Come Back To Me

Come Back to Me

Author : LyNdA LynDa (Park Hea Min) aka lynmvpshyni

Cast :

-You

-Lee Jinki

-Choi Minho

-Kim Hae Min (ocs)

Length : Oneshoot

Rating : T

Genre : Romance

Disclaimer : Jinki and Minho is not mine, but I do own the plot this story.

Mian kepada Bini-bini Minho.. hahaha… Suami kalian saya bikin jadi orang jahat… hahaha PLAKK*Langsung diarak ke gunung merapi sama Flames*

Inspired by : Come Back to Me – Utada Hikaru

©2010 SF3SI, Freelance Author. Continue reading Come Back To Me

Advertisements

My Past Future – Part 4

My Past Future

Part 4

 

 

Author : Lana

Main Cast : Lee Donghae, Kim Yuna, Lee Jinki

Support Cast: Jun & Gaeul

Rating : General

Genre: Romance, Friendship, Action

Length : Sequel (Chapter 2)

 

©2010 SF3SI, Lana.

~ ~ ~

 

Sesuai janji, Jun dan Yuna datang tepat pukul 6. Keduanya langsung masuk dan naik ke lantai dua, lebih tepatnya ke kamar Gaeul. Butuh waktu setengah jam untuk memaksa Gaeul ikut keduanya datang ke pesta kakaknya, untungnya ada Rae yang dengan senang hati membantu. Untuk pesta kali ini, tidak di adakan di rumah mereka karena ada beberapa masalah. Jadi Chun Li menyewa sebuah gedung pertemuan yang sangat mewah, kondisinya hampir sama dengan satu tahun yang lalu. Bartender yang unjuk gigi, DJ yang memainkan musik, dan murid-murid dari angkatan Chun Li tapi ada beberapa hal yang berubah.

Ya, mereka yang tahun lalu datang dengan status single kini datang dengan kekasihnya untuk merayakan hari jadi yang ke satu tahun mereka. Dan tema kali ini bukan lagi pesta topeng, tapi ini pesta kostum temanya agak aneh memang. Tapi ini untuk menunjukkan kekompakan antara sepasang kekasih yang datang. Ada yang menggunakan kostum dari film Hollywood, tokoh animasi dan ada juga yang hanya menggunakan tuxedo atau gaun biasa tapi senada dengan pakaian sang kekasih.

Sebuah kebetulan yang sengaja di rancang oleh Yuna berhasil membuat Jun dan Gaeul mengira mereka tidak sengaja berpakaian dengan warna sama, yaitu soft green. Sebuah hiburan tersendiri bagi Yuna melihat pasangan-pasangan di pesta Chun Li yang terlihat benar-benar serasi.

Pikirannya benar-benar terfokus kepada pasangan-pasangan tersebut, mulai dari pakaian mereka yang unik, senada dan serasi. Hingga sosok seseorang membuatnya ingin muntah, dan membuat pikirannya kacau hanya dalam waktu sepersekian detik.

Yuna menerobos kerumunan berusaha mencari tempat yang bisa di jadikan tempat persembunyiannya untuk sementara waktu. Dan kini ia menyesal datang ke pesta ini.

“Yuna.” Kaki Yuna langsung terasa sangat lemas saat suara itu -suara yang sempat membuatnya hancur tapi juga suara yang benar-benar ia rindukan- memanggil namanya. Memang belum lama orang tersebut pergi.. hanyaaa sekitar 6 bulan tapi tetap saja, Yuna sudah berhasil menempuh separuh jalan menuju kesuksesan melupakan sosok itu.

“Menjauh!” ucap Yuna dengan intonasi normal tapi bernada tajam. “Kamu dengerin penjelasan aku dulu.”

“Gak butuh dan gak mau!” sahut Yuna cepat, rahangnya mengatup rapat. “Oke, tapi setidaknya aku mau minta maaf. Aku jauh-jauh..-“

“Gak perduli!” potong Yuna dengan nada dingin. Ya.. dia tidak perduli lagi cowok itu mau ngelakuin apa, toh dengan kepergian cowok itu membuktikan kalau memang mereka bukan lagi sepasang kekasih. Yuna tahu dirinya tidak membutuhkan seseorang seperti Donghae… ya, Lee Donghae.

“Yuna…” panggil Donghae lirih, tapi Yuna enggan melirik sedikitpun apalagi menoleh. “Maaf.. bener-bener cuma kata itu yang bisa aku ucapin sekarang. Tapi..-“

“Apa gunanya polisi kalau dengan maaf masalah selesai? Surga pasti penuh kalau semua dosa bisa terampuni cuma dengan kata maaf.”

“Tapi aku bersedia ngelakuin apapun untuk ngebuktiin bahwa aku bener-bener menyesal.”

“Terserah, itu bukan urusanku.”

“Tapi kita masih ada relationship Yun…”

“Oke.. kita putus SEKARANG!” Yuna berbalik, dan dengan penuh emosi di ambilnya langkah-langkah panjang meninggalkan Donghae yang masih terpaku di tempat. Yuna yang dulu bagaikan matahari baginya, kini Yuna seperti sebongkah es di kutub utara. Sepanas apapun suhu yang membakar es tersebut, tetap akan kembali membeku seiring suhu yang terus turun.

 

&&&

 

Gaeul menghampiri Jun yang sedang duduk menyendiri di dekat kolam air mancur kecil yang terletak di belakang gedung. Dengan ragu Gaeul memanggil Jun, tapi ia tidak menoleh. Di tengoknya Jun, ternyata telinganya di tutupi earphone dan matanya sedang serius membaca buku.

Perlahan Gaeul duduk di sebelah Jun dengan jarak yang agak barjauhan, Jun menoleh sedetik lalu kembali focus pada bukunya. “Kenapa sih Jun selalu mengutamakan Yuna? Jun naksir sama Yuna yah?” Gaeul mulai bicara sendiri, walaupun seolah bicara dengan tembok tapi ia berharap setidaknya setelah bicara sendiri seperti ini ia bisa lega.

“Aku… engh.. kalau Jun emang gak mau ngelanjutin hubungan palsu ini harusnya Jun bilang aja. Kalau aja Jun tahu… sebenernya aku udah capek. Bukan.. bukan karena pura-pura jadi pacar Jun. Tapi karena sikap Jun yang kadang dingin kadang enggak, detik pertama Jun bikin aku berharap tapi di detik kedua Jun langsung matahin harapanku. Sebenernya Jun itu maunya apa? Kenapa Jun selalu diem? Jarang jawab pertanyaan aku, dan selalu nurut sama Yuna. Kalau aku yang minta Jun pasti diem, tapi kalau Yuna yang minta Jun pasti langsung mau. Satu tahun itu gak sebentar, dan kalau aja Jun tahu… huuffftt… aku gak suka sama sikap Jun ke aku selama ini. Soalnya… itu bikin aku suka sama Jun, aku berharap perasaan ini gak berkembang tapi ternyata begitu kita jadi anak kelas 8 aku malah semakin naruh hati sama Jun. Bertepuk sebelah tangan itu gak enak… sakit… dan setiap kali Jun mandang aku dengan mata Jun yang dingin dan tajem, aku selalu kepingin nangis. Bukan karena takut, tapi karena aku ngiri sama Yuna. Gak pernah sekalipun aku ngeliat kamu mandangin Yuna dengan dingin kayak gitu, aku gak tahu aku pernah bikin kesalahan apa sama Jun yang bikin Jun gak bisa terima aku sampe sekarang. Aku cuma berharap Jun mau buka mulut buat aku, aku butuh jawaban Jun. Aku gak mau terus-terusan naro harapan ke Jun kalau ujungnya sia-sia… kamu cowok pertama yang aku suka. Dan aku gak mau berakhir dengan tangisan karena ternyata aku bertepuk sebelah tangan. Kapan aku bisa ngelepas beban ini? Kapan kamu pada akhirnya mau ngomong sama aku dengan lebih terbuka? Apa iya aku harus jujur sama Yuna soal ini? Aku mau kamu tahu ini, tapi aku belum siap sama reaksi Jun nanti. Aku pengecut, emang. Aku… gak berharap kamu bales perasaan aku, tapi… aku berharap sikap kamu ke aku bisa berubah, walaupun cuma sedikit. Senyum kamu setipis apapun itu, bagi aku punya arti yang besar. Dan selalu berhasil bikin aku ngerasa hari ini jauh lebih baik dari sebelumnya.”

Gaeul menarik nafas dalam-dalam, sambil menahan bulir air di matanya yang mulai bergetar. Walaupun dia tahu Jun tidak mendengar ucapannya, tapi tetap saja terasa sakit. Kenapa Jun sama sekali tidak merespons nya? Setidaknya mengajaknya ngobrol atau apalah.

“Jun… kamu itu gak peka atau gak mau peka? Kamu itu kenapa sih?” kalimat terakhir Gaeul sebelum akhirnya bangkit, hendak berjalan masuk dan menangis sepuasnya di pelukan Rae.

“Aku cuma takut cinta aku bertepuk sebelah tangan.” Gaeul tergelak. Kakinya langsung lemas mendengar kalimat tersebut, air matanya tidak lagi terbendung. Entah air mata haru atau tidak percaya, tapi yang pasti kini jantungnya dan semua organ tubuhnya berkerja tidak beraturan. Jantungnya berdegub sangat cepat, kepalanya pusing, perutnya tiba-tiba saja sakit, kakinya gemetar.

Hanya satu… satu kalimat yang keluar dari mulut Jun tapi menjelaskan semuanya, sekaligus menambah pertanyaan baru di otaknya. ‘Takut cintanya ke aku atau Yuna yang bertepuk sebelah tangan?’ Gaeul membatin. Jun mengangkat wajahnya dari buku yang sedari tadi ia pandangi tapi tidak ada satu katapun pada buku itu yang ia baca. Dengan tenang Jun menutup bukunya, berdiri lalu mendekati Gaeul dan memutar tubuhnya berbalik menghadapnya.

Gaeul yang hanya setinggi dagu Jun memandangi leher jenjang Jun dengan tatapan kosong. “Dan sekarang aku dapet jawabannya tanpa perlu bertanya, aku berharap kamu mau perasaan dan hubungan ini berkembang.” Perlahan dan sedikit canggung Jun melingkarkan kedua lengannya di pundak Gaeul dan menariknya perlahan kedalam pelukannya.

Dan kini Gaeul pun mendapatkan jawaban yang ia cari, setelah sadar betul bahwa yang Jun maksud adalah dirinya kini tangisnya meledak sejadi-jadinya. Gaeul memendam wajahnya di tuxedo Jun menghindari suara tangisnya terdengar orang lain.

 

&&&

 

Yuna berjalan gontai keluar dari gedung pesta tersebut, mood nya benar-benar hancur, perutnya terasa sangat mual, kepalanya pening.

“Yuna!!” bayang-bayang Donghae yang tiba-tiba muncul membuatnya tidak mendengar panggilan itu dan tetap berjalan tanpa arah, pandangannya kosong, setengah sadar. Bahkan ia tidak sadar kalau sedari tadi ada yang mengikutinya dari belakang, Yuna sedang tidak menginginkan apapun kecuali ketenangan saat ini.

Kakinya berhenti melangkah saat ia tiba di sebuah lapangan di pinggir sungai tidak jauh dari rel kereta di atas sungai. Butiran-butiran bening mengalir begitu saja, tidak.. dia tidak menangis hanya saja air mata itu sudah tidak bisa lagi di bendung. Tubuh Yuna hampir saja terhuyung ke belakang, tapi cowok yang sedari tadi mengikutinya berhasil menahan dan sebagai gantinya ia yang terjatuh ke tanah.

Perlahan di tuntunnya Yuna menuju kursi terdekat, keduanya terdiam selama beberapa menit. Setelah Yuna terlihat sudah agak ‘sadar’ cowok tersebut mulai angkat bicara.

“Yuna butuh temen cerita?” temen sebangkunya yang sering banget di kerasin sama Yuna ini tetap bersikap baik karena di matanya Yuna tetap gadis baik-baik, hanya saja dia gadis baik-baik yang desperate. Jinki memandangi Yuna yang dari tadi menahan nafas.. dan 3 menit kemudian Yuna menghela nafas berat dan panjang.

“Tadi dia tiba-tiba muncul.” Tanpa perlu di perjelas, Jinki sudah sangat mengerti “dia” di sini itu tertuju pada siapa. “Pasti minta maaf.” Tebak Jinki, Yuna menunduk sebelum akhirnya mulai bercerita panjang lebar. Mulai dari awal pertemuan, awal terjalinnya hubungan mereka, sampe setiap masalah yang mereka hadapi dan terakhir masa-masa sewaktu Yuna benar-benar di landa depresi. Ya… saat Donghae pergi meninggalkannya begitu saja, dan sekrang tiba-tiba kembali.

Jinki menyimak cerita Yuna dengan serius dan sesekali menyahuti dengan kata “Ne”, “hem”, atau “wow?”. Di akhir cerita Yuna menanyakan pendapat Jinki, bagimana pandangan cowok tentang masalah ini.

“Engh… berhubung gak semua cowok sama, aku cuma bisa bilang dia tulus minta maaf dari hati. Ada beberapa cowok di dunia yang ada di posisi kayak dia, dan mayoritas adalah cowok-cowok yang balik lagi setelah di lempar. Tapi dari gelagat dia, aku tahu dia tulus karena tetep aja beda. Apalagi dari cara kamu cerita tentang dia, gimana kalian jalin hubungan dan sebagaiannya. Aku yakin bukan cuma kamu yang masih ada rasa, tapi dia juga. Semua balik ke diri kamu, mau percaya atau enggak. Tapi kamu gak harus lari juga kali. Yang punya salah kan dia bukan kamu, kenapa jadi kamu yang kabur? Toh dia aja berani ngejar kamu untuk minta maaf, kenapa kamu gak berani hadapin dia bicara baik-baik dan maafin dia? Dan kamu juga harus denger penjelasan dia dulu.”

Keduanya lagi-lagi terdiam, tapi tiba-tiba saja tatapan mata Jinki berubah serius. “Ehem, oke. Mungkin kita baru jadi temen sebangku beberapa minggu, tapi.. aku tahu perasaan ini gak sembarangan.” Yuna menautkan alisnya mendengar kalimat Jinki yang terdengar janggal di telinganya.

“Aku bener-bener… berharap… kamu..” Jinki terdiam lagi, tangannya mengepal. Yuna semakin bingung dengan kelakuan Jinki. “Apaan sih?!” tanya Yuna geregetan.

“Kamu… mau kan… jadi… engh…”

“Jangan bikin orang penasaran!” potong Yuna gemas, tapi sebenernya Yuna lagi siap-siap buat nerima kenyataan Jinki bakal ngeluarin sebuah kata yang bakalan langsung bikin Yuna makin depresi. Diem-diem jantung Yuna berdegub lebih cepet dari biasanya.

“Aku mau kamu mau.. engh.. kamu aku mau.. ehh.. aduuhh…aku kamu mau… hhhhhfffttt… aku… berharap.. kamu… mau… jadi… hhhhh… pengasuh anjingku…??”

 

1 menit…

2 menit…

3 menit kemudian…

 

“YA! LEE JINKI !!!!!!”

“BWUAHAHAHAHAHA~!”

PLAK

“AW! YUNA SAKIT!!!”

 

***

 

Dan semenjak malam itu, hubungan Jinki dan Yuna membaik. Yuna jadi lebih lunak meskipun terkadang kebiasaannya yang cepat emosi keluar, tapi Jinki memaklumi. Baginya Yuna yang sekarang sudah mau bicara banyak padanya lebih dari cukup, dan untuk saat ini Jinki belum mengharap yang lebih jauh seperti menjadi sahabat Yuna yang benar-benar dekat misalkan.

Dewi fortuna tidak hanya berpihak pada keduanya malam itu, tapi juga pada Gaeul dan Jun yang kini telah meresmikan hubungan mereka secara pribadi. Karena di mata orang-orang keduanya memang benar-benar menjalin hubungan, padahal kenyataannya hubungan mereka selama satu tahun kemarin hanyalah palsu.

Walaupun Jun tetap bersikap sama, jarang bicara, jarang menjawab pertanyaannya, jarang mengiyakan permintaannya Gaeul akan tetap menerima Jun. Karena ia memaklumi, yang terpenting saat ini jiwanya sudah tenang karena seluruh pertanyaan telah terjawab. Sama halnya dengan Jun.

Di saat keempatnya mendapatkan perubahan menuju jalan positif, tidak demikian dengan Donghae yang kini menjadi jauh lebih depresi dari sebelumnya. Bayangan Yuna muncul lebih rutin di banding sebelumnya, rasa bersalah dan tatapan mata Yuna yang dingin membuat harinya hancur. Keputusannya sudah bulat sekarang, ia akan menetap di Korea sendirian hingga Yuna menerima permintaan maafnya. Tidak perduli dengan segudang ocehan kedua orang tuanya atau bahkan beban yang ia tanggung sekarang. Baginya Yuna tetap nomor satu, dan mendapatkan maaf dari Yuna baginya sama saja mendapatkan sebuah permata paling berharga di dunia.

Jika Yuna memang menginginkannya pergi ia akan menurut, tapi tidak sebelum Yuna memaafkannya. Dan itulah satu tekad yang kini membuatnya lebih kuat berdiri dan melangkahkan kaki menuju SMA milik sahabatnya, Chun Li.

 

***

TBC

P.S: Gimana gimana? Pasangan Jun-Eul memuaskan?? Hohohoho…

Silahkan kalian tergila-gila sama Jun sekarang karena entah di part selanjutnya atau 2 part lagi Jun akan menghilang dari peradaban.. hahahha… cuma buat sementara sih.. ekekeke~

 

©2010 SF3SI, Lana.

This FF/post has made by Lana and has claim by her signature.

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

WHAT IF – Part 3

Author              : Storm

Casts                : Yoora, Minho, Jonghyun

Genre               : Romance, Friendship

Length              : Sequel

Rating               : General

Summary          : “Berhentilah menjadi Cupid Jonghyun!”

WHAT IF (Part III)

Continue reading WHAT IF – Part 3