The Sweet Escape – Part 5

The Sweet Escape

Part 5

Author            :           Park Kyungjin

Main Cast      :           SHINee – Kim Jonghyun

Park Kyungjin a.k.a author

Other Cast     :           SHINee – Lee Taemin

Genre             :           Angst, Romance

Rating             :           PG+15

Disclaimer      :           This story is mine!


+++

“Annyeonghaseo. Apa nona yang bernama Park Kyungjin?” tanya polisi itu.

“Oh.. Eh.. Itu.. Ne!” aih, aku malah menjawab dengan gugup.

Oke, tenang. Kau harus bersikap biasa dan setenang mungkin. Aku kembali bertanya pada polisi itu.

“Ada apa ahjussi mencari saya?”

Aku menatap polisi itu dengan hati-hati. Ku lihat di luar pagar rumahku ada segorombolan polisi lain yang tengah menunggu di atas mobil hitam yang bertuliskan kata “POLISI” dengan sangat jelas di bagian samping mobil itu.

“Oh, begini. Ada sebuah kewajiban yang harus aku penuhi” katanya dengan wajah serius.

“Maksud ahjussi?”

Glek. Aku menelan air liurku.

Aku kembali berusaha menenangkan diriku dan bersikap seolah-olah tidak tahu apa-apa.

Arrrrrggghhhh! Gagal! Aku malah semakin gugup dan kurasa tetes demi tetes keringat dingin mulai bercucuran di wajahku.

Polisi itu sedang mencari-cari sesuatu di dalam tas kecil yang dibawanya. Sesekali ia juga mencoba mengalihkan pandangannya ke dalam rumahku sambil terus mengacak-acak isi tasnya. Aku mencoba menghalangi pandangannya ke dalam rumahku dengan menggeser tubuhku tepat di arah tatapannya.

Aku jadi memikirkan sesuatu.

Bagaimana kalau Jonghyun ditemukan bersembunyi di rumah ini?

Apa yang harus kukatakan pada polisi ini?

Apa aku berpura-pura tidak tahu saja dan mengatakan pada polisi itu bahwa Jonghyun masuk ke rumahku secara diam-diam sementara aku sama sekali tidak tahu kalau ia sudah ada di rumahku?

Ah, tapi kalau aku berkata seperti itu pada polisi ini, itu sama saja aku tambah mencelakakan Jonghyun!

Tapi kalau aku jujur, tamatlah riwayatku.

Bagaimana kalau aku ikut-ikutan dipenjara karena telah menyembunyikan seorang buronan?

“Nah, ketemu!” seru polisi itu dan sontak membuatku kaget setengah mati.

Jonghyun ditemukan? Aduh, aku kira anak itu tengah bersembunyi sekarang. Bagaimana bisa polisi ini menemukannya?

Namun tiba-tiba ia menarik tangannya keluar dari tasnya dan menyodorkan sebuah benda kecil berwarna coklat yang sepertinya tidak asing bagiku.

“Ini dompetmu, bukan?”

Hah? Dompet?

Aku kembali memperhatikan benda kecil itu.

“Ah, benar. Itu memang dompet saya. Tapi, darimana ahjussi tahu?”

“Aku membuka-buka dompet ini dan menemukan identitasmu di kartu tanda pengenalmu. Mian, aku bukannya bermaksud lancang telah membuka-buka dompetmu tanpa izin”

“Tidak apa-apa, ahjussi. Di mana ahjussi menemukannya?”

“Aku melihat benda ini tergeletak di pinggir jalan dekat halte bus sana saat aku berpatroli keliling kompleks ini” katanya sambil menunjuk ke arah halte bus yang sudah sangat sering ku kunjungi itu.

Halte? Astaga. Mungkin terjatuh saat berlari-lari tadi.

“Oh, ne. Sepertinya tadi terjatuh saat aku berlari menuju rumah ini. Gamsahamnida, ahjussi” kataku seraya membungkukkan badanku. Cerobohnya aku ini. Aku lalu iseng bertanya.

“Sepertinya ahjussi sangat sibuk berpatroli? Apa ada masalah?”

“Ne. Kami sedang mencari seseorang yang kabur dari penjara. Sudah 3 hari tapi ia belum juga ditemukan”

Kabur dari penjara? Jangan-jangan…

“Ahjussi, kalau boleh tahu siapa nama orang itu?”

“Kim Jonghyun. Oh iya, kalau kau bertemu dengannya, tolong hubungi kami ya”

“Kim Jonghyun?”

“ Ah, iya, kau pasti tidak mengenalnya. Orang itu memang sering diberitakan di media massa, tapi foto-fotonya tidak ada yang beredar, jadi masyarakat tidak mengetahui dengan pasti wajah Kim Jonghyun. Kami hanya mempunyai foto kecilnya yang kami dapat dari keluarganya, itupun tidak terlalu membantu sebab wajahnya sudah banyak berubah”

“Ahjussi, boleh aku lihat fotonya?”

“Oh, ne. Ini dia” katanya sambil mengeluarkan foto itu dari saku bajunya.

Kuperhatikan foto itu dengan seksama. Jonghyun kecil memang agak berbeda dari Jonghyun sekarang. Di foto itu Jonghyun terlihat sangat polos. Rambutnya juga masih berwarna hitam, tidak seperti sekarang yang sebagian rambutnya sudah berwarna kuning.

Aku kemudian menggeleng pada polisi itu.

“Aku tidak tahu, ahjussi” kataku berbohong.

“Oh, ne, tidak apa-apa. Tapi kalau kau ketemu dengannya, ingat, jangan lupa hubungi kami. Kau bisa mengenalinya dengan melihat ujung rambut bagian depannya yang dicat kuning. Oh iya, kalau begitu aku permisi dulu, nona. Aku harus kembali berpatroli”

“Ne. Sekali lagi gamsahamnida, ahjussi”

“Oh iya, lain kali kau harus berhati-hati. Jangan sampai dompetmu jatuh lagi” katanya lalu bergegas pergi meninggalkan pekarangan rumahku dan segera naik ke mobilnya.

Tak lama kemudian, segorombolan polisi itu pergi menjauh dari rumahku.

Hahh. Ternyata ia hanya menemukan dompetku yang mungkin terjatuh saat pulang tadi. Aku kembali mengunci pintu rumah dan masuk mencari sosok Jonghyun yang pasti sedang ketakutan.

“Jonghyun-ah. Sudah aman. Kau boleh keluar sekarang” kataku sambil mencari-carinya di setiap ruangan.

Tak lama kemudian ia menampakkan dirinya, yang awalnya berbaring jadi terduduk.

“Astaga, Jonghyun! Kenapa kau bersembunyi di atas situ? Turun!” aku sedikit kaget melihat tempat persembunyiannya.

“Hehehe. Mian. Aku sudah tidak tahu lagi harus bersembunyi di mana” katanya kemudian melompat turun dari atas lemari tinggi yang terletak di dekat gudang itu.

Ckckck. Namja ini aneh sekali.

“Tapi tempat persembunyianmu bagus juga. Jarang-jarang ada yang berpikiran untuk sembunyi di situ”

Ia hanya cengengesan.

“Oh iya, ternyata polisi tadi cuma mau mengembalikan ini. Tadi terjatuh di dekat halte saat aku berlari ke sini” kataku sambil menunjukkan dompet yang kupegang.

“Huffth. Syukurlah. Tadi aku khawatir sekali”

“Ne, tapi kau tetap harus hati-hati. Polisi itu ternyata sedang mencari-cari keberadaanmu. Ia menemukan dompet ini saat sedang berpatroli mencarimu”

“Benarkah? Ah, sudahlah. Yang penting sampai saat ini mereka belum mengetahui keberadaanku. Oh iya, kau ceroboh sekali sampai menjatuhkan dompet itu. Untung saja polisi itu berbaik hati dan mau mengembalikannya”

“Ne. Aku juga tidak sadar telah menghilangkan ini saking buru-burunya. Eh, tunggu dulu, aku kan dari tadi sedang buru-buru! Arrgghh, tidak! Aku terlambat!”

Aku kembali berlari ke kamar dan menyambar tas kecilku, kemudian berlari keluar rumah.

+++

“GO, TAEMIN. GO!” aku berteriak di pinggir lapangan seperti orang gila.

Ah, biar saja. Yang penting aku mau memberi Taemin semangat.

Kali ini giliran Taemin yang memukul bola. Ku lihat ia begitu berkonsentrasi pada bola yang yang akan dilemparkan oleh lawannya itu.

Lawan dari Taemin kemudian melemparkan bola yang dia pegang dengan sekuat tenaga. Bola itu kini menuju ke arah Taemin.

Bola itu semakin mendekat, mendekat, dan mendekat sampai akhirnya…

Plukk!

Taemin berhasil memukul bola itu dengan sangat keras. Bola itu seketika melayang di udara, dan dengan segera Taemin berlari mengelilingi titik-titik yang ada di lapangan.

“TAEMIIIIINNNIE! SEMANGATT!” aku tak henti-hentinya bersorak untuk Taemin.

Tinggal satu titik lagi yang harus ditempuh Taemin. Ia berlari sekuat tenaga menuju titik terakhir itu, namun di saat yang bersamaan, bola yang tadi ia pukul hingga melayang ke angkasa perlahan jatuh kembali menuju bumi dan ditangkap oleh lawannya. Orang itu kemudian melemparkan bola itu menuju rekannya yang berada di titik akhir.

Aku menjadi tegang. Semoga saja Taemin bisa sampai ke titik itu sebelum bolanya sampai ke tangan lawannya.

Taemin semakin mendekat ke titik itu, namun bola itu juga melayang mendekat seakan-akan berpacu dengan Taemin. Taemin menjatuhkan badannya hingga terseret di tanah dengan kaki di depan dan, yess! Taemin berhasil menyentuh titik itu dengan kakinya sebelum bola itu berhasil ditangkap oleh lawannya.

Oh iya, dari tadi aku menyebut itu semua dengan sebutan “titik”. Entahlah, aku tidak tahu apa nama “titik-titik” itu dalam permainan baseball. Yang jelas, kita harus berlari melewati “titik-titik” yang tersebar di lapangan itu hingga akhirnya bisa memenangkan pertandingan, seperti yang Taemin lakukan.

Team Taemin dinyatakan menang dalam pertandingan ini. Seusai menerima piala, Taemin berlari menjauhi rombongannya menuju ke arahku.

“Chukae, chagi. Kau memang hebat! Lagi-lagi kau menang dalam pertandingan ini” kataku pada Taemin.

“Ah, gomawo. Tapi kenapa kau datang terlambat? Aku malah mengira kau tidak jadi datang”

“Mian, Taemin. Tadi aku ada sedikit masalah yang menghambatku untuk datang tepat waktu” aku jadi merasa bersalah pada Taemin.

“Masalah?”

“Ah, sudahlah, hanya masalah kecil saja. Tenang, semuanya sudah ku atasi” kataku sambil tersenyum dan berusaha meyakinkannya.

“Syukurlah. Yang penting kau bisa datang, aku sudah sangat senang” lagi-lagi ia menyunggingkan senyum manisnya.

“Ya! Kau ada-ada saja” kataku sambil menjitak pelan kepalanya.

“Kyungjin-ah, sudah lama kita tidak jalan-jalan. Kau mau kan menemaniku untuk berkeliling sebentar, hitung-hitung untuk merayakan kemenanganku ini”

Aku berpikir sejenak. Ah, tidak ada salahnya kalau aku pergi sebentar. Betul juga kata Taemin, sudah lama aku tidak jalan-jalan dengannya.

“Oh iya, aku sudah punya kendaraan pribadi” katanya kemudian.

+++

Aku melambaikan tanganku pada Taemin yang perlahan-lahan menjauh dari rumahku bersama motor yang baru dibelinya itu. Motor besar yang menurutku terlihat seperti motor yang digunakan para pembalap di Moto-GP. Aku suka motornya. Keren!

Taemin mengajakku berkeliling sampai malam dengan motor besarnya itu sampai akhirnya kami lelah dan memutuskan untuk pulang. Taemin mengantarku pulang, dan mulai besok, ia akan mengantar jemputku dengan motornya itu.

Saat melihat motornya, aku tahu kalau motor itu bukan motor biasa. Motor itu tergolong motor mahal yang harganya sebanding dengan harga sebuah mobil yang sudah bisa dikategorikan sebagai mobil mewah. Aku kemudian bertanya pada Taemin kenapa ia lebih memilih untuk membeli sebuah motor daripada mobil, dan ia hanya menjawab…

”Sengaja. Aku rasa naik motor denganmu akan terkesan lebih romantis. Hehehe…”

Dasar Taemin

Aku senang Taemin akhirnya mempunyai kendaraan pribadi, jadi kami bisa sering jalan-jalan dengan motornya itu.

.Aku masuk ke dalam rumah.

“Aku pulang…” kataku mengisyaratkan kalau aku sudah pulang.

Tapi tak ada tanggapan sama sekali. Aku kemudian berjalan menuju kamar Jonghyun dan membuka pintunya perlahan.

Oh. Ternyata Jonghyun sudah tidur.

Aku menutup kembali pintu kamarnya lalu bergegas menuju kamarku. Aku mengganti pakaianku dengan pakaian tidur, lalu mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidurku.

Aku merebahkan tubuhku ke atas tempat tidur. Rasanya ada yang aneh. Biasanya Jonghyun akan meneriakkan ucapan selamat tidur dari kamarnya setiap kali kami sudah berbaring seperti ini.

Ah, sudahlah. Mungkin ia sudah sangat mengantuk hingga tidak menungguku sampai pulang.

Justru aku ini yang aneh. Aku sudah sangat terbiasa dengan Jonghyun yang tinggal di rumahku beberapa hari ini.

Aku mencoba memejamkan mataku dan tak lama kemudian, aku sudah ada di dunia mimpi.

+++

(Jonghyun P.O.V)

Brumm. Brumm.

Aku mendengar suara mesin motor dari arah luar. Aku berlari menuju jendela yang ada di dekat pintu dan mengintip keluar.

Kulihat Kyungjin sedang melambaikan tangannya pada seseorang. Oh, ternyata ia diantar oleh seorang namja. Tapi siapa namja itu? Namjachingu-nya kah?

Mendadak aku merasa kesal dan segera masuk ke kamar yang selama ini ku tempati.

Sayup-sayup kudengar suara Kyungjin masuk ke dalam rumah.

“Aku pulang…” katanya. Tapi aku tidak menanggapinya.

Tiba-tiba ia membuka pintu kamarku. Aku menutup mataku, berpura-pura tidur, hingga akhirnya ia menutup kembali pintu itu dan sepertinya ia menuju ke kamarnya sendiri karena aku mendengar suara pintu yang ditutup dari kamar sebelah.

Biasanya aku akan meneriakkan ucapan selamat tidur padanya dari kamar ini dan ia juga akan membalasnya. Namun kali ini aku memilih untuk tidak melakukannya.

“Selamat tidur, Kyungjin. Mimpi yang indah…” aku hanya bisa mengatakannya dengan suara pelan dan tentu saja tidak akan didengar olehnya.

Biarlah. Lagipula aku masih merasa kesal, terutama pada namja yang mengantarnya itu. Tapi, kenapa aku mesti kesal? Apa karena aku mendapatinya pulang malam-malam begini bersama seorang namja yang kuduga namjachingu-nya itu?

Ya! Kim Jonghyun. Apa hakmu untuk kesal padanya? Itu kan haknya untuk berpacaran dengan siapa saja. Lagipula aku ini juga bukan siapa-siapanya.

Namun saat aku menyadari bahwa aku ini bukan siapa-siapanya, kenapa hatiku malah jadi sakit begini?

Kriuukkk. Kriuukkk.

Aduh, aku lapar! Aku belum makan malam! Kyungjin jahat sekali, ia malah asyik pergi bersama namja lain dan membiarkanku kelaparan seperti ini.

+++

“Jonghyun! Bangun! Dasar malas!’ seseorang menggedor-gedor pintu kamarku.

“Ne, Kyungjin-ah!” aku menjawabnya asal.

Meski malas akhirnya kupaksa tubuhku ini untuk bangkit dan keluar dari kamar. Aku berjalan menuju dapur dan mendapati Kyungjin tengah membuat sandwich. Kulihat ia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Tumben. Ini kan masih terlalu pagi untuk bersiap-siap ke sekolah.

“Hei, ada angin apa sampai kau sudah siap ke sekolah sepagi ini? Biasanya kau malah sering terlambat” aku akhirnya bertanya padanya.

“Hah? Kau ini mengejek sekali. Aku mulai sering terlambat sejak kau ada!” ia menjawab dengan ketus.

“Aih. Begitu saja marah” aku memperhatikan wajah cemberutnya yang benar-benar lucu. Haha, dia memang manis sekali.

“Mulai hari ini aku bisa menjamin kalau aku tidak akan terlambat ke sekolah. Tak lama lagi seseorang akan menjemputku dan kami akan ke sekolah bersama. No more bus” katanya sambil tersenyum.

“Baguslah. Oh iya, semalam kau dari mana? Pulangmu lama sekali. Mian tidak menunggumu” aku jadi teringat kejadian semalam.

“Tidak apa-apa. Lagipula semalam Taemin yang mengantarku pulang, jadi aku baik-baik saja”

Taemin? Oh, jadi namja yang mengantarnya semalam namanya Taemin.

“Oh ya? Dia siapa? Namjachingu-mu?” kataku sambil memasang wajah seolah-olah tak peduli.

“Ne. Dia sudah punya kendaraan sendiri, jadi dia bisa mengantar jemputku setiap hari”

Oh. Ternyata dugaanku benar. Dia memang namjachingu-nya.

“Tapi kau jahat sekali. Semalam tak ada yang memasakkanku makanan”

“Astaga, jadi kau tak makan malam sama sekali?! Hahaha. Mian…”

Dasar. Dia malah tertawa.

Tak lama kemudian terdengar bunyi klakson dari arah luar.

“Kyungjin-ah, sepertinya namjachingu-mu sudah datang” kataku sambil menekankan kata “namjachingu-mu”.

“Ah, ne. Ya sudah. Jonghyun-ah, aku berangkat ya. Jaga rumah baik-baik. Oh iya, sandwich yang itu kau makan saja. Aku sudah memasukkan bagianku di kotak bekalku” katanya sambil berlari meninggalkanku sendirian di dapur ini.

Yah. Sekarang aku sendirian. Bukan cuma ragaku, tapi juga jiwaku.

Tapi yeoja itu benar-benar jahat. Setelah semalaman tak makan, dia cuma memberiku beberapa potong sandwich?!

+++

(Author P.O.V)

Malam hari di rumah Kyungjin.

Kyungjin tengah terduduk di ruang tamunya sambil berusaha mengerjakan tugas fisika yang diberikan gurunya.

Sudah setengah jam lebih Kyungjin duduk di situ, membolak-balik buku yang dipegangnya sambil mencoret-coret sederetan rumus fisika di kertas cakarannya.

“Arrggghhhh… Kenapa mesti ada fisika di dunia ini?! Sudah dari tadi aku duduk di sini bahkan satu nomor pun belum ada yang bisa kuselesaikan!” tiba-tiba Kyungjin berteriak di tengah-tengah kesibukannya sambil menjambak sedikit rambutnya.

Jonghyun yang sedari tadi duduk di kursi yang terletak di depan Kyungjin sambil sibuk membaca buku merasa terganggu dengan teriakan Kyungjin.

“Ya! Kau ini payah sekali, pelajaran fisika kelas 2 SMA saja tidak bisa!”

“Hei, kau ini senang sekali mengejekku. Aku kan tidak sama denganmu!”

“Heran. Lalu kenapa kau mengambil jurusan IPA kalau memang kau lemah di bidang itu? Seharusnya kau lebih cocok bersekolah di bidang tata boga” kata Jonghyun sambil sedikit tertawa.

“Ya! Sekali lagi kau mengejekku, besok kubiarkan kau kelaparan!” ancam Kyungjin.

“Mwo?! Oke… Oke… Ampun… Hei, kau mau ku bantu tidak?” Jonghyun menawarkan bantuan pada Kyungjin sambil tersenyum jahil.

Kyungjin berpikir sejenak, namun kemudian memutuskan menerima tawaran Jonghyun walau agak sedikit malu.

“Yah. Apa boleh buat…”

Jonghyun bangkit dari tempat duduknya dan duduk di samping Kyungjin.

“Coba ku lihat”

Jonghyun menarik buku yang dipegang Kyungjin lalu melihat isinya sekilas, dan beberapa saat kemudian ia tertawa.

“Hahahahaha. Kau ini memang payah! Ini kan hanya soal-soal dasar materi gravitasi. Masa yang dasar saja kau tidak bisa?”

Kyungjin hanya bisa manyun mendengar kata-kata Jonghyun. Melihat itu, Jonghyun mengacak-acak rambut Kyungjin sampai benar-benar berantakan.

Tanpa mereka sadari, di luar rumah sudah ada seorang namja yang sepertinya ingin berkunjung ke rumah itu. Namja itu memarkir motornya di depan pagar lalu berjalan mendekat ke pintu rumah.

“KIM JONGHYUN! BERHENTI MENJAHILIKU!” Kyungjin berteriak marah dengan sangat keras hingga suaranya bisa terdengar sampai ke luar rumah.

“Ih, kau kalau marah ternyata seram juga. Ne… Mian… Mian… Cup cup cup. Nona manis, jangan ngambek, nanti jadi jelek” Jonghyun kembali mencoba merapikan rambut Kyungjin yang telah ia acak-acak dan Kyungjin hanya bisa pasrah atas perlakuan Jonghyun padanya.

Namja yang berada di luar rumah itu tidak sengaja mendengar teriakan Kyungjin dari luar. Seketika ia membuka pintu rumah secara tiba-tiba dan mendapati Jonghyun tengah mengusap-usap kepala Kyungjin.

Kyungjin dan Jonghyun yang menyadari kedatangan namja itu tersentak kaget.

Namja itu langsung membalikkan badannya kembali dan berlari ke luar pagar.

“Taemin-ah! Tunggu!” Kyungjin mencoba mengejarnya namun langkah namja itu jauh lebih cepat.

Ia langsung menyalakan mesin motornya dan memacu motornya dengan sangat cepat meninggalkan rumah Kyungjin.

+++

“Aaaaaaaarrrrrgggggkkkhhhhhhhhhhhh!!!” Taemin yang masih mengendarai motor hanya bisa berteriak frustasi setelah berhasil melepaskan helmnya dan membuangnya ke tengah jalan karena merasa terganggu dengan helm itu.

Ia memacu motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Rambut coklatnya melambai-lambai diterpa angin malam. Suara motornya meraung-raung membelah malam bersama dengan teriakannya.

Ia mengendarai motornya tanpa tujuan yang jelas. Ia sudah tidak bisa memikirkan kemana ia akan pergi. Pikirannya kini dipenuhi oleh kejadian yang tadi dilihatnya.

“Kyungjin-ah, kau tega sekali! Kenapa kau mengkhianatiku?! Hah?!” katanya dengan suara lirih sambil terus menambah kecepatan motornya. Tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang saat ini sehingga ia bisa dengan bebas menguasai seluruh bagian jalanan.

“Kyungjin-ah, APA SALAHKU?! APA PERLAKUANKU SELAMA INI PADAMU TIDAK CUKUP BAIK MENURUTMU?! KENAPA KAU MALAH BERSAMA DENGAN LELAKI ITU?! APA AKU BEGITU TIDAK PANTAS UNTUKMU SAMPAI KAU TEGA MENCARI NAMJA LAIN,, HAH?!” ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk berteriak sampai dadanya terasa sesak.

“KYUNGJIN-AH, APA KAU TIDAK TAHU KALAU AKU SANGAT MENCINTAIMU?! KYUNGJIN-AH, KENAPA?! KENAPA?!” air matanya yang dari tadi sudah ada di pelupuk mata perlahan menetes, namun terhapus kembali karena tersapu angin.

“AKU SUDAH BERUSAHA UNTUK SELALU MEMBUATMU BAHAGIA. TAPI INIKAH BALASANMU PADAKU?!” ia terus saja memacu motornya dengan ugal-ugalan sambil menambah kecepatannya.

Dari arah berlawanan tampak sebuah truk pengangkut semen yang juga melaju dengan kecepatan tinggi.

Taemin menyadari keberadaan truk itu. Ia sebenarnya masih bisa meminggirkan motornya agar tidak berpapasan dengan truk itu, tapi ia tetap tidak bergeming dan terus saja memacu motornya menuju truk itu, seakan-akan menantang truk itu.

Dengan cepat truk dan motor itu bergerak saling mendekat.

Mendekat.

Mendekat.

Hingga akhirnya…

“KYUNGJIN-AH, LIHAT! AKU BAHKAN RELA MENGORBANKAN NYAWAKU UNTUKMU! ITU SEMUA HANYA UNTUKMU! TAPI TIDAK APA-APA, AKU RELA! SARANGHAE, KYUNGJIN-AH! AAARRRRRRRRGGGHHHHHHHHHHHHHHHH!”

Brukkkkkk.

Tubuh Taemin terlempar dari atas motor dan terseret sangat jauh hingga akhirnya membentur pinggir trotoar jalan.

Ia masih setengah sadar, namun tak lama kemudian motornya yang juga terseret ikut menyusul dan membentur tubuhnya dengan sangat keras.

+++

(Jonghyun P.O.V)

Aku sangat terkejut melihat ada seorang namja yang membuka pintu secara tiba-tiba. Astaga, ia memergokiku sedang mengusap-usap kepala Kyungjin.

Sebenarnya yang kulakukan itu biasa saja, tapi sepertinya namja itu mengartikan lain. Kulihat Kyungjin sangat panik. Namja itu langsung beranjak pergi namun Kyungjin mencoba mencegahnya.

“Taemin-ah! Tunggu!”

Oh, jadi itu yang namanya Taemin, namjachingu-nya. Kyungjin berlari mengejarnya namun sepertinya ia terlambat. Namja itu sudah lebih dulu memacu motornya.

Aku berjalan menyusul Kyungjin yang terjongkok di depan pagar sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sepertinya ia menangis.

Aku menariknya masuk ke dalam rumah. Saat tiba di ruang tamu, Kyungjin melepaskan peganganku dengan kasar dan berlari menuju kamarnya lalu membanting pintunya dengan kasar.

Hhh. Sudahlah. Ia butuh menenangkan pikirannya.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan hingga akhirnya mataku tertuju pada buku-buku Kyungjin. Oh iya, dia belum menyelesaikan tugasnya padahal ia sudah harus mengumpulkannya besok. Ya sudah, aku kerjakan saja.

Setelah menyelesaikan tugas Kyungjin, aku merapikan semua buku-bukunya di atas meja ruang tamu itu. Selanjutnya aku memutuskan untuk masuk juga ke dalam kamarku dan duduk di tepi tempat tidur.

“Kyungjin-ah, selamat tidur. Mimpi yang indah ya! Oh iya, menangisnya jangan terlalu lama! Kau harus tidur!” seperti biasa aku meneriakkan kata-kata selamat tidur padanya, tapi ia tidak membalasnya.

+++

TO BE CONTINUE

Chingu… Eonni… Saeng… Tetap baca ff ini ya… Rencananya next part udah ending…

Gomawo udah mau baca… ^^ *hugs reader*

2010  ©SF3SI

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

26 thoughts on “The Sweet Escape – Part 5”

  1. wow ..
    bgtu bsar pgorbanan taem ..
    huwaaa .. *jgan kau korbankan nyawany untukny taem .. ckup untkku saja .. ???
    haha ..

    d tggu part slanjutny chingu ..
    saking pnasaranny ga bsa ngmg pa.pa ..
    ahaha ..

  2. Hoho aku udh baca sampe selesai di blog lain #terus

    Lanjutin onni!! Ff nya daebak banget! Baguuuuuuus!

    Tau gak abis aku baca sampe selesai aku ngebayangin jonghyun mulu looh haha *mabok jonghyun*

  3. DYUUUUUUU
    KOK UDAH TAMAT LAGI, SIHH ??!!
    huwaaaaaaaa gak mau pisaaaaaahhh
    aku suka ama ff iniii
    huweeeeeeeee

    sumpah aku suka banget ama jjong disini :*

    taem..
    kamu mah suka gitu sih, ah.
    dengerin dulu si kyungjin mau ngomong apaa..udah gitu terseraah..
    tapi daripada bunuh diri gitu sih mendingan kamu sama aku, taem..
    huakakakak

    itu si pa pulisi nya ganteng gak, dyu ??
    kalo ganteng aku mau ngeceng..
    wakakak

    1. g mau pisah?? O.o
      berasa ni ff kayak orang aja..
      wakkakaakkak.. XD *plakkk!!*
      hah?? suka?? O.O *shock+terharu*
      iya tuh si taem..
      main kabur aja..
      matilah dia dilindes truk.. XD *diceburin taem ke got*
      iya lia..
      ganteng kok..
      mirip sule~ 😀 *plakk!!*
      gomawo lia udah mampir di ff naasku.. 😉

  4. Gini nih enaknya baca ff punya unnie dyu

    eh unnie dyyu *noel noel
    Aku panggil tante yak? *plak
    Biar kayak keluarga bahagia gitu unnie lia kan haelmoni,unnie eci umma..
    *aish ini out of topic banget*

    Unnie dyu….untungnya taemints..
    jadi aku seneng klo ff nya taemin
    Taeminnya kasian…
    ya udah aku tunggu part selanjutnya

  5. AUTHORR!!
    Tanggung jawab!!!!
    Saya kena pnyakit penasaran!! *apa ada/PLAKKK*

    Penasaraaaannn!!!!
    part 1 seruu bngett!! Yg lari2 ituu si Ojong kan??
    part 2 nya,, jugaaa seruuuuuuuuuu!!!
    part 3/4 (lupaa) si Taemin bunuh diri??

    OMONAAA!!
    Apakah ituu bneran trjadii??? Hullaaaaa!!! Holllaaaaaaa!!! (komen nympahh!!) >.<
    Taemin kren bnget bisaa ngbut kyk bgituu, bkannya dia anak mami (digaplok Taemints)??!!?
    Hehehehehe~~
    Ayollaaaaaah!!! Cepett lanjut!!!
    Udah merinding gara2 pnsaran nihh!! Ayo ayo!! HARUS LEBIH BAGUS!!!! HARUS!! HARUS!!! 😀

    1. tanggung jawab?? O.O *shock*
      hhohoo..
      gomawo ya ayu(?) atas komennya..
      lha?? kalo minta lanjutannya jangan di aku dong..
      udah dikirim kok..
      tinggal nunggu publishnya hahaha.. *noel2 admin*
      sekali lagi gomawo ya udah mampir..
      mian kalo misalnya next part ngecewain.. 😦 *bow bareng taemin*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s