One Fine Spring Day Part 2

One Fine Spring Day Part 2

Cast: Lee Jinki, Song Minji

Rate: PG 13/15

Length: Sequel

Genre: Romance

Author: Mutiaadha

 

©2010 SF3SI, Freelance Author.

 

~Jinki POV~

Sudah hampir seminggu berlalu sejak aku mengatakan kalau aku tidak menyukainya. Dan seminggu terakhir ini juga, Ia seperti menghindariku.

Entahlah, aku tidak mengerti. Ia memang sengaja menghindar atau hanya perasaanku saja.

Tapi sungguh, aku meras menyesal mengatakan hal itu padanya. Aku ingin bicara padanya, mengatakan kalau aku tidak benar-benar membencinya, tapi aku tidak yakin. Jangankan untuk mengatakan itu, untuk dekat dengannya saja aku tidak berani.

Hmmm.. kuharap aku bisa memperbaikinya. Aku tidak mau Ia menjaga jarak seperti ini, paling tidak aku harus memberanikan diri untuk mengobrol dengannya.

“Hey Onew!!” tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundakku. Suaranya amat ku kenal,  Kibum.

“Ya ada apa Kibum?” jawabku malas.

“Hey jangan panggil aku Kibum, panggil aku Key!” perintahnya.

“Kalau begitu jangan panggil aku Onew, panggil aku Jinki, Lee Jinki!”

“Waeyo? Nama Onew bagus”

“Ya memang bagus jika bukan kau yang memanggilku”

“Haish kau ini. Heh ngomong-ngomong kau masih menyukainya?”

Aku mengerutkan kening pura-pura tak mengerti.

“Song Minji, apakau menyukainya?”

“Tidak”

Kibum mencibir “Hah biar kau bohong juga aku tau semuanya dari matamu”

“Memang ada apa dimataku?”

“Ada cahaya berkilat-kilat memancarkan cinta”

Huek, aku mau muntah liat gaya Kibum yang sok imut ini.

Tiba-tiba Taeyeon seosengnim datang, sontak kelas kembali tenang dan Kibum pun segera kembali kebangkunya.

“Anak-anak saya punya tugas kelompok buat kalian” kata Taeyon seongsenim yang langsung disambut malas oleh anak-anak sekelas. “saya telah membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang, tugasnya adalah memperhatikan perubahan-perubahan sosial yang ada disekitar kita.

“Baiklah, saya sebutkan anggota kelompoknya. Minho dengan Eun Ja, Taemin dengan Jong Eun, Kibum dengan Na ra, Jonghyun dengan Hae Na, Jinki dengan Minji–“

Apaaaa?

Apa kata Seongsengnim barusan?

Aku dengan siapa?

Song Minji?

Aku masih terpaku, mencoba mencerna kata-kata seongsenim yang belum dapat ku percaya sepenuhnya.

Namun tiba-tiba…

“Seongsenim, aku boleh ganti teman sekelompok?” kudengar suara Minji kemudian.

“Waeyo? Kau tidak suka sekelompok dengan Jinki”

“An.. aniyo, hanya saja aku rasa Jinki-ssi tidak mungkin mau sekelompok denganku”

“Gureyo, Jinki?” tanya Taeyeon seosengnim padaku.

“Ani, aku tidak masalah” kataku mencoba tenang. Mungkinkah ini kesempatan yang diberikan Tuhan untukku memperbaiki kesalahanku? Ya semoga saja…

“Baiklah kalau Jinki setuju sekelompok denganmu, kau harus tetap sekelompok dengannya, Minji~ah”

Aku tersenyum hambar. Aku dan Minji sekelompok?

Tunggu.. Hanya berdua ?

Haish eottokhae?

Mengapa aku baru sadar?!

***

“Jinki-ssi” panggil seseorang yang suaranya amat kukenali, Song Minji.

Aku menoleh, mencoba tetap tenang, walau aku tetap harus menjaga jarak lebih dari satu meter darinya.

“Ada apa?”

“Kenapa kau mau sekelompok denganku? Bukankah kau membenciku?”

Sejak kapan aku membencimu, aku malah sangat mencintaimu.

“Kenapa jika aku ingin sekelompok bersamamu, kau tidak suka?”

“Bukan begitu, tapi kupikir-“

“Kalau begitu masalahnya selesai” aku memotong kalimatnya. “datanglah besok kerumahku, jam sepuluh pagi, kau tau rumahku kan?” Ia mengangguk. “ne, kalau begitu sampai bertemu di rumahku” kataku sambil kemudian pergi meninggalkannya.

Aku memegangi dadaku yang kini berdebar keras tapi kemudian perlahan-lahan mulai berangsur tenang. Aku dapat mengendalikan diriku sekarang.

Aku tersenyum simpul. Setidaknya aku telah memberanikan diriku selangkah lebih maju untuk dekat dengannya. Aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki kesalahanku. Aku ingin mengatakan padanya kalau aku tidak benar-benar membencinya. Masalah akan bagaimana perasaanku padanya nanti, aku tidak perduli, aku hanya ingin mengatakan padanya kalau aku tidak benar-benar membencinya.

***

~Minji POV~

Aku berdiri ragu didepan sebuah rumah putih besar bergaya minimalis ini sebelum akhirnya memberanikan diri memencet bel.

Ya ini adalah rumah Lee Jinki, teman sekelasku yang kusuka. Ia menyuruhku datang kerumahnya untuk kerja kelompok. Hmmm.. agak cangung juga untukku datang kerumahnya mengerjakan tugas berdua bersamanya , apalagi setelah sebelumnya Ia mengatakan kalau Ia tidak menyukaiku. Tapi entah mengapa, aku tidak sakit hari padanya, aku sedih karena ternyata Ia tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku, tapi kupikir stidaknya kami masih bisa bertemankan?

Tak begitu lama, tiba-tiba saja pintunya terbuka, munculah seorang wanita cantik yang kutebak adalah ummanya Jinki.

“Annyeonghaseo Ahjumma” kataku sambil memberi salam.

“Kau siapa ya?”

“Naneun Minjimnida, Jinki-ssi nya ada Ahjumma?”

“Oh temannya Jinki, ya Tuhan kupikir seorang namja yang akan datang ternyata seorang yeoja cantik, ayo mari masuk”

“Ne” aku melangkah masuk kedalam.

“Kau dan Jinki pasti teman dekat ya, ah aku senang sekali akhirnya anakku mempunyai teman seorang yeoja”

Aku hampir mati berdiri. Teman dekat apanya?

“Sebelumnya belum pernah ada yeoja yang datang kesini. Kau yang pertama, jadi kupikir kau adalah tamu spesial Jinki”

Aku terkejut lagi. Yeoja pertama?

“Baiklah karena kalian sangat dekat, kau langsung saja ke kamarnya, letaknya tidak jauh dari tangga, Jinki ada dikamarnya”

“Tapi aku bisa tunggu disini sampai Ia datang”

“Haish sudahlah tak usah malu-malu. Cepat sana, anggap saja rumah sediri” Umma Jinki mendorongku untuk segera menaiki tangga.

Ya mau bagaimana lagi, akhirnya kuputuskan untuk pergi ke kamar Jinki yang katanya ada dilantai dua, dekat dengan tangga.

Aku menemukan sebuah papan bertuliskan Onew’s room di depan pintunya. Aku yakin itu pasti kamarnya, aku pernah mendengan Key memanggil Jinki dengan sebutan Onew, jadi kupikir aku tak mungkin salah.

Ku ketuk pintunya tapi tak ada balasan, kemudian ku tempelkan daun telingaku kepintu dan aku tak mendengar suara apa-apa dari dalam kamarnya. Sepertinya Ia tidak ada. Kuputuskan untuk membuka pintunya sedikit dan… berhasil, tak di kunci.

Baiklah sebaiknya aku masuk.

Namun ketika aku melangkahkan kaki kedalam kamarnya, aku melihat pemandangan yang seharusnya tak ku lihat.

Jinki-ssi.

Ia disana, baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian pinggang sampai lututnya.

“HUAAAAA!!!” Teriak kami bersamaan.

Aku langsung menutupi wajahku dengan tangan, berusaha untuk tidak melihatnya.

Ia juga langsung menutupi tubuhnya dengan tangan, walaupun pada kenyataannya aku telah melihat semuannya selama detik.

“Heh apa yang sedang kau lakukan di kamarku?!!!” bentaknya.

“An.. aniyo, aku.. aku” aku bicara dengannya dengan posisi tangan masih menutupi wajahku. “sebaiknya aku keluar dulu, segeralah kau berpakaian” kataku sambil kemudian pergi keluar kamarnya.

“Haish~ eottokhae, aku telah melihat itu~”

***

~Jinki POV~

Aku masih mencoba mengatur nafasku. Dadaku berdebar tak karuan.

Apa-apaan dia ini?

Apa yang sudah Ia liat?

Apa semuanya?

“Haish~” sekali lagi ku acak-acak rambutku dan kutatap wajahku di dalam cermin dihadapanku ini, lalu kemudian kutarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya memberanikan diri keluar dari kamarku, menghampirinya.

Biar bagaimanapun Ia ada dirumahku sekarang, mana mungkin aku tak menemuinya. Apalagi aku yang menyuruhnya datang, ya aku memang harus membukakan pintu untuknya. Kalau tidak sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberanikan diri mendekatinya.

Aku berjalan kerah pintu lalu membukanya.

Kulihat Ia masih berdiri di depan pintu kamarku, dengan wajah menunduk kebawah.

“Masuklah, aku sudah selesai”

Mata kami bertemu, dan seketika kami terdiam, terlarut dalam pikiran kami masing-masing.

“Haish~ masuklah” kataku yang kemudian masuk kedalam kamarku, kemudian di ikuti olehnya.

Aku menggelar buku-buku dilantai. Dan kemudian langsung membuka materi yang akan kami diskusikan.

Hampir 30 menit kami belajar, dengan posisi aku dan dia berada dalam jarak lebih dari satu meter. Dan sebisa mungkin aku menghindari tatapannya, supaya jantungku tak berdebar kencang lagi.

Tapi kupikir, lelah juga berdiskusi dari jarak sejauh ini. Apa sebaiknya aku menyuruhnya untuk sedikit lebih mendekat ya?

“Minji~ah, kupikir susah juga berlajar dengan jarak sejauh ini” kataku sedikit ragu

Aku merasa aku kini mulai terbiasa berada di dekatnya, jantungku mulai bisa terkontrol dengan baik.

“Bukankah kau suka jika aku tidak mendekat dengan denganmu” katanya tanpa melihatku.

“Haish baiklah, kutarik kata-kataku, mendekatlah~”

Ia menatapku sebentar sambil kemudian berjalan duduk disebelahku.

Aku menatapnya, dan entah mengapa lagi-lagi jantungku berdebar keras. SIAL!

Lee Jinki kendalikan dirimu~

“Jinki-ssi apa menurutmu ini sudah benar?” Minji menyodorkan sebuah paper kearahku, menyuruhku untuk mengoreksinya.

Aku mengambil paper itu lalu membacanya, tapi sama sekali tak dapat ku cerna, otakku tak mampu berpikir jernih. Hanya ada dia dipikiranku sekarang.

Aku melayangkan pandanganku yang kearahnya yang kini sedang sibuk dengan paper yang lain.

Kuperhatikan wajahnya, kupandangi setiap lekukan indah maha sempurna dihadapanku ini, dan aku baru menyadari kalau Ia sangat cantik.

Cantik sekali

“Jinki-ssi aku su-” kalimatnya terpotong ketika tiba-tiba saja Ia melihat kearahku. Dan aku tertangkap basah sedang memperhatikannya, tapi buru-buru ku alihkan pandanganku kearah lain.

“Jinki-ssi” panggilnya

“Ne” Jawabku tanpa melihat kearahnya.

“Kenapa kau memperhatikanku?”

“Siapa yang memperhatikanmu”

Aku mendengarnya menghela nafas. “Jinki-ssi, mianhae. Mianhae karena telah masuk kekamarmu dan melihat-“

“Lupakanlah, anggap saja tak pernah terjadi” kataku sambil kemudian membereskan buku-buku yang berserakan.

“Jinki-ssi” panggilnya lagi.

“Apa lagi?”

“Apa benar aku yeoja pertama yang datang kerumahmu?”

Aku menghentikan acara beres-beres bukuku, lalu menatapnya dan mengangguk.

“Atau jangan-jangan aku juga yeoja pertama yang melihat dadamu?” katanya dengan nada sedikit mengejek.

Kutatap Ia dengan tatapan sinis “Kalau iya memang kenapa?”

Ia mencibir sambil kemudian menggeleng.

“Berati aku beruntung!”

Aku menatapnya dengan alis teangkat sebelah

“Mwoya?”

“Ani””Sudahlah aku lelah, kurasa belajar hari ini cukup”

“Ne, kalau begitu mungkin aku harus segera pulang”

“Tunggu” aku menatapnya dengan debaran jantung yang mulai berpacu lagi “mauku antar?”

“Mwoya?”

“Ya kalau tidak mau juga tidak apa-apa sih”

“Aku mau!”

Aku melebarkan mataku.

Gureyo?

“Baiklah, kajja”
***

“Sudah sampai” katanya ketika turun dari motorku.

Aku menatap rumah dihadapanku. Rumahnya masih khas korea.

“Ne, aku pulang kalau begitu”

“Tidak mau mampir?”

“Ani, sudah sore”

“gureyo?”

“Memangnya kalau aku mampir tidak akan ada yang marah?”

“Appaku tidak jahat, ia tidak mengigit namja yang datang kesini”

“Ani, bukan itu maksudku, pacarmu~” kataku ragu ragu.

“Aku tidak punya pacar”

MWORAGO???!!

Aku mencoba mencerna kata-katanya.

Jadi Dia belum memiliki pacar?

Jadi pikiranku selama ini salah?

Tapi benarkah ? tidak ada yang salah kan dengan pendengaranku? Berarti aku… aku masih memiliki kesempatan..

“Mhh.. lain kali saja aku mampir ya.”

“Ah baiklah, aku tak bisa memaksa. Gumawo ya sudah mengantarku~”

“Minji~ah”

Aku memberanikan diriku, sungguh ini jalan yang diberikan Tuhan untukku. Aku tidak ingin menyia-nyiakannya lagi

“Ne”

“Maukah kau menemaniku ke festival musim semi hari besok?”

Kuberanikan diriku mengajaknya. Walaupun saat ini aku harus panas dingin menunggu jawabannya.

“Festifal musim semi disebelah gedung KBS TV itu? Yang setahun sekali itu kan? Wah itu bagus sekali. Aku sangat suka musim semi, sangat suka. Pasti indah sekali melihat bunga-bunga bermekaran. Aku mau Jinki-ssi”

“Mwo?”

“Ne, aku mau”

KYAAAAA APA KATANYA?

Ia mau? Sinca? Gureyo?

Ya Tuhan, apalagi yang bisa membuatku lebih bahagia daripada ini.

***

~Song Minji POV~

Depan gedung KBS TV, Festival musim semi.

“Waah indah sekali” kataku kagum ketika melihat bunga sakura dan beberapa bunga Mugunghwa yang sedang mekar pada musim semi.

Saat ini aku dan Jinki sedang mengunjungi festifal musim semi yang setiap tahunnya diadakan di depan Gedung KBS TV.

Ya, entah kenapa tiba-tiba saja Jinki mengajakku ke festifal ini, dan dengan senang hati kuterima ajakannya.

Aku tidak tau apakah ini bisa disebut kencan pertama kami atau bukan, aku tak perduli apa namanya, yang jelas saat ini aku sedang jalan bersamanya, hanya berdua, tanpa siapa-siapa.

“Jinki-ssi, kau tau, aku sangat menyukai musim semi loh. Diantara empat musim yang ada, aku paling suka musim semi. Musim semi itu indah, singkat tapi berkesan” kataku sambil sibuk melihat-lihat keadaan sekeliling. “kau suka musim apa?”

“Tidak ada musim yang kusuka, semua sama saja” katanya yang masih saja sedikit ketus padaku. “Kau mau Ice Cream?” tanyanya yang tiba-tiba menghentikan aktifitasku melihat sekeliling.

Aku mengangguk “Kau yang traktir ya~”

“Hah baiklah” katanya pasrah “tunggu disini, jangan kemana-mana aku akan segera kembali”

Sambil menunggunya kembali aku memutuskan untuk melihat sekeliling. Menikmati indahnya festifal satu tahun sekali ini.

Kulihat banyak sekali orang yang datang ke festival ini, kebanyakan adalah sepasang kekasih. Seorang yeoja dan seorang namja.

What, tunggu sebentar. Seorang yeoja dan seorang namja. Bukankah aku dan Jinki-ssi adalah seorang yeoja dan seorang namja? Lalu…

Haha, kurasa aku mulai gila, senyum-senyum sendiri.

Sejak ada tugas kelompok yang dibuat Taeyeon seosengnim aku dan Jinki jadi cukup dekat. Kami sering mengobrol walaupun terkadang Ia masih bersikap dingin padaku.

“HEH DARI MANA SAJA KAU!!!” teriak Jinki yang tiba-tiba datang.

Senyumku mengembang “Jinki-ssi kau sudah datang?” kulihat sudah ada dua corn Ice Cream ditangannya.

“KAU KENAPA MENGHILANG, AKU MENCARIMU!!!” Teriaknya yang langsung membuatku shock mendadak.

“Jinki-ssi ada apa?”

“Aku menyuruhmu untuk tetap mengungguku disana, kenapa kau pergi, aku mencarimu!”

“Jinki-ssi aku tadi hanya melihat-lihat sebentar”

“TAPI KAN SUDAH KUBILANG JANGAN KEMANA-MANA!!!”

Aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku. Aku memang mesin penghasil air mata paling banyak mungkin.

Tanpa aku mau, tanpa aku ingin air mataku sudah mengalir deras membasahi kedua pipiku.

“Jinki-ssi, mengapa kau membentakku, mengapa kau berteriak padaku, mengapa kau selalu ingin membuatku menangis, apa kau benar-benar membenciku?”

***

~ Jinki POV~

“Apa kau benar-benar membenciku?”

Aku menatapnya bingung. Aku tidak tau kenapa tiba-tiba Ia menangis. Aku tidak mengerti. Apa ini semua salahku?

“Minji~ah kau… kau kenapa, aku, apa, yang aku, haish jebal katakan padaku kau kenapa?” aku mulai kebingungan, pasalnya Ia menangis ditempat umum, di depan orang banyak.

“Minji~ah jebal berhentilah menangis”

Tapi bukannya berhenti, tangisnya makin pecah dan kencang.

“Haish~” tanpa ragu lagi kutarik Ia kedalam pelukanku, entah bagaimana dengan reaksi jantungku, aku tak peduli kalau sekarang jantungku berdetak lebih cepat lagi, tak peduli kalau Ia dapat merasakan debaran jantungku, mengetahui perasaanku, sungguh, aku tak perduli sekarang.

“Mianhae, jeongmal mianhaeyo Minji~ah, aku hanya khawatir karena kau menghilang, sungguh” kataku sambil mendekap erat-erat tubuhnya.

“Kumohon, maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu menangis seperti ini” kataku ketika aku telah melepaskan pelukannya.

Aku menatapnya dalam-dalam. Entah mengapa ketika itu aku merasakan dunia disekitarku berubah. Entah mengapa saat itu tiba-tiba saja muncul keberanianku untuk menyatakan perasaanku padanya.

“Minji~ah, mianhae… jebal mianhaeyo~ aku sungguh tidak bermaksud menyakitimu, aku juga tidak pernah membencimu, sebenarnya aku sangat men-“

Noonan nomu yehpuh

Geu geunyuhreul boneun naneun michyuh

Ha hajiman ijehn jichyuh

Replay replay replay~~~

Tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. Aku meringis pelan.

Sial! Kenapa harus ada telfon disaat seperti ini.

Ia mengangkat handphonenya “Yeoboseyo. Oh Umma… ne, ah ne araseo, aku akan segera pulang, ne annyeong umma”

Ia menutup telfonnya sambil kemudian menatapku “aku harus segera pulang”

“Ne, kuantar kalau begitu” kataku sambil kemudian menggandeng tangannya.

Aku merasakan tatapan bingungnya, tapi aku tak perduli, aku terus memegang tangannya erat.

Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk menyatakan padanya, tapi setidaknya aku jadi memiliki sedikit keberanian untuk mendekatinya.

Aku, dia dan awal musim semi, kurasa itu sudah lebih dari cukup.

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

13 thoughts on “One Fine Spring Day Part 2”

  1. AKHR-A APDET JUGA
    HEUH lama-nyaa T-T
    yey , akhr-a jinki ada perubhan . wkwkwk
    lanjod lanjod lanjod palli yow hehe
    nice FF . tpi krang panjang hahaha

  2. Hyaaa untung aku nekat ol di tengah2 belajar buat UAS. Gak rugi ternyata ff ini udah keluar lanjutannya. *lompat2*
    Aku bacanya sambil senyam senyum sendiri, gregetan. Haish itu telpon ganggu, padahal tinggal ngomong ‘cintaimu’ doang.. Lanjutannya cepetan dong..gak sabar aku hehe

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s