JUST FOR ONCE

Just for once!

Author : mumuturtle

Cast     : cho ji eun, kim ki bum (key), cho kyu hyun, lee jin ki (onew), kim hye sun.

p.s        : mianhae sebelumnya. FF ini sebenernya ydah dipublish di tempat lain. Tapi siapa tahu ada yang belum baca jadi aku coba publish disini. Tapi ini asli buatanku kok tenang aja. Oke… lets enjoy it.

JI-EUN POV

Aku, cho ji-eun. gadis berumur 16 tahun yang sedang bersekolah di Paraneul SHS (maaf nama sekolahnya ngarang). Aku mempunyai seorang kakak yang bernama Cho Kyu Hyun dan seorang namjachingu yang sangat aku sayangi juga sangat menyebalkan. Aku hanya tinggal dengan kakaku di rumah yang notabenenya cukup besar peniggalan dari orang tuaku. Sedangkan orang tuaku… er…. aku tak mau membahasnya lagi. Sangat tragis.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Sepulang sekolah…..

Aku langsung menuju kamarku setelah dijemput oleh kakakku tadi. Sedangkan namjachingu-ku harus disibukkan dengan urusan-urusan yang aku sendiri tak tau apa itu.

Huffttt,,, di selalu saja begitu. Selalu bersikap dingin, dan seenaknya. Namun di dalam sikapnya yang menyebalkan itu aku tahu bahwa dia sangat sayang dan pengertian padaku. Mungkin itulah yang membuatku jatuh hati padanya, padahal pada awalnya aku sangat sangat membencinya

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

“heh… siapa dia? Raut wajahnya selalu dingin dan senyum liciknya itu….membuatku muak!?” ujarku saat  melihat seorang namja yang lewat begitu saja ditengah para yeoja yang mengerumuninya histeris.

“hya!!! Kau tak tau? Dia itu murd pindahan itu… dia sangat tampan, andai aku belum memiliki pacar mungkin aku akan seperti para yeoja itu..” ujar hye sun, sahabatku yang sedari tadi disebelahku.

Aku menoleh ke arah hye sun dan menatapnya tajam, “bagaimana jika onew oppa tau ha? Baboya!!” aku menjitak kepala hye sun. Hye sun hanya meringis kesakitan.

Saat kutatap kembali ke depan, kudapati namja yang dari tadi diteriaki oleh para yeoja itu sudah ada dihahadapnku. Ia menatapku dan aku hanya balas menatapnya dengan tatapan ‘mwo?’

“joaheyo!” ujarnya cepat namun jelas.

Semua yeoja yang semulanya histeris menjadi bukam seribu bahasa.aku menatap sekelilingku dengan keheranan yang masih menyelubungiku.

“apa maunya dia?” aku bertanya-tanya dalam hati.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

5 bulan kemudian….

Semenjak kejadian yang tak disangka-sangka itu, hubunganku dengan namja itu menjadi dekat. Onew oppa yang mengenalkanku tiba-tiba dengannya. Namja yang bernama Kim ki Bum atau sering dipanggil Key oleh temannya.

Aku selalu saja berselisih dengannya, selalu tak ada yang mau mengalah.

Hingga suatu saat……

Bel berbunyi… aku tak langsung keluar dari kelas. Sekiranya 30 menit kemudian aku keluar dan mendapatinya ada di sana.

“ehh?? Onew oppa ada apa? Tak bersama hye sun?” aku celingukan melihat kebelakang tubuh onew. Akan tetapi yang kulihat bukanlah hye sun melainkan Key.

“key?” gumamku. Aku menatap onew oppa dengan tatapan ‘ada apa ini?’

“mm…ada yang ingin Key bicarakan padamu.” Ujar Onew oppa singkat. Aku memiringkan kepalaku dan menatap Key yang masih berada di belakang Onew oppa.

“sebaiknya aku pergi” Onew oppa segera bergegas pergi dari hadapanku dan berbisik sesuatu pada key.

Aku hanya diam mematung, menatap key yang sedang berjalan mendekatiku. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.

“mwoyeyo?” ujarku dingin padanya.

“bisakah kau jauhkan sikapmu yang dingin dan kekanak-kanakanmu itu kali ini?”ujarnya yang malah membentakku. Aku hendak mengatakan sesuatu sesaat sebelum ia membukam mulutku dengan tangannya.

Ia mendekatkan wajahnya dan aku hanya mengerjapkan mataku dengan cepat.

“aku akan mengatakannya dengan cepat dan hanya sekali jadi dengar baik-baik.” Ujarnya dengan sikap yang tak kalah dinginnya.

“hya!! Sekarang siapa yang bersikap dingin,ha? Harusnya kau juga jauhkan itu!” gerutuku dalam hati. Aku menyipitkan mataku masih heran dengan apa yang akan dilakukan oleh Key padaku.

“saranghaeyo!” bisik Key tepat di daun telingaku. Mataku membelalak saking kagetnya. Apa benar yang dikatakannya? Dia menyukaiku? Tapi….

“ku tunggu jawabanmu besok!” ia mengacak-acak rambutku lembut dan pergi dengan menyunggingkan senyum manisnya.

Entah mengapa jantungku berdebar kencang saat itu. Dan keesokannya entah setan apa yang merasukiku aku dengan tegas menyatakan bahwa aku juga mencintainya. Key oppa terlihat senang dengan jawabnku dan kamipun berpacaran.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Huftt.. entah apa yang merasukiku saat itu. Padahal kami selalu bertengkar namun kenapa bisa saling menyukai bahkan mencintai? Ckck..

Nae maeumeun geudaereul deutjyo meoributeo bal kkeutkkaji
Chingudeul nareul nollyeodo nae gaseumeun modu geudaeman deullyeoyo
Hanadulset geudaega utjyo sumi meojeul geotman gatjyo
Geudae misoreul damaseo maeil sarangiran yorihajyo yeongwonhi

Handphoneku berdering. Aku mengambil handphone yang ada di dalam tasku.

Ahhh…. pesan dari KEY OPPA!!!

From: Key Oppa

Hya!! Kau sudah sampai rumah?

Begitulah isi dari pesannya. Setiap ia memberiku sebuah pesan selalu saja tampak dingin dan singkat. Jika orang lain melihatnya pasti takkan percaya jika kami pacaran. Aku mengerucutkan bibirku dan hendak membalas pesan dari Key oppa.

Namun tiba-tiba…….

Kepalaku rasanya sangat berat. Sakit sekali, seperti ada yang menusuk-nusuk kepalaku. Aku mencengkram rambutku berharap sakit itu segera hilang. Handphonekupun terlepas dari genggamanku dan jatuh.

“KYAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!” aku berteriak sangat memekakan. Ini sungguh sakit sekali. Aku tak bisa menahannya lagi. Sakit. Oppa, tolong aku. dan aku sudah tak mengingat apapun. Aku jatuh terlungkup dilantai dan pandanganku gelap.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

AUTHOR POV

“KYAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!” ji eun berteriak sangat kencang. ia terus saja mencengkram rambutnya dan tak lama kemudian ia tumbang. Ia jatuh pingsan di lantai.

Mendengar teriakan ji eun yang sangat keras tersebut, seorang namja dengan tubuh jangkung dan mengenakan sweter bergaris hitam putih melangkah masuk dengan tergesa-gesa kedalam kamar ji eun.

“JI EUN-ah!!!” teriak namja itu setelah mendapati ji eun yang sudah terkapar tak sadarkan diri di lantai.

Pria itu lantas menggendong ji eun keluar dari kamar dan segera membawanya ke rumah sakit.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Beberapa menit setelah diperiksa, ji eun akhirnya sadar. Ia membuka matanya perlahan dan mengerjapkan matanya untuk memfokuskan penglihatannya.

Dilihatnya seorang pria yang tadi membawanya ke rumah sakit sudah duduk di samping ranjangnya. Pria itu menundukkan kepalanya menatap sebuah PSP yang sedang ia mainkan.

“kyu hyun oppa?” saut ji eun dengan suara lirih. Namja yang ternyata kakak ji eun mendongakkan kepalanya dan tersnyum.

“gwencanayo? Apa kepalamu masih sakit?”

“aniyo, gwencana.” Ji eun tersenyum. Dengan dibantu Kyu ia membenahkan posisinya menjadi setengah duduk.

JI EUN POV

“aniyo, gwencana.” Kataku dan tersenyum pada oppaku. Dengan dibantu oppa aku membenahkan posisiku menjadi setengah duduk. Kutatap wajah kyu oppa yang tampak sangat khawatir. Ia menggenggam tanganku erat. Untuk kesekian kalinya ia menyingkirkan game-gamenya hanya untuk mengkhawatirkanku.

“kau tak usah khawatir begitu oppa!” kataku manja saat melihat ia menyimpan PSPnya ke dalam saku celananya..

“kau harus segera memberitahunya, dan kau harus segera berobat untuk kesembuhanmu.” Ujarnya dengan nada yang sangat lembut. Ia menatap mataku dengan tatapan memohon agar aku mau menurutinya.

Tapi aku tak mau. Aku tak mau jika key oppa tau penyakitku ini, aku tak mau membebaninya. Aku lantas menundukkan kepalaku sekaligus menggeleng.

“opseo, jangan memberitahunya.” Aku semakin menenggelamkan kepalaku dan menatap jari jariku yang sedang asyik memainkan kain bajuku.

“tapi jika kau tak memberitahunya ia akan terus bersikap dingin padamu, sedangkan kau sedang sakit seperti ini. Biar aku yang mengatakannya.”

Kyu oppa mengeluarkan handphonenya dari saku celana jeansnya dan hendak menghubungi key oppa.

Dengan cepat aku mencegahnya dan menggelengkan kepalaku dengan cepat.

“oppa, anika. Jebal!” aku memohon padanya, “ia memang selalu bersikap dingin padaku, tapi itulah yang aku suka, dirinya yang apa adanya.  Oppa jebal.” Tak terasa aku mulai menitikkan air mataku. Aku benar-benar tak ingin membebaninya dan membuatnya khawatir. Cukup kyu oppa yang sudah kubuat khawatir dengan keadaanku yang tak menentu.

Aku hendak memalingkan wajahku sebelum ditahan oleh kyu oppa. Ia menghapus air mataku yang mengucur di pipiku dengan lembut.

“geurae, hajiman…… kau harus jaga dirimu dengan baik. Araseo?” aku menganggukan kepalaku dan menyunggingkan senyum termanisku padanya. ia mengusap kepalaku lembut.

Aku beruntung memiliki orang-orang yang sangat sayang di sekelilingku. Banyak orang yang berkata mereka iri padaku. Namun sebaliknya, akulah sebenarnya yang iri pada mereka. Mereka tak harus dibebani dengan penyakit yang mematikan yang bersarang di tubuh mereka. Tak sepertiku yang sedang berjuang melawan penyakit ini. Kanker otak, yang sudah mencapai tahap menengah.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

“kyaaaaa!!!!” tiba-tiba rasa sakit yang menusuk muncul lagi di kepalaku. Sudah akhir-akhir ini sering terjadi. Dan aku pikir ini hanya sakit kepala biasa makanya aku tak terlalu memperdulikannya. Namun sakit ini terus saja datang dan menyerangku. Sakit sekali. Bahkan aku sering sekali jatuh pingsan.

Kyu oppa lantas berinisiatif untuk membawaku ke rumah sakit untuk memeriksakan apa sebenarnya yang terjadi padaku akhir-akhir ini.

KYU HYUN POV

“apa sebenarnya yang terjadi pada adik saya, dok?”aku bertanya pada dokter yang menangani ji eun. Dari wajah dokter itu aku dapat menyimpulkan bahwa keadaan ji eun sedang tidak baik-baik saja.

“ia mengidap..” perkataan dokter itu terhenti. Aku menunggunya dengan sabar. “kanker otak. Sudah mencapai tahap menengah.”

Mwo? Kanker otak? Aku menghela nafas panjang. Aku tak percaya dengan apa yang dokter itu katakan. Aku mengguncang tubuh dokter itu dan meminta kepastian yang sesungguhnya. Namun dokter itu hanya menundukkan kepalanya dan tidak bergeming.

“apa bisa di sembuhkan?”

“bisa…” aku mulai menghembuskan nafas lega. “namun kemungkinan untuk sembuh sangat kecil. Karna jika salah satu bibit itu musnah, bibit lain akan dengan mudah menjalar. Terlebih lagi ini sudah mencapai tahap menengah.” Akupun kembali terhenyak. Ji eun sedang dalam masa kritisnya. Aku tak tau apa yang harus kulakukan. Apa aku harus mengatakannya? Appa, omma, bantu aku. aku tak ingin ji eun juga meninggalkanku seperti kalian meinggalkan kami.

>>>>>>

Aku melangkahkan kakiku menuju ruang dimana ji eun dirawat. Kubuka pintu itu perlahan. Dari celah pintu itu dapat terlihat ji eun telah sadar dari pingsan.

“kyu oppa?” panggilnya lirih. Aku miris melihat adikku. Wajahnya pucat, tubuhnya sangat kurus. Aku mendekatinya dan duduk di samping ranjangnya. Kubelai kepalanya lebut dan ku paksakan senyumku padanya.

“ottokhae? Aku sakit apa?” ia bertanya padaku. Aku tak tau harus melakukan apa, aku hanya tertunduk dan menggenggam tangannya erat.

“apa sakitnya separah itu? Apa tidak bisa disembuhkan?” ujarnya lagi dengan suara yang bergetar. Aku masih terdiam tak tau apa yang harus kukatakan. Aku tak ingin ia tau tapi………

“oppa jawab aku!!” bentaknya padaku yang sedari tadi diam tak menjawab satupun pertanyaannya. Aku mengatur nafas dan emosiku. Dan kumulai menjelaskannya dengan perlahan.

“Ji eun, neo…….” kata-kataku terhenti saat menatap matanya. “kanker otak..” aku mengatakannya dengan berat hati.

Ji eun tampaknya sangat shock mendengar jawabanku. Ia mulai menangis. aku mendekatinya dan mengarahkan kepalanya ke pelukanku. Ia menangis terisak, ku eratkan pelukanku. Berharap ini semua hanya mimpi.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

JI EUN POV

Aku sudah siap dengan tas sekolah yang kusungging di punggungku.

Doraseoneun neoreul bomyeo sarangi geojchogadeon

Shigani ijeya naegedo boigo ijjiman

Ibyeoriran sungancheorom oneungeora saenggakhaejji

Naege ireoke

seumyeodeulgo isseoddaneun geol mollasseosso

ku dengar handphoneku berbunyi. Kurogoh saku kemejaku dan mengambilnya.

”uh? Key oppa menelpon?” aku heran saat melihat nama key oppa tercetak dilayar handphoneku. Tak biasanya sepagi ini dia sudah menghubungiku.

”yoboseyo?”

”hya……!!! kenapa kau belum datang juga? Gwencanayo?” tanyanya sedikit mebentak padaku.

”bisakah kau tak membentakku pagi-pagi begini? Aku akan segera berangkat!” aku memutuskan hubungan telpon tersebut.

”haishh…… selalu saja seperti itu..” gerutuku.

”ji eun-ah… ayo cepat!!” ku dengar Kyu oppa sudah berteriak memanggil namaku.

Aku segera melangkahkan kakiku menuju asal suara tersebut. Sesampainya dihalaman rumah, kulihat Kyu oppa sedang sibuk dengan PSPnya. Ia sudah menyiapkan mobil dan juga akan mengantarku hari ini. Setelah melihatku ada dihadapannya, ia menyimpan PSP kesayangannya.

Aku memasuki mobil itu diikuti dengan oppaku. Ia mulai mengemudikan mobilnya perlahan.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Di sekolah……….

”kau yakin akan bersekolah hari ini? Apa tak sebaiknya kau istirahat saja?” ujar kyu oppa yang tampaknya masih khawatir akan keadaanku. Tapi aku yakin, sangat yakin bahwa aku sudah tak apa.

”huum… kau tak perlu khawatir, ada key oppa disini..” ujarku sambil menarik ujung-ujung bibirku membentuk senyuman untuk menyakinkannya.

”ji eun-ah!!!” ku dengar seseorang memanggilku. Ku tolehkan kepalaku kebelakang, ku lihat hye sun sedang berlari-lari sambil melambaikan tangannya mendekat ke arahku.

”hye sun-ssi!!” aku balas melambaikan tanganku.

”annyeong oppa!” sapa hye sun pada kakakku sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.

”ya sudah, oppa. Aku masuk ya!” ujarku sambil menggandeng hye sun dan melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah didepan.

”apa aku perlu menjemputmu?” kyu oppa berteriak.

”aku akan menelfonmu nanti!” aku balas berteriak sambil melambaikan tanganku pada kakakku yang tercinta.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Di halaman sekolah….

Aku dan hye sun masih berjalan-jalan di sekitar halamn sekolah.

”apa kau yakin kau baik-baik saja?” tanya hye sun memulai percakapan diantara kita. Aku menatapnya dan mendengus. Aku hanya tersenyum padanya. Hah, kurasa dia akan sama saja dengan kyu oppa yang selalu mengkhawatirkanku.

”err… dimana onew oppa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

”uh? Ahh…. onew oppa sedang megurus sesuatu di ruang OSIS. Kurasa dia akan sibuk akhir-akhir ini.” terdengar nada kekecewaan dari jawabannya. Tentu saja, onew oppa sangat sibuk dan pasti mereka akan sangat jarang bertemu.

”ah itu key oppa!” tunjuk hye sun pada arah jam 11. aku menoleh dan mendapati key oppa yang berjalan angkuh dengan wajahnya yang super dingin. Aku menelan ludah, ku harap takkan ada bencana hari ini.

”oppa?” sapaku sambil tersenyum manis padanya. Kudengar samar-samar key oppa menyeringai.

”kau tak usah tersenyum-senyum seperti itu. Ayo ikut aku!” ujarnya dingin sambil menarik tanganku. Aku menatap kebelakang, ji eun hanya melambaikan tangannya padaku. Sedangkan aku mulai kewalahan mengikuti langkah-langkah cepat key oppa.

”oppa, bisa kau berjalan lebih lambat?” ujarku terengah-engah. Namun key oppa tak menghiraukanku dan terus berjalan.

Ia membawaku ke kelasku. Mendudukkanku di tempat biasa, dipojok dekat jendela. Ia duduk disampingku dan menatapku dingin.

”kenapa kemarin tak membalas pesanku? Gwencanayo?” tanyanya dengan nada yang masih saja dingin.

”mianhae. Gwencana, hanya….” aku berpikir bagaimana aku harus menjelaskannya.

”kau pingsan lagi?” ujarnya seketika. Aku terkesiap dan lekas menatap wajahnya yang mulai melembut. ”sebenarnya kau kenapa? Kau sakit apa? Kau lihat wajahmu pucat. Kenapa tak istirahat saja dirumah?” ia tampak mulai khawatir denganku.

”aku hanya…. kelelahan. Kau tak usah khawatir.” ujarku sambil menundukkan kepalaku. Aku tak berani menatap matanya jika aku sedang berbohong.

”hya! Bagaimana aku tak khawatir jika yeojachingu-ku sakit dan tak memberiku kabar sama sekali.” ia meninggikan suaranya dan membuat seisi kelas menoleh ke arah kami. Aku menatap sekeliling orang yang menatap ’jangan berisik’ dengan hanya tersenyum masam.

”mianhae.. aku tak akan mengulanginya.” ujarku sangat menyesal sambil mengerucutkan bibirku. Kulihat ia tersenyum. Aku suka saat ia tersenyum, sangat suka. Ia terlihat manis dan kesan dinginnya jadi hilang begitu saja.

”geurae, aku kembali ke kelasku. Kau baik-baik disini.” ia berdiri dari tempatnya duduk. Ia meninggalkaku setelah sebelumnya ia mengacak-acak rambutku yang sudah susah payah kutata rapi.

’ Kau baik-baik disini? Kau pikir aku anak berumur 10 tahun, huh?’ gerutuku dalam hati sambil menatap punggungnya yang semakin menjauh.

Dia memang selalu menyebalkan. Dia memang selalu bersikap dingin, namun jika ia sedang berbaik hati dan lembut aku yakin pasti semua yeoja akan meleleh dibuatnya. Hehe…..

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Waktu berjalan terus dan terus. Kenapa pelajaran ini tak selesai-selesai juga. Aku sudah tak kuat lagi, ditengah perlajaran matematika yang membuatku pusing itu kepalaku tiba-tiba terasa sakit lagi. Sangat sakit. Kumohon jangan sekarang. tidak di tempat ini.

”arghh…” aku merintih kesakitan. Kutahan suaraku agar tak menimbulkan keributan di dalam kelas. Aku menggigit bibir bawahku agar aku tak menjerit kesakitan.

Ku penggangi kepalaku. Aku mulai menjambak rambutku untuk menglihangkan rasa sakit itu. Ku penjamkan mataku.

”ARGHHH!!!” aku tak sanggup lagi menahannya dan melepaskan semuanya dalam satu teriakan yang sangat kencang. Kurasa semua orang menoleh kearahku sekarang. aku membenamkan kepalaku dan masih mencengkram kuat kepalaku.

”ji eun-ssi, gwencanayo?” kudengar suara park seongsenim di sampingku. Aku tak menjawabnya, aku hanya merintih kesakitan. Dan selebihnya aku tak tau. Semuanya gelap.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

KEY POV

”key, kudengar ji eun ada di UKS sekarang. Dia tadi pingsan.” ujar onew hyung setelah jam pelajaran usai.

Aku yang sedang merapikan buku-bukuku kaget mendengarnya. Ji eun ada di UKS? Ada apa dengannya? Aku memasukkan bukuku dengan asal ke dalam tasku. Ku ucapkan terima kasih pada onew hyung yang sudah memberiku informasi dan segera berlari menuju UKS.

Di UKS…

Aku melihat ji eun berbaring di ranjang paling ujung di ruangan itu. Ia terlelap. Wajahnya sangat pucat. Aku melangkah mendekat. Ku tatap wajahnya lekat dan duduk disamping ranjangnya.

Saat aku hendak menggenggam tangan ji eun. Kulihat banyak rambut yang terselip diantara jari-jarinya. Ku tatap dengan saksama rambut-rambut itu dan wajah ji eun secara bergantian. Ku bersihkan tangannya dari rambut-rambut itu dan ku kecup punggung tangannya.

Aku terkesiap saat melihat ji eun mulai membuka matanya. Apa aku membangunkannya? Ia menatapku dengan tatapan nanar.

”key oppa? Onjebutuh neo yogi isoyo?” tanyanya dengan suara yang sangat lemah.

”sejak tadi. Apa kau tak suka jika namjachingumu menunggumu?” jawabku dengan dingin seperti biasa. Aku melihat dia menggembungkan pipinya. Sangat lucu. Ku ayunkan tangannku untuk mencubit pipinya dan ia meringis kesakitan.

”kenapa kau bisa pingsan lagi? Katanya kau berteriak sangat kencang sebelum kau pingsan, jeongmalrimnikka?” matanya membulat dan menatap mataku. Ia hanya cengengesan menjawab pertanyaanku dan kembali menggembungkan pipinya.

”padahal aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Tapi karena keadaanmu sepertinya tak memungkinkan kuantar kaupulang saja.” aku bangkit dari tempat duduk dan masih menggenggam tangan ji eun. Ia menatapku heran.

”odi e ga?” tanyanya penasaran. Aku hanya tersenyum dam mengkecup keningnya lalu pergi dari ruangan berbau obat-obatan tersebut. Ji eun tampaknya sangat penasaran sehingga ia menyusulku dengan terburu-buru.

”Hya!! Key tunggu aku!” aku menoleh kebelakang dan mendapati ji eun yang terengah-engah saat berlari menyusulku. ”aku sudah baik-baik saja. Kita bisa pergi sekarang!” ujarnya penuh semangat. Aku menyipitkan mataku dan mensejajarkan wajahku dengan wajahnya. Ia mengerjapkan matanya.

”jinja? Tapi mukamu masih sangat pucat begitu. Sebaiknya kita pulang saja dari pada aku harus di omeli oleh kakakmu itu.” aku menyimpan tanganku ke dalam saku celanaku dan beranjak. Namun ji eun masih tak menyerah.

”aku sudah baik-baik saja. Aku yakin. Aku akan menelpon kyu oppa dan semua akan baik-baik saja. Ottokhae?” ia memasang puppy eyes yang membuatku gemas. Aku mengusap kepalanya dan menganggukkan kepalaku.

Terlihat sekali ia sangat senang saat aku menyetujuinya. Tapi apa benar ia tak apa-apa dengan keadaannya seperti itu? Bagaimana jika terjadi apa-apa? Haishhh aku sendiri tak tau penyakit apa yang ada di tubuh kecilnya itu.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

JI EUN POV

Waaa….. key oppa mengajakku ke taman bermain. Entah mengapa aku sangat senang sekali. Ia tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, ia selalu berkata bahwa berpacaran tak harus selalu kemana-mana bersama dan tak harus berkencan setiap waktu.

Entah setan apa yang merasukinya hingga mengajakku kemari. Sebenarnya kepalaku masih sedikit sakit. Namun aku berusaha menahannya, karena kesempatan ini mungkin tak akan datang lagi.

”kau mau main apa?” tanya key oppa mengagetkanku. Ak mengusap-usap daguku sambil berpikir permainan apa yang hendak ku mainkan bersama key oppa. Ku lihat sekeliling dan salah satu menarik perhatianku. Aku menunjuk permainan itu sambil tersenyum.

”mwo? Roller coaster? Aniyo!” ucapnya sambil melipat tangannya di depan dadanya.

”waeyo? Tapi aku sangat ingin main itu….” kataku manja dan menggelayuti tangan key.

”kau tak lihat kau sedang sakit? Bagaimana jika kau muntah atau pingsan?” key oppa mulai menasehatiku dengan sikapnya yang kembali dingin. Aku mendengus kesal dan memonyongkan bibirku.

”aku tak mau jika kau tambah buruk. Aku tak mau dibunuh oleh kakakmu itu.” ujarnya yang mulai menurunkan nada bicaranya. Kutatap wajahnya yang sedang menoleh ke arah lain. Lalu aku berjalan pergi mendahuluinya.  ”hyaa!! Kau mau kemana?”

”aku mau naik bianglala saja. Jika itu kau tak akan melarangku kan?” tariakku yang masih saja berjalan mendahuluinya. Tak kudengar key oppa yang bawel itu mulai mencerocos lagi. Itu artinya aku boleh menaikinya. Aku melangkahkan kakiku dengan ringan ke tempat antri pembelian tiket.

”kajja!” aku menarik lengan key oppa memasuki salah satu gerbong itu. Aku mendudukkan badanku dengan nyaman di hadapan key oppa. Ku lihat ia sedang berpikir sesuatu. Tapi apa? ”gwencanayo oppa?” kayaku menyadarkannya dari lamunannya.

”uh? Harusnya aku yang menanyakan itu padamu!” balasnya dengan ketus. Aku melengos dan melihat keluar jendela sebuah pemandangan kota seoul yang indah dapat terlihat.

Gerbong berhenti berputar selama 15 menit saat berada di puncaknya. Aku menatap key oppa yang sedari tadi mendiamkanku.

”oppa! Saranghae.” ujarku tegas padanya. Namun ia hanya membalasku dengan gumaman kecil dan sama sekali tak menatapku. ”hya! Oppa, kau marah padaku?”kataku yang mulai jenuh dengan sikapnya itu.

”ani.” ia masih saja tak menatapku.

”kalau begitu katakan bahwa kau mencintaiku.” kataku dengan paksa. Ia mulai menggerakkan kepalanya dan mentapaku. Namun bukan tatapan hangat yang akan mengatakan ’na do saranghae’ namun tatapan yang menyatakan bahwa ’aku menyesal memiliki pacar sepertimu’.

”hya! Kau dari tadi ribut saja. Bukakah aku sudah mengatakannya berkali-kali? Cinta itu tak harus diungkapkan dengan kata-kata. Araseo? Berapa kali lagi aku harus mengulanginya?” jawabnya dengan datar dan ketus. Aku hanya menundukkan kepalaku. Moodku mendadak hilang karena ucapannya itu. Selalu itu yang ia ucapkan jika aku memintanya untuk menunjukkan rasa cintanya padaku. Apa ia tak menyukaiku lagi? Jika tahu akan seperti ini aku tak akan memaksanya untuk tetap mengajakku kemari.

Huffttt tak terasa kami sudah mencapai bawah lagi. Sudah tiba saatnya untuk kami turun. Kulangkahkan kakiku perlahan keluar dari gerbong itu. Namun tiba-tiba, aku terhuyung hampir jatuh jika saja key oppa tak menahanku dari belakang.

”gwencanayo?” ujar key oppa yang dengan kuat menopang tubuhku agar tidak jatuh. Aku hanya menganggukan kepalaku dan tersenyum masam padanya.

Ahh…. sakit itu kenapa harus muncul lagi. Kumohon jangan lagi. Jangan disaat aku sedang bersama key oppa. Aku tak mau ia mengetahuinya.

Aku melangkahkan kakiku dengan perlahan sambil masih ditopang oleh key oppa. Aku menghentikah langkahku tepat didepan sebuah arena permainan. Namun aku tak ingin bermain, ku pikir aku sudah tak sanggup lagi untuk bermain.

Aku membalikkan badanku menghadap key oppa. Ia hanya menatapku sinis. Namun aku tak menghiraukannya, aku langsung saja mneghambur ke dalam pelukan key oppa. Ku rasa sepertinya key oppa terkejut dengan apa yang kulakukan. Ia hanya membisu.

”hya!! Apa yang kau lakukan, huh? Ini tempat umum, semua orang memperhatikan kita. Hya! Lepaskan!” ujarnya berbisik ditelingaku.

”biarkan saja.” sahutku. Aku mempererat pelukanku, membenamkan wajahku ke dalam bahunya.

”waeyo?” katanya yang mulai membalas pelukanku. Akhirnya kurasakan lagi pelukan hangatnya lagi. Aku sangat nyaman berada dalam pelukannya. Apa ia menyadari bahwa aku sedang menahan tangisku makanya ia memelukku?

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku masih membenamkan wajahku dalam bahunya. Menahan tangis. Sangat ingin ku tatap wajahnya dan menyatakan permintaan maafku karena telah membohonginya selama ini tentang penyakitku. Aku tak mau terus membohonginya seperti ini, kurasa tak adil baginya. Aku tak mau ia menaruh curiga padaku. Namun aku juga tak ingin ia mengetahui kebenarannya. Aku benar-benar tak ingin membebaninya. Tak ingin membuatnya sedih.

”ji eun-ah! Gwencanayo?” ujarnya sambil melonggarkan pelukannya. Aku tersentak dan mengangkat wajahku yang tampaknya sudah basah oleh air mata. Untung saja key oppa sama sekali tak menyadari bahwa kau tengah menangis.

Ku ayunkan tanganku ke pipiku untuk menghapus air mata itu. Namun saat ku tarik kembali tanganku, kulihat terdapat darah segar berada dalam telapak tanganku. Aku menatap lurus kedepan. Kulihat bayanganku dalam sebuah pintu besi berwarna silver. Darah segar mengalir perlahan dari dalam hindungku. Aku sangat kaget mengetahuinya.

Ku rogoh-rogoh saku kemejaku untuk mencari sebuah sapu tangan. Dengan cepat ku usap dan kututupi hidungku agar key oppa  tak mengetahuinya.

AUTHOR POV

Ji eun merogoh-rogoh saku kemejanya untuk mecari sebuah sapu tangan. Dengan cepat ia mengusap dan menutupi hidungnya agar key tak melihatnya. Namun, karena merasa ada yang aneh dengan yeojachingunya, ia segera melepaskan pelukannya.

Dilihatnya ji eun yang kikuk sedang menutupi hidungnya dengan sapu tangan berwarna putih bersih.

”mwoyeyo?” tanya key heran pada ji eun. Ji eun hanya menggeleng dan tak menjawab. Ji eun hendak melangkahkan kakinya pergi sebelum key menarik tangannya. Tarikan key sangat kuat hingga membuat pertahanan ji eun runtuh. Tangan yang sedari tadi menutupi hidungnya kini terbuka lebar. Key mencengkram tangan ji eun dan mengambil sapu tangan itu.

Ia melihat darah segar menepel pada permukaan sapu tangan itu. Key yang melihatnya sangat terkejut. Ia melemparkan tatapan tajam pada ji eun.

”igo mwoyeyo?” tanya key sambil mengayun-ayunkan tangannya yang menggenggam sapu tangan ji eun itu di samping badannya. Ji eun hanya terdiam.

”aku sudah bilang hanya kelelahan oppa.”

”geotjimal!” key membentak ji eun sambil membuang sapu tangan itu dengan sembarangan. Ji eun menundukan kepalanya dalam-dalam saat mendengar bentakan key yang sangat keras itu. Semua orang memperhatikan mereka.

”oppa, semua orang memperhatikan…..”

”biarkan saja!” bentak key lagi dan memotong perkataan ju eun. Ji eun mulai terisak mendengrt setiap bentakan key tadi. Key memang sangat dingin dan cuek terhadapanya. Namun baru pertama kali ini ji eun mendengar dan melihat key yang sedang marah besar dan membentaknya dengan kejam.

”kau sakit apa ji eun? Penyakit apa yang bersarang ditubuhmu itu? Katakan padaku!” key mencengkram bahu ji eun dan mengguncangkannya. Ji eun tak bergeming dan hanya meringis kesakitan sambil menahan tangisnya yang mulai pecah.

”oppa, apoyo!” ujar ji eun lirih. Key melepaskan cengkramannya pada bahu ji eun dan menariknya ke dalam pelukannya. Key memeluknya dengan erat, sangat erat. Sementara ji eun masih terisak.

”jangan berbohong lagi. Kumohon, katakan padaku!” pinta key dengan suara yang sudah melembut. Ji eun membalas pelukannya, dan mencoba mengatur nafasnya yang tersengal akibat tangisnya.

”ka…kank..kanker…kanker otak.” ujar ji eun dan tangisnya mulai kembali pecah. Sedangkan key yang mendengarnya sangat terpukul. Key mulai menitikkan air matanya untuk pertama kalinya saat mereka pacaran. Ia sangat mencintai ji eun, bahkan jika bisa ia ingin menggantikan posisi ji eun.

Key membenamkan wajahnya dalam bahu kecil ji eun untuk menahan suara isak tangisnya agar tak terdengar oleh ji eun.

”oppa, kau menangis? Uljima!! Jangan menangis untukku.” ujar ji eun terbata-bata.

”aku tak menangis untukmu! Aku menangis karena aku harus mendapatkan pacar yang ternyata memiliki penyakit kanker otak!” key membalas dengan ketus pada ji eun. Ji eun yang mendengarnya tak marah sama sekali. Justru ia tersenyum, karena ia yakin itu adalah ungkapan rasa cintanya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

”oppa!! Aku pulang.” ujar ji eun ceria saat memasuki rumahnya. Di dapatinya oppanya yang sedang serius berada di dahadapan laptop kesayangannya. Ji eun hanya tersenyum melihat kebiasaan kakaknya itu.

”kau sudah pulang? Kenapa sampai malam begini?” tanya kyu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya. Ji eun hanya cengengesan menyahuti pertanyaan kakaknya itu.

Uhuk uhukk uhukk……

Suara batuk ji eun yang terdengar parau kini mampu mengalihkan perhatian kyu. Ia bangkit dari singgasananya dan mendekati adiknya. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi ji eun untuk mengecek suhu tubuh ji eun.

”kau sudah makan?” tanya kyu selanjutnya. Ji eun hanya menggeleng. Ia memang belum makan sedari tadi. Ia hanya memakan makanan ringan yang ia beli di pinggir jalan.

”apa yang dilakukan lelaki itu, ha? Sampai membiarkanmu telat makan seperti ini. Apa ia akan membuatmu mati kelaparan?” kyu menyolot tiba-tiba di hadapan ji eun. Ji eun hanya menatap geli pada wajah kyu yang sedang khawatir sekaligus marah. Kyu menepuk telapak tangannya dengan kepalan tangan yang satu lagi. Ia bergumam tak jelas yang sepertinya mencibir key yang dirasanya telah menelantarkan adiknya.

”oppa. Sudahlah!”

”haishh kau ini. Babo! Kenapa kau malah membelanya? Sudah sana masuk kamar, akan kumasakkan kau makanan.” kyu mendorong punggung ji eun untuk menyuruhnya kembali ke kamar. Ji eun pun hanya menuruti perintah kakaknya yang sedang kalap itu.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

JI EUN POV

Sesampainya dikamar……….

Nae maeumeun geudaereul deutjyo meoributeo bal kkeutkkaji
Chingudeul nareul nollyeodo nae gaseumeun modu geudaeman deullyeoyo
Hanadulset geudaega utjyo sumi meojeul geotman gatjyo
Geudae misoreul damaseo maeil sarangiran yorihajyo yeongwonhi

Ku ambil hanphoneku dalam saku kemejaku. Key oppa mengirimiku pesan.

From: Key oppa

Kau sudah sampai kamarmu? Pasti tadi kakakmu itu mengomel tentangku kan? Apa ia mengatakan sesuatu yang buruk tentangku?

Aku tersenyum  melihat pesan dari key oppa itu. Aku langsung dengan cepat mengetik balasan untuknya.

To: Key oppa

Aku sudah sampai di kamar dari tadi.

Bagaimana kau tahu jika kakakku mengataimu?

Segera ku tekan tombol SEND dan pesan itu terkirim. Kurang dari 5 menit balasan itu sudah kuterima.

“huh? Cepat sekali?”

From: Key oppa

Tentu saja aku tahu. Aku hampir saja menabrak grobak tukang cendol tadi saat perjalanan. Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa ia berkata sesuatu yang buruk tentangku?

Aku mulai tertawa membaca pesannya itu. Ku pikir-pikir tentang perkataan kakak tadi. Apa yang ia katakan? Ahhhh….

To: key Oppa

Aigoooo…. tapi kau tak menabrak kan? Kasihan tukang cendol itu jika kau tabrak. Hehe…..

mm.. tadi ia mengatakan bahwa kau menelantarkanku karena kau membiarkanku tak makan seharian ini.

Kukirim pesan itu. Kurebahkan tubuhku di atas ranjang yang sangat nyaman itu. Sejenak kulupakan masalah tadi sore. Kini aku tak terlalu memusingkan lagi jika key oppa tau tentang penyakitku. Bahkan aku lebih lega saat ini.

Nae maeumeun geudaereul deutjyo meoributeo bal kkeutkkaji
Chingudeul nareul nollyeodo nae gaseumeun modu geudaeman deullyeoyo
Hanadulset geudaega utjyo sumi meojeul geotman gatjyo
Geudae misoreul damaseo maeil sarangiran yorihajyo yeongwonhi

From: Key oppa

Mwo? Kenapa kau malah kasihan pada tukang cendolnya? Siapa namjachingumu? Aku atau tukang cendol itu?

Mwo? Bukankah tadi kau yang selalu menolak untuk kutraktir makan. Jadi jangan salahkan aku.

“ji eun-ah… cepat turun!! Makanannya sudah siap!” teriak kyu oppa dari lantai bawah.

“ne oppa” balasku.

Aku segera mebalas pesan key oppa dengan cepat.

To: key oppa

Haha… tentu saja kau.

Mianhae, oppa jadi menyalahkanmu..

Ahh,, aku sudah dipanggil kyu oppa untuk turun. Sudah ya…

Anyeonghi jumuseyo!

Lalu aku bergegas keluar kamar dengan setengah berlari sebelum kyu oppa mulai berteriak lagi. Teriakannya sangat memekakkan terlinga, makanya aku hendak keluar.

Hmmm… wangi masakan kyu oppa mulai tercium, sepertinya enak.. nyam!!!

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

JI EUN POV

Sudah satu bulan sejak kejadian itu.

Saat key oppa mulai mengetahui penyakitku. Sekarang ia sedikit berubah. Yah, ia tetap saja dingin padaku. Namun ia jadi sedikit seperti kyu oppa yang sedikit-sedikit mencemaskanku.

Sekarang ini aku sedang menikmati malam minggu bersama key oppa. Aku sangat senang sekali. Dan akhir-akhir ini aku jarang sakit kepala lagi. Apa penyakitku sudah sembuh dengan sendirinya? Hhaha… tapi itu tak mungkin. Babo!

“oppa… ayo kita duduk di sana!” kutunjuk sebuah bangku panjang putih di dekat sebuah taman bunga. key oppa menatap sekilas bangku itu dan berjalan lagi.

“aniyo. Sebaiknya kita pulang saja. Aku tak mau disalahkan lagi.”

“oppa ayo.” Aku menarik tangannya secara paksa menuju bangku itu. Ia hanya berdecak kecil namun tetap berjalan menuruti permintaanku.

Aku duduk di bangku itu. Begitu juga key oppa yang duduk di sebelahku. Aku menengadahkan kepalaku. Kupandangi langit malam yang ditaburi dengan bintang-bintang yang berkelap-kelip. Aku tersenyum.

“mengapa kau tersenyum sendiri. sudah lah ayo kita pulang saja. Kau perhatikan kondisimu.” Kata key oppa yang hendak bangkit namun segera kucegah.

“sebentar saja. Aku ingin bersamamu. Menatap bintang itu.” Kataku tanpa sadar arti dari perkataanku.

KEY POV

“sebentar saja. Aku ingin bersamamu. Menatap bintang itu.” Kata ji eun tanpa sadar arti dari perkataannya. Aku yang mendengarnya kembali terduduk dan menatap wajahnya dengan lekat.

“oppa!” panggilnya.

“hmm?” aku hanya bergumam menyambutnya.

“apa jika aku pergi kau akan mencari penggantiku?” aku sontak menatapnya kaget. Apa yang ia bicarakan? Apa ia sadar apa telah ia katakan itu? Ku dekatkan tubuhku dan kutarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Ku peluk tubuh kecilnya dengan erat.

“ku rasa aku tak akan bisa menemukan penggantimu.” Ujarku singkat. Tapi itulah yang kurasakan. Aku tak akan pernah bisa mneggantikan posisimu dihatiku. Tak akan. Secantik apapun yeoja itu. Kau lah yang selalu ku cintai ji eun.

“tapi aku kan tak bisa selamanya bersamamu. Jika aku jadi kau, aku akan mencari penggantimu, namun tetap menyimpanmu dalam hatiku yang terdalam. Dan aku berjanji tak akan melupakanmu. Araseo?” jelasnya panjang lebar. Aku sama sekali tak bergeming. Aku eratkan pelukanku. Kurasakan hangat tubuhnya. Namun ada keganjalan yang kurasa. Aku merasa hatiku sangat sakit. Sakit sekali. Dan takut…..

“makanya, kau harus berjanji untuk mencari penggantiku dan berbahagialah. Kau tak mau jika aku terus tak tenang kan? Jinja?” lanjutnya lagi. Kata-katanya sangat membuatku tercengang. Seakan-akan ia akan meninggalkanku selamanya. Apa ini pertanda? Ahh tidak-tidak. Aku tidak boleh berprasangka buruk. Ia mungkin hanya bercanda seperti biasanya.

Ia melepaskan pelukannya dan menatapku. Ia menunggu jawabku atas petanyaannya tadi. Jadi ia serius? “ne…” kumantapkan hatiku dengan susah payah. Aku ingin mengabulkan permintaannya itu. Entah mengapa aku tak mau menolak lagi permintaannya.

Kurasakan wajahku dengannya yang sangat dekat. Ku dekatkan lagi wajahku hingga berjarak hanya sekitar 4 cm. Lalu bibir kami menyatu. Selama setengah menit aku mengecup bibir lembutnya itu. Ku rasakan dia juga tak memberontak. Lalu, Ia bergerak menjauh dan menatap mataku lekat.

Disandarkannya kepalanya di atas bahuku.

“key oppa! Bisakah kau mengatakan bahwa kau mencintaiku? Satu kali ini saja!” pintanya sambil terus memejamkan matanya. Kutatap wajahnya lembut. Aku tak ingin melihat tampang itu. Wajah saat ia menutupkan matanya. Entah mengapa aku merasa takut lagi. Takut akan kehilangan tatapan matanya dan senyumannya.

JI EUN POV

Aku memejamkan mataku. Aku merasa sangat lemas entah mengapa.

“key oppa! Bisakah kau mengatakan bahwa kau mencintaiku? Satu kali ini saja!” pintaku sambil terus memejamkan mataku.

key oppa, saranghae. Jeongmal saranghae. Mianhae. Aku ingin kau bahagia. Kumohon jangan menangis setelah ini, ya. Aku tak mau melihatmu menangis lagi. Hanya sekali saja aku melihatnya. Dan selebihnya, berbahagialah.

Kukatakan kalimat-kalimat itu dalam hatiku karena ku tak sanggup mengucapkannya.

Saranghae.

KEY POV

“ji eun-ah” panggilku padanya yang sedari tadi diam.

“hmm??” ia bergumam. Aku bernafas lega daat mendengar suaranya itu, suara yang terdengar sangat letih. Suara yang selalu ingin kudengar.

“saranghaeyo! Jeongmal saranghae.” Kutatap wajahnya kali ini. Ia hanya tersenyum tanpa membuka kembali matanya. Aku pun ikut tersenyum melihatnya.

Ku tengadahkan kepalaku melihat bintang yang paling terang sudah muncul dari langit.

‘ji eun’ panggilku dalam hati. Air mata sudah menggenang di pelupukku.

Tiba-tiba, tangan ji eun yang sedari tadi menggenggam erat tanganku telah terkulai lemas. Diikuti juga dengan jatuhnya kepala ji eun dari bahuku menuju pangkuanku.

Aku terhenyak. Aku tak sanggup memandangnya. Aku hanya menatap lurus kedepan.

Air mata yang dengan susah payah kubendung akhirnya mengalir dan mengucur deras melalui pipiku. Kubelai rambut ji eun di pangkuanku.

“ji eun saranghae. Aku sudah mengatakannya. Kau dengar itu?”

Ku kecup keningnya dan ku genggam tangannya erat.

“kau dengar!” aku mulai membentak. “tapi kenapa kau malah meninggalkanku? Waeyo?” aku menangis terisak. Ji eun, nyatakah ini? Ataukah hanya mimpi? Kau meninggalkanku begitu saja disaat aku mulai menyadari betapa aku sangat mencintaimu, betapa aku sangat berhutang padamu, betapa kau sangat berharga untukku, betapa aku sangat menyianyiakanmu dengan sikap dinginku yang belum sempat kuperbaiki. Kenapa? Ku peluk erat tubuh ji eun yang sudah terkulai lemas dengan masih terisak oleh tangis.

Jangan menangis! kumohon jangan! Aku tak mau melihatnya. Jangan menangis untukku seperti yang pernah kau katakan itu. Cinta tak harus selalu bersama, kan? Kau pernah mengatakannya. Kau ingat? Jangan menangis, aku tak mau membuatmu sedih, mianhae. jangan menangis lagi,cukup sekali saja aku melihatmu menangis saat di taman bermain itu. Cukup sekali saja, dan jangan lagi. Kumohon!!

THE END

 

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

25 thoughts on “JUST FOR ONCE”

  1. sediiihh … T-T
    ga tega ngbyangin key nangis smbil meluk ji-eun … hikz ..

    critany nyentuh bget chingu .. T-T
    mpe brkaca-kaca bcany .. *nangis malahan ..
    sad ending bget ..
    critany bner.bner nguras hati . >.<b

  2. huaaaaaaaaaaaa sediiiihhhh!!!!!!!
    aku sampe berkacakaca hueeeee
    keynya kasiaaaaan apalagi ieunnyaaa hiks

    key oppa aku mau ko jadi engganti jieun he eh sumpah *di lempar sendal sama hantu jieun

  3. aq pngen nngis,
    Onyu oppa~ *lri cri Onyu oppa*
    Onew : da pa jagi??knpa qm nngis??,
    Q : Key oppa so sweet,
    *abaikn*

    Kren chingu,
    Aq pngen nngis,

  4. huwa,…….

    aku suka bnget cara mencintainya kibum……beda dari yang lain tapi tetep perhatiannya masih ada………
    love it banget lah…….

    ffnya hebat!?!?!?

  5. sumpaaaaaaah endingnya tuh berasa banget sedihnya aaaaaaa aku sampe nangis huweeeee :”””””((
    Keynya kasian banget aaaaaa lagi sayang22nya tapi malah ditinggal. tapi untung udah sempet bilang saranghae :’)
    huweeeeee daebak bgtbgt!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s