[FF PARTY] Brother & Sister

Brother & Sister

 

Title(*): BROTHER & SISTER

Author(*): imanonym

Main Cast(*) : Choi Minho & Chloe

Suport Cast(*) : SHINee

Genre(*) : Family

Type/Length(*) : Oneshot

Rating (*): General

Summary : Thanks for being my sister

Ket(*) : Mendaftar sebagai author tetap *PLAK*

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

~Chloe Pov~

November, 2006

 

Boleh aku memperkenalkan diri? Oke~

Annyeong! Choi Chloe imnida, 15. Dari namaku kalian sudah tahu pasti kalau aku bukan orang Korea asli? Ne, my mom’s American and I was born in New Jersey, live in New York for 4 years and then move to Korea until 9, moves back to NYC until 13 and moves again to Korea –Incheon. mom is good in Hangeul, she speak fluently just in 3 month. Me? Of course I’m fluent in Korean!

Aku punya kakak laki-laki, namanya Choi Minho. Mungkin aku bukan adik baginya tapi ia seorang kakak bagiku, “aku sayang padanya” begitu anggapanku. Kami sekolah di sekolah yang sama, di daerah Incheon, aku sangat senang walaupun ia tidak. Gwenchana~ ^-^

 

“Chlo baby, hurry and get your breakfast! Minho sebentar lagi berangkat, kamu mau berangkat sendirian?” Aku berlari menuruni tangga lalu menyambar sandwich yang ada di meja. “Appa gak nganterin aku?”

“Nope, appa mu ada rapat penting pagi ini jadi berangkat duluan.” Jawab mom lalu mengelus-elus kepalaku. “Minho your lunch!” seru mom begitu oppa ku keluar dari kamarnya. “Thanks.” Ucap Minho oppa. “Berangkat bareng Chloe ya! Get your hurry Chlo!” seru mom lalu mendorongku. Aku mengambil sepatu di rak sedangkan Minho oppa sudah selesai mengikat tali sepatunya. “Pagi oppa!” sapa ku riang.

“Basi.” Balasnya dingin lalu membuka pintu, gwenchana. “Oppa tunggu!!” seru ku lalu menyusulnya. Wooowww bus pagi ini penuh, sepertinya aku harus sarapan di kelas. Aku menyusup masuk ke dalam bus sambil berlindung di balik tubuh jangkung oppa ku. “Oppa, besok aku ujian tertulis perlajaran olahraga nih.” Ucapku dengan tatapan penuh harapan. Hingga 5 menit berikutnya aku masih tidak terlihat, Minho oppa bahkan tidak melirikku.. hhh.. gwenchana.

Dan pagi ini berlalu seperti pagi biasanya jika aku berangkat bersama Minho oppa, kami –lebih tepatnya oppa –akan berdiam diri menatap jalanan atau mendengarkan lagu –jika bus tidak penuh biasanya kami membaca buku.

 

“Chlo, udah sarapan?” Sapa Eun Hwa –ketua kelas –begitu aku masuk ke kelas. “Not yet, ini baru aja mau makan. Eun Hwa sudah sarapan? Makan bareng yuk, sandwich nya kita bagi dua.” Eun Hwa menggeleng sambil tersenyum. “Chlo makan aja, jangan lupa minum susu.” Ya ampun! Aku lupa minum susu! “Aku beliin susu di kantin ya?”

“No no no! No thanks, aku gak mau merepotkan Eun Hwa.” Tolak ku cepat, ketua kelas yang satu ini benar-benar orang yang paling baik di angkatan kami. Sangat ramah, pengertian dan perhatian terutama pada cewek, istilahnya Eun Hwa itu cowok gentle!  “Gak apa-apa, sekalian aku juga mau beli susu. Tunggu ya, nanti aku balik lagi kok.” Aku mangut-mangut, akhirnya menerima. Selagi menunggu Eun Hwa aku mulai memakan sandwich ku.

“Chlo, Chlo!” aku menoleh. “Ya?” Khania memberikan selembar kertas poster padaku. “Ada academy casting dari SM Entertaiment! Itu entertaimen bagus loh! Kamu kan blaster, barangkali bakalan di terima sama pihak SM.” Aku berfikir sejenak lalu langsung tersenyum. “Makasih banyak ya Khan.”

“Cheonmanyeo, semoga sukses ya!”

“Pokoknya kalau sukses kamu akan jadi tim suksesnya. Kamu gak apply casting ini?” Khan menggeleng yakin. “Enggak deh, aku masih belum siap di kejar wartawan. Kalau aku ikut academy ini kasian yang lain ketendang semua, kalah sama aku hahaha.” Aku tersenyum memamerkan gigi atas ku yang di kawat. Rencananya tahun depan kawat ini sudah bisa di lepas, yeiy! “Udah sarapan Chlo?” aku mengangguk, Khan tersenyum lalu menepuk-nepuk kepalaku pelan. “Hari ini harus sehat ya!” aku tersenyum. Ok, ok, sepertinya murid-murid di kelas ini semakin lama semakin memperlakukanku seperti magnae. Rasanya seperti mempunyai banyak kakak, hahaha…. Tapi dengan adanya mereka aku merasa jadi lebih bahagia.

 

***

 

Aku membaca semua persyaratannya dengan seksama, beberapa menit kemudian aku mulai mengisi formulirnya. Pemberitahuan akan di kirim tanggal 8 December, pasti bisa manjadi kado terhebat. Masih jam 4, Minho oppa belum pulang jadi aku nekat masuk ke dalam kamarnya dan mencari beberapa lembar foto miliknya.

“Chlo mandi!!” haaaahhhh, mom ini mengganggu saja sih! Dengan malas aku keluar dari kamar Minho oppa dengan beberapa lembar fotonya, menaruhnya di kamarku lalu beranjak mandi. Seusai mandi sih rencananya aku mau menyelesaikan formulirnya tapi lagi-lagi mom mengganggu, kali ini ia menyuruhku untuk makan malam. “Mom, liat blazer pagelaran ku?” tanya ku di sela-sela makan malam. “Blazer pagelaran? What it looks like?” aku menelan makanan di mulutku sebelum menjawab. “Ya seperti normalnya blazer lah, warna biru awan ada name tag sekolahku kok.”

“Oh yang itu! Yang ada lis warna kuning sama putihnya ya?” aku langsung menjentikan jari. “Ada di lemari kakakmu, berarti mom salah masukin ya. Mian mian.”

“It’s okay, aku yang akan ambil blazernya. Di lemari seragam oppa kan?” mom mengangguk. Selesai! Sekarang aku harus menyelesaikan formulirnya dulu supaya besok bisa langsung ku kirim ke SME. Diam-diam aku mengambil akta kelahiran Minho oppa, dan beberapa sertifikat penghargaan miliknya lalu mengcopy semua data yang di butuh kan di ruang kerja appa.

“Selesai!” seru ku puas, foto sudah di tempel, berkas sudah lengkap, form sudah terisi semua, formulir sudah di balut rapih di dalam amplop, tinggal mengirimkan semua ini ke alamat SME. Ah iya! Blazer ku!

Cepat-cepat aku berjalan menuju kamar Minho oppa, semoga saja ia belum pulang. Perlahan aku membuka pintu kamarnya, fiiuuuhhh.. belum pulang ternyata. Heemm mana yah yang lemari seragam? Yang itu atau itu, ah! Pasti yang coklat.

“Agh!” pekikku sambil meringis menahan sakit begitu pergelangan tangan kananku di cengkram kuat lalu di tarik dengan kasar, membuat tubuhku sedikit terhuyung. “O-op-oppa, aku…-“ tuhan, rasanya leherku seperti sedang di cekik jika melihat tatapan mata Minho oppa yang penuh amarah itu. “Keluar.” Bisiknya dengan nada tajam. “T-tapi…-“

“KELUAR!” bentaknya lalu melemparkan tubuhku keluar dari kamarnya, lalu membanting pintu. “Agh!” aku meringis, siku ku tadi membentur tembok sakit sekali. Hhh.. hhh.. hhh.. ah tidak! Hhh… “Hey, what’s wrong? Chlo? Minho? Are you okay?” tanya mom khawatir dari depan pintu kamarnya. “Hhh… hhh… Gwenchana!” sudahlah, besok-besok saja aku ambil blazernya. Hhhh… hhh… Tenang Chloe! Kau baik-baik saja! Tenang… hhhh… Tenang!

 

***

 

Kata Khan aku harus membuka website SM untuk mengetahui berita-berita terbarunya atau event event yang akan mereka buat dalam waktu dekat ini. Sejak tadi aku berusaha mencari-cari informasi tapi aku tidak mengerti caranya… aaaahhhh… kenapa tidak tersedia dengan bahasa inggris saja sih?

“YA MINHO!” aku menoleh kaget begitu mendengar bentakan lantang appa. “Kau ini mau jadi berandalan hah?!” sembur appa. Ada apa sih? Oppa melakukan kesalahan apa? “Liat ini jam berapa?! Dan apa-apaan kamu ini pulang-pulang babak belur?!” Hah? Minho oppa berkelahi?

“Aku capek.”

“Ya! Di mana sopan santun mu?! Appa mu ini sedang bicara! Berdiri di sini! Malam-malam malah cari gara-gara!”

“Udah malem kan? Ya udah ngapain pake teriak-teriak, santai aja bisa kali.”

“MINHO! Memang benar kamu ini harus masuk ke asramah! Bocah ingusan macem kamu gak usah lah sok-sok jagoan berantem. Mau jadi pahlawan kesiangan? Iya hah?! Berani-beraninya kamu membangkang. Kamu pikir kamu udah hebat sekarang? !”

“Appa appa, tadi pas jalan pulang aku di gangguin sama anak-anak SMA berandalan. Nah Minho oppa yang nolongin aku makanya muka Minho oppa lebam-lebam. But I swear, Minho oppa gak minat berantem Minho oppa cuma mau nolong aku. Habis itu tadi katanya mau minta obat di rumah temennya dulu terus aku di suruh pulang duluan.” Appa mengertukan alisnya sangat dalam. “I’m serious, you trust me, don’t you?”

“Alasan di terima, kamu jaminannya Chloe.” Aku memeluk appa. “Gomawo!” aku menoleh pada Minho oppa dan tersenyum padanya, dan ia membalas dengan senyuman jijik. Ya ampuuunn.. oppa ku ini, kenapa tetap terlihat imut walaupun babak belur sih?

 

~ ~ ~

 

Aku membuka pintu kamar Minho oppa secara perlahan dengan tangan kiriku yang kosong –tangan kananku menenteng kotak obat-. Ya ampun, lebamnya cukup parah ternyata. Apa tidak apa-apa kalau aku mengobatinya? Niatku kan baik, semoga oppa mengerti.

Aku membersihkan wajah Minho oppa dengan hati-hati, menghindari oppa terbangun. Begitu aku mengoleskan obat memar Minho oppa ku langsung meringis, aaahhh aku tidak tega. Kenapa oppa harus berkelahi begini sih? Bagaimana kalau oppa kenapa-kenapa?

“Clow.” Aku tersentak kaget begitu mendengar Minho oppa menyebut namaku, dengan buru-buru dan perasaan takut aku membereskan kotak obat hendak pergi dari kamar Minho oppa sebelum akhirnya ia terbangun. “Clow.” Aku menoleh, tidak, oppa ku tidak terbangun matanya mengatup rapat. Tiba-tiba saja cairan bening mengalir menuruni pelipisnya. “Oppa~.” Kenapa oppa selalu bersikap kasar padaku semenjak kita pindah ke rumah ini? Kenapa oppa selalu pura-pura tegar? Walaupun aku cuma adikmu, anak kecil yang tidak mengerti tentang hidup. Tapi aku berharap oppa mau datang padaku saat ada masalah, sekedar untuk berbagi. Jika orang bertanya apa impianku, maka impianku cuma ada satu. Merasakan menjadi seorang adik yang Minho oppa butuhkan dan merasakan rasanya memiliki seorang kakak yang selalu menjadi bahu untukku. Aku yakin suatu saat nanti aku akan merasakaannya, maka aku akan bertahan hingga hari itu tiba.

 

***

 

December, 2006

 

Iyaiiyy!!! Suratnya datang!! Oppa kau pasti senang! Aku tidak sabar melihatmu di TV, pasti oppa akan terlihat semakin tampan nanti. Setengah berlari aku masuk dengan senyum riang mengembang di bibirku. Kini hidupku semakin penuh dengan harapan, alangkah senangnya aku nanti begitu melihat Minho oppa menyebutkan namaku di depan semua orang sebagai orang yang membuatnya menjadi artis.

“ANAK TIDAK TAU MALU!”

“Aku bersumpah aku tid…-“ mataku reflek memejam saat tangan appa menampar pipi oppa. “OKE! TERSERAH! Tuduh aku terus! Aku memang manusia biadap! Makhluk tuhan yang seharusnya tidak pernah lahir ke dunia! Dan asal anda tahu, SAYA SANGAT JIJIK DENGAN DARAH ANDA YANG MENGALIR DALAM DIRI SAYA DAN SAYA SANGAT TIDAK SUDI MENJADI BAGIAN DARI KELUARGA BUSUK SEPERTI INI!” Aku menangis, ya aku menangis mendengar kalimat Minho oppa barusan. Ini jauh lebih menyakitkan jika di bandingkan dengan seluruh perlakuannya terhadapku selama ini. “BRENGSEK KAU MINHO!”

Minho oppa berjalan dengan penuh amarah, menaiki tangga dengan kasar lalu membanting pintu kamarnya.

“Kenapa kamu sangat kasar pada Minho? Aku yakin dia tidak salah!” cercah mom, lalu memukul pundak appa. “Biar saja! Aku malu memiliki anak seperti dia!”

“Appa…” ucapku lirih, appa menoleh dan terkejut melihatku yang menangis. Tanpa perduli dengan panggilan mereka aku berlari menaiki tangga. “Oppa.” Panggilku. “Diam!” serunya dari dalam kamar. “Oppa! Oppa tidak akan pergi kan? Oppa pasti tetep di sini kan?” masih tidak ada jawaban. Hhhh…. Hhhhh… oh tidak! Jangan sekarang… hhhh.. tuhan ku mohon jangan sekarang! Hhhh…

Aku terus memeganggi dadaku, tanpa berpikir panjang lagi aku berlari masuk ke dalam kamar, membanting celenganku, memasukkan seluruh isinya kedalam sebuah amplop.

Tuhan, jika memang Minho oppa benar-benar ingin pergi dari rumah ini maka lindungilah kakak ku satu-satunya itu tuhan. Sukseskanlah ia tuhan, dengarlah doaku. Aku meletakkan dua buah amplop di sela-sela pintu kamarnya. Dengan harapan penuh ia akan mengambil amplop tersebut dan membawa bersamanya.

 

***

December, 2010

 

“Chlo, kamu serius mau pergi sekarang? Tapi keadaan kamu…-“

“Everything’s gonna be okay mom.” Ucapku menenangkan mom. “Yang penting jangan makan sembarangan, 4 tahun itu gak sebentar. Jangan sia-siakan pengorbanan kita semua selama 4 tahun ini.” Aku mengangguk, appa kau selalu mengerti ^^. “Chlo, you’ll come back soon right?” aku tersenyum. “As soon as possible mom. Kalian juga jaga diri baik-baik di sini oke? Ok?” keduanya mengangguk. “Jangan lupa bawa baju hangat, di sana turun salju sekarang.” Aku mengacungkan jempolku.

“Ok! Hati-hati di jalan ya honey.” Aku mengiyakan permintaan mom, lalu bertatapan dengan appa ku. “Andai aku bisa memutar waktu.” Aaahh aku jadi ingin menangis. “Gwenchana appa, ini bukan salahmu.” Aku memeluk appaku. “Sampaikan salamku dan permintaan maaf ku. Dan ingat minum air mineral yang banyak, istirahat yang cukup dan makan buah.”

“Ne appa! Saranghae! Bye-bye semua!” aku segera ke garasi dan masuk ke dalam mobilku. Bulan Desember, bulan favorite ku apalagi saat salju turun –di Korea –tapi bulan ini juga selalu membuatku menangis. Dan hari ini –tahun ini tepatnya, aku berharap aku tidak akan menangis lagi. Aku sudah memutuskan untuk menjadi Chloe yang baru semenjak aku masuk ke kuliah.

Satu bulan semenjak oppa ku pergi meninggalkan rumah dan benar-benar tidak kembali, kami sekeluarga pindah ke New Zeland –negara indah yang selalu membuatku hangat di bulan Desember ketika aku mulai menangisi oppaku –dan membuka lembaran baru meskipun Minho oppa tetap tidak bisa kami lupakan. Setiap tahun kami merayakan ulang tahunnya meskipun tidak ada Minho oppa. Karena ia dan mimpiku lah aku masih bertahan hingga saat ini.

Aku sempat mencari tahu tentang oppa ku melalui internet beberapa bulan ketika tiba di New Zeland, tapi tidak ada kabar. Dan sekitar 2 tahun kemudian Khan bilang SME mengeluarkan boyband baru dan salah satu membernya bernama Choi Minho. Dan saat itu semangat hidupku meningkat, nilai-nilaiku naik perlahan. Aku sering menanyakan apakah oppa pernah menyebutkan adik perempuannya di TV, dan kata Khan “Oppa mu mengaku ia anak terakhir, dan hanya punya satu kakak laki-laki.” Awalnya aku kecewa, tapi aku ingat kalau ia memang punya kakak ‘kandung’ terang saja ia hanya mengakui kakaknya. Kakaknya tinggal di rumah neneknya, jadi aku hanya sekedar kenal saja.

Tapi kemudian aku tahu, aku tidak bisa terus menerus menggantungkan tujuan hidup ku pada Minho oppa, aku harus belajar untuk berdiri sendiri dan untuk itulah sekarang aku kembali ke Korea, mengunjungi rumah ku di Incheon. Aku ingin melepas semuanya, melupakan semua perlakuan kasar, tatapan dingin dan kebencian Minho oppa padaku. Aku tahu aku bisa bangkit dan tetap menjalani hidup, mungkin aku akan menikmati musim salju sebentar di Korea. Habisnya sudah 4 tahun aku menghabiskan bulan Desember tanpa salju.

Korea –Incheon maksudku, I’m coming! ^o^

 

@_@

 

~Minho Pov~

 

“Hyung kenapa gak ngerayain sama kita-kita aja?”

“Minho mau ngelepas masa lalunya, udah lah kan cuma tahun ini aja Minho ngerayain ultahnya sendirian. Jadi kamu mau berangkat kapan Ho?” Aku menoleh pada Onew hyung. “Besok, mungkin. Tanggal 7.” Entahlah, aku masih tidak tahu apakah aku benar-benar bisa melepaskan semuanya tahun ini. Seluruh perasaan bersalahku, amarahku, rasa kecewaku dan rasa terima kasih yang bernaung nyaris 4 tahun di hatiku.

1 tahun pertama di training aku habiskan dengan penuh rasa benci terhadap keliarga ayahku itu, tapi tahun kedua aku mulai merasa ada yang kurang, tahun ketiga aku benar-benar merasa kosong hingga SHINee –group garapan SME di tahun 2008 –di bentuk. Mereka mengisi kekosongan itu meskipun tetap ada sebuah ruang yang tidak  akan pernah bisa di isi oleh siapapun kecuali dia. Gadis yang aku cintai sejak 6 tahun yang lalu, aku menyayanginya, aku ingin ia menjadi pendampingku, tapi dua tahun kemudian aku sangat membencinya. Aku benci melihatnya di manja, aku benci melihatnya tersenyum padaku, aku benci melihat kegigihannya, aku benci setiap kali ia membelaku, aku benci setiap kali ia merawatku dengan penuh kasih sayang, aku benci matanya yang tidak pernah mengeluarkan air mata, aku benci pada diriku sendiri saat aku marah padanya, aku benci mendengarnya memanggilku dengan panggilan… oppa, dan aku benci saat ia meninggalkanku. Dan seiring berjalannya waktu sifat burukku membaik, bahkan aku menjadi image yang sangat baik di mata orang-orang.

“Aku nanti ikut boleh yah?” aku mengangkat bahu. Heemm ada bagusnya juga sih kalau Jonghyun hyung ikut. “Serius, boleh apa enggak? Kalau boleh aku minta izin ke hyung nih.” Aku mengangguk. “Good! Kita belanja makanan yuk!” Hhhh… laki-laki satu ini. “Besok aja.”

“Emang besok berangkat jam berapa?” aku melirik tiket jihacheol (subway) di dekat buku ku. “Pagi sih.” Ucapku lalu menggaruk kepala. “Ya udah! Kita belanjanya sekarang! Terus perjalanannya juga lumayan lah, belum lagi dari stasiun ke rumah mu.”

“Iya iya~.”

 

***

 

“Hah? Kok kosong?” tanya Jonghyun hyung begitu aku membuka pintu. “Kapan kamu terakhir ke sini?” aku berusaha mengingat. “5 hari setelah debut hyung.” Jawabku lalu meletakkan tas di atas sofa yang di tutupi kain putih. “Ya ampun, jadi appa sama umma tiri kamu itu pada pindah dari rumah ini tanpa bilang ke kamu gitu?”

“Engh… gak gitu juga sih hyung. Yah pokoknya gitu deh, ceritanya panjang.”

“Wow! Aku baru sadar! Rumah kalian deket pantai! Keren, asik amat. Eh tunggu! Ini pantai yang di pake syuting sama Gkotboda Namja (Boys Before Flower) kan?”

“Iya kali.”

“Ayo ke pantai!” Jonghyun hyung langsung menarikku keluar. “Aduh hyung, ngapain dingin-dingin keluar?” Aduuhh hyung ini kenapa seperti anak kecil sih?!

 

~ ~ ~

 

“MINHO!!!” aku tersentak dan buru-buru berlari ke sumber suara. “Wae hyung?” tanyaku khawatir. “Itu lihat!” alisku langsung berkerut saat mendapati seorang gadis terbaring tidak sadarkan diri di lantai kamar mandi dekat westafel, di sekitar mulutnya ada percikan darah. “Sekarang kita harus ngapain?” aku memutar otak. “Angkat aja, pindahin ke kamar dulu.”

“Ngh… kalau gitu aku beresik kasurnya dulu, kamu kan kuat jadi kamu aja yang gendong dia ke kamar.” Aku memutar bola mata. “Cepetan!” tanpa bicara lagi Jonghyun hyung berlari menuju bekas kamarku dan merapihkan kasurku. Ya ampun! Ini manusia atau kertas? Bahkan lebih kurus dari pada Taemin, apa penyakitnya sudah sangat parah?

“Perlu panggil dokter gak Ho?”

“Engh.. perlu deh.” Jonghyun hyung buru-buru menelpon rumah sakit terdekat sedangkan aku melepas sepatu dan mantel gadis ini. Kapan dia masuk ke rumah ini? “Kamu mau makan apa Ho?”

“Hah?”

“Mau pilih apa? Cepetan!”

“Loh? Hyung gak nelpon rumah sakit?”

“Bentar dulu, aku laper nih. Kita pesen makan dulu.”

Bagus! =.=”

 

~^-^~

 

“Obat!” suara serak tersebut langsung membuat Minho membuka matanya. Gadis yang kemarin ia angkat dari kamar mandi kini sedang meraba-raba meja dengan tangannya, wajahnya sangat pucat dan terlihat benar-benar lemas. Buru-buru Minho bangkit dan mengambilkan obat untuknya. “Gomawo. Anda siapa?” Ucapnya dengan suara parau. “Harusnya saya yang bertanya, anda siapa? Saya pemilik rumah ini, kemarin tiba-tiba saja saya menemukan anda pingsan di kamar mandi.”

“Benarkah?” kali ini suaranya seperti berbisik. “Sudah anda istirahat saja dulu, kalau butuh sesuatu saya duduk di situ. Siapa nama anda?” tanya Minho ramah. “Shontelle, panggil Elle cukup.”

“Baiklah, silahkan beristirahat. Saya akan keluar sebentar.” Minho berjalan keluar kamar lalu menutup pintunya. “Shontelle? Tidak asing.” Ujar Minho. “Gimana Ho? Masih belum bangun juga tuh cewek?” Minho mengangguk. “Udah, nama dia Shontelle.”

“Shontelle? Lucu aja namanya.” Ucap Jonghyun lalu kembali menyantap ramennya. “Oh ya, kamu jadi bikin surat pesen?” Minho mengangguk. “Sebagai formalitas aku akan ngelupain rumah ini dan segala isinya. Gak perduli ada yang baca apa enggak.” Jonghyun manggut-manggut. “Terus kamu taruh di mana suratnya nanti?” Minho menganggkat bahu. “Paling di atas, soalnya aku mau nulisnya di lantai dua. Aku naik ya!” Jonghyun mengangkat jempolnya.

Minho memandangi foto adiknya yang masih terpajang di kamar Chloe. “Clow, aku berharap bisa menebus semua kesalahaan aku sama kamu. Dengan cara apapun, dan aku berharap aku bisa mewujudkan impian kamu. Walaupun cuma sehari, aku mau kamu pada akhirnya bisa ngerasain punya kakak dan menjadi adik dari Choi Minho. Aku tahu mimpi kamu itu, tapi aku selalu pura-pura gak perduli.” Minho menghela nafas panjang lalu mulai menulis di atas secarik kertas.

“Ho! Makan!” berhubung perutnya juga sudah menjerit minta makan akhirnya ia meletakkan dulu kertasnya lalu turun ke bawah. “Elle yang masak loh ho!” ucap Jonghyun semangat. “Elle? Masak?” Jonghyun mengangguk. “Tadi dia keluar dari kamar gak lama kamu naik, terus kita ngobrol sebentar. Habis itu dia masak deh.”

“Ayo makan!” ucap seorang gadis sambil meletakan piring berisi ayam asam manis. “Kamu, udah sehat?” tanya Minho ragu-ragu. “Aku cuma butuh istirahat 1 hari aja kok, ini udah biasa. Dan kayaknya aku emang salah masuk rumah, soalnya kalau malem-malem aku sering ling-lung. Udah makan aja dulu.” Ketiganyapun mulai makan, Jonghyun dan Elle terlihat sangat akrab sedangkan Minho makan dalam diam. Ia teringat semenjak ia tinggal di rumah ini belum pernah sekalipun ia makan di meja makan ini bersama ayah, ibu dan adiknya. Chloe yang selalu berbaik hati membawakan makanan ke kamar Minho.

“Ho, kita kapan balik ke Seoul?” Minho menghentikan makannya. “Besok pagi.” Jawab Minho singkat. “Kalau gitu aku pergi malem ini deh.” Ucap Elle kemudian. “Tinggal di sini aja, lagian rumah ini udah gak ke pake kok. Anggep aja rumah sendiri.”

“Tapi…-“

“Udah santai aja, yang punya rumah aja santai.”

“Gomawo ya. Maaf jadi ngerepotin kalian.” Minho hanya berdehem mengiyakan.

 

***

 

~Chloe Pov~

 

Tanggal 9 Desember. Oppa pasti sekarang sedang merayakan ulang tahun dengan teman-teman satu group oppa. Apa di Seoul hujan salju? Aku harap tidak, agar oppa bisa menikmati hari ulang tahun oppa dengan penuh kegembiraan.

Aku membuka pintu kamar ku. 4 tahun sudah aku tidak pernah berkunjung ke rumah ini, aku sangat merindukan kamar ini. Tempatku menangis saat semua rasa sakit di tubuhku menyerang, tempatku memikirkan Minho oppa, apa oppa masih ingat dengan rumah ini? Aku harap iya. Eh? Ini apa? Aku berjongkok untuk mengambil secarik kertas yang tadi ku injak.

 

Tepat tanggal 8 –hari ini- aku akan mengakhiri semua ini. Kenangan buruk maupun kenangan indah ku di tempat ini, aku akan melupakannya. Dan di tahun 2011 nanti aku akan menjadi Choi Minho yang baru. Bukan lagi Choi Minho yang selalu memendam kesedihan, amarah, kenangan buruk, rasa bersalah dan kebencian. Aku akan membuka lembaran baru, entah ia mengingatku dan mimpinya atau tidak. Tapi aku berjanji setelah aku mengakui di depan public dan mewujudkan mimpinya aku benar-benar akan melupakan semuanya. Aku hanya berharap bisa meminta maaf padanya, aku tahu aku salah, aku menyesal atas

 

Tunggu! Tanggal 8? Itu kemarin kan? Tidak!

“OPPA!!!” jeritku lalu mulai berlari keluar dari kamar, menuruni tangga dengan buru-buru, dan keluar dari rumah tanpa perduli udara dingin yang berhembus. “Oppa!!! Minho oppa!!” aku terus berlari menuju halte yang berada 1 km dari rumahku sambil berteriak memanggil namanya. Kumohon tuhan! Biarkan aku bertemu dengannya untuk terakhir kalinya! Kenapa aku begitu bodoh tidak menyadari bahwa Minho teman Jonghyun oppa adalah Minho oppa ku, kakak yang paling aku sayangi di dunia ini, sebuah alasan mengapa aku masih bertahan hidup hingga detik ini. Tuhan ku mohon!

“Tidak! Tidak! Tunggu!!!! Tunggu!!!!” Tuhaaaaaaaannn!!! Tidak! Jangan! Biarkan bus nya berhenti! Aku harus bertemu dengan Minho oppa ku sekarang tuhan! Tidaaakk.. Minho oppa!!!

“Ya! Kamu ini ngapain sih?!” aku menoleh terkejut. “Minho, hhh… mana? Udah ketemu belum.. hhh…?” wajahnya, hidungnya, kenapa bisa berubah secepat ini? Bagaimana bisa Minho oppa ku yang imut menjadi sangat tampan begini? Aku merindukannya, benarkah ini Minho oppa ku yang dulu pergi? Terima kasih tuhan!

“Elle, ayo bangun. Kita masuk ke rumah, di sini dingin.” Jonghyun oppa membantu ku berdiri, Minho oppa… ia masih sama seperti dulu meskipun ia tidak tahu ini Chloe. “Kamu ngapain lari keluar tba-tiba? Kita kira tadi kamu kenapa ngejerti, pas kita lari masuk ke dalam kamu gak ada.” Ucap Jonghyun oppa sambil menuntunku berjalan. Entah kenapa aku tidak bisa mengucapkan apa-apa, entah karena terlalu senang atau lebih karena takut menerima kenyataan kalau Minho oppa tetap membenciku hingga saat ini.

“Duduk, aku bikinin kamu hot chocolate dulu.” Jonghyun oppa membantuku duduk sedangkan Minho oppa malah berjalan menuju pantai. “Gomawo.” Ucapku lirih. “Kamu itu sebenernya kenapa ngejerit? Kita sampe kaget tadi.” Tutur Jonghyun oppa dari dapur. “Kalian berdua kok belum pulang?” tanyaku. “Nanti jam 10, jadi tadi kita iseng-iseng ke pantai dulu.” Jam 10? Jadi kesempatanku hanya sedikit! Aku kembali berlari, tapi kali ini ke arah pantai mengejar Minho oppa yang berjalan mendekati tepi pantai.

“Apa oppa gak inget sama aku?” tanyaku begitu jarak kami hanya beberapa meter, langkahnya terhenti. “Aku Chloe.” Kali ini ia berbalik dan menatapku dengan tatapan ingin tahu. “Nama panjangku Chloe Shontelle, semenjak sekeluarga sama oppa namaku jadi Choi Chloe.” Ayolah tuhan.. jangan sampai hari ini ia tetap membenciku.

“Oppa?” aku tersentak saat Minho oppa tiba-tiba memelukku. “Mianhae.” Air mataku mengalir, ini benar-benar pertama kalinya bagiku, di peluk oleh Minho oppa dan mendengarnya meminta maaf. “Sejak kapan kamu ngidap kanker paru-paru?!” ia melepas pelukannya dan langsung mencengkram bahuku kuat-kuat. “Se-sebelas tahun.”

“Damn!” ia menendang pasir. “Pantes aja semua orang seolah manjain kamu! Minho tolol! Kenapa gak ada yang ngasih tahu ke aku?!” aku menunduk, tidak berani melihat wajahnya. “Kar-karna ak-aku gak mau oppa ngasihanin aku.”

“Damn, Clow! Itu bukan masalah di kasihanin atau enggak! Tapi ini…agh!” ia kembali memelukku tapi kali ini lebih erat, sangat! “Dan sekarang kamu bikin aku merasa penuh dosa. 2 tahun aku selalu kasar sama kamu dan selama 4 tahun ini aku benci kamu padahal kamu gak ada salah. Aku… aku cuma terlalu marah karena kamu jadi bagian dari keluargaku bukan sebagai istriku tapi sebagai adikku!” Hah?! “Dan sekarang aku nyesel kenapa aku gak bisa ngerawat kamu dengan baik. Seharusnya aku bisa bersyukur punya adik kayak kamu kalau aja semuanay jelas.”

“Sekarang kasih tahu apa yang bisa aku lakuin untuk nebus semua kesalahanku?” ia kembali melepas pelukannya dan menatapku lekat-lekat. “Aku udah maafin semua kesalahan oppa sebelum oppa minta maaf kok. Aku cuma berharap…-“ Tidak! Apa yang oppa lakukan??!! Kenapa menciumku? Aku cuma adikmu! Tuhan!

“Aku bakal bilang ke semua orang kalau aku punya adik perempuan yang bernama Chloe. Dan aku akan mewujudkan mimpi kamu dari dulu, aku akan jadi kakak yang baik buat kamu. Asalkan kamu janji untuk tetep bertahan.” Aku mengangguk semangat. “Oh ya, saengil chugae oppa!”

“Gomawo~.”

 

~ ~ ~

 

Dan Minho oppa benar-benar menepati janjinya. Aku ikut dengannya ke Seoul selama beberapa hari, kami sering jalan-jalan berdua. Aku benar-benar menikmati saat-saat itu, aku bersyukur karena pada akhirnya semua mimpiku bisa terwujud. Saat acara talk show dan pembawa acaranya bertanya tentang seorang gadis yang belakangan ini jalan dengan Minho oppa, ia mengakui kalau itu aku. Adik tirinya yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri. Dan ternyata Minho oppa benar-benar sosok kakak yang baik, aku tidak menyesal bertahan hidup untuknya.

 

***

 

~Minho Pov~

December, 2011

 

“Saengil chuga Onew hyung, sekarang kau sudah makin tua. Hahaha.”

“Ya! Minho, kau juga sudah tua!” kilah Onew hyung. “Ho jadi kan? Jam berapa?” tanya Jonghyun hyung. “Jadi, sekarang aja yuk. Takutnya nanti kalau kesorean hujan.”

“Hyung aku ikut!” pinta Taemin. “Taem berangkat sama aku sama Onew hyung aja ya.” Ucap Key. “Emang Key umma tahu di mana tempatnya?” Key mengangguk. “Ya udah, kita berdua duluan ya!” Hhhh… aku tidak menyangka sudah satu tahun semenjak hari itu. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Elle itu adaah Clow, ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik meskipun kanker paru-paru membuatnya semakin kurus. Tapi ia tahu bagaimana cara mengimbangi dirinya.

Aku menyuruhnya agar rambut panjangnya di potong pendek sehingga lebih bervolume dan ternyata benar. Ia tetap manis biar bagaimanapun jenis rambutnya, dan Jonghyun hyung adalah orang yang paling semangat setiap kali membicarakan Clow ku. Aku baru tahu kalau ternyata Jonghyun hyung juga menganggapnya sebagai adik perempuannya.

“Sampai!” kami turun dari mobil dan berjalan mendekati rumah Clow. “Clow apa kabar? Ini kami membawakan bunga.” Ucap Jonghyun hyung lalu meletakan seikat bunga tersebut di atas makan Clow ku.

Clow, terima kasih karena kau sudah mau bertahan selama 7 hari setelah pertemuan kita. Terima kasih karena sudah mau menyayangiku selama 7 tahun, dan terima kasih banyak karena mau menjadikanku sebagai alasan untukmu bertahan hidup. Maaf karena selalu membuatmu menangis, aku akan menebusnya sesuai permintaanmu. Maaf juga karena selama ini aku selalu menyusahkanmu, menjadi kakak yang buruk dan jahat. Tapi seperti yang kau tahu di balik semua itu aku selalu mencintaimu sebagai seorang perempuan dan sebagai adik kecilku yang manis, penyabar dan baik hati.

Aku akan selalu mengenangmu, dan menjadi anak yang baik seperti permintaanmu.  Thanks for being my sister. Saranghae nae dongsaeng.

 

~Fin~

 

N.A : Oke, saya tahu ini FF abalan aja >///< ya ampuuunn.. tadinya aku mencoba bikin supaya agak wow sedikit. Tapi berhubung waktunya semakin menipis sedangkan aku harus ujian jadiii maafkan akuuuu~ FF nya jadi gak jelas gini. Huhuhuuhu~

SAENGIL CHUKAE MINHO OPPA~ ^^

SHAWOL WILL ALWAYS LOVE YOU~ 😀

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

22 thoughts on “[FF PARTY] Brother & Sister”

  1. huwaaa~ ak mau jadi chloe!!! adeknya minho gitu..
    tpi ak kasian sama si chloe.. coba aja minho tau klo chloe jga cinta ama dia~ pastikan happy ending~ *soktau*
    good job author!! b^^d

  2. Aw, gw pkir tuh bkal ngunjungin chloe n si chloe’a bisa sembuh.. Ternyataa.. Dah tinggal mayat.. =.=

    menyedihkan! Author! Kau sukses membuat hati seorang namja ini terisis dan menjatuhkan kristal dari matanya di detik terakhir ff mu.. =.=

    Daebak authoor

    kayanya 1st lg nih

  3. Terharu banget ma clow . . T.T
    sediiihhh . . . .
    Minho saengil chukae . . .

    aku suka bgt ma ni ff
    nice ff author . . .:)

  4. Geez!!
    ni FF brhasil mnyentuhku dgn prjuangan hdupnya chloe.
    aishh… jd pngen deh ngeliat oppa”ku yg udh d surga.
    hiks… T.T
    Astaga!! knp jd curhat seh??

    Well, FFnya keren.tdnya aku udh brusha kras bwt mnghindari bca FF ni, tp bca jg, skrng mlah sdih sndiri.
    kesian!

  5. hueee…
    FF nya bikin aku nangis dipeluka Minho tauu! (??)
    tapii .. bener deh! ini ffnya diakhir alinea bikin aku nangis!
    pass udh gituuu, yang paling aku benci tuh si MINHO!!!!
    masa adenya sendiri gak disayangin? gak di rawat?? sampe2 baru tau dia kena kanker paru-paru??
    huaaaaah … aku gak salah milih FF kamu, thor!
    akuu suka banget alur critanya .. apalagi ini genre nya family. kerasa banget genre nya !!!
    SUKA BANGET SUMPAH!
    KENAPA INI GAK “SEQUEL”??
    BAGUS BANGET MALAH!!
    WALAUPUN BUKAN SEQUEL AKU TETEP SUKAA …
    INI FF BARU YANG PALING BIKIN AKU NANGIS!! Huah..kenapa jadi curcol?! >/////.<

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s