LOVE IN THE BUS : PROLOG

LOVE IN THE BUS : PROLOG

Note : Hei aku balik lagi niieeeeeeeehhh.. Ini baru prolognya. Ini berisikan ff oneshot dengan judul,cerita dan main cast yang berbeda. Semua cerita cinta ini dimulai dari bus. Ah,pokoknya latar dari cerita ini ada di bus. Gitu deh pokoknya.

Continue reading LOVE IN THE BUS : PROLOG

Advertisements

Real Love in The Drama part 1

Real Love in The Drama part 1

Cast :

Choi Minho (19yo. Aktor muda yang sudah mendunia, masih duduk di bangku SMA)

Lee Taemin (18yo. Aktor muda sekaligus dancer terkenal di korea)

Key as Ki bum (19yo. sepupu Sae Hyun, satu sekolah)

Lee Sae Hyun (17yo. Gadis biasa yang menyenangkan)

Jung Mi Young ( 18yo. Aktris terkenal )

By : Han Min Hyo

Lee Sae Hyun’s POV

Aku bukan seseorang yang mempunyai paras cantik seperti artis-artis ataupun para ulzzang (best face). Aku pikir hidupku ini seperti ruang hampa tanpa gejolak cinta, tapi aku bukan lesbi! setiap kali aku mencintai seseorang, pasti bertepuk sebelah tangan. Bukannya aku tak ‘laku’, tetapi namja-namja yang sampai kini menyatakan cintanya kepadaku.. tak ada yang aku cintai, satupun dari mereka. Bahkan aku merasa kasihan terhadap diriku sendiri. Konyol.

Kupasang headphone-ku, dan berjalan di lorong. Lorong sekolah tentunya, seoul senior high school.

Ada beberapa yeoja berlari melewatiku. Salah satu dari mereka menabrak pundakku, dan .. yeah you know .. aku terjatuh.  Sialan. Para yeoja itu mengundang perhatianku untuk melihat apa penyebab dia berlari seperti tadi. Huh. Tak tahunya .. hanya selembar iklan yang ditempel, kuhampiri iklan itu.

“permisi .. mianhae .. permisi ..”ucapku saat melewati anak-anak ini. Untung saja badanku kerempeng. Hehe.

Kubaca isi iklan itu ..

“pemilihan pemeran yeoja dalam drama terbaru Choi Minho ?!”pekikku. Choi Minho itu … ah! Iya, dia kan aktor dunia yang terkenal itu ya? hanya ini ? lalu kubaca aktor lain yang ikut serta dalam pemilihan ini.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA !!!!!!!”teriakku.

Aku tau ini akan membuat perhatian dan dengusan dari chingu yang ada disekitarku, tetapi, aku tak bisa menahannya lagi, lee taemin ???? aktor favoritku ?? dia juga dancer yang hebat .. ah .. aku ingin mengikuti audisi ini secepatnya~ aku ingin bertemu dengannya. Walaupun aku tak dipasangkan dengannya..

“dua hari lagi ??”gumamku. Apa yang harus kulakukan ? Aku belum mempunyai persiapan sama sekali. Tapi aku akan lakukan apa yang aku bisa. Fighting ~

*******************************************************************

Dua hari kemudian dengan masa-masa berlatih akting didepan kaca ..

Kulirik jam tanganku, sudah jam 06:00 sore,

“nomor 1372” ucap seseorang dari dalam ruangan. Aku mendesah. Kulihat nomor pesertaku, 1489, ya Tuhan .. harus berapa jam lagi aku menunggu? ini akan menjadi hari yang saaaangat panjang. Kukeluarkan minumanku, dan kutegak isinya, ekhh akhirnya .. tenggorokanku yang kering ini telah berisi air..

1 jam .. 1 ½ jam .. 2 jam .. 2 ½ jam .. and ..

“nomor 1489”ucap seseorang dari dalam. DEG! Jantungku berdegup kencang .. aku .. aku terlalu gugup untuk ini. Kuhirup udara .. untuk menenangkan degupan jantungku yang berpacu kencang, dan mengeluarkannya perlahan ..

“Aku bisa melakukannya ..”kataku yakin. Mengepalkan jemariku. Dan berjalan menuju ruangan itu.. ruangan yang mempertemukanku dengan Lee Taemin sebagai juri. Yang menentukan berhasil atau tidaknya aku mendapatkan peran itu.

Kulangkahkan kakiku. Kupandang seluruh sudut ruangan itu .. dapat kulihat orang itu .. idolaku .. Lee Taemin.. yang sedang duduk disebelah Minho. Kutarik kedua sudut bibirku hingga terlukis senyuman gila di wajahku. Ahahahha .. aku bertemu dengannya !!

“Silahkan perkenalkan identitasmu dihadapan semuanya.”perintah seseorang yang kemudian berjalan menuju kamera, menyalakannya. Ah! Arasseo, aku bisa melakukannya, dengan caraku sendiri tentunya.

“Annyeooooong~! Joneun Lee Sae Hyun imnida .. umurku 17 tahun … aku bersekolah di Seoul Senior High School .. Dan ..”kulirik Taemin ..

“senang rasanya berada disini .. aku tak menyangka aku senekat ini sehingga bisa ada di tempat ini .. ini pertama kalinya ..”kusunggingkan senyum simpul. Semuanya mengangguk tanda mengerti. Lee Taemin memandangku, dan menanyakan sesuatu ..

“Apa motivasi mu sehingga kau bisa senekat yang kau bilang ?”tanyanya.. dia tersenyum … aigooo

“Aku .. sebenarnya sih aku kesini karena ingin bertemu dengan idolaku, yaitu kamu, taemin, hehe ., dan betapa beruntungnya aku jika aku lolos, karena .. aku bisa berkenalan denganmu untuk hasil akting yang bagus .. aku pikir itu .. apakah aku terlalu jujur ?”tanyaku balik.

“Jadi kau tak pernah berfikir bahwa kau akan menjadi peran wanita yang lawan mainnya adalah aku ?”tanya seseorang tiba-tiba. Dia .. Minho. Aku menggeleng.

“aniya .. tapi .. jika memang itu yang harus ku mainkan kenapa tidak ? aku bisa dapat uang yang jumlahnya lumayan dan dapat bertemu dengan Taemin yang penting .. hehe” jawabku lagi .. semuanya mengerti, nampak menganggukan kepalanya kecuali Choi Minho .. dia kelihatan tak puas dengan jawabanku .. uhh aku khawatir jika aku tak lolos ..

Beberapa menit di ruangan yang cukup menegangkan itu, akhirnya aku keluar juga. Untungnya aku tidak lupa apa saja yang sudah aku latih dirumah. Aku tersenyum. Yang penting aku sudah berusaha semampuku. Apapun hasilnya itu. Tapi lebih baik jika aku lolos.

“Sae Hyun!” panggil seseorang dari kejauhan. Aku menoleh.

“oh ..Kibum oppa.. ada apa kesini ??” tanyaku.

“menengok keadaanmu .. hehe”

“waeyo ?? bisa ?? lolos tidak ??”dia menaikkan satu alisnya. Aku mengangkat bahuku.

“Molla .”ucapku singkat dengan menghela nafas. Menggigit bihir bawah ..

“Semoga saja .. doakan aku ya .. Pengumumannya besok pagi, akan disebar keseluruh korea. Tetapi mereka akan menghubungi via SMS bagi pemenangnya”

“Jinjja ??”

“nde .. ah .. oppa, aku pulang dahulu yaa .. annyeong !”kutundukan badanku.

“Mau … ku antar ?”tawarnya melemparkan kunci mobilnya keatas, dan menangkapnya lagi. Aku menggeleng.

“Aku bisa sendiri kok oppa .. annyeong”

Sae Hyun POV end

*******************************************************************

Minho POV

“MWO ?!!!!! neo michyeoseo ?yeoja yang tidak berkeinginan untuk menjadi lawan peran ku  itu?!!! ANDWAE !!Shiro !!dia ikut audisinya itu hanya untuk Taemin ! bukan aku !”bentakku pada sutradara dan panitia lainnya. Dia pasti sudah gila .. si .. . aduh .. siapa namanya ? Sae Hyun itu ?? tak kusangka ..

“Kurasa dia cocok yang memainkan peran Kim Byeol. Sangat cocok ! sungguh !”ucap seseorang dengan santainya. Aku mendengus ..

“Ya sudahlah !! terserah kalian saja .. jangan salahkan aku bila rating drama ini turun ..”ancamku.

“arasseo .. tetapi kau harus tetap berakting dengan baik !!atau boss tak akan menggajimu ..”ancaman di balas dengan ancaman. Huh. Lebih baik kutenangkan pikiranku ini untuk berangkat ke sekolah. Ada ulangan. Mati aku.

Minho POV end

*******************************************************************

Sae Hyun POV

Kupandangi ponselku. Menggigit bibir bawahku, cemas. Apakah aku lolos sebagai peran Kim Byeol? Apakah keberuntungan beralih padaku kali ini? Aku menghela nafas dan memajukan bibirku. Menaruh daguku di ujung meja.

‘drrrrrrrrrrrrt’ ah.. finally ..

Kulihat SMS itu, dan .. rasanya aku .. aku mau mati! Aku .. ingin berteriak, aku ingin menangis, aku ingin mengekspresikan apapun yang ada di hatiku sekarang. Ini baru yang namanya hidup. Ini berbeda dengan hari-hari biasanya bahwa, aku .. seorang Sae Hyun ?? berhasil ?? aku masih tak bisa mempercayainya.

Bel pulang sekolah berbunyi. Sedari aku menerima kabar yang seakan mengubah hidupku itu, sepanjang waktu yang telah kulewati, senyum selalu ada disini, diwajahku. Biarlah orang-orang mengataiku aneh, gila, atau semacamnya, yang terpenting, ketika mereka tau aku adalah aktris lawan main seorang Choi Minho, kupikir mereka akan mengelu-elu kan namaku. *GR*

Ketika aku sedang berkosentrasi dalam kesenanganku *ceileh*,  dapat kudengar derap lari para yeoja. Kulihat apa yang terjadi, mereka mengerubungi seseorang. Siapa dia ?

Kulangkahkan kakiku menuju tempat para yeoja heboh itu, dan  …

>> TBC

Ayooo ayoo hargai hargai .. komen komeeeeen ^_^ biar author ngerasa dihargain ^_^

2010  ©SF3SI

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

You Are My Sun, The Moon (Part 2)

You are my sun, the moon (part 2)

Author: Dilla Oktyra

Length: Sequel

Genre: Romance, Family

Cast: Park Raena, Lee Jinki, Ok Taecyeon, Goo Tara, Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Lee Hongki,Kim Jungah,Jokwon

Jinki POV

Aku bersama keluargaku pergi ke pernikahan sepupuku, namun tiba-tiba ketika di mobil kepalaku sangat sakit, ntah kenapa. Tangan kiriku memegang kepalaku dan tangan kananku tetap menyetir mobil. Appa yang berada di sebelahku terlihat khawatir.

Appa: “Jinki, gwaenchanha? Kamu kenapa?”

Aku: “Gapapa, appa, Cuma pusing biasa…” Pusing biasa? Aku berbohong, bagaimana mungkin ini pusing biasa? Kepalaku rasanya mau meledak.

Appa: “Biar appa yang nyetir, berenti dulu aja…” Aku memberhentikan mobil, turun dari kursi pengemudi dan pindah ke kursi depan tempat appa duduk tadi, eomma dan Taemin mulai ikut khawatir.

Eomma: “Jinki, beneran gapapa? Kamu sakit?”

Aku: “Gapapa eomma” aku tersenyum, mobil mulai melaju. Aku tiba-tiba batuk, batuk ini tidak berhenti. Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku ketika batuk, setelah itu aku kaget melihat bercak merah pada telapak tanganku. Apa ini? Darah? Appa ternyata melihatnya dan ia panik lalu memberhentikan mobilnya.

Appa: “Jinki, kamu kenapa? Yeobo, sebaiknya kita ke rumah sakit, Jinki batuk mengeluarkan darah.” Appa tampak panik, apalagi eomma.

Eomma: “Jinki, apalagi yang sakit?” Eomma mengelus-elus pundakku dari kursi belakang, Taemin tampak bingung.

Taemin: “Kita gak jadi ke nikahan nih? Kan sayang gak jadi makan gratis,hehe…”

Aku: “Kita ke nikahan aja deh appa, aku gapapa kok, bener…” belum selesai aku berbicara, aku mulai batuk lagi, kali ini darah yang keluar lebih banyak.

Eomma: “Pokonya kita ke rumah sakit, cepetan yeobo! Kamu diem aja Jinki, istirahat!” Eomma sangat panik.

*

Kami tiba di rumah sakit, dokter mengambil sampel darahku. Kami sekeluarga menunggu hasil tes. Kulihat Taemin tampak bingung dan bosan, aku menghampirinya.

Aku: “Maap ya Taemin, kita gak jadi makan gratis deh, ntar gw bliin kaset Wii baru deh,hehe”

Taemin: “Beneran ya hyung kaset Wii baru? Asiiiik!!!” Suster memanggil namaku, aku,eomma, dan appa segera menemui dokter lagi, sedangkan Taemin tetap menunggu di luar, eomma tidak mengizinkannya ikut dengan kami.

Eomma: “Gimana hasilnya dokter? Anak saya sakit apa?”

Dokter: “Hmmmm… ini hasilnya. Silahkan Anda baca.” Dokter memberikan surat hasil tesku pada eomma. Eomma membacanya dengan saksama,beliau tampak tegang. Tiba-tiba eomma menangis dan menjatuhkan surat itu.

Appa: “Kenapa yeobo?” Appa mengambil surat itu dan memeluk eomma lalu membacanya. Tiba-tiba appa marah pada dokter.

Appa: “Pasti ini salah dokter, anak saya gak mungkin…” Appa pun menangis. Sebenarnya aku kenapa, aku kesal dan langsung menanyakannya pada dokter.

Aku: “Saya kenapa dokter? Langsung aja kasih tau ke saya sekarang!”

Dokter: “Cirrhosis, Anda harus langsung mengikuti treatment, kondisi hati Anda sudah sangat kritis.” Cirrhosis? Apa itu? Aku tidak pernah mendengarnya, di buku Biologi sekolah pun tidak pernah kujumpai kata-kata itu. Kulihat eomma masih menangis, appa menenangkannya.

Dokter: “Cirrhosis adalah penyakit pada hati, keganasannya hampir sama seperti kanker,blablabla…….” Aku tidak mendengar kelanjutan apa yang dibicarakan dokter, kepalaku tiba-tiba pusing, aku tidak dapat fokus, aku menyandarkan tubuhku pada dinding.

Appa: “Apa ada obatnya? Bisa sembuh kan?”

Dokter: “Ada beberapa treatment seperti kemoterapi, tapi treatment tidak dapat menyembuhkan secara keseluruhan, hanya menghambat pertumbuhan sel sementara. Lebih baik jika kita mendapatkan donor hati.” Aku hanya diam, aku akan mati sebentar lagi, haha aku tertawa miris dalam hati. Aku belum sempat menyatakan perasaanku pada Raena, ahh Raena…Ia tidak boleh mengetahui tentang penyakitku ini, pokonya tidak boleh, Taec hyung juga tidak boleh tau. Sebelum keluar dari ruangan dokter aku bilang pada eomma dan appa untuk merahasiakan tentang penyakitku pada Taemin, Raena, dan Taec hyung. Kami bertiga keluar dari ruangan dokter, kulihat Taemin masih bermain dengan PSPnya.

Taemin: “Kok eomma nangis, emang ada apa appa?”

Appa: “Gapapa kok Taemin, yuu pulang!” Taemin menghampiriku.

Taemin: “Hyung, kenapa? Kata dokter hyung sakit apa?”

Aku: “Cuma flu doang kok, eomma aja yang lebay,hehe…” Aku berbohong pada Taemin, adikku satu-satunya. Mianhae, bentar lagi kamu harus menjaga appa dan eomma sendirian.

Di mobil tidak ada yang berbicara sedikitpun, hanya terdengar suara Taemin yang berbicara sendiri saat bermain PSPnya. Sesampainya di rumah kami berbicara di ruang keluarga, Taemin langsung pergi ke kamarku untuk bermain Wii. Hening… akhirnya appa berbicara.

Appa: “Jinki, kamu harus ikut kemoterapi pokonya, ya?”

Aku: “Gak mau appa, kalo aku ikut terapi makin keliatan aja aku sakit, aku gak mau keliatan lemah, appa. Lagian kan bentar lagi ujian kelulusan, aku harus belajar appa. Kalo aku ikut yang kayak begituan, kapan aku belajar?”

Eomma: “Jinki, please, ya sayang?”

Aku: “Eomma,appa, please hargai keputusan aku, OK? I’ll be fine…” Kalau aku ikut terapi itu, aku akan makin terlihat sakit dan pasti Raena akan menyadarinya, itu yang aku gak mau. Kalo Raena tau, pasti dia sedih. Aku tau ia hanya sayang padaku sebagai oppanya, tapi tetap saja kalo dia tau dia pasti akan sedih. Kami terdiam lagi, tiba-tiba kulihat ada yang membuka pintu, pasti Taecyeon hyung. Tapi ia tak sendiri, yang membuatku kaget, dia bersama Raena. Dari mana mereka? Kenapa bisa berdua? Rasa cemburuku muncul. Mereka berdua terdiam melihat suasana antara aku, eomma dan appa, tiba-tiba eomma mencairkan suasana.

Eomma: “Eh ada kalian, kok diem aja sih… ayoo masuk…udah pada makan? Tadi tante beliin Kakap Rica di KBL.” Aku tau wajahku pasti sangat pucat, aku banyak mengeluarkan darah tadi.

Aku tidak mau Raena menyadarinya, aku ingin segera pergi ke kamarku, kepalaku sangat sakit dan aku sangat cemburu melihat Taec hyung bersama Raena. Aku berdiri dan aku segera pergi ke kamarku. Kulihat Taec hyung kebingungan dan Raena tampak khawatir.

Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, disana masih ada Taemin yang bermain Wii, dia sangat ribut. Tapi aku tidak peduli, aku hanya ingin memejamkan mataku. Ada yang mengetuk pintu, aku terbangun dan duduk di atas tempat tidur sambil menyandarkan kepalaku. Ternyata Raena, kenapa dia kesini? Ia menghampiriku dan duduk di sebelahku.

Raena: “Jinki oppa, kenapa? Kesambet yaaa? Hehe” Aku tidak bisa menjawabnya, kepalaku sangat sakit, bagaimana kalau Raena tau? Aku harus menjauhi Raena. Raena mengguncang tubuhku pelan.

Raena: “Oppa, kok diem aja? Gak marah sama Raena kan? Gak kan???” Aku masih tidak menjawabnya, aku harus membuat Raena menjauhiku.

Aku: “Kamu apa-apaan sih? Aku lagi pengen sendiri, mending kamu pulang aja. Kamu SANGAT MENGGANGGU!!!” Aku membentaknya, membuatnya kaget. Taemin yang tadi asyik main Wii tiba-tiba mem-Pause gamenya dan melihat ke arah kami. Kulihat air mata Raena mulai menetes, ahh Raena jangan menangis, please…

Raena: “OK AKU PULANG!!!” dia balas membentakku, bagus… lebih baik kamu membenciku Raena. Ia keluar dari kamarku, namun ketika ia membuka pintu kulihat seseorang berada di depannya. Kemudian orang itu memeluk Raena, Taec hyung. Taec hyung, mau apa dia? Kenapa dia memeluk Raena seperti itu? Depan kamarku? Aku berdiri dari tempat tidur, menghampiri mereka dengan kesal. Hatiku sangat sakit setelah membentak Raena dan sekarang karena cemburu pada Taec hyung dan juga organ hatiku benar-benar terasa sakit.

Aku: “Kalian kalo mau pacaran jangan depan kamar orang dong!” Aku berteriak pada mereka dan membanting pintu. Taemin dari tadi belum mengalihkan pandangannya dariku. Aku kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.

Taemin: “Hyung kok marah-marah sih, kenapa?”

Aku: “Lo, gak mau kena marah juga kan? Sana keluar!” Aku kesal, semua badanku terasa sakit, Taemin keluar kamarku dan aku pun tertidur.

***

Raena POV

Taecyeon oppa memelukku, tiba-tiba Jinki oppa menghampiri kami.

Jinki: “Kalian kalo mau pacaran jangan depan kamar orang dong!” Jinki oppa membentak kami dan membanting pintu kamarnya. Jinki oppa kenapa sih? Kenapa? Aku makin menangis, Taecyeon oppa membawaku ke ruang keluarga, Tante Eunhye dan Om Donghae sudah tidak ada di sana.

Taec: “Raena, gwaenchanha?” Aku berusaha mengatur napasku untuk berbicara.

Aku: “Aku gapapa kok oppa, aku mau pulang aja…”

Taec: “Aku anter yuuu… Udah jangan sedih, paling Jinki lagi ada masalah kali sama Tante Eunhye atau Om Donghae.”

Aku: “Kalo oppa ada masalah biasanya dia langsung cerita, oppa…”

Taec: “Mungkin belum sempet cerita, yuu aku anter.” Taec oppa menarik tanganku, membawaku menuju motornya dan ia mengantarku pulang. Sesampainya di rumah aku mencoba menelpon Jinki oppa tetapi dia tidak pernah mengangkatnya. Aku mengirimnya SMS yang sama menanyakan keadaannya dan meminta maaf padanya beberapa kali tetapi ia pun tidak membalasnya. Jinki oppa kenapa?

*

Di sekolah aku tidak bisa konsentrasi, Pa Jokwon yang sedang menjelaskan pelajaran tidak aku perhatikan. Suara teman-teman yang ribut menertawakan Pa Jokwon pun tidak terdengar olehku, aku hanya berkutat pada pikiranku tentang Jinki oppa. Tiba-tiba Tara menyenggolku…

Tara: “Raen, Pa Jokwon nanya sama lo tuh…”

Aku: “Hah???” Aku masih roaming.

Pa Jokwon: “Park Raena, apa perlu eike ulang pertanyaannyuah? Siapa member Super Junior yang paling muda?”

Aku: “Hmmm itu…hmmm…Kyuhyun, pa…”

Pa Jokwon: “SALAH, ada yang bisa jawab lagi?” Key mengacungkan tangannya.

Pa Jokwon: “Iya Kibum”

Kibum: “Kyuhyun oppa yang guanteng kan Pa?”

Pa Jokwon: “Iya benar sekali, kamu memangs pintar sekaleh, hwahahahahaha-ketawa ala Jokwon tea yang nyeremin,hihi-“ Duhh Pa Jokwon geje banget sih, alay pula… Sesaat aku lupa tentang Jinki oppa.

Saat istirahat di kantin aku melihat Jinki oppa bersama Jung-Ah sunbae –lagi- , mereka sedang tertawa, mungkin Jinki oppa sedang ngebanyol lagi, ingin sekali aku menyapa Jinki oppa, tapi tiba-tiba ada yang menyentuh pundakku.

Jonghyun:  “♫  Luka luka luka yang kurasakan, bertubi tubi tubi engkau berikan, cintaku bertepuk sebelah tangan tapi aku balas senyum keindahan bertahan satu ci~nta bertahan satu C.I.N.T.A”

Jonghyun menyanyikan lagu super alay yang ntah judulnya apa tepat di telingaku, aku langsung menjauhinya.

Aku: “Apa-apaan sih lo?”

Jonghyun: “Duh cwantik, kok marah-marah truz sich???” Aku tidak menghiraukannya dan pergi meninggalkannya.

Biasanya aku pulang sekolah bersama Jinki oppa, tetapi hari ini menyapanya saja aku tidak berani. Kulihat ada Taemin, aku menghampirinya.

Aku: “Hyung kamu kenapa sih? Dia sakit?” Taemin berbicara dengan mulutnya yang penuh cilok.

Taemin: “Akwohgoktowonono (Aku gak tau, noona)” Taemin menelan cilok yang ada di mulutnya lalu berbicara lagi.

Taemin: “Tadi mah gapapa kok, biasa aja. Noona aja kali yang lebay, eh aku ketemu temenku dulu ya!”

Aku: “Kamu tau gak dia kemana?”

Taemin: “Kagak tau, emangnya aku babysitternya,hehe” Tanpa jawaban Taemin aku tau Jinki oppa di mana, kulihat ia sedang berjalan ke mobilnya bersama Jung-Ah sunbae. Ntah mengapa hatiku sungguh sakit sekali, ingin rasanya menangis, tapi aku gak mau diliat orang lain. Aku melangkahkan kakiku, tiba-tiba cowo bertubuh sangat tinggi berada di depanku dan tersenyum lengkap dengan lesung pipinya.

Aku: “Oppa, ngapain kesini?”

Taec: “Jemput kamu, sekalian mau ngeceng anak SMA,hehehe” Aku tersenyum, tiba-tiba ada mobil menghampiri kami dan klaksonnya berbunyi.

Taec: “Eh itu Jinki!” Taecyeon oppa melambaikan tangannya pada Jinki oppa, Jinki oppa menurunkan jendela mobilnya dan tersenyum pada Taecyeon oppa sambil melambaikan tangannya, tetapi ia tidak tersenyum untukku. Kok Jinki oppa gitu sih? Nyebelin, Taecyeon oppa menarik tanganku –seperti biasa- dan mengajakku ke motornya.

Taec: “Jangan cemberut terus dong, kita ke Fantasy World yu sekarang! Aku bosen nih belajar melulu, hehe” Aku mengiyakan ajakan Taecyeon oppa, lagian besok kan hari Sabtu pikirku.

*

Aku melupakan masalah Jinki oppa dan bersenang-senang bersama Taecyeon oppa di Fantasy World. Kami berencana menjelajahi semua wahana yang ada. Tampak dari kejauhan sosok yang sangat kukenal berada di dekat auditorium Fantasy World, Jinki oppa dan Jung-Ah sunbae. Mereka berdua tampak mendekat ke arah aku dan Taecyeon oppa, tetapi Taecyeon oppa tiba-tiba menarik tanganku hingga aku berada di pelukannya. Kemudian membisikkan sesuatu padaku.

Taec: “Johahae, Raena” Taecyeon oppa menyukaiku? Aku tidak dapat berpikir apa-apa dan tidak dapat mengatakan apa-apa. Aku hanya menyukai Jinki oppa.

Taec: “Kasih respon dong Raen, diem aja,hehe” Taecyeon oppa melepaskan pelukannya kemudian mengangkat daguku hingga mataku menatap matanya. Sungguh aku sangat gugup, aku gak tau harus ngomong apa, gimana nih?

Aku: “Hmm, oppa…hmmm mianhae, Raena belom bisa ngasih respon apa-apa,gapapa kan oppa?”

Taec: “Gapapa kok Raena, I’ll wait for you…” Taecyeon oppa tampak kecewa. Ia menggandeng tanganku dan mengajakku naik wahana berikutnya. Aku sampai lupa kalo aku tadi bertemu Jinki oppa dan Jung-Ah sunbae.

***

Jinki POV

Hari ini di sekolah Raena tidak menyapaku sama sekali, mungkin ia masih sungkan karena aku bentak ia kemarin. Aku dan Jungah berencana survey auditorium Fantasy World yang akan digunakan untuk Festival Paduan Suara. Aku yang masih menjabat sebagai Ketua Student Union harus mendampingi anak buahku tentunya. Aku dan Jungah menuju mobilku, kulihat Raena sedang berbicara dengan Taemin, aku melalui mereka. Aku melihat ada motor merah Taec hyung di sekolah, mau apa Taec hyung ke sekolahku? Aku mengendarai mobilku dan aku melihat Taec hyung sedang berbicara dengan Raena, mereka berdua tampak akrab sekali. Aku membunyikan klakson mobilku Taec hyung melambaikan tangannya padaku, aku tersenyum padanya. Ingin sekali aku menyapa Raena, tapi aku tidak bisa, aku harus benar-benar membuat Raena menjauhiku. Kulihat Taec hyung memegang tangan Raena, aku marah sekali, kesal, cemburu. Apakah mereka seakrab itu? Sejak kapan mereka seakrab ini? Mengapa aku tak pernah tau? Tiba-tiba kepalaku sangat sakit, tetapi aku berusaha bersikap biasa saja karena ada Jungah di sebelahku.

Sesampainya di Fantasy World aku dan Jungah langsung menghampiri auditorium, kami kan memang tidak berniat main,hehe. Kami sudah mendekati auditorium, tetapi aku memberhentikan langkahku, aku melihat Raena dan Taec hyung sedang bersama. Ngapain mereka disini? Kencan?

Jungah: “Jinki-ssi kok berhenti, kan masih di sana auditoriumnya, kita harus naik beberapa anak tangga” Aku tidak menghiraukan Jungah, kulihat Taec hyung memeluk Raena dengan mesra, Raena tampak tidak menolaknya. Huhhh sedang apa mereka? Apa mereka pacaran? Mengapa tidak ada salah satu di antara mereka yang cerita padaku? Aku sangat kesal, ingin rasanya aku marah, tetapi marah pada siapa? Jungah? Dia tidak tau apa-apa… Kepalaku sangat sakit, aku sudah tidak bisa berdiri tegak, ingin rasanya aku meninggalkan tempat ini.

Aku: “Jungah-ssi, mianhae…kepala gw sakit, gw pulang duluan, bye!” Aku berlari meninggalkan Jungah menuju parkiran mobil, tampak Jungah kebingungan dan khawatir. Aku sudah tak kuat lagi, aku terus memegang kepalaku, akhirnya sampai juga di dalam mobil, batuk-batukku mulai kambuh lagi, sial, mengapa harus sekarang? Aku mengendarai mobilku pelan, sesampainya di rumah ku lihat motor Taec hyung sudah ada di garasi, berarti dia sudah pulang. Dengan iseng aku bertanya padanya tentang kejadian tadi.

Aku: “Hyung, tadi dari Fantasy World? Sama siapa? Mesra bener…hehe…” Aku pura-pura tak tau.

Taec: “Iya, tadi sama Raena. Lo dari sana juga? Sama siapa hayo?”

Aku: “Wah, sama Raena? Park Raena? Kok bisa… Gw tadi abis survey auditorium buat Festival Paduan Suara bareng Jungah…”

Taec: “Siapa Jungah? Cieeeee…. Eh Raena ikut padus juga kan ya? Berarti ntar dia ikut festival juga dong? Jadi pengen liat…” Taec hyung tampak berseri-seri.

Aku: “Setau gw panitia gak boleh ikutan jadi peserta, Raena pasti jadi panitianya. Kenapa hyung? Naksir sama Raena ya? Hehehe” Aku menggoda Taec hyung, hanya ingin cari tau sebenarnya apa hubungannya dengan Raena.

Taec: “Hmmm gimana yaa… Lo mesti tau, tadi di Fantasy World gw nembak dia, tapi dia belom kasih jawaban,hehe” Aku kaget, Taec hyung nembak Raena? Dunia seakan berhenti berputar ketika aku mendengarnya –lebay-, kepalaku sakit lagi.

Aku: “Hyung, gw ke kamar ya, ngantuk euy!” Taec hyung hanya menunjukkan ibu jarinya. Aku tak habis pikir, semudah itu kah Taec hyung menyatakan cintanya pada Raena? Aku saja sejak SMP belum berani menyatakan perasaanku pada Raena, sampai pada akhirnya Raena pacaran dengan Jonghyun yang alay itu, aku merasa menyesal tetapi tetap aku belum berani bilang. Aku takut Raena hanya menganggapku oppanya dan akan merasa canggung denganku jika ia tau perasaanku. Tetapi keadaan sekarang berubah, seharusnya aku sangat berterimakasih pada Taec hyung, Raena akhirnya memiliki orang yang sangat mencintainya dan dapat menjaganya, dan juga ia akan lupa dengan keberadaanku. Namun tetap saja aku sulit menerimanya, sulit menerima ada pria lain yang mencintai Raena dan mungkin Raena pun mencintainya. Ahhh sebaiknya aku tidak terlalu memikirkannya, daripada kepalaku semakin pusing. Tiba-tiba terdengar suara Taec hyung berteriak-teriak dari kamarnya, sepertinya ia berbicara dengan seseorang di telpon.

Taec: “Wae? JINKI? Kamu mencintai JINKI, RAENA? WAE???” Aku mendengarnya sangat jelas, Raena mencintaiku? Itu sangat mustahil.

Taec: “Kenapa kamu gak bilang, Raena? Aku kan gak harus jadi orang bego nyatain perasaan ke kamu?” Taec hyung terdengar kesal.

Taec: “Aku dukung kamu sepenuhnya, Raena… yang penting kamu bahagia, saranghae…” Taec hyung menyudahi telponnya yang pastinya dengan Raena. Raena mencintaiku? Tidak mungkin, Tidak boleh… Dia gak boleh mencintaiku, duhh ada apa denganku ini? Aku tidak suka Raena mencintai orang lain, tetapi mengapa aku tidak mau Raena mencintaiku? Kalo Raena mencintaiku dia akan benar-benar terpukul jika tau tentang cirrhosis ini, dia benar-benar tidak boleh mencintaiku. Aku tidak mau ia menangisiku kelak.

***

Taec POV

Aku telah menyatakan perasaanku pada Raena, aku tinggal menunggu jawabannya, aku tak sabar mendengar jawabannya. Jantungku tiba-tiba berdegup sangat kencang. Can you feel my heartbeat? It’s beating and waiting for you,Raena… Aku mengantar Raena pulang dan mengecup lembut keningnya. Sesampainya di rumah aku terlentang di sofa, terlalu senang membayangkan kejadian di Fantasy World tadi. Tak kusadari Jinki datang dan menghampiriku.

Jinki: “Hyung, tadi dari Fantasy World? Sama siapa? Mesra bener…hehe…” Kok dia tau sih? Pikirku.

Aku: “Iya, tadi sama Raena. Lo dari sana juga? Sama siapa hayo?”

Jinki: “Wah, sama Raena? Park Raena? Kok bisa… Gw tadi abis survey auditorium buat Festival Paduan Suara bareng Jungah…”

Aku: “Siapa Jungah? Cieeeee…. Eh Raena ikut padus juga kan ya? Berarti ntar dia ikut festival juga dong? Jadi pengen liat…” Aku menggoda Jinki, berharap dia bertanya tentangku dan Raena. Jika dia bertanya, aku siap menjelaskannya panjang lebar,haha.

Jinki: “Setau gw panitia gak boleh ikutan jadi peserta, Raena pasti jadi panitianya. Kenapa hyung? Naksir sama Raena ya? Hehehe” Akhirnya Jinki nanya soal itu juga dan aku pun menceritakan pada Jinki yang sekarang telah menjadi teman curhatku,hehe.

Aku: “Hmmm gimana yaa… Lo mesti tau, tadi di Fantasy World gw nembak dia, tapi dia belom kasih jawaban,hehe” Jinki tampak kaget, dia tampak pucat.

Jinki: “Hyung, gw ke kamar ya, ngantuk euy!” Aku hanya menunjukkan ibu jariku pertanda setuju. Jinki kenapa? Mungkin mau telpon-telponan sama Jungah kali ya,hahaha.

Aku tak sabar mendengar jawaban Raena tentang perasaanku. Aku mengirimnya SMS.

To: My Beautiful Moonlight

Blh kan aku telp skrg?

Oya, nama Raena di contacts ku ganti jadi “My Beautiful Moonlight” agak alay sih,haha. Nama itu muncul di benakku ketika melihat pancaran matanya yang sayu seperti cahaya bulan –hoekss,haha- .Aku langsung menelponnya, ia pun langsung menjawabnya.

Aku: “Raena, lagi apa?”

Raena: “Hmm gak ngapa-ngapain, oppa. Baru aja selesai makan malem sama appa n eomma, kenapa?”

Aku: “Gimana soal yang tadi? Oppa gak sabaran nih,hehe…” Aku menggodanya.

Raena: “Hmmm, gimana ya oppa? Sebenernya aku udah suka sama orang lain, mianhae…” Aku kaget, siapa orang beruntung yang Raena sukai?

Aku: “Hmm, gwaenchanha… Oppa boleh tau gak orangnya siapa? Siapa tau oppa bisa bantu kamu buat bilang ke orang itu,hehe” Ngomong apa aku ini? Hatiku akan semakin sakit jika aku tau cowo yang Raena sukai, bahkan jika aku membantunya untuk menyatakan perasaannya pada cowo itu.

Raena: “Hmm, oppa jangan kaget ya! Duhh sebenernya Raena malu ngasih taunya,hehe…”

Aku: “OK, siapa? Siapa?” Aku penasaran. Aku tersenyum kecut.

Raena: “Jinki oppa…hehehe…” APA? Jinki? Aku hanya bisa terdiam.

Aku: “Wae? JINKI? Kamu mencintai JINKI, RAENA? WAE???” Aku marah tanpa sebab.

Raena: “Selama ini orang yang Raena sukai hanya Jinki oppa, mianhae oppa…”

Aku: “Kenapa kamu gak bilang, Raena? Aku kan gak harus jadi orang bego nyatain perasaan ke kamu?” Aku mulai kesal, mengapa orang yang Raena sukai harus Jinki? Sepupuku?

Raena: “Jeongmal mianhae, oppa… aku masih merasa sungkan untuk cerita tentang ini sama oppa. Oppa gak marah kan? Oppa tetep dukung Raena kan?” Kudengar suaranya memelas, merasa bersalah padaku.

Aku: “Aku dukung kamu sepenuhnya, Raena… yang penting kamu bahagia, saranghae…” Aku menutup telponnya tanpa menunggu jawaban dari Raena. Cewe Korea yang pertama aku sukai pergi sudah, hufft sudahlah…

***

Jinki POV

Hari ini hari Senin, aku masih belum berbicara sepatah kata pun pada Raena. Tetapi saat akan masuk ke ruang padus untuk meminta maaf pada Jungah aku bertemu dengan Raena. Jantungku berdegup kencang, ingin sekali aku memanggil namanya… Aku melaluinya, namun ia menarik tanganku.

Raena: “Oppa, Raena mau ngomong!” Dia tampak serius, dia gak akan menyatakan perasaanya padaku sekarang kan?

Aku: “Ngomong apa sih?” Aku sedikit membentaknya.

Raena: “Oppa kenapa sih? Udah 2 minggu gak bales SMS Raena, telpon Raena gak pernah diangkat, kenapa sih Oppa?” Aku tidak menjawabnya.

Raena: “Kalo Raena pernah bikin oppa marah, oppa bilang sama Raena, jangan diem aja…” Suaranya bergetar,kulihat air matanya menetes, duhh mengapa dia menangis lagi? Betapa jahatnya aku, aku terlalu sering membuatnya menangis. Aku masih diam, ingin rasanya aku memeluknya, menenangkannya, menghapus air matanya, namun aku tak bisa. Aku langsung pergi meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata pun.

***

Raena POV

Aku bertemu Jinki oppa di depan ruang padus, ia melaluiku tanpa menyapaku, aku menarik tangannya.

Aku: “Oppa, Raena mau ngomong!”

Jinki: “Ngomong apa sih?” Jinki oppa masih membentakku.

Aku: “Oppa kenapa sih? Udah 2 minggu gak bales SMS Raena, telpon Raena gak pernah diangkat, kenapa sih Oppa?” Jinki oppa terdiam.

Aku: “Kalo Raena pernah bikin oppa marah, oppa bilang sama Raena, jangan diem aja…” kudengar suaraku mulai bergetar, air mataku pun menetes, kenapa aku harus menangis sekarang? Jinki oppa masih diam lalu dia langsung pergi meninggalkanku, ia pergi menuju Jung-Ah sunbae.Aku berlari ke arah gerbang sekolah, Jonghyun menarik tanganku. Duhh si alay ganggu aja nih…

Jonghyun: “Cwantik, kenapa crying? Kamyuh haruz denger lagu barukyuh, terinspirasi Sinta Jojo, judulnya JOJO. ‘♫JoJo! seulpeun eumagi heureul ttae neol saenggakhae (eh eh eh)’” Duhh kenapa Jonghyun harus nyanyi sih? Emang suaranya bagus, tapi waktunya gak tepat.

Aku: “Please, jangan ganggu gw sekarang, Jonghyun, arasseo?” Aku melepaskan tangan Jonghyun dan terus berlari ke arah gerbang sekolah, ada yang menarik tanganku lagi.

Aku: “Jonghyun-ah, udah gw bilang jangan ganggu gw!” Aku berteriak, tetapi ternyata yang menarik tanganku bukan Jonghyun, melainkan Taecyeon oppa. Taecyeon oppa mengajakku pulang bersamanya lagi. Ketika di parkiran kulihat Jinki oppa sedang berbicara dengan Jung-Ah sunbae, terlihat akrab sekali. Kuperhatikan Jinki oppa sedikit melirik ke arahku, setelah itu tiba-tiba wajahnya mendekati wajah Jung-Ah sunbae, semakin dekat, kemudian Jinki oppa menciumnya. Hatiku sangat sakit, ingin rasanya aku memarahi Jinki oppa dan langsung menyatakan perasaanku padanya. Air mataku yang sudah jatuh dari tadi, kini semakin deras. Aku menarik tangan Taecyeon oppa.

Aku: “Oppa, aku mau pulang!”

…to be continued…

2010  ©SF3SI

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

LOVE’S WAY – DO YOU KNOW

Do You Know

Main Cast : SHINee, Choi Hye Jin, Shin Hyo Jin
Support Cast : Super Junior

 

Semoga hari ini Key sudah tidak marah padaku dan sudah menyapaku seperti biasa lagi. Aku pun berjalan masuk menuju gedung sekolahku di musim gugur ini. Sekarang setiap hari aku harus selalu membawa syal atau sweaterku karena udara sudah mulai dingin. Daun-daunpun sudah mulai berguguran. Itu yang tampak di sekolahku. Sekolahku yang biasanya hijau kini daun-daunnya sudah berubah warna menjadi coklat dan sudah mulai berguguran dan menyebabkan banyaknya tummpukan daun itu dimana-mana.

”Hye Jin-ah…”seru seseorang menghampiriku.

”Taemin-ah…”seruku padanya.

Seperti biasa dia akan selalu tersenyum seperti itu. Senangnya melihat dia tersenyum.

”Pagi sekali…”seruku padanya.

”Ne…ada latihan basket dulu…akan ada pertandingan minggu besok…”serunya.

”Ya ampun sibuk sekali dirimu…baru selesai pentas drama sekarang sudah mau ikut basket lagi…”kataku sambil menatapnya.

Dia balas menatapku dan tersenyum. Aigoo, kenapa aku harus selalu terjebak dengan tatapan matanya yang hangat dan lembut itu.

Key POV

Semoga hari ini Hye Jin sudah tidak marah padaku. Seruku dalam hati. Aku pun berjalan dari lapangan parkir menuju kelasku. Namun tiba-tiba aku melihat Hye Jin dan Taemin berjalan bersama. Kenapa sih dia bisa begitu dekat dengan Hye Jin? Dan Hye Jin pun terlihat selalu tersenyum jika bersamanya. Aishh! Aku mengacak-acak rambutku sendiri.

”Key..kau kenapa?” tanya Jonghyun yang entah dari kapan sudah berada di sampingku yang masih melihat dua orang itu tertawa bersama.

”Jonghyun-ah…”Seruku padanya.

”Ara…kau cemburu melihatnya ya?”tanya Jonghyun padaku dengan senyuman.

”Andwe..untuk apa aku cemburu pada mereka…”seruku sambil berjalan meninggalkan Jonghyun yang masih bingung kenapa aku menatap mereka dengan seksama.

Yah, aku memang cemburu pada mereka. Setiap melihat mereka berdua pasti hatiku akan sakit. Hye Jin-ah apa kau lebih menyukainya dibanding aku?

Hye Jin POV

Aku masuk ke kelasku perlahan-lahan. Aku melihat Key sedang asyik membaca buku. Kenapa suasanya seperti waktu itu. Saat aku sedang tidak bicara  juga dengannya dan aku juga harus berjalan perlahan-lahan seperti ini. Kejadian itu seperti terulang kembali seperti saat itu. Tapi saat itu aku kepentok meja dan menyebabkan kakiku luka namun kali ini aku tidak mau seperti itu. Aku berjalan sangat hati-hati menuju mejaku. Dia menegokan kepalanya dan menatapku sekilas dengan tatapan dingin dan kembali membaca bukunya. Ternyata dia masih marah padaku. Huh. Tak sengaja aku malah menendang salah satu bangku dan itu malah membuat kakiku sakit.

”Aduh!”teriakku.

Namun dia tetap dengan bacaannya. Kenapa dia tidak merespon sama sekali, padahal waktu dulu, dia langsung menghampiriku. Sepertinya dia benar-benar sangat marah padaku. Bagaimana ini?

Aku menaruh tasku dengan kasar ke atas meja sengaja agar dia menoleh. Ternyata dia tetap asyik dengan bacaannya. Menyebalkan sekali dia. Aku sengaja menghela nafas dengan kencang agar dia menoleh dan tetap saja dia asyik dengan bacaannya. Kenapa dengan anak ini? Apa dia benar-benar kesal denganku? Harusnyakan aku yang lebih kesal padanya kenapa dia harus tiba-tiba marah padaku hanya karena adegan itu. Seruku dalam hati sudah mulai kesal dengan orang ini.

Baiklah aku yang salah aku akan minta maaf. Aku pun berdiri dan beranjak menuju  mejanya.

”Key..”seruku padanya.

Dia masih diam saja, aku masih menunggu dnegan tetap berdiri di depan mejanya. Tak lama kemudian dia menutup bukunya dan berdiri dan berjalan keluar kelas.

Apa! Dasar keras kepala sekali anak ini!

Aku pun segera berjalan mengejarnya dan mendapatinya berdiri di depan pohon di taman sekolah. Aku berusaha menghampirinya namun sebuah tangan menarikku.

”Aku sudah bilang…jangan dekat-dekat dengan Key…dia milikku….”seru suara yang sudah aku kenal. Aku pikir cewek ini tidak akan kembali lagi dari pekerjaannya sebagai model di Jepang.

Aku pun hanya memandang Yu Ri sinis.

”Kau telah menjadikan Key-ku jadi seperti itu…”serunya lagi.

Aku malas berdebat dengannya dan berusaha melewatinya karena aku ingin bicara dengan Key dan ingin menyelesaikan masalah kami, itu saja. Aku tidak akan mengambil Key dari dia.

Namun Yu Ri terus menghalangiku dan itu membuatku semakin kesal padanya.

”Aku hanya ingin bicara dengan Key”seruku dengan setengah berteriak.

Aku kesal sekali pada cewek ini. Mau apa sih dia? Aku hanya ingin bicara saja sulit sekali. Key juga, kaupikir ini semua salahku. Aku sudah baik-baik ingin meminta maaf padamu kau malah mengacuhkanku.gerutuku dalam hati.

Aku melihat Key berbalik dan berjalan menghmapiri kami, dia menatapku sekilas dan langsung menarik tangan Yu Ri.

”Jangn buat masalah…ayo pergi…”Serunya pada Yu Ri lalu menatapku dingin.

Kenapa Key jadi seperti itu?kenapa dia membela Yu Ri. Aku kan hanya ingin bicara padanya. Key kau jahat sekali. Aku menatpanya yang berjalan sambil menarik Yu Ri. Dan itu mengigatkanku pada kebiasaanya untuk menarikku juga. Apa dia sudah tidak mau berteman denganku lagi. Aku berjalan kembali ke kelas dengan perasaan sangat sedih, aku pun berhenti di depan lokerku dan membukanya. Disana ada boneka beruang yang Key berikan padaku. Aku jadi mengingat saat dia memberikannya padaku. Aku mengelus boneka itu lalu memukulnya.

”Memangnya aku yang salah…kau bodoh Key…kenapa aku harus minta maaf padamu…baiklah aku tidak akan bicara lagi denganmu…”Seruku pada boneka itu.

”Hye Jin-ah…kau sudah gila ya…”seru sebuah suara.

Aku segera menutup lokerku dan berbalik melihat orang itu.

”Yesung-ah…”seruku padanya yang berdiri tepat di depanku sambil menatapku dengan tatapn bingung.

”Kau berbicara dengan lokermu sendiri?”tanyanya dengan tatapn bingung.

”Babo kau! Mana mungkin aku bicara dengan lokerku sendiri…”jawabku.

”Syukurlah….kau masih waras….”serunya dengan wajah penuh kelegaan.

Dasar Yesung aneh, mana mungkin aku bicara dengan lokerku sendiri, aku masih waras tahu. Seruku dalam hati.

”Mana Kyu?”tanyaku begitu melihat dia hanya sendiri biasanya dia selalu bersama Kyu kemana-mana.

”Dia sedang dirawat di rumah sakit….gara-gara sakit di perutnya itu…”jawab Yesung dengan wajah agak sedih.

Tentu saja Kyu adalah teman baiknya pasti dia sedih melihat Kyu terbaring di rumah sakit. Aku malah ingin tertawa mendengar Kyu di rawat di rumah sakit. Anak itu memang ngeyel sudah aku bilang suruh ke rumah sakit dia malah bilang akan baik kalau sudah main game. Dasar babo mana ada game yang bisa menyembuhkan, baru tahu rasa kau sekarang. Seruku dalam hati. Aku jadi ingin melihat wajahnya di rumah sakit. Pasti sangat menyedihkan.

”Aku jadi ingin mengunjunginya…”seruku pada Yesung.

”Besok saja…aku besok mau kesana..”seru Yesung riang, sepertinya dia senang sekali aku mau menjenguk Kyu.

”Bagaimana ya…nanti aku kabarin lagi deh…”seruku padanya.

”Hye Jin-ah…”teriak Wookie dari depan pintu kelasku yang tidak jauh dari lokerku.

”Ne…”jawabku.

Huh pasti anak itu ingin meminjam bukuku. Kebiasaan selalu menyamakan PR nya dengan PR ku.

”OK…kalau besok kau mau ikut…sms aku saja…arasso?”seru Yesung padaku.

”Ne…”jawabku

Dia pun segera berlalu menuju kelasnya dan aku pun berjalan menghampiri Wookie yang dari tadi sudah cerewet sekali menyuruhku masuk. Seperti cewek saja dia mana suaranya cempreng sekali.

”Lama sekali kau…mana…aku pinjam…”serunya padaku.

”Aku kan sudah sering bilang ambil saja di tasku…”jawabku sambil berjalan ke mejaku.

”Tidak…nanti dikira aku mau mencuri lagi…”serunya.

Aku pun tertawa mendengarnya. Lagian apa yang mau dicuri dari dalam tasku. Aku pun mengambil bukuku dan menyerahkannya pada Wookie.

”Hye Jin-ah…..jebal…”seru Rae Na memohon padaku.

Daritadi dia terus saja berdiri di depanku sambil memohon agar aku ikut menemaninya menonton pertandingan basket besok. Apalagi yang ingin dia lihat kalau bukan Minho. Dasar anak itu.

”Besok pertandingan pertama Minho sebagai ketua klub basket…jebal…temani aku…”serunya lagi masih sambil memohon.

Aku menimbang permintaan itu, kalau aku ikut tentu aku bisa melihat Taemin tapi pasti disitu ada Key juga, aku kan sedang bertengkar dengannya dan menjauhinya adalah hal yang baik sekarang tapi aku juga tidak enak pada Rae Na, besok juga aku ingin pergi menjenguk Kyu, aishh, aku bingung!

”Hye Jin-ah..”seru Rae Na lagi dengan semakin memohon.

Aku menghela nafas.

”Ne..aku ikut…”seruku padanya dengan wajah yang agak sedikit kupaksakan.

”Memangnya kau begitu sukanya pada Minho..kenapa tidak bilang padanya?”tanyaku padanya.

Aku sudah tahu Rae Na sangat menyukain Minho sejak mereka masih SMP tapi sepertinya Minho sama sekali tidak tahu, tentu saja bagaimana dia bisa tahu sedangkan dia hanya sibuk dengan kegiatan basketnya itu terlebih lagi dia adalah orang yang sangat dingin meskipun denganku dia tidak seperti itu malah lebih mirip tukang gosip, aku masih kesal dengan dia yang selalu mengira aku adalah yeohachingunya Taemin dan menyebarkan itu keseluruh anak basket.

Aku melihat Key masuk ke kelas dengan gayanya yang biasa dia menatapku sekilas dengan tatapan yang sangat sinis. Membuatku merinding. Aku jadi ingat dia juga pertma kali seperti itu padaku. Kenapa jadi seperti deja vu begini? Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

”Kenapa Hye Jin-ah?” tanya Rae Na.

”Ah andwe…”seruku dan masih terus memikirkan kenapa bisa sampai jadi seperti ini.

Makan sendiri memang tidak enak sekali. Kenapa sih Rae Na bela-belaiin melihat Minho berlatih dibanding menemaniku makan siang. Hyo Jin juga tidak ada. Siwon Oppa, Donghae Oppa kemana mereka semua. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling dan tidak melihat wajah orang-orang itu. Aku terus saja melanjutkan makan siangku dalam diam.

”Hye Jin-ah…kau sendirian?”tanyanya seseorang yang langsung meletakkan nampannya di mejaku.

Aku mendongak untuk melihat dan ternyata itu Taemin. Aku pun mengangguk dan tersenyum padanya.

”Bukannya kau sedang latihan?”tanyaku begitu aku meminum susuku.

”Sudah selesai…jadi aku langsung buru-buru kesini…aku sangat lapar…minho hyung itu selalu saja seperti itu…menyuruh kami latihan meski di jam istirahat…”terang Taemin dan langsung menyendok nasinya. Sepertinya dia sangat kelaparan karena dia makan sangat terburu-buru. Aku hanya memperhatikannya makan sementara makananku sudah habis.

”Kau sudah selesai ya?” tanya Taemin begitu melihatku sudah tidak makan lagi dan menjauhkan nampan dari hadapanku.

”Ne..aku kan sudah daritadi…”jawabku.

”Oh ya…besok kau datang?” tanyanya padaku.

”Ne…Rae Na memintaku menemaninya…”seruku padanya.

”Padahal tadinya aku mau mengajakmu tapi ternyata kau sudah di ajak oleh Rae Na duluan…..tidak apalah…aku senang kau mau datang…”katanya.

Ternyata dia mengharapkanku untuk datang. Aigoo!

Aku melihat segerombolan anak basket masuk ke kantin. Semua mata langsung tertuju pada mereka. Yah tentu saja siapa yang tidak tahu kalau mereka itu adalah kumpulan orang-orang keren. Aku akui itu. Mereka semua keren. Disana ada Minho, Yesung, Sungmin, Siwon Oppa, dan Changmin sunbae. Jadi Siwon Oppa juga ikut melatih hobae-hobaenya pantas daritadi aku tidak melihatnya. Siwon Oppa melihat ke arahku sekilas namun langsung memalingkan wajahnya padahal aku baru saja akan tersenyum padanya. Kenapa dengan dia? Mereka duduk dalam satu meja dan langsung asyik mengobrol. Tak lama kemudian Key masuk ke kantin dan melihat ke arahku sekilas kembali dengan pandangan sangat menakutkan.

”Kalian masih bertengkar?” tanya Taemin begitu melihatku terus memperhatikan Key.

”Ne…sudahlah…aku tidak peduli…”seruku.

Minho kemudian berjalan ke arah kami.

”Ya! Taemin-ah kau malah makan duluan…”serunya pada Taemin.

”Mian hyung….aku sangat lapar…”seru Taemin dengan wajah meminta maaf.

Ternyata dia kabur dari latihan. Kemudian Minho mengalihkan pandangannya padaku lalu tersenyum. Aiggo, dimulai lagi.

”Arasso…kau mau makan dengan Hye Jin ya…romantis sekali…”serunya sambil menatapku dan mengedipkan sebelah matanya.

”Andwe…”seru kami bersamaan.

Aku langsung mengalihkan padanganku darinya karena aku merasakan mukaku sudah merah, Taemin pun begitu bisa kulihat wajahnya juga memerah. Aku malu sekali. Bagaiamana ini. Minho malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kami.

”Ya sudah dilanjutkan saja makannya…”seru Minho.

”Andwe…aku pindah hyung…” seru Taemin sambil membawa nampannya dan berdiri.

”Ne…aku juga sudah selesai mau ke kelas…”seruku dengan terburu-buru dan langsung berjalan meninggalkan mereka. Aku bisa melihat begitu Taemin sampai di meja mereka. Anak-anak itu langsung tertawa terbahak-bahak. Dasar Minho! Tapi ada satu orang yang aku lihat. Itu Key. Dia tetap makan tanpa mempedulikan yang lain. Apakah dia membenci Taemin karena hal itu?

Pulang sekolah aku masih duduk di bangku melihat anak-anak sudah mulai keluar kelas. Aku ingin sekali bicara dengan Key untuk meluruskan masalah ini. Habisnya aku jadi tidak enak jika seperti ini terus. Aku menunggu hingga semua orang keluar kelas.

”Hye Jin-ah…kau tidak pulang?”seru Rae Na sambil menepuk bahuku.

”Ne….aku kan kerja dulu…”jawabku.

”Arasso…aku duluan ya..hati-hati…”serunya sambil tersenyum dan berlalu pergi.

Aku masih menunggu hingga semua orang benar-benar sudah pulang semua. Setelah kelas menjadi sepi aku melihat Key juga sudah berdiri dari tempat duduknya dan hendak berjalan keluar. Aku berusaha mengejarnya dan memanggilnya.

”Key!”teriakku.

Aku melihat dia berhenti berjalan namun tanpa menoleh sedikitpun maka aku pun berjalan menghampirinya.

”Jangan bicara denganku lagi!”serunya dengan tetap membelakangiku.

Apa maksudnya jangan bicara lagi dengannya? Apa dia sebegitu marahnya? Memang aku sangat bersalah atas kejadian itu?

Dia berjalan pergi meninggalkanku. Aku menarik tangannya dan dia pun menoleh melihatku tapi dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Dia mentapku sangat tajam.

”Key..”lirihku karena takut melihat matanya maka aku pun menunduk.

”Sudah kubilang jangan pernah bicara denganku lagi!”serunya sambil menyentakkan tanganku dan langsung berjalan pergi.

Aku hanya bisa menatapnya semakin menjauh, kenapa dia begitu jahat. Aku merasakan mataku mulai memanas, sudah kuduga pasti aku akan menangis, aku memang tidak bisa mengontrol emosiku jika sedang kesal atau marah pasti menangis. Aku berbalik dan berjalan keluar sekolah berusaha menahan tangisanku. Aku berjalan menuju tempat aku bekerja. Di jalan aku masih terus berusaha menahan tangisanku. Baru beberapa meter dari gerbang sekolah, sebuah motor berhenti di depanku.

”Hye Jin-ah…ayo aku antar…”seru Taemin.

Aku menatap Taemin dan tanpa terasa air mataku sudah mulai mengalir.

”Hye Jin-ah… gwenchanayo?”tanyanya khawatir.

”Ne…gwenchana…”seruku sambil berusaha tersenyum namun ternyata air mataku malah terus turun.

Taemin langsung merengkuhku ke dalam pelukannya.

”Sudah baikan….”seru Taemin sambil memberikan es krim padaku dan aku pun mengambilnya.

”Mianhe…kau pasti mengira aku cengeng sekali…hanya karena masalah seperti itu menangis…aku sendiri heran dengan diriku kenapa aku begitu mudah untuk menangis…”seruku sambil menjilat es krim yang dia berikan.

Kami sedang duduk di taman dekat sekolahku gara-gara tadi aku menangis, ya ampun sudah berapa kali aku memangis di depannya.

Dia hanya tersenyum menanggapi perkataanku dan malah mengacak-acak rambutku lembut.

”Lebih baik daripada tidak bisa menangis….”serunya.

”Aku benci sekali dengan makhluk yang bernama Key itu…”seruku.

Kulihat Taemin hanya terkekeh pelan, ya aku sudah menceritakan semuanya pada Taemin tentu dengan beberapa bagian yang tidak aku ceritakan secara detail seperti pertanyaa Key padaku kenapa aku mau melakukan adegan itu dengan Taemin.

”Ne…mungkin dia butuh waktu…tapi sebaiknya kau minta maaf saja padanya…jangan jadi malah membencinya…”serunya lagi.

Aku pun tersenyum menanggapinya. Yah mungkin aku harus langsung minta maaf saja padanya, tidak peduli sebenarnya siapa yang salah. Tidak ada salahnya aku minta maaf duluan.

Aku baru ingat aku harus pergi bekerja. Jam berapa sekarang? Aigoo, bisa telat aku.

”Taemin-ah..jam berapa sekarang? Aku lupa harus pergi kerja..”seruku padanya dan langsung berdiri.

”Sudah jam 3 kurang 10 menit…memangnya kau masuk jam berapa?”tanyanya.

Aigoo, 10 menit lagi.

”Jam 3..aissh..bagaimana ini…”seruku.

”Ayo aku antar…”serunya sambil menarik tanganku.

”Gamsahamnida ahjumma…annyeong…”seruku dengan melambai lalu berjalan keluar toko itu. Untunglah tadi diantar Taemin jadi aku tidak telat. Jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Aku mengatupkan kedua tanganku dan meniupnya untuk memberikan kehangatan pada kedua tanganku yang sangat dingin. Oh ya sebentar lagi akan masuk musim dingin. Musim dingin pertamaku di Korea. Apakah akan berbeda? Dulu aku sering pergi snowboarding jika musim dingin tiba. Aku berpikir apakah disini juga ada tempat seperti itu ya? Aku kangen Amerika. Seruku dalam hati. Aku mengedarkan pandangan kesekeliling jalan di depan toko jajangmyeon itu dan menagkap sebuah pandangan yang tidak asing lagi. Bukankah itu Taemin. Dia melambaikan tangannya dan menyuruhku mendekat. Aku pun berjalan menuju ke arahnya.

”Ayo pulang…”serunya sambil memberikan helmnya padaku.

Aku hanya terpaku di tempatku bertanya-tanya kenapa dia ada disini? apa dia sengaja menjemputku?aisshh kau narsis sekali Hye Jin, mungkin dia hanya sedang lewat saja.

”Ayo pulang…sudah dingin…”serunya lagi.

Aku tersentak dari lamunanku dan langsung mengambil helm yang dia sodorkan padaku.

Setiap hari dia seperti ini malah membuatku semakin menyukainya. Aigoo.

”Hye Jin-ah….ayo cepat…”seru Rae Na sambil terus menarik tanganku.

”Ya! Rae Na pertandingannya tuh masih satu jam lagi…”seruku sambil berusaha melepaskan tarikan tangannya.

”Ne…arasso…tapi aku mau melihat mereka dulu…”serunya dengan wajah memohonnya yang khas.

Sungguh aku sangat tidak suka melihatnya memohon seperti itu. Akhirnya aku pun luluh juga dan segera berjalan keluar kelas menemaninya menuju lapangan basket. Hari ini pertandingannya diadakan di sekolah kami. Di lapangan hanya tampak beberapa anak basket sekolah kami yang sedang bersiap-siap dan saat aku melihat di kursi penonton. Wow, hanya satu kata itu saja yang terucap dari mulutku. Ramai sekali padahal baru satu jam lagi pertandingannya di mulai tapi para penonton sudah ramai disini. Saat aku hendak duduk salah satu tempat duduk Rae Na malah menarik tangaku menuju ke pinggir lapangan yang ramai dengan anak basket yang sedang bersiap-siap.

”Ya! Aku tidak mau kesitu….”seruku namun tanganku terus ditarik sampai ke pinggir lapangan dan disana sudah ada Minho, Yesung, Sungmin, Key, Siwon Oppa juga Changmin sunbae yang sepertinya ingin memberi semangat pada hobae-hobaenya ini dan sisanya ada hobae kami yang aku tidak tahu siapa mereka. Salah satu dari mereka matanya sangat sipit kurasa dia bukan orang Korea kalau dilihat dari wajahnya.

”Hye Jin..Rae Na…”Seru Yesung dengan senyumnya yang seperti biasa begitu melihat kami menuju ke arah mereka.

Aku menaggapinya dengan membalas senyumnya namun begitu aku sampai di depan mereka kulihat Key pergi menjauh dengan tatapannya yang sangat tajam itu. Hufft, dia sangat membenciku sepertinya.

”Yeojachingu Taemin..annyeong…”seru Changmin sunbae dengan senyumnya yang khas itu.

Dasar Changmin sunbae, aku punya nama tahu, kenapa dia selalu memanggilku dengan nama-nama yang aneh kalau bukan Choi pasti yeojachingu Taemin. Dasar sunbae yang aneh!

Aku pura-pura tidak mendengarnya dan beralih menatap Siwon Oppa dan tersenyum namun Siwon Oppa hanya tersenyum tipis. Ada apa dengan dia akhir-akhir ini? Dia sangat aneh padaku. Aku pun jarang sekali bertemu dengannya di sekolah, kalaupun aku melakukan kegiatanku yang biasa dengan Donghae Oppa pasti dia tidak ada dan setiap aku bertanya Donghae Oppa, dia selalu bilang Siwon Oppa sekarang sedang sibuk dan dia baik-baik saja tapi aku penasaran ada apa?

”Minho-ya…hwaiting!” seru Rae Na sambil tersenyum pada Minho dan Minho hanya mengangguk dengan wajah tetap datar.

Aishh, apa-apaan anak ini? Ada yang memberinya semangat malah seperti itu tanggapannya. Oh ya tumben sekali anak ini diam saja. Apa dia gugup?bisa juga si jago basket ini gugup.

”Rae Na-ah….masa Cuma Minho saja yang kau beri semangat…”seru Yesung dengan wajah cemberut.

”Yesung-ah hwaiting!”seruku.

Yah aku kan juga bisa memberinya semangat.

”Aishh…bukan kau Hye Jin…”Serunya lagi masih dengan wajah cemberut sedangkan yang lain hanya tertawa melihat tingkah Yesung sementara Minho tetap diam. Sebegitu gugupkah dia. Oh ya aku tidak melihat Taemin, kemana dia?

”Dia masih di ruang ganti…”seru Changmin sunbae sambil tersenyum jahil.

”Siapa yang di ruang ganti?”tanyaku pura-pura tidak tahu walaupun sebenarnya aku tahu siapa yang dia maksud.

”Ya..kau pura-pura…”serunya dan kini dia tertawa.

Aku hanya menanggapinya dengan memanyunkan bibirku. Aku melihat Rae Na terus saja berbicara pada Minho menanyakan apa saja walaupun hanya ditanggapi dengan anggukan atau senyum tipis tapi sepertinya Rae Na begitu senang. Dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Minho. Tumben sekali Minho tidak ikut-ikutan meledekku seperti Changmin sunbae. Aku melihat Yesung yang sepertinya sangat tidak suka melihat Rae Na dekat dengan Minho, jangan-jangan Yesung menyukai Rae Na. Aigoo.

”Nah itu dia…”teriak Changmin sunbae sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.

Taemin berjalan menghampiri kami dan tersenyum.

”Ya! Hye Jin-ah kau tidak mau memberi semangat pada dia…”seru Changmin sunbae lagi.

Taemin langsung tersentak kaget begitu mendengar perkataan Changmin sunbae dan kulihat dia hanya menunduk. Begitu pun aku. Apa-apaan sih Changmin sunbae ini.

”Ne…Hye Jin-ah masa Cuma Yesung saja…”seru Sungmin yang dari tadi diam kini angkat suara juga. Sudah tidak orang yang beres di klub basket ini, semuanya tukang gosip. Aku hanya melirik ke arahnya tajan dan dia bersembunyi di balik tubuh Yesung seperti anak kecil.

Entah kenapa mata Taemin dan mataku saling bertatapan dan itu membuat kami salah tingkah. Aku yakin mukaku pasti sudah sangat merah sekarang. Semuanya tertawa melihat tingkahku bahkan Minho yang sedang gugup ikut menyunggingkan senyum di bibirnya.

”Rae Na…ayo kembali ke tempat duduk…”seruku sambil menarik tangan.

”Ya! Kau harus memberi semangat dulu pada Taemin…”seru Rae Ne melepaskan tangaku.

Semua orang kini menatapku menungguku mengucapkan kata-kata itu.

”Ne…sudahlah hyung….”seru Taemin membantuku.

Semua orang masih saja menatapku tanpa mempedulikan Taemin. Baiklah kalau itu memang membuat kalian puas.

”Taemin-ah…hwaiting!”seruku padanya.

Dan bisa kulihat dia sangat terkejut dan hanya bisa mengangguk dan mengalihkan padangannya dari tatapanku. Semua orang malah tertawa melihat kami.

”Ayo…”seruku dengan menarik tangan Rae Na, tentu saja kini dia tidak menolak karena aku sudah mengabulkan keinginannya.

Pertandingan berjalan sangat sengit tapi untunglah ada Minho. Ternyata dia memang sangat jago. Sebenarnya aku sedikit tidak konsentrasi melihat pertandingan itu karena Rae Na disampingku terus saja berteriak memanggil nama Minho, membuatku pusing saja.

”Ya!kenapa kau tidak meneriakkan nama Taemin!”seru Rae Na di sela-sela teriakkannya memanggil nama Minho.

”Untuk apa?jawabku enteng.

Dan kulihat Rae Na hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melanjutkan meneriakkan nama Minho.

Aku bukan tipe cewek seperti itu yang histeris, aku lebih suka menonton pertandingan dengan diam. Aku lebih melihat teknik dibanding pemainnya mungkin gara-gara aku pernah ikut tim basket waktu di Amerika dulu jadi mau setampan apa orang yang bermain aku sudah biasa. Yah bagaimana aku tidak biasa, basket merupakan olahraga favorit di Amerika dan melihat pemain keren-keren sudah menjadi hal yang selalu aku lihat. Tapi jujur sebenarnya aku tetap tidak bisa mengalihkan pandangku dari Taemin. OMO dia sangat keren saat bermain basket. Aku belum pernah melihatnya bermain basket seperti ini sebelumnya yang benar-benar pertandingan. Aku memperhatikan dia saat mendribble bola atau saat dia melakukan Lay Up.

Akhirnya Tim basket kami pun menang meski dengan skor yang tipis 56-58.

”Minho memang sangat keren…”serunya begitu pertandingan selesai.

Yah kuakui Minho sangat keren 30 angka berhasil dia cetak.

”Ayo pulang…”seruku padanya.

”Nanti dulu aku mau bertemu mereka dulu…”seru Rae Na sambil menarik tanganku.

”Ya..nanti saja diluar…kita tunggu diluar saja ya…”seruku padanya.

Rae Na pun akhirnya menurut dan berjalan mengikuti keluar lapangan basket dan berjalan menuju gerbang sekolah dan menunggu anak-anak klub basket keluar. Tak lama kemudian aku melihat Key berjalan menuju lapangan parkir sendiri. Tumben sekali biasanya dengan Minho. Aku pun berinisiatif mungkin saat yang tepat untukku meminta maaf padanya. Aku menghela nafas.

”Rae Na…aku kesana dulu ya…sebentar saja…”seruku padanya.

Dia pun hanya mengangguk dan terus menatap pintu masuk. Aku berjalan mengejar Key.

”Key!”teriakku.

Dia berhenti beberapa meter dariku, aku pun berjalan menghmapirinya.

”Sudah kubilang berapa kali!jangan pernah bicara denganku lagi!”serunya dan langsung berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang. Kenapa dia tidak pernah memeberikanku kesempatan untuk berbicara sedikit saja, hanya untuk bilang maaf, dasar pria egois!gerutuku dalam hati.

Aku masih berdiri di lapangan parkir yang sudah sangat sepi dan kulihat Key pulang dengan mobilnya. Dasar pria egois!ok kalau kau tidak mau bicara denganku lagi, aku juga tidak akan pernah bicara denganmu lagi!seruku dalam hati kesal dengan kelakuaannya. Aku masih berdiri mematung di lapangan parkir itu sampai sesorang menyentuh pundakku. Aku langsung menoleh dan ternyata itu Taemin.

”Hye Jin-ah…kenapa kau disini?”tanyanya.

”Ah…andwe…kau belum pulang?”tanyaku.

”Ne…ini aku baru mau pulang..”jawabnya sambil tersenyum.

Kenapa suasananya jadi seperti ini? Hey untuk apa juga aku masih disini…oh ya pasti Rae Na sudah kesal menungguku, aku harus segera menemuinya.

”Taemin-ah…aku harus bertemu Rae Na…annyeong…”seruku padanya dan berjalan meningglakannya.

”Hye Jin-ah…”seru Taemin memanggilku, aku pun berhenti berjalan dan berbalik.

”Ne…ada apa?”seruku.

Dia berjalan menghampiriku dan menatapku dalam-dalam. Aigoo, kenapa dia menatapku seperti itu? Jantungku berdetak sangat kencang melihatnya terus menatapku tepat di mataku. Aishh, kenapa aku ini?

Dia terus menatapku dan menggenggam tanganku. Aigoo, pasti mukaku sudah sangat merah sekarang.

”Gumawo Hye Jin-ah…sudah memberiku semangat…”serunya.

Aku hanya bisa mengangguk dan terus menatap matanya. Aishh!!

”Hye Jin-ah…”serunya lagi.

”Taemin-ah!”teriak seseorang memanggil namanya dan dia pun langsung melepaskan genggaman tangannya begitu melihat Minho cs datang menghampiri kami bersama Rae Na.

”Ya! Taemin ayo ikut kami merayakan kemenangan kita hari ini!”seru Changmin sunbae sambil merangkul Taemin.

Aku pun segera menarik tangan Rae Na untuk pulang.

”Annyeong…”seruku pada semua orang disitu.

Aku harus segera pergi darisini sebelum mereka semua bertanya yang macam-macam kenapa aku dan Taemin bisa ada disini bersama dan kuharap mereka tidak melihat Taemin menggenggam tanganku. Bisa gawat!

TBC

2010 SF3SI ©Novi

This post/FF has written by Novi, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF