One Fine Spring Day – Part 3 (END)

One Fine Spring Day Part 3 (END)

Cast: Lee Jinki, Song Minji

Rate: PG 13/15

Length: Sequel

Genre: Romance

Author: Mutiaadha

©2010 SF3SI, Freelance Author.

~Minji POV~

Aku melangkah gontai melewati koridor sekolah menuju kelasku yang berada dilantai dua.

Hari ini suasana hatiku sedang cerah, mungkin karena bunga-bunga cinta sedang bersemi indah di hatiku (?)

Aku memasuki kelasku yang kini sudah mulai ramai, dan kemudian langsung dapat menemukan Jinki dibangkunya, seperti biasa, sedang membaca sebuah buku.

Aku mendekatinya lalu kemudian duduk disampingnya.

“Jinki-ssi” panggilku, tapi tak ada reaksi darinya.

“Jinki-ssi” panggilku sekali lagi.

“Ada apa?” katanya tanpa berpaling dari bukunya.

Aku tersenyum simpul sambil terus memandangi wajahnya yang nampak serius membaca buku.

“Apa ada yang aneh di wajahku?” tanyanya yang kemudian menutup bukunya dan kini menatapku.

“Ani, Jinki-ssi” aku menggeleng.”Ya, jangan panggil aku Jinki-ssi, itu terlalu formal. Panggil aku Oppa saja”

Aku mengerutkan kening “Oppa? Heh kita lahir ditahun yang sama, masa kau kupanggil Oppa”

“Setidaknya aku lebih tua lima hari dari mu”

“Ye dasar =,=”

“Mau tidak?!”

“Ah ne, ne” aku mengangguk pelan “Oppa” kataku sambil kemudian menatapnya dan tersenyum.

“Minji~ah!!!!!” tiba-tiba seseorang berteriak memanggil namaku. Ku lihat Kibum di ujung pintu melambai kearahku.

“Ada apa?”

“Kau dipanggil ke ruang guru, sekarang!”

“Mwo? Aku?”

***

“Minji~ah” Taeyeon seosengnim menyerahkan map biru kearahku “selamat ya, permohonan studi banding mu ke Jepang di kabulkan”

MWO?!

Ap-apa kata Seosengnim barusan?

“Mwo?” aku masih tak dapat mempercayai pendengaranku.

“Iya, minggu depan kau sudah bisa berangkat. Selamat ya Minji~ah”

“Gu..gureyo?” aku masih tak mempercayai ini “gureyo seongsenim?”

“Ne”

KYAAAAA!!

Aku ingin lompat setinggi-tingginya. Aku, aku, aku akan ke Jepang.

Kyaaaaaaa XD

“Selamat ya. Nanti ku urus semua dokumen-dokumen yang diperlukan”

***

~Jinki POV~

“MWOYA???” Aku cukup kaget mendengarnya. Ia akan ke Jepang?

“Ne Oppa”

“Kapan?”

“Hari Sabtu”

APAAA?! Sabtu?

Berarti lima hari dari sekarang?

Haish eottokhae?Aku senang Ia berhasil mencapai impiannya, mengejar cita-citanya selama ini tapi, itu artinya Ia tidak akan berada disini, tidak bisa bersamaku lagi.

“Kau yakin mau ke Jepang?”

Ia mengangguk “Jepang adalah negara tujuanku yang pertama. Kalau aku bisa sekolah di Jepang, sangat mudah bagiku untuk meminta studi banding ke negara lain seperti Amerika, Inggris dan Jerman”

“Ohhh” jawabku malas.

Sungguh aku tidak tau apa yang akan terjadi pada hidupku.

Aku baru saja dekat dengannya, belum ada seminggu, tapi kini Ia akan pergi, meninggalkanku. Tidakah ini terlalu cepat?

“Oppa” katanya pelan “kau kenapa?”

Aku menggeleng.

Aku tidak tau harus berbuat apa.

***

Empat hari.

Tinggal tersisa empat hari sebelum Ia pergi.

Hari ini aku sekolah seperti biasanya, tapi ada satu hal yang membuatku tak bersemangat, ya Song Minji.

Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang menutup mulutku lalu kemudian menarik tubuhku sebelum aku sempat masuk ke gerbang sekolah.

“Hhhmft wammft khau” aku mencoba berbicara dengan mulut masih dibekap.

“Hsst jangan berisik nanti ketauan” kata orang yang membekap mulutku.

Aku menatap orang itu lalu kemudian mengerutkan kening.

“Kau?!!”

“Oppa” kata orang itu yang ternyata adalah Minji.

“Mengapa kau disini, tidak masuk sekolah?”

Ia menggeleng.

“Waeyo?!”

“Malas”

Mwo??!

Aku melebarkan kelopak mataku, tidak mempercayainya.

Seorang Song Minji malas sekolah? Aku rasa Ia mulai tidak waras.

“Kau ikut aku yuk!” Ia menarik tanganku pergi meninggalkan sekolah.

“Mau…mau kemana?” tanyaku bingung.

“Temani aku bersenang-senang sebelum pergi”

***

“Kita mau kemana?” ini sudah ketiga kalinya aku bertanya, tapi Ia masih tak menjawab. Ia masih sibuk melayangkan pandangannya keluar jendela bus.

“Mau ke Everland?”

Ia menggeleng “Itu terlalu jauh”

“Lalu?!”

Ia menatapku sambil kemudian tersenyum. “Liat saja nanti”

***

Aku cukup kaget karena sekarang aku berada di depan sebuah gundukan tanah yang besar bernisan RIP Song Min Young 1987-2005.

Aku melihat Minji memberi hormat membungkuk lalu bersujud sambil kemudian meletakan sebucket bunga di pinggir makam.

Air matanya sudah mulai membasahi kedua pipi mulusnya, sedangkan aku masih terpaku berdiri ditempatku, membiarkan dirinya menangis sepuasnya.

Setelah hampir 15 menit Ia menangis, aku menghampirinya sambil kemudian menariknya berdiri. Aku rasa sudah cukup semuanya.

“Berhentilah, kita pulang sekarang”

Ia menangguk sambil kemudian memberikan salam terakhir pada Onni-nya.

Aku masih memapahnya, membantu memegangi tangannya agar Ia tak kehilangan keseimbangan. aku yakin Ia belum sepenuhnya kuat berjalan.

“Oppa, boleh kita istirahat sebentar dibangku itu”

Aku memenuhinya, kami duduk di sebuah bangku yang tidak begitu jauh dari area pemakaman, dibawah pohon sejenis Sakura yang sedang berbunga mekar.

“Minumlah” aku menyerahkan botol minumku kearahnya.

“Gumawo”

“Tadi itu, Onni-mu?!” tanyaku pelan, berusaha untuk tidak membuatnya menangis lagi.

“Ne, Ia meninggal karena kanker”

Aku terdiam, tak ingin berbicara banyak.

“Ada yang ingin kau ceritakan, mungkin aku bisa menjadi pendengar yang baik”

Ia menatapku, sambil kemudian mulai berbicara.

“Aku sangat mencintai Min Young Onni. Aku, aku hanya Ingin mewujudkan impiannya, membahagiakan kedua orang tuaku”

Aku melihat air matanya mengalir lagi.

“Ia sangat pintar dan cerdas, selalu dapat peringkat disekolah. Aku selalu iri padanya, tapi sayang, sirosis membatasi mimpinya. Ia meninggal sebelum Ia sempat mewujudkan mimpinya membahagiakan orangtuaku.

“Sebelum Ia meninggal, Ia berpesan padaku, untuk menggantikannya membahagiakan Appa dan Umma, oleh karena itu ketika aku mendapat kesempatan untuk sekolah ke Jepang, aku sangat bahagia, aku sangat senang bisa mewujudkan mimpi Min Young Onni.

“Ia suka musim Semi. Ia suka Sakura dan Ia suka Jepang. Itulah salah satu sebabnya kenapa aku begitu bahagia ketika aku mendapatkan kesempatan sekolah di Jepang”

Aku menariknya kepelukanku, mengelus pelan rambutnya. Membiarkan Ia membenamkan wajahnya ke dadaku. Aku tak perduli kalau baju seragamku akan basah dengan air mata.

Sekarang aku mengerti, kenapa Ia mencintai musim Semi dan mengapa Ia sangat senang medapatkan kesempatan ke Jepang.

Bukan kah seharusnya aku ikut bahagia jika Ia bahagia. Ya kurasa aku akan membiarkannya pergi. Bukan, maksudku memang seharusnya aku membiarkannya pergi.

***

~Minji POV~

“Oppa, kita naik itu yuk!” teriakku sambil menunjuk deretan sepeda listrik yang disewakan di daerah Gyeongju.

“Ahh, baiklah”

Aku dan Jinki pun segera menyewa sepeda listrik itu selama sejam untuk berkeliling-keliling menikmati indahnya sore di Gyeongju. Suasana saat itu sangat indah, banyak bunga yang masih bermekaran menghiasi beberapa pohon disepanjang jalan, belum lagi langit yang sore itu tampak indah dengan warna orange nya yang mulai berubah sedikit kelabu.

Hari ini adalah hari yang tak pernah kulupakan sepanjang hidupku. Hari dimana aku seorang Song Minji bisa menghabiskan satu hari waktuku bersamanya, Lee Jinki, orang yang kini ada dihatiku. Setidaknya, jika Ia benar-benar tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku, aku tidak akan menyesal lagi, karena paling tidak aku sudah pernah melewati hari bersama orang yang aku cintai, itu saja sudah lebih dari cukup buatku.

“Minji~ah, habis ini kau mau kemana lagi?” katanya disela-sela istirahat kami.

“Ketempat yang menyenangkan, yang jelas aku tidak mau pulang dulu” aku menatapnya serius “kau punya usulan, sebaiknya kita kemana lagi?”

Ia menggeleng “Aku bukan orang yang suka jalan-jalan, aku tidak tau tempat mana lagi yang bagus untuk di datangi”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ah, bukankah jika ini adalah kali terakhirnya aku bersamanya, harus ada suatu kenang-kenangan?

“Emmmh.. Oppa kalau begitu ayo ikut aku!”

Aku mengajaknya pergi ke tempat studio foto yang letaknya tak jauh dari sana, kemudian masuk kedalam dan berniat untuk mengambil berberapa foto.

“Haish kau ini, aku tidak suka di foto” protesnya tapi kemudian tak ku perdulikan karena langsung kutarik Ia kedalam box foto yang telah tersedia.

“Kau tidak bisa menghindar lagi, tugasmu sekarang hanyalah tersenyum. Kamera akan memotret sebanyak tiga kali secara otomatis, jadi bersiaplah!” kataku sambil kemudian memagasang tampang seimut mungkin.

Pemotretan pertama aku tersenyum lebar sambil mengacungkan kedua jariku membentuk huruf ‘V’ sedangkan Jinki hanya tersenyum datar dengan gaya sangtaenya itu.

Yang kedua kalinya aku memasang tampang cemberut, dengan pipi digelembungkan, sedangkan Jinki tertawa lepas.

Dan yang ketiga, aku baru saja ingin tersenyum ketika tiba-tiba aku merasakan bibir Jinki menyentuh lembut pipi kananku. Aku cukup kaget, tetapi mau dibagaimana lagi kamera telah memotret kami.

Ahhh pasti aku terlihat jelek sekali di foto ketiga itu.

Aku menatap Jinki yang kini sedang tertunduk malu, wajahnya bersemu merah.

“Hey kenapa kau menciumku?!” tanyaku pura-pura marah.

“Siapa yang menciumu, tadi itu tidak sengaja aku menyentuh pipimu” elaknya yang langsung kusambut dengan tinju pelan didadanya.

“Dasar!”

“Eh itu hasilnya sudah keluar, coba kulihat” Jinki langsung menarik hasil foto kami ketika hasilnya telah keluar. “hahaha kau.. kau lucu sekali, lihat wajahmu!” Jinki tertawa sambil menunjuk wajahku yang sedang terkejut karena dicium olehnya.

“Dasar jelek, coba liat yang ini!” aku menunjuk foto pertama kami “kau tersenyum datar tak ada ekspresi, dasar aneh!”

“Haish sudah-sudah, sudah malam ayo pulang” Jinki langsung memasukan foto kami ketas kecilku sambil kemudian menarikku keluar dari studio foto.

“Hmmm.. Jinki marah ya?” kataku sambil menatapnya.

Ia balas menatapku sambil kemudian tersenyum dan mencubit pipiku.

“Dasar jelek”

Aku tersenyum menatapnya. Hari ini aku bahagia sekali. Lee Jinki, gumawo~

***

~Jinki POV~

“Serius tak mau kuantar?!” tanyaku meyakinkannya lagi ketika kami sedang menunggu bus pulang di halte bus.

“Iya” Ia menangguk mantap “rumah kita kan beda arah, kalau kau mengantarku dulu, nanti kau kemalaman. Sudahlah Oppa, aku akan baik-baik saja”

“Ya baiklah, terserahmu” kataku akhirnya.

“Nanti kalau sudah sampai ku telfon. Oke?” kulihat Ia melambai dan kemudian pergi menyebrang jalan.

Kupandangi kepergiannya sambil sedikit meringis pelan.

Tidak kah kau pikir aku bodoh?

Tuhan telah memberikanku kesempatan besar hari ini, tapi mengapa aku tak juga bisa mengungkapkan perasaanku padanya?

Tiga hari lagi Ia akan pergi, tiga hari lagi, ayolah Jinki, lakukanlah sesuatu.

“AAAAAAAAAHHHG!” Tiba-tiba aku mendengar teriakan keras. Kulihat kini Minji sedang berusaha menutupi wajahnya yang silau terkena cahaya lampu dari truk besar yang melaju kencang dihadapannya.

Aku yang saat itu tak mampu berpikir realistis pun langsung berlari menghampiri Minji sebelum truk itu berhasil menabraknya. Buru-buru ku tarik tubuhnya dan kujatuhkan Ia keaspal bersama tubuhku.

“Hosh… Hosh.. Hosh..” nafasku tak karuan tapi aku lega karena aku dan dirinya berhasil menyingkir dari truk besar yang melaju kencang itu.

“Jinki, Lee Jinki, gwaenchana?” kudengar Ia menguncang-guncangkan tubuhku.

Aku mengangguk sambil kemudian bangkit dan menatapnya.

“Kau gwaenchana?”

“Ne Oppa. Ahh gumawo sudah menyelamatkanku, aku tak tau mengapa tadi kakiku sulit sekali untuk digerakan, untung kau datang kalau tidak mungkin aku… aku sudah” tangisnya pecah, dan aku segera menariknya kedalam pelukanku.

“Haish sudahlah Minjiah~”

“Gumawo Oppa, gumawo sudah menyelamatkanku”

“Sudah seharusnya aku melakukan itu, kau tidak perlu berterimakasih padaku. Lagipula mana mungkin aku membiarkanmu tertabrak truk itu.. aku juga tidak ingin kehilanganmu..”

Ya, mana mungkin aku membiarkanmu tertabrak truk Minjiah~ membiarkanmu meninggalkanku untuk selamanya. Ditinggal pergi ke Jepang saja sudah cukup menyiksaku, apalagi ditinggalkan untuk selamanya, mungkin aku akan mencari jalan untuk mati saat itu juga.

“Sudahlah sekarang kau kuantar pulang, kumohon jangan menolak lagi. Kajja!”

***

Tiga hari

Seperti biasa aku sibuk membaca buku ketika waktu istirahat. Hari ini Minji tidak masuk, entahlah aku tidak tau apa sebabnya. Kalau Ia tidak masuk karena trauma dengan kejadian semalam, aku bisa maklum, aku tau Ia butuh waktu untuk istirahat mungkin, atau menenangkan diri.

“Jinki!!!” teriak sereorang yang menyebalkan yang sekarang duduk disebelahku. Ya siapa lagi kalau bukan Kibum. “istrimu tidak masuk, kemana?”

“Siapa?”

“Haish pura-pura tak tau. Siapa lagi, Song Minji”

“Oh” jawabku berusaha tak perduli padanya.

“Huh kau beruntung sekali ya bisa dekat dengannya. Aku rasa Ia menyukaimu”

Aku kini beralih menatap Kibum serius.

“Minji itu tipe orang yang dekat dengan semua orang, tetapi kalau padamu aku dapat melihat sorot matanya yang berbeda, entahlah aku juga tak mengerti mengapa Ia bisa bersikap seperti itu padamu”

“Kau itu sok tau!”

“Hey aku ahli dalam bidang ini!” protesnya “asal kau tau saja ya, Kyuhyun sunbae si pemenang olimpiade itu ditolaknya, Nichkhun si kaya raya itu juga ditolak dan yang aku kaget bahkan Donghae sunbae yang super ganteng itu juga ditolak”

“Terus kenapa?!”

“Ya aku tidak habis pikir saja, Minji menolak semua namja-namja keren tapi Ia seperti memberi harapan padamu, padahal kau itu tidak pintar, tidak kaya dan juga tidak tampan!”

Plak!

Aku memukul kepala Kibum dengan buku ditanganku.

“Aduhhh Onew!”

“Lebih baik kau diam!”

“Aku kan cuma memberitaumu. Heh, saran dariku nih ya, sebaiknya kau segera nyatakan perasaanmu padanya jika kau menyukainya, sebentar lagi kan Ia kan akan pergi ke Jepang”

Aku terdiam, mencoba memahami kata-kata Kibum.

“Katakanlah sekarang sebelum kau menyesal”

***

Dua hari

Hari ini Minji juga tidak masuk.

Entahlah, Ia benar-benar tak mengabariku.

Kali ini aku minta pulang sekolah lebih awal, aku berniat untuk datang kerumahnya, mengecek kabarnya apakah Ia baik-baik saja atau tidak.

Tapi sebelumnya aku sempat mampir ke toko bunga dulu, untuk membelikannya sebucket bunga. Setelah itu aku langsung mengas motorku kearah rumahnya.

Rumahnya sepi, aku tidak tau apakah aku berani untuk mengetuk pintunya. Aku kini dilanda perasaan gugup yang luar biasa setelah berada di depan pintu rumahnya.

Aku berniat membalikan badanku untuk pergi meninggalkan rumahnya, tetapi setelah kupikir lagi, aku harus memberanikan diriku, aku ini kan seorang namja, aku harus berani.

ku ketuk pintu rumahnya dua kali. Tetapi belum ada jawaban juga.

Kucoba mengetuknya sekali lagi, tapi hasilnya sama saja. Sepertinya Ia memang tidak ada dirumah. Baiklah, sebaiknya aku pulang dan kembali lagi nanti malam.

Dan aku baru saja ingin melangkahkan kakiku pergi meninggalkan rumahnya, ketika Ia tiba-tiba saja muncul dihadapanku, dengan seorang namja yang merangkul pundaknya erat.

“Oppa~” panggilnya yang tampak terkejut melihat keberadaanku.

Aku tersenyum setengah kearahnya sambil kemudian berkata ‘Hey’. Entah apa lagi yang harus kulakukan, aku merasa suasananya jadi agak sedikit kaku.

“Apa yang sedang kau lakukan dirumahku?”

Ah iya, aku melupakan sesuatu. Perlahan kuserahkan sebucket bunga kearahnya.

“Kupikir kau sakit, jadi aku berniat menjenguk. Ternyata kau sudah terlihat lebih baik dari biasanya, kalau begitu sebaiknya aku pergi” aku menunduk memberi salam sebelum pergi. “annyeong~”

Kembali kugas motorku, pergi meninggalkan rumahnya dan sama sekali tak memperdulikan Ia yang sempat beberapa kali memanggil namaku.

Tersungging senyum meremehkan dari bibirku. Sekarang aku sadar, kalau aku memang benar-benar harus melepasnya.

Untung saja kata-kata ‘aku menyukaimu’ ataupun ‘Minji, saranghae’ belum sempat terucap dari mulutku, karena kalau sudah aku hanya akan menghancurkan hubungan mereka berdua.

Lee Jinki pabo!

Sudah kubilangkan dari awal, kalau yeoja cantik seperti Minji tidak mungkin belum memiliki pacar. Kau yang bodoh, kau sangat bodoh!

Ya, aku dan Minji memang tidak ditakdirkan untuk bersama, jadi anggap saja kebersamaan kami dua minggu terakhir ini sebagai angin lalu.

***

Satu hari

Hari ini Minji sudah masuk sekolah seperti biasa, dan hari ini anak-anak sekelasku akan mengadakan acara perpisahan untuknya karena besok Ia akan segera pergi ke Jepang.

“Minji~ah selamat ya, ah aku pasti akan sangat merindukanmu” ucap Nara teman sekelas kami.

“Ah aku juga” Minji tak henti-hentinya memeluk teman sekelasku satu persatu sambil mengucapkan salam perpisahan.

Dan kini tiba giliranku.

Ia menatapku penuh arti, entahlah tatapannya sangat sulit untuk kujelaskan.

“Oppa, besok aku pergi” katanya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.

Haish aku ingin sekali memeluknya saat itu juga kalau saja tak terlintas pikiran dikepalaku mengenai Ia dan namja yang kemarin itu.

“Ya semoga kau senang disana” kataku datar tanpa ekspresi, tanpa pelukan perpisahan ataupun tanpa pemberian kenang-kenangan padanya.

Ia menatapku bingung, dan entah benar atau tidak, aku melihat raut wajah kekecewaan dari wajahnya.

“Ne, aku pasti akan bahagia di sana” jawabnya sambil kembali menyalami teman-temanku yang lain.

***

Hari keberangkatan.

“Kau tidak mengantarnya?” tanya Kibum padaku.

Aku menggeleng sambil sibuk membaca bukuku.

Saat ini kami sedang berada dikantin, menikmati makan siang kami.

Hari ini Minji pergi, pesawatnya berangkat siang ini, dan aku sama sekali tak ingin mengantarnya, bagiku kejadian yang terjadi antara aku dan dirinya akhir-akhir ini sudah sangat menyakitkan untukku, aku tidak mau lagi menambah kenanganku bersamanya, yang pada akhirnya hanya akan menjadi kenangan buruk untukku.

“Kau masih belum menyatakannya juga Jinki?!” tanya Kibum sambil melahap spagettinya.

“Menyatakan apa?!”

“Haish kau ini ternyata lebih bodoh dari yang ku kira, kalau bukan sekarang kapan lagi, Ia kini sudah pergi ke Jepang, kau tidak punya kesempatan lagi!”

Aku menutup buku yang sedang kubaca, aku pusing mendengar celotehan Kibum ini.

“Kau tau, kau cerewet sekali!!!” kataku sambil kemudian pergi meninggalkannya.

“Ya mau kemana?” Ia berusaha mengejarku.

“Bukan urusanmu”

“Kau marah padanya karena kemarin kau melihat Ia bersama dengan namja lain?”

Aku menghentikan langkahku dan kini menatap Kibum bingung “Bagaimana kau tau?”

Plak

Kibum memukul kepalaku.

“YA MENGAPA KAU MEMUKULKU?!”

“Pabo, kau tau pabo tidak? Ya itu kau, bahkan kau lebih bodoh dari orang idiot sekalipun”

Aku masih tak mengerti dengan maksud Kibum.

“Ya Lee Jinki, asal kau tau ya, namja yang kemarin itu adalah Eun Hyuk Hyung, kakak sepupu Minji yang membantunya mempersiapkan tiket untuk pergi ke Jepang hari ini!”

“Mwo?!” aku melebarkan kelopak mataku, tak percaya akan hal ini “jadi dia bukan pacarnya?”

“Mana boleh sepupuan pacaran, sudah kubilang kau itu pabo!”

“Tapi… ba..bagaimana bisa kau tau semua ini?”

“Minji yang memberitauku, Ia cerita semuanya tentang perubahan sikapmu sejak melihat nya bersama Eun Hyuk Hyung, Ia ingin bicara semuanya padamu, tapi kau menghindar terus”

Aku memengangi kepalaku yang nyaris pecah. Lagi-lagi aku salah paham. Haish!

“Kim Kibum, apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Pesawatnya berangkat jam 2, kau masih punya waktu sekitar setengah jam lagi untuk pergi ke Incheon”

“Hah kau gila?

“Ya terserahmu, kalau kau masih ingin menyatakan perasaanmu padanya, semuanya belum terlalu terlambat, dari pada kau menyesal”

“Hah baiklah, kalau begitu temani aku ke Incheon sekarang?!”

“Heh kenapa bawa-bawa aku?!” protes Kibum

“Karena semua salahmu, coba kau memberitauku dari awal, maka tidak akan begini jadinya!”

***

“Kau yakin kita tidak salah terminal?” protesku sambil berulangkali melirik jam ditanganku.

“Benar kok, ini terminal keberangkatan” Kibum juga masih sibuk mencoba menghubungi Minji “hp nya pun sudah tidak aktif, apa kita sudah terlambat ya?”

Aku tak menghiraukan kata-kata Kibum lagi, mataku kini sibuk mencari sosok Minji di tengah kerumunan orang yang begitu banyak ini.
Dan tiba-tiba saja mataku tertuju pada seorang yeoja yang sedang berdiri menyeret koper, yeoja itu mengenakan dress ungu bunga-bunga dan kacamata hitam.

Aku tau itu dia, itu Song Minji-ku. Walaupun Ia mengenakan kacamata, tapi aku dapat mengenali wajahnya.

Ya tidak mungkin salah lagi. Itu dia.

Aku berjalan menghampirinya, berharap masih bisa mengubah semuanya dan mengatakan perasaanku padanya.

“Minji~ah” panggilku kemudian.

***

Minji POV

Kulirik jam ditanganku untuk kesekian kalinya, sebentar lagi aku akan berangkat, dan ternyata sampai saat ini aku belum mendapatkan kabar apapun tentangnya.

Lee Jinki, apakah ini akhir yang kau harapakan? Apakah ini yang kau mau?

“Minji, ayo berangkat” Umma memperingatkanku.

Aku mengangguk dan bersiap untuk pergi, tapi sebelumnya aku sempat melihat kesekelilingku dan berharap menemukan Lee Jinki. Ah tapi sepertinya semua percuma, Ia tidak mungkin datang ke bandara saat ini, Ia kan sedang disekolah.

Kulangkahkan kakiku perlahan, mencoba menerima kenyataan kalau akhirnya seperti ini, tetapi tiba-tiba…

“Minji~ah” aku mendengar suara seseorang yang amat kukenal, suara Jinki, ah tapi mana mungkin, aku pasti sedang bekhayal.

Kuarahkan pandanganku kearah sumber suara tadi, dan kini aku menemukan sosok Jinki berdiri tepat dihadapanku.

Kurasa aku sudah benar-benar tidak waras. Apa karena aku terlalu merindukannya sampai aku berkhayal Ia nyata dihadapanku kini.

“Minji~ah” panggil sosok Jinki dihadapnku ini.

Aku tersentak, tunggu dulu…. dia.. dia nyata?

“Oppa~”

“Minji~ah” katanya sambil kemudian berlari memelukku.

Ya Tuhan Ia nyata? Ia benar-benar Jinki? Orang yang sejak tadi kuharapkan kehadirannya? Ya Tuhan.

Aku merasakan Jinki mengeratkan pelukannya, begitu juga dengan aku, aku tau, aku tau kalau aku sekarang benar-benar tak bisa berpisah darinya.

Baiklah, sudah kuputuskan, kalau Ia menyatakan Ia menyukaiku, akan kubatalkan semuanya, akan kubatalkan keberangkatanku ke Jepang.

Setelah hampir 5 menit kami berpelukan, akhirnya Ia melepaskanku juga, Ia menatapku lekat-lekat, Ia menatapku penuh arti.

“Minji~ah, aku… ada sesuatu yang aku ingin-” kalimat Jinki terpotong seketika ketika Umma menghampiri kami.

“Minji, ayo cepat, nanti ketinggalan pesawat”

“Ne Umma, sebentar lagi” kataku sambil beralih menatap Jinki lagi “kau ingin apa?” aku minta kelanjutan.

Ia menggeleng sambil kemudian tersenyum.

“Ani, aku hanya ingin mengatakan… selamat.. selamat tinggal”

Aku tersentak, air mataku nyaris tumpah, Ia tidak mengatakan sesuatu yang kuharapkan, Ia tidak mengatakan apapun tentang perasaannya.

Aku tersenyum getir “Gumawo Oppa, ternyata kau jauh-jauh menyusulku kesini hanya untuk mengatakan itu, aku jadi terharu”

Kugigit bibir bawahku sekuat mungkin mencoba menahan airmataku agar tidak tumpah dihadapannya.

“Pesawatku akan berangkat, sebaiknya aku pergi” kataku sambil menyeret koperku, menyusul umma yang sudah terlebih dahulu berjalan didepanku.

Aku tak berani menoleh lagi kearahnya, air mataku kini sudah tumpah, aku sudah menangis sejadi-jadinya.

Cinta memang indah jika terbalas, tetapi memberikan harapan palsu itu rasanya lebih menyakitkan dari pada patah hati.

***

Jinki POV

“Minji~ah” aku memanggilnya sekali lagi tapi kali ini aku langsung berlari kedalam pelukannya.

Aku memeluknya erat, dan Ia juga membalas pelukanku. Akhirnya, setelah sekian lama, aku dapat melakukannya lagi, aku dapat memeluknya.

Dadaku bergetar, kali ini lebih kencang dari yang biasa, tapi aku tak perduli, aku ingin Ia mengetahuinya sekarang.

“Minji~ah aku.. ada sesuatu yang aku ingin-“

Kalimatku terputus ketika ummanya datang “Minji, ayo cepat, nanti ketinggalan pesawat”

“Ne umma sebentar lagi” Minji kini kembali menatapku “kau ingin apa?”

Aku… aku berusaha untuk mengatakannya. Mengatakan perasaanku padanya, tapi entah mengapa mulutku kaku dan seperti tidak bisa bicara kepadanya.

“Ani, aku hanya ingin mengatakan… selamat.. selamat tinggal”

aku tidak tau dengan apa yang terjadi pada diriku saat itu, mengapa aku malah mengatakan sesuatu yang bukan kuinginkan? Mengapa aku seperti ini, mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja?

Ya Tuhan, eottokhae?

“Gumawo Oppa, ternyata kau jauh-jauh menyusulku kesini hanya untuk mengatakan itu, aku jadi terharu”

Aku melihat sorot mata kekecewaan dimatanya, ya aku juga merasa kecewa dengan apa yang kulakukan barusan, tapi bagaimana bisa aku merubahnya?

“Pesawatku akan berangkat, sebaiknya aku pergi” Ia kini berjalan meninggalkanku, benar-benar pergi dari sisiku, menghilang dari pandangan mataku, menghilang dari kehidupanku, tetapi tidak akan pernah menghilang dari hatiku.

Dan aku, apa yang harus aku lakukan jika kenyataan yang ada seperti ini. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk menyatakannya, aku hanya boleh menyimpan semua perasaanku dalam hati saja

Satu hal yang kusadari, benar apa kata pepatah ‘jika kau mencintai seseorang, katakanlah perasaanmu selagi kesempatan itu ada, karena jika tidak, kesempatan itu akan pergi dan tidak akan kembali lagi’

Seiring kisah ini berakhir, aku hanya mampu terdiam, membiarkan angin menyapu wajahku yang kini mukai basah dengan air mata yang mulai berjatuhan. *bentar, emang di Incheon Airport ada angin ya?*

Aku, dia dan musim semi. Kami berakhir disini~

***

7 tahun kemudian..

“Ya Kibum! Kau bisa lebih cepat sedikit tidak, ini darurat!!!” omelku melihat Kibum menyetir sangat lambat.

“Heh sudah menumpang bawel, Ne, ne aku cepatkan kecepatannya”

Kibum memacu mobilnya dengan kecepatan 140 jam/km . Gila memang tapi ya sudahlah yang penting aku sampai dirumah sakit secepatnya, masalahnya ini adalah kali pertamanya aku mengalami masa kelahiran bayiku, mana mungkin aku melewatkan momen indah ini.

Aku langsung berlari menuju kamar persalinan tempat istriku melahirkan dan ternyata dokter baru saja selesai melakukan oprasi kelahiran istriku, oke sepertinya aku sedikit terlambat.

“Bagaimana dok? Apa istri dan bayiku selamat?!” tanyaku begitu aku menghampiri dokter itu.

“Anda suami dari Seung Mi noona?”

“Ne.. Aku suaminya, bagaimana keadaan mereka dok, apa mereka baik-baik saja?”

“Chukae ya, anakmu sehat dan Ia adalah seorang yeoja yang sangat cantik, seperti ibunya””Sinca? Ahhh.. Kibum, kau dengar itu, Kibum, aku telah menjadi seorang Appa! Kyaaaa” kupeluk Kibum yang berada disebelahku erat.

“Chukae, Jinki, kau beruntung”

“Istrimu masih tak sadarkan diri, tapi kalau kau mau melihat anakmu, kau bisa melihatnya diruangan itu” dokter itu menunjuk sebuah ruangan dengan kaca besar didepannya “permisi” katanya sambil kemudian berlalu.

“Kkaja, kita liat anakmu” Kibum menarik tanganku menuju ruangan yang tadi ditunjuk dokter tersebut.

Dan aku langsung dapat menemukan bayi mungilku tertidur lemas dengan lucunya disebuah tempat tidur bayi yang dibawahnya tertulis nama orangtuanya, namaku dan nama istriku.

“Ah kyeopta” pekik Kibum “kapan ya aku menyusulmu Jinki”

“Secepatnya, kudoakan”

“Ngomong-ngomong mau kau berinama siapa anakmu ini? Ahh bagaimana jika Lee Minji, ya itu sepertinya bagus”

Aku menggeleng pelan “Ani, aku sudah punya nama untuknya. Lee Gyeo ul”

“Lee Gyeo ul? Heh bukankah itu artinya musim dingin?”

“Ne, kau benar”

“Wah kau ingin anakmu ini jadi yeoja yang dingin sedingin es?”

“Ani, bukan itu”

“Hah sepertinya aku tau. Karena musim dingin lebih lama kan dari musim semi”

Aku tersenyum simpul “Tepat!”

Ya aku selalu berharap kisah cinta anakku nanti seindah musim dingin, putih dan bersih dan juga lebih lama dari kisah cintaku yang hanya sebatas musim semi, yang waktunya sangat singkat tapi cukup berksan..

Aneh memang, tapi inilah yang ada dipikiranku.

Tidak nyambung? memang, kau taulah siapa aku? Si raja sangtae. *author keabisan ide sumpah*

Saat ini sedang musim semi, ya selama 7 tahun terakhir setiap musim semi, aku selalu mengingatnya, mengingat seorang yeoja bernama Song Minji.

Tetapi sepertinya, tahun ini dan selanjutnya tidak lagi. Ia adalah masa laluku, yang harus ku lupakan, karena sekarang aku sudah memiliki kehidupanku sendiri.

Aku sudah cukup bahagia dengan kehidupanku sekarang. Kehidupan dimana aku telah memiliki Seung Mi dan Gyeo ul disisiku.

FIN

Halah apupula ini ff, gak nyambung banget endingnya, mianhae kalo aneh dan agak maksa, tadinya aku cuma mau END sampe Minji ke Jepang, tp karna takut partnya kependekan jadi aku tambahin Onew kawin, dan malah jadi aneh dan kepanajangan *author serba salah*. Ah mianhae ya, sumpah aku minta maaf banget huhu aku mati ide ditengah jalan, bener2 maaf kalo ga bagus, aku khilaf (?)

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

22 thoughts on “One Fine Spring Day – Part 3 (END)”

  1. aaaa.,.,., aku datang lagi sorry aku jrng ngoment coz aku g da kompi jdi bka lwat hp.,.,.,
    napa jinki oppa punya anak aaa.,.,.*tereak2 ga jelas* g bsa ngebayangin dech.,.,.,
    nice ff author,.,.,.,.
    bwt ff yg lebih bgus dri ni lagi ya.,.,. d^_^b daebak pokok.a,.,.,

  2. Hua maaf ya jika mengecewakan -_- maaf jg ga bs aku balesin komennya satu persatu, aku online di hp. sebenernya ini kisah nyata yg sedikit ditambah2in, jadi ya beginilah kenyataan endingnya~~
    btw, terimakasih banyak yg udah nyempetin baca sampe end, maaf kalo bnyk kekurangan. Gumawo~~

  3. Kyaaaa onew malah kawin sama orang lain!! Tp bagus ko..kalo ending nya di bandara, itu udah keseringan..haha..
    Btw nasibnya abang Key sama siapa? Sama aku aja sini! #dirajamLOCKETS

  4. huahhhhhhhhhhhhhhhhh benar2 di luar dugaan . >,< !!! kira onew sma minji… taunya .. kgak… jiah.. gubrak .. hahahaha tapi tetep daebak…. ^.^

  5. Author ..
    Bgus ending ny ..

    Tp aku agak kecewa gara2 onew gk ma minji ..
    Kasian minji nya ..
    Di ngarep bgt tu ..
    😦
    Di buat sequel aja lg ..
    Tp tntg minji n onew,stlh istri onew melahir kan ..

  6. Yaaaaaa!! Jinki paboya! paboya! paboya!!!! Thor, buat after storynya dongg……..maunya Jinki sm Minji! Gak mau yg lain selain aku (?)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s