SORRY!!

SORRY!!

Author: dhedingdong

Length: Oneshoot

Genre: Brothership, friendship, angst (?)

Main cast:Lee Taemin as Taemin,Choi Minho as Minho,Kim Ki Bum as Key

©2010 SF3SI, Freelance Author.

Aku terduduk lemas di sudut ruangan. Sambil mengusap peluhku yang sedari tadi bercucuran, kuteguk sebotol air mineral yang berada di tas yang terletak tak jauh dariku. Ku atur nafasku yang sudah tersengal-sengal. Ingin pingsan rasanya!

Setelah beberapa menit beristirahat sejenak, aku berniat untuk melanjutkan sedikit gerakan yang baru saja kutemukan. Sebelum melakukannya, kuikat tali sneakersku agar tak mengganggu latihan.
Lalu ku nyalakan musik dan mulai beraksi dengan gerakan-gerakan temuanku di depan sebuah kaca yang cukup besar.

“Hmmmm.. gerakannya sudah lumayan bagus!” pikirku sambil tersenyum puas.

“Aku harus memenangkan kontes dance besok! Aku harus menjadi King Dance Of Teenagers! HARUS!” kataku lagi untuk menyemangati diri.
Mimpiku untuk menjadi seorang dancer terkenal, sudah ada di depan mata. Aku harus tetap berjuang dan berusaha untuk meraihnya!

Tiba-tiba saja ku lihat sesosok lelaki yang tengah berdiri di depan pintu kamarku.
“Minho hyung?” aku tersentak kaget.
Tak tahunya hyungku semata wayang ini telah mengamati latihan danceku sedari tadi. Aku hanya dapat tersipu malu.

“hmmm.. sepertinya, gerakanmu cukup bagus!” kata Minho sambil menepuk pelan bahuku.

“jinjja? Gomawo hyung~!” tanpa sadar, aku memeluk Minho hyung.
Choi Minho adalah hyungku satu-satunya. Jarak umur kami berdua hanya 2 tahun. Aku sangat menyanyanginya. Begitu juga dengan dirinya. Walaupun, jarak umur kami terpaut sedikit, kami jarang sekali mengalami pertengkaran hebat. Mungkin hanya pertengkaran khas anak-anak yang sering kami lakukan.

“Cepatlah tidur! kau besok harus berangkat pagi bukan? Simpan staminamu untuk kontes^^” kata Minho hyung sambil mengacak-acak rambutku.

“Ne” aku mengangguk.
Lalu ia beranjak pergi dari kamarku.
Kuputuskan untuk segera berbaring di tempat tidur. Memang benar kata-kata hyung tadi. Aku harus cepat tidur untuk mengumpulkan tenaga.

* * *

Dengan begitu cepatnya, malampun berganti menjadi pagi. Aku telah bersiap untuk menghadapi kontes dance itu. Dengan berbekal kepercayaan diri dan semangat yang tinggi, aku berangkat ke tempat kontes di temani eomma, appa, serta hyungku. Kali ini aku tak mau mengecewakan mereka. Aku akan berusaha keras!!

Dengan perasaan ragu dan sedikit cemas, aku menunggu giliran untuk tampil ke atas panggung. Jantungku berdegup cukup kencang, tanganku pun berubah suhu menjadi dingin yang luar biasa. Namun tangan eomma dengan lembut memegang tanganku. Appa pun juga menatapku seolah mengatakan bahwa aku bisa! Aku pasti dapat menaklukannya! Begitu juga Minho Hyung, sedari tadi, tangannya memegang bahuku erat-erat, dengan membisikkan kalimat “Taemin, kau pasti bisa! Kau pasti menjadi yang terbaik!” Semangat dan dorongan dari keluarga itulah, yang membuatku tak cemas lagi.

Waktu yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Aku harus tampil di depan umum memperlihatkan kelihaianku dalam mengolah gerakan di tubuhku. Aku terus memandangi keluargaku yang berada di tribun penonton.

Mereka semua menganggukan kepala, menandakan bahwa aku harus segera menaklukkannya. Aku tersenyum simpul.

Saat musik di nyalakan, aku mulai melakukan gerakan-gerakannya. Aku berusaha untuk tetap berkonsentrasi, agar tak lupa dengan koreografi yang telah kupelajari semalam. Dan untuk persembahan terakhir, ku berikan senyuman termanisku untuk semua penonton serta juri yang ada di depanku. Tak ku sangka.. saat aku menundukkan kepala pertanda dance persembahanku telah usai, tepuk tangan riuh mewarnai tempat kontes ini. Aku hanya dapat terkaget-kaget melihat dan mendengar tepuk tangan riuh tersebut. Aku tak boleh merasa bangga untuk sekarang ini, karena aku belum mengetahui hasil sesungguhnya.

Kuputuskan untuk turun kembali ke tribun penonton, dan duduk bersama keluarga. Disini aku menemukan sebuah kehangatan yang mungkin sangat jarang di temui di keluarga lainnya. Saat menunggu hasil kontes tersebut, aku terus berdoa. Aku tak mau mengecewakan keluargaku, yang telah bersusah payah meluangkan waktunya demi aku.

Hasil kontes dance hari ini telah di umumkan. Yeay! Aku berhasil membawa gelar King Dance Of Teenagers untuk tahun ini. Tanpa basa-basi lagi, kupeluk erat-erat keluarga kecilku ini. Perasaanku sungguh campur aduk! Bahagia, terharu, dan tak percaya, semua bercampur menjadi satu. Tinggal selangkah lagi, impianku pasti terwujud!! Ya, itu pasti!! Aku harus tetap yakin, berusaha dan percaya diri!!

* * *

Namun, impian tinggallah impian. 2 tahun telah berlalu. Aku benar-benar menjadi seorang pecundang besar! Aku telah mengecewakan seluruh keluargaku, dan semua orang yang telah mendukungku!!

–flash back–

Saat kontes pemilihan bakat solo dancer 2 tahun lalu, tiba-tiba saja panggung runtuh. Dan secara kebetulan, aku sedang memamerkan kelihaianku di atas sana. Kejadian itu terasa begitu cepat.
Aku hanya dapat memejamkan mata sambil melindungi kepala dengan kedua tanganku.

“Taemin-ah! Awaaaaaass!!”

Namun tak kusangka, seseorang memelukku dan melindungi tubuhku dari reruntuhan tersebut. Kurasakan dekapan yang begitu erat dari seseorang tersebut. Lalu, kuberanikan untuk membuka mataku. Dan ternyata, Minho hyung telah berhasil menyelamatkanku dari kejadian ini.
Kulihat Minho hyung meringis kesakitan.

“Kau tak apa Taemin-ah??” tanya Minho Hyung sambil menahan sakit.

“Anni” jawabku gugup sambil menggelengkan kepala.
Tanpa sengaja, ku lihat kaki Minho Hyung. Oh Tuhan, besi-besi itu menimpa kaki Hyungku!! Aku hanya dapat terperangah melihat kaki Minho Hyung yang bersimbah darah. Bibirku bergetar, jantungku tak bisa terkontrol, keringat dingin mulai bercucuran.

Dengan secepat mungkin beberapa orang di sana membantuku berdiri dan segera menyelamatkan Minho Hyung. Sungguh, aku benar-benar berhutang budi padanya!!

Eommapun menangis ketika melihat kondisi Minho Hyung. Begitu pula dengan appa, ia terlihat sungguh-sungguh terpukul melihat kejadian ini. Aku hanya dapat terduduk di bawah pintu UGD rumah sakit sambil memeluk kedua lutut. Bayangan kejadian tersebut benar-benar membuatku semakin merasa bersalah.
Bayangan itu seakan tak mau pergi dari otakku. “Minho Hyung~ mianhaeee.. aku benar-benar bodoh!!” kataku sambil menahan tangis.
–flashback end–

Ya, setelah kejadian 2 tahun lalu itu, Minho Hyung dinyatakan lumpuh permanent. Mendengar berita tersebut, aku seakan-akan tak percaya. Begitu pula dengan Minho Hyung. Ini semua serasa mimpi. Ini semua kesalahanku!! Ini semua akibat kebodohanku!! Mengapa dulu aku tak segera menyelamatkan diri? Mengapa dulu aku hanya berdiam diri di tempat saja??

Setelah Minho Hyung mendengar berita apa yang terjadi dengan kakinya sekarang, sikapnya terhadapku begitu berubah! Setiap hari ia hanya uring-uringan, acuh tak acuh dengan segala hal yang ada di sekitarnya.

Aku dapat memaklumi mengapa ia bersikap sedemikian rupa terhadapku. Minho Hyung adalah seorang atlet basket yang sangat berbakat. Tahun depan ia akan di kirim ke luar negeri untuk menjalani bimbingan pemain basket berbakat mewakili Korea. Kaki dan tangan merupakan salah satu modal utama bagi seorang pemain basket. Dengan kejadian secepat itu, ia bisa dikatakan kehilangan harta berharganya. Ia tak dapat lagi mencetak poin demi poin ke ring basket. Ia tak dapat lagi menjadi kebanggaan di Universitasnya. Ia hanya dapat mengubur seluruh impiannya. Ya, semua memang salahku! Salahku! Salahku! Aku hanyalah lelaki pembawa sial!!

Kucoba untuk membiasakan diri dengan perilaku Minho Hyung yang sekarang. Aku telah berulang kali mencoba meminta maaf kepadanya. Namun hasilnya? Aku hanya dapat menelan ludah.
Demi Minho Hyung, aku mengikhlaskan seluruh impianku.. Aku ingin senasib dengannya. Suka dan duka di tanggung bersama-sama. Ia tak dapat meraih impiannya lagi. Dangan perasaan rela, akupun juga ikut melepaskan impian-impian yang sejak dulu ingin ku raih.

* * *

“Hyung, bolekah aku masuk ke kamarmu?” tanyaku di balik pintu dengan perasaan ragu.
Namun tak ada jawaban. Dengan hati-hati ku buka pintu kamar Hyung.

Kulihat ia sedang memejamkan mata ditemani earphone yang setiap saat menemaninya kapanpun dan di manapun ia berada.

“Annyeong Hyung” sapaku sembari duduk di tepi ranjang tidur miliknya.
Ia tetap diam saja. Apakah ia tak mendengar suaraku? Apakah dia hanyaaaa… ah, aku tak boleh berprasangka buruk padanya!
Kucoba untuk memegang bahu kanannya. Seketika, ia membuka mata dan menatapku dengan tatapan kosong.

“Sebaiknya kau keluar dari ruangan ini, sebelum kau ku usir!” katanya datar.
Aku hanya diam terpaku. Ku tundukkan kepala, karena aku tak sanggup melihat raut muka Minho Hyung yang sudah seperti kehilangan semangat hidup. Sebenarnya aku tak mau melihat Hyung seperti ini, aku sungguh tak tega dengannya.

Apakah kau tak mendengar kata-kataku baru saja? Cepat keluar dari sini! Aku tak mau melihatmu!” bentak Minho Hyung sembari membuang muka dariku..

Aku hanya bisa tersenyum kecewa mendengar bentakan Hyung. Ku tundukkan kepalaku seraya meninggalkan kamar Minho Hyung.

Usahaku untuk meminta maaf kepada Minho Hyung, tidak hanya sampai di sini. Aku akan terus berusaha mendekati Hyung, dan mencoba meminta maaf kepadanya.

“Hyung, kubawakan sarapan dengan lauk kesukaanmu! Kau harus makan:)” kataku sambil membawa sebuah nampan berisi satu piring nasi dan segelas susu.

“Tidak” jawabnya datar.

“Kau harus mencobanya Hyung” kataku lagi sambil menyuapkan sesendok nasi ke arah mulutnya.

“Tidak, aku tidak mau makan” tangan Minho Hyung berusaha menjauhkan sendok yang ku bawa dari mulutnya.

Aku diam sejenak. Dengan perasaan yang begitu mendalam, ku tatap kedua mata Hyung. Dan tiba-tiba saja kurasakan bulir-bulir air mata membasahi pipiku.

“Hyung,,” aku mulai membuka topik pembicaraan lagi.

Namun tetap saja, Hyung diam seribu bahasa.

“Aku memang tak pantas menjadi dongsaengmu! Aku hanyalah seorang pembawa sial untukmu! Akibat kebodohanku, kau menjadi seperti ini! Meskipun, sangat kecil peluangnya agar kau memaafkanku.. aku tak bosan-bosannya meminta maaf kepadamu!” tanpa di sadari, aku telah berlutut di bawah ranjang tidur dimana ia berada.

Lagi-lagi ia hanya diam. Namun, tiba-tiba saja ia mendorongku dengan begitu kuat. Hingga aku jatuh tersungkur.

Kutarik nafas panjang-panjang. Dan aku mencoba untuk berusaha tetap sabar menghadapi semuanya.

“Sebaiknya kau keluar! Aku benar-benar sudah muak denganmu!”
Mungkin akibat suara berisik kami berdua, Eommapun menghampiri kami ke kamar Hyung.

“Taemin-ah! Kau? Apa yang kau lakukan di situ?” tanya eomma sambil membantuku untuk berdiri.

“anni” jawabku tersenyum dengan sedikit di paksakan.

“Minho-ah! Apa yang kau lakukan pada dongsaengmu? Sudah 2 tahun kau membuat dongsaengmu begitu menderita! Itu semua demi kamu nak!!” kata eomma sambil menahan tangisnya.

“Tidak, dia..dia.. dia membuatku seperti ini! Aku tak mau melepaskan impianku begitu saja! Aku menyesal telah menolongnya! Aku sangat menyesal!” teriaknya sambil menangis.
Eommapun langsung mendekap tubuh Minho Hyung dan membelai kepalanya.

“Tidak nak, itu semua adalah musibah! Bukan sepenuhnya kesalahan dongsaengmu! Relakan saja impianmu itu untuk pergi! Eomma percaya, pasti ada hal yang lebih baik menunggumu di luar sana”.

“Aku tetap tidak bisa merelakannya! Impianku sejak berumur 7 tahun! Aku tak bisa melepaskannya begitu saja!!!!!” teriak Minho Hyung sambil menangis dan memukul-mukul kedua kakinya.
Aku hanya dapat menangis sesenggukan di sudut ruangan sambil memeluk kedua lututku. Tak tahu lagi apa yang harus ku lakukan sekarang. Aku sudah tak bersemangat lagi untuk berlatih dance. Apalagi mengikuti kompetisi-kompetisi dance, yang mungkin dulu sangat aku minati.

Kejadian 2 tahun lalu itu memang berhasil membuat kehidupan di keluargaku berbeda 180 derajat dari sebelumnya.
Aku tak mau mengungkit-ungkit masa laluku! Aku harus memikirkan masa depanku, yang mungkin sudah suram.

“Taemin-ah! Kau belum sarapan bukan?” suara eomma tiba-tiba mengagetkanku.
Aku hanya tersenyum simpul, sambil berusaha mengusap air mataku.

“Cepatlah sarapan, eomma tak mau melihatmu sakit.. Eomma sangat sedih jika sikap kalian berdua seperti ini..” kata eomma sedikit lesu.

“Biarkan saja ia tidak makan, biar ia merasakan bagaimana menderita menjadi orang sakit!” kata Minho Hyung ketus, sambil memalingkan wajahnya dariku.
Lagi-lagi, aku hanya tersenyum menghadapi perkataan Hyungku ini.

“Aku tidak lapar eomma” jawabku dengan suara sedikit serak.
Dengan perasaan lunglai, aku keluar dari kamar Minho Hyung dan berjalan menuju kamarku sendiri. Kulihat wajahku di depan cermin. Sungguh, ini bukanlah Taemin!! Matanya sembab, rambutnya acak-acakan, ia terlihat sangat kurus dari biasanya.
Kucoba untuk mencoret-coret pada selembar kertas, tentang semua yang ada di pikiranku. Ya, mungkin saja dengan melakukan itu, beban pikiranku segera berkurang.

Minho Hyung,
Hyungku semata wayang,
Hyungku yang sangat ku cinta,
Hyungku yang sangat aku banggakan,
Namun atas kebodohanku, ia membenciku,
Ia tak dapat meraih impiannya,
Demi menyelamatkan aku,
Seorang pembawa sial di kehidupannya,
bagaimana caranya agar ia memaafkanku??
Jika ia ingin aku berlutut di hadapannya,
Dengan senang hati aku akan melakukannya,
Walaupun dengan mengorbankan nyawa,
Aku akan tetap melakukannya..
Asalkan ia memaafkanku..

Tiba-tiba, aku tertidur pulas di meja belajar.

* * *

Hari ini adalah hari Minggu. Kucoba untuk menangkan pikiran dengan menikmati keindahan sungai Han. Aku berjalan menuju halte bus sambil membayangkan beberapa tahun yang lalu. Setiap hari kami berangkat ke sekolah bersama. Ketika itu, hyung juga kerap mengajakku ke lapangan basket yang terletak tak jauh dari rumah. Hyung kerap memarahiku karena aku tak berhasil memasukkan bola ke dalam ring basket. Masa-masa itu memang sangat indah.

“Taemin, apa yang kau bayangkan? Kehidupanmu sudah berubah! Tak seharusnya kau mengenang masa-masa itu!” gerutuku sambil memukul-mukul kepala.

“annyeong” tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk bahuku pelan dari belakang.

“ne, annyeong^^” jawabku sambil membalikkan badan.

“Taemin-ah!!” serunya sambil menunjukkan wajah yang berseri-seri.

“Key Hyung??” aku sangat terkejut.
Key Hyung adalah sahabat masa kecilku dan Minho Hyung. Dulu kami tinggal bersebelahan. Namun, 5 tahun lalu ia memutuskan untuk ikut orang tuanya yang berada di LA.

“apa kabarmu?” tanyanya sembari membuka pembicaraannya lagi.

“baik” jawabku berbohong.

“kau tak bisa menyembunyikan sesuatu dariku Taemin-ah! Aku tahu watak dan perilakumu! Sebaiknya kau berterus terang kepadaku! Mungkin aku bisa membantu masalahmu!” kata Key Hyung sambil memegang bahuku lagi.

“anni, masalah ini terlalu berat! Aku tak mau kau ikut campur dalam urusan ini Hyung! Aku dapat menyelesaikannya sendiri.” jawabku lesu.
Namun Key Hyung langsung menarikku ke sebuah cafe di dekat halte.

“Kau dapat menceritakannya semua di sini” kata Key Hyung sambil tersenyum simpul.
Ya, aku menceritakan semua permasalahanku dengan Minho Hyung padanya. Ku lihat ia mendengarkan curahan hatiku dengan seksama.

“jadi, sekarang Minho lumpuh permanent?” tanyanya kepadaku.
Aku hanya dapat mengangguk pelan.
Sepertinya Key Hyung sangat terkejut dengan apa yang aku ceritakan padanya. Setelah ia bertanya satu pertanyaan itu padaku, tak ada respon lagi darinya. Ia hanya diam.

“sebaiknya aku mati……” kataku pelan.

“Taemin-ah!!! Apa yang kau bicarakan??” tanya Key Hyung tersentak kaget.

“Dengan aku mati, Minho Hyung akan sedikit puas” jawabku sambil tersenyum.

“Taemin-ah!!!!” Key Hyung membentakku.
Seluruh pengunjung café-pun ikut tersentak kaget, dan memandangi kami berdua dengan perasaan aneh.

“segala cara sudah aku tempuh untuk meminta maaf kepada Minho Hyung, namun ia tak pernah meresponku.. Ya, perilaku Minho Hyung itu membuatku semakin merasa bersalah! Itu semua membuat beban pikiranku semakin berat! Dengan aku mati, aku dapat melepaskan seluruh impian dan beban yang aku hadapi sekarang ini!!”

“Taemin-ah! Kau Bodoh!! Babo!! Kematian hanyalah rencana Tuhan! Tak ada seorangpun yang mengetahui rencana Tuhan!”
Aku hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Key Hyung.

“Aku pamit pulang..” kataku kepada Key Hyung sembari meninggalkannya.

“Taemin-ah!”

Tak kuhiraukan panggilan Key Hyung. Aku tetap pergi meninggalkannya.
Ku tendang kaleng-kaleng yang berserakan di tengah jalan. Aku sudah tak dapat berfikir jernih lagi. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan sekarang?? Aku sudah tak bersemangat untuk sekolah, aku sudah tak bersemangat untuk berlatih dance, aku sudah tak bersemangat untuk pulang ke rumah, dan yang terpenting aku sudah tak semangat untuk HIDUP!!

Kulihat ada sebuah bangku kosong di taman kota. Ku berjalan menuju bangku tersebut dan mengeluarkan IPOD kesayanganku. Ku mainkan lagu-lagu favoritku bersama Minho Hyung. Kupejamkan mataku sambil menikmati alunan lagu. Tak tahu mengapa, saat aku menikmati alunan lagu tersebut kenangan-kenanganku bersama Minho Hyung menghiasi pikiranku. Tanpa tersadar, air mataku telah meleleh di pipi. Secepat mungkin aku mengusap air mataku. Aku tak mau terlihat menangis di depan orang lain. “Taemin! Sadar! Kau adalah seorang lelaki! Tak semestinya kau menangis!”

Dengan langkah gontai, aku memutuskan untuk berjalan menuju rumah. Namun di tengah perjalanan, mataku tertuju ke sebuah Bar. Aku tahu, tempat itu khusus untuk orang dewasa. Sedangkan umurku belum genap 17 tahun. Tetapi aku ingin masuk ke dalam sana. Mungkin dengan meminum beberapa gelas ‘Soju’ beban pikiranku akan hilang beberapa saat.

Kucoba untuk masuk ke Bar tersebut. Mungkin karena postur tubuhku yang lebih tinggi daripada seumuranku, tak ada yang curiga bahwa umurku belum genap 17 tahun. Ku ambil posisi duduk di sudut ruangan, sambil memesan 2 botol Soju. Awalnya aku ragu untuk meminum minuman ini. Sekalipun aku belum pernah mencobanya. Dan dalam peraturan di keluargaku, tak ada yang boleh meminum sedikitpun minuman beralkohol.

“Mianhae, Eomma.. Appa.. aku melanggar peraturan keluarga!”

Dengan secepat mungkin, ku teguk segelas Soju. Tidak terjadi efek apapun. Hanya badanku terasa sedikit lebih hangat daripada biasanya. Kucoba untuk meminumnya lagi secara berulang kali, hingga akhirnya dalam sekejap aku menghabiskan 2 botol Soju.
Aku merasakan sedikit pusing pada kepalaku. Namun kuputuskan untuk memesan 1 botol Soju lagi.

“Ternyata memang benar, Soju membuatku lupa dengan segala masalahku!! Hahahahaha.. “ kataku sambil tertawa terbahak-bahak.

“Taemin-ah! Apa yang kau lakukan disini?? Kau belum cukup umur untuk masuk ke dalam Bar!” ku lihat samar-samar ada seorang lelaki yang tengah duduk di hadapanku.

Aku tak dapat melihatnya secara jelas, karena penglihatanku terasa sangat buram. Ia menuntunku keluar dari ruangan. Belum sampai di luar.. perutku terasa mual, seperti di aduk-aduk. Aku benar-benar ingin muntah. Aku sungguh tak dapat menahannya. Dengan langkah tertatih-tatih, aku berjalan tergesa-gesa menuju toilet terdekat. Walaupun aku tak yakin dengan keberadaan toilet itu. Untung saja tak jauh dari tempatku berdiri, dengan samar-samar kutemukan tempat yang aku cari.
Kurasakan ada yang megikutiku sedari tadi. Namun percuma saja, aku tak bisa melihatnya dengan jelas. Namun rasanya, aku sudah tak asing lagi dengan dia.

“Taemin-ah?? Kau tak apa??” tanya seseorang itu padaku.

“Ya! Itu suara Key Hyung!” kataku dalam hati.
Aku hanya menggeleng.
Lama-kelamaan, mataku terasa sangat berat. Kepalaku juga terasa sangat pusing. Aku hanya dapat menjaga keseimbangan tubuhku, agar tak rubuh di tempat ini.
Namun,,,,
Aku tak ingat apa-apa lagi.

* * *

Sinar matahari dan suara burung bernyanyi, membuatku terbangun di pagi hari. Badanku terasa kaku. Bau alkohol menyebar kemana-mana.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” gerutuku sambil berusaha bangkit dari tempat tidur.

“Taemin-ah!”
Aku mendengar panggilan dari balik pintu. Tiba-tiba ku lihat Key Hyung masuk ke dalam kamarku.

“Kau sudah bangun? Apa yang kau lakukan semalam? Kau membuat keluargamu cemas!” katanya lagi.
Aku hanya diam saja. Karena aku memang tak berniat untuk menjawabnya.

“Taemin-ah!” Key Hyung membentakku.

“Kau akan memarahiku seperti Minho Hyung? Aku sudah terbiasa.. Jadi silahkan memaki-maki aku sesuka hatimu!” jawabku datar sambil berlalu pergi meninggalkan Key Hyung.

“Taemin-ah!” teriak Key Hyung lagi.
Namun tetap saja ku acuhkan teriakan-teriakannya.

Terlintas di pikiranku untuk mengunjungi Minho Hyung di kamarnya. Aku benar-benar rindu dengan dia. Namun aku ragu-ragu. Kuputuskan untuk mengintipnya dari sela-sela pintu yang terbuka.

Ia terlihat sedang menonton video-video NBA kesukaannya ditemani gurauan-gurauan dari Key Hyung. Ia nampak begitu ceria. Keceriaan yang selama 2 tahun terakhir tak pernah kutemukan pada dirinya. Aku ingin meghampirinya, dan ikut bergabung bersama mereka. Tetapi aku harus mengurungkan niatku.

Kuputuskan untuk kembali ke kamarku. Namun, pandanganku tiba-tiba tertuju pada sebuah kalender yang terpasang tepat di samping meja belajar.
Kulihat angka pada kalender yang telah kulingkari dengan spidol warna merah. Kubaca keterangan yang terletak tepat di bawah angka tersebut–> “Saengil Chukae Hyung!!”

“Ah, hampir saja aku lupa! Hari ini Hyung berulang tahun!” kataku terkejut sambil menepuk dahi.
Kuambil sebuah kotak yang berada di atas meja belajar. Kotak ini berisi kado yang spesial ku persembahkan untuk Minho Hyung. Ya, kado ini sudah jauh-jauh hari kupersiapkan untuk Hyungku tercinta. Dengan sengaja aku meberikan komik yang telah di idamkannya dari dulu, namun ia selalu tak berhasil mendapatkannya.

“Semoga dengan kado ini, hyung akan senang! Dan dapat menerima permintaan maafku!” kataku sambil memeluk erat kado tersebut.

Dengan langkah gugup dan ragu-ragu, aku mencoba masuk ke dalam kamar Hyung. Meskipun aku yakin, ia tak mau lagi melihatku apalagi memaafkanku. Namun aku harus mencobanya!

“Annyeong Hyung!” kataku pelan.
Tampaknya, ia terkejut atas kedatanganku.

“Kau? Mengapa kau berada disini? Kau tak ingat? Aku sudah pernah bilang, jika aku sudah muak denganmu! Jangan pernah muncul dihadapanku lagi!!” teriaknya sembari melemparkan beberapa bantalnya ke arah kepalaku.

Aku hanya dapat menundukkan kepala. Ku coba untuk menahan emosiku. Lalu aku berusaha berjalan mendekatinya.

“Saengil chukae Hyung!” kataku sambil menyerahkan kado.
Aku tak berani menatapnya. Aku takut, benar-benar takut. Apa yang ia lakukan kepadaku? Ku pejamkan kedua mataku. Aku hanya dapat pasrah dengan kelakuannya.

“Brrrraaaaakk!”

Aku begitu kaget setelah mendengar dentuman keras tersebut. Ku lihat kotak yang aku tujukan untuk kado Minho Hyung telah terbuka dengan isi yang sudah tercecer kemana-mana. Aku hanya dapat membelalakkan kedua mataku tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Hatiku terasa begitu sakit. Aku tak dapat menahan air mataku. Dengan langkah tergesa-gesa, aku berjalan menuju meja belajar Hyung. Disitu, kutemukan sebuah cutter yang cukup berkarat.

“Taemin-ah! Apa yang kau lakukan? Jangan main-main dengan barang tajam!” teriak Key Hyung.

“Minho Hyung! Aku tak tahan lagi denganmu! Kau ingin aku mati bukan? Kau akan memaafkanku jika aku mati? Aku akan melakukannya!” dengan cepat kugoreskan cutter tersebut tepat di nadiku yang terletak pada pergelangan tangan.

“Minho-ah!! Apa yang kau lakukan pada dongsaengmu?? Ia..Ia..” Key Hyung terlihat cukup panik.

Kulihat darah segar bercucuran dari tanganku.

“Semoga dengan ini, Minho Hyung dapat memaafkanku” kataku pelan.

“Taemin-ah! Bertahanlah! Akan ku panggilkan ambulance!” kata Key Hyung lagi.
Aku hanya menggeleng. “Tidak, biarkan aku mati… Minho Hyung akan puas dengan keadaan ini.. aku telah berhutang budi dengannya..”

“Taemin-ah!!”
Kulihat Key Hyung begitu panik. Namun tidak untuk Minho Hyung. Ia tetap terlihat murung.

“Minho-ah! Mengapa kau menjadi seperti ini? Kau sungguh tega dengan dongsaengmu! Sadar! Dia mau melakukan apapun asal kau memaafkannya! Kau sungguh kejam! Kau Hyung yang kejam!!” teriak Key Hyung.

“Taemin-ah! Apa yang terjadi? Minho-ah! Apa yang terjadi dengan dongsaengmu?” ku dengar suara eomma begitu panik.

“Key-ssi! Cepat panggilkan ambulance!!” teriak eomma lagi.

Namun tiba-tiba, kulihat Minho Hyung berusaha untuk bangkit berdiri dari tempat tidur. Namun ia terjatuh.

Tak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba mataku sudah terasa buram. Aku tak dapat melihat jelas di sekelilingku.

“Taemin-ah!! Ini Minho Hyung!! Jangan tinggalkan kami semua! Aku telah memaafkanmu! Kau jangan membuat cemas kami semua!” kurasakan tangan Minho Hyung menggenggam erat tangan kananku.

“Aku tak ingin membuat kalian menderita gara-gara ulahku..aku hanya seorang lelaki pembawa sial” kataku sambil berusaha tersenyum.

“Taemin-ah! Apa yang kau bicarakan? Kami semua sayang denganmu!” teriak eomma sambil menangis tersedu-sedu.

Nafasku sungguh terasa sangat sesak.
“Minho Hyung…” kataku lemah.

“Taemin-ah!! Jangan tinggalkan kami!!!”

“maafkan aku, aku sayang Hyung!”
Kurasakan bulir-bulir air mataku jatuh dari pelupuk mata.
MINHO P.O.V

“Taemin-aaaaahh!! Jangan tinggalkan Hyung!! Hyung sayang kamu!! Hyung hanya tak bisa menerima semua keadaan ini! Namun Hyung benar-benar menyayangimu!!”
Aku mendekap erat tubuh dongsengku tercinta. Aku merasa tak siap kehilangan semua hal yang aku cintai. Impian-impianku, dan sekarang dongsaengku sendiri!!

Ku temukan sebuah kertas kumal yang berada di genggaman tangan kiri Taemin. Lalu kubaca kertas itu secara perlahan..

Minho Hyung,
Hyungku semata wayang,
Hyungku yang sangat ku cinta,
Hyungku yang sangat aku banggakan,
Namun atas kebodohanku, ia membenciku,
Ia tak dapat meraih impiannya,
Demi menyelamatkan aku,
Seorang pembawa sial di kehidupannya,
bagaimana caranya agar ia memaafkanku??
Jika ia ingin aku berlutut di hadapannya,
Dengan senang hati aku akan melakukannya,
Walaupun dengan mengorbankan nyawa,
Aku akan tetap melakukannya..
Asalkan ia memaafkanku..

“Taemin-ah! Mianhae.. atas keegoisanku kau pergi meninggalkan kami semua!!”

“Penyesalan tak ada di depan Minho-ah!! Bukalah lembaran baru di kehidupanmu!! Lupakanlah segala masa lalumu yang menghambatmu untuk jauh lebih maju di masa depan” bisik Key ke arah telingaku.

Aku hanya dapat mengikhlaskan dongsaengku pergi, dan memulai kehidupan yang lebih baik dari sekarang.

THE END

Annyeong! Wah, FF pertama yang aku kirim disini^^ Jangan lupa komentarnya ya~ Hal yang paling saya tunggu!! Hahahaha.. Gomawo!! J mian kalau jelek, tak sesuai dengan yang diharapkan^^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

37 thoughts on “SORRY!!”

  1. sad story bgttt
    dihari ulangtahun bukannya mendapat kebahagian malah dapat rasa duka
    minhoo jahatt bgttt, masa gk mau maafin adiknya kasihan taemin 2 tahun harus menyimpan rasa bersalah

    sukaa ceritanya :))

  2. Omo….
    Minho jahat banget sih…
    kok dia gak maafin adik kecilnya taemin?
    Tapi aku suka suka!!!

    Nice ff

    Salam kenal ya ^^

  3. Jhat bgt…. Minho’y jahaaaaat….. >o< ….
    Taemin udh menjelang ajal, dy bru sadar…. *jewer mino*
    Hiks… Mengaduk emosi…
    Tamsap…..! ^^d

  4. Yaampuuuun, author! Tanggung jawab!!
    Aku nangis smpe sesenggukan nih!
    Mana ga brenti2 lg nangisnya,
    Ceritanya simple, tp bener2 ngena bgt,
    Author, bikin lg ya ff kayak gini!
    nice ff ^^

  5. huhuhuu….. ga krasa airmataku keluar wktu baca ff ini di bagian ending. 😥
    penyesalan slalu datangnya belakangan ya. plajaran buat qta smua nii, jgn sampe keegoisan mengalahkan rasa sayang << cieh, bahasaku]
    nice story, author!
    ^^

  6. asli , ni FF buat aku nangiss deraas bgt *hikshiks/apaan sih -,-*
    kasian si Taemin , 2 taon dlm kelamnya kehidupan 😀

    nice FF chingu ^^

  7. hua~~~FF nya sedih banget…hiks 😥

    minho jahat bgt deh ma taem…padahal dy yg nolongin masa dy malah nyalah2in taem kayak gitu..
    hiks…hiks…

    aku kiraen bakal happy end, si minho maapin taem
    tapi ternyata dy malah mati…
    huaaaaa~~~~~

    overal, daebak FF nya author 🙂
    like it~

  8. Nah loh? Saya baru nyadar kalo uda di post hampir seminggu yg lalu.. XD XD

    Gomawo yang uda baca+komen ff saya,,
    *bow

    Waaah~ bikin saya smangat buat ngirim ff disini^^

    Oiya, ff ini emang uda pernah di post d fb saya.
    Ini nick fb saya–> “KeYdondong Ssi Makdongie Kelas” 🙂

  9. authoooooooooooor bertanggung jawablah anda karena membuat saya menangis!
    dasar Minho ganteng *mau bilang jelek itu berarti fitnah kekeke* gara-gara Minho Taemin meninggal. huhuhuhuhuhuhuhuh. *berduka cita atas kepergian suamiku*

    nice ff

  10. Huaa.. Taemin-ah..
    Annyeong, aku reader baru. Bangaweo author, admin, n chingudeul 🙂
    Ffnya daebak!
    Ff yang kaya gini yang aku suka. Yang genre brothership..
    Author jjang!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s