BARBIE IN BLACK

BARBIE IN BLACK

Author : Eci a.k.a PeppermintLight

Casts : Choi Min Ho SHINee, Key SHINee, Jun Ho 2PM

Reader request : Choi Minna (Nina)

Type : One shot

But I see your true color, shining through. I see your true color, that’s why I love you. So don’t be afraid, to let them show your true color, true color, a beautiful…like a rainbow.

(True Color – Cindy Lauper)

2010  ©SF3SI


“Jadi gini, Choi Minna. Aku…suka padamu. Mau nggak…kamu…jadi pacarku?” ujar seorang namja sambil nyerahin setangkai mawar asli pada Choi Minna. Primadona sekolah itu memberikan respon yang selama ini udah jadi trademarknya di sekolah. Tersenyum. Minna selalu tersenyum manis pada semua orang. Dan nggak ada yang nggak nengokin wajahnya kurang dari dua kali tiap ketemu. Hidung mancung, mata besar dan jernih, kulitnya yang putih merona, bibir pink yang tipis, dan rambut coklat ikal yang membingkai wajah cantiknya membuatnya jadi school idol di sekolahnya. Apalagi Minna orangnya ramah banget.

Minna yeoja paling pink di sekolahnya. Dia cinta banget sama warna pink. Semua yang ia kenakan nggak jauh-jauh dari warna pink, termasuk penjepit dasi seragam hitam-biru Seoul Light High School-nya yang berwarna pink dan perak. Peralatan sekolah dan aksesorisnya nggak perlu ditanya lagi deh. Kalo nggak pink flamingo, pink pastel, ya pink fuschia. She’s obviously like Barbie doll.

“Jeongmal mianheyo, Jun Ho sunbae. Aku nggak bisa. Mianheyo,” Minna menolak Jun Ho secara halus dengan setengah membungkuk. Meskipun nggak kaget sama jawaban Minna, Jun Ho tetep aja kecewa. Tapi nggak urung diberikannya mawar itu pada Minna.

“Ne, gwenchanayo. Toh aku sudah menduga jawabanmu,” ucap Jun Ho dengan senyum yang dipaksakan.

“Tapi, sunbae masih mau berteman denganku kan?” tanya Minna. Jun Ho mengangguk meskipun hatinya bilang “iya deeeehhhhh…” yang huruf E nya panjang banget.

Minna tersenyum kembali hingga Jun So pergi ninggalin tempat itu.

“HUAOW!” Minna terlonjak kaget ngedenger suara yang tiba-tiba terdengar dari pohon. Choi Min Ho udah ada di situ. Ia sahabat Minna sejak SMP. Ia menyibakkan rambut kriwel semigondrongnya yang jadi bahan jejeritan yeoja-yeoja satu sekolah.

“Nolak lagiii…nolak lagiii…mau sampe kapan nggak punya pacar, Minna? Sunbae yang satu itu punya fans club lho! Masa masih ditolak juga? Kamu nggak doyan cowok ya? Ih, Barbie kok lesbian?” cerocos Min Ho. Minna tersenyum kecut.

“Ngehina aja teruuussss…! Enak aja bilangin aku lesbian. Aku masih suka namja, tahu!” umpatnya. Min Ho ketawa ngakak. Dia emang kadang-kadang cuma bisa nyerocos dan ketawa selepas itu kalo lagi sama Minna. Mereka udah akrab soalnya. Kalo di luar, Min Ho cool banget. Keren abis sekaligus sulit didekati.

Min Ho lompat dari dahan pohon yang ia duduki dan nyamperin Minna.

“Siapa tahu aja, Barbie yang satu ini cantik luarnya aja. Tapi dalemnya…suka sesama. Hwahahahaha! Adaouw!” Min Ho memegang kepalanya yang dijitakin gratis sambil meringis.

“Awas ya, sekali lagi bilang aku lesbian! Aku ini suka namja! Suka namja! Udah ah, aku mau ke rumah sakit dulu. Sang Mi pasti udah nungguin aku!”

“Sang Mi masuk rumah sakit lagi?” tanya Min Ho. Minna hanya mengangguk dan melambaikan tangannya. Min Ho cuma bisa memandangi punggung sahabatnya itu dari kejauhan.

“Minna payah. Suka namja tapi nggak pernah ngeliat aku,” gumamnya.

$$$$$$$$$$

Sang Mi, sepupu Minna yang lagi terbaring di rumah sakit, tersenyum lemah begitu Minna masuk ke ruang rawat. Wajahnya yang cantik tampak pucat dan kurus. Minna sampe nggak tega ngeliatnya. Tapi sampe sekarang dia belum tahu Sang Mi sakit apa.

“Mawar dari siapa tuh, Minna…? Cieh, cieeehhh…pasti dari seorang Ken.” goda Sang Mi lemah. Minna memandang mawar yang dikasih Jun Ho sunbae dan menaruhnya di vas bunga.

“Dari sunbae-ku, eonnie. I haven’t found my Ken yet,” ujar Minna. “…lagian aku bukan Barbie ah, eonnie. Orang-orang aja yang manggil aku gitu,”

“Belom nemuin Ken? Trus Choi Min Ho gimana dong?” goda Sang Mi lagi. Wajah Minna merona.

“Eonniiiiieee…Min Ho itu sahabat aku dari SMP. Biar kata dia cakep, aku sih udah kenal jelek-jeleknya dia. Ih, dia tuh suka ngabisin bentoku tahu, Eon! Abis itu dia suka nyembunyiin sepatu aku pas aku lagi di lab audio visual. Di depan penggemarnya bisa bener dia akting sok cool gitu,” Minna napsu banget nyeritain aib Min Ho sampe Sang Mi tergelak.

“Tapi penggemarnya banyak kan? Dia cakep sih ya. Masa kamu nggak mau?”

“Ih, cakep darimananya, Eonnie? Kok jadi ngomongin Choi Min Ho? Ganti topik. Sebenernya Eonnie sakit apa sih? Kok kemaren bisa pingsan lagi?” tanya Minna. Raut muka Sang Mi berubah muram.

“Eon? Eonnie nggak sakit parah kan?” tanya Minna hati-hati. Sang Mi menggeleng dan tersenyum. Minna ikutan tersenyum meskipun perasaannya nggak enak. Ya Tuhan…kumohon…, semoga nggak terjadi sesuatu yang nggak diinginkan pada Sang Mi…, batin Minna.

Dokter Han masuk ke ruang rawat dan tersenyum pada Minna yang membungkuk memberi hormat. Beliau mengecek denyut nadi Sang Mi sejenak.

“Istirahat yang cukup dan perhatikan semua pantangan, jangan telat minum obat. Bagaimanapun penyakit ini tidak bisa dianggap remeh,” ujar dokter Han mengagetkan Minna.

“Emang…emangnya…Sang Mi sakit apa ya, Dok?” tanya Minna takut. Dokter Han memandang Sang Mi. Sejenak kemudian gadis itu mengangguk lemah.

“Sepupumu…menderita kanker pankreas…kronis.”

“Kanker…? Kanker? Kanker pankreas…kronis?” Minna terpaku di tempatnya. Sang Mi…kanker pankreas kronis?

“Kami pasti berusaha. Kamu tenang saja,”

“Gi…gimana bisa tenang, Dokter, kalo…”

“Minnaaaa…” tegur Sang Mi lemah. Dokter Han pamit meninggalkan ruang rawat dan mata Minna udah berkaca-kaca memandang saudaranya itu.

“Diagnosanya telat atau gimana sih, Eon? Masa tahu-tahu udah kronis aja?” Minna menghapus air matanya. Ia takut kehilangan Sang Mi. Cuma Sang Mi yang betul-betul akrab dengannya karena usia mereka nggak beda jauh.

Sang Mi tersenyum dan mengelus punggung tangan Minna.

“Jangan nangis ya, Minna. Aku aja yang tahu penyakitku nggak nangis kok,” ujarnya berkali-kali. Minna menggenggam tangan Sang Mi erat-erat. Seolah hal itu bisa menutup jurang pemisah yang dirasanya bakal beneran muncul antara mereka.

$$$$$$$$$$

“Nggak lucu,” ujar Minna ketika Min Ho tiba-tiba muncul dan ngagetin seperti biasa. Min Ho langsung manyun. Minna bener-bener nggak asyik hari ini. Ia merogoh sesuatu dari saku blazernya.

Look what I bring for you, ta-daaaa!!!” serunya sambil melayang-layangkan gantungan kunci berupa boneka beruang berwarna pink-putih seukuran telapak tangan. Raut wajah Minna berubah cerah. Ia mengambil gantungan kunci itu dari tangan Min Ho dan ketawa seneng.

“Buat aku kan? Kok tahu aja aku suka warna pink?” seru Minna berbinar-binar. Min Ho geleng-geleng kepala. Minna gimana sih. Jelas aja orang pada tahu kalo dia suka warna pink. Semua yang dia pakai warnanya nggak jauh-jauh dari pink gitu. Haven’t she just realized that she’s kinda’ pinky girl yet?

Tapi hati Min Ho berdebar senang ngeliat perubahan raut wajah Minna. Belakangan ini sahabatnya itu emang sering ngelamun. Mungkin dia mikirin Sang Mi. Soalnya semalem dia cerita di telepon kalo Sang Mi mengidap kanker pankreas kronis. Dan Min Ho tahu betul kalo Minna sayang banget sama sepupunya itu.

Tiba-tiba ponsel Minna berbunyi. Gadis itu menerimanya. Sejenak kemudian raut wajah cerianya berubah. Ia menutup ponselnya dan segera berlari keluar.

“MINNA! Mau kemana?”

“Sang Mi…, Sang Mi…,” cuma itu yang bisa Minna ucapkan, dan ia segera berlari keluar gerbang sekolahnya. Min Ho mengikutinya. Mereka naik taksi menuju rumah sakit tempat Sang Mi dirawat.

Sang Mi udah dipindahin ke ICU. Minna nggak boleh masuk ke sana. Selain supaya nggak terlalu rame, di sana udah ada kedua orangtua Sang Mi. Ajhumma menangis. Berbagai alat bantu medis terpasang di setiap sudut tubuh Sang Mi.

Minna cuma bisa menatap dokter yang berkali-kali melakukan pacu jantung pada sepupunya itu. Beberapa lama kemudian dokter menunduk, dan menggeleng penuh simpati pada appa dan ummanya Sang Mi. Seketika itu ajhussi memeluk istrinya yang menangis. Sang Mi udah ninggalin mereka semua.

Minna terpaku di tempatnya. Nggak sedikitpun air matanya mengalir. Dia cuma bisa menatap ke arah ICU dengan nggak percaya. Dia nggak mau percaya Sang Mi udah meninggal.

“Minna…” Min Ho meletakkan kepala Minna ke dadanya, kalo aja Minna mau nangis. Tapi enggak. Minna nggak nangis. Bahkan sampe jenazah Sang Mi dibawa keluar. Bahkan ketika ahjussi dan ahjummanya memeluknya bergantian sambil menangis. Minna tetap nggak menangis.

Min Ho khawatir banget. Sahabatnya itu masih belum ngeluarin air matanya pada saat pemakaman Sang Mi. Padahal rata-rata temen-temen kuliah Sang Mi yang berbusana hitam tampak menangis tersedu-sedu. Namun Minna yang saat itu memakai seluruh yang berwarna hitam, tampak memandang makam Sang Mi dengan tatapan kosong. Kelopak matanya bahkan nggak sembab. Matanya masih jernih. Itu nandain kalo bahkan pas lagi sendirian pun Minna nggak nangis. Min Ho bukannya nggak suka kalo Minna nggak menangisi kepergian Sang Mi. Min Ho cuma ngerasa kalo Minna jadi kayak…Barbie beneran. Nggak bergerak dan nggak punya perasaan.

$$$$$$$$$$

“Sstt! Eh! Lihat tuh! Choi Minna!”

“Mana? Hah??? Ya ampuuunnn…!”

“Mataku salah atau…”

“Cari, cari! Pasti masih ada sesuatu yang pink! Minna nggak pake pink? Impossible!

“Nggak ada! Udah aku perhatiin! Dia pake hitam semua hari ini! Cuma seragamnya yang punya warna normal!”

“Ransel item, bando item, kaus kaki item, sepatu item, jam tangan item, apa lagi tuh? Astaga! Dia pake smokey eyes segala! Kemana Barbie-kuuu???”

Semua isi sekolah memandang Minna dari atas sampe bawah trus balik ke atas lagi cuma buat nyari warna pink yang menempel di tubuhnya. Tapi nggak ada. Minna menjelma menjadi Barbie in Black. Nggak ada lagi warna pink padanya.

Para yeoja berbisik-bisik heran, sementara para namja berseru patah hati. Kenapa patah hati? Karena mereka nggak bisa lagi ngeliat Minna yang ceria dengan pink-nya. Minna yang sekarang dark banget. Gelap, suram, dan sulit didekati. Minna nggak tersenyum ramah seperti biasanya.

“Minna!” panggil Min Ho. Ia terkejut setengah mati ngeliat penampilan baru sahabatnya itu.

“Ya Tuhan…, kamu apa-apaan??” seru Min Ho tertahan.

“Apanya yang ‘kamu apa-apaan’?” Minna balas bertanya.

“Ikut aku!” Min Ho menarik tanganya Minna dan membawa ke belakang sekolah. Kebetulan bel berbunyi masih sekitar lima belas menit lagi.

“Aku kira karena nggak nangis berarti kamu baik-baik aja. Ternyata enggak! Kamu parah! Ngapain kamu pake serba item gitu? Nggak kayak gitu caranya menangisi Sang Mi! Nangis ya nangis aja! Nggak pake pelampiasan! Kamu pikir Sang Mi seneng sama cara kamu…”

“Wow, oke, oke. Sejak kapan kamu jadi fashion consultantku? Suka-suka aku dong mau pake apa!” ujar Minna, datar tapi tajam. Min Ho kembali menganga. Dia bener-bener nggak percaya Minna yang berdiri di depannya ini sahabatnya yang ramah.

“Kamu tuh kenapa sih?!”

“Sama aku nggak usah ngomong keras-keras deh. Telingaku sensitif. Lagian kamu siapa sih, segala urusanku kamu ikutan,”

“A…a…apa?” Min Ho nggak percaya sama telinganya. Minna ngomong sekasar itu padanya. Oke, emang nggak kasar, tapi tajam. Menusuk tepat di jantung.

“Kalo nggak ada yang mau diomongin lagi, aku duluan deh ya,” Minna ninggalin Min Ho yang terpaku di tempatnya. Min Ho bener-bener nggak percaya. Minna yang dulu ketawa dan tebar pesona sana-sini, sekarang jadi yeoja yang nggak peduli sama perasaan orang lain, bahkan perasaan sahabatnya sendiri. Mana dia sekarang serba item lagi. Min Ho memandang punggung Minna dari kejauhan. Where are you, dear Barbie?

$$$$$$$$$$

Perubahan drastis pada Minna ternyata bertahan sampe detik ini, tepat seminggu setelah meninggalnya Sang Mi. Minna masih serba item dan berlagak seolah-olah semua orang di sekolah itu cuma manekin. Termasuk Min Ho, yang masih sakit hati dengan perlakuan Minna belakangan ini padanya.

Kali ini Minna menolak ajakannya ke kantin dengan alasan yang bener-bener bikin tersinggung.

“Minna, ke kantin yuk! Udah lama nih nggak makan bareng! Mau kan?”

“Nggak,” jawab Minna singkat sembari membereskan buku-bukunya dan menggantinya dengan buku pelajaran yang berikutnya. Min Ho tersenyum kecewa. Sampe saat ini dia masih ngarepin Minna balik kayak dulu lagi.

“Kamu bawa lunch box?” tanya Min Ho. Minna menggeleng nggak peduli.

“Trus? Nanti laper lho! Apa aku bawain makanannya ke kelas aja?” tanya Min Ho. Namja itu menelan ludah. Dia belum pernah kayak gini sama cewek. Dia selalu ngejaga imagenya kalo di depan cewek lain. Harga diri Min Ho tinggi banget soalnya. Dan dia nggak mau dianggap tukang ngerayu.

“Choi Min Ho,” ujar Minna sembarin menatap Min Ho.

“Ne?”

“Lakukan apa saja yang kau mau, kecuali mengganggu hidupku. Arraseo?” ZZZZTT!! Min Ho kayak abis kesetrum listrik seribu volt pas ngedenger ucapan Minna barusan. Kali ini dia bener-bener nggak bisa mentolelir sakit hatinya.

“Kamu tahu?” suara Min Ho bergetar. “Aku muak denganmu, Minna! Aku muak dengan sikapmu! Aku muak dengan ucapanmu! Aku muak dengan…, dengan…, dengan semua aksesoris hitammu!”

“Oiya? Jadi kamu mau aku pake warna apa? Pink? Kayak boneka ini?” Minna ngeluarin gantungan kunci boneka berwarna pink pemberian Min Ho waktu itu. Ia tersenyum sinis.

“Lihat apa yang bisa aku lakukan untuk benda pink menjijikkan ini,” ujar Minna. Ia mengeluarkan gunting kecil berwarna hitam dari kotak pensil hitamnya. Kemudian dengan sekali sentak, KRES! Kepala boneka malang itu udah terpisah dari tubuhnya. Kemudian Minna melanjutkan dengan menggunting lengannya, kakinya…

PLAK! Seisi kelas menahan nafas. Minna tersentak kaget. Ia nggak percaya Min Ho menamparnya di depan seluruh teman-teman sekelasnya. Bahkan anak-anak dari kelas lain mulai mengintip lewat jendela.

“KALIAN LIHAT APA?!! PERGI!!” bentak Min Ho menggelegar. Kerumunan langsung bubar dan mulai membicarakan peristiwa bersejarah itu.

Minna masih terdiam dengan gunting di tangannya dan potongan-potongan badan boneka itu di mejanya.

“Maaf, Minna,” ujar Min Ho dingin sembari pergi meninggalkan Minna sendirian di tempatnya.

$$$$$$$$$$

Min Ho melayangkan tinjunya di udara kosong. Ia benar-benar menyesal udah menampar Minna tadi. Seumur hidupnya Min Ho nggak pernah nampar cewek. Itu bikin dia ngerasa nggak cowok banget. Tapi sekarang dia bahkan menampar yeoja yang disukainya. Tepat di pipi kirinya. Masih terlintas di benak Min Ho, gimana merahnya pipi Minna tadi. Bekas tamparannya…argh! Min Ho kesal pada dirinya sendiri.

Ia menghentikan langkahnya ketika melewati UKS. Minna di sana. Sendirian, ia mengompres pipi kirinya dengan handuk kecil yang direndam air hangat. Ia meringis. Tapi nggak nangis. Entahlah, Minna mungkin udah lupa caranya nangis sejak Sang Mi meninggal.

Min Ho masih nggak masuk ketika Uhm noona, dokter jaga di situ memeriksa wajah Minna.

“Merah sekali, Minna. Terus saja dikompres,” ujar dokter Uhm. Minna kembali mencelupkan handuk kecil itu ke baskom kecil di atas meja, memerasnya, dan menaruhnya lagi di wajahnya. Min Ho bener-bener ngerasa bersalah pada sahabatnya itu. Tapi untuk melangkahkan kaki masuk ke sana ia sungkan. Sakit hatinya melarangnya untuk peduli pada Minna. Min Ho melangkahkan kakinya pergi dari situ.

$$$$$$$$$$

“Wajahmu udah nggak kenapa-napa?” keesokan harinya Min Ho bertanya. Dia nggak bisa nggak mikirin Minna. Semalaman dia nggak bisa tidur gara-gara ngerasa bersalah.

“Kenapa? Mau minta maaf udah nampar aku kemarin?” tanya Minna sinis.

“Kamu pantas kok,” Min Ho mulai panas lagi. Tapi kali ini ditahannya. Jangan sampe tangannya melayang lagi. Min Ho bener-bener malu sama apa yang dilakukannya kemarin. Tapi dia enggan mengaku salah pada Minna.

“Kayaknya baik-baik aja ya, kalo gitu aku pergi deh. Cuma nanya itu doang kok. Aku kan masih peduli. Emangnya kamu…tangan kamu kenapa?” Min Ho refleks bertanya pas ngeliat jemari-jemari Minna yang penuh dengan plester. Rasanya kemaren dia cuma nampar deh, nggak sampe ke tangan Minna.

“Bukan urusan kamu. Seneng banget ya ngurusin orang,”

“Oh yeah, masa bodoh,” Min Ho melenggang pergi meskipun masih penasaran sama plester-plester yang merekat di jari sahabatnya itu. Tiba-tiba Jang Ri lewat dan nyamperin Minna sambil nyerahin kamus dan bilang terima kasih. Minna menerimanya dan memasukkannya ke dalam ransel hitamnya.

Seketika Min Ho terpaku di tempatnya. Sebuah benda pink tampak sangat mencolok di antara semua barang Minna yang berwarna hitam. Sebuah gantungan kunci boneka pink-putih, pemberiannya dulu yang kemarin digunting-gunting Minna udah bergantung manis di ransel hitamnya. Min Ho nyamperin sahabatnya itu dengan mata berbinar.

“Kamu…?”

“Iya, aku masang ini di tas. Puas kan?” potong Minna cepat. Namun wajahnya memerah.

“Kamu jahit? Kamu kan nggak bisa jahit?”

“Nih!” Minna mengacungkan kedua tangannya yang penuh plester. Min Ho speechless, nggak bisa berkata-kata. Segaris senyum tersungging di bibirnya. Ia mengacak rambut Minna.

“Makasih ya, Minna. Factly we’re friends, pipi kamu masih sakit?” Min Ho mulai melunak. Ia lupa sakit hatinya.

“Ya masihlah! Gara-gara kamu aku nggak tidur, tahu! Nih bekas tamparan mesti dikompres semaleman! Sucks!” bentaknya. Tapi Min Ho tetap tersenyum. Dia tahu Minna bohong. Kemarin kan mereka pulang sore. Minna nggak mengompres wajahnya lagi karena dia butuh waktu banyak buat ngejahit boneka itu.

“Jadi nggak mau bilang sesuatu?” tanya Min Ho setelah beberapa saat nggak ada yang bicara. Padahal kelas rame banget.

“Maafkan aku. Tapi sedihku itu urusanku. Bukan urusan siapa-siapa. Aku cuma nggak ingin dikasihani. Apalagi olehmu,” tutur Minna.

“Ya ampun, Minna. Kita ini kan sohiban udah lama! Masa kamu masih nggak mau ngebagi…”

“Karena aku suka padamu,” kalimat Minna barusan ternyata sanggup meredam semua kebisingan di kelas. Kelas yang lagi rame itu tiba-tiba sunyi senyap. Min Ho terpaku di tempatnya. Dia nggak nyangka Minna bakal bilang suka padanya. Selama ini dia ngirain bakal bertepuk sebelah tangan pada sahabatnya itu. Suara-suara mulai ramai nyorakin mereka.

“Terima, Ho! Bego aja kalo kamu nolak!”

“Tolak, Ho! Biar Minna sama aku aja!”

“Terima, Ho!”

“Udah, Hooo…nggak usah sok cool deh…kamu naksir dia juga kan?” Min Ho noleh ke sumber suara yang barusan ngelontarin kalimat itu. Key langsung nengok kiri-kanan pura-pura nggak tahu.

Well, aku nggak nyuruh kamu ngejawab suka juga…”

So do I. I…I love you even much more! Tapi aku nggak nyangka aja kalo…udahlah! Jadi pacarku ya!” senyum Min Ho terkembang. Ia mengacak rambut Minna diiringi dengan sorakan dan tepuk tangan anak-anak sekelas. Dipikir-pikir mereka kayak lukisan. Sama-sama idola sekolah sih ya.

“Tapi…,” ujar Minna menggantung kalimatnya.

“Hm?” tanya Min Ho lembut. Nggak peduli sama pandangan teman-temannya di kelas.

“Jangan suruh aku pake pink lagi,”. Min Ho ketawa ngakak.

THE END

-peppermintlight-

2010  ©SF3SI

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

86 thoughts on “BARBIE IN BLACK”

  1. ya ampun sumpah sumpah ini bagus bagus bagus. daebak!
    author selamat yaaaa udah bikin FF bagus luar biasa. hehehe.

  2. Ini ga bisa dibilang bagus, tapi PERFECTOOOO!! Kyaaaaa b^^d

    ini gilaaaa ajib banget ffnya!! Bahasanya itu lhooo ajiiibbbb O.O keren bnget!! Ringan dan berkesan. Aduh itu minho namparnya, ngejleb di hati (?)

    ecieeee barbie in black XD
    wah wah kondisi minna yg suka hitam2 itu bener2 ngegambarin aku =.= merasa tersindir (???)

    soalnya ranselku hitam, tempat pensil hitam, jam tangan hitam, bahkan sampai hape juga hitam. Intinya warna dark semua tuh aku banget deh. Trus sifat minna yg cuek dan dingin… wah sama persis =.=”

    bahahahaahah ngakak aku di bagian akhirr XD ngiri gila sm minna!! XDD

    gila author hebat!

  3. ni ff publish 3 nov 2010..
    n skr 11 maret 2012..
    astaga!!
    kemana ja diriku?
    baru nemuin ni ff skr!!
    ni ff daebak bgt!!

    thx brt buat admin yg uda bkin page masterpiece!!
    gomawo!

  4. KuuuEeereeeennn!!!!!!! Tapi aku pny 2 pertanyaan..
    1.Kenapa Minna ga nangis pas sodaranya meninggal?
    2.Kenapa Minna gamau min ho nyuruh dia pake pink lagi?
    Hehe~ gamshamnida huehuehue

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s