Shinee’s Key Love Scandal – Part 3

Shinee’s Key Love Scandal- Part 3

*My very first FF , Terinspirasi dari Summer in Seoul – Ilana Tan. Tapi ceritanya tentunya berbeda 😉 *

Author: Park Harin

Main Cast: Key, Park Harin, Shin Woo Hyun, Park Han Byul

Other cast: SHINee member, Kim Hyun Shin,Kwon Nami

Genre: Fluff,Romantic

*****

Harin POV

“Yoboseyo? Maaf ini siapa ya?” . ada telpon masuk ke handphoneku. Nomor tak dikenal.

“Ah! Harin-ssi, ingat aku? Hyun shin, Kim hyun shin manager shinee”

Kim hyun shin? Ada apa dia menelponku seperti ini?

“ah ne hyun shin-ssi. Ada apa menelponku?”

“aish panggil aku oppa saja harin-ssi. Begini aku mau bicara dan mendiskusikan sesuatu denganmu, bisa kau ke dorm kami? Atau mungkin kami yang ke apartement mu?

“ah ne oppa,ah ani.. apakah ini masalah penting?”

“Penting untuk kami. Bagaimana? kau bisa bertemu dengan kami?”

“ya, bisa. Aku segera ke dorm kalian saja.”

****

“Mwo?! Pacar? Atas dasar apa kalian memintaku menjadi pacar key?” terang saja aku kaget. Aku saja baru bertemu dengan mereka kemarin.

“tenang harin-ssi, maksud kami hanya pacar bohongan saja, kau sudah liat artikel ditabloid bukan? Kurasa sudah tersebar keseluruh penjuru korea.” Jelas hyun shin oppa. Apa orang-orang ini sudah gila?

“kami hanya memintamu berfoto dengan key saja harin-ssi agar mengclearkan masalah. Kami tidak mau fans kami terlalu sedih dengan rumour ini. Lagipula key sudah setuju dengan ide kami ini” jelas seseorang di sebelah key. Aku tidak tau jelas namanya. Yang pasti dia salah satu member shinee.aku menyerah, mereka memandangku dengan tatapan memohon seperti itu.

“Baiklah, asal mukaku tidak terlihat” jelasku. Terpampang benar raut muka lega di wajah mereka.

“baiklah, jadi kapan bagusnya kita memulai ‘scandal’ ini? Hanya perlu difoto sekali lalu kusebarkan saja dan menambahkan sedikit artikel penguat. Ngomong-ngomong, kalian harus membantuku berbicara pada Soo Man sajangnim, oke?” tanya hyun shin oppa pada member shinee

“ya hyung, mungkin besok hyung? Kurasa kibum tidak ada jadwal besok. Bukan begitu kibum?” tanya seseorang yang lain bertanya pada key

“kurasa begitu, yasudah kau boleh pulang sekarang harin-ssi” kata key

Enak sekali  mereka, menyuruh orang datang pergi seenaknya.

“baiklah kalau gitu saya permisi dulu, annyeong haseyo”

****

Baru saja aku kembali dari dorm SHINee, seseorang yang sangat tak ingin kulihat sekarang wajahnya (atau mungkin tidak mau kulihat selamanya) berdiri didepan apartement ku. Wajahnya begitu senang melihatku datang

“Harin~ kau baru pulang rupanya? Aku ingin membicarakan sesuatu, Ayo!”. Kata laki-laki itu sambil menarik tanganku. Ku tepis tangannya. Wajahnya terlihat kaget.

“aku lelah ingin tidur, maaf” ucapku sambil menerobos masuk ke apartement ku.

Tapi lagi-lagi dia menarikku, dia laki-laki, aku perempuan, tentu saja tenaganya menarikku lebih kuat. Aku hanya bisa pasrah dibawa dia pergi

****

“Aku putus dengan Nami” jelasnya. Dia membawaku ke taman.Tempat  pertama kali kami bertemu, dan mengakhiri hubungan kami.

“lalu? Kau kembali padaku karena ditolak dia?” jawabku kesal. Memangnya aku wanita apa? Seenaknya saja dia datang dan pergi begitu.

“Tidak begitu harin, coba dengarkan aku. Dia ternyata selingkuh dibelakangku. 2 bulan, kau tahu!”

“kau juga berselingkuh. Malah didepanku. Aku tak keberatan.” Kubalas kata-katanya

“jangan begitu harin. Aku mau minta maaf dan meminta, bagaimana kita mulai dari awal lagi?” tanyanya dengan muka memohon

“terlambat” jawabku sambil pergi dari taman itu

****

KEY POV

“Hyung apa kau yakin dia gadis baik-baik?” tanyaku pada manager hyung

“tenang key, aku sudah mencari datanya tepatnya meminta CV nya ke Mr. Han. Perlu kujelaskan apa yang kudapat? Namanya Park Harin, dia sedang kuliah tingkat 2 di design school seoul, dia lahir dan dibesarkan di london sampai akhirnya pindah ke korea karena ibu-bapaknya berpisah sementara. Bahasa inggrisnya fasih malah kudengar dia bisa berbicara bahasa perancis karena cita-citanya jadi designer disana, tidak ada catatan buruk sejauh ini, apa belum cukup key?”

Aku hanya tersenyum garing.

“hey hari ini kita akan membuat foto scandal itu coba kau telpon dia tanya sedang ada dimana”

“kenapa harus aku hyung?”

“karena kau calon pacarnya bukan aku”

Ada-ada saja manager hyung ini. Aku lantas mengambil handphoneku dan menghubungi gadis itu.

“Yoboseyo…nuguseyo?”

Suaranya lucu sekali. Sebenarnya begitu juga mukanya, lucu. Walaupun hanya punya 2 ekspresi. Datar dan kosong.

“ini aku key, kau sedang dimana?”

“aku baru keluar kelas. Aku kuliah.”

“tunggu sebentar aku menjemputmu kesana” sambungku dan langsung menutup sambungan telponnya

“hyung kujemput dia dulu mana kunci mobilnya?”

****

Harin POV

“tunggu sebentar aku menjemputmu kesana” sambungnya.

“ani tidak…..” kenapa orang-orang senang sekali menutup telpon sebelum aku bahkan menyelesaikan kata-kataku? Benar benar. Tunggu. Dia tahu dimana aku kuliah?

Tidak lama aku menunggu, telpon masuk lagi.

“Kau dimana? Sedan abu-abu. Coba cari sedan abu-abu depan kampus mu.sebentar kurasa aku melihatmu” aku menoleh ke depan kampusku. Kurasa itu mobilnya. Aku berjalan menuju mobil itu,  kubuka pintu penumpang dibelakang.

“Sedang apa kau? Memang aku supirmu? Sini duduk di depan” baru saja aku mau duduk dia sudah menyuruhku duduk di kursi depan.

Hening. Hening sekali mobil ini. Tidak ada yang memulai berbicara. Toh aku malas berbicara. Pandangan key pun hanya tertuju pada jalanan di depannya.

“kau sudah tau apa yang harus kita lakukan? “ tanyanya memecah keheningan

“ya, berfoto” jawabku datar

“ Begini, aku hanya memperjelas saja, kau boleh meminta berhenti kalau memang kau sudah mempunyai kekasih” jelasnya ragu.

“aku tidak punya pacar. Tenang saja”

Lalu kami kembali dalam keheningan

****

“Jadi ceritanya kalian berdua lagi didalam mobil lalu agak mendekat sedikit saja, harin kau pakai topi agar wajahmu tidak terlihat” jelas hyun shin oppa.

“ne..oppa. arasso”

Hyun shin oppa sedang sibuk mengambil angel yang bagus. Dia terlihat semangat sekali. Sedangkan aku berdua dengan key di mobil. Hening.

Kulihat hyun shin oppa memberi tanda untuk mengambil gambar. Key menghadap kearahku.

“kau lihat kearahku sini agar wajahmu tidak terlihat.” Aku berusaha menghindari kontak mata dengannya. Tapi entah, key melihatku langsung kearah mataku. Tiba-tiba key mengubah cara duduknya. Dia masih menghadap kearahku lalu membisikkan sesuatu ditelingaku “diam atau foto ini tidak terlihat natural”.  Aku hanya menuruti saja apa katanya,

Kulihat hyun shin oppa menyuruh kami agar turun dari mobil.

“coba kalian lihat foto ini. Sempurna sekali. Aku tidak tahu yang mana yang benar. Aku yang pintar memotret atau kalian yang memang terlihat cocok bersama”

Apa maksud hyunshin oppa itu?

“satu foto lagi. Key, coba kau menggandeng tangan harin. Kufoto kalian dari belakang.”

Tangan key tiba-tiba sudah ada di genggamanku. Atau tepatnya, dia tiba-tiba menggandeng tanganku.

“aku hanya mencoba untuk professional, tidak lebih.” Jelasnya.

Kami pura-pura sedang berjalan sambil bergandengan tangan. Ternyata dia lumayan tinggi. Jalan berdua seperti ini membuatku terlihat pendek. Aku tidak lebih tinggi dari bahunya.

“Ya, selesai! Bagus sekali foto kalian! Akan segera kusebar diinternet! Tunggu sampai berita beredar besok!”

****

—The Next Day—-

“Harin-ya~ kau dimana?” terdengar suara han byul diseberang sana. Suaranya parau.

“kampus. wae?” kurasa aku sudah tau benar apa yang mau dia beritahu padaku.

“temui aku dikantin sekarang. Aku benar-benar patah hati”

****

“Lihat foto ini! Key bersama pacarnya. Bahkan SM sudah mengklarifikasi, ini benar-benar pacarnya Key. Akan ku coba untuk menyukai Minho oppa dari sekarang!!” han byul tiba-tiba menyodorkanku tabloid. Fotoku dan key dicetak ukuran besar sebagai sampul. aku tahu sekali. Han byul habis menangis. Separah itukah kalau idolanya mempunyai kekasih? Coba kalau han byul tahu semua ini, mungkin dia memang benar-benar merengek padaku minta dikenalkan pada key.

Tiba tiba handphoneku berdering.

“Kau sudah lihat?”

“apa?”

“tabloid memangnya apalagi?”

“sudah.”

“lalu bagaimana menurutmu?”

“memang kau berharap bagaimana?”

“ah sudahlah susah berbicara denganmu” katanya lalu memutuskan sambungan telpon.

“Siapa harin? Woo Hyun sunbae?” tanya hanbyul.

Baru saja dibicarakan hanbyul orang itu datang. “han byul annyeong~ apa kabar? Boleh harin kupinjam sebentar?”

“pinjam? dia bukan barang sunbae. Jangan tanyakan padaku tanya dia” kata hanbyul menunjukku lalu berbalik pergi.

“harin kutelpon nanti ya!” aku mengangguk tanda setuju.

“kau sudah makan siang? Mau makan siang denganku?” tanya woo hyun sunbae

“kalau aku disuruh menjawab iya atau tidak, aku jawab tidak.” jawabku

“aih kejam sekali kau harin. Aku tidak bertanya sekarang aku mengajakmu dan kau harus ikut, ayo!”

****

“bagaimana, kau setuju dengan tawaranku?” apa yang pernah dia tawarkan padaku?

“tawaran apa?”

“apalagi? Memulai hubungan kita dari awal tentunya.”

Aku diam, tak tahu harus menjawab apa

“Sebagai kekasih? Tidak. Sebagai teman? Bisa kupikirkan.”

Dia terlihat senang, walaupun aku hanya menerimanya menjadi teman.

“tidak apa. Mungkin setelah kita berteman baik perasaanmu padaku akan kembali seperti dulu lagi.”

****

TBC

Hello Hello~ Kok aku rasa part 3 ini terlalu panjang yah :/

Sekali lagi, Aku mau minta maaf kalo mirip sama Summer In Seoul 😉 seperti yg kubilang, akhirnya akan berbeda 100% dari novel!

Comment ya XD No silent reader!

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

My Treasure

“My Treasure”

Main cast: lee taemin

Other cast:  kim kibum, kim jonghyun, lee jinki, choi minho

Author: queenkeybum

Length: One shot

Genre: Friendship, family

Rating: General

 

I don’t own lee taemin and other member, they belong to their own selves and SM Enterteinment

2010 ©SF3SI

Continue reading My Treasure

The Sweet Escape – Part 3

The Sweet Escape – Part 3

Author            :           Park Kyungjin

Main Cast      :           SHINee – Kim Jonghyun

Park Kyungjin a.k.a author

Other Cast     :           SHINee – Lee Taemin

Genre             :           Angst, Romance

Rating             :           PG+15

Disclaimer      :           This story is mine!

+++

Ya. Bisa saja orang ini hanya berpura-pura. Mungkin saja ia hanya mengarang semua ceritanya itu.

“Kau percaya padaku kan? Jebal…” ia lalu menanyakan hal itu padaku sambil memasang tatapan yang, aarrrggghh, sangat memelas!

Ayolah, Kyungjin. Kau jangan mudah percaya dengan orang ini. Dia itu buronan.

“Emmm… Mungkin…”

Astaga. Apa yang baru saja ku katakan? Oke, dia memang tidak terlihat sebagai orang yang bertampang kriminal. Lagipula, aku tidak tahan melihat tatapan memelasnya itu.

“Benarkah?” ia terlihat begitu bersemangat mengatakan itu.

“Eeeerr, aku akan coba” jawabku dengan ragu.

“Ah kumohon, percayalah padaku sepenuhnya. Aku tidak berbohong. Aku sangat memerlukan kepercayaanmu”

“Ne…”

Dan seketika pula ia menyunggingkan senyuman yang sangat lebar sambil melompat kegirangan.

Astaga. Pabo. Apa yang telah kulakukan? Itu kan sama saja dengan mencelakakan diriku sendiri. Bagaimanapun, dia ini tetap seseorang yang sedang kabur dari penjara. Buronan!

Tapi, aku juga cukup senang melihatnya begitu bahagia. Lagipula, ia terlihat mirip dengan idolaku. Hanya saja, mereka berbeda kepribadian. Tanpa sadar seulas senyum terbentuk di wajahku.

Ia masih saja terus melompat kegirangan namun tiba-tiba ia meringis kesakitan.

“Auuchhhhhhhh”

“Kau kenapa?”

Ia tidak menjawab pertanyaanku, namun ia terus saja memandang ke arah kakinya. Aku jadi penasaran apa yang telah terjadi pada namja ini. Aku mendekatinya dan saat itu juga aku bisa melihat ada luka yang cukup besar di kakinya itu. Darah yang keluar dari luka itu terlihat sudah mengering. Ih, lukanya cukup parah.

“Jonghyun-ssi. Lukamu sangat parah. Kalau kau mau, aku bisa membersihkan lukamu itu dan memberinya obat”

“Oh, apa tidak merepotkanmu?”

“Anni. Ayo, kita bisa mengobatinya di ruang tengah”

Aku mengajaknya untuk keluar dari kamarku dan berjalan menuju ruang tengah. Namun aku melihatnya agak kesulitan berjalan. Aku lalu mencoba membantunya berjalan.

“Jonghyun-ssi, kau duduk di sini dulu ya. Aku akan ambil kotak obat” aku kemudian menyuruhnya duduk di sofa.

“Oh, ne”

Tak lama kemudian, aku kembali dengan membawa kotak obat dan baskom yang berisi air hangat. Aku menyuruhnya untuk mengangkat kakinya ke atas sofa dan aku mulai membersihkan bekas darah yang mongering di sekitar lukanya itu dengan air hangat.

“Auchhhhhhhhhhhh…”

“Oh, sakit ya? Mian”

“Tidak apa-apa”

Aku kembali membersihkan lukanya namun tiba-tiba aku menyakitinya lagi. Ia malah tiba-tiba memegang tanganku.

“Aaaaaaarrrggghhhhhhhhhhh…”

“Oh, Jonghyun-ssi. Mian. Mian”

Aku merasa sangat bersalah pada Jonghyun. Namun sejak ia memegang tanganku, wajahku jadi memerah. Aku hanya bisa menunduk sambil menatap tangannya yang kini menggenggam tanganku itu, namun kemudian aku tersadar akan sesuatu.

“Jonghyun-ssi. Tanganmu kenapa?” ia hanya diam menanggapi pertanyaanku dan menarik kembali tangannya.

Aku lalu mengambil tangannya dan memperhatikannya dengan seksama. Astaga. Ada banyak luka goresan di telapak tangannya. Aku buru-buru membersihkan lukanya dan memberinya antiseptik di bagian tangan dan kakinya. Aku kemudian mengambil perban di dalam kotak obat itu dan membalut semua luka di tangan dan kakinya itu.

“Nah. Sudah selesai” kataku pada Jonghyun.

“Ne. Gomawo”

“Apa masih ada yang luka?”

Ia hanya menggeleng cepat namun aku menemukan ada sesuatu yang aneh di pipi kanannya.

“Itu ada luka gores” kataku sambil menunjuk-nunjuk bagian pipinya itu.

“Ah, ini hanya luka kecil saja. Tidak apa-apa”

“Jangan begitu. Lebih baik luka itu juga segera diobati”

“Tidak usah”

Aku tidak menyerah. Aku lalu mengambil sehelai kapas lalu memberinya cairan antiseptik dan mengoleskannya dengan paksa ke pipi Jonghyun.

Awalnya ia nampak keberatan, namun ia akhirnya menurut dan membiarkanku memoles wajahnya. Aku memolesnya dengan sangat serius sampai-sampai aku tidak sadar bahwa jarak antara wajahnya dengan wajahku tak lebih dari 10 senti. Ia lalu menatapku yang tengah sibuk dengan lukanya hingga beberapa saat kemudian aku baru tersadar.

Astaga. Dalam jarak sedekat ini, aku bisa melihat dengan jelas wajahnya yang tampan itu memerah. Dan tak perlu waktu yang lama untuk membuat pipiku juga ikut memerah.

Aku jadi salah tingkah dan menghentikan kegiatan memoles wajahnya itu, lalu buru-buru menjauhkan wajahku dari wajahnya.

Diam. Seketika suasana di sini jadi terasa sangat canggung hingga akhirnya ia memulai kembali percakapan.

“Gomawo”

“Oh, ne” aku membalasnya dengan sedikit tersenyum kikuk.

“Caramu merawat lukaku sangat baik. Kau berbakat untuk menjadi seorang dokter”

“Ah, biasa saja. Kau ini pasti bisa lebih baik dariku. Kau kan calon dokter yang jenius”

“Hahahah. Ada-ada saja. Nona yang baik hati, sepertinya dari tadi aku belum mengetahui namamu”

“Oh. Kyungjin. Park Kyungjin imnida”

“Kyungjin? Nama yang unik. Kau masih sekolah?” katanya sambil tersenyum. Pipiku yang sudah memerah ini menjadi tambah merah.

“Gomawo, Jonghyun-ssi. Ne, aku masih kelas 2 SMA”

“Ya! Kyungjin, kau tak usah memanggilku seperti itu. Kau cukup memanggilku Jonghyun saja. Lagipula, kurasa kita masih seumuran”

“Ah, masa? Tentu saja kau itu lebih tua dariku. Tahun ini kan sudah tahun keduamu menginjak bangku kuliah”

“Hahaha. Aku kan sudah cerita padamu. Kau sudah lupa ya?”

“Cerita apa?”

“Aku menyelesaikan sekolahku sewaktu masih menginjak usia 15 tahun, 2 tahun lalu. Jadi sekarang usiaku kira-kira masih sama sepertimu, 17 tahun”

“Mwo?”

“Hahahah. Sepertinya kau tidak menyimak penjelasanku tadi dengan baik” ia menertawaiku.

“Oh, ne. Aku sudah ingat. Ternyata kau menyelesaikan sekolahmu dengan sangat cepat. Wow, hebat!”

“Ah, tidak usah berlebihan”

Ia lalu memusatkan pandangannya pada jam dinding di ruang tengahku ini. Aku mengikutinya. Ternyata 15 menit lagi waktu sudah menunjukkan pukul 7.

“Kyungjin. Kau kan masih sekolah, apa kau tidak mau ke sekolah? Tidak lama lagi kelas akan dimulai”

“MWO?!”

Ah. Aku baru sadar. Aku sudah terlalu sibuk mengurus namja ini sampai-sampai aku sendiri lupa kalau aku ini punya kewajiban lain. SEKOLAH! Dan 15 MENIT LAGI WAKTU BELAJAR AKAN DIMULAI!! Omo. AKU TERLAMBAT!

Jonghyun hanya bisa menatapku dengan tatapan prihatin sementara aku hanya bisa berteriak sambil berlari ke kamar mandi.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…”

Sepuluh menit kemudian, aku sudah siap dengan seragam sekolahku. Aku buru-buru menyambar sepatuku dan berlari keluar rumah. Aku bahkan belum sempat sarapan. Keterlambatan ini sudah tidak bisa kupungkiri lagi.

Aku buru-buru mengunci pintu rumahku dari luar dan segera berlari menuju halte bus. Dan saat bus yang akan membawaku ke sekolah ini sudah melaju dengan cepat, aku baru tersadar akan satu hal.

Aku meninggalkan Jonghyun sendirian di rumahku!

+++

(Jonghyun P.O.V)

Aku senang sekali. Yeoja itu ternyata mau mempercayaiku, meski ku lihat ada keraguan yang nampak di wajahnya. Aku melompat-lompat saking girangnya namun aku tiba-tiba merasakan sakit di bagian kakiku.

“Auuchhhhhhhh”

“Kau kenapa?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku sudah sangat merasa kesakitan. Namun tak lama kemudian, ia menghampiriku dan melihat luka yang cukup parah di kakiku ini.

Ia kemudian menawarkan untuk mengobati lukaku. Sebenarnya aku merasa sungkan, namun aku tidak punya pilihan lain. Ia lalu membawaku ke ruang tengahnya dan meninggalkanku beberapa saat. Sesaat kemudian, ia kembali dengan membawa perlengkapan obat-obatan.

Ia membersihkan lukaku serta membalutnya dengan perban. Bukan cuma luka di kakiku, tapi juga luka di tanganku. Ia merawat lukaku dengan sangat baik.

“Nah. Sudah selesai” katanya.

“Ne. Gomawo”

“Apa masih ada yang luka?”

Aku langsung menggeleng cepat, namun ternyata ia menemukan luka gores di pipi kananku.

“Itu ada luka gores” katanya sambil menunjuk-nunjuk pipiku.

“Ah, ini hanya luka kecil saja. Tidak apa-apa”

“Jangan begitu. Lebih baik luka itu juga segera diobati”

“Tidak usah”

Aku rasa luka yang satu ini tidak perlu diobati. Hanya luka gores saja. Aku malah baru sadar kalau di pipiku ini ada luka.

Tapi ia tetap saja mengambil kapas, memberinya cairan antiseptik dan langsung mengolesinya ke pipiku.

Omo. Jarak wajahku dan wajahnya kini sangat dekat. Aku malah tertarik memperhatikannya yang begitu serius mengobati lukaku.

Neomu yeppeo.

Namun tak lama kemudian ia menyadarinya dan berhenti memoles lukaku, lalu segera menjauhkan wajahnya dari wajahku. Dan kulihat, ada semburat merah di pipinya. Ah, dia jadi bertambah manis.

Kurasa wajahku juga memerah sedari tadi. Kami terdiam beberapa saat hingga akhirnya aku membuka pembicaraan.

“Gomawo”

“Oh, ne”

Aku baru sadar, dari tadi aku belum mengetahui namanya.

“Oh. Kyungjin. Park Kyungjin imnida”

“Kyungjin? Nama yang unik. Kau masih sekolah?” aku lalu menanyakan tentang sekolahnya.

“Gomawo, Jonghyun-ssi. Ne, aku masih kelas 2 SMA”

Aish. Dari tadi ia terus saja memanggil namaku dengan embel-embel –ssi. Kedengarannya aneh, terlalu terkesan formal. Kelas 2 SMA? Berarti aku masih seumuran dengannya.

“Ya! Kyungjin, kau tak usah memanggilku seperti itu. Kau cukup memanggilku Jonghyun saja. Lagipula, kurasa kita masih seumuran”

Ia terlihat tidak percaya. Sepertinya ia lupa dengan penjelasanku sebelumnya sehingga aku harus kembali mengingatkannya hingga akhirnya ia ingat kembali.

Tapi tunggu sebentar, kelas 2 SMA? Berarti ia harus ke sekolah, hari ini kan bukan hari libur. Aku kemudian mengedarkan pandanganku ke penjuru ruangan ini dan mencari sebuah benda yang bisa menunjukkan waktu.

Nah, itu dia. Astaga, sudah hampir jam 7. Sepertinya ia belum sadar. Akhirnya aku mencoba mengingatkannya dan ternyata ia benar-benar lupa.

Ia hanya bisa berteriak sambil berlari masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya kamar mandi. Ajaib. Dalam waktu 10 menit, ia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia sangat terburu-buru menyambar sepatunya dan berlari keluar rumah. Aku mengikuti langkahnya dengan tertatih-tatih dan belum sempat aku menemuinya, pintu sudah ia kunci dengan rapat dari luar.

Aku memaksakan diriku berlari mendekati pintu dan menggedor-gedor pintu itu sambil meneriakkan namanya.

“HEIII! KYUNGJIIIIIIIIIIIIIIIIN!”

Namun sia-sia, aku mengintip melalui jendela yang ada di dekat pintu dan sudah tidak ada sosok Kyungjin di luar sana.

Ottokhae? Sekarang aku malah terkunci di rumah orang lain SENDIRIAN tanpa pemiliknya. Aku bisa saja keluar dari rumah dengan cara yang sama dengan caraku memasukinya. Tapi aku rasa terlalu bahaya kalau aku keluar sekarang karena bisa saja polisi sedang berkeliaran mencariku. Akhirnya kuputuskan untuk bersembunyi sejenak di rumah ini sambil menunggu Kyungjin pulang.

+++

(Kyungjin P.O.V)

Aku tiba di sekolah dengan selamat. Namun jam di sekolahku sudah menunjukkan pukul 07.30 yang artinya aku sudah terlambat setengah jam. Wow. Guru piket yang menyambut kedatanganku itu hanya tersenyum kecut sambil menggiringku ke ruang BP. Kim sonsaengnim.

“Park Kyungjin, kau tahu kau sudah terlambat berapa menit?”

“Ne, sonsaengnim. Aku rasa sudah setengah jam”

“Bagus. Apa kau punya alasan yang cukup logis tentang ini?”

Aku berpikir sejenak. Tentu saja aku punya. Aku mulai menyusun sebuah alasan di kepalaku. Sebenarnya aku bangun tidur tepat waktu seperti biasanya namun rumahku yang selama ini ku tinggali sendiri itu kini didatangi oleh hantu.

Oke ralat, tadinya aku memang mengira ia hantu namun ternyata ia sama sekali bukan hantu. Ia seorang namja yang terlihat tampan.

Oke, baik, baik, bagian yang “tampan” itu tidak usah disebutkan. Ia memang terlihat seperti namja biasanya namun itu menjadi tidak biasa sejak ia memasuki rumahku secara diam-diam, tapatnya di dalam kamarku melalui sebuah jendela.

Dia itu seorang pemerkosa! Ah tidak tidak, dia bukan pemerkosa, tapi dia itu buronan! Ya, dia memang buronan yang semalam kabur dari tempat di mana ia seharusnya berada. Entah apa yang sudah dia katakan sampai membuatku percaya padanya, dan untuk mendengarkan semua penjelasannya saja sudah membuang waktu yang biasa kugunakan untuk mandi dan sarapan.

Belum cukup sampai di situ, aku bahkan menyempatkan diri untuk mengobati sekujur tubuhnya yang dipenuhi luka itu, dan itu juga memakan waktu yang cukup lama. Ini semua karena namja itu.

Oh oke oke, dia tidak sepenuhnya salah karena memang aku sendiri yang lupa untuk ke sekolah.

Aduh, tapi kalau aku mengatakan itu kepada Kim sonsaengnim, itu sama saja membunuh diriku sendiri.

Akhirnya kubiarkan segudang alasan yang telah kurangkai itu hanya bergejolak di kepalaku saja.

“Mianhae, sonsaengnim. Pagi ini aku bangun terlambat, dan saat berangkat menuju ke sini, jalanan sudah dipenuhi kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. Macet”

Aku mengatakannya dengan sedikit ragu. Ah, setidaknya aku tidak sepenuhnya berbohong, tadi memang aku sempat terkena macet.

“Ne. Tapi kau tetap saja terlambat. Jadi sudah sepatutnya kau menerima hukuman”

“Ne, sonsaengnim” aku menjawabnya dengan pasrah, bersiap menjemput hukuman yang sudah menantiku.

+++

“Kyungjin… Hey, hey… Hello… YA! PARK KYUNGJIN!” seseorang berteriak di dekat telingaku dengan sangat keras.

“ASTAGA! Aish, Taemin! Kau membuatku kaget!” tiba-tiba aku merasa jantungku sebentar lagi copot.

“Makanya, kalau dipanggil jangan cuma melamun!”

“Oh, mian”

Aduh, aku ini kenapa? Kenapa dari tadi aku memikirkan Jonghyun terus. Aku jadi cemas karena meninggalkannya sendirian di rumah.

“Kyungjin-ah, ini kan sudah jam istirahat, kau tak mau ke kantin?”

“Ah, sepertinya tidak, aku mau di sini saja”

“Ayolah, aku lapar. Memangnya kau tak lapar?”

“Lapar sih. Tapi aku betul-betul tidak bersemangat ke kantin. Kali ini kau pergi sendiri saja ya, mian…”

“Oh. Ya sudah, kalau begitu aku juga tidak akan ke kantin. Aku mau menemanimu di sini” ia lalu berkata sambil menyunggingkan senyumannya yang sangat manis. Ah, aku sangat beruntung menjadi yeojachingu-nya. Aku sangat menyayangi Taemin. Meski ia tidak begitu tampan, tapi wajahnya sangat manis. Ia selalu menunjukkan ekspresi ceria hingga siapapun yang ada di dekatnya juga merasa terhibur. Ia juga sangat baik. Setiap hari saat jam istirahat ia selalu datang ke kelasku untuk mengajakku ke kantin karena aku dan Taemin memang tidak sekelas. Tapi kali ini aku tidak bisa ikut ke kantin dengannya, dan ia dengan sangat berbaik hati rela menemaniku.

“Gomawo, Taemin”

“Ne. Kau ada masalah ya? Ya sudah, ceritakan padaku” ia lalu menyambar kursi yang ada di dekatnya dan duduk di sampingku.

“Ah, anni, Taemin. Hanya saja aku banyak mengalami kejadian aneh hari ini”

“Contohnya?” ia terlihat sangat antusias. Aduh, padahal aku malas membahas semuanya. Tapi apa boleh buat, aku tidak ingin mengecewakannya.

“Semalam tidurku tidak begitu nyenyak. Aku bahkan memimpikan 2 kejadian yang berbeda sebelum aku benar-benar terbangun. Yang satunya mimpi buruk, yang satunya lagi mimpi indah”

“Oh ya, kau mimpi apa?”

“Aku bermimpi berada di sebuah ruangan yang sedang terbakar. Aku sama sekali tidak bisa menyelamatkan diriku hingga api itu habis melalap tubuhku”

“Benarkah? Ah, kenapa kau tidak memimpikanku juga? Kalau aku ada, pasti aku akan menyelamatkanmu, putriku” ia berkata sambil cengengesan. Dasar Taemin!

“Aish. Bagaimana bisa kau menyelamatkanku? Di dalam mimpiku, kau bahkan sudah terlalap api duluan”

“Mwo?! Oh, sayang sekali” seketika ia berpura-pura memasang ekspresi sedih.

“Hahaha. Jangan manyun begitu, kau jadi terlihat jelek. Itu tadi tentang mimpi burukku. Kau mau tahu tidak tentang mimpi indahku?”

Ia tetap tak mau menjawab sambil terus memasang ekspresi cemberutnya. Aigo, lucu sekali anak ini.

“Di mimpiku itu, aku melihat seberkas cahaya putih. Lama kelamaan cahaya itu membentuk sebuah bayangan yang samar-samar, dan tak lama kemudian, bayangan yang samar itu semakin jelas membentuk sesosok pria berpakaian putih-putih…” aku melirik Taemin yang masih saja belum mengubah ekspresinya.

“Kau tahu tidak, pria yang ada di dalam mimpiku itu sangat tampan. Senyumannya sungguh sangat manis dan tidak pernah lepas dari bibirnya. Tatapannya teduh, wajahnya menentramkan hati. Ia juga memperlakukanku dengan lembut. Ia membelai wajahku dengan sangat lembut. Ah, pria itu terlihat seperti malaikat. Aku sangat bahagia berada di dekatnya. Aku selalu berharap kalau semua itu bukan hanya mimpi…” ku dengar Taemin mulai mendengus kesal.

“Dan kau tahu tidak, ternyata malaikat di dalam mimpiku itu…” aku menggantungkan kata-kataku dan melihat Taemin mulai tidak tertarik dengan ceritaku. Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya dan membisikkan sesuatu dengan sangat pelan.

“Kau, Lee Taemin”

Aku melihat ekspresi Taemin berubah. Ia lalu menatapku, dan belum sempat aku menjauhkan kembali wajahku dari wajahnya, ia sudah menghadiahiku dengan sebuah ciuman.

Omona. Untung saja di kelas ini tidak ada sosok manusia lain selain aku dan Taemin.

+++

(Jonghyun P.O.V)

Saat Kyungjin berangkat ke sekolah, aku memutuskan untuk melihat-lihat isi rumahnya. Ternyata gadis itu tinggal sendirian di rumah ini, sebab dari tadi aku tidak melihat ada manusia lain di rumah ini.

Ada 4 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang tengah lengkap dengan berbagai peralatan elektronik, dapur dengan peralatan masak-memasak yang lengkap. Hmphh. Rumah ini cukup besar juga untuk ditinggali sendiri meskipun rumah ini hanya terdiri dari satu lantai.

Aku memasuki dapur. Di dalam dapur tersebut ada sebuah meja makan kecil, dan di atas meja itu terpajang beberapa potong sandwich yang sepertinya sangat lezat.

Kriukkk. Kriukkk.

Aduh, aku lapar sekali. Aku menatap sandwich yang begitu mempesona itu dengan tatapan penuh harap. Aku kemudian mendekatinya dan menyentuh salah satu dari mereka. Ah, sepertinya sandwich ini lumayan untuk mengganjal perut.

Namun aku menaruh kembali sandwich itu pada tempatnya semula dan segera meninggalkan tempat yang penuh dengan godaan ini.

Aish. Sungguh tidak sopan mengambil barang orang lain tanpa seizin pemiliknya. Aku tidak boleh begitu, aku seharusnya bersyukur telah dipercaya oleh Kyungjin, walaupun aku sendiri juga tidak begitu yakin kalau ia percaya padaku sepenuhnya dan bisa saja saat pulang sekolah nanti ia akan membawa segerombolan polisi dan menyerahkanku pada mereka.

Aduh, bagaimana kalau itu semua benar-benar terjadi? Ottokhae?

 

TO BE CONTINUE

Ehehehe..

Bagaimanakah kelanjutan ceritanya??

Nantikan kisah selanjutnya hanya di THE SWEET ESCAPE.. *plakkk!!*

(niru gaya bicara mbak veni rose)

*reader: author banyak gaya!*

Oke oke..

Jangan lupa komen ya.. gomawo.. ^^

 

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

About Love [2.2]

About Love part 2 of 2

Author : Park young Mincha

Mincha terbelalak saat menyadari yang menempel di bibirnya sekarang adalah bibir Jinki. Vampire itu tak peduli akan reaksi Mincha, dia malah semakin memperdalam ciumannya meskipun gadis itu tidak membalas sama sekali.

“Hyung! Apa-apaan ini? Aduuuh,” jerit Jonghyun panik, karena saat masuk ke dalam rumah tersebut dia sudah disodori pemandangan seperti itu. Lalu dia berusaha melepaskan Mincha dari terjangan hyungnya. Mincha masih terdiam tanpa ekspresi. Masih shock.

“Ah, kau ini mengganggu saja!” gerutu Jinki.

“Hyung, kau ingat tidak sih, kalo kau mencium manusia akan membuat manusia itu semakin lemah! Bisa-bisa dia mati sebelum kau sempat menghisap darahnya. Aissh, makanya jangan bolos terus pas sekolah,” balas Jonghyun.

“Oh, iya ya? Hehe…,” Jinki menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu menoleh kea rah Mincha yang menatap kosong ke depan.

“Kamu sih, Cha, kebanyakan ngitung! Cha, kumohon! Will you marry me? Cuma kamu yang aku cintai, Cha! Nggak akan ada yang kedua, ketiga, dan seterusnya..,” pinta Jinki sambil berlutut di hadapan Mincha.

“Yoochun oppa? Bagaimana mungkin?” ucap Mincha tak percaya dan mengucek kedua matanya berulangkali untuk memastikan penglihatannya. Jinki langsung menoleh ke arah yang dilihat oleh gadis yang tidak mendengarkan keseriusannya tadi.

“Aku tau kamu bukan manusia! Tapi sepertinya, memang adikku mempunyai ikatan denganmu sejak awal! Aku titip adikku! Tolong jaga dia baik-baik,” sosok bercahaya itu berkata pada Jinki yang dijawab dengan anggukan mantap oleh Jinki.

“Oppa! Seenaknya, nih! Masa nitipin aku sama dia?” kata Mincha sambil menuding Jinki.

“Yak! Siapa yang kamu tunjuk? Aissh, sudah normal ya kamu, sekarang? Bisa nuding-nuding orang semaumu,” teriak Jinki yang tidak dipedulikan oleh gadis itu.

“Oppa tidak akan mengganggumu lagi, saeng! Kamu sudah menjadi miliknya! Sudah waktunya oppa benar-benar pergi meninggalkanmu. Jika waktumu tiba, Oppa akan menjemputmu. Hati-hati. Oppa sayang kamu,” ucap Yoochun lalu perlahan sosoknya memudar setelah mengecup pipi adiknya.

“Jadi?” tanya Jinki sambil mengerling ke arah Mincha.

“Ja.. jadi a..apa mm..maksud..mu?” tanya Mincha tergagap.

“Sesuai pesan kakakmu! Berarti kau harus menjadi istriku! Berikan darahmu!” ujar Jinki sembari menyeringai menunjukkan taringnya yang panjang dan runcing membuat Mincha bergidik seram.

“Sakit, nggak?” tanya Mincha dengan tubuh gemetar.

“Tenang saja, aku akan melakukannya dengan lembut,” jawab Jinki sambil membelai rambut Mincha lembut, turun hingga punggung gadis itu dan mengusapnya pelan untuk menenangkannya. Sedang tangan satunya dia gunakan untuk menyibak rambut Mincha yang menutupi lehernya lalu memegangnya untuk menahan kepala gadis itu dan mulai mendekatkan wajahnya ke leher gadis itu.

Mincha yang sudah mulai rileks hanya bisa pasrah dengan sesuatu yang akan terjadi pada dirinya. Dia bisa merasakan sesuatu yang tajam mulai menembus lapisan kulit lehernya. Perih rasanya. Dia merintih menahan sakit sambil memegang lengan pria yang ada di hadapannya itu.

Jonghyun yang melihat hal itu hanya tersenyum misterius kemudian pergi meninggalkan Jinki dan Mincha berdua.

Semakin lama, Mincha semakin kehilangan kesadarannya dan akhirnya benar-benar terkulai lemas di tangan Jinki.

“Maafkan aku, Cha! Setelah ini, aku yang akan melindungimu! Sekarang bangunlah!” ujar Jinki lalu mengecup kening, kelopak mata, hidung dan terakhir bibir gadis itu dengan lembut. Perlahan mata gadis itu terbuka dan mengerjap berkali-kali.

“Jinki? Aduh, kepalaku pusing,” keluh Mincha begitu tersadar.

“Mian, Cha! Aku telah menjadikanmu sama sepertiku! Sekarang kamu harus ikut ke duniaku sebelum matahari terbit,” ajak Jinki sambil menggendong tubuh mungil calon istrinya tersebut dan melesat dalam kegelapan.

~~~

Mincha POV~

Di mana aku sekarang? Seingatku tadi aku masih di rumah. Ini di mana?

“Kamu sudah bangun?” sebuah suara mengagetkanku.

“Jonghyun? Ini di mana?” tanyaku begitu melihat sosok yang sudah kukenal sebagai adik dari Jinki.

“Ini? Ini adalah kamarmu di istana kami. Nanti malam akan diadakan pesta pernikahanmu dengan Jinki hyung,” jawab Jonghyun datar tanpa ekspresi.

“Hahh?? Per.. ni.. ka.. hanku? Dengan Jinki?” aku tersentak kaget masih tak percaya.

“Iya! Kenapa? Kamu nggak setuju? Dari awal juga kan dia udah bilang,” kata Jonghyun lagi dengan sinis.

“Kamu kenapa sih? Nggak suka kalo hyungmu nikah sama aku? Kenapa jadi sinis gitu sih sama aku?” tanyaku lagi mulai kesal dengan sikapnya.

“Menurutmu karena apa, hah?” tanyanya balik sambil berjalan mendekatiku dan menatapku tajam. Aku mulai merasakan keringat dingin menetes dari pelipisku.

“Apa maumu? Jangan macam-macam!” ucapku sok berani untuk menutupi rasa takutku.

“Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu! Karena itu sama saja bunuh diri jika menyakiti calon istrinya! Aku hanya butuh kepastian darimu! Kamu janji nggak akan melukai Jinki hyung?” tanyanya mulai melunak.

“Kalo aku emang niat ngelukain dia, udah mulai pertama bertemu langsung kulenyapkan dia! Jangan aneh-aneh deh,” balasku.

“Ya sudah kalo gitu! Maaf tadi aku bersikap ketus! Aku khawatir kamu akan menyakiti hyung, karena kamu adalah seorang pembasmi,” ucap Jonghyun lembut.

“Tapi kan sekarang aku sama seperti kalian! Kalo aku menggunakan kekuatan itu untuk membasminya, maka aku juga akan lenyap,” jawabku mulai sewot.

“Iya, iya! Aissh! Hyung, tabahkan hatimu mempunyai istri bawel seperti dia,” ucapnya sambil menunjuk ke arahku saat Jinki masuk ke dalam ruangan ini.

“Hahaha! Sudahlah! Kalian berisik! Kedengaran sampai luar tau?!” ujar Jinki kemudian berjalan mendekati kami berdua. Aku menekuk kedua kakiku lalu membenamkan wajahku di sela-sela lututku untuk menyembunyikan wajahku yang mulai memerah mengingat aku akan menikah dengannya.

“Cha? Kamu sudah enakan? Wah, aku nggak sabar menunggu nanti malam,” terdengar nada suaranya menggodaku membuat wajahku semakin memanas.

“Sebaiknya aku keluar saja! Takut pengen! Hahaha,” kata Jonghyun semakin menggodaku. Sial! Awas kau nanti!

“Hei! Masa calon suami datang malah dicuekin sih?” bisik Jinki di telingaku. Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan posisi kepala tetap ngumpet.

“Sudahlah! Tenagamu belum pulih benar. Tidurlah dulu, nanti sore bersiap untuk pernikahan kita nanti malam. Sekarang istirahat saja,” katanya lagi sambil menarik bahuku agar rebah di ranjang. Aku menoleh ke arahnya sebelum dia beranjak pergi.

“Apa benar kita akan menikah? Apa tidak terlalu cepat?” tanyaku akhirnya. Kulihat dia menghentikan langkahnya.

“Kamu nggak yakin ama perasaanku, Cha? Aku nggak mau menundanya. Aku nggak mau terlambat mengikat perasaan kita,” ujar Jinki keras.

“Kenapa harus marah, sih? Aku kan tanya baik-baik. Huhh,” ucapku ikutan kesal lalu menggembungkan kedua pipiku lalu kupejamkan mataku rapat-rapat.

Perlahan kurasakan beban di ranjang bertambah. Aku berusaha tidak peduli meski jantungku sebenarnya berdegup kencang.

“Maaf! Ya udah! Sekarang kamu istirahat dulu,” kudengar suaranya lembut dan kurasakan sebuah tangan mengelus pipiku pelan membuatku membuka kedua mataku dan menatapnya dalam. *sumur kali’*

“Aku takut! Aku ngerasa belum siap! Aku takut ntar bakal ngecewain kamu,” ucapku lirih dan bulir-bulir hangat menetes keluar dari kedua mataku.

“Hyuuuung, aku tau looooh sekarang Mincha nangis! Udah mau nikah aja masih berani-beraninya bikin nangis! Heran,” teriak Jonghyun dari balik pintu.

“Ah, tu bocah tau aja kamu lagi nangis! Belum siap kenapa sih? Alasan apa itu? Lagipula sebelum aku menggigitmu kemarin kan aku sudah bilang padamu. Setelah menjadikanmu sama sepertiku, kau harus menjadi istriku. Dan juga Oppamu sudah menitipkanmu padaku,” kata Jinki dan membelai rambutku dengan lembut.

Wajahku memanas lagi karena perlakuannya. Aduh, kenapa aku jadi gugup begini kalo di dekatnya? Biasanya kan aku cuek aja.

“Kamu kok kayaknya jadi aneh ya, sekarang?” tanyaku sambil memaksakan diriku untuk menatap matanya tajam. Kuperhatikan terus menerus.

“A..a.. Aneh gimana? Nggak ah! Biasa aja! Kamu jangan ngeliatin aku kayak gitu….,” pintanya tergagap. Aku segera tersadar dan memalingkan wajahku darinya.

“Ya, aneh aja! Jinki yang kukenal itu hobinya ngedumel sendiri, ngomel-ngomel, mmh… apa lagi ya?” sebutku lalu menyentuh bibirku dengan telunjukku seraya berpikir.

“Yak! Sebutin aja semua kejelekanku!” teriaknya sebal.

Hihihi, entah kenapa aku suka melihat wajahnya jika sedang sebal seperti itu. Refleks aku melingkarkan kedua tannganku di pinggangnya dan membenamkan wajahku di dadanya.

“Hahaha! Itu baru Jinki!” tawaku sambil terus memeluknya. Dapat kurasakan degup jantungnya.

Kini aku sudah tidak peduli lagi. Aku sadar kalo aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Senang juga mengetahui bahwa diriku tidak bertepuk sebelah tangan.

“Hyaaa! Mincha! Lepaskan aku! Aku bisa mati kalo kamu peluk seerat ini,” pintanya sambil menjauhkanku darinya. Begitu terlepas aku mengerucutkan bibirku, lagi. Sebal. Kulirik dia dengan tatapan sinis.

“Awas kau, ya! Huh!” gerutuku lalu kembali merebahkan tubuhku di ranjang dan menarik selimut hingga menutupi wajahku.

“Jangan ngambek dong! Cha!” kudengar suaranya memohon. Ah, bodo amat lah. Aku mau tidur aja! Perlahan kupejamkan kedua mataku, hingga tak kudengar lagi suaranya.

***

Jinki POV~

“Cha! Please! Jangan ngambek! Masa gitu aja, ngambek?” pintaku memelas. Tapi tetap saja tak ada reaksi apapun darinya. Apa dia semarah itu? Tapi aku beneran bisa mati kalo dia memelukku seperti itu. Aku nggak bisa mengontrol degup jantungku yang seperti berpacu saat dia memelukku. Aku mengacak rambutku frustasi.

“Cha!” teriakku lagi. Kini sambil menyingkap selimut yang membungkus dirinya. Kulihat dia menggeliat dan sedikit mengerang karena tidurnya terganggu, tapi setelah itu dia tetap tidur seolah tanpa beban.

Sial! Tidur? Ugh, kirain ngambek! Dasar cewek aneh! gerutuku dalam hati sambil menyelimutinya kembali.

Kupandangi wajah tidurnya yang damai. Baru kali ini aku melihatnya tidur tanpa beban. Aku tersenyum sendiri melihat wajah polosnya. Tidurlah! Nanti malam aku tidak akan membiarkanmu tertidur. Batinku seraya tersenyum licik.

Kurebahkan diriku disisinya lalu kugenggam tangannya. Dan tak lama kemudian aku menyusulnya ke alam mimpi.

***

“Hyung! Mincha! Bangun oi! Udah soreeee! BANGUUUUN!” teriak Jonghyun membahana di ruangan kamar itu.

“Kalian ini! Belum nikah udah maen bobok bareng aja!” gerutunya saat melihat Jinki dan Mincha membuka mata dan merenggangkan kedua tangan mereka.

“Hah? Bobok bareng?” tanya Mincha heran.

“Ah, tadi aku ngantuk banget! Jadi ya udah aku bobok di sini aja. Hehe.. Aku nggak ngapa-ngapain kok. Beneran deh,” ujar Jinki seraya mengangkat tangannya dan membentuk huruf V dengan dua jarinya.

“Yakin, hyung, gag ngapa-ngapain?” goda Jonghyun membuat wajah Jinki memerah(lagi).

“Emang menurutmu aku ngapain? Dasar dongsaeng rese’….,” gerutu Jinki kesal lalu beranjak keluar dari kamar calon pengantinnya itu. “Oh, iya! Cha, mandi dulu sana biar segar! Terus, pake gaun yang udah kusiapkan di dalam lemari itu,” ucapnya lagi sebelum membuka pintu. “Heh! Kamu ngapain masih di situ? Keluar! Kamu mau ngintipin calon kakak iparmu?” bentaknya pada Jonghyun sebelum dia benar-benar keluar dari kamar.

“Ne, hyung! Aku keluar!”ujar Jonghyun sambil berjalan menuju pintu dan menutupnya setelah dia berada di luar.

~~~

Mincha side>>>

‘Duh, gaunnya napa item sih? Kesannya nambah serem ajah. Hikz,’ batin seorang gadis yang sekarang sedang duduk di tepi ranjang sambil menyentuh ranjang yang telah disiapkan oleh calon suaminya tadi.

‘Ya sudahlah! Pakai saja,’ putus gadis itu akhirnya karena tidak ada pilihan lain.

Setelah mengganti pakaiannya dengan gaun hitam panjang tersebut, Mincha mematut dirinya di depan cermin. Lalu dia duduk di depan meja rias, mulai menyisiri rambutnya yang lurus sebahu dan mengikatnya di sisi kiri atas. Tak lupa menambahkan jepitan rambut kesayangannya yang masih setia bertengger di kepalanya setiap hari. Karena dia memang tidak pernah berdandan, jadilah dia hanya memoleskan bedak tipis-tipis di wajahnya. Mincha tidak suka menggunakan make up. Hanya akan membuatnya seperti lenong, menurutnya.

“Hmm, not bad lah,” ucapnya puas sembari menatap cermin yang memantulkan bayangan dirinya yang kini nampak cantik dalam balutan gaun sederhana.

“Sekarang ngapain, ya? Mau tiduran, ntar bajunya kusut. Mau keluar, ntar nyasar. Aduuuh,” ujarnya berbicara sendiri.

“Oppa! Apakah perasaanku ini benar, seperti yang oppa katakan?” tanya Mincha sambil menatap foto Yoochun oppa yang terdapat di bandul kalung yang dia kenakan.

“Mengapa oppa begitu cepat pergi meninggalkanku? Aku merindukanmu,” ucap Mincha lalu menggenggam bandul itu dengan erat. Dirasakan matanya memanas dan bulir air mata mulai mendesak keluar.

TOK TOK TOK….

Buru-buru Mincha menghapus air mata yang bersiap meluncur membasahi kedua pipinya.

“Siapa?” tanya gadis itu sambil berjalan ke arah pintu.

“Aku! Jonghyun,” jawab Jonghyun dari balik pintu.

Mincha segera membukakan pintu kamarnya untuk adik tiri Jinki itu. Jonghyun terpana melihat penampilan Mincha yang tampak anggun saat itu.

“Ini! Aku mengantarkan sepatumu,” ujar Jonghyun setelah dipersilakan masuk oleh Mincha.

“Hah? High heels 13 cm? Nggak salah nih? Cari mati ya dia?” pekik Mincha begitu membuka kotak sepatu yang dibawa Jonghyun.

“Apa, Cha? Yakin 13? Sepertinya aku yang salah bawa. Hehe,” ucap Jonghyun lalu segera berlari keluar melihat Mincha mengangkat sepatu itu untuk dilempar ke arahnya.

“Hhhhh….. Jonghyun gilaaaaa! Padahal Jinki nggak se-stress itu, kenapa bisa punya adek yang gendeng seperti Jonghyun?” gerutu Mincha sebal.

~~~

Jinki side>>>

Tampak seorang pria sudah rapi dengan setelan tuxedo hitam kelam yang dikenakannya. Dia bercermin sambil sedikit memperbaiki kerah pakaiannya.

“Ya! Jonghyun! Daripada kau bengong di situ ngeliatin hyungmu yang tampan ini, lebih baik kamu antarkan sepatu untuk Mincha,” perintah pria tersebut pada adiknya yang berdiam diri di dekat pintu sambil menatapnya terus menerus.

“Kenapa harus aku? Sepatu yang mana?” keluh Jonghyun pada Jinki, hyungnya.

“Karena aku masih sibuk. Ambil di tempat penyimpanan sepatu, tapi jangan yang high heels. Kamu kan tau dia kayak gimana tingkahnya, kalo pake sepatu kayak gitu ntar jatuh,” titah Jinki tak bisa dibantah lagi.

Dengan langkah gontai, Jonghyun keluar dari ruangan itu untuk melaksanakan titah sang pangeran kegelapan, eh, ralat, pangeran vampire.

“Aduuuh, aku gugup nih! Sejam lagi, ya? Aduh, aduh…,” ujar Jinki sambil bolak-balik melihat arlojinya.

“Hahaha! Jangan tegang seperti itu, anakku! Udah kayak mau mati aja,” tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Jinki.

“Appa!” seru Jinki melihat kehadiran Appa-nya. “Aku kan baru pertama kali akan menikah. Wajar dong, kalo gugup!” ucapnya penuh kecemasan.

“Tenang saja! Kau ikuti saja perasaanmu, semua akan baik-baik saja. Kalo kau tegang seperti itu, nanti semua bisa berantakan. Rileks saja,” ucap sang raja dengan bijak.

“Baiklah. Fyuuuh, tenang, Jinki.. Tenaaang, Rileks,” kata Jinki mencoba menenangkan kegugupannya.

Suasana hening sejenak.

“Appa, benar tidak apa, aku menikah dengannya? Dia kan pembasmi?” tanya Jinki heran.

“Tak apa! Dia tidak pernah melukai bangsa kita yang tidak cari keributan di dunianya, bukan? Kelihatannya dia hanya akan bertindak jika melihat ada makhluk tak bersalah yang teraniaya. Dia nggak akan bertindak asal ada vampire. Buktinya sampai sekarang selama kau dan Jonghyun bersamanya, kalian baik-baik saja. Dan lagi, kekuatan yang dimilikinya sudah tidak berlaku lagi. Dia sudah akan menjadi istrimu, pendamping hidupmu. Lindungi dia sepenuh hatimu. Sekarang giliranmu yang melindunginya dari gangguan apapun,” ungkap Raja Lee panjaaaaaaaang kayak rel kereta api.

“Iya, sih! Maaf, Appa! Jinki sudah mencintai manusia,” pinta Jinki sambil menundukkan kepalanya.

“Sudahlah! Kita nggak akan bisa menolak takdir. Appa nggak mungkin marah,” ujar Raja Lee sambil mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih. “Ayo, kita ke aula. Sudah saatnya,” lanjutnya.

Jinki mengangguk lalu berjalan di sisi ayahnya sambil memegang lengan ayahnya dengan manja.

“Wah, udah mau nikah masih manja begini? Nggak malu sama istrimu nanti?” ledek Raja Lee.

“Ah, Appa! Jangan sebut-sebut hal itu terus,” ucap Jinki dengan wajah memerah.

~~~

***

Setelah acara pernikahan. Di dalam kamar.

“Emm, Jinki! Maaf ya, selama ini aku sering galak sama kalian! Aku… aku bingung harus bersikap bagaimana.. Maafin aku,” pinta Mincha sambil menatap ke arah Jinki.

“Errr, maafin aku juga. Aku sering ngerepotin kamu kemarin-kemarin,” pinta Jinki lembut sambil balas menatap Mincha tepat di manik matanya.

“Kau jangan melihatku seperti itu. Aku jadi takut tauk. Kamu udah kayak mau makan aku aja,” ucap Mincha berusaha memalingkan wajahnya.

“Aku bukan mau makan kamu! Aku mau menyelamimu,” balas Jinki yang lalu segera mendorong Mincha ke atas ranjang.

OKE! BAGIAN INI BUKAN KONSUMSI ANAK-ANAK! JADI AKU SKIP. MMM… SEBENERNYA SIH, EMANG AKU NGGAK BIKIN. HAHAHA…. AKU JUGA KAN MASIH DI BAWAH UMUR.

***

Jonghyun POV~

“Hyung udah nikah! Aku jadi nggak ada temen main lagi, deh!” keluhku sambil berjalan-jalan di taman istana.

“Kata siapa nggak ada temen main?” sebuah suara menghentikan langkahku dan segera berbalik ke belakang untuk mengetahui si pemilik suara.

“Hyung! Mincha!” ucapku terkejut senang melihat kehadiran mereka berdua.

“Ayo, jawab! Pemikiran darimana kalo aku nikah nggak bisa nemenin kamu main?” tanya Jinki hyung sambil menatapku galak.

“Mincha! Selamatkan aku dari suamimu,” ujarku sambil menarik Mincha dari sisi Jinki hyung agar melindungiku di depanku.

“Yak! Jangan sembunyi di belakangnya! Jjong! Sini kamu,” ucapnya sambil berusaha menarikku dari balik tubuh istrinya. Lebih baik aku kabur saja. Aku lari secepat-cepatnya dari situ.

“Hahaha! Kalian ini, ya! Benar-benar seperti anak kecil,” tawa Mincha melihat kelakuan kami.

Akhirnya aku tertangkap juga oleh hyung-ku, akibat langkahku yang kalah panjang dengannya. Kami berguling-guling di atas rumput, saling menggelitiki satu sama lain. Setelah lelah, kami pun berbaring telentang berdampingan, kemudian Mincha datang menghampiri kami dan menundukkan badannya.

“Sudah lelah, tuan-tuan?” godanya lalu duduk dan menekuk lututnya di samping Jinki hyung.

Kulihat dia tersenyum menatap langit. Kualihkan pandanganku ke arah Jinki hyung. Dia tersenyum bahagia melihat Mincha kemudian ikut duduk.

“Mengapa senyum-senyum begitu?” tanyanya pada Mincha.

“Tidak apa-apa. Melihat kalian, aku jadi teringat oppa-ku!” jawab Mincha lalu menyenderkan kepalanya di lengan Jinki hyung. Aku sudah seperti obat nyamuk aja, menyaksikan mereka pacaran. Mereka nikah dulu baru pacaran. Lucu juga.

“Kamu mikir apa, Jjong! Jangan dikira aku nggak tau,” ucap Mincha tiba-tiba.

“Hah? Nggak kok! Bukan apa-apa. Hehe,” sangkalku sambil tertawa gaje. Bahaya! Danger!

“Kamu nggak mau menyusul kami, Jjong?” tanya Jinki hyung.

“Hah? M.. mak.. sud hyung apaan, sih?” tanyaku gugup. Aku tahu dengan jelas maksud perkataan Jinki hyung. Tapi aku masih belum berani melamar Hyemin, kekasihku.

“Nggak usah sok lugu deh! Buruan lamar Park Hyemin! Ntar keburu keduluan yang lain! Jangan sampai kamu menyesal,” ucap Jinki hyung membuat wajahku memanas.

“Aissh, hyung! Aku malu! Ada Mincha itu, kenapa mengatakan hal itu,” gerutuku sebal.

“Kenapa harus malu? Itulah cinta! Harus segera diungkapkan! Jangan sampai cintamu direbut yang lain!” ungkap Mincha lugas kemudian menoleh kepada suaminya,”benar, kan?”

“Kalian kompak sekali kalo menggodaku!” ucapku pelan sambil menatap air mancur di taman ini.

“Kami tidak menggodamu, tauk! Kami memberitahumu! Cepat lamar Park Hye Min sebelum terlambat,” ucap Jinki hyung setelah menjitak kepalaku. Aissh sakit.

“Atau kau perlu kami temani?” tawar Mincha dengan tulus.

“Baiklah! Besok aku akan melamarnya!” putusku akhirnya.”Kalian…” aku tidak melanjutkan perkataanku.

“Kami kenapa?” tanya Mincha polos. Gemas aku melihatnya.

“Mmmmh, cinta tu apa sih?” tanyaku akhirnya.

“Cinta itu nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti, kita merasa nyaman, aman dengan orang tersebut dan tidak ingin kehilangannya,” jawab Mincha kemudian tersenyum manis. Imutnyaaaa.

“Dan kita nggak rela melihat orang yang kita cintai tersakiti. Kita akan melindungi orang itu dengan sepenuh hati, bahkan kalo nyawa yang menjadi taruhannya, kita tetap rela melindunginya,” ucap Jinki hyung melanjutkan.

“Ooo… Kalian ini beneran deh. Kompak banget,” kataku.

“Oh, iya, hyung! Kalo Mincha kurebut gimana?” godaku membuat Mincha membelalakkan matanya, sedangkan Jinki hyung mengulurkan tangannya untuk memukulku.

“Hwahahaha…. Appaaaaa, tolong akuuu! Jinki hyung ingin memukulku,” aduku sambil berlari ke arah appa yang berjalan mendekati kami.

“Kamu menggoda mereka sih!” jawab Appa sambil menjewer kupingku. Kulihat Jinki hyung dan Mincha menertawakanku.

“Aaauww, sakiiiit,” jeritku.

***

Akhirnyaaaa, selesai juga!! Mian, kalo judulnya agak nggak nyambung.. *reader: agak? Kagak nyambung beneran ini, mah* *author: toel2 lantai di pojokan ama Changmin oppa*

Seperti biasaaaaaa………… Jangan lupa  comment!! Awas nggak comment.. *ngancem mode On*

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF