[FF PARTY] ANGEL

ANGEL

Title(*): ANGEL

Author(*): Zika

Main Cast(*) : Choi Minho

Suport Cast(*) : Kim Hyeo So & SHINee

Genre(*) : Friendship

Type/Length(*) : Oneshot

Rating (*): General

Summary : Forever, you’re still my angel.

Credit Song : Super Junior – Angela

Ket(*) : Mendaftar sebagai author tetap *PLAK*

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}


“Minho-ah~.”

“Hem?” aku hanya bergumam, masih focus dengan buku ku. “Aku mau cerita.” Lagi-lagi aku hanya bergumam. “Aaaahh Minho dengerin dulu.” Hyeo So merengek sambil mengguncangkan kakiku. “Heeemm, sebentar dulu, sedikit lagi tamat.”

“Minhooo~, aaaahhh!!” aku menghela nafas lalu menutup bukuku dan membenarkan posisi dudukku. “Ada es krim gak?” haduuuhh, anak satu ini! “Dingin Hyeo So, jangan makan es ah!” ia langsung mengerucutkan bibirnya lalu berdiri sambil bertolak pinggang. “Gak seru!!” walaupun di larang juga dia pasti nekat mengobrak-abrik isi lemari es ku. Tiada hari tanpa eskrim, jadi aku selalu membeli dua toples es krim untuk siaga kalau-kalau Hyeo So main ke apartement ku.

“Dapat! Kekeke~. Aku mau coba yang rasa cappuccino ya, Minho gantian sama aku ya.” Aku mengangguk lalu menerima toples berukuran sedang tersebut. “Naikin suhunya Hyeo.” Hyeo So berjalan menuju pemanas ruangan lalu menaikan suhu dan kembali berjalan ke arahku dan seperti biasa duduk di antara kakiku yang bersila melingkari pinggangnya.

“Minho pernah gak cintanya bertepuk sebelah tangan?” walaupun dari samping aku bisa melihat raut wajahnya berubah sedih. “Sakit ya.” Sambungnya sambil memegangi dada kirinya. “Padahal ini pertama kalinya aku suka sama cowok, tapi malah bertepuk sebelah tangan.”

“Kamu tahu dari mana kalau dia gak naksir kamu juga? Siapa sih cowok di kota kita yang nolak di taksir seorang Kim Hyeo So?” dan aku termasuk dalam cowok-cowok yang berharap kamu suka. Dan sekarang aku berharap cowok yang kamu suka itu aku. “Ada lah, dia gak suka sama aku. Minho juga, iya kan?” oke, putus sudah harapanku kali ini.

“Kemarin aku denger-denger katanya dia lagi pedekate sama Yara.” Hyeo So menyendok es krimnya. “Wleh! Aneh rasanya!” Hyeo So langsung menjulurkan lidahnya. “Enak kok, ah lidah kamu aja kali yang bermasalah. Kamu flu ya?” aku menyentuh keningnya, hangat. “Enggak kan? Cuma hangat aja. Kok Minho suka yang rasa cappuccino sih?”

“Ya karena enak, ya udah kalau gak suka nih gantian lagi.” Aku hendak menukar es krim nya. “Jangan, aku mau suka apa yang Minho suka. Jadi aku mau tetep makan es krim ini, kalau Minho bilang enak ya berarti enak.” Kalau gitu kenapa kamu gak mencoba untuk suka sama akunya?

“Minho inget gak kejadian 4 tahun lalu yang bikin kita jadi sahabatan?” ya.. aku mengingatnya dengan sangat jelas, mana mungkin aku melupakannya Hyeo So. Rasa suka yang tiba-tiba muncul saat pertama kali melihatmu menangis dengan pipi dan tangan memerah akibat dinginnya salju.

 

~Flash Back~

 

“Iya bener, tadi udah ngomong sama gurunya kan?” temanku Key mengangguk yakin. “Ho, jalan yuk. Bosen banget di rumah.” Ucap Onew. “Iya! Sekalian traktirannya.” Sambung Jonghyun.

“Ya udah, hari ini si Taem sekolah kan? Mau sekalian jemput dia?” Taemin adalah adik Onew satu-satunya. “Iya deh, tadi juga dia minta temenin ke toko buku.” Kami berempat pun mulai berjalan keluar dari gedung, hari ini adalah hari kesembilan di bulan Desember yang dingin ini. Hari kelahiranku yang ke 17, ya seperti biasanya aku harus mentraktir ketiga sahabatku ini termasuk Taemin adik Onew.

“Tunggu, topi ku ketinggalan di kantin.” Mereka memutar bola mata. “Mian, kalian tunggu di halte aja nanti aku nyusul.”

“Sip! Jangan lama-lama, dingin nih!” aku mengacungkan jempolku lalu setengah berlari kembali ke dalam. “Ryu!” panggilku pada salah satu teman sekelasku yang kebetulan sedang berdiri di koridor. “Oh Minho! Ini, tadi topimu ketinggalan di kantin.”

“Wah, gomawo!” ia tersenyum, berhubung udara semakin dingin aku buru-buru berjalan menuju halte tapi suara tangis seorang gadis langsung menyita perhatianku. Aku berjalan mendekati asal suara tangisan tersebut yang ternyata berasal dari seorang gadis yang terduduk di atas salju dekat pohon di samping gedung. Ah, aku pernah melihatnya! Sepertinya satu angkatan denganku hanya saja tidak sekelas.

“Sillyehamnida (permisi).” Ia menoleh, uap putih menyembul dari mulutnya, air mata berlinang di pipinya yang merah. “Waeyo?” tanyaku. “Kalungku tadi jatuh di sini, baru saja aku mau mengambilnya tapi salju di pohon ini jatuh. Itu kalung pemberian almarhun oppaku, eotteokhe?” ia kembali menangis, kedua tangannya yang memerah menutupi mulutnya. Entah apa yang ada di pikiranku saat ini, tapi tanganku tiba-tiba saja bergerak menggali tumpukan salju tersebut. Rasanya seperti menggali tumpukan beling-beling yang tajam, sangat perih tapi hati kecilku terus mendorongku untuk tetap menggali hingga menemukan kalung gadis ini.

“Apa yang kau lakukan? Tanganmu bisa luka!” gadis ini menarik tangan kananku, tapi tangan kiriku langsung mengambil sesuatu yang mengkilap. “Ini kan?” raut khawatirnya langsung berubah sangat cerah. “Ne!” jawabnya riang, aku memberikan kalung tersebut padanya.

“Ya! Paboimnika?” serunya tiba-tiba. “Kau menggali tumpukan salju tanpa sarung tangan, berbahaya! Sebenarnya apa sih yang ada di otakmu?” entahlah, aku juga tidak tahu. Semuanya terjadi secara tiba-tiba, aku tidak mengerti. “Begitu sampai di rumah rendam tanganmu dengan air hangat!” bukannya mengiyakan mataku malah teralih pada kedua tangannya yang juga tidak berbalut sarung tangan, dan sangat merah! Sepertinya tadi dia melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Aku merogoh kantong coat abu-abu ku.

“Ini pakai, tanganmu sudah terlalu merah. Aku duluan ya! Teman-temanku sudah menunggu.” Untung saja aku ingat keempat sahabatku sedang menunggu di halte sambil menahan dingin.

“Eh tunggu! Siapa namamu?”

“Minho! Choi Minho!” seruku sambil tetap berlari. “Gomawo Choi Minho!”

 

~Flashback end~

 

I think of the first time that i saw you

In a moment, my heart fell apart

Although you’re cold-hearted,

You’re too wonderful of a person to erase

 

Dan sejak hari itu aku tahu aku menyukainya pada pandangan pertama. Keesokan harinya ia mendatangi kelasku dan mengembalikan sarung tanganku, dan saat itulah aku tahu namanya Kim Hyeo So. Dialah anak dari pengusaha terbesar di daerah kami, Incheon. Keluarganya memiliki banyak toko di bidang elektronik, supermarket, toko-toko kios makanan dan beberapa showroom mobil –tidak ada yang tahu tentang ini kecuali kami para sahabatnya. Gadis yang tidak hanya kaya tapi juga pintar, dia terkenal bukan karena kekayaannya melainkan karena sifat ramahnya kepada semua orang. Bahkan kata teman-teman satu sekolahnya dulu dia sering menjadi tutor sebaya setiap menjelang ujian dan memang benar, saat SMA pun ia sering menjadi tutor sebaya sukarela yang mengajar siapapun dengan senang hati.

“Jadi, siapa cowok beruntung yang kamu taksir?”

“Jangan ketawa!” mana mungkin aku tertawa, bahkan mungkin aku akan menangis Hyeo So. “Tidak, janji!” ia terlihat ragu, lalu berfikit sejenak. “Dia sahabat kamu…-“

“Key.” Potongku, pasti dia. “Kok tahu?” aku tersenyum tipis. “Gak apa-apa kan kalau aku suka sama dia?” Andaikan aku bisa bilang tidak. “Gak apa-apa lah, emang kenapa juga harus masalah? Itu hak kamu mau suka sama siapa aja, perlu aku bantuin?”

“Yakin mau bantuin aku? Minho gak apa-apa?” aku mengangguk yakin. Tidak, aku tidak berdusta. Aku bersumpah aku baik-baik saja, selama aku tetap ada di sisimu aku tidak apa-apa. Kalau memang aku hanya bisa menjadi sahabatmu kenapa tidak? Yang penting aku berada di sisimu selamanya.

“Menurut yang aku denger, katanya kadang kalau cowok sama cewek sahabatan. Begitu salah satunya naksir orang lain pasti sahabatnya itu cemburu.” Ya, memang tidak sepenuhnya pernyataan itu salah sih tapi tidak sepenuhnya benar juga.

“Sakit sih sedikit.” Tuturku jujur. “Tuh kan Minho… aaahhh maaf.” Aku tersenyum. “Enggak-enggak, gak apa-apa kok. Tenang aja, cuma sakit sedikit. Yang pentingkan kita berdua tetep sahabatan.”

“Aaahh Minho maaf.” Rengeknya sambil mengguncangkan lenganku. “Iya iya, gak apa-apa Hyeo So.” Aku mencubit hidung mancungnya lalu menariknya dengan gemas, ini salah satu kebiasaan kalau kami bertengkar. Hyeo So baru akan percaya aku baik-baik saja kalau aku menarik hidungnya. “Hehehehe.. Minho jadi bantuin aku kan ya?”

“Iya iya, tenang aja. As the best friend you ever had, I’ll try my best to help you.”

“Mess up!!” seru kami serentak lalu tertawa. “Eh iya! Sebentar lagi si Onew ulang tahun kan? Kita siapin apa ya? Kalau di kerjain mah udah pasaran, kita bikin party aja yuk. Surprise party gitu, rumah dia kan gede tuh.”

“Boleh boleh.” Apa kau tidak merasa ada yang janggal Hyeo So? “Sabtu ini temenin aku beli kado buat Onew yah! Kamu kan udah sahabatan dari kelas 7 jadi pasti kamu ngerti dia suka apa.” Bibirku menyungging kecewa, ayolah Hyeo So! Jangan pura-pura begini, hanya kau satu-satunya orang yang aku harapkan setelah ibuku sebagai yang pertama. Ayo laaaahhh~! Besok hari terpenting kita!

“Wuah! Jam 5 sore, ah tidak! Hujan salju! Minho aku harus pulang sekarang.” Aku menurunkan kakiku dari atas pahanya, lalu ia bangkit dan menaruh kembali toples es krim yang isinya tinggal setengah itu.

“Ini payung, jangan sampe sakit ya.” Aku menyerahkan payungku satu-satunya yang berwarna biru metallic padanya. “Gomawo Minho-ya! Jangan lupa janjimu ya!” ia mengambil payungku lalu buru-buru keluar dari apartment ku. Hhhh.. mungkin dia memang lupa, semoga nanti malam dia ingat.

 

***

 

10:53 pm, December 8th 2010

 

Aku menatap layar telivisi dengan mata perih, aaahhh sangat mengantuk! Dan kenapa malam ini dingin sekali?

Aku memutuskan untuk membeli cokelat panas, dan beberapa makanan ringan untuk menghabiskan waktu menjelang hari kelahiranku. Aku turun ke lantai dasar, di luar masih ramai ternyata. Toko-toko sudah mulai tutup, beberapa karyawan toko berlalu lalang menuju rumah mereka masing-masing sedangkan aku berjalan menuju supermarket langgananku. Satu-satunya supermarket ready to serve 24 jam di sekitar apartment ku yang terletak di tengah kota Seoul.

“Hoy Minho!” sapa Key, tidak jarang memang kami berpapasan di supermarket ini. Apartment Key terletak beberapa blok dari apartment ku, orangtuanya tinggal di Daeugu jadi dia di sini sendirian. Sedangkan aku memang sengaja tinggal sendiri untuk melatih kemandirian, dan lagi aku memang mengincar universitas swasta Konkuk –di kota Seoul dekat sungai Han –sejak dulu jadi aku pindah.

“Saengil Chukaeyo!” ia meninju bahuku pelan. “Gomawo, hahaha.. ulang tahunku besok.” Tiba-tiba ia memukul lengan kiriku. “Pokoknya aku yang pertama! Ingat! Key adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun buat Minho!” ancamnya dengan bibir tersungging kejam. Hahahaha, bocah ini selalu bersikeras jadi yang pertama mengucapkan dan baru ini saja berhasil.

“Iya iya, eh iya! Emang sekarang kamu lagi pedekate sama cewek yah?” sebenarnya Key paling tidak suka kalau privacy nya di usik, tapi sepertinya ini saat yang tepat. “Enggak kok. Emang katanya aku deket sama siapa? Yara? Enggak, aku mah cuma minta tolong dia ngajarin beberapa materi yang bakal masuk di ujian masuk universitas. Lagian itu mah udah lama banget, adakali sebulan yang lalu.”

“Kan ada Hyeo So, kalau ketawan kamu nanya sama anak lain entar dia ngamuk loh.” Aku pernah kena amukan Hyeo So karena tidak minta tolong padanya padahal ia bisa. Entahlah, aku juga kaget ada manusia seperti Hyeo So yang sangat terobsesi untuk jadi orang berguna.

“Habis dia kemana-mana sama kamu terus, rasanya tuh cewek ada HM (Hak Milik) kamu. Tiap aku mau ngomong sama dia juga pasti rebutan, cuma kamu doang yang selalu dia utamain. Dimana ada kamu pasti ada Hyeo So, terang aja cowok-cowok yang naksir Hyeo So pada patah hati dan nyerah sebelum perang.”

“Hah?”

“Orang saingannya keren, yaaa gak lebih keren dari aku sih cuma kan tetep aja anak-anak pada minder tiap ngeliat kalian jalan berdua, gandengan lah, rangkul-rangkulan lah, kalau duduk tuh nempel banget serasa ada lemnya, kayak kembar siam beda bapak, beda ibu, beda bentuk, beda rupa, beda jenis kelamin, beda segalanya lah! Loh? Tau lah! Pokoknya gitu!” aku menyeringai.

“Kamu suka Hyeo So kan?” mata Key langsung membulat. “Aku udah kenal kamu nyaris 7 tahun Key, jangan ngelak. Semua yang kamu ucapin tadi itu bukan tentang orang lain atau dari orang lain tapi murni tentang dan dari diri kamu ya kan?”

“Ya ampun! Udah jam setengah sebelas! Besok ada kelas nih, balik ya! Annyeong!” Gotcha! Hyeo So, hanya dalam hitungan jam aku sudah bisa memberikan hasil untukmu.

 

11:59 pm, December 8th 2010

 

* I want to be a billionaire

So frickin’ bad

Buy all of the things I never had

Uh, I wanna be on the cover of Forbes magazine

Smiling next to Oprah and the Queen*

 

From : Lovely umma

Saengil chukaeyo uri Minho ya! Saranghae! Ayo jadi yang lebih baik! ^^

 

Aahh! Aku ketiduran, seperti biasa umma selalu jadi orang pertama yang mengucapkan. Segera saja aku menghubungi nomornya.

“Umma! Gomawo~.”

“Ya Minho! Kenapa jam segini belum tidur? Besok kan kamu ada kelas, tidur tidur!”

“Ummaaaa~.” Rengekku. “Aaahhh, Minho! Kamu itu udah 20 tahun, masa masih manja aja? Udah gih tidur, apa perlu umma suruh kakak mu datang ke sana?” ah umma! “Besok kelasku agak siang kok umma. Umma bogoshipoyo~.”

“Huh, kenapa tidak main di sini?”

“Aku sibuk umma, mianhae.”

“Ya sudah sekarang tidur, jangan biasakan tidur malam oke? Saranghae!”

“Em, nadoh.” Sambungan berakhir. Huufffttt.. sudah jam setengah satu tapi Hyeo So belum mengirim sms juga. Ayolah Hyeo So~, teman-temanku saja sudah mengirimkan sms kenapa kamu belum juga?

 

***

 

You are my angel, whisper softly

An affectionate whisper: “I love you everyday”

The sadness of only one

I pray that i won’t wake up from this dream

 

Aku mengerjap saat lagu Boys Like Girls – Love Drunk terputar dari ponselku yang aku letakkan di meja lampu. Hhhh.. selalu saja seperti ini, apakah mendengar Hyeo So bilang mencintaiku setiap hari hanya akan menjadi mimpi setiap harinya? Kenapa aku begitu menyedihkan?

Aku memandangi jam dindingku yang menunjukkan pukul 5 pagi selama beberapa menit lalu memulai aktifitas rutinku setiap pagi, jogging. Pagi ini jogging selama setengah jam saja rasanya seperti 3 jam, aku benar-benar ingin cepat-cepat ke kampus dan menemui Hyeo So di sana. Kenapa dia bisa-bisanya melupakan hari istimewa ini? Begitu jam di tanganku menunjukkan pukul 6 aku buru-buru kembali ke apartement, memasak sarapan, makan, mandi dan berangkat.

“Minho oppa!” aku menoleh dan mendapati Gu Hara berlari kecil menghampiriku. “Oppa saengil chukaeyo! Hari ini oppa ulang tahun kan? Selamat ya oppa!”

“Ne, gomawo yo Hara-ah.”

“Cheonmanyeo oppa! Sukses ya! Annyeong~!” hem, ku piker dia baru mulai kuliah tahun depan, kenapa sekarang sudah masuk? Sudahlah, sekarang yang terpenting adalah Hyeo So!

“Do Young! Liat Hyeo So?” Do Young menggeleng. “Biasanya sih dia dateng mepet atau gak nemuin dosen dulu.” Aku menghela nafas, berharap bisa bertemu Hyeo So secepatnya. “Oke, thanks ya!”

Aku benar-benar tidak konsen mendengarkan dosen menerangkan tentang ini itu, pikiranku sekarang benar-benar terfokus pada Hyeo So. Apa kalian pernah merasakan? Orang yang kalian harap memberi ucapan pertama kali malah melupakan hari penting kalian? Sangat frustasi, dan itu lah yang sedang aku rasakan sekarang.

“Woo Jin, liat Hyeo So?” tanyaku pada salah satu teman sekelas Hyeo So. “Gak masuk, katanya sakit. Tanya anak-anak aja deh, atau ke rumah nya aja. Eh iya, kamu ulang tahun kan? Saengil chukae!”

“Ah ne, gomawo!” sakit? Aduuuhhh Hyeo So kau membuatku semakin frustasi. Bagaimana kalau ternyata kau sakit saat jalan pulang dari rumah ku? Kenapa aku tidak mengantarmu saja kemarin?! Ah bodoh! Kaki ku masih terus melangkah menuju rumah Hyeo So yang berada di dekat jalan pusat Konkuk University yang ramai dengan penjual juga anak-anak kuliahan yang sangat fashionista berlalu lalang.

“Oh ahjuma? Hyeo So ada?” ucapku begitu wanita paruh baya –wanita yang merawat Hyeo So sejak kecil –membuka pintu.

“Hyeo So agassi? Tadi siang dia keluar, katanya mau ke rumah sakit. Tadi pagi sih memang wajahnya sangat pucat, terus tadi siang agassi memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.”

“Rumah sakit mana? Yang biasa?”

“Sepertinya iya, soalnya tadi agassi bilang sudah buat janji sama dokter nya.”

“Oke, gomawo!” aku buru-buru pergi menuju rumah sakit tempat dokter langganannya praktik. Rumah sakit besar yang berada di dekat apartemen ku.

“Suster!”

“Oh, Minho-ssi wae?” dengan nafas terengah aku menanyakan Hyeo So pada perawat yang sudah cukup kenal dengan kami berdua. “Tidak, tidak ada catatan Hyeo So ke sini. Dan dokter Kollen juga bilang Hyeo So tidak membuat janji dengannya.” Ah sial! Aku semakin frustasi, ini bukan bagian dari permainanmu kan tuhan?

“Maaf yah Minho aku tidak bisa membantu, tenang saja aku akan coba menghubunginya. Lebih baik kamu istirahat saja, oh ya kamu ulang tahun kan? Chukae yo Minho-ssi!”

“Ah ne, gomawoyo.” Sudahlah, mungkin Hyeo So memang sedang tidak ingin di ganggu. Aku berjalan dengan lesu, lalu mampir ke supermarket untuk membeli beberapa cemilan, setelah itu mampir ke toko perhiasan untuk mengambil cincin persahabatan untuku dan Hyeo So yang aku pesan beberapa minggu lalu.

Jam 10 malam, 2 jam lagi hari kelahiranku akan terlewatkan. Apakah kau benar-benar tidak akan mengucapkan selamat ulang tahun untukku Hyeo So? Aku akan sangat kecewa, andaikan kau tahu.

“SAENGIL CHUKAE MINHO!!”

Jeritan nyaring itu nyaris membuat seluruh belanjaanku terjatuh ke lantai, mataku benar-benar membulat dan berkaca-kaca sakarang!

“10000 W cepat!” Hey! Apa-apaan ini? Mereka berempat taruhan? Kenapa Jonghyun dan Onew memberikan uang pada Key dan Hyeo So?

“Minho, mianhae. Aku gak bermaksud bikin kamu frustasi, tapi ternyata bener kamu masih nganggep aku sahabat kamu. Gomawo, sekali lagi mianhae.” Hyeo So memelukku, percaya atau tidak tadi ini pertama kalinya ia memelukku. Merangkul berbeda dengan memeluk!

“Ya Minho! Kau ini! Tumben banget sih kamu frustasi cuma gara-gara Hyeo So gak ngucapin selamat ulang tahun?” bukan itu masalahnya Onew. “Iya! Kita kan jadi kalah taruhan kalau gini caranya! Aaahh kempes deh dompetku.” Aku memukul kepala Jonghyun. “Ya!”

“Minho, engh.. aku gak tahu ini menurut kamu berita bagus atau enggak tapi yang pasti sebelumnya aku mau minta maaf karena ngebohongin kamu.” Aku mengerutkan alis mendengar ucapan Hyeo So, sementara air muka Key berubah seperti orang yang sedang menahan malu. “Kamu inget kan yang aku certain kemarin itu? Itu emang bener aku suka sama…-“

“Eh iya Key! Mendingan kamu bilang ke Hyeo So sekarang!” potongku semangat. “Tunggu dulu Minho, ini yang mau aku bilang! Sebenernya, aku sama Key itu udah jadian dari tanggal 1 Desember kemarin.”

….

….

“W.wow! Wow! Whoa! Ya wow! Jadi?”

“Yaaaa pengakuan yang kemarin itu selain untuk mendukung taruhan kita berempat ini aku juga mau mastiin kamu akan ngedukung aku sama Key atau enggak.”

“Kalau enggak?”

“Aku sama Key akan tetep backstreet dari kamu.” Wow! Unbelieveble! “Kalian berdua?”

“Engh… kita juga udah tahu, justru pas moment pentingnya itu kita ada di situ.” Aku tidak percaya dengan jawaban Onew, parah! “Kenapa tidak terus terang saja?” tanyaku dingin. Kami terdiam, benar-benar sunyi selama beberapa saat.

 

I’ll be okay… i’ve always been like this.

Even being behind you, i’m still happy like this

Tears fall again, even at your jokes

Because i have to stay by your side with just a cold face

 

“Kalau gitu ayo kita pesta!!!” seruku riang, detik pertama mereka masih bingun dan sejurus kemudian mereka ikut bersorak riang. Aku bisa membaca gerak bibir Key yang mengucapkan kata “Gomawo” tanpa suara, lalu tersenyum penuh arti. “Minho! Aku masak loh! Kita makan-makan yuk sambil ngobrol! Semenjak kuliah jarang ngumpul.”

“Sip! Ayo ayo, pokoknya kita harus bergadang sampe besok pagi!”

 

I’ll be okay.. i’ve always been like this.

Even the brushing past of your hand makes me happy like this

Tears fall again, even at your playfulness

Because i have to stay by your side just as your most comfortable friend

 

Aku tahu begini lebih baik, melihatnya bersama Key sahabatku sejak 7 tahun lalu, orang yang bisa kupercaya dan ku andalkan untuk menjaga Hyeo So saat aku tidak di sampingnya. Cinta itu pasti saling memiliki, jika kita tidak berhasil memilikinya berarti dia bukan cinta kita. Dan memiliki bukan berarti menjadi pasangan hidupnya, terkadang menjadi sahabatnya justru memiliki dia seutuhnya. Perasaan ini, biarlah berjalan sesuai takdir. Persahabatanku dengan mereka terutama Hyeo So lebih penting untuk di jaga, di rawat dan di pertahankan.

I shouldn’t be thinking thoughts like this

I know the place that i should have

Now i’ll erase you who fills my mind

“Minho makan yang banyak ya.” Tidak, tidak apa-apa… aku baik-baik saja, walaupun air mataku mengalir, ini biasa terjadi tapi aku yakin kita akan baik-baik saja seperti ini. Walaupun hati ini sakit aku akan tetap baik-baik saja selama aku tetap melihat senyumu, berada di sisimu dan menjadi orang yang selalu kau cari dan kau butuhkan, menjadi sahabat terbaikmu dan menjadi milikmu seutuhnya. Forever, you’re still my angel.

 

Love me.. no, forget me.

Even being behind you, i’m still happy like this

Tears fall again, even at your jokes

Because i have to stay by your side just as your most comfortable friend

I just have to stay by your side.. next to you.. forever

 

END

 

P.S : SAENGIL CHUKAEYO MINHO-YA !!! SARANGHAE YEONGWONHI~😀

Oh yeah! God thanks! Finally , this very cheesy FF can finish on time. Berkat admin-admin kita yang sangat pintar ini.. euduuhh ya ampun! Aku harus ngejar bikin ini FF di sela-sela ujian ku *ngasah golok*, gara-gara katanya sebagai author tetap pertama wajib nyumbang FF. Alhasil, begini lah FF yang di tulis tanpa hati dan mood yang bagus. Euuuwww!!! So cheesy!!! Kacangan abis sumpah ini FF terabal dari semua FF abal yang pernah ku buat! Sangat tidak pantas di baca ToT

Aku stress nyari inspirasi sambil dengerin lagu Suju di album Sorry, Sorry dan lagu yang memberi inspirasi ya ini Angela! Akhirnya terbuatlah FF pas-pasan yang super maksa.. hahaha, Lana! Awas ya kalau lain kali ngumumin sesuatu mendadak, aku gigit nanti!  Kalau kalian mau muntah baca ni FF gak apa-apa kok, aku juga gak minat menangin lomba. Ini cuma sebagai bentuk pematuhan atas kewajiban dari founder kita yang menyebalkan itu *di gampar Lana pake bakiak (?)*

Oh ya, selain terinspirasi dari lagu Super Junior – Angela ini juga terinspirasi dari kisah nyata sahabatku🙂 . Bukan! Ini gak di angkat dari kisah nyata, cuma terinspirasi aja ^ ^

Sekian dan terima kasih deh, sekali lagi harap maklum yaaa~

FF Zika memang tidak pernah daebak.. huhuhu *ngepel lantai(?)*

©2010 Zika for FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

37 thoughts on “[FF PARTY] ANGEL

  1. Cpa blg ngga bAguz?
    Ini keren bgt lho, zika..
    Aq suka kesetiaan Minho di ceritamu ini..
    So sweE bgt..
    .
    Oh ia, slm knal.. ^^

  2. Cpa blg ngga bAguz?
    Ini keren bgt lho, zika..
    Aq suka kesetiaan Minho di ceritamu ini..
    So sweEt bgt..
    .
    Oh ia, slm knal.. ^^

  3. zika onn.
    daebakkbanget ff nyaa,, >.<
    kasiian Minhoo yaa.😦
    kukira akhirnya dengna Minho, eh tetep ama Key.
    wkwk, biasaya kan gitu akhir2 annya.

    pkoknya ff nyaa bagus banget.
    menyentuh.😀

  4. wuu .. Minhoo kasiaan T.T ..
    Apadeh si hyeo so always sma key ..
    Skali2 key buat aku kek #abaikan
    siapa bilang ff zikaeon gaperna daebak ?? Fitnah !!
    Eonni .. Terus skrg nasib minho gimana ?? Msa dy sad pas ultah sih ?? Ga tega T.T
    ffnya tetep daebak dimata aku xD

    eh eon .. Aku suka love drunk nyaa #gananya

  5. HUWAAAA!!! ini FF bikin saya merinding digiding digiding ding ding~!

    aaaaaaaa~ mino-ya, u make me cry, Zikauthor!😦

    NICE! annyeong ne~ hehe🙂

  6. Hadeh…
    kyknya emg tampang Minho ga ada ceria”nya
    *ngebayangin aslinya tiap thn dia merana pas ultah
    *plak..plok, dtampar bolak-balik

    Well, like this so much.
    ihh… authornya pesimis, pdhl FF author yg lain slalu bkin aku iri krn crita dan pmbawaannya yg DAEBAK bgt n__n

    Salam kenal ^^

  7. Zika onn…. kata siapa ini ff nggak daebak??
    puahh… aku suka banget ama cara penyampaian cerita zika onn….
    hehehehee ^^
    bener onn aku juga sependapat, kalo cinta itu bisa putus atau berubah…
    tapi kalo persahabatan kan selamanya…… *apa sih chi?* #abaikan
    keren kok onn ffnya,…. ^^

  8. huaaaaaaa minhooo T.T aq jg merasakan apa yg kmu rasain huhuhuh sedih bgt sihhhhhhhhhhh
    huhuhuhhuaaaaaa
    kerennnnnnnn😛

  9. zikaaaaaaa……. *sok akrab….*
    #abaikan…

    siapa bilang ini ga bagus???
    aku suka banget malah,,,,,
    kagum sama minho yang tetap setia menjaga persahabatan…
    hikz…
    daebak..

  10. minhoo… T.T
    kasian banget sih kamu
    cuma bisa ada disisi hyeo so sebagai sahabat aja

    tapi jadi sahabat malah biasanya lebih deket kan

    author jangan pesimis gitu dong
    siapa bilang ni ff kacangan
    orang bagus gini kok :3
    dan tetep di tunggu ni karyanya yang lain ^^

  11. semakin yakin kalo minho akan selalu ada utk hyeoso
    jd merinding tau pengorbanan minho gmn, sabaar ho!
    ini bagus kok😉

  12. Oh No….tidak…baru kali ini aku ngga ngeship(?) Keyeoso….

    Berada di posisi Minho itu ngenes banget… T^T
    AHHHHH Zika Eonnn ffmu itu terlalu romantis bahasanya…
    Aku suka banget sama ffmu eonnnn😄
    Feelnya dapet, sedih, romantis…huaaaaaa *berteriak tanpa suara*

    Aku telat banget ya baru baca Hm…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s