[FF PARTY] Please, _ _!

Please, ___ __ !!

Author              : I-el

Main Cast        : Lee Jinki, Kim Hara (nah sekarang giliran MVP’s, anggaplah itu diri kalian)

Support Cast    : Key, Jonghyun, Taemin

Length              : One shot

Genre               : Romance

Rating               : PG-15

Ket                  : Mendaftar sebagai author tetap

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Zzrasshhh…

Hujan turun begitu lebat, tapi diluar sana ada seorang yeoja yang mengejar seorang laki laki yang juga  berlari menghindar. Yeoja itu meraih tangan namja dihadapannya dan mencoba menjelaskan sesuatu, sayangnya namja itu tidak peduli dan meninggalkannya kehujanan.

“Jonghyun oppa! Oppa! Kau tega tinggalkan aku untuk wanita bernama Key itu? Opaa~~ !!!” teriak perempuan berambut sebahu itu di bawah tibanan derai hujan.

“Ne. Dia jauh lebih cantik darimu.         Sudah jangan lagi hadir dalam hidupku!!” jawab namja tersebut sambil terus berlari tanpa menoleh sedikitpun.

Perempuan itu kelihatan putus asa dan berjalan terhuyung kearah halte bus. Perempuan itu memukul mukul tiang dan bergumam sendiri.

“Oppa, kau tega sekali. Aku perlu kau sekarang. Hiks…” katanya sambil sesenggukan . “Apa salahku sampai kau campakkan aku seperti ini? Aku tidak pernah meminta apapun selain dukunganmu, oppa. Hiks… hiks… oppa kembali” lanjut perempuan itu.

Kali ini dia benar benar menangis sambil duduk di kursi halte. Dia begitu tanpa memperhatikan sekelilingnya, padahal di halte itu aku sedang duduk menunggu bus terakhir seraya menutup telingaku dengan headset. Tapi, karena tak tahan dengan suara tangisannya, aku angkat suara.

“Ya! Bisa diam gak sih? berisik tahu!!” mendengar hardikanku dia langsung diam, tapi kemudian lanjut menangis. Akupun tertawa menyindir.

“Ya! Apa kau rela airmatamu jatuh hanya karena untuk namja brengsek seperti dia?”

“Hiks… siapa kau berani-beraninya menghina pacarku?” tanyanya sambil mengusap airmata.

“Mantan pacar, tepatnya” mendengar pernyataanku, dia makin menangis dan akhirnya aku mematikan iPod ku dan memasukkannya ke dalam tas. “Dia terlalu hina untuk kau tangisi, yeoja. Kalau kau menangis, itu hanya akan membuatmu kelelahan”

Tiba tiba dia diam sesaat, namun kemudian dia menangis kembali. Tapi, suara tangisannya kali ini terdengar berbeda. Bukan karena rasa sakit hati, tapi rasa sakit yang lain. Aku memperhatikannya merosot ke lantai berjongkok dan mencengkram perutnya kuat-kuat, juga membekap mulutnya seakan menahan sesuatu agar tidak keluar. Dia terbatuk-batuk, sementara aku diam, berusaha tidak terlibat terlalu banyak.

Intesitas batuknya semakin lama dan tiba-tiba darah segar termuntahkan begitu saja. Tentu saja aku langsung melonjak menjauh. Aku meilhat yeoja itu menggapai tas, mengambil sebotol pil berwarna merah, dan menenggak 2 butir sekaligus. Keringat mengucur di dahinya dan Ia terus mengeluarkan darah. Akhirnya, aku putuskan untuk mendekat, walau agak sedikit geli, tapi tampaknya aku memang harus terbiasa.

“Hei, kau kenapa?” tanyaku ragu ragu.

“….” tak ada jawaban darinya yang sekarang benar benar menucat

“Ya!! Kau kenapa? Apa kau baik baik saja” padahal aku sendiri menyaksikan bahwa keadaannya sedang sangat tak baik.

Aku masih menanti jawabannya, tapi dia tetap bungkam. Aku hanya bisa memijat tengkuknya.

“Tolong! Tolong bawa aku ke rumahsakit.” Nafasnya mulai terengah-engah.  “Meskipun aku tahu, aku tidak akan selamat kali ini, tapi setidaknya aku meninggal di tempat yang lebih baik dari sebuah halte.” dia berusaha keras untuk mengatakan kalimat panjang yang menggelikan untuk telingaku itu. Dia pingsan dan jatuh ke bahuku, beruntung sebuah bus yang ku tunggu akhirnya tiba. Aku mengangkat yeoja ini dengan susah payah dan memaksa supir mengendarai secepat mungkin.

*          I-el       *

Tak lama, bus berhenti di halte yang dekat dengan rumahsakit. Aku masih harus menggendong yeoja ini ke rumahsakit. Aku benar-benar basah kuyup dan entah bagaimana nasib notebook, hp, dan iPodku di dalam tas yang ku gendong di depan badanku. Mengingat yeoja ini sedang sekarat aku mencoba untuk tidak peduli.

Saat di halaman Rumah Sakit, kami segera menghampiri 2 petugas yang membawa ranjang beroda dan membawa tubuh lemah yeoja itu ke ruang ICU, salah seorang perawat rumahsakitnya memberikanku handuk.

“Tuan muda Jinki, ini handuknya” kata perawat itu sambil tersenyum

“Oh, ne. Gomawoyo” kataku seraya membalas senyumnya.

Aku duduk dikursi lobby dan mencoba melihat kondisi barang barangku. Aku buka tasku dengan harap-harap cemas.

“Hehh… setidaknya Notebook dan hpku selamat, tapi iPodku?? Ahh, tidak. Harus aku betulkan dimana??” seruku sambil menjambak poniku yang kutata berantakan.

“Tuan muda. Perempuan itu teman tuan muda ya?” ternyata perawat itu masih di sini.

“A, Anio. Hanya ketemu di jalan” jawabku spontan

“Tapi, tuan muda kelihatan perhatian sekali” ya ampun. Benarkah?

“Dia kan sedang sekarat, masa aku tinggal begitu saja?” jawabku sambil beranjak berdiri melihat  yeoja yang ku tolong tadi di bawa keluar oleh 2 orang perawat.

Aku berlari menghampiri dokternya dan menepuk bahunya.

“Eomma, bagaimana keadaannya?” tanyaku  pada dokter yang menangani yeoja malang itu, yang ternyata adalah eommaku.

“Kritis. Harapan hidupnya sangat tipis, bisakah umma minta tolong kamu memberitahukan keluarganya?” kata eommaku. Aku hanya mengangguk dan kembali ke kursi di ruang lobby. Aku bongkar tas milik yeoja itu dan menemukan hpnya.

“Ini dia” seruku saat aku menemukan hpnya. Saat aku buka flip hp itu, terpampang foto dia dan namja yang tadi aku lihat sebagai wallpapernya. Kemudian aku buka kontak hp itu dan kontak pertama yang aku lihat ‘Prince Jonghyunie’.

Tiba-tiba aku jadi muak saat mendengar nama itu. Aku telepon satu per satu kontak nomor yang ku anggap perlu dihubungi, tapi tidak ada ajwaban. Aku mulai putus asa. Apa tidak ada nomor lain yang bisa kuhubungi selain mantan pacar yeoja yang bernama Kim Hara ini?

Karena tak ada satu pun yang bisa aku hubungi, aku putuskan naik ke ruangan eommaku. Saat aku buka pintu. Satu orang perawat menyapaku dan beranjak keluar.

“Eomma, tidak ada yang bisa aku hubungi. Semua nomor sedang sibuk”

“Benarkah? Coba yang lain. Apa tidak ada yang lain?” tanya ibuku sambil memeriksa hasil lab.

“ Ada sih, tapi nomor mantan pacarnya. Tapi, Jinki males nelpon dia. Yeoja itu jadi kritis karena namja bodoh itu” kataku dengan enggan.

“Kenapa kamu pikir begitu? kamu kenal dengan yeoja itu?” tanya eommaku lebih seperti mengintrogasi.

“Ceritanya panjang. Ceritanya di rumah saja ya, eomma?”

“Ya sudah. Kalau begitu kamu pulang duluan aja pakai mobil eomma, nanti eomma pulang bareng appamua aja.”

“Loh, eomma mau ngapain lagi?!” tanyaku bingung. Biasanya larut malam seperti ini, eomma sudah pulang.

“Eomma masih harus periksa kondisi yeoja itu dulu dan satu pasien lagi.”

“Ohhh…” tanggapanku sambil menuju pintu. “Oh ya eomma, kuncinya” ummaku langsung merogoh saku jas putihnya.

“Nak. Jangan lupa mandi. Kamu kan tadi basah kuyup”

Aku berjalan ke tempat parkir dan mengeluarkan mobil ummaku. Aku melajukan mobil di jalan raya yang lengan dengan angka 100 km/jam di spidometernya.

*          I-el       *

Sore ini sepulang kuliah, aku memutuskan singgah ke coffee cafe bersama teman. Ada sebuah couple yang sedang berkasih-kasihan di meja paling pojok. Kalau couple beneran sih gak apa, tapi ini sesama namja. Setidaknya pakaian mereka menunjukkan mereka namja yang metroseksual, juga fashionista.

Saat aku sedang menyuruput Ice Cappucino ku, aku lihat salah seorang dari couple akward itu menoleh ke arah yang bisa aku lihat wajahnya.

“Dasar!” gerutuku, segera mengambil posisi untuk meninju. Kepalan tanganku jatuh tepat di hidungnya dan membuat darah mengucur keluar.

“Apa apaan ini?” tanya namja yang kupukul tanpa rasa bersalah.

“Aigo, baru tadi malem kejadiannya tapi udah lupa?” tanyaku setengah teriak dan menggebrak meja. Namja pasangannya terlihat bersembunyi ketakutan.

“Jonghyun dia siapa? Apa terjadi penghianatan saat ini?” katanya sok manja.

“Cuih… Gue normal. Simpan aja cowo busuk ini buat koleksi lo. Namja yang bisanya ninggalin yeoja baik di tengah hujan dengan kondisi sekarat” jelasku dengan nada meninggi.

“Siapa maksudnya?”

“Yee…PURA-PURA BEGO LAGI!! Hara, mantan pacar yang lagi butuh semangat, tapi malah  dicampakin” sebelum di usir, aku putuskan untuk pergi saja.

Aku lajukan motorku ke arah rumahsakit, padahal aku udah janji untuk gak campur tangan terlalu jauh. Tapi orang-orang terdekatnya aja kelihatan gak peduli, kenapa aku mesti repot?

Tapi, mengingat penjelasan eomma semalam, aku jadi berpikir bahwa gak ada salahnya sedikit membantu

*          I-el       *

Aku sudah tahu kamar perawatan Hara, jadi aku segera melapisi bajuku dengan kain yang lebih mirip mantel berwarna hijau, penutup kepala dan masker, kemudian masuk. Aku lihat di monitor, detak jantung dan nafasnya tidak stabil. Dia benar-benar kritis sekarang. Entah bisikan darimana, aku mencoba memberinya semangat dengan menggenggam tangannya. Aku rasakan dingin dan kaku yang luar biasa. Benarkah dia bisa pergi kapan saja seperti kata eomma? Aku menggeleng keras, tidak setuju.

Sudah jam 11 malam, umma sudah menyuruhku pulang. Mungkin aku dapat bisikan dari lucifer, sebelum keluar dari ruangan itu aku mengecup keningnya singkat dan membisikan kata kekuatan ke telinganya. Dengan suara berdesah aku bilang “Please, don’t go!!” tampak seperti permintaan, tapi dari sekian banyak kalimat di belahan bumi ini, kata itulah yang terucap.

Akhirnya, kata-kata itu yang selalu terucap begitu saja bila aku selesai menjenguk dan akan pulang. Dorongan dari siapa lagi yang membuatku meluangkan banyak waktu untu yeoja yang tidak jelas asal usulnya ini? Tapi, umma bilang, siapa lagi yang yeoja ini miliki saat ini selain eomma, perawat, dan aku. Sedangkan ayahku, sibuk di balik meja dalam salahsatu ruang di rumah sakit ini

*          I-el       *

Baiklah ini sudah hari yang ke-16 aku bolak balik ke Rumah Sakit. Sepertinya, aku punya rutinitas baru. Tapi, saat aku masuk ke ruangan perawatan intensif Hara, aku tidak menemukannya dimanapun. Ranjangnya pun kosong dengan selimut terlipat rapi di atasnya.

Monitor , alat pendeteksi jantung, tabung oksigen sudah tidak lagi difungsikan. Aku keluar dari ruangan itu dan duduk tersandar di bangku sepanjang lorong. Aku tarik rambutku dan menarik nafas dalam-dalam. Aku merasa seperti sedang menyesali sesuatu. Aku hamburkan nafasku ke udara dan tertunduk memangku wajahkuu dengan tangan. Tiba-tiba sebuah tangan meraih bahuku pelan.

“Jinki sedang apa?” ternyata eommaku.

“Eum, anu….” jawabku terbata-bata.

“Hara sudah dipindahkan ke kamar rawat biasa, saying.” kata eomma seakan bisa meramal, membuat hatiku sedikit lega. Aku langsung segera berlari setelah mencium pipi umma dan sampailah aku di lantai 3, tepat di depan kamarnya.

Aku melongok dari kaca yang terpasang di pintu. Aku lihat dia memang sudah siuman dan ada perasaan bahagia yang sulit di tafsirkan.

Hei, ada apa denganku? Kok aku senang begini” batinku saat melihat dia.

Aku mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan Hara, seperti biasa para perawat di dalam memberi salam.

“Selamat sore tuan muda” sambil membungkuk lalu meninggalkan aku dan Hara berdua saja.

“Bagaimana, apa lebih baik?” tanyaku basa-basi.

“Terimakasih ya” katanya sambil tersenyum lemah. “Padahal, aku pikir lebih baik mati loh” katanya lagi membuatku kaget

“Hah??” tanyaku tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Gak usah begitu. Sekalipun sekarang aku sadar, tetap aja aku harus segera mencari pendonor hati. Kalau tidak, sia-sialah usaha mu.”

“Baiklah, aku akan suruh orang untuk mencarinya” kataku berjanji. Dia tersenyum.

Aku melamun menatap wajahnya yang manis dengan dalam.

“Hei, kok kau di panggil tuan muda?” katanya membuyarkan lamunanku. Dia mencoba untuk duduk.

“Eomma adalah kepala dokter di rumahsakit ini yang kebetulan spesialis kanker yang merawatmu, sedangkan appa adalah pemilik rumahsakit ini. Jadi, wajar, kan?” jelasku sambil mengangkat kerah kemejaku.

“Aa… jadi dokter itu eommamu? Neomu yeppo.” pujinya tulus. “Aku pikir tadi pacarmu, habis terlihat masih muda”

“Ahh.. bisa saja” kataku sambil memukul bahunya. Dia terbatuk. Aku lupa, kalau dia lagi sakit. Mianhaeyo, Kim Hara.

*          I-el       *

Hari-hariku semakin banyak di rumahsakit selama dia di rumahsakit. Apalagi setelah tahu kalau dia anak tunggal yang di tinggal orangtua karena pekerjaan, padahal dia tidak butuh semua harta yang orang tuanya kumpulkan, cukup dukungan moral melawan kanker yang mulai merembet ke paru paru itu.

Aku datang sebelum dia bangun dan pulang setelah dia tertidur di malam hari. Dan kegiatan baru ini membuatku mengerjakan seluruh tugas kuliah di rumahsakit. Meskipun dia selalu menolak untuk aku jenguk setiap hari, tapi aku tetap datang dari hari ke hari. Tentu saja tidak hanya itu, aku minta appaku mengirim orang orangnya untuk mendapatkan pendonor hati dari pendonor yang pas dengan  Hara. Kalau di pikir pikir, aku ini bodoh atau apa sih? Jinki, kau mulai dipenuhi dengan gadis ini.

*          I-el       *

Baiklah 4 bulan aku seperti ini, tapi ajaibnya tidak pernah ada rasa bosan yang kupikirkan. Mungkinkah karena aku juga akan menjadi dokter ?

Hari ini aku bawa serangkai bunga untuk Hara. Aku buka pintu dengan wajah sumringah, tapi senyumku meleleh saat melihat Hara terjerembab di lantai dengan darah segar yang mengalir dari mulutnya, di tambah lagi aku melihat dia mimisan. Aku mencoba membaringkannya di tempat tidur,  memasang kembali jarum infus yang terlepas dan menyebabkan pendarahan yang luar biasa itu.

Kalau begini, dia bisa kehabisan darah” kataku dalam hati.

Aku ingat ummaku dan beberapa dokter ada rapat, jadi aku berlari ke ruang rapat rumahsakit. Tapi, di perjalanan menyusuri lorong-lorong rumahsakit, aku hampir menubruk ranjang yang sedang di dorong menuju ruang ICU. Namja yang dibawa itu terluka parah, hampir 75% tubuhnya berdarah apalagi kepalanya, terlihat mengalami benturan hebat. Mungkin kecelakaan.

Aku terus berlari dan tiba di ruang rapat para dokter. Kemudian aku segera mendobrak pintu dan membuat acara rapat itu terhenti.

“Eomma~ cepat tolong Hara! ” teriakku sambil mengguncang tubuh eommaku. Beliau segera berlari mengikutiku dan beberapa perawat mengikuti kami sambil membawa peralatan medis yang di butuhkan.

Pintu kamarnya terbuka.

“Aigoo… dia kritis. Suster cepat pasang alat bantu pernafasan, pendeteksi jantung! Oh ya, tolong sampaikan pada dokter Jang untuk menyiapkan kamar operasi” kata Eomma dengan sangat cekatan. Umma segera memeriksa Hara dengan stetoskopnya.

Beberapa saat kemudian, datang dua orang pria yang membantu eomma dan satu orang suster di kamar Hara untuk memindahkannya ke ruang operasi.

“Eomma, memangnya Hara udah dapat pendonor?” tanyaku cemas.

“Sudah. Kalau tidak, mana mungkin eomma putuskan operasi?” kata eommaku sibuk berlari- lari.

Sejengkal sebelum masuk ke ruang operasi, aku tahan dengan ranjangnya dan berbisik padanya berharap kata kata ku bisa jadi kekuatan untuk ke Hara.

“Hara, please don’t leave me!”

Kemudian umma, beberapa suster dan Hara masuk ke dalam.  Satu jam aku meunggu di luar tapi akhirnya aku pulang saja. Aku begitu yakin kalau Hara akan baik baik saja ditangan umma. Aku begitu percaya pada ummaku.

“Eomma, tolong ya!” kataku pelan sebelum pulang.

*          I-el       *

Kurang lebih seminggu aku tidak ke rumahsakit. Alasannya, karena aku harus mengejar kuliah. Lagipula eomma bilang aku tidak boleh masuk ke ruang perawatan karena Hara sedang di isolasi.

Setelah selesai kuliah, ketika aku hendak mengambil motor di lapangan parkir, eomma menelponku dan bilang kalau Hara sudah siuman sejak tadi pagi. Aku pun mengarahkan motorku ke rumahsakit, aku melewati halte bus tempat kami bertemu pertama kali. Aku tersenyum mengingat pertemuan konyol itu. Aku juga mampir membeli bunga.

Dengan berlari aku menuju ruang perawatan Hara yang baru, tapi langkahku terhenti ketika meilhat lawan bicara Hara sekarang. Aku menggertakan gigi, tapi tanganku di tarik oleh eomma.

“Jangan pernah mengganggu pasien baru siuman dengan pertengkaran”

“Tapi, umma, dia…” kata kata ku terhenti

“Kita lihat saja dulu”

Aku menurut pada umma. Aku berdiri di hadapan pintu dan mendengarkan percakapan mereka.

“Hara, mianhapnida” kata lawan bicara Hara yang membuatku sangat muak.

“Oppa, gwencanayo” kata Hara sambil mungusap lembut punggung tangan pria itu.

“Bagaimana rasanya memiliki hati yang baru?” kata lawan bicaranya lagi.

“Aku merasa lebih baik, Jonghyun oppa. Kenapa?”

“Ani. Aku hanya merasa lega setelah tahu bahwa pengorbanan Taemin gak sia-sia” kata namja brengsek itu, membuatku tercengang. Siapa lagi itu Taemin?

Jonghyun terlihat menangis.

“Hehh, oppa. Gamsahapnida sudah menyetujui niat Taemin, aku gak tahu akan jadi apa aku ini tanpa kebaikan oppa.”

“Apa? Kebaikan oppa? Laki laki itu terlalu jahat padamu Hara” batinku kesal.

Aku lanjutkan lagi kegiatan mengupingku.

“Namdongsaengku sejak awal sudah berniat melakukannya sejak lama. Alasannya, karena Ia ingin membalas kesalahan dan kegilaan yang kulakukan padamu.” Dia menghela nafas panjang.  “Demi Key, aku membuangmu dan sekarang aku pun di buang. Seharusnya sejak dulu aku menemanimu di rumahsakit.”

Argghhh…. Aku semakin muak. Sebelum romansa setengah jadi ini berlanjut, aku memasang muka tebal dan masuk dengan maksud mengganggu.

“Jinki, lama ya tidak bertemu” wajah Hara segera terlihat sumringah.

“Hai Hara” kataku datar

“Loh, namja ini kan yang memukulku beberapa bulan yang lalu di Coffe Café. Siapa dia?” tanya Jonghyun dengan nada kesal.

“Dia Jinki anak permilik rumahsakit ini, dia yang selama ini menemani aku. Eommanya adalah dokter yang memeriksaku tadi, oppa” katanya menjelaskan.

Aku marasa pengab di ruangan ini.

“Hara , ini bunga untukmu, aku taruh di sini ya!” kataku sambil beranjak keluar setelah meletakan bunganya diatas meja. “Oh ya, kalau kau butuh aku, carilah ke tempat aku akan menunggumu. Itupun, kalau urusanmu dengan orang ini sudah selesai” kataku menambahkan sambil menutup pintu.

Aku tidak rela Hara bersama Jonghyun, tapi Hara terlihat masih saying padanya. Dan sepertinya, Jonghyun itu sudah meninggalkan couple anehnya itu.

*          I-el       *

Aku memilih naik bus lagi akhir-akhir ini, karena tidak ada lagi yang aku kejar. Hara sudah tidak lagi dirawat di rumah sakit, jadi tidak ada alasan lagi bagiku untuk terburu-buru pulang. 3 buah bus lalu lalang begitu saja di depanku. Apa sih yang membuatku betah duduk di sini 3 jam. Sebenarnya aku sedang menunggu apa?

“Hei, akhirnya aku menemukanmu Jinki” kata seorang yeoja tiba-tiba. Aku tidak tertarik untuk menoleh. “Ya! kau dengar aku?” dia menjentikkan jari, tapi pandanganku teralih pada iPod yang dipegangnya. Aku pun menoleh ke sumber suara.

“Ku dengar dari eomma mu, malam ketika aku masuk rumahsakit, kau menggendongku sampai ke rumahsakit dalam kondisi hujan. Dan ternyata iPodmu basah kuyup” kata yeoja yang aku rindukan sambil tersenyum.

“Hara?” tanyaku tak percaya. Dia menyerahkan Ipodku dalam genggamanku.

“Kau bilang aku bisa menemuimu di tempat kau biasa menungguku. Tapi, karena aku selalu datang telat karena jadwal kuliah kita berbeda, aku tidak bisa menemukanmu.”

“Sekarang sudah ketemu. Gwencana?”

“Gwencanayo. Aku hanya ingin memberitahumu, kalau urusanku dengan Jonghyun oppa sudah selesai”

“Lalu?” tanyaku penasaran

“Lalu, bagaimana dengan urusan kita?” katanya malah balik bertanya.

“urusan apa?” aku makin bingung. Tebak tebakan ini terlalu sulit untukku.

“Urusan kata ‘Please,’-mu itu” jelasnya membuatku malu. “Eommamu dan suster bilang kalau kau selalu mengucapkan kata ‘Please, don’t go’ dan ‘Please, don’t leaveme’  setiap akan pulang, bahkan hari di saat aku operasi. Tapi saying, aku tidak pernah mendengarnya secara nyata.” Ia mendengus kesal dan dia beranjak pergi dari halte bus.

Sejenak aku berpikir, mungkin inilah saat dia akan benar benar pergi dari hidupku. Aku bangkit dari bangku halte dan menarik tangannya, menuntun tubuhnya dalam rangkulanku. Aku kecup rambut hitam yang sekarang lebih panjang dari saat pertama kali bertemu dulu.

Dia membalas pelukanku. Satu bus lagi lewat, tapi aku tidak mau kedatangan bus membuatku melepaskan pelukan ini. Tidak akan! Aku renggangkan pelukannya dan menangkap wajahnya. Wajahku maju perlahan, sementara dia  memejamkan mata. Aku tersenyum dan aku bisikan kata itu lagi

“Please don’t leave me alone!” dengan lembut ke telingannya. Dia membuka mata. “Nah, sekarang kau sudah dengarkan?” kataku berlari menjauhinya. Aku lihat dia kebingungan, dan pasti sekarang  sedang merasa bodoh.

“Mehrong” kataku mengejek. Dia berlari mengejarku, tapi kali ini beda dengan kejar kejaran 5 bulan yang lalu di sekitar halte yang sama. Hujan yang turun tiba-tiba, menyempurnakan kejar-kejaran kami. Aku malah balik berlari ke arahnya dan membuat dia berputar arah, menghindar dari kejaranku, tapi tetap saja tubuhnya tertangkap dengan mudah.

Hari ini terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Aku tangkap wajahnya yang begitu kecil di tanganku, sekarang bukan kata-kata yang kubisikan tapi cinta yang kutunjukkan. Dia berjinjit dan ku bantu dengan sedikit menunduk. Kami saling bertukar ciuman yang ternyata ampuh untuk mengusir rasa dingin yang kami rasakan. Tubuh ini hangat, oh tidak! Terlalu panas, karena cinta yang membakar kami.

FIN

N.B. Gimana? Gimana? Udah pasaran ya FFnya? Maaf ya para reader. *bow

Tapi, aku tetap berharap komennya. Kritikan juga gak apa”, soalnya aku lagi butuh kritikan yang membangun biar FF aku kedepannya bisa lebih baik dari ini.

Buat orang-orang yang berpartisipasi dalam munculnya FF ini, aku mau say thanks (yang punya blog ini maksudnya) ^0^. Dan buat eonniku, Dee ‘S.Yo!’ yang senantiasa membantuku, bahkan rela menyita waktunya buat ngetikin untuk mempersingkat waktu. Makasih ^^

Chu~

Sincerely,

Author : Ji I-el

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

 

 

53 thoughts on “[FF PARTY] Please, _ _!”

  1. aigoo ..
    gilagila ..
    keren banget sumpah ..
    dari awal sampe akhir airmataku ngalir. .
    ih kali ini aku serius … beneran deh ..
    sampe diketawain kakakku loh aku nangis …
    gilagila ..
    sumpah …
    DAEBAK !!!
    hhuuuu t.t

  2. waaaaaaah kereen asli deh keren banget .. Ceritanya sedih sampe bikin dada sesek ..
    Ya ampun beneran deh aku sukaa banget .. Jinkinya kasian T.T .. Pokoknya DAEBAK deh ..

  3. WOW DAE-BAK!!!
    Keren banget, onew..mau punya pacar kaya onew haha
    Jadi yg donor itu Taemin? Dan taemin namdongsaeng-nya Jjong?

    Nice ff author 😀

  4. One word, wow! No! It’s damn wow! No! It’s so freakin wow!! *lebay*
    Bagian akhirnya… wow, bikin aku jadi senyum. Hahahaha..
    untuk ukuran author yang seumuran Lana (eh iya kan ya?) bahasa kiasannya udah cukup bagus
    kayaknya kamu emang latihan -sering nulis- good ^^b

    HWAITING !

    -Judge 1-

  5. AAAAH THOR THOR THOR AKU SUKAAAA XD
    ceritanya mungkin pasaran tapi cara author menyampaikan isinya itu ngena gitu loh ehehe
    pokoknya aku suka banget lah apalagi sama karakter onew yang dibikin sama author aku juga sukaaa
    FOUR THUMBS UP! *sama jempol kaki juga* egege XD

  6. WOWOWOW~~ *nyanyi lagu shinee
    Keren keren…
    Kata katanya keren baanget..
    walau ceritanya klasik tapi ada khasnya sendiri…

    Nice

  7. Eh , itu kejer kejeran ya ? Wah kaya film india hahaha . FFnya keren romantis hahaha perasan aku ketawa terus ya ? Uda ah nanti kalo kebanyakan ketawa bisa muntah(?)

  8. Authornya disini ^^
    maaf y cm bs reply disini.

    Pertama, bwt judge 1nya dlu deh.
    eum…aku emg seumuran Lana,tp brhbung lahirnya bln Januari, tetep tua-an aku.keke
    *canda
    Makasih ya atas komennya yg manis.hehe…emg sih aku udh kbiasa nulis dr SMP
    *gak nanya
    Jadi mw nulis FF tambahan deh. blh tak??

    Kedua,
    aduh..aduh..itu yg komen plng atas knp ribut” bgtu?udahlah…!!n_n

    Ketiga,
    aku bkn yg nulis The name i loved, tp Half Married.cba deh diliat authornya baik” ^^

  9. @Vikos&Niarrow: masa sh romantis?Omo~ ^^

    @yolawidss: Keren ya?
    aduh!! Thank you! Thank you!
    eh, eh.. km ga pny asma, kan? tkutnya gr” baca FFku, asmamu kmbuh

    @icusnabati: keren?! *mataku brbinar-binar
    syukur deh km dp feel-ny

    @fuckyeahnunanunsky: wedeeh yg lagi speachless

    @ayeeay: mw pny pacar kyk Onew ato Onewnya?
    mnding izin dlu sma istri”ny. *lah?!
    Iy Taemin yg donor&dia adenya Jjong *maksa bgt ya?

    @O-shin: Iye keh?? hehe
    *jd malu
    emg aku bkin Onewnya jd gmn??*canda
    4 jri? rpot tuh

    1. Jinki emang baik tau.
      Apa mau aku buat Jinki jadi jahat di FF kedepanku??
      Ahh… spertinya aku harus izin pd para istrinya dulu deh

  10. Authornya dsini lagi ^^
    aku lanjut ya?

    @choco9taem&chandrashinoda: iya crita klasik.eum.. tp apa yg ngebwt FF-ku pny ke-khas-an sndiri?
    *bingung
    well thanks bwt commentnya n_n

    @dindawew: wah, spertinya cm km yg ktawa. tp, ya sdhlah toh stiap reader pny tanggapan msng”

    @Dhikae: klo gt nyanyi ‘Romantic’-nya SHINee jg dong :p

    @Dhaekyu: romance, sweet?!
    aku ga nambahin gula ke FFku deh kykny

    @choconof: hadeh,, ‘aku suka’-nya bnyk bgt
    *mesem-mesem d meja bljr
    Loh?Jinki itu emg baik ^^

  11. Sebelllllll >_______________<
    Padahal tiap hari udah memantau Shawolindo fanfiction.
    Tp, masih tetep aja ketinggalan buat comment.
    Uhhh~ Ji I-el!! Jawab pertanyaanku!! kenapa setiap aku mau comment FF mu, aku selalu di urutan bawaaaahhhhh sekali! hah!
    Mungkin aku perlu mengatakan ini "FF MU MEMANG SELALU DAEBAK!!!" ^^
    Alur cerita & karakternya sangat sangat bagus n_n
    Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadi nya bila oppa ku melakukan hal sperti itu l_l
    Kamu pasti bisa jadi main author ^_^

    1. Berarti kamu belum jd yg paling rajin mantau.
      *Emgnya kamu Jean pantau?!
      Entahlah kenapa. heum…. emg mungkin km hrs setiap saat buka shawolindo fanfiction.ahaha….
      Kamu ngebayangin Onew sama siapa?? sama kamu??
      wah… kamu hrs siap” diamuk masa

      Amin….
      pengen bgt soalnya.
      Fighting!!!doakan aku ya?! ^^

  12. I-el !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    sumpah yaa aku suka ama semua ff buatan kamu !!
    bahasanya enak banget
    trus ceritanya seru seruuuuuuuuu
    wuiiiiiiihhh
    aku jadi pengen berguru sama kamu
    ahahaha

  13. @Lia: iya? bagus ya?? suka semua?? n_-
    *aku terbang. syalalalala…
    halah..halah..
    smpe brguru sgala.ilmu aku msh cetek, msh sedengkul kali.
    ya, sgimana sih ilmu menulis ank SMA?
    gmn klo kita bkin FF duet.keke

    @astrid: kamu nangis gak? nangis ga?
    *penasaran

    @hovephi: eum..
    kbtulan sblm ni aku udh bwt Half Married. part slanjutnya sdng dlm proses
    baca after the dead jg ya?! n__n

  14. mari tinggalkan jejak..

    wahh kenapa ku baru baca ff sedaebak ini sekarang???

    keren kata-katamu author..
    feelnya dapet banget..

  15. Uwaaaaa eonni kereennnn….
    Mianhae baru bacaaaaaaaa *sujud sujud depan author*
    Tapi sumpah keren banget daebak gila.
    ga tau deh mesti ngomong apa. Kalo aja itu si hara beneran ada kyaknya si Hara bakal dibuang ke laut am istri-istri satu blog….
    huakaka…..
    keren keren!!!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s