One Fine Spring Day – Part 1

Title: One Fine Spring Day Part 1

Cast: Lee Jinki, Song Minji

Rate: PG 13/15

Length: Sequel

Genre: Romance

Author: Mutiaadha

Hello readers, ini ff sequel pertamaku, jadi mianhae kalo agak aneh dan membosankan ya -_-

©2010 SF3SI, Freelance Author.


~Lee Jinki POV~
Pertamakali melihatnya, kurasa aku menyukainya.
Wajahnya yang cantik, senyumnya yang menawan dan rambutnya yang panjang sungguh membuatku jatuh cinta padanya.
Well, namanya Song Minji. Teman satu kelasku disekolah. Ia adalah orang yang baik dan ramah pada setiap orang, Ia juga gampang sekali bergaul dengan banyak orang. Selain cantik dan menyenangkan, Ia juga pintar dalam berbagai bidang pelajaran. Ia sering sekali menyumbangkan berbagai prestasinya untuk sekolah. Dapat ku katakan, Ia adalah yeoja yang yang nyaris sempurna, tak heran jika ada banyak namja yang berniat menjadi kekasihnya, ya termasuk aku.
Aku sudah lama mengenalnya, sudah sejak dua tahun yang lalu. Kami memang satu kelas sejak awal masuk SMA sampai tahun terakhirku ini. Tetapi walaupun kami satu kelas, bisa dikatakan kami jarang mengobrol, bukan karena Ia sombong atau bagaimana, tapi karena aku yang tak pernah membuka diri padanya. Ya aku adalah seorang namja yang pendiam dan jarang sekali bergaul, aku lebih suka menyendiri dari pada bergaul dengan yang lainnya.
Lagi pula, aku bukan orang yang tau bagaimana caranya mendekati seorang yeoja. Dadaku pasti akan langsung berdebar kencang ketika berada di radius 1 meter darinya. Ya entahlah, mungkin karena ini adalah pertama kalinya aku mencintai seorang yeoja.
Oleh karena itu, sampai saat ini aku hanya bisa mencintainya secara diam-diam.

***

~Song Minji POV~
Aku melihatnya lagi.
Seorang namja yang memiliki mata sipit dan pipi putih seperti tahu itu sedang duduk sendiriian dipinggir lapangan basket, dibawah sebuah pohon rindang sambil membaca sebuah buku. Ia nampak begitu serius sehingga kupikir Ia tidak mungkin sadar kalau ada aku disini yang sedang memperhatikannya.
Ya namanya Lee Jinki, teman sekelasku yang pendiam, yang selalu menyindiri, yang jarang berbicara, yang selalu asik dengan dunianya sendiri, yang entah mengapa terlihat begitu spesial dimataku.
Kurasa aku menyukainya. Entahlah, aku juga tidak mengerti. Aku hanya melihatnya sebagai seorang namja yang berbeda dari kebanyakan namja lainnya.
“AHH JINKI-ssi!!!!” tiba-tiba saja ku dengar suara teriakan seorang yeoja.
Aku cukup kaget, kenapa yeoja itu meneriaki nama Jinki?
Aku berusaha mencari tau apa sebabnya dan entah apa yang terjadi saat itu karena terlalu cepat untukku sadari, tiba-tiba kini banyak anak-anak yang berlarian menghampiri tempat dimana Jinki tadi duduk, aku yang penasaran pun ikut berlari menghampirinya.
“Ada apa?” tanyaku pada seorang namja bernama Taemin, Ia teman sekelasku juga.
“Jinki pingsan!” jawabnya yang langsung membuatku kaget setengah mati.

“Mwo?! Ba.. bagaimana.. bagaimana bisa?”
“Ia tadi terkena lemparan bola basketku” sambar Minho yang kini mencoba memapahnya ke UKS.
Mendadak aku lemas, sungguh. Bagaimana bisa? Bukankah baru saja aku sedang memperhatikannya sedang tenang membaca buku? Lalu bagaimana bisa sekarang Ia pingsan tak sadarkan diri dengan darah segar yang keluar dari pelipisnya.
Eottokhae, pelipisnya berdarah, apa mungkin Ia bisa amnesia?
Haish Song Minji apa yang kau pikirkan?
Jinki-ssi semoga kau baik-baik saja.

***

Aku sangat khawatir padanya, jadi kuputuskan untuk menungguinya sampai sadar di UKS.

Dan sekarang sudah lebih dari setengah jam sejak Ia pingsan, tapi sampai saat ini Ia belum sadar juga.
Aku melihat pelipisnya yang berdarah, entahlah mungkin karena saat terjatuh kepalanya membentur tanah atau semacamnya. Darah segar masih saja keluar dari pelipisnya, jadi kuputuskan untuk membersihkannya dan mengobatinya agar lukanya cepat mengering.
Namun tiba-tiba saja jariku menyentuh kelopak matanya yang terpejam.
Aku kaget, dan merasakan jantungku berdebar tak karuan.
Sekali lagi kupandangi wajahnya yang masih terjaga.
Aku baru sadar kalau Ia sangat tampan bahkan ketika matanya terpejam.
Dan entah apa yang ada di otakku saat itu, tiba-tiba saja jariku mengarah kepada bibirnya dan mencoba menyentuh bibir mungilnya.
Namun belum sempat aku menyentuhnya, tiba-tiba saja Ia bergerak dan perlahan-lahan matanya mulai terbuka. Sepertinya Ia mulai sadar.
Dan aku yang kaget karena reaksinya langsung menarik tanganku menjauh darinya sampai tak sengaja aku menyenggol kotak P3K hingga jatuh.
“Apa itu?” tanya Jinki pelan.
“An…an.. aniyo” kataku terbata-bata.
Ia mencoba bangun dari tempat tidurnya, tapi sepertinya Ia mengalami kesulitan sehingga aku pun membantunya.
Duk.. Duk.. Duk..
Aku merasakan jantungku berdebar lagi, kini lebih kencang.
Haish, eottokhajo?
“Gwaen… gwaenchana?” tanyaku pelan padanya.
Ia menggangguk “Ne, gwaenchanayo” katanya sambil kemudian menatapku.
Tapi sedetik kemudian Ia berteriak.
“HUAAAAAH!”

Aku kaget dan panik, rasanya jantungku nyaris copot. Pasalnya Ia berteriak sesaat setelah menatapku.
“Kau… gwaench-” belum sempat aku menyentuh pundaknya, tapi tangannya langsung menepis tanganku.
“Meng… mengapa kau.. kau disini?” kulihat wajahnya pucat pasi.
“Tadi kau pingsan dan aku, aku men..”
“Haish, menjauh dariku!” katanya sambil menjaga jarak “jangan mendekat.. kumohon, jangan mendekat!”
“Aku.. aku..” aku menatapnya bingung sambil berusaha berjalan mendekatinya.
“Kau.. haish sudah ku bilang jangan mendekat!” katanya dengan nafas tak karuan.
Ia menatapku sebentar lalu kemudian berlari pergi meninggalkanku sendiri yang masih tak mengerti dengan sikapnya barusan.
“Jinki-ssi.. kau kenapa?” ucapku lirih.

***

Gelap dan pening.
Dimana aku sekarang? Apakah aku sudah mati? Kepalaku rasanya berat sekali.
Kudengar suara benda terjatuh, menyadarkanku kalau aku masih bisa membuka mataku.
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
“An.. an.. aniyo” jawab seorang yeoja disebelahku. Entah siapa dia, aku tidak tau.

Aku mencoba bangkit dari tempat tidurku, tapi kepalaku berat sekali, untungnya yeoja itu membantuku.

“Gwaen.. gwaenchana?” tanyanya kemudian.

Ne.. gwaenchanayo” aku mengangguk sambil kemudian melayangkan pandanganku kearah yeoja itu.

Aku terpaku beberapa detik lalu kemudian..
“HUAAAAAH!” teriakku kencang.
Aku kaget setengah mati.

Song Minji?

Wae?

Kenapa Ia ada dihadapanku sekarang?
Aku melihat wajahnya yang panik, dan kini Ia berusaha menyentuh pundakku.
“Kau.. gwaench-”
Buru-buru kutepis tangannya, memotong kalimatnya.
Nafasku tak karuan. Jantungku berpacu dua kali lebih kencang. Ini pertama kalinya aku berada dijarak sedekat ini dengan orang yang kusukai. Sudah kukatakan kalau aku tidak bisa berada dalam radius 1 meter dengannya, jantungku pasti berdebar kencang.
Haish eottokhae?
“Meng.. mengapa kau.. kau disini?”
“Tadi kau pingsan dan aku, aku men..”
“Haish menjauh dariku!” kataku sambil menjaga jarak dengannya, aku tak ingin Ia tau kalau aku gugup berada di dekatnya “jangan mendekat ku mohon, jangan mendekat!”
“Aku… aku” Ia mendekat.
“Kau.. haish sudah ku bilang jangan mendekat!”
Nafasku masih tersengal-sengal.
Sungguh, aku tidak kuat lagi. Kalau aku berada lama-lama disini, aku rasa aku bisa mati berdiri gara-garanya. Kuputuskan untuk segera pergi meninggalkannya.

Aku berlari sambil memengangi dadaku yang masih berdebar kencang.

Aku hanya tak ingin Ia mengetahui debaran dadaku ini.

“Haish~” aku mengacak-acak rambutku.
Lee Jinki pabo!
Jeongmal paboya~
Mengapa aku harus berteriak didepannya?
Mengapa aku malah membuatnya merasa takut?
Haish Lee Jinki mengapa kau bodoh sekali?! Aku memukul kepalaku tiga kali, menyesali sikapku tadi.

***

Kelas

Aku memutuskan kembali mengikuti pelajaran, aku rasa aku sudah baik-baik saja sekarang.

“Kalau masih sakit, kau boleh kembali ke UKS, Jinki” kata Taeyeon seonsengnim.
“Ne, gwaenchana seonsengnim”
Aku berjalan menuju mejaku. Tapi sebelumnya aku sempat melewati mejanya, meja Song Minji.
Aku dapat merasakan Ia menatapku. Dan aku juga Ingin balas menatapnya, lalu tersenyum padanya.
Tapi aku tak bisa.
Nyatanya, aku terus berjalan menuju mejaku tanpa menatapnya, atau tersenyum padanya.

Halte Bus
Sekolah baru saja berakhir. Satu persatu murid mulai keluar dan berjalan pulang.

Begitu juga aku. Kini aku hendak berjalan menuju halte bus ketika aku melihatnya sedang berdiri tepat di depan halte bus. Sepertinya Ia juga sedang menunggu bus pulang.

Aku terdiam ditempatku. Entah mengapa tiba-tiba kakiku terasa berat untuk digerakan. Aku terpaku menatapnya, dan masih tak mempunyai keberanian untuk menghampirinya.

Dan tiba-tiba saja Ia menoleh kearahku, mata kami bertemu, tapi sedetik kemudian aku langsung membuang muka dan berjalan menjauhinya.

Aku meringgis pelan.

Haish, jeongmal paboya paboya paboya!

Keesokan harinya, lapangan olah raga.
Kelasku sedang dalam pelajaran olahraga, karena Siwon seosengnim tidak masuk, jadi olahraga kali ini bebas.
Aku memutuskan untuk tidak ikut olahraga karena aku memang lebih suka menyendiri dibanding harus ikut bergabung bersama teman-temanku yang lain.
“Jinki, kau tidak olahraga?” tanya Kibum, teman sekelasku yang cerewet.
“Tidak” jawabku pelan.
“Haish aku tau, kau pasti lebih suka melihat yeoja-yeoja itu kan ketimbang olahraga bersama kami?” Kibum menunjuk kumpulan yeoja teman sekelasku yang sekarang sedang sibuk bermain bola voli.
Dan aku melihatnya disana, Song Minji-ku.
“Haish benarkan sudahku tebak!” suara Kibum tak aku hiraukan, aku hanya terus menatapnya.
“Padahal cuaca hari ini bagus loh, tidak panas dan tidak mendung, suasana musim semi memang sangat menyenangkan!”
Aku masih tak menghiraukan Kibum, mataku terus tertuju pada Song Minji yang kini tertawa renyah bersama teman-temannya.
“Ya Jinki, kau mendengarku tidak sih?” suara kibum masih tak aku perdulikan.
Aku tetap tak mengalihkan pandanganku dari Minji.
“Haish kau ini! Kau liat apa sih Jinki?” Kibum mengikuti arah pandanganku. “haish kau menyukai Minji ya?” tanyanya yang tak ku jawab, mataku tetap tak dapat berpaling darin yoeja itu.
“Haish beneran deh! YA SONG MINJI!!! JINKI MENYUKAIMU!!!”
Aku tersentak sambil kemudian menatap Kibum tajam.

“Kau..” erangku kesal.
“IA MENYUKAIMU SONG MINJI, DARI TADI MEMPERHATIKANMU TERUS!” teriak Kibum lagi sebelum akhirnya berlari meninggalkanku.
Aku merasakan orang -orang disekitarku tertawa sambil mengejekku.
“Cieeee.. Jinki”
Aku menunduk malu sambil kemudian pergi meninggalkan lapangan.
“Key, awas kau ya!”

***

~Song Minji POV~

Ia memperhatikanku?
Ia menyukaiku?

Haish Song Minji, jangan berpikir yang aneh-aneh. Bisa saja Kibum tadi hanya bercanda, lagipula mana mungkin seorang Jinki menyukaiku, Ia saja selalu menatapku sinis dan tak mau berada di jarak dekat denganku, jadi mana mungkin Ia menyukaiku?
Kulihat Jinki berlari meninggalkan lapangan, kurasa Ia menuju kelas sekarang.
Entah apa yang ada dipikiranku saat itu, aku malah mengejarnya.
Aku melihatnya duduk dibangkunya sambil mengacak-acak rambutnya, kupikir pikirannya kacau sekarang.
Perlahan aku masuk kedalam kelas dan mendekatinya.

Ia nampak terkejut melihat aku datang, seperti biasa Ia berjaga jarak dariku.
“Jinki-ssi… aku..”
Ia menatapku aneh, aku tak mengerti pandangannya. Matanya menatapku dalam, pandangannya seperti seseorang yang ingin sekali memeluk orang yang di tatapnya karena telah lama berpisah. Entahlah aku juga tak mengerti, yang jelas tatapannya ini sungguh membuat lututku lemas.
“Ya! Jangan percaya kata-kata Kibum tadi, aku tidak pernah memperhatikanmu apalagi menyukaimu!!!” katanya tiba-tiba yang langsung membuatku ingin mati berdiri saat itu juga.
Kata-katanya langsung menusuk dihatiku. Aku cukup kaget mendengarnya. Tidak. Aku sangat kaget mendengarnya.
Air mataku nyaris tumpah, tapi sebisa mungkin ku tahan.
“Ya, arraseo” kataku tersenyum miris.
Aku menatapnya sebentar sambil kemudian pergi meninggalkannya.

***

~Lee Jinki POV~

KIM KIBUM!!!

Apa-apaan dia!
Seenaknya saja berteriak didepan banyak orang.

Ya kuakui, aku memang mencintainya. Sangat mencintainya.
Aku mencintai Song Minji. Tapi kenapa dia harus berteriak de depan banyak orang dan membuatku malu?!
Memangnya kenapa kalau aku menyukai Minji, mengapa semua orang harus perduli? Lagi pula dari mana si Kibum pabo itu tau aku menyukai Minji? Aku tidak pernah memberitahunya masalah perasaanku, dan aku juga tidak dekat padanya. Lalu mengapa Ia bisa tau? Dasar menyebalkan!!!
“Haish!” aku mengacak-acak rambutku. Aku pusing, pikiranku berantakan sekarang.
Namun tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang masuk kedalam ruangkan kelas dan berjalan menghampiriku.
Aku menoleh dan melihatnya disana.
Ya, Song Minji.
Orang yang dari tadi memenuhi pikiranku.
Aku tampak kaget, dan segera menjauh darinya. Aku masih takut Ia dapat merasakan debaran jantungku yang kini mulai berdebar tak karuan lagi.
Haish. Kumohon tenanglah Jinki.
“Jinki-ssi… aku..”
Aku menatapnya dalam. Aku melihatnya sangat khawatir padaku.
Sungguh, matanya benar-benar membuatku ingin segera menariknya kedalam pelukanku. Aku ingin mengatakan padanya kalau apa yang Kibum katakan tadi adalah benar. Aku ingin memilikinya.
Tapi aku tidak bisa.
Ia catik, pintar dan populer. Mana mungkin Ia menyukaiku, mana mungkin Ia belum mempunyai namjachingu? Mana mungkin.
YA! Jinki, sadarlah. Dia tidak akan mencintaimu~
Sungguh aku belum siap untuk ditolak.
“Ya! Jangan percaya kata-kata Kibum tadi, aku tidak pernah memperhatikanmu apalagi menyukaimu!!!” kataku kemudian.
Aku tidak tau, kata-kata itu tiba-tiba saja meluncur dari mulutku, tanpa aku pikir sebelumnya. Dan sekarang aku menyesalinya.
Eottokae?

Aku melihat Ia nampak terkejut. Dan aku juga terkejut ketika matanya mulai berkaca-kaca.
Ya, ia kenapa? Apa gara-garaku?
“Ya, arraseo” katanya kemudian sambil meninggalkanku.
Ia menjauh, semakin menjauh.
Ada keinginan dihatiku untuk segera berlari mengejarnya, tetapi entah mengapa kakiku sulit untuk digerakan.
Ya kau pabo, Jinki!

Paboya~

TBC

 

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

25 thoughts on “One Fine Spring Day – Part 1”

  1. Huaaa bagus.. Jinki oppa paboya!! *dikeroyokMVPs* Kenapa gak ngomong aja sama Minji!! Eh tp pas Jinki oppa kaya ketakutan didepan Minji jd inget pas di HB dia ketakutan dideketin Yoogeun..haha
    Lanjutin yaaa..ASAP!!hehe
    oia,bangapseumnida author.. 😀

  2. JINKIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH…
    KAMU PABOOOOOOOOO…
    TUNJUKAN KEJANTANANMU DOOOOOOOOOONG…..
    >.< \m/

  3. Hahaha jinki-ku kenapa jadi kaya minho disini?
    Hahaha eh ini authornya @muthiaadar yang ditwitter ya kalo gak salah?/bletak *sok tau* Abis namanya mirip >.<

  4. ih ampun deh..
    gak suka ama jinki disini >.<

    jinkiiiiiii !!
    jangan dodol terus dong, ah !!
    tunjukkan kejantananmuu !!
    haaah…
    jadi greget..

    tapi seru kok ff nyaa
    hehe
    lanjuut

  5. huwaaaaa gemes sama jinki-nya >.< haissssh emang dasar pabbo !
    kalo cinta ngomong donk *berasa judul ftv*
    buat author cepetan di publish yaaa lanjutannya 😀

  6. Onew oppa, jangan minder gitu donk..

    Kau itu tampan, suaramu jg bguuus bnget. Percayalah gak akn ad yg menolakmu oppa..

    Kalo minji ga mau nanti’y *tapi minji juga naksir ya.. Masih ada taerin oppa *tiba2 lupa taemin,haha

    bgus chingu, lanjutkan !!!

  7. Jinki tunjukkan cintamu…
    Jgn malumalu toh minji jg suka kan?
    Penasaran lanjutannya…
    Apakah mereka akan bersatu???/gaya lebay

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s