My Life

My Life

Author : indahwon a.k.a nonamino

Main cast:

  • Choi Minho
  • Han Nana

Length : oneshoot

Genre  : sad

Rating  : PG-15

©2010 SF3SI, Freelance Author.

*Minho POV

O geudae mamae datgo shipeun nal malhaji

Yeoboseyo!

Mwo? Seoul International hospital.

Tanpa fikir panjang aku langsung memacu motorku menuju Seoul international hospital.

Sekirat 15 menit, aku sampai di SIH dan langsung menuju UGD.

Disana sudah ada ahjumma yang sedang menangis di pelukan ahjussi. Aku menghampiri ahjumma dan ahjussi, “apa yang terjadi pada Nana ahjumma? Gwenchana?”

Sambil setengah terisak ahjumma mejelaskan keadaan Nana padaku “Minho, tadi Nana tiba-tiba saja terjatuh saat sedang membantu ahjumma memasak dan darah segar mengalir dari hidungnya.”

“lalu, bagaimana keadaan Nana sekarang  ahjumma?”

“Nana sedang ditangani para dokter di ruang UGD dan dokter belum mengabari bagaimana keadaan Nana sekarang.

Tak berapa lama  kemudian dokter keluar dari ruag UGD.

“apakah kalian keluarga Nana-sshi?”

“ne dokter, saya appanya. Bagaimana keadaan anak saya?” ucap ahjussi.

“keadaan Nana sekarang sudah baik-baik saja dan ia sedang istirahat. Namun sepertinya  Nana harus menjalani pemeriksaan intensif untuk memastikan apakah Nana baik-baik saja.”

“ne dokter, kira-kira kapan tes tersebut akan dilakukan?”

“kira-kira besok tes kesehatan Nana akan dilakukan.”

“gamsahamnida dokter.”

Aku masih bertanya tanya apa yang terjadi pada Nana. Mengapa tiba-tiba ia bisa sampai pingsan dan mengeluarkan darah. Saat kecil Nana yang kukenal adalah yeoja yang kuat dan jarang sakit. Apa yang terjadi pada Nana?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*Nana POV

Ku buka mataku dan kulihat sekeliling “dimana aku?”

“hmm.. Nana kau sudah sadar nak?”

“ne appa. Ini dimana?”

“ini di rumah sakit, tadi malam saat membantu umma memasak kau tiba-tiba pingsan dan hidungmu mengeluarkan darah. Kau tak apa-apa nak?”

“ne appa, hanya sekarang aku merasa sedikit pusing.”

Entah mengapa tadi malam aku bisa pingsan. Tiba-tiba saja aku merasakan tubuhku tak berdaya dan pandanganku mulai kabur kemudian semuanya gelap. Aku sendiripun tak tahu apa kira-kira yang menyebabkan aku tiba-tiba bisa pingsan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*narrator POV

Pagi ini sekitar pukul 9.00 Nana akan melakukan tes kesehatan, dan sekitar pukul 1 siang tes akhirnya berakhir. Nana agak bingung mengapa ia harus menjalani tes kesehatan hanya karna kemarin tiba-tiba ia pingsan. Umma kemudian menjelaskan bahwa tes tersebut hanya untuk memastikan bahwa Nana baik-baik saja.

Keesokan harinya hasil tes Nana sudah dapat diambil dan appa yang mengambinya. Namun sebelum dapat melihat hasil tersebut dokter ingin membicarakan beberapa hal dengan appa Nana.

“annyeonghashimnika tuan.”

“annyeonghashimnika dokter.”

“silahkan duduk tuan.”

“gamsahamnida.”

“begini tuan, mengenai hasil tes Nana ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan dan ini sangatlah penting.”

“bagaimana keadaan Nana? Dia baik-baik saja kan dokter?”

“mian tuan, dugaan tuan salah. Anak tuan menderita Leukemia stadium akhir dan sepertinya ia tak akan bisa bertahan lama.”

“apa? Dokter anda tdak sedang bercanda kan? Bagaimana mungkin anak saya yang baik-baik saja tiba-tiba bisa terkena leukemia stadium akhir?”

“gejala awal leukemia terkadang memang tak terliat, demikian halnya dengan yang dialami anak tuan.”

“tapi bagaimana mungkin?”

“kami akan berusaha dengan semampunya menolong anak tuan.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*Nana POV

“umma, appa lama sekali mengambil hasil tesnya. Apakah aku tak bisa pulang sekarang? Aku sudah tak apa-apa.”

“Nana sabarlah, sebentar lagi appa pasti dating dan Nana bisa pulang.”

5 menit kemudian…

“appa, bagaimana? Aku baik-baik sajakan. Berarti aku bisa pulang sekarang?”

“appa! Kenapa diam? Bagaimana hasilnya appa? Aku baik-baik sajakan?”

“appa bagaimana hasil tes Nana? Nana taka pa-apa kan appa?” sambung umma.

Entah mengapa tiba-tiba appa menangis, dan ini benar-benar membuat ku semakin bingung dan penasaran dengan hasil tesku. Umma tiba-tiba merebut amplop di genggaman appa dan membukanya. Beberapa saat kemudian raut wajah umma berubah dan ikut menangis seperti appa.

“umma appa! Mengapa kalian menagis? Bagaimana hasil tes ku? Aku baik-baik saja kan?”

“Nana, appa saying padamu nak. Kau harus kuat kau harus bisa bertahan untuk umma dan appa.”

“appa bicara apa, aku tak mengerti appa. Apa yang sedang terjadi?”

Umma langsung memelukku dan samar-samar aku dapat membaca hasil tes ku. Dan satu hal yang membuatku sangat shock adalah aku menderita leukemia stadium akhir.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*minho POV

Sore ini aku berencana akan menlihat keadaan Nana di rumah sakit, sebelum menuju rumah sakit aku menyempatkan diri membeli buah-buahan untuk Nana.

Saat sampai di rumah sakit aku langsung menuju ke ruang rawat Nana. “annyeonghaseyo.” Ucapku sambil membuka pintu ruang rawat Nana. “annyeonghaseyo Minho.” Ucap umma Nana. Kulihat Nana sepertinya sedang istirahat, jadi kuurungkan niatku untuk mengajaknya bercerita karna aku tahu pasti bosan rasanya seharian berada di rumah sakit. Tiba-tiba umma Nana mengajakku keluar dan sepertinya ada hal penting yang akan dibicarakan. Saat diluar ahjumma tiba-tiba menagis “ahjumma mengapa menagis, apa yang terjadi pada Nana?” “Minho, Nana menderita leukemia stadium akhir dan menurut dokter Nana tak akan bisa bertahan lama.”

Kurasakan tubuhku ambruk seketika dan terduduk di lantai, aku masih tak bisa percaya dengan apa yang ku dengar dari umma Nana. Tiba-tiba air mataku mengalir membasahi pipiku. Mana mungkin Nana menderita sakit separah itu, Nana yang ku kenal sejak kecil baik-baik saja. Ya tuhan aku tak mau harus kehilangan orang yang ku cintai, tuhaaan tolong sembuhkan Nana, aku tak sanggup harus kehilangan Nana tuhaan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*Nana POV

Sudah 2 minggu sejak dokter memvonisku menderita leukemia, aku merasa semakin putus asa saja. Aku tak ingin pergi meninggalkan umma dan appa juga orang yang kucintai, sahabatku Minho. Tak sanggup rasanya setiap hari harus melihat umma muram dengan mata sembab atau terkadang tak sengaja melihat umma sedang menagis. Dan appa jadi tak focus pada pekerjaannya. Ditambah lagi perlakuan Minho padaku berubah semanjak ia tahu aku menderita sakit parah. Ya tuhan aku tak mau membebani mereka dengan penyakitku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*minho POV

Sudah hampir sebulan ini aku selalu bolak-balik rumah sakit untuk menghibur Nana, sebagai sahabat yang baik aku rela melakukan apa saja demi Nana gadis yang kucintai.

“annyeonghaseyo.”

“annyeong Minho.” Jawab Nana dan ummanya.

“ini aku bawakan jeruk, dimakan ya.”

“anio, aku tak mau.”

“ayolah, biar aku suapi. Mau ya. Ayolah Nana.”

“ani.. Minho aku bosan di kamar terus hampir sebulan ini. Temani aku berjalan-jalan ya.”

“ah.. Nana anio, kau masih sakit nanti kalau terjadi apa-apa padamu bagaimana?”

“ayolah Minho, temani aku ke taman rumah sakit saja masa tak boleh. Aku bosaaan! Umma boleh kan? Ayolah.” Rengek Nana.

“baiklah. Tapi jangan lama-lama. Arasso!” ucap umma.

“ne, gomawo umma! Ayo Minho.”

#di Taman Rumah Sakit#

Kami berhenti di suatu sudut taman rumah sakit, kemudian kami menuju ke sebuah kursi taman, aku berhentikan kursi roda Nana tepat di hadapan kursi tersebut dan aku duduk di kursi taman tersebut. Kulihat Nana yang sedang memandangi sekeliling sepertinya ia sudah bisa menghilangkan rasa bosannya namun tidak demikian dengan kesedihan mengenai penyakitnya. “Nana, bagaimana. Kau sudah tak bosan lagi kan?”

“ne, gomawo Minho.” Ucap Nana sambil melempar senyuman.

Suasana hening..

suasana yang tadi hening pecah karna Nana yang tiba-tiba menagis. “Nana! Waeyo? Mengapa kau menangis? Apa kau masih merasa bosan?”

“anio Minho, aku sudah merasa tak bosan. suasana disini sangat menenangkan, aku suka.”

“lalu mengapa kau menagis?” “aku.. aku.. merasa umurku benar-benar sudah tak lama lagi.”

“Nana! Jangan bicara begitu! Kau pasti bisa sembuh”

“aku tak mau kehilangan semua ini, aku tak siap harus meninggalkan orang-orang yang aku sayangi secepat ini.” Isak Nana.

“sstt.. uljima Nana.”ucapku.

“aku Tak bisa Minho, aku tak sanggup harus meninggalkan kalian orang-orang yang ku sayangi. Kau tak tahu kan bagaimana rasanya berada di posisiku?”

“Nana, aku tau apa yang kau rasakan,” “tak mungkin kau bisa merasakan apa..”

Refleks aku mengecup bibir mungil gadis itu untuk membungkam kata-kata yang semakin membuatku pesimis tentang kesembuhannya. Ciumanku padanya semakin lama semakin dalam dan  aku dapat merasakan setiap kesedihan yang sedang ia rasakan. Kurasakan air matanya membasahi bibirku. Saat melepas ciumanku pada Nana, gadis itu langsung memelukku, akupun membalas pelukannya. Ku biarkan ia menagis sepuasnya di dalam pelukanku. Entah apa yang mendorongku untuk mengungkapkan perasaanku padanya, tanpa melepas pelukanku padanya aku membisikan sesuatu padanya

“Nana Saranghae…”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*Nana POV

“tak mungkin kau bisa merasakan apa..”  Tiba-tiba Minho mengangkat wajahku yang sedang tertunduk dan mendekatkan bibirnya pada bibirku, entah mengapa aku tak berusaha untuk melepaskan ciumannya. Dari cara ia menciumku aku bisa tahu bahwa ia juga dapat merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Saat ia melepas ciumannya aku langsung memeluknya dan menagis di dalam pelukannya. Setelah lumayan lama menagis aku mulai merasa pusing dan perlahan lahan kesadaranku menghilang, namun samar-samar ku dengar Minho berkata sesuatu seperti.. Sarang dan sekarang semuanya terasa gelap.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*Minho POV

“Nana Saranghae…”

Entah mengapa tubuh Nana jadi terasa berat, saat aku berusaha melepas pelukan Nana,ternyata Nana sudah tak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang aku langsung menggendong Nana kembali kedalam rumah sakit dan berlari menuju ruang UGD.

“Nana, kamu harus kuat!”

Saat tiba di UGD Nana langsung di tangani oleh para dokter, aku hanya bisa berdoa memohon yang terbaik untuk Nana. Tak lama kemudian umma Nana datang bersama appanya. “Minho, apa yang terjadi pada Nana?” tanya appa Nana. “Nana tiba-tiba pingsan lagi saat kami sedang di taman.”

Saat dokter keluar, ahjumma langsung menanyakan keadaan Nana, namun dokter malah bertanya apakah ada yang bernama Minho, “ne, saya Minho. Apa yang terjadi dokter.”tanyaku. “Nana ingin bertemu bertemu denganmu.”

“ahjumma ahjussi, mian aku harus masuk.” “gwenchana Minho, itu permintaan Nana.” Ucap ahjussi. “kajja Minho, ayo cepat temui Nana.” sambung ahjumma.

Aku langsung memasuki ruang UGD dan kulihat Nana yang sedang terkulai lemah bahkan lebih lemah dari keadaannya saat terakhir kali aku melihatnya.

Aku melangkah menuju tempat tidurnya, dan kulihat Nana melempar senyum pilu kepadaku. Ku genggam tangan kanannya, ia membalas genggamanku namun sangat lemah.

Ku dekatkan kepalaku kepada Nana, karna sepertinya Nana ingin mengatakan sesuatu.

“Minho, sepertinya waktuku memang sudah tak lama lagi. Aku benar-benar sudah tak kuat lagi.” Ucap Nana lirih.

“sstt.. Nana apa yang kau ucapkan, kau pasti bisa sembuh!”

Ia mengeleng lemah. “Minho, bisa tolong panggilkan umma dan appa?” pintanya padaku.

“ne,baiklah.”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*Nana POV

Saat umma dan appa sudah ada di sampingku aku hanya bisa berkata “mianhae umma appa.”

“mian, karna aku sudah menyusahkan kalian, aku sayang kalian saranghaeyo umma appa!”

“Nana umma dan appa juga sayang padamu nak.” Ucap umma sambil menangis.

“Minho!”

“Ye Nana, waeyo?” Minho kembali mendekatkan kepalanya kearahku.

“Minho, sa..ranghae.. na.. do.. Sa.. rang.. hae.” Ucapku lirih. Akhirnya aku bisa mengucapkan kata-kata terakhir yang benar-benar ingin ku ungkapkan sejak lama.

Aku benar-benar sudah tak kuat, pandanganku mulai kabur dan kini semuanya benar benar sudah gelap. Selamat tinggal semuanya, umma appa Minho, aku sayang kalian.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

*Minho POV

“Minho, sa..ranghae.. na.. do.. Sa.. rang.. hae.”

Aku terkejut mendengar perkataan Nana, jadi selama ini cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Namun ahjumma tiba-tiba langsung memeluk Nana yang ternyata sudah tiada. Tak terasa air mataku mulai jatuh satu persatu. Aku menyesali mengapa tak sejak lama aku ungkapkan persaanku pada Nana mengapa di saat seperti ini aku baru punya keberanian mengunkapkannya. Namun kini Nana telah tiada dan waktu sudah tak bisa diputar kembali.

“Nana saranghae yeongwonhi!” teriakku dalam hati.

MAAF KALO CERITANYA GAJE ATO GA BAGUS. INI DEBUT FF PERTAMA AKU. MOHON BANTUANNYA 😀

P.S : Wohohoho maaf maaf.. baru sadar tadi ceritanya double ^^

Makasih udah mengingatkan 😀

-Admin-

 

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

47 thoughts on “My Life”

  1. so sad story….kasian minho,,
    ak ampe nangis bacanya,,
    tp sayang kurang panjang…mian..*hhh..banyak protes ni reader*

  2. Salam kenal author..
    Aneh deh,kan aku lagi baca di part sedihnya,eh gak sengaja ngeliat muka minho yang jadi BG..
    jadi ketawa lagi..ukh aneh *curhat colongan*
    Nice..gooooood deh !!!

  3. uwwwaaa keren ceritanya..
    aku nangis bacanya ..yaampun feelnya dapet bgt.. aku pengen dehh kaya gitu sama minho. 😦 🙂

  4. cerita’a bagus (^_^)
    perasaan’a bnar2 tersampaikan (uwooo author’a hebat)
    tp kurang panjang,,
    tolong ff brikutnya buat lebih pnjang y ….
    keep fighting ^o^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s