Jono Jini Story

Jono Jini Story

Author            :           Park Kyungjin

Cast                : Park Kyungjin

SHINee – Lee Taemin

Jono

Jini

Genre             : Angst (Sad Romance)

Rating             : G

Length            : One Shot

Disclaimer      :           Lee Taemin is just an actor in this story, he belongs to himself and SHINee. Kyungjin is author, Jono and Jini are original character. All of this plot based on the true story.


+++

Perkenalkan, namaku Kyungjin. Park Kyungjin. Sebenarnya aku hanya seorang yeoja biasa. Maksudku, aku hidup, aku beraktivitas layaknya seorang manusia biasa. Namun ada satu hal yang sangat ku sayangkan. Hidupku. Kisah cintaku.

Baiklah, akan ku ceritakan dari awal.

+++

Aku seorang siswa yang bersekolah di sebuah sekolah yang berasrama, atau dengan kata lain, aku terpisah jauh dari orang tuaku demi mengejar pendidikan.

Ya, tujuanku sebenarnya memang karena ingin belajar yang lebih serius. Apalagi sekolah berasramaku ini letaknya jauh dari keramaian, hingga satu-satunya hal yang bisa dikerjakan hanya belajar dan belajar. Namun semua itu berubah ketika aku mulai tertarik pada salah seorang kakak kelasku.

Hal itu berawal saat aku duduk di meja yang sama dengannya saat makan malam. Harus kuakui, waktu itu kakak kelas yang aku kenal belum banyak. Kami memang diajarkan untuk saling berbaur dengan kakak kelas agar bisa saling mengenal. Waktu itu aku duduk di salah satu kursi dimana kursi yang ada di sampingnya juga kosong. Namun tak lama kemudian, seorang namja datang sambil menenteng segelas mocca hangat dan langsung duduk di kursi yang ada di sampingku.

Ya, itulah yang membuatku tertarik dengannya. Mocca! Kebetulan aku juga sangat menyukai mocca.

“Annyeong, sunbae. Namamu siapa?” aku juga tidak tahu mengapa aku memiliki keberanian untuk bertanya. Yang aku tahu, dia itu kakak kelasku.

“Ah, Taemin. Lee Taemin imnida. Kalau kau?” jawabnya ramah. Aigo, setelah kuperhatikan, ternyata sunbae yang satu ini imut juga.

“Emm, Kyungjin, sunbae. Park Kyungjin imnida” jawabku bersemangat, dan dia hanya menanggapinya dengan senyuman.

Percakapan kami hanya sesingkat itu, dan sejak malam itu, aku mulai sering memperhatikannya.

Aku menyelidikinya lebih jauh, sehingga sedikit demi sedikit aku mulai mendapatkan informasi tentang dirinya. Ternyata dia namja yang cerdas. Prestasi belajarnya sangat mengagumkan, terutama pada mata pelajaran eksakta, seperti Matematika dan Fisika. Tapi dia juga cukup hebat dalam bidang teori, seperti Biologi. Daebak!

Setelah ku telusuri lebih jauh lagi, ternyata dia masih mempunyai segudang kelebihan lainnya. Ternyata dia ketua dari klub majalah dinding di sekolah kami. Ckckck, kemampuan seninya juga sangat menakjubkan. Apalagi, dia sangat hebat dalam hal menggambar. Betul-betul kemampuan otak yang seimbang!

Namun ada satu kelebihannya lagi yang membuatku tanpa ragu menjadi fansnya. Dance! Aku mengetahuinya dari teman-teman yeojanya. Teman-temannya bahkan memperlihatkan beberapa video saat ia tampil di pagelaran seni. Omo, namja ini keren sekali!

Hari demi hari berlalu dan aku masih terus memperhatikan Taemin sunbae. Aku juga tidak malu untuk mengakui pada teman-temanku kalau aku mengidolakannya. Tapi berita ini tidak pernah tersebar di kalangan kakak kelasku.

Aku sering berpapasan dengannya saat melewati koridor sekolah, dan itu sudah cukup untuk membuatku kelewat salah tingkah. Aish, ada-ada saja. Aku bahkan ragu kalau dia masih mengenalku, meskipun waktu itu kami sudah berkenalan. Kakak kelas memang selalu begitu, cuma asal kenalan. Selebihnya, akan dilupakan lagi. Kecuali kalau kau tampak mencolok daripada teman-teman kelas 1 SMA-mu yang lain. Dan aku? Untuk dianggap ada di sekolah ini saja sudah syukur.

Waktu itu Taemin sunbae sudah kelas 3, dua tingkat di atasku. Dan itu berarti, tak lama lagi ia akan tamat dari sekolah ini dan melanjutkan kuliahnya di tempat lain. Aish, membayangkan hal ini membuatku agak sedih.

Bulan-bulan berikutnya, hal yang tidak ku sukai itu datang juga. Hari perpisahan kelas 3. Kami menampilkan persembahan terakhir kami untuk kakak-kakak kelas kami. Dan setelah acara selesai, kami mulai berbaris untuk saling bersalaman.

Aku menangis sejadi-jadinya. Teman-temanku yang lain juga menangis seakan tidak rela kakak kelas yang sudah kami anggap seperti kakak sendiri di asrama kami itu pergi meninggalkan kami. Aku pun begitu. Aku tidak rela ditinggalkan kakak kelas yeojaku yang tinggal berdekatan kamar denganku. Aku tidak rela ditinggalkan kakak kelas namjaku yang juga ikut mengisi hari-hariku di sekolah. Dan terlebih lagi, aku tidak rela ditinggalkan Taemin sunbae.

Saat giliranku bersalaman dengan Taemin sunbae tiba, tangisanku semakin kencang. Biar sajalah, toh dia sendiri juga tidak tahu kalau aku sedang menangisinya. Aku hanya sekedar pengagum rahasianya. Dia mengulurkan tangannya, dan tanpa ragu aku menjabatnya. Dia juga sempat membuatku sedikit tertawa dengan tingkah konyolnya. Aish, aku menangis sambil tertawa. Jelek sekali! Tapi biarlah, yang penting aku sudah cukup senang.

Setelah kepergian kakak kelas kami, lingkungan sekolah dan asrama menjadi sepi. Apalagi adik kelas yang baru belum ada.

Aku kembali melewati hari-hariku sebagai seorang siswa biasa. Hanya saja, sudah tidak ada lagi Taemin sunbae yang bisa ku perhatikan tiap kali aku mendapatinya.

Tapi ternyata kisah Taemin sunbae belum berakhir sampai di situ. Aku mendapatkan nomor ponselnya saat melihat-lihat buku tahunan angkatannya. Di sana biodata tentang dirinya tertera dengan jelas. Yeah, sepertinya aku mendapat pencerahan.

Aku mengambil ponselku dan mengetik sebuah pesan singkat.

Annyeong…

Happy new year, sunbae… ^^

Kyungjin

Aku menimbang-nimbang kembali, masih ragu dengan keputusanku selanjutnya. Namun beberapa saat kemudian, aku mulai menekan sederetan angka pada kotak penerima lalu menekan tombol send. Omo, aku mengirimnya!

Aku mengirimkan ucapan selamat tahun baru padanya, padahal tahun baru sudah lewat seminggu yang lalu. Ah, masa bodoh. Aku juga mengetikkan namaku di bagian bawah pesan. Tentu saja, dia pasti tidak mengenaliku.

Aku menunggu balasan darinya dengan cemas.

Lama.

Lama.

Arrrghh, balasannya lama sekali! Aku mulai putus asa dan menaruh ponselku begitu saja di tempat tidurku. Mungkin dia tidak ingin membalasnya. Hhh, lebih baik aku mencari kegiatan yang lain saja. Aku memutuskan untuk berkunjung ke kamar tetanggaku di asrama.

Saat aku kembali ke kamarku, aku terkejut saat melihat ponselku menandakan bahwa ada sebuah pesan yang masuk. Jantungku berdetak tidak karuan. Aku mengambil ponselku dan membuka pesannya perlahan.

Deg. Deg. Deg. Aigo. Aigo. Aigo. Apa dia membalasnya?

Ne, sama-sama. Happy new year, too. ^^

OMONA! Dia membalasnya! Aku langsung meloncat-loncat kegirangan di dalam kamarku hingga membuat semua teman kamarku memandangku dengan aneh. Hahaha, biar saja, mereka tidak tahu apa-apa.

Aku kembali membalas pesannya dan menanyakan tentang kabarnya. Hhh, seperti yang sudah ku duga, dia tidak mengenalku. Tapi biarlah, setidaknya ini sudah membuatku sangat senang.

Aku dan dia saling membalas pesan singkat saat itu hingga aku tahu ternyata dia melanjutkan kuliahnya di sebuah Universitas hebat dan ternama! Huuueee, kenapa namja ini hebat sekali?!

Hari-hari berikutnya, aku sesekali mengiriminya pesan singkat, berharap agar kami bisa sedikit bercakap-cakap, dan ternyata dia baik sekali. Dia mau membalas pesanku dan menemaniku berbincang-bincang. Dia juga sudah mulai mengenalku, meskipun dia sendiri mengaku tidak mengetahui dengan pasti bagaimana wujudku sebenarnya.

Hari demi hari kami menjadi semakin akrab, hingga sebulan kemudian dia memintaku untuk menjadi yeojachingu-nya. Astaga, apa aku tidak bermimpi?

Waktu itu aku tidak langsung menerimanya. Jauh dalam lubuk hatiku, sebenarnya aku sangat ingin menjadi yeojachingu-nya, sangat ingin! Apalagi aku memang menyukainya. Tapi aku masih belum yakin. Maksudku, ia belum tahu aku yang sebenarnya. Dia hanya mengenalku lewat ponsel.

Sebenarnya aku minder, dia namja yang terlalu sempurna di mataku, apalagi dengan sederetan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Sedangkan aku? Aku hanya seorang yeoja yang tidak memiliki kelebihan dari segi manapun.

Berbakat? Tidak.

Baik? Tidak.

Pintar? Tidak juga.

Cantik? Halah, yang ini apalagi!

Namun entah angin apa yang akhirnya memaksaku untuk menerimanya. Yeah, aku menerimanya. Dan sejak saat itu, sejak aku sudah menduduki bangku kelas 2 SMA, aku sudah resmi menjadi yeojachingunya.

Tak butuh waktu lama hingga berita tentang hubunganku dengan Taemin sunbae tersebar di sekolah, apalagi jumlah siswa yang sangat sedikit hingga memungkinkan seluruh penjuru sekolah tahu tentang seluk beluknya.

Sebagian besar penghuni sekolah kaget dengan berita tersebut, kecuali adik kelas 1 baru kami yang memang tidak tahu apa-apa. Mungkin mereka heran, mana mungkin namja sehebat Taemin sunbae mau menjadi namjachinguku. Halah, tapi aku tidak peduli, mungkin saja mereka iri padaku, karena aku yakin, orang sehebat Taemin sunbae pasti punya banyak fans selain aku. Mungkin mereka tidak terima kalau ternyata aku si-yeoja-yang-amat-sangat-biasa inilah yang memenangkan hatinya. Yeah. Namun banyak juga yang ikut senang bersamaku, apalagi teman-temanku sendiri yang sudah dari dulu tahu bahwa aku menyukainya.

Aku beruntung sekali. Aku sangat bangga memiliki namjachingu seperti Taemin sunbae. Tapi cara berpacaran kami agak sedikit aneh. Kami hanya bisa berhubungan melalui ponsel, sebab kami sudah dipisahkan oleh lautan yang membelah pulau tampat kami masing-masing. Tempat kuliahnya memang terletak di pulau lain.

Teman-temanku sering menyinggungku. Mereka heran mengapa aku bisa bertahan dengan keadaan seperti ini. Tapi aku hanya tersenyum menanggapinya.

Cinta. Cintaku padanyalah yang membuatku bisa bertahan.

Semakin lama aku mengenalnya, aku mulai mengetahui beberapa hal tentangnya yang lain. Mulai dari keluarganya, kesenangannya, hingga beberapa rahasianya.

Aku juga baru tahu ternyata dia orangnya sedikit tertutup dengan orang yang tidak dekat dengannya. Itulah yang menyebabkan ia lebih suka menyendiri. Berbeda denganku, aku termasuk orang yang mudah bergaul karena sifatku yang selalu sok akrab dengan orang lain.

Dan ada satu hal lagi yang membuatku agak kaget. Ternyata aku pacar pertamanya! Omo, aku langsung meleleh saat mengetahuinya. Aku heran, bagaimana mungkin orang sekeren dan sehebat dia belum pernah pacaran sebelumnya? Padahal kalau dipikir-pikir, banyak yeoja yang ingin mengambil hatinya. Aku saja yang sejelek ini sudah lumayan berpengalaman merasakan asam manisnya cinta. Mungkin sifat tertutupnya itulah yang menjadi penyebabnya.

Taemin oppa betul-betul manusia yang rumit. Oh iya, aku sudah memanggilnya dengan sebutan oppa. Aku tidak lagi memanggilnya dengan sebutan sunbae. Yang benar saja, dia kan sudah menjadi namjachinguku.

Hubungan kami terus berjalan, dan tidak seperti pasangan kekasih pada umumnya, kami menjalani semuanya dengan lancar. Kami tidak pernah bertengkar sedikit pun. Betul-betul tidak pernah sedikit pun kami mempertengkarkan sesuatu.

Aneh saja, menurut pengalamanku dengan pacar-pacarku sebelumnya, pasti kami selalu meributkan apapun yang membuat kemauan kami bertentangan, dan menurutku, itu hal yang wajar dalam sebuah hubungan. Tapi berbeda dengan Taemin oppa, aku dan dia selalu akur. Yeah, tapi bagus juga. Aku justru suka dengan keadaan seperti ini. Mungkin karena terpisah jarak yang membuat kami tak menemukan bahan untuk dipertengkarkan.

Taemin oppa ternyata tipikal orang yang tidak suka memusingkan sesuatu. Aku sering curhat padanya, dan dia hanya menanggapinya dengan biasa saja. Padahal menurutku, itu masalah yang lumayan rumit sehingga aku berharap bisa mendapatkan tanggapan dan saran yang baik darinya. Tapi kenyataannya, dia menganggap hali itu hanya hal biasa yang tidak perlu untuk dipikirkan. Aku sedikit kecewa. Tapi sudahlah, tidak apa-apa. Tapi saat aku mulai curhat lagi padanya, ia masih tetap bersikap seperti itu, dan itu membuatku sedikit kesal. Aku menantangnya jika ia masih seperti itu, aku akan marah. Dan yang terjadi malah dia tidak peduli dan menantangku kembali.

Oke, aku terima.

Aku mengatakan bahwa aku tidak ingin membalas pesan singkatnya lagi, dan sepertinya dia memang tidak peduli. Justru tidak menanggapiku. Baiklah.

Besoknya, ia mengirimiku sebuah pesan singkat. Tapi aku tidak membalasnya, seperti perkataanku kemarin. Aku pikir dia sendiri juga tidak peduli kan?

Ia tetap mencoba mengirimkan beberapa pesan lagi, dan lagi-lagi aku masih tetap kukuh pada pendirianku. Aku tetap tidak membalas pesannya, meskipun rasa-rasanya tanganku sudah sangat gatal ingin mengetik balasan padanya. Tapi aku menahannya. Aku ingin melihat sejauh mana ia bisa bertahan.

Tapi yang membuat sedikit terkejut adalah pesan isinya seperti ini.

Marah adalah hal yang paling ku takutkan.

Baru kali ini aku menangis karena seorang wanita.

Mwo?! Taemin oppa, menangis? Ottokhae? Aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi!

Akhirnya aku menyerah. Aku membalas pesannya dan meminta maaf padanya. Aku juga menanyakan mengapa ia sampai menangis hanya karena hal seperti ini. Dan di situlah aku mengetahui kalau ia ternyata phobia dengan hal-hal yang berbau kekerasan, kemarahan, dan sebagainya. Astaga, serumit itukah? Padahal tadinya aku cuma ingin mengetesnya saja.

Sejak saat itu, aku jadi jarang curhat padanya. Kalaupun aku curhat, aku hanya memilih-milih bagian yang mungkin agak sedikit “pantas”. Dan selanjutnya, hubungan kami kembali seperti semula. Mulus dan lancar. Aku juga berusaha dengan keras untuk tidak marah lagi padanya.

Sejak berpacaran dengan Taemin oppa, semangat belajarku terus berkobar. Bagaimana tidak, aku sangat malu mengetahui kenyataan bahwa aku berpacaran dengan namja berotak brilian. Sebenarnya aku juga tidak terlalu bodoh. Aku juga sering memperoleh peringkat kelas yang lumayan, meskipun aku tidak pernah masuk ke posisi tiga besar di kelas. Peringkatku hanya berputar-putar di urutan 4 atau 5 saja. Tapi biarpun begitu, aku masih merasa tertinggal jauh dari Taemin oppa dari segi otak.

Taemin oppa punya kebiasaan yang menurut kepercayaanku sangat jelek. Ia sering mandi di malam hari. Padahal, air sangat dingin! Aku sering melarangnya, sebab setahuku, mandi malam bisa saja membuatnya mengidap penyakit, seperti paru-paru basah dll. Tapi dasar nakal, dia tetap tidak peduli.

Seringkali ia mengatakan bahwa aku ini masih seperti anak-anak dan ia dengan bangganya menyebut dirinya sebagai orang yang telah dewasa hanya karena ia sudah duduk di bangku kuliah. Hahaha. Justru aku yang berpikiran bahwa sebenarnya dialah yang bersikap seperti anak kecil. Aigo, neomu kyeopta! Tapi aku tidak mempermasalahkannya. Justru aku menyukai dia yang kadang-kadang bertingkah seperti anak kecil.

Makin lama aku semakin mencintainya, dan ku pikir dia juga seperti itu padaku, hingga akhirnya kami berdua mempunyai dua malaikat kecil.

Taemin oppa yang memberikan nama untuk kedua malaikat kecil kami, Jono dan Jini. Aigo, nama yang lucu.

Aku dan Taemin oppa mulai merancang sebuah masa depan untuk kami. Rumah yang nyaman, kehidupan yang bahagia, semuanya sudah terkonsep di pikiran kami. Tapi itu semua hanya bisa menjadi sebuah konsep sebab kenyataannya aku dan Taemin oppa masih menjalani pendidikan. Aku masih kelas 3 SMA, dan Taemin oppa juga masih berkuliah. Tapi mungkin suatu hari nanti rancangan kami itu bisa terwujud.

Hari-hari kami telah diisi oleh kehadiran Jono dan Jini. Tingkah mereka yang lucu dan masih polos membuatku selalu ingin mencubitinya. Hahaha.

Mereka juga masih sangat kecil. Jini masih belajar berjalan, dan Jono setahun lebih tua daripada Jini.

Satu hal yang membuatku sedih, aku jarang menghabiskan waktu dengan Jono dan Jini. Mereka lebih banyak tinggal bersama Taemin oppa, sebab aku masih harus menyelesaikan sekolahku. Yah, meskipun Taemin oppa juga masih duduk di bangku kuliah dan tugas-tugas serta mata kuliahnya juga menanti untuk disantap, kami merasa Jono dan Jini lebih baik tinggal bersama Taemin oppa dulu.

Aku sering menanyakan kabar mereka lewat ponsel.

Oppa, Jono Jini sedang apa?

Biasanya aku akan bertanya seperti itu pada Taemin oppa.

Aish. Si Jono lagi nakal. Kasian Jini, tadi botol susunya ditarik-tarik terus sama Jono.

Hahahah.

Aigo. Dasar anak-anak. Aku hanya bisa tertawa membayangkan tingkah menggemaskan anak-anak itu.

Sama dengan hal yang kulakukan, Taemin oppa akan menanyakan kabar anak-anak hiperaktif itu melalui ponsel saat Jono dan Jini tinggal bersamaku.

Jono Jini sedang apa, chagi?

Aku pasti langsung membalas pesannya dengan semangat.

Aigo, Jono memang nakal. Dia tidak pernah berhenti mengganggu adiknya.

Jadi, aku masukkan saja Jono ke kolong meja. Kekeke. XD

Setelah itu, aku hanya bisa cekikikan saat Taemin oppa menyebutku sebagai eomma yang kejam. Hahaha. Hanya bercanda, mana mungkin aku setega itu pada mereka.

Hari demi hari terus berlalu hingga akhirnya aku mendapat libur yang cukup panjang dari sekolah berasramaku. Itu artinya, aku bisa pulang ke rumah! Maksudku, rumah yang kutinggali bersama appa dan eommaku.

Dalam kondisi libur seperti ini, aku jadi kekurangan kegiatan. Aku jadi sering kepikiran tentang Taemin oppa yang berada jauh di pulau lain.

Aku mencoba untuk menghubunginya dan menanyakan kabarnya. Tapi aneh, Taemin oppa tidak membalas pesanku. Ya sudah, mungkin dia sedang sibuk.

Beberapa hari kemudian, aku melakukan hal yang sama. Tapi tetap saja Taemin oppa tidak membalas pesanku. Aish, Taemin oppa kenapa?

Keesokan harinya, ia mengirimiku sebuah pesan.

Mian aku tidak pernah memberimu kabar. Penyakit anehku muncul.

Aku tidak ingin dihubungi orang.

Aish. Penyakit macam apa yang tidak ingin dihubungi orang? Lagipula yang menghubunginya kan aku! Padahal selama ini aku mengkhawatirkannya. Akhirnya aku mencoba untuk mengerti keadaannya, meskipun di kepalaku ini sudah penuh dengan rentetan pertanyaan.

Baiklah, oppa. Semoga cepat “sembuh”.

Aku membalas pesannya dan memutuskan untuk mencari kegiatan lain. Rasanya sedih juga.

Selama berhari-hari, aku dan Taemin oppa tidak pernah berhubungan. Aku juga takut menghubunginya duluan, siapa tahu ia masih mengidap “penyakit” itu.

Suatu hari, aku memutuskan untuk tidur siang. Sebenarnya tidur siang adalah kegiatan yang paling jarang ku lakukan, berbeda dengan Taemin oppa yang hampir di setiap waktu kosongnya diisi dengan tidur dan tidur. Entah ada angin apa aku malah memutuskan untuk tidur siang.

Beberapa jam kemudian, ponselku berdering. Masih dalam keadaan mengantuk, aku mengambil ponsel yang sedari tadi terletak di sampingku lalu membuka isi pesan yang masuk.

Aku mencoba membaca pengirimnya dengan mata yang masih berat. Eh, dari Taemin oppa? Tumben.

Mataku yang tadinya masih berat kini setengah membelalak saat membaca isi pesannya.

Selama berhari-hari ini, aku sudah memikirkannya matang-matang.

Mungkin lebih baik kita menjadi saudara saja.

Aku menyayangimu, tapi sayang saja tidak cukup.

Mungkin karena kecocokan sifat.

Aku harap hubungan kita akan menjadi lebih baik, tapi sebagai saudara.

Aku masih membelalak setengah tidak percaya dengan isi pesannya barusan. Aku memang belum sepenuhnya sadar sebab aku baru saja terbangun tiba-tiba dari tidur siangku yang langka ini. Tapi tidak butuh kesadaran yang banyak untuk mengetahui maksud dari pesannya itu.

Ya. Dia memutuskan hubungannya denganku.

Astaga, tapi kenapa? Apa ada yang salah?

Aku masih terlalu kaget dengan kenyataan barusan yang menghantamku dengan sangat keras. Tapi mau di apakan lagi? Kalau memang itu keinginannya, aku tidak mungkin menolak dan merengek untuk membatalkan keputusannya.

Akhirnya saat itu juga, kami sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi.

Perbedaan sifat? Aku sebenarnya masih belum jelas dengan itu semua.

Keesokan harinya, aku memberanikan diri untuk memperjelas semuanya. Dan sungguh, alasan yang ia keluarkan membuatku hampir gila!

Oke, memang terdengar sangat berlebihan, tapi sungguh, aku benar-benar hampir gila!

Ia mengatakan bahwa selama ini ia tidak mendapatkan perhatian dariku.

Perhatian apa? Apa harus dengan menanyakan apakah ia sudah makan atau belum agar menunjukkan bahwa aku perhatian padanya? Perhatian tidak selamanya harus ditunjukkan dengan cara itu kan?

Coba pikirkan, siapa yang lebih sering menanyakan kabarnya duluan? Aku!

Siapa yang sering melarangnya mandi malam-malam? Aku!

Siapa yang selama ini bertahan dengan sifat kekanak-kanakannya? Aku!

Siapa yang harus bersabar saat ia berhenti membalas pesan singkatku di saat aku masih ingin menanyakan sesuatu? Aku!

Siapa yang harus berusaha menjaga emosi saat berhubungan dengannya? AKU!

Ia juga memutuskan hubungan kami karena ia berpikiran bahwa aku ini yeoja yang pemarah sebab aku sudah dua kali marah padanya.

Astaga, karena DUA KALI marah!

Aku memang ingat waktu itu aku pernah marah padanya. Tapi sumpah, kemarahan itu hanya kemarahan biasa. Lagipula, aku pasti akan langsung memaafkannya kalau saja ia mau minta maaf waktu itu. Tapi tunggu dulu, ia mengatakan kalau aku sudah dua kali marah. Yang satunya kapan? Seingatku itu pertama dan terakhir kalinya aku marah padanya.

Coba bayangkan, mana ada yeoja yang tahan dengan gaya berpacaran uniknya? Yang hanya bisa berhubungan melalui sebuah ponsel? Yang hanya menanyakan kabar lewat pesan singkat?

Ya, ada, tapi cuma AKU! Tapi bagiku itu semua tidak pernah menjadi masalah sebab aku mencintainya! Tulus. Aku cuma mengharapkan cintanya, tidak lebih, karena bagiku itu sudah lebih dari cukup.

Lagipula, ia tidak pernah mengatakannya padaku. Seandainya ia bilang dari awal tentang itu semua, pasti aku akan berusaha untuk menjadi seperti yang ia inginkan.

Tapi sudahlah, semuanya sudah terlambat.

Rumah yang nyaman, kehidupan yang bahagia bersama Taemin oppa, semuanya hanya bisa menjadi sebuah konsep.

Dan sama dengan rumah yang nyaman dan kehidupan yang bahagia itu, Jono dan Jini pun hanya sebuah rancangan. Mereka tidak nyata. Dan kini mustahil untuk menjadi kenyataan. Jono dan Jini hanya sebuah hayalan. Aku dan Taemin oppa memang berhayal tentang mereka. Ya, hayalan bagi orang-orang yang ditaburi benih-benih cinta di penjuru hatinya. Hayalan bagi orang-orang yang terlalu dilambung-lambungkan perasaan. Mereka tumbuh, hidup, tapi ketika benih-benih itu sudah mulai mati, Jono dan Jini pun akan ikut menghilang. Jono dan Jini tidak akan muncul kembali.

Sekarang, aku tidak lebih dari seorang yeoja yang masih duduk di bangku SMA. Yeoja yang seharusnya hanya memikirkan pelajaran dan pelajaran, bukannya berhayal tentang kehidupan di masa depan yang belum tentu menjadi kenyataan.

Taemin oppa, semoga kau menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Harusnya dari awal aku sudah sadar, aku memang tidak pantas untukmu.

Saranghaeyo, oppa. Aku juga akan menunggu seseorang yang rela hadir di dalam hidupku. Semoga orang itu bisa mengerti tentang diriku, tidak hanya dirinya yang ingin dimengerti. Mulai sekarang, meski berat, aku akan mencoba untuk menghapus bayangmu dari dalam benakku.

Hhh, mungkin sekarang aku harus mulai memanggilmu dengan sebutan sunbae kembali. Ne, annyeong Taemin sunbae!

THE END

Hehe. Gimana?

Oiya, ini adalah kisah nyata author. Jadi, seluruh plot yang ada dalam cerita ini murni dari pengalaman pribadi. Cuma cast Taemin saja yang beda dari kisah aslinya, soalnya kalau si taem beneran, saya g bakal rela untuk melepasnya. Kekeke, sedihnya. T___T Selebihnya, asli!

Ni juga ku buat karena pengen curhat. Moga aja ada yang mo baca dan menghibur. Oh iya, siapa tahu ada reader namja, sekedar info, gw lg jomblo! Kekeke. XD *all : cih! Mana ada yg mau?! Ngaca dong!* hehe, bercanda kok. Wong saya udah punya Taemin yang beneran. Ya gak ya gak?? (noel2 taemin) *dibuang ke comberan ama Taemints sedunia*

Saya butuh hiburan. Pliss hibur saya dengan melayangkan komen untuk ff ini. Sungguh, komen anda sudah cukup untuk menghiburku. ^^ *plakkk!!*

Gomawo udah menyempatkan diri untuk membaca ini. ^^ *hugs reader*

 

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

27 thoughts on “Jono Jini Story”

  1. first kah?
    Hua hua hua jd ni kisah asli author… Udah critanya sempurna2 tp hrus sad ending.. T.T
    Sabar y bu author..
    Didoain deh nanti dapet taemin..
    Tapi sbelumny aq dulu yg dapetin taemin..hhe *digorok*

    critanya oke.. Ga nyangka ending nya bkal begitu…
    Hwaiting chingu..
    Eh Lam knal jg y.. n.n

  2. bgus chingu …
    ceritany bener.bener ngena k hati …
    coba klo ga lg d kelas ..
    pasti aku udah nangis ..
    hikz .. T,T
    alasan ptusny ga banget !!
    tapii tetep smgat chingu ..
    hwaiting !! \^o^/

  3. ah alesan kaya gitu mah biasa , pasti cowonya udah bosen ato ga nemu cewe baru . Kalo cewe masih tahan ga ketemu sama cowonya . Kalo cowo mah beda -_-
    alah maaf sok tau haha

    sedih ya ff nya

  4. ksian kmu thor…sbr ye…stiap msalah psti ad hikmah e..
    E btw gua dlu jg gt..dputusin co sama alasan bgtuu *nahlo jd curhat* tpi beda e dy ade kls w..wkwkwkwkwkwkw…

  5. Hmm..
    bgus sch critax tp…
    np nggantung gt?
    huhuhuhu T_T
    aq msh pgn bc..
    aq jd kesel m taem nich…btw,jd ingat m crita tmenq jg nich…karakter cowokx sama…tp bdanya tu bukan cowokx tp temen dktx…mrk 1 asrama jg,cwok ini multitalented bgt..eh,syg bgt dy pux penyakit ginjal pdhl dah pntar gt,guanteng,kaya,kuliah dslh 1 univ.trkenal di indo.tp katax skrg dy g kuliah lg gr2 hrus brobat ke luar negri.(Temenq itu fans berat cowok ini lho dy smp bela2in mw brangkat ktmpt tu cowo gr2 khwatir,tp tnyata g jd coz emg jauh bgt tmptx mksdx bda pulau jg,trus wkt itu kami mank lg mw ujian jd dy tpaksa g jenguk tu cowo)

  6. YA AMPUUN…
    JADI-JADI JONO JINI itu cuma khayalan???
    authorrr,,,,jangan suka ngayal2 ah…heheheh(author:sukasuka gue)

    tapi akhirnnya ,,,cuma gitu doang,,,itu taemin kok jadi aneh gitu yyh? apa emank dicrita ini kk gitu, tau dy punya penyakit appppaaaa geto??hhehehe

    tapi aku suka (judulnya juga yunik) ekekek…
    bagus bagus chingu,,,^^

  7. OMO!!
    aku pikir td mrk bneran ngasuh ank.hehe
    trnyata khayalan
    *mngngatkan aku pd se”org yg krjaannya ngayal tiap hr. (aku)keke

    Dpt bgt feelnya,dan makin dpt saat crita itu mnggantung ^^

  8. OMONA!!!
    Ff ini bercampur adukk!!
    Yang satu seneng!
    Yang satu sedih!
    Yang satu berhayal!
    Aduhh si author yah, bener2 dehh!!
    Pulau seberang dimana?? hahahha….XD (Kocakk)
    DAEBAK-lahh!!!

  9. Kerennn…
    Suka sm gaya bhsanya…
    Tdnya aku penasaran,siapa sbnrnya jono&jini?? Eee trnyt cma ngayal…
    Tp bgus kok…
    Ksah nyata author lg…
    Bner tuh,alasan putusnya aneh!! /dilempar batu*…
    Tp aku jd mkir,bneran tuh pcaran tnp ktemuan??lwt ponsel aja??/author:yaiyalah>
    Kerenn ff nyah…

  10. wakakkakakakkakakakakkakakakakakkakakakakkk..
    ternyata ni ff aneh udah di publish toh~
    ffuufufufufuuu..
    hhohoo,, gomawo ya smuanya udah mau komen n menghibur..
    luv u all.. *nyium reader satu2*
    oiya,, mian aku belum bisa balas komennya satu2..
    ini aja aku baru sadar kalau ternyata ni ff udah dipublish..
    padahal sekarang udah tengah malam.. *gadayangnanya*
    gomawo admin.. *nyium admin juga/lesbong,, plakkk!!*
    sekali lagi gomawo.. ^^

  11. onn T_T aku mengerti perasaanmu onn .walaupun aku ga setragis itu /plak
    jadi ampe skrg blm ketemu lg ?onn blm tau penyakitnya apa ?
    Mungkin aja bkn mau dia buat putus ma onn . . . . .
    Tp ceritanya bgs bgt onn . . .*elus elus pundak onnie*

  12. nah , aku kira udah nikah dan punya anak juga
    ternyata khayalan~
    author keren deh , kalau aku nggak bakal tahan punya pacar kayak gitu
    trimakasih sudah share pengalamannya hehe
    keren ff nya jadinya~

  13. huweeeeee sediiiih masa akhirnya pisah beneran TT~TT
    aaaaaa padahal ada rancangan Jono-Jininya tapi….tapi….aaaaa ;___;
    ffnya daebaaaaak! XD

  14. huwaaa…
    nie ksah nyata authr ya??
    kerenn dah critanya…
    krain tdi jono jininya bneran twnya k\cma hayaln
    wkwkwkwkwk
    hwaiting author!!

  15. miris banget ceritanya… T.T
    cuman khayalan doang…

    daebak ya kalo udah cinta, bisa tahan aja pacaran pake ponsel.. XP..

    Nice ff^^

  16. Annyeong,,,salam kenal author..ola imnida,,,

    bagus kok ceritanya,,,hiihi,,soalnya kisahnya hampir sama sm aku,,huuhuh,,,bikin ff yg bagus2 lg yaaa,,,, huhuuh,,my taeminie saranghae,,, :*

  17. hehehehehehe pengalaman pribadi toh ???

    daebak thor !!!

    saya sangat menyukai FF anda **sokk formal**

    teruslah berkarya

    hehehehehe

    d^^u

Leave a Reply to Ola Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s