About Love [2.2]

About Love part 2 of 2

Author : Park young Mincha

Mincha terbelalak saat menyadari yang menempel di bibirnya sekarang adalah bibir Jinki. Vampire itu tak peduli akan reaksi Mincha, dia malah semakin memperdalam ciumannya meskipun gadis itu tidak membalas sama sekali.

“Hyung! Apa-apaan ini? Aduuuh,” jerit Jonghyun panik, karena saat masuk ke dalam rumah tersebut dia sudah disodori pemandangan seperti itu. Lalu dia berusaha melepaskan Mincha dari terjangan hyungnya. Mincha masih terdiam tanpa ekspresi. Masih shock.

“Ah, kau ini mengganggu saja!” gerutu Jinki.

“Hyung, kau ingat tidak sih, kalo kau mencium manusia akan membuat manusia itu semakin lemah! Bisa-bisa dia mati sebelum kau sempat menghisap darahnya. Aissh, makanya jangan bolos terus pas sekolah,” balas Jonghyun.

“Oh, iya ya? Hehe…,” Jinki menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu menoleh kea rah Mincha yang menatap kosong ke depan.

“Kamu sih, Cha, kebanyakan ngitung! Cha, kumohon! Will you marry me? Cuma kamu yang aku cintai, Cha! Nggak akan ada yang kedua, ketiga, dan seterusnya..,” pinta Jinki sambil berlutut di hadapan Mincha.

“Yoochun oppa? Bagaimana mungkin?” ucap Mincha tak percaya dan mengucek kedua matanya berulangkali untuk memastikan penglihatannya. Jinki langsung menoleh ke arah yang dilihat oleh gadis yang tidak mendengarkan keseriusannya tadi.

“Aku tau kamu bukan manusia! Tapi sepertinya, memang adikku mempunyai ikatan denganmu sejak awal! Aku titip adikku! Tolong jaga dia baik-baik,” sosok bercahaya itu berkata pada Jinki yang dijawab dengan anggukan mantap oleh Jinki.

“Oppa! Seenaknya, nih! Masa nitipin aku sama dia?” kata Mincha sambil menuding Jinki.

“Yak! Siapa yang kamu tunjuk? Aissh, sudah normal ya kamu, sekarang? Bisa nuding-nuding orang semaumu,” teriak Jinki yang tidak dipedulikan oleh gadis itu.

“Oppa tidak akan mengganggumu lagi, saeng! Kamu sudah menjadi miliknya! Sudah waktunya oppa benar-benar pergi meninggalkanmu. Jika waktumu tiba, Oppa akan menjemputmu. Hati-hati. Oppa sayang kamu,” ucap Yoochun lalu perlahan sosoknya memudar setelah mengecup pipi adiknya.

“Jadi?” tanya Jinki sambil mengerling ke arah Mincha.

“Ja.. jadi a..apa mm..maksud..mu?” tanya Mincha tergagap.

“Sesuai pesan kakakmu! Berarti kau harus menjadi istriku! Berikan darahmu!” ujar Jinki sembari menyeringai menunjukkan taringnya yang panjang dan runcing membuat Mincha bergidik seram.

“Sakit, nggak?” tanya Mincha dengan tubuh gemetar.

“Tenang saja, aku akan melakukannya dengan lembut,” jawab Jinki sambil membelai rambut Mincha lembut, turun hingga punggung gadis itu dan mengusapnya pelan untuk menenangkannya. Sedang tangan satunya dia gunakan untuk menyibak rambut Mincha yang menutupi lehernya lalu memegangnya untuk menahan kepala gadis itu dan mulai mendekatkan wajahnya ke leher gadis itu.

Mincha yang sudah mulai rileks hanya bisa pasrah dengan sesuatu yang akan terjadi pada dirinya. Dia bisa merasakan sesuatu yang tajam mulai menembus lapisan kulit lehernya. Perih rasanya. Dia merintih menahan sakit sambil memegang lengan pria yang ada di hadapannya itu.

Jonghyun yang melihat hal itu hanya tersenyum misterius kemudian pergi meninggalkan Jinki dan Mincha berdua.

Semakin lama, Mincha semakin kehilangan kesadarannya dan akhirnya benar-benar terkulai lemas di tangan Jinki.

“Maafkan aku, Cha! Setelah ini, aku yang akan melindungimu! Sekarang bangunlah!” ujar Jinki lalu mengecup kening, kelopak mata, hidung dan terakhir bibir gadis itu dengan lembut. Perlahan mata gadis itu terbuka dan mengerjap berkali-kali.

“Jinki? Aduh, kepalaku pusing,” keluh Mincha begitu tersadar.

“Mian, Cha! Aku telah menjadikanmu sama sepertiku! Sekarang kamu harus ikut ke duniaku sebelum matahari terbit,” ajak Jinki sambil menggendong tubuh mungil calon istrinya tersebut dan melesat dalam kegelapan.

~~~

Mincha POV~

Di mana aku sekarang? Seingatku tadi aku masih di rumah. Ini di mana?

“Kamu sudah bangun?” sebuah suara mengagetkanku.

“Jonghyun? Ini di mana?” tanyaku begitu melihat sosok yang sudah kukenal sebagai adik dari Jinki.

“Ini? Ini adalah kamarmu di istana kami. Nanti malam akan diadakan pesta pernikahanmu dengan Jinki hyung,” jawab Jonghyun datar tanpa ekspresi.

“Hahh?? Per.. ni.. ka.. hanku? Dengan Jinki?” aku tersentak kaget masih tak percaya.

“Iya! Kenapa? Kamu nggak setuju? Dari awal juga kan dia udah bilang,” kata Jonghyun lagi dengan sinis.

“Kamu kenapa sih? Nggak suka kalo hyungmu nikah sama aku? Kenapa jadi sinis gitu sih sama aku?” tanyaku lagi mulai kesal dengan sikapnya.

“Menurutmu karena apa, hah?” tanyanya balik sambil berjalan mendekatiku dan menatapku tajam. Aku mulai merasakan keringat dingin menetes dari pelipisku.

“Apa maumu? Jangan macam-macam!” ucapku sok berani untuk menutupi rasa takutku.

“Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu! Karena itu sama saja bunuh diri jika menyakiti calon istrinya! Aku hanya butuh kepastian darimu! Kamu janji nggak akan melukai Jinki hyung?” tanyanya mulai melunak.

“Kalo aku emang niat ngelukain dia, udah mulai pertama bertemu langsung kulenyapkan dia! Jangan aneh-aneh deh,” balasku.

“Ya sudah kalo gitu! Maaf tadi aku bersikap ketus! Aku khawatir kamu akan menyakiti hyung, karena kamu adalah seorang pembasmi,” ucap Jonghyun lembut.

“Tapi kan sekarang aku sama seperti kalian! Kalo aku menggunakan kekuatan itu untuk membasminya, maka aku juga akan lenyap,” jawabku mulai sewot.

“Iya, iya! Aissh! Hyung, tabahkan hatimu mempunyai istri bawel seperti dia,” ucapnya sambil menunjuk ke arahku saat Jinki masuk ke dalam ruangan ini.

“Hahaha! Sudahlah! Kalian berisik! Kedengaran sampai luar tau?!” ujar Jinki kemudian berjalan mendekati kami berdua. Aku menekuk kedua kakiku lalu membenamkan wajahku di sela-sela lututku untuk menyembunyikan wajahku yang mulai memerah mengingat aku akan menikah dengannya.

“Cha? Kamu sudah enakan? Wah, aku nggak sabar menunggu nanti malam,” terdengar nada suaranya menggodaku membuat wajahku semakin memanas.

“Sebaiknya aku keluar saja! Takut pengen! Hahaha,” kata Jonghyun semakin menggodaku. Sial! Awas kau nanti!

“Hei! Masa calon suami datang malah dicuekin sih?” bisik Jinki di telingaku. Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan posisi kepala tetap ngumpet.

“Sudahlah! Tenagamu belum pulih benar. Tidurlah dulu, nanti sore bersiap untuk pernikahan kita nanti malam. Sekarang istirahat saja,” katanya lagi sambil menarik bahuku agar rebah di ranjang. Aku menoleh ke arahnya sebelum dia beranjak pergi.

“Apa benar kita akan menikah? Apa tidak terlalu cepat?” tanyaku akhirnya. Kulihat dia menghentikan langkahnya.

“Kamu nggak yakin ama perasaanku, Cha? Aku nggak mau menundanya. Aku nggak mau terlambat mengikat perasaan kita,” ujar Jinki keras.

“Kenapa harus marah, sih? Aku kan tanya baik-baik. Huhh,” ucapku ikutan kesal lalu menggembungkan kedua pipiku lalu kupejamkan mataku rapat-rapat.

Perlahan kurasakan beban di ranjang bertambah. Aku berusaha tidak peduli meski jantungku sebenarnya berdegup kencang.

“Maaf! Ya udah! Sekarang kamu istirahat dulu,” kudengar suaranya lembut dan kurasakan sebuah tangan mengelus pipiku pelan membuatku membuka kedua mataku dan menatapnya dalam. *sumur kali’*

“Aku takut! Aku ngerasa belum siap! Aku takut ntar bakal ngecewain kamu,” ucapku lirih dan bulir-bulir hangat menetes keluar dari kedua mataku.

“Hyuuuung, aku tau looooh sekarang Mincha nangis! Udah mau nikah aja masih berani-beraninya bikin nangis! Heran,” teriak Jonghyun dari balik pintu.

“Ah, tu bocah tau aja kamu lagi nangis! Belum siap kenapa sih? Alasan apa itu? Lagipula sebelum aku menggigitmu kemarin kan aku sudah bilang padamu. Setelah menjadikanmu sama sepertiku, kau harus menjadi istriku. Dan juga Oppamu sudah menitipkanmu padaku,” kata Jinki dan membelai rambutku dengan lembut.

Wajahku memanas lagi karena perlakuannya. Aduh, kenapa aku jadi gugup begini kalo di dekatnya? Biasanya kan aku cuek aja.

“Kamu kok kayaknya jadi aneh ya, sekarang?” tanyaku sambil memaksakan diriku untuk menatap matanya tajam. Kuperhatikan terus menerus.

“A..a.. Aneh gimana? Nggak ah! Biasa aja! Kamu jangan ngeliatin aku kayak gitu….,” pintanya tergagap. Aku segera tersadar dan memalingkan wajahku darinya.

“Ya, aneh aja! Jinki yang kukenal itu hobinya ngedumel sendiri, ngomel-ngomel, mmh… apa lagi ya?” sebutku lalu menyentuh bibirku dengan telunjukku seraya berpikir.

“Yak! Sebutin aja semua kejelekanku!” teriaknya sebal.

Hihihi, entah kenapa aku suka melihat wajahnya jika sedang sebal seperti itu. Refleks aku melingkarkan kedua tannganku di pinggangnya dan membenamkan wajahku di dadanya.

“Hahaha! Itu baru Jinki!” tawaku sambil terus memeluknya. Dapat kurasakan degup jantungnya.

Kini aku sudah tidak peduli lagi. Aku sadar kalo aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Senang juga mengetahui bahwa diriku tidak bertepuk sebelah tangan.

“Hyaaa! Mincha! Lepaskan aku! Aku bisa mati kalo kamu peluk seerat ini,” pintanya sambil menjauhkanku darinya. Begitu terlepas aku mengerucutkan bibirku, lagi. Sebal. Kulirik dia dengan tatapan sinis.

“Awas kau, ya! Huh!” gerutuku lalu kembali merebahkan tubuhku di ranjang dan menarik selimut hingga menutupi wajahku.

“Jangan ngambek dong! Cha!” kudengar suaranya memohon. Ah, bodo amat lah. Aku mau tidur aja! Perlahan kupejamkan kedua mataku, hingga tak kudengar lagi suaranya.

***

Jinki POV~

“Cha! Please! Jangan ngambek! Masa gitu aja, ngambek?” pintaku memelas. Tapi tetap saja tak ada reaksi apapun darinya. Apa dia semarah itu? Tapi aku beneran bisa mati kalo dia memelukku seperti itu. Aku nggak bisa mengontrol degup jantungku yang seperti berpacu saat dia memelukku. Aku mengacak rambutku frustasi.

“Cha!” teriakku lagi. Kini sambil menyingkap selimut yang membungkus dirinya. Kulihat dia menggeliat dan sedikit mengerang karena tidurnya terganggu, tapi setelah itu dia tetap tidur seolah tanpa beban.

Sial! Tidur? Ugh, kirain ngambek! Dasar cewek aneh! gerutuku dalam hati sambil menyelimutinya kembali.

Kupandangi wajah tidurnya yang damai. Baru kali ini aku melihatnya tidur tanpa beban. Aku tersenyum sendiri melihat wajah polosnya. Tidurlah! Nanti malam aku tidak akan membiarkanmu tertidur. Batinku seraya tersenyum licik.

Kurebahkan diriku disisinya lalu kugenggam tangannya. Dan tak lama kemudian aku menyusulnya ke alam mimpi.

***

“Hyung! Mincha! Bangun oi! Udah soreeee! BANGUUUUN!” teriak Jonghyun membahana di ruangan kamar itu.

“Kalian ini! Belum nikah udah maen bobok bareng aja!” gerutunya saat melihat Jinki dan Mincha membuka mata dan merenggangkan kedua tangan mereka.

“Hah? Bobok bareng?” tanya Mincha heran.

“Ah, tadi aku ngantuk banget! Jadi ya udah aku bobok di sini aja. Hehe.. Aku nggak ngapa-ngapain kok. Beneran deh,” ujar Jinki seraya mengangkat tangannya dan membentuk huruf V dengan dua jarinya.

“Yakin, hyung, gag ngapa-ngapain?” goda Jonghyun membuat wajah Jinki memerah(lagi).

“Emang menurutmu aku ngapain? Dasar dongsaeng rese’….,” gerutu Jinki kesal lalu beranjak keluar dari kamar calon pengantinnya itu. “Oh, iya! Cha, mandi dulu sana biar segar! Terus, pake gaun yang udah kusiapkan di dalam lemari itu,” ucapnya lagi sebelum membuka pintu. “Heh! Kamu ngapain masih di situ? Keluar! Kamu mau ngintipin calon kakak iparmu?” bentaknya pada Jonghyun sebelum dia benar-benar keluar dari kamar.

“Ne, hyung! Aku keluar!”ujar Jonghyun sambil berjalan menuju pintu dan menutupnya setelah dia berada di luar.

~~~

Mincha side>>>

‘Duh, gaunnya napa item sih? Kesannya nambah serem ajah. Hikz,’ batin seorang gadis yang sekarang sedang duduk di tepi ranjang sambil menyentuh ranjang yang telah disiapkan oleh calon suaminya tadi.

‘Ya sudahlah! Pakai saja,’ putus gadis itu akhirnya karena tidak ada pilihan lain.

Setelah mengganti pakaiannya dengan gaun hitam panjang tersebut, Mincha mematut dirinya di depan cermin. Lalu dia duduk di depan meja rias, mulai menyisiri rambutnya yang lurus sebahu dan mengikatnya di sisi kiri atas. Tak lupa menambahkan jepitan rambut kesayangannya yang masih setia bertengger di kepalanya setiap hari. Karena dia memang tidak pernah berdandan, jadilah dia hanya memoleskan bedak tipis-tipis di wajahnya. Mincha tidak suka menggunakan make up. Hanya akan membuatnya seperti lenong, menurutnya.

“Hmm, not bad lah,” ucapnya puas sembari menatap cermin yang memantulkan bayangan dirinya yang kini nampak cantik dalam balutan gaun sederhana.

“Sekarang ngapain, ya? Mau tiduran, ntar bajunya kusut. Mau keluar, ntar nyasar. Aduuuh,” ujarnya berbicara sendiri.

“Oppa! Apakah perasaanku ini benar, seperti yang oppa katakan?” tanya Mincha sambil menatap foto Yoochun oppa yang terdapat di bandul kalung yang dia kenakan.

“Mengapa oppa begitu cepat pergi meninggalkanku? Aku merindukanmu,” ucap Mincha lalu menggenggam bandul itu dengan erat. Dirasakan matanya memanas dan bulir air mata mulai mendesak keluar.

TOK TOK TOK….

Buru-buru Mincha menghapus air mata yang bersiap meluncur membasahi kedua pipinya.

“Siapa?” tanya gadis itu sambil berjalan ke arah pintu.

“Aku! Jonghyun,” jawab Jonghyun dari balik pintu.

Mincha segera membukakan pintu kamarnya untuk adik tiri Jinki itu. Jonghyun terpana melihat penampilan Mincha yang tampak anggun saat itu.

“Ini! Aku mengantarkan sepatumu,” ujar Jonghyun setelah dipersilakan masuk oleh Mincha.

“Hah? High heels 13 cm? Nggak salah nih? Cari mati ya dia?” pekik Mincha begitu membuka kotak sepatu yang dibawa Jonghyun.

“Apa, Cha? Yakin 13? Sepertinya aku yang salah bawa. Hehe,” ucap Jonghyun lalu segera berlari keluar melihat Mincha mengangkat sepatu itu untuk dilempar ke arahnya.

“Hhhhh….. Jonghyun gilaaaaa! Padahal Jinki nggak se-stress itu, kenapa bisa punya adek yang gendeng seperti Jonghyun?” gerutu Mincha sebal.

~~~

Jinki side>>>

Tampak seorang pria sudah rapi dengan setelan tuxedo hitam kelam yang dikenakannya. Dia bercermin sambil sedikit memperbaiki kerah pakaiannya.

“Ya! Jonghyun! Daripada kau bengong di situ ngeliatin hyungmu yang tampan ini, lebih baik kamu antarkan sepatu untuk Mincha,” perintah pria tersebut pada adiknya yang berdiam diri di dekat pintu sambil menatapnya terus menerus.

“Kenapa harus aku? Sepatu yang mana?” keluh Jonghyun pada Jinki, hyungnya.

“Karena aku masih sibuk. Ambil di tempat penyimpanan sepatu, tapi jangan yang high heels. Kamu kan tau dia kayak gimana tingkahnya, kalo pake sepatu kayak gitu ntar jatuh,” titah Jinki tak bisa dibantah lagi.

Dengan langkah gontai, Jonghyun keluar dari ruangan itu untuk melaksanakan titah sang pangeran kegelapan, eh, ralat, pangeran vampire.

“Aduuuh, aku gugup nih! Sejam lagi, ya? Aduh, aduh…,” ujar Jinki sambil bolak-balik melihat arlojinya.

“Hahaha! Jangan tegang seperti itu, anakku! Udah kayak mau mati aja,” tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Jinki.

“Appa!” seru Jinki melihat kehadiran Appa-nya. “Aku kan baru pertama kali akan menikah. Wajar dong, kalo gugup!” ucapnya penuh kecemasan.

“Tenang saja! Kau ikuti saja perasaanmu, semua akan baik-baik saja. Kalo kau tegang seperti itu, nanti semua bisa berantakan. Rileks saja,” ucap sang raja dengan bijak.

“Baiklah. Fyuuuh, tenang, Jinki.. Tenaaang, Rileks,” kata Jinki mencoba menenangkan kegugupannya.

Suasana hening sejenak.

“Appa, benar tidak apa, aku menikah dengannya? Dia kan pembasmi?” tanya Jinki heran.

“Tak apa! Dia tidak pernah melukai bangsa kita yang tidak cari keributan di dunianya, bukan? Kelihatannya dia hanya akan bertindak jika melihat ada makhluk tak bersalah yang teraniaya. Dia nggak akan bertindak asal ada vampire. Buktinya sampai sekarang selama kau dan Jonghyun bersamanya, kalian baik-baik saja. Dan lagi, kekuatan yang dimilikinya sudah tidak berlaku lagi. Dia sudah akan menjadi istrimu, pendamping hidupmu. Lindungi dia sepenuh hatimu. Sekarang giliranmu yang melindunginya dari gangguan apapun,” ungkap Raja Lee panjaaaaaaaang kayak rel kereta api.

“Iya, sih! Maaf, Appa! Jinki sudah mencintai manusia,” pinta Jinki sambil menundukkan kepalanya.

“Sudahlah! Kita nggak akan bisa menolak takdir. Appa nggak mungkin marah,” ujar Raja Lee sambil mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih. “Ayo, kita ke aula. Sudah saatnya,” lanjutnya.

Jinki mengangguk lalu berjalan di sisi ayahnya sambil memegang lengan ayahnya dengan manja.

“Wah, udah mau nikah masih manja begini? Nggak malu sama istrimu nanti?” ledek Raja Lee.

“Ah, Appa! Jangan sebut-sebut hal itu terus,” ucap Jinki dengan wajah memerah.

~~~

***

Setelah acara pernikahan. Di dalam kamar.

“Emm, Jinki! Maaf ya, selama ini aku sering galak sama kalian! Aku… aku bingung harus bersikap bagaimana.. Maafin aku,” pinta Mincha sambil menatap ke arah Jinki.

“Errr, maafin aku juga. Aku sering ngerepotin kamu kemarin-kemarin,” pinta Jinki lembut sambil balas menatap Mincha tepat di manik matanya.

“Kau jangan melihatku seperti itu. Aku jadi takut tauk. Kamu udah kayak mau makan aku aja,” ucap Mincha berusaha memalingkan wajahnya.

“Aku bukan mau makan kamu! Aku mau menyelamimu,” balas Jinki yang lalu segera mendorong Mincha ke atas ranjang.

OKE! BAGIAN INI BUKAN KONSUMSI ANAK-ANAK! JADI AKU SKIP. MMM… SEBENERNYA SIH, EMANG AKU NGGAK BIKIN. HAHAHA…. AKU JUGA KAN MASIH DI BAWAH UMUR.

***

Jonghyun POV~

“Hyung udah nikah! Aku jadi nggak ada temen main lagi, deh!” keluhku sambil berjalan-jalan di taman istana.

“Kata siapa nggak ada temen main?” sebuah suara menghentikan langkahku dan segera berbalik ke belakang untuk mengetahui si pemilik suara.

“Hyung! Mincha!” ucapku terkejut senang melihat kehadiran mereka berdua.

“Ayo, jawab! Pemikiran darimana kalo aku nikah nggak bisa nemenin kamu main?” tanya Jinki hyung sambil menatapku galak.

“Mincha! Selamatkan aku dari suamimu,” ujarku sambil menarik Mincha dari sisi Jinki hyung agar melindungiku di depanku.

“Yak! Jangan sembunyi di belakangnya! Jjong! Sini kamu,” ucapnya sambil berusaha menarikku dari balik tubuh istrinya. Lebih baik aku kabur saja. Aku lari secepat-cepatnya dari situ.

“Hahaha! Kalian ini, ya! Benar-benar seperti anak kecil,” tawa Mincha melihat kelakuan kami.

Akhirnya aku tertangkap juga oleh hyung-ku, akibat langkahku yang kalah panjang dengannya. Kami berguling-guling di atas rumput, saling menggelitiki satu sama lain. Setelah lelah, kami pun berbaring telentang berdampingan, kemudian Mincha datang menghampiri kami dan menundukkan badannya.

“Sudah lelah, tuan-tuan?” godanya lalu duduk dan menekuk lututnya di samping Jinki hyung.

Kulihat dia tersenyum menatap langit. Kualihkan pandanganku ke arah Jinki hyung. Dia tersenyum bahagia melihat Mincha kemudian ikut duduk.

“Mengapa senyum-senyum begitu?” tanyanya pada Mincha.

“Tidak apa-apa. Melihat kalian, aku jadi teringat oppa-ku!” jawab Mincha lalu menyenderkan kepalanya di lengan Jinki hyung. Aku sudah seperti obat nyamuk aja, menyaksikan mereka pacaran. Mereka nikah dulu baru pacaran. Lucu juga.

“Kamu mikir apa, Jjong! Jangan dikira aku nggak tau,” ucap Mincha tiba-tiba.

“Hah? Nggak kok! Bukan apa-apa. Hehe,” sangkalku sambil tertawa gaje. Bahaya! Danger!

“Kamu nggak mau menyusul kami, Jjong?” tanya Jinki hyung.

“Hah? M.. mak.. sud hyung apaan, sih?” tanyaku gugup. Aku tahu dengan jelas maksud perkataan Jinki hyung. Tapi aku masih belum berani melamar Hyemin, kekasihku.

“Nggak usah sok lugu deh! Buruan lamar Park Hyemin! Ntar keburu keduluan yang lain! Jangan sampai kamu menyesal,” ucap Jinki hyung membuat wajahku memanas.

“Aissh, hyung! Aku malu! Ada Mincha itu, kenapa mengatakan hal itu,” gerutuku sebal.

“Kenapa harus malu? Itulah cinta! Harus segera diungkapkan! Jangan sampai cintamu direbut yang lain!” ungkap Mincha lugas kemudian menoleh kepada suaminya,”benar, kan?”

“Kalian kompak sekali kalo menggodaku!” ucapku pelan sambil menatap air mancur di taman ini.

“Kami tidak menggodamu, tauk! Kami memberitahumu! Cepat lamar Park Hye Min sebelum terlambat,” ucap Jinki hyung setelah menjitak kepalaku. Aissh sakit.

“Atau kau perlu kami temani?” tawar Mincha dengan tulus.

“Baiklah! Besok aku akan melamarnya!” putusku akhirnya.”Kalian…” aku tidak melanjutkan perkataanku.

“Kami kenapa?” tanya Mincha polos. Gemas aku melihatnya.

“Mmmmh, cinta tu apa sih?” tanyaku akhirnya.

“Cinta itu nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Yang pasti, kita merasa nyaman, aman dengan orang tersebut dan tidak ingin kehilangannya,” jawab Mincha kemudian tersenyum manis. Imutnyaaaa.

“Dan kita nggak rela melihat orang yang kita cintai tersakiti. Kita akan melindungi orang itu dengan sepenuh hati, bahkan kalo nyawa yang menjadi taruhannya, kita tetap rela melindunginya,” ucap Jinki hyung melanjutkan.

“Ooo… Kalian ini beneran deh. Kompak banget,” kataku.

“Oh, iya, hyung! Kalo Mincha kurebut gimana?” godaku membuat Mincha membelalakkan matanya, sedangkan Jinki hyung mengulurkan tangannya untuk memukulku.

“Hwahahaha…. Appaaaaa, tolong akuuu! Jinki hyung ingin memukulku,” aduku sambil berlari ke arah appa yang berjalan mendekati kami.

“Kamu menggoda mereka sih!” jawab Appa sambil menjewer kupingku. Kulihat Jinki hyung dan Mincha menertawakanku.

“Aaauww, sakiiiit,” jeritku.

***

Akhirnyaaaa, selesai juga!! Mian, kalo judulnya agak nggak nyambung.. *reader: agak? Kagak nyambung beneran ini, mah* *author: toel2 lantai di pojokan ama Changmin oppa*

Seperti biasaaaaaa………… Jangan lupa  comment!! Awas nggak comment.. *ngancem mode On*

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

32 thoughts on “About Love [2.2]”

  1. OOOOIIIII AUTHOR~~ *teriakgaje*
    kau berhasil author!
    Kau berhasil ! *alasinetron*
    kau berhasil membuat ku ngakak guling guling di atas genteng (?)
    alamaaaaaaaaaaaak, aku suka bgt sama karakter jonghyun disini~
    lawak bgt ah, dongsaeng pabo! /plak

    BIG THUMBS FOR AUTHOR.
    aku tunggu karya dikau yg lain.

  2. @ miku: tinggal baca aja mah ga ush mikir lgy neng… hehe…. gomawo udh comment…. ^^

    @ suci: ooo… y iya dong… khas mincha kan always happy ending… fufufu… gomawo udh comment… ^^

    @ keychan: BERISIK OII… JNG TEREAK2 NAPA??! *stress*
    fufufu… jjong emank lucu…
    gomawo udh comment…. ^^

  3. huwaa, happy end dah…
    keren dah, ffnya…
    tpi sbtulnya pengen liat jonghyun nglmar cew pujaannya ntu…
    bikinin part specialnya dunk… *maksa author*
    hehehe…

  4. wahahaha aku bisa membayangkan betapa tampan dan bersinarnya Yoochun di balik cahaya HUAHAHAHA :3
    iyaaaa kok ga dikasih liat jonghyun nikah sama ceweknya??

  5. hiyaaa….. ^^
    ceritanya simple tapi membekas *ceilah uchi bahasanya*
    alur ceritanya juga enak, ngalir gitu…..
    huaaa keren2 ffnya~~~ d><b

  6. @ Gemala: Ringan dan segar?? apa y?? thanks udh comment…
    @ putri: gy males bikin sequelx… hehe… ^^
    @ dinda: Omo!! No way!
    @ Aku Shawol: Gomawo >,,<
    @ Xiahanna: Hehehehe…. Gpp lah… sekali2…. *d injek

    1. mandaaaaaaaa
      ituu
      amandaaa
      masa gak tau, mii ??

      nakornya sama ama si manda ahjumma..
      pairingnya ama si jjong pula =.=

  7. hahahhaaaaa.a….. ceritanya bagus, thor….
    asiiikkk…. gak ada konflik ‘menggemparkan’ alal sinetron Indonesia….
    Tp tetep sweet… Pencarian Mincha akan sosok pengganti kakaknya yg hilang hadir melalui
    sosok sang suami cakep, keren, lucu, bijaksana, lembut, penyayang,…bla bla bla
    #dikepret Jjong….
    aku iri ma mincha…. mau punya suami kyak Jinki,…..
    Jinki ya…. Mau gigit leherku n ambil darahku jg boleh…. sini….. ^ ^ ….
    kekekkeeee….. #diinjek author n readers rame2…..
    mksih ceritanya… menghibur bgt….
    terus nulis yah….
    eonni dukung….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s