Ho…Choi Min Ho… Temui dia…”

Ki Bum, siapa Choi Min Ho itu? aku tidak pernah mengenalnya.

Perlahan aku turun dari bus. Kenapa aku malah naik bus menuju monumen ini sih??

Apa Ki Bum yang membawaku kesini?

Min Ho POV

Aku keluar dari mobilku. Angin dingin berhembus ke arahku. Tanpa sadar aku berjalan ke depan monumen. Kulihat disebelahku. Gadis yang kemarin memberiku lili putih. Apa gadis ini yang kau maksud, Young Hee…?

Hanna POV

Kulirik orang disebelahku. Hanya ada kami berdua di sini. Omo, bukannya dia laki-laki yang kemarin?

“Annyonghaseo…” sapaku.

Ia tidak menjawab.

“Umm…” aku bingung mau bicara apa lagi.

Ia mendekat ke arahku, “Kita bertemu lagi..”

“Ne…” aku tersenyum.

Ia mengalihkan pandangannya ke depan, “Bberapa hari ini aku terus bermimpi… tentang yeojachingu-ku.”

“Hmmm?” aku menoleh ke arahnya.

Ia tampak tersenyum, “Yeojachingu ku terus muncul di mimpiku… dia mengatakan padaku… jika ada seorang yeoja yang memberiku lili putih, maka yeoja itu… yeoja itu adalah seseorang yang dikirmkan untukku…”

Tunggu… apa yang dikatakannya tadi? Lili putih? Dikirimkan untuknya?

“Choi Min Ho?” nama itu tiba-tiba keluar dari mulutku.

Ia langsung menatapku, “Ne…aku Choi Min Ho. Kenapa kau bisa tau namaku?”

Air mataku tiba-tiba menggenang, “Aku Hanna… Beberapa hari belakangan ini aku juga terus bermimpi…namjachingu ku terus muncul di mimpiku… ia bilang, sudah ada seorang laki-laki…menungguku… namanya Choi Min Ho.”

Min Ho POV

Air matanya tampak menggenang, “Aku Hanna… Beberapa hari belakangan ini aku juga terus bermimpi…namjachingu ku terus muncul di mimpiku… ia bilang, sudah ada seorang laki-laki…menungguku… namanya Choi Min Ho.”

Young Hee, aku benar-benar yakin, gadis ini yang kau maksud dalam mimpiku… aku yakin.

Aku langsung memeluknya erat.

“Min…Ho?”

“Aku tidak tau apa semua ini hanya kebetulan atau takdir… Tapi, aku merasa yakin… kau memang dikirmkan untukku…”

Hanna POV

Min Ho langsung memelukku erat. Kenapa rasanya nyaman? Ki Bum…apa laki-laki ini yang Tuhan kirim untukku? Entah kenapa aku merasa yakin.

“Min…Ho?” ujarku pelan.

“Aku tidak tau apa semua ini hanya kebetulan atau takdir… Tapi, aku merasa yakin… kau memang dikirmkan untukku…” ujar Min Ho pelan.

Aku tersenyum. Angin tiba-tiba berhembus menerpa kami. Aku tau… itu kau, Ki Bum… Gomawo, Ki Bum… Gomawo…

***

Beberapa tahun kemudian..

Min Ho POV

“Young Hee! Ki Bum!! Cepat bereskan mainan kalian!! Bus sekolah sudah menunggu!!” teriak istriku dari ruang makan.

“Ne, umma!!” Ki Bum segera berlari ke kamarnya dan mengambil tas sekolahnya.

Sementara Young Hee masih asyik bermain di depan tv.

Aku menghampiri Young Hee, “YA! Kenapa gadis kecil appa ini belum siap-siap? Nanti umma marah, loh…”

Young Hee tersenyum, “Baiklah, appa.”

Ia segera berlari ke kamarnya dan mengambil tas sekolahnya. Ki Bum berlari kearahku. Aku menggendongnya lalu diciumnya pipiku.

“Aku berangkat, appa!”

Aku mengangguk dan menurunkannya, “Jangan nakal ya..”

Ki Bum mengangguk. Istri ku menghampiriku dan mencium pipi Ki Bum, “Belajar yang benar ya, Ki Bum.”

Ki Bum mengangguk. Young Hee menghampiriku dan menarik-narik celanaku. Aku jongkok di depannya. Di langsung mencium pipi kanan dan kiriku,

“Aku berangkat, appa.” ujarnya.

Aku mengangguk. Kucium pipi kanan dan kirinya.

“Umma tidak dicium, Young Hee…?” goda istriku.

Young Hee tersenyum, diciumnya pipi kanan dan kiri istriku. Istriku tersenyum, “Umma sayang padamu. Belajar yang benar ya?”

Young Hee mengangguk. Kugandeng tangannya menuju teras. Ki Bum sudah masuk duluan ke dalam bus sekolah. Young Hee segera berlari ke dalam bus sekolahnya.

“Dadah, appa!!” bus sekolah berlalu.

“Haah… tidak terasa mereka sudah besar.” Istriku muncul di sampingku.

“Hanna…”

Ia tersenyum.

“Mengurus anak kembar ternyata tidak mudah, yeobo…” katanya sambil memelukku.

Aku tertawa.

END

FF ni sebenarnya udah lama, tapi ga tau mau dibuat gimana endingnya. Akhirnya jadilah endingnya begini. Geje yah? Aku juga ngerasa kurang puas ma ni ff… tapi, gomawo udah baca… and jangan lupa komen yaaaak? Gomawo… ^^

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

63 thoughts on “DREAM FROM HEAVEN”

  1. kyaaa ki bum tu disini key yah/plakk hehehe
    so cute.. ><
    hahaha pny anak twins emng ribet/sotoy
    nice ff author
    happy end^^

  2. aaaaaaaaaaaaaaaa…. FFnya keren…
    daebak~~ romantis~~ aaa… keren..keren…..
    hahahaha… *cuman ini doang yg bisa aku katain, soalnya udah gg tau mau nulis apaan lagi…saking terpesonanya sama FF dirimu chingu*

    daebak… daebak~~
    ^^

    1. hehehe… ada… aku ma minho.. *drajam trus dbuang ke antartika*
      hehehehehe… pengen jugaaaa.. palagi minho…

      hihi…kembar cew cow sih… makanya namanya sma…

      gomawo udah komen and baca… 🙂

  3. aaaaa…
    aku suka ffnya..

    Nissa~ *sok kenal*
    ffmu daebak.. awalnya aku gak ngertii.. tapi pas baca ampe akhir jadinyaa seperti itu.
    waaa,so sweet abiss..

    MinHo sama Hanna akhirnya bersatu. aku kira ini bakal ff sequel tapi ternyata oneshot.
    waaa.. kereeeennn

    1. makassiiiiih… ini oki-onnie kah??

      gapapa sok knal,… aku juga sok knal… heheh…

      gomawooo…. aku juga ga ngerti ma apa yang kubuat sih… heheh.. mian membingungkan… ><

      aku pgn jadiin sequel… tapi kbru gak mood lagi… hehe..

      gomawo udh baca n komen… 🙂

  4. iicchh lucuuuuuuuuuu ..
    suka !!

    t’nyata memang yah dmna pun orang yg sayang ama kita ttep akan sayang sama kita ..
    walaupun beda dunia sekalipun ..
    hehee ..

    1. makasiiiiiih…

      iya… maybe like that…. kita kan gak tau mereka kyak gmna di alam lain… hiks…

      btw, gomawo udah komen yaaaa…

  5. hoaaa. . .crta.a so sweet . . .n. . .houh ampe g bsa d ungkapkan lg yg laen2.a. .pkok.a daebak-lah!!
    nice ff author . .
    b^^d . .

  6. owh co cwiitt….>0,
    mimpi yg merumit kan tp dengan ahir yang membahagiakan…….krenzz
    ff x baguusss author…d tunggu ff yg lain x….^0^

    1. makasiiiii… iya, rumit banget… aku jg bngung bwtnya.. soalnya ide crtanya udah lama… tapi, endingnya baru jadiii… hehhe… gomawo ya…

  7. FINALLY, AKU BISA MUNCUL!!
    Kekeke~~ mian yaaah..ak blm bs jwb komen’a satu2..krna ak blm bs ol lwt kompie.. But,
    GOMAWO UDAH BACA FFKU YG ANEH INI (ak yakin, pasti aneh)!! AKU UDAH LAMA BKIN NI FF, TP GA KELAR2 ENDINGNYA..MAKANYA ANEH..! GOMAWO UDAH KOMEN JG..! AKU SENENG, ada yg bca ni ff.. Btw, aku merinding pas bkin ni ff.. Haha.. Jujur, aku takut ma hal2 yang ga nyata gtu.. Tp, endingnya bkin aku melt pas bkinnya.. Ehehehe… 😀
    skali lg gomawo n mian blm bs bls komen atu2… Jongmal mianhae..! >o<

  8. So sweet banget ..
    Bahkan orang yang sudah tiadapun masih ada untuk melindungi kita ..
    Kok aku jadi mau nangis ya .. >.<

  9. ptama baca lngsung merinding..
    Key meninggal??? hikz… kclakaan psawat??? hikz..*author:geje bget nih reader..*
    aq zkag ckaliii…
    mw jga, dptmukan dg jdohq lwat mmpi..*KTT*

    nice FF, bkin sequelx dunkz, chingu..
    slam knal.. ;D

  10. daebak eon!
    bsa samaan gtu mimpi’a >o<
    eh, jgn2 Ki bum ama Young hee udh pacaran di alam sana lgi #ngawur

    btw eon, tulip ama lili tuh sama ya? XD
    jjong gmana nasibnya? udh lah, sama aku aja XD *dikeroyok*

    1. aku baru ngeh…. mianhae… aku lupa edit…
      ngerror… aku suka kebalik tulip ma lili… tapi dalam cerita ini sih…terserah… dua duanya sama2 bunga yang bagus kok… heheh… makasih udah correct… makasih udah baca….

      jjong?? hehehe… iya deh… ma aku aja.. (gak nyambung)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s