Love Without a Name – Part 1

Love Without a Name-part 1

Author : Tazkia Amalia

Cast :

Lee Jinki

Kim Nara

Choi Minho

Lee Taemin

Kim Keybum

Cho HyeRa

Kim Jonghyun

Park Yeon,  Kang Minrin, Shin Jojung, Lee Hyun Byul, Lee Jang Eon, Kim Dil La, Kim Ram In.

Gendre: action, mistery, horror, life, family, romance, friendship, sad .

No One POV~

“Aku akan ikuti semua kata-kata mu halmeoni, aku berjanji! Aku akan balaskan dendammu, aku akan balaskan sakit hatimu. Kau akan semakin tenang di alam sana. Mereka tak akan bisa tersenyum lagi, sama seperti apa yang telah mereka lakukan kepadamu. Ingat janjiku halmeoni.”

“……Aku akan ikuti semua kata-kata mu halmeoni, aku berjanji! Aku akan balaskan dendammu, aku akan balaskan sakit hatimu. Kau akan semakin tenang di alam sana. Mereka tak akan bisa tersenyum lagi, sama seperti apa yang telah mereka lakukan kepadamu. Ingat janjiku halmeoni……”

AAAaaaaaarghh…..hhh..hhh..hhh…hhh.. Aku terbangun dari tidurku dengan nafas terengah-engah. Mimpi itu lagi, pikirku. Ya, mimpi itu telah menghantuiku 6 bulan terakhir, sejak kematian halmeoni ku. Memang tidak  setiap hari, tapi mimpi tentang janjiku sebelum  kematian halmeoni ku itu terasa sangat menyiksa.

Aku segera bangkit dari tempat tidurku, menuju kamar mandi yang juga ada di dalam kamarku. Ku basuh wajahku dengan air. Ku pandangi wajahku sendiri di cermin, penuh dengan rasa bersalah. Di cermin ku lihat seorang lelaki dewasa, berdiri tegap namun terlihat tak bergairah. Bagian bawah mataku menghitam dan berkantung. Mungkin karena beban pekerjaan yang menumpuk.

Aku berjalan menuju dapur, mengambil sebotol air dingin dan langsung meminumnya sampai habis. Hari masih begitu pagi, baru menunjukan pukul 4 sehingga suasana sangat hening. Hanya suara  hembusan angin pagi yang dapat terdengar. Rumah ini begitu sepi, lebih sepi semenjak penghuni yang satunya yaitu halmeoni ku meninggal dunia.

Tiba-tiba angin bertiup  kencang, menerbangkan gorden-gorden dari jendela yang lupa ku tutup malam tadi. Suara jendela yang buka-tutup karena angin pun terdengar  begitu mengerikan. Aku tak tau apa ini, apa yang terjadi. Angin berhembus semakin kencang, aku berusaha menutup jendela yang terbuka itu. Daak!!..terdengar suara mengerikan sesaat setelah aku berhasil menutup jendela itu dengan susah payah. Aku pun berbalik badan dan melihat pintu kamar tidur yang lain terbuka. Ya, itu adalah kamar tidur halmeoni yang selama 6 bulan ini terkunci dan belum pernah sekali pun ku buka kembali. Aku terperangah , sangat terkejut mendapati kamar itu terbuka dengan sendirinya. Aku mencoba mendekati kamar itu dengan takut-takut. Ku nyalakan lampunya. Tak ada hal ganjil disana. Tapi…aku melihat sebuah buku berukuran tebal terjatuh dari raknya, sepertinya itu buku harian halmeoni. Ku pungut buku itu, ku coba membukanya meskipun agak ragu.

Ku duduk di tempat tidur halmeoni, kemudian perlahan-perlahan membaca tulisan-tulisan yang ada di buku itu.  Duuk.. buku itu terjatuh begitu saja dari tanganku. Aku kembali  terkejut, kali ini bukan karena kamar halmeoni yang terbuka lagi, tapi karena buku itu, karena apa yang ada didalamnya.

Aku bangkit dari tempat tidur halmeoni yang ku duduki. Memungut buku itu dan keluar dari kamar halmeoni. Kini ku yakin, aku akan segera membebaskan diri dari mimpi tentang janjiku itu, dan pastinya seperti apa yang ku ucapkan dalam janjiku kepada halmeoni, membalaskan dendamnya!

Nara POV~

“Ya, omo! Bangunlah kau anak malas! Cepat bangun! Kau mau tidur sampai kapan?” suara eomma ku yang cempreng lagi-lagi menjadi sarapan pagiku.

“ Sebentar lagi eomma, aku masih mengantuk.”jawabku dengan malas.

“Sebentar lagi itu kau anggap apa? Satu tahun? Walaupun kau baru tidur satu jam pun kau harus bangun. Siapa suruh kau  main internet sampai pagi?! Yya! Kau masuk alam mimpi lagi? Dasar anak bod..”

“doh.. iya kan eomma?” aku melanjutkan kata-kata eomma ku yang terpotong. Entah mengapa iya sering sekali ingin mengatakan kata itu kepadaku, tapi kata ‘oh’ nya selalu tertinggal. Apa dia takut mengatakan kata ‘oh’ nya itu karena nanti akan langsung merasa jadi salah sati anggota SNSD? *tidak penting, lupakan-.-a*

“huh, ya itu maksudku. Sudahlah cepat mandi. Kalo kau terlambat melangkahkan kaki dari rumah ini 20 menit saja. Kau akan lihat bagaimana dahsyatnya perang dunia ke 11.”

Perang dunia ke11? Memangnya penting? Paling-paling hanya appa yang baik hati merubah menjadi serigala yang melihat bulan purnama yang pastinya sangat menakutkan. Baiklah akan ku jelaskan secara rinci :

–          Perang dunia  ke3 : appa marah karena aku mematahkan sebuah piringan hitam tua. Katanya itu di dapat dari halmeoni yang katanya lagi halmeoni mendapatkannya dari salah satu keturunan Beethoven. *emang ada? Siapa? Ahh..itu gak penting! Lupakan-.-a* Ya, appa dan keluarganya memang suka sekali dengan lagu-lagu klasik.

–          Perang dunia ke4 : appa marah karena aku kabur saat detik-detik terakhir lomba opera antar sekolah. Aku melarikan diri karena didalam salah satu bagian ceritanya ada adegan ciuman dan pada saat latihan, adegan tersebut tidak pernah dicoba karena beribu satu alasan dariku. Appa marah karena aku telah membuatnya dan juga pastinya sekolah malu. Tapi aku mencoba menjelaskan padanya bahwa aku tak mau melakukannya karena aku tak mau first kiss ku hilang begitu saja. Aku hanya ingin melakukannya dengan laki-laki yang ku cintai dan mencintai ku dan bertanggung jawab atasku. Dan appa memakluminya, ia malah berkata “appa bangga mempunyai anak perempuan sepertimu”. (–“)

Lalu yang kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya yang tak mungkin ku ceritakan dalam waktu 20menit. Aku harus segera, mandiiiiiiiiiiiiiiii..

“Naraaaaaaa…….”teriakan minri mengagetkanku. Namanya Kang Minri, sahabatku yang paling manja.

“Ada apa sih Minri ku sayang? Gak usah teriak-teriak gitu kali.. Ntar tambah budek tau nih telinga. Udah eomma di rumah tiap pagi, kamu nambahin.”kata ku pada Minri dengan tampang kesal.

“Ahaha.. iya deh Minri minta maaf. Nara, pulang sekolah ikut ke mall ya? Refreshing habis ulangan. Ya ya ya ?”katanya manja.

“Ngga ah males, ngapain ke mall melulu? Ngabisin duit?”

“Yah kok gitu yang lain juga ikut kok..”wajahnya terlihat begitu memelas, seperti biasa kalau lagi minta sesuatu.

“Iya Ra, ikut aja. Masa gitu terus sih kalo diajak jalan. Ke mall tuh seru tau, kamu cewek apa bukan sih?”timpal Yeon. Park Yeon juga salah satu sahabat terdekatku. Orangnya dewasa dan bisa mengerti aku, makanya aku sering memanggilnya unnie.

“Cih, cewe. Ngapain ke sana mulu? Nyari-nyari cowok ganteng, manis, lucu, banyak duit? Ngapain jauh-jauh.. yang dihadapan mu ini loh, cowok perfect, sejati, dan setia. Ahahaha”kali ini si Jojung yang bicara, sahabatku(juga). Ku lihat di belakangnya ada Jonghyun. Berjalan dengan tampang sok cool dan tak perduli apa yang sedang terjadi. Ya, inilah kami. Berlima, aku, Minri, Yeon, Jojung, dan Jonghyun. Kemana-mana kami selalu berlima, tak punya nama untuk kelompok tersendiri. Karena kami tak mau di sebut dengan gank ini.. atau gank itu, juga tak mau disebut memisahkan diri dengan yang lain. Semua sama teman itu sama kok, hanya saja kami lebih dekat.

“Ya sudahlah, terserah saja.”kataku dengan terpaksa.

“Ahahahahahaha..”tiba-tiba saja si sok cool dan –bagiku- sedikit aneh itu tertawa. Dasar aneh (–‘’)

“Kenapa kau tertawa oh Mr. Kim Jonghyun?”tanyaku dengan tatapan mata tajam.

“Tidak apa-apa”hanya jawaban pendek dan singkat itulah yang keluar dari mulutnya

“Nara, ini untukmu.” Jonghyun memberikan sebuah gelang perak dengan hiasan mahkota diujungnya  untuk Nara.

“Apa ini?”

“Kau tak lihat apa ini? Ini sebuah gelang! Ku belikan untukmu! Cepat ambil, sebelum ku batalkan niatku dan memberikan gelang ini kepada wanita lain.”jawab Jonghyun sedikit jengkel

“Apa? Bisakah nada bicaramu biasa saja? Terima kasih.” Nara lalu mengambil gelang itu dari tangan Jonghyun. Tapi Jonghyun malah mengambilnya kembali.

“Ya! Kamu niat gak sih?”

“Sini, tanganmu. Biar aku yang memasangkannya.” Jonghyun menarik tangan Nara dan kemudian memasangkan gelang itu d pergelangan sebelah kanan. “Itu tanda persahabatan kita. Tapi gelang itu nggak akan kamu pakai selamanya, hanya hingga ada seseorang yang benar-benar bisa mengerti dan bisa menjaga kamu. Baru setelah itu kamu kembalikan gelang itu kepadaku.”

“Hah? Maksudnya? Aku nggak ngerti, kalau ngomong tuh pakai bahasa manusia donk Mr. Cool. Aduh..sakit” Jonghyun mencubit pipi Nara.

“Itu bahasa manusia kok tuan puteri, tapi hanya orang-orang intelek aja yang bisa ngerti. Ahahahahaha ..”

“Tertawa lagi. Huh, jadi maksudnya aku kurang pintar?”

“Ahaha, bukan-bukan. Cuma bercanda, jangan diambil hati. Maksudnya kalau kamu masih memakai gelang itu, aku akan menjagamu. Tapi kalau ada seseorang yang benar-benar bisa mengerti dan bisa menjaga mu, kamu kembalikan gelang itu kepadaku. Artinya bukan aku lagi yang akan menjagamu, tetapi orang itu.” Jelas Jonghyun panjang lebar.

“Memangnya siapa orang itu?” Nara kemabli bertanya.

“Suamimu.”jawab Jonghyun sambil tersenyum.

“Suami? Ya! Umurku baru berapa? Bukankah aku masih SMA? Kau menghayal Jjong?”

“Yang bilang kau akan mendapatkan suami sekarang siapa?”timpal Jonghyun. “Tentu saja nanti setelah kau menemukan orangnya dan siap menikah.”

“Emm.. bagaimana kalau seandainya calon suamiku itu, orang yang berada dihadapanku sekarang?” Seketika itu muka Jonghyun bersemu merah mendengar perkataan Nara. “Ahaha.. mukamu..mukamu kenapa jadi begitu? Seperti kepiting rebus.. ahahahaha.” Nara tertawa terbahak-bahak.

“Ah, sudahlah. Jangan tertawa lagi. Ini sudah malam, lebih baik kau cepat pulang sebelum appa mu menelponku.”

Mereka berdua beranjak dari kursi taman tempat mereka tadi berbincang. Rumah mereka memang satu komplek, tapi letaknya cukup jauh.

Jonghyun mengantarkan Nara sampai depan rumahnya. Lalu berpamitan dan mengucapkan selamat malam.

Jonghyun POV~

“Aku harap kau memang akan memakainya selamanya, Kim Nara. Dan aku harap memang aku yang menjadi suamimu nanti.”ucapanku dalam hati. Jujur aku pun tak tau apakah aku menyukainya sebagai seorang wanita yang bisa menarik hati pria, atau hanya sebatas menyukainya sebagai teman.

Aku berteman dengan Nara sejak kami SMP, itulah sebabnya aku lebih dekat dengannya dari pada keempat temanku yang lain. Kalau ada masalah, aku lebih suka bercerita dengannya daripada dengan keluargaku sendiri. Itulah sebabnya ketika tiba-tiba aku mngurung diri dikamar, yang artinya aku sedang mempunyai masalah, appa dan eomma pasti akan menelponnya dan menanyakan apa yang terjadi denganku. Aku lebih suka seperti itu, orang tuaku tau apa penyebabnya dari orang lain, daripada aku yang harus menceritakannya secara langsung.

Karena hal itulah, aku merasa Nara sangat berarti dalam hidupku. Tapi aku juga tak ingin menjadikannya sebagai pacarku, karena aku takut jika suatu hari ada masalah, kami akan bertengkar dan tak berteman lagi. Bukankah menjadi sahabatnya jauh lebih baik?
TBC

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Its Okay Even If Its Hurts

Its Okay Even If Its Hurts

by : asnia

cast :    Kim Jonghyun, Kim Hyunae (imagine it’s you J)

nb : ini FF debut aku loh J senangnya kalau sudah dipublish di SF3SI

memang ada part yang nggak nyambung sama lagunya tapi kalau didengerin sambil baca ini akan lebih dapet moodnya J

terima kasih untuk yang sudah menyempatkan baca, jangan lupa komen ya J

 

its okay even if i blind . its okay even if i run out of breath . if i could see you once, if i could just give you my heart

 

Hyunae keluar dari tempat bekerjanya . Hari ini dia merasa lelah sekali padahal pekerjaannya tidak sebanyak hari kemarin. Setelah bekerja harusnya ia langsung pulang ke flat kecilnya yang bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki, tetapi entah mengapa kakinya secara tidak sadar berjalan ke arah sebuah taman. Taman dimana dulu dia dan Jonghyun selalu bermain setelah pulang dari sekolah di sana. Hyunae duduk di sebuah bangku panjang. bangku yang sering dipakai mereka tidur karena lelahnya di sekolah. Dia membersihkan daun-daun yang berserakan di atas bangku. Hyunae melihat sekeliling dan menemukan apa yang ia cari. Tukang es krim. Ia lalu membeli es krim choco banana kesukaannya dan duduk, terdiam sebentar dan tak terasa air matanya menetes.

 

Flashback on

 

“Hyun chagi, cepat duduk di sini. Apa kau tidak lelah dari tadi kita hanya berjalan saja. Kakiku capek sekali. Dasar anak muda,”

“Mianhamnida Hyun seosangnim, mungkin itu karena kau sudah lebih tua dariku ya. Hahahaha, harusnya dulu aku tidak menerima ahjussi ini jadi namjachinguku ya”

“Nah nah, jadi kau menyesal nih menerimaku. Awas ya!”

“Oppa, aku tidak pernah menyesal memilihmu, karena aku adalah gadis dewasa dan aku akan bertanggung jawab pada pilihanku yaitu oppa. Hehe”

Jonghyun  tersenyum memeluk Hyunae dan membelai rambutnya dengan lembut. Hyunae adalah seorang murid Seoul High School kelas 12 dan Jonghyun, kekasihnya selama tiga bulan, adalah guru muda yang mengajar fisika di sekolah tersebut. Kisah percintaan antara guru dan murid yang sering ada di televisi itu ternyata bukan hanya milik otak penulis skenario drama, hubungan yang tidak disetujui dan berbagai ucapan sinis dari sekitar mereka sudah berulang kali mereka dengar. Bukannya malah menggoyahkan mereka, tetapi lebih mendekatkan mereka.

“Oppa, belikan es krim itu, aku pengen es krim choco banana !” rajuk Hyunae

“Ya, kau ini. Baru tadi kau mengungkit gadis dewasa dan sekarang kau minta dibelikan es krim? Apa itu yang dinamakan dewasa. Aigoo uri chagi” Jonghyun lalu membuka tasnya mencari dompetnya

“Soal selera itu berbeda oppa, masih ada kok tante-tante yang suka es krim” Hyunae membela diri. Dilihatnya Jonghyun mengeluarkan dompet dan tampaklah sebuah foto mereka berdua.

“Omona oppa, masih menyimpan foto ini ya ? Hahahaha, ini kan foto di kencan pertama kita kan. Kyeopta~ Haduh, wajahku dulu masih mulus”

“Iya memang, sekarang sudah banyak bintik-bintiknya. Aku jadi meragukanmu Hyunae. Hahaha..” canda Jonghyun

“Oppa ! Sukanya ngejekin aku nih..”

 

Flashback off

 

Hyunae memandangi foto yang sama, di bangku dan taman yang sama, dengan es krim yang juga sama. Tetapi kali ini dengan kepedihan, bukan dengan kebahagiaan seperti dulu

 

if i could just see you once, if i could just give you all my heart. how much more do i have to be longing for you to be able to know my heart. how much more do i have to cry and cry for my tears to dry

 

Flashback on

 

“Appa ! Kami bukannya ingin menikah besok kan ! Kenapa appa tidak memberi kesempatan sama sekali? Selama ini appa tidak pernah melihat keseriusan Jonghyun oppa. Hyunae bukan anak kecil lagi appa, Hyunae tahu konsekuensi dari pilhan Hyunae. Bukan begitu yang appa ajarkan pada hyunae tentang tanggung jawab? Hyunae menyayanginya, appa. Hyunae… “

Plak ! Hyunae merasa pipinya panas akibat tamparan ayahnya dan ia yakin kalau tangan ayahnya juga merasa sakit.

“Bukan ! Bukan seperti ini yang aku ajarkan padamu Hyunae! Dengar, appa sudah cukup bersabar dengan semua ini, kau seharusnya tahu kalau appa tidak suka dengan dia! Dia dan mobilnya yang  menyebabkan ibumu tewas!! Apa kau masih mau menerimanya? Lagipula siapa tahu dia hanya ingin memperdayai murid polos sepertimu! Jangan mudah tertipu Hyunae!”

“Itu kecelakaan appa, sudah berulang kali bukan Jonghyun oppa yang menabrak umma, tapi orang lain dan kebetulan Jonghyun oppa yang pertama kali menemukan umma di jalan. Apa appa tidak mendengar, polisi pun sudah membuktikan oppa tidak bersalah tapi mengapa appa…”

“Cukup ! Appa lelah bertengkar denganmu hanya karena pria itu. Sekarang  kau harus memilih, appa atau dia! Atau lebih baik kau keluar dari rumah ini!!” Ayah Hyunae sudah di atas kemarahannya.

Hyunae menangis, ayahnya juga menangis. tangisan ayahnya yang kedua kalinya seumur hidup Hyunae. Setelah tangisan pertaman ketika umma Hyunae dibawa ke rumah sakit sesaat setelah tabrakan yang akhirnya menewaskan ummanya. Kali ini mereka hanya berdiri dan menangis.

“Geurayo appa, mungkin lebih baik aku pergi”

 

~

 

“Hyun.. Kau sudah datang”

Hyunae hanya tersenyum memandang Jonghyun yang berbaring di kasur rumah sakit. Sudah dua hari sejak Jonghyun dilarikan ke rumah sakit karena jatuh dari tangga. Hyunae tahu sebenarnya bukan itu penyebabnya, melainkan Jonghyun yang sedang anemia dan jantungnya tidak kuat karena setelah bertengkar dengan appa Hyunae tentang masalah umma Hyunae

“Ne oppa, bagaimana hari ini? Merasa lebih baik?” tanya Hyunae sambil mencoba ceria tapi Jonghyun bisa melihat kalau Hyunae tidak sedang baik-baik saja. Mata merah dan sembab. Seperti habis menagis dan tasnya yang besar itu, mungkin maslah besar

“Ada apa Hyun? Coba ceritakan padaku,” ujar Jonghyun dengan lembut. Hyunae duduk di samping tempat tidur Jonghyun dan merebahkan kepala di samping tangan Jonghyun.

“Anniyo oppa, tenang saja, sebentar lagi aku akan bisa merawat oppa dan kita akan melewati hari bahagia bersama selamanya. Jadi oppa harus berjanji cepat sembuh padaku ya ?” pinta Hyunae sambil menggamit tangan Jonghyun dan mengaitkan jari kelingkingnya. Melihat itu Jonghyun hanya tersenyum

“Ne, chagi” jawabnya. Sekarang ia tahu sebab Hyunae menangis. Bertengkar dengan ayahnya tentang Jonghyun. Hyunae selalu berkata bahwa ia akan menemani Jonghyun, padahal ayahnya melarangnya. Dan tasnya itu, Jonghyun yakin sekali Hyunae memutuskan pergi dari rumahnya.

“Pergi lagi dari rumahmu? Jangan begitu, kalau kau seperti ini, aku akan makin merasa berslah” jelas Jonghyun

“Kenapa? Oppa tidak berslah kenapa harus bingung. Ini aku yang memutuskan artinya aku yang harus bertanggung jawab kan? karena aku adalah sudah dewasa”

“Mulai lagi deh Hyun, uhuk uhuk uhuk” Jonghyun terbatuk dan menutup mulutnya dengan tisu. Dilihatnya darah yang merembes di tisu

“Astaga oppa, beginilah kalau terlalu memikirkan hal yang tidak penting. Sudah, lebih baik oppa tidur saja ” Hyunae membaringkan Jonghyun dan menyelimutinya, “Selamat tidur oppa” ujarnya sambil mengecup dahi Jonghyun dan beranjak keluar untuk membuang tisu.

Hyunae lagi-lagi menangis, entah tangisan keberapa untuk hari ini. Hyunae tidak tahu, yang jelas setelah menangis ia merasa lebih lega

Begitu pula Jonghyun, airmata menetes di pipinya sekali lagi walaupun ia tertidur sekarang

 

does it hurts because im loving you? am i punished for loving too much? even if i was lose everything of me, if its just you then its okay

 

Pagi ini Hyunae tebangun di rumah sakit. Dia segera bersiap untuk pergi ke sekolahnya karena sebentar lagi ujian negara akan dilaksanakan dan Hyunae harus selalu masuk sekolah agar presensinya memenuhi untuk ikut ujian negara. Paling tidak, ia tidak ingin masalah belajarnya terganggu.

Seperti hari-hari sebelumnya, Hyunae sendirian. Teman-teman, guru-guru meninggalkannya satu persatu semenjak ia berpacaran dengan seorang seosangnim. Murahan, cibir mereka. Guru lain pun memandangnya tidak suka karena merasa sikap Hyunae menerima seorang guru menjadi pacarnya adalah perilaku buruk bagi sekolah mereka.

“Lebih baik dia tidak ada disini. Kau tahu kan Jonghyun seosangnim masuk rumah sakit gara gara dia,”

“Seosangnim stres dan jatuh sakit karena hubungan tidak bermutunya dengan si gadis murahan itu yang tidak direstui”

“Bukan salah seosangnim jatuh dari tangga rumahnya, tentu saja perasaannya tidak enak setelah bertengkar dengan ayah Hyunae”

“Idih, kamu menyebut namanya aku merasa jijik”

“Untuk pelajaran bahasa olahraga nanti aku tidak akan berkelompok dengan dia”

“Aku tidak akan memberinya masuk kelasku Pak, aku tak sudi mengajar dia”

“Tidak akan ada yang mengijinkan dia masuk ke kantin untuk membeli makanan”

“Lihat, dia sendirian lagi. Aku tidak mau dekat-dekat, nanti ketularan sialnya lagi”

Berbagai omongan tak menyenangkan sudah biasa didengarnya dan tidak pernah dianggapnya

“Ya!! Kau cepat ke ruangan kepala sekolah” seorang guru memanggil hyunae, “katanya kau tidak boleh ikut ujian negara, karena mulai minggu depan kau dikeluarkan dari sekolah ini”

 

~

 

Hyunae menangis lagi di tengah jalan. Tidak masuk akal ! Hanya karena masalah berpacaran ini dia dikeluarkan.

“Lebih baik karena agar tidak ada rumor jelek untuk sekolah ini, apalagi sekolah ini akan diakreditasi ulang gara-gara pihak pendidikan mendengar adanya guru dan murid berpacaran. Hal ini dapat meresahkan siswa, tidak bisa dibiarkan” jelas kepala sekolah

“Tapi Bapak tahu kan, saya dan Jonghyun seosangnim tidak pernah berbuat di luar batas kewajaran. Saya berani bersumpah, Pak” bela Hyunae.

“Sayang sekali keputusan sekolah mengeluarkanmu sudah bulat”

Hyunae mengingat lagi perkataan kepala sekolahnya dan berusaha menerima dengan lapang dada.

“Gwenchana Hyun! Kamu masih punya Jonghyun oppa di sisimu. Fighting!!”

 

even if my heart is broken when loving you. even if my heart is separated when waiting for you. its okay because i love you. its okay even if it hurts

 

Hyunae mencari kerja berhari-hari dan akhirnya ia diterima menjadi pelayan di toko ramyun. Kini ia tinggal di flat kecil milik Jonghyun, sembari merawatnya saat  Jonghyun sudah keluar dari rumah sakit. Sudah tiga bulan mereka hidup seperti ini dan segalanya berjalan lancar. Hari-hari mereka terasa lebih baik. Sampai pada suatu malam Jonghyun memanggil Hyunae

“Hyunae, kemari sebentar” Jonghyun berkata dari dalam kamarnya

“Sebentar oppa, aku sedang menaruh makanan di piringmu. Jam 7 malam kan saatnya kau makan”  jawab Hyunae dari arah luar

“Ppali.. Hyun,”

“Ne oppa, sudah beres. Lihat, enak kan makanannya ? Hmm, wangi sekali kimchi pancake kesukaan oppa yang aku buat kali ini. Slrup!” bangga Hyunae dan lalu duduk di dekat kasur dan bersiap menyuapi Jonghyun

“Sebentar hyunae, aku mau bicara dulu, penting untuk kita” kata Jonghyun lirih

“Hmm, ada apa oppa, tidak seperti biasanya. Bicara denganku kok terlihat resmi sekali. Kyeopta. Ini sudah hangat, aaaa..” jawab Hyunae sambil meniup makanan dan menyodorkan sendok berisi makanan ke arah Jonghyun

“Nanti dulu aku mau bicara”

“Iya, satu suap dulu dong oppa. Ne ?”

“Perhatikan aku dulu Hyunae !! ” Prang ! Jonghyun membuang sendok ke arah lantai dan berteriak agak keras

“Oppa… wae ?” terlihat di matanya Hyunae tampak kaget dengan perlakuan Jonghyun dan terdiam menatap Jonghyun

“Kita berdua.. lebih baik berpisah saja.. Aku tidak sanggup bertahan hidup, aku lebih baik mati saja, dan sebelum mati aku akan memberi kebebasan padamu untuk pergi dariku” kata Jonghyun pelan dan langsung membalikkan tubuhnya dan pura-pura tertidur. Padahal sebenarnya ia menutupi wajahnya karena tidak mau terlihat menangis

Hyunae terdiam tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Tangannya menggegam erat piring yang dibawanya.Pikirannya tiba-tiba berhenti dan Hyunae keluar dari kamar. Sambil mencuci piring dan membersihkan lantai, pikiran hyunae belum mampu mengolah kata-kata Jonghyun tadi

Berpisah.. semudah itukah berkata berpisah ? Hyunae masih tidak percaya sebelum ia duduk di kursi dekat dapur. Dia kembali melakukannya. aktivitas yang sidah berusaha ia lupakan selama tiga bulan ini. Menangis

 

~

 

Ketika Hyunae membuka matanya, jam meninjukkan pukul 6 pagi. Artinya harus bersiap-siap membangunkan Jonghyun, memasak sarapan, mandi dan pergi kerja. Tetapi kertika ia melihat ke kamar Jonghyun, didlihatnya laki-laki itu sudah tidak ada

“Oppa !!!” Hyunae berteriak dan langsung mencarinya ke kamar mandi, ke balkon flat, dan segala penjuru flatnya tapi dia tidak menemukan sosok itu. Hyunae segera mengambil jaketnya dan bergegas keluar, dilihatnya dari atas flatnya Jonghyun sedang tertatih berjalan di pinggir jalan. Sesaat Hyunae merasa lega karena Jonghyun ternyata tidak pergi jauh dan tidak terjadi sesuatu padanya. Hyunae turun ke bawah melalui lift.

Drak ! Sendirian berada di dalam lift dan tiba-tiba liftnya macet, ia kekatukan dan itu membuat perasaan Hyunae tidak enak, entah mengapa hatinya merasa ngilu.  Beberapa detik kemudian lift kembali berjalan dan perasaan tidak enak itu masih belum hilang. Ketika dia sudah berada di luar flatnya, entah kenapa banyak orang yang berkumpul di tengah jalan seperti sedang melihat sesuatu. Terdengar suara orang berteriak, kaget, lalau ada yang terlihat menelepon polisi dan ambulans

Deg !

‘Ada apa ini, mengapa aku merasa ketakutan sekali. Apa sebenarnya yang dilakukan banyak orang itu?’ pikir Hyunae

Jonghyun oppa !! Tiba-tiba nama itu muncul dan menyebar di pikiran Hyunae dan ia pun langsung berlari ke arah kerumunan. Hatinya teterasa makin kacau dan pikirannya melayang. Makin mendekat, terus mendekat, terlihat seseorang yang berbaring di jalan raya. Dia…

“Jonghyun oppaaaaa !!!” teriak Hyunae sambil menangis mengahampiri Jonghyun. kepalanya sudah berlumuran darah, begitu pula seluruh tubuhnya

“Oppaaaaa !!! oppa , ireonna ! ireonna oppa ! ireonna !!!!” Hyunae berteriak sekuat tenaga

menggoyangkan badan Jonghyun dengan kencang.

Hyunae sudah kehilangan akal pikirannya.

“Agasshi, jangan digoyangkan, nanti lukanya tambah parah”

“Dia sudah meninggal sepertinya, aku melihatnya dia tertabrak karena tidak melihat lampu penyebrangan”

“Ambulans dan polisi sebentrar lagi datang”

Hyunae sudah tidak mendengar suara-suara lain selain suara Jonghyu yang terngiang di kepalanya, seketika sekeliling Hyunae berubah jadi gelap

 

whenever i try to turn around trying to forget you, I keep wanting to see you, what should i do? whenever i try to block myself by saying i shouldn’t, youre the only one for me, what should i do ?

 

“Hyunae syukurlah nak kamu sudah sadar”

Bau rumah sakit terasa di hidungnya dan saat ia membuka matanya, ia hanya melihat ayahnya sedang menangis sambil memandanginya. Seharusnya bukan ayah yang aku lihat, dimana dia ?

“Jonghyun? Appa, dimana Jonghyun oppa?” Hyunae masih terlihat linglung

Lalu mata Hyunae terbelalak. Hyunae langsung terbangun tanpa memperdulikan rasa sakit di ulu hatinya

“Oppa !!” Hyunae berlari keluar dari ruangannya sambil berteriak memanggil Jonghyun.

“Hyunae, kembali ke kamarmu” kata ayahnya sambil menahan tangan Hyunae

“Tidak appa! Aku tidak mau di sini. Aku mau mencari oppa! Tadi dia keluar dan aku melihatnya di pinggir jalan. Aku mau melihatnya appa, melihat Jonghyun oppa! Oppa !! Kau dimana?” kata Hyunae melepas tangan ayahnya

Hati Hyunae sakit, masih belum mau percaya dengan semua cobaan yang menimpa dirinya. Dia masih merasa Jonghyun ada di sampingnya . Masih ia rawat dengan senang. Masih bercanda dengan dia. Masih duduk bersama di  bangku taman dengan es krim choco banana di tangan mereka berdua. Masih bercanda tentang Hyunae yang dewasa dan Jonghyun dengan foto awal kencan mereka di dompetnya. Masih di kamar Jonghyun memasakkan makanan kesukaannya. Masih bersama. Selamanya. Seperti yang sudah dijanjikan Jonghyun pada Hyunae

Hyunae belum menerima kenyataan kalau Jonghyun sudah pergi meninggalkan dia sampai akhirnya saat ia sendiri menangis seharian di depan makam Jonghyun

 

even if i get poisoned and pricked, my love for you cant stop. i will wait for you until forever. i will endure even if its hurts and hurts

Flashback off

 

Hyunae mengelap air matanya, menghabiskan sisa es krim yang sudah meleleh hingga tangannya, menutup dompet yang berisi foto awal kencan mereka. Ia lalu memandang ke kejauhan dan merebahkan dirinya di atas bangku taman itu.

Langit hari ini sungguh biru tidak berawan. Entah kenapa matanya terlelap dan merasa nyaman sekali ia lalu membuka matanya dan tersenyum

‘Sudah tiga tahun kau pergi oppa, sampai sekarang aku akan selalu menunggumu kembali walau tak mungkin kembali. Aku menunggu perasaan yang pernah kau beri itu datang lagi ke hatiku. Saranghaeyo oppa’ ucap Hyunae dalam hatinya

Hyunae lalu berdiri dan bergegas pulang. Jam 7 malam, menu malam ini adalah kimchi pancake kesukaan orang yang sangat ia sayangi.

 

because i love you more, its okay even if i tear up. its okay even if i hurts

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Sweet Disposition – Part 1

Tittle                           : Sweet Disposition (Part 1)

Author                        : Lia aka Liaegyo

Cast                            : Kim Jonghyun, Kim Yuna

Another Cast             : Choi Minho, Kim Heechul, Park Nada, Lee Jinki

Genre                         : Romance, Action

Rating                         : PG – 15

Yuna POV

“aisssh sudah jam berapa ini Nada belum juga datang??” gerutuku dalam hati. Sudah 1 jam lebih dari waktu kami janjian aku menunggunya. Nada adalah salah satu sahabatku yang memang terkenal dengan ketidak-on time-an nya. Sambil menyeruput ice green tea aku mencoba menghubungi handphone nya. Sudah lima kali aku mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat.

“baiklah last call” aku mencoba menelepon untuk yang terakir kalinya.

Tuuuut..

“yeobseyo” yess akhirnya diangkat. Tapi tunggu?? Sejak kapan suara Nada jadi seperti lelaki.

“yeobseyo? Yaa Nada dimana kau?? Aku sudah ada di kafe ini sejak satu jam yang lalu? Apa kau lupa kalau kau ada janji denganku??” aku mengomel tanpa henti.

“mianhe.. ini Jinki. Nada sedang di kamar mandi sekarang. Akan aku suruh nada mengubungimu ya?” kata Jinki. Dia adalah lelaki yang sudah dipacari Nada selama setahun ini.

“ne, araseo. Gomawo oppa” kututup telepon ku.

“aisssh jinca perempuan itu! Dia melupakan janji nya dengan ku demi lelaki itu?? Benar – benar menyebalkan!! Kuhabisi dia kalau bertemu denganku nanti” aku meracau sendiri sambil menghabiskan sisa green tea ku dan bersiap untuk pulang.

Ketika aku akan berdiri dan berbalik kebelakang tiba – tiba..

“Braak..”. seorang namja dengan nampan berisi minuman menabrakku.

“heey! Apa kau tidak punya mata hah?? Aiisssh sial sekali aku hari ini!!” aku sibuk mengelap baju dan rambutku yang terkena tumpahan Black Coffee milik namja itu dengan tangan. Noda hitam nya sangat terlihat di baju kaos putihku. “oow mianhe.. jeongmal mianhe..”

Jonghyun POV

“ne, hyung akan aku laksanakan. Ne, baiklah tunggu kabar dariku saja!” aku berbicara di telepon sambil membawa secangkir Black Coffee yang aku pesan. Tanpa aku sadari ada seorang yeoja yang berdiri tiba – tiba dan Black Coffee yang aku pesan tadi tumpah diatas kepala yeoja itu.

“yaaa panaaass!!  Hey kemana matamu hah?? Apa kau tidak melihat ada orang disini?? Aiish hari ini benar – benar sial!!” Yeoja itu menunduk membersihkan baju dan rambut nya yang terkena minumanku.

“hyung, nanti aku telepon lagi ya? Ne, araseo!” aku mematikan telepon dan segera membantu yeoja itu

“mianhe, aku benar – benar tidak melihat.. Apakah ada yang sakit? Minuman itu panas kan??” aku mencoba membantu membersihkan rambutnya dengan sapu tanganku.

“yaa kau bilang ada yang sakit atau tidak??? Apa kau gilaaa?? Minumanmu itu bisa melepuhkan kulitku tahu??” yeoja itu menatapku dengan mata yang merah sepertinya dia sangat marah kepadaku. Othoke??? Aku tidak terbiasa mengahadapi wanita. Apalagi yang sedang marah seperti ini. Tapi tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihat yeoja ini? Tapi dimana? Aku mencoba mengingat nya dan..

“yaa!! Apa yang kau lamunkan hah?? Apa kau tidak merasa bersalah? Aiiishh jinca..” suara yeoja itu membuyarkan lamunanku. Aah mungkin aku hanya pernah berpapasan dengannya.

“mianhe, aku benar – benar tidak sengaja percayalah?”

“bagaimana ini masa aku harus pulang dengan rambut lengket seperti ini?? Sini berikan saputanganmu!!” yeoja itu mengambil paksa saputangan yang ada tanganku tanpa sengaja tangan nya menyentuh tanganku. Hey perasaan apa ini? Kenapa tangan nya seperti ada aliran listrik? Dan kenapa jantungku berdegup kencang? Padahal hanya skinship biasa?? Ah, sudahlah yang paling penting sekarang bagaimana membuat yeoja ini tidak marah lagi.

“emm tunggu sebentar” aku keluar café menuju supermarket yang ada didepan café ini. Aku membeli sebuah handuk dan shampoo dan kembali ke café tadi. Aku berbicara dengan manajer café dan mendekati yeoja itu.

“kkaja.. ikut aku!” aku menarik tangan yeoja itu.

“mau kemana kita? Jangan – jangan kau mau menculikku??” aku hanya diam saja dan tetap menarik tangannya.

“hey kita mau kemana??” aissh ternyata yeoja ini benar – benar  tidak bisa diam.

Yuna POV

Namja ini menarik tanganku menuju ke belakang café. Kenapa namja ini kasar sekali menarik tanganku seperti aku ini namja sama sepertinya saja. Ternyata dia membawaku ke ruang ganti pegawai.

“pakai ini! Kau bisa memakai kamar mandi disana aku sudah meminta izin dengan manajer nya! Aku tunggu diluar!” dia memberikan ku handuk, kaos putih, dan shampoo. Ternyata dia lumayan bertanggung jawab juga. Aku masuk kamar mandi dan mencuci rambut dan bajuku yang terkena minumannya. Setelah selesai aku keluar dan melihat namja itu sedang sibuk menelepon.

“ne, Araseo.. aku sekarang sedang ada pekerjaan mendadak. Ne, aku sedang menunggu instruksi dari bos heechul. Nanti aku hubungi lagi!” aku mendengar percakapan namja itu tapi aku tidak mengerti apa.

“ooh kau sudah selesai!” namja itu berdiri dan menghampiriku.

“maaf aku tadi marah – marah kepadamu. Aku benar – benar kesal tadi! Temanku membatalkan janjinya. Ditambah kau menumpahkan minumanmu..”

“aku yang seharusnya meminta maaf tidak melihat mu berdiri.. dan..”

“sudah tidak apa – apa. Jangan dipikirkan, aku sudah tidak marah lagi”

“sebentar..” namja itu menjauh dariku untuk mengangkat telepon. Dan tak lama kemudian ia menghampiriku.

“maaf aku harus pergi, ada yang harus aku kerjakan. Maaf atas perbuatanku tadi. Siapa namamu?”

“Yuna imnida”

“Jonghyun imnida. Baiklah aku harus pergi sekarang” kami berjabat tangan dan dia pun pergi dengan terburu –buru.

“tunggu sebentar jonghyun ssi..” aku mencoba memanggilnya tapi sepertinya dia tidak mendengarku dan aku hanya bisa melihatnya pergi menjauh.

***

Kubuka pintu rumahku. Gelap. Pasti Appa belum pulang. Aku melihat sudah jam 11 malam sekarang. Appaku adalah seorang wartawan sebuah majalah politik terkenal di korea. Beritanya sering menjadi kontroversi. Bisa dibilang appaku adalah musuh para pejabat yang melakukan korupsi. Karena appa ku tidak segan – segan memberitakan yang sebenarnya tanpa takut adanya ancaman. Ya, ANCAMAN. Sudah sangat sering Appaku menerima terror karena berita yang diterbitkannya. Surat kaleng, bom Molotov, dan ancaman akan membunuh sudah jadi makanan sehari – hari appaku. Itu juga yang membuat umma ku lari dari appa dengan membawa serta adik laki – laki kesayanganku karena tidak tahan dengan pekerjaan appa yang sangat membahayakan nyawa nya maupun keluarga. Alasanku tidak mengikuti umma Karena aku sangat menyanyangi appaku. Dan sepertinya aku juga akan mengikuti jejak appa sebagai wartawan.

Aku menuju kamar tidurku di lantai atas. Kurebahkan  badanku diatas tempat tidur sambil mengingat kejadian sore tadi. Jonghyun ssi, kenapa wajahnya selalu terbayang di kepalaku? Dia sangat misterius. Memakai jas hitam di cuaca sepanas tadi. Dan ia sibuk sekali menerima telepon. Heechul? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu? Tapi dimana? Ah, tapi nama hee chul kan banyak? Mungkin aku salah?

Drrrtt.. drrrttt.. drrrt.. telepon dari appa, tumben sekali appa meneleponku.

“Yuna ah kau harus berhati – hati jangan lupa kunci pintu, appa baru saja menerima surat ancaman lagi. Jangan pergi sendiri! Appa sangat menghawatirkanmu. Appa tidak pulang hari ini, appa harus memimpin rapat redaksi. jaga dirimu, apabila ada sesuatu yang aneh segera telepon appa. Araseo??”

“ne appa, araseo.. jaga dirimu baik – baik juga appa. Aku sayang appa”. tut tut tut. Telepon terputus.

Aku bisa mendengar nada khawatir yang teramat sangat dari cara bicara appa. apa yang barusan appa katakan membuat jantungku berdegup dengan kencang seperti ada sesuatu hal besar yang akan terjadi padaku. Perasaanku tidak tenang.

Aku mencoba menghubungi Nada.

“Nada, kau bisa menemaniku dirumah malam ini? Appa ku tidak pulang..”

“mian yuna ah aku tidak bisa, aku menjaga umma ku yang sedang sakit, mianhe.. kalau ada apa – apa telepon aku ya?”

“ne, araseo.. byee” fiuuuhh.. terpaksa aku harus tidur sendiri malam ini.

Kumainkan handphone ku dengan memutar – mutarnya di meja. Lalu aku kembali teringat dengan Jonghyun ssi. “aah pabo sekali, aku lupa mengucapkan terimakasih padanya? Kapan aku bisa bertemu lagi denganya??”

“sreeek.. sreek” aku mendengar suara aneh diluar.

Aku kebawah untuk memastikan apakah pintu dan jendela sudah terkunci dengan rapat, dan sembari mengecek asal suara tadi.

“Tok.. tok.. tok..” Siapa yang bertamu malam –malam begini?? Aku mengintip dari jendela, tapi tidak ada orang di luar.

“tok.. tok.. tok”

“nuguseyo?”  tak ada jawaban dari luar.

“nuguseyo??” panggilku sekali lagi. Tapi tetap tudak ada jawaban. aku penasaran dan membuka pintu sedikit untuk melihat siapa yang iseng mempemainkanku. Belum aku sempat melihat siapa diluar tiba – tiba sebuah tangan langsung menutup mataku secara tiba – tiba.

“kyaaaaaaaaaaaa..” aku mencoba berteriak dan memberontak. Tapi tangan itu tetap tak lepas dari mataku. Aku sangat ketakutan. Aku merasakan keringat dingin .

“lepaskan!! Tolong jangan bercanda!” sepertinya air mataku sudah mulai keluar.

“appaa tolooong!!”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.. Ini aku dan jinki Yuna ya!!! miaan membuatmu takuuut.. aku hanya ingin mengerjaimu saja! Hahahahahahaha” ternyata Nada dan Jinki yang mengerjaiku!!! Sialan mereka!!

“hahahahahahaahahaha!!” Nada dan jinki memegangi perutnya dan tidak berhenti tertawa.

“hahhahaha gomawo jagi” Nada mengecup pipi jinki manja dan kembali tertawa.

“ne, aku pamit dulu ya? Kalau ada apa – apa hubungi aku” jinki mengedipkan matanya kepada Nada dan meninggalkan kami berdua tanpa rasa bersalah karena membuatku hampir pingsan.

“kau tahu kau membuatku hampir jantungan hah?? Kau benar – benar mebuatku kesal hari ini Nada! Siang tadi kau membatalkan janjimu? Sekarang kau dan namja chingu mu sukses mempermainkan aku!” aku memasang tampang sejutek mungkin.

“miaaann Yuna sayaang?? Aku benar – benar minta maaf.. yah yah yah? Appamu tadi menelepon ku sebelum kau meneleponku! Yaah aku kan hanya ingin mengerjaimu sedikit hehehe” ucap nada manja sambil menggelayut di tanganku.

“yasudahlah, sebagai tanda permintaan maaf mu masakan aku ramyun! Aku lapar sekalii!!”

“mwo? Eeehmm baiklah yuna sayang aku juga sudah lapar lagi!” aku dan nada menuju ke dapur. Saat Nada sibuk memasak ramyun aku bercerita tentang pertemuanku dengan Jonghyun ssi. Hingga tengah malam kami bercerita sampai akhirnya kami tertidur.

Author POV

kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggg!!!

“eeehmm.. ah menggangu saja” Yuna mematikan weker yang ia letakkan di meja kecil disamping tempat tidurnya dan memutuskan untuk melanjutkan tidurnya.

10 menit kemudian..

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggg..

“aaaah apaaa siih? Mengganggu saja!!” Yuna melihat jam wekernya.

“hwaaaaaaaaaaaa! aku kesiangan!! Nada bangun! Nada!! Ya Nada!! Kita terlambat sekolah Nada!!”

“hmmmm apa Yuna? Makan? Aku masih ngantuk Yuna” jawab Nada malas.

“KITA TERLAMBAT SEKOLAH PABO!!” teriak Yuna

“MWORAGO???? Oh my god! bisa dicincang siwon songsaengnim kita!” Nada segera masuk ke kamar mandi dengan terburu – buru dan segera mencuci muka dan gosok gigi.

Yuna sudah didepan pintu dengan mulut yang dipenuhi roti dan sibuk memasang kaos kaki.

“Nada ppali!!” Teriak yuna dari bawah.

“sebentar aku masih memasukkan buku! Sebentaaaar!!” Nada turun dengan tergesa – gesa dan mengambil selembar roti tanpa isi di atas meja.

“kkaja, kita benar – benar terlambat hari ini”

Yuna dan Nada berlari menuju halte bus jurusan sekolah mereka. Tapi yuna merasa ada yang aneh. Daritadi sebuah BMW hitam yang sama mengikuti mereka dari rumah sampai ke sekolahan. Tapi perasaan itu Yuna simpan tanpa memberitahukannya ke Nada. Yuna hanya memikirkan bagaimana caranya bisa masuk gerbang sekolah karena gerbang sudah ditutup dan Sungmin songsaengnim sudah berdiri didalam gerbang dengan mistar besi andalannya.

“songsaemgnim, jebal izinkan aku masuk! Aku janji tidak akan telat lagi!” Yuna memasang muka sememelas mungkin, mungkin saja dengan begitu ia bisa masuk walaupun agak telat. Terlihat beberapa anak lain yang terlambat melakukan hal yang sama seperti Yuna.

“tidak. Ini sudah sangat terlambat! Dimana rumah kalian sampai – sampai terlambat sekolah? Gangwondo? Jeju? Tidak ada alasan lagi, lebih baik kalian pulang saja” Sungmin songsaengnim beranjak masuk kedalam sekolah.

“fiiuuhh yasudahlah Nada kita kembali kerumah saja?”

“mian Yuna aku dijemput Jinki oppa dia minta ditemani siaran hari ini”

“baiklah aku pulang saja kalau begitu? Aku kurang tidur semalam”

“nah itu dia jinki oppa! Yuna aku duluan ya? mmuachh” Nada mencium pipi Yuna sebelum naik ke mobil Jinki.

“bye..” Yuna melambaikan tangan kearah sahabatnya yang mulai berlalu.

Yuna mengambil handphone nya di dalam tas dan mencoba menghubungi appanya tapi tidak ada nada panggil. Akhirnya Yuna memutuskan untuk berjalan sendiri.

Jalanan di dekat sekolah mereka memang lumayan sepi karena letak sekolah nya yang agak memisah dengan rumah warga dan butuh 5 menit untuk sampai ke halte bus. Yuna berjalan sendiri dan bernyanyi kecil mengikuti nyayian yang ia dengar di Ipodnya sambil menendang kerikil – kerikil kecil yang ada di jalan. Tanpa disadarinya ada sebuah mobil BMW yang sedari tadi mengawasinya. Semakin lama mobil itu semakin mendekat kearah Yuna. Dua orang namja berpakaian hitam turun dari mobil itu dan menghampiri Yuna. Mereka mengeluarkan saputangan dan membekap mulut Yuna dari belakang.

“hhhmp lepaskaan!! Hmmp jjong…” Yuna mencoba memberontak namun ia tidak sadarkan diri karena pengaruh bius di saputangan itu.

“bos, kami sudah menangkap anaknya. Ne, akan kami bawa kesana” salah satu namja berbicara di telepon dan namja satu nya membopong Yuna masuk ke dalam mobil. Mobil pun bergerak menuju suatu tempat.

Jonghyun POV

Aku memasukkannya kedalam mobil dan mendudukkannya disebelahku. Aku menyibakkan rambut kecil yang menutupi mukanya.

“Deg!” jantungku berdegup cepat Ternyata yeoja ini begitu cantik ketika tertidur. bibirnya yang mungil dan hidung nya yang mancung membuat ku tidak bisa berpaling dari wajahnya.

Mobil terus melaju dengan cepat meninggalkan kota Seoul.

***

Aku adalah agen penculik bayaran. baru dua tahun aku menjalani profesi ini.  Kali ini klien kami adalah seorang anggota parlemen yang sedang terkena kasus korupsi, Kim Hee Chul. Aku tidak menyangka bahwa yeoja yang mejadi target penculikan yang sedang aku bopong ini adalah Yuna. Pantas saja aku tidak asing dengan mukanya saat pertama kali kami bertemu. Yang aku tahu Yuna adalah anak dari seorang wartawan yang mengungkap kejahatan Kim hee Chul tersebut. Ia menyuruh kami menculik Yuna karena ingin balas dendam atas perbuatan Appanya. Aku berpikir sudah berapa banyak orang yang aku culik dari awal bekerja sampai dengan sekarang.

*flashback*

karena kondisi keuangan keluargaku aku harus melakukan pekerjaan ini. aku merupakan anak tertua, appa dan umma ku sudah sudah lama meninggal dan meninggalkan 2 adik laki-laki dan 1 adik perempuan yang harus aku tanggung biaya kehidupannya. Dari kecil aku sudah biasa bekerja keras, segala pekerjaan pernah aku jalani. Pegawai restoran, pengantar pizza, guru les menyanyi, instruktur taekwondo sampai pengantar Koran sudah aku jalani. Dan pada suatu hari Minho, teman sesama instruktur taekwondo menawariku pekerjaan dengan gaji sangat besar tetapi agak sedikit beresiko. Karena pada saat itu, selain adikku Dongho akan masuk SMA, aku juga harus membiayai pengobatan adik perempuanku yang hingga sekarang msh dirawat oleh nenekku, aku menerima tawaran Minho tersebut. Aku dan minho memasuki gedung yang besar namun terkesan dingin persis seperti yang dituliskan di kertas yang dipegang minho.

“sepertinya ini alamat yang ada di kertas ini??” minho memegang selembar kertas yang udah agak kusut sambil melihat sekitar gedung yang sangat sepi.

“kkaja kita masuk mungkin kita bisa bertanya saja didalam” kataku.

Tidak ada seseorang pun yang berada di gedung tersebut. Tiba – tiba dua Lelaki besar berbaju dan berkacamata hitam mendekati kami.

“apakah kalian Kim Jonghyun dan Choi Minho?”

“ne” jawabku dan minho berbarengan.

“ikut kami” kedua lelaki tersebut berjalan didepan kami menuju sebuah ruangan yang berada di lantai 3.

“tok tok tok.. bos mereka sudah datang”

“ne, masuklah” seorang lelaki yang tidak terlalu tua dengan kacamata dan cerutu di tangannya duduk santai di kursi. Dimejanya terdapat beberapa macam botol minuman yang aku tidak tahu persis apa namanya. Aku memerhatikan sekeliling terdapat banyak sekali foto orang yang berbeda. Sebagian dari foto tersebut diberi tanda silang merah. Aku tidak tahu pekerjaan apa yang akan aku jalani ini? dan aku mempunyai firasat yang tidak terlalu enak tentang pekerjaan baruku.

“duduk” pria tua itu tadi mempersilahkan kami duduk di sofa yang terletak memisah dengan meja kerjanya dan ia duduk santai memebelakangi kami di meja kerjanya.

“aku sudah melihat profile kalian. Kalian pintar bela diri kan? Dan apa kalian tau pekerjaan apa yang akan kalian jalani sekarang??” pria itu berdiri dan menghadap jendela.

“eobseoyo” jawab minho singkat.

“bisa kalian lihat foto – foto yang ada di dinding. Tugas kalian menculik dan menghilangkan nyawa mereka”

“Deg..” aliran darahku seperti terpusat dijantung sekarang. Tebakanku benar, ternyata pekerjaanku bakal membuat hidupku berubah, entahlah berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya. Aku melihat wajah minho sekilas. Kulihat keringat mengucur di keningnya padahal ruangan tersebut bisa dibilang dingin. Aku bisa merasakan aura tegang disekeliling minho.

“Bagaimana? Kalian akan melakukannya bukan? Kalian telah mengetahui kelompok kami. Kalian tahu konsekuensinya apabila menolak.”

Kemudian aku mengingat ketiga adikku yang sedang berada dirumah. Aku berikir lama sebelum aku mengambil keputusan.

“baiklah, aku siap” jawabku mantap.

*flashback end*

Setelah 8 jam perjalanan akhirnya kami sampai di villa diatas bukit tempat persembunyian kami kali ini. aku menggendongnya turun dari mobil dan menaikkannya ke lantai atas. Kurebahkan badannya diatas tempat tidur berukuran besar yang tersedia di kamar itu. Sesuai perintah kuikat tangannya dengan seutas tali dan menutup mulutnya dengan kain agar ia tidak bersuara. walaupun lokasi villa disekitar kami sangat jauh dengan rumah warga kami berjaga – jaga dari kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Setelah ia aku ikat, aku mengunci kamarnya dan turun kebawah menemui partnerku minho.

“hyung, ini tas yeoja itu.mau kita apakan?” minho memberikan tas sekolah hitam milik Yuna.

“sini, berikan kepadaku. Aku akan menyimpannya!” kuambil tas nya dan kembali keatas. aku masuk kamar disebelahnya dan duduk di sofa yang menghadap keluar jendela. Aku penasaran melihat isi didalam tas nya. Ku buka tasnya, dan mencoba mengeluarkan satu per satu isinya. Tidak ada yang menarik. Aku hanya menemukan buku, Ipod, dan saputangan. Tidak ada yang menarik. Dan pada akhirnya aku menemukan dompet berwarna biru muda. Didalamnya aku menemukan sebuah foto keluarga yang sudah agak usang. Sepasang suami istri menggendong seorang bayi dan seorang anak kecil dengan kucir kuda tampak tersenyum manis. Aku bisa menebak kalau itu adalah yuna. Ternyata wajahnya tidak berubah saat ia masih kecil hingga sekarang. Aku simpan dompetnya kedalam saku jas ku. Dan mengembalikan buku dan Ipod nya kedalam tas lagi. Aku kembali mengecek kamar Yuna. Ternyata ia belum juga sadar dari obat bius. Mungkin obat bius yang baru ini bisa tahan hingga besok pagi. aku bersandar di sofa yang berada dikamarnya dan memejamkan mata sebentar tapi tanpa sadar aku tertidur.

***

“hhhmmp hhhmmmpp hmmppphh”

Aku terbangun karena seseorang menendang sofa yang menjadi tempatku tidur.

“hhhhhmmmppp hhhmmpppp!” ternyata Yuna sudah berada didepanku. Matanya terlihat merah mungkin karena menangis. Ia tidak bisa bicara karena mulutnya aku ikat dengan kain.

“hhhhmmmpp hhhhmmpp” Ada yang ingin ia katakaa tapi terhalang oleh kain itu.

“mungkin ia lapar” pikirku. Kemudian aku keluar untuk mengambilkan sedikit makanan.

Yuna POV

“hey lepaskan ikatanku bodoh!! Aku ingin ke kamar kecil!” aku mencoba berteriak. tapi sekencang apapun aku berteriak ia tidak akan mengerti karena mulutku ditutup dengan kain. Dia hanya melihatku dengan tatapan kosong lalu keluar dan mengunci pintu kamar. Rasanya aku ingin menangis menahan derita ini. Aku sungguh tidak tahan ingin ke kamar kecil.

Aku meringkuk di bawah tempat tidur sambil membayangkan awal pertama aku dan Jonghyun ssi bertemu. Aku tidak menyangka bahwa ia adalah suruhan musuh appaku. Padahal awalnya aku kira ia adalah orang yang baik, walaupun orangnya agak sedikit kaku.

Aku berdiri melihat keluar jendela. Dan aku sangat terkejut melihat di luar hanya terlihat pepohonan rindang.

“ini bakal buruk, sepertinya tempat ini jauh dari pemukiman! Othoke?”

Ckreeek.. pintu terbuka. Ternyata Jonghyun ssi membawa sarapan pagi.

“kau lapar bukan?” Jonghyun ssi meletakkan makanan itu diatas tempat tidur.

Ia mendekat ke arahku dengan tatapan dingin. Aku ketakutan dan mencoba menjauh darinya. Aku takut ia akan berbuat hal yang tidak aku inginkan. Ia terus mendekatiku. Kemana aku berlari dia terus mengikutiku. Aku seperti bermain kucing – kucingan dengannya. Namun akhirnya dia berhenti.

“hey kau tidak akan bisa makan dengan kondisi seperti itu”

Rasanya mukaku memerah menahan malu. aku kira ia akan melakukan hal yang tidak – tidak. Akhirnya akupun mendekatinya. Tapi ternyata ia hanya membuka ikatan mulutku saja.

“tolong bawa aku ke kamar kecil! Aku sudah tidak tahan?” hanya itu yang ingin aku ucapkan padanya.

“tapi aku tidak bisa begitu saja mempercayaimu”

“jebal Jonghyun ssi” aku mengeluarkan jurus aegyo ku

“baiklah tapi aku tunggu diluar”

“ne, kkaja! Dimana kamar kecilnya?”

Aku mengikutinya dari belakang. Aku baru menyadari bahwa ia tampak berbeda. Aku melihatnya dari atas ke bawah. Ia tidak memakai jas hitam – hitam seperti awal aku bertemu dengannya. Sekarang ia hanya memakai kaos putih tipis dan jeans biru dengan beberapa gelang ditangannya.

“kenapa kau melihatku seperti itu? Cepat masuk!” jonghyun ssi membuyarkan lamunanku. Ia melepaskan tali di tanganku.

Saat aku dikamar kecil aku mendengar seperti banyak orang yang datang.

“hey kau bisa cepat tidak!” nada bicara Jonghyun berubah cemas.

“sebentar lagi”

Aku membuka pintu kamar mandi dan kulihat Jonghyun berdiri di depan ku. Ia memegang tanganku dan kembali mengikatnya dengan tali. Ia menuntunku naik kembali kekamar.

Ia berdiri didepanku yang duduk diatas tempat tidur.

“kau pasti lapar. Makanlah!”

“bagaimana aku bisa makan dengan tangan terikat seperti ini?”

Ia mengambil sandwich dan menyuapinya ke mulutku.

“aku bukan anak kecil tahu!! Lepaskan ikatanku babo!!” aku sudah sangat kesal dengannya padahal ia tadi mengizinkanku melepas ikatanku.

“kalau tidak mau kau bisa makan dengan caramu sendiri kalau bisa”

Aarrrrghh.. Namja ini sungguh menyebalkan!

“baiklah” aku menurutinya karena jujur aku snagat lapar sekali.

Ia perlahan – lahan menyuapi sandwich yang rasanya lumayan enak. Belum habis sarapanku tiba- tiba seseorang mengetok dari luar.

Tok tok tok..

“Jonghyun bos heechul memanggil kita” seorang namja tinggi dan tampan muncul dari balik pintu.

“baiklah minho” tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya ia berdiri dan mengunciku sendiri didalam kamar. Aku penasaran apa yang mereka bicarakan diluar. Aku berdiri didepan pintu dan menempelkan telingaku. Aku samar – samar mendengar suara serak pria yang sedang berbicara.

“Aku akan meninggalkan 5 suruhan ku untuk membuang gadis itu ke jurang besok malam. Tugas kalian berdua hanya mengawasi saja! Apabila gagal lihat saja apa yang akan terjadi pada kalian! Araseo?”

“DEG” jantungku berdetak dengan cepat, bulu kudukku meremang dan keringat dingin membasahi bajuku.

“Apa yang harus aku lakukan?? Appa aku takut”

To be continued…

ini FF pertama yang aku publish. Sorry banget kalo jelek dan rada gak jelas. Jangan ragu – ragu buat komen dan kritik. Thanks buat Wiga & Fresa yang jadi editor dadakan (saranghae!) and thanks buat reader yang udah baca! Komen dan kritiknya yaaaaaaaaaa!! Mmuach..

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Memories Of Us -Part 4- End Of All

Memories Of Us -Part 4- End Of All

Main Cast :

– Alya as Choi Hyun Ah

– Kim Jong Hyun SHINee

Other Cast :

– Choi Min Ho SHINee

– Lee Tae Min SHINee

– Wiga onn as Park Na Da

– Lia onn as Kim Min Ji

– Aya *temen aku haha* as Kim Min Mi

– **** as Lee Soo Hon *nama asli disamarkan untuk menjaga nama baik  *

————————————————————————————————————————————————— Continue reading Memories Of Us -Part 4- End Of All