You Are My Sun, The Moon – Part 3 (END)

You Are My Sun, The Moon

(part 3)-END

Author: Dilla Oktyra

Length: Sequel

Cast: Park Raena, Lee Jinki, Ok Taecyeon, Goo Tara, Lee Taemin, Choi Minho, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Kim Jungah

©2010 SF3SI, Freelance Author.


Jinki POV

Hari ini aku menawarkan Jungah untuk pulang bersamaku sebagai permintaan maafku soal kejadian kemarin di Fantasy World. Jungah mengiyakan. Ketika sedang berbicara dengan Jungah kulihat Raena bersama Taec hyung. Ini kesempatanku untuk membuat Raena berhenti mencintaiku, pikirku. Aku memegang dagu Jungah, mendekatkannya ke wajahku, dan menciumnya. Mianhae Jungah, aku memanfaatkanmu. Jungah langsung mendorong tubuhku, Raena dan Taec hyung sudah tidak tampak lagi.

Jungah: “Jinki-ssi, lo apa-apaan sih?” Jungah tampak kesal kemudian ia menamparku.

Aku: “Mianhae, Jungah-ssi… Gw benar-benar minta maaf.”

Jungah: “Lo tau kan gw udah punya cowo? Gimana kalo dia tau?” Jungah membentakku.

Aku: “Jeongmal mianhae, ntar gw jelasin deh.” Aku mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan pada Jungah, Jungah pun menerimanya, tetapi dia tampak menjauhiku. Kami tidak jadi pulang bersama. Aku kembali ke ruang Student Union, menyandarkan tubuhku di kursi, aku sangat lelah, hatiku sakit. Hatiku sakit dalam arti sebenarnya, aku memegang sekitar perutku. Hatiku yang lainnya juga sakit karena aku menyakiti Raena tadi, kutau pasti dia menangis saat melihatku mencium Jungah. Tapi itu kan emang yang aku inginkan, kenapa aku ini? Aku memang mau Raena jadi tidak mencintaiku lagi. Mianhae Raena, aku hanya tidak mau membuatmu lebih sedih.

Aku keluar dari ruang Student Union ,bersiap pulang menuju parkiran. Namun disitu kulihat Taec hyung tampak sangat marah. Ia menghampiriku dan… BUKK! Dia memukul wajahku.

Taec: “Kenapa lo kayak gitu depan Raena? Lo tau gak sih dia cinta sama lo?” Kemudian ia memukulku lagi, kini bagian kanan. Aku tidak melawan, aku hanya terdiam.

Taec: “JAWAB DONG! JINKI-YAA!!! Raena gak bisa berenti nangis, hati gw sakit liatnya,please…” Hati aku lebih sakit hyung, kataku dalam hati. Taec hyung mengarahkan kepalan tangannya ke arahku lagi, namun ia menghentikan gerakan tangannya.

Aku: “Kenapa berhenti, hyung? Lanjut aja! Ayo pukul!” Aku melihat ada darah di kemejaku, darah menetes dari hidungku, aku mengusapnya, tetapi darah itu terus menetes, tak berhenti. Taec hyung kaget melihat darah yang keluar dari hidungku.

Taec: “Jinki, lo kenapa? Gwaenchanha? Gw mukulnya kekerasan?” Tiba-tiba kepalaku sakit, kenapa lagi sih? Ahh sial, aku memegang kepalaku. Taec hyung panik dan kebingungan.

Aku: “Argggghhhhhhhh sakit…. “ Aku terus memegang kepalaku.

Taec: “Jinki, lo harus ke rumah sakit!”

Aku: “Gak usah hyung, bawa gw pulang aja!”

Taec: “Pokonya harus ke rumah sakit!” Taec hyung membentakku, ia memapahku sampai mobilku, ia mengendarainya. Di mobil aku terus menerus memegang kepalaku dan darah terus menetes dari hidungku. Badanku lemas sekali, pandanganku buram…

***

Taec POV

Aku mengendarai mobil Jinki dan mengantar Jinki ke rumah sakit. Ia kenapa? Kenapa darah yang keluar dari hidungnya tidak dapat berhenti. Apa aku memukulnya terlalu keras? Aku sangat panik dan khawatir. Sesampainya di rumah sakit, Jinki sudah tidak sadar. Perawat langsung membawa Jinki ke ICU. Aku menelpon Om Donghae mengabarkan keadaan Jinki. Om Donghae dan Tante Eunhye datang, aku langsung menghampirinya.

Taec: “Maaf,om, tante…Ini semua gara-gara Taec.”

Om Donghae: “Bukan salahmu kok, Jinki emang sakit. Cirrhosis” Om Donghae menjelaskan padaku dengan tabah. Kulihat tante Eunhye menangis dan Om Donghae memeluknya. Cirrhosis, penyakit apa itu? Aku mengambil Hpku dan browsing tentang Cirrhosis. Cirrhosis penyakit hati, kesempatan hidup sangat sedikit kecuali ada donor hati, bagaimana ini? Jinki? Tidak mungkin… Mengapa Jinki yang ceria dan konyol itu harus terserang penyakit seperti ini? Aku menyandarkan tubuhku di dinding menundukkan kepalaku. Tiba-tiba aku mengingat Raena, pasti ia tidak pernah tau. Apa karena ini Jinki menghindar dari Raena? Apa aku harus memberitau Raena? Eotteokhajyo??? What should I do? Tante Eunhye dan Om Donghae menyuruhku pulang menjaga Taemin. Esok harinya aku berniat mengajak Raena menemui Jinki di RS. Aku mengirim SMS pada Raena.

To: My Beautiful Moonlight

Raena, besok anterin aku yuu, nengok temen di RS…aku jpt jm 9

Beberapa saat kemudian dia membalasnya,aku tertawa kecil namanya di contacts ku masih My Beautiful Moonlight,hehe.

From: My Beautiful Moonlight

Boleh oppa, tmn oppa skt ap?

To: My Beautiful Moonlight

Belom tau, makanya kita kesana,OK?

From: My Beautiful Moonlight

OK

Esok paginya aku bersiap-siap menjemput Raena, kusiapkan juga mentalku untuk mengajak Raena menemui Jinki di RS. Berkali-kali aku menanyakan keadaan Jinki pada Om Donghae, ternyata sampai sekarang Jinki belum sadarkan diri. Kali ini aku mengajak Taemin, dia tau hyungnya sakit, Taemin yang biasanya cerewet jadi pendiam. Aku mengendarai mobil Jinki, selama di mobil aku dan Taemin sama sekali tidak berbicara. Kami sampai di depan rumah Raena, aku membunyikan klakson mobil kulihat Raena keluar dari rumahnya dengan senyum manisnya, huhh akhirnya ia masih bisa tersenyum.

Raena: “Annyeong, oppa… Eh ada Taemin, Taemin kenal juga sama temen Taecyeon oppa?” Taemin hanya mengangguk.

Aku: “Raena, udah gapapa kan? Grogi gak nih ketemu aku?” Aku menggodanya, mencoba mencairkan suasana.

Raena: “Apaan sih oppa, ngapain grogi? Weee” Ia menjulurkan lidahnya, cute sekali.

Raena: “Jinki oppa gak ikut? Kok mobilnya dipake oppa?” Raena mulai menanyakan soal Jinki, aku harus jawab apa? Aku hanya tersenyum. Kami sampai di RS, Raena menarik tanganku setelah keluar dari mobil.

Raena: “Oppa, beli bunga dulu yuu! Masa nengok orang sakit gak bawa apa-apa? Hehe… Bagusnya bunga apa ya?” Aku mengantar Raena ke kios bunga yang berada di depan RS, aku menyuruh Taemin masuk ke dalam RS terlebih dahulu. Raena memilih-milih bunga masih tersenyum, tak bisa kubayangkan bagaimana ekspresinya ketika melihat yang terbaring di RS adalah Jinki.

Raena: “Oppa, temen oppa suka bunga apa?”

Aku: “Gak tau, dia cowo jadi mana aku tau dia suka bunga apa. Kamu pilih yang paling kamu suka aja, pasti dia juga suka kok.” Raena mengambil bunga matahari. Setelah membeli bunga kami masuk ke RS, kutemui tante Eunhye masih menangis, Om Donghae mesih memeluknya dan Taemin terdiam. Kulihat Raena di sebelahku, ia tampak bingung.

***

Raena POV:

Taecyeon oppa mengajakku menjenguk temannya, setelah membeli bunga matahari, bunga favoritku untuk teman Taecyeon oppa, kami langsung masuk ke RS. Kulihat ada tante Eunhye, ia menangis di pelukan Om Donghae, dan Taemin duduk terdiam di ruang tunggu ICU.Ada apa sebenarnya? Kenapa tante Eunhye menangis histeris. Aku penasaran, aku bertanya pada Taecyeon oppa.

Aku: “Oppa, sebenernya siapa yang sakit?” Taecyeon oppa tidak menjawabku, ia menghampiri Om Donghae dan Tante Eunhye, aku hanya melihat dari kejauhan. Om Donghae menghampiri dokter kemudian Taecyeon oppa menghampiriku.

Taec: “Yuu masuk…” Taecyeon oppa mengajakku masuk ke kamar temannya.

Aku: “Emang boleh masuk ya oppa?”

Taec: “Om Donghae udah bilang sama dokter, oya bunganya simpen dulu disini, gak boleh dibawa masuk.” Aku mulai curiga, tak tau mengapa jantungku berdetak sangat kencang, aku mulai berkeringat. Aku dan Taecyeon oppa masuk ke ruang ICU. Kulihat seseorang terbaring di sana, banyak selang infus menempel pada tubuhnya. Kami mendekati orang itu, aku mencoba melihat wajahnya. Tiba-tiba kakiku lemas, sudah tak mampu berdiri lagi. Air mataku sudah menetes dengan derasnya, aku mengelus wajah orang itu, Jinki oppa. Aku menangis sekeras-kerasnya, Taecyeon oppa memelukku. Aku tak bisa menahan tangisku. Mengapa Jinki oppa ada disitu? Jinki oppa kenapa? Kenapa? Aku ingin bertanya pada Taecyeon oppa namun bibirku tak dapat bergerak. Aku mendorong tubuh Taecyeon oppa, keluar dari ruangan itu sambil menangis. Tante Eunhye menahanku dan memelukku, ia juga menangis.

Taente Eunhye: “Gwaenchanha Raena, Jinki pasti sembuh, kita harus berdoa buat Jinki.” Aku semakin menangis, aku mengatur nafasku untuk bertanya pada Tante Eunhye.

Aku: “Jinki oppa kenapa?”

Tante Eunhye: “Cirrhosis, sayang… Kanker hati, minta doanya ya Raen…” Gak mungkin, gak mungkin Jinki oppa yang tadi ada di ruangan itu, aku gak bisa percaya.

Semalaman suntuk aku menunggu Jinki oppa, aku memegang tangannya, menyandarkan kepalaku di atas badannya. Tiba-tiba aku merasakan genggaman tanganku pada tangan Jinki oppa semakin erat, ternyata Jinki oppa meremas tanganku. Aku langsung memanggil Om Donghae dan Tante Eunhye, dokter dan perawat pun datang, kami disuruh menunggu di luar. Jinki oppa sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan, ia sudah membuka matanya. Aku menghampiri Taecyeon oppa yang sedang bermain PSP bersama Taemin.

Aku: “Rame ya?”

Taec: “Raen, kamu tidur deh, matanya udah bengkak gitu, kayak zombie, iya kan Taemin?”

Taemin: “Iya noona, ngaca deh! Hehe” Aku melihat layar Hpku, benar saja aku sudah seperti zombie. Tiba-tiba Tante Eunhye memanggilku.

Tante Eunhye: “Raena, Jinki mau bicara katanya…” Wahh Jinki oppa akhirnya mau ngomong sama aku. Aku langsung ke kamar Jinki oppa. Aku duduk di sebelah ranjangnya, memegang tangannya.

Aku: “Kenapa oppa?”

Jinki: “Kenapa kamu disini? Taec hyung ngasih tau kamu?” Aku mengangguk pelan.

Jinki: “Sial!” Ia tampak kesal

Aku: “Emang kenapa oppa? Kenapa oppa rahasiain semua ini dari Raena,kenapa?” Aku mulai menangis.

Jinki: “Mianhae, Raena. Kamu emang gak perlu tau…”

Aku: “Apa aku gak berarti buat oppa?” Aku makin menangis, Jinki oppa mengecup punggung tanganku.

Jinki: “Karena kamu terlalu berarti, makanya aku gak mau kamu tau.” Wajahku mulai memerah, tiba-tiba dia menarik tanganku, mendekati wajahnya hingga wajahku hanya berjarak 5cm dari wajahnya.

Jinki: “Saranghae, Park Raena…” Jinki oppa mencium keningku. Aku tidak bisa berkata apa-apa, aku kaget, senang, sedih…

Aku: “Saranghae, Lee Jinki oppa…” Aku langsung mencium pipi Jinki oppa.

Jinki: “Aku sangat bosan disini, pengen pulang…”

Aku: “Belum boleh oppa, oppa masih harus istirahat disini.”

Jinki: “Tapi aku udah gapapa, Raena, sehat banget sekarang…” Ia mencoba berdiri, namun terjatuh, aku langsung memeluknya.”

Aku: “Tuh kan oppa, belom boleh pulang…” aku memapah Jinki oppa kembali ke tempat tidurnya. Taecyeon oppa masuk ke kamar Jinki oppa.

Taec: “Jinki, maaf gw ngajak Raena kesini.”

Jinki: “Gapapa hyung, gomawo.” Jinki oppa tersenyum pada Taecyeon oppa.

Jinki: “Raena, bisa keluar bentar gak, aku mau bicara sama Taec hyung.” Aku mengangguk, aku keluar kamar Jinki oppa, sebenarnya aku penasaran, apa sih yang akan mereka bicarakan?

***

Jinki POV:

Kepalaku masih sangat sakit, tapi aku senang Raena selalu berada di sampingku dan akhirnya aku telah menyatakan perasaanku padanya. Saat ini aku hanya bersama Taec hyung di kamarku, aku menyuruh Raena keluar sebentar.

Aku: “Hyung, harusnya hyung gak bawa Raena kesini…”

Taec: “Kalo gw gak bawa Raena kesini belom tentu lo sadar sekarang,hehe…” Taec hyung tersenyum miris.

Aku: “Hahaha, bener juga… makasih ya hyung…Hyung mau bantu gw kan?” Taec hyung mengangkat alisnya.

Aku: “Gw bosen disini, pengen jalan-jalan sama Raena. Tolong dong hyung suruh eomma n appa pulang, Taemin juga…”

Taec: “Lo mau kabur? Stress lo!”

Aku: “Please hyung, yaa…yaaa…” Taec hyung akhirnya menurut, ia keluar kamarku dan berbicara pada eomma dan appa. Aku menemukan notes di kamarku, aku menyobek selembar kertas dan mulai menulis. Beberapa saat kemudian Taec hyung kembali ke kamarku.

Taec: “Beres, mereka udah balik… Raena nungguin di luar, tadi udah gw ceritain lo mau ngajak dia kabur,hehe” Aku menyerahkan selembar kertas yang sudah kulipat pada Taec hyung.

Taec: “Apaan nih?”

Aku: “Bacanya ntar aja, jangan sekarang…” Taec hyung tampak bingung. Aku segera mengganti pakaianku, memakai topiku, melepas selang-selang sialan ini dari tubuhku dan meninggalkan Taec hyung di kamar perawatanku. Aku menemui Raena yang sedang duduk di ruang tunggu. Taec hyung sekarang berada di kamarku mengenakan pakaian pasien, berperan sebagai diriku. Aku menarik lengan Raena pelan.

Raena: “Oppa, kita mau kemana?” Aku tidak menghiraukannya, kami sampai di luar RS.

Aku: “Huhhh,akhirnyaaaaa… Enaknya kita kemana ya? Fantasy World?”

Raena: “Ntar oppa kecapean, kita balik lagi yuu!” Raena tampak khawatir.

Aku: “Aku mau ke Fantasy World pokonya!” Aku menarik tangan Raena, kami menaiki bis ke arah Fantasy World. Dengan keadaanku seperti ini tak mungkin aku menyetir mobil.

Kami berdua tiba di Fantasy World untungnya hari ini hari Rabu, jadi Fantasy World sangat sepi hanya ada satu rombongan dari suatu SD. Kami menjelajahi semua wahana yang ada sampai malam bahkan Fantasy World hampir tutup. Sebenarnya ketika di Fantasy World kutau Raena tampak gelisah ,tetapi ia mencoba menyembunyikannya ia tetap tersenyum dan tertawa bersamaku. Kulihat jam tanganku, ternyata sudah jam 8 malam. Kami selesai bersenang-senang di Fantasy World ,namun aku belum puas. Aku masih ingin bersama Raena di sini, aku tidak ingin kembali ke RS yang membosankan itu dan aku tidak mau tubuhku dipasang selang-selang sialan itu. Aku dan Raena sedang duduk di Flower Park yang ada di Fantasy World, pemandangan di sini sangat indah, apalagi ditambah hiasan-hiasan lampunya. Akan tetapi Raena tiba-tiba berdiri dan menarik lenganku dengan lembut.

Raena: “Oppa, udah malem, pulang yuuu! Pasti pada nyariin oppa deh, ntar Raena kena marah Om Donghae sama Tante Eunhye lagi…”

Aku: “Kan Taec Hyung lagi jadi aku sekarang, hehe…” Kulihat Raena masih tampak gelisah.

Raena: “Tapi kan dokter, suster, Om Donghae, Tante Eunhye gak sebabo oppa, pasti udh ketauan dari tadi. Kalo Raena gak matiin telpon pasti udh banyak banget telpon yang masuk.” Raena menggembungkan pipinya.

Aku: “Ya udah, ayo pulang!” Aku berdiri dan kami berjalan menuju halte bus. Di dalam bus sangat sepi, hanya ada dua penumpang lain selain kami, pasangan juga, sepertinya mereka juga baru dari Fantasy World.

Saat di bus aku menyandarkan kepalaku pada Raena, kulihat ia memandang jalanan dengan tatapan kosong, dia pasti sangat khawatir padaku. Sebenarnya aku gak mau Raena terlalu mengkhawatirkanku, aku mencoba mencairkan suasana.

Aku: “Raena, suka gak sama Taec hyung?” Raena tak menjawab, ia mengerucutkan bibirnya. Ternyata aku bukannya mencairkan suasana, sepertinya malah membuatnya kesal, tapi aku terus mencoba bertanya padanya.

Aku: “Pasti suka kan? Taec hyung kan baik sama kamu, sayang banget lagi sama kamu. Terus dia lebih ganteng dari aku, lebih tinggi diri aku, naek motor, anak kuliahan lagi, apa kurangnya coba? Hehe…”

Raena: “Oppa nanya apa sih? Kenapa oppa nanya kayak gitu?” Raena makin kesal, sebenarnya aku hanya ingin tau apakah Taec hyung orang yang tepat untuk membuat Raena segera melupakan aku, mianhae Raena…

Kami berdua terdiam, tiba-tiba kurasakan hatiku sangat sakit, kepalaku juga sangat sakit,ahhh mudah-mudahan darah tidak menetes dari hidungku sekarang, waktunya sangat tidak tepat masih banyak yang ingin aku bicarakan dengan Raena. Perjalanan masih cukup jauh, aku mencoba mencairkan suasana lagi.

Aku: “Hmmm kamu masih suka gak sama Jjong? Kamu lumayan lama kan pacaran sama dia? Waktu liat kalian pacaran aku sempet iri loh, abis kalian mesra bener kayak pelm Indihe,hehehe…”Raena tidak merespon, tampaknya aku gagal lagi mencairkan suasana, biasanya Raena cepat sekali tertawa jika aku mencoba mencairkan suasana, tetapi kali ini tampak berbeda, ia pendiam sekali.

Aku: “Kok Raena diem aja, jawab dong…aku gak diwaro, sedih deh…” Kataku sambil sedikit menggodanya, ia masih belum merespon.

Aku: “Senyum kamu mana, Raen? Apa aku harus joget2 ala Pa Jokwon atau harus nyanyi lagu-lagu alay ala Jjong? Hehe…” Raena masih terdiam, dia kenapa sih. Aku menegakkan kepalaku, memegang dagunya dan mengarahkan kepalanya ke arahku, kutatap matanya, matanya merah, ia menangis, kenapa?

Aku: “Raena, kamu gapapa kan?”

Raena: “Kenapa sih oppa nanya kayak gitu?” Katanya pelan, sangat pelan hingga aku hampir tidak dapat mendengar suaranya yang parau karena isak tangis. Aku langsung memeluknya.

Aku: “Mianhae, Raena… Aku gak maksud bikin kamu nangis…”

Raena: “Oppa kan tau, aku cuma suka sama oppa…” katanya masih sambil menangis, aku jadi geer karena ucapannya itu,hehe. Kuhapus air matanya dan tersenyum padanya. Kemudian aku mencium keningnya. Duhh kenapa kepalaku tambah sakit, hatiku….arghhhhhhhhhhhh sakit sekali, tetapi aku masih berusaha tersenyum pada Raena. Aku melepaskan pelukanku, menyandarkan kepalaku di kursi, ingin rasanya memukul kepalaku, pake palu atau panakol kalo perlu, tetapi ada Raena di sebelahku, ia pasti khawatir. Pandanganku sudah mulai agak buram, tidaaaak jangan sekarang… Raena mendekatkan wajahnya dengan wajahku, kemudian ia menyentuh bagian bawah hidungku.

Raena: “Ya ampun, oppa mimisan lagi, eotteohke?” Kenapa darah ini harus menetes sekarang??? Kulihat Raena sangat panik, ia mengeluarkan ponselnya. Aku, memegang tangannya yang memegang ponsel.

Aku: “Raena, jangan kasih tau siapa-siapa dulu, kalo mereka tau pasti mereka jemput aku dan aku akan langsung kembali ke RS yang membosankan itu, aku masih ingin bersama kamu, Raena…” Aku memelas padanya… Tapi ia tidak menghiraukanku, ia terus berkutat dengan ponselnya, sepertinya mengirim SMS pada seseorang. TIDAK,pandanganku tambah buram, rasanya ingin aku menutup mataku, seluruh badanku sakit dan lemas karena mengeluarkan banyak darah. Kudengar sayup-sayup suara Raena menangis…

Raena: “Eotteohke? Eotteohke? Oppa, jangan kayak gini dong oppa…Oppa harus bertahan….” Suara Raena yang kudengar volumenya semakin kecil, tak tau apa Raena yang mengecilkan suaranya atau pendengaranku yang sudah mulai eror. Kepala ini makin sakit, hatiku sakit… hatiku yang lainnya juga sangat sakit karena melihat Raena menangis…Tidak…jangan menangis Raena…

Aku: “Jangan nangis Raena, matahariku gak boleh nangis, ntar banjir…” Aku masih berusaha membuatnya tersenyum. Tiba-tiba suara tangisan Raena terdengar semakin pelan, aku dapat merasakan Raena sedikit mengguncang badanku, tetapi kenapa aku tidak dapat merasakan apa-apa? Aku sangat kedinginan seperti berada dalam freezer ,namun ini lebih dingin padahal sekarang sudah mulai musim panas. Saat ini aku benar-benar sudah tidak dapat merasakan apa-apa, suara Raena pun sudah tak terdengar lagi, penglihatanku sudah sangat buram… Tiba-tiba kenanganku dari masa kecil, kenangan indah bersama Raena, keluargaku, dan sekolah berada di pikiranku, aku seperti menonton film di bioskop tentang kisahku sendiri.

***

Taec POV

Aku mengenakan pakaian pasien Jinki, berperan sebagai dirinya dan tidur di tempat tidur pasien. Om Donghae Tante Eunhye dan Taemin sudah aku suruh pulang karena mereka sangat lelah sekali berhari-hari menjaga Jinki. Padahal sebenarnya ada alasan lain aku menyuruh mereka pulang, Jinki sedang berencana kabur bersama Raena dan aku mencoba membantunya. Sebelum pergi Jinki memberiku secarik kertas, kira-kira apa isinya ya? Tapi Jinki melarangku membacanya, ia bilang kuharus membacanya nanti, yaa tapi nanti itu kapan? Kupandangi terus kertas yang terlipat itu, aku akhirnya membacanya…

Taec hyung, hyung gw yang paling ganteng –jangan geer,hahaha-

Makasih udah dateng ke Seoul dan tinggal di rumah gw,juga makasih mau kenal dan ikut jaga Raena juga… Gw seneng ada orang lain selain gw yang sayang sama Raena, jadi kalo aku gak ada masih ada yang bisa jagain Raena,hehe… Makasih juga udah ikut jagain eomma, appa, n Taemin.

Hyung, maaf ya kalo sering ngerepotin, maaf kalo bentar lagi sepertinya Hyung bakal ngejagain eomma, appa, Taemin, dan RAENA sendirian, maaf banget hyung…Oya kalo Taemin minta beliin kaset Wii jangan mau bliin hyung, dia gak boleh dimanja lagi, kan dia udh SMA,hihi…

Sekali lagi makasih hyung, jangan kangen berantem tonjok-tonjokan sama gw,hahaha

Jinki yang jauh lebih ganteng dari hyung

Apa-apaan sih si Jinki? Isi suratnya aneh banget. Aku melipat kembali kertas itu dan memasukkannya ke sakuku. Aku memainkan ponselku dan menonton TV sambil menunggu Jinki dan Raena kembali, ahh kenapa mereka lama sekali? Gimana kalo Om Donghae dan Tante Eunhye keburu kesini? Sudah jam 7 ,tetapi Jinki dan Raena belum kembali, mereka kemana sih? Aku mencoba menelpon Raena tapi tidak diangkat, tampaknya ponselnya dimatikan.

Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar, aku berpura-pura tidur dan menutup seluruh badanku dengan selimut. Orang itu menghampiri tempat tidur, dari suaranya sepertinya Om Donghae dan Tante Eunhye.

Tante Eunhye: “Jinki, kamu udah baikkan, sayang?” tanya Tante Eunhye lembut, aku merasa sedikit bersalah, gimana nih kalo ketauan?

Om Donghae: “Yeobo, kenapa selang infus Jinki dilepas? Coba buka selimutnya!” Ohhh tidak Om Donghae sangat peka, cepat sekali ia menyadari bahwa yang tertidur di tempat tidur ini bukan Jinki. Tante Eunhye membuka selimutnya, aku melihatnya sambil tersenyum.

Om Donghae: “Taecyeon-ah mana Jinki? Kenapa kamu disini?” Om Donghae sedikit membentakku.

Aku: “Maaf om, tapi Jinki,hmmmmm…” aku tak tau harus jawab apa, gimana kalo Raena disalahin?

Tante Eunhye: “Jinki kemana, Taecyeon-ah? Jawab aja yang jujur, kami gak akan marah kok…”

Aku menjelaskan tentang rencana Jinki untuk pergi bersama Raena, Om Donghae terlihat sangat marah, marah padaku juga sepertinya. Om Donghae dan Tante Eunhye menyuruhku kembali menghubungi Raena, namun tetap tidak diangkat. Kami hanya bisa menunggu mereka.

20.20

-Tik Tok Tik Tok Tik Tok neoman boyeo…-

Ponselku berbunyi, kuambil ponselku dari saku celanaku. SMS dari Raena.

From:My Beautiful Moonlight

OPPA, EOTTEOHKE? JINKI OPPA MIMISAN LAGI… KAMI MASIH DI BUS MENUJU KE RS

SMS dari Raena penuh dengan capslock, pasti dia sangat panik ketika sedang mengetiknya. Kemudian aku membalasnya, aku belum menunjukkan SMS ini pada Om Donghae dan Tante Eunhye.

To: My Beautiful Moonlight

Gwaenchanha Raena, jgn panik. Ap klian prlu dijpt? Klian dmn?

Raena tidak membalas SMSku, apa mereka baik-baik saja? Kulihat Tante Eunhye mulai menangis di pelukan Om Donghae. Tiba-tiba ponselku berbunyi lagi.

-Listen to my Heartbeat (It’s beating for you) Listen to my Heartbeat (It’s waiting for you)-

Kali ini telpon dari Raena, aku langsung mengangkatnya.

Aku: “Raena, kamu dimana?” Kudengar ia menangis.

Raena: “Oppa, eotteohke? Jinki oppa….hiks…Jinki oppa….” Ia menangis lagi.

Aku: “Jinki kenapa?” Ketika aku menyebut Jinki Om Donghae dan Tante Eunhye langsung menghampiriku, aku menggunakan loud speaker di ponselku supaya Tante Eunhye dan Om Donghae dapat ikut mendengar.

Raena: “Hiks, Jinki oppa badannya dingin, keringetan, tapi aku bangunin dia gak mau bangun…” Om Donghae langsung mengambil ponselku.

Om Donghae: “KAMU DIMANA SEKARANG RAENA?” Om Donghae membentak Raena, kulihat Tante Eunhye menangis.

Raena: “Di halte.” Om Donghae  langsung mematikan telpon dan berbicara dengan dokter ternyata Om Donghae menyuruh ambulans menjemput Raena dan Jinki.

***

Raena POV

Aku: “Eotteohke? Eotteohke? Jinki oppa…..jangan kayak gini, oppa…Bangun… Buat aku ketawa lagi, OPPA!!!” Aku mulai berteriak pada Jinki oppa berharap Jinki oppa bangun. Kami berada di halte, tadi supir bus dan 2 orang yang berada dalam satu bus dengan kami membantuku membawa Jinki oppa turun dari bus. Supir bus dan 2 orang itu masih bersama kami, kulihat cewe yang merupakan salah satu dari 2 orang penumpang itu menangis dan memeluk seorang cowo yang pasti kekasihnya. Kukira mereka mengasihaniku, saat ini aku tidak butuh dikasihani, aku hanya butuh Jinki oppa bangun sekarang. Aku sangat panik, aku telpon Taecyeon oppa.

Taec: “Raena, kamu dimana?”

Aku: “Oppa, eotteohke? Jinki oppa….hiks…Jinki oppa” Aku tidak bisa menahan tangisku, aku mencoba mengatur nafasku.

Taec: “Jinki kenapa?” Bagaimana aku harus mendeskripsikannya???

Raena: “Hiks, Jinki oppa badannya dingin, keringetan, tapi aku bangunin dia gak mau bangun…” Aku masih terus menangis.

Om Donghae: “KAMU DIMANA SEKARANG RAENA?” Suara yang berbicara denganku berubah, bukan suara Taecyeon oppa, sepertinya suara Om Donghae, ia membentakku.

Raena: “Di halte.” Jawabku singkat, Om Donghae langsung menutup telponnya, pasti dia sangat marah padaku. Namun aku tidak peduli, aku hanya ingin Jinki oppa membuka matanya dan tersenyum padaku.

Beberapa saat kemudian ambulans datang, aku ikut dengan ambulans menuju RS. Aku terus memegang tangan Jinki oppa yang semakin dingin, darah yang menetes dari hidungnya belum berhenti. Oppa….bangun!!! Kami sampai di RS, Jinki oppa langsung dibawa ke ICU. Aku dapat melihat Taecyeon oppa, Om Donghae dan Tante Eunhye sudah menunggu dan mereka segera mengikuti Jinki oppa. Kami sampai depan ruang ICU dan hanya bisa menunggu di luar, tangisku tak bisa berhenti. Air mata ini terus keluar, nafasku mulai tidak beraturan. Ada yang menghampiriku, Tante Eunhye, tiba-tiba PLAKK… Tante Eunhye menamparku.

Tante Eunhye: “BERANI-BERANINYA KAMU BAWA JINKI PERGI, KAMU GAK LIAT KEADAAN JINKI SEKARANG? Hiks…INI SEMUA SALAH KAMU!!!” Tante Eunhye membentakku sambil menangis, aku pun semakin menangis. Ada yang menarik tanganku dan memelukku, Taecyeon oppa.

Taec: “Tante, ini bukan salah Raena, ini salah Taec. Harusnya Taec cegah mereka pergi, tante. Maaf…” Taecyeon oppa membelaku. Tante Eunhye tidak menjawab ia terus menangis dalam pelukan Om Donghae. Kepalaku terasa berat, mungkin karena menangis terus. Tiba-tiba dokter keluar, Tante Eunhye dan Om Donghae menghampiri dokter. Aku ingin ikut kesana tapi Taecyeon oppa menahanku. Kulihat Tante Eunhye tampak lemas, badannya sempoyongan, Om Donghae langsung memeluknya. Aku dan Taecyeon oppa menghampiri mereka, tiba-tiba Tante Eunhye memelukku sambil menangis aku hanya bisa terdiam, pikiranku kosong.

Tante Eunhye: “Raena, maafin tante yaa sayang, hiks…Maaf juga Jinki gak bisa ada di sebelah kamu lagi mulai sekarang.” Aku berharap apa yang dikatakan Tante Eunhye hanya bohong, aku sangat berharap ini semua adalah sinetron dimana sutradara dapat meng-CUT adegan ini atau aku berharap ini mimpi dan saat aku terbangun aku masih ada di dalam bus kemudian melihat Jinki oppa berada disebelahku dan tersenyum padaku. GAK MUNGKIN!!! Pandanganku buram, seketika aku tidak dapat melihat apa-apa lagi.

***

…3 Tahun Kemudian

Eomma mendandaniku cukup heboh, ia memaksaku mengenakan dress berwarna emerald green yang ia beli di CiMall.

Aku : “Duhh eomma, heboh banget sih?” Eomma memakaikan lipstik berwarna nude pink pada bibirku.

Eomma: “Udah diem aja, kamu harus cantik pokonya. Kan ini hari bersejarah, hehe.”

Aku: “Bersejarah apanya? Bersejarah buat oppa, bukan buat aku.”

Eomma: “Ya, bersejarah buat kalian berdua kalau kalian menikah nanti,hehehe” Eomma menggodaku.

TINN…TINN…

Kudengar suara klakson dari mobil depan rumahku, mobil biru yang sangat kukenal.

Eomma: “Tuh Raen, udah dijemput… cepet pake sepatunya!” Aku memakai sepatuku yang warnanya senada dengan dress dan aku langsung pergi menuju mobil biru itu. Kulihat di dalam mobil sudah ada Tante Eunhye yang duduk di belakang bersamaku dan Taemin, di kursi penumpang depan ada Om Donghae dan pengemudinya orang yang sangat kukenal. Orang itu membalikkan badannya mengarah padaku dan memberikan senyum manisnya yang lengkap dengan lesung pipinya, Taecyeon oppa. Taecyeon oppa sangat tampan dengan jas hitamnya dan dasi berwarna hijau, warna dasinya sangat mirip dengan warna dress-ku. Pasti eomma yang membelikannya untuk Taecyeon oppa, pikirku.

Hari ini adalah hari bersejarah untuk Taecyeon oppa, ia sekarang sudah menjadi Sarjana Hukum dan siap menjadi seorang pengacara. Kami akan pergi ke wisuda Taecyeon oppa, aku tentu diajak, karena, hmmmmm dia tunanganku…

Sudah 3 tahun Jinki oppa tidak disebelahku, aku sangat kangen padanya, apa yang Jinki oppa lakukan sekarang ya? Pasti dia lagi ngebanyol dan bikin ketawa temen-temen barunya, pikirku.

***

“Ok Taecyeon”

Kudengar nama Taecyeon oppa dipanggil, Taecyeon oppa yang berada di sebelahku berdiri dan menuju podium. Betapa bangganya aku sama Taecyeon oppa. Acara wisuda selesai, kami semua menuju mobil biru itu lagi. Tetapi sebelum masuk mobil, Taecyeon oppa memelukku dari belakangku dan memberikan sesuatu ke tanganku, sebuah kertas. Di mobil aku membuka lipatan kertas itu dan membacanya.

Raena, kamu mau kan jadi matahari saat siangku dan bulan saat malamku?

Menikahlah denganku! KAMU HARUS BILANG IYA!!!

Ok Taecyeon, oppamu yang paling OK! –hehehe-

THE END

PS: Thank You yang udah baca dan komen, semoga kalian suka…Maaf kalo endingnya tidak sesuai dengan harapan kalian, hehe… Maaf juga kalo banyak salah-salah,hhe…

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


14 thoughts on “You Are My Sun, The Moon – Part 3 (END)”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s