[FF PARTY] Stand By Me – (Rei) Part 2 {END}

Title(*): Stand By Me (Rei)

Author(*): Achiiey_Linda

Main Cast(*) : Haruka Rei as Rei-chan, Lee Jinki as Onew as Jinki, Choi Minho as Minho

Suport Cast(*) : nggak ada kayaknya. Cuma malaikat, ahjuma, bocah laki-laki, gadis kecil.

Other Cast : –

Genre(*) : Friendship, Romance, Sad

Type/Length(*) : sequel #2

Rating (*): general

Summary : apakah kau bisa memaafkan sahabat pacarmu yang membunuhnya jika kau sudah mengetahui semuanya?

Credit Song : –

Ket(*) : Sekedar berpartisipasi. Tapi kalo memenuhi syarat jadi author tetap, boleh deh *kkk

Stand By Me (Rei) Part 2

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

 

 

“Nuguseyo?” tanya seorang perempuan yang membukakan pintu tadi.

“Ahjuma, Apakah benar ini rumah Onew Oppa?”

Dia terkejut. “Kau… Kau pasti Rei-chan. Masuklah, Rei.”

Mengapa dia bisa tahu namaku?

Aku masuk ke dalam ruang tamu rumah tersebut. Sebenarnya aku tidak mau masuk dan  duduk di rumah seorang pembunuh, tetapi aku masih mempunyai rasa hormat kepada perempuan tadi. Sepertinya dia adalah ibu dari si pembunuh, Onew. Beliau terlihat seperti orang baik-baik. Tak akan ada yang percaya beliau melahirkan putra seorang pembunuh.

“Ahjuma, apakah Onew Oppa ada?”

“Kau mau minum apa, Rei-chan?”

“Air putih saja, Ahjuma. Saya hanya ingin bertemu Onew Oppa.”

“Tunggu di sini, ya.”

Aku mengangguk. Perempuan itu masuk ke dalam. Aku memperhatikan ruang tamu rumah ini. Cat temboknya berwarna putih, tanpa pajangan. Bahkan foto keluarga satu pun tidak ada? Rumah macam apa ini?

Beberapa saat kemudian perempuan itu datang sambil membawa sebuah baki berisi minuman. Dan sebuah buku. “Gomapseumnida, Ahjuma.”

“Hari ini Onew tidak ada di rumah, Rei-chan. Datang saja besok.”

“Onew Oppa kemana, Ahjuma?”

“Aku tidak bisa memberitahumu, Rei-chan. Besok saja, tanyakan padanya sendiri. Sebelum dia pergi, dia menitipkan ini. Dia tahu kau akan datang.”

Aku menerimanya. “Gomapseumnida, Ahjuma.”

“Datanglah kesini besok.”

“Ne. Saya pamit dulu.”

 

***

 

Sesampainya di rumah, aku segera membuka buku tersebut. Sebuah buku seperti diary. Aa, ternyata benar, ini sebuah diary. Tapi diary siapa?

 

20 November

Hari ini Minho ke rumahku. Dia minta maaf kepadaku karena seragam basket nomer 10 milikku terkena noda es krim. Tetapi dia berjanji akan membersihkannya. Sebenarnya aku merasa sedih juga. Seragam itu adalah seragam yang seharusnya kupakai jika tidak karena penyakit ini… Tetapi karena Minho sudah kuanggap sebagai dongsaengku, aku mengatakan untuk membiarkannya saja. Tetapi Minho menolak. Dia sudah menyuruh gadis itu membersihkannya.

23 November

Minho datang seperti biasa. Dia bilang gadis yang membersihkan seragamku tangannya terluka. Dia tidak tega, kemudian menyuruhnya membelikan seragam yang baru saja. Aku bertanya apakah dia menyukai gadis itu? Dia hanya menjawab, “Ya! Hyung! Aku hanya kasihan!” dengan tampang yang, bertolakbelakang. Aku tahu dia menyukai gadis itu. Aku memintanya untuk mengenalkan kepadaku jika dia tidak menyukainya. Dia menjawab, “Shiro, hyung! Dia milikku!” kkk~ Minho-ya, kau sudah mempunyai seorang yoja yang kau cintai rupanya!

26 November

Minho tersenyum-senyum sendiri, seperti orang gila. Aku menepuk pundaknya, dan menanyakan apakah dia sudah gila? Dia hanya mengangguk. Aku bisa menebak dia pasti sudah gila karena gadis itu. Tiba-tiba dia mengagetkanku. “Hyung, apakah yoja itu suka dengan namja yang romantis?” “Mengapa kau bertanya begitu?” “Karena aku tidak romantis, hyung. Aku takut yoja yang kusukai tidak menyukaiku karena aku tidak romantis.” “Pabo! Apa kau Choi Minho yang ku kenal? Kau tidak segagah ketika di lapangan, Minho!” “Tapi hyung, ini beda!” “Benar, bedanya hanyalah di lapangan kau menghadapi orang lain dan sekarang kau menghadapi ketakutanmu sendiri.” Sejak saat itu Minho tidak pernah ke rumahku, mungkin dia marah. Minho-ya, mianhae. Aku harus mengajarkanmu, percaya diri!

30 November

Minho sudah punya yojachingu~~ aku, belum~~~ siapa yang mau denganku~~~ hanya seorang namja yang sakit-sakitan~~~ tapi aku tampan lho,, kkk~~~ nama yochin Minho, Rei. Dia seorang gadis Jepang yang bersekolah di Korea. Minho bilang dia selau duduk di bangku paling depan ketika dia sedang bertanding. Heu, aku ingin melihat dia, siapa dan bagaimana dia? Bisa-bisanya dia merebut Minho dariku~~~ heu~~

2 Desember

Aigo, aku melihat dia, Rei. Dia adalah gadis yang ku sukai beberapa bulan yang lalu. Bagaimana bisa dongsaengku berkencan dengan gadis yang menjadi penyemangat ku? Gadis yang membuatku bertahan hidup selama ini, nomer tiga setelah Orangtua dan Minho~~~ Tuhan, apa aku terlalu buruk? Tapi, tak apalah. Setidaknya dengan Minho, dia akan baik-baik saja. Aku sangat menyayangi Minho dan tahu bagaimana dia. Dia pasti bisa membuat bahagia Rei-chan-ku, tidak sepertiku yang sebentar lagi akan meninggalkan dunia ini~~~

5 Desember

Minho menceritakan semua tentang Rei-chan-ku!!!! Aku cemburu, hatiku sakit, tentu saja… tapi ada baiknya juga. Karena aku sudah tidak bisa keluar rumah lagi, aku tidak bisa melihatnya lagi. Kemarin mungkin menjadi detik terakhirku agar aku bisa bertemu dengan Rei-chan-ku yang manis~~ setidaknya setiap Minho ke rumah dia akan menceritakan tentang kencannya bersama Rei-chan, jadi aku masih bisa merasakan keberadaannya di sisiku~~~

8 Desember

Besok Minho berulang tahun!! Aku akan mengerjainya, kkk~ aku sudah meminta omma membelikan kado, seragam basket bernomer punggung 10 dan sebuah bola basket berwarna biru, dia pasti suka~~~

Selesai? Ini halaman terakhirnya? Mengapa dia tidak meneruskannya? Dan, dia sakit apa? Dia mencintaiku. Mungkin karena itu dia membunuh Minho? Tetapi sepertinya dia menyayangi Minho. Lantas mengapa dia membunuh Minho? Mengapa dia membunuh dongsaeng, yang disayanginya?

 

***

 

Seperti yang dijanjikan, aku kembali pergi ke rumah Onew, si pembunuh itu. Aku mengetuknya perlahan. Beberapa menit kemudian Ahjuma yang kemarin membukakan pintu untukku.

“Masuklah, Rei-chan.”

“Ne, gomapseumnida, Ahjuma.” Aku duduk di kursi kemarin.

“Aku akan memanggilkan Onew, tunggulah sebentar.”

“Ne.”

Saat itu juga aku merasa dendamku begitu menggebu-gebu. Hatiku berdebar kencang sekali, tanganku mengepal, aku mengeluarkan keringat dingin. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan si pembunuh itu.

Beberapa saat kemudian Ahjuma kembali dengan membawa nampan berisi minuman, seperti kemarin. Bedanya hanya kemarin dia membawa sebuah buku, sekarang dia membawa sebuah album foto.

“Dimana Onew Oppa, Ahjuma?”

Perempuan itu menyerahkan sebuah album foto tadi kepadaku. “Lihatlah dulu ini, Rei-chan. Sambil menunggu dia turun.”

Aku membuka perlahan album foto itu. Halaman pertama di dalam album foto tersebut, aigo, siapa bayi kecil ini? Lucu sekali!

“Onew adalah seorang bocah yang lucu. Dia aktif sekali. Ikut ekskul ini itu, dan kau tahu, suaranya indah.”

Aku mendengarkan dengan seksama sambil melihat foto-foto dalam album tersebut.

“Dia tumbuh menjadi seorang namja yang gagah, banyak yoja menyukainya. Apalagi ketika dia menyanyi. Tetapi suatu hari, dia mengalami kecelakaan. Dia mengeluarkan banyak darah. Dia membutuhkan donor darah. Tetapi entah mengapa Tuhan berkehendak lain. Darah yang didonorkan ternyata mengandung virus HIV. Sejak saat itu, Onew terkena AIDS.”

Aku terkejut. “AIDS?”

“Kami sudah berusaha menuntut rumah sakit karena memberikan darah yang mengandung virus kepada pasiennya, Rei-chan. Tetapi Onew bilang dia tidak mengapa. Tidak perlu menuntut rumah sakit. Meskipun mereka menang, hal tersebut tidak akan bisa menyembuhkan Onew.”

Aku membuka album foto halaman berikutnya. Dua orang bocah kecil sedang berpelukan. Mungkin, umurnya sekitar 12 atau 13 tahun.

“Itu, di sebelah Onew, Minho ketika masih kecil. Onew dan Minho bertemu ketika mereka bersama-sama menonton pertandingan bola. Sejak saat itu mereka jadi dekat. Ah, sudah lama sekali melihat mereka bersama-sama. Hampir 10 tahun…

…Onew adalah nama panggilan yang diberikan Minho. Yang memanggil dan mengetahui nama Onew hanyalah Minho. Kata Minho, Onew itu nama yang keren. Dulu Onew pernah menolaknya, tetapi karena Minho selalu saja memanggilnya Onew, akhirnya dia mau juga dipanggil Onew. Karena kau langsung mengatakan mencari Onew, aku yakin kau pasti Rei-chan, kekasih Minho. Karena seperti yang ku katakan, Rei-chan. Yang memanggilnya Onew hanyalah Minho…

…Ketika Onew kecelakaan, Minho tidak berada di Korea. Dia pergi ke Jepang. Saat dia kembali, dia hanya tahu Onew kecelakaan. Onew tidak memberitahukan kepadanya bahwa dia terkena AIDS. Minho hanya tahu, Onew tidak diperbolehkan bermain basket lagi karena cidera, padahal Onew tidak boleh bermain basket lagi karena tubuhnya tidak cukup kuat…

…Hari itu, Onew membuat pesta kejutan untuk ulang tahun Minho. Ketika Minho datang, Onew baik-baik saja. Tapi tiba-tiba Onew mimisan. Minho sangat khawatir. Rei-chan tahu khan bahwa darah penderita AIDS itu bisa menularkan virus? Onew berusaha menjauhkan Minho agar tidak terkena darahnya. Tetapi karena Minho khawatir, Minho tetap berusaha mendekati Onew. Mereka saling dorong, dan tiba-tiba saja hal itu terjadi. Onew, tidak sengaja mendorong Minho sampai dia jatuh, dari lantai dua rumah ini…”

Ya Tuhan, apakah itu yang terjadi sebenarnya?

“Onew langsung tidak sadarkan diri. Antara syok, dan kesakitan. Sejak saat itu keadaannya semakin memburuk. Dia dihantui rasa bersalah, ditambah penyakitnya yang semakin merusak tubuhnya.”

Aku mematung. Jadi, Onew Oppa tidak membunuh Minho? Dia, melindungi Minho agar tidak tertular AIDS?

“Rei-chan, aku tahu kau pasti membenci Onew, karena telah membunuh Minho, kekasihmu. Tetapi aku berharap, setelah kau membaca diary Onew dan mendengar cerita dariku, kau bisa memaafkannya. Onew tidak bersalah, Rei-chan. Dia hanya ingin melindungi Minho.”

Aku membuka album foto halaman berikutnya. Foto Minho membawa tropi, dengan seseorang di sebelahnya yang sedang memeluknya. Tunggu. Bukankah itu Jinki? Mengapa dia bersama Minho, dan berada di album Onew Oppa?

“Sekarang, dimana Onew Oppa, Ahjuma?” tanyaku parau. Aku merasakan hatiku sakit, dan entah mengapa aku ingin menangis.

“Onew, atau Jinki, meninggal, Rei-chan. Satu minggu yang lalu…”

Andwae. “Meninggal?”

Perempuan itu mengangguk. “Dia…” katanya sambil menunjuk foto Jinki. “Meninggal dengan senyum bahagia. Sebelum meninggal dia menitipkan diary dan album foto ini, Rei-chan. Dia bilang dia sudah bertemu denganmu dan sudah meminta maaf, jadi dia bisa pergi dengan tenang.”

“Andwae, Ahjuma. Satu minggu yang lalu dia bersamaku!”

“Bersamamu? Aniyo, Rei-chan. Jinki saat itu berada di rumah sakit, dia koma lima bulan terakhir.”

“Aku tidak berbohong, Ahjuma! Dia bersamaku! Kami jalan-jalan bersama, dan melakukan apa yang biasa dilakukan Minho!”

“Apakah kau yakin itu Jinki?”

“Sangat, Ahjuma! Dia, Jinki… ini…” aku menunjuk ke foto tersebut. “Dia, bersamaku di kereta, Ahjuma. Setelah itu kami pergi ke lapangan tempat biasa Minho berlatih, membeli es krim, bahkan Jinki bernanyi untukku dan membelai rambutku!”

“Maha Besar Tuhan, Rei-chan. Dia pasti sedang meminta maaf kepadamu, sebelum dia pergi…”

 

***

 

Tanah pekuburan itu masih basah, sangat kontras dengan tanah di sebelahnya yang telah mengering. Di dalamnya tidur dua orang sahabat sejati,

In Memoriam, Lee Jinki, 14 Desember 1989 – 15 November 2010

In Memoriam, Choi Minho, 9 Desember 1991 – 9 Desember 2009

Jinki Oppa dan Minho.

Aku benar-benar tidak bisa mendeskripsikan seperti apa perasaanku saat ini. Jinki, orang yang satu minggu yang lalu bersamaku, ternyata dialah si pembunuh itu. Tidak, dia tidak pembunuh. Aku sudah tidak menganggapnya pembunuh lagi. Aku bisa merasakan kesedihannya juga, penyesalannya, kehilangannya. Jinki Oppa, aku memaafkanmu. Dan aku juga meminta maaf kepadamu, aku telah menghakimimu, menuduhmu sesuka hatiku. Pantas saja ketika pemakaman Minho kau tidak datang. Kau pasti merasa bersalah telah membuat dongsaengmu meninggal, khan? Jangan bersedih, oppa. Ini takdir, seperti yang pernah kau katakan kepadaku.

Jinki Oppa, maafkan aku.

Minho, apa kabarmu? Sudah satu tahun, sejak kau pergi meninggalkanku. Apakah kau merindukanku? Karena aku sangat merindukanmu. Bahkan ketika aku berusaha menghapus semua kenangan tentangmu, kau tetap tidak tergantikan.

Minho, maafkan aku telah menuduh Jinki Oppa sebagai pembunuhmu. Maafkan aku sempat berpikir untuk balas dendam. Maafkan aku, Minho.

“Bisakah kau datang sebentar padaku, Minho? Aku sangat merindukanmu! Aku… aku… Aku tidak bisa… mencintai namja lain… aku…” aku tidak bisa menahan airmataku. Jadi kubiarkan saja airmata ini menetes, menetes di hadapan Jinki sebagai permintaan maaf karena telah menuduhnya pembunuh, dan menetes di hadapan Minho agar dia datang padaku saat ini, meskipun hanya sesaat.

Aku merasakan seseorang menggenggam tangan kananku, dan seseorang lagi menyentuh pundak kiriku. Aku agak terkejut, mengingat aku sendirian datang ke pemakaman ini. Tetapi setelah aku menoleh, aku merasa tenang.

Minho, menggenggam tangan tangan kananku sambil tersenyum. Jinki Oppa, sedang menyentuh pundakku, menguatkanku.

Minho, Jinki Oppa. Aku senang bertemu kalian di sini. Maafkan aku karena terjadi kesalahpahaman selama ini. Kalian pasti berbahagia karena telah bersama, khan? Aku berjanji akan sering datang ke sini, untuk bertemu kalian lagi. Aku akan baik-baik saja Minho, Jinki Oppa. Karena aku tahu, kalian tidak akan pergi dariku. Kalian akan tetap menjagaku. Kalian akan tetap berada di sampingku.

Tetap genggam dan sentuh pundakku seperti ini, Minho, Jinki Oppa. Selama-lamanya.

 

 

 

– TBC to Stand By Me (Jinki) Part 1 –

N.A / P.S (kalau ada): sebenernya sih udah selesai, tapi aku pengen bikin versi Jinki Point of Viev, gituh… jadi aku tulis TBC to Stand By Me (Jinki)… gomawo udah baca, maaf kalo ada yang nggak suka… Ini Cuma fiksi ya… sampai jumpa di part berikutnya^^

 

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

 

Advertisements

31 thoughts on “[FF PARTY] Stand By Me – (Rei) Part 2 {END}”

    1. di sentuh dong hatinya ,, kkk~~

      mian ya kalo kurang menyentuh ~.~
      dikejar deadline FF Party jadi kurang maksimal,,,

      makasi udah baca n komen 🙂

  1. Tadinya mau komen pedes.. Stelah baca part ini.. Ga jadi deh.. Kadi malu asal tebak setengah bagian.. =.=

    daebak author.. Kau membuatku salah

  2. YAH AUTHOR! apa-apaan ini? tega banget bikin cerita my beby onew matii?? hahahha
    GOOD JOB CHINGU…
    keep writing!!!\(♥⌣♥)/

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s