The Sweet Escape – Part 3

The Sweet Escape – Part 3

Author            :           Park Kyungjin

Main Cast      :           SHINee – Kim Jonghyun

Park Kyungjin a.k.a author

Other Cast     :           SHINee – Lee Taemin

Genre             :           Angst, Romance

Rating             :           PG+15

Disclaimer      :           This story is mine!

+++

Ya. Bisa saja orang ini hanya berpura-pura. Mungkin saja ia hanya mengarang semua ceritanya itu.

“Kau percaya padaku kan? Jebal…” ia lalu menanyakan hal itu padaku sambil memasang tatapan yang, aarrrggghh, sangat memelas!

Ayolah, Kyungjin. Kau jangan mudah percaya dengan orang ini. Dia itu buronan.

“Emmm… Mungkin…”

Astaga. Apa yang baru saja ku katakan? Oke, dia memang tidak terlihat sebagai orang yang bertampang kriminal. Lagipula, aku tidak tahan melihat tatapan memelasnya itu.

“Benarkah?” ia terlihat begitu bersemangat mengatakan itu.

“Eeeerr, aku akan coba” jawabku dengan ragu.

“Ah kumohon, percayalah padaku sepenuhnya. Aku tidak berbohong. Aku sangat memerlukan kepercayaanmu”

“Ne…”

Dan seketika pula ia menyunggingkan senyuman yang sangat lebar sambil melompat kegirangan.

Astaga. Pabo. Apa yang telah kulakukan? Itu kan sama saja dengan mencelakakan diriku sendiri. Bagaimanapun, dia ini tetap seseorang yang sedang kabur dari penjara. Buronan!

Tapi, aku juga cukup senang melihatnya begitu bahagia. Lagipula, ia terlihat mirip dengan idolaku. Hanya saja, mereka berbeda kepribadian. Tanpa sadar seulas senyum terbentuk di wajahku.

Ia masih saja terus melompat kegirangan namun tiba-tiba ia meringis kesakitan.

“Auuchhhhhhhh”

“Kau kenapa?”

Ia tidak menjawab pertanyaanku, namun ia terus saja memandang ke arah kakinya. Aku jadi penasaran apa yang telah terjadi pada namja ini. Aku mendekatinya dan saat itu juga aku bisa melihat ada luka yang cukup besar di kakinya itu. Darah yang keluar dari luka itu terlihat sudah mengering. Ih, lukanya cukup parah.

“Jonghyun-ssi. Lukamu sangat parah. Kalau kau mau, aku bisa membersihkan lukamu itu dan memberinya obat”

“Oh, apa tidak merepotkanmu?”

“Anni. Ayo, kita bisa mengobatinya di ruang tengah”

Aku mengajaknya untuk keluar dari kamarku dan berjalan menuju ruang tengah. Namun aku melihatnya agak kesulitan berjalan. Aku lalu mencoba membantunya berjalan.

“Jonghyun-ssi, kau duduk di sini dulu ya. Aku akan ambil kotak obat” aku kemudian menyuruhnya duduk di sofa.

“Oh, ne”

Tak lama kemudian, aku kembali dengan membawa kotak obat dan baskom yang berisi air hangat. Aku menyuruhnya untuk mengangkat kakinya ke atas sofa dan aku mulai membersihkan bekas darah yang mongering di sekitar lukanya itu dengan air hangat.

“Auchhhhhhhhhhhh…”

“Oh, sakit ya? Mian”

“Tidak apa-apa”

Aku kembali membersihkan lukanya namun tiba-tiba aku menyakitinya lagi. Ia malah tiba-tiba memegang tanganku.

“Aaaaaaarrrggghhhhhhhhhhh…”

“Oh, Jonghyun-ssi. Mian. Mian”

Aku merasa sangat bersalah pada Jonghyun. Namun sejak ia memegang tanganku, wajahku jadi memerah. Aku hanya bisa menunduk sambil menatap tangannya yang kini menggenggam tanganku itu, namun kemudian aku tersadar akan sesuatu.

“Jonghyun-ssi. Tanganmu kenapa?” ia hanya diam menanggapi pertanyaanku dan menarik kembali tangannya.

Aku lalu mengambil tangannya dan memperhatikannya dengan seksama. Astaga. Ada banyak luka goresan di telapak tangannya. Aku buru-buru membersihkan lukanya dan memberinya antiseptik di bagian tangan dan kakinya. Aku kemudian mengambil perban di dalam kotak obat itu dan membalut semua luka di tangan dan kakinya itu.

“Nah. Sudah selesai” kataku pada Jonghyun.

“Ne. Gomawo”

“Apa masih ada yang luka?”

Ia hanya menggeleng cepat namun aku menemukan ada sesuatu yang aneh di pipi kanannya.

“Itu ada luka gores” kataku sambil menunjuk-nunjuk bagian pipinya itu.

“Ah, ini hanya luka kecil saja. Tidak apa-apa”

“Jangan begitu. Lebih baik luka itu juga segera diobati”

“Tidak usah”

Aku tidak menyerah. Aku lalu mengambil sehelai kapas lalu memberinya cairan antiseptik dan mengoleskannya dengan paksa ke pipi Jonghyun.

Awalnya ia nampak keberatan, namun ia akhirnya menurut dan membiarkanku memoles wajahnya. Aku memolesnya dengan sangat serius sampai-sampai aku tidak sadar bahwa jarak antara wajahnya dengan wajahku tak lebih dari 10 senti. Ia lalu menatapku yang tengah sibuk dengan lukanya hingga beberapa saat kemudian aku baru tersadar.

Astaga. Dalam jarak sedekat ini, aku bisa melihat dengan jelas wajahnya yang tampan itu memerah. Dan tak perlu waktu yang lama untuk membuat pipiku juga ikut memerah.

Aku jadi salah tingkah dan menghentikan kegiatan memoles wajahnya itu, lalu buru-buru menjauhkan wajahku dari wajahnya.

Diam. Seketika suasana di sini jadi terasa sangat canggung hingga akhirnya ia memulai kembali percakapan.

“Gomawo”

“Oh, ne” aku membalasnya dengan sedikit tersenyum kikuk.

“Caramu merawat lukaku sangat baik. Kau berbakat untuk menjadi seorang dokter”

“Ah, biasa saja. Kau ini pasti bisa lebih baik dariku. Kau kan calon dokter yang jenius”

“Hahahah. Ada-ada saja. Nona yang baik hati, sepertinya dari tadi aku belum mengetahui namamu”

“Oh. Kyungjin. Park Kyungjin imnida”

“Kyungjin? Nama yang unik. Kau masih sekolah?” katanya sambil tersenyum. Pipiku yang sudah memerah ini menjadi tambah merah.

“Gomawo, Jonghyun-ssi. Ne, aku masih kelas 2 SMA”

“Ya! Kyungjin, kau tak usah memanggilku seperti itu. Kau cukup memanggilku Jonghyun saja. Lagipula, kurasa kita masih seumuran”

“Ah, masa? Tentu saja kau itu lebih tua dariku. Tahun ini kan sudah tahun keduamu menginjak bangku kuliah”

“Hahaha. Aku kan sudah cerita padamu. Kau sudah lupa ya?”

“Cerita apa?”

“Aku menyelesaikan sekolahku sewaktu masih menginjak usia 15 tahun, 2 tahun lalu. Jadi sekarang usiaku kira-kira masih sama sepertimu, 17 tahun”

“Mwo?”

“Hahahah. Sepertinya kau tidak menyimak penjelasanku tadi dengan baik” ia menertawaiku.

“Oh, ne. Aku sudah ingat. Ternyata kau menyelesaikan sekolahmu dengan sangat cepat. Wow, hebat!”

“Ah, tidak usah berlebihan”

Ia lalu memusatkan pandangannya pada jam dinding di ruang tengahku ini. Aku mengikutinya. Ternyata 15 menit lagi waktu sudah menunjukkan pukul 7.

“Kyungjin. Kau kan masih sekolah, apa kau tidak mau ke sekolah? Tidak lama lagi kelas akan dimulai”

“MWO?!”

Ah. Aku baru sadar. Aku sudah terlalu sibuk mengurus namja ini sampai-sampai aku sendiri lupa kalau aku ini punya kewajiban lain. SEKOLAH! Dan 15 MENIT LAGI WAKTU BELAJAR AKAN DIMULAI!! Omo. AKU TERLAMBAT!

Jonghyun hanya bisa menatapku dengan tatapan prihatin sementara aku hanya bisa berteriak sambil berlari ke kamar mandi.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…”

Sepuluh menit kemudian, aku sudah siap dengan seragam sekolahku. Aku buru-buru menyambar sepatuku dan berlari keluar rumah. Aku bahkan belum sempat sarapan. Keterlambatan ini sudah tidak bisa kupungkiri lagi.

Aku buru-buru mengunci pintu rumahku dari luar dan segera berlari menuju halte bus. Dan saat bus yang akan membawaku ke sekolah ini sudah melaju dengan cepat, aku baru tersadar akan satu hal.

Aku meninggalkan Jonghyun sendirian di rumahku!

+++

(Jonghyun P.O.V)

Aku senang sekali. Yeoja itu ternyata mau mempercayaiku, meski ku lihat ada keraguan yang nampak di wajahnya. Aku melompat-lompat saking girangnya namun aku tiba-tiba merasakan sakit di bagian kakiku.

“Auuchhhhhhhh”

“Kau kenapa?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku sudah sangat merasa kesakitan. Namun tak lama kemudian, ia menghampiriku dan melihat luka yang cukup parah di kakiku ini.

Ia kemudian menawarkan untuk mengobati lukaku. Sebenarnya aku merasa sungkan, namun aku tidak punya pilihan lain. Ia lalu membawaku ke ruang tengahnya dan meninggalkanku beberapa saat. Sesaat kemudian, ia kembali dengan membawa perlengkapan obat-obatan.

Ia membersihkan lukaku serta membalutnya dengan perban. Bukan cuma luka di kakiku, tapi juga luka di tanganku. Ia merawat lukaku dengan sangat baik.

“Nah. Sudah selesai” katanya.

“Ne. Gomawo”

“Apa masih ada yang luka?”

Aku langsung menggeleng cepat, namun ternyata ia menemukan luka gores di pipi kananku.

“Itu ada luka gores” katanya sambil menunjuk-nunjuk pipiku.

“Ah, ini hanya luka kecil saja. Tidak apa-apa”

“Jangan begitu. Lebih baik luka itu juga segera diobati”

“Tidak usah”

Aku rasa luka yang satu ini tidak perlu diobati. Hanya luka gores saja. Aku malah baru sadar kalau di pipiku ini ada luka.

Tapi ia tetap saja mengambil kapas, memberinya cairan antiseptik dan langsung mengolesinya ke pipiku.

Omo. Jarak wajahku dan wajahnya kini sangat dekat. Aku malah tertarik memperhatikannya yang begitu serius mengobati lukaku.

Neomu yeppeo.

Namun tak lama kemudian ia menyadarinya dan berhenti memoles lukaku, lalu segera menjauhkan wajahnya dari wajahku. Dan kulihat, ada semburat merah di pipinya. Ah, dia jadi bertambah manis.

Kurasa wajahku juga memerah sedari tadi. Kami terdiam beberapa saat hingga akhirnya aku membuka pembicaraan.

“Gomawo”

“Oh, ne”

Aku baru sadar, dari tadi aku belum mengetahui namanya.

“Oh. Kyungjin. Park Kyungjin imnida”

“Kyungjin? Nama yang unik. Kau masih sekolah?” aku lalu menanyakan tentang sekolahnya.

“Gomawo, Jonghyun-ssi. Ne, aku masih kelas 2 SMA”

Aish. Dari tadi ia terus saja memanggil namaku dengan embel-embel –ssi. Kedengarannya aneh, terlalu terkesan formal. Kelas 2 SMA? Berarti aku masih seumuran dengannya.

“Ya! Kyungjin, kau tak usah memanggilku seperti itu. Kau cukup memanggilku Jonghyun saja. Lagipula, kurasa kita masih seumuran”

Ia terlihat tidak percaya. Sepertinya ia lupa dengan penjelasanku sebelumnya sehingga aku harus kembali mengingatkannya hingga akhirnya ia ingat kembali.

Tapi tunggu sebentar, kelas 2 SMA? Berarti ia harus ke sekolah, hari ini kan bukan hari libur. Aku kemudian mengedarkan pandanganku ke penjuru ruangan ini dan mencari sebuah benda yang bisa menunjukkan waktu.

Nah, itu dia. Astaga, sudah hampir jam 7. Sepertinya ia belum sadar. Akhirnya aku mencoba mengingatkannya dan ternyata ia benar-benar lupa.

Ia hanya bisa berteriak sambil berlari masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya kamar mandi. Ajaib. Dalam waktu 10 menit, ia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia sangat terburu-buru menyambar sepatunya dan berlari keluar rumah. Aku mengikuti langkahnya dengan tertatih-tatih dan belum sempat aku menemuinya, pintu sudah ia kunci dengan rapat dari luar.

Aku memaksakan diriku berlari mendekati pintu dan menggedor-gedor pintu itu sambil meneriakkan namanya.

“HEIII! KYUNGJIIIIIIIIIIIIIIIIN!”

Namun sia-sia, aku mengintip melalui jendela yang ada di dekat pintu dan sudah tidak ada sosok Kyungjin di luar sana.

Ottokhae? Sekarang aku malah terkunci di rumah orang lain SENDIRIAN tanpa pemiliknya. Aku bisa saja keluar dari rumah dengan cara yang sama dengan caraku memasukinya. Tapi aku rasa terlalu bahaya kalau aku keluar sekarang karena bisa saja polisi sedang berkeliaran mencariku. Akhirnya kuputuskan untuk bersembunyi sejenak di rumah ini sambil menunggu Kyungjin pulang.

+++

(Kyungjin P.O.V)

Aku tiba di sekolah dengan selamat. Namun jam di sekolahku sudah menunjukkan pukul 07.30 yang artinya aku sudah terlambat setengah jam. Wow. Guru piket yang menyambut kedatanganku itu hanya tersenyum kecut sambil menggiringku ke ruang BP. Kim sonsaengnim.

“Park Kyungjin, kau tahu kau sudah terlambat berapa menit?”

“Ne, sonsaengnim. Aku rasa sudah setengah jam”

“Bagus. Apa kau punya alasan yang cukup logis tentang ini?”

Aku berpikir sejenak. Tentu saja aku punya. Aku mulai menyusun sebuah alasan di kepalaku. Sebenarnya aku bangun tidur tepat waktu seperti biasanya namun rumahku yang selama ini ku tinggali sendiri itu kini didatangi oleh hantu.

Oke ralat, tadinya aku memang mengira ia hantu namun ternyata ia sama sekali bukan hantu. Ia seorang namja yang terlihat tampan.

Oke, baik, baik, bagian yang “tampan” itu tidak usah disebutkan. Ia memang terlihat seperti namja biasanya namun itu menjadi tidak biasa sejak ia memasuki rumahku secara diam-diam, tapatnya di dalam kamarku melalui sebuah jendela.

Dia itu seorang pemerkosa! Ah tidak tidak, dia bukan pemerkosa, tapi dia itu buronan! Ya, dia memang buronan yang semalam kabur dari tempat di mana ia seharusnya berada. Entah apa yang sudah dia katakan sampai membuatku percaya padanya, dan untuk mendengarkan semua penjelasannya saja sudah membuang waktu yang biasa kugunakan untuk mandi dan sarapan.

Belum cukup sampai di situ, aku bahkan menyempatkan diri untuk mengobati sekujur tubuhnya yang dipenuhi luka itu, dan itu juga memakan waktu yang cukup lama. Ini semua karena namja itu.

Oh oke oke, dia tidak sepenuhnya salah karena memang aku sendiri yang lupa untuk ke sekolah.

Aduh, tapi kalau aku mengatakan itu kepada Kim sonsaengnim, itu sama saja membunuh diriku sendiri.

Akhirnya kubiarkan segudang alasan yang telah kurangkai itu hanya bergejolak di kepalaku saja.

“Mianhae, sonsaengnim. Pagi ini aku bangun terlambat, dan saat berangkat menuju ke sini, jalanan sudah dipenuhi kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. Macet”

Aku mengatakannya dengan sedikit ragu. Ah, setidaknya aku tidak sepenuhnya berbohong, tadi memang aku sempat terkena macet.

“Ne. Tapi kau tetap saja terlambat. Jadi sudah sepatutnya kau menerima hukuman”

“Ne, sonsaengnim” aku menjawabnya dengan pasrah, bersiap menjemput hukuman yang sudah menantiku.

+++

“Kyungjin… Hey, hey… Hello… YA! PARK KYUNGJIN!” seseorang berteriak di dekat telingaku dengan sangat keras.

“ASTAGA! Aish, Taemin! Kau membuatku kaget!” tiba-tiba aku merasa jantungku sebentar lagi copot.

“Makanya, kalau dipanggil jangan cuma melamun!”

“Oh, mian”

Aduh, aku ini kenapa? Kenapa dari tadi aku memikirkan Jonghyun terus. Aku jadi cemas karena meninggalkannya sendirian di rumah.

“Kyungjin-ah, ini kan sudah jam istirahat, kau tak mau ke kantin?”

“Ah, sepertinya tidak, aku mau di sini saja”

“Ayolah, aku lapar. Memangnya kau tak lapar?”

“Lapar sih. Tapi aku betul-betul tidak bersemangat ke kantin. Kali ini kau pergi sendiri saja ya, mian…”

“Oh. Ya sudah, kalau begitu aku juga tidak akan ke kantin. Aku mau menemanimu di sini” ia lalu berkata sambil menyunggingkan senyumannya yang sangat manis. Ah, aku sangat beruntung menjadi yeojachingu-nya. Aku sangat menyayangi Taemin. Meski ia tidak begitu tampan, tapi wajahnya sangat manis. Ia selalu menunjukkan ekspresi ceria hingga siapapun yang ada di dekatnya juga merasa terhibur. Ia juga sangat baik. Setiap hari saat jam istirahat ia selalu datang ke kelasku untuk mengajakku ke kantin karena aku dan Taemin memang tidak sekelas. Tapi kali ini aku tidak bisa ikut ke kantin dengannya, dan ia dengan sangat berbaik hati rela menemaniku.

“Gomawo, Taemin”

“Ne. Kau ada masalah ya? Ya sudah, ceritakan padaku” ia lalu menyambar kursi yang ada di dekatnya dan duduk di sampingku.

“Ah, anni, Taemin. Hanya saja aku banyak mengalami kejadian aneh hari ini”

“Contohnya?” ia terlihat sangat antusias. Aduh, padahal aku malas membahas semuanya. Tapi apa boleh buat, aku tidak ingin mengecewakannya.

“Semalam tidurku tidak begitu nyenyak. Aku bahkan memimpikan 2 kejadian yang berbeda sebelum aku benar-benar terbangun. Yang satunya mimpi buruk, yang satunya lagi mimpi indah”

“Oh ya, kau mimpi apa?”

“Aku bermimpi berada di sebuah ruangan yang sedang terbakar. Aku sama sekali tidak bisa menyelamatkan diriku hingga api itu habis melalap tubuhku”

“Benarkah? Ah, kenapa kau tidak memimpikanku juga? Kalau aku ada, pasti aku akan menyelamatkanmu, putriku” ia berkata sambil cengengesan. Dasar Taemin!

“Aish. Bagaimana bisa kau menyelamatkanku? Di dalam mimpiku, kau bahkan sudah terlalap api duluan”

“Mwo?! Oh, sayang sekali” seketika ia berpura-pura memasang ekspresi sedih.

“Hahaha. Jangan manyun begitu, kau jadi terlihat jelek. Itu tadi tentang mimpi burukku. Kau mau tahu tidak tentang mimpi indahku?”

Ia tetap tak mau menjawab sambil terus memasang ekspresi cemberutnya. Aigo, lucu sekali anak ini.

“Di mimpiku itu, aku melihat seberkas cahaya putih. Lama kelamaan cahaya itu membentuk sebuah bayangan yang samar-samar, dan tak lama kemudian, bayangan yang samar itu semakin jelas membentuk sesosok pria berpakaian putih-putih…” aku melirik Taemin yang masih saja belum mengubah ekspresinya.

“Kau tahu tidak, pria yang ada di dalam mimpiku itu sangat tampan. Senyumannya sungguh sangat manis dan tidak pernah lepas dari bibirnya. Tatapannya teduh, wajahnya menentramkan hati. Ia juga memperlakukanku dengan lembut. Ia membelai wajahku dengan sangat lembut. Ah, pria itu terlihat seperti malaikat. Aku sangat bahagia berada di dekatnya. Aku selalu berharap kalau semua itu bukan hanya mimpi…” ku dengar Taemin mulai mendengus kesal.

“Dan kau tahu tidak, ternyata malaikat di dalam mimpiku itu…” aku menggantungkan kata-kataku dan melihat Taemin mulai tidak tertarik dengan ceritaku. Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya dan membisikkan sesuatu dengan sangat pelan.

“Kau, Lee Taemin”

Aku melihat ekspresi Taemin berubah. Ia lalu menatapku, dan belum sempat aku menjauhkan kembali wajahku dari wajahnya, ia sudah menghadiahiku dengan sebuah ciuman.

Omona. Untung saja di kelas ini tidak ada sosok manusia lain selain aku dan Taemin.

+++

(Jonghyun P.O.V)

Saat Kyungjin berangkat ke sekolah, aku memutuskan untuk melihat-lihat isi rumahnya. Ternyata gadis itu tinggal sendirian di rumah ini, sebab dari tadi aku tidak melihat ada manusia lain di rumah ini.

Ada 4 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang tengah lengkap dengan berbagai peralatan elektronik, dapur dengan peralatan masak-memasak yang lengkap. Hmphh. Rumah ini cukup besar juga untuk ditinggali sendiri meskipun rumah ini hanya terdiri dari satu lantai.

Aku memasuki dapur. Di dalam dapur tersebut ada sebuah meja makan kecil, dan di atas meja itu terpajang beberapa potong sandwich yang sepertinya sangat lezat.

Kriukkk. Kriukkk.

Aduh, aku lapar sekali. Aku menatap sandwich yang begitu mempesona itu dengan tatapan penuh harap. Aku kemudian mendekatinya dan menyentuh salah satu dari mereka. Ah, sepertinya sandwich ini lumayan untuk mengganjal perut.

Namun aku menaruh kembali sandwich itu pada tempatnya semula dan segera meninggalkan tempat yang penuh dengan godaan ini.

Aish. Sungguh tidak sopan mengambil barang orang lain tanpa seizin pemiliknya. Aku tidak boleh begitu, aku seharusnya bersyukur telah dipercaya oleh Kyungjin, walaupun aku sendiri juga tidak begitu yakin kalau ia percaya padaku sepenuhnya dan bisa saja saat pulang sekolah nanti ia akan membawa segerombolan polisi dan menyerahkanku pada mereka.

Aduh, bagaimana kalau itu semua benar-benar terjadi? Ottokhae?

 

TO BE CONTINUE

Ehehehe..

Bagaimanakah kelanjutan ceritanya??

Nantikan kisah selanjutnya hanya di THE SWEET ESCAPE.. *plakkk!!*

(niru gaya bicara mbak veni rose)

*reader: author banyak gaya!*

Oke oke..

Jangan lupa komen ya.. gomawo.. ^^

 

Signature

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

10 thoughts on “The Sweet Escape – Part 3”

  1. aaaaaaa taemin kyungjin so sweet :3
    *bayangin aku jadi kyungjin*
    kurang panjaaaaanngggg #plak
    hahaha XD tapi critanya tetep rame ! Makin penasaran !
    Kyungjin jgn jadian sama jong yak .kasian taemin xD hahahaha
    lanjutannya cepat yaaaaa

  2. makasih ya udah di posting.. ^^
    makasih juga buat reader yang udah mau baca n komen.. ^^
    tapi aku jadi sedih nih,,
    banyak reader yang habis dari ff ini langsung terbang ke wpku buat baca part selanjutnya,,
    tapi g ada yang mau komen..
    emang sih ni ff udah tamat di wpku..
    tapi tetap komen dong.. T-T *kok malah curhat*
    yasudah,, sekali lagi gomawo ya buat semuanya.. ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s