VAMPIRE ACTIVITIES – Part 6

VAMPIRE ACTIVITIES – Part 6

AUTHOR                  : Kan Ah Ra (dubudays) and Shin Cha Ra

MAIN CAST             : All SHINee member

*hey hey flames, finally your namja got the most important part here  :P*

SUPPORT CAST     : Park Seungri, Choi Myungsoo, Hyukjae.

GENRE                     : Fantasy, Friendship

TYPE                         :  SEQUEL

RATE                         : PG-13

Note:

Keunyang keurae = oh, jadi begitu?

WARNING: we don’t own SHINee, they belongs to God, but we do own the story. We hate you plagiator!!

©2010 SF3SI, Freelance Author.


Narrator POV

“AAAAAHHH SAKIIIIT!!” tiba-tiba Minho terjatuh dan memegangi kepalanya.

“Minho, waeyo?” Taemin mengguncang tubuh Minho.

“AAAHH!!” dan Minho tak sadarkan diri. Key segera menggendong Minho dan segera berlari menuju dorm.

***

Minho’s past vision

“Hyukjae-ssi, kami mohon. Berilah waktu lebih lama lagi bagi kami. Kami janji akan segera menyerahkan tubuh kami padamu.”

“ANDWAE CHOI MYUNGSOO!! TERLALU BANYAK JANJI YANG KALIAN INGKARI, SEKARANG LEPASKAN ANAK ITU!”

“Hyukjae-ssi, jebal. Kami baru saja memiliki anak,kami ingin bersamanya lebih lama lagi. Apa kau tega membiarkan anak ini hidup sebatang kara?”

“Park Seungri yang manis.. SALAHMU SENDIRI YANG MAU MELAKUKAN PERJANJIAN DENGANKU. TIDAK ADA PENAMBAHAN WAKTU LAGI! LEPASKAN ANAK ITU!!”

“..uri adeul, mianhaeyo. eomma dan appa tidak bisa menjagamu lagi. Kami sangat menyesal. Semoga kau jadi anak yang baik dan patuh. Kami yakin, kau anak yang bisa dibanggakan. eomma dan appa akan terus memantau mu dari surga. Mianhaeyo, uri adeul. Yonghwonhi, saranghae…”

End of Minho’s Past vision.

Minho POV

AAH Vision itu lagi.

Hyukjae?

Park Seungri?

Choi Myungsoo?

Aku hanya tahu Park Seungri dan Choi Myungsoo. Itu nama eomma dan appaku. Tapi.. tentu saja ada Park Seungri dan Choi Myungsoo lain, kan di dunia ini.

“Minho-ya?” Taemin memanggilku. Kubuka mataku perlahan dan mencoba untuk duduk.

“ne?” jawabku

“ceritakan apa yang kau lihat barusan”

“visionku… masih sama seperti kemarin, tetapi aku mendengar nama Hyukjae, Park Seungri dan Choi Myungsoo dalam visionku. Park Seungri dan Choi Myungsoo adalah nama kedua orang tuaku, tetapi aku tak tahu Hyukjae itu siapa.”

“Hyukjae..?”

“Apa kau bisa sedikit membantuku, Taemin? Setiap aku mendapat vision itu, rasanya kepalaku mau pecah. Sakit sekali.”

“Ya, aku bisa bantu kau sedikit. Hyukjae adalah vampire lord pada masa awal aku berubah menjadi vampire dulu. Dia sangat mencintai yeojaku.”

“Hyukjae sangat marah ketika mengetahui Chara menikah dengan ku. Lalu Hyukaje membunuhnya.”

“Aku mencari Chara ke hutan. Dia ada di sana, terbaring tak bernyawa dengan pisau perak menancap tepat di jantungnya.” Mata Taemin mulai berkaca-kaca.

“Aku sangat marah dan mengambil pisau yang menancap di jantung Chara dan menikam balik Hyukaje. Aku sangat puas dia mati di tanganku.” Seketika Taemin mengeluarkan smirk nya.

“ satu hal yang pasti, Hyukjae punya kekuatan untuk mempengaruhi orang lain. Dia biasa mem-brainwash orang yang ingin dia jadikan pesuruhnya.”

***

Narrator POV

***

Beberapa hari kemudian…

“Tok tok” Pintu dorm diketuk. Minho segera membukakan pintu.

“Hoooi yorobuun, annyeoooong.” Sapa Manager Choi riang.

“‎​ Annyeong hyung. Ceria sekali hari ini, ayo masuk hyung.”

“Eh, ada manager hyung, toh. Ayo hyung masuk.” Sapa Onew.

“Naah, begini, aku kesini mau bacakan schedule kalian untuk minggu ini.” Kata manager Choi setelah duduk di sofa.

“kalian akan 2nd debut di KBS Music Bank hari jumat. Lalu hari sabtu di MBC Core dan minggu di SBS Inkigayo.”
“‎​Ne‎, hyung. Arassoyo..” Jawab SHINee kompak.

“Oke, oke. Anak pinter semuanya. Eh ngomong-ngomong bagi minum dong. Haus niih.” Kata manager choi sambil menunjuk-nunjuk kerongkongannya.

“Aah ‎​ne hyung, mian kami lupa. Jamkkan.” Key langsung berdiri dan menuju dapur untuk membuat minuman.

“Wiih seger tuh, Key. Gomawo.” Kata manager Choi saat Key membawa nampan kehadapannya. “Key, kenapa mukamu begitu? Sedih banget.”

“ah, ani hyung. Aku hanya kecapekan kok. Kwenchana..” Jawab Key lirih. Member yang lain sebenarnya tau alasan Key bersedih. Dia masih terpukul dengan kematian yeojanya. Setiap malam Key menangis dan mengutuk dirinya pembunuh.

.

“Hmm, Gomawo ya sudah membuatkanku minuman, Key. Oh iya, istirahat yang cukup ya, jangan sampai kenapa-kenapa saat 2nd debut nanti. Sekarang aku pamit dulu, annyeoong.”

Narrator POV

“Hoooi holaaa spadaaa yahuuu..” Manager Choi mengetuk pintu dorm SHINee.

“‎Ne‎ hyung, jamkkan” sahut Onew dari dalam dorm. “Ayo masuk hyung.”
“Nah, yorobun, kalian sudah siap kan hari ini? Ayo cepat ke van, jangan sampai terambat.”
“‎​Ne, hyuung!” Jawab SHINee semangat. Mereka segera memakai penyamaran dan bergegas menuju van.

***

“Ya, penampilan selanjutnya, 2nd debut dari 4shining kkotminam atau SHINee!! Dengan member baru, Lee Taemin, SHINee siap membuat gebrakan di dunia kpop dengan style baru mereka!.” Seru MC music bank.

SHINee pun tampil membawakan lagu barunya. Tak diduga, lagu baru mereka telah memasuki rank kedua tertinggi di Mubank hari itu.

***
“Aaah, Taemin-aah chukhahaeyo! Keberadaanmu di group ini sangat disambut positif oleh fans. Chukhahamnida.” Manager Choi memberi selamat. “Chukhaeyo buat kalian semua juga. Baru saja debut. Lagu kalian telah memasuki rank yang cukup tinggi.”

“‎‎​Kamsahamnida ,hyung. Terima kasih juga mau memperlakukanku dengan baik di group ini,  Onew hyung, Jonghyun hyung, Key hyung, dan Minho hyung.” Taemin menjawab riang.

“Sebentar, ya kutinggal dulu. Aku mau mengurus sesuatu.” Manager Choi keluar dari waiting room.

***

Di van..

Minho POV

Kami semua terdiam dalam lamunan masing-masing. Kuperhatikan Key. Wajahnya masih diselimuti kesedihan dan sesekali tangannya mengepal. Dan Taemin.., dia sedang memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya. Taemin bilang, cincin itu adalah kenangan terakhirnya dengan Chara.
AAH!

lagi-lagi kepalaku berdenyut-denyut tidak karuan. Sebelum aku pingsan lagi kucolek lengan Onew hyung yang duduk disebelahku dan menunjuk-nunjuk kepalaku. Onew hyung yang mengerti isyaratku segera mendekatkan kepalaku ke dadanya, untuk menyamarkan raut wajahku yang kesakitan. Kalau sampai manager hyung melihat bisa bahaya. Dan, visionku mulai bekerja…

Minho’ past vision.

“Choi Minho, uri adeul, yonghwonhi saranghae..”

***

“Park Seungri anakku dan Choi Myungsoo menantuku, aku berjanji akan menjaga anak kalian, cucuku. Akan kudidik dia menjadi orang yang baik seperti kedua orang tuanya. Kalian orang tua yang baik, tetapi pilihan hidup kalian yang keliru. Akibat perjanjian dengan vampire jubah hitam itulah kalian harus berpisah dengan anak kalian. Tapi, jangan bersedih di surga sana, karena aku akan menjaga Minho-ku sampai aku mati nanti.” Seorang ibu tua berbicara dihadapan dua makam.pipinya dibasahi airmata dan dalam dekapannya ada seorang bayi mungil yang tampan.

“Choi Minho, halmoni akan menjagamu sepenuh hati. Yakinlah, nak, eomma dan appamu akan bangga karenamu di surga sana. Kau adalah anak yang mereka harap-harapkan selama 5 tahun perkawinan mereka. Sayang sekali, mereka harus berakhir di tangan si jubah hitam terkutuk, Hyukjae..”

End of Minho’s past vision.

“HAAAH!!”  Kuperhatikan sekeliling. Bukan di van, tapi aku sudah berada di kamar dorm. Kurasa yang lain sedang berada di ruang tamu.

Vision itu.

Aku sudah mengerti maksudnya. Vision itu menceritakan tentangku dan eomma appaku.

Bayi itu adalah aku, Choi Minho.

Seperti dugaanku, Park Seungri dan Choi Myungsoo ternate benar-benar kedua orang tuaku.

Dan si jubah hitam.

Hyukjae.

***

Aku mengendap-endap keluar dari dorm. Keadaan dorm sangat sepi, Ternyata Taemin sedang menyiram tanaman di balkon , Jonghyun hyung dan Onew hyung menemani Key ke supermarket. Bagus. Segera aku berlari menuju hutan dengan kecepatan vampire ku agar tersamarkan.

Aku penyebab kematian eomma appaku.

Ditambah lagi sekarang aku adalah vampire. Makhluk yang sama dengan si Hyukjae.

SHIT!! Lebih baik aku mati.

Sesampainya dihutan, segera kukumpulkan ranting sebanyak-banyaknya dan merogoh sakuku. Lighter Jonghyun hyung masih tersimpan aman. Setelah ranting yang kukumpulkan cukup, aku mulai menyulutkan api dengan lighter Jonghyun hyung.

Eomma, appa. Mianhaeyo..

Taemin POV

Hari ini giliranku yang menyiram tanaman di balkon dorm. aku juga sudah punya tanaman sendiri, lho. Walaupun tanamanku masih yang paling kecil, tapi aku sangat senang memandanginya.

Tiba-tiba pandanganku jadi buram. Future visionku.

Minho berusaha membakar dirinya karena telah mengetahui maksud past visionnya. Yaiiissh.

Segera kujatuhkan gembor yang masih kupegang dan berlari ke ujung gedung. Dengan sedikit ancang-ancang kulompati gedung ini dan menuju gedung sebelah. Aku terus meloncati gedung-gedung hingga di ujung jalan. setelah tak ada gedung lagi, aku meloncat turun dari gedung terakhir dan segera berlari dengan kekuatan vampirku.

Hutan. Aku harus segera kesana.

***

“MINHO-YA! ODDIKAYO?? MINHO-YAA!! teriakku sambil terus berlari di hutan.

“MINHO-Y…” Teriakanku terputus saat melihat asap yang membumbung tinggi.

Api? Minho…

.

“MINHO KEUMAN!! JANGAN DEKATI API ITU! KEUMAN!..” Aku mulai terengah-engah. Tetapi kupaksakan tenagaku untuk mencapai tempat Minho. Dia semakin mendekati kobaran api didepannya. Tanganya mulai menggapai api itu meskipun takut-takut.

“MINHO!! KEUMAAN!!” Kudorong dia menjauh dari kobaran api itu.

Minho POV

“MINHO-YA! ODDIKAYO?? MINHO-YAA!!” sayup-sayup kudengar seseorang memanggil namaku. Siapa itu? Ah mungkin hanya halusinasiku saja.

“MINHO!!  KEUMAAN!!” Kurasakan seseorang menubrukku. Taemin?

“BUKAN BEGINI CARANYA UNTUK MENEBUS KESALAHAN! LAGI PULA BUKAN KAU YANG SALAH!!” Taemin menarik kerah kemejaku kuat-kuat. Aigoo! Jadi dia tahu kalau aku sudah mengerti maksud visionku? Jangan pasang tampang kaget, Minho. Calm..

“sudah,Taemin. Jangan halangi aku. Kau tidak mengerti masalahnya. Aku pantas mati. Aku marah sekali pada diriku karena akulah yang membunuh eomma appaku. Kalau saja eomma appa tidak melakukan perjanjian dengan vampire itu, tentu mereka masih hidup bahagia di masa tuanya.” Jawabku lirih.

PLAK!!

Taemin menampar pipiku kencang. Tentu saja tidak sakit, tapi ini cukup merendahkanku.

“Keunyang keurae?! Arasso, kalau kau memang benar-benar ingin mati, aku sendiri yang akan membunuhmu sekarang juga ditempat ini.”

Belum sempat aku bertanya maksud perkataannya, tiba-tiba tangan mungilnya mencekik leherku kencang.

“Yah, Taemin, apa yang kau lakukan??!” aku memegang tangannya yang berada dileherku, berusaha melepaskan cekikannya yang semakin lama semakin kencang.

“membunuhmu.” Kini tangannya berusaha mematahkan leherku.

“AAAH SAKIT!! KEUMAN!”

Taemin tidak bergeming dan sekarang tangannya berusaha mematahkan leherku. Aku berusaha membalikkan badanku menghadapnya dan balas mencekiknya.

“Yaaaa! Maumu apasiih? Lepaskan aku!!”

“sudah kubilang tadi, kan. Aku. mau. membunuhmu. Sesuai dengan keinginanmu tadi.”

“KRRAK” Aigoo tulang leherku sedikit berderak. Cekikanku sepertinya kalah kuat, terbukti dari ekspresi Taemin yang tetap diam.  Tiba-tiba cekikan tangan Taemin mengendur dan dia terjatuh berlutut. Kenapa lagi dia? Sudah mengalah dariku, ya?

“Yah! Kenapa kau?” aku ikut berlutut. Taemin tidak menjawab dan memeluk tubuhnya erat seperti kesakitan.

“Yaah!! Waeyo? Jangan bercanda, Taemin!!”. Dia tetap tidak bergeming. Dia benar-benar kesakitan. Taemin meringkuk dan tiba-tiba berteriak keras.

“EAARRRRGH!! HYUKJAE ATAU SIAPAPUN, JEBAL HENTIKAN!! AAAAHH!!”

Jadi dia kesakitan karena dipengaruhi Hyukjae? Bukankah Hyukjae…

“Yah! Taemin, tenanglah. Jebal, aku tidak bisa membantumu. Aku tidak mengerti kau kenapa. Tenanglah..” aku mengusap punggungnya. Taemin mulai tenang tetapi nafasnya masih belum teratur. Aku terus mengusap punggungnya sampai nafasnya menjadi tenang.

“G..gomawo Minho” Taemin menatapku.

“kau…kenapa, Taemin? Tadi kau berteriak memanggil Hyukjae.

“Dia kembali..”

T B C

Aigoo, mian ya ceritanya makin geje ;____; mianhae. Di komen ya~ *bow*

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


Advertisements

Devil and The Human

Devil and The Human

Cast : Choi Minchan a.k.a Aliva,key

A.cast : Minho

Author : Joanna

Type : oneshot sama seperti sebelumnya,menjurus drabble

Genre : Romance,sad(maybe uhk)

Rating : T

A/N : Kenapa akhir akhir ini pada request ff pairing ma key atau nggak onew ya?maaf ya aliva,kalau mungkin aku bikin ffmu gak sesuai harapan..

©2010 SF3SI, Freelance Author.

 

Aku pernah berdoa sesuatu,aku akan merelakan apapun agar aku menangis.

Pada faktanya,bayi akan menangis ketika mereka lahir di dunia ini,tapi aku berbeda.Aku bahkan belum pernah menangis sampai sekarang,bahkan ketika aku jatuh dari tangga aku akan diam,walau banyak darah yang  mengucur deras di kepalaku.

“michan,bangun..” amma menggoyangkan badanku pelan.”ne amma..” aku bangkit dan mengusap kedua mataku,merasakan hangatnya matahari yang menerpa tubuhku.

Hari ini hari pertama aku masuk sekolah,setelah sebulan aku masuk rumah sakit karena kecelakaan,yah kecelakaan biasa,tapi seperti biasa ammaku berceloteh tidak jelas.

“kau terpental sejauh 3 meter!Dan kau anggap itu biasa saja?!” kata kata ammaku masih terngiang,tapi sungguh aku tidak merasakan apapun.

“annyeong michan”

“annyeong key” aku tersenyum,sejak aku kelas 2 smp,aku hanya baru bisa tersenyum,bayangkan betapa anehnya aku,Aku tersenyum karena key,hebat ya dia?Sebelumnya aku hanya bisa menatap sinis orang orang,yah hanya itu ekspresi yang aku punya di  wajahku.

“eh kita telat nih!Ppali!” key menggenggam tanganku,lebih tepatnya menarik tanganku.

DEG,loh kenapa nih?kok jantungku berdenyut kencang ya?seperti tersengat  listrik.”hari ini kita akan praktek”.seru han seonsangnim,semua senang dan mulai membagi pasangan-pasangannya.Biasanya han seonsangnim akan menyuruh kamu melakukan penelitian di bukit belakang sekolah,itulah yang menyenangkan,setidaknya ada suasana baru selain belajar di kelas.”Gyaa!” soo ra teman satu kelompokku berteriak kencang di sebelah ku.

“omona!michan!” aku menatap linglung sekitarku,kenapa sih?aku kan hanya kena cutter,memang sh cutter ini membuat jari tengahku hampir terbagi dua,lalu kenapa?rasanya tidak sakit kok.”kau ini berbahaya tahu!Untung saja han seonsangnim membawa kotak p3k!jangan begitu lagi ara?”.Aku hanya mengangguk,entah kenapa,saat key seperti itu dia terlihat lebih manly.DEG,ya ampun!Kenapa jantungku seperti ini lagi?

“soo hye?

“ne?”

“ah..apa aku boleh main ke rumahmu besok?”

Aku tersenyum lagi.”ah biasanya kau juga akan masuk ke kamarku lewat jendela kan?”

“kali ini aku mau berbeda” huh?maksudnya?
“kali ini aku mau memakai cara laki laki yang main ke rumah wanitanya,bukan seseorang main ke rumah sahabatnya.”maksudmu apa sih?” dia hanya menatapku kesal.”kau akan tahu sendiri”.Dan ketika key berbicara dan menatap tajam mataku,aku merasa key lebih..um..tampan?

Aku menatap langit langit kamarku yang bercat merah.Aku sedang tidur di ranjangku yang bercover hitam.Aku tidak tahu,kenapa aku sangat menyukai warna hitam dan merah.Dan aku sangat membenci warna putih.

Aku masih belum mengerti soal jantungku..kenapa setiap aku mengingat wajah key aku jadi seperti tadi ya?seperti tersengat listrik,menyakitkan sekaligus menyenangkan.

Tanpa kusadari,aku sudah menutup mataku.

“er..di mana ini?” aku membuka mataku dengan sangat berat,perasaanku lebih ringan dan nyaman daripada di kamarku sebelumnya.Aku mengedarkan pandanganku,omona!Di sekelilingku ada api?Di mana ini?Gelap dan panas.

“halo michan” aku menoleh ke asal suara,siapa dia?namja dengan suara beratnya,senyum kharismatik dan badannya yang seperti tiang listrik?menjijikan!

“nuguseyo!?” bentakku

“aigoo,,kau tetap ketus seperti 1 dekade yang lalu” ucapnya sambil terus berjalan ke arahku dan mematikan semua api yang mengelilingiku.Seperti magic.

“aniyo!Aku tdak setua itu dasar pabo!” kenapa ya,kok rasanya aku seperti sudah mengenalnya?Jangan jangan memang aku mengenalnya lagi..lalu dia bilang 1 dekade yang lalu?

Astaga!Apa aku setua itu?”kau pasti tidak ingat siapa dirimu sebelum dirimu tersegel kan?”dia mengelus perlahan pipiku,dan anehnya aku sama sekali tidak menolak!Aku dengan cepat menggeleng.”kau adalah putri iblis,kau tahu Lucifer?”(A/N:sebenernya aku tahu kalau Lucifer itu iblis,Cuma aku kurang tahu silsilahnya,jadi aku ngarang aja ya?kan fanfic *plak)

“Lucifer?” bisikku.Dia mengangguk dan mendekatkan wajahnya ke telingaku.”Kenalkan aku Michael,tapi kau boleh memanggilku minho,salam kenal,putri kegelapan” dia menjilat kupingku.Rasanya geli.Dan anehnya aku tidak menolaknya lagi.”apa maumu hah?”.Bentakku mendorong tubuhnya pelan.”kau sudah menginjak usia 17 tahun,dimana kau harus kembali ke rumahmu,neraka” katanya pelan hampir seperti bisikkan.”andwae!kau bohong!Aku choi Minchan!gadis biasa!”.Dia menarik tanganku dan memelukku,suhu tubuhnya panas,dan aku sangat lemah,seolah energy ku terserap olehnya.”awas!Jauh jauh,aku s,,hh,,akit” elakku.Dia melepaskan tubuhku.”percayalah!Kau tidak pernah menangis kan?karena ibls takakan menangis!Kau bahkan tak mengenal cinta huh?!Dan kau tak pernah meringis kesakitan saat terluka!karena kau iblis!” bentaknya.Aku?cinta?

“aniyo!Aku mencintai key kok!” sesaat aku menaikkan alisku,heran akan perkataan ku..aku mencintai key?apa itu arti dari sengatan listrik di jantungku?”good!sekarang kau akan tersegel lagi berabad abad” katanya sambil tersenyum licik.Aish!Apa sih maksudnya?

“ya,kau dulu mencintai seorang manusia juga,dan kau tersegel selama 1 dekade,dan woops,kau mencintai manusia lagi..yah makanya kau itu harusnya mentaati peraturan ayahmu sendiri!Dan kau lihat eh?ayahmu mengamuk pada Tuhan?dan yang parah kali ini manusiamu mencintaimu juga” Katanya panjang lebar,apa maksudnya mencintai ku juga?”apa ada keringanan?maksudku,jika aku tidak tersegel..” dia menyeringai.”sayangnya sang manusia harus menjadi iblis,,contohnya aku,aku manusia yang kaucintai minchan,dan Ayahmu sangat licik,dia membuat aku menjadi iblis,aku tahu niatnya baik padamu,tapi membuat aku rugi!Sangat!”

Aku menelan ludahku untuk kesekian kalinya.”benar benar tak ada penawaran eh?”

“kau mau jadi manusia biasa?” tawarnya.Aku mengangguk cepat.”cium saja orang yang kau sukai itu!waktumu satu jam,ok?!” dan tanpa menunggu jawabn dariku aku sudah di dorong olehnya,dan saat membuka mataku aku sudah kembali ke kamarku.

Ting Tong

Aku berlari menuruni tangga dan membuka pintu,key.”hei”.Dia masuk dan menyentuh keningku,dan yah aku tersengat listrik lagi,kurasa minho benar,aku menyukai key.Eh ya bagaimana aku men.cium..akh!Aku menggeleng gelengkan kepalaku dengan cepat.

“kau kenapa?gwencha?” aku mengangguk pelan.”key..”

“ne?”.Glek.Bagaimana aku mengatakannya?’aku harus menciummu key’ oh memalukan!

“wae?” tanyanya lagi.”a..apa” ahk tidak bisa.”apa kau mau minum coklat panas?” Pabo!Minchan ayolah,waktumu sebentar sampai kau akan kembali ke neraka itu!Aaaaaakkkkhh…aku bisa meledakkan diriku sekarang juga.”boleh..eh aku pinjam laptopmu ya?” aku mengangguk asal.

Kami berdiam,aku yang serius nonton Tv dan dia yang sibuk mengotak atik laptopku.”sebenarnya apa sih tujuanmu ke rumahku?masa Cuma main laptopku?” dia berhenti menatap layar dan melihatku,tatapannya benar benar tajam.Aish menyebalkan.

“ani,aku sebenarnya..”aku tidak sengaja melirik jam dinding di belakang key,Aigo!Sebentar lagi waktunya,dan jika aku menciumnya aku akan jadi manusia selamanya,tapi..kalau dia membenciku?Apa manfaatnya aku menjadi manusia?

“sa..” apa ya?kenapa jantungku seperti ini?Omona!2 menit lagi

“ayo key..cepat katakan!” bentakku.Dia menaikkan salah satu alisnya,”sorry” dia menangguk dan menatap cepat lalu berpaling ke laptop lagi.Aish..!!

10…9…Ayo lah!Apa yang harus kulakukan?

8..7…6..Aku menarik kerahnya dengan cepat “tatap aku!”

5…4..”tutup matamu dan kujelaskan nanti” dia mengangguk

3..2.. aku menutup mataku juga,tapi sebelum itu

1…aku sudah terhempas oleh sesuatu yang sangat panas.

Aku menatap  key dari jauh,tempat yang sangat jauh.Aku meneteskan air mataku untuk pertama kalinya,dan air mataku ini untuk key.Dia benar benar hebat,dia yang membuat aku bisa tersenyum,dan dia juga yang membuat aku menangis,dia sudah mempengaruhiku.”sorry,about that” aku menoleh,minho dengan segera mendekapku.”it’s ok” jawabku lirih.Aku masih bisa mendengar tangis key.Hatiku sangat sakit.Pasti ini aneh,tapi meski notabane aku adalah putrid iblis,aku berdoa Tuhan!Kembalikan aku padanya!”dia terus memanggil namaku minho,,” kataku sambil mengintip ke bawah.”e..minho..aku..mau kesana” tunjukku kea rah key.”tidak boleh”

Aku melepas pelukanku dan berlari,semua di sekelilingku api,jadi aku harus kemana?Aku terus saja berlari..aku harus bisa ke dunia!Aku menyukai key,ah tidak!mencintainya.

Aku menemukan gerbang besi dengan dua pintu besar.Apa ini?Apa ini jalan keluarnya?Aku segera membukannya,waah tangga yang sangat panjang dan tinggi,Aku menaikinya satu persatu ya mapun,aku rasa aku sudah menaiki beribu ribu tangga.

Dan aku membuka pintu kecil yang ada di depanku.Key..!!

“key!” aku berteriak memeluknya.”minchan?” dia menatapku,matanya bengkak,dan tenggorokannya benar benar kering.”iya aku!!” aku mencium tepat di bibirnya.

Aku merasakan angin panas menerpa wajahku,siapa?Minho!?

“yah good girl!Kau sekarang memang menjadi manusia biasa,tapi nanti kau mati,kau tidak akan di terima di manapun,surge ataupun neraka akan menolakmu mentah mentah!Ingat itu!”kemudian minho menghilang lagi.

Aku melirik key yang masih bingung.Aku memeluknya.”gwenchana!Aku akan baik baik saja”

155 tahun sudah berlalu,,ah rasanya sangat sebentar hidupku ini,dengan key,dengan anak-anakku dan dengan cucuku.Kalian mungkin bingung akan perkataan minho..dan aku?Aku mati dengan cara yang normal,hanya saja sekarang jiwaku benar benar seperti hilang.Aku tidak tahu dimana ini,sudah lama aku di sini..melihat pemandangan yang sama-sama saja.Gelap,dingin..dan aku benar benar tidak merasakan apa-apa,lapar ataupun haus,jiwaku merana dalam jalan panjang yang gelap..dan tidak akan pernah putus.Lebih baik dari pada neraka bukan?

-Devil and The Human FIN-

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


CHECK ‘EM OUT-PART 5

CHECK ‘EM OUT

Author : Eci a.k.a peppermintlight

Starring : Lee Tae Min SHINee, Choi Min Ho SHINee, another SHINee members, imaginarycharacter

Type : Series

Genre : Fantasy, friendship, romance.

©2010 SF3SI, Freelance Author.

Tae Min POV

Ya Tuhan…

Siapa saja! Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini! Sekarang! Apa? Ada yang nggak ngerti kenapa aku shocked berat malam ini? Oke kita rewind adegannya.

TRING TRING TRING!

“Tae Min, buka dulu gih pintunya! Umma lagi sibuk buat kue. Ini mesti dianter besok lho! Ayo sana buka!” ujar Umma padaku. Aku segera men-pausekan Titanic pas adegan si Jack Dawson mau ngelukis Rose…bukaaaaaaannnn!!! Jangan percaya! Lee Tae Min anak baik dan nggak akan nonton adegan vulgar kayak gitu! Maksudku tadi, aku segera mem-pausekan Scooby Doo (jangan ketawain film favoritku!!) dan melangkahkan kaki di ruang depan buat ngebukain pintu. Lagian siapa sih bertamu malem-malem gini? Awas aja kalo nggak bawa makanan.

Dan dimulailah kekagetanku. Choi Min Ho berdiri di depanku. Ia membawa ransel besar dan koper berwarna merah. Aku mencium gelagat buruk. Firasatku bener-bener nggak baik.

“Mulai malam ini aku menumpang di sini,” ujarnya jelas dan tajam. Weitzzz…apa-apaan nih? Choi Min Ho diusir dari rumahnya? Tapi kudengar dia tinggal sendiri. Jadi kenapa dia sekarang mulai mengusik teritorialku?

“Siapa yang dateng, Taem? Oh…, Choi Min Ho ya. Ayo masuk…, jadi gini lho, Taem. Umma lupa ngasih tahu kamu, tadi Choi Min Ho menelepon ke sini, katanya dia mau nginep di sini. Cuma pas Umma tanya alasannya kenapa dia nggak mau cerita…, hm…anak jaman sekarang. Pasti berat ya, tinggal sendiri. Masuk yuk!” kalimat-kalimat Umma sukses membuatku kaget setengah mati. Apa? Kenapa cuma aku yang nggak tahu kalo invertebrata satu ini bakal nginep di rumahku? Ini mimpi buruk!

Choi Min Ho melenggang masuk tanpa menyapaku lagi. Ih, nyebelin amat! Liat apa yang bisa aku lakukan di wilayahku! Dasar koloni! Dia nggak akan bisa menjajahku di rumahku sendiri!

“Heh, heh…bentar, bentar! Kamu nggak mau ngejelasin apa-apa? Kenapa kamu di sini?” tanyaku kelabakan. Saking kagetnya aku sampe aku nggak tahu kalimat mana duluan yang mesti aku tembakin ke dia, kalimat marah, atau kalimat marah banget.

Choi Min Ho menoleh dengan tatapan seolah aku penderita amnesia akut yang lagi rawat jalan dan nggak tahu kalo dia sebenernya saudaraku.

“Aku kan udah bilang mau numpang? Ngomong-ngomong kamar kamu di mana? Kata Ahjumma dan ahjussi aku boleh berbagi kamar denganmu,”

APA????!!! Dia sampe nelpon appaku yang lagi di Busan? Wah, dia pikir dia punya pengaruh?

“Tapi kamu nggak bilang padaku kan? Nggak ada yang akan berbagi kamar denganku! Lagian nggak ada yang nanyain pendapatku soal kamu boleh menginap di sini atau enggak…”

“Ahjumma…, kopernya boleh aku letakkin di mana?” dia memotong ucapanku. Umma tersenyum.

“Kamar Tae Min ada di lantai atas, masuk aja, Min Ho. Anggap aja rumah sendiri,”

“Choi Min Ho! Tunggu!” aku menyusulnya naik ke tangga dan menarik bajunya.

“Kenapa lagi sih, Lee Tae Min?” ucapnya bosan.

“Kamu nggak boleh napakin kaki ke kamarku!”

Choi Min Ho menguap.

“Kalo nggak boleh, aku sebarin kalo kamu bisa sihir…”

“AAAA!” aku refleks membekap mulut Choi Min Ho. Dan setelah aku sadar betapa menjijikkannya adegan kami barusan, aku melepas bekapanku. Ya Tuhan…, dia tahu titik lemahku. Hidupku akan hancur sebentar lagi.

Choi Min Ho nyengir iblis padaku. Trus dia ngelanjutin dengan membuka pintu kamarku di lantai atas dan melemparkan tasnya di……., APA??? Aku nggak salah lihat?! Mana single bed Spidermanku??? Kenapa ia menjelma jadi spring bed ukuran king size??? Iyakz!

“Ummmmaaaaaaaaa!” aku tergesa-gesa menuruni anak tangga buat memprotes apa yang bisa kuprotes ke ibuku.

“Kenapa, Taem? Rusuh bener daritadi. Kamu suka kamarnya kan? Tadi Umma udah minta tolong tetangga buat nyingkirin single bed kamu ke gudang, udah jelek sih. Makanya pas Min Ho nelpon mau nginep sini, sekalian aja Umma ganti jadi spring bed ukuran King size, biar bisa buat kalian berdua.

“A…apa?! Ummaaaa…paling enggak pisahin dong kasur aku sama kasurnya Min Ho! Amit-amit aja aku mau tidur seranjang sama dia! Ih!”

“Ya kalo nggak mau seranjang sama Min Ho, kamu tidur di karpet aja, atau di sofa ruang tamu. Gitu aja kok repot, Taem…” APA?! Umma kok malah memprioritaskan si iblis itu ketimbang anaknya sendiri? Mestinya aku dong yang tidur di kasur, Min Ho biarin aja tidur di garasi. Atau di kolam ikan depan sekalian biar aku disangkain melihara hiu. Tapi enggak di kamarku!

“Umma pilih kasih!” seruku sambil menaiki anak tangga. Bayangin aja ya, seumur hidup aku belum pernah dibeliin kasur gede dan mahal kayak gitu. Eh sekarang pas Choi Min Ho dateng tiba-tiba dan mulai merasuki pikiran bersih kedua orangtuaku, Umma tiba-tiba kepikiran buat masang tuh king size di kamarku. Dan…dan…ARGH!!! Kasur Spidermanku ditaruh di gudang cuman karena seorang Choi Min Ho??? Umma dan Appa mulai nggak asyik!

“Kamu ngapain?!” bentakku kesal pas ngeliat Choi Min Ho tidur di kasur baruku. Kenapa? Ini emang kasur barunya aku kan? Bukan punya dia kan? Trus ngapain dia seenaknya masang posisi tidur diagonal seolah kasur ini miliknya?

“Aku capek, mau tidur,”

“MINGGIR!” aku nggak sabar lagi. Status kepemilikan mesti diperjelas di sini, detik ini juga. Aku menggeser Choi Min Ho dengan kasar.

“Kamu apaan sih?!” dia misuh-misuh jengkel. Ini belom seberapa, Min Ho. Lihat apa yang bisa aku lakukan pada parasit sepertimu.

Aku langsung masang posisi tidur diagonal alias miring kayak apa yang dia lakukan tadi untuk ngeblok semua tempat. Sekarang dia nggak bisa tidur di sini. Hohoho!

“Oke kalo itu mau kamu…” BRUK! Tiba-tiba Choi Min Ho melompat ke atas badanku dan ia berusaha mengusirku dari sini. Tapi aku nggak akan nyerah. Aku bergulat dengannya dan selimut jadi saksi bisu perhelatan antara dua pendekar timur memperebutkan wilayah kekuasaan dari jaman nenek moyang mereka dulu (ini cerita apaan sih, chi?).

Whoopz! Choi Min Ho emang lebih tinggi dan lebih kuat dariku. Tapi jelas tubuhku lebih ringan dan lebih gesit. Aku berkelit dari cengkramannya dan tanganku gantian mendorong Choi Min Ho hingga namja itu terdesak. Dan nggak tahu kenapa tiba-tiba kakinya menendang tulang keringku sampe aku kehilangan keseimbangan dan…

Aku terdiam dengan posisi ini. Tubuhku menindih tubuh Min Ho dan dan jarak wajah kami nyaris nggak lebih dari tiga senti. Aku bisa memperhatikan garis-garis ketampanan di wajahnya. Matanya lebar dan hidungnya mancung. Tiba-tiba aku mulai bisa menerima alasan kenapa yeoja-yeoja di sekolah jejeritan pas ketemu dia. Rambut kriwel semigondrongnya mempesona sekali…

“Minggir, Lee Tae Min!” seruannya membuatku kaget dan ngebiarin aja dia ngedorong tubuhku sampe jatuh. Ia bangkit dan mengacak-acak rambutnya. Eh, aku nggak salah lihat kan? Wajahnya memerah. Oh oke, dia…dia normal kan? Jangan sampe dia naksir aku!

Lee Tae Min kok manis banget sih dari deket? Aiissshhh! Ngapain juga aku bisa diem aja pas ngeliat mukanya tadi? Putih…, imut,…, jadi itu yang buat LeeAnn mengejarnya?, gitu kira-kira bunyi suara hati Choi Min Ho yang nggak sengaja terdengar. Hahaha. Geli amat sih ngedenger suara hatinya barusan? Ih, jangan-jangan dia gay lagi. Hahahaha! Aish, kok ketawa sih, Taem?

$$$$$$$$$$

Choi Min Ho POV

Lee Tae Min kok manis banget sih dari deket? Aiissshhh! Ngapain juga aku bisa diem aja pas ngeliat mukanya tadi? Putih…, imut,…, jadi itu yang buat LeeAnn mengejarnya?

Aku bener-bener kaget pas mukanya sama mukaku cuman beda tiga senti. Ih! Dia normal kan? Jangan-jangan dia gay lagi. Amit-amit aja kalo aku mesti sekamar sama gay. Bisa disergapnya aku malam-malam, trus paginya aku bangun tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhku dan Lee Tae Min yang lagi ngaduk kopi tersenyum padaku dan bilang, “mau pake cream atau gula?” ARRRGGGHHH!!! Choi Min Ho pabo! Pikiran kamu kok jauh amat sih? Tapi aku nggak bisa tenang. Aku mesti mastiin kalo di laciku selalu tersedia gunting, jadi kalo Lee Tae Min macem-macem, aku bisa ngancem bunuh diri. Iya, iya, ide cemerlang, Choi Min Ho!

“Makan malem udah siap, anak-anak!” ahjumma membuka pintu kamar Tae Min dan memanggil kami. Tae Min keluar duluan tanpa menoleh ke arahku lagi. Hih! Anak menyebalkan! Setelah hampir menodai aku dia malah langsung lari gitu aja? Awas kau, Lee Tae Min!

Aku menyusul ke meja makan dan aroma masakan ajhumma langsung tercium. Beliau masak sup hari ini. Harum sekali…, rasanya udah berabad-abad aku nggak menghirup masakan rumahan kayak gini. Tiap hari aku makan di restoran. Appa, Umma, Noona,…aku kangen kalian. Sangat! Mengertikah kalian? Kalo ngerti balik dong.

“Maaf lho, Min Ho…, cuma masakan rumahan biasa. Semoga kamu suka,” ujar ajhumma hangat. Aku berjanji nanti malam akan menelepon Kim Sang Mi…ehhhh! Maksudku menelepon Umma dan Appa di Manhattan. Tapi Kim Sang Mi juga ah, biarpun dia senantiasa ngejutekin semua telepon aku dan bilang kalo dia lagi belajar atau bikin PR atau ngajar kelas malam atau ngisi bank soal MIPA atau apalah itu kerjaannya orang pinter.

“Dia sih biasanya makan di restoran, Umma. Anak orang kaya sih…” sindir Tae Min. Aku memelototinya. Serius, aku bener-bener nggak suka ada orang yang menilai aku berdasarkan jenis tongkronganku di luar sekolah. Tae Min nggak ngerti betapa nggak asyiknya nongkrong di kafe atau restoran Italia tiap malam. Makanan mereka bener-bener nggak cocok di lidah. Selama ini aku maksain lidahku buat cocok dengan jenis makanan Eropa yang dijual di restoran dekat tempat tinggalku. Soalnya itu kawasan elite. Di sekitarnya nggak ada kedai kimchi atau masakan Korea lainnya. Yang ada cuman restoran Italia, toko roti yang penjaganya dipanggil pattisier, restoran Timur Tengah. Berasa hidup sendirian di bola dunia deh.

Usai makan aku membantu ajhumma mencuci piring dan membereskan meja makan sementara Lee Tae Min kembali ke kamarnya. Aku mulai melancarkan misi pertamaku.

“Ng…ahjumma. Apa nggak ngerepotin kalo aku tinggal di sini?” tanyaku. Ahjumma ketawa. Suaranya mirip Umma. Homesick amat sih aku ini?

“Ya enggaklah, Min Ho. Lagian si Tae Min juga sendirian kok di sini. Biarin aja biar dia ada temen,”.

“Oiya, ahjumma. Mungkin permintaanku berlebihan. Tapi tolong untuk sementara waktu ini, kalo ada telepon dari Park songsenim dan mencari Tae Min, bilang aja Tae Min nggak tinggal di sini lagi,”

“Hah? Kenapa?” udah kuduga. Permintaanku ini nggak sesuai dengan akal sehat. Tapi ini harus. Ini salah satu cara untuk memproteksi Tae Min dari Park songsenim.

“Jebal, ahjumma. Ini berhubungan erat dengan keselamatan Tae Min. Aku janji suatu saat aku jelasin,”. Di luar dugaanku, ahjumma ketawa ngakak.

“Dasar anak-anak. Kamu kebanyakan nonton film detektif sih, Min Ho. Tapi ya sudahlah. Asalkan kamu bisa jadi teman yang baik buat Tae Min. Kadang ahjumma kasian sama tuh anak. Nggak punya temen,”

Aku nggak bisa nahan senyumku ngebayangin si Tae Min nggak punya temen. Ajhumma nggak tahu aja sih, kalo Lee Annemarie yang cantik jelita itu jungkir balik nguber-nguber anaknya.

Diam-diam aku ngeluarin penyadap percakapan di telepon (yang aku dapet dari hasil kerja keras si LeeAnn yang berakting nangis kejer sama pamannya di kepolisian supaya dikasih penyadap) dan aku tempelin di bawah telepon pas ajhumma lagi nyusun-nyusun piring di rak. Misi satu selesai. Telepon sekarang berada dalam genggamanku.

Usai membantu ahjumma, aku kembali ke kamar. Di sana Tae Min lagi main PS. Hey! Aku suka PS! Makanya aku langsung nyolokin joystick satu lagi sampe Tae Min ngelirik bete ke aku.

“Ngapain kamu?”

“Mau ikutan main,” jawabku. Iyalah mau main, masa mau karaoke?

“Nggak boleh,”

“Boleh dong. Ini kan sekarang jadi kamar aku juga. Playstation kamu ya punya sama-sama kan?”

“APA?! ENAK AJA! Siniin joysticknya! Jangan sentuh-sentuh barang-barangku ya! Kamu tuh cuma numpang di sini!”

“Galak bener. Di sekolah kamu adem-adem aja,”

“Pokoknya jangan sentuh semua barangku di sini!”

“Aku sebarin lhooo…”

“AAAAAAAAA!!!!” Tae Min membekap mulutku lagi. Wajahnya panik. Hahahaha! Aku ketawa ngakak sampe nggak sanggup ngeluarin suara lagi. Nih anak polosnya nggak ketulungan dah.

“Awas kalo kamu sebarin! Aku botakin pas kamu lagi tidur!” ancamnya. Aku masih ketawa meskipun nyaliku ciut juga ngedenger ancamannya. Rambutku keren abis gini kok.

“Iya deehhh…tapi,…eh! Salah! Bukan gitu cara mainnya! Ke kiri, ke kiri! Lagi kiri lagiiii…EEEHHHH!!! Musuh di sebelah sana! TEMBAK! TEMBAK! Ah!!! Udah, udah, sembunyi aja dulu. MUSUH!! BALIK LAGI, BALIK LAGI!” aku teriak-teriak nggak jelas sementara Tae Min refleks nurutin kata-kataku. Dengan muka serius dia mencet-mencet tombol joysticknya.

“Mainin player 2 gih kamu. Buruan, Ho!” ujar Tae Min. Aku terpaku. Dia ngebolehin aku main nih?

“Ayo buruan!”. Aku langsung nyolokin joystick dan megang player 2 buat jadi temennya Tae Min di Medal of Honour. Kami main sambil berkicau. Sejenak aku lupa sama semua kekesalanku pada Tae Min dan misiku bersama teman-temanku.

$$$$$$$$$$

Lee Annemarie POV

“Ngomong-ngomong, LeeAnn…, kamu ngapain nelpon aku lewat nomornya Min Ho?” tanya Tae Min saat aku meneleponnya malam-malam. Jam udah nunjukin pukul 11 malam dan Min Ho mengangkat teleponku dengan suara mengerang yang nandain kalo dia udah tidur dan telepon dariku benar-benar mengganggu mimpi indahnya.

“Aku nggak tahu nomor telepon rumahmu sih. Lagian kalo aku nelpon ke rumah kan bakalan ganggu banget. Choi Min Ho belum cerita apa-apa?” tanyaku.

“Cerita apa emangnya? Daritadi kami main PS,” ujar Lee Tae Min dari seberang. Aku menghela nafas. Ya ngga apa-apalah kalo emang Choi Min Ho mau beradaptasi dulu di rumahnya Tae Min. Kudengar mereka emang nggak akrab. Bahkan aku ragu kalo mereka bakal akur pas tinggal satu atap. Tapi misi ini mesti dilanjutkan. Aku nggak mau terjadi apa-apa pada Tae Min.

Untuk sementara ini aku belum nemuin bukti konkrit perbuatan songsenim. Soalnya aku bahkan nggak dengar pembicaraan mereka di telepon. Tapi aku juga nggak nemuin alasan buat nuduh kalo Min Ho cuma mengada-ada.

“Eh, LeeAnn,”

“Hm?”

“Kamu suka coklat nggak?”

“Hmph! Loh kok tiba-tiba nanya coklat? Kenapa? Mau ngasih ya? Kalo kamu yang ngasih aku mau kok. Hahaha,”

“Oh,…hehehe. Iya aku mau ngasih. Soalnya baru LeeAnn yang mau berteman sama aku, jadi aku mau ngasih sesuatu,”

“Temen kamu banyak kan, Taem?”

“Berteman baik, maksudnya…, tapi beneran LeeAnn suka coklat? Nanti pas aku kasih malah dikasi’in ke kucing lagi lagi gara-gara takut gendut. Cewek kan emang suka gitu, suka takut gemuk. Padahal satu kali makan coklat nggak bakal bikin mereka langsung gemuk kan? Yah…paling nambah lemak dan kalori dikit…eh, kok ketawa?”

“…hahahaha, nggak, nggak. Kecelakaan tempo hari bikin salah satu saraf di tubuhku terganggu dan kata dokter itu bikin aku nggak bisa gemuk. Jadi aku nyantai aja kalo mau makan coklat sering-sering,”

“Oh, ya udah deh. Tapi…beruntung banget kamu nggak bisa gemuk. Yeoja lain bakal iri sama kamu,”

“Yaaahhh…, aku nggak terlalu mentingin penampilan aku kok. Asal aku bisa tampil rapi dan pantas itu udah cukup. Kulit aku suka alergi kalo pake make-up. Jadi aku nggak bisa sembarangan pake kosmetik. Lagian aku juga nggak suka dandan kok. Nah, kok jadi ngomongin aku. Ya udah, tidur ya, Taem. Sampai jumpa besok di sekolah,”

“Oke, oke,… mimpi yang indah, LeeAnn…”

Aku terdiam sejenak. Mungkin udah nggak terhitung lagi namja yang ngucapin selamat tidur padaku, bahkan dengan puisi-puisi atau cara-cara romantis lainnya. Tapi di antara namja-namja itu, ucapan selamat tidur dari Lee Tae Minlah yang paling manis.

Aku tersenyum sembari menutup sambungan telepon dan membaringkan tubuhku di tempat tidurku. Ucapan selamat tidur dari Lee Tae Min menemaniku hingga lelap.

$$$$$$$$$$

Kim Sang Mi POV

Ini kali pertama dalam sejarah hidupku dan kurasa mesti dicatat di Guiness Book of Record – nyamperin Choi Min Ho pas dia masih ada di pintu gerbang sekolah, dengan Lee Tae Min tentunya.

“Hai, Sang Mi! Tumben nyamperin duluan…”

“Diem deh. Aku punya berita,…soal kemarin. Ngomong-ngomong kamu udah cerita ke Tae Min?”. Choi Min Ho menggeleng. Ia berbisik ketika Tae Min berada di dekat kami.

“Rada susah buat mulai ngobrol dengan Tae Min. Kami nggak cocok deh kayaknya,” ujar Min Ho. Hiah, geli amat sih ngedenger omongan si Min Ho. Kayak mereka mau dijodohin aja pake acara nggak cocok-nggak cocok segala.

“Ya udah, pokoknya masalah nyeritain itu urusan kamu ya. Aku sama LeeAnn lagi jalan-jalan dari satu sekolah ke sekolah lain. Konon Park songsenim pernah ngajar di beberapa SMU sebelum di sini. Dan reputasinya hampir selalu baik,…selain…”

“Selain apa?” tanya Min Ho. Aku nengok ke seluruh penjuru sekolah, mastiin kalo nggak ada yang denger percakapan kami. Lee Tae Min udah ke kelas daritadi.

“Kudengar Park songsenim pernah kepergok…ehm…kepergok terlibat dalam kasus penjualan organ tubuh ilegal…”

“Penjualan…apa?” Min Ho menatapku tak percaya.

“Iya, Ho…, kasus penjualan organ tubuh ilegal. Korbannya kebanyakan remaja. Modusnya penculikan sih. Tuh anak diculik, trus dibius dan diambil organ tubuhnya buat dijual. Organ tubuh itu mahal harganya, Ho,”paparku. Min Ho menatapku ngeri. Kuharap Min Ho si anak mami ini berani menerima kenyataan kalo kami berempat sekarang lagi menghadapi seorang kriminalis kelas kakap.

“Tapi gini, Ho. Tuh kasus kan udah lama, tahun berapaan gitu deh. Katanya sih kasusnya ditutup karena kepolisian nggak nemuin bukti pas mereka nyamperin Park songsenim di sekolah tempat beliau ngajar dulu. Dan jejak sindikat yang lain juga hilang entah kemana. Tapi kata pamannya LeeAnn sih…mereka diam-diam masih mengusut kasus ini kok,” aku mengakhiri ceritaku dengan helaan nafas panjang. Sulit juga nerima kalo seorang staf pengajar di sini ternyata seorang kriminal. Apalagi aku school president di sini. Dan sasaran si penjahat ternyata temanku sendiri. Ya Tuhan…

“Kim Sang Mi, aku…”

“Kamu kenapa, Choi Min Ho? Kamu nggak mau pingsan kan?” tanyaku khawatir. Bukan ngekhawatirin kondisi Min Ho sih, tapi aku bakalan repot kalo Min Ho pingsan di sini. Ah biarin deh, toh jeritan yeoja-yeoja di sini bisa membangunkannya lagi.

“…aku…aku mau pingsan,”

Tuh kan bener. Mestinya aku nyeritain hal ini di UKS, biar kalo dia mau pingsan bisa langsung dapet tempat enak di sana. Aku juga sih buru-buru amat nyeritainnya.

“Tahan, Choi Min Ho…, kita kan berempat…dan LeeAnn juga punya koneksi di kepolisian. Kamu nggak sendirian kok…”

“HAHAHAHA! Aku becanda doang kaliiii…udah ah! Aku belom buat PR nih. Si Tae Min pelit banget nggak mau nyontekin PRnya. Sampai jumpa di kelas, chagi!” abis ngacak rambutku si Min Ho sialan itu langsung ngacir ke kelas. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala.

“Kim Sang Mi?”. aku menoleh dan jantungku seakan berhenti berdetak untuk sepersekian menit. Park songsenim udah berdiri di belakangku. Ia tersenyum.

“Ne, songsenim?” kurasakan suaraku bergetar hebat. Kenapa aku ini? Bukannya sudah kupastikan kalo percakapan tadi nggak ada yang dengar? Trus kenapa aku takut sekali?

“Bisa ikut ke ruanganku sebentar?”

TO BE CONTINUED

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

KOMPLITCATED STORY – PART 2

KOMPLITCATED STORY – PART 2

Author : kimmadebumbum

Rated : PG-15

Length : series

Genre : romance, friendship

Main cast :Key => Kim Kibum Shinee,Minho => choi minho shinee,Kim Miina,Lee Minyu

Supert cast :Taemin => Taemin Shinee,Han Ji Yan,Han Ji Nom,Song Je Joon

happy read chinguuuu 😀

 

©2010 SF3SI, Freelance Author.


“Tapi kalo oppa memang tidak keberatan, tak papa lah. Kami juga senang kok”, aku melanjutkan perkataan Minyu.

“Maksud kalian apa ya ??”, muka Minho oppa keliatan bingung tapi masih tetep caem >.<

—————————————————————————————————————————–

Minyu POV

“Bukannya oppa singgah mau ngajak kami untuk pulang sama oppa ya ??”, kami berdua keheranan.

“Mianhaeyo, tapi kalian salah sangka”, terlihat jelas di wajah Minho oppa kalo dia menahan tawa.

“Maksud oppa apa ??”, Miina bertanya keheranan.

“Aku singgah di sini cuma mau mengambil pulpen yang kau pinjam tadi”, dia tersenyum. sumpah, manusia ini cakep sekali >,<

“Ohh, ini oppa. Maaf aku sudah salah sangka”, Miina tertunduk malu sambil menyerahkan pulpennya padanya.

“Kwaenchana. Kalau begitu aku permisi dulu yaa”, dia tersenyum lalu segera tancap gas.

“Dasar Miina bodoh ! Gara-gara kau kita berdua jadi malu kan ??”, aku menjitak kepala Miina.

“Lah, bukannya kau ya yang tadi duluan bilang begitu sama Minho oppa ??”, alhasil kami jadi berdebat tidak penting.

Ciiiiiiiit ! Ada mobil berhenti *lagi* di belakang kami.

“Hei kalian berdua ! Tadi kenapa Minho singgah di sini ??”, ternyata orang di dalam mobil itu Yoo Jin onnie. Dia membuka kacanya lalu berbicara pada kami.

“Rahasia onnie. Kata Minho oppa kami tidak boleh memberitahukannya padamu”, Miina berkata lantang.

Aku heran dan berusaha meralatnya. Tapi Miina segera menginjak kakiku dan berkedip-kedip heboh tidak jelas.

“Maksud kalian ??? Cepat beritahu padaku”, sekarang Yoo Jin onnie turun dari mobilnya.

“Yah, kami di larang memberitahunya pada siapapun. Ini permintaan Minho oppa jadi kami tidak bisa memberitahunya. Mianhae onnie. anneyong”, aku menarik lengan Miina dan kami segera kabur dari sana.

Setelah agak jauh dari tempat itu aku bertanya pada Miina.

“Miina-sshi, apasih maksudmu bilang begitu ke onnie ??”, aku masih ngos-ngosan karna daritadi kami berlari.

“Kau mau dia tau yang sebenarnya kalo tadi kita kegeeran sama Minho oppa ?? Lagian sekalian mengerjai dia. hihihihi”, Miina tertawa kecil.

“Oh iya ya .hehheh Ngomong-ngomong untuk apa mengerjainya ??”, aduh aku tidak mengerti.

“Dia itu sepertinya suka sama Minho oppa. Dari tadi dia nempel terus sama Minho oppa sih. Hehehhe, lumayan saingan berkurang 1”.

“eh , kalau tidak salah key oppa juga satu sekolah kan sama minho oppa ??”, aku bertanya pada Miina.

“Iya sih setauku. Memangnya kenapa ??”, Miina bertanya balik. Sekarang kami sudah naik ke atas bus. Semua mata tertuju pada kami.

“Kok tadi dia tidak ada ya ?? Aku ingin melihatnya lebih dekat”, aku memasang ekspresi murung.

“yang fansnya Key oppa itu kan kau, ya mana aku tau ?? Tapi mungkin saja dia ada jadwal kerja gitu. Kan dia artis”, Miina menjawab sekenanya.

“Iya mungkin. Ngomong-ngomong Miina, sebentar kau mau latihan bawa mobil lagi kan ??”, aku bertanya kepada Miina yang duduk di sampingku.

“Iya dong !!! Mau liat tidak latihan perdanaku ?? hehhe, hitung-hitung dukungan moril”, dia tersenyum lebar.

“Ah, aku takut mati kau tabrak. Kau kan tidak becus bawa apa-apa”, aku berkata kejam. Miina hanya cemberut habis itu senyum-senyum sendiri. Dasar gila, tapi tetap saja dia sahabat kesayanganku >,<

Keesokan paginya . . . .

“Huuuuuaaaaahhhhhhh Minyu kau jahat ! Kenapa kau tidak membangunkanku tadi pagi ???”, Miina teriak-teriak sambil berlari. Kami berdua lari dari halte bus dengan dandanan ‘tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata’.

“Aku kan juga terlambat bangun ! Mana aku tau appaku tidak bisa mengantar kita. Lagian kau kenapa tidak minta kita di antar sama appamu ??”, aku juga teriak-teriak masih sambil lari.

“Oh iya ya ! HAHAHHAHA aku lupa. Ya sudahlah ayo kita lari lagi”, dia berhenti sebentar ,ketawa-ketawa lalu lari lagi -_____-“.

Ada orang yang memanggil kami sepertinya dari seberang jalan.

“Hei ! Kalian yang dandanannya aut-autan ,ke sini !”, ada cowok teriak sambil menunjuk-nunjuk kami. Kok kayak tidak asing ya ??

Kami sontak berlari ke seberang jalan. Ternyata orang itu …

“MINHO OPPA !”, aku dan Minyu berteriak bersamaan. Ekspresi Minho oppa dari senyum berubah aneh.

“Iya ini aku. Kalian anggota kelompokku kan ?? kenapa masih di sini ??? Kau sudah terlambat cukup lama loh”, dia bicara sambil tersenyum manis.

“tadi Minyu terlambat bangun oppa, jadi kami terlambat”, Miina bicara sok dengan ekspresi polos.

“Loh bukannya kau tadi yang telat bangun ?? Kau juga tadi lama sekali siap-siap”, lagi-lagi kami berdebat tidak penting.

“Hahhaha, sudahlah. Kajja, kalian naik cepat !”, Minho oppa tertawa sebentar lalu naik ke mobilnya.

Tinggallah kami berdua bengong.

“Mau aku kasih tumpangan tidak ??”, Minho oppa bicara di belakang kemudinya.

“MAUUUU”, kami tersenyum riang lalu naik ke mobil. Kami duduk di belakang. Di samping Minho oppa ada cowok duduk diam tak bergeming.

“Hei Miina. Itu yang di depan bukannya Key oppa ya ??”, Minyu berbisik padaku sambil celingukan.

“Mana ku tau itu Key oppa ato bukan, aku tidak pakai kacamata”, Miina menjawabku sambil masih memandangi Minho oppa yang sibuk menyetir. Suaranya besar sekali, sampa-sampai orang yang di bicarakan berbalik.

“Sudah numpang berisik lagi !”, dia berkata ketus. Huuuuaaaah, betul Key oppa ! Tapi sinis sekali ya dia ??

“Mianhaeyo, jeongmal mianhaeyo oppa”, aku tunduk-tunduk minta maaf. Tidak lama kemudian kami sampe di sekolah.

Sekolah ini betul-betul sekolah orang kaya ya. Semua muridnya naik mobil. Kayaknya Cuma aku saja sama Miina yang naik bus.

“Ayo kalian berdua ikut di belakangku saja supaya tidak di marahi nanti”, Minho oppa menyuruh kami mengikutinya dari belakang. Baik ya dia ?? Kami ngekor dari belakang.

“minho-sshi, kau kenapa terlambat ?? Lagian pake bawa-bawa dua anak tengil ini !”, Yoo Jin onnie nunjuk ke kami sambil melihat sinis.

“Sudahlah, tadi mereka terlambat denganku. Kau tidak usah ikut campur, mereka urusanku”, Minho oppa langsung jalan tanpa mempedulikan Yoo Jin onnie. Yeyeye, kasian deh kamu onnie 😛

Hari ini adalah hari penutupan MOS. Yah, seperti biasanya penutupan MOS, keren. Ribuan balon di lepaskan ke udara lalu di ikuti hiruk pikuk tepuk tangan.

Kami di bagikan daftar-daftar kelas. Berhubung aku dan Miina ikut jalur beasiswa, jadi kami masuk sejenis kelas khusus.

“Miina-sshi, sepertinya ini kelas kita”, aku menengok sebentar ke palang yang tertera di atasnya. Kelas 10-1, cocok. Ini kelasnya. Kelas yang akan mengisi hari-hari pertama smaku yang akan penuh dengan
kejutan.

“Ayo masuk !!”, Miina berkata riang sambil menarik tanganku.

“Wah, kelasnya bagus yaaa. Kayak di drama BBF, hihihihi”, Miina melebarkan pandangannya ke sekeliling kelas. Kelas yang ada di hadapan kami memang sangat besar dan mewah.

“kita duduknya di bangku kedua dari depan saja Minyuuuu”, Miina menarik-narik tanganku tidak sabaran.

Duduklah kami sekarang di bangku impian Miina. Di depan kami ada duduk 2 orang cewek yang
keliatannya mereka sangat mirip dari belakang.

“Anneyong, perkenalkan Han Ji Yan imnida, ini sodara kembarku Han Ji Nom”, mereka berdua berbalik sambil membungkuk memperkenalkan diri.

“Anneyong, Minyu imnida, ini Miina”, aku membalas membungkuk sambil memperkenalkan Miina.
“Kalian kembar juga ya ??”, gadis yang tadi namanya katanya Han Ji Nom berkata sambil menunjuk ku dan Miina.

“Aniyo ! Jelas-jelas cantikan aku, hehehhe. Kami tidak kembar”, Miina membantah sambil ketawa-ketawa.

“Ish, kau ini !”, aku menjitak kepala Miina. Ji Yan dan Ji Nom tertawa bersama, mereka keliatannya benar-benar mirip.

Tiba-tiba ada cowok masuk kelas kami lagi, dia pakai earphone. Keliatannya tidak asing juga.

“Taeminnie~kyaaaaaaa. Huaaaaaaaaa taemin imuuuuuuuttttt !”, cewek-cewek seisi kelas berteriak histeris menghampiri orang itu. Itu taemin Shinee ya ??

“Minyu-sshi, itu taemin shinee ya ??”, Miina menunjuk-nunjuk ke cowok tadi yang sekarang sudah tidak bisa terlihat karna kerumunan cewek-cewek centil.

“Mungkin. Aku juga tidak tau. Tapi sepertinya iya. Wah lengkap sekali ya di sekolah ini. Sisa onew dan jonghyun oppa saja yang tidak ada ,hehhe”, aku tertawa ringan.

“Wah, kalo betul dia taemin, berarti kita harus dekat dengan dia ! Kau tau kan soulmate suami kita a.k.a Minho oppa itu dia ??”, Miina menunjuk taemin lagi dengan mata berbinar.

“Kau betul juga Miina ! Kalau begitu ayo sana dekati dia !”, aku mendorong Miina dari tempat duduknya.

“Minyu-sshi, kau ini bodoh sekali sih ! Masa’ aku dekati dia seperti ini sih ?? Lagian aku tidak suka sama taemin, dia kurus sekali sih *ampun taeminers* ! ”, Miina berkata polos.

“Sebenarnya aku juga tidak suka taemin. Kan selera kita selama ini sama ,hehhehe”, aku men-tos tangan Miina.

“Kalian berdua suka sama Minho oppa ya ??”,Ji Nom bertanya pada kami.

“Ne. Bahkan sangat ! hihhihi”, kami berdua tertawa centil.

“Kalau begitu kalian masuk saja di ekskul Minho oppa supaya bisa lebih dekat dengan dia. Kan sebentar kita di suruh memilih ekskul, dan kalau tidak salah ekskul Minho oppa itu futsal loh !”, Ji Nom berapi-api menjelaskan.

“MWO ?? Kau yakin ?! Aduh Ji Nom-sshi, gomawoyo”, Miina mencium-cium tangan Ji Nom dan aku memeluknya.

“Hei, kalian tau tidak sih cerita sebenarnya tentang Minho oppa ??”, tiba –tiba Ji Yan ikut bersuara.

“Cerita apa ??”, aku bertanya antusias.

“Kau tau kan kalo Minho oppa itu dekat dengan taemin ?? Sebenarnya mereka dekat itu lebih dari sekedar hyung dengan dongsaengnya loh~!”, Ji Yan setengah berbisik.

“Memangnya mereka dekat seperti apa ??”, sekarang Miina sudah menganga menghayati cerita Ji Yan.

“Mereka itu . . . pacaran !”, dia berbicara dengn nada sok misterius.

“Mwo ?!”,gedebuk ! Aku jatuh dari kursi sangkin kagetnya.

“Ish, kalian jangan percaya dengan cerita Ji Yan ! Dia itu sibuk menceritakan ff yang baru saja dia baca.

Maklum lah dia penggemar cerita yaoi (yaoi = ff yang ceritanya menceritakan tentang cowok sama cowok, bukan antara cewek sama cowok a.k.a kasarnya yaoi menceritakan percintaan yang tidak lazim *menurutku*)”, Ji Nom meluruskan permasalahan.

“Oooooo”, aku dan Miina ber-oooo ria.

Akhirnya taemin selesai dengan kerumunan cewek-cewek centil di depan kelas. Dia berjalan ke arah kami.

“Anneyong, aku duduk di sini ya”, dia membungkuk sambil tersenyum. dia duduk tepat di belakangku dan Miina. Miina saja sampai keheranan.

“Miina-sshi, daripada kau kebingungan disitu mending kita pergi mendaftar ekskul futsal saja. Nanti kehabisan formulir loh !”, aku menarik tangan Miina.

“Ayo !”, kami pun keluar kelas pergi mencari tempat pendaftaran ekskul futsal.

Tiba di tempat pendaftaran . . . .

“Anneyong ! Seongsungnim, kami mau mendaftar ekskul”, Miina berkata riang.

“Oh maaf nak, di sini pendaftaran futsal bukan cheerleaders”, kata guru itu santai.

“Tapi, kami memang mau mendaftar ekskul futsal seuongsungnim”, aku meralatnya.

“Hahahha, kalian ada-ada saja. Di ekskul ini tidak pernah ada perempuan yang mendaftar. Sudahlah, kalian pergi saja ke sebelah sana mendaftat ekskul cheerleaders. Kalian berdua cantik kok”, dengan halus guru itu mengusir kami.

“Kami memang cantik, tapi kami maunya masuk ekskul ini seongsungnim. Kami tidak mau masuk ekskul yang lain !”, Miina setengah membentak. Akhirnya terjadi sedikit keributan di sini, sampai akhirnya banyak orang yang berkerumun.

“Ada apa di sini ribut –ribut ??”, sepertinya suara dari belakang kami tidak asing.

“Kalian berdua lagi ??”, ternyata asal suara itu adalah Minho oppa. Miina yang tadi masih asyik berdebat dengan guru itu langsung diam.

“Ne oppa. Masa’ guru ini tidak mengijinkan kami masuk ekskul futsal ?? Memang sih kami perempuaan, tapi kan bukan berarti tidak boleh main futsal ?? Sekarang kan sudah ada emansipasi wanita oppa”, Miina menjelaskan berapi-api.

“sabar Mina-sshi. Kita kan memang tidak bisa main futsal”, aku berbisik di telinga Miina.

“hmmm, ya sudah. Seongsungnim, tolong ijinkan saja mereka masuk ekskul futsal”, Minho oppa berbicara dengan cool-nya ke guru yang rese’ tadi.

“Baiklah. Karna ketua ekskulanya langsung yang minta, kalian ku ijinkan masuk futsal. Tapi dengan syarat !”, guru itu mengangkat jari telunjuknya.

“Apa syaratnya ??”,

“Kalian tidak usah main futsal. Cukup membantu oprasional ekskul ini, dan cukup hanya kalian berdua saja wanita yang boleh masuk ekskul ini. Arasso ??”, dia setengah melotot ke kami.

“Arasso seongsungnim !”, aku dan Miina seraya membungkuk sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Gomawoyo oppa”, aku dan Miina tak lupa berterima aksih ke Minho oppa.

Setelah pendaftaran tadi kami langsung di suruh ke lapangan karna kebetulan anak futsal sedang latihan.

“Sekarang akan ku bagi tugas kalian ! Ehm, kau yang kurus di sana bertugas sebagai asisten pelatih.

Pelatihnya di sini adalah aku. Jadi tugasmu mencatat pergerakan dari semua pemain dan terus mengontrol perkembangan dari setiap pemain. Arasso ??”, dia menunjukku.

“Arasso !”, aku mengangguk mantap.

“ehm dan kau ! Karna kau sepertinya orangnya emosional, jadi ku letakkan kau di bagian perlengkapan.
Jadi tugasmu memberi pemain minuman dan handuk kalo mereka kecapean. Kau tidak usah muncul di lapangan kalau memang tidak ada yang membutuhkanmu, arasso ??”, guru tadi menunjuk Miina. Kasian ya Miina di kasih pekerjaan seperti ini ??

“Seongsungnim, apa hubungannya kalau aku emosional sama di tempatkan di bagian peralatan ?? lagian aku juga tidak emosional kok”, bela Miina.

“Kau mau tidak sih masuk ekskul futsal ?? Syukur-syukur kau ku ijinkan tetap masuk !”, guru itu berkata kasar sambil berlalu.

“Yang sabar ya Miina”, aku menepuk-nepuk bahu Miina kasihan. Dia masih cemberut sambil pergi ke tempat peralatan futsal untuk mengambil handuk dan minuman.

—————————————————————————————————————————–

Miina POV

“ya tuhan, jahat sekali guru itu. Mau bals dendam ya dia ?? Huh, di sana Minyu enak-enakan bisa liat Minho oppa main bola, sedangkan aku ?? Cuma antarkan mereka handuk sama minuman, habis itu tidak di butuhkan lagi”, aku tertunduk sedih sambil berjalan menuju tempat peralatan futsal.

“Kyaaaa, Miina-sshi ! Kau tau tidak ?? Ternyata Key oppa masuk ekskul ini juga loh~ hwaaaa, kita gadis yang paling beruntung di sekolah ini. hihihihih”, Minyu datang sambil menggelayut tanganku.

“Hei kalian berdua, ke sini cepat !”, ada sesosok cewek memanggil kami.

“Kau siapa ??”, aku bertanya heran.

“Aku baru saja dengar kalian masuk ekskul ini. Kalian sengaja ya masuk sini ?? Pati karna Key oppa kan ??”, cewek itu berkata ketus.

“Aniyo~ Kami masuk futsal bukan karna itu kok”, aku membela diri dan Minyu. Padahal, sebenarnya alasannya hampr-hampir mirip. Hehehh

“Awas ya kalau aku liat nanti kalian dekat-dekat sama Key oppa ! Aku ini satu-satunya adik kesayangan key oppa, jadi awas aku liat kalian kecentilan dengannya !”, dia langsung pergi sambil mengibaskan rambutnya yang sok di indah-indahkan.

“Ish, dia siapa sih ?? Sudahlah Minyu, jangan difikirkan. Aku tau kau idola matinya key oppa setelah minho oppa kan ?? Tenang, aku mendukungmu, hehhe”, giliranku sekarang yang menepuk-nepuk bahu Minyu.

“Hmm, kau benar juga. Ya sudah, aku mengerjakan tugasku dulu ya, kau juga kerjakan yang baik melipat-lipat handuk. Hihihihi daaaahhh”, dia menggodaku sebentar lalu berjalan keluar.

Aku mengambil bebrapa handuk dan beberapa botol minum untuk di bawa ke lapangan.

“Ini oppa”, aku membagikan minuman dan handuk kepada semua pemain futsal di sana. Tak lupa juga Minho dan Key oppa >,<

“Hei, namamu Minyu kan ?? Bagaimana menurutmu kecepatan permainan kami tadi ??”, Minho oppa angkat bicara. Dia mengajak Minyu bicara. Aku bisa liat ada rona merah padam di muka Minyu sekarang.

“Eh, permainan mu sudah sangat sempurna oppa ! Tapi tolong Key oppa lebih permantap lagi kerja samanya dalam menggiring bola”, Minyu mengkritik Key oppa.

“Aku pulang duluan ya smua, Je Joon sudah menungguku. anneyong”, Key oppa langsung bangkit beranjak pergi tanpa mendengar kata-kata Minyu. Dia berjalan ke arah gadis yang menegur kami tadi di ruang peralatan. Oh, gadis itu Je Joon toh ?? mereka keliatan sangat mesra, gadis yang namanya Je Joon itu merangkul Key oppa sangat erat. Minyu hanya menatapnya dengan tatapan nanar.

“Ya sudah, aku pergi mandi dulu sama ganti baju”, Minho oppa ikut beranjak pergi. Aku ikut di belakangnya sambil membawa handuk-handuk kotor. Ada untungnya juga ya pekerjaanku ini ??

“Hei kau, jangan macam-macam ya di ruang ganti. Awas intip Minho oppa lagi mandi”, Minyu mencubit lenganku sambil berbisik. Aku membalasnya dengan mengedipkan sebelah mataku.

Ruang ganti mereka perlu naik tangga lagi sedikit. Aku agak susah payah naik tangga dengan semua barang bawaanku. Aku memasukkan handuk-handuk kotor tadi ke dalam cucian dan membawa handuk kering yang sudah terlipat. Aku turun kembali ke bawah.

Aku pelan-pelan menuruni tangga itu satu demi satu tapi ups. Ada handuk yang terjatuh di salah satu anak tangga.

‘ah nanti saja deh ambilnya’, batinku. Tapi tiba-tiba saja . . .

“WAAAAAAAAAAA, AWWWWASSSSSS !!!!”, buarrrr buk ! ada yang menimpaku !

“Auw, ayo bangun ! ohok ohok, akhuu. Suuu sa nappp has !”, aku berbicara dengan sedikit napas yang tersisa. Ada yang jatuh menimpaku, dengan posisi : aku mencium tanah dan orang yang-aku-belum-
tau-siapa- berada tepat di atasku jadi aku tidak mampu melihatnya. Posisi ini di namakan, KUE LAPIS !

Duk ,

“Miina-sshi, Minho oppa, apa yang kalian lakukan ?” Minyu kaget lalu menjatuhkan buku yang di pegangnya.

MINHO OPPA ?? AGAIN ??

—————————————————————————————————————————–

==== BERSAMBUNG====

mmmm, ceritanya bagus gak ???

mian ya kalo misalnya jelek -_____-

ngetiknya buru2 bo’ .hahhahah

semoga reader suka ya ceritanyaaaaa 😀

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF