Love Me – Part 8

Love Me

Author: Shayleeshr

Main Cast: Kim Kibum, Lee Jinki, imaginary character

Support Cast: Other SHINee members, imaginary character

Length : Sequel

Genre : Romance, Family, Friendship

Rating : General

©2010 SF3SI, Freelance Author.

CHAPTER EIGHT

Lee Jinki POV

Entahlah. Aku tidak mau peduli dengan apa yang sedang dibicarakan Key dan Charin sekarang. Apa yang sedang mereka tertawakan saat Key menunggu giliran foto. Aku gelisah. Disatu sisi aku tidak mau melihat Charin terluka atas sikap Key pada Nicole. Disisi lain aku juga tidak ingin melihat Key dan Charin seperti ini. Disisi yang lain lagi, aku juga tidak bisa melukai perasaan Key yang notabenenya adalah ‘adik’-ku disini. ARGGHHHH!!

“JINKI-AH~! JANGAN MENJAMBAK-JAMBAK RAMBUTMU SENDIRI! NANTI TATANANNYA RUSAK!” teriak Kiyeon onnie yang berdiri dibelakang fotografer. Aku hanya bisa tersenyum tipis dan membungkuk.

Aku melihat Charin melirikku karena teriakan Kiyeon onnie barusan. Lalu ia tersenyum dan megacungkan kepalan tangan kanannya kearahku. “Hwaiting!” ujarnya. Mendengar itu, aku kembali berkonsentrasi dengan pemotretan teaser pic-ku.

“Ya Jinki, fokus. Ini frame terakhir!”  Fotografer itu memotretku beberapa kali, dan sesiku pun selesai.

Aku mengambil posisi duduk di belakang para penata rias disebelah Minho dan Jonghyun lalu memakan jatah makan siangku. Sekarang masih giliran Taemin yang berfoto. Sedangkan si Almighty masih sibuk bercanda dengan Charin. Aku heran dengan Minho. Mengapa ia tidak menggubris mereka sama sekali? Atau memang ia sudah mencoba tapi dipelototi Key?

“Hyung” panggil Minho. “Kau terlihat frustasi”

“Hmm?” aku hanya mengangkat wajahku agar ia tau mulutku penuh dengan makanan.

“Frus.ta.si” ulangnya lagi.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.

“Gara-gara mereka?” Minho menunjuk kearah Charin dan Key.

Aku menghela napas. Memberku yang satu ini walaupun dia terlihat pendiam, tapi sangat peka terhadap sekitarnya. Minho bisa tau apa yang member lain rasakan hanya walaupun tidak ada yang mengatakan secara langsung padanya.

Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan Minho. “Tenanglah Hyung. Masih ada banyak jalan menuju Roma”

“Jalan apa?” Tanya Taemin tiba-tiba.

“Jalan menuju Roma” jelas Minho.

Taemin mengangguk. “Iya Hyung! Kau bisa naik kereta dari Spanyol mungkin hanya dua jam. Lalu kalau dengan mobil dari Paris mungkin tiga jam. Tapi kalau kau dari Korea, naik pesa…”

“Taemin, Ini peribahasa. Bukan arti yang sebenarnya!” Tengahku.

“..Wat. Yah! Onew Hyung kau galak sekali pada magnae mu ini” Taemin menampakkan tampang melasnya sambil duduk disebelah kiriku.

Tiba-tiba Charin datang menghampiri kami, sepertinya sekarang sedang giliran Key. Wajahnya terlihat cerah walaupun aku tahu tadi pagi waktu ia kesini ia masih sangat mengantuk.

“Duduk noona” tawar Taemin.

“Duduk dimana?” Tanya Charin. Ternyata bangkunya hanya ada empat.

“Kau bisa duduk dipangkuanku kalau kau mau noona!”

“Ya babo! Tak akan kubiarkan!” Minho menjitak kepala Taemin pelan.

“Aku kan hanya menawarkan Hyung.” Taemin mengelus-elus kepalanya.

“Hahaha. Memangnya kau kuat Taemin-ah?” goda Charin.

“Noona. Kau jangan meremehkanku. Bahkan kalau kau mau, aku akan menggendongmu dari sini sampai dorm” ujar Taemin, kemudian Taemin mengkeret karena dipelototi oleh mata besar Minho.

“Kau duduk sini, biar aku yang berdiri” Minho menarik tangan Charin dan mendudukkannya dibangku sebelah aku duduk. Aduh Umma.. Kalau anakmu ini mati kena serangan jantung. Tuntut saja Minho. Ini semua salahya.

“Annyeong” sapa Charin sambil tersenyum padaku. “Kenapa kau lesu sekali oppa?”

“Ah memang iya? Padahal aku baru makan” jawabku.

“Pasti tidak makan ayam ya?” Aku tertawa mendengarnya,”Kau tau saja”

“Ah oppa! Chicken lovers sepertimu kan sudah terlihat jelas. Tidak semangat tanpa ayam” ujarnya cekikikan.

“Apa kau sudah makan?”

Ia mengangguk mantap, “Sudah. Tadi aku sudah makan bekal buatan Key oppa” My bad. Aku seharusnya tidak bertanya seperti itu. Ini malah membuatku semakin pusing.

Aku tersenyum tipis, “Baguslah”

~~~

“Eeh.. Oppa. Gwenchana?” Tanya Charin saat aku terduduk lesu di sofa saat sampai rumah.

“Ne. Gwenchana” aku tersenyum. Memang sebenarnya daritadi aku merasa pusing, kupikir dengan tidur pusingnya akan hilang.

“Oppa terlihat pucat” ujar Charin lagi.

“Iya, aku mengantuk. Aku tidur dulu ya Charin-ah”

Aku berjalan lunglai kedalam kamar kami, dan merebahkan badanku di kasur yang paling tengah. Sebenarnya aku tidak bisa tidur, bayangkan, bagaimana aku bisa tidur kalau pikiranku selalu melayang ke tempat pemotretan teaser tadi? Membayangkan Charin dan Key berpegangan tangan, berpelukan, berci..ANI ANI ANI~!!

Tok.Tok.Tok.

“Oppa, apa kau sudah tidur?” Sebelum pintu dibuka, aku langsung menenggelamkan seluruh badanku dibalik selimut, dan berpura – pura tidur.

Aku bisa merasakan Charin yang mendekat kearahku. Aku mengintip sedikit dari celah yang ada di selimut. Ia meletakkan sesuatu di atas cabinet buku-buku milik Minho dan kembali berjalan ke kasurku.

Ia duduk diujung kasurku, dan perlahan membuka selimut yang menutup wajahku. Omo Tuhan selamatkan aku! Aku masih terus berusaha memejamkan mataku agar terlihat benar-benar tertidur. Charin mengelus pelan kening dan pipiku. Tangannya halus sekali. Lalu lama kelamaan tangannya turun ke dadaku dan menyusup kedalam bajuku. Omona! Ia ingin melakukan hal yang macam-macam padaku!

“Charin-ah!” ia terlihat kaget melihatku yang tiba-tiba terbangun, dan langsung menarik kembali tangannya yang tadi sudah ada dibalik bajuku.

“Mianheyo oppa. Jeongmal mianheyo. Aku tidak bermaksud..”

“Charin-ah..” aku menatap matanya lekat-lekat. Ia terlihat panik.

“Oppa..” aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. “Tunggu dulu – tunggu dulu!” ia mendorong badanku ke tempat tidur sehingga aku menjadi berbaring kembali.

“Aku disuruh Jjong oppa mengukur temperature tubuhmu dengan ini!” ia mengacungkan sebuah thermometer yang ia pegang di tangan kanannya. “Aku tidak tega membangunkanmu karena kau terlihat sangat lelah. Mianhe jika membuatmu terbangun. Aku hanya khawatir melihatmu seperti tadi oppa” jelasnya.

“Oppa mau memasangnya sendiri?” tanyanya. Aku menggeleng. “Baiklah” tangannya kembali masuk kedalam bajuku dan meletakkan thermometer itu di lipatan lenganku.

“Jangan banyak bergerak oppa. Aku sudah membuatkanmu teh” ia berdiri dan mengambilkan sebuah cangkir yang ia bawa tadi. “Dan ini obatnya. Minum dulu”

Aku tersenyum melihatnya dan semua perhatiannya. Ah, Andai saja aku mempunyai yeojachingu. Mungkin tidak akan jadi seperti ini ujungnya (-p..q-)7. Aku menelan obat yang tadi dibawa Charin dengan semangat, sehingga membuatku terbatuk sedikit.

“Eeeeh? Gwenchana?” tanyanya.

“Ne gomawo”

Ia tersenyum manis. “Cheonmaneyo oppa” ia mengambil cangkir yang aku pegang dan menaruhnya di lantai.

“Cepat sembuh ya! Semua shawol sangat merindukan kalian”  Ia mengusap pipi kananku cepat dan langsung pergi keluar dengan cangkir kosong ditangannnya.

UMMA! Mungkin aku tidak akan sembuh dalam waktu dekat kalau ia terus bersikap seperti ini! Yang ada demamku makin tinggi karena ia mengusap seperti itu! Aigoo, aku bisa jamin mukaku pasti merah sekali sekarang. Jeongmal gomawo Charin-ah!

~*~

Charin POV

“Dan ini obatnya. Minum dulu” aku menyerahkan sebuah tablet obat yang tadi sudah kubawa dari luar beserta cangkir teh ke tangan Onew oppa. Ia hanya tersenyum, lalu meminumnya cepat – cepat sehingga membuatnya sediki tersedak.

Aigoo! Bagaimana bisa Tuan dan Nyonya Lee mempunyai anak setampan ini? Pipinya sedikit chubby, putih mulus dan menggemaskan. Aih aku ingin sekali mencubitnya. Orangnya lembut, perhatian dan baik hati. Selalu bisa menjadi panutan bagi member yang lebih muda darinya. Dan Onew sangtae-nya.., hihihi

“Eeeeh? Gwenchana?”

“Gwenchana Charin-ah. Gomawo”

Aku tersenyum “Ne. Cheonmaneyo oppa” Aku mengambil cangkir yang Onew oppa pegang lalu meletakkannya di lantai dekat kakiku. Onew oppa tersenyum. “Cepat sembuh ya! Semua Shawol merindukan kalian” Aku mengusap pipi kanannya  dan langsung keluar kamar sambil membawa cangkir kosong tadi.

Ya! Jeongmal babo-ya! Charin! Mengapa kau bisa berlaku serendah itu?! Aduh babo! Kalau Onew oppa malah marah gimana? Ah aduh! Minho aku mau pulang!

“Hey-hey-hey! Kenapa kau terus memukuli kepalamu seperti itu?” Minho oppa menahan tanganku yang berusaha memukul-mukul kepalaku lagi.

“Naneun Baboooooooo”

“Ya! Kau mengataiku babo?!”

“Babo babo babo babo babooooo! Heeeeeeeh.. Aku akan benar-benar pindah dari sini”

“Mwo?”

“Ba..bo” Aku meninggalkan Minho oppa yang menatapku bingung dan bergabung dengan Taemin yang sedang sibuk dengan bukunya.

“Waeyo noona?” Tanya Taemin.

“Anio Taeminnie. Kau sedang mengerjakan apa?”

“Biologi” Taemin memasang wajah masamnya. “SHINee Lee Taemin akan membelah seekor kodok, besok”

Aku tersenyum, “Kodok?”

“Iya. Aku akan membelah kodok. Aku tidak terlalu suka praktikum biologi. Selalu sial.”

“Kenapa sial?”

“Tahun lalu, waktu aku praktek membelah perut kadal. Anak-anak malah mengisengiku dengan memasukkan kadal itu ke dalam bajuku” jawabnya. “Mengerikan bukan?”

“Kau hebat Taemin. Mungkin jika aku ada di posisimu, semua orang yang berbuat seperti itu akan ku maki habis-habisan. Atau mungkin aku akan menyantetnya satu persatu” ujarku panjang lebar.

Taemin menggelengkan kepalanya, “Syukurlah karena aku ini bukan Noona. Kalau aku ini Noona, apa jadinya Shinee nanti”

“Taemin!”

“Haha. Kalau manager hyung mengizinkan, mungkin aku akan memilih home schooling saja dari pada seperti ini”

“Aku tahu Taemin pasti bisa!” ujarku menyemangati.

Senyum Taemin mengembang, “Aku tahu! Noona juga pasti bisa!”

“Noona bisa apa?” tanyaku.

“Bisa memilih antara Onew hyung atau Key hyung”

“MWO?! LEE TAEMIN!!” Taemin menjulurkan lidahnya kearahku dan mulai berlari. Aku mengejarnya tentu saja, tapi Taemin lari dengan cepat. Kakinya kan lebih panjang dari kakiku. Huh rasanya aku ingin menarik rambut coklat panjang milik Taemin!

“Jonghyun hyuuung! Charin Noona mengejarku terus niiih” ujar Taemin sambil terus berlari mengitari dorm. “Minho oppaaaa! Taemin yang mengejekku duluaaan” ujarku tak mau kalah. Sementara yang diteriaki malah diam saja, sibuk meminum susu mereka sambil menoton acara kejar-kejaran gratis.

“Berarti benar kan Noona bingung memilih? Nyatanya marah!” ledek Taemin lagi. Aku berhenti mengejar Taemin lalu langsung duduk disebelah Jonghyun oppa dan meneguk habis segelas susu yang ada didepanku.

“Ya! Susuku!” Protes Minho oppa. Aku hanya diam saja, kesal pada Taemin.

Jonghyun oppa yang baru menghabiskan susunya tertawa dan mengacak-acak rambutku. “Diledek Taemin apa?” tanyanya.

“Itu.., Aku..”

“Apa?” Tanya Minho oppa. Ah masa aku bilang? Kan nanti aku malu.

“Tuhkan Hyung! Noona saja malu mengatakannya kan! Hahahah”

“Taemin, sudahlah jangan mengganggunya terus” tengah Minho oppa.

“Memangnya kau mengganggu apa Taeminnie?” tiba-tiba Key oppa yang tadi langsung pergi ke kampus setelah pemotretan, pulang dan menghampiri kami.

Taemin! Jebal Taemin! Jangan katakan! Jangaaaann haaa.. Taemin.

“Oh. Aku mengejekknya soal Sungmin hyung. Eh, Charin Noona malah marah-marah” jawab Taemin. Aku tentu saja memandang Taemin dengan tatapan penuh terimakasih. Taemin mengedipkan sebelah matanya padaku.

Setelah aku menyiapkan makan, aku mengecek Onew oppa yang tadi belum sempat makan malam. Tadinya aku ingin membangunkannya saja, tapi melihat muka Onew oppa yang sangat damai dalam tidurnya, aku jadi tidak tega. Ah dia kan lagi sakit! Berarti dia harus diberi asupan makanan biar lebih kuat. Bagaimana ya? Kalau aku membangunkannya, apakah dia akan ingat perbuatanku tadi?

“Oppa.. Onew oppa..” Aku mengguncang-guncangkan badan Onew oppa yang ada didalam selimut, syukurlah suhu badannya sudah sedikit menurun.

Onew oppa membuka matanya perlahan, lalu ia tersenyum kearahku. “Charin-ah, waeyo?” tanyanya.

Tenang Charin tenang.. “Ayo kita makan” ajakku. “Oppa tadi hanya makan jatah makanan di studio kan?” Onew oppa mengangguk dan berusaha bangun dari tempat tidurnya. Lalu ia berjalan keluar kamar, aku menyusul dibelakangnya.

Aku menghela napas sebelum benar-benar keluar kamar.

Kenapa tadi aku bisa mengusap pipi Onew oppa saat melihatnya tersenyum?

Kenapa tadi aku malah marah saat Taemin menggodaku antara dua pilihan itu?

Sepertinya aku biasa saja dengan Onew oppa, aku juga tidak pernah mengatakannya pada siapapun tentang perasaanku pada Key oppa. Hanya mungkin Minho oppa yang sedikit-sedikit bisa menebak perasaanku terhadap Key oppa dan Nicole. Oh tidak-tidak yang itu tidak. Ah Tuhan, kenapa aku jadi aneh begini? Aku kan tidak suka siapa-siapa, tapi kenapa Taemin berbicara seperti itu?

“NOONAAAAA! AYO MAKAAAN!”

~*~

Tunggu sebentar,

kayaknya aku bisa nebak ada beberapa yang protes kalau Charin dibuat sama Onew ya?

Muahaha. Soalnyaaa, aku ini suka plin-plan, bentar-bentar suka Onew suka Key suka Minho suka Taemin suka Jjong. Tapi tenang, aku gak bakal maruk bikin semuanya suka. 😉

Makasih yaa buat semuanya yang udah mau ngikutin, maaf kalo pada bosen. Maaf kalau pada bingung sama ceritanya.

Soalnya perjalanan chapter cerita ini masih agak panjang karena aku belum menemukan ending yang pas buat cerita ini hohoho.

Tapi overall, jeongmal gomawooo!!!

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

Dear Father!

Dear Father!

Author : Park Kyungjin

Cast      : SHINee – Lee Jinki (Onew),Lee Hyunseon,SHINee – Kim Kibum (Key)

Other Cast  : SHINee – Choi Minho

Genre :  Family

Disclaimer  : Hyunseon is just my imagination, but Onew, Key and Minho is not mine. They belongs to themself and SHINee.

Nb :Anggap saja saat ini si Jinki berusia 45 tahun *ya ampun tua amat*, Hyunseon adalah anak sulung Jinki, dan si Kibum adalah anak bungsunya. Si Jinki jadi bapak-bapak euyy…

©2010 SF3SI, Freelance Author.

(Hyunseon P.O.V)

Kreekk. Kreekk.

Aish. Pintu ini berisik sekali. Padahal aku baru membukanya sedikit, tapi bunyinya sudah sangat berisik. Aduh, jangan sampai appa tahu kalau aku baru pulang ke rumah jam segini. Kalau sampai appa tahu, bisa tamat riwayatku.

Aku menghentikan usaha membuka pintuku ini sejenak, kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar halaman rumah. Pandanganku terhenti di pojok teras, hingga kemudian aku menyadari ada sesuatu yang ganjil di sana. Motor besar yang sangat gagah itu belum terparkir di sana, dan itu berarti Kibum juga belum pulang. Pasti anak itu masih berkeliaran dengan motornya.

Aku lalu melirik jam tanganku. Sudah jam 10 malam, benar-benar gawat. Aku harus segera masuk ke rumah, mengganti pakaianku, dan berpura-pura telah lama tertidur. Dan tentunya, tanpa sepengetahuan appa.

Aku kembali menghela nafas. Gagang pintu kembali kupegang dengan gugup dan kubuka pintu itu perlahan. Oke, aku rasa sudah cukup. Meski pintu tak terbuka begitu lebar, tapi kurasa tubuhku bisa melewati pintu yang sedikit terbuka ini.

Ternyata lampu di ruang tamu sudah dimatikan. Untunglah, appa pasti sudah tertidur. Aku lalu masuk sambil mengendap-endap dan mencoba menutup pintu kembali.

Kreeekk. Kreekk.

Aduh pintu, please, jangan berisik.

Yes. Pintu sudah berhasil kututup kembali. Aku harus buru-buru ke kamarku yang berada di lantai 2. Sejauh ini aman, tak ada tanda-tanda bahwa orang-orang menyadari kepulanganku. Tanpa mengambil waktu yang banyak lagi aku melangkahkan kakiku dengan hati-hati meninggalkan ruang tamu ini namun…

Klik.

Tiba-tiba lampu ruang tamu menyala. Aduh, kenapa perasaanku jadi tidak enak begini. Perlahan-lahan sebutir keringat mulai menjelajahi wajahku. Aku mengarahkan pandanganku ke arah saklar lampu dan mencoba melihat siapa yang telah menyalakan lampu.

Astaga, tamatlah riwayatku!

+++

Aku masih belum bisa tidur. Kulirik weker yang ada di sampingku. Ya ampun, sudah pukul 1 dinihari. Aku kembali memejamkan mataku dengan paksa, mencoba untuk tidur kembali. Satu menit pun berlalu saat mataku kupejamkan dan hasilnya tetap nihil.

Aku menyerah.

Ku ambil ponselku yang kuletakkan begitu saja di samping tempat tidurku dan menekan sejumlah nomor yang sudah sangat kuhapal.

“Ye?” jawab seseorang di seberang sana. Dari suaranya, sepertinya ia sudah sangat mengantuk.

“Oppa, apa aku mengganggumu?” aish. Pertanyaan yang amat bodoh. Tentu saja aku sudah sangat mengganggu.

“Hyunseon? Ada apa kamu menelpon tengah malam seperti ini?”

“Mian oppa. Aku pasti sudah mengganggu tidur oppa. Tapi, aku tidak bisa tidur”

“Hah? Bagaimana mungkin? Seharian tadi kan kita sudah menguras tenaga. Bahkan aku sendiri merasa badanku sudah remuk saking lelahnya. Kau kenapa?”

“Aku sebenarnya juga sangat lelah. Apalagi dari tadi aku sibuk mengurus semua keperluan acara seminar tadi. Tapi, aku sedang dalam masalah”

“Masalah? Biar ku tebak, appamu lagi?”

“Ne, oppa. Aku kan sudah cerita bagaimana sifat appaku itu. Ia sama sekali tidak suka kalau aku pulang terlambat. Tadi aku kedapatan saat masuk ke rumah secara sembunyi-sembunyi. Appaku marah besar. Ia bahkan menganggapku seperti pencuri”

“Tentu saja, kau kan masuk ke rumah diam-diam seperti pencuri”

“Iya, tapi bukan itu masalah terbesarnya. Yang aku herankan, kenapa appa segitu marahnya kepadaku. Padahal sebelumnya aku sudah bilang akan ada seminar di kampus, jadi pulangnya agak terlambat. Tapi appa tetap tak mau mengerti”

“Lalu?”

“Appa menghukumku. Ia akan menjemputku setiap hari di kampus saat selesai kuliah. Jadi aku tidak bisa kemana-mana lagi. Aku harus dijemput appa supaya ia bisa memastikan kalau aku tidak akan terlambat pulang ke rumah. Dan mungkin kau tak bisa mengantarku pulang lagi, oppa”

“Ne, tidak masalah. Kasihan sekali. Kau yang sabar saja ya…”

“Ne. Tapi aku merasa appa tidak adil. Kibum bahkan pulang ke rumah satu jam lebih lama dari waktu kepulanganku, tapi appa sama sekali tidak marah padanya. Padahal Kibum usia Kibum belum genap 17 tahun. Aku sendiri bahkan sudah berusia 22 tahun. Aku kesal sekali, padahal aku ini sudah bukan anak-anak lagi”

“Hyunseon, kau yang sabar ya, chagi. Mungkin kau hanya perlu membuat appamu mengerti keadaanmu. Hoaammmmpphh…”

“Ne. Oppa, kau mengantuk? Aduh, mian oppa. Aku jadi mengganggu istirahat oppa”

“Tidak perlu sungkan seperti itu”

Omo. Minho oppa memang baik sekali. Aku jadi merasa tak enak. Padahal aku tahu persis ia sudah sangat mengantuk.

“Oppa, gomawo. Ya sudah, kau tidur saja”

“Ne, tapi kau juga harus tidur. Ingat, besok kita ada kuliah pagi”

“Ne, oppa”

+++

“Ya! Hyunseon-ah. Dari tadi appa perhatikan kau cemberut terus. Jangan seperti itu, kau kelihatan sangat jelek” kata appa di sela-sela kegiatan menyetir mobilnya.

Huh. Mendengar perkataan appa barusan hanya membuatku semakin cemberut. Aku melirik appa di sampingku yang sangat serius menyetir. Aduh, kenapa mesti semacet ini. Jalanan sebesar ini bahkan dipenuhi kendaraan yang sibuk mencari celah untuk keluar dari kemacetan ini. Beberapa pengendara lain dengan brutal memencet-mencet klakson, pertanda bahwa ia juga sudah tidak betah berada di kerumunan ini.

“Appa, tadi kan aku sudah bilang, pagi-pagi begini jalanan di Seoul betul-betul padat. Mestinya tadi aku di antar Kibum saja. Lagipula kampusku dan sekolahnya kan searah!”

“Ah, tidak usah. Dongsaengmu itu kalau naik motor suka ugal-ugalan. Kalau kalian berdua jatuh bagamaimana?”

“Tapi kemarin-kemarin aku sering diantar Kibum ke kampus, kenapa hari ini aku tidak bisa ikut dengannya? Paling tidak motor Kibum bisa melewati kerumunan macet ini dengan cepat. Dengan begitu kan aku tidak akan terlambat” protesku pada appa.

“Itu kan kemarin. Mulai hari ini appa yang akan mengantar jemput kamu, arasseo?”

Aish. Baru sekarang aku merasa sangat cemburu pada dongsaengku itu. Andai aku juga punya kendaraan pribadi, pasti aku tidak perlu di kawal appa seperti ini.

Dan begitulah appaku, apapun yang sudah menjadi perkataannya mau tidak mau harus diikuti kalau tidak ingin mendapat masalah.

Aku lalu teringat akan suatu hal.

“Appa, sebentar lagi kuliah S1-ku selesai. Aku ingin melanjutkan S2-ku di luar negeri, appa. Di Amerika” kataku pelan-pelan pada appa. Hhh, semoga saja appa menyetujuinya.

“Tidak usah, kau kuliah di Seoul saja” kata appa santai sambil terus memfokuskan penglihatannya pada kendaraan-kendaraan yang ada di depan.

“Tapi appa…”

“Untuk apa kuliah jauh-jauh? Universitas di Seoul juga tak kalah bagus dengan universitas yang ada di luar. Lebih baik kau kuliah di Seoul saja!” saat aku belum sempat melanjutkan kata-kataku, appa sudah memotong pembicaraanku.

Appa terlihat semakin tidak peduli.

Sudah kuduga, appa pasti tidak mengijinkanku.

+++

Aku tengah duduk bersantai di ruang TV bersama dongsaengku, Kibum. Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.

Tok tok tok.

Aku masih terus terpaku pada layar TV, begitu pula dengan Kibum.

Tok tok tok.

“Kibum-ah, ada tamu. Cepat buka pintunya” aku yang sedang malas bergerak akhirnya menyuruh Kibum untuk membukakan pintu.

“Ah, noona saja yang membukanya. Filmnya lagi seru” bantahnya sambil terus menatap layar TV.

Ih, dasar bocah! Aku lalu mengambil remote TV dan langsung menekan tombol off. Kibum menatapku dengan tatapan membunuhnya.

“Buka pintunya, atau kau tak akan menonton sama sekali” ancamku padanya.

Ia hanya mendengus kesal namun tak punya pilihan lain. Ia lalu melangkahkan kakinya dengan malas.

Hahaha. Hukum alam, yang lebih tua akan selalu menang.

Tak lama kemudian, Kibum kembali.

“Noona, itu tamumu”

“Siapa?”

“Lihat saja sendiri” katanya malas.

“Aih, kau ini!” aku menjitak kepalanya lalu melangkahkan kakiku dengan kesal menuju ruang tamu.

“Noona, remotenya mana?” teriak Kibum dari ruang TV.

“Cari saja sendiri!” aku membalas teriakannya. Hahaha. Emang enak!

Aku menemui si tamu. Siapa yang bertamu malam begini? Aku melihat ada seorang namja yang duduk di kursi ruang tamuku.

“Oppa?” aku menatap namja yang bertamu ini. Ternyata Minho oppa, namjachinguku.

“Ne, Hyunseon-ah. Kebetulan aku sedang lewat di dekat-dekat sini, jadi aku mampir sebentar” kata Minho oppa.

Aku lalu duduk di sampingnya dan mengobrol di ruang tamu.

Tak beberapa lama kemudian, tiba-tiba appa lewat di depan kami. Sepertinya ia ingin keluar rumah. Dan benar saja, ia keluar dari pintu rumah.

Kami kembali melanjutkan obrolan kami. Namun tak lama kemudian, appa masuk kembali ke rumah dan lewat di depan kami.

Aku mencoba untuk tidak mempedulikannya dan terus mengobrol dengan Minho oppa.

Beberapa menit kemudian, appaku muncul lagi dan keluar dari rumah. Lalu tak lama kemudian masuk kembali, dan begitu seterusnya sampai Minho oppa akhirnya memutuskan untung pulang.

Setelah Minho oppa pulang, aku segera menemui appa yang duduk di samping Kibum sambil menonton TV.

“Appa, kenapa appa terus mengawasiku?” kataku dengan emosi.

“Siapa yang mengawasimu?” jawab appa cuek.

“Lalu kenapa appa mondar-mandir terus dari tadi saat Minho oppa datang?”

“Apa ada yang salah? Appa cuma kebetulan lewat” ia masih terus cuek dan mengalihkan perhatiannya ke TV.

Aku merasa kesal. Aku tahu tadi appa memang sedang mengawasi kami.

“Appa… Tak usah mengawasiku seperti itu. Aku tidak akan berbuat macam-macam…”

Kali ini appa tidak menanggapi perkataanku dan malah terus memperhatikan layar TV. Bahkan sekarang ia mencoba mengajak Kibum bicara.

“Kibum, bagaimana caranya orang itu bisa jadi manusia pasir? Tadi appa tidak perhatikan” katanya sambil menunjuk-nunjuk si Sandman yang ada di TV.

“Oh, tadi dia masuk di lubang yang ada kincir raksasanya, appa. Kincirnya tiba-tiba berputar dan tubuhnya hancur bersatu dengan pasir yang ada di situ. Trus tiba-tiba bangkit kembali tapi udah bersatu dengan pasir. Kira-kira begitu appa…”

“Ooh… Tapi kok spidermannya berubah jadi warna hitam?” tanya appa lagi, lalu Kibum menjawabnya dengan senang hati.

Arrkh! Keterlaluan!

“APPA! KENAPA APPA TIDAK PERNAH PERCAYA PADAKU? AKU INI SUDAH BESAR APPA!” kataku akhirnya dengan suara yang cukup besar.

Appa dan Kibum tiba-tiba menoleh.

“Hyunseon!” appa menegurku.

“APPA! KENAPA SAAT YEOJACHINGU KIBUM YANG DATANG KE RUMAH, APPA TIDAK MENGAWASI MEREKA? PADAHAL KIBUM ITU LEBIH MUDA DARIKU. TAPI KENAPA SAAT MINHO OPPA YANG DATANG, APPA SEPERTI MENGANGGAP DIA ORANG JAHAT?! INGAT APPA, AKU INI SUDAH BESAR!” kataku dengan emosi yang meluap-luap.

“Noona!” kali ini Kibum ikut-ikutan menegur, tapi aku tidak peduli. Aku sudah tidak tahan lagi.

“APPA, AKU CEMBURU DENGAN KIBUM! DIA BISA BERBUAT APA SAJA YANG DIA SUKA. DIA BISA PULANG KE RUMAH KAPAN SAJA TANPA APPA MARAHI. TAPI KENAPA SAAT AKU YANG BARU TERLAMBAT PULANG BEBERAPA MENIT SAJA APPA SUDAH LUAR BIASA MARAH?” emosiku semakin menjadi-jadi. Perlahan-lahan air mataku mulai menetes dengan deras.

“HYUNSEON, HENTIKAN!” appa ikut-ikutan emosi.

“APPA, AKU SUDAH PUTUSKAN. AKU AKAN MELANJUTKAN KULIAH S2 DI AMERIKA! KEMARIN-KEMARIN APPA BOLEH SAJA MENGATURKU UNTUK SEKOLAH DI MANAPUN YANG APPA MAU, TAPI UNTUK KALI INI, TOLONG HARGAI KEPUTUSANKU” kataku pada appa lalu berlari ke kamarku dan membanting pintu sekuat tenaga.

Aku menghambur ke atas tempat tidurku dan menangis sejadi-jadinya.

Eomma yang dari tadi sudah tertidur akhirnya terbangun karena mendengar teriakanku. Ia masuk ke dalam kamarku dan membujukku.

“Hyunseon-ah. Kau tidak boleh begitu sama appa” kata eomma.

“Maaf eomma, aku mau sendiri dulu” kataku sambil terisak-isak.

“Ya sudah” kata eomma lalu akhirnya meninggalkanku sendirian di kamar.

Tak lama kemudian, Kibum membuka pintu kamarku.

“Noona…”

“Kibum-ah, lebih baik kau keluar sekarang” pintaku padanya.

Ia menggaruk-garuk kepalanya, namun pada akhirnya keluar dari kamarku dan menutup kembali pintu kamarku.

Aku terus saja menangis. Aku sudah tidak tahan dengan sikap appa.

Aku sedih. Aku merasa appa tidak pernah mau percaya padaku.

Aku kembali mengingat-ingat segala ketidakadilan yang diberlakukan appa padaku. Tentang kebebasanku, tentang Minho oppa.

Aku rasa tekadku untuk melanjutkan kuliah di Amerika sudah bulat. Mungkin dengan jauh dari appa, appa bisa menyadari bahwa sebenarnya aku ini sudah dewasa dan bisa hidup mandiri.

Setelah bertengkar dengan appa, aku mengurung diriku di dalam kamar. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku sudah sangat sakit hati atas perlakuan appa padaku.

Satu jam berlalu semenjak pertengkaran itu, namun aku belum juga bisa menghentikan tangisanku. Sayup-sayup kudengar suara langkah kaki yang sepertinya berjalan menuju kamarku. Aish. Saat ini aku sangat malas untuk menanggapi siapapun yang datang itu. Aku langsung menghapus air mataku kemudian memutuskan untuk berpura-pura tidur.

Pintu kamarku dibuka. Seseorang masuk lalu duduk di tepi tempat tidurku.

(Jinki P.O.V)

Aku menghela nafas. Kupandangi anak itu yang tengah tertidur. Sepertinya ia sangat kelelahan sehabis menangis tadi. Aku kemudian mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidurnya.

Anak ini memang sudah dewasa. Mungkin aku sudah salah karena masih menganggapnya sebagai Hyunseon kecilku. Perlahan kuusap rambut panjangnya dengan lembut.

“Maafkan appa, Hyunseon. Appa mungkin sudah keterlaluan dengan mengekangmu seperti ini. Sebenarnya appa sendiri juga sadar kalau kau sudah dewasa, tapi entah kenapa appa masih tidak rela membiarkanmu berbuat seperti apa yang kau mau. Ketahuilah nak, tidak semua yang kau inginkan itu baik untukmu”

Aku kembali menatapnya yang tengah larut dalam mimpi.

“Mungkin kau bertanya-tanya kenapa appa selalu melarangmu untuk pulang terlambat dan bahkan sampai menjemputmu ke tempat kuliahmu. Bukan karena appa tidak percaya padamu nak. Justru yang tidak bisa kupercayai adalah orang-orang di luar sana yang mungkin saja bisa mencelakakanmu. Ingat Hyunseon, kau ini seorang yeoja, apalagi kau juga cantik. Appa takut kalau ada namja-namja yang berbuat jahat padamu. Yah, kau memang sudah mempunyai seorang namjachingu yang menurutmu bisa melindungimu. Tapi tetap saja, appa sangat mengkhawatirkanmu”

Aku menghela nafas lagi yang kini terasa lebih berat.

“Aku bukannya tidak sayang pada Kibum sehingga membiarkan ia pulang semaunya. Tapi, dia itu berbeda denganmu. Dia itu seorang namja. Appa tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya karena ia juga sudah beranjak dewasa. Appa tahu persis karena appa ini juga seorang namja kan?”

Aku kemudian tertawa sebentar atas apa yang telah ku katakan. Biarlah, meskipun kau tidak mendengar perkataan appa, appa hanya ingin mengeluarkan apa yang selama ini appa rasakan.

“Hyunseon, mungkin kau merasa cemburu saat appa memberikan dongsaengmu motor untuk hadiah kelulusannya, meskipun nilai-nilai yang dapat diraih Kibum tidak begitu tinggi seperti nilai-nilai yang pernah kau raih semasa sekolah. Kau bisa lulus tanpa tes di universitas dan jurusan yang passing gradenya tinggi. Appa tentu sangat bangga. Tapi, appa bahkan tak memberimu hadiah seperti apa yang diterima Kibum. Aku memang appa yang payah, Hyunseon-ah. Tapi asal kau tahu, saat itu appa sangat ingin membelikanmu sebuah mobil yang nantinya bisa kau gunakan ke kampusmu. Tapi waktu itu uang appa tidak banyak. Sebenarnya appa bisa saja membelikanmu sebuah motor sebagai pengganti mobil, tapi kau ini seorang yeoja. Appa tidak mungkin membiarkan anak perempuan appa mengendarai sebuah motor sendiri, sangat berbahaya. Jadi, kau jangan cemburu sama Kibum ya? Dia itu beda denganmu, dia lebih bisa menjaga dirinya sendiri karena ia seorang namja”

Aku berhenti sebentar, lalu melanjutkan kata-kataku.

“Kau memang anak yang pintar, Hyunseon. Appa sangat bangga padamu. Appa merasa sudah berhasil mendidikmu. Appa tahu, kau bisa sepintar sekarang karena sejak dulu appa sedikit memaksamu untuk belajar dengan giat dan menargetkanmu agar bisa menempuh pendidikan di sekolah-sekolah yang bagus, yang tentu saja tidak mudah untuk bisa bersekolah di sana. Appa juga sering menyita waktu bermainmu untuk menyuruhmu belajar lebih banyak. Hyunseon, kau pasti sudah tahu kan alasan appa untuk memaksamu belajar? Ya, lihatlah sekarang. Masa depanmu sangat cerah. Appa ingin kau lebih berhasil dari appa”

Aku berhenti mengusap rambutnya. Aku kemudian memperhatikan seisi kamar Hyunseon. Banyak sekali perubahan di kamar ini. Aku sudah sangat jarang masuk ke kamar ini, tidak seperti sewaktu ia masih kecil karena dulu hampir setiap hari aku membacakan dongeng padanya dan menemaninya sampai ia tertidur. Namun kurasa sekarang Hyunseon sudah tidak membutuhkan itu lagi.

“Kau pasti heran kenapa aku begitu sibuk mengawasimu saat namjachingumu itu datang ke rumah dan mengobrol berdua denganmu, sedangkan Kibum yang jelas lebih sering mengajak yeojachingunya ke rumah tak pernah ku pedulikan sedikitpun. Kau tahu kenapa Hyunseon?” aku menggantungkan kata-kataku sebentar.

“Karena appa cemburu. Haha. Aneh memang, tapi appa merasa tak rela bila ada seseorang yang dengan mudahnya ingin mengambil anak appa yang sudah appa didik dan appa besarkan dengan susah payah. Enak saja… Hahaha”

Tak terasa air mataku mengalir. Rasanya aku ingin sekali memeluk Hyunseon. Sudah lama aku tidak memeluknya. Namun keinginanku itu kuurungkan.

“Hyunseon-ah, kalau memang kau ingin melanjutkan kuliahmu di luar negeri, baiklah, appa pasti merestuimu. Tapi, jangan jadikan itu alasan hanya untuk jauh dari appa, ya? Appa tidak ingin kau membenci appa. Tadinya appa sempat menyuruhmu untuk melanjutkan pendidikanmu di Seoul saja sampai membuat kau marah pada appa. Hyunseon, appa sebenarnya berat untuk membiarkanmu pergi, aku sama sekali belum siap ditinggal jauh oleh anak-anakku. Tak lama lagi Kibum juga akan lulus SMA dan sepertinya ia juga ingin kuliah di luar negeri. Semua anak-anak appa akan meninggalkan appa. Tapi tidak apa-apa, appa akan selalu mendukung kalian. Kau sungguh hebat”

Aku menghapus sisa air mataku. Kurasa tak ada gunanya aku berlama-lama di sini. Lagipula Hyunseon tidak mungkin mendengarkanku. Untuk kesekian kalinya aku kembali menghela nafas. Kutarik selimut yang hanya menutupi kakinya hingga menyelimuti seluruh tubuhnya. Tak lupa aku juga mencium keningnya lalu berdiri dan segera beranjak dari kamarnya.

+++

(Hyunseon P.O.V)

Aku merasa appa menarik selimutku dan menyelimuti tubuhku. Lalu, oh, appa mencium keningku! Rasanya sudah lama sekali appa tidak menciumku. Dan tak lama kemudian, ia keluar dari kamar dan menutup pintu kamarku. Dan di saat itu pula, air mataku yang sedari tadi berusaha kutahan tumpah hingga membasahi bantalku.

Appa… Mianhae… Jeongmal mianhae…

+++

“Eomma… Nanti aku akan jarang memakan masakan eomma lagi” kataku sambil memeluk eomma.

“Tidak apa-apa, Hyunseon-ah. Nanti eomma akan sering-sering mengirim makanan ke sana. Kau baik-baik yah di sana” kata eomma sambil mengelus rambutku.

“Ah, eomma ada-ada saja. Mana ada orang yang mau mengirim masakannya dari Korea ke Amerika?” Kibum yang berdiri tak jauh dari kami menanggapi kata-kata eomma.

Aku melepas pelukanku pada eomma dan langsung memeluk Kibum.

“Eh, bocah ingusan. Kau jangan nakal ya” aku melepas pelukanku dan menjitak kepalanya.

“Ye. Noona… Di Amerika banyak artis cantiknya. Aku bahkan sudah belajar bahasa Inggris. Noona titipkan salamku pada…” belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, aku sudah mencubit lengannya dengan keras.

“Awwwww… Noona, sakit!” ia mengusap-usap lengannya yang tadi kucubit.

“Makanya, jangan pikir yang macam-macam. Kau ini masih ingusan, belajar yang rajin saja!”

Kibum hanya cemberut mendengar perkataanku. Haha, aigo, dongsaengku satu-satunya ini benar-benar lucu.

Aku lalu melirik appa yang berdiri tidak jauh dariku.

Beberapa hari setelah aku bertengkar dengan appa, aku kembali menanyakan tentang kuliahku pada appa. Awalnya appa sok-sok melarang. Tapi aku lega, akhirnya appa mengizinkanku untuk kuliah di luar negeri.

Setelah kejadian malam itu, appa tetap tidak berubah. Ia tetap menjadi appaku yang overprotective. Appa pasti mengira kalau waktu itu aku benar-benar tertidur dan tidak mendengar semua perkataannya.

Hahaha. Sudahlah appa, aku sudah tahu semuanya. Lagipula, aku sudah mengerti kenapa appa bersikap seperti itu padaku.

Aku menghampiri appa yang masih terlihat cuek. Aku langsung memeluknya erat. Ia terlihat kaget dan sedikit canggung.

“Appa, terima kasih telah mengizinkanku”

“Ne, kau belajar yang baik ya. Ingat, jangan macam-macam” kata appa, masih terlihat cuek.

Hahaha. Appa… Appa…

Aku melepaskan pelukanku pada appa.

“Siap, bos!” kataku sambil hormat padanya.

“Hhh, dasar anak kecil. Sudah, pergi sana. Pesawatmu sebentar lagi akan berangkat” appa mendorong-dorongku agar cepat pergi.

Aku melambaikan tanganku sekali lagi pada mereka sebelum akhirnya pergi menuju pesawat yang akan membawaku ke Amerika.

Appa masih menganggapku seperti anak kecil. Biarlah, aku memang Lee Hyunseon, putri kecil appa. Selamanya.

Terima kasih appa. Hyunseon kecilmu ini bisa menjadi seperti sekarang karena didikan appa. Aku berjanji akan menjadi anak appa yang paling hebat.

 

THE END

Salam kenal buat semuanya.. ^^ dyu imnida.. ^^

Gomawo yang udah mau baca.. ^^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

LOVE IN THE BUS : BROKEN HEART

LOVE IN THE BUS : BROKEN HEART

Main Cast : Choi MinHo and Choi EunKyo

Other Cast : Choi Sulli,Park HyungSik(ZE:A) ,SeoHyun and Krystal

Genre : Romance

Type : Sequel

Author : oki a.k.a minkiii

Biar pada gak bingung yoja disini bukan hantu yya.Tapi yoja beneran. Aku juga heran dapet ide darimana.

©2010 SF3SI, Freelance Author.

Continue reading LOVE IN THE BUS : BROKEN HEART

Juliette’s Way – Part 5

Juliette’s Way

[part 5]

Author. Ivana

Length. Sequel

Rating. General

Genre. Drama, Romance.

Lead character.

Nakayama Chihiro

Choi Min Ho

Takamiya Ryuu

Other character.

Park Hyu Na

Michiyo Nakami (Naka chan)

Song Gyu Ri

Onew

Key

Tae Min

Jong Hyun

Kim Min Nah (omma Chihiro)

Lee Ji Suk, Lee Hye Kim (appa omma Min Ho)

©2010 SF3SI, Freelance Author Continue reading Juliette’s Way – Part 5