A Tormented Doll – Part I

A Tormented Doll

Part I

 

Author : Clea

Main Cast : Lee Taemin

Support Cast : SHINee, teman-teman Taemin di sekolah dan preman.

Length : Sequel

Genre : Angst, Family

Rating : G /PG 13 *??* entahlah saya pun tak yakin *plak*

A.N: Terinspirasi setelah baca news-nya Oppa soal Oppa yang dibullying di sekolahnya (walau katanya sih cumin issue, semoga bener cuman issue ;;w;;) kasian Oppa Taemin. Dan…ini First SHINee FF saya, jadi maaf kalau OOC, aneh dan banyak kurangnya (dan gaje). Mianhe sebelumnya….

©2010 SF3SI, Freelance Author.

***

Taemin menarik nafas dalam-dalam. Membuat kedua pipinya mengembung dan berubah kemerahan. Kedua jemarinya bertaut, menopang dagu di atas meja. Sedangkan manik hitamnya menerawang jauh ke luar jendela dorm mereka. Mengintip manusia-manusia yang lalu lalang di bawah sana. Mereka yang biasa, tak dikenali terlalu banyak orang sepertinya.

 

Terkadang dia ingin seperti itu…

 

Bukannya Taemin tak mensyukuri apa yang disandangnya saat ini. Sesuatu yang diraihnya dengan usaha yang sunguh membanting tulang. Dia masih hapal betul, tahun-tahun pertama debut mereka dimulai. Latihan tiada hentinya demi meningkatkan kualitas vokal dan tarian. Belum lagi tekanan batin tiap kali menjejakkan kaki di atas panggung dengan ratusan penonton yang menuntut penampilan terbaik dari mereka.

 

Taemin menepuk kedua pipinya yang menggembung dengan telapak tangan. Membuat udara yang tertahan itu kini berbaur dengan udara lainnya. Pikiran sang magnae melayang, ke masa-masa awal ia bersama para hyungnya, hingga ke masa ia berpijak kini. Oh, bukan biasanya dia memikirkan hal-hal dalam seperti ini. Ada sesuatu yang mengganjal hati remaja itu, tentu saja.

 

”Heh, ngelamun aja!” Sebuah pukulan mendarat di bahunya. Keras. Membuat Taemin sontak memutar matanya, mencari siapakah tersangka yang baru saja membuat jantungnya nyaris terlonjak keluar itu, dan sesuai dengan perkiraan, Key nyengir tanpa rasa bersalah di belakangnya.

 

”Aaa! Key Hyung!” rajuknya sembari melayangkan buku yang ada—yang menghantam Key tepat sasaran.

 

”Habisnya wajahmu cemberut terus dari tadi” kembali tangan jail Key menyubit kedua pipi dongsaenya. Yang langsung ditepis oleh Taemin dengan wajah yang semakin manyun.

 

”Kurasa Key benar..” sahut Minho yang muncul dari dapur membawa tiga cup es krim untuk mereka. Memiringkan kepala sejenak menatap Taemin sebelum memulai dengan suara yang lebih pelan, ”Kau sering melamun beberapa hari ini, ada masalah ya?”

 

Taemin hanya menggembungkan pipinya. Wajah manyun yang sudah menjadi khas itu kini mendominasi rautnya. Kenapa hyung-hyungnya itu selalu tau kalau dia sedang ada masalah? Batinnya dalam hati. Taemin menggelengkan kepala kuat-kuat, membantah pertanyaan Minho yang lebih terdengar seperti pernyataan itu.

 

”Tidak kok!” sergahnya, ”Sudah ah, aku mau istirahat dulu..” ucap Taemin sembari berdiri dari kursi kayu meja makan itu. Berjalan dengan langkah setengah tergesa-gesa dan berlalu masuk ke dalam kamar. Dia nyaris menutup pintu ketika mendengar suara Key berteriak lantang dari meja makan.

 

”Taeeem, es krimmu untukku ya??”

 

”….”

 

BRAK!

 

***

 

Remaja tanggung itu terdiam lama. Belakangan ini nafasnya terasa berkali-kali lipat lebih berat daripada seharusnya. Tidak, dia tidak menderita semacam radang paru-paru atau apa. Jelas ini semua hasil dari saraf parasimpatetiknya yang bekerja maksimal, menandakan bahwa dia dalam kondisi yang dapat kau definisikan dengan satu kata…stress.

 

Ya, saat ini Lee Taemin sedang dalam kondisi terburuknya.

 

Masalahnya biasa, tapi tidak sederhana. Sudah ia biarkan hal ini berlarut-larut hingga goresan itu kini berubah menjadi sebuah infeksi. Bukan tentang kehidupan gemerlapnya, bukan soal dorama panggung yang tampaknya terpisah dari kehidupan sesungguhnya. Ini tentang kehidupan yang lebih nyata. Sekolah.

 

Pada kenyataannya, dia hanya seorang siswa SMA biasa

Walau nama pernuh gemerlap keartisan itu tak pernah lepas darinya

Dan menjadi sebuah malapetaka

 

Tak ada yang mengingatkan pada pemuda itu sebelumnya. Konsekuensi maupun resiko terburuk yang mungkin menghadang. Bukannya dia tidak siap, tapi kelamaan hal ini semakin menekan batinnya. Ketika caci maki dilontarkan, kata-kata tak pantas menyakitkan itu masuk ke telinganya seperti apa yang diharapkan oleh mereka yang membencinya. Melakukan apapun demi melampiaskan sebuah perasaan yang tak dapat dimengerti oleh Taemin. Dari hal kecil, hingga yang tak bisa ditolerir. Seperti hari ini, misalnya.

 

”Heh! Kau kira kau siapa berani duduk di sini! Pergi sana!” sebuah bentakan kasar mengagetkan Taemin yang tengah duduk di meja kantin menyantap bekalnya. Menengadahkan kepala, menatap senior-seniornya yang menatap garang. Otot-otot lehernya kembali menundukkan kepala tanpa diperintahkan, menyiratkan adanya ketakutan.

 

”Kau dengar tidak?! Tuli ya?!” geram seorang seniornya lagi. Tangan sang senior bergerak cepat, mendorong Taemin hingga tersungkur dari bangku kantin. Seringai kepuasaan terpancar di wajah mereka. Mengambil tempatnya begitu saja dan membuang bekal yang bahkan belum disentuhnya ke tempat sampah. Membuat bento itu terburai dari kotaknya.

 

Manik hitamnya meredup. Rasa sakit yang aneh menusuk ulu hatinya, rasa yang sama seperti yang dirasakannya tiap kali hal seperti ini terjadi. Pelan-pelan magnae itu mundur. Beringsut menjauh dari kerumunan yang asik berbisik-bisik, menggosip atas adegan dorama intimidasi yang baru saja terjadi. Tak ada satupun dari mereka yang berniat menolong—kalaupun ada tak akan ada yang cukup berani untuk melakukannya—bahkan kemungkinan besar mereka tengah mengolok-olok dirinya dalam bisikan mereka. Mereka, yang memuja namanya di saat kakinya menghentak di atas panggung, dan menggunjing dirinya di saat seragam SMA lah yang membalut tubuhnya.

 

…Tuhan, kenapa sakitnya luar biasa?

***

 

Sepanjang hari itu bibirnya terkatup rapat. Bungkam. Sama seperti hari yang sudah-sudah. Taemin yang selalu diliputi senyum itu seakan menguap tak berbekas. Menjadi sosok tak terkenali, terasing, tak terlihat. Seakan ada dua sosok yang hidup dalam tubuhnya bersamaan. Lee Taemin yang bersinar dan dicinta, serta Lee Taemin yang begitu redup dan dihujat.

 

”Dasar sombong…lihat tuh, dia bahkan tidak mau berkata apa-apa di dekat kita,” kata salah seorang sembari berbisik dari kejauhan ketika dia mengemasi barang-barangnya. Tidak, tidak cukup pelan untuk dikatakan berbisik…kata-kata itu masih dapat tertangkap jelas oleh indera pendengarannya.

 

”Di TV saja dia sok manis, ternyata aslinya….” cibir seorang lagi.

 

”Ih, bisa-bisanya wajah kaya gitu dibilang imut. Itu mah wajah banci!”

 

Jemari-jemarinya mengepal. Membuat urat-urat nadinya timbul di permukaan kulit pucatnya. Dia tidak sedang menahan marah, dia tengah menahan perasaan terluka yang begitu menyayat. Menunduk dalam-dalam, mencoba meredam matanya yang nyaris berair. Taemin menggigit bibirnya kuat, mencoba menekan air matanya yang hendak mengalir dengan apapun yang dia bisa.

 

Berjalan tertatih-tatih. Begitu lelah, walau rutinitas yang dilakukannya saat ini jauh lebih menghemat tenaga daripada menari di atas panggung. Tapi tekanan itu begitu nyata, menguras batinnya hingga tak ada lagi yang tersisa. Hanya wajah murung yang mengisi raut wajahnya, dan cobaan yang ternyata belum juga usai.

Apa salahku, Tuhan?

Hingga mereka membenciku sedemikian rupa…

Terjadi begitu cepat. Berbeda dengan gelombang suara berisi caci maki yang merambat perlahan masuk ke dalam telinganya. Ketika dalam hitungan detik dia menyadari dirinya telah terpojok di sudut jalan. Dengan segerombolan orang berwajah seram yang menyeringai sadis kepadanya.

 

”..Bukannya dia sering muncul di TV?” tanya seorang dari mereka mematikan.

 

”Kelihatannya begitu, lihat saja…bukannya seragam yang dikenakanannya seragam SMA ternama?”

 

Maniknya jelalatan, serentak rasa takut melumpuhkan dirinya.

 

”Berarti kau benar, coba kita lihat apa yang bisa bocah ini berikan pada kita…”

 

Tangan-tangan kekar preman itu merampas tasnya dengan kasar. Menggeledah tas hitam yang sekarang telah berpindah tangan. Taemin hanya dapat membantu, berusaha meredam rasa takut dan ngeri yang bergejolak dalam dirinya. Matanya bergulir cepat dari satu benda ke benda lain yang dikeluarkan dari tasnya.

 

Tidak! Itu permberian dari hyung!

 

”Berikan padaku!” Jemarinya berusaha mengambil dompet bewarna coklat tua yang kini tengah ditimbang-timbang dalam telapak tangan besar si preman.

 

”Melawan hah?!”

 

DUAG!

 

Pening…gelap…apa yang terjadi?

 

”Hah! Isinya hanya uang segini!”

 

”…Kembalikan…”

 

”Diam kau bocah sialan!”

 

Semuanya berputar. Kabur. Seluruh objek yang dapat direfleksikan retina berubah menjadi dua. Pandangannya tak lagi fokus dan sang magnae dapat merasakan denging hebat di telinganya. Tapi bukan hal itu yang menarik perhatiannya, rasa sakit di sekitar kepalanya benar-benar hebat. Kesadarannya nyaris punah, ketika maniknya menangkap satu persatu barangnya dirusak oleh cecunguk-cecunguk jalan itu.

 

Jangan…itu hadiah dari hyung…

Tekad itu muncul begitu saja. Semacam kekuatan ambisi untuk melindungi hal yang dianggap penting baginya. Tenaga dan kesadaran yang tak masuk akal secara tiba-tiba merasukinya. Taemin bergerak maju, merebut apa yang menjadi miliknya. Tak peduli dengan resiko ia menerima perlakuan yang lebih parah lagi. Merengsak masuk, mengambil alih permainan selama sedetik dan refleks berlari setelah tas hitam itu kembali ke tangannya.

 

Berlari. Sebisa mungkin kakinya berderap di atas aspal hitam licin oleh salju. Kemanapun…kemanapun…menghindar dari sumber ketakutan yang kemungkinan besar sedang mengejar dirinya. Sepatu kets putih yang membalut kakinya terus melangkah, membawa sang tuan ke tempat yang bahkan tak tergambar dalam benaknya. Hanya insting yang bergerak, membawa ke wilayah yang dikenali tubuhnya sebagai tempat yang paling aman.

 

Tubuh ramping itu mendobrak. Masuk dengan sangat terburu-buru ke dalam dorm yang tak berpenghuni. Tentu saja, ini hari kerja dan semua hyungnya pasti tengah mengerjakan agenda mereka masing-masing. Hanya dia yang memiliki pengecualian, dengan sangat peduli dan berbaik hati managernya meluangkan sedikit waktu di pagi hari baginya untuk menimba ilmu.

 

Lututnya begitu lemas. Sisa-sisa dari ketakutan yang masih merambat dalam aliran darah namja itu. Menyeret langkahnya menuju pintu yang tertutup rapat—pintu yang sudah teramat dikenalinya—pintu kamarnya. Taemin membanting tubuhnya yang terasa begitu lemas. Sakit yang sejenak tertutupi oleh rasa panik dan takut kini mulai merambat naik ke permukaaan. Meringis, kepala terasa pening dan telinganya masih berdenging hebat. Perutnya yang sempat menjadi sasaran preman-preman itu pun terasa nyeri.

 

Sakit…

Gelap…

…Tolong

***

Minho memutar handphonenya gelisah. Memangku dagu dengan telapak tangannya dan terus memandang keluar. Sedangkan jemarinya sibuk menekan tombol dial-up, berulang-ulang, tanpa henti. Sudah seharian ini adik kecil mereka itu tak dapat dihubungi. Sangat aneh, tidak seperti biasanya.

 

”Gimana?” tanya Key selaku supir. Minho hanya menggeleng pelan, raut khawatir terpancar jelas di wajahnya.

 

“Kita langsung pulang ke apartemen saja..” ucap Onew dengan nada yang tak kalah cemas. Urusan di SM bisa ditangani oleh manager mereka, dan tentu keadaan dongsae mereka lebih penting dari apapun. Sang leader menggigit bibirnya, bagaimana jika sesuatu terjadi pada Taemin? Onew menggeleng kepalanya kuat-kuat, berusaha menyangkal pemikiran buruk itu.

 

”Dia banyak merenung beberapa hari ini,” sahut Jonghyun memecah keheningan yang sempat terjalin selama beberapa menit.

 

”….ya, aku khawatir dia ada masalah.” Minho kembali menjawab—yang ditanggapi anggukan oleh Key. Mobil hitam pekat itu berbelok di tikungan dengan kecepatan tinggi. Tak ada lagi suara yang terdengar, seluruh anggota Shinee benar-benar redup malam itu.

 

Mereka semua sibuk bergelut dengan pikiran masing-masing. Bersugesti, membuat prasangka, menuduh lalu menyalahkan. Pertengkaran antara diri mereka sendiri dengan batin yang bergerak gelisah. Bisu masih melanda, bahkan hingga mobil mereka berhenti tepat di depan dorm. Kaki-kaki itu melangkah cepat keluar tanpa aba-aba. Mencari kepastian demi mengobati khawatir yang menggebu-gebu sedari tadi.

 

Ting Tong!

 

Ting Tong!

 

Ting Tong!

 

Sudah tiga kali, dan sama sekali tak ada sahutan dari bilik kehidupan mereka itu. Key menggeleng pelan pada yang lain. Tanpa suara Onew bergerak maju mengambil alih, membuka kenop pintu dengan kunci yang memang dimiliki setiap anggota. Sepi. Tak ada sedikitpun tanda-tanda yang menyiratkan adanya kehidupan dalam dorm mereka itu. Kecuali sepatu Taemin yang tergeletak berantak di depan pintu. Berlumpur dan basah.

 

Dan saat itu juga mereka berempat tau jika sesuatu telah terjadi.

 

Mereka tak perlu repot-repot mendobrak pintu kamar yang notabene milik sang adik. Pintu itu bahkan tak tertutup rapat, hanya tertutup sekedarnya dan menyisakan banyak celah untuk melihat ke dalam. Memberi pandangan pada mereka yang semakin memastikan sugesti buruk yang sejak tadi berkeliaran di kepala Shinee-Shinee itu. Sang Magnae terbaring dengan posisi telungkup di atas ranjang. Seragam sekolah masih membalut tubuhnya. Kotor dan lembab, menandakan bahwa tadinya pakaian itu dalam keadaan basah.

 

Mendekat. Dengan gerakan yang teramat perlahan. Sekilas keempat pasang manik itu saling bertatapan. Sebelum akhirnya Onew—sebagai seorang leader dan hyung tertua di tempat itu—mengambil keberanian.

 

”…Taemin…”

 

Tak ada reaksi.

 

”Taemin…bangun..”

 

Tak ada suara.

 

”Taem….ayolah, ini sudah malam.”

 

Nihil.

 

”Hyung, badannya panas…” ucap Minho begitu lirih dari ujung kasur. Tangannya menyentuh kulit Taemin yang pucat.

 

”Oh…tidak…tidak..” desis Key yang berubah menjadi panik. Umma Shinee itu bergerak-gerak gelisah, berjalan tanpa bolak-balik tanpa henti. ”Kita harus membawanya ke rumah sakit.”

 

Jonghyun yang sedari tadi berdiri di samping jendela angkat bicara, ”..di luar badai, mustahil.”

 

Mereka saling bertatapan. Lagi. Kini pandangan itu penuh dengan rasa takut, khawatir, cemas dan panik. Onew membalik tubuh Taemin yang telungkup, merasakan panas menyentuh kulitnya. Minho benar, tubuh Taemin benar-benar panas. Dan tak hanya itu, lebam kebiruan yang begitu kontras dengan kulit pucat sang dongsae tertera di sekitar pipi kirinya.

 

”Oh..Tuhan..oh tidak…” kembali Key bercoletah.

 

”Diam lah, Key!” gerutu Minho yang juga tak kalah panik.

 

”Bagaimana bisa kau menyuruhku diam?!” bentak Key membalas.

 

”Heh! Diam kalian berdua! Dia bangun!” Onew menengahi, dengan suara yang dua oktaf lebih tinggi dari pada kedua dongsaenya itu.

 

Tapi Onew benar. Karena kelopak mata Taemin bergerak kecil, membuka walau tak sempurna. Menampilkan mata hitam redup yang kini tampak kemerahan dan berair. Bibir pucatnya membuka, seakan hendak mengatakan sesuatu.

 

”…Hyung…” Bergumam. Serak menodai suara itu.

 

”…..sakit,” rengeknya lirih. Matanya bergulir sekali, mengernyit, rasa nyeri yang memukul-mukul kepala terasa bak godam. Nafasnya berhembus cepat, naik turun tanpa keteraturan. Keringat dingin keluar dari pori-pori tubuhnya, wajahnya merah padam.

 

Lalu manik itu kembali menutup.

Tenggelam dalam ketidaksadaran yang pekat.

 

”Taemin…”

 

”Taem…….”

 

”….Taemiiin!!!”

TBC

 

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


19 thoughts on “A Tormented Doll – Part I”

  1. Waah~ ini kenapa lagi pada demen bikin FF Taem yang sad terus? O.o kasian jagy tersiksa/PLAK
    tapi aku penasaran sama lanjutannya ^^

  2. Kenapa sih!!!

    PADA DAEBAK BANGET FFNYA

    Aku bener bener bingung,gaje dari mana?

    KEREN KEREN KEREN!!

    taemin,jadi inget foto dia lagi di bullying,,,,

    lanjut thor sseceeepetnyaaa

  3. @ all : makasih udah mau baca ff-ku *bow dalam2* aaaaah syukurlah kalau suka, gomawo minna~~~

    akan kuusahakan cepet, tapi beruhubung sekarang susah banget *udah kelas 3 jadi gak boleh ol sering2* kayaknya gak bisa cepet ;;;w;;;

    mian semuanya TTATT

  4. wah… itu taemin kenapa??

    kasian banget,, miris miris nasibnya di sini,,

    daebak banget ffmu author..
    aku tunggu part selanjutnya..

  5. annyeong, aku reader baru..
    entah kenapa aku pingin banget baca ff yang main castnya taemin,,
    .
    author,, ffmu ini,, daebak banget, permainan kata-katamu itu lho.. keren
    .
    ditunggu part selanjutnya, salam kenal..

  6. kenapa nasib Taem semalang ini??
    huwaaa…
    ga tega aku liat taem di keroyok orang…

    daebak. thor…
    aku tunggu part selanjutnya…

  7. daebak…
    sumpah demi apapun ffu bener2 daebak, author…

    mataku ampe berkaca2 bacanya… kasian banget taemin…

    aku tunggu part selanjutnya…..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s