I’m Your (♥) Bodyguard – Part 2

Title: I’m Your (♥) Bodyguard

Cast: Lee Jinyeon, Lee Taemin, Lee Jinki, Choi Minho, Kim Kibum, Nicole, Goo Hara, Han Seungyeon, Kang Jiyoung , Park Gyuri.

Length: Sequel

Rating: PG-15

Genre: Err…Angst maybe? Dnw .__.

Author: Finka a.k.a Fintaemin

Disclaimer: I do not own all the cast in this story. Taemin, Jinki, Minho, Jonghyun, and Kibum are belong to SMEntertaiment. Nicole, Hara, Seungyeon, Jiyoung, and Gyuri are belong to DSPEntertaiment.
Continue reading I’m Your (♥) Bodyguard – Part 2

Friend Until The End

Cast : lee taemin

Genre : friendship

One shoot

Author: mikanmagnae

Friend Until The End

Matahari terlalu menyilaukan, tetapi aku merasakan hangatnya cahaya itu. Aku merasa telah tidur lama sekali, mungkin karena aku sedang sendiarian dalam rumah ini. Karena omma, appa, dan oppa sedang pergi dan meninggalkan gadis 12 tahun sendirian untuk menjaga rumah.

Aku bangun dengan malas berjalan menuruni tangga rumah ku dan menuju dapur. Aku melihat ada yang aneh dengan rumahku.

“kenapa begitu terang” aku berjalan menuju pintu depan rumah. Ternyata pintu depan rumahku tidak tertutup.

Aku menggerutu tidak jelas sambil mencoba menutup pintu

“UUUGGGH, kenapa susah sekali ditutup” aku berusaha menarik daun pintu

TIN TIN TIINNNN

Suara bell mobil nyaring sekali diiringi suara orang memerintahkan memindah barang.

“awas kau pintu, ku urus nanti saja” aku langsung mengintip di balik pintu rumahku apa yang terjadi.

“ooohh ada tetangga baru” aku memperhatikan siapa yang akan menjadi tetangga ku nanti. Hampir setengah jam akhirnya aku tahu disana hidup sebuah keluarga dengan 2 orang anak laki-laki mereka. Yang paling kecil dia sepertinya sepantaran dengan ku.

Setelah melihat keluarga itu sangat bahagia dengan rumah barunya aku jadi teringat keluargaku yang masih belum pulang. Aku berjalan masuk di dalam rumah aku melirik telepon yang tergeletak

Segera saja aku memutar no telepon omma ku.

Seperti biasa tidak ada jawaban, ini sudah hari ke 2 mereka tidak menjawab.

Aku berjalan ke dalam kamarku untuk melanjutkan tidurku.

Aku seperti mendengar suara langkah kaki dari arah lantai bawah. Dengan ketakutan aku mencoba mengintip dan memastikan apa yang terjadi. Dengan bermodalkan sebuah cutter aku mencoba menebak siapa yang ada di bawah.

“nu nu nugu?” suaraku terdengar gugup. Aku berjalan perlahan sambil gemetar. Lalu tiba-tiba ada seorang namja berhadapan dengan ku.

“HUWAAAA” kami berteriak bersama-sama.

“mian-mian” namja itu langsung berlari kearah sofa dan terlihat ketakutan.

“fiuuuh ku pikir kau siapa, kau tetangga baru itu kan. Perkenalkan namaku lee in young” aku sedikit lega melihat namja itu. Dan bukannya ternyata bukan pencuri seperti bayanganku.

“lee lee taemin imnida” taemin itu terlihat gugup.

“marga kita sama ya, aku 12 tahun kau” tanyaku seramah mungkin.

“aku juga 12 tahun” sekarang ia sudah mulai membuka dirinya.

Akhirnya kami sudah mulai akrab mungkin karena factor umur juga. Aku sangat nyaman dengan taemin karena dia sangat lucu.

Setelah hampir 5 jam aku berbincang dengan taemin akhirnya dia pulang ke rumahnya.

“ah pintu ini lagi, kenapa sulit sekali di tutup” akhirnya aku biarkan pintu rumahku terbuka lagi pula tidak ada sesuatu yang pantas untuk dicuri.

~~~~~~~~

Kali ini aku bangun tanpa terpaksa, karena naluri kekanak-kanakkan ku mulai tumbuh. Secepat mungkin membasuh muka lalu melesat keluar untuk main dengan teman baruku si taeminnie. Aku menunggu sambil bersantai di kursi di beranda rumahku sambil melirik-lirik rumah taemin.

Ku melihat taemin keluar sambil melambaikan tangan padaku. Aku langsung melonjak dari kursiku dan melambaikan tangan juga. Kami menghabiskan hari ini dengan bermain seharian di taman dekat rumah kami. Taemin menceritakan hal-hal yang tidak ku ketahui sebelumnya.

Kami pulang kerumah masing-masing pukul 5 sore.

“besok kita main lagi ya” kataku bersemangat.

“tentu saja” taemin tersenyum membelakangi matahari senja. Dia terlihat sangat cantik melebihi diriku.

Lagi-lagi rasa rindu akan keluargaku melanda diriku. Aku mengangkat telepon berharap omma menjawab telepon ku kali ini. Tapi ternyata hasilnya nihil tidak ada balasan sama sekali.

Aku merasa seperti ditelantarkan. Aku sendirian tanpa satu keluargapun. Aku duduk di sofa ruang keluarga sambil menangis sendirian karena sangat rindu omma, appa, dan kejahilan oppa

“kalian dimana sih, aku rindu sekali” aku semakin merapatkan pelukanku pada lututku. Sambil terisak akhirnya aku tertidur disofa sambil merasakan dinginnya angin luar dari arah pintu yang tidak bisa tertutup.

~~~

Sekarang sudah hari ke 5 keluargaku tidak menghubungiku sama sekali dan beribu-ribu kali aku mencoba menghubungi omma tetapi tetap saja gagal. Aku mencoba menghubungi teman sekolahku yang lain tetapi gagal juga. Aku mulai menarik kesimpulan yaitu mereka semua membuangku. Jika ingat itu aku kembali menangis.

Aku berpikir aku hanya memiliki satu keluarga dan teman yaitu taemin yang selalu menghiburku dengan lelucon garingnya. Tetapi itu membantuku untuk tertawa dan melupakan sejenak bahwa aku hanya orang yang dibuang oleh keluargaku. Aku mengusap air mataku dan keluar menuju beranda menunggu taemin mengajakku main seperti biasa.

Aku melihatnya berdiri di beranda rumahnya tetapi dengan tatapan sedih. Setelah itu seorang ahjuma keluar aku pikir itu ibu taemin. Ibu taemin memandag kearahku dengan tatapan takut, ngeri, dan jijik. Aku merasa takut dan hanya menunduk. Dan setelah itu aku tidak melihat taemin lagi diberanda. Aku merasa dunia ini tidak adil hanya karena aku seseorang yang dibuang aku juga tidak boleh menjalin persahabatan dengan taemin.

“aku benci semua” aku berlari menuju kamarku dan menangis dengan sangat keras agar semua orang tahu aku sangat menderita.

Aku mulai mengutuk semua orang yang pernah ada di hidupku.

Tuk tuk tuk…

Aku mendengar ada seseorang melempari jendela kamarku. Dengan enggan aku menengok kearah suara itu.

“taemin” aku kaget plus girang karena dia masih mau menemuiku meski dari beranda kamarnya juga.

“sssttt, omma sedang sibuk jadi aku hanya bisa menemuimu dari sini” kata taemin tersenyum ramah seperti biasa.

“kau menangis?maafkan ommaku ya, dia tidak tahu apa-apa” kata taemin sok dewasa.

“uhmm, gwenchana aku tahu kau tidak boleh main dengan anak terlantar sepertiku” kataku muram.

“ya, in young ah aku peduli padamu karena kau sahabatku” kata-kata taemin sungguh melegakan karena selama ini hanya dia yang peduli padaku.

“gomawo taeminnie”

“ne in young ah, ah besok kau jangan menunggu di depan rumah, tunggu saja di taman ok”

“wae?” aku bingung.

“omma omma, kau tahu kan” bisik taemin

“ahhhhh ara ara” aku mengangguk paham.

~~~~~

Aku menunggu taemin di bangku taman seperti yang kita janjikan kemarin. Aku melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain di bak pasir.

“mereka itu siapa sih, muka mereka asing” aku memperhatikan mereka. Sesekali aku berdiri sambil menengok kearah jalan apa taemin sudah datang atau belum.

“lamaaaaaa~ awas saja kalau dia lupa” aku menggerutu lagi.

Sudah hampir 5 jam aku menunggunya tetapi si taemin tidak muncul, sampai para ibu dari anak kecil itu menjemput anak-anak mereka.

“aku juga rindu omma” aku mulai teringat keluargaku. Aku merasa marah sekaligus rindu yang bersamaan. Akhirnya ku putuskan untuk pulang dan tidak menunggu taemin.

Sesampainya di depan rumahku aku melirik kearah rumah taemin yang terlihat sepi.

“dia sedang apa sih sampai lupa pada janjinya” aku berjalan menuju rumahya dan menengok kearah jendelannya, aku melihat taemin sedang berbincang serius dengan seluruh anggota keluarganya.

“akhirnya persahabatan kita memang harus berakhir sekarang” aku kembali ke dalam rumah yang pintunya tidak bisa ditutup.

“musim panas paling memilukan” aku duduk disofa sambil berfikir serius tentang masa depanku tanpa orang tuaku

“apa aku harus mengakhiri hidupku ya, aku sudah tidak dibutuhkan lagi” aku terus berpikir.

Aku berjalan menuju telepon mencoba keberuntunganku. Dan ternyata nihil seperti biasa,

“haaaaaah aku menyerah” aku menutup kesal telepon ku.

~~~~

Malam ini terasa sangat berbeda dan sangat panas. Aku melihat kearah luar jendela untuk mendapatkan angin malam yang dingin.

“auuuh tidak ada pengaruh, panas sekali, musim panas menjengkelkan”aku menendang sebuah tempat sampah di dekat kakiku.

“haiiiiiish panasnya aku tidak tahannnnn” aku mulai tidak tahan dan merebahkan diri berharap bisa tertidur.

~~~~

Aku terbangun seperti biasa, namun entah kenapa aku ingin keluar untuk sedikit menggerakkan badanku padahal biasanya aku sangat malas. Dan jika aku berolahraga selalu ditemani siwon oppa. Aku keluar dari rumah dan terasa sangat aneh. Hatiku bergejolak tanpa sebab, aku mulai tidak menghiraukannya.

Aku sudah berada di taman dekat rumah, aku berlari-lari kecil dan menghirup udara segar. Sedikit bernyanyi membuatku lebih segar.

“ah pagi yang hebat” kataku senang. Aku melihat sebuah mobil yang tidak asing itu membuatku berhenti dan memandangnya terus. Mobil itu melewatiku dan ternyata dalam mobil itu

“o o omma, appa, oppa” aku masih syok dan mengejar mobil itu seperti orang gila!!

“OMMAAAA APPAA OPPAAAAAA” selama berlari aku terus memanggil-manggil mereka namun mobil mereka tidak berhenti dan begitu juga aku terus mengejarnya

“TUNGGU AKU OPPAAAAAA” aku berlari mengikuti arah mobil itu yang berhenti dirumah.

Mereka sudah turun dari mobil dan mereka sekarang terlihat berbeda

‘apa mereka berubah secepat itu dalam waktu hampir seminggu’ aku heran dan membuatku terhenti.

Mereka terlihat sangat sedih melihat rumah kita.

Aku mendekat secara perlahan

“omma bogoshipo” aku berbicara omma ku yang tertegun melihat rumah. Tetapi omma tidak mengihiraukannku, aku berusaha berbicara pada appa dan oppa tetapi mereka juga tidak meghiraukanku.

“OMMA!!!”aku berteriak sambil berusaha memeluk mereka namun langkahku terhenti seketika karena ucapan oppa.

“omma sudah 7 tahun sejak meninggalnya in young tetapi rumah ini terlihat sama sejak peristiwa kebakaran itu” kata siwon oppa sedih sambil menahan tangis.

“m m mwo?” aku sangat tidak tahu apa kata oppa. Appa memeluk omma sangat erat dan mereka bertiga menangis, itu membuatku semakin bingung. Aku tertegun di tempat aku berdiri.

“aku aku sudah mati” aku tidak percaya. Aku mengikuti mereka bertiga menuju rumah yang selama ini ku tinggali sendirian.

Saat memasuki rumah, suasana menjadi berbeda. Aku terkaget-kaget

“ini bukan rumahku” aku mundur beberapa langkah, aku melihat sebuah ruang tengah yang beisi lengkap namun tertutup kain putih dan memiliki dinding yang sudah berdebu dan hangus sana sini.

“kenapa berubah, ada apa ini” aku sangat syok..

“7 tahun kau masih mempertahankan semuanya” appa menggenggam tangan omma, aku memperhatikan ceritanya.

“kenapa kita harus meninggalkan in young yang masih kecil untuk menjaga rumah, dan seandainya kita tidak telat satu jam saja mungkin in young sudah besar dan masih berada…” omma tidak melanjutkan ceritanya.

“aku tahu, itu sudah garis takdir in young, dia tetap anak kita sampai kapan pun, kita setiap tahun mengunjunginya agar dia tidak kesepian. Tapi aku berharap dia sudah pergi dengan tenang” appa menenangkan omma, tetapi hatiku tetap tidak bisa menerima ini. Aku masih hidup aku berada di dekat kalian.

“OMMA!!” aku ingin memeluk omma tetapi hanya menembusnya saja.

“omma ini aku in young, aku masih hidup ini aku in young omma, huhuhu” aku menangis dihadapan omma yang juga menangis, kaki ku lemas aku hanya bisa merangkak kearah appa, memintanya melihatku

“appa, aku disini aku masih sehat, appa lihatlah aku lihatlah aku…appaaaa” tetapi appa tetap tidak tahu aku ada di bawahnya.

“ada apa dengan kalian aku disini in young disini, oppa tolong in young, oppaaa” mereka hanya terdiam dalam tangis.

~~~~~

Angin malam di taman ini terasa dingin, air mataku mungkin sudah mengering, aku sudah lelah dengan kenyataan bahwa aku sudah meninggal 7 tahun yang lalu.

“pantas saja mereka tidak pernah mengangkat teleponku” aku mulai berpikir tentang keganjilan-keganjilan yang terjadi.

“ibu taemin melarang anaknya bersahabat dengan orang yag bahkan sudah mati, teman-teman yang sudah tidak menghubungiku lagi, dan pintu yang terbuka. Jelas aku sudah berada di dimensi berbeda” semalaman aku memikirkan apa tindakanku selanjutnya, aku sangat kesepian sendirian takut. Tidak ada yang bisa membantuku.

~~~~~

Aku memutuskan untuk pulang dan akan pergi dari tempat menyakitkan ini, karena aku tidak akan mati lagi. Aku berjalan menyusuri jalan besar didepan rumah, meski ada mobil menabrakku aku tidak akan terluka. Pagi ini aku berdiri di depan rumah taemin, memandang rumah hangat dengan keluarga lengkap, serta beribu keirian yang tidak bisa kudapatkan. Pintu rumah taemin terbuka.

Kulihat sosok sahabat yang selalu menghiburku, entah dia mengerti atau tidak bahwa aku ini hanya seorang arwah.

Kenyataan ini membuatku menangis, tetapi aku tetap melihatnya untuk terakhir kalinya.

Taemin menatapku dengan tatapan yang sama, beberapa menit dia akhirnya melangkah kearahku, dan sesampainya disampingku dia tersenyum

“gwenchana” kata-kataya ajaibnya selalu membuatku tersenyum dia benar-benar sahabat sejati.

BRUAk!! Aku melihat tubuh taemin bersimbah darah, apa yang terjadi kenapa aku membawanya dalam bahaya, dia tertabrak sebuah mobil karena dia ingin menenangkanku.

“TAEMIN!!!!” aku berusaha membantunya berteriak meminta tolong namun percuma aku tidak terdengar, aku tidak terlihat, dan aku tidak tersentuh.

~~~~

Taemin dalam bahaya karena aku, aku merasa menjadi seorang sahabat yang gagal. Aku memandangi taemin sahabatku yang masih tidak sadarkan diri. Seluruh keluarga taemin terlihat sangat cemas melihat anaknya masih belum sadarkan diri sampai hari ke 4. aku juga merasa demikian karena ini salahku.

“seharusnya aku langsung pergi saja”

“tuhan tolong selamatkan sahabatku ini, dialah satu-satunya sahabat yang aku punya saat aku merasa sendirian, merasa ketakutan, jangan ambil dia tuhan, aku aku tidak mau dia seperti ku, dia masih memiliki sebuah keluarga yang sedang menunggunya membuka matanya” dalam doaku aku menangis karena tidak mau nasib sama sepertiku terjadi pada taemin.

“tuhan tolonglah, sekarang aku sudah tahu kalau aku sudah mati jadi ambil saja aku, lagi pula masa depan taemin masih panjang, tuhan aku mohon”

~~~~~~~

Tubuhku menjadi terasa ringan sangat ringan, aku melihat kearah kakiku

“aku melayang, ini kah…” aku melihat kearah taemin yang mulai menggerakkan tangannya perlahan. Rasa syukur terucap dari bibir seluruh anggota keluarganya termasuk aku.

“terima kasih tuhan terima kasih kau selamatkan dia”

Tubuhku semakin terbang keatas dan aku memandangi sahabatku yang masih belum sadarkan diri

“taemin ah, kau tidak akan menemukanku lagi di dunia ini. Tapi temukan aku dalam ingatanmu, meski aku tahu kau sekarang tidak bisa mendengarku tetapi aku berharap kau bisa merasakanku. Selamat tinggal sahabatku lee taemin” aku merasakan air mata mataku terjatuh tepat di pipi kanannya.

“bye bye”

*Taemin POV*

Sepertinya aku merasakan seseorang sedang menangis tetapi bukan omma, dan satu lagi aku merasa akan kehilangan seseorang tetapi aku berharap bukan dia. Kalau pun itu dia aku akan mencoba menerimanya karena aku tahu sudah saatnya dia pergi dan dia akan merasakan bahagia.

The End

PS : buat kalian yang seperti pernah baca ni ff, q emang terinspirasi sama novel kesukaanku karya R. L. Stine goosebumps, ada yang tau judulnya apa??? #abaikan

Resty

This post/FF has written by Resty, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

You Are My Sun, The Moon – PART 1

You are my sun, the moon (part 1)

Author: Dilla Oktyra

Length: Sequel

Genre: Romance, Family

Cast: Park Raena, Lee Jinki, Ok Taecyeon, Goo Tara, Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Kim Jungah

–maaf ya buat lockets sama blingers ini cuma fiktif belaka kok,hehe—

***

Jinki POV:

Liburan kenaikan kelas telah usai, esok aku harus kembali ke sekolah, belajar, dan tentunya melaksanakan kewajibanku sebagai Ketua Student Union Seoul High School di masa-masa terakhir jabatanku.  Yaa sekarang aku sudah kelas 12. Hari libur terakhir ini akan aku habiskan bermain Wii di rumah bersama adikku, Taemin yang mulai besok bersekolah di SHS, akhirnya Taemin lulus SMP juga,hehe. Saat bermain game bersama Taemin, tiba-tiba eomma berteriak-teriak memanggil namaku…

Eomma: “Jinki, ada Raena nih…”

Wahh ada Raena, Park Raena adalah adik kelasku di SHS, dia teman mainku dan Taemin sejak aku SMP. Raena adalah anak sahabat eomma, tante Victoria yang berasal dari China dan Om Jungsu. Rumahnya hanya berbeda beberapa blok dari rumahku. Aku sangat senang bertemu dengannya, selama liburan ini aku tidak melihat wajahnya karena ia liburan bersama keluarganya ke Bali. Jika kalian ingin tau, yaa aku sangat menyukai Raena, cewe pertama yang kubiarkan memanggilku oppa selain adik-adik sepupuku tentunya. Aku segera berlari keluar kamar menyambut kedatangan Raena.

Aku: “Raena!!! Mana oleh-oleh? Hehe”

Raena: “Oppa, aku kan baru nyampe, udah langsung nanya oleh-oleh aje.”

Aku: “Abis kamu perginya lama bener, oleh-olehnya jadinya harus banyak…” aku mengusap-usap rambutnya.

Raena: “Oppa kangen ya sama aku? Oleh-olehnya cucian tuh di rumah banyak…” Aku cemberut, tiba-tiba Taemin ikut menyambut Raena.

Taemin: “Noona, oleh-olehnya mana? Dari Bali harusnya bawa banyak oleh-oleh… Noona perginya kenapa lama sih? Aku kan stres ,gara-gara si hyung kangen sama noona, aku sering diomelin.” Apaan sih ni bocah bawa-bawa aku segala. Aku memukul kepala Taemin, kulihat Raena hanya tersenyum.

Raena: “Kalian bawel banget sih, tuh oleh-olehnya lagi diliat sama tante Eunhye.” Dan benar eomma dan appa sedang melihat isi tas besar yang dibawa Raena.

Appa: “Oya Jinki, jangan lupa loh jemput sepupu kamu di airport ntar jam 11…”

Oya hari ini sepupuku, Taecyeon hyung baru pulang dari Boston, ia akan kuliah di Korea dan tinggal di rumahku sampai lulus.

Aku: “Sip appa, Raena ikut yuu…ntar aku kenalin sama Taec hyung…”

Raena: “Ok oppa…. Tau deh yang masih kangen sama aku,hihihihi” Raena menggodaku, padahal benar sekali aku sangat kangen padanya.

***

Raena POV

Jinki oppa mengajakku menjemput sepupunya di airport. Huhhh padahal kan aku ingin berlama-lama ngobrol sama Jinki oppa, aku kangen banget sama dia,hehe. Sesampainya di airport kami menunggu sepupu Jinki oppa, tiba-tiba aku kebelet pipis.

Aku: “Oppa aku ke toilet dulu yaa…” aku segera berlari menuju toilet, namun tiba-tiba BRUKKKKK…

Aku menabrak seseorang yang sedang membawa minuman hingga minumannya jatuh dan menyebabkan bajuku kotor. Cowo itu langsung menundukkan kepalanya meminta maaf. Orang yang bertabrakan denganku adalah seorang cowo mungkin hanya lebih tua beberapa tahun dariku dan badannya tinggi kekar.

Aku: “Duh mas, hati-hati dong… punya mata gak sih? Baju saya kan jadi kotor…”

Cowo: “Maaf mba, tapi mba yang gak liat-liat…” Aku tak kuat lagi, udah mau ngompol nih…. Aku segera berlari menuju toilet, tidak menanggapi cowo tadi. Setelah dari toilet aku kembali ke tempat aku dan Jinki oppa tadi menunggu, kulihat Jinki oppa sedang berbicara dengan cowo yang sangat tinggi, Jinki oppa saja kalah tinggi, gimana aku? Hehehe. Aku tidak dapat melihat wajah cowo itu karena dia membelakangiku dan menghadap pada Jinki oppa. Aku pun berjalan mendekati mereka

Jinki: “Raena, kok lama banget sih? Boker ya? Hihi” Apaan sih oppa malah godain aku.

Aku: “Gak kok, tadi ada hambatan, ada yang nabrak Raena terus numpahin minuman ke baju Raena… eh trus dia malah nyalahin Raena lagi, jelas-jelas dia yang nabrak…” Aku menjelaskan panjang lebar pada Jinki oppa. Jinki oppa hanya tersenyum, senyum satu juta voltnya,hehe…

Jinki: “Oya ini kenalin, Taecyeon hyung, sepupu aku.” Cowo jangkung itu menghadapkan badannya ke arahku. Ternyata dia cowo yang menabrakku tadi. Cowo itu tersenyum sangat manis dengan lesung pipinya.

Aku: “Oh ternyata mas ini sepupunya Jinki oppa, annyeong aku Raena… Lain kali hati-hati jalannya ya mas, baju saya jadi kotor nih, mas mau nyuciin?” Sukurin, salah sendiri bikin baju mahal gw kotor, kan baju ini aku beli di CiMall, Mall termahal di Indonesia.

Taec: “Iya ntar saya cuciin, tapi baju saya juga kotor, gimana dong?” Ia kembali tersenyum padaku, tiba-tiba Jinki oppa memotong pembicaraan kami.

Jinki: “Udah yuu, eomma, appa n Taemin udah nunggu di rumah. Ntar minta bi Dijah cuciin aja, beres kan?” Jinki oppa tampak kesal, tampangnya waktu sedang kesal cute banget,hehe…

*

Di mobil Jinki oppa dan Taecyeon-ssi mengobrol tentang sesuatu yang tidak kumengerti, aku hanya terdiam sambil melihat sekeliling jalan.

Taec: “Jinki, cewe lo lucu ya? Hehe” Aku kaget, aku dibilang cewenya Jinki oppa, senangnya… hehe.

Jinki: “Ahh hyung, Raena bukan cewe gw kok, Cuma anak nyasar yang ngikutin aku melulu.” Huhhh kok jawaban Jinki oppa kayak gitu, nyebelin.

*

Sekolah sudah dimulai aku masuk ke kelas dengan ceria, senangnya aku bertemu dengan teman-temanku.

Aku: “Annyeong semua!!!”

Tara: “Raena!” Tara menghampiriku dan memelukku

Tara: “Gimana Bali? Seru kan?”

Kibum: “Raena hani bani switi, mana oleh-olehnya? Yey jahat sama eike, SMS gak pernah dibales,huh…” Key cowo gemulai itu menyapaku.

Aku: “Heh, mahal tau SMS dari Indonesia kesini, males banget kecuali lo bayarin pulsa gw,haha”

Tara: “Jinki sunbae aja di-SMS-in mlulu, hehe…”

Aku: “Ihh Tara comel…” Tara sekretaris Jinki oppa di Student Union, jadi ya dia deket juga sama Jinki oppa. Semua sahabatku Key,Tara n Minho yang cicingeun n mistis itu tau jelas kalo aku suka banget sama Jinki oppa. Tiba-tiba ada hawa dingin yang mendekatiku terdengar bisikan-bisikan, ternyata Minho.

Minho: “Gimana di Bali? Lo tau kan tari-tari Bali kan ada unsur-unsur mistisnya, hati-hati setannya ngikutin lo sampai sini… Gw bisa rasain ada sesuatu yang ngikutin lo…” Kata Minho lempeng.

Aku: “Yaaa…Minho, lo mah nakut-nakutin gw… dasar mistis.” Minho hanya tertawa a la temannya Maruko yang mistis.

Oya hari ini Taemin kan masuk sekolahku, gangguin ahh… Saat istirahat aku berniat mengganggu Taemin, aku dan gengsku pergi ke kantin dan akhirnya aku bertemu Taemin.

Aku: “Taeminnie! Sini!” Teriakku sambil melambai-lambaikan tanganku menyuruhnya menghampiriku.

Taemin: “Kenapa noona?”

Aku: “Kenalin nih temen-temenku, yang ini Key, yang ini Minho mistis, n yang ini Tara” Aku menunjuk satu-satu temanku, Taemin tersenyum lalu memperkenalkan dirinya.

Taemin: “Noona, aku ke temen-temenku lagi, ya… dadah…”

Tara: “Raen, siapa tuh? Lucu banget, ngegemesin…hehe”

Aku: “Taemin adiknya Jinki oppa, Tara naksir ya? Hahaha” Aku menggoda Tara. Dari kejauhan aku melihat seseorang membawa setangkai mawar merah menuju arahku, ihh ngapain sih dia?

Jonghyun: “♫ Cantik, bukan ku ingin mengganggumu…” Jonghyun tiba-tiba menyanyi lagu Kahitna-Cantik sambil memberikan bunga yang ia bawa padaku. Apa-apaan sih cowo alay satu ini? Oya Jonghyun ini mantan pacarku waktu aku kelas 10, kami hanya pacaran 2 bulan, ntah mengapa aku menerimanya, mungkin hanya karena kasian,hehe. Jonghyun ini sangatlah sungguh alay, ia adalah vokalis band sekolah bernama MISS-U band bentukan Pak Jokwon, guru kesenian kami.

Aku: “Lo apa-apaan si Jonghyun?” kataku sambil menolak bunga pemberiannya…

Jonghyun: “♫ Hancur hancur hatiku…-Lagu Olga-(Hancur Hatiku)-, Raena cantik, kok kamyu jahat gichu sih sama akyu?

Kibum: “Jonghyun oppa, bunganya kurang banyak, makanya Raena hani bani switi gak mau nerima, sini buat eike aja” Key mengambil bunga dari Jonghyun. Key merupakan salah satu personil MISS-U band, Key yang bermain gitar, satu lagi personil MISS-U band adalah Lee Hongki sunbae sang drummer, teman sekelas Jonghyun, mereka terkenal karena ke-alayannya, dan tentunya Pa Jokwon lebih alay dari mereka,haha.

Aku melihat Jinki oppa sedang berjalan ke kantin bersama Jung-Ah sunbae, ketua paduan suara, ekskul yang aku ikuti juga, aku cemburu melihat mereka berdua, mereka terlihat sangat akrab. Aku segera menghampiri Jinki oppa untuk menghindar dari Jonghyun alay itu.

Aku: “Oppa!” Jinki oppa menoleh padaku.

Jinki: “Udah makan Raena?”

Aku: “Belom, tadi digangguin Jonghyun…” aku mengerucutkan bibirku karena bete.

Jinki: “Hahaha pangeran kamu itu ya?”

Aku: “Pangeran apanya? Dia mantan aku oppa!!!” kataku kesal

Jinki: “Emang dia ngapain?”

Aku: “Tau ah, oppa nyebelin…” Aku pergi meninggalkan Jinki oppa dan kembali bersama teman-temanku, kulihat Jinki oppa tersenyum pada Jung-Ah sunbae.

*

Hari Sabtu, aku berencana main ke rumah Jinki oppa, aku bosan sendiri di rumah. Ketika sampai di rumah Jinki oppa ternyata keluarga Jinki oppa tidak ada, hanya ada Taecyeon-ssi yang sedang mencuci motornya.

Aku: “Pada gak ada ya? Kemana?” Taecyeon-ssi tidak mendengarku, ia menggunakan headset. Aku melepas headsetnya secara paksa, ia terlihat marah.

Taec: “Siapa sih? Eh, Raena…” Ia tidak jadi marah ketika melihatku.

Taec: “Kenapa? Cari Jinki? Dia sama keluarganya pergi ke kondangan, baru aja pergi.” Aku mengobrol dengannya sambil menutup mataku dengan kedua tanganku, Taecyeon-ssi topless aku merasa risih. Taecyeon-ssi kebingungan melihatku, akhirnya dia tersenyum setelah melihat dirinya sendiri dan segera mengenakan kaosnya.

Taec: “Mianhae, Raena, aku udah pake kaos kok,hehe…” Aku melepas kedua tanganku.

Taec: “Masuk yuu!”

Aku: “Hmmmm, aku pulang aja deh, Taecyeon-ssi” aku masih kagok ngobrol dengannya.

Taec: “Duhh Raena, kok masih formal-formalan sih sama aku? Panggil oppa aja, hehe….” Aku tersenyum.

Taec: “Jangan pulang dong, mending temenin aku ke “Kepala si Sari” yuu, mau beli buku…aku gak tau jalan nih” Aku tertawa.

Aku: “Hahahahahahaha, itu Palasari,oppa… Ok aku anterin, asal beliin eskrim ya!”

Taec: “Es krim? Kecil itu mah, asal kamu gak minta sosis aja, soalnya aku males belinya ntar dapet hadiah kaset Sinta Jojo,haha” Taecyeon oppa ternyata sangat humoris, lebih humoris dari Jinki oppa yang sering membuatku guling-guling ngakak itu. Taecyeon oppa mengganti bajunya, mengambil 2 helm dan memberikan salah satunya untukku.

***

Taec POV

Aku sedang mencuci motorku sambil mendengarkan musik dari iTouch ku, tiba-tiba kulihat Raena berjalan ke arah rumah Jinki. Sejak pertama Jinki mengenalkan Raena padaku, aku tau aku akan langsung suka padanya yang ceria itu. Kepribadiannya yang sangat menyenangkan dan agak galak mengingatkanku pada noona-ku yang masih di Boston. Hari ini ia datang ke rumah Jinki, aku tau pasti dia mencari Jinki, tetapi kebetulan Jinki dan keluarganya sedang pergi ke kondangan. Aku masih mencuci motorku sambil mendengarkan musik, sebenarnya aku tau Raena berbicara padaku, tetapi aku pura-pura tidak mendengarnya. Tiba-tiba ia melepas headsetku, aku pura-pura tampak marah.

Aku: “Siapa sih? Eh, Raena…” Aku langsung tersenyum ketika melihat wajahnya.

Taec: “Kenapa? Cari Jinki? Dia sama keluarganya pergi ke kondangan, baru aja pergi.” Aku melihat dia mengobrol denganku dengan kedua tangannya menutup matanya, aku keheranan. Aku melihat diriku sendiri dan aku ingat sebelum mencuci motor aku melepaskan kaosku. Aku tersenyum padanya dan segera mengenakan kaosku lagi.

Taec: “Mianhae, Raena, aku udah pake kaos kok,hehe…” Raena melepas kedua tangannya.

Taec: “Masuk yuu!”

Aku: “Hmmmm, aku pulang aja deh, Taecyeon-ssi” Kenapa dia masih manggil aku Taecyeon-ssi?

Taec: “Duhh Raena, kok masih formal-formalan sih sama aku? Panggil oppa aja, hehe….” Aku berusaha membuat Raena nyaman bersama denganku dan ia tersenyum.

Taec: “Jangan pulang dong, mending temenin aku ke ‘Kepala si Sari’ yuu, mau beli buku…aku gak tau jalan nih” Kulihat ia tertawa.

Aku: “Hahahahahahaha, itu Palasari,oppa… Ok aku anterin, asal beliin eskrim ya!”

Taec: “Es krim? Kecil itu mah, asal kamu gak minta sosis aja, soalnya aku males belinya ntar dapet hadiah kaset Sinta Jojo,haha” Aku mulai mengeluarkan jurus candaanku, senang sekali aku melihat tawanya.

Kami berjalan-jalan di Palasari mencari buku untuk kuliahku. Aku sebenarnya pernah kesini bersama Jinki dan Taemin, tapi aku pura-pura tak tau apa-apa supaya Raena mengantarku. Tiba-tiba Raena menghentikan langkahnya, ia terlihat sedang berpikir.

Raena: “Disini gitu ya oppa? Aku lupa…”

Aku langsung menarik tangannya dan menggandengnya, ia tampak kaget.

Aku: “Yang di sana aja deh Raen, kayaknya di sana lebih lengkap.” Aku tersenyum padanya sambil menunjuk tempat yang kutuju.

Perjalananku- atau mungkin dapat disebut kencan- bersama Raena selesai, Raena bilang padaku ingin bertemu Jinki, jadi kami kembali ke rumah Jinki. Tampaknya Raena sangat dekat dengan Jinki, apa hubungan mereka sebenarnya ya? Aku sangat iri pada Jinki…

*

Sesampainya di rumah Jinki kulihat semua keluarga Jinki kecuali Taemin duduk termenung di ruang keluarga, terdengar suara Taemin dari kamar Jinki, ahh pasti dia lagi main Wii. Aku dan Raena masuk ke rumah dan tante Eunhye akhirnya menyadari keberadaan kami, kulihat dia seperti habis menangis.

Tante Eunhye: “Eh ada kalian, kok diem aja sih… ayoo masuk…udah pada makan? Tadi tante beliin Kakap Rica di KBL.” Kebetulan sekali aku sangat lapar, kulihat Jinki masih terdiam, begitu juga Om Donghae. Sebenarnya ada apa sih? Sesekali kulihat wajah Raena, ia tampak khawatir melihat Jinki. Jinki berdiri dari duduknya dan segera pergi ke kamarnya tanpa menyapa aku maupun Raena.

***

Raena POV

Sesampainya di rumah Jinki oppa suasana sangat sunyi, biasanya suasana keluarga Jinki oppa sangat ramai, soalnya semua anggota keluarganya hobi berbicara, tapi hari ini berbeda, ada apa ya? Aku sangat khawatir melihat Jinki oppa, ia tampak pucat dan ia terus terdiam. Tante Eunhye mengalihkan lamunanku.

Tante Eunhye: “Eh ada kalian, kok diem aja sih… ayoo masuk…udah pada makan? Tadi tante beliin Kakap Rica di KBL.” Aku merasa tidak lapar sama sekali, aku khawatir pada Jinki oppa, Jinki oppa kenapa? Tiba-tiba Jinki oppa berdiri dan segera pergi menuju kamarnya tanpa menyapaku atau Taecyeon oppa, senyum yang biasanya muncul di bibirnya pun tidak terlihat. Aku benar-benar khawatir. Aku memutuskan untuk mennyusulnya ke kamarnya.

Aku: “Aku mau ke Jinki oppa dulu yaa…” Aku langsung berlari menuju kamar Jinki oppa, mengetuk pintunya dan langsung membukanya. Kulihat ada Taemin yang sedang bermain Wii, dibelakang Taemin ada Jinki oppa yang sedang duduk terdiam tampak memikirkan sesuatu di tempat tidurnya, sebenarnya ada apa ya? Aku hampiri Jinki oppa dan duduk di sebelahnya.

Aku: “Jinki oppa, kenapa? Kesambet yaaa? Hehe” Aku mencoba mencairkan suasana, namun ia masih terdiam. Aku mengguncang tubuhnya pelan.

Aku: “Oppa, kok diem aja? Gak marah sama Raena kan? Gak kan???” Jinki oppa masih terdiam dan menolak kusentuh.

Jinki: “Kamu apa-apaan sih? Aku lagi pengen sendiri, mending kamu pulang aja. Kamu SANGAT MENGGANGGU!!!” Jinki oppa membentakku, oppa kenapa sih? Kenapa dia membentakku? Aku salah apa? Tak terasa air mataku telah menetes. Taemin yang tadi asyik main Wii tiba-tiba mem-Pause gamenya dan melihat ke arah kami.

Aku: “OK AKU PULANG!!!” Aku balas membentaknya sambil menangis, aku berlari ke luar kamar Jinki oppa dan tiba-tiba BRUKKKK, aku menabrak seseorang. Kenapa harus tabrakan di saat seperti ini sih? Orang yang bertabrakan denganku menahanku dan memelukku, ya itu Taecyeon oppa.

…to be continued…

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF