[FF PARTY] End To Start – Part 1

END TO START

Part 1

Author: Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~

Main Cast: Choi Min Ho, Hanniisa Han

Support Cast: SHINee, Jang Hee Woong, Jung Ha Na, Dennis Midhya, Fabio Dinata, Yun Ho DBSK, etc.

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: General

Summary: Terkadang ada suatu hal yang sangat berharga yang harus kita lepaskan. Itu bukan pertanda segalanya sudah berakhir. Tapi, itu adalah awal dimulainya sesuatu yang baru dalam hidup ini.

Keterangan: Pengen jadi author tetap.. ;D

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Hanniisa POV

Namaku Hanniisa Han. Pasti bingung dengan namaku ya? Appa ku adalah orang korea dan umma ku adalah orang Indonesia. Tapi sejak 18 tahun yang lalu, appaku mengubah kewarganegaraan nya menjadi warga negara Indonesia. Aku lahir di Seoul, 24 tahun yang lalu. Dan aku menghabiskan waktu kecilku selama 6 tahun di Seoul.

Saat ini aku adalah seorang psikiater di sebuah rumah sakit di Jakarta. Aku tinggal di Jakarta bersama appa dan umma ku.

“Hanniisaaaaaa…” panggil seseorang di belakangku.

Kutolehkan kepalaku ke belakang, “dokter Fabi…?”

Fabi tersenyum, “Selalu aja manggil aku gitu. Fabio ajaaa…”

Aku tertawa kecil, “Emangnya mau kupanggil Fabio di rumah sakit? Sama Eri aja, minta dipanggil dokter!”

Fabio hanya tertawa, “Hanniisa, kamu dipanggil sama dokter Gun. Soal pertukaran dokter itu.”

Aku sedikit membelalakkan mataku, “Beneran, bi?”

Fabio mengangguk, “Buruan gih. Ntar dokter Gun nunggunya kelamaan.”

“Oke. Makasih, Fabi…!” kulambaikan tanganku dan bergegas menuju ke ruangan dokter Gun.

Kuketuk pelan pintu ruangan dokter Gunawan.

“Masuk.” Terdengar suara dokter Gun.

Perlahan kubuka pintu ruangan dokter Gun. Tampak seorang pria berusia sekitar 55-an. Badannya agak berisi dan masih terlihat cukup tampan. Ya, itulah dokter Gun. Dokter senior di rumah sakit ini. Beliau sudah seperti ayah untukku dan kebetulan, dokter Gun adalah teman lama ibuku.

“Selamat pagi, dokter.” Sapaku.

Dokter Gun tersenyum, “Pagi, Hanniisa. Semangat sekali nih keliatannya.”

Aku mengangguk, “Pagi yang cerah dok. Sayang banget kalau gak semangat.”

Dokter Gun tertawa kecil, “Bisa aja nih. Ayo, hann… silahkan duduk.”

Aku mengangguk lalu duduk diatas sofa di depan dokter Gun duduk. Senyumku masih mengembang di bibirku. Hehe…semoga saja berita baik!

“Baiklah, sepertinya psikiater muda kita ini udah tau apa yang mau saya sampaikan.” Dokter Gun tersenyum.

“Hann belum tau kok, dok. Cuma Fabi tadi bilang tentang pertukaran itu.” ujarku perlahan.

“Ya, itulah yang mau saya sampaikan. Jadi, keputusannya…,” dokter Gun terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Kamu bakal di kirim ke Seoul.”

Aku tersenyum senang, “Korea?”

Dokter Gun mengangguk, “Saya sengaja mengajukan Korea. Karena saya tau, kamu lahir disana dan ayah kamu orang korea. Ya, semoga kamu masih bisa bahasa korea, Hann.”

“Ah, makasih banyak, dokter Gun. Ya, kalau untuk bahasa korea sih bisa dikit2 lah. Tapi, kalau orang ngomong Hann ngerti.” Jawabku. Sebenarnya bahasa korea ku masih sangat lancaar.

Dokter Gun tersenyum, “Baiklah, nanti siang saya kirimkan semua berkas yang kamu perlukan selama disana. Kamu berangkat 2 minggu lagi. bisa kan?”

Aku langsung mengangguk, “Bisaa, dok! Bisa banget!”

“Senang sekali sepertinya.” Ujar dokter Gun.

Aku tertawa kecil, “Kalau dokter Dennis gimana, dok?”

“Dennis? Oh iya, dia ke Selandia Baru. Dokter Natha ke Shanghai dan dokter Shane ke Adelaide. Sementara dokter Tasha mengundurkan diri. Sebentar lagi dia mau melahirkan.”

“Jadi, dokter Tasha gak jadi ke Gifu?”

Dokter Gun menggeleng, “Ah iya, saya lupa, Hann. Satu orang lagi.”

“Siapa, dok?”

“Fabio, dia yang menggantikan dokter Tasha ke Gifu.” Ucap dokter Gun.

****************

“Fabi jahat. Gak bilang-bilang kalau mau ke Gifu.” aku duduk disamping Fabio.

Fabio tertawa kecil, “Hei, bu dokter. Kamu kan gak nanya apa-apa ke aku.”

“Apaan. Itu tuh yang namanya temen? Apaan tuh?”

Dennis yang ada di seberang meja tertawa, “Cuma kamu aja yang gak dikasih tau, Hann.”

Aku membelalakkan mata tanda tak percaya, “Dasar dokter jiwa. Tapi, jiwanya sendiri malah gak beres.”

Fabio dan Dennis tertawa.

“Hann, kejam deh.” Fabio meminum minumannya.

“Biar deh. Daripada ntar aku ngomongnya dibelakang kamu, bi. Kan ga enak tau.”

“Terserah deh, bu dokter.” Fabio tertawa kecil.

“Eh, kayaknya diantara kita bertiga yang dikirim paling jauh tuh kamu deh, nnis.” Komentarku.

Dennis yang sedang asyik memakan cheese burgernya mengangguk, “Tapi, selandia baru tuh yang alamnya paling indaaah!”

Aku menggeleng, “Enak ajaa… yang paling indah tuh, negriku Indonesia kaliiii…!!”

Dennis langsung menatapku, “Hann, jiwa cinta tanah airmu makin mantap deeeeh!! Gak sia-sia punya KTP Indonesia…!”

Aku langsung tertawa kecil, “Dennis, emangnya aku mau jadi warga negara apa? Aku maunya jadi warga negara Indonesia, tauk.”

Fabio tersenyum, “Bisa aja kan, Hann… ntar di Korea dapat cowok trus nikah and akhirnya jadi orang korea deh. Eh, aktor-aktor ma penyanyi-penyanyi korea kan cakep-cakep. Siapa tau aja…”

Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Fabi. Dennis mengangguk.

“Betul tuh, bi. Apalagi penyanyi cowok yang lima orang yang kemarin dateng ke jakarta. Siapa tuh? Aduuh, aku lupa namanya…”

“SHINee?” tanya Fabio.

“Ah, iya! SHINee!” Dennis mengangguk,  “Eh, yang kemarin dateng ke jakarta juga keren loh. Yang dia main film house…eh…white house… eh…”

“Full house.” sahutku malas sambil memakan spaghetti bolognese-ku.

“Iya, Full House. Rain!”

Aku menggeleng heran, “Aduuh… heran deeh! Kenapa kalian bicarain cowok sih? Aku juga gak tertarik banget ma aktor atau penyanyi korea!”

“Apa? Kamu ga tertarik?” cerocos Fabio.

Aku mengangguk, “Biasa aja.”

“Oia, aku lupa. Jiwa cowoknya kan masih ada di dalam tubuhnya. Belum keluar 100%. Masih sisa 10%.” Ujar Fabio santai.

“Enak aja!” kupukul lengan Fabio pelan.

“Terus, emangnya kamu tertarik ma siapa? Artis cewek?” tanya Dennis.

“Engga sama sekali.” Jawabku singkat.

“Terus?”

“Sebenarnya sih, yang bikin aku suka sama korea tuh cuma satu orang… tapi dia bukan penyanyi atau aktor…”

“Siapa?” tanya Fabio.

“Hanniisa…” ujar Dennis.

Aku tersenyum, “Segitunya.”

Mereka tertawa, “Penasaran!”

Aku menghela nafas panjang. Lalu tersenyum misterius kearah mereka, “Mau tau?”

Mereka mengangguk.

“Park Ji Sung!!” teriakku semangat.

Kedua dokter muda didepanku langsung tampak lemas.

“Yah, kok lemes gitu siiih?” tanyaku tidak mengerti.

****************

Lee Tae Min POV

“Hyung, ayo makan..” ujarku pelan.

Namja di depanku itu hanya terdiam. Tatapannya lurus ke depan dan terlihat kosong. Kuhela nafas panjang.

“Tae Min… Bagaimana?” kurasakan seseorang merangkul bahuku.

Kutolehkan kepalaku kearahnya, “Onew-hyung…”

“Dia masih tidak mau makan ya?” tanya Onew-hyung pelan.

Aku mengangguk, “Dari kemarin pagi dia belum makan, hyung..”

Onew-hyung menarik nafas panjang, “Sudahlah, Tae Min. Kau makan saja dulu. Biarkan hyung-mu itu tenang dulu.”

“Dia sudah 2 hari seperti itu, hyung. Apa hyung tidak khawatir?” suaraku pelan.

Onew-hyung mengusap rambutku lembut, “Mana mungkin aku tidak khawatir, Tae Min. Sudahlah, hari ini kau harus bertemu dengan dosenmu kan? Cepat siap-siap, biar Key yang mengantarmu.”

Saat aku hendak membantah, Onew-hyung tersenyum.

“Jangan dibantah, Tae Min. Sudah jam 8.”

Aku mengalah, “Baiklah, hyung. Aku makan dulu.”

Lee Jin Ki POV

“Baiklah, hyung. Aku makan dulu.” Tae Min berlalu dari tempatku.

Kuikuti langkah Tae Min setelah kututup pintu kamar.

“Hyung.. Dia masih belum mau makan?” tanya Key yang menghampiriku dengan wajah cemasnya.

“Tae Min tidak bilang apa-apa padamu?” aku duduk di atas kursi meja makan.

Key menggeleng, “Dia langsung mengambil handukna dan berlari kearah kamar mandi.”

Aku menghela nafas panjang, “Sudahlah, Key. nanti aku akan membicarakannya dengan manager-hyung. Kau antar Tae Min ke kampusnya ya.”

Key mengangguk, “Baiklah, hyung.”

Ah… kenapa jadi seperti ini sih? Yang kutau dia adalah namja yang tegar, bukan namja lemah seperti ini.

Aish…!

****************

Hanniisa Han POV

“Annyonghaseo, agassi.” Sapa seorang wanita muda.

“Annyonghaseo.” Jawabku sambil tersenyum.

35 menit yang lalu aku baru saja menginjakkan kakiku di Incheon. Aku rindu suasana Korea.

“Are you Hanniisa Han?” tanya wanita itu sopan.

Aku mengangguk, “Yes, I’m Hanniisa Han.”

Wanita di hadapanku ini tampak tersenyum memandangi kertasnya, ia bow ke arahku, “My name is Jung Ha Na. I’m a dokter from Asian Medical Centre. Nice to meet you.”

“Oh… Ne, I’m Hanniisa Han from Jakarta International Hospital(?). Nice to meet you too.” Aku membungkukkan badanku juga.

“Ok. Can you speak in korea?” tanya dokter muda didepanku ini.

Aku mengangguk, “Yes, I can. I was born in Korea.”

“Really? Waw, I think that you can’t speak korea. That’s why I bring an e-dictionary.” Ujarnya sambil tertawa kecil.

Aku tersenyum, “Never mind.”

“Baiklah, sebaiknya kita segera menuju Seoul. Kkaja, Hanniisa-ssi.” Ujar Ha Na menggunakan bahasa Korea nya. Aah, sip dah! Gw juga bisa!

Aku meraih koper besarku, “Sepertinya umur kita tidak beda jauh, panggil aku Hanniisa saja. Tidak usah pakai ssi.”

“Baiklah, umurku 25 tahun. Ah, maksudku 24 tahun. Kau bisa memanggilku Ha Na.” Jung Ha Na tersenyum.

“Ah, ne.. Aku akan memanggilmu Ha Na saja. Umurku 24 tahun.”

****************

“Naah.. Ini apartemenku. Silahkan duduk, Hanniisa.” Ha Na bergegas masuk ke dapur dan keluar membawa 2 botol orange juice dari kulkasnya. Diletakkannya botol itu di atas meja, “Silahkan diminum, Hanniisa. Mianhamnida, hanya ada ini di kulkas. Seminggu ini aku belum sempat berbelanja.”

Aku tersenyum, “Gwenchana, Ha Na. Ini saja sudah lebih dari cukup. Gamsahamnida.”

Ha Na mengangguk, “Ah ya. Jadi begini, rumah sakit belum sempat mencari apartemen yang pas untukmu. Jadi mereka memintaku untuk mencari apartemen untukmu dan masalahnya adalah seminggu ini aku disibukkan oleh pekerjaanku yang menumpuk.”

Ha Na terdiam sejenak, “Terlalu ribet ya?”

Aku menggeleng, “Aku mengerti kok, Ha Na. Silahkan lanjutkan.”

Ha Na tertawa kecil, “Begini, sebelum aku mendapat apartemen untukmu, apa kau mau tinggal di apartemenku ini? Aku tinggal sendiri disini dan kau tau, aku sangat bosan tinggal sendiri. Tapi, kalau tidak mau, aku akan sesegera mungkin mencari apartemen untukmu.”

Aku tersenyum, “Gamsahamnida, Ha Na. Aku mau tinggal disini bersamamu. Umm, itupun jika kau tidak keberatan menampungku di apartemenmu ini.”

Ha Na buru-buru menggeleng, “Aissh, Hanniisa… kenapa kau bilang ‘menampung’ sih? Kau itu kan tamu rumah sakit kami. Jangan merendah begitu ya.”

Aku tertawa kecil, “Mianhamnida, Ha Na.”

Ha Na ikut tertawa kecil, “Baiklah, jadi kau mau tinggal di apartemenku ini? Umm.. kau mau tinggal berapa lama? Tapi, kalau kau mau, kau boleh tinggal selamanya disini, kok. Lagipula, aku kesepian dan bosan tinggal sendiri.”

“Jinca? Aku boleh tinggal selamanya?” tanyaku meyakinkan.

Ha Na mengangguk serius, “Ne. Dengan senang hati! Kurasa lebih enak jika kau mau tinggal dengan seseorang. Aku yakin, Seoul sudah banyak berubah dari terakhir kalinya kau kemari.”

Aku tersenyum, “Baiklah. Gamsahamnida, Ha Na. aku benar-benar sangat berterimakasih. Ya, sepertinya memang lebih baik jika aku tinggal dengan seseorang.”

Ha Na tersenyum senang.

****************

Key POV

“Kau tidak ingin makan? Aku sudah membuatkan sup jamur kesukaanmu.” Ujarku pelan.

Namja dihadapanku tidak bergeming.

“Ayolah, sudah hampir 2 hari kau tidak makan.”

“Keluar.” Gumamnya pelan.

“Tapi, kau belum makan!” suaraku sedikit meninggi.

“KELUAAR!!!” teriaknya parau.

Aku tidak segera keluar. Aku masih terdiam di tempatku. Aku tidak akan keluar sebelum ia mau makan. Tekadku.

“Ya…” panggilku.

“Keluar atau kubunuh kau.” Suaranya terdengar dingin.

Aku menyerah. Bergegas kututup pintu kamarnya kembali. Dengan langkah gontai aku berjalan menuju ruangan makan.

“Key, sudahlah. Jangan dipaksa terus. Kasihan.” Ujar Onew-hyung.

Aku menyernitkan dahiku heran, “Hyung!! Dia belum makan sejak kemarin!!!!”

Onew-hyung terdiam.

Aku menghempaskan tubuhku diatas kursi. Haaah…aku hanya khawatir melihat keadaan namja itu. Sudah hampir 2 hari ia menolak makan. Ia terus-terusan diam sambil menatap keluar jendela. Ditangannya tampak sebuah kalung yang digenggam erat sekali. Aku tau ini sangat berat untuknya, tapi apa ia bisa melakukan hal ini? Menyiksa dirinya seperti ini? Bukan hanya menyiksa dirinya, aku dan yang lain pun merasa sangat tersiksa dengan perasaan khawatir dan cemas terhadap keadaannya sekarang. Mungkin sampai saat ini aku belum pernah mengalami hal yang dialaminya, tapi sedikit banyak aku mengerti bagaimana rasanya. Aku mengerti hal itu. Sangat mengerti.

“Aku akan pergi membicarakan hal ini dengan manager-hyung setelah itu aku akan menjemput Tae Min di kampusnya. Kau jaga rumah ya. Jangan biarkan ia kluar dari dorm ini.” Onew-hyung bergegas meneguk susunya.

“Baiklah, hyung.” jawabku lemas.

“Ya, jangan lemas begitu! Dia tidak akan kenapa-kenapa. Percayalah, Key.” Onew-hyung menepuk bahuku pelan lalu beranjak menuju kamarnya.

****************

Hanniisa POV

Aku membungkukkan badanku, “Ne, gamsahamnida. Aku akan bekerja dengan baik mulai besok.”

Dokter Jang Hee Woong tersenyum, dianggukkannya kepalanya, “Baiklah, selamat bekerja disini ya, Hanniisa-ssi. Aku permisi dulu, dokter Ha Na.”

Aku mengangguk. Dokter Jang Hee Woong tersenyum lalu berlalu dari hadapanku dan Ha Na. Ha Na tersenyum,

“Dokter Jang itu pskiater hebat di Korea. Ia sangat terkenal.” Jelas Ha Na.

Aku membulatkan mulutku, “Begitu ya.”

Ha Na tersenyum, “Baiklah, hari ini aku tidak ada pasien. Kau juga mulai bekerja besok. Apa kau ingin jalan-jalan?”
Aku mengangguk senang, “Aku mau sekali.”

“Baiklah, kita jalan ke Myeong-dong, Apgujeong-dong, dan kesemua tempat lalu belanja bahan makanan mingguan ya.” Ha Na memasukkan hp nya kedalam tasnya.

“Ne, kkaja!”

****************

Lee Jin Ki POV

“Jadi, dia tidak akan dikutkan dalam agenda apapun dalam minggu ini. Aku akan membuat janji dengan pskiater.” Ujar manager-hyung.

Aku mengangguk lemas.

“Jangan bicara apapun mengenai dia dihadapan wartawan manapun. Aku akan mengurusnya.” Manager-hyung menambahkan.

“Baiklah, hyung. Aku tunggu telepon dari hyung ya. Aku permisi dulu, hyung. Annyong.” Ujarku sambil berdiri.

Manager-hyung ikut berdiri. Ia mengangguk, “Jangan lemas begitu, Onew. Berdoa saja, dia pasti akan baik-baik saja, Onew. Percayalah.”

Kusunggingkan senyumku, “Ne. gomawo, hyung.”

Aku berlalu dari ruangan itu dengan langkah gontai. Aku tidak menyangka kejadian itu benar-benar membuatnya terpukul seperti ini. dia namja yang kuat. Aku tau itu. Tapi kenapa dia jadi begini? Haaah…

“Annyong, Onew!” sapa seseorang membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh kearah sumber suara. Aish…

Kupaksakan senyumku, “Annyonghaseo, Yunho-hyung.”

Yun Ho-hyung menepuk bahuku, “Kenapa lemas begitu, Onew?”

“Oppa…” panggil yeoja disebelahnya.

Yun Ho-hyung menoleh kearah yeoja itu, “Ada apa, yeobo? Ah, kau tidak mau menyapa Onew dulu?”

Yeoja disebelahnya itu tampak salah tingkah, “Annyong, Onew.”

“Annyong.” Jawabku singkat.

“Ya, kenapa kalian jadi kaku seperti ini? yeobo, kau tidak apa-apa kan?” tanya Yun Ho-hyung sambil merangkul yeoja disebelahnya. Yeoja yang sudah resmi menjadi istrinya 3 hari yang lalu.

“Hyung, mianhae. Aku masih ada keperluan lain. Aku permisi dulu. Annyong.” Aku segera berlalu dari hadapan mereka. Tidak kupedulikan suara Yun Ho-hyung yang memanggil namaku.

****************

Hanniisa Han POV

“dokter Han. Apa kau bisa segera keruangan dokter Jang. Ia memanggilmu.” Ujar seorang perawat. Perawat Geum.

Aku mengangguk. Kuletakkan map-map berisi pekerjaanku selama di Seoul diatas meja kerja ruangan baruku.

“Baik. Gamsahamnida.” Aku membungkuk kearah perawat Geum. Perawat Geum melakukan hal yang sama dan segera keluar dari ruanganku.

Aku bergegas menuju ruangan dokter Jang. Jadwal pagi ini adalah membantu pekerjaan dokter Jang sampai jam makan siang nanti. Aku pasti bisa! Hwaiting!

“Tokk…tokk…” kuketuk pintu ruangan dokter Jang perlahan.

“Silahkan masuk.”

Aku memutar kenop pintunya dan segera masuk ke dalam ruangan. Tampak dokter Jang sedang duduk diatas kursi ruang kerjanya dengan setumpuk kertas-kertas diatas mejanya.

“Annyonghaseo, dokter Jang.” Sapaku.

Dokter Jang tersenyum, “Annyonghaseo, dokter Han. Kau sudah siap untuk bekerja pagi ini?” tanya dokter Jang,

Aku mengangguk pasti, “Ne.”

“Baiklah. Silahkan duduk dulu. Aku akan menceritakan apa yang harus kita lakukan pagi ini.” dokter Jang berdiri dari tempat duduknya dan sgera duduk diatas sofa.

“Gamsahmnida, dokter Jang.” Aku segera duduk dihadapan dokter Jang.

“Sepertinya aku rasa, aku harus segera menceritakannya padamu.”

Aku menyernitkan alisku heran, “Cerita apa, dokter Jang?”

“Tentang pasien pagi ini.”

“Pasien?”

Dokter Jang mengangguk, “Ne. Pasien pertamamu di Korea.”

Aku terus mendengarkan dokter Jang.

“Jadi, pasien ini awalnya adalah pasienku. Namun setelah membaca surat keteranganmu, aku merasa kau yang cocok menanganinya. Setelah kukonfirmasikan kepada wali pasien itu, mereka setuju kau yang menggantikanku. Tugasku hanya membantumu jika ada kesulitan. Aku yakin kau bisa, dokter Han.”

Aku menarik nafas panjang lalu tersenyum, “Semoga aku bisa, dokter Jang. Memangnya bagaimana keadaan pasien ini, dokter?”

“Pasien ini mengalami depresi berat. Wali nya mengatakan bahwa dia depresi stelah menerima surat undangan pernikahan yeojachingu nya dengan sunbae nya sendiri.” Suara dokter Jang memelan.

Aku terdiam. Menyedihkan sekali…

“Sejak itulah, ia mengurung diri di kamar. Keadaannya sangat mencemaskan. Ia tidak makan apa-apa. Ia hanya diam menatap jendela kamarnya. Aku tau, kau pernah menangani kasus yang sama di Indonesia. Mungkin yang di Indonesia lebih parah daripada kasus yang sekarang ini. Benar, dokter Han?”

Aku mengangguk, “Ne. Pasienku yang di Indonesia itu bahkan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia selalu melakukan hal-hal yang membahayakan nyawa nya sendiri. Mmm…apa pasien ini pernah melakukan hal-hal berbahaya?”

Dokter Jang menggeleng, “Sepertinya tidak. Wali nya bilang, pasien ini hanya duduk terdiam.”

“Sepertinya ia tidak bisa menerima semuanya.” Ujarku pelan.

“Baiklah kalau begitu. Pagi ini kau harus bertemu dengan wali pasien ini.” dokter Jang berjalan ke mejanya dan mengambil sebuah map biru muda, “Ini berkasnya.”

Kuraih map itu dari tangan dokter Jang, “Gamsahamnida, dokter.”

“dokter Han…aku harus memberitahu ini padamu. Pasien mu ini bukan orang biasa. Dia adalah orang terkenal. Jadi, tolong jangan ceritakan pada siapa-siapa mengenai pasienmu ini. Ini pesan dari wali pasien. Dia tidak ingin, hal ini tercium oleh wartawan.” Jelas dokter Jang.

“Orang terkenal?”

Dokter Jang mengangguk.

“Baiklah. Aku akan berusaha, dokter.” Aku berdiri dari dudukku.

Dokter Jang tersenyum, “Baiklah. Aku hampir lupa, didalam map itu ada jadwal pemeriksaan atau konsultasi pasien lengkap dengan tanggal, waktu dan tempatnya. Tapi kurasa kau bisa mengatur ulang jadwalnya itu. Aku mempercayaimu. Semoga berhasil, dokter Han.”

Aku mengangguk, “Gamsahamnida, dokter Jang.”

****************

Akhirnya aku sampai di sebuah apartemen mewah di kawasan Gangdong-gu. Sebuah apartemen mewah yang cukup mewah. Aaah…apa sih maksudku? Yang jelas, pasienku ini adalah orang yang cukup kaya. Eh, bukannya dokter Jang bilang pasien pertama ku ini adalah orang terkenal? Hmm…siapa ya? Apa Park Ji Sung? Aaaah…! Hanniisa bodoooh! Tadi malam kan Ji Sung-ajussi baru saja bertanding di Santiago Bernabeu (amiiiin…! Moga MU bneran tanding lwan Madrid! Hehehe…). Mana mungkin tiba-tiba ada di sini. Hmmm…berarti bukan Ji Sung-ajussi.

“Mianhamnida, agassi…” seorang petugas menghampiriku. Huah… membuyarkan lamunanku saja.

“Ne?”

“Agassi ada keperluan apa? Bisa aku lihat tanda pengenalmu?” tanya orang itu sopan.

“Tanda pengenal?” tanyaku bingung.

Orang itu mengangguk, “Ne. Tanda pengenal. Jika ingin mengunjungi penghuni-penghuni apartemen ini harus punya tanda pengenal itu.”

Aduuuh… gimana nih? Mana ku tau ada tanda pengenal segala… Aku telpon dokter Jang saja deh.

“Ah, mianhamnida. Aku hubungi temanku sebentar. Aku tidak tau apa-apa tentang tanda pengenal itu.” ujarku.

Orang itu membungkuk, “Ne. Silahkan.”

Aku tersenyum. Kukeluarkan handphoneku dari tasku. Hah… ada sms?

From: dokter Jang

Dokter Han, mianhamnida… aku lupa memberi tahumu. Tanda pengenal untuk akses masuk ke apartemen ada di map tadi. Mianhamnida, aku lupa.

Aaaaah… dokter Jang benar-benar!! Sgera kututup flap hpku. Kukeluarkan map biru muda yang diberikan dokter Jang tadi. Tampak sebuah kartu kecil.

“Ini dia…” kukeluarkan kartu itu. tiba-tiba mataku menangkap sebuah foto yang tertempel dalam kertas yang ada dalam mapku. Kenapa rasanya aku pernah melihatnya ya? Apa ini foto pasienku itu?

Aigo… aku harus segera menemui pasienku itu. Segera kutup tasku. Map tadi sengaja tidak kumasukkan kembali. Aku ingin membacanya. Tadi aku belum sempat membacanya.

“Sillyehamnida, apa ini kartu pengenal yang kau maksud?” tanyaku sambil menyodorkannya padanya.

Orang tadi menerimanya lalu mengangguk, “Ne. Benar. Mianhamnida, agassi. Sudah mengganggu waktumu.”

Disodorkannya kartuku kembali. Kuterima dengan senyuman di bibirku.

“Ne. Tidak apa-apa, aku permisi dulu. Gamsahamnida.” Aku membungkuk sedikit. Orang itu melakukan hal yang sama denganku.

Aku melangkahkan kakiku menuju lift yang terletak tidak jauh dari tempatku berdiri tadi. Segera kutekan tombol lift.

“Ttting.” Pintu lift terbuka. Kosong.

Segera kumasuki lift. Kutekan angka 18.

Sambil menunggu sampai ke lantai 18, kubuka kembali map biruku. Kukeluarkan kertas keterangan pasienku.

“Ya ampuuun… dia terlalu tampan untuk menangisi yeojachingu nya itu. Secantik apa sih yeojachingu nya itu? Kenapa sampai depresi begitu?” gumamku sendiri saat melihat fotonya dengan jelas.

Entah kenapa aku merasa pernah melihat wajahnya. Aaah… apa namja ini penyanyi atau aktor ya? Kenapa rasanya aku pernah melihat namja ini?

“Hmmm… siapa sih?” gumamku menggunakan bahasa indonesiaku.

TBC

©FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

Advertisements

9 thoughts on “[FF PARTY] End To Start – Part 1”

  1. pasti itu minho terus ex-yeojachingu nya itu yang jadi istri yunho… bener gak tuh author??? *maksa + sok tau*
    kabur ke part 2>>>>>>>>>>>

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s