[FF PARTY] Stand By Me – (Rei) Part 1

Title(*): Stand By Me (Rei)

Author(*): Achiiey_Linda

Main Cast(*) : Haruka Rei as Rei-chan, Lee Jinki as Onew as Jinki, Choi Minho as Minho

Suport Cast(*) : nggak ada kayaknya. Cuma malaikat, ahjuma, bocah laki-laki, gadis kecil.

Other Cast : –

Genre(*) : Friendship, Romance, Sad

Type/Length(*) : sequel #1

Rating (*): general

Summary : Sahabat dekat kekasihmu, membunuhnya tepat di hari ulang tahunnya…

Credit Song : –

Ket(*) : Sekedar berpartisipasi. Tapi kalo memenuhi syarat jadi author tetap, boleh deh *kkk

Stand By Me (Rei) Part 1

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

“Kau mau?”

Aku membuka mataku, terkejut. Sejak kapan ada seseorang di sebelahku? “Tidak, terimakasih.”

Dia mengangguk. “Siapa namamu?”

Aish, siapa dia? Berani bertanya siapa namaku! “Rei, kau?” jawabku ketus.

“Jinki. Sendirian di Korea?”

Ya! Tanya lagi! “Aku baru saja pindah ke Korea sekitar satu bulan yang lalu.”

“Oh…”

 

***

 

“Rei, bisakah kau membantuku sebentar?” tanya Jinki sesaat setelah kami turun di sebuah stasiun.

Aku berbalik menatap Jinki. Aku hampir saja menjawab ‘Tidak mau!’ ketika dia tiba-tiba menarikku dan berkata, “Ayo kita berkencan!”

“Mwo?” aku terkejut. Benar-benar manusia aneh!

Jinki tersenyum. “Ikut saja denganku!”

 

***

 

“Jinki….”

“Ne?”

“Bagaimana bisa kau mengetahui aku suka berada di sini?”

“Hanya menebak saja.”

Jinki mengajakku ke sebuah stadion olahraga, membawaku ke sebuah lapangan di dalam stadion tersebut. Aku memandangi lapangan yang sudah lama tidak ku kunjungi. Dulu, di kursi itu, setiap Jumat sore pukul 3, aku pasti ada di sana. “Aku mempunyai banyak kenangan di lapangan ini, Jinki…”

“Sinca? Kenangan tentang apa?”

“Tentang seseorang yang meninggalkanku…”

“Namjachingumu?”

“Ne. Dia orang yang suka berolahraga, dan suka bertanding. Aku selalu menemaninya ketika sedang berlatih. Membawakannya minuman dan handuk. Aku menemaninya ketika sedang bertanding, dan dia selalu menang. Dia tidak pernah kalah, karena dia tidak mau kalah. Dia akan menangisi kekalahannya. Dia selalu menjadi nomer satu, dan dia selalu terlihat tampan ketika berada di lapangan ini.”

“Dia, meninggal?”

Aku diam sejenak, menguatkan diri. Aku lelah menangis, dan tidak akan pernah menangis lagi. Aku harus kuat, seperti Minho, namjachinguku. “Ne, temannya membunuhnya.”

“Membunuh?”

“Minho selalu menganggapnya teman baik, kau tahu. Tetapi entah mengapa temannya mendorongnya hingga dia jatuh dan meninggal di hari ulang tahunnya.”

“Kau membenci temannya?”

“Tentu saja! Dia telah membuat orang yang kucintai meninggal di hari ulang tahunnya. Kau tahu mengapa aku kembali ke Korea lagi? Karena aku ingin balas dendam. Aku akan mencari tahu siapa namanya dan dimana dia tinggal. Selama ini dia hanya memanggilnya hyung, tanpa memberitahuku nama temannya.”

“Tetapi dia pasti sangat menyesal dan kehilangan Minho, sama sepertimu.”

“Menyesal? Saat hari pemakaman Minho, pembunuh itu tidak datang! Apakah dia terlihat menyesal? Apa dia terlihat kehilangan? Dia pasti tertawa bahagia telah membunuh Minho!”

“Kau sangat membenci temannya…”

“Kau benar. Sangat membencinya. Sangat membenci sehingga membuatku ingin mengirimnya ke neraka.”

 

***

 

Setelah satu jam duduk berdiam di stadion, Jinki mengajakku keluar. Dia tiba-tiba berhenti di depan sebuah toko di dekat stadion.

“Tunggu!” katanya. Dia berjalan memasuki toko tersebut. Beberapa saat kemudian dia keluar sambil membawa sebuah bingkisan. “Rei, ini untukmu!”

Aku menerima bingkisan tersebut. “Es krim? Terimakasih, Jinki! Kau tahu, aku sangat menyukai es krim!”

“Pasti karena kau mempunyai kenangan bersama Minho.”

“Ne, kenangan tentang es krim.” Aku diam sejenak, memandangi es krimku. “Hari itu hari pertamaku bertemu dengan Minho…

Flashback~

“Ahjuma, ini uangnya!” Aku menyerahkan uang, lalu pergi. Aku harus cepat menuju stadion! Teman-teman sekolahku akan bertanding sebentar lagi!

Bug.

Aku menabrak seseorang di depan pintu toko.“Aa, mianhamnida, ahjussi. Aku tergesa-gesa!” kataku, tanpa melihat siapa dia.

“Ya! Ahjusi? Lihat! Kau mengotori seragam basketku!”

~END

…Aku menumpahkan es krim ke seragam basketnya. Ah! Aku selalu membawanya di tasku!” Aku mengeluarkan sebuah seragam basket. “Seketika itu juga dia marah dan membuka seragam ini, memintaku mencucinya sampai bersih.”

“Bagaimana kemudian kalian bisa berpacaran?”

“Noda es krimnya mengenai nomer punggungnya, 10, hingga sulit dibersihkan. Aku menyucinya beberapa kali sampai tanganku terluka…

Flashback~

“Minho-ssi, ini seragam basketmu,” aku menyerahkan seragam basket tersebut kepada Minho.

“Sudah bersih?”

“Aku… Tidak bisa membersihkan yang bagian itu… mianhaeyo.” Aku membukakan seragamnya untuk menunjukkan noda yang tidak bisa hilang itu.

Dia terkejut. “Omona, ada apa dengan tanganmu?”

Aku melihat tanganku sendiri. “Aa, gwaenchana.”

“Kau mencucinya hingga tanganmu terluka?”

“Gwaenchana, Minho-ssi.”

“Ani, ikut aku!”

~END

…Minho membawaku ke lapangan dan mengobatiku di sana. Aku meminta maaf, dan berjanji akan membelikannya seragam basket yang baru saja karena nodanya tetap tidak bisa hilang. Dia setuju, kemudian meminta nomer ponselku. Sejak itu kami sering berhubungan, dan suatu hari dia bilang dia menyukaiku.”

“Kau menyukainya?”

“Sebelumnya tidak. Sama sekali. Aku tidak suka seorang namja yang menyukai olahraga, bagiku mereka tidak romantis dan mempunyai banyak penggemar. Tetapi Minho berbeda. Dia memang mempunyai banyak penggemar, dan tidak seromantis namja impianku. Yang Minho punya adalah cinta, dan aku bisa merasakannya. Bagiku itu sudah cukup.”

“Kau begitu mencintainya…”

“Kuraeso. Karena itu aku ingin membalas kematiannya.”

 

***

 

Kami melanjutkan berjalan-jalan menelusuri Seoul di sore hari. Tetapi tiba-tiba langit berubah gelap. Beberapa detik kemudian hujan turun membasahi bumi.

“Rei, kita berteduh di sini saja! Tidak mengapa?” kata Jinki. Dia menarikku berteduh di sebuah box telepon.

Aku mengangguk. Tidak mengapa berteduh di sebuah box telepon. Dulu, aku dan Minho sering melakukannya ketika tiba-tiba kami kehujanan.

Hujan turun deras sekali. Sesekali terdengar suara petir menyambar. Aku merapatkan tubuhku ke Jinki. Aku tidak menyukai hujan. Sebenarnya, petir. Tiba-tiba kudengar Jinki menyanyikan sebuah lagu yang sangat indah, lagu yang biasa dinyanyikan Minho ketika aku ketakutan dengan petir, Juliette.

Aku mendengarkannya dengan seksama. Suaranya merdu sekali. Ya Tuhan, dia semakin mengingatkanku kepada Minho!

“Kau takut petir?” tanya Jinki setelah menyanyikan lagu tersebut.

“Sangat.”

“Mengapa?”

“Mollayo, dari kecil aku takut petir.”

“Apakah Minho tahu?”

“Tidak ada yang tidak diketahui Minho, Jinki.” Aku diam sejenak. “Ketika ada petir, Minho akan meneleponku untuk menenangkanku.”

“Benarkah?”

“Ne, dia selalu meneleponku, dan menyanyikan lagu yang kau nyanyikan tadi. Suatu hari dia tidak meneleponku. Karena aku sangat ketakutan, keesokan harinya aku sakit…

Flashback~

“Rei-chan, mianhae. Aku tidak bisa meneleponmu tadi malam.”

“Gwaenchana, Minho-ya.”

“Tetapi sekarang kau jadi sakit, kau pasti tidak bisa tidur. Kau sangat ketakutan bukan? Mianhae, Rei-chan. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”

“Jangan menyalahkan dirimu. Aku sudah sangat senang kau ada di sini sekarang.”

“Tapi ini semua salahku, Rei-chan. Aku akan menebus kesalahanku! Aku akan berada di sini sampai kau sembuh!”

Aku melihat wajah khawatir Minho. Tuhan, terimakasih kau mengirimkan seorang dewa sepertinya untukku…

“Rei-chan, dimana ponselmu?”

~END

…Karena Minho merasa bersalah, dia merekam suaranya agar ketika dia tidak bisa meneleponku, aku tetap bisa mendengarkannya menyanyi.”

Aku mengeluarkan ponselku. Terdengar suara seseorang yang aku cintai.

‘Rei-chan, kau menangis? Uljima, Rei-chan. Kau khan sudah besar… Aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu. Tapi janji, setelah aku menyanyi kau tidak akan menangis, arasseo?’

Tak terasa airmataku menetes. Choi Minho, aku sangat merindukanmu.

“Uljima, Rei-chan.” Suara Jinki mengagetkanku. Tangannya lembut mengusap kepalaku.

“Ah, mianhaeyo, Jinki. Aku terlalu merindukan Minho.”

“Gwaenchana. Arasseo. Setelah Minho meninggal, apa kau juga sering mendengarkan suaranya?”

“Tidak. Aku membiasakan diriku tanpanya, sekarang. Tapi terkadang, jika aku merindukannya, aku akan mendengarkannya terus. Saat kau menyanyikan lagu itu, aku mengingatnya lagi. Kau tahu, Jinki. Hanya denganmulah aku bisa menceritakan ini semua. Bahkan dengan orangtuaku, aku tidak pernah menceritakan ini. Orangtuaku hanya mengetahui aku pulang ke Jepang karena kekasihku meninggal, dan aku kembali ke Korea lagi untuk meneruskan sekolah. Ketika bersamamu, seperti bersama Minho. Aku tidak tahu mengapa. Padahal kau dan dia berbeda sekali. Mungkin, karena kau mengingatkanku tentang semua kenangan bersamanya. Kenangan satu tahun yang lalu.”

Jinki tersenyum. “Aku hanya mencoba menghiburmu, Rei. Saat di kereta aku melihatmu bersedih.”

“Berat sekali rasanya kembali ke Korea lagi, Jinki. Korea telah mengangkatku tinggi, kemudian menjatuhkanku tanpa ampun.”

“Lantas mengapa kau masih kembali ke Korea?”

Aku diam sejenak, memandang keluar. “Seperti yang kau ketahui, Jinki. Aku ingin balas dendam.” Aku merapatkan tubuhku ke arah Jinki lagi. Aku semakin merasakan dia mirip dengan Minho.

 

***

 

“Terimakasih, Rei. Kuharap kau menyukai kencan ini.” kata Jinki. Setelah hujan reda, kami kembali menuju stasiun dimana pertama kali kami bertemu.

“Tidak, seharusnya aku yang berterimakasih kepadamu. Aku seperti melihat Minho hidup kembali, kau tahu.”

Jinki tersenyum. “Arasseo. Aku pulang sekarang. Selamat tinggal, Rei.”

“Tunggu, Jinki.” Aku menghentikan langkah Jinki. “Mengapa kita tidak berteman? Kita bisa pergi bersama kali lain?”

“Tidak, tidak mungkin, Rei. Aku tidak bisa. Mianhae.”

“Mengapa?”

“Suatu saat kau akan tahu sendiri, Rei. Kau akan datang kepadaku dengan sendirinya. Dan ketika kau tahu, kuharap kau bisa memaafkanku.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Jinki.”

“Aku bicara takdir, Rei. Aku hanya menjalani takdirku. Jika kau benar-benar menemukan apa yang sangat kau inginkan, kau akan menemukanku juga. Selamat tinggal.”

 

***

 

Akhirnya, setelah satu minggu, aku menemukan alamat pembunuh Minho. Teman yang dianggap sebagai hyungnya, teman yang disayanginya, teman yang membunuhnya.

Satu hal yang bisa menggambarkan keadaan rumah sesampainya di alamat tersebut, sepi. Tidak ada siapa-siapa. Seperti sudah ditinggalkan penghuninya lama sekali. Aku mengetuk pintunya. Kudengar seseorang sedang berjalan membukakan pintu kepadaku.

“Nuguseyo?”

 

 

– TBC to Stand By Me (Rei) Part 2 –

N.A / P.S (kalau ada): saya reader baru nih, langsung ikutan FF Party, kkk~ gomawo udah baca, maaf kalo ada yang nggak suka… Ini Cuma fiksi ya… sampai jumpa di part berikutnya^^

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

21 thoughts on “[FF PARTY] Stand By Me – (Rei) Part 1”

  1. aduh , kayaknya yang bunuh minho jinki dah , soalnya jinki nya minta maap . kalo ngga itu jinki minta maap sama rei karna dia mencinta perempuan lain yaitu AKU hahahahaha *gaknyambung
    FFMU DAEBAK THOOOR XD

  2. Jgan bilang pembunuh itu sih jinki!! Ah andwae!! Jinki mana tega jadi pembunuh,, ☆ł♌Ňjů† ☆ł♌Ňjů†

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s