Greece in Present – Part 1

Greece in Present – Part 1

Author            :  Lee Chira

Length           :  2shots/3shots

Genre             :  Fantasy, Romance, Mythology

Rated             :  General  /  PG13

Main Cast      :

SHINee – Lee Taemin a.k.a Icarus

SHINee – Choi Minho a.k.a Mars

Justice (OC)

Venus / Aprhodite (OC)

Minor Cast :

Jupiter / Zeus (OC)

Juno / Hera (OC)

Disclaimer : Lee Taemin and Choi Minho belong to themselves, parents, SHINee and SM Ent. The other cast belong to my imagination based on my unbelievable dream. So does the plot.

PS :  90% berdasarkan mimpi sy di siang bolong. Asli mimpi yg aneh+GJ sangat!! Selamat datang di dunia mimpiku yg g normal ini.

©2010 SF3SI, Freelance Author.

Mars POV)

“Kau pikir kau siapa, idiot?”

Suaranya meninggi seraya berjalan mengelilingi ruangan, menjauhiku. Ia menatapku garang. Sepertinya ia benar-benar marah. Hal yang biasa sebenarnya buatku. Di hadapan banyak orang, ia adalah sesosok dewi perkawinan yang lembut. Ia dikenal cukup bijaksana, apalagi ia sering menyelamatkan hubungan kekasih ataupun suami-istri. Huh! Penyelamat apanya? Mungkin aku adalah satu-satunya orang yang berpendapat bahwa perempuan di depanku ini cukup mengerikan. Ia hampir-hampir tak pernah bersikap baik padaku, apalagi lembut. Dan aku sudah membuang jauh-jauh keinginanku untuk melihatnya bersikap manis padaku. Bersikap manis di depanku itu sudah biasa tapi pada orang lain, bukan padaku.

Rasa-rasanya ia memiliki dua kepribadian. Kepribadian baik yang ditunjukkan kepada orang lain, dan kepribadian mengerikan yang hanya ditunjukkannya padaku. Aku tidak tahu apakah harus senang atau tidak, setidaknya akulah satu-satunya orang yang mengenalnya dari dua sisi. Dan masalah dia sebagai penyelamat hubungan orang lain? Memang betul adanya. Suami-istri yang hampir bercerai menjadi rukun kembali, kekasih balikan lagi. Bahkan yang sudah cerai saja berdamai dan rujuk kembali. Kekuatannya sebagai seorang dewi perkawinan memang membuatnya seperti itu.

Ia diidam-idamkan. Bijaksana, lembut, baik hati, dan ia berparas cantik. Amat cantik malah. Bahkan meskipun saat sedang naik darah seperti ini, ia tak kehilangan kecantikannya. Sebuah gaun perak panjang sampai kakinya membuatnya terlihat anggun. Rambut merah panjang yang bergelombang, mata bulat berwarna hijau berkilau, bibir merah muda. Semuanya terangkai di dalam wajahnya yang meninggalkan kesan lucu dengan pipi chubby-nya. Dan yang terpenting adalah statusnya sebagai seorang dewi.

Dewi. Kami hidup di zaman yunani kuno. Dengan dia sebagai dewi perkawinan dan kecantikan yang dipuja-puja. Dia adalah Venus. Dan aku adalah Mars. Kalau kalian mengetahui jalan cerita tentang yunani kuno seperti aku atau dia, kalian pasti tahu bahwa dalam cerita tersebut aku adalah suami Venus. Tapi kita tidak akan membicarakan masalah cerita yang itu. Karena entah ada angin apa, sekarang cerita itu berubah 270 derajat dari semestinya. Ia, Venus, memang masih bersamaku, Mars. Tapi bukan sebagai sepasang suami-istri yang rukun dan akur, melainkan sebagai pasangan kekasih. Bukan. Entahlah, aku juga tak tahu harus menyebutnya apa. Tapi ia adalah tunanganku. Kami djodohkan. Aku memang menyukainya. Hey, siapa coba yang tidak mau ditunangkan dengan seorang dewi seperti Venus? Aku yakin, beribu bahkan berjuta pria mengantri untuknya.

Ia memang tidak pernah menolak perjodohan itu secara langsung. Tapi hubungan kami sangat jauh dari perkiraan orang-orang. Kami sering bertengkar, tidak pernah akur, saling menyalahkan satu sama lain. Dan ia selalu berubah dari sosok malaikat menjadi ratu iblis bila hanya berada di hadapanku. Apa dia punya dendam kesumat padaku ya? Entahlah. Tapi perlahan-lahan aku mulai berpikir tentang hubungan kami.

Seperti hari ini. Ia mengamuk padaku. Oke, kali ini memang kesalahanku. Pada perang terakhir yang kupimpim, kami memang menang. Tapi kemenangan itu harus dibayar mahal dengan terlukanya salah satu komandan serangku. Komandan serangku yang paling muda dan baru dua kali ikut berperang. Icarus. Icarus adalah adik satu-satunya Venus. Lukanya lumayan parah, sangat parah malah menurut Venus. Sebuah burung api yang dilepaskan Icarus dipantulkan oleh lawan saat kami bersiap meninggalkan lokasi perang karena kemengan telak yang kami dapatkan. Saat itu kami sudah terlalu senang hingga mengacuhkan sisa pasukan lawan yang masih bernafas. Ia dengan sisa tenaga dan kekuatan mencoba bangkit. Icarus melihatnya dan melepaskan sebuah burung api. Burung api tepat mengarah pada si lawan itu. Tapi sebelum Icarus dan yang lainnya melihat akhir burung api itu, kami semua berbalik, termasuk Icarus. Dan selang beberapa detik kemudian terdengar teriakan Icarus. Aku menoleh dan menyaksikan burung api itu telah memantul dan mengenai Icarus, tepat di punggung kanan atasnya. Api berkobar, membuat Icarus meraung-raung.

Mengetahui hal itu, Venus marah bukan main. Sebuah tatapan penuh dendam ditunjukan padaku. Sekarang ia menangis. Tak sanggup menahan kesedihannya. Icarus memang masih hidup. Tapi kondisinya. Aku juga tak yakin. Ia tidak sedang baik-baik saja. Bagian tubuh sebelah kanannya sebagian melepuh. Tangan kanannya lumpuh sementara. Orang tua Venus, Jupiter dan Juno mungkin bisa memakluminya. Tapi bagaimana dengan Venus? Aku yakin, bila ia diizinkan, ia tak akan segan-segan membunuhku saat ini juga.

Aku berjalan mendekati Venus. Air mata mengalir di pipinya. Tapi tatapannya tetap menusuk ke arahku. Oke, mungkin lain kali baru aku bisa menjelaskan semuanya padanya.

(Author : oke, jadi di sini author menggabungkan karakter Venus dengan Juno. Semuanya demi kekuatan karakter. Dalam mimpi author, seperti itulah adanya. Mian)

…………………………………………………………………………………………………………………………………….

Aku berjalan keluar dari ruangan Venus. Aku tertunduk. Terlalu bersalah padanya. Tak sengaja aku menabrak seseorang. Ia meminta maaf lalu berjalan memasuki ruangan Venus. Aku melihat punggungnya yang perlahan menghilang. Sepertinya ia familiar denganku. Aku berjalan sambil berusaha mengingat. Dia..dia..Ah, aku ingat! Dia Justice. Justitia. Salah satu dayang Venus yang paling setia.

…………………………………………………………………………………………………………………………

Aku mendekati Justice. Hal ini berkenaan dengan usahaku untuk menjelaskan pokok permasalahan kepada Venus melalui Justice. Kami sering menghabiskan waktu bersama, sekedar membicarakan tanggapan-tanggapan Venus saat Justice berusaha memberitahu Venus apa yang sebenarnya terjadi secara perlahan.

Aku memperhatikan Justice yang mulutnya sibuk berkomat-kamit menceritakan tanggapan Justice. Deg! Aku terus menatap Justice yang sepertinya belum menyadari bahwa sedari tadi aku menatapnya. Dia cantik juga. Dialah yang sebenarnya lemah lembut. Aku belum pernah melihatnya marah atau bersikap dingin. Emosinya selalu distabilkan saat ia berhadapan dengan orang lain. Perlahan-lahan aku mulai membandingkannya dengan Venus. Justice yang begini. Venus yang begitu. Aku menggelengkan kepalaku. Tidak boleh. Tidak boleh.

Ini tidak boleh terjadi.

(End of POV)

………………………………………………………………………………………………………………

(Venus POV)

Aku berdiri sambil menopang daguku di besi penahan di balkon kamarku. Aku memandang lurus ke depan, menatap ke sebuah gunung yang berjarak puluhan mil dari tempatku. Icarus. Bagaimana keadaanmu sekarang? Tahukah kau bahwa kami di sini khawatir dan selalu merindukanmu? Ingatanku kembali pada penjelasan salah satu komandan serang yang ikut pada perang itu dan menyaksikan kejadian itu. Aku tidak akan memaafkanmu, Mars. Kau keterlaluan!

“Aku minta maaf. Itu memang salahku,”

Aku menoleh secepat kilat. “Kau..”

Aku menatap Mars yang berdiri beberapa meter di sebelahku. “Siapa yang mengiizinkanmu masuk, huh?”

“Tentu saja aku bisa. Aku tunanganmu,” ia berjalan mendekat.

Aku membuang muka. Tunangan? Yang benar saja. Tidak ada pria yang akan mencelakai calon adik iparnya. Tidak ada, kecuali Mars.

“Icarus, dia..”

“Dia masih terlalu muda untuk ikut berperang. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan tingkat duanya. Seharusnya ia masih berada di asramanya untuk pendidikan tingkat tiganya. Kalau ia sudah menyelesaikan pendidikan terakhirnya itu, ia mungkin tidak akan celaka seperti itu. Kau tahu kan?” Aku menatap Mars tajam, berusaha menahan emosiku. “Kau tidak seharusnya mengiizinkan dia ikut. Dia sedang berada dalam usia yang ingin mengetahui dan mencoba segalanya. Tapi kau dengan bodohnya mengiizinkan dia ikut berperang.

“Kau, dengan segala keegoisanmu dan pemikiran dengan bertambahnya satu komandan serang yang hebat dari akademi akan membuatmu menang dengan mudah. Kurasa otakmu sudah benar-benar sinting. Dirimu yang haus akan kemenangan. Yang ada di otakmu itu hanyalah perang-menang-pesta-perang-pesta. Kau bahkan menghalalkan segala cara demi kemenangan itu. Sampai-sampai kini giliran adikku yang menjadi korban. Pria macam apa kau? Bertanggung jawab saja tidak!”

Aku berbalik dan beranjak meninggalkannya yang mematung. Kurasa jiwamu sudah dirasuki oleh iblis jahat. Tidak, sebenarnya kaulah raja iblis itu!

………………………………………………………………………………………………………..

Aku memasuki ruangan Icarus. Ruangan ini memang jarang dipakai. Sejak ia berusia dua belas tahun, ia masuk ke akademi untuk kepentingan pendidikannya. Pendidikannya dalam menjalankan tugas kerajaan Olympus, bagaimana membangun dan mempertahankan keutuhan kerajaan, bagaimana pembagian teritori kerajaan, teknik berperang, dan sebagainya. Ia baru menyelesaikan pendidikan tingkat duanya dan masih menyisakan tingkat akhirnya ketika ia berlibur ke istana dan tak sengaja mendengar percakapan ayahku, Jupiter dengan Mars tentang ‘undangan’ berperang dari Persia yang ingin merebut teritori selatan Olympus yang menjadi teritori milik Poseidon. Dan Icarus yang masih muda dengan segala adrenalin yang mengalir deras di dalam tubuhnya, meminta diri untuk mengikuti perang.

Perang itu dimenangkan oleh kubu kami. Tak lupa bantuan Poseidon yang mengirim ombak besar dan badai laut ke kubu Persia yang katanya memiliki skuad maritim yang kuat. Icarus senang bukan main. Partisipasi pertamanya dan mereka menang. Jelas saja mereka menang. Kekuatan Poseidon sebagai penguasa laut tidak perlu dipertanyakan. Dan Icarus mulai kecanduan perang. Karena kontibusinya yang banyak saat perang di lautan, Mars mengiizinkannya ikut berperang. AKu tentu saja menentangnya. Icarus saat itu harusnya menghabiskan waktu dengan keluarganya, kami sudah lama tidak bertemu. Ia juga perlu mempersiapkan dirinya. Dan ia memang mempersiapkan dirinya. Bukan untuk kembali ke akademi untuk pendidikan terakhirnya tapi. Ia mempersiapkan dirinya bersama skuad perang lainnya. Oh tidak! Aku tahu bahwa di usianya sekarang, penyimpangan-penyimpangan itu biasa dilakukan. Tapi bukan penyimpangan jenis ini.

Aku masih mengingat dengan jelas wajahnya yang berbinar-binar dengan senyuman yang mengembangkan di bibirnya. Ia terlihat begitu antusias. Tetapi antusias untuk berperang? Ia masih terlalu polos untuk mengerti apa itu perang. Aku benci itu.

Dan aku semakin membenci perang saat mendapati adikku satu-satunya harus pulang ke istana dengan dipapah oleh Mars. Baju perang Icarus yang terbuat dari aluminium kuat tak menghalangiku panca inderaku yang menangkap sosok Icarus yang setengah kulitnya melepuh. Mars merebahkan tubuh Icarus. Kami semua menghampiri Icarus. Ia meraung-raung kesakitan. Dan aku menatap Mars yang berlutut di sebelah tubuh Icarus, menunduk ke arah ayahku.

Aku menitikkan air mata.

Icarus. Perang. Mars.

Aku sangat membenci perang. Dari dulu hingga tak tahu kapan. Aku benci melihat orang-orang yang tidak berdosa menjadi korban akibat keserakahan, keegoisan, dan ambisi orang-orang yang hanya mementingkan gengsi. Banyak yang menjadi janda dan yatim karena kepala rumah tangga mereka gugur dalam pertempuran. Aku benci melihat mereka menitikkan air mata, aku benci mendengar isak tangis mereka, dan aku benci membayangkan hidup mereka selanjutnya yang tak menentu.

Dan kecelakaan yang dialami Icarus membuatku makin membenci perang. Mars. Sama saja. Aku tak peduli alibi mereka bahwa semua demi kepentingan bersama, kepentingan kerajaan. Masa bodoh dengan semua itu. Tetap saja kalian membunuh secara halus. Dan membunuh tetap membunuh.

………………………………………………………………………………………………

Icarus. Kulit bagian kanannya melepuh. Tangan kanannya lumpuh sementara. Dan ia dibawa berobat di sebuah pedalaman di balik gunung Trivista. Itu kejadian seminggu lalu. Tapi aku masih belum bisa menerimanya. Aku terlalu lemah untuk bisa menerima kenyataan bahwa keadaan adikku sangat parah dan kemungkinan ia akan sembuh sangat sedikit. Dan keadaan ini membuatku menutup diri sementara.

Kakakku saja, Poseidon penguasa laut dan Hades dewa kematian, sempat mengamuk. Poseidon membuat badai laut sebagai tanda ia sedang berduka atas kecelakaan adik bungsunya. Hades menggemparkan kerajaan kegelapannya.

Aku tidak turun tangan menangani masalah-masalah pernikahan yang terjadi. Bagaimana mungkin aku bisa menangani masalah orang lain sementara aku sendiri belum bisa menyelesaikan masalahku sendiri? Aku perlu waktu untuk menyendiri. Meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

(End of POV)

……………………………………………………………………………………………………………..

(Icarus POV)

Tok..tok..tok..

Ketukan pintu itu membuyarkan lamunanku. Aku melirik sekilas ke arah pintu lalu kembali menatap ke luar jendela. “Masuk,” kataku tanpa menoleh sedikitpun.

Pintu terbuka. Suara langkah kaki terdengar. Tapi baru dua langkah terdengar, aku menghentikannya.

“Bawa saja makanan itu keluar,” perintahku dingin.

“Tapi, Tuan Muda..” suara pelayan itu ingin memprotes.

“Kalau pun kau taruh di situ, aku tak akan pernah mau menyentuhnya,”

“Tuan Mu…”

Aku mulai tidak sabaran. “Kau pikir bagaimana aku bisa memakannya kalau bahkan tangan kananku saja sudah tidak berfungsi, bodoh!” Suaraku meninggi. Aku bisa merasakan pelayan itu sedang membeku di tempatnya di sela-sela suaraku yang bergema. Aku memelankan suaraku saat control emosiku kembali. “Jadi lebih baik kau bawa saja.. dan lekas keluar dari sini!”

Dan ia beranjak pergi, lalu menutup pintu. Bisa kudengar suara langkah kaki yang menjauh. Aku menghela nafas. Sudah tidak artinya lagi aku hidup. Kulitku yang melepuh membuat badanku dibalut perban yang sangat banyak, tanganku yang digips yang bahkan tidak bisa kurasakan lagi, dan perasaan sakit yang amat-teramat dalam di hatiku.

Hingga saat ini, sudah seminggu terhitung sejak aku dibawa kemari demi pengobatan. Pengobatan, heh? Obat dan siapa yang bisa membuat lukaku sembuh? Tidak ada. Dan atas dasar sakit itu, aku merasa berhak untuk mogok makan. Aku tak pernah menyentuh makananku kecuali bila Apparatus yang menyuruhku.

Apparatus adalah salah satu tabiat yang terkenal di Olympus. Dan beliaulah yang diberi mandat untuk mengobatiku. Aku mogok makan, tetapi martabatku sebagai anak penguasa Olympus masih membuatku untuk menghormatinya. Lagipula beliau juga selalu memberiku dukungan moril selama aku berada di tempatnya, di mana aku berada sekarang. Beliau begitu giat berusaha untuk mengobatiku. Jujur, aku terlalu takut untuk percaya bahwa aku bisa sembuh.

Meski aku menyimpan sedikiiiit harapan itu.

(End of POV)

………………………………………………………………………………………………………………

(Mars POV)

Aku semakin dekat dekat dengan Justice. Tapi kedekatan kami sekarang bukanlah kedekatan seperti dulu yang hanya karena dalam usahaku untuk menjelaskan duduk perkara kecelakaan Icarus pada Venus melalui Justice. Semua itu berubah. Sejak Venus menghilang dan tidak mau bertemu dengan siapapun termasuk Justice, dayang yang paling dekat dengannya dan kurasa sudah dianggapnya saudara sendiri mengingat Venus tidak memiliki saudara perempuan. Justice saja ia tidak mau bertemu, apalagi denganku.

Dan sejak menghilangnya Venus, aku dan Justice menjadi kehilangan alas an untuk bertemu dan dekat, pada awalnya. Tapi kemudian aku merasa tidak tahan, entah mengapa tapi aku merasa sesuatu hilang dari diriku sejak Justice tak lagi di dekatku. Hingga kemudian aku berani mendatangi tempatnya. Saat itu ia kaget bukan main, aku mendatanginya di malam hari dan dengan sebuah penyamaran. Aku memberitahunya bahwa aku rindu padanya dan ingin terus bersamanya.

Dan beginilah kami sekarang. Dekat. Tanpa ada yang tahu. Itu menurutku. Dan aku tahu itu tak akan berlangsung lama.

“Aku merasa bersalah pada, Venus.” Justice berkata pelan saat aku memainkan jarinya. Aku menatapnya yang berada di pelukanku. Aku mengernyit.

“Dia tunanganmu. Tapi apa yang kau lakukan denganku sekarang?”

“Kami tidak pernah akur. Dia.. terlalu membenciku.”

Justice bangkit hingga menjadi posisi duduk. Ia menatapku. “Tapi tetap saja. Dia sedang berduka. Dia tanggung jawabmu. Apalagi ia seperti ini karena secara tidak langsung adalah kes…” ia berhenti tiba-tiba.

“Kesalahanku. Aku tahu. Tapi bagaimana bisa aku…? Melihatku saja bahkan dia tidak mau,”

“….”

“Dan aku lebih nyaman berada di sampingmu daripada dengannya,” Aku menarik Justice kembali ke pelukanku.

Tapi apa yang dilakukannya kemudian membuatku heran. Ia bangkit dan mendorong tubuhku yang mencoba meraihnya. “Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Kembalilah, Mars.” Ia hendak berbalik saat sebuah suara mengagetkan kami berdua.

“Tidak boleh apa, Justitia, Mars?”

Sebuah suara pelan tapi menusuk dan dingin. Seseorang berdiri sambil melipat tangannya di depan dada, menatapku dan Justice bergantian dengan tatapan yang menohok jantungku. Kemudian ia menelengkan kepalanya. Kemurkaan terpancar dengan jelas saat matanya menyipit menatap kami lebih tajam seolah ia akan segera mencincang kami saat itu juga.

………………………………………………………………………………………………………………

-tbc-

Masalah nama Apparatus dan nama gunungnya truly made by my own imagination. Soalnya namanya di mimpiku kagak jelas.

Arrgh, apa sih gw?

Oke, komen y!

.leechira/

^o^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


Advertisements

11 thoughts on “Greece in Present – Part 1”

  1. Waa~~ keren FFnya~~
    aku suka aku suka yang kayak gini~~ mitologi yunani kuno emang keren deh~~
    aku suka Venus, tapi di FF ini aku lebih suka Justice, nggak tahu kenapa~~
    nggg~~ Mars aka Mino main api (??) nah lo!! bahaya~
    udah ketahuan tuh~~ wekekeke~~
    ayo~~ lanjut!! lanjut!! lanjut!!
    penasaran~~ 😀
    auhtor Daebak deh!! 🙂
    Salam kenal~~

  2. Walaupun dikit bingung coz aku gak bgtu ngerti tokoh dewa2 yunani kuno,,
    tapi critanya oke jg…
    Icarus as taemin HWAITING!

  3. oke…. ini bener2 kereeeeen~~
    aku suka bangettt…..
    ngena banget imajinasinyaaa….
    aku bisa bayanginnnn….
    huaaaaa DAEBAK!!! >.<

  4. annyeong leechira ^^
    ariesty imnida ehehe
    aish salut beneran dah sama orang2 yang bikin cerita imajinasi tingkat tinggi kayak gini >o<
    two thumbs up buat ceritanya ^^
    ayok lanjut yaah xD

  5. WEEEEEEEEEEIIIIIIIIIIISSSSSSS
    DAEBAK BANGEEEEEEEEEEEEETT
    IMAJINASINYA TINGGI DAN SAYA SUKA !!

    hayoo hayoo
    lanjuuuuuuuuuuuuuuutt
    jangan lama2..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s