Dear Father!

Dear Father!

Author : Park Kyungjin

Cast      : SHINee – Lee Jinki (Onew),Lee Hyunseon,SHINee – Kim Kibum (Key)

Other Cast  : SHINee – Choi Minho

Genre :  Family

Disclaimer  : Hyunseon is just my imagination, but Onew, Key and Minho is not mine. They belongs to themself and SHINee.

Nb :Anggap saja saat ini si Jinki berusia 45 tahun *ya ampun tua amat*, Hyunseon adalah anak sulung Jinki, dan si Kibum adalah anak bungsunya. Si Jinki jadi bapak-bapak euyy…

©2010 SF3SI, Freelance Author.

(Hyunseon P.O.V)

Kreekk. Kreekk.

Aish. Pintu ini berisik sekali. Padahal aku baru membukanya sedikit, tapi bunyinya sudah sangat berisik. Aduh, jangan sampai appa tahu kalau aku baru pulang ke rumah jam segini. Kalau sampai appa tahu, bisa tamat riwayatku.

Aku menghentikan usaha membuka pintuku ini sejenak, kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar halaman rumah. Pandanganku terhenti di pojok teras, hingga kemudian aku menyadari ada sesuatu yang ganjil di sana. Motor besar yang sangat gagah itu belum terparkir di sana, dan itu berarti Kibum juga belum pulang. Pasti anak itu masih berkeliaran dengan motornya.

Aku lalu melirik jam tanganku. Sudah jam 10 malam, benar-benar gawat. Aku harus segera masuk ke rumah, mengganti pakaianku, dan berpura-pura telah lama tertidur. Dan tentunya, tanpa sepengetahuan appa.

Aku kembali menghela nafas. Gagang pintu kembali kupegang dengan gugup dan kubuka pintu itu perlahan. Oke, aku rasa sudah cukup. Meski pintu tak terbuka begitu lebar, tapi kurasa tubuhku bisa melewati pintu yang sedikit terbuka ini.

Ternyata lampu di ruang tamu sudah dimatikan. Untunglah, appa pasti sudah tertidur. Aku lalu masuk sambil mengendap-endap dan mencoba menutup pintu kembali.

Kreeekk. Kreekk.

Aduh pintu, please, jangan berisik.

Yes. Pintu sudah berhasil kututup kembali. Aku harus buru-buru ke kamarku yang berada di lantai 2. Sejauh ini aman, tak ada tanda-tanda bahwa orang-orang menyadari kepulanganku. Tanpa mengambil waktu yang banyak lagi aku melangkahkan kakiku dengan hati-hati meninggalkan ruang tamu ini namun…

Klik.

Tiba-tiba lampu ruang tamu menyala. Aduh, kenapa perasaanku jadi tidak enak begini. Perlahan-lahan sebutir keringat mulai menjelajahi wajahku. Aku mengarahkan pandanganku ke arah saklar lampu dan mencoba melihat siapa yang telah menyalakan lampu.

Astaga, tamatlah riwayatku!

+++

Aku masih belum bisa tidur. Kulirik weker yang ada di sampingku. Ya ampun, sudah pukul 1 dinihari. Aku kembali memejamkan mataku dengan paksa, mencoba untuk tidur kembali. Satu menit pun berlalu saat mataku kupejamkan dan hasilnya tetap nihil.

Aku menyerah.

Ku ambil ponselku yang kuletakkan begitu saja di samping tempat tidurku dan menekan sejumlah nomor yang sudah sangat kuhapal.

“Ye?” jawab seseorang di seberang sana. Dari suaranya, sepertinya ia sudah sangat mengantuk.

“Oppa, apa aku mengganggumu?” aish. Pertanyaan yang amat bodoh. Tentu saja aku sudah sangat mengganggu.

“Hyunseon? Ada apa kamu menelpon tengah malam seperti ini?”

“Mian oppa. Aku pasti sudah mengganggu tidur oppa. Tapi, aku tidak bisa tidur”

“Hah? Bagaimana mungkin? Seharian tadi kan kita sudah menguras tenaga. Bahkan aku sendiri merasa badanku sudah remuk saking lelahnya. Kau kenapa?”

“Aku sebenarnya juga sangat lelah. Apalagi dari tadi aku sibuk mengurus semua keperluan acara seminar tadi. Tapi, aku sedang dalam masalah”

“Masalah? Biar ku tebak, appamu lagi?”

“Ne, oppa. Aku kan sudah cerita bagaimana sifat appaku itu. Ia sama sekali tidak suka kalau aku pulang terlambat. Tadi aku kedapatan saat masuk ke rumah secara sembunyi-sembunyi. Appaku marah besar. Ia bahkan menganggapku seperti pencuri”

“Tentu saja, kau kan masuk ke rumah diam-diam seperti pencuri”

“Iya, tapi bukan itu masalah terbesarnya. Yang aku herankan, kenapa appa segitu marahnya kepadaku. Padahal sebelumnya aku sudah bilang akan ada seminar di kampus, jadi pulangnya agak terlambat. Tapi appa tetap tak mau mengerti”

“Lalu?”

“Appa menghukumku. Ia akan menjemputku setiap hari di kampus saat selesai kuliah. Jadi aku tidak bisa kemana-mana lagi. Aku harus dijemput appa supaya ia bisa memastikan kalau aku tidak akan terlambat pulang ke rumah. Dan mungkin kau tak bisa mengantarku pulang lagi, oppa”

“Ne, tidak masalah. Kasihan sekali. Kau yang sabar saja ya…”

“Ne. Tapi aku merasa appa tidak adil. Kibum bahkan pulang ke rumah satu jam lebih lama dari waktu kepulanganku, tapi appa sama sekali tidak marah padanya. Padahal Kibum usia Kibum belum genap 17 tahun. Aku sendiri bahkan sudah berusia 22 tahun. Aku kesal sekali, padahal aku ini sudah bukan anak-anak lagi”

“Hyunseon, kau yang sabar ya, chagi. Mungkin kau hanya perlu membuat appamu mengerti keadaanmu. Hoaammmmpphh…”

“Ne. Oppa, kau mengantuk? Aduh, mian oppa. Aku jadi mengganggu istirahat oppa”

“Tidak perlu sungkan seperti itu”

Omo. Minho oppa memang baik sekali. Aku jadi merasa tak enak. Padahal aku tahu persis ia sudah sangat mengantuk.

“Oppa, gomawo. Ya sudah, kau tidur saja”

“Ne, tapi kau juga harus tidur. Ingat, besok kita ada kuliah pagi”

“Ne, oppa”

+++

“Ya! Hyunseon-ah. Dari tadi appa perhatikan kau cemberut terus. Jangan seperti itu, kau kelihatan sangat jelek” kata appa di sela-sela kegiatan menyetir mobilnya.

Huh. Mendengar perkataan appa barusan hanya membuatku semakin cemberut. Aku melirik appa di sampingku yang sangat serius menyetir. Aduh, kenapa mesti semacet ini. Jalanan sebesar ini bahkan dipenuhi kendaraan yang sibuk mencari celah untuk keluar dari kemacetan ini. Beberapa pengendara lain dengan brutal memencet-mencet klakson, pertanda bahwa ia juga sudah tidak betah berada di kerumunan ini.

“Appa, tadi kan aku sudah bilang, pagi-pagi begini jalanan di Seoul betul-betul padat. Mestinya tadi aku di antar Kibum saja. Lagipula kampusku dan sekolahnya kan searah!”

“Ah, tidak usah. Dongsaengmu itu kalau naik motor suka ugal-ugalan. Kalau kalian berdua jatuh bagamaimana?”

“Tapi kemarin-kemarin aku sering diantar Kibum ke kampus, kenapa hari ini aku tidak bisa ikut dengannya? Paling tidak motor Kibum bisa melewati kerumunan macet ini dengan cepat. Dengan begitu kan aku tidak akan terlambat” protesku pada appa.

“Itu kan kemarin. Mulai hari ini appa yang akan mengantar jemput kamu, arasseo?”

Aish. Baru sekarang aku merasa sangat cemburu pada dongsaengku itu. Andai aku juga punya kendaraan pribadi, pasti aku tidak perlu di kawal appa seperti ini.

Dan begitulah appaku, apapun yang sudah menjadi perkataannya mau tidak mau harus diikuti kalau tidak ingin mendapat masalah.

Aku lalu teringat akan suatu hal.

“Appa, sebentar lagi kuliah S1-ku selesai. Aku ingin melanjutkan S2-ku di luar negeri, appa. Di Amerika” kataku pelan-pelan pada appa. Hhh, semoga saja appa menyetujuinya.

“Tidak usah, kau kuliah di Seoul saja” kata appa santai sambil terus memfokuskan penglihatannya pada kendaraan-kendaraan yang ada di depan.

“Tapi appa…”

“Untuk apa kuliah jauh-jauh? Universitas di Seoul juga tak kalah bagus dengan universitas yang ada di luar. Lebih baik kau kuliah di Seoul saja!” saat aku belum sempat melanjutkan kata-kataku, appa sudah memotong pembicaraanku.

Appa terlihat semakin tidak peduli.

Sudah kuduga, appa pasti tidak mengijinkanku.

+++

Aku tengah duduk bersantai di ruang TV bersama dongsaengku, Kibum. Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.

Tok tok tok.

Aku masih terus terpaku pada layar TV, begitu pula dengan Kibum.

Tok tok tok.

“Kibum-ah, ada tamu. Cepat buka pintunya” aku yang sedang malas bergerak akhirnya menyuruh Kibum untuk membukakan pintu.

“Ah, noona saja yang membukanya. Filmnya lagi seru” bantahnya sambil terus menatap layar TV.

Ih, dasar bocah! Aku lalu mengambil remote TV dan langsung menekan tombol off. Kibum menatapku dengan tatapan membunuhnya.

“Buka pintunya, atau kau tak akan menonton sama sekali” ancamku padanya.

Ia hanya mendengus kesal namun tak punya pilihan lain. Ia lalu melangkahkan kakinya dengan malas.

Hahaha. Hukum alam, yang lebih tua akan selalu menang.

Tak lama kemudian, Kibum kembali.

“Noona, itu tamumu”

“Siapa?”

“Lihat saja sendiri” katanya malas.

“Aih, kau ini!” aku menjitak kepalanya lalu melangkahkan kakiku dengan kesal menuju ruang tamu.

“Noona, remotenya mana?” teriak Kibum dari ruang TV.

“Cari saja sendiri!” aku membalas teriakannya. Hahaha. Emang enak!

Aku menemui si tamu. Siapa yang bertamu malam begini? Aku melihat ada seorang namja yang duduk di kursi ruang tamuku.

“Oppa?” aku menatap namja yang bertamu ini. Ternyata Minho oppa, namjachinguku.

“Ne, Hyunseon-ah. Kebetulan aku sedang lewat di dekat-dekat sini, jadi aku mampir sebentar” kata Minho oppa.

Aku lalu duduk di sampingnya dan mengobrol di ruang tamu.

Tak beberapa lama kemudian, tiba-tiba appa lewat di depan kami. Sepertinya ia ingin keluar rumah. Dan benar saja, ia keluar dari pintu rumah.

Kami kembali melanjutkan obrolan kami. Namun tak lama kemudian, appa masuk kembali ke rumah dan lewat di depan kami.

Aku mencoba untuk tidak mempedulikannya dan terus mengobrol dengan Minho oppa.

Beberapa menit kemudian, appaku muncul lagi dan keluar dari rumah. Lalu tak lama kemudian masuk kembali, dan begitu seterusnya sampai Minho oppa akhirnya memutuskan untung pulang.

Setelah Minho oppa pulang, aku segera menemui appa yang duduk di samping Kibum sambil menonton TV.

“Appa, kenapa appa terus mengawasiku?” kataku dengan emosi.

“Siapa yang mengawasimu?” jawab appa cuek.

“Lalu kenapa appa mondar-mandir terus dari tadi saat Minho oppa datang?”

“Apa ada yang salah? Appa cuma kebetulan lewat” ia masih terus cuek dan mengalihkan perhatiannya ke TV.

Aku merasa kesal. Aku tahu tadi appa memang sedang mengawasi kami.

“Appa… Tak usah mengawasiku seperti itu. Aku tidak akan berbuat macam-macam…”

Kali ini appa tidak menanggapi perkataanku dan malah terus memperhatikan layar TV. Bahkan sekarang ia mencoba mengajak Kibum bicara.

“Kibum, bagaimana caranya orang itu bisa jadi manusia pasir? Tadi appa tidak perhatikan” katanya sambil menunjuk-nunjuk si Sandman yang ada di TV.

“Oh, tadi dia masuk di lubang yang ada kincir raksasanya, appa. Kincirnya tiba-tiba berputar dan tubuhnya hancur bersatu dengan pasir yang ada di situ. Trus tiba-tiba bangkit kembali tapi udah bersatu dengan pasir. Kira-kira begitu appa…”

“Ooh… Tapi kok spidermannya berubah jadi warna hitam?” tanya appa lagi, lalu Kibum menjawabnya dengan senang hati.

Arrkh! Keterlaluan!

“APPA! KENAPA APPA TIDAK PERNAH PERCAYA PADAKU? AKU INI SUDAH BESAR APPA!” kataku akhirnya dengan suara yang cukup besar.

Appa dan Kibum tiba-tiba menoleh.

“Hyunseon!” appa menegurku.

“APPA! KENAPA SAAT YEOJACHINGU KIBUM YANG DATANG KE RUMAH, APPA TIDAK MENGAWASI MEREKA? PADAHAL KIBUM ITU LEBIH MUDA DARIKU. TAPI KENAPA SAAT MINHO OPPA YANG DATANG, APPA SEPERTI MENGANGGAP DIA ORANG JAHAT?! INGAT APPA, AKU INI SUDAH BESAR!” kataku dengan emosi yang meluap-luap.

“Noona!” kali ini Kibum ikut-ikutan menegur, tapi aku tidak peduli. Aku sudah tidak tahan lagi.

“APPA, AKU CEMBURU DENGAN KIBUM! DIA BISA BERBUAT APA SAJA YANG DIA SUKA. DIA BISA PULANG KE RUMAH KAPAN SAJA TANPA APPA MARAHI. TAPI KENAPA SAAT AKU YANG BARU TERLAMBAT PULANG BEBERAPA MENIT SAJA APPA SUDAH LUAR BIASA MARAH?” emosiku semakin menjadi-jadi. Perlahan-lahan air mataku mulai menetes dengan deras.

“HYUNSEON, HENTIKAN!” appa ikut-ikutan emosi.

“APPA, AKU SUDAH PUTUSKAN. AKU AKAN MELANJUTKAN KULIAH S2 DI AMERIKA! KEMARIN-KEMARIN APPA BOLEH SAJA MENGATURKU UNTUK SEKOLAH DI MANAPUN YANG APPA MAU, TAPI UNTUK KALI INI, TOLONG HARGAI KEPUTUSANKU” kataku pada appa lalu berlari ke kamarku dan membanting pintu sekuat tenaga.

Aku menghambur ke atas tempat tidurku dan menangis sejadi-jadinya.

Eomma yang dari tadi sudah tertidur akhirnya terbangun karena mendengar teriakanku. Ia masuk ke dalam kamarku dan membujukku.

“Hyunseon-ah. Kau tidak boleh begitu sama appa” kata eomma.

“Maaf eomma, aku mau sendiri dulu” kataku sambil terisak-isak.

“Ya sudah” kata eomma lalu akhirnya meninggalkanku sendirian di kamar.

Tak lama kemudian, Kibum membuka pintu kamarku.

“Noona…”

“Kibum-ah, lebih baik kau keluar sekarang” pintaku padanya.

Ia menggaruk-garuk kepalanya, namun pada akhirnya keluar dari kamarku dan menutup kembali pintu kamarku.

Aku terus saja menangis. Aku sudah tidak tahan dengan sikap appa.

Aku sedih. Aku merasa appa tidak pernah mau percaya padaku.

Aku kembali mengingat-ingat segala ketidakadilan yang diberlakukan appa padaku. Tentang kebebasanku, tentang Minho oppa.

Aku rasa tekadku untuk melanjutkan kuliah di Amerika sudah bulat. Mungkin dengan jauh dari appa, appa bisa menyadari bahwa sebenarnya aku ini sudah dewasa dan bisa hidup mandiri.

Setelah bertengkar dengan appa, aku mengurung diriku di dalam kamar. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku sudah sangat sakit hati atas perlakuan appa padaku.

Satu jam berlalu semenjak pertengkaran itu, namun aku belum juga bisa menghentikan tangisanku. Sayup-sayup kudengar suara langkah kaki yang sepertinya berjalan menuju kamarku. Aish. Saat ini aku sangat malas untuk menanggapi siapapun yang datang itu. Aku langsung menghapus air mataku kemudian memutuskan untuk berpura-pura tidur.

Pintu kamarku dibuka. Seseorang masuk lalu duduk di tepi tempat tidurku.

(Jinki P.O.V)

Aku menghela nafas. Kupandangi anak itu yang tengah tertidur. Sepertinya ia sangat kelelahan sehabis menangis tadi. Aku kemudian mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidurnya.

Anak ini memang sudah dewasa. Mungkin aku sudah salah karena masih menganggapnya sebagai Hyunseon kecilku. Perlahan kuusap rambut panjangnya dengan lembut.

“Maafkan appa, Hyunseon. Appa mungkin sudah keterlaluan dengan mengekangmu seperti ini. Sebenarnya appa sendiri juga sadar kalau kau sudah dewasa, tapi entah kenapa appa masih tidak rela membiarkanmu berbuat seperti apa yang kau mau. Ketahuilah nak, tidak semua yang kau inginkan itu baik untukmu”

Aku kembali menatapnya yang tengah larut dalam mimpi.

“Mungkin kau bertanya-tanya kenapa appa selalu melarangmu untuk pulang terlambat dan bahkan sampai menjemputmu ke tempat kuliahmu. Bukan karena appa tidak percaya padamu nak. Justru yang tidak bisa kupercayai adalah orang-orang di luar sana yang mungkin saja bisa mencelakakanmu. Ingat Hyunseon, kau ini seorang yeoja, apalagi kau juga cantik. Appa takut kalau ada namja-namja yang berbuat jahat padamu. Yah, kau memang sudah mempunyai seorang namjachingu yang menurutmu bisa melindungimu. Tapi tetap saja, appa sangat mengkhawatirkanmu”

Aku menghela nafas lagi yang kini terasa lebih berat.

“Aku bukannya tidak sayang pada Kibum sehingga membiarkan ia pulang semaunya. Tapi, dia itu berbeda denganmu. Dia itu seorang namja. Appa tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya karena ia juga sudah beranjak dewasa. Appa tahu persis karena appa ini juga seorang namja kan?”

Aku kemudian tertawa sebentar atas apa yang telah ku katakan. Biarlah, meskipun kau tidak mendengar perkataan appa, appa hanya ingin mengeluarkan apa yang selama ini appa rasakan.

“Hyunseon, mungkin kau merasa cemburu saat appa memberikan dongsaengmu motor untuk hadiah kelulusannya, meskipun nilai-nilai yang dapat diraih Kibum tidak begitu tinggi seperti nilai-nilai yang pernah kau raih semasa sekolah. Kau bisa lulus tanpa tes di universitas dan jurusan yang passing gradenya tinggi. Appa tentu sangat bangga. Tapi, appa bahkan tak memberimu hadiah seperti apa yang diterima Kibum. Aku memang appa yang payah, Hyunseon-ah. Tapi asal kau tahu, saat itu appa sangat ingin membelikanmu sebuah mobil yang nantinya bisa kau gunakan ke kampusmu. Tapi waktu itu uang appa tidak banyak. Sebenarnya appa bisa saja membelikanmu sebuah motor sebagai pengganti mobil, tapi kau ini seorang yeoja. Appa tidak mungkin membiarkan anak perempuan appa mengendarai sebuah motor sendiri, sangat berbahaya. Jadi, kau jangan cemburu sama Kibum ya? Dia itu beda denganmu, dia lebih bisa menjaga dirinya sendiri karena ia seorang namja”

Aku berhenti sebentar, lalu melanjutkan kata-kataku.

“Kau memang anak yang pintar, Hyunseon. Appa sangat bangga padamu. Appa merasa sudah berhasil mendidikmu. Appa tahu, kau bisa sepintar sekarang karena sejak dulu appa sedikit memaksamu untuk belajar dengan giat dan menargetkanmu agar bisa menempuh pendidikan di sekolah-sekolah yang bagus, yang tentu saja tidak mudah untuk bisa bersekolah di sana. Appa juga sering menyita waktu bermainmu untuk menyuruhmu belajar lebih banyak. Hyunseon, kau pasti sudah tahu kan alasan appa untuk memaksamu belajar? Ya, lihatlah sekarang. Masa depanmu sangat cerah. Appa ingin kau lebih berhasil dari appa”

Aku berhenti mengusap rambutnya. Aku kemudian memperhatikan seisi kamar Hyunseon. Banyak sekali perubahan di kamar ini. Aku sudah sangat jarang masuk ke kamar ini, tidak seperti sewaktu ia masih kecil karena dulu hampir setiap hari aku membacakan dongeng padanya dan menemaninya sampai ia tertidur. Namun kurasa sekarang Hyunseon sudah tidak membutuhkan itu lagi.

“Kau pasti heran kenapa aku begitu sibuk mengawasimu saat namjachingumu itu datang ke rumah dan mengobrol berdua denganmu, sedangkan Kibum yang jelas lebih sering mengajak yeojachingunya ke rumah tak pernah ku pedulikan sedikitpun. Kau tahu kenapa Hyunseon?” aku menggantungkan kata-kataku sebentar.

“Karena appa cemburu. Haha. Aneh memang, tapi appa merasa tak rela bila ada seseorang yang dengan mudahnya ingin mengambil anak appa yang sudah appa didik dan appa besarkan dengan susah payah. Enak saja… Hahaha”

Tak terasa air mataku mengalir. Rasanya aku ingin sekali memeluk Hyunseon. Sudah lama aku tidak memeluknya. Namun keinginanku itu kuurungkan.

“Hyunseon-ah, kalau memang kau ingin melanjutkan kuliahmu di luar negeri, baiklah, appa pasti merestuimu. Tapi, jangan jadikan itu alasan hanya untuk jauh dari appa, ya? Appa tidak ingin kau membenci appa. Tadinya appa sempat menyuruhmu untuk melanjutkan pendidikanmu di Seoul saja sampai membuat kau marah pada appa. Hyunseon, appa sebenarnya berat untuk membiarkanmu pergi, aku sama sekali belum siap ditinggal jauh oleh anak-anakku. Tak lama lagi Kibum juga akan lulus SMA dan sepertinya ia juga ingin kuliah di luar negeri. Semua anak-anak appa akan meninggalkan appa. Tapi tidak apa-apa, appa akan selalu mendukung kalian. Kau sungguh hebat”

Aku menghapus sisa air mataku. Kurasa tak ada gunanya aku berlama-lama di sini. Lagipula Hyunseon tidak mungkin mendengarkanku. Untuk kesekian kalinya aku kembali menghela nafas. Kutarik selimut yang hanya menutupi kakinya hingga menyelimuti seluruh tubuhnya. Tak lupa aku juga mencium keningnya lalu berdiri dan segera beranjak dari kamarnya.

+++

(Hyunseon P.O.V)

Aku merasa appa menarik selimutku dan menyelimuti tubuhku. Lalu, oh, appa mencium keningku! Rasanya sudah lama sekali appa tidak menciumku. Dan tak lama kemudian, ia keluar dari kamar dan menutup pintu kamarku. Dan di saat itu pula, air mataku yang sedari tadi berusaha kutahan tumpah hingga membasahi bantalku.

Appa… Mianhae… Jeongmal mianhae…

+++

“Eomma… Nanti aku akan jarang memakan masakan eomma lagi” kataku sambil memeluk eomma.

“Tidak apa-apa, Hyunseon-ah. Nanti eomma akan sering-sering mengirim makanan ke sana. Kau baik-baik yah di sana” kata eomma sambil mengelus rambutku.

“Ah, eomma ada-ada saja. Mana ada orang yang mau mengirim masakannya dari Korea ke Amerika?” Kibum yang berdiri tak jauh dari kami menanggapi kata-kata eomma.

Aku melepas pelukanku pada eomma dan langsung memeluk Kibum.

“Eh, bocah ingusan. Kau jangan nakal ya” aku melepas pelukanku dan menjitak kepalanya.

“Ye. Noona… Di Amerika banyak artis cantiknya. Aku bahkan sudah belajar bahasa Inggris. Noona titipkan salamku pada…” belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, aku sudah mencubit lengannya dengan keras.

“Awwwww… Noona, sakit!” ia mengusap-usap lengannya yang tadi kucubit.

“Makanya, jangan pikir yang macam-macam. Kau ini masih ingusan, belajar yang rajin saja!”

Kibum hanya cemberut mendengar perkataanku. Haha, aigo, dongsaengku satu-satunya ini benar-benar lucu.

Aku lalu melirik appa yang berdiri tidak jauh dariku.

Beberapa hari setelah aku bertengkar dengan appa, aku kembali menanyakan tentang kuliahku pada appa. Awalnya appa sok-sok melarang. Tapi aku lega, akhirnya appa mengizinkanku untuk kuliah di luar negeri.

Setelah kejadian malam itu, appa tetap tidak berubah. Ia tetap menjadi appaku yang overprotective. Appa pasti mengira kalau waktu itu aku benar-benar tertidur dan tidak mendengar semua perkataannya.

Hahaha. Sudahlah appa, aku sudah tahu semuanya. Lagipula, aku sudah mengerti kenapa appa bersikap seperti itu padaku.

Aku menghampiri appa yang masih terlihat cuek. Aku langsung memeluknya erat. Ia terlihat kaget dan sedikit canggung.

“Appa, terima kasih telah mengizinkanku”

“Ne, kau belajar yang baik ya. Ingat, jangan macam-macam” kata appa, masih terlihat cuek.

Hahaha. Appa… Appa…

Aku melepaskan pelukanku pada appa.

“Siap, bos!” kataku sambil hormat padanya.

“Hhh, dasar anak kecil. Sudah, pergi sana. Pesawatmu sebentar lagi akan berangkat” appa mendorong-dorongku agar cepat pergi.

Aku melambaikan tanganku sekali lagi pada mereka sebelum akhirnya pergi menuju pesawat yang akan membawaku ke Amerika.

Appa masih menganggapku seperti anak kecil. Biarlah, aku memang Lee Hyunseon, putri kecil appa. Selamanya.

Terima kasih appa. Hyunseon kecilmu ini bisa menjadi seperti sekarang karena didikan appa. Aku berjanji akan menjadi anak appa yang paling hebat.

 

THE END

Salam kenal buat semuanya.. ^^ dyu imnida.. ^^

Gomawo yang udah mau baca.. ^^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

31 thoughts on “Dear Father!”

  1. ya ampuuun…..
    Author bikin gw nangis..
    Apalagi pas bc ini sy lg ada masalah ama appa… Huhuhu
    *curcol, abaikan*

    like this FF! Love it! Nice, author! 😀

  2. hiks . . .
    crita x bkin aq nangis. kbetlan bgt crta x hampir sm ky khdupn q.
    appa q jg msh ang9ap aq anak kecil. pdahl aq udh 19 thn. sukur x appa g pr0tective

  3. sedihnya~~ terharu aku bacanya dyu~~ T^T
    andai aku punya Appa kayak Onew ya (??)
    ngeeh~~

    pokoknya daebak lah~~
    bikin lagi dyu~~ fufufu~~
    eh eh~ lama tak ngobrol ya??
    ingatkah kau dengan aku?? 😀
    *diusir*

  4. Daebak author~~
    aku sampai meneteskan air mata membaca FF ini~ *lebe amat -_-* tapi beneran looooh /plak
    big thumbs lah for author~ xD

  5. So sweEt..
    Aq mpe nangiz bAcAnya..
    Jd inget appaku di rumah… T.T
    .
    Keren bAnget ffmu, chingu..
    Sumpah, daebAk..
    Good job, auThor, ^^

  6. aaaaaaaa ., terharu banget pas baca alesan jinki appa (?) ., tiba tiba langsung teringat papaku yang sedang nonton TV di ruang tamu (apaan sih? Ga nyambung pisan) .,
    good job author, ff nya sesuai banget sama kehidupan sehari hari remaja (sok bijak)
    hohohoho ^o^

  7. huwaaa~ keren~
    tpi jinkinya emg keterlaluan. klo jinki yg kyk gitu jdi appaku, bisa gawat atuh! appa dan ummaku yg skrg aja protected bgd~ sedihnya… >.< *kok jdi curhat?*
    good job author~ d^^b

  8. Keren!! Uhw jinki jdii ayah Ɣªήğ baik,, prhatian πª pantas kok,, duh terharu nih,, jdi pengen nangis, good job!!

  9. Gak ngebayangin jinki 45 tahun =.=
    Eh unnie,sooryy ya baru bisa comment…..

    Kasian juga sih,tapi ya namanya ortu sayang anak (?)
    Aku suka suka!

  10. annyeong semuanya..
    wah,, mian yak aku baru muncul.. -____-
    *jedotin kepala ke tembok*
    ffufufufu.. sampe ada yang nangis pula..
    jadi terharu aku.. T-T *halah*
    btw makasih ya semuanya udah mau baca n ngomen.. *hugs*
    salam kenal semuanya!! 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s