The Sweet Escape – Part 6 (END)

The Sweet Escape

Part 6 (End)

Author            :           Park Kyungjin

Main Cast      :           SHINee – Kim Jonghyun

Park Kyungjin a.k.a author

Other Cast     :           SHINee – Lee Taemin

Genre             :           Angst, Romance

Rating             :           PG+15

Disclaimer      :           This story is mine!


+++

(Kyungjin P.O.V)

Aku membuka mataku perlahan. Cahaya matahari yang masuk ke kamarku terasa sangat menyilaukan. Hhh, sepertinya mataku bengkak. Tapi tunggu dulu, cahaya matahari sudah masuk ke kamarku? Astaga, aku kesiangan.

Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan mandi secepat mungkin. Setelah mandi aku mengenakan seragamku. Saat aku sudah siap berangkat ke sekolah, aku mencari-cari Jonghyun. Di mana dia? Ah, mungkin masih tidur. Biar sajalah, sebaiknya aku segera berangkat.

Aku berlari sekuat tenaga menuju halte bus. Ya, hari ini aku kembali berhubungan dengan bus-bus itu. Ku rasa Taemin sudah tidak ingin menjemputku lagi. Nanti saat tiba di sekolah, aku harus menemuinya dan menjelaskan semuanya.

Kali ini aku akan jujur padanya tentang Jonghyun. Ku harap ia masih mau mendengar penjelasanku.

+++

Kriiiiingggg.

Bel tanda pergantian pelajaran berbunyi. Kim sonsaengnim bergegas keluar dari kelas dan tak lama kemudian Park sonsaengnim masuk menggantikan Kim sonsaengnim.

“Selamat siang, anak-anak. Oh iya, seperti yang telah ku katakan dua hari lalu, hari ini kalian sudah harus mengumpulkan tugas kalian. Choi Minho, tolong kau kumpulkan semua tugas teman-temanmu” Park sonsaengnim memerintahkan Choi Minho, ketua kelas kami.

Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Aku menyambar tasku dengan cepat dan mengaduk-aduk isinya.

Astaga, buku latihanku tertinggal di ruang tamu! Aku lupa mengambilnya. Aku bahkan belum selesai mengerjakan semuanya.

Seketika aku merasa sekujur tubuhku lemas sementara jarak Minho dari tempat dudukku sudah semakin mendekat. Gawat. Aku mulai panik. Bagaimana ini? Apalagi Park sonsaengnim adalah tipikal guru disiplin yang tidak bisa dengan mudah menerima alasan. Aku mulai berkeringat dingin.

Tiba-tiba Kibum yang duduk di belakangku menendang-nendang kursiku. Aku menoleh dengan sangat tidak bergairah.

“Kibum?”

“Hei, ini buku latihanmu kan?” katanya sambil memperlihatkan buku yang ada di tangannya.

“Mwo?! Ah, ne!” kataku senang sambil buru-buru mengambil buku itu dari tangan Kibum. Kebetulan sekali. “Tapi, darimana kau dapat buku ini?” aku kembali heran karena aku ingat dengan jelas buku ini tertinggal di ruang tamuku.

“Oh iya, tadi ada seorang namja yang menitipkannya padaku, tapi aku belum sempat menanyakan namanya. Tubuhnya kekar, dan ujung rambutnya dicat kuning” jelas Kibum.

Tubuhnya kekar? Rambutnya dicat kuning? Mwo?!

“Oh, gomawo, Kibum”

Aku memutar badanku kembali menghadap ke depan.

Jonghyun?

Aku membuka-buka buku latihanku dengan cepat dan aku merasakan ada yang aneh di sana. Tugasku sudah selesai dikerjakan. Pasti Jonghyun yang mengerjakannya.

Minho sudah tiba dibangkuku dan menagih tugasku. Aku segera memberikannya dengan senang hati.

Untung saja Jonghyun mau mengantarkan tugasku ke sekolah. Tapi, itu berarti Jonghyun keluar rumah kan? Apa tidak bahaya?!

+++

(Jonghyun P.O.V)

Aku bangun agak kesiangan. Aku segera berjalan keluar kamar dan mencari-cari sosok Kyungjin, tapi ia sama sekali tidak terlihat. Apa ia sudah berangkat ke sekolah? Tapi kenapa ia tidak membangunkanku?

Aku berjalan menuju ruang tamu dan melihat buku-buku Kyungjin masih ada di sana. Astaga, dia lupa membawa bukunya!

Aku berjalan mondar-mandir sambil memikirkan cara agar buku itu bisa sampai ke sekolah Kyungjin. Aku terus berpikir keras tapi otak cemerlangku ini sama sekali tidak menghasilkan ide cemerlang.

Tak ada pilihan lain, aku sendirilah yang harus mengantarkan buku ini.

Aku berjalan menuju kamar dan membuka lemari dongsaengnya. Selama ini Kyungjin memperbolehkanku memakai baju-baju dongsaengnya, walaupun agak kekecilan di badanku.

Ah, ini dia. Aku mengambil salah satu jaket yang lumayan tebal. Aku juga mengambil topi yang yang ada di lemari itu dan memakainya. Semoga saja tidak ada yang mengenaliku, apalagi polisi-polisi itu.

Aku berlari keluar rumah dan menghadang sebuah taksi. Aku memberitahukan alamat sekolah Kyungjin pada sopir taksi itu dan seketika taksi itu melaju membawaku pergi.

Saat tiba di sekolahnya, aku sedikit khawatir akan ada orang yang mengenaliku. Tapi sepanjang diperjalanan tadi sampai sekarang belum ada seorang pun yang mencurigaiku. Sepertinya masyarakat memang tidak mengetahui dengan jelas wajah seorang Kim Jonghyun, sang buronan.

Aku berjalan menuju koridor sekolah dan memanggil salah satu namja yang berdiri di dekat situ.

“Permisi, apa kau kenal dengan Kyungjin?”

Ia terlihat mengernyitkan dahinya dan berusaha melihat wajahku yang agak tertutup ini. Ah, kurasa tidak apa-apa kalau aku memperlihatkan wajahku padanya. Aku kemudian melepas topi yang kupakai.

“Park Kyungjin? Ne. Kebetulan aku sekelas dengannya. Apa kau ingin bertemu dengannya? Aku bisa mengantarmu” katanya sambil tersenyum ramah.

“Anni, tidak usah. Aku sedang buru-buru. Bisa aku titip buku ini? Kyungjin lupa membawa buku latihannya” kataku sambil menyodorkan buku itu.

“Oh, ne” katanya sambil menerima buku itu.

“Gomawo. Kalau begitu aku permisi dulu” kataku lalu bergegas meninggalkannya.

Aku berjalan cepat menuju gerbang sekolah dan mencari-cari sebuah taksi. Aku harus buru-buru kembali ke rumah Kyungjin sebelum ada yang menyadari keberadaanku.

Agak lama aku menunggu namun tidak satupun taksi yang muncul. Bodoh. Seharusnya tadi aku menyuruh taksi itu untuk menungguku.

Aku kemudian menyadari sesuatu. Aku belum memasang kembali topi yang tadi kulepas. Dengan segera aku memasangnya kembali.

Tapi terlambat. Segerombolan polisi sudah berlari mendekat sambil mengacungkan pistol ke arahku.

+++

(Kyungjin P.O.V)

Bel tanda istirahat sudah lama berbunyi. Tapi aku belum juga melihat batang hidung Taemin yang biasanya datang menjemputku ke kelas. Sepertinya ia masih marah.

Aku memutuskan untuk mencari ke kelasnya.

Aku berdiri di dekat pintu kelasnya sambil mencari-cari sosoknya, tapi aku tidak juga menemukannya. Aku menghampiri Jinki, teman sekelas Taemin yang berdiri tidak jauh dariku.

“Annyeong, Jinki. Apa kau lihat Taemin?”

“Ah, apa kau tidak tahu? Taemin tidak masuk hari ini”

“Kenapa?”

“Entahlah. Ia juga tidak memberikan kabar”

“Oh. Kalau begitu aku permisi dulu. Gomawo atas infonya”

Aku membalikkan badan dan berjalan kembali menuju kelasku. Aneh. Tidak biasanya Taemin tidak masuk sekolah.

Kriiiiiiiinnngggggg.

Bel tanda jam istirahat usai berbunyi.

Sudahlah. Nanti aku akan menghubunginya kalau sudah tiba di rumah.

+++

“Aku pulang…” kataku dengan tidak bersemangat.

Tidak ada jawaban. Di mana Jonghyun?

Aku mencari-carinya ke seluruh penjuru ruangan, tapi tidak menemukannya. Perasaanku jadi tidak enak. Apa Jonghyun belum kembali dari tadi?

Oh iya, aku harus menghubungi Taemin. Aku melangkah menuju telepon rumah dan menekan sederetan angka yang sudah sangat kuhapal.

“Nuguseoyo?” terdengar suara seseorang dari seberang sana. Bukan suara Taemin, sepertinya dia eommanya.

“Ah, aku Kyungjin, ahjumma. Apa Taemin ada?”

Tiba-tiba eommanya menangis. Ada apa sebenarnya?

Aku menunggu jawaban dari eomma Taemin.

“Taemin su… sudah pergi… Taemin sudah tidak ada di dunia… Huuuuhhuuuuhuuu…” katanya terbata-bata.

“Mwo?!” seketika gagang telepon itu lepas dari genggamanku.

Tidak. Tidak. Aku ini sedang mimpi kan? Tuhan katakan kalau aku ini benar-benar bermimpi. Ini hanya mimpi buruk, benar kan? Kumohon, bangunkan aku Tuhan.

+++

(Author P.O.V)

Jonghyun kembali dibawa ke pengadilan. Kali ini ia menghadapi masalah yang lebih besar karena telah melarikan diri dari penjara. Keluarganya juga terlihat menghadiri persidangan ini. Hanya sedikit dari pihak dosennya yang ikut hadir.

“Kim Jonghyun. Terpidana kasus pembunuhan yang saat ini menjalani masa tahanan namun melarikan diri. Kupersilahkan kau untuk mengeluarkan pendapat” hakim itu menatap Jonghyun.

Jonghyun hanya bisa menunduk pasrah. Ia memang tidak bersalah, tapi ia tidak bisa berkata apa-apa karena hingga saat ini ia belum menemukan bukti yang dapat membebaskannya dari masalah ini.

Ia hanya terus menunduk hingga sang hakim angkat bicara kembali.

“Kim Jonghyun. Silahkan”

Namun ia terus saja menunduk tanpa mengeluarkan satu katapun.

Tiba-tiba seseorang yang duduk di kursi belakang berdiri dan mulai berbicara.

“Hadirin sekalian, maaf kalau aku langsung berbicara tanpa dipersilahkan sebelumnya. Perkenalkan aku Kim Heechul. Aku berkuliah di tempat yang sama dengan Kim Jonghyun. Aku rasa kasus Kim Jonghyun ini terlalu berbelit-belit namun juga belum ada yang bisa dijadikan saksi. Kalau boleh aku mengusulkan sesuatu, lebih baik kita memutar rekaman yang di ambil dari kamera CCTV yang ada di ruang penelitian itu. Kurasa tidak ada yang menyadari kalau di ruangan penelitian itu terdapat sebuah kamera CCTV, tidak seperti ruangan-ruangan lain. Mungkin semuanya akan tergambar dengan jelas dari rekaman itu”

“Baiklah. Silahkan duduk kembali, Kim Heechul” hakim itu mempersilahkan untuk duduk kembali.

Hakim itu terlihat berpikir sejenak sambil berdiskusi dengan petinggi-petinggi sidang lain yang duduk di sebelahnya. Beberapa saat kemudian, hakim itu mengeluarkan suatu keputusan.

“Saran dari saudara Kim Heechul diterima. Dengan begitu, sidang saya tunda sampai besok seraya pihak kepolisian mencoba mencari bukti yang lebih jelas. Saya harap semua bisa berkumpul kembali di tempat ini pukul 11.00…”

Tok. Tok. Tok.

Hakim memukulkan palunya dan sesaat kemudian semua yang hadir di persidangan itu keluar dari ruangan.

Jonghyun kembali dibawa ke penjara oleh pihak kepolisian.

Ia kembali merasakan dinginnya suasana penjara sambil menunggu sebuah keajaiban.

Dalam hati ia berharap semoga ia bisa menemukan titik terang di persidangan besok.

+++

(Kyungjin P.O.V)

Dua tahun kemudian.

Aku melangkahkan kakiku menyusuri bandara ini. Akhirnya aku dapat merasakan kembali hembusan angin Seoul setelah aku meninggalkan kota ini selama hampir dua tahun.

Semenjak kematian Taemin, aku menghubungi keluargaku yang tinggal di Jepang dan memutuskan untuk ikut tinggal serta melanjutkan sekolahku di sana.

Semenjak kematian Taemin, aku jadi uring-uringan. Itulah yang membuatku memutuskan untuk meninggalkan Seoul, siapa tahu dengan meninggalkan kota ini, aku bisa merangkai kembali hatiku yang hancur berkeping-keping.

Di Jepang, aku mulai bisa menyusun kembali kepingan-kepingan hatiku, meskipun aku membutuhkan waktu yang lama untuk bisa kembali tegar. Namun aku masih merasa seluruh kepingan hatiku belum terangkai secara utuh.

Biarlah. Kepingan hatiku yang belum menyatu dengan kepingan yang lain itu sudah pergi meninggalkanku.

Kepingan hati itu kubiarkan ikut bersama jiwa Taemin yang kini sudah tenang di alam sana.

Taemin, jaga kepingan hatiku baik-baik. Aku telah memberikannya padamu dan tidak akan memintanya kembali.

Saat ini aku sudah menyelesaikan masa SMA ku di Jepang dan aku ingin melanjutkan kuliah di Seoul.

Di Jepang, aku mulai belajar dengan sangat tekun. Aku tidak lagi membenci fisika, dan entah sejak kapan aku malah bercita-cita menjadi seorang dokter.

Ngomong-ngomong soal dokter, aku kembali teringat dengan seseorang.

Seseorang yang dua tahun lalu masuk ke dalam rumahku secara tiba-tiba. Seseorang yang ikut mengisi kehidupanku dan diam-diam aku kusayangi, meskipun rasa sayangku padanya tidak sama dengan rasa sayang yang kuberikan pada Taemin.

Ya, Kim Jonghyun.

Aku mendengar kabar bahwa Jonghyun terbukti tidak bersalah dan pada akhirnya ia bisa dibebaskan kembali tanpa perlu menjadi seorang buronan.

Ah. Aku sudah tidak pernah bertemu dengannya lagi semenjak insiden mengantar buku itu. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Kira-kira di mana si jenius itu sekarang?

+++

Aku melangkahkan kakiku tergesa-gesa mencari sebuah ruangan. Kebiasaan terlambatku ini tidak pernah bisa kuubah. Hari ini adalah hari dimana aku akan menghadapi tes di sebuah universitas ternama di Seoul.

Akhh, kampus ini luas sekali.

Aku berjalan terburu-buru menyusuri koridor kampus ini sambil sesekali menengok ke ruangan-ruangan yang kulewati. Aduh, di mana ruanganku?!

Aku memperhatikan jam tanganku. Oh tidak, lima menit lagi tes akan segera dimulai.

Aku berlari menaiki sebuah tangga menuju lantai dua. Gila! Bagaimana kalau ruanganlu ada di lantai paling atas? Gedung ini kan ada 10 lantai! Aku juga tidak menemukan seorang pun yang berkeliaran yang bisa ku tanyai.

Aku terus saja berlari namun saat aku berbelok di tangga menuju lantai tiga, tiba-tiba aku menabrak seseorang.

Brukkkk.

“Aww… Ah, mian… Mian… Aku tidak sengaja… Aku sangat buru-buru… Jeongmal mianhae…” kataku sambil tertunduk.

“Gwaenchanayo… Oh iya, kelihatannya kau sedang kebingungan, apa ada yang bisa ku bantu?”

Kebetulan sekali.

“Ah, ne. Aku mencari ruangan 54. Apa kau bisa memberitahuku?” kataku sambil mengangkat wajahku yang tadi tertunduk.

Aku melihat wajahnya.

Deg.

Seketika jantungku berdetak dengan sangat kencang.

“Kyungjin-ah?”

“Ah, Jonghyun-ah! Apa ini benar-benar kau?” kataku sambil membulatkan mataku, hampir tidak percaya dengan sosok namja di depanku ini.

Ia terlihat berbeda. Maksudku, ia mengenakan pakaian yang lebih rapi. Ujung rambutnya juga tidak berwarna kuning lagi. Kali ini ia mengecat rata semua rambutnya dengan warna coklat yang terlihat lembut. Penampilannya sekarang membuatnya terlihat sangat berwibawa dan, yeah, semakin tampan.

Ia mengacak pelan rambutku.

“Ya! Kau ini masih saja suka terlambat. Sini kuantar” katanya lalu menarik tanganku.

“Jonghyun-ah, kau terlihat berbeda” kataku di tengah-tengah perjalanan kami.

“Benarkah? Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat semakin tampan?” katanya sambil tersenyum.

Iya, kau memang terlihat semakin tampan!

“Ah, kau ini ada-ada saja” aku memukul lengannya pelan.

Kami terus saja berjalan menyusuri gedung ini.

Koridor demi koridor.

Tangga demi tangga.

“Jonghyun-ah, sebenarnya ruangannya ada di lantai berapa?” kataku sambil memegangi kakiku yang mulai terasa pegal.

“Di lantai tujuh” jawabnya santai.

“Mwo?!”

Aku hanya bisa pasrah mendengar jawabannya barusan. Aduh, kenapa gedung setinggi ini tidak dilengkapi dengan lift?

Kami akhirnya menaiki tangga menuju lantai tujuh.

Hosh… Hosh… Capek sekali.

Aku terus berjalan sambil memperhatikan angka-angka yang tertempel di pintu ruangan-ruangan yang ada di lantai tujuh ini.

49.

50.

51.

52.

Ah, berarti tinggal melewati dua ruangan lagi aku sampai di ruanganku.

53.

Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak-teriak memanggil dari arah belakang.

“Profesor Kim! Profesor Kim!”

Seketika Jonghyun berhenti berjalan dan berbalik ke arah orang itu.

“Oh, ada apa?”

“Profesor Kim. Kau dipanggil ke ruang rapat sekarang”

“Oh. Gamsahamnida. Aku akan segera ke sana” kata Jonghyun.

Mwo?! Profesor Kim?! Jadi sekarang ia sudah menjadi seorang profesor? Kelewatan sekali! Aku yang seumuran dengannya bahkan baru akan mendaftar kuliah tahun ini!

Orang itu pamit lalu pergi meninggalkan kami.

“Kyungjin-ah, ruangannya ada di sebelah sana. Kau bisa menemukannya sendiri kan? Mian aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Aku harus segera menuju ke ruang rapat” katanya sambil menunjuk salah satu ruangan yang terletak di samping ruangan yang ada di depanku ini.

“Oh, ne. Jonghyun-ah. Lagipula ruangannya juga sudah dekat. Kalau begitu aku pergi dulu ya” kataku lalu segera berbalik dan mulai bersiap-siap lari. Namun kurasakan ia menarik tanganku. Aku kembali menoleh ke arahnya.

“Kyungjin-ah, kau harus semangat. Hwaiting! Kau pasti bisa!” katanya memberi semangat sambil mengepalkan tangannya yang bebas.

Aku hanya tersenyum menanggapinya. Ia lalu kembali mengatakan sesuatu.

“Kalau tesnya sudah selesai, temui aku di taman belakang. Kali ini jangan terlambat lagi ya!”

Aku sedikit tercengang mendengar perkataannya barusan.

“Baiklah, Profesor!” kataku lalu berlari meninggalkannya.

+++

Sebulan Kemudian.

Bletak!!

Aku menjitak kepala Jonghyun dengan keras.

“Awww… Aish, kau ini kenapa?!” katanya sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit.

“Makanya jangan macam-macam!”

Jonghyun hanya bisa mendengus kesal sambil terus mengusap-usap kepalanya. Hahaha. Biar saja. Lagipula dia sudah keterlaluan. Seharian ini dia terus-terusan menjahiliku saat dia mengajar di kelasku. Astaga, segitu sialnyakah aku sampai-sampai Jonghyun yang harus menjadi dosenku di kampus!

Jonghyun betul-betul tega! Padahal aku kan yeojachingunya! Sudah sebulan berlalu semenjak ia menyatakan cintanya padaku di taman belakang kampus. Waktu itu aku tidak langsung menerimanya, tapi dia terus-terusan memaksaku! Baiklah, toh aku sendiri juga menyayanginya.

+++

(Jonghyun P.O.V)

Aku hanya bisa mengusap-usap kepalaku yang dijitak Kyungjin dengan kasar. Aish, yeoja ini kejam sekali. Padahal aku kan namjachingunya!

Sebenarnya aku memilih untuk menjadi dosen di kelasnya karena ingin memantaunya. Aku meminta pada pihak universitas untuk mengangkatku sebagai dosen. Padahal itu semua kan karena dia. Huh.

Tapi memang aku yang salah. Seharian ini aku terus-terusan menyuruhnya mengerjakan soal-soal dan menghapalkan komponen-komponen penyusun tubuh manusia di depan semua teman-temannya, dan walaupun sudah sebulan lebih aku menjadi namjachingunya, aku tetap saja seorang dosen yang harus dipatuhi oleh mahasiswanya, dan  itu membuatnya marah besar.

Ya sudah, aku kapok. Aku tidak akan menjahilinya lagi. Dan mungkin semester depan aku tidak akan mengajar lagi. Aku betul-betul sudah kapok. Lebih baik aku kembali ke lab saja menjadi peneliti daripada terus-terusan dijitak Kyungjin. T___T

THE END

Huuhuuhuuu.. Ending jelek.. Ending jelek.. T___T *nangis di pojokan*

Maafkan author gagal ini.. *bow sampai encok*

Kalau ada yang mau menghina, silahkan.. T___T

Jeongmal gomawo atas perhatiannya selama ini.. ^^ I love you reader, mmuuaacchhh..

*semuanya muntah* kekeke.. XD

 

2010  ©SF3SI

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

17 thoughts on “The Sweet Escape – Part 6 (END)”

  1. Bwhahahahahahaha~
    Kocakk amat tuh mereka !!
    Bikin ngakak!!
    Masa di kelas jitak2-an??
    ahahahhaha~ Yah, Taemin matii,, kasiann!! 😥 heheheh~
    Baguss!! SUKA SUKA SUKA!!! eheheh~

  2. yaaaaaaaa~!!
    dikirain taemin nya hidupp!!
    ternyata kagak!! tapi kaga ap2!! keren koq!!

    ending nya juga kerenn!!!
    😀

  3. HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
    DYUUUUUUUUUUUUU
    UDAH TAMAT LAGI, AAAAAAAAAAHHH

    itu itu si jjong jadi professoooooooorrrrrrrrr
    hadeeeeeeeh
    i love u, laaaaaah

    kereeeen, dyuuuuuuuuuu
    daebaaaaaaaaaaaakkkk

  4. yeyay akhirnya komenn^^ (padahal udah baca dari tadii kekeke)

    EONNIEEE… endingnya bagus kok… tapii kenapa taem mati???
    Tragis sekali taemiiinnn….
    Lanjutkan karyamu!!

  5. akhirnya bener-bener diluar dugaan…..ckckck…hebat….tapi kenapa taemin mesti mati…hiks…hiks…miris juga rasanya kalau ada tokoh yang mesti mati…..
    ff bagus author…fff slanjutnya ditunggu yah…anneyong…

  6. Oke akhirnya Sohwa meninggalkan jejak disinii….
    maaf ya eon telat ngomen and langsung nge gabung komennya hehe..

    emang bener SWEEET banget ini escape nya!
    nice thor 😉

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s