{YAOI} ROOMMATE

Title : Roommate

Author : Rara a.k.a Cute Pixie

Main Cast : JinkiXMinho

Other Cast : Jonghyun, Taemin, Key, Kim So Eun

Genres : Romance, Angst, Boys Love (Yaoi)

Rated : PG-13

Length : Oneshot

Disclaimer : Plot FF ini diambil dari Suju M-Net drama, tapi ini versi SHINee + ada beberapa perubahan disana-sini…

***

Jinki POV

Mataku nanar. Wajahku berubah pucat, seolah-olah tak bisa bernafas. Sebuah pisau tajam dengan noda darah tergeletak di samping lengan seseorang yang kini tebujur kaku.

“SoEun..” aku berusaha memanggil namanya, meski suaraku terdengar sangat pelan dan nyaris tak terdengar. Air mataku mengalir. “Aku mencintaimu…” kupegang lengannya yang kini dipenuhi darah.

Entah apa yang ada dipikiranku saat itu. Aku menyesal. Aku terus menangis didepan yeoja yang sudah tak bernyawa itu.

Sedetik kemudian, seluruh ruangan di apartemen itu terasa begitu gelap, aku sudah tak mengingat apa-apa lagi…

***

Kubuka mataku perlahan, aku bisa melihat ruangan yang didominasi warna putih. Rumah sakit.

Muncul seorang ahjumma mengagetkanku. Ia berteriak histeris. “Tega sekali kau membunuh anakku! Dasar biadab!”

Pria disampingnya menenangkan wanita itu.”Tenanglah.. ia tak membunuh SoEun anak kita.. SoEun bunuh diri..”

Wanita itu kembali menangis histeris. Sedetik kemudian tubuhnya terkulai dan jatuh pingsan. Para perawat segera mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya ke ruangan lain.

Sementara itu, aku masih terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu.

Umma yang duduk disamping tempat tidurku menoleh kaget. Ia memelukku. “Tenangkan pikiranmu, sayang.. aku tahu ini berat..”

Tangisku semakin keras. Tak perduli dengan perkataan ‘lelaki itu pantang menangis’.“A.. aku tidak membunuhnya..”

“Aku tahu, sayang.. SoEun bunuh diri.. itu bukan kesalahanmu..” ia kembali menenangkanku yang masih saja terisak. Airmataku meninggalkan noda basah di baju lengan panjangnya.

“Aku melihatnya meninggal.. waktu aia masih di dapur apartemenku, ia belum mati!” suaraku terdengar semakin serak.”Aku takut.. saat Ia hampir mati, ia seperti berbicara padaku…”

Beberapa detik kemudian, seorang wanita paruh baya berpakaian dokter mendekat kearahku. Ia tersenyum saat melihat keadaanku yang sudah sadar. “Syukurlah ia sudah siuman..”

“Jenazah SoEun sudah dibawa oleh keluarganya. Ibunya, wanita yang tadi datang ke ruangan ini, masih di ruangan lain. Ia belum siuman.. mungkin ia syok anaknya sudah meninggal..” tambahnya lagi.

“SoEun sudah dibawa pergi?” tanyaku gelisah.Aku beranjak dari ranjangku. “Aku ingin melihatnya.. “

Umma dan dokter itu berusaha menghalangiku. Mereka menyuruhku untuk tidur. Akhirnya aku menurutinya dan berusaha menutup mataku, meskipun aku bisa mendengar pembicaraan mereka.

“Mrs. Lee, sepertinya Jinki masih belum sepenuhnya sembuh. Ia masih syok. Aku mengerti perasaannya. Aku bisa membayangkan bagaimana kekasihnya mati dalam pelukannya. Ia butuh seseorang yang bisa menenangkannya.. aku takut ia akan melakukan hal-hal ekstrim..”

“Bunuh diri maksudnya?” tanya umma.

Dokter itu hanya mengangguk.

“Mereka sangat akrab. Saya sarankan anda menjaganya terus, dan buatlah ia senang…”

***

Kejadian itu sudah sebulan lebih.

Sebulan telah berlalu, tapi aku masih tak bisa melupakannya.

Kim SoEun.. ialah cinta pertamaku, dan kuharap akan menjadi cinta terakhirku.

Tapi aku ingin melupakan semuanya, melupakan kejadian itu. Aku ingin menjadi Lee Jinki yang baru, dan tak mengingat kembali yang ada dibelakangku.

Sudah beberapa minggu ini aku memutuskan untuk tidak tinggal lagi bersama orangtuaku, dan memilih untuk tinggal dalam satu apartemen bersama teman-temanku. Saat ini usiaku sudah menginjak angka 22, jadi mereka tak melarangku untuk tinggal dengan orang lain. Mereka sudah bisa membiarkanku belajar mandiri sekarang.

Aku sudah berusaha melupakan kejadian sebulan lalu itu, tapi kurasa tak bisa. Aku masih mengingat sosoknya, dan masih tetap.. mencintainya.

Kadang-kadang aku selalu melamun sendiri, membayangkan sosoknya ada disampingku. Kim SoEun, ia sosok gadis yang baik…kurasa ia masih ada disampingku sekarang. Sejak kejadian itu, aku berubah menjadi namja yang pendiam dan pemarah. Aku juga tak suka jika orang-orang mulai menyinggung tentang SoEun.

“Makanannya sudah siaaap…” teriak Key dari arah dapur.

Aku masih terdiam di sofa, meraih remote TV dan mengganti saluran kriminal.

Taemin berbalik kearahku. “Kau tak ikut makan bersama kami, Jinki hyung?”

Aku menggeleng, mataku tetap menatap layar TV.

Jonghyun berbisik. “Sudahlah, kita makan duluan saja.. kuharap kau maklum dengan sikapnya, ia memang sering diam. Ia baru kehilangan yeoja chingunya..”

Taemin yang baru seminggu bergabung dengan kami membentuk huruf ‘o’ di bibirnya dan mengangguk mengerti. Sedetik kemudian mereka melangkah menuju dapur disusul olehku.

“Begini.. aku ingin minta pendapat kalian semua.. bagaimana kalau kita menerima orang baru di apartemen ini?” tanya Key ketika kami sedang menyantap makanan di meja makan. Sebagai orang yang paling berkuasa ditempat ini, Key bertugas mencari orang baru yang bersedia bergabung ditempat ini. Tempat ini cukup luas untuk menampung banyak orang, dan bayaran sewa apartemen menjadi lebih murah.

Jonghyun dan Taemin mengangguk setuju, aku yang masih menyantap makanan malah tak menjawab sama sekali.

“Menurutmu bagaimana, Jinki?” pandangan Key beralih padaku.

“Ehem.. aku sih setuju-setuju saja..” jawabku sekenanya.

Key tersenyum.

Dan sehari setelah itu, kami benar-benar mendapat teman baru. Namanya Choi Minho.Ia pindahan dari Amerika, tapi berkewarganegaraan Korea. Ia berusia 19 tahun. Ia berwajah tampan, sampai-sampai Taemin dan Jonghyun merasa iri dengan ketampanannya.

Dan aku merasa ia mirip SoEun.

Aku tak tahu kenapa.. tapi kurasa sifat mereka sama persis. Tingkah lakunya.. kebiasaannya.. tak bisa kubedakan.

Kubaringkan tubuhku diatas kasur. Mencoba memutar kembali rekaman kejadian itu di otakku.

Pintu kamarku terketuk.

“Masuk..Pintunya tak dikunci..” sahutku dari dalam kamar.

Tak lama pintu kamarku terbuka. Muncul sesosok namja.“Jinki hyung.. bolehkah aku tidur bersamamu malam ini?”

“Kalau aku sih boleh-boleh saja.. tapi kau sudah bilang pada Taemin? Ia teman sekamarku,”

“Aku sudah minta izin padanya. Ia bersedia tidur di kamar Jonghyun.Aku ingin tidur bersamamu saja.. aku takut sekamar dengan Key.. ia menyeramkan.” Ia memasang ekspresi polosnya. Aku hanya tersenyum geli.

Minho berbaring di ranjangku yang masih terbilang cukup luas. Aku berbaring disampingnya sambil mendengarkan lagu tidur melalui headset dikedua telingaku. Kami terdiam beberapa saat.

“Kamarmu cukup luas, ya..” ia memandangi ruangan itu.”Semuanya serba biru..”

“Oh iya, aku ingin mendengar lagu yang sedang kau dengar.”Minho mengambil headset yang terpasang ditelinga kiriku dan memasangnya di telinganya. Sedetik kemudian ia meraih ipod yang kupegang dan mengganti lagu yang sedang kami dengar.”Lagu itu jelek.. nah, yang ini lagu favoritku…”

Naega saranghaetdeon geu ireum
Bulleoboryeo nagalsurok neomu meoleojyeotdeon
Geu ireum ijae jeokeonokgo
Na oolmeokyeo naeanae soomgo shipeojyeo
Neol saranghal su bakkae eopseotdeon
Geu naleul ijaen alajweoyo
Irul su eopneun sarangdo sarang inikka

Ia menyanyikan lagu itu.

Pikiranku melayang. Aku teringat SoEun. Kami selalu menyanyikan lagu itu dulu. Itu lagu kesukaannya. Bodohnya aku, aku lupa menghapus lagu itu dari ipodku, padahal aku tak ingin mendengar lagu ini lagi.

Kutatap wajah namja disampingku ini. Ia masih terus menyanyikan lagu itu, dan tanpa sadar aku juga menyanyikan liriknya.

“Aku sangat suka lagu ini.. eh, ngomong-ngomong, kau pernah merasa kehilangan?”

Klik! Aku menekan tombol stop.

Minho menatapku heran saat melihatku mengeluarkan setetes cairan bening dari mataku.”Kau kenapa?”

Ugh. Sekarang aku terlihat bodoh didepannya. Lihat saja, aku menangis seperti lelaki cengeng.

“Ah, aniyo..” aku menyeka airmataku.”Aku hanya terharu saja.. aku juga suka lagu ini.. bagus lagunya…”

***

Beberapa hari semenjak ia pindah ke apartemen ini, aku dan Minho menjadi lebih akrab. Bahkan kami jadi teman sekamar, Taemin sudah bersedia mengungsi ke kamar Jonghyun dan Key tidur sendiri di kamarnya.

Aku masih berkutat pada tugas kuliahku. Sesekali kupegang kepalaku yang terasa amat pusing, setiap lembaran dalam buku ini berbahasa inggris. Padahal aku tak mahir berbahasa inggris. Dan sayangnya, aku harus menerjemahkannya dalam bahasa Korea.

“Jinki, kau mau jeruk?” tanya Minho membawa sepiring buah jeruk yang sudah dikupas.

Ia meletakkan piring itu diatas meja. Ia melirik sebentar kearah layar laptopku.

“Ada tugas ya?”

“Ne.. tugas berbahasa inggris..”

Ia mengangguk mengerti, lalu mengunyah jeruk sambil mendekatkan tubuhnya kearahku.”Aku bisa membantumu..”

“Oh ya?”

Ia tertawa kecil.”Aku ‘kan pindahan dari Amerika.. jelas aku tahu bahasa inggris..”

Minho beranjak dari duduknya dan duduk disampingku. Aku bisa mencium jelas aroma tubuhnya yang kelihatannya baru selesai mandi. Sedetik kemudian ia membantuku menyelesaikan tugasku. Tak kusangka, ia bisa menerjemahkan buku itu dengan cepat.

“Wahh.. gomawo..” aku berterimakasih padanya.

Ia tersenyum manis. “Cheonmaneyo..”

Aku mengambil buah jeruk hasil kupasan Minho dan memakannya. Setelah selesai mengerjakan tugas kuliahku, kami menonton TV bersama. Dan aku terkejut saat kami sama-sama ingin mengganti saluran TV, tangan kami saling bersentuhan saat memegang remote.

Deg!

Kenapa jantungku berdetak tak karuan begini? Apalagi saat melihat wajahnya yang bersemu merah.. mungkinkah..

Aku menyukainya?

Aniyo.. ini tidak boleh terjadi.. kau masih normal kan, Lee Jinki? Tak mungkin kau menyukai sesama jenis!

“Oh, mianhe..” ucapku, berusaha mencairkan suasana.

“Tak apa-apa.. biasa saja..” ucapnya kalem.

Diam sejenak.

Aku mengambil piring yang berisi buah jeruk itu sambil terus memakannya. Aku tak berani menatap Minho dalam kondisi seperti ini. Dan saat aku ingin memasukkan jeruk ke dalam mulutku, ia memegang tanganku.

Hei, apa-apaan ini?

Ia menatap mataku. Aku melirik namja disampingku ini sambil menelan ludah.

Chu~

Dan secepat kilat pula ia menciumku.

Gosh.Apa yang sebenarnya kami lakukan?

Prang! Piring itu jatuh dan semua jeruk berserakan di lantai karena kekagetanku dengan tindakannya barusan.Kepalaku mulai terasa linglung saat semuanya sudah terjadi. Minho menatapku, dengan matana yang besar itu.

Omo.. aku bodoh. aku bodoh…!!

Aku tidak normal. Yeah, harus kuakui.. bahkan tindakan Minho tadi bisa kuterima dengan lapang dada tanpa penolakan sedikitpun.

“Aku mencintaimu, Jinki…”

***

Tadi.. aku.. ciuman dengannya?

Minho, seorang namja.. menciumku..

Bodoh. Super duper pabbo. Mengapa saat itu aku tidak menolak tindakannya barusan?

Aku terus menggerutu mengingat kejadian berdurasi tak lebih dari lima detik itu. Saat ini aku berada di toilet dan menatap bibirku didepan cermin. Kurasa ada yang aneh dengan bentuknya.. apa bibirku ini terlihat lebih sexy? hehehehe..

Tiba-tiba kudengar seseorang menggedor-gedor pintu. Ia menyahut dari luar.”Ya! Jinki! Sampai kapan kau di toilet terus?AKu mau BAB! aku sudah tidak tahan lagi.. ugghh..”

Ternyata Jonghyun. Aku berteriak padanya dengan volume yang tak kalah kerasnya. “Bukan urusanmu!Aku masih ingin disini!”

“Ya sudah.” Katanya lagi.”Cepat keluar kalau sudah selesai!”

“Berisik!” teriakku keluar.

Dan saat itu aku tak mendengar suaranya lagi.

Kuputar keran wastafel dan membasuh wajahku yang terasa makin memanas. Kuatatap wajahku lagi di cermin. Choi Minho.. yeah, harus kukatakan.. kurasa aku juga mencintaimu.

***

“Kyyyaaaa!!!!”

Sebuah teriakan yang berasal dari arah kamar Taemin memecah keheningan dorm.

“Waeyo, Taeminnie?” tanyaku saat kulihat Taemin menangis histeris. Minho dan Jonghyun segera menyusul dibelakangku. Taemin yang dipeluk oleh Key menunjuk kearah lantai.

“Mr. Teddy Bearku.. ada yang merusaknya..”

“Ini?” kutunjukkan boneka Teddy bear berukuran besar itu dihadapannya.Bulu coklat boneka itu sobek. Kulihat Taemin hanya bisa menangis dipelukan ‘umma’-nya, Key.

“Siapa yang berani merusak boneka My Little Son? Dasar!” Key mengepalkan tangannya dengan emosi yang meletup-letup.

“Pasti ini perbuatanmu!” tunjuk Key kearah Jonghyun.”Aku tahu kau selalu cemburu pada My Little Son..”

“Ah.. bukan.. bukan aku..” kata Jonghyun mengelak.”Enak saja!”

“Bukannya tadi malam kau membawa boneka teddy bear itu ke dapur, hyung?” tanya Minho.

“Hei! Kau jangan sembarangan bicara!” Jonghyun mulai emosi pada Minho. Minho hanya tersenyum cuek.

“Tak kusangka kau benar-benar tega merusaknya..” ucap Key sinis.”Kau tahu kan, Taemin tidak bisa tidur tanpa Mr. Teddy bear disampingnya.. “

“Itu satu-satunya peninggalan orangtuaku sebelum mereka meninggal..” Taemin menangis sesegukan.”Dan kau merusaknya! Aku benci padamu, hyung!”

Taemin mendorong tubuh Jonghyun dan berlari keluar kamarnya. Tersisa aku, Jonghyun, Minho, dan Key. Jonghyun hanya bisa menunduk.Key menatap sinis Jonghyun dan menyusul Taemin keluar kamar.

“Kau telah melukai perasaannya, hyung..”

***

Author POV

“Maafkan aku, Taemin…”

“Jebal..”

“Aku sama sekali tak merusak boneka itu..”

Jonghyun berusaha meminta maaf pada si magnae. Ini sudah tiga hari semenjak kejadian itu, dan Taemin sepertinya sangat sulit memaafkan Jonghyun, meski Mr. Teddy Bear-nya sudah dijahit oleh Key dan masih terlihat sama seperti semula.

Taemin yang sedari tadi menyiapkan pesta untuk Minho hanya tersenyum kecut.Ia memasang hiasan bertuliskan “HAPPY BIRTHDAY” di dinding ruang tengah mereka. Lalu apa yang dilakukan Key? Ia sedang memanggang kue ulangtahun untuk Minho.

Jinki berinisiatif untuk membantu Taemin memasang hiasan dinding khas ulangtahun. Semenit kemudian Key muncul dari arah dapur membawa kue ulangtahun yang masih polos dan meletakkannya diatas meja.

“Bagaimana, kuenya bagus,kan?” tanya Key saat Jinki dan Taemin memandangi hasil karya Key dengan tatapan kagum. Sementara Jonghyun duduk dikursi dengan ekspresi kesal.

Key mengambil lilin dan menyuruh Taemin untuk membantunya memasang lilin berwarna-warni itu diatas kue.

“Wah.. kurang satu..” Key menghitung jumlah lilin yang sudah terpasang diatas kue ulangtahun itu. “Harusnya ada 20..”

Sedetik kemudian, Key dan Taemin pergi ke supermarket untuk membeli lilin yang sebenarnya kurang satu itu, sebelum Minho datang dan membuat ‘surprise party’ ini jadi kacau balau. Dan akhirnya tersisa Jinki dan Jonghyun di ruang tengah.

“Aku mau ke kamar mandi dulu..” sahut Jinki beranjak dari kursi, tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti. Jonghyun sudah memegang lengannya.

“Tunggu.. ada yang ingin kubicarakan padamu..”

“Soal apa?”

“Minho..” ucap Jonghyun.”Ia.. bukan namja yang baik…”

“Apa maksudmu?”

“Kusarankan kau jangan berteman dengannya.. aku tahu semua kebusukannya..” Jonghyun menghela nafas.

Jinki menatap sinis lawan bicaranya itu.”Huh? Benarkah?”

“Kau tahu, semenjak ia pindah disini.. banyak sekali kejadian aneh.. ia selalu berusaha untuk menghancurkan persahabatan kita.Dia musuh dalam selimut!” Lanjut Jonghyun lagi. “Kau…”

“Stop!” Jinki menyela pembicaraan namja itu. “Pokoknya aku tak ingin mendengarnya lagi!” ia menutup kedua telinganya rapat-rapat.

“Kau bodoh! Kau harusnya sadar, ia bukan orang yang baik!” emosi Jonghyun mulai naik.”Ia berteman denganmu hanya ingin memanfaatkan sesuatu darimu!”

Brak! Terdengar suara pintu terbuka.

Jinki bisa melihat Minho yang berdiri didepan pintu, sementara Jonghyun sama sekali tak melihat kehadiran orang yang dibencinya itu.

“Kita harus mengusir Minho keluar dari sini sebelum ia melakukan niat jahat yang dapat menimpa kita!” seru Jonghyun lagi. Jinki bisa melihat Minho datang mendekat kearah mereka dan secepat kilat ia..

Prang!

Ia memukul kepala Jonghyun dengan botol kaca berukuran besar. Sedetik kemudian pertahanan Jonghyun ambruk, tubuhnya lunglai dan terjatuh ke lantai. Kepalanya mengeluarkan banyak darah merah pekat.

Jinki tercengang. Ia syok dengan apa yang ia lihat tadi. Ia tak bisa mengendalikan pikiran-pikiran negatif terhadap Minho.

“Tenanglah..” Minho mendorong tubuh Jinki agar duduk manis di sofa. Ia menyodorkan segelas air pada Jinki yang masih syok.”Minum ini…maka perasaanmu akan menjadi lebih baik.”

Dan dengan santainya Jinki meminum air putih pemberian Minho tanpa berpikir terlebih dulu.

Hoek!

Jinki merasa aneh saat meminum minuman pemberian Minho. Ia merasa seperti meminum.. racun. Nafasnya mendadak lemah, jantungnya berdegup kencang lebih dari yang biasanya. Ia tak bisa bernafas lagi.. hidupnya seakan-akan diujung tanduk.

“Enak?” ucap Minho seraya tersenyum.”Aku akan membuatmu tenang selamanya..”

“Min.. ho.. k..ka..u..” Jinki berusaha berbicara. Gelas yang ia pegang tumpah ke lantai, tubuhya tergeletak.”Ke..napa.. k..kau..me..melaku..kan..ini semua… pad..padah..hal.. a..aku.. men..cin..ta..i..mu..”

“Ya, ini aku.. choi Minho….” Minho berjongkok ke arah Jinki yang tergeletak tak berdaya. Ia berbisik pelan di tengkuk namja itu.”Ini tak sebanding dengan apa yang kau perbuat dulu..”

“A.. ap..apa.. maksud..mu..??”

Minho mengambil dompet yang disimpan dalam saku celananya. Ia membuka dompet coklat itu.Sebuah foto. Foto seorang yeoja berambut panjang. Minho melanjutkan ucapanya.”Kim SoEun.. masih ingat? Ia sepupuku.. ia sudah meninggal.. dan KAU MEMBUNUHNYA!!”

Jinki berusaha bangkit, tapi tidak bisa. Minho menahan tubuhnya agar tak bangkit.Minho menyeringai.

“Aku datang ke sini untuk mencarimu.. membalas dendam atas kematian orang yang kusayangi…” ucap Minho lagi. “Aku berusaha mengingatkanmu kembali akan So Eun.. dan membuatmu mencintaiku..”

Lee Jinki tak bisa berbuat apa-apa saat itu. Ia hanya bisa mengeluarkan setetes air matanya. Tiba-tiba ia teringat kembali, kejadian saat dimana gadis itu masih hidup…

-flashback-

“Oppa…!!” So Eun tiba di depan pintu apartemen Jinki. Ia melihat Jinki yang sedang terduduk disofa seraya membaca sebuah majalah.

“Oppa.. a.. aku.. aku hamil..” ia berdiri didepan Jinki, ia tak bisa mengendalikan air matanya yang tumpah.

Jinki terkejut.

“Aku takut orangtuaku tahu tentang ini.. a..aku..” gadis itu bersandar didada Jinki.”Aku ingin kita merawat anak yang dikandungku ini bersama…”

Jinki terdiam sejenak. Soeun menengadahkan kepalanya untuk melihat reaksi namja yang amat disukainya itu.”Oppa?”

“Aku.. aku tidak bisa..”

Perkataan Jinki sedetik yang lalu itu seperti mencabik-cabik perasaan gadis itu. Mengapa Jinki tega berkata seperti itu?

“Aku tidak bisa menikahimu.. aku.. aku belum siap,”

Jinki menjauhkan tubuhnya dari gadis itu, seolah-olah gadis itu seseorang yang asing. Ia menatap mata gadis itu. “Maafkan aku…”

“Kau harus menikahiku.. aku.. aku mencintaimu,” So Eun menarik lengan kemeja Jinki dengan emosi. “Aku tak ingin menanggung beban ini sendirian..”

Tak ada reaksi dari Jinki. Tubuhnya seperti membatu.

Cukup sudah, batin So Eun.

Ia berlari ke arah dapur apartemen Jinki dan membawa pisau saat ia menampakkan dirinya lagi.

“Aku sudah tak tahan..” So Eun mengarahkan pisau tepat di lengannya. “Aku mau mati saja!”

Tapi, sebelum So Eun melaksanakan niat itu, gadis itu sadar, bunuh diri bukan akhir dari semua masalahnya. Dan saat gadis itu ingin mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidup, ia merasakan sesorang telah mengiris urat nadinya..

Gadis itu tergeletak di lantai.

Jinki yang memegang pisau penuh darah itu menatap So Eun. Sedetik kemudian pertahanannya ambruk, ia berlutut didepan gadis yang dicintainya itu.

“SoEun..” Jinki berusaha memanggil namanya, meski suaranya terdengar sangat pelan dan nyaris tak terdengar. Air matanya mengalir. “Aku mencintaimu…”

-flashback ends-

“Bagaimana rasanya dibunuh oleh seseorang yang kau cintai? Sakit, bukan?”

“Ma.. afkan.. aku..” kata Jinki disela-sela nafasnya. “So Eun..”

Minho berdecak. Sudah tak ada kata maaf. Sudah terlambat.

Dan sedetik kemudian jantung namja itu tak berdetak lagi. Ia telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Minho tersenyum. Ada kepuasan yang menguasai hatinya. Ia mendekati wajah Jinki, mencium dahi namja itu dengan lembut.”Maafkan aku juga.. Jinki. Aku mencintaimu, tapi sayang.. rasa cintaku tak sebanding dengan rasa benciku terhadapmu..”

Ia menatap bungkusan berwarna putih berisi racun yang ada digenggamannya. Ia meletakkan bungkusan itu tepat digenggaman Jonghyun yang masih pingsan, agar polisi tak curiga kalau ialah penyebab kematian Jinki.

Jam menunjukkan pukul 8 malam. Sudah tiba saatnya Minho meninggalkan tempat ini. Saat ini lelaki itu telah sampai didepan pintu apartemen. Minho tersenyum pahit.

Selamat tinggal, Lee Jinki..

***FIN***

 

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

38 thoughts on “{YAOI} ROOMMATE”

  1. ya ampuuunnn…, rara! keren,ra! aku kirain cuman yaoi aja ceritanya. ternyata…,ouwlalaaa…daebak! bikin lagi,ra!

  2. uwooo… daebak…
    ini mirip sama drama suju yg d mnet, tpi versi shinee nya..
    jdi pengen ngeliat shinee beneran mainin drama kya gini 😀

  3. huwwwaaaa tidak se yaoi yg aku fikirkan…..
    Onew namjachinguku wafat . . . . Andweee…….. Lari2 ngelilingin kamar sendiri….

  4. Wih gila tu si minho. .
    Dendam kesumat critanye ni.,segituny ah.
    Tp daebak chingu. .
    Minho mah pantes dah jd karakter apa aja,,minho gitu loo kekekeh~

  5. Minho jahat, udah bunuh onew tp kug obat yg dibuat bunuh dikasihkan j0nghyun, kan kasihan jjong jadi dikira jjong yg bunuh

  6. ini malah lebih keren dari yg Mnet..
    ahahahah

    bikin lagii..
    bikin lagiii…

    oh iyaa..
    salam kenal, authoor..
    aku Lia, 17 y.o ^^

  7. Kyyaa.. mian semua chingu-deul yang udh baca..
    haduhh.. makasih yah udh dibaca semua.. hehehe
    kenalin aku authornya.. *ngga ngeh tuh* :p rara imnida^^ salam knal semua..
    @ all : waduh, mian ga bisa bales komennya satu2!!! soalnya capek ngetiknya.. -___-… tapi semua komennya udh kubaca semua kok..
    tapi tengkyu berat seberat-beratnya udh baca ff jelekku ini.. *sembah sujud*
    nih, semuanya tak kasih cium! :* *digiling rame2*
    @echi onn : astaga onn.. makasih udh nyempetin baca ff nistaku ini.. hhay ah, masa daebak sih? echi onn berlebihan ah *padahal idung udh kembang kempis*
    @lia : makasih.. hahaha..
    rara, 16 y.o.. berarti tuaan onnie 1 tahun ya?
    iya, salam knal juga lia onn.. makasih udh mau baca ff ini.. huhu XD

  8. wah…
    bagus nih certanya..
    memang mirip ma M-net, tapi tetep ja asik bacanya..
    sayangnya minhoku *ditabok ma yg laen* jadi bad guynya..
    tpi gpp..nice one author..^^

  9. kerenkerenkeren….
    Mirip ama yang di Suju M-net….
    walaupun rada g sreg klo Onew-Minho pairingnya….
    tapi tetep keereen..
    oh iya salam kenal Reader baru nih….

  10. jujur aq agak kurang suka ff ini karena ya…. walau author dah bilang kalo ini jayak suju mini drama tapi, jadi kayak plagiat, terus bukannya kreatif dikit kek jln ceritanya diubah dikit ini, sama persis .
    mianhae itu cuma pendapat aku aja. jeongmal.. jeongmal mianhae.

  11. What? Taemin ga bs tidur gara2 Mr. Teddy Bear-nya rusak?
    Aigoooo.. Neomu kyeoptaaa…

    Suka ff ni,
    Yaoi-nya ga parah2 amat kog.
    Soalnya kalo parah, pasti aq skip bacanya,,*curhat!!!*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s