Love Without a Name – Part 1

Love Without a Name-part 1

Author : Tazkia Amalia

Cast :

Lee Jinki

Kim Nara

Choi Minho

Lee Taemin

Kim Keybum

Cho HyeRa

Kim Jonghyun

Park Yeon,  Kang Minrin, Shin Jojung, Lee Hyun Byul, Lee Jang Eon, Kim Dil La, Kim Ram In.

Gendre: action, mistery, horror, life, family, romance, friendship, sad .

No One POV~

“Aku akan ikuti semua kata-kata mu halmeoni, aku berjanji! Aku akan balaskan dendammu, aku akan balaskan sakit hatimu. Kau akan semakin tenang di alam sana. Mereka tak akan bisa tersenyum lagi, sama seperti apa yang telah mereka lakukan kepadamu. Ingat janjiku halmeoni.”

“……Aku akan ikuti semua kata-kata mu halmeoni, aku berjanji! Aku akan balaskan dendammu, aku akan balaskan sakit hatimu. Kau akan semakin tenang di alam sana. Mereka tak akan bisa tersenyum lagi, sama seperti apa yang telah mereka lakukan kepadamu. Ingat janjiku halmeoni……”

AAAaaaaaarghh…..hhh..hhh..hhh…hhh.. Aku terbangun dari tidurku dengan nafas terengah-engah. Mimpi itu lagi, pikirku. Ya, mimpi itu telah menghantuiku 6 bulan terakhir, sejak kematian halmeoni ku. Memang tidak  setiap hari, tapi mimpi tentang janjiku sebelum  kematian halmeoni ku itu terasa sangat menyiksa.

Aku segera bangkit dari tempat tidurku, menuju kamar mandi yang juga ada di dalam kamarku. Ku basuh wajahku dengan air. Ku pandangi wajahku sendiri di cermin, penuh dengan rasa bersalah. Di cermin ku lihat seorang lelaki dewasa, berdiri tegap namun terlihat tak bergairah. Bagian bawah mataku menghitam dan berkantung. Mungkin karena beban pekerjaan yang menumpuk.

Aku berjalan menuju dapur, mengambil sebotol air dingin dan langsung meminumnya sampai habis. Hari masih begitu pagi, baru menunjukan pukul 4 sehingga suasana sangat hening. Hanya suara  hembusan angin pagi yang dapat terdengar. Rumah ini begitu sepi, lebih sepi semenjak penghuni yang satunya yaitu halmeoni ku meninggal dunia.

Tiba-tiba angin bertiup  kencang, menerbangkan gorden-gorden dari jendela yang lupa ku tutup malam tadi. Suara jendela yang buka-tutup karena angin pun terdengar  begitu mengerikan. Aku tak tau apa ini, apa yang terjadi. Angin berhembus semakin kencang, aku berusaha menutup jendela yang terbuka itu. Daak!!..terdengar suara mengerikan sesaat setelah aku berhasil menutup jendela itu dengan susah payah. Aku pun berbalik badan dan melihat pintu kamar tidur yang lain terbuka. Ya, itu adalah kamar tidur halmeoni yang selama 6 bulan ini terkunci dan belum pernah sekali pun ku buka kembali. Aku terperangah , sangat terkejut mendapati kamar itu terbuka dengan sendirinya. Aku mencoba mendekati kamar itu dengan takut-takut. Ku nyalakan lampunya. Tak ada hal ganjil disana. Tapi…aku melihat sebuah buku berukuran tebal terjatuh dari raknya, sepertinya itu buku harian halmeoni. Ku pungut buku itu, ku coba membukanya meskipun agak ragu.

Ku duduk di tempat tidur halmeoni, kemudian perlahan-perlahan membaca tulisan-tulisan yang ada di buku itu.  Duuk.. buku itu terjatuh begitu saja dari tanganku. Aku kembali  terkejut, kali ini bukan karena kamar halmeoni yang terbuka lagi, tapi karena buku itu, karena apa yang ada didalamnya.

Aku bangkit dari tempat tidur halmeoni yang ku duduki. Memungut buku itu dan keluar dari kamar halmeoni. Kini ku yakin, aku akan segera membebaskan diri dari mimpi tentang janjiku itu, dan pastinya seperti apa yang ku ucapkan dalam janjiku kepada halmeoni, membalaskan dendamnya!

Nara POV~

“Ya, omo! Bangunlah kau anak malas! Cepat bangun! Kau mau tidur sampai kapan?” suara eomma ku yang cempreng lagi-lagi menjadi sarapan pagiku.

“ Sebentar lagi eomma, aku masih mengantuk.”jawabku dengan malas.

“Sebentar lagi itu kau anggap apa? Satu tahun? Walaupun kau baru tidur satu jam pun kau harus bangun. Siapa suruh kau  main internet sampai pagi?! Yya! Kau masuk alam mimpi lagi? Dasar anak bod..”

“doh.. iya kan eomma?” aku melanjutkan kata-kata eomma ku yang terpotong. Entah mengapa iya sering sekali ingin mengatakan kata itu kepadaku, tapi kata ‘oh’ nya selalu tertinggal. Apa dia takut mengatakan kata ‘oh’ nya itu karena nanti akan langsung merasa jadi salah sati anggota SNSD? *tidak penting, lupakan-.-a*

“huh, ya itu maksudku. Sudahlah cepat mandi. Kalo kau terlambat melangkahkan kaki dari rumah ini 20 menit saja. Kau akan lihat bagaimana dahsyatnya perang dunia ke 11.”

Perang dunia ke11? Memangnya penting? Paling-paling hanya appa yang baik hati merubah menjadi serigala yang melihat bulan purnama yang pastinya sangat menakutkan. Baiklah akan ku jelaskan secara rinci :

–          Perang dunia  ke3 : appa marah karena aku mematahkan sebuah piringan hitam tua. Katanya itu di dapat dari halmeoni yang katanya lagi halmeoni mendapatkannya dari salah satu keturunan Beethoven. *emang ada? Siapa? Ahh..itu gak penting! Lupakan-.-a* Ya, appa dan keluarganya memang suka sekali dengan lagu-lagu klasik.

–          Perang dunia ke4 : appa marah karena aku kabur saat detik-detik terakhir lomba opera antar sekolah. Aku melarikan diri karena didalam salah satu bagian ceritanya ada adegan ciuman dan pada saat latihan, adegan tersebut tidak pernah dicoba karena beribu satu alasan dariku. Appa marah karena aku telah membuatnya dan juga pastinya sekolah malu. Tapi aku mencoba menjelaskan padanya bahwa aku tak mau melakukannya karena aku tak mau first kiss ku hilang begitu saja. Aku hanya ingin melakukannya dengan laki-laki yang ku cintai dan mencintai ku dan bertanggung jawab atasku. Dan appa memakluminya, ia malah berkata “appa bangga mempunyai anak perempuan sepertimu”. (–“)

Lalu yang kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya yang tak mungkin ku ceritakan dalam waktu 20menit. Aku harus segera, mandiiiiiiiiiiiiiiii..

“Naraaaaaaa…….”teriakan minri mengagetkanku. Namanya Kang Minri, sahabatku yang paling manja.

“Ada apa sih Minri ku sayang? Gak usah teriak-teriak gitu kali.. Ntar tambah budek tau nih telinga. Udah eomma di rumah tiap pagi, kamu nambahin.”kata ku pada Minri dengan tampang kesal.

“Ahaha.. iya deh Minri minta maaf. Nara, pulang sekolah ikut ke mall ya? Refreshing habis ulangan. Ya ya ya ?”katanya manja.

“Ngga ah males, ngapain ke mall melulu? Ngabisin duit?”

“Yah kok gitu yang lain juga ikut kok..”wajahnya terlihat begitu memelas, seperti biasa kalau lagi minta sesuatu.

“Iya Ra, ikut aja. Masa gitu terus sih kalo diajak jalan. Ke mall tuh seru tau, kamu cewek apa bukan sih?”timpal Yeon. Park Yeon juga salah satu sahabat terdekatku. Orangnya dewasa dan bisa mengerti aku, makanya aku sering memanggilnya unnie.

“Cih, cewe. Ngapain ke sana mulu? Nyari-nyari cowok ganteng, manis, lucu, banyak duit? Ngapain jauh-jauh.. yang dihadapan mu ini loh, cowok perfect, sejati, dan setia. Ahahaha”kali ini si Jojung yang bicara, sahabatku(juga). Ku lihat di belakangnya ada Jonghyun. Berjalan dengan tampang sok cool dan tak perduli apa yang sedang terjadi. Ya, inilah kami. Berlima, aku, Minri, Yeon, Jojung, dan Jonghyun. Kemana-mana kami selalu berlima, tak punya nama untuk kelompok tersendiri. Karena kami tak mau di sebut dengan gank ini.. atau gank itu, juga tak mau disebut memisahkan diri dengan yang lain. Semua sama teman itu sama kok, hanya saja kami lebih dekat.

“Ya sudahlah, terserah saja.”kataku dengan terpaksa.

“Ahahahahahaha..”tiba-tiba saja si sok cool dan –bagiku- sedikit aneh itu tertawa. Dasar aneh (–‘’)

“Kenapa kau tertawa oh Mr. Kim Jonghyun?”tanyaku dengan tatapan mata tajam.

“Tidak apa-apa”hanya jawaban pendek dan singkat itulah yang keluar dari mulutnya

“Nara, ini untukmu.” Jonghyun memberikan sebuah gelang perak dengan hiasan mahkota diujungnya  untuk Nara.

“Apa ini?”

“Kau tak lihat apa ini? Ini sebuah gelang! Ku belikan untukmu! Cepat ambil, sebelum ku batalkan niatku dan memberikan gelang ini kepada wanita lain.”jawab Jonghyun sedikit jengkel

“Apa? Bisakah nada bicaramu biasa saja? Terima kasih.” Nara lalu mengambil gelang itu dari tangan Jonghyun. Tapi Jonghyun malah mengambilnya kembali.

“Ya! Kamu niat gak sih?”

“Sini, tanganmu. Biar aku yang memasangkannya.” Jonghyun menarik tangan Nara dan kemudian memasangkan gelang itu d pergelangan sebelah kanan. “Itu tanda persahabatan kita. Tapi gelang itu nggak akan kamu pakai selamanya, hanya hingga ada seseorang yang benar-benar bisa mengerti dan bisa menjaga kamu. Baru setelah itu kamu kembalikan gelang itu kepadaku.”

“Hah? Maksudnya? Aku nggak ngerti, kalau ngomong tuh pakai bahasa manusia donk Mr. Cool. Aduh..sakit” Jonghyun mencubit pipi Nara.

“Itu bahasa manusia kok tuan puteri, tapi hanya orang-orang intelek aja yang bisa ngerti. Ahahahahaha ..”

“Tertawa lagi. Huh, jadi maksudnya aku kurang pintar?”

“Ahaha, bukan-bukan. Cuma bercanda, jangan diambil hati. Maksudnya kalau kamu masih memakai gelang itu, aku akan menjagamu. Tapi kalau ada seseorang yang benar-benar bisa mengerti dan bisa menjaga mu, kamu kembalikan gelang itu kepadaku. Artinya bukan aku lagi yang akan menjagamu, tetapi orang itu.” Jelas Jonghyun panjang lebar.

“Memangnya siapa orang itu?” Nara kemabli bertanya.

“Suamimu.”jawab Jonghyun sambil tersenyum.

“Suami? Ya! Umurku baru berapa? Bukankah aku masih SMA? Kau menghayal Jjong?”

“Yang bilang kau akan mendapatkan suami sekarang siapa?”timpal Jonghyun. “Tentu saja nanti setelah kau menemukan orangnya dan siap menikah.”

“Emm.. bagaimana kalau seandainya calon suamiku itu, orang yang berada dihadapanku sekarang?” Seketika itu muka Jonghyun bersemu merah mendengar perkataan Nara. “Ahaha.. mukamu..mukamu kenapa jadi begitu? Seperti kepiting rebus.. ahahahaha.” Nara tertawa terbahak-bahak.

“Ah, sudahlah. Jangan tertawa lagi. Ini sudah malam, lebih baik kau cepat pulang sebelum appa mu menelponku.”

Mereka berdua beranjak dari kursi taman tempat mereka tadi berbincang. Rumah mereka memang satu komplek, tapi letaknya cukup jauh.

Jonghyun mengantarkan Nara sampai depan rumahnya. Lalu berpamitan dan mengucapkan selamat malam.

Jonghyun POV~

“Aku harap kau memang akan memakainya selamanya, Kim Nara. Dan aku harap memang aku yang menjadi suamimu nanti.”ucapanku dalam hati. Jujur aku pun tak tau apakah aku menyukainya sebagai seorang wanita yang bisa menarik hati pria, atau hanya sebatas menyukainya sebagai teman.

Aku berteman dengan Nara sejak kami SMP, itulah sebabnya aku lebih dekat dengannya dari pada keempat temanku yang lain. Kalau ada masalah, aku lebih suka bercerita dengannya daripada dengan keluargaku sendiri. Itulah sebabnya ketika tiba-tiba aku mngurung diri dikamar, yang artinya aku sedang mempunyai masalah, appa dan eomma pasti akan menelponnya dan menanyakan apa yang terjadi denganku. Aku lebih suka seperti itu, orang tuaku tau apa penyebabnya dari orang lain, daripada aku yang harus menceritakannya secara langsung.

Karena hal itulah, aku merasa Nara sangat berarti dalam hidupku. Tapi aku juga tak ingin menjadikannya sebagai pacarku, karena aku takut jika suatu hari ada masalah, kami akan bertengkar dan tak berteman lagi. Bukankah menjadi sahabatnya jauh lebih baik?
TBC

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisement

21 thoughts on “Love Without a Name – Part 1”

  1. Waaa kerennn!
    Penasaran…
    Jong jgn kbnyakan ketawa ntar gila lg!/plak dikejar blingers smbl ditimpuk batu/
    *abaikan*
    lanjot…

  2. anneyong.. saya authornya >< *bangga*

    wah udah ke post ya? pdahal kemaren udh ngirim email lgi, soalnya ini rada aneh..
    asli ntar ada yang ga nyambung, jadi mau diulang,
    tapi udh di post..
    ya mau apa lagi..
    mianhae klo part2 berikutnya ada yang nyambung ya 😉

  3. hadeeehh…
    pepepenananasasasarararann…

    mau balas dendam apaaaa ???

    hayoo
    apaaa ??

    *gak dijawab*

    yaudaadeeh..
    dadah~

  4. itu yg mau balas dendam siapa ??jinki kah ??? (reader sok tau)
    suka deh sma sosok cool jjong…
    biasa na tuh karakter jjong klw ga yadong, bad boy, atau player..kali ini cool
    apa karen ini bru part 1…ah liat di part berikutnya aja…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s