PIANO

Piano
Author: Leonie
Main Cast: Lee Taemin, Jung Krystal, Ahn Sohee
Support Cast: Rest of SHINee
Genre: Romance
Rating: General/PG 15
Length: One shoot

***

“Taemin, kita putus saja.”

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Mulut seorang gadis yang selama ini bersamaku. Gadis yang selama ini selalu menemaniku. Gadis yang selalu tertawa denganku. Berat bagiku menerima itu semua. Semua terjadi begitu saja. Aku tidak tahu alasan apa yang membuatnya mengakhiri hubungan denganku seperti ini. Apakah karena aku lebih muda setahun darinya? Apakah aku terlihat bersama gadis lain? Apa aku lupa menelponnya? Muncul banyak pertanyaan di benakku saat itu. Entah mana yang benar. Ingin sekali aku menanyakan dimana letak kesalahanku, tapi tiba-tiba ia memecah keheningan diantara kami. “kamu pasti bingung kenapa aku ingin mengakhiri hubungan kita,” Aku menunggu kalimat selanjutnya.

“sebenarnya… aku menyukai laki-laki lain.” katanya. Aku tersentak ketika ia mengatakan itu. Mengapa bisa? “…kamu jangan salah sangka dulu, sebenarnya sudah lama aku ingin jujur, tapi baru bisa sekara…” Aku memotong kalimatnya.

“lalu untuk apa hubungan kita sejauh ini? Terserah kamu saja!” Aku berpaling darinya dan mulai melangkahkan kakiku. Aku tidak sanggup lagi menghadapi gadis seperti dia. Aku bisa mendengar suara isakan tangisnya. Tapi aku tidak peduli. Tangisannya tidak bisa membayar sakit hatiku.

Sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak berhubungan dengan siapapun. Bukannya aku lari dari kenyataan, tapi aku hanya butuh waktu untuk bisa sembuh dari sakit hati ini. Seorangpun tidak kuberitahu tentang masalah itu. Hanya saja tiba-tiba cerita itu muncul ditengah-tengah teman-temanku.

“kamu benar-benar putus dengannya Taemin??” Key Hyung bertanya seakan dia adalah seorang detektif.

“kenapa kalian bisa putus? apa yang terjadi?” Minho hyung juga ikut bertanya.

Satu per satu dari mereka mulai menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan konyol. Aku tidak ingin membahas masalah itu lagi. Aku ingin menganggap masalah itu tidak pernah terjadi. Aku tidak percaya masih ada gadis yang memutuskan hubungan dengan alasan tak jelas seperti itu. “Hey Taemin! ayo jawab.” Key Hyung melambai-lambaikan tangannya didepanku.

“ya ya aku dengar, tapi aku tidak ingin membahasnya. Itu sangat memuakkan!” kataku ketus.

Jonghyun hyung yang sedari tadi terus menikmati jusnya tiba-tiba angkat bicara, “aku dengar dari beberapa temanku, kalian putus karena ia menyukai laki-laki lain, apa itu benar?”

Seketika itu juga delapan pasang mata langsung menatap ke arahku. Aku menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya lewat mulut. Saat itu aku sangat bingung. Apa yang harus aku jawab? Ketika itu bell berdering, tanda jam istirahat sudah usai. Aku lega, akhirnya tidak perlu menjelaskan masalah itu pada hyung-hyung ku. Mereka terlihat kesal karena aku tidak sempat menjelaskan masalah itu. Aku pun berdiri dari kursi dan berpaling menuju pintu keluar. Saat aku sedang menuju kelasku, aku merasa seperti ada seseorang yang mengikuti. Aku pun menoleh ke belakang dan mendapati Onew hyung berada tepat dibelakangku. Ia tersenyum ketika aku memergokkinya. Ia pun menghampiriku.

“ada apa hyung?” tanyaku.

Ia diam. Sejenak aku melihatnya seperti sedang memikirkan kata-kata. “apa yang sebenarnya terjadi padamu?” tanya Onew hyung dengan nada pelan. Aku tahu ia takut melukai perasaanku.

Aku menatapnya sejenak. Aku masih tidak tau apa yang harus kukatakan, karena aku benar-benar tidak ingin membicarakan masalah itu. Onew hyung sepertinya memang menuggu jawaban dariku. “hmmm, kamu gak mau cerita? bahkan pada hyungmu sendiri?” Onew hyung mulai terlihat meyakinkan.

Aku menarik nafas panjang sebelum berbicara. Tapi tiba-tiba aku melihat sosoknya. Sosok yang menghancurkan ku dan membuat mimpi buruk, Han Sonhee. Aku terpaku ketika menyadari ia berada tidak jauh dari hadapanku. Onew hyung juga menoleh ke arahnya dan kemudian ke arahku. “kamu sanggup…?”

“tentu saja. Aku kan tidak sepengecut itu,” kataku kemudian mulai berjalan menelusuri koridor itu.

Ketika aku makin bisa mendengar suaranya, aku terus berjalan tanpa memperdulikannya.

“Hey!” Onew hyung menepuk bahuku.

Aku menoleh dan menatapnya dengan tatapan pertanyaan. “kamu gak lihat?”

“lihat apa?” kataku. Onew hyung menggeleng-gelengkan kepalanya.

“tadi ia menyapamu, tapi kamu bahkan tidak memperdulikannya.” jelas Onew hyung.

Aku tersentak. Rasanya aku menjadi batu seketika. Apa benar? Apa itu nyata? kenapa aku tidak menyadarinya? Segudang pertanyaan muncul dibenakku. Tidak kusangka ia masih mau menyapaku. Aku merasa begitu malu dengan perbuatanku tadi. Sebegitu bencinya aku padanya? Perlahan aku mulai menyesali perbuatanku.

“kamu gak apa apa kan Taemin?” Onew hyung membuyarkan pikiranku.

Aku menggeleng, “tentu saja tidak.”

“ah, aku harus segera ke kelasku. Hey, kalau kamu punya masalah cerita, siapa tau aja kita bisa bantu. Ok?”

Aku tersenyum mendengar perkataan Onew hyung. Mungkin aku harus lebih terbuka pada hyung-hyung ku. Aku menatap punggung Onew hyung sampai bayangannya hilang diujung koridor.

Saat aku baru saja ingin berbalik menuju kelasku, aku tidak sengaja menabrak seseorang. “mianhae,” kataku. Aku menoleh ke arah orang yang aku tabrak, ternyata seorang gadis. Ia hanya tersenyum tipis, “cheonmane,” katanya kemudian pergi.

Hari itu selesai sekolah, aku berniat untuk tidak pulang. Aku ingin menenangkan diri. Menenangkan diri di tempat favoritku sepanjang masa, yaitu ruang musik. Mereka bilang aku ini rajanya dance. Dan kata mereka itulah yang menjadi daya tarikku. Sejujurnya aku juga menyukai musik, terlebih piano. Aku seperti tidak bisa lepas dari alat musik yang satu itu. Tidak banyak yang mengakui kehebatanku di bidang yang satu ini, karena aku banyak saingan disini, seperti Jonghyun hyung, ada juga Taeyang sunbae dan Junsu sunbae. Aku akui mereka itu hebat. Mungkin suatu saat aku bisa bermain di Pertunjukkan musik seperti mereka.

Aku mulai melemaskan jari-jariku dan mulai memainkan sebuah lagu. Alunan lembut nada-nada yang kutekan dari piano itu membuatku terasa tenang. Ini alasan mengapa aku senang ke ruangan musik, apalagi ketika sedang sepi. “Oh!”

Aku berhenti dari permainanku. Siapa itu? Ku kira saat ini hanya ada aku. Aku menoleh ke arah belakangku aku mendapati seorang gadis berdiri tepat di depan pintu. Ia terlihat bingung ketika melihatku. “kenapa?” tanyaku.

Ia tersentak, “ah, tidak apa-apa. Tapi… permainanmu bagus.” kata gadis itu.

“Kamshamnida.”

Aku menatap wajah gadis itu. Lekukan wajahnya seperti tidak asing dimataku. Aku mencoba mengingat-ngingat kembali. Ah! Aku ingat. Ia adalah gadis yang ku tabrak tadi pagi. Apa yang ia lakukan disini?

“kamu cewek yang tadi ya?” kataku memberanikan diri.

Gadis itu menyipitkan matanya dan memiringkan kepalanya. Aku rasa ia sedang mencoba mengingatku. Ia masih belum menemukan ingatannya.

“tadi pagi aku menabrakmu, kamu gak ingat?” aku mencoba meyakinkan sambil mendekatinya.

Gadis itu terus saja berpikir. “Ah~” katanya tiba-tiba ketika sedang memperhatikan wajahku. “ya ya sekarang aku ingat.” ia mengangguk-angguk pelan.

“hmmm, maaf atas yang tadi itu.” kataku sambil membungkukkan badan.

“tidak apa-apa. Lagipula tadi itu aku juga sedang buru-buru, jadi tidak melihatmu.” katanya sambil tersenyum.

Aku membalas senyumannya. Senyumannya begitu misterius tapi membuatku senang. Apa yang aku pikirkan? Terjadi keheningan diantara kami. Aku pun mencoba memecah keheningan. “oh ya, siapa namamu?”

“Oh, aku Jung Krystal.” kata gadis itu sambil membungkukkan badannya.

“Aku Lee Taemin. Salam kenal ya.”

“maaf aku mengganggu permainanmu, aku hanya disuruh mengambil buku ini,” Gadis itu mendekati tumpukkan buku dengan susah payah. Aku tertawa kecil melihatnya. Aku pun mendekatinya dan membantunya membawa sebagian dari buku-buku tersebut.

Aku menatap salah seorang sunbaeku yang sedang memainkan piano. Permainannya begitu menyentuh. Banyak orang yang terpaku dan fokus pada permainannya. Mereka seakan terhipnotis oleh permainan sunbaeku itu. Aku berharap aku bisa sehebat dia nanti. Menjadi seorang pianist yang bisa membuat orang terpaku dan fokus pada permainanku. Ketika aku tidak sengaja menatap ke luar ruangan, aku melihat beberapa gadis yang terus saja menatap permainan Jonghyun hyung. Aku juga melihat…. Han Sonhee, mantan pacarku. Aku melihat ia begitu serius ketika ia memperhatikan Jonghyun hyung sedang memainkan Piano. Apa ini? Tidak mungkin. Kenapa pikiran buruk ini sampai ada di kepalaku? Sonhee menyukai Jonghyun hyung? Tiba-tiba seseorang membuyarkan khayalanku. Aku sadar kembali dari alam khayalan. Aku melihat Krystal sudah berdiri tepat di depanku. “Kenapa?”

“hmm, kok melamun?” tanya Krystal.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, “gak kok.” aku mengelak.

“oh….hmmm, ruang musik mulai sepi,”

Aku tersentak. Aku melihat sekelilingku, ruangan itu benar-benar mulai kosong. Aku bahkan tidak menyadarinya. Hanya tinggal beberapa orang yang sedang membereskan ruangan itu. Krystal menatapku dengan tatapan bingung. “hmmm, kamu gak mau main piano itu?” kata Krystal sambil menunjuk ke arah piano hitam yang berada di depanku. Aku menatap ke arah Krystal. Ia seperti bisa membaca pikiranku.

Aku melirik ke seluruh ruangan sekali lagi. Sudah benar-benar sepi. Krystal lagi-lagi keheranan. “ada apa? Kenapa melirik ke seluruh ruangan seperti itu?” tanya Krystal dengan tatapan heran.

“hmmm, aku hanya memastikan bahwa ruangan ini benar-benar sudah sepi.” jelasku sambil duduk di depan Piano.

“memang kenapa kalau banyak orang?” Krystal terlihat masih heran.

“aku tidak biasa main di depan banyak orang.” jelasku.

“oh… kamu harus membiasakannya mulai sekarang.” kata Krystal.

Aku yang berbalik menjadi heran. Apa aku tidak salah mendengar perkataannya barusan? Kenapa ia berkata seperti itu?

“Lho kenapa memang?”

“hmm,” Krystal merogoh tasnya, kemudian mengeluarkan sebuah amplop. “Nih!” katanya sambil memberikan amplop itu padaku. Aku menerima amplop itu dengan segan, karena jujur aku tidak tau apa isinya. Aku menatap Krystal sejenak.

“apa ini?”

“aku gak tau apa isinya. Aku hanya diminta Mr. Hwan untuk memberikannya padamu.”

Aku menatap amplop itu, kemudian membolak-balik amplop itu sambil menatapnya terus.

Saat sedang istirahat, aku berdiam diri di dalam kelas sambil menatap kosong ke arah kertas yang baru saja kubaca. Kertas itu berisi permintaan untuk ikut serta dalam pertunjukkan musik sekolah. Tentu saja aku senang, tapi kenapa harus aku? Bukankah Mr. Hwang memiliki banyak pianist handal? Pikiranku kacau. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus terima permintaan ini? Aku pun memutuskan untuk pergi menemui Mr. Hwang. Mengkorfimasi semuanya.

“kau benar-benar menolaknya Taemin-ssi?” tanya Mr. Hwang.

“aku pikir aku belum bis….” Mr. Hwang tiba-tiba memotong kalimatku.

“awalnya aku pikir kau akan senang dan mengikuti Pertunjukkan musik ini. Kau salah satu murid terbaikku,”

Apa aku tidak salah dengar? Apa ini benar-benar nyata? Aku terus mengulang kalimat yang diucapkan Mr. Hwang. ‘Kau salah satu murid terbaikku~’ Aku kembali fokus ke Mr. Hwang. “Tidak bisakah kau memikirkannya lagi?”

Aku berpikir sejenak. Mungkin ini kesempatan baik bagiku. Kesempatan tidak pernah datang untuk kedua kalinya, apa salahnya untuk mencoba? Lagipula, mungkin aku bisa menarik… Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Apa yang baru saja kupikirkan?

“tapi, bukannya ada senior-senior ku yang lebih hebat.” tanyaku.

“hmmmm ya, tapi sebentar lagi mereka akan mengikuti tes akhir. Awalnya aku juga meminta mereka untuk tampil, tapi mereka sendiri yang menolak. Aku tentu saja mengerti itu. Jadi…” katanya sambil menatap kepadaku.

Aku kembali berpikir sejenak. “…..ya baiklah. Aku akan ikut.” jawabku.

Seketika wajah Mr. Hwang berubah menjadi begitu ceria dan semangat. “ah~ bagus kalau begitu mulai besok kau dapat pelatihan khusus dariku. Selesai sekolah di ruang musik.” kata Mr. Hwang bersemangat. “aku senang bekerja sama denganmu.”

***

Siang itu seusai sekolah, aku segera menuju ruang musik. Ketika aku membuka pintu dan menengok ke dalam ruangan, aku melihat Mr. Hwang sudah berada disitu. Dia orang yang selalu tepat waktu. Aku pun masuk dan menyapanya. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu tertutup. Aku menoleh ke asal suara yaitu sebuah lemari. Ketika aku menoleh, kudapati Krystal yang baru saja menutup pintu lemari itu. Aku kaget. Mengapa ia ada disini?

Selama 2 jam aku mengikuti bimbingan Mr. Hwang dalam memainkan piano. Itu hal yang sangat menyenangkan. Krystal yang sedari tadi duduk diam dipojok ruangan terus tersenyum padaku. Entah apa artinya itu, aku tidak tau. Tapi senyumannya membuatku terpacu untuk terus berusaha.

“baiklah hari ini latihannya sampai disini saja nanti kita teruskan lagi besok. Ok?” kata Mr. Hwang.

“ne, sungsangnim.” kataku.

Mr. Hwang segera membereskan semua partitur-partitur yang ada dan segera pergi. Aku pun mengemasi barang-baranku dan memutuskan untuksegera pulang. Aku melihat Krystal sibuk merapikan ruang musik. Ia terlihat begitu rajin. Tapi banyak hal yang tidak ku ketahui tentang dia. Melihatnya melakukan semuanya sendirian, aku pun membantu merapikan ruangan musik.

“Taemin, kamu tetap ikut Pertunjukkan musik?” tanya Key hyung.

“yup.” kataku sambil menganggukkan kepalaku.

“jangan bilang tujuanmu untuk menarik perhatian Sonhee?” sela Minho.

Aku tersedak. Aku ingat aku pernah memikirkan itu. Tapi, rasa sakit hatiku pada gadis itu masih tidak bisa hilang. Lagipula aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi padanya. Ia hanya masa lalu bagiku. Sekarang yang ada di pikiranku hanya Piano dan pertunjukkan musik.

“hmm, bukannya Taemin lagi dekat sama Krystal.” kata Jonghyun hyung, setelah meneguk segelas air.

Seketika aku kaget. Enam pasang mata tiba-tiba melirik ke arahku.

“Hey! apa itu benar?” tanya Key hyung, ia terlihat seperti sedang mengintrogasi seseorang.

Aku menggeleng-gelengkan kepala, “Nggak kok! aku dekat dengannya karena ia asistannya Mr. Hwang.” jelasku.

“tapi kemarin aku lihat kamu pulang bareng dia,” sela Onew hyung.

Aku tida bisa lagi berkata apa-apa. Mungkin itu semua benar, tapi aku hanya menganggapnya teman. Walaupun ku akui ketika berada di dekatnya aku selalu merasa nyaman.

Sejak pembicaraan itu, aku mulai menjaga jarak dengan Krystal. Aku tidak tau kenapa. Aku hanya tidak ingin ada salah paham. Setelah beberapa hari aku mulai jarang bertemu dengannya, karena dia sendiri mulai absen dari sekolah. Ada yang bilang ayahnya sakit, ada juga yang bilang dia sendiri yang sakit. Aku tidak tau mana alasan yang benar.

Saat itu Mr. Hwang mengadakan latihan bersama dengan para pemain musik yang lain. Ketika aku masuk ke dalam ruangan, terdengar berbagai macam suara. Mulai dari alat musik sampai orang yang sedang latihan bernyanyi. Saat aku sedang berjalan menuju piano, aku melihat sosok yang tidak asing berdiri tidak jauh dari piano. Krystal. Rupanya ia hadir juga dilatihan ini. Ketika itu aku menangkap tatapannya. Ia tersenyum ke arahku. Aku pun membalas senyumannya. Lama tidak melihatnya.

Latihan itu dilangsungkan selama dua jam. Begitu menyenangkan ketika latihan bersama. Musik terasa lebih hidup. Sekarang aku mulai merasa lebih percaya diri ketika bermain di depan banyak orang. Setelah selesai latihan, satu per satu murid meninggalkan ruang musik. Hingga tinggal beberapa orang termasuk aku, yang masih saja membereskan piano dan partitur-partiturnya. Terlihat juga Krystal yang sedang mengobrol dengan beberapa temannya. Aku bisa mendengar pembicaraan mereka.

“He..? bernakah, kapan?” tanya seorang gadis yang terdengar kaget.

“Hey, jangan keras-keras, lagipula hanya sebulan kok!” jelas Krystal.

“ngapain sih kamu ke London?” tanya gadis yang lain.

Aku tersentak. London? Aku terus berpura-pura membereskan alat musik lainnya agar bisa mendengar pembicaraan mereka.

“aku kan sudah bilang ayahku disana sedang sakit. Dan aku ingin menjenguknya.” jelas Krystal.

Aku berhenti mendengarkan pembicaraan mereka. Tiba-tiba aku jadi susah bernafas dan mulai deg-degan. Apa yang terjadi denganku? Di perjalanan pulang aku terus memikirkan pembicaraan Krystal dan teman-temannya tadi. Mulai timbul banyak pertanyaan dalam benakku. Apakah aku masih bisa bertemu dengannya?

Hari Pertunjukkan pun tiba. Untuk pertama kalinya aku akan main piano di depan umum. Aku harap aku tidak akan mengecewakan semuanya. Perasaanku terasa sangat gugup, aku bahkan tidak bisa berhenti mondar-mandir di belakang panggung. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dari belakang. Ternyata itu Krystal. “Good Luck ya!” katanya kemudian pergi. Aku menatap punggungnya yang tegap, kemudian tersenyum.

Pertunjukan pun dimula, awal pertunjukkan aku mulai dengan permainan Piano kemudian pemain musik yang lain mengikuti. Di tengah permainan aku melihat teman-temanku yang terus tersenyum padaku. Begitu juga hyung-hyung ku. Satu lagi yang kutangkap tatapan matanya. Krystal. Ia memandangku sambil tersenyum. Dalam sekejap ia membuatku terpesona. Matanya bersinar seperti Krystal.

Di akhir pertunjukkan aku memainkan piano secara solo. Aku membawakan lagu dari Debussy yang berjudul Clair de Lune. Lagu classic yang diajarkan oleh Mr. Hwang. Suasana begitu tenang. Membuatku sedikit gugup, karena saat itu semua mata terpaku dan fokus padaku. Setelah pertunjukkan selesai, aku turun dari atas panggung dan menemui hyung-hyungku. Mereka memberiku ucapan selamat dan pelukkan, tanda mereka bangga padaku. Beberapa guru juga menyalamiku. Aku senang mendapat perhatian lebih. Bahkan orang yang tidak aku harapkan juga memberiku ucapan selamat. Sonhee, ia juga memberiku ucapan selamat.

“selamat ya Taemin, kamu hebat.” katanya.

“ya terima kasih. Tapi Jonghyun hyung masih lebih hebat.” kataku.

“hahaha…hmmm, Taemin apa kamu…”

Aku teringat akan seseorang. Krystal. Dimana dia? Apakah ia benar-benar akan ke London? Aku melirik kesekelilingku. Kalau-kalau aku melihatnya, tapi ternyata tidak. “taemin?”

Aku menatap Sonhee sesaat. “ada yang sedang kamu cari?” tanya Sonhee.

“hmmm, maaf aku ada urusan aku pergi dulu ya!”

Aku pun pergi meninggalkan Sonhee sendirian disitu. Aku berlari, mencari seseorang yang benar-benar aku butuhkan. Krystal. Dimana dia? Apakah ia akan pergi hari ini? Aku mencarinya di belakang panggung, tapi tidak ada. Kemudian aku mencarinya di ruang musik, hasilnya sama. Aku pun memberanikan diri mencarinya di kelasnya. Tetap saja ia tidak ada. Aku pun bertanya pada beberapa temannya. “hah?? Krystal sudah pulang! terima kasih.”

Aku berlari menuju pintu keluar sekolah. Aku tidak mempedulikan lagi yang ada disekitarku. Sekarang dipikiranku hanya Krystal. Entah sejak kapan perasaanku berubah.

Aku mencari taksi dan segera menuju ke Bandara Incheon. Sesampainya disana dapat kulihat ribuan orang yang tidak kukenali memenuhi bandara. Aku bingung, bagaimana aku menemukan Krystal di tengah-tengah keramaian seperti itu. Aku pun mencarinya disetiap sudut bandara. Tapi, belum saja kutemukan sosok Krystal. Apa aku harus menyerah?

“Taemin sunbae?”

Aku mendengar suara itu dari belakangku. Suara itu, suara yang selama ini mendukungku, menemaniku, dan membuatku melupakan masa laluku. Aku menoleh ke belakang. Sosok yang kucari, Krystal, kini berada dihadapanku. “Sunbae, apa yang sunbae lakukan disini?” tanya Krystal.

“aku mencarimu,” kataku dengan nafas terengah-engah.

“hah..?”

“selama dua minggu kamu selalu menemaniku dan juga menghiburku. Kamu seperti Krystal yang mendinginkan hatiku. Krystal-ssi saranghaeyo!”

Krystal diam. Ia terlihat kaget dengan semua yang baru saja aku ucapkan. Aku sudah bisa menebak reaksinya itu. Semuanya memang berjalan begitu saja dan begitu cepat, tapi itulah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku. Tiba-tiba ia meneteskan air matanya. Aku kaget. “Hey, kenapa kamu menangis?” kataku kemudian memegang kedua pundaknya.

“tidak apa-apa. Sunbaelah yang justru menghiburku.”

Krystal mengusap air mata yang mengalir di pipinya, “ketika punya masalah aku tidak punya apa-apa yang bisa menghiburku, tapi ketika aku bertemu sunbae hidupku berubah,”

Aku tersenyum, kemudian memeluknya.

“aku harap kamu segera kembali,” kataku tepat pada telinganya.

Krystal kemudian melepas pelukkanku, “tetaplah mainkan pianomu sunbae, saat aku kembali sunbae harus memainkan sebuah lagu untukku.” katanya.

“Ya, aku janji.”

***

fin

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

33 thoughts on “PIANO”

  1. Romantisnya~
    aku suka banget~~
    keren..keren..keren~~
    DAEBAK banget nih FF

    huaa~~ Taemin main piano~~ keren~~ biasanya aku baca dia di FF pasti kebanyakan ngedance.. tapi disini dia main piano.. aku suka.. apalagi waktu dia belajar partitur sama Mr.Hwan itu… aku ngerasa Taeminnya punya semangat baru lagi~~ aaaaaaaaaaa… keren
    trus tuh si Sohee… teganya..teganya..teganya memutuskan Tae… ckckck.. dia suka ama Ojong yaa?? 😀
    waaw… Krystal.. ada Krystal… kekeke…

  2. wow, ffnya keren chingu..
    aku suka pairing taemin-krystal.. hahaha
    tp mian, nama castnya itu han sonhee atw ahn soohee (wondergirls)?
    aku bingung.. hehehe soalnya nama castnya beda ama yg diatasnya..
    tp selebihnya good chingu^^

  3. “ketika punya masalah aku tidak punya apa-apa yang bisa menghiburku, tapi ketika aku bertemu sunbae hidupku berubah,” -AAA RASANYA AKU PENGEN MELUK TAEMIN PAS BACA KRYSTAL NGOMONG GINI WKWK.

    Onnieee, ini sweet bangeeet~

  4. weeewww~ romantis bgt ish mau deh bisa main piano kayak taemin~
    btw saya reader baru^^ baru aja tadi pagi aku lihat blog ini khekhekeh salam kenal semuanya

  5. kasian taem diputusin~ ckckck…
    klo aq nih,,,
    pcaran ma jjong. jjong ga bakal aq putusin ,
    dy udah sehidup semati sama aq,,
    wkwkw.. *apasih, ga nyambung*

    so sweet ffnya~
    like it,,^^

  6. Mwo? Lgsg fin ajha? Adoh! Ga seru.. 1 bln kemudian kek,, kyak gitu, ketemu lgi kek, kyk gitu.. *reader cerewet*
    but, its oke,, nice ff.. 😉

  7. Info : selain bisa maen piano, taemin juga bisa maen rebana *ditabok*

    ffnya manis ..
    Dan kenapa adegan so sweet selalu berakhir di bndara .. >.<

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s