The Sweet Escape – Part 2

The Sweet Escape – Part 2

Author            :           Park Kyungjin

Main Cast      :           SHINee – Kim Jonghyun

Park Kyungjin a.k.a author

Other Cast     :           SHINee – Lee Taemin

Genre             :           Angst, Romance

Rating             :           PG+15

Disclaimer      :           This story is mine!

+++

Namaku Jonghyun. Kim Jonghyun.

Aku seorang mahasiswa di sebuah universitas ternama di Seoul.

Fakultas kedokteran.

Terdengar sangat hebat bukan? Tapi kau harus tahu yang satu ini.

Kau mungkin akan kaget saat mengetahui siapa aku sebenarnya.

Yah. Aku ini seorang buronan.

Aku baru saja melarikan diri dari penjara yang selama 2 minggu ini mengurung diriku.

Kau bisa saja kaget dan menganggap kalau aku ini orang jahat.

Oke, terserah kau saja kalau kau menganggapku begitu.

Di kampus aku termasuk mahasiswa yang brilian.

Aku memang terlahir sebagai orang yang jenius.

Sebenarnya aku sama sekali bukan berasal dari keluarga berotak cemerlang yang pandai memutar balikkan rumus dan bahkan menciptakan rumus sendiri.

Aku hanyalah anak dari seorang seniman.

Appaku seorang komposer terkenal dan eommaku seorang pemain biola yang sangat handal.

Melihat latar belakang orang tuaku pasti kalian berpikir mana mungkin aku ini betul-betul keturunan mereka.

Mungkin terlihat aneh kalau aku ini mahasiswa fakultas kedokteran, bukannya menjadi mahasiswa jurusan seni yang nantinya akan mengikuti jejak appaku untuk menjadi seorang komposer atau paling tidak menjadi seseorang yang ahli dalam memainkan berbagai alat musik.

Tapi kenyataannya aku lebih senang mempelajari teori-teori tentang alam. Dan aku sama sekali tidak tertarik untuk mempelajari seni sedikitpun.

Aneh memang. Hyungku bahkan sudah sangat sering memenangkan kontes musik karena permainan pianonya yang sangat indah dan dongsaengku saat ini tengah berlatih vokal untuk membuat suara emasnya semakin enak didengar.

Dan lagi-lagi, hanya aku yang sama sekali tidak tertarik dengan semua itu.

Dulu sewaktu aku masih kecil, aku disekolahkan di sebuah sekolah seni ternama bersama hyung dan dongsaengku. Appaku juga termasuk salah seorang pengajar di sekolah itu. Appaku pernah mengajariku beberapa alat musik seperti piano, gitar dan bass.

Aku bisa memainkan semua alat musik itu dengan baik dan bahkan sempurna. Tapi appaku malah berpendapat lain. Appaku bilang, aku bisa memainkan alat musik itu hanya karena aku menguasai teorinya.

Aku memainkan alat musik itu berdasarkan pemahamanku tentangnya, dan menurut appaku, seorang musisi yang baik akan bermain dengan hatinya, bukan hanya dengan menguasai teorinya.

Saat itulah appaku sadar kalau jiwaku bukan dalam bidang seni, dan appa tak lagi memaksaku untuk sekedar memahami seni.

Aku mulai menentukan jalan hidupku sendiri yang jauh berbeda dari keluargaku itu. Aku meminta kepada appa untuk memindahkanku ke sekolah biasa di mana yang kita pelajari bukan hanya seni tetapi juga matematika, ilmu pengetahuan alam, bahkan ilmu sosial.

Awalnya appa agak keberatan, namun akhirnya mengizinkanku dan aku mulai bersekolah di sekolah biasa saat aku menginjak usia 8 tahun.

Karena masih baru, pihak sekolah menaruhku di tingkat yang paling dasar. Di kelas itu aku merasa sangat risih karena semua teman-temanku rata-rata masih berusia 6 tahun, dengan kata lain akulah yang tertua.

Baru beberapa bulan, pihak sekolah memindahkanku ke tingkat dimana murid-muridnya seumuran denganku karena mereka menyadari aku terlalu pintar untuk ditaruh di tingkat dasar. Aku sangat senang karena dengan begitu aku tidak akan merasa risih lagi.

Tiga bulan berikutnya, pihak sekolah kembali memindahkanku ke tingkat yang lebih tinggi. Kau pasti sudah tahu alasannya.

Ya, karena aku terlalu pintar untuk ditaruh di tingkat itu.

Tapi aku malah merasa risih kembali, bukan karena aku yang terlalu tua di kelas itu, tapi aku malah menjadi yang termuda.

Hal itu terus berlanjut hingga akhirnya aku dapat menyelesaikan sekolahku dalam usia yang tergolong sangat muda. 15 tahun.

Akhirnya aku memilih untuk menerima tawaran dari pihak universitas tempat aku kuliah sekarang yang mengajakku untuk melanjutkan kuliah di sana dan terpaksa membuat kecewa beberapa universitas lain yang juga menawarkanku untuk kuliah di tempatnya, dan tentunya dengan bebas tes.

Prestasiku di bidang akademik sudah sangat diketahui oleh banyak orang, sebab semasa sekolah aku sudah sangat sering memenangkan berbagai macam perlombaan di bidang akademik.

Aku memang menjadi mahasiswa termuda, tetapi hal itu tidak lagi membuatku merasa risih. Aku sudah sangat terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Ini merupakan tahun kedua aku belajar di kampus ini. Dan sama seperti pengalaman belajarku sebelumnya, aku menempuh pendidikanku dengan sangat cepat dan sekarang aku sudah memasuki tahap penelitian.

Mahasiswa kedokteran pada umumnya akan menjalani tahap setelah menempuh pendidikan sebagai calon dokter yaitu belajar langsung di beberapa rumah sakit sebelum ia benar-benar bisa mendapat gelar dokter.

Namun hal itu berbeda dengan diriku. Dosenku malah membimbingku untuk melakukan sebuah penelitian. Ia juga menyarankanku untuk meneliti tentang kanker sehingga suatu saat aku bisa menemukan obat untuk penyakit mematikan itu.

Setelah berbulan-bulan meneliti, aku mulai mendapatkan pencerahan. Perlahan-lahan aku mulai meracik obat dari bahan-bahan yang tidak tersedia secara langsung di alam ini. Ya, aku membuat sendiri bahan tersebut dari campuran-campuran bahan lainnya hingga membentuk suatu senyawa baru. Senyawa tersebut mungkin bisa membunuh sel kanker.

Aku memang telah menemukan bahan yang mungkin cocok, tapi tetap saja penemuanku itu masih belum sempurna. Saat aku menguji hasil penelitianku itu, terkadang senyawa itu malah membunuh sel yang lain.

Hal itu terbukti saat aku menguji penemuanku tersebut pada seekor kera dan yang terjadi selanjutnya, kera itu mati seketika. Padahal aku hanya menetesi bagian kulit luarnya dengan sedikit tetesan.

Melihat hal tersebut, dosenku menjadi khawatir. Ia takut kalau penemuanku ini nantinya malah disalahgunakan hingga membawa dampak yang buruk bagi orang banyak. Aku hanya berkata pada dosenku kalau semuanya akan baik-baik saja.

Beberapa bulan kemudian aku kembali ingin menguji bahan temuanku tersebut. Kali ini aku menggunakan seekor tikus sebagai uji coba. Aku dibantu oleh dosenku dalam pengujian ini.

Ternyata, yang pernah ku katakan itu salah. Semuanya ternyata tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Dosenku membantu memegang tikus itu dan aku mulai mencoba memberinya tetesan senyawa itu. Namun tikus itu memberontak dan bergerak dengan sangat lincah dan pada saat aku sudah hampir memberinya tetesan, tikus itu berhasil lepas dari pegangan dosenku.

Dosenku dengan segera mencoba menangkap kembali tikus itu hingga akhirnya dosenku tanpa sengaja memegang senyawa yang ada di tanganku itu.

Aku jadi panik.

Ku lihat dosenku berteriak kesakitan sambil mengatakan kalau seluruh lengannya telah mati rasa. Dan tak butuh waktu yang lama untuk membuat senyawa tersebut menyebar ke seluruh tubuhnya hingga akhirnya membuat dosenku tewas seketika.

Keringat dingin mulai mengucur di wajahku.

Orang-orang di sekitar kampus yang mendengar teriakan dosenku itu seketika berlari ke ruangan penelitian kami. Kudengar mahasiswi-mahasiswi yang melihat jasad dosenku itu hanya bisa berteriak histeris dan kulihat seorang mahasiswa yang tidak kukenal tengah berlari ke arahku dan memukuliku hingga aku tak sadarkan diri.

Saat aku sadar kembali, ruangan penelitian sudah dipenuhi oleh orang banyak dan beberapa pihak kepolisian.

Aku akhirnya dibawa ke kantor polisi beserta barang bukti berupa hasil penelitianku itu, dan aku mendengar kabar bahwa saat ini dosenku sudah berada di rumah sakit untuk di autopsi.

Pihak kepolisian menghubungi orang tuaku dan memberitahukan mereka tentang keberadaanku di kantor polisi. Mereka pun segera datang menemuiku.

Tak lama kemudian appaku datang ke kantor polisi beserta eomma, hyung dan dongsaengku. Pihak kepolisian itu menjelaskan semua yang terjadi padaku dan saat mereka mengetahuinya, appaku marah besar, eommaku terkulai lemas sambil menangis bersama dongsaengku, dan hyungku langsung pergi meninggalkan kami semua.

Kasus yang menimpaku ini dibawa hingga ke pengadilan. Hakim yang menanganiku terlihat sangat bingung untuk memutuskan hasil terbaik dari kasus ini. Appaku mati-matian membelaku dengan mengatakan bahwa itu hanya sebuah kecelakaan yang tidak disengaja.

Yah. Itu memang hanya sebuah kecelakaan yang tidak disengaja. Namun juga dengan tidak sengaja merenggut nyawa seseorang.

Dan saat ini akulah yang berada dalam posisi bahaya. Aku sangat cemas dengan keputusan hakim. Apalagi saat ini tidak ada yang bisa menjadi saksi sebab saat itu aku memang hanya berdua dengan dosenku di ruang penelitianku itu yang memang sangat terlarang untuk dimasuki secara bebas oleh orang lain.

Setelah menjelaskan semua kejadian sebenarnya kepada hakim tanpa menyembunyikan sedikitpun dan melalui perdebatan yang cukup sengit antara appaku, pengacaraku, dan juga pengacara dari dosenku itu, akhirnya hakim memutuskan untuk menjatuhkan hukuman penjara padaku selama 12 tahun.

Astaga. Aku bahkan menyelesaikan pendidikanku kurang dari 10 tahun dan sekarang aku malah menghadapi kenyataan bahwa aku akan menghabiskan waktuku sia-sia di dalam penjara dingin itu selama 12 tahun.

Aku benar-benar kecewa dengan keputusan hakim yang tidak mau memberikan toleransi atas perbuatanku. Ini sama sekali bukan kesalahanku, itu semua terjadi di luar kesengajaan.

Kulihat appaku mengamuk. Aku kemudian mencari sosok eomma yang sepanjang persidangan hanya bisa terduduk lemas dan sekarang, ku lihat eomma sudah tak sadarkan diri. Hyung serta dongsaengku dan dibantu oleh beberapa orang lain mencoba mengangkat eomma dan membawanya keluar dari ruang persidangan yang panas ini.

Aku merasa sangat bersalah, namun tak sedikit pun rasa penyesalan muncul di benakku karena telah menciptakan senyawa yang luar biasa itu. Pengacaraku hanya bisa menepuk-nepuk pundakku dan kulihat di seberang sana, pihak dari dosenku tersenyum puas akan keputusan sang hakim.

Hari itu juga, aku sudah merasakan dinginnya penjara.

Seluruh media cetak bahkan media elektronik tengah membicarakan diriku, dan sesat kemudian aku sudah dikenal masyarakat sebagai pembunuh.

Appaku pasti merasa sangat malu, apalagi appa termasuk orang yang dipandang di masyarakat.

Hari demi hari kulewati di penjara itu bersama para terpidana lainnya. Aku ditempatkan di dalam penjara bersama dengan orang-orang yang beberapa di antara mereka betul-betul mantan pembunuh.

Oh tidak, aku bahkan sudah di sama-samakan dengan mereka.

Aku sangat tidak suka berada di penjara. Bukan hanya karena suasananya yang tidak enak dan tidak nyaman, tapi juga karena orang-orang satu penjaraku memperlakukanku dengan tidak baik. Mereka sering mengejekku bahkan menertawakan kepintaranku ini. Bagi mereka, aku ini sama saja dengan mereka yang berotak bodoh sebab pada akhirnya kami sama-sama berada di penjara.

Sudah hampir 2 minggu aku berada di dalam penjara dan tak sekalipun appa, eomma, hyung dan dongsaengku datang untuk menjengukku. Mungkin mereka masih merasa malu.

Dua hari kemudian, aku menyusun sebuah rencana untuk kabur dari tempat yang begitu tidak menyenangkan ini.

Saat tengah malam tiba, aku memanggil penjaga untuk minta izin ke kamar mandi. Penjaga itu sama sekali tidak menaruh curiga terhadapku.

Sesampainya di kamar mandi yang letaknya agak jauh itu, penjaga itu menungguku di luar sementara aku masuk ke dalam kamar mandi lalu menguncinya rapat-rapat dan mencoba memikirkan cara agar bisa keluar.

Di dalam kamar mandi itu hanya ada sebuah jendela kaca yang letaknya lumayan tinggi.

Saat kuperiksa, jendela itu sama sekali bukan tipe jendela yang bisa dibuka. Jendela itu hanya dibuat agar cahaya dari luar dapat masuk ke dalam kamar mandi.

Aku kembali berpikir. Satu-satunya cara agar jendela itu bisa terbuka adalah dengan memecahkannya. Aku kemudian mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa memecahkan jendela ini, namun di dalam kamar mandi ini hanya ada sebuah timba dan sebuah ember kecil yang penuh dengan air.

Aku mengambil ember tersebut lalu menumpahkan semua isinya. Pekerjaan ini harus kulakukan dengan cepat sebab suara pecahan kaca ini tentu saja akan mengundang perhatian polisi-polisi itu.

Aku menarik napas dalam-dalam.

1, 2, 3.

Dengan sekuat tenaga aku mendorong ember itu ke jendela kaca dan membuat kaca itu pecah berkeping-keping.

Cepat, aku tak punya waktu banyak untuk bisa kabur dari tempat ini. Penjaga di luar mulai menggedor-gedor pintu kamar  mandi sambil berteriak memanggil-manggil polisi yang lain.

Dengan susah payah aku mencoba memanjat jendela itu. Sisa kaca yang masih menempel tidak sengaja ku pegang dan membuat tanganku berdarah. Tapi aku tidak peduli. Aku terus saja memanjat dan akhirnya aku berhasil melompat keluar.

Perjuanganku untuk kabur belum terhenti sampai di sini. Ternyata para polisi sudah mengetahui usahaku dan segera berlari ke arahku. Mereka datang dari berbagai arah. Aku kemudian berlari dengan sekuat tenaga dan memanjat pagar yang cukup tinggi.

Auchhh. Lagi-lagi tangan beserta bagian tubuhku yang lain terluka akibat kawat yang ada di pagar itu. Namun aku terus saja memanjatnya dan akhirnya aku bisa keluar dari tempat itu.

Kulihat polisi-polisi itu masih sibuk membuka pagar yang tadi kulompati itu yang masih dalam keadaan terkunci. Suara sirine mobil polisi juga sudah mulai terdengar meraung-raung memecah malam sementara aku masih terus berusaha berlari secepat mungkin.

Tapi secepat apapun aku berlari, masih belum bisa mengalahkan kecepatan mobil polisi itu yang kini sudah mendekat ke arahku.

Untung otakku ini bisa bekerja dengan cepat.

Aku kemudian memutuskan untuk berlari memasuki gang yang sempit lalu menyelinap melewati pekarangan rumah-rumah orang sehingga polisi-polisi itu akhirnya berhenti mengejarku menggunakan mobil dan ikut berlari melewati jalanan-jalanan kecil yang kulalui.

Aku terus saja berlari tanpa mempedulikan rasa sakit di sekujur tubuhku. Aku juga sempat menabrak tumpukan besi dan membuat kakiku terluka hingga berdarah.

Aksi kejar-kejaran dengan polisi itu masih terus berlangsung hingga akhirnya aku merasa tak tahan lagi. Tulang-tulangku seakan-akan remuk. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja pada mereka.

Dan lagi-lagi otak brilianku ini masih bekerja dengan baik.

Aku memutuskan untuk bersembunyi sejenak saat aku memasuki sebuah kompleks perumahan.

Aku kemudian sibuk mencari-cari tempat yang pas untuk bersembunyi dan pada akhirnya aku menemukannya.

Semak-semak. Awalnya aku berniat untuk bersembunyi di sana namun sesaat kemudian aku malah memutuskan untuk melompat ke dalam rumah seseorang melalui jendela yang terbuka di balik semak-semak itu.

Aku melompat dan membanting tubuhku dengan asal ke jendela itu. Alhasil, tubuhku yang memang sedari tadi sudah terasa remuk kini bertambah remuk. Aku mendarat dengan punggungku.

Saat aku merasa situasi di luar sudah aman, aku ingin segera keluar dari tempat ini. Namun niat itu ku urungkan mengingat keadaanku yang sudah amat kehabisan tenaga. Jadi, aku memutuskan untuk beristirahat sejenak.

Namun aku malah ketiduran sampai pagi dan menyadari bahwa tempatku bersembunyi ternyata adalah kamar seorang yeoja.

Dan yeoja itu telah mendapati diriku tengah berada di dalam kamarnya.

Yeoja itu terlihat sangat panik dan ketakutan. Namun aku berusaha menjelaskan semuanya.

Dan ku harap, yeoja itu mau mempercayaiku.

+++

(Kyungjin P.O.V)

Aku mendengarkan penjelasan dari namja aneh ini dengan seksama. Tapi, aku juga sedikit jengkel dengan tingkahnya. Dia sudah berbicara panjang lebar namun belum juga mau melepaskan tangannya yang besar itu dari mulutku.

Aku terus berusaha meronta hingga akhirnya dia memberi isyarat padaku untuk diam dan melepaskan tangannya dari mulutku.

Fiuhh. Akhirnya aku bisa bernapas dengan lega, karena semenjak dia membekap mulutku, aku jadi sulit bernapas. Aku mengambil jarak yang cukup jauh dari namja itu, sebab aku masih takut pada namja ini. Ia juga memutar badannya dan berjalan menuju jendela kamarku itu, lalu bersandar di sana sambil melanjutkan penjelasannya.

Ia memperkenalkan dirinya dan menjelaskan semua tentang dirinya, mulai dari latar belakang keluarga, pendidikan, hingga alasannya sampai bisa berada di dalam rumahku ini.

Saat aku tahu tentang latar belakang pendidikannya, wow, ternyata aku sedang berhadapan dengan calon Einstein kedua. Tapi dilihat dari wajahnya, ia sama sekali tidak nampak seperti orang jenius pada umumnya seperti : rambut yang disisir rapi, raut muka datar, berpenampilan sederhana, dan paling tidak ada kacamata setebal pantat botol yang bertengger di hidungnya.

Namja ini justru sangat jauh dari deskripsi orang jenius menurutku. Rambutnya terkesan acak-acakan, apalagi ia mewarnai rambutnya dengan warna yang sedikit tidak lazim menurutku. Kuning!

Penampilannya sama sekali tidak dapat dikategorikan biasa-biasa saja, sebab aku tidak dapat memungkiri kalau ia cukup keren walaupun saat ini ia hanya memakai baju kaos hitam yang kelihatan tipis. Dan yang pastinya, tidak ada kacamata setebal pantat botol yang bertengger di hidungnya. Aku malah mengambil kesimpulan kalau namja ini juga terlihat lumayan tampan.

Namun aku sangat terkejut saat ia memberitahuku bahwa ia adalah seorang buronan. Bagaimana mungkin? Wajahnya sama sekali tidak seperti wajah kriminal.

Ia lalu buru-buru menjelaskan mengapa ia sampai bisa dimasukkan ke dalam penjara.

Kasihan juga. Ternyata ia disangka mencelakakan dosennya sewaktu ia melakukan penelitian, yang berakibat nyawa dosennya tersebut melayang.

Ia juga berkata padaku bahwa ia merasa dirinya tidak pantas disalahkan atas semua kejadian itu.

Seketika aku menyelidiki buronan yang berdiri tak jauh dari tempatku ini. Aku baru tersadar bahwa baju kaos hitam yang ia pakai itu ternyata bertuliskan kata “TAHANAN” dengan sangat jelas.

Omo. Dia benar-benar seorang buronan. Aku kembali menyelidikinya dengan seksama namun sepanjang aku menyelidik, aku tak menemukan sedikitpun tanda-tanda kedustaan dari apa yang telah ia jelaskan.

Tapi, bisa saja ia hanya berpura-pura dan memiliki tujuan lain. Apa aku harus percaya dengan semua kata-katanya?

TO BE CONTINUE

Gimana? Bagus g?

*reader : nggak!*

Oke.. bagus g bagus tetap komen ya…

Ehehehe..

Gomawo udah mau menyempatkan diri untuk baca ff aneh bin g jelas ini.. ^^

*senyum pepsodent*

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

18 thoughts on “The Sweet Escape – Part 2”

  1. huaaa.. Jong pinter?? ga percaya *BUGH* *dilempar centong ama jong*
    lanjutt ya chinguu… kayanya ini pernah di post di blog lain kan ya??? dan udah tamat
    iya kan?? hehehe

  2. bagus kok!!!
    gila jjong jenius amat, tapi kasian amaat jadi buronan….
    ckckcck *Jjong oppaaa sembunyi di rumah aku aja~~ #PLAKK*
    hahahaa
    lanjut ya chingu…
    ditunggu lanjutannya~~ ^^b

  3. Wah!
    Aku udah baca mpe tamat nih!
    Kereeeen loh!!!
    Aku suka!
    TApi gak percaya jjong buronan…
    Sini jjong ngumpet di balik ketekku *digebukin blingers

  4. hua akhirnya part 2 keluar x)
    uaaaahhh ternyata gt ya asal usulnya 8D
    gila keren bgt critanya !
    Kayakny bakal jd ff yg panjang nih :3 aku pantengin deh pokokny ! Ceritany bgs bgt xD

  5. wahhhhhh….aku suka. aku suka part ini.

    ga banyak conversation-nya tapi udah bisa nangkep perasaan tokohnya.
    deskripsi ceritanya juga ok bgt..

    niceeee ^^b

  6. syukurlaaah..
    ternyata bisa..
    tapi buseeet..
    mesti fullsite 😦

    dyuuuu..
    kereen, sayaaang…
    saya jadi minder..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s