My Lovely Servant – Part 11

My Lovely Servant (part 11)

Author : Dhy

Main cast : Key, Yoon eun hye, Lee jinki
Another cast :Shinee

A/N : Cingu mianeee klo kalian menunggu part ini cukup lama *itupun kalo ada yang nunggu*, dan aku juga mau minta mav karena part ini geje, dhy gk tw harus nulis apa v dhy ngerasa bersalah kalau gak update ff, v mudah”an kalian tetep suka ya……. *ngarep*. ow ea masih inget bagian terakhir di part 10??????? disitu key gak nyium eun hye, dia cuma inget waktu dia nyium eun hye dan itu 1st kiss buat key ^^

EUN HYE SIDE
Harusnya tadi malam aku tidak menurut pada key, dasar orang menyebalkan, kau tau tadi pagi aku bangun masih ditempat yang sama, apa dia tidak berpikir bahwa aku bisa mati kedinginan tidur semalaman diluar rumah dekat pohon pula. Tapi paling tidak dia meninggalkan jaketnya untukku. Loch bukannya aku sedang membahas kejelekan key, ada apa denganku.
Hari ini sepertinya dosen tidak masuk, dan aku akan menghabiskan waktu dengan tidur.
“eun hye-ah!!!!” panggil seorang namja saat aku akan menutup mataku.
“eun hye-ah, kenapa kau tidak mengangkat teleponku tadi malam??????”
“jonghyun oppa, miane semalam aku tidur lebih awal” jawabku sambil mengarahkan pandanganku pada key.
“haciiiiiinnnn, hwaciiiiiiiiin”
“key apa kau flue?????” Tanya minho yang tiba-tiba menghampiri key, lalu menempatkan punggung telapak tangannya di dahi key.
“aish apa yang kau lakukan” ucap key sambil menyingkirkan tangan minho
“key sepertinya kau demam” ucap jonghyun yang mendengar pembicaraan key dan minho.
“aku ini namja, tidak mudah sakit”
Apa sich yang orang itu katakan, memangnya ada larangan kalau namja sakit, lagi pula kenapa dia yang flue yang tidur semalaman diluarkan aku.
“eun hye-ah apa kau akan ikut berlibur denganku???” Tanya jonghyun
“berlibur?????”
“ea, kau tidak perlu memikirkan biayanya, key menanggung semuanya”
“hanya dengan oppa??????” tanyaku
“anii, maksudku dengan kami” jawab jonghyun sambil menunjuk dirinya, key dan minho.
‘ya jonghyun, tentu saja dia akan ikut, dia itukan personal servant untuku” tiba-tiba key ikut dalam pembicaraanku dan jonghyun.
“dia personal servantmu kalau berada dilingkungan rumahmu, diluar itu dia adikku, arasso”
“ahhhhh baiklah terserah apa katamu, ha ha hacieeee”
“key apa kau benar-benar tidak apa-apa?????” Tanya jonghyun
“kwencana, mungkin semalam aku lupa mematikan AC”
END OF EUN HYE SIDE
————–
“kwencana, mungkin semalam aku lupa mematikan AC” jawab key berbohong
“sejak kapan kau punya kebiasaan mematikan AC” ucap minho asal
“ahhh kau ini, kenapa sekarang-sekarang ini kau jadi cerewet” protes key
”jinja???? Aku saja tidak menyadirinya” ucap minho dengan wajah polosnya.
“annyeong” ucap jinki yang baru datang, dia tetap tampan seperti biasanya.
“annyeong” jawab eun hye singkat
“apa tidurmu nyenyak???????”
“mmm tidak senyenyak biasanya” ucap eun hye
“eun hye, apa week end ini kau ada waktu????”
“hey hey hey, week end ini eun hye akan pergi denganku” ucap jonghyun sambil menepuk bahu jinki.
“eun hye, apa kau mengenal orang ini?????” Tanya jonghyun
“oppa, dia jinki sahabatku, apa oppa tidak pernah melihatnya??????”
“eun hye apa sekarang, kau sudah punya seseorang untukmu bersandar??????” Tanya jinki sambil menyingkirkan tangan jonghyun dari bahunya “annyeong, aku jinki” lanjut jinki kemudian tersenyum ramah pada jonghyun.
“anniyo, jonghyun oppa adalah sahabat……..”
“kau sudah mengatakannya kemarin, aku tahun dia sahabat key” ucap jinki sambil mengelus kepala eun hye.
“apa itu yang namja itu sebut sahabat” bisik jonghyun pada minho
“mungkin????”
“aku rasa, ada yang aneh antara eun hye dan orang itu”
“tidak ada yang aneh dengan eun hye dan jinki, eun hye tetap cantik dan jinki juga termasuk namja yang diatas standart”
“guys, sepertinya aku harus beristirahat dirumah, aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku” bisik key pada minho dan jonghyun.
“mau aku antar???????” Tanya minho
“no, it’s OK” ucap key kemudian mengambil tasnya dan meninggalkan ruangan.
“ada apa dengan key, kenapa hari ini dia sedikit aneh, apa dia sungguh-sungguh sakit” bisik eun hye dalam hati.
————–
EUN HYE SIDE
Semenjak aku datang di rumah ini, aku belum melihat key, sekarang sudah waktunya makan malam dan dia belum ada dimeja makan.
“noona apa kau melihat hyung???” Tanya taemin yang sepertinya sudah tidak sabar untuk makan.
“taemin, lebih baik kau makan lebih dulu, biar aku panggil hyungmu di kamarnya” tapi saat aku akan melangkah, taemin tiba-tiba memegang tanganku, sepertinya dia menahanku pergi.
“noona jangan pergi’ ucap taemin tanpa melihat kearahku, ada apa dengan dia
‘taemin, aku hanya sebentar” ucapku sambil mencoba melepaskan genggaman tangan taemin.
“kenapa selalu hyung???”
“wae????” tanyaku bingung
“anni lupakan saja” ucap taemin kemudian melepaskan tanganku.
“tunggu sebentar ya” ucapku sambil mengusap kepala taemin.
Kenapa akhir-akhir ini taemin sedikit berubah, ternyata yang key tanyakan padaku benar, aku terus saja memikirkan perubahan sikap taemin. Sampai aku tiba didepan kamar key, aku mengetuk pelan pintunya, tapi tidak ada jawaban, aku memegang knob pintu kemudian sedikit mendorongnya, dan ternyata kamarnya tidak dikunci.
“key apa kau didalam????” aku sedikit mengeraskan suaraku, karena tidak ada jawaban aku pun memutuskan untuk memasuki kamar key. Aku melihat key sedang tertidur, tapi ada yang aneh denganya, wajahnya terlihat pucat.
“key, kwencana????’ tanyaku tapi key tetap tidak menjawab, aku pun menyentuh dahi dan lehernya dengan punggung tanganku.
“omo, key kau demam” ucapku
“aku bilang jangan sentuh aku, aku tidak suka orang yang tidak ku kenal menyentuhku” ucapnya dengan mata tertutup sambil menjauhkan tanganku darinya.
“key ini aku eun hye, apa kau mulai lagi berkata-kata seperti itu????? Ahh kau ini aku juga tidak suka menyentuhmu, aku hanya ingin memeriksa suhu badanmu” ucapku tapi key tidak menjawab, mungkin dia terlalu lemah untuk menjawabku.
“kau bilang, kalau kau namja yang tidak mudah sakit, lalu kenapa kau malah berbaring disini karena demam??? Harusnya yang demam itu aku, akukan yang kau tinggalkan tidur diluar” ucapku kemudian bangkit dari dudukku, aku berniat untuk mengambil obat dan air untuk mengompres key tapi tiba-tiba key menahanku dengan memegang erat tanganku. Hari ini kakak beradik keluarga ini melakukanya padaku, apa mereka sudah merencanakannya?????
“eun hye-ah aku…. Aku… tidak meninggalkanmu tidur diluar sendiri” ucap key kemudian dia seperti tertidur pulas lagi.
Aku sedikit kaget, tidak tidak ini bukan sedikit karena perkataan key mampu membuat jantungku tiba-tiba berhenti berdetak untuk beberapa detik.
END OF EUNHYE SIDE
—————
KEY SIDE
Saat aku membuka mata aku masih merasa kepalaku seakan-akan mau pecah, sepertinya aku benar-benar demam, ini pasti gara-gara aku tidur diluar hanya dengan t-shirt tadi malam. Aku mecoba untuk duduk, kepalaku masih terasa amat berat.
“key kau sudah bangun”
Aku mengarahkan pandanganku kearah suara. Eun hye sedang apa dia di kamarku.
“yaaaaa sedang apa kau, semalam ini masih dikamarku?????”
“berhentilah bersikap seperti itu, aku disini karna merasa bersalah, makanya aku menemanimu”
“bersalah???/ untuk apa????” aku benar-benar bingung apa yang dibicarakan yoeja ini.
“gomawo” ucap eun hye pelan sambil merapihkan handuk yang tadi dipakainya untuk mengompres.
“kau ini aneh sekali, sebenarnya ada apa????” tanyaku
“awalnya aku pikir kau meninggalkanku semalaman diluar, tapi sekarang aku tahu kalau kau menemaniku semalaman sampai kau sakit seperti ini” jelasnnya
Dari mana gadis ini tahu kalau aku menemaninya.
“siapa yang berkata itu??? Aku tidak menemanimu” ucapku mencoba mengelak.
“kau……” jawabnya pendek
“mwo????/ aku?”
“iya, tadi kau mengigau dan bilang kalau kau tidak pernah meninggalkanku”
“i..ii…itu karena yang mengajakmu ketempat itu aku, ehm jadi jadi YAA AKU KAN SUDAH BILANG KALAU AKU NAMJA YANG BERTANGGUNG JAWAB”
“key kaukan tidak perlu berteriak seperti itu, ternyata kau memang punya penyakit emosiaonal yang sangat akut”
Aishhhh yoeja ini, apa dia tidak bisa membuatku senang, akukan sedang sakit.
“hey apa kau bisa membuatkankku sesuatu?? Aku lapar”
“aku sudah membuatkanmu bubur, mau makan?????”
“aku tidak suka makanan dingin” jawabku
‘ini tidak dingin, masih hangat ko aku baru memasaknya beberapa menit sebelum kau bangun”
“aku tidak mau makanan yang tidak sehat”
“ummaku sendiri yang memberikan resepnya, dulu kalau aku sakit umma selalu membuatkannya untukku”
“kalau begitu aku tidak mau makan makanan yang dimasak oleh orang yang tidak professional”
“ya….. kim kibum, sebenarnya kau mau makan masakanku atau tidak?????”
Aku tersenyum mendengar ucapannya, entah kenapa aku lebih suka dengan eun hye yang selalu menentang kata-kataku, itu yang membuat dia berbeda dengan yoeja yang pernah kutemui.
“kenapa kau tersenyum, memangnya ada yang lucu??????”
“kau……..”
END OF KEY SIDE
——————
“memangnya ada yang lucu???”
“kau….” Jawab key singkat, saat mendengar jawaban key, wajah eun hye sedikit memerah.
“kau mau makan apa tidak???” tanya eun hye, kini dia tidak bisa menatap wajah key.
“baiklah-baiklah aku akan memakannya” akhirnya key mengalah, suasana menjadi hening karena perkataan key yang tidak terduga.
“mmm boleh aku minta air minum???” Tanya key pada eun hye yang masih duduk disamping ranjang key.
“ow ea, aku ambilkan” jawab eun hye kemudian mengambil air yang sudah ia siapkan di atas meja.
“kenapa suasananya jadi seperti ini???” Tanya eun hye dalam hati.
“aku tidak suka berada dalam suasana seperti ini” gerutu hati key.
“apa kau tidak mengantuk???” Tanya key pada eun hye yang sekarang sedang membaca buku yang ia bawa.
“tidak, kalau kau sudah selesai makan, lebih baik kau kembali tidur”
“mmm apa kau akan tetap menemaniku sampai pagi???” Tanya key ragu-ragu
“kepala pelayan Han yang menyuruhku” jawab eun hye
“benarkah??????”
“dia bilang hanya aku yang bisa mengendalikanmu” tentu saja eun hye berbohong untuk yang satu ini.
“benarkah??????”
“sudah cepat tidur!!!!!!”
“mmm kalau kau mengantuk, tidur disofa sebelah sana, kalau kau tidur dibangku itu lehermu bisa sakit”
“ne” jawab eun hye singkat
Key membalikan tubuhnya agar membelakangi eun hye.
“apa yang harus kulakukan???? Aku tidak suka ada yang memperhatikanku saat tidur, tapi aku juga tidak bisa mengusirnya, otoke????” bisik key
“key kau tidak bisa tidur??? Ingin sesuatu????”
“annii”
——————-
KEY SIDE
Saat aku membuka mata aku baru mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun taemin, aku langsung berlari ke kamar mandi, setelah selesai dengan mandi singkatku aku segera mengganti pakaian kemudian berlari keluar kamar.
“tuan muda???? Kenapa anda berlari?” beberapa pelayan bertanya padaku, tapi menurutku yang terpenting adalah hari ulang tahun adikku.
“taemin…….”
“ada apa hyung?????” tanyanya bingung saat meliahatku berlari kearahnya.
“apa hari ini kau ada acara???? Aku akan mengajakmu berlibur akhir pekan”
“hyungkan sedang sakit, tidak usah memaksakan diri lagi pula hari ini aku sudah ada janji dengan eun hye nunna”
“tidak tidak pokoknya hari ini kau harus pergi denganku, cepat ganti pakaianmu dan berkemas!!!!” ucapku memaksa
“hyung aku sudah ada janji dengan eunhye nunna”
“aku akan mengajaknya bersama kita”
“jinja?????”
“ea, cepat berkemas sana”
“araso araso” ucap taemin kemudian berlari menuju kamar.
Apa begitu pentingnya eunhye bagi taemin????????

TBC

Dhy

This post/FF has written by Dhy, and has claim by Dhy signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

About Love part 1 of 2

About Love part 1 of 2

Author: Park Young Mincha a.k.a Annisa Mira

Casts:

–          Park Young Mincha

–          Lee Jinki

–          Kim Jonghyun

–          Cho Kyuhyun

–          Park Yoochun

Rating: PG15

Length: 2S

Ni ff terinspirasi dari komik Luna Lunatic… Tapi nggak sama-sama banget kok ceritanya.. Cha ubah sana-sini… Mian kalo garing banget.. Ini bikinnya pz lagi bener-bener boring.. kkk…

Happy reading, chingu…. N jangan lupa comment ya… Saran dari kalian sangat dibutuhkan!!

Let’s start it…

~~~

“Aaaah, aku lapar! Tapi aku nggak bisa menghisap selain darah gadis itu! Aissh, kenapa aku harus dibebaskan oleh gadis beringas seperti dia?” keluh seorang vampire bernama Lee Jinki di sebuah gereja sekolah, menunggu makan yang diantar oleh majikannya, manusia yang telah membebaskannya dari tidur panjangnya. Tapi akibatnya, dia hanya bisa meminum darah gadis itu untuk bertahan hidup.

“Siapa yang kau bilang beringas, hahh??” bentak seorang gadis yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Aaaah, Mincha! Aku lapar! Berikan aku darahmu!” ujar Jinki pada Mincha, gadis yang baru masuk tadi.

“Duduk!” perintah Mincha dan dengan segera Jinki duduk mengikuti perintah Mincha. “Anak pintar!” ucap Mincha sambil mengacak rambut Jinki.

“Aku lapar, Cha!” desak Onew lagi. Kemudian Mincha memberikannya sebungkus roti coklat.

“Yaaa…. Kalo ini aja sih nggak cukup! Aku mau darah,” rengeknya lagi.

“Mau darahku? Nih! Tapi, aku mati kamu juga mati!” ancam gadis itu.

“Dikiiiiit aja!” paksanya. Tapi Mincha tetap menggeleng tegas. “Sehari setetes!” tegas Mincha lagi.

“Wah,, Wah…. Pangeran vampire merengek pada seorang manusia? Lebih baik serahkan saja jabatanmu itu padaku,” ucap seorang lelaki memutus perdebatan antara Mincha dan Jinki. “Boleh juga gadis itu, darahnya boleh untukku?” lanjutnya lagi menggoda Jinki.

Mincha tampak ketakutan mendengar ucapan lelaki itu. Tapi dia berusaha tegar.

“Siapa kamu?!” teriak Mincha memberanikan diri. Tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya terhempas ke dinding di belakangnya. Begitu tersadar, ia sudah berada dalam himpitan lelaki tersebut. “Lepas! Lepaskan aku!” jerit Mincha dengan panik saat wajah pria itu mulai mendekati lehernya.

“Jonghyun! Berhenti! Candaanmu tidak lucu!” perintah Jinki dengan tegas.

“Aissh, hyung! Aku ingin lihat wajah nona manis ini menangis. Hyung juga ingin lihat kan?” keluh Jonghyun pada pangerannya di dunia vampire sana.

PLETAKK!!

“Enak saja! Aku tidak mau tidak diberi darahnya sama sekali!” ucap Jinki lalu menarik tangan Mincha yang terduduk lemas di lantai agar berdiri.

“Kenalkan, dia Kim Jonghyun, dongsaengku. Jjong, ini Park Young Mincha,” ucap Jinki memperkenalkan kedua makhluk tersebut.

“Kim?” tanya Mincha sambil menatap Jinki meminta jawaban.

“Dia dongsaeng tiriku. Sudah biasa, kan, raja mempunyai banyak istri. Kalo dia,” ucap Jinki sambil menunjuk ke arah Jonghyun,”Ibunya saat menikah dengan raja saat dia masih kecil. Ayahnya dia sudah mati. Jadi marga kami berbeda.”

“Ah, maaf! Aku nggak tau,” pinta Mincha pada Jonghyun yang tertunduk lesu saat Mincha menanyakan tentang marga mereka yang berbeda.

“Oh,ya! Jinki! Malam ini aku menginap di sini. Jangan macem-macem, ya!” perintah Mincha.

“Iyaaaa….,” jawab Jinki lemas.

“Kamu kenapa?” tanya Mincha panik, melihat Jinki tampak lemas.

“Laper,” jawabnya singkat.

“Ya udah! Nih! Darahku,” ucap Mincha seraya menyodorkan jari telunjuknya yang telah dia sayat kecil agar mengeluarkan darah, “tapi jangan banyak-banyak. Nanti kau tak bisa minum darah lagi,” lanjutnya.

“Nggak apa nih? Beneran?” tanya Jinki ragu. Yang di jawab Mincha dengan tatapan mau-nggak-sebelum-aku-berubah-pikiran.

Akhirnya, Jinki pun mulai menghisap jari Mincha yang berdarah. Niatnya sih, hanya sedikit. Tapi begitu merasakan darah itu, dia seperti ketagihan. Kalau saja gadis itu tidak terduduk lemas dari posisi awalnya yang berdiri, Jinki akan terus menghisapnya. Dia melihat wajah gadis itu tampak pucat seperti kehilangan rona cerah pada kulitnya. Dia segera menahan tubuh Mincha dengan kakinya. (maksudnya dipangku gitu lah)

“Kaa..u… bu..kan..kah… su..da..ah.. kuka..ta…….kan se..di…kit… sa..ja.. Kau.. ingin maa…,” belum sempat Mincha menyelesaikan kalimatnya, dia sudah terkulai tak berdaya dalam pelukan vampire itu.

“Cha… Mincha… Bangun dong! Jangan mati dulu! Ntar aku makan apa, dong?? CHA!” teriak Jinki berusaha membangunkan Mincha.

“Hyung, sih! Dibilang jangan banyak-banyak,” keluh Jonghyun.

“Aku lepas control. Aku bener-bener lapar. Terus sekarang gimana, dong?” tanyanya panik.

“Dia masih hidup. Lihat saja. Dia masih bernapas. Tapi sudah sangat lemah,” ucap Jonghyun lalu menoleh ke arah pangerannya itu,”Hyung, tampaknya gadis ini mencintaimu.”

Jinki menoleh kaget mendengar pernyataan Jonghyun. Mustahil, Mincha mencintainya.

“Kau tak percaya? Buktinya dia mau memberikan darahnya padamu, walaupun setetes setiap hari. Itu agar kau tetap hidup. Kalau dia tidak suka padamu, dia pasti bisa menyegelmu kembali dengan cara tidak memberimu darah sama sekali. Tidak akan mengunjungimu setiap hari di sini,” jelas Jonghyun panjang lebar. Jinki tertunduk tak percaya dengan penjelasan dongsaeng tirinya itu.

“Meski begitu, dia selalu galak padaku. Mana mungkin dia menyukaiku?! Mungkin karena dia hanya kasihan padaku. Aku sering melihatnya membawa hewan-hewan yang terluka kemari untuk mengobatinya. Dia tampak merawat hewan tersebut dengan sayang. Sepertinya, dia tak ingin melihat makhluk hidup mati sia-sia,” sangkal pangeran vampire itu.

“Dia sendiri belum menyadarinya, bahwa dia mencintaimu. Dia melindungimu, tak seperti dia melindungi makhluk hidup yang lain. Dia tau kalo membantumu, sama saja dengan membunuh dirinya sendiri pelan-pelan. Gadis itu rela kehilangan nyawanya hanya untuk membuatmu hidup sedikit lebih lama darinya. Itu tidak mungkin dilakukan hanya karena kasihan. Sebaiknya hyung pikirkan baik-baik perkataanku ini,” Jonghyun tetap pada pendapatnya. “Sekarang kita harus merebahkannya di bangku panjang itu. Tidak mungkinkan kau tega melihatnya kedinginan di lantai seperti itu,” lanjutnya.

Setelah merebahkan Mincha di bangku, Jinki duduk bersimpuh di depan bangku tersebut. Kedua lengannya digunakan untuk menopang kepalanya. Dia memandangi wajah penolongnya itu dengan perasaan bersalah. ‘Kalau saja, dia tidak melepaskan segel itu, dia tidak akan menderita seperti ini karena aku,’ pikir Jinki.

“Hyung, kutinggal ya! Sudah saatnya mencari mangsa. Jaga dia baik-baik. Jangan melakukan hal yang aneh-aneh.” Jinki tidak mendengar perkataan dongsaengnya itu, karena dia terlalu larut dalam perasaan bersalahnya.

Beberapa saat dalam keheningan, tiba-tiba saja Mincha mengeluarkan suara. Gadis itu mengigau. Jinki segera tersadar dari lamunannya. Dia menyentuh kening Mincha. Panas. Jinki bingung. Bagaimana caranya menurunkan suhu tubuh manusia.

“Oppa.. Yoochun oppa..,” rintih Mincha berulang kali menyebutkan satu nama.

Entah mengapa, hati Jinki terasa perih saat mendengar Mincha menyebut nama pria lain. Apakah dia mulai menyukai gadis itu? Jinki menggelengkan kepalanya berulang kali. Menepis pikiran tersebut.

Karena Jinki tidak mengerti cara menurunkan panas Mincha, dia lalu menggenggam tangan Mincha dengan erat. Seolah memberi kekuatan pada Mincha agar segera sadar.

Sedangkan Mincha, dia merasa kedinginan. Mincha bermimpi berada dalam kegelapan yang sangat pekat. Lalu perlahan sebuah cahaya terlihat mendekat ke arahnya. Dia melihat sesosok pria berbaju putih memeluknya, kemudian melepaskannya dan berkata, “Belum waktunya Oppa menjemputmu. Temuilah calon pendampingmu. Dia berada sangat dekat denganmu. Dia masih membutuhkanmu. Oppa pergi dulu.” Perlahan sosok tersebut menjauh meninggalkan Mincha. Mincha berusaha mengejarnya dan terus memanggil nama pria tersebut. “Oppa.. Yoochun oppa..”

Perlahan kegelapan yang tadi menyelimutinya mulai berubah menjadi tempat yang sangat terang. Tubuhnya menggigil hebat. Dia mulai takut dengan kejadian itu. Tiba-tiba saja Mincha merasa tubuhnya terhempas ke suatu tempat. Dia membuka kedua matanya dengan pelan.

Jinki yang melihat gadisnya *?* telah sadar, semakin menguatkan genggamannya.

“Aku di mana?” tanya Mincha sambil memegang kepalanya dengan satu tangan dan berusaha bangkit dari tidurnya.

“Kamu di gereja sekolah, Cha! Kamu udah nggak apa-apa?”tanya Jinki khawatir tanpa melepaskan tangan Mincha dari dalam genggamannya.

“Hah?? Kamu?! Nungguin aku ampe sadar? Baik bener?! Bukannya kamu pengen aku mati?” ucap Mincha kaget melihat Jinki ada di sebelahnya. Dia juga segera menarik tangannya begitu menyadari tangannya dipegang erat oleh vampire itu.

“Aku beneran khawatir tau. Bukan cuma kalo kamu mati aku juga bakalan mati. Aku bener-bener takut kalo kamu mati duluan sebelum aku,” ucap Jinki cepat.

“Cih, kalo aku mati duluan kan berarti kamu nggak bakal bertahan hidup,” kata Mincha pedas. *lomboknya pake berapa emank?*

“Cha? Lebih baik aku mati kelaparan daripada aku ngelihat kamu mati kehabisan darah gara-gara aku. Kamu kan tau kalo kamu ngasih aku darahmu, lama-lama kamu bakal mati. Tapi kenapa kamu tetep mau ngelakuin itu? Mendingan kamu nggak usah sering ke sini. Nggak apa aku mati kelaparan. Aku nggak mau ngelihat orang yang mencintaiku mati gara-gara harus memberikan darahnya padaku,”ucap Jinki sendu membuat Mincha membelalakkan kedua matanya karena kaget.

“Emank aku suka ama kamu?” tanya gadis itu bingung. “Emanknya kalo aku mau memberikan darahku walau resiko aku akan mati, itu karena aku suka orang itu y?”

“Menurut Jonghyun sih begitu,” jawab Jinki singkat lalu beranjak berdiri dan berjalan menuju bangku di belakang bangku yang ditempati Mincha dan duduk di situ.

“Oh,ya! Yoochun itu siapa, ya? Tadi kudengar kau menyebutkan nama itu terus,” tanya Jinki berbisik tepat di kuping kanan Mincha, membuat gadis itu bergidik geli. Tapi begitu menyadari pertanyaan Jinki, dia terdiam dan mulai menahan air matanya yang hampir tumpah. Dia berusaha agar Jinki tidak tau bahwa dia ingin menangis. Tapi, badannya bergetar, sehingga cowok itu pun akhirnya tau. Jinki segera duduk di sebelah Mincha dan merengkuh gadis itu dalam pelukannya.

“Ah, maafkan aku sudah bertanya seperti itu. Sssshh, sudahlah jangan menangis,” ucap Jinki yang merasa bahwa Mincha menangis karena pertanyaannya tadi.

“Dia… dia… hikz… Yoochun adalah oppaku. Dialah yang selalu ada saat aku sedih, saat aku senang, saat orang tua kami meninggal pun dia tetap ada di sisiku. Tapi, beberapa bulan yang lalu dia meninggal dalam kecelakaan. Hikz… aku tidak punya lagi seseorang sebagai tempatku bersandar. Apa memang aku ditakdirkan untuk sendirian di dunia ini?” kata Mincha sambil tetap menangis sesenggukan dalam pelukan Jinki.

“Bahkan, kau pun memintaku menjauhimu. Aku hanya ingin memberikan darahku. Karena aku rasa hanya itu yang dapat kulakukan di sisa hidupku. Teman-temanku menjauhiku, karena aku tak punya orang tua. Aku ingin punya teman. Meski vampire, itu tak masalah. Bahkan jika aku harus mati demi temanku, aku juga nggak masalah, karena memang aku sudah tak berarti lagi di dunia ini,” lanjut gadis itu lagi.

“Maaf, aku nggak tau kalo di balik sikap ceria, pemberani, dan beringasmu itu, kamu menyimpan beban seberat itu. Maafkan aku, bicara seenaknya saja seperti itu tadi,” pinta Jinki memohon maaf.

“Tak apa. Bukan salahmu. Kamu memang nggak tau apa-apa tentangku,” desah Mincha sedikit kecewa. Benarkah tak ada yang mau berteman dengannya.

“Hyung! Aissh, kau apakan Mincha? Masa ampe nangis gitu?” tanya Jonghyun yang tiba-tiba saja sudah hadir di hadapan mereka.

“Apaan sih? Aku nggak ngapa-ngapain tauk!” bantah Jinki.

“Tadi aku dimarah-marahin pengen lihat wajahnya pas nangis, eh kutinggal malah hyung lihat sendirian. Curang,” Jonghyun bersungut-sungut. Bletak.

“Sembarangan! Kalo kamu tadi itu kan sengaja, kalo aku ini tadi nggak ada niatan kayak gitu,” kata Jinki emosi.

Melihat keakraban antara Jinki dan Jonghyun, Mincha mulai menangis lagi.

“Cha, sudah doooong…. Jangan nangis lagi! Kami mau kok berteman sama kamu,” ucap Jinki yang membuat Mincha mendongakkan kepalanya. Menatap mata Jinki dalam, berusaha mencari kebenaran dalam ucapannya tadi.

“Oh, iya hyung. Sebenarnya ada cara agar kau bisa kembali ke dunia vampire. Aku tadi diberitahu oleh Raja,” ucap Jonghyun pada Jinki.

“Apa itu berarti, kalian akan meninggalkanku sendiri lagi?” Mincha menatap Jonghyun dan Jinki bergantian dengan cemas.

“Mmmh, sebenarnya sih untuk melepaskan kutukan itu, hyung harus menghisap darah gadis yang sudah menolongnya dengan cara menggigit leher gadis itu. Ya, tahulah gimana… Seperti yang akan kulakukan padamu tadi,” jelas Jonghyun sambil menunjuk Mincha dengan dagunya.

“Berarti aku akan mati? Tak apalah. Daripada aku harus sendiri di sini tanpa kalian. Aku rela. Mungkin memang sudah takdirku,” ucap Mincha merelakan dirinya menjadi santapan sang pangeran vampire. Sedangkan Jinki hanya berdiri pada posisinya semula tanpa ekspresi di wajahnya.

“Jinki? Bukankah kamu ingin bebas dari kutukan itu? Lakukanlah!” ujar Mincha sambil menyodorkan lehernya yang jenjang pada Jinki.

“Jonghyun! Apakah tidak ada cara lain? Kalo aku melakukan itu, Mincha akan menjadi vampire juga. Aku nggak mungkin membunuhnya seperti kita membunuh mangsa kita yang dulu,” akhirnya Jinki mengeluarkan suaranya.

“Kenapa? Bukankah gadis itu sudah rela mati?” tanya Jonghyun.

“Entahlah! Rasanya aku tidak rela melihatnya mati dengan cara seperti itu. Aku ingin dia mati dengan wajar,” jawab Jinki dengan lesu.

“Jadi vampire?” tanya Mincha tak mengerti.

“Hyung? Apakah kau mencintainya?” tanya Jonghyun membuat Jinki tersentak.

“Entahlah! Hanya saja aku merasa nyaman berada di dekatnya. Hatiku sakit melihatnya menangis. Dan aku nggak mau melihatnya terluka,” ungkap Jinki dengan kalut.

“Itu artinya kau mencintainya, hyung!” ucap Jonghyun kesal membuat wajah Jinki memerah.

“Kalian ini! Ngobrol sendiri! Kalian pikir aku apa?” tanya Mincha kesal sambil berkacak pinggang di hadapan 2J.

“Kamu? Manusia kan?” jawab Jonghyun dan Jinki bersamaan dengan polos. Membuat Mincha semakin kesal.

“Ah, terserah kalian lah! Aku mau tidur saja! Nanti kalau sudah dapat keputusan, bangunkan aku!” kata gadis itu, lalu merebahkan tubuhnya di bangku panjang gereja tersebut.

“Hyung! Ngambek tuh!” ucap Jonghyun sambil menoel-noel lengan Jinki.

“Sudahlah! Biarkan saja! Sudah biasa!” kata Jinki. “Lalu, bagaimana? Ada cara lain atau tidak?”

“Kata Raja, kalau kau memang mencintainya, dan dia juga mencintaimu, setelah dia menjadi vampire dan kau sudah terbebas, kalian akan dinikahkan. Raja merestui,” jawab Jonghyun.

“A…a..apaan sih? Nikah… Nikah… Dia hanya mengharapkanku untuk jadi temannya,” sangkal Jinki.

“Kyaaaaaaa………….,” tiba-tiba terdengar jeritan Mincha. Jinki segera menoleh panik mendapati gadis yang dicintainya berada dalam genggaman Kyuhyun, musuhnya.

“Kyu! Lepaskan gadis itu! Dia nggak ada hubungannya dalam permasalahan kita!” ucap Jinki berusaha tenang sambil melangkahkan kakinya ke arah Kyuhyun.

“Tentu ada! Gadis ini adalah sumber kekuatanmu kan? Tanpa gadis ini, apakah kau bisa melawanku?” tantang Kyu, sombong. Lalu mendorong Jinki hingga terpental menggunakan kekuatannya. Jonghyun yang saat itu berada di tempat itu segera berlari mendekati Jinki untuk menolongnya. Tapi, belum sampai dia tiba di sisi Jinki, dia terpental hingga menabrak dinding. Mincha yang melihat hal itu, tiba-tiba saja mempunyai kekuatan untuk melepaskan diri dari genggaman Kyuhyun lalu segera menghampiri Jinki yang terhempas di tengah aula gereja.

“Kau? Bagaimana bisa?” tanya Kyuhyun tak percaya.

“Jinki! Kau tak apa?” tanya Mincha khawatir. Jinki menggeleng lemah.

“Hehh! Kamu tuh, siapa sih? Datang-datang mengacau seenaknya saja!” bentak Mincha. “Menyakiti Jinki dan Jonghyun, berarti berhadapan denganku!”

“Cih, kau bocah ingusan! Kau hanya manusia! Mana bisa mengalahkanku?” ucap Kyuhyun meremehkan.

“Kau belum tahukan siapa sebenarnya aku?” tanya Mincha pada makhluk angkuh di hadapannya.

“Jinki, apakah dia ini vampire sepertimu?” tanya Mincha tanpa menoleh pada yang ditanya. Jinki yang tidak menaruh kecurigaan apapun pada Mincha hanya mengiyakan.

“Jonghyun, bawa hyungmu keluar dari ruangan ini. Pokoknya, berlindunglah! Biar aku yang urus makhluk ini,” perintah Mincha dengan nada serius. Belum pernah Jinki mendengar nada bicara Mincha yang seperti itu. Dia hanya terus memandang khawatir ke arah gadis itu sampai dirinya berada di ruangan sebelah aula. Jinki melihat Mincha dan Kyuhyun dari kaca pembatas ruangan.

“Kau tidak tahukan kalo aku adalah pembasmi vampire?” tanya Mincha tajam lalu mengeluarkan sebuah benda dari dalam tubuhnya setelah mengucapkan sebuah mantra.

Kyuhyun membelalakkan kedua matanya melihat benda tersebut. Terutama Jinki dan Jonghyun. Mereka tidak menyangka, seorang pembasmi vampire ingin menolong seorang panngeran vampire. Apakah itu hanya tipuannya saja?

Mincha terus berdoa dalam hati sambil mengangkat benda itu tinggi-tinggi, kemudian menatap Kyuhyun dengan tajam dan bibir kecilnya mulai berkomat-kamit membaca mantra. Sebuah sinar yang menyilaukan tampak keluar dari benda tersebut. Makin lama semakin meluas dan akhirnya menghancurkan tubuh Kyuhyun yang berteriak kesakitan hingga tubuhnya hancur menjadi serpihan-serpihan kecil begitu sinar tersebut mengenai dirinya. Setelah mengeluarkan kekuatan yang begitu besar, Mincha ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri. Sementara napasnya tersengal putus-putus.

Jinki yang melihat itu langsung menghampiri Mincha dan mengangkat tubuh gadis itu lalu membawanya ke rumah Mincha. Setelah meletakkan gadis itu di sofa, Jinki terus menggenggam tangannya.

“Cha, jangan tinggalkan aku! Jangan mati dulu!” ucap Jinki sambil terisak.

“Hyung, sudahlah! Berada bersamanya, kau juga bisa dalam bahaya!” kata Jonghyun.

“Jauh darinya lebih berbahaya lagi. Kau ingat, aku masih terikat dengannya,” teriak Jinki.

“Oppa.. Apakah sudah waktunya?” perdebatan mereka terputus oleh igauan Mincha.

“Kenapa? Aku sudah tidak ada gunanya lagi hidup! Orang yang paling ingin aku lindungi pun sekarang pasti membenciku begitu mengetahui bahwa aku salah satu pembasmi,” Mincha terus mengigau. Jinki memandang gadis itu dengan pandangan kalut. Dia tidak ingin kehilangan gadis itu.

“Kumohon! Bawa aku bersamamu, oppa!” Mincha terus merintih, memohon dalam alam bawah sadarnya.

“Andwae,” bisik Jinki lirih.

“Siapa yang akan menangisi kepergianku, oppa? Takkan ada! Karena itu, biarlah aku ikut bersama kalian,” tangis Mincha.

Saat air mata Jinki jatuh menetes di tangan Mincha, gadis itu perlahan membuka kedua matanya. Dia memandang ke sekitarnya dan menyadari bahwa dirinya berada di rumah. Ketika dia menoleh ke arah kanan, dia mendapati Jinki sedang menangis sambil menggenggam tangannya dan Jonghyun yang berdiri menatapnya.

“Ka… Kalian… sedang apa di sini?” tanya Mincha kaget.

“Sy… Syukurlaaaah…. Syukurlah,, kau sadar!” ucap Jinki yang kemudian langsung menarik Mincha dalam pelukannya. Mincha menatap Jonghyun menanti penjelasan. Tapi Jonghyun hanya mengedikkan bahunya lalu beranjak keluar dari rumah.

“Jinki? Kamu nih apa-apaan sih? Lepasin!” Mincha berusaha mendorong bahu Jinki agar menjauh. Tapi tenaganya tak sebanding dengan Jinki. Apalagi kondisinya yang masih lemah setelah mengeluarkan tenaga yang sebegitu bsarnya. Dia pun pasrah saja dalam dekapan Jinki.

“Kamu kenapa nangis?” tanya Mincha pelan saat merasakan tubuh Jinki bergetar.

“Kamu jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, Cha! Setelah membuatku jatuh cinta padamu lalu kamu akan meninggalkanku? Nggak, Cha! Nggak akan kubiarkan,” ucap Jinki menahan tangis.

“Ha? Jatuh cinta? Siapa?” tanya Mincha linglung. *perasaan peran gw kok daritadi bloon mulu’ ya!?*

“Cha! Sekarang jawab aku!” ucap Jinki sambil menjauhkan bahu Mincha dari pelukannya dan menatap matanya dalam-dalam.

“Kenapa kamu mau nolong aku yang notabene vampire juga seperti Kyuhyun, padahal kamu itu pembasmi vampire? Dan juga, kamu tau, pembasmi vampire kalo bekerja sendiri akan mengerahkan seluruh tenaganya, bahkan mungkin bisa mati setelah mengeluarkannya! Kenapa kamu nekat ngelakuin itu? Padahal aku juga VAMPIRE, Cha! VAMPIRE!” lanjut Jinki lagi dengan suara keras.

“Aku nggak tau! Aku ngerasa aku harus ngelindungin kamu! Dari pertama kali lihat kamu, aku udah ngerasa gitu! Karena itu, aku nggak mau lihat kamu dibanting-banting kayak tadi sama Kyuhyun itu! Aku ikut sakit!” jawab gadis itu tak kalah kerasnya dengan air mata yang mulai mendesak keluar.

“Cha! Kamu mau nggak, jadi vampire sepertiku dan mendampingiku selamanya, sebagai istriku?! Aku suka sama kamu! Jika aku sudah terbebas dari kutukan ini, aku yang akan melindungimu,” ujar Jinki tiba-tiba dengan pandangan serius. Mata Mincha membulat mendengar pernyataan dan permintaan Jinki tersebut.

“Nggak mau, ah! Kamu kan pangeran vampire, ntar pasti bakal gantiin raja! Aku nggak mau nikah sama kamu!” tolak Mincha pura-pura serius.

“Hah? Emang kenapa? Aku janji nggak bakal nelantarin kamu!” ucap Jinki terkejut atas penolakan Mincha.

“Abisnya, aku nggak sanggup kalo ntar kamu nikah sama cewek lain selain aku! Pangeran ama raja kan boleh punya istri lebih dari satu. Aku nggak mau,” jawab Mincha lalu mengerucutkan bibirnya.

“Ah, masa nggak boleh sih? Masa istriku cuma kamu doang? Nggak asyik,” kata Jinki malah menggoda Mincha begitu mendengar alasan gadis itu.

“Ya, udah! Aku kan udah bilang aku nggak mau jadi istrimu! Lagian, mana ada vampire nikah sama pembasmi bangsanya sendiri?” kali ini Mincha berkata sambil menopang dagu.

“Aku percaya, kamu bukan pembasmi yang asal menghancurkan bangsaku! Dan lagi, setelah kau menikah denganku, kekuatanmu itu tidak akan ada gunanya lagi, kan? Mau ya Cha?” ucap Jinki sambil memasang wajah memelas.

“Aku masih tidak bisa membayangkan kalo nanti aku bakal diduakan, ditigakan, diempatkan dilimakan,dienam….,” perkataan Mincha terputus saat sesuatu yang basah dan hangat menempel di bibirnya.

TBC

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Jono Jini Story

Jono Jini Story

Author            :           Park Kyungjin

Cast                : Park Kyungjin

SHINee – Lee Taemin

Jono

Jini

Genre             : Angst (Sad Romance)

Rating             : G

Length            : One Shot

Disclaimer      :           Lee Taemin is just an actor in this story, he belongs to himself and SHINee. Kyungjin is author, Jono and Jini are original character. All of this plot based on the true story.

Continue reading Jono Jini Story