CAN YOU BE MINE, NOONA? PART 1

Can you be mine, Noona?

Author: Mocha-creamy

Main Cast: Lee Taemin, Victoria Song

Support Cast: other SHINee members (dan beberapa orang yang belum terpikirkan X))

Length: 1,041 words

Genre: Drama, Angst

Rating: PG-15

Summary: penyakit yang diderita taemin memang membuatnya pasrah. Berbagai usaha nampaknya tidak membuahkan hasil. Orang tua yang tidak mau tahu pun sama sekali tidak membantu. Hanya hyungnya yang dia anggap sebagai keluarga. Hari-harinya dijalani dengan sekuat mungkin, sampai akhirnya dia melakukan sesuatu yang akan selalu dia sesali seumur hidupnya…

A.N: maaf sekali kalau jelek *bows* benar-benar fanfic pertama yang pernah kutulis, jadi mesti terlihat aneh. Maaaf~ semoga bisa dimengerti isinya. ^^ tidak sengaja memilih Victoria, gara-gara keinget dia di MV Replay. Cantik banget si *author dodol* oh. Dan mungkin ceritanya akan berjalan agak lambat, karena saya lebih suka alur maju mundur (saya akan berusaha agar tidak membingungkan). Mohon bimbingannya! ^^

CHAPTER I

A Fake Happiness

“Selamat ya, Minho dan Kibum!!” semua tamu bersorak dan memberi selamat pada pemilik pesta kelulusan kali ini. Peralatan barbeque sudah disebar di berbagai penjuru taman. Meja-meja penuh dengan minuman dan makanan dikelilingi para tamu undangan. Keceriaan terpancar jelas dari mimic muka mereka.

“Hei, Taemin!”

Namja yang bernama Taemin tersebut menoleh ketika namanya dipanggil. Dia memutar badan mencari dari mana arah panggilannya berasal.

“Di—sini!” teriak 2 orang namja yang mengagetkannya. Taemin melonjak dari tempat duduknya. Mereka pun tertawa.

“Aaaah! Minho Hyung! Key hyung! Sudah kubilang aku tidak suka dikagetin!” Taemin cemberut dan balas memukul lengan kedua Hyungnya itu.

“Makanya aku tidak memberitahumu kalau mau kukagetin~ kau pasti marah Taeminnie~” sangkal Key dengan tawa trademarknya. Tawa seorang Diva. Taemin bangkit dari tempat duduk dan merapikan jasnya. Melihat kedua hyungnya yang masih saja tertawa, Taemin pun tersenyum.

“Ne, taemin-ah, sedang apa kau di pojokan gini?”

“Ne—“

“kau tidak ikut bergabung di dance floor? Apa lagunya kurang berkenan? Mau kugantikan?” Tanya Minho berurutan. Taemin menggeleng pelan. “Tidak usah hyung, aku cuma ngerasa kurang enak badan.” Jawaban itu langsung membuat Key kaget.

“Kau pusing lagi? Apa badanmu panas? Mual? Kau sudah makan siang tadi?” Giliran Key yang memberinya sederet pertanyaan. Tangan key menyingkirkan poni Taemin yang menutupi keningnya, meletakkannya disana dan membandingkannya dengan suhu tubuhnya sendiri.

“Tidak panas kok hyung,” sela Taemin agar Key tidak khawatir, “aku baik-baik saja. Kalau hanya seperti ini, bisa ku handle sendiri!” Taemin memaksakan untuk tertawa sambil menyingkirkan tangan Key darinya. Pandangan kedua hyungnya benar-benar tidak mengenakkan. Raut muka yang Taemin kurang suka. Raut simpati.

“Taemin—“

“Hyung, dimana Jinki hyung dan Jjong hyung? Kok ga keliatan?” potong Taemin cepat mengalihkan pembicaraan. Berhasil?

“Jinki hyung? Dia tidak bisa datang. Kau tahu… kuliah music nya benar-benar menyita waktu. Sampai semalam ini coba. Dah gitu jarang hang out sama kita-kita lagi. Mentang-mentang dah tua. Kalau aku sih malas masuk situ,” celotehan key pun dimulai, “Atau jangan-jangan… dia ada kencan dengan Jessica noona? Tahu deh.”

“Kenapa jadi hyung yang marah? Lalu Jonghyun hyung?” sela Taemin sambil mengambil jus yang dipegang Key. Tenggorokannya terasa kering. Dan pusingnya makin terasa. Dia perlu sesuatu untuk membuatnya lupa. Bicara banyak mungkin membantu.

“yah! Taemin! Ambil sendiri minumanmu! Lagian siapa yang marah?! Aku bisa dance lebih bagus darinya!” ucapan Key sama sekali tidak digubris dan justru membuatnya mempercepat minum. Gelas yang sudah kosong di berikan lagi kepada key yang manyun. “saat seperti ini tidak boleh marah hyung, ntar tambah jelek loh,” canda Taemin yang disambung tawa Minho, “terus, dimana jonghyun hyung?”

“ada yang memanggilku?” sahut Jonghyun dari belakang Minho dan Key.

“Ne, yeobo~ Taeminnie sekarang usil dan susah diatur. Berani membantah orang tua pula~” Minho menggeleng pelan. “kukira permainan suami-istri ini sudah berakhir saat jonghyun hyung lulus…” minho pun menarik nafas dalam, “nampaknya tugasku sebagai anak pertama belum selesai juga…” cerita Minho yang otomatis membuat Taemin menepuk pundaknya dan tersenyum.

“selamanya aku akan jadi anak kedua, ne, hyung?” Taemin melempar pertanyaan retoris pada Jonghyun.

“Ne, apa kau mau… jadi istri dari Jinki hyung?” jawab Jonghyun bercanda.

“YAH! Jagiya~ jangan mengajari yang tidak-tidak pada Taemin yang masih innocent ini!”

“Aniyo. Aku lebih suka jadi anak pemberontak.” Balas Taemin sekenanya.

“Yah! Minho! Adikmu sekarang benar-benar—“

“tenanglah Kibum. Dia sedang puberty. Itu saja.” Taemin mengurut kepalanya ringan. Mengharap sakitnya mereda meski sedikit.

“Taemin-ah? Kau kenapa?” jonghyun mendekat ke Taemin, “sakit lagi—“

“Jonghyun-ssi, Minho, Key! Bisakah kalian datang kesini sebentar? Saatnya rehersal untuk acara penutupan!” teriak seseorang dari kejauhan.

“hah? Aku ikutan?” jonghyun kaget.

“of course! Kami tidak mungkin menyia-nyiakan vokalis terbaik alumni sekolah kan?” Minho menarik lengan jonghyun kearah panggung, “duluan ya Taem! Cobalah untuk menikmati pestanya, ok?”

‘aku berharap bisa, hyung. Seandainya tidak sesakit ini.’

“tentu, hyung! Fighting! Tunjukkan pertunjukan yang bagus!” Taemin berusaha memasang senyum termanisnya yang ditujukan pada dua orang yang sudah menjauh itu.

“kau yakin tidak apa-apa sendiri Taem? Aku benar-benar khawatir. Mau kupanggilkan temanmu? Maaf sudah menyuruhmu datang pada pesta kelulusan kami. Sendiri pula.”

Ucapan Key membuat perasaannya hangat. Hyungnya yang seperti inilah yang membuat Taemin kuat bertahan melawan kanker otaknya itu. Berbagai cara sudah diusahakan oleh orang tuanya agar dia sembuh. Operasi pun sudah. Namun ketika dokter mengatakan metastasis kankernya sudah cukup meluas, Taemin hanya bisa berharap pada kemoterapinya, agar bisa memberinya sedikit umur yang lebih panjang. Kalau pun dibilang sudah siap mati, Taemin berusaha tegar. Berusaha. Kata-kata yang menyedihkan bagi Taemin. Dia pun sudah lama melupakan adanya keajaiban. Percuma berharap pada sesuatu yang tidak pasti. Begitulah ucapan yang dia lontarkan pada ummanya. Namun tidak pada para hyungnya itu. Merekalah kakak-kakak yang selalu diidamkan Taemin saat kecil, yang tidak pernah diberikan oleh orangtuanya karena dia anak tunggal. Kakak yang mau menemaninya menari di atas dance floor melawan dance team dari sekolah lain. Kakak yang selalu mendukung melawan kelemahan-kelemahan Taemin akibat penyakitnya. Bukan orang tua arrogant yang menganggap uang bisa menyelesaikan semua masalah.

Jangan pernah mengecewakan mereka. Aku harus kuat.

“iya, umma. Aku baik-baik saja. See? Sudah enggak sepusing tadi kok. Sana.” Taemin mendorong Key pergi darinya. Mencoba meyakinkan umma nya itu.

“ok, ok. Geez. Kamu ga perlu mengusirku gitu donk!”

“FIGHTING UMMA~ Minnie mendukungmu!”

“Fighting buatku! Aku pasti bisa!” teriak key, membuat Taemin tersenyum mendengarnya.

‘siaaaal! Sakit sekali. Mungkin sebaiknya aku pulang.’

Setelah memastikan hyungnya hilang dari pandangan. Taemin segera berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil motor xxx nya.

“maaf hyung aku pulang duluan.” Ujar Taemin sambil memakai helm dan menginjak gas keluar dari halaman rumah Key.

“brengsek! Kenapa jalannya seramai ini?” umpat Taemin kacau. Kalau tidak sesakit ini dia pasti bisa tahan. Taemin mempercepat jalannya.

SIIIING!

“Aah!” dia mendengar suara yang memekakkan telinga secara tiba-tiba dari dalam kepalanya. Sebelah tangannya reflex memegang kepala. Pandangannya mulai kabur.

‘Damn! Seharusnya kubawa obat itu!’

TIIIIN! TIIIN! Pengguna jalan lain mulai memencet klaksonnya pada Taemin. Jalan Taemin yang sudah tidak stabil membuat orang-orang takut. Taemin sudah tidak begitu sadar.

‘sa—kit— aku tidak tahan lagi…’

“AWAAAS!! OPPA!”

Yeoja? Kenapa berteriak?

“AAGH!”

BRAAAAAKK!! Taemin terpelanting dari motornya. Dia tidak bisa bergerak. Seluruh badannya sakit.

Taemin mencoba bangkit. Ketika kepalanya berhasil terangkat, samar-samar yang dia lihat adalah seorang namja paruh baya yang bersimpuh darah didepannya, dan seorang yeoja yang berlari mendekati namja itu. Pandangannya kabur.

“Oppa!! Bertahanlah!”

Dan itu merupakan kata terakhir yang Taemin dengar sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri.

-tbc-

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

She’s My (EX)Wife – Part 20

She’s My (Ex)Wife

Part 20

Author: Zika

Main Cast : Kim Kibum (Key), Kim Hyeo So & Choi Minho

Support Cast: SHINee, Super Junior, Jun & Shina

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Romance, Friendship

2010 ©Zika

Continue reading She’s My (EX)Wife – Part 20

The Memoriez Of Half Blood Vampire – Part 2

THE MEMORIEZ OF HALF BLOOD VAMPIRE

(CHAPTER 2)

AUTHOR: Me(LyNdA LynDa) aka Park Hea Min

CAST:

1.                   Park Lii Yuu

2.                   Lee Jin Ki

3.                   Kim Ki Bum

4.                   Victoria Song

5.                   Kim Jong Hyun

6.                   Choi Minho

7.                   Lee Taemin

8.                   Kim Myung Soo

9.                   Park Hyo Bin

10.               And other yang tidak bisa disebutkan sekarang..

GENRE: AU, Mystery, Adventure, Romance.

LENGTH: Chaptered / Series

RATING: PG 13

©2010 SF3SI, Freelance Author.

************************************************************************************

Continue reading The Memoriez Of Half Blood Vampire – Part 2

SHINee strong baby

Author : flamT bling2

Main Cast : SHINee

Support cast : Leeteuk superjunior.

length :oneshoot

genre :humor, romance, nc17 ?

rating: pg-15.nc 17 ?

SHINee strong baby

Alkisah  disebuah kota di Indonesia, ada seorang mahasiswa yang sedang stress memikirkan skripsinya yang belum kelar-kelar juga dari 1 tahun yang lalu (???).  Dia adalah Choi Minho. Karena saking stressnya memikirkan skripsi yang bahkan bahan ama judulnya juga belum tau sama sekali, Minho berniat bunuh diri di menara Eiffel malam ini juga. Tapi karena hal itu tidak mungkin dilakukan karena dia sekarang bukan berada di Paris, tapi lagi nangkring diperapatan ciamis nungguin teman senasibnya, Lee Jinki.

“woii, geblek. Lo dimana? Dari tadi gue udah nungguin lo belom dateng-dateng juga.” Minho tak sabaran menunggu Jinki yang dari tadi ditunggu-tunggu belum datang juga.

“lah, lu nungguin gue dimana pren?” jawab jinki diujung telpon.

“diprapatan, dodol!” kata Minho kesal.

“prapatan dodol? Emangnya ada?” jawab Jinki dongo.

“yah ilah, lu budek amat sih? Ya udahlah, lu masih di jalan?”

“gue udah stay dari tadi pren.”

“stay apaan? Staysiun? Lu lagi sakau hah?”

“darting amat sih lo? Gue lagi stay ditempat yang ajib neh, balik badan aja.”

Minho segera membalikan badannya. Ternyata disebrang jalan, Jinki lagi berdiri didepan sebuah café remang-remang. Terlihat jelas dipapan namanya, nama café itu, café bang kumis.

“ahh, sialan lu! Napa ga manggil gue aja dari tadi. Ngabisin pulsa gue aja.” Minho segera menyembrang jalan, dan nampol kepalanya Jinki, lalujedot-jedotin kepala Jinki ke diding café, Jinki bersimpah darah dan tewas seketika (*Loh???).

“sori pren, gue Cuma mau buktiin kalo lu punya modal buat pacaran. Soalnya udah satu tahun terakhir gue udah ga pernah liat lo pacaran sama cewek lagi. Waktu gue tanya sama si Mimin, pacar lo yang terakhir, katanya lo kere, buat nelpon aja kga ada pulsa, kaga ada duit.” Kata Jinki lancar.

“sialan lu ah, sejak kapan gue pernah pacaran sama si Mimin? Si Mimin kan banci taman lawang bekas langganan lu dulu.” Kata Minho tak kalah lancar. “gue belom punya pacara lagi, soalnya belom ada cewek yang srekk sama gue aja. Lagian kata bonyok gue, gue harus mikirin tuh skripsi yang belum kelar. Kalo ngga, gue udah ga di akuin jadi anak lagi” sambung Minho lagi

“ajegile, emangnya gue apaan? Pake langganan sama banci taman lawang segala? Ya udah ahh, mendingan kita masuk aja, lupain bonyok lu itu sejenak.” Jinki membuka pintu café.

“tunggu!” Minho menarik tangan Jinki, wajah jinki memerah, dia tersipu malu. Minho menatap tajam kearah Jinki, Jinki menatap minho juga. mata Minho yang sendu sekali malam ini membuat Jinki tak tahan, ingin menciumnya. (*loh, kenapa jadi begini? Sadar Jinki sadar!! *maaf, author sedang gila*)

“apa lagi sih?” tanya Jinki.

“ngapain kita kesini?”

“ya buat refreshing lah pren. Dari pada pusing mikirin skripsi yang kaga kelar-kelar juga. Mendingan santai dulu.”

“gimana mau santai? Bonyok gue pasti makin marah kalau tau anaknya ini sudah ternoda karena pernah dating ke tempat ginian” kata Minho memasang wajah memelas.

“bonyok, bonyok lagi, lama-lama muka lo tuh yang gue bonyokin. udah ah, jangan banyak bacot cepetan masuk aja. “

“tapi ini café biasakan Jin?”

“jin? Lo manggil gue jin? Kaga keren amat. Panggil Jinki kek, ato kaga panggil Onew aja, nama beken gue dikampus.”

“alah, nama beken dari hongkong. Gue juga ngga tau n ngga ngerti lo dapet nama Onew darimana.”

“Dari Korea tau! Bukan dari Hongkong.” Minho dan Onew berdebat hebat. Tiba-tiba..

“ehemm…” terdengar seorang laki-laki dibelakang mereka berderham. “kalian mau masuk atau tidak?” kata laki-laki itu sambil menatap tajam Minho dan Jinki. (Jinki: ganti Onew aja, author: suka-suka gue donk, Jinki: ya udah gue balik aja, ga ngelanjutin nih cerita, author:eh..eh, jangan Onew sayang, ntar aku dimarahin reader, Onew: ga usah pakai sayang! TT)

“i..iya..pak, kami mau masuk.” Minho dan Onew pun segera masuk kedalam café. Mereka tak menyangka, ternyata depannya + tanda namanya aja café, dalemnya? Persis diskotik. Alamak!

“wuidih..kita ngapain disini On?” tanya Minho.

“mana gue tau, gue juga baru pertama masuk kesini. “

Laki-laki yang dibelakang mereka tadi juga ikut masuk dan segera menuju bar minuman.

“kita ikutin tuh bapak-bapak aja! Kayaknya dia udah sering kesini.” Kata Minho lagi.

“yaudah deh, kita ikutin aja.”

Minho dan Onew pun mendekati bar minuman, dan memesan minuman yang  ngga ada alkoholnya.

“ah, lo liat tuh dipanggung, kayanya banyak cewek-cewek lagi nari.” Onew menunjuk panggung dengan lampu kerla-kerlip. Diatasnya banyak cewek-cewek berbaju seksi sedang menari-nari.

“oh my god, surge dunia. Beruntung kita ada disini New, lumayan buat ngilangin stress..” Minho memandangi cewek-cewek yang lagi menari itu tanpa kedip.

“ahaha.. katanya kita juga bisa karokean sama mereka. Ada layanan plus-plusnya juga katanya.” Onew menjelaskan.

“loh? Katanya lu belum pernah kesini? Kok tau yang begituan.” Minho heran.

“ya, sebenernya.. gue dikasih tau sama si Rohim, asdos dikampus itu. Katanya dulu, waktu dia juga stresss ga bisa nyelesein skripsi, dia dating kesini. Iseng-iseng berhadiah, dia dapet ginian. Katanya, otaknya langsung presh lagi pren. Besoknya skripsinya langsung bisa selesai dalam sehari.” Jelas Onew panjang lebar.

“presh? Fresh maksud lu? Alah, baca f kga lulus aja mau pake Inggris-inggrisan lu. Emangnya bener si Rohim ngomong gitu?”

“yah, lo kaga percaya. Nih buktinya, sekarang pikiran gue bisa lebih presh..”

“lah iya fresh, tapi apa mungkin tuh skripsi yang belom dikerjain sama sekali bisa kelar dalam waktu sehari?”

“yah, gue ga tau juga pren, kita coba aja besok.”

“ah, lu mah temen yang nyesatin. Gue ga tau harus gimana lagi, kalo tuh skripsi belom kelar juga dalam sebulan ini. Selain bisa di DO dari kampus, gue juga di DO dari rumah. Tapi, bokap gue pernah ngomong, gue punya wajah ganteng, kalo masuk tipi alias jadi artis pasti terkenal. Cewek-cewek makin banyak yang suka sama gue, keuangan keluarga nambah. Dan yang pastinya, bokap gue juga bisa ikut terkenal. Impian bokap gue dulu tuh pengen jadi artis. Tapi ga kesampaian. Jadi dia ngelimpahin keinginannya yang besar buat jadi artis itu sama gue. Tapi apa daya, persaingan buat jadi artis di Indonesia tuh susah, coba kalo gue ke Korea, kayanya udah tekenal deh jadi penyanyi disana.”kata Minho curhat panjang lebar. Onew mulai pasang wajah bête.

“lo lagi curhat colongan? Terus apa hubungannya kalo lo bisa masuk tipi sama kalo lo ga bisa nyelesain skripsi?” tanya onew kesal.

“ya, ngga ada sih. Hehehe.. ya paling ngga, gue masih bisa tetep tinggal dirumah n masih diakuin jadi anak karena gue masuk tipi, jadi artis.” Minho cengar-cengir.” Walupun gue di DO dari kampus gara-gara ga bisa nyelesain tuh skripsi.” Tambahnya.

“ngaco lo a.” Onew masih kesal.

“yee.. tapi kan logikanya bener begitu.”

“kalian ini masih mahasiswa ya?” tiba-tiba saja, laki-laki di sebelah mereka bertanya. Dia laki-laki yang ada didepan café tadi.

“i..iya. pak.” Jawab Minho dan Onew takut-takut.

“oh” jawab laki-laki itu pendek. Minho dan Onew tebengong-bengong mendengar jawaban laki-laki itu saking singkatnya.

“tuh bapak-bapak aneh ya?” minho bisik-bisik kepada Onew.

“iya, mending kita nyobain cara Rohim aja yuk.” Kata Onew bisik-bisik jua.

“Cara apaan?” Minho memasang wajah polos.

“astaga. Ya karokean sama tuh cewek-cewek lah. Sekalian.. gue penasaran sama plus-plusnya apaan.” Kata Onew sambil menarik Minho mendekati panggung.

“eitssss.. tunggu dulu anak muda. Kalian mau kemana?” tiba-tiba seorang laki-laki berkumis menghalau mereka.

“whoaaa…” Minho dan Onew berteriak karena kaget. “a..abang siapa ?”

“gue bang kumis. Pemilik café ini. Lu lu pada liatkan papan nama cafenya? Café bang kumis, nah gue bang kumisnya. Nama gue LeeTeuk.” Si abang kumis memperkenalkan dirinya.

“oh, bang kumis toh.. Gue Minho bang. Gue Onew..” Minho dan Onew memperkenalkan diri bergantian.

“ kalian mahasiswa ya?” tanya bang kumis Leeteuk.

“iya bang, kami mahasiswa. Lagi stress mikirin skripsi makanya iseng-iseng kesini.” Jelas Onew.

“Iseng-iseng apa iseng-iseng?” si abang kumis Leeteuk nyengir.

“hehe.. iseng-iseng berhadiah sih bang maunya. Katanya disini bisa karokean sama cewek-cewek yang lagi nari ntuh. Terus katanya juga ada plus-plusnya.” Onew mulai bersemangat.

“haha.. tau aja kalian. Nah, kali mau karokean sama mereka, tinggal pilih aja mau sama yang mana. Tapi bayar dimuka sama abang.” Mata di abang kumis Leeteuk mulai hijau.

“bayar cewek-ceweknya bang? Wah, si  abang ngga takur masuk penjara?” ujar Minho.

“ah, lu anak kecil. Ngga usah ngurusin yang gituannya.” Si abang kumis sedikit kesal.

“ ya udah deh bang, langsung aja. Kami pilih ceweknya ya..”

“boleh..boleh.. tapi khusus malam ini, stoknya udah habis tuh, tinggal dua aja, yang lain udah ada yang pesan.”

“yaudah deh bang yang mana aja.” Onew mengiyakan tanpa minta persetujuan Minho.

“deal..”

“deal..”

“sudah mabuk minuman..ditambah mabuk judi. Masih saja akang tergoda janda kembang. Tak sudi ku tak sudi..”

“yihaa.. asyik juga new.” Minho terlihat sangat menikmati acara karokenya bersama Taemin, cewek yang udah di deal tadi.

“ahaha.. bener kata si Rohim ho, stress gue bener-bener udah hilang.” Onew tak kalah senangnya. Dia berdua bersama dengan Key.

“stop..stopp..stopp.. udahan dulu sayang karokeannya, abang capek.” Teriak Minho. Taemin, Key dan Onew pun menghentikan aktivitasnya.

“ya udah, kalian duduk aja dulu, sambil ngobrol-ngobrol sama kita-kita.” Kata onew sambil menggeser tempat duduknya sdan mempersilahkan key duduk. Minho juga melakukan hal yang sama.

“kalian udah lama kerja disini?” tanya Onew pada Key dan Taemin.

“baru dua bulan bang” jawab Key dan Taemin bersamaaan.

“oh masih presh.” Onew tersenyum. Tiba-tiba saja Key memeluknya.

“aku tau, kalian pasti menunggu plus-plusnya kan?” kata Key to the point.

“a..a..kamu tau aja.” Onew sepertinya sudah tidak sabaran. Minho yang dari tadi diam saja, kaget karena perlakuan Taemin.

Taemin langsung duduk mengangkan diatas tubuh Minho. Dan menciumi bibir Minho dengan ganas. Minho menerimanya saja. Dia memeluk Taemin, semakin lama semakin mengeratkan pelukannya. Taemin pun belum mau melepaskan ciumannya.

Onew yang melihat hal itu pun gemetaran. Dia memandang Key yang perlahan-lahan menutup matanya. Onew segera mangarahkan wajahnya ke wajah Key. Bibirnya kini sudah menyentuh bibir Key. Perlahan-lahan Key mendorongnya agar merebah disofa yang mereka duduki. Sofa itu memang cukup panjang. Onew menyingkap rok yang dikenakan Key. Tangannya makin lama makin keatas. Tapi Onew merasakan ada yang berbeda dari Key. Saat Onew ingin menyingkap celana dalam Key, tiba-tiba..

BRAAKKK..

“angkat tangan! Kami dari kepolisian!”

Minho, Onew, Key, dan Taemin terkaget-kaget. Mereka segera mengangkat tangan dan menghentikan aktivitas yang sedang mereka lakukan.

“a..am..pun pak” teriak Taemin.

“Mi..Minho.. itu bukannya bapak-bapak yang tadi?” Onew berbisik-bisik.

“i..iya..memangnya dia siapa? Polisi?” bisik Minho.

“diam semuanya!! Skarang ikut kami ke kantor polisi.”

“lapor pak Jonghyun. Kami sudah menemukan pmilik café ini.” Ujar salah seorang anak buah polisi itu. Rupanya laki-laki yang tadi ada dibelakang Minho dan Onew saat dipintu masuk adalah seorang polisi yang menyamar, namanya Jonghyun.

“bagus. Sekarang segera giring mereka ke kantor polisi.”

“siapa nama?” tanya pak polisi Jonghyun.

“Cho..Choi Minho pak.” Jawab minho.

“kamu yang satunya?”

“saya Lee Jinki pak, alias Onew.”

“kalian mahasiswa dari universitas mana?” tanya pak polisi Jonghyun lagi.

“universitas ******* pak” jawab Onew.

“universitas *******? Dimana tuh?” tanya pak polisi Jonghyun.

“dimana aja bisa pak.” Jawab Minho.

BRAKK.. pak polisi Jonghyun mengebrak meja. “serius dikit napa?”

“i..iya pak.” Minho dan Onew semakin ketakutan.

“kalian tau apa kesalahan kalian?”

“ta..tau pak.” Jawab Minho. “kesalahannya karena kami ke café itu, terus deal-dealan sama abang kumis itu, lalu karokean sama cewek-cewek itu, terus main begituan pak.”

“cewek-cewek? Jadi kalian mengira mereka itu wanita?” pak polisi Jonghyun heran.

“lah iya kan pak? Kalo bukan wanita apalagi?” tanya Onew.

“ahahahahahahaha..”tawa pak polisi Jonghyun lepas seketika. “kalian itu suah tertipu. Mereka itu buan wanita, semua yang ada di café itu laki-laki. “

“APA? LAKI-LAKI?” teriak Minho dan Onew.

“jadi kalian berdua laki-laki?” tanya Onew.

“semuanya juga laki-laki, kalian saja yang menganggap kami wanita”. Key bersuara.

“itu tidak mungkin, mereka tidak mirip sama sekali dengan laki-laki ataupun banci.”kata Minho pada pak polisi Jonghyun.

“Leeteuk memang sengaja memasukkan laki-laki yang cantik alami ke dalam cafenya. Dia memang gila dan ada kelainan.”

Minho dan Onew menatap si abang kumis Leeteuk itu, Leeteuk Cuma cengar-cengir kaya orang gila betulan.

“DASAR SABLENG!” teriak Minho dan Onew bersamaan.

“Minho, jadi kita udah resmi jadi maho dong?”

“lu aja! Gue nggak!!” Minho kesal .

“Min, Minho, liat deh tuh ada kamera wartawan mengarah kearah kita.”

“mana..mana?” Minho mencari-cari dimana wartawannya. “arghh.. gila..hancurlah reputasi gue.”

“loh katanya lo mau masuk tipi?”tanya Onew.

“masuk tipi sih masuk tipi! Tapi nggak gini-gini juga kali!” Minho murka.

“sekarang keluar dari rumah ini! Dan jangan pernah kembali lagi! Punya anak sepertimu Cuma bisa buat malu.!!” Brakkk..

“damn! Sial. Gara-gara si Onew itu gue jadi beneran diusir dari rumah”Minho berkata dalam hati.

Pagi tadi saat sarapan, seperti biasa ayah Minho selalu menonton televisi. Tiba-tiba ada berita tentang penyergapan sebuah café yang menyalurkan kegiatan lelaki homo. Terlihat jelas saat tayangan dikantor polisi, ada Minho dan Onew disana. Ayahnya Minho pun langsung naik darah

Tin tiiin..

“woii.. pren! Asem banget muka lo” Onew berhenti di depan rumah Minho.

“pran pren pran pren pala lo! Gara-gara lo mau ngikutin sarannya si Rohim gue jadi sial begini.”

“alaah..masuk aja dulu ke dalam mobil. Kita ngomong dijalan aja. Gue tajut dilempar panic sama bonyok lu”

“lu dilemparin tabung gas lebih bagus!” Minho segera masuk kedalam mobil Onew.

“jadi sekarang lu bener-bener udah diakuin sebagai anak lagi?”

“begitulah kenyataannya.. arghh,, lebih baik gue mati sekarang!”

“hush jangan ngomong begitu. Jangan mati sebelum menyelesaikan skripsi.” Onew berkata bijak.

“skripsi pala lo peyang? Gue udah puyeng mikirin tuh skripsi. Lagian gue juga dipaksa keluar dari rumah.”

“jangan berputus harapan gitu donk pren! Gue udah nemu bahan yang pas buat skripsi” kata Onew mantap.

“bahan apa?”

“nah, kita kan mahasiswa psikologi. Gimana kalo kita mengangkat sebuah kisahnya nyata yang kita alami tadi malam buat bahan skripsi? Cerita tentang laki-laki yang suka sesama jenis gitu.”

“lu gila? Kenapa ngga sekalian aja bikin café kaya tuh si abang kumis kelainan?”

“sekarang masih ngga ada duit. Mungkin nanti kalo gue udah punya duit banyak, bisa bikin café kaya gitu juga.” Onew meyakinkan.

“YAHH.. LU EMANG UDAH GILA BENERAN! TURUNIN GUE SEKARANG!”

“sayang kok teriak-teriak gitu sih? Kan aku jadi takut” Onew mulai genit.

“APAAN SIH PAKAI SAYANG-SAYANG SEGALA? BERHENTIIN MOBINYA SEKARANG! GUE NGGA MAU LAGI JADI TEMEN LU!

“yah, Minho kok gitu sih? Lo kan temen terbaik gue.” Onew memelas.

“NGGAK ADA TEMEN TERBAIK-TERBAIKAN! BERHENTIIN MOBILNYA SEKARANG! GUE MAU KELUAR!!!”

“ihh, sayang..hiks”

“*^#@!@#$%^&*(**&^$$#@#$%^&*%#$#$$%^&^!”

-The End-

gaje ya? gomawo dah mau ngepos ff ini :))

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF