The Sweet Escape – Part 4

The Sweet Escape – Part 4

Author            :           Park Kyungjin

Main Cast      :           SHINee – Kim Jonghyun

Park Kyungjin a.k.a author

Other Cast     :          SHINee – Lee Taemin

Genre              :           Angst, Romance

Rating             :           PG+15

Disclaimer  :           This story is mine!

2010  ©SF3SI

+++

Aish. Sungguh tidak sopan mengambil barang orang lain tanpa seizin pemiliknya. Aku tidak boleh begitu, aku seharusnya bersyukur telah dipercaya oleh Kyungjin, walaupun aku sendiri juga tidak begitu yakin kalau ia percaya padaku sepenuhnya dan bisa saja saat pulang sekolah nanti ia akan membawa segerombolan polisi dan menyerahkanku pada mereka.

Aduh, bagaimana kalau itu semua benar-benar terjadi? Ottokhae?

Ah, tidak mungkin. Kyungjin kelihatannya orang yang sangat baik.

Aku memutuskan untuk tidur di sofa yang ada di ruang tengah sambil menunggu Kyungjin pulang. Lumayan. Setidaknya rasa laparku ini bisa ku tahan sejenak.

+++

(Kyungjin P.O.V)

Seperti biasa aku menghampiri sebuah minimarket saat pulang sekolah. Aku ingin membeli bahan makanan untuk hari ini.

Kriukkk. Kriukkk.

Arrggghh. Perutku sudah tidak bisa kompromi lagi. Dari tadi pagi aku belum sempat sarapan dan saat tiba di sekolah aku malah tidak berselera untuk makan. Ya sudah, aku harus buru-buru belanja.

+++

Saat tiba di rumah, aku melihat Jonghyun tengah tertidur lelap di atas sofaku.

Aish. Kenapa buronan itu masih ada di sini.

Aku kemudian mendekat dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tak lama kemudian ia akhirnya terbangun dan duduk di sofa itu.

“Oh, Kyungjin. Kau sudah pulang?”

Pertanyaan yang sangat bodoh. Tentu saja aku sudah pulang. Aku tidak menjawab pertanyaannya, malah aku balik bertanya padanya.

“Jonghyun, kenapa kau masih ada di sini? Kau kan di sini cuma untuk kabur dari kejaran polisi-polisi itu semalam”

“Errr, itu… Kyungjin… Boleh aku minta sesuatu?”

“Apa?”

“Untuk sementara aku mau bersembunyi dulu di rumahmu ini. Di luar sangat tidak aman, bisa saja polisi itu masih berkeliaran di sekitar sini. Boleh kan?”

“Mwo? Yang benar saja! Kau ini kan seorang buronan. Aku tidak mau nantinya aku tertangkap polisi dan dituding telah menyembunyikan seorang buronan” kataku dengan sedikit sengit.

“Ayolah, Kyungjin. Hanya kau yang bisa membantuku sekarang…”

Oh, tidak. Ia kembali memasang wajah memelasnya. Tapi kali ini aku tidak boleh luluh.

“Bukannya aku tidak mau membantumu, Jonghyun. Tapi ini sangat berbahaya. Lagipula, kau itu seorang namja. Bagaimana kalau ada yang mengetahui kalau aku tinggal serumah dengan seorang namja?”

Ku lihat ia mulai sedih.

“Ya sudah, kalau begitu aku pergi saja. Terima kasih karena telah mempercayaiku dan juga mau mengobati luka-lukaku ini” ia kemudian beranjak dari sofa itu dan berjalan melewatiku.

“Jonghyun, kau hati-hati ya di luar sana. Kau harus berjuang untuk membuktikan kalau kau memang tidak bersalah. Hwaiting!”

“Ne…” ia hanya menjawab singkat lalu berjalan sambil menunduk menuju pintu rumah. Namun baru berjalan beberapa langkah, ia kembali menghampiriku dengan tergesa-gesa.

“Ayolah, Kyungjin. Tolong aku. Aku sudah tidak tahu harus kemana lagi. Aku tidak akan macam-macam, sumpah! Kau bahkan boleh menyembunyikanku di bagian yang paling tersembunyi di rumah ini, asalkan aku bisa tetap berada di rumah ini. Aku sangat khawatir kalau aku keluar dari rumah ini, aku akan tertangkap. Kumohon, Kyungjin… Jebal…”

Tatapan memelas itu lagi. Aish. Bagaimana ini? Aku jadi tidak tega.

“Ne…” aku hanya memberinya jawaban singkat.

Arrrgggghhh. Kenapa aku sama sekali tidak bisa menolak permintaannya itu.

“Benarkah?! Ah, gomawo, Kyungjin. Kau memang yeoja yang sangat baik. Gomawo…” katanya sambil mengguncang-guncang tubuhku.

Astaga. Sepertinya aku juga dalam keadaan berbahaya sekarang.

Kriukkkkk. Kriiuuuukkkk.

Tiba-tiba perutku berbunyi kembali. Oh iya, aku kan belum pernah makan sejak tadi pagi.

Namun tak lama kemudian suara itu terdengar lagi.

Kriukkkkkkkk. Kriuuuuuuukkkk.

Aku mencoba mendengarnya dengan seksama. Ku rasa yang barusan itu bukan berasal dari perutku. Aku kemudian menoleh pada Jonghyun.

“Hehehehe… Ternyata kita sehati, Kyungjin” Jonghyun hanya bisa cengengesan sambil memengangi perutnya yang juga berbunyi.

“Baiklah, ayo kita masak!” kataku pada Jonghyun sambil mengangkat kantong belanjaan yang sedari tadi ku pegang.

+++

(Jonghyun P.O.V)

“Nah, sudah selesai” kata Kyungjin sambil berpose ala koki profesional.

Aku membantunya menata makanan yang sudah dia masak di atas meja makan kecil yang terletak di dapur.

Wah, baunya sangat enak. Aku jadi tidak sabar ingin segera memasukkan makanan-makanan ini ke mulutku.

“Kyungjin, baunya enak sekali” kataku sambil terus memperhatikan makanan-makanan itu.

“Ayo makan!” katanya lalu menarik salah satu kursi dan duduk di sana.

Aku menarik kursi di sampingnya dan segera duduk. Ku lihat ia sudah mulai makan. Aku kemudian mengambil makanan yang terbuat dari daging ayam dan berkuah itu lalu mencobanya.

“Wah, rasanya enak sekali. Apa nama makanan ini?”

“Molla… Tadi aku asal memasaknya saja. Aku tidak sempat berpikir untuk memasak apa, aku sudah terlalu lapar… Hehehe…” katanya lalu melanjutkan makannya.

Ya ampun, memasak asal seperti ini saja sudah sangat enak. Aku kembali memperhatikan Kyungjin yang tengah makan dengan sangat lahap.

“Makanmu lahap sekali, kau ini yeoja atau bukan?”

“Oh, mian. Aku memang begini kalau sudah sangat kelaparan” katanya dengan mulut yang dipenuhi makanan. Aigo, lucu sekali.

“Sangat kelaparan? Kau seperti orang yang tidak pernah makan seharian saja” kataku asal sambil melanjutkan makanku.

“Bingo!”

Astaga. Jadi seharian ini dia memang belum makan. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku dan ikut makan dengan sangat ganas. Aku tidak boleh kalah dengan seorang yeoja! Lagipula aku sama dengannya, seharian belum makan.

Kyungjin yang menyadari perubahan cara makanku kembali bertanya.

“Lha, kau sendiri bahkan lebih parah dariku. Kau terlihat seperti orang yang sudah tak makan berhari-hari” katanya sambil mengunyah.

“Hehehe… Aku juga belum makan seharian” kataku sambil memamerkan senyum dengan mulut yang dipenuhi makanan. Ia hanya mengangguk sambil melanjutkan kembali makannya.

“Kau kenapa tidak makan saja. Di kulkas ada sedikit makanan”

“Ah, aku merasa tidak enak. Ini kan bukan rumahku, jadi aku tidak boleh seenaknya”

“Jonghyun, tak usah sungkan begitu. Anggap saja rumahmu sendiri. Lagipula yang tinggal di sini cuma aku, dan kau tentunya” katanya sambil menekankan kata “kau”nya itu.

“Gomawo, Kyungjin. Kau baik sekali”

“Mmmm…” ia hanya menggumam karena terlalu sibuk melahap makanan-makanan ini.

“Oh iya, orang tua kamu di mana? Kau tidak tinggal dengan mereka?”

“Anni. Orang tuaku beserta dongsaengku untuk sementara menetap di Jepang karena appaku dipindah tugaskan ke sana”

“Kenapa kau tidak ikut dengan mereka?”

“Awalnya appa dan eommaku juga mau membawaku. Tapi aku lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah ini. Aku sama sekali tidak tertarik untuk menemukan suasana baru. Mereka sudah pindah sejak awal aku menduduki bangku SMA”

Aku hanya mengangguk mendengar penjelasannya. Gadis yang sangat pemberani. Ia malah memilih untuk pisah dengan keluarganya dan tinggal sendirian di rumah sebesar ini.

Akhirnya kami selesai makan. Ah, kenyangnya. Harus kuakui masakan Kyungjin sangat enak. Kyungjin mulai sibuk membereskan piring-piring yang sudah tidak berisi ini dan membawanya ke tempat pencucian. Aku masih terduduk di meja makan ini hingga kemudian Kyungjin memanggilku.

“Jonghyun, sini!”

Aku berdiri dan berjalan menghampirinya.

“Ada apa?”

Ia hanya tersenyum dan menyodorkan sesuatu padaku.

“Ini sabunnya. Kau yang cuci semua piring ini ya!” katanya lalu bergegas pergi meninggalkanku.

“Mwo?!”

+++

Akhirnya selesai juga.

Meskipun ini baru pertama kalinya aku mencuci piring, tapi aku bisa mencucinya dengan sangat baik.

Aku berjalan meninggalkan dapur. Kulihat Kyungjin tengah asyik bersantai di atas sofa sambil sibuk memainkan remote TV, mencari-cari tontonan yang pas. Aku duduk di sebelahnya dan langsung merebut remote yang ada di tangannya.

(Kyungjin P.O.V)

Jonghyun ikut duduk di sampingku. Namun tiba-tiba ia merebut remote dari tanganku dan segera mengganti-ganti chanel TV.

“Ya! Jonghyun, kau mengganggu saja. Kembalikan remotenya!”

“Tunggu sebentar. Aku mau lihat acara kuis”

Jonghyun terhenti pada sebuah chanel yang tengah menyiarkan berita. Tak lama kemudian yang muncul di TV itu adalah berita tentang dirinya.

“Pemirsa, saat ini seorang tahanan bernama Kim Jonghyun berhasil melarikan diri. Pihak kepolisian sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengejar dan menangkap kembali tahanan tersebut namun pihak kepolisian gagal menemukannya. Diduga saat ini ia sedang bersembunyi di suatu tempat sebab pihak kepolisian telah mencari Kim Jonghyun di rumahnya namun keluarganya sendiri mengaku tidak mengetahui keberadaannya…”

Ku lihat Jonghyun terpaku menatap berita itu. Sepertinya ia sangat terpukul. Aku kemudian memegang pundaknya.

“Jangan sedih, Jonghyun. Kau pasti bisa melewati ini semua. Hwaiting!” kataku sambil mengepalkan tanganku, memberikan semangat padanya.

“Hehe. Gomawo, Kyungjin-ah”

Hey, sejak kapan dia memanggilku dengan embel-embel –ah?

Ia lalu mengganti chanel dan menemukan apa yang sedari tadi ia cari, kuis! Astaga. Apa semua orang jenius tontonannya seperti ini?

Aku hanya bisa cemberut melihatnya begitu serius menatap layar kaca sambil sesekali menggumamkan jawaban-jawaban atas pertanyaan yang diberikan pembawa acara itu. Ah, membosankan sekali.

Aku melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Astaga! Sekarang kan sudah waktunya aku menonton idolaku itu!

Dengan segera aku menyambar kembali remote di tangan Jonghyun dan mengganti chanelnya. Nah ini dia, konser musik! Tak lama kemudian orang yang kutunggu-tunggu muncul juga.

“Kyaaaaaaaaaaa!! Kim Jungwon!!” kataku seraya menunjuk-nunjuk TV.

“Kau suka dia?” kata Jonghyun tiba-tiba.

“Iya! Aku sangat mengidolakannya. Lihat saja, permainan pianonya bagus sekali kan?” kataku bersemangat.

“Dia hyungku” katanya dengan ekspresi yang biasa-biasa saja.

Mwo?! Bisa-bisanya orang sehebat Kim Jungwon dengan santai ia akui sebagai hyungnya.

“Hah?! Hyung kepalamu?!” kataku setengah mengejek.

“Aku serius. Dia memang hyungku. Wajar kalau kau tidak percaya, aku memang jauh berbeda dengan dia”

Aku masih belum bisa mempercayai omongannya. Yang benar saja? Kim Jungwon seorang pianist terkenal itu mempunyai dongsaeng seorang ahli akademik yang saat ini bahkan telah jadi buronan?

“Kalau dia memang hyungmu, berarti kau ini anak dari Kim Sangbum seorang komposer ternama dan Kim Yunhae seorang pemain biola yang handal, dan berarti kau juga punya dongsaeng yang suaranya bahkan mengalahkan suara Celene Dion…” belum sempat aku menyelesaikannya, Jonghyun sudah memotong kata-kataku.

“Kim Jaeyong. Yah, semua orang hebat yang kau sebut barusan adalah keluargaku” katanya dengan sangat serius.

Aku memperhatikan Jonghyun dengan seksama. Tidak ada tanda-tanda kebohongan di sana. Aku kembali berpikir. Pantas saja saat pertama kali bertemu aku merasa namja ini begitu mirip dengan Kim Jungwon, idolaku. Ternyata ia memang dongsaengnya.

“Ne, pantas saja aku merasa kau ini mirip dengan Jungwon, hanya saja kepribadian kalian berbeda. Tapi kenapa aku sama sekali tidak tahu kalau Jungwon punya seorang adik laki-laki, karena yang ku tahu ia hanya punya adik perempuan yang sesama seniman”

“Yah, orang-orang memang tidak banyak yang mengetahui kalau aku ini keluarga mereka. Sudah banyak orang yang menyadari kalau wajah kami memang mirip, tapi mereka sama sekali tidak sadar kalau aku ini bagian dari keluarga itu. Lagipula aku tidak begitu peduli, karena kenyataannya memang aku tidak mewarisi jiwa seni orang tuaku, tidak seperti hyung dan dongsaengku”

“Wah, kau ini sungguh ajaib, Jonghyun-ah” eh? Sejak kapan aku juga ikut-ikutan memanggilnya dengan embel-embel –ah?

“Hehehe. Kau jangan beritahu siapa-siapa ya…”

“Siipp!” kataku sambil mengacungkan jempolku.

“Hoaammmmpphhhh…” kulihat Jonghyun mulai menguap.

“Kau mengantuk? Kau bisa tidur di kamar dongsaengku. Tenang saja, dongsaengku seorang namja” kataku sambil menariknya menuju kamar yang ku maksud.

“Oh, gomawo, Kyungjin-ah”

Aku mendorongnya masuk ke kamar itu dan menutup pintunya dari luar. Hhh, sepertinya aku juga harus tidur sekarang.

Aku masuk ke dalam kamarku yang terletak di samping kamar yang ditempati Jonghyun sekarang. Aku mematikan lampu kamarku dan menyalakan lampu yang biasa ku pakai sebagai lampu tidur. Aku merebahkan tubuhku ke atas tempat tidur dan mulai mencoba memejamkan mataku.

“Selamat tidur, Kyungjin-ah! Mimpi indah ya!” tiba-tiba ku dengar teriakan Jonghyun dari kamar sebelah.

“Dasar cerewet!” aku membalas teriakannya. Ah, namja ini.

Aku tersenyum dan tak lama kemudian aku pun tertidur dalam senyumku ini.

+++

“… Bumi yang memiliki massa yang sangat besar menghasilkan gaya gravitasi yang sangat besar untuk menarik benda-benda disekitarnya, termasuk makhluk hidup, dan benda benda yang ada di bumi. Gaya gravitasi ini juga menarik benda-benda yang ada diluar angkasa, seperti bulan, meteor, dan benda angkasa lainnya, termasuk satelite buatan manusia…”

Kata-kata dari Park sonsaengnim tidak dapat kucerna dengan baik. Pelajaran fisika sungguh sangat membosankan. Ilmu yang sangat tidak masuk akal. Apa yang sebegitu pentingnya hingga balok yang jatuh dari atap pun dengan repotnya dihitung-hitung? Astaga. Siapa yang begitu kurang kerjaannya menjatuhkan balok dari atas atap.

Tak lama kemudian bel tanda istirahat berbunyi. Park sonsaengnim mengakhiri pelajaran dengan memberikan kami setumpuk tugas.

“Anak-anak, di buku cetak kalian ada soal-soal tentang gravitasi. Kerjakan di buku latihan kalian, 2 hari kemudian aku akan menagihnya. Sekarang silahkan beristirahat. Selamat siang”

Hhh. Tugas fisika.

Park sonsaengnim kemudian bergegas meninggalkan kelas.

Seperti biasa, aku menunggu Taemin datang ke kelasku saat jam istirahat.

Nah, itu dia. Taemin datang dengan senyuman yang tersungging lebar di wajahnya. Belum sempat ia sampai di bangkuku, aku sudah berlari ke arahnya sambil menggamit lengannya.

“Kajja, Taeminnie!”

+++

Aku berlari dengan sangat terburu-buru dari halte bus menuju rumahku. Sesekali aku melirik jam tanganku. Sudah pukul 2 siang. Aku harus buru-buru pulang dan bersiap-siap.

Aku sudah janji pada Taemin akan menonton pertandingan baseballnya sore ini.

Sesampainya di rumah, aku melihat Jonghyun tengah menonton TV. Aku melempar tasku di dekat Jonghyun lalu buru-buru ke dapur untuk memasak makan siang.

+++

(Jonghyun P.O.V)

Kyungjin sudah pulang. Ia melempar tasnya di dekatku dan berjalan dengan sangat tergesa-gesa munuju dapur sambil membawa kantong belanjaan.

Aku mematikan TV kemudian menghampirinya yang tengah kasak-kusuk di dapur.

“Kau kenapa, Kyungjin-ah?”

“Oh, Jonghyun. Aniyo, aku hanya sedang buru-buru”

“Memangnya kau mau ke mana?”

“Aku ada janji dengan seseorang”

“Oh. Tapi setidaknya apa kau tak bisa mengganti seragammu dulu sebelum memasak?” kataku kembali sambil memperhatikan seragamnya.

“Ah, sudahlah. Aku benar-benar buru-buru”

Aku tidak melanjutkan pertanyaanku. Aku lalu duduk di meja makan sambil menunggu Kyungjin selesai memasak. Aku selalu suka dengan masakannya.

Akhirnya ia selesai juga. Ia meletakkan semua hasil masakannya di meja.

Aku sudah lebih dulu duduk dan langsung mencoba makanan ini.

Astaga. Enak sekali! Bahkan dalam keadaan buru-buru pun ia bisa memasak seenak ini. Kulihat Kyungjin tengah makan dengan terburu-buru.

“Hei, jangan buru-buru seperti itu. Nanti kalau tersedak baru tahu rasa!”

Ia tidak menanggapi perkataanku, masih terburu-buru melahap makanannya.

Saat selesai makan, Kyungjin langsung berlari menuju kamarnya.

“Jonghyun-ah, tolong kau bereskan ya. Aku benar-benar buru-buru” katanya masih dengan berlari. Mau ke mana dia sebenarnya sampai segitu terburu-burunya?

Kubiarkan pertanyaan itu terus menggentayangi kepalaku lalu aku mulai mencuci semua piring-piring ini. Hhh, aku tidak begitu menyukai pekerjaan rumah tangga.

Tok tok tok.

Terdengar suara seseorang mengetuk pintu dari luar.

Tok tok tok.

“Jonghyun-ah, coba kau buka pintunya. Aku sedang sibuk!” Kyungjin berteriak dari dalam kamarnya.

Siapa yang datang? Ah, mungkin saja pengantar majalah langganannya Kyungjin. Kemarin ia juga datang mengantar majalahnya yang memang terbit setiap hari.

“Ne…”

Aku berjalan mendekati pintu. Aku memutuskan untuk mengintip terlebih dahulu untuk mengetahui siapa yang datang melalui jendela di samping pintu.

Saat aku melihat sosok lelaki tegap berseragam di luar sana yang tengah mengetuk pintu, aku jadi sangat terkejut.

Aku lalu berlari dengan cepat menuju kamar Kyungjin.

“Kyungjin-ah, cepat keluar! Kyungjin-ah!” kataku tergesa-gesa sambil menggedor-gedor pintu kamar Kyungjin.

“Kenapa?”

“Di luar sana ada polisi! Kyungjin-ah, tolong aku!”

Tiba-tiba Kyungjin membuka pintu kamarnya.

“Mwo?! Polisi? Jonghyun-ah, gawat!”

“Ne, Kyungjin. Cepat kau buka pintunya! Aku akan sembunyi!” kataku kalap sambil berlari mencari tempat persembunyian yang pas.

+++

(Kyungjin P.O.V)

Aku sangat terkejut saat mengetahui siapa yang datang. Polisi. Jonghyun juga terlihat tidak kalah panik. Ia menyuruhku untuk membukakan pintu sementara ia berlari mencari tempat persembunyian.

Aku berjalan dengan cepat menuju pintu dan saat ku rasa Jonghyun sudah bersembunyi, aku membuka pintunya.

Sesosok tubuh tegap itu kini dapat kulihat dengan jelas.

“Annyeonghaseo. Apa nona yang bernama Park Kyungjin?”

TO BE CONTINUE

Bagaimanakah nasib Jonghyun selanjutnya?

(niru gaya bicara mbak veni rose lagi)

*plakk// ditampar mbak veni*

Iya iya..

Kali ini g akan banyak bacot lagi.. Gomawo yang udah mau baca.. ^^ *hugs reader*

2010  ©SF3SI

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

24 thoughts on “The Sweet Escape – Part 4”

  1. AAAAAAAAA setuju banget sama nikitaemin!!

    Aku kira itu taemin, ternyata polisi

    Aku suka banget ceritanya! Seruuuu! Bahasanya juga asiik!

    Aigooooo, author, aku penasaraan! lanjutannya jangan lama-lama yaaa! #maksa

    1. WOOOOOOOOOOOOOOOOOOWWWWW!! *lebih heboh*
      FFUFUFUFUUFU~
      GOMAWO BERAT YA ONN UDAH MAMPIR DI FF NISTAKU~
      CKCK~ JADI MALU~
      PUNYANYA ONN MAH JAUH LEBIH KEREN~ XD
      TAPI SEKALI LAGI GOMAWO YA WIGA ONN *SOK AKRAB* UDAH MAU MAMPIR~ 😉
      *capsjebolbeteweXD*

  2. Dyu onn……
    huoooo itu jjongnya jangan ampe ketangkeeepp….
    ya ya ya?
    eh… tunggu2 kayaknya aku…
    enggak jadi deh… *dyu onn : apa sih uchi gaje bgt deh*
    hehehehe^^v
    ditunggu lanjutannyaaaa~~~~ ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s