[FF PARTY] I’m Sorry Hyung

Title                  : I’m Sorry Hyung

Author                        : Shadeena

Main Cast      : Minho, Onew

Suport Cast   : Jihee

Genre                        : Angst

Type/Length  : Oneshoot

Rating             : PG

Summary        : I made this fanfic for 3 hours. I’m sorry if a little disappointment. 😀

Ket                  : Sekedar berpartisipasi

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

 

“Kau sadar?”

Aku membuka mata perlahan, sesekali mengerjapkannya.

Rona warna pastel yang menghiasi ruangan ini, menyerbu mata. Membuat setiap orang yang berada di dalam ruangan ini, merasa nyaman. wangi pinus melewati batang tenggorokanku sebelum masuk ke paru-paru. Sangat menyenangkan. Matahari belum begitu tinggi, membuatku sedikit memicingkan mata saat menoleh ke arah jendela. Pagi yang cukup cerah.

Sebuah suara membuatku terbangun, dan mulai tersadar sedikit demi sedikit. Aku berusaha bangun dan duduk diujung ranjang. Aku berada di sebuah kamar bergaya Itali, dan terlihat mewah. Tidur di sebuah ranjang berukuran King size, lantai yang terbuat dari kayu dicat sesuai warna kamar, sebuah perapian diatasnya terdapat hiasan bunga, lilin dan tergantung kaca klasik berbentuk elips, lampu kristal yang menjuntai kebawah, serta meja dan kursi yang terbuat dari kayu jati terletak di dekat perapian.

Aku dimana?

Keheningan yang kurasakan selama beberapa menit itu hilang saat seorang wanita datang dan membawa sesuatu di nampannya. Ia memakai dress tidur berwarna broken white yang terlihat agak kusam, tangan tiga perempat dengan kerutan diujungnya, dipinggangnya terlihat sedikit sempit, bagian pinggang ke bawah jatuh menjuntai. Renda dibagian paling bawah mempermanis desain dress itu. meskipun kusam, tapi masih layak untuk dipakai. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum padaku dan membuatku tercekat.

Dia…

***

Sebuah kecelakaan terjadi di kota Seoul, kemarin malam pukul delapan, waktu setempat. Kecelakaan tersebut menyebabkan beberapa korban. diantaranya mengalami luka-luka berat dan  tidak sadarkan diri di tempat. Warga setempat langsung menghubungi ambulans untuk mengantar  korban ke rumah sakit terdekat. Kecelakaan ini juga menyebabkan kemacetan di beberapa distrik karena kebanyakan mobil yang melewati tempat kejadian, melambat dan beberapa berhenti untuk melihat lebih jelasnya. Khawatir akan bertambah parah, pihak kepolisian menutup jalan itu untuk sementara dan dialihkan ke jalan yang lain. Berikut data para korban,

Onew membuka koran pagi itu dengan raut wajah malas. Kalau bukan karena tugas dari dosennya, mungkin koran ini sekarang ada di tumpukan tong sampah.

“Dimana-mana kecelakaan, menyusahkan saja.” Gumamnya tidak peduli dan mulai mengunyah permen karet yang ia bawa dari rumah. Ia masih membuka-buka lembaran koran itu, hingga satu kalimat membuatnya sedikit tertarik.

Sampai saat ini belum ada pihak keluarga yang mengakuinya.

“Kasihan sekali. Kecelakaan, tidak ada yang mengakuinya, apa dia anak har-” ujarnya terputus. Ia membaca keterangan diatasnya, dan itu membuatnya praktis untuk membungkam mulutnya tidak melanjutkan kata-katanya. Tidak mungkin! Batinnya tidak percaya dengan tulisan di koran itu. Aku harus memastikannya sendiri. Jangan sampai Omma tahu tentang ini. bisa-bisa, jantungnya kambuh. Pikirnya lagi beranjak pergi dari lapangan basket dan membuang koran itu begitu saja ke sembarang tempat. Beberapa temannya memanggil dan mengajaknya bermain basket, tetapi tidak dihiraukannya panggilan itu. yang diotaknya sekarang, adalah adiknya.

Choi Minho, adalah korban yang sampai saat ini belum diakui pihak keluarganya. Kondisinya saat ini, koma. Para dokter tidak bisa memastikan kapan korban bisa sadar dari koma. Beberapa saksi mengatakan ia terlempar dari tempat kejadian sejauh sepuluh meter. Dan itu membuat beberapa ruas tulang belakangnya retak dan hancur, serta menyebabkan syaraf-syarafnya terputus. Sang korban dipastikan mengalami cacat seumur hidup.

“TIDAK MUNGKIN!” teriaknya sekuat tenaga didalam hati. Tangannya mengepal keras, napasnya terengah-engah, garis rahangnya terkatup kuat semakin memperjelas bentuk wajah laki-laki itu. Entah eskpresi apa yang ia keluarkan dari wajahnya, panik, bingung, tidak percaya, semuanya menjadi satu dan bercampur aduk seperti bubur yang diaduk dengan kaldu dan kecap. Tidak bisa digambarkan.

Apa yang terjadi denganmu, Minho-ya?

***

“Jangan menatapku seperti itu,” ujarnya meletakkan nampan itu di meja dekat perapian. Dia mendekatiku dan menarik tanganku untuk duduk disana. Wajahnya masih sama seperti dulu, wajahnya putih bersih tanpa perubahan sedikitpun, rambutnya masih tetap panjang sepunggung berwarna cokelat sedikit kemerahan, bentuk wajahnya pun tidak ada perubahan. Masih sama seperti dulu. Lima tahun yang lalu. “Makanlah, kau pasti lapar.” Ujarnya menyodorkan piring yang berisi sandwich dan teh jasmine kesukaanku.

Aku menggelengkan kepala, menolak pemberiannya. “Aku belum lapar.” Jawabku singkat. Tanganku menjulur kearah wajahnya dan membelai pipinya. Ia hanya tersenyum melihatku. “Kau…” ujarku terputus. Wanita ini menggenggam tanganku dan menatapku lekat-lekat. “…kemana saja? Kau menghilang sejak hari kelulusan.”

“Maaf, aku tidak sempat pamit padamu.” Seketika tatapan matanya berubah sedih. Entah kenapa. “Aku tidak ingin melihat kalian berdua bertengkar.” Ujarnya lagi.

“Kalian berdua? Aku dan siapa?” tanyaku heran. Kapan aku pernah bertengkar dengan seseorang dan melibatkan dia?

“Kakakmu, Onew.”

Deg. Jantungku berdetak lambat, namun sangat keras saat disebut nama itu. pipiku terasa memanas seperti ada yang menamparnya kuat-kuat, tanganku berkeringat dingin dalam sekejap. Onew hyung, ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Kilasan-kilasan tentang Onew hyung mulai berkelebat dipikiranku, menyita semua kerja otak.

“Aku ingin pulang.” Ucapku tiba-tiba dan berjalan keluar. Tapi saat kubuka pintu, tidak ada apa-apa disana, hanya ruang kosong berwarna abu-abu. Saat menengok ke arah kanan, terlihat terang, tetapi saat menoleh ke arah kiri, terlihat gelap dan menyeramkan. Tempat apa ini?

“Kau bisa pilih, kau ingin pergi kearah mana.” Ujarnya berdiri dan tersenyum. Bukan senyum sendu seperti biasanya, aku sendiri tidak bisa menjelaskannya. Ia membelokkan telunjuknya ke arah kanan, “Kau ingin ke surga,” lalu dibelokkannya telunjuk itu ke arah kiri, “Atau neraka. Kau bisa pilih.”

“Kenapa aku harus memilih? Aku sendiri tidak tahu ini dimana.” Ia berjalan mendekatiku, dan memelukku erat, menyandarkan kepalanya di dadaku.

“Karena hidup atau mati, kita harus tetap memilih.” Ujarnya makin tidak bisa kumengerti. Ia menghela napas panjang. “Minho-ya, aku merindukanmu.” Katanya lagi mendongakkan kepalanya dan menatapku.

Aku menggeleng, “Aku tidak mengerti.”

“Kau ini bodoh, ya? Kau itu sedang sekarat.” Katanya dengan jelas. Membuat napasku berhenti sejenak. Apa maksudnya aku sekarat? Aku masih bisa berdiri, berjalan, bahkan bicara. Kenapa aku harus sekarat? “Itu sebabnya kau tidak mengerti tempat ini. ini alam bawah sadarmu. Disini kau bisa bertemu dengan orang yang kau rindukan dan selalu kau pikirkan. Dan aku senang, ternyata akulah orangnya.” Jelasnya. Tidak, ini tidak mungkin. Aku tidak boleh mati.

Onew hyung

Seperti ada yang membisikkan di telingaku, aku langsung melepas pelukannya dan berlari keluar. Masih ada yang harus kuselesaikan dengannya. aku harus berbuat apa? Semuanya kosong seperti ruangan tanpa batas. Aku berlari ke arah manapun mencari jalan keluar, tetapi hasilnya nihil. Yang kulihat hanya jalanan panjang berwarna putih, dan saat kutengok ke belakang gelap dan hitam. Apa aku harus menyusuri jalan ini untuk keluar? Bagaimana kalau kematian yang kutemukan diujung sana? Kenapa aku harus bersiap-siap bertemu dengan malaikat yang akan mencabut nyawaku dalam waktu dekat ini? aku ingin sadar, dan aku harus.

Aku belum bertemu ibu, menanyakan kabarnya selama aku kabur dari rumah. Apa ada perubahan dari kehidupan mereka saat aku pergi? Tolonglah, siapapun.. aku belum ingin mati.

Aku terus berlari tanpa arah. Peluh mulai membasahi dahi dan leher, rasa lelah mulai membuat napasku terengah-engah, rasa sakit yang kurasakan mulai mendera. Kepalaku mulai berat dan pusing, jantungku mulai sakit, napasku sesak seperti ada batu yang menimpa tubuhku, semua anggota gerakku sulit untuk digerakkan. Apa ini perjuangan yang harus kulewati untuk sadar? Apa semua orang akan mengalami hal yang sama saat sekarat?

Omma, Onew hyung..

Otakku terus meneriakkan nama mereka. Seakan-akan memberi semangat padaku untuk tetap hidup, dan berjuang untuk sadar dari semua ini. aku harus bangun. Tapi kenapa tubuhku terasa makin lemah?

“Semuanya sudah sesuai aturan, kita hanya menunggu waktunya saja.” Sebuah suara mengagetkanku. Aku menoleh kesana dan kemari mencari sumber suara. Apa mungkin aku bertemu dengan hyung disini?

“Kau tidak akan bisa pergi, Minho-ya. Semuanya sudah terlambat. Kau akan mati.” Ujar perempuan itu berjalan pelan kearahku. Kelopak matanya menghitam, sangat menyeramkan. Rambutnya berkibar saat udara dingin bertiup dan membuat tubuhku makin sakit. Udara itu seperti merajam seluruh tubuhku dan menusuk tulang-tulangku. Ia mengulurkan tangannya, mengajakku pergi. “Lebih baik kau ikut denganku disana. Masuk kesana tidak mudah, kau ikut denganku saja disana.” ujarnya menunjuk ruangan tadi.

Aku menggeleng kuat, menolak permintaanya. “Tidak. aku harus sadar. Dan aku harus bicara dengan Onew hyung. Aku harus menyelesaikan masalahku dengannya.”

“Masalah apa yang akan kau selesaikan? Tentangku?” tanyanya. Aku tidak bisa menjawab. Kepalaku makin sakit dan berat, sampai akhirnya aku kehilangan keseimbangan dan jatuh. Ia berjalan perlahan mendekatiku, dan berjongkok didepanku. Ia membelai rambutku dan mengangkat wajahku menghadap wajahnya. “Aku malaikat yang akan mencabut nyawamu. Kau tidak akan bisa pergi lagi, Minho-ya. Kau akan selamanya bersamaku. Disini.” Ujarnya mendesis.

Aku memejamkan mata, menahan rasa sakit. Tidak, apapun yang terjadi aku harus tetap hidup. “Kau tidak akan bisa pergi kemana-mana.” Bisiknya tepat ditelingaku. “Tidak perlu takut, kau aman bersamaku disini.”

Aku ingin bertemu hyung, aku ingin bertemu ibu, aku ingin bersatu lagi dengan mereka. Tinggal bahagia di rumah yang sederhana, merawat ibu yang semakin lemah karena usianya yang makin tua, makan bersama, bercanda, tertawa, pergi dengan hyung, melihatnya menikah dengan orang yang dicintainya. Aku belum boleh mati, aku harus tetap hidup dan menyaksikan semuanya.

Aku belum meminta maaf karena sikapku yang kekanak-kanakan. Aku belum membayar semua kesalahanku pada mereka. “Aku ingin hidup, aku belum boleh mati!” teriakku berusaha bangun dan meleopaskan cengkramannya di wajahku. “Aku harus pergi menemui hyung!” teriakku.

Tetapi wanita itu menahanku, “Kau sudah terlambat.” Tidak, aku belum terlambat. Aku masih kuat berjalan. Aku akan mencari jalan keluarnya. Tetapi saat aku ingin melangkah, kakiku terasa sakit dan tidak bisa digerakkan. Kenapa ini?

“MINHO-YAA!”

***

“Semuanya sudah sesuai aturan, kita hanya menunggu waktunya saja.” Ujar perawat rumah sakit itu kepada dokter yang mengurus Minho karena kecelakaan. Beberapa perawat lagi membereskan kamar yang ditempati Minho.

“Baiklah, kalau sudah selesai. Berikan laporannya padaku.” Ujar dokter itu melepas stetoskop yang terpasang di telinganya. Semua orang yang di ruangan itu terdiam, perawat mulai sibuk mencatat kondisi terakhir Minho. Tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar kamar, makin lama makin keras dan akhirnya suara bising itu berakhir saat pintu dibanting keras. Semua yang ada didalam kamar itu menoleh kaget dan mendapati seorang laki-laki penuh keringat dan napasnya terengah-engah. Ia berjalan masuk, dan perawat-perawat itu otomatis memberi jalan.

“Maaf orang yang tidak ada kepentingan, dilarang mas-”

“Saya keluarganya. Dia adik saya.” Ujarnya tegas dan singkat. Membuat semua orang yang ada didalam maupun diluar kamar, terkejut. “Kenapa?” tanyanya merasakan keganjilan diruangan itu. hening, sepi, dan menyakitkan.

“Kenapa anda baru mengatakan kalau dia keluarga anda?” tanya dokter itu hati-hati. Hatinya berkecamuk bingung, apa yang harus ia katakan pada orang yang tiba-tiba datang dan membuat kerusuhan?

“Saya baru membaca koran tentang berita kecelakaan itu.”

“Koran itu terbit lima hari yang lalu, dan anda baru membacanya?” tanya dokter itu tidak percaya. Onew menganggukkan kepala. Dokter itu berdehem pelan dan menatap semua perawatnya. “Kami mohong maaf atas kelancangan kami. Peraturan di rumah sakit ini, apabila pasien tidak diketahui keluarganya, ia akan dirawat sampai tiga hari. Lewat dari itu, pihak rumah sakit akan memberikan suntik mati pada pasien dan menjadikannya praktek untuk calon dokter. Sedangkan dia hampir empat hari disini. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.” Jelas dokter itu hati-hati. Laki-laki itu membeku ditempat, menatap dokter itu meminta jawaban yang masuk akal, mencari kebohongan dimatanya. Tetapi hasilnya nihil.

“Apa kau bilang? Suntik mati?” tanyanya tidak percaya. “KAU BOHONG!”

“Kami mohon maaf.”

Onew menggebrak dinding membuat semua orang merinding ketakutan. “Kau pikir dengan kata maaf, semuanya selesai? Kau bunuh adikku, setelah itu kau hanya berkata…” ia berjalan mendekati dokter itu, suaranya makin merendah, “…maaf?” bisiknya bercampur isakan tangis. “Kenapa harus lewat koran? Kenapa tidak ditayangkan di televisi?!” teriaknya lagi. Hatinya bergemuruh dan sakit. Selama tiga tahun Minho pergi dari rumah, dialah yang sangat merindukan kehadiran adiknya itu. dan sekarang? Ia melihat Minho tergeletak tidak berdaya di rumah sakit, dan dinyatakan disuntik mati.

Detak jantung Minho melemah, membuat perhatian semua orang tertuju padanya. “Minho-ya…” panggil Onew mendekati Minho. Diguncangnya tubuh itu, tetapi tidak ada jawaban. Yang ada hanya hembusan napas sesak darinya. “MINHO-YAA!” teriaknya.

Hening. Yang terdengar hanya isakan tangis Onew. Ia menyesal kenapa tidak membaca koran itu lima hari yang lalu, menyesal karena gagal menjaga Minho sejak ayahnya meninggal karena kasus yang sama. Kecelakaan.

Tiba-tiba suara batuk terdengar bercampur suara tangis Onew. Minho terbatuk, dan ia membuka matanya perlahan. “Hyung…” bisiknya terdengar sangat lemah. Onew mengangkat kepalanya tidakpercaya, begitu juga dengan yang lain.

“Jangan bicara dulu, kau masih lemah.” Ujar Onew menghapus air matanya. Tiba-tiba Minho menggenggam tangan kakaknya itu.

“Hyung, mi…an..” ujarnya pelan dan menutup matanya kembali.

Sedetik kemudian, detak jantungnya hilang.

Semua orang menahan napas. Terlebih lagi Onew. Baru beberapa detik ia mendengar suara adiknya itu, tiba-tiba ia harus pergi meninggalkannya. Air mata yang sempat ia hapus, kini menggenangi matanya lagi. “Minho-ya,” bisiknya menepuk-nepuk pipi Minho. Tidak ada jawaban disana. “Minho-ya..” Onew kembali menangis melihat adiknya benar-benar pergi meninggalkannya.

Langit yang sedari tadi mendung, kini mulai memuntahkan isi awannya. Seakan-akan ikut bersedih atas Minho. Bunyi derasnya hujan, suara isak tangis, dan tatapan pilu menjadi satu mengiringi kepergiannya.

***

“Hyung apa maksudmu? Kenapa kau menyakitinya?”

“Siapa yang kau maksud?”

“Jihee.”

Onew teringat saat ia bertengkar dengan adiknya hanya karena masalah sepele. Ia menatap ketiga makam dihadapannya. Paling kiri ayahnya, tengah Minho, dan yang disebelah kanan, ibunya. Wanita yang mulai termakan usianya itu mengalami serangan jantung, tepat saat ia memberi tahu kalau Minho sudah tiada.

“Memang kau siapa? Apa pedulimu tentang Jihee?”

“Karena aku mencintainya. Aku rela kalau hyung bersamanya, tapi kenapa kau malah menyakitinya saat aku mulai bisa menerima keadaan?”

Onew membuang muka. Wajahnya memanas. Harusnya ia tahu perasaan Minho, tetapi kenapa ia tidak sadar kalau dia dan adiknya menyukai perempuan yang sama? “Kenapa kau tidak mengatakannya, Minho?”

“Kau tahu? Jihee yang selalu ada dipikiranku.”

Kenapa harus perempuan itu yang dipikirkan Minho? Ia meninggalkan Jihee karena ia tidak ingin perempuan itu dekat-dekat dengan Minho. Kau pasti tidak tahu, Jihee mengidap AIDS. Karena aku menyayangimu, aku harus pergi meninggalkannya. Karena aku tahu, dia juga menyukaimu dan hanya memanfaatkanku untuk mendapatkanmu. Tidakkah kau tahu itu, Minho-ya? Gumam Onew dalam hatinya. Ia menundukkan kepalanya dengan perasaan sakit. Kini ia sendirian, ia tidak memiliki keluarga. “Haruskah aku menyusul kalian?” gumamnya sedih.

Semoga kalian berbahagia disana, selamat tinggal..

 

FIN

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

 

 

 

 

 

24 thoughts on “[FF PARTY] I’m Sorry Hyung”

  1. Kesel sama dokter’y!!! >< … Jhat bgt! Knpa 3 hri? Knpa ga 5 hri? sminggu? Atau prlu 1 blan? suntik mati…? Dan dengn gamblang'y cma blang maaf?? *emosi akut*
    Minho…. Hiks… Hiks… T^T … Onew….
    Tamsap… Bkin emosi campur aduk… T^Td

  2. Aku : APA-APAAN INI ! DOKTER MACAM APA YANG MALAH MEMBUNUH PASIENNYA. BUKANNYA BERUSAHA MENYELAMATKAN…
    Dokter : Maaf anda siapa?
    Aku : Aku sepupu dari Onew dan Minho ..
    /PLAAK !

    Onew jangan pernah berpikir untuk bunuh diri ya. Nanti aku ikut bunuh diri ..
    huh !

    good FF thor !

  3. Uhh kasian!! Dokter πª kok kasi suntik mati sama minho?? Heemm penyesalan selalu datang terakhir,, end πª tragis, Ɣªήğ sabar onew (?)
    Author good ff!!

  4. hikssssssssssssssssssssssssssssss….
    sedih bgttttttttttttttttttt..

    minho.a kasian onew.a jga kasian…bner2 menguras air mata…..
    daebak

  5. NETOOOOOOOO ! so saad tapi bagus juga ;’)
    yaaahh sayang banget minho nya mati. tp keren juga loh udh disuntik mati tp msh bisa ngomong ‘mian’ ke onew 😀
    salut~
    good job!! 🙂

  6. Apa2an tuh dokter?main suntik mati aja?-.-”
    kalo uda 5 bulan si mending baru 4 hari woii!ckckck
    *ngamukindokternya
    bagus bagus ffnya XD

  7. Kisah yang mengharu biru. Kecelakaan Minho pun baru diketahui Onew beberapa hari kemudian. Kenapa juga dokter buru-buru menyarankan suntik mati?
    Nice story.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s