Half Married – Part 2

Half Married – Part 2

Terimakasih sudah membaca HM Part 1 ^^

Senang rasanya bisa lanjut menghibur kalian. Di part 1 aku sudah bilang kalau ini adalah FF debutku, jadi harap maklumi segala ke-error-an aku ya?!

Author: I-el

Main Cast: Choi Minho, Ji Hye Rin (para flames, anggaplah itu diri kalian)

Support Cast: Other SHINee’s member

Length: Sequel

Genre: Sad, Romance

Rating: PG-15

Summary : tiba-tiba Hyerin menjerit sambil memegang kepalanya kasar dan berguling di tempat tidur. ”Kibum sebenarnya dia kenapa? Kenapa dia jadi begini?.” aku jadi sangat bingun.g

Let’s read it….

©2010 SF3SI, Freelance Author

I-el*** Hyerin POV

Baru saja di depan pintu masuk kantor SM, kami sudah disambut oleh Manager-ssi, Onew-ssi, Jonghyun-ssi, Key-ssi dan Taemin-ssi. Aku juga melihat ada sosok Sulli di dekat Manager-ssi.

”Oppa..” panggil Sulli dengan nada manja kepada Minho-ssi. Aku saja bahkan tidak berani memanggilnya begitu, padahal kami sudah menikah secara sah.

“Ne, Sulli. Mwo?” Minho-ssi menaggapinya dengan tatapan yang tidak pernah dia berikan padaku.

“Ayo, ikut aku!” kata Sulli sambil menarik pergelangan tangan Minho menuju ke tempat yang tidak kutahu. Minho-ssi sama sekali tidak menolak dan dia pergi meninggalkanku

“Sudahlah Hyerin, mari ikut kami ke ruangan Manager hyung.” Onew hyung menarik pegelangan tanganku juga

Aku dipersilahkan duduk begitu kami aku sampai keruangan yang aku tuju. Wajah manager-ssi terlihat begitu serius. Ada apa sebenarnya.

”Ehemm, begini Hyerin-ssi. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami, kami mohon anda mengerti masalah ini.” kata Manager-ssi dengan nada yang semakin serius.

”Ada apa sebenarnya?”

”Kami minta, kamu minta Minho menceraikanmu sekarang. Kau tahu, skandal ini lebih berat daripada skandal yang hanya sekedar mengatakan Minho adalah homo. Dia bisa kehilangan fans. Dan aku tahu kamu juga begitu tersiksa dengan cibiran orang tentang pernikahan kalian bukan?”

Manager-ssi benar. Ini berat. Aku tidak bisa dengan bebas keluar rumah, aku hidup seperti psikopat yang menjadi buronan. Kemanapun tujuan kakiku melangkah, ada rasa khawatir yang mencekat. Tuhan, apa hanya begini saja kisahku? Aku menahan tangis. Aku tidak mau tangisku pecah di depan orang-orang yang membuat hidupku hancur dengan angan-angan yang tak pernah terjadi. Aku bangkit dari tempat dudukku, aku mau pulang.

”Arasho. Akan kupikirkan.” aku manggapai knop pintu. ”o ya, bukankah perceraian juga akan semakin memperburuk keadaan?” kataku mengakhiri negosiasi yang menyebalkan ini. Aku berlari semampuku ke tempat Sulli-ssi membawa Minho-ssi. Hari ini menyebalkan, seharusnya aku tidak datang kemari hari ini. Aku berdiri di depan sebuah pintu kaca yang bertuliskan ’Maejeom’. Aku dengar ada suara tertawa yang khas dari Minho-ssi, jadi kubuka begitu saja pintu kaca itu.

Chu~

Sulli-ssi mengecup pipi Minho yang dekat dengan sudut bibirnya. Aku merasa ada yang memukul dadaku, sakit sekali. Apa kecupan itu akan mengarah kepada sebuah ciuman yang bisa membuatku mati sesak nafas saat melihatnya? Wajahku panas, aku terbakar cemburu padahal Minho-ssi sudah sering memintaku tidak ikut campur pada urusannya. Padahal dia sudah sering bilang kalau aku tidak pantas cemburu. Tapi, inilah aku Ji Hyerin yang merasa bahwa Minho-ssi adalah milikku seutuhnya meski dia tak pernah menyentuhku. Aku merasa bahagia jika dia ada bersamaku beberapa menit saja. Aku pikir rasa cemburu ini karena ada cinta yang mulai tumbuh dihatiku, tapi aku menepis pikiran itu. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Pernikahan ini tidak akan pernah membuat kami bahagia sampai kapanpun, aku hanyalah alat untuk mengembalikan nama baiknya, dan rasa sakitnya bukan main menghantam mendengar kenyataan pahit itu secara diam-diam.

Aku merasa ada tangan yang mencengkram bahuku pelan, seakan pemilik tangan ini mau memberikan kekuatan yang kubutuhkan untuk menopang kakiku yang lemas.

”Hyerin, pulanglah. Mintalah kunci mobil pada Minho. Kau pulang dan istirahatlah.” aku menoleh, dan aku mendapati Key-ssi menatapku prihatin.

”Tapi~”

”Kau ingin hatimu tambah menderita?”

Dia benar, semakin lama aku disini batinku akan semakin tersiksa. Aku memberanikan diri menghampiri Minho-ssi. Aku takut ketika dia pulang nanti, dia kembali marah karena dia merasa aku mengganggunya.

”Minho-ssi. Aku.. a-aku..”

“Apa?” dia menatapku. Darahku berdesir hebat, padahal kata ’apa’ sudah sering kudengar dari mulutnya

”Aku mau pulang.” ucapku ragu-ragu. Tatapan Sulli-ssi membuatku semakin gugup.

”Ya, sudah. Aku tidak bisa mengantarmu.”

”Arassho. Aku cuma mau meminta kunci mobil.” Minho-ssi mengernyitkan keningnya. Apa ada yang aneh dengan perkataanku?

”Berikanlah kunci mobilmu, nanti mobil SHINee yang akan mengantarmu pulang.” kata Key-ssi tiba-tiba. Dia menghampiri kami dan menepuk bahu Minho-ssi.

”Andwae, aku mau pergi lagi dengan mobil itu. Kau bisa pulang dengan bus, kan?” tanya Minho ke arahku. Aku mengangguk. Kenapa dia tidak pernah menyebut namaku, sekalipun? Aku mengambil langkah keluar, tapi sebelum aku pergi Key-ssi menggenggam bahuku.

”Hati-hati dijalan, ya Hyerin-ah” Ya, Tuhan kenapa teman-temannya begitu perhatian sedangkan Minho-ssi tidak

”YA!!” aku menoleh karena aku tahu maksud Minho hendak memanggilku. ”Nanti malam kau tidur duluan saja. Aku pulang malam” aku mengangguk mendengar permintaan Minho-ssi. Sekalipun dia minta aku tidur duluan, aku akan tetap menunggunya sampai kembali. Bukankah itu adalah tugas seorang istri? (*** I-el)

*          I-el       *

Hyerin melangkah dengan gontai ke halte terdekat. Dia semakin tidak bersemangat. Tak berapa lama, bus yang ditunggu akhirnya datang. Hyerin mengambil bangku agak kebelakang. Dia ingin sendirian.

’Aku ingin kita bercerai’

’Kami minta, kamu minta Minho menceraikanmu sekarang.’

’Kau tahu, skandal ini lebih berat daripada skandal yang hanya sekedar mengatakan Minho adalah homo. Dia bisa kehilangan fans.’

”Hehh….” Hyerin menghela nafasnya mengudara. ”waktu itu aku yang minta diceraikan, sekarang saat ada kesempatan itu kenapa aku jadi tidak rela?! Padahal posisiku sekarang sudah sangat terpojok” batin Hyerin.

Akhirnya, setelah 45 menit naik bus dan ½ jam lagi berjalan kaki dari halte, Hyerin sampai di depan rumahnya. Dengan basah kuyup, Hyerin mencoba memutar knop pintu. Tapi, dia teringat bahwa kunci ganda rumah itu digantung di belakang pintu. Hyerin mencoba mendobrak, tapi tenaganya tidak cukup besar untuk membuat pintunya terbuka. Alhasil, Hyerin tidak bisa masuk dan terpaksa menunggu diluar sampai Minho pulang.

*          I-el       *

Sekarang hari sudah gelap. Hyerin yang kelelahan menunggu, tertidur di depan pintu dengan posisi meringkuk karena badannya yang basah kuyup dan hujan lebat yang turun sangat lama membuatnya kedinginan. Tapi, sampai selarut itu, Minho tidak kunjung menampakan batang hidungnya. Hyerin semakin tidak kuat dan akhirnya pingsan. (*** I-el)

*          I-el       *

I-el*** Minho POV

“Oppa~” Sulli yang duduk disampingku memanggil. Dia benar-benar mabuk. Tempat ini bising sekali. Suara Onew yang sedang mabuk sambil bernyanyi membuatku pusing. Hehh… aku mau pulang saja.

Akupun meminta izin pada Taemin dan Kibum yang tidak minum. Aku mengambil kunci dan bergegas mengambil mobil. Entah kenapa, suara Sulli mengingatkanku pada Hyerin yang kutinggal sampai jam 1 seperti ini. Dia sudah tidur belum, ya?

Sesampainya di depan pagar rumah, aku buka pagar otomatis rumah dengan remote yang aku gantung bersamaan dengan kunci mobil. Aku parkir mobilku dan buru-buru keluar saat melihat ada seseorang yang tertidur di depan pintu rumah.

”Siapa orang itu. Tega sekali Hyerin membiarkannya di depan pintu.” batinku. Wajahnya tertutup rambut panjangnya dan aku baru sadar kalau tubuh itu milik Hyerin.

”Aigo!!” teriakku sambil merubah posisi badannya yang kecil menjadi posisi duduk. ”Apa yang terjadi?” aku menyeka rambutnya yang lepek. Basah.. rambut ini lembab. Jangan-jangan dia kehujanan?

Aku buka pintu rumah dan mengangkat tubuhnya ke dalam kamar. Kemudian aku berlari lagi untuk mengkunci pintu depan.

Bruk…

Krincing.. Krincing

Perhatianku mengarah pada sumber bunyi yang mengiringi suara pintu yang tertutup.

”Aigo!!! Dia gak bawa kunci rumah.” Aku menyesali diriku yang tidak memberikan kunci mobil padanya. Kalau saja tadi aku berikan kuncinya, Hyerin tidak akan terkulai lemah begini.

Aku menaruh tanganku ke keningnya. Dia demam. Dan akulah penyebab semua ini. Entah kenapa, muncul rasa kepeduliaanku begitu saja. Aku ambil sebaskom penuh es batu dan mengambil kain lap bersih dari lemari paling bawah. Setelah aku rasa kain lap itu cukup dingin, aku letakkan di keningnya. Aku meninggalkannnya sebentar untuk mandi.

Aku mandi sesingkat mungkin dan mengambil pakaian asal saja dari lemari. Aku menatap diriku di cermin.

”Sejahat inikah Choi Minho yang terkenal itu? Sejahat inikah aku pada seorang wanita?” aku menggumam sendiri melihat pantulan diriku di cermin. Aku semprotkan pelembab wajah secara melingakar ke arah mukaku dan menepuk-nepuk pipiku agar cairannya meresap.

”Euhng….” aku lihat Hyerin dari cermin berusaha menarik selimutnya lebih dalam, tapi karena terlalu lemah dia tidak sanggup untuk menariknya. Matanya masih terpejam. Aku melangkah mendekatinya dan menarik selimut sampai menutupi lehernya. Kemudian aku mematikan AC di dalam kamar dan mengambil posisi duduk di atas tempat tidur, kupikir itu posisi yang baik untuk siaga. Ku ambil lagi kain yang ada di keningnya dan merendam kain dalam baskom yang berisi es yang sudah mulai mencair, meskipun tanganku kedinginan tapi apalah artinya dibandingkan dengan tubuhnya yang menggigil berjam-jam. Tak ada lagi yang kuingat setelah itu, karena perlahan pandanganku gelap. (*** I-el)

I-el*** Hyerin POV

Aku merasa pinggangku akan remuk. Benar-benar remuk. Posisi meringkuk ini membuat seluruh tubuh merasa sakit. Tapi, tiba-tiba aku baru sadar bahwa aku sudah berada di atas tempat yang empuk. Apa aku sudah dikamar? Kalau begitu Minho-ssi sudah pulang?? Kalau sudah pulang, apa dia yang membawaku ke kamar atau justru tetanggaku yang membawaku ke rumahnya setelah melihat kondisiku yang malang ini?

Aku mencoba membuka mata. Aku merasa silau, jadi butuh beberapa saat bagiku untuk menyesuaikan mataku dengan lingkungan. Setelah itu, aku baru merasa yakin kalau aku ada di dalam kamar rumahku. Oh tidak, rumah kami. Setidaknya aku masih menganggapnya suamiku sekalipun dia tidak menginginkannya. Aku meraba dahiku, aku mendapati ada kain lap putih yang ada di atas kenigku entah sejak kapan. Siapa yang melakukan ini?

Aku menoleh ke sebelah kananku. Aku hampir menangis saat melihat Minho-ssi tertidur dengan posisi yang sudah kupastikan akan membuat badannya pegal. Aku berusaha untuk duduk meskipun rasanya pusing sekali. Aku tatap dia, dia begitu tampan jika sedang tidak marah-marah. Aku memperbaiki posisi tidurnya, Minho-ssi sama sekali tidak merasa terganggu, pasti dia sedang pulas. Aku bagi selimut yang kupakai dan membungkusnya rapat hingga ke lehernya.

Aku merasa harus berterima kasih pada Minho-ssi. Aku lihat jam dinding menunjukan pukul 5. Aku teringat kalau hari ini Minho-ssi akan kembali disibukkan oleh jadwal syuting setelah hampir 3 bulan ini dia fokus pada skripsinya. Aku tahu apa yang harus aku lakukan sebagai rasa terima kasihku.

*          I-el       *

Baiklah, semua sudah siap. Hidangan pembuka, utama dan ada buah untuk penutup. Aku tata semuanya diatas meja dan tinggal menuggu Minho-ssi mencium aroma masakanku. Baru saja aku mau melangkah ke bak cuci piring, aku merasa kepalaku berputar seperti biasanya. Akupun memutuskan untuk duduk di kursi meja makan.

Tak berapa lama Minho-ssi menghampiri dapur dengan sedikit menggerakan punggungnya. Pasti sakit sekali tidur dengan posisi duduk seperti itu. Setelah meneguk setengah gelas air mineral dari kulkas, Minho-ssi menghampiri meja makan. Wajahnya kelihatan sumringah, dan membuatku merasa sedikit senang. Apalagi mengingat dia yang menolongku semalam, aku jadi makin ingin tersenyum.

Aku memperhatikannya makan dengan lahap, seakan masakanku adalah makanan yang paling enak dari semua makanan yang pernah dia makan. Hari ini aku merasa sangat berebeda. Baru hari ini aku merasa nyaman ada di dekatnya, meskipun jarak bangku kami terpaut 1,5 meter.

”Hei, tidak makan?” aku berhenti melamun. Aku menggelengkan kepala. ”Kenapa? Apa kau tidak suka masakanmu sendiri?” tanya Minho-ssi lagi. Aku menggeleng. ”Hei, makanlah!” ada nada memaksa di kata-katanya.

”Minho-ssi, aku punya nama. Kau bisa panggil namaku kalau Minho-ssi ingin bicara padaku. Bukan memanggil ’Hei’.” kataku dengan sedikit kesal.

”Hehh… baiklah. Hyerin, cepat makan! Kau masih sakit, kan?” Ya, Tuhan. Kenapa hari ini dia berubah 180 derajat? Mimpi apa aku semalam?

Aku mengambil sumpit dan menyuapkan nasi yang ada dalam mangkukku dengan perlahan. Aku tidak begitu yakin makanan ini akan masuk ke dalam lambungku sekarang.

”Kau baik-baik saja, Hyerin?” aku mendongak ke arahnya. ”Kau terlihat pucat.”

”Gwencanayo, Minho-ssi.” aku memberikan senyum terpaksa.

Selesai makan, Minho-ssi bergegas ke kamar mandi sementara aku membersihkan dapur dan mencuci peralatan masak. Setelah peralatan masak selesai ku cuci, aku hendak melangkah ke meja makan untuk mengambil peralatan makan yang kotor. Tapi, tiba-tiba aku merasa pusing itu kembali lagi setelah beberapa waktu tadi sempat menghilang. Tuhan, jangan sekarang. Kumohon!!

PRAAANG….

Mangkuk yang ada di meja jatuh begitu saja saat aku mencoba menggapai pinggiran meja agar aku tidak jatuh. Tapi aku malah menarik 1 mangkuk dan membuatnya terjatuh. Kakiku terkena kepingan pecahan yang terpental. Aku meringis dan menjatuhkan tubuhku begitu saja ke lantai. Mataku berkunang-kunang dan kurasa aku hampir kehilangan kesadaran. (*** I-el)

I-el*** Minho POV

Aku menghirup bau masakan yang sungguh sedap. Apa aku sedang mimpi berada di restoran? Ahh, anio ini bau yang sungguh nyata. Aku terbangun, dan betapa kagetnya aku melihat Hyerin sudah tidak ada di tempat tidur. Aku panik, jelas saja panik. Semalam aku tertidur dengan posisi duduk, sementara dia masih demam. Aku tambah terkejut lagi melihat selimut yang kulipat dua dan kutarik menutupi tubuh Hyerin, kini sudah menyelimutiku.

Aku bangun dan melangkah menuju dapur. Seperti dugaanku, aku menemukan Hyerin sedang ada di dapur. Aku membuka kulkas dan meneguk setengah gelas air mineral, kemudian aku menghampiri meja makan. Menu hari ini lengkap. Ada apa sampai dia menyiapkan semua ini? Apa ada maksud tersembunyi dibalik semua masakan ini?

Aku makan dengan lahap, aku tidak ingat kapan terakhir kali aku makan bersamanya di satu meja seperti ini, tapi kurasa itu sudah sangat lama sekali. Setelah kejadian semalam, aku ingin berusaha lebih baik saja, tidak lebih. Ini kulakukan karena aku juga bersalah kali ini.

”Hei, tidak makan?” aku menghentikan lamunannya, entah ada apa diwajahku sampai dia menatapku dengan pandangan kosong seperti itu. Ia menggelengkan kepala. ”Kenapa? Apa kau tidak suka masakanmu sendiri?” tanya aku lagi. Dia pun menggeleng lagi. ”Hei, makanlah!” nada bicaraku agak keras, habisnya dia kan baru saja sakit. Aku tidak mau hal ini makin menyusahkanku.

”Minho-ssi, aku punya nama. Kau bisa panggil namaku kalau Minho-ssi ingin bicara padaku. Bukan memanggil ’Hei’.” tiba-tiba dia berkata dengan nada kesal. Apa aku salah? Aku hanya tidak ingin memanggil namanya karena sumpah bodohku. Tapi, apabila keinginannya yang 1 ini terkabul, apa dia akan makan? Aku memaksakan kerongkonganku menyebut namanya.

”Hehh… baiklah. Hyerin, cepat makan! Kau masih sakit, kan?” ternyata tidak terlalu sulit menyebut namanya dengan mulut.

Ia mengambil sumpit dan menyuapkan nasi yang ada dalam mangkuknya dengan perlahan. Sekarang aku benar-benar berpikir bahwa makanan kesukaanku bukanlah makanan yang Ia sukai.

”Kau baik-baik saja, Hyerin?” Ia mendongak ke arahku. ”Kau terlihat pucat.”

”Gwencana, Minho-ssi.” aku tahu dia memberikan seyum yang dipaksa.

Aku tinggal dia ke kamar mandi, aku hendak bersiap-siap pergi ke lokasi syuting. Onew hyung sudah 5 kali mengirimku sms dan 6 kali menelpon. Aku percepat mandiku dan memilih kaos lengan panjang yang kupadu dengan jas semi formal warna coklat. Baru saja menghadap cermin tiba-tiba…

PRAAANG….

Suaranya kencang. Ada apa dengan Hyerin, tidak biasanya dia menjatuhkan piring seperti ini. Aku segera mengambil langkah seribu menuju dapur dan mendapati kakinya berdarah karena terkena kepingan pecahan mangkuk yang terpental. Ia meringis dan tubuhnya jatuh begitu saja ke lantai. Aku berhasil menangkap tubuhnya saat dia hampir kehilangan kesadaran.

Aku bawa dia ke kamar dan membaringkannya. Aku mengambil revanol dan kapas dari kotak P3K yang digantung di tembok dapur dan membersihkan lukanya. Kemudian kain kasa yang aku bubuhi obat merah aku tempel begitu saja.

Ring Ding Dong~ Ring Ding Dong Ring~ Diggi Ding Diggi Ding Ding Ding Ding

Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Aku buka flipnya dan tertera nama Kibum

”Ne?”

Kau dimana? Kau tidak lihat ini jam berapa? MAU BOLOS LAGI, HAHH?!” aku sedikit menjauhkan handphoneku dari telinga.

”Kibum, dengar aku dulu. Aku gak bermaksud terlambat.” Ya, ampun. Apakah orang ini tidak bisa berubah sebentar saja? Dia terus mengoceh. ”KIBUM DENGAR YA?! HYERIN SAKIT DAN TADI DIA PINGSAN. AKU TIDAK MUNGKIN MENINGGALKANNYA. ARASHOOO??” semoga saja suaraku bisa dia dengar. Tapi karena aku ingin suaraku terdengar oleh Kibum yang terus mengoceh, aku justru membuat Hyerin terbangun.

”Eeh…” dia mengerang pelan.

”Apa itu Hyerin? Dia sedang sakit atau kalian sedang melakukan yang aneh-aneh?”

”Diamlah, Kibum. Ini semua gara-gara kau, dia jadi terbangun.” kataku sambil menutup flip handphoneku. Aku segera duduk di samping tempat tidurnya sambil memegangi dahinya.

”Minho-ssi pergi saja. Aku baik-baik saja.” aku lega mendengarnya bersuara.

”Apa kau yakin?” tanyaku sambil menarik selimutnya. Dia mengangguk.

”Karir Minho-ssi lebih penting daripada aku. Pergilah.”

Baiklah, karena dia sendiri yang memintaku pergi dan merasa yakin bahwa dirinya tidak apa-apa, ya aku pergi. Aku mengambil handphone yang tadi kuletakkan di atas meja sebelah tempat tidur dan kunci mobil.

”Kalau ada apa-apa, telpon ke hpku saja, ya!” kataku sambil menarik pintu kamar setengah tertutup. Dia mengangguk pelan. Apa hanya anggukan yang bisa dia lakukan? Aku pun mengeluarkan mobil dan melajukan mobil ke tempat syuting. (*** I-el)

I-el*** Hyerin POV

”Minho-ssi, apa kau lakukan ini karena rasa bersalah atau hanya sekedar kasihan? Tapi apapun motifmu, gamsahamnida.” aku berkata sangat pelan, aku yakin sangat pelan karena Minho-ssi bahkan tidak menoleh kepadaku setelah menutup pintu. Apa sekarang dia menyesal atau mungkin dia ingin sedikit memberikanku kenangan manis sebelum perceraian kami? Andwae!! Aku tidak ingin hari itu terjadi. Tapi, keadaan ini memang sudah terlalu sulit. Bukan hanya dia yang jadi korban, tapi aku juga. Aku jadi mahasiswi yang paling pendiam. Diperlakukan konyol oleh senior, teman seangkatanku bahkan belum lama ini beberapa juniorku berani mencibirku.

Aku berpikir, seburuk itukah efek dari kemunculanku dalam kehidupannya. Hhh…. aku lelah, kalau aku dikekang begini terus, aku tidak bisa menyelesaikan kuliah desaignerku. Karena hal ini, bahkan dosenku yang juga merupakan salah satu dari shawol membuat nilaiku buruk semua dan tidak pernah meluluskanku dalam mata kuliahnya. Ini konyol!! Minho-ssi hanya memanfaatkanku, dia hanya menginginkan pernikahan ini jadi sebuah berita besar yang membuat pendapat masyarakat berubah. Betapa menyakitkannya hati ini saat aku mengetahui kenyataan pahit ini setelah 1 bulan pernikahan kami.

Flashback

”Minho, apa-apaan ini?” kata seorang wanita hampir paruh baya sambil melempar koran ke meja tamu. Laki-laki yang umurnya mungkin tidak jauh beda dengan wanita tadi mengelus lembut bahunya.

Aku lihat Minho-ssi bergetar pelan. Ia berusaha menutupi ketakutannya. Aku putuskan untuk tidak keluar dari kamar. Aku berjalan ke balik pintu dan hanya mengintip sambil mendengarkan walau samar-samar.

”Eomma, mianhamnida” Gee!! Wanita yang masih terlihat cantik itu adalah eomma Minho-ssi. Aku ingin keluar untuk menyapa mertuaku, tapi niatku urung saat melihat Minho-ssi menarik tangan eommanya.

”Ssstt… eomma dengar dulu, aku lakukan ini demi menghapus skandalku dengan Taemin saja kok. Enggak lebih.” DUARR…. Entahlah kilat darimana yang menyambarku. Aku memegang dadaku, kenyataan yang sekarang ada dihadapanku ini lebih menyakitkan, lebih perih.

”auh..” aku mengaduh pelan sambil tetap memegang dadaku. Aku harap mereka tidak menyadari kehadiranku. Aku tempelkan lagi telingaku ke pintu yang tertutup seperempat bagian.

”eomma, aku mohon mengertilah. Jangan buat aku tambah pusing.” itu suara Minho-ssi lagi.

”Sekarang eomma tanya, apa pekerjaan yeoja itu? Artis atau penyanyi? Tapi eomma gak pernah melihat wajahnya di layar televisi. Ohh, dia model?” aku menggeleng dari balik pintu. Aku bukan yeoja seberuntung itu. Aku bukan yeoja secantik itu.

”Dia hanya mahasiswi fakultas desaign grafis biasa.” aku dengar nada pasrah dari Minho-ssi.

”Inilah yang eomma benci! DIA DAN KAMU TIDAK SAMA!”

”Sudahlah, jagi. Biarlah Minho yang menyelesaikan ini sendiri.” aku yakin ini adalah suara appa Minho-ssi. Beliau terdengar bijaksana. ”Lagipula umurnya sudah 23, jadi kurasa tidak masalah dan pengahasilannya kupikir cukup untuk membiayai hidupnya”

”Yeobo, aku.. ”

”Sudahlah, mari kita pergi dari sini. Tidak enak jika istrinya mendengar percakapan yang tidak pantas dia dengar ini. Ayo!!”  aku lihat dari sela pintu appanya Minho menarik lembut tangan istrinya. Sesuatu hal yang tidak pernah Minho-ssi lakukan padaku. Palli!! Sekarang aku tahu alasannya. Tuhan, kenapa aku harus mendengar semua ini?

”Minho, eomma tidak mau tahu, kau harus menceraikannya, kalau tidak karirmu hancur.” sebegitu buruknyakah efek dari pernikahan kami untuk seorang artis terkenal?

Aku dengar suara pintu depan tertutup dengan agak keras. Aku sadar kalau aku harus kembali berpura-pura tidur. Aku langsung lari ke kasur, melompat ke atas kasur, menarik selimut dan membenamkan tubuhku ke dalamnya. Aku menahan airmata. Aku tutup mulutku agar Minho-ssi tidak mendengar isakan tangisku.

Aku merasakan tempat tidurnya bergejolak. Aku tahu Minho-ssi sekarang duduk disebelahku.

”Ya!!” dia memanggilku, tapi aku pura-pura menutup mata. ”Aku tahu kau sudah bangun.” mendengar itu, aku makin menahan tangisku yang kurasa akan pecah sebentar lagi. Dia menarik selimutku kebawah dan menarik tubuhku sehingga posisi tidurku yang miring ke kiri berbalik ke arahnya. Aku tahu dia melihat bekas airmata di pipi dan sekitar mataku.

”Hey, aku tidak menyalahkanmu atas kejadian ini. Tapi, mianhamnida.” aku rasa aku akan benar-benar menangis sekarang. Dia menarikku ke dalam dekapannya seakan dia tahu apa yang paling kubutuhkan saat ini. Tempat menangis.

”Gwencanayo, Minho-ssi. Aku merasa hiks.. berterimakasih. Hiks.. kalau saja pernikahan ini tidak terjadi hiks…hh.. aku tidak tahu akan seperti apa diriku sekarang. Mungkin aku akan depresi dan hiks… berada di Rumah sakit jiwa sekarang.” dia mengelus kepalaku dan aku merasa lebih tenang.

”Aku mohon, maafkanlah aku. Aku penyebab semuanya.”

END FLASHBACK

Betapa lembutnya dia dulu, tapi kelembutannya seakan menghilang setelah hari berganti hari sejak kejadian manis itu. Aku merindukan kejadian singkat itu, oleh karena itu aku seringkali merasa cemburu jika dia terlihat bersama wanita lain karena tuntutan pekerjaannya.

Sekarang, pernikahan ini malah menjadi skandal karena ulah wartawan yang sama. Dia bertanya pendapat Minho-ssi mengenai pernikahan kami, tapi pertanyaan itu tidak digubrisnya karena Minho-ssi memang begitu membenci wartawan itu. Kalau saja Minho-ssi memberitahuku mengenai identitas wartawan itu, maka aku pastikan kakiku melangkah mencarinya dan mendaratkan tamparan keras dipipinya sampai timbul bekas cap tanganku bila wartawan itu yeoja, tapi bila dia seorang namja, maka aku akan menendang sekuat tenaga bagian yang sangat sensitif buat seorang namja manapun di dunia hingga dia meringis dan berlutut di depan Minho-ssi.

”Aigo!!! Berpikir mengenai ini saja telah membuang waktu berjam-jam” kataku pelan setelah melihat jam dinding di kamar menunjukan pukul 4 sore. ”Aku belum menyiapkan makan malam. Aku bangkit dengan sisa tenaga yang kumiliki. ”Semoga tenagaku cukup untuk memasak. Tuhan, tolong berikan aku kekuatan” kataku sambil meringis dan sesekali memijat seputar kepala, berharap pijitan ringan itu memghilangkan rasa sakit kepala yang begitu menyiksa ini.

*          I-el       *

1 jam aku menahan semuanya, akhirnya makan malam siap. Aku bingung, kenapa malam ini aku masak lebih banyak, ya?!

”Ya sudahlah, aku tinggal menunggu Minho-ssi pulang.” aku memasukkan makanan ke dalam microwave agar makanannya tetap hangat. Ini sudah batas tenagaku, akhirnya aku putuskan untuk ke kamar. Aku akan istirahat sebentar, sebentar saja.

Aku merebahkan diri dan berguling kesana kemari demi mendapat posisi yang enak untuk tidur. Tapi tetap saja, rasa sakit dikepalaku tak kunjung hilang. Aku, ingin sekali rasanya membuka lemari dan mengambil sesuatu yang sangat kubutuhkan bila sudah begini, tapi tenagaku yang tersisa sudah kugunakan untuk memasak. Jadi, kuputuskan untuk berbaring dengan kepala bergantung di ujung tempat tidur, sementara badanku tetap ada di kasurnya. Semoga lebih baik (*** I-el)

I-el*** Minho POV

Di tempat syuting…

”Minho, buru-buru pulang?” tanya Onew hyung

”Ne. Aku duluan ya?!” aku baru saja menarik tas dari dalam loker penitipan barang.

”Tunggu. Kami ikut ya, hyung?” hhh… aku diam untuk berpikir.

”Baiklah.” kataku pada akhirnya. ”Kalian ikuti aku dari belakang.” mereka mengangguk setuju. Aku berlari ke lapangan parkir dan mulai tancap gas setelah membayar biaya parkirnya.

Aku, entah sejak kapan jadi panik begini. Entah Lucifer mana yang memintaku melakukan hal yang baik, yaitu pulang lebih cepat. Biasanya kalau pulang syuting begini, aku pasti pulang jam 10 malam paling cepat.

30 menit kemudian aku dan member yang lain sampai. Tanpa menunggu member yang lain, aku segera masuk ke dalam rumah dan melangkah cepat ke kamar.

”Hyerin!!!” aku terpekik kaget melihat Hyerin. ”Kenapa dia tidur dengan posisi seperti itu? Ya Tuhan, apa tidak pusing?” kataku sambil berusaha memperbaiki posisi tidurnya, tapi ternyata malah membuatnya terbangun.

”Ehh…” dia mengerang, seakan ingin memberitahuku kalau dia sudah bangun. ”Jangan merubah posisi tidurku.” suara Hyerin terdengar lemah sekali.

Karena mendengar pekikanku yang keras, Onew hyung dan Taemin menghampiriku ke dalam kamar sedangkan Kibum dan Jonghyun hyung mengaduk-aduk kulkas.

”Minho, gwencana?” tanya Onew hyung, aku mengangkat bahu karena tidak tahu. Aku melihat Hyerin meringis menahan sakit yang mungkin berasal dari kepalanya.          ”uhuk..uhukk…” Hyerin terbatuk dan kemudian meringis lagi. Tiba-tiba Kibum muncul dan aku lihat dia terbelalak.

”Ya Tuhan, Hyerin.” Kibum duduk di atas betisnya sendiri. ”Hyerin-ah, apa kau butuh sesuatu?” tanya Kibum. Aku melihat telunjuknya mengarah ke lemari.

”Apa ada sesuatu disana?” tanya Kibum lagi. Hyerin mengangguk lemah.

Kibum membuka lemari dan membawa kotak P3K ke dekat Hyerin. Kibum membuka pengaitnya dan betapa terkejutnya kami berlima melihat begitu banyak obat yang berjejer rapi di dalamnya.

”Hyerin, banyak sekali obatnya. Yang mana yang mesti di kasih?” Onew hyung dan Kibum sibuk membaca nama obat dan fungsi yang tertulis dalam setiap strip tablet dan tabung kapsul dari dalam kotak itu. Aku tidak percaya, kotak semacam itu bisa tidak terjangkau oleh mataku.

”huek..” suara itu membuat aku semakin panik

”Hyerin, kau mau ke kamar mandi?” tanya Jonghyun hyung. Aku dan Jonghyun hyung segera memapah Hyerin berjalan ke kamar mandi.

”Huueeekk… uhukk.. hh. Huekkk…. ouhookk..” Hyerin memuntahkan semua isi perutnya, kurasa. Keringat mengalir deras, tapi badannya menggigil. Sebenarnya Hyerin kenapa?!

Akhirnya, dia berhenti muntah. Wajah lelahnya begitu jelas terlukis. Aku hendak membaringkannya ke kasur, tapi Kibum menahanku.

”Minho, jangan!!” teriak Kibum dengan nyaring. Mendengarkan larangan itu, akhirnya aku hanya mendudukannya di kasur. ”Taemin, ambil air segelas. Jangan yang dingin!” Kibum menyuruh dengan begitu cekatan, seperti sudah menjadi ahli kesehatan saja.

”Hyerin, sekarang coba tarik nafas dalam-dalam dan pejamkan mata sambil mencari posisi yang rileks untukmu.”

”Kibum, apa yang kau lakukan? Kau pikir Hyerin-ah sedang hamil apa? Hahaha..” krik..krik. Hanya suara jangkrik yang terdengar.

”Ini bukan saatnya Onew sangtae hyung beraksi.” kataku menegur. Taemin datang dengan gelas yang benar-benar penuh air, hingga airnya tumpah kemana-mana. Kemudian menaruhnya di atas meja samping tempat tidur.

”Ini posisi yang enak untukmu, Hyerin-ah?” tanya Kibum lagi. Hyerin mengangguk sangat-sangat lemah. Aku sebenarnya bingung apa yang Kibum lakukan sejak tadi pada Hyerin. ”Sekarang coba kau minum ini agar mualnya berkurang.” Kibum membuka tutup botol obat yang dia ambil. Onew hyung, Jonghyun hyung, Taemin dan aku hanya memperhatikan tindakan pertolongan dari dokter Kim ini.

Aku ambil botol tablet yang baru saja dimasukkan oleh Kibum ke dalam kotak P3K dan membaca keterangan kandungan komposisi dari obat itu lekat-lekat.  ’Fenotiazine, OBAT ANTI MUNTAH

AAAARRGHH… uhukk.. ouhokk.” tiba-tiba Hyerin menjerit sambil memegang kepalanya kasar dan berguling di tempat tidur.

”Kibum sebenarnya dia kenapa? Kenapa dia jadi begini?.” aku jadi sangat bingung.

”Nanti aku jelaskan, tapi setelah membuat dia tidur dengan tenang, jadi akan lebih leluasa.”

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


Advertisements

117 thoughts on “Half Married – Part 2”

  1. Please update it asap!!! Kya kya kyaa I really curious about the next chapter..
    Can’t wait till the next chapter published :3

  2. Annyeong …
    Aku baru komen nih di sini.
    Ff nya bagus banget, lanjutkan yaaa .,
    penasaran nih sama hyejin., kira kira dia kenapa ya??? (tanda tanya besar)
    penasaran bangeeeet. Publish yang part 3 nya ^^

  3. lanjut lanjut lanjut..
    author kau daebak sekali~~
    dipart satu sukses kau ngebuat aku pengen ngejambak Mino
    dan di part ini iiih… Mino baik bener laah…

    next part ditunggu~~ cepetan yaah~ fufufu

  4. wah kira2 hyerin sakit apa yah??
    aku jadi penasaran…

    ehm, saya bener2 merasa kalo si hyerin itu saya, apalagi dgn kata2 :
    ”Dia hanya mahasiswi fakultas desaign grafis biasa.”

    muakakkka
    ehm, ehm, SAYA MAHASISWI JURUSAN DESAIN GRAFIS SEMESTER 5 LHO~~~ *serius, jujur
    muahahahahahah

    i love this ff~~

    cepet d lanjut ya author 🙂

  5. wah kira2 hyerin sakit apa yah??
    aku jadi penasaran…

    ehm, saya bener2 merasa kalo si hyerin itu saya, apalagi dgn kata2 :
    ”Dia hanya mahasiswi fakultas desaign grafis biasa.”

    muakakkka
    ehm, ehm, SAYA MAHASISWI JURUSAN DESAIN GRAFIS SEMESTER 5 LHO~~~ *serius, jujur
    muahahahahahah

    i love this ff~~

    cepet d lanjut ya author

    *mian ya td saya lupa nulis nama nya T.T

  6. Aigo~ kok berhenti??
    seriusan aku penasaran sampe mau bunuh minho *haha, lebay
    ayolah lanjutannya jangan lama2 yak, aku tidak tahan melihat Hyerin tersiksa…

    jahat banget itu si omma nya Minho, heran..
    aduh, Hyerin kamu tahan yah sama Minho, pasti dia berubah jadi baik kok*hallah, komennya mulai gaje

    anyway, lanjuin atuh thor!!!

  7. authoooor cepet post part 3 nya yaaa
    keren banget ffnya~ XD
    suka!
    ga sabar pengen tau hyerin kenapa
    sedih banget jadi hyerin T.T

  8. aigooo aku baca ulang lagi karena waktu itu lupa ceritanya kayak gimana huhahaha
    Author lanjutin doonggg HMpart3 huhuhuh
    penasaran sama hyerin dan minho akan jadi gimana hubungannya.
    gasabar banget Half Married part3~~~~~~~~
    oh iya setuju tuh sama chinggu yang di atas, langsung post sampe ending huahahhaa

    1. Author disini!!! *sambil lari-larian berjingkat

      kekeke….
      sabar..sabar…
      berhubung lagi masa” FF Party, ya nikmatin dulu aja serangkaian FF yang tercipta untuk mendukung acara ini.
      Lagian, aku kan baru aja selesai UAS, jadi maklumin ya?? ^^
      Makasih atas kesabarannya.

  9. Author anneyong ^^
    Kapan yg part 3 nya ada ?
    Aku nggak sabar nih 🙂
    Pengen cepet” baca lanjutan nya .
    Penasaraaaaaan *.*

    1. Kan bukan aku yang pegang kendali, sohee
      Aku udh bikin secepat yg aku mampu, ditengah” UAS pula wktu aku bikinnya
      Tapi kalo masalah publish, itu diluar tanggung jawab aku
      Maaf ya kalo membuatmu kecewa
      *bow 1000x

    1. Aduhh!!!
      aku merasa tidak enak. Mian… Mian…
      Ini diluar tanggung jawab aku, aku harap kamu ngerti ya?
      Aku jadi ngerasa bersalah nih bikin kamu baca sampai 3 kali bgtu. aduh gimana minta maafnya ya?

      Sabar ya!!!
      Sabar!!

  10. getting closer to the chap 3 (keliatan yg langsung ngebut baca)
    itu hyerin knapa? aduh, jadi ngerasa kalo dia itu istri yg sempurna, ckckck..
    eh minho, cepat kau sadar! grrrrrh!

  11. YA TUHAN bener2 jadi gasuka aku sam Sulli disini 😦 padahal kan dia member fav aku di f(x) hueeeeeeeee ~ ~

    Tapi, kenapa minho bisa berubah secepat itu???
    ya ampuunn care bgt diaaa….

    aduh STUCK ngomen di part 2 nih, bacaduludeh part selanjutnya 😛

  12. makin seru ceritanya pas tau hyerin sakit. kasian.. semoga gpp..
    gag nyangka ternyata ortu nya minho gag merestui mereka yaa..

    next part…

  13. kyaa~!? jadi apa tuh??? ga sempet komen lagi, fly ke next part aja! *penasaran tingkat dewa*

    btw, daebak loh thor!

  14. summarynya ada typo, thor. tapi di ceritanya engga ada sih hoho ._.
    itu sebenernya hyerin kenapa ya? kalo hamil gak mungkin kayanya.
    nice ff author 🙂

  15. There may be a simpler solution than installing central heating and air.

    As the student gets older and progresses through school they will have more and more work so
    storage space is essential. If you would have known it
    was this easy you may have made this change sooner.

    1. OMG.. This ff is such an oldy but u still read this.. Thanks for ur comment.. jgn lupa baca part 3 ya 🙂
      thank u so much for ur comment ^_^

Leave a Reply to dodolnaJYJ Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s