[FF PARTY] Vengeance

Vengeance

Title: Vengeance

Author: Dhikae

Main Cast:  Jin Ki And Minho

Support Cast : Ha Mun

Genre: Brothership, Romance & Tragic

Type/Length: One Shot

Rating: G (All Ages)

Ket: Sekedar berpartisipasi

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

The Story Begin….

Aku memandangi rerumputan yang terhampar luas di sekitar area kediamanku. Angin menerpa sekujur tubuhku, Aku berdiri dengan wajah tengadah di tempat ini, menikmati setiap terpaan angin yang membahana. Begitu sejuk namun menusuk hingga tulangku, Aku memeluk tubuhku sendiri meresapi pagi cerah ini ditemani embun yang masih terlihat samar. Sejenak, Aku menghembuskan setiap nafas yang telah terbuang.

Seketika ada seseorang yang tak asing menepuk sebelah bahuku. Aku menoleh dengan lirikan hangat padanya. “Err… Appa, annyeong!” sapaku saat melihat Appa sedang berada tepat di sampingku. Dia tersenyum singkat dan ikut menatap rerumputan pagi ini bersamaku. Kedua tangannya menyelusup ke dalam saku celana sama seperti halnya yang ku lakukan. “Huhhft, ternyata sudah dua tahun berlalu sejak kejadian itu..” sahut Appa dengan menghela nafasnya berat. Aku hanya mengangguk perlahan. “Memang Appa ingin mencari pengganti Eomma baru lagi untukku?” tanyaku dengan tawa paksaan, Appa hanya menatapku dengan seksama. “Aneyo,..!! Mengapa bicara seperti itu anakku?” Tanya balik Appa mengusap lembut kepalaku. “Ah, Ani!” jawabku singkat. Aku selalu gugup berbicara dengannya, entah apa karena kehormatannya yang begitu tinggi atau sudah lama sekali kami tak bertegur sapa. “Minho-yah..” sahut lagi Appa, “Hemm..” Aku pun menoleh ke arahnya.

“Sebaiknya kau pergi ke tempat kuliahmu dan cepatlah kau lulus, setelah lulus barulah kau menikah dengan kekasihmu dan memberikan Appa seorang cucu~!” ucap Appa dengan menepuk-nepuk pundakku pelan. Aku tersenyum lebar karena ucapannya, “Nde, Appa.. Itu pasti!!” jawabku sekenanya. Appa tersenyum getir, Aku memilih beranjak dari beranda ini. Appa mengikuti langkahku dari belakang, sepertinya Ia terlihat kelelahan namun Ia tetap berada di sisiku sampai saat ini.

Yah, dialah Appa-ku, Tuan Choi. Dia merupakan Presiden Korea Selatan yang sekarang. Sudah sejak lama Dia berada di kekuasaannya. Aku merupakan anak dari orang penting sepertinya di Negara yang penuh dilema. Sedangkan Aku, Choi Minho… Aku hanya tinggal berdua dengan Appa di rumah besar yang kosong ini karena semenjak kejadian dua tahun lalu, Appa tak ingin mencari Eomma pengganti untukku. Ibu kandungku telah meninggal saat melahirkanku, lalu Appa menikah lagi ketika umurku beranjak 10 tahun.

Dia menikah dengan seorang wanita yang sudah mempunyai anak dua tahun lebih tua dariku. Dia sudah Aku anggap kakakku sendiri, namanya Lee Jin Ki. Eomma  tiriku dengan Jin Ki hyung adalah keluarga yang sekarang masih tersisa, namun suatu ketika Ibu tiriku itu berubah ketika Appa telah menjabat sebagai kepala Negara.

Ibu tiriku menginginkan kekuasaan yang setara dengan jabatan Appa, tetapi Appa menolaknya mentah-mentah. Semakin lama, Ibu terlihat melunjak dengan pertengkaran yang selalu terjadi setiap harinya. Ibu selalu memaksakan kehendaknya dan melakukan segala hal tanpa pikir panjang. Appa semakin kesal dengan tingkah Ibu yang sudah kelewat batas, Akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah, tepatnya dua tahun lalu… Aku dan Jin Ki hyung hanya bisa diam dan menerima keputusan mereka. Lagipula Eomma tiriku dan Appa selalu memperebutkan tahta mereka masing-masing. Appa tidak pernah sekalipun mau mengalah dengan Eomma tiriku itu. Jin Ki hyung juga sepertinya lebih berpihak pada Eomma. Appa-pun menyerah dan lebih memilih bercerai dengan Ibu tiriku..

Aku dan Jin Ki hyung hanya bisa mengikuti semua keputusan mereka. Jin Ki hyung terpaksa mengikuti Eomma dengan tinggal bersamanya di Paris. Sedangkan Aku, bersama Appa di rumah besar namun sunyi dan kelam. Hanya ada Aku dan Appa juga sejumlah pengawal-pengawalnya. Begitu sepi hingga hati pun ikut membeku. Appa jarang sekali kembali ke rumah, tidak seperti dulu saat Eomma tiriku itu masih di sini. Appa selalu beralasan pergi ke luar negeri hanya dengan tujuan kunjungan Negara tetangga. Aku hanya bisa tinggal disini sendirian, bergumam sendiri tanpa berbicara dengan sebuah kehangatan keluarga yang tampaknya telah usai dari sekian tahun lalu.

Inilah kisah singkat hidupku…

Mungkin menyayat hati? Atau sebaliknya berakhir sesempurna bagai dunia mimpi?

Lee Jin Ki P.O.V

Ayunan langkahku mengarah ke sebuah tempat perhentian, kini Aku berada di Charles de Gaulle. Sebuah bandara di kota Paris. Aku berjalan bersama koper dan passport yang barada di tangan kananku, sembari melihat jam tangan yang berada di tangan sebelahnya, Aku pun melihat jam terbang menuju kota asalku, Korea Selatan. ‘Huhft.. Sebentar lagi aku akan kembali….’ gumamku sendiri, Aku melamun sejenak dan tersenyum sekilas menatap kosong ke arah tujuanku kali ini. “Tunggu aku!!!.. Aku akan buat kalian hancur!!” Aku kembali melangkahkan kaki ini dengan satu tujuan, balas dendam…

Tujuanku pun hampir sampai. Detik kini Aku harus melangkah dalam jalan yang masih panjang. Aku keluar dari bandara setibanya Aku di Seoul, kota kecil ku dulu~… Aku sempat berjalan-jalan sebentar ketika Aku sampai dan menggunakan taksi untuk mengitari beberapa jalan yang masih Ku ingat. Di balik taksi itu Aku hanya menatap jendela dan melihat pemandangan di luar.. Entah apa yang Ku lihat tetapi hatiku sangat kesal ketika melihat plang-plang yang berada di perusahaan-perusahaan besar merupakan gambaran dari orang yang sangat ku benci, dialah Appa tiriku. Aku memilih bersandar di jok belakang taksi ini dan memejamkan mataku ketika lelah, ‘Perjalananku baru di mulai.. Apakah akan ada sudut jalan yang ku inginkan?’ pikirku dalam benak

>><<

Suara deru mobil Audy putih yang keluar jelas dari pagar kokoh di balik rumah besar itu. Terlihat sosok pria dengan kaca mata hitam mengendarainya sendirian, Dia tidak lain adalah Minho. Siang ini Dia berniat ke kampusnya seperti hari biasa. Setibanya di kampus, Dia keluar dari mobil dan banyak sekali mata indah yang tertuju padanya.

Hampir seluruh gadis menyukainya, tentu saja dengan wajahnya yang bisa dikatakan mendekati sempurna ditambah tinggi dan postur tubuh yang mendukungnya menjadi pria idaman setiap wanita. Masalah kekuasaan dan harta bukan lagi menjadi urusan yang penting baginya. Dialah anak satu-satunya yang masih di sisi Appanya sebagai orang nomor satu di Korea Selatan. Belum lagi harta yang di miliki oleh keluarga Dia sebelum Appanya menjabat, mereka memiliki perusahaan traveling yang bercabang terutama sekitar Asia – Jepang, Singapore dan Korea tentunya…..

Di lain tempat Jin Ki memberhentikan perhentiannya di pinggir jalan sepi, Dia berjalan sekitar lima belas menit dan berhasil menemukan tempat tujuannya. Dia memasuki gerbang besar itu dan berjalan mengelilingi sekitarnya yang hanya ada beberapa taman dikelilingi gedung besar.

Dia melihat seorang gadis yang dikerumuni gadis lainnya di sudut taman. Gadis itu terlihat di intimidasi oleh gadis sebayanya. Gadis itu hanya diam merunduk dan takut menatap gadis-gadis yang sedang mencegatnya. “Hyakk, kau tahu ‘kan jangan kecentilan jadi wanita! Aku muak dengan tingkahmu selama ini!!” teriak salah satu gadis yang berbicara dengan gadis itu, nada suaranya meninggi. Yang lain tersenyum licik di sekeliling gadis itu, Jin Ki hanya memperhatikan tingkah gadis-gadis berandal itu dari jauh, ‘Kasihan gadis malang itu~..’ pikir Jin Ki sekilas, ‘Ah, tapi itu bukan urusanku, lebih baik Aku pergi saja!’ gumamnya sendiri sambil menatap gadis lemah yang sedang mendapat masalah itu.

Di sana, gadis malang mulai memberontak dengan mendorong gadis yang memarahinya sejak tadi, “Aish, apa urusan kalian?? Aku tidak bermaksud apapun mendekatinya!! Kami hanya sahabat, itu saja, cukup!!” gurau gadis malang itu dengan nada membentak pada gadis yang memarahinya barusan. “Dasar wanita jalang!! Beraninya kau..” Gadis yang dibentak barusan emosinya meningkat, Dia pun melayangkan tangannya ke arah wajah gadis malang itu bermaksud menamparnya, namun sekejap gadis malang itu di tarik menjauh dari tempat semulanya tergantikan oleh seorang namja yang siap terkena sebuah tamparan.

Semua mata terbelalak di saat melihat seorang namja langsung menghentikan aksinya, tangannya pun tinggal satu inchi lagi mendarat di pipi mulus namja itu, namun terhenti begitu saja. “Nu..guyah?” Tanya gadis jahat itu terkesiap, Namja yang ada di depannya pun mengulaskan sebuah senyum kemenangan. “Me?…Jin Ki imnida..women shouldn’t be rude, ok!” sapa Jin Ki dengan sindirannya, gadis itu lagi-lagi membelalak. “Err, nde!” gadis lainnya melihat Jin Ki takjub mungkin karena wajahnya yang amat manis. Salah satu dari gadis binal akhirnya menarik sahabat-sahabatnya pergi dari tempat ini sebelum malu di depan seorang namja tampan sepertinya. Sesaat setelah mereka pergi..

Gadis malang itu masih menunduk dan tampak bulir-bulir air mata terjatuh di pipinya, Jin Ki pun merogoh saku jaket yang dikenakannya, Jin Ki mengeluarkan sebuah sapu tangan dan menjulurkannya tepat ke hadapan gadis yang sedang terisak di depannya. “Are you okay?” Tanya Jin Ki agak khawatir, gadis itu perlahan menatap Jin Ki dan menghapus air matanya yang baru saja terjatuh. “Ne! Khamsahae telah menolongku barusan!” ujar gadis itu membungkuk sopan. Jin Ki mulai tertarik dengan kepribadiannya.

“Jeoneun Ha Mun imnida! Bangappseumnida.” Ha Mun memperkenalkan dirinya, Jin Ki mengangguk pelan. “Ye, Jin Ki imnida! Mengapa gadis tadi marah-marah padamu, Ha Mun-ssi?” Tanya Jin Ki penasaran, Ha Mun mengerucutkan bibirnya terlihat sangat lucu.

Belum sempat Ha Mun menjawabnya, tiba-tiba seorang namja menghampiri mereka dan menyapa Ha Mun seraya merangkul bahunya tanpa enggan, “Annyeong..kau dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi, arrayo?” sapa namja yang langsung mengacak rambut Ha Mun dengan lembut saat tangannya melingkar di leher Ha Mun, Jin Ki hanya memperhatikan mereka dengan tatapan tajam, bukan karena dia cemburu melainkan ada sesuatu antaranya dengan Namja itu. Minho baru menyadari ada orang yang berada di dekat mereka sekarang, saat menatap Jin Ki seksama, bibirnya menganga beserta matanya membulat.

“Hh..hyung?” Minho gugup seketika saat menunjuk ke arah Jin Ki, kakak tirinya sekarang berada di depannya. “Annyeong Minho-ssi! Kebetulan sekali kita bertemu disini~?!” Jin Ki berusaha menutupi amarahnya yang terpendam selama ini pada keluarga Minho. “Err..nde! Boghossipoyo, hyung!” Minho memeluk Jin Ki, kakaknya yang sudah dua tahun belakangan ini menghilang dan tanpa kabar. Terakhir Ia hanya tahu bahwa mereka tinggal di Paris. Jin Ki mengeratkan pelukannya dan tersenyum palsu, Dia mengelus pundak Minho seakan mengobati kerinduan mereka sebagai kakak-adik.

‘Yep, sesuai dengan rencana~!’ batin Jin Ki. Minho pun melepaskan pelukan hangat dari hyungnya itu. “Hyung, sekarang kau tinggal di mana? Eomma bagaimana kabarnya? Dia bersamamu baik-baik saja ‘kan?” Minho berkata dengan pertanyaan bertubi-tubi membuat Jin Ki menahan tawanya. “Aigo, Minho…kau terlihat lebih cerewet sekarang! Yah, gweanchana~…aku dan Eomma baik-baik saja! Eomma masih di Paris sekarang, sedangkan aku ke sini untuk melanjutkan sisa waktu kuliahku! Kau sendiri?” Tanya balik Jin Ki. “Aku baik, hyung! Owh, Eomma menetap di sana?!! Sayang sekali aku tak bisa menyapa Eomma seperti Aku menyapa hyung sekarang! Sekarang hyung tinggal di mana?” Minho begitu antusias berbicara dengan Jin Ki, hatinya teramat senang bisa kembali menemui sosok saudara yang telah lama Ia tak temukan.

“Ne ga?…Aku belum mencari tempat tinggal. Hajiman, aku akan mencari sebuah losment kecil di sekitar sini!” ujar Jin Ki mencoba berbohong, Ia tahu sekali Minho akan mengajaknya tinggal kembali bersamanya. “Aih, Hyung..mengapa tidak kembali ke rumah.. Aku sangat senang jika hyung ingin kembali pulang ke rumah, lagipula itu rumah hyung juga!” sahut Minho sembari merangkul Jin Ki seketika. Ha Mun sejak tadi hanya diam mendengar pembicaraan mereka.

“Err..tidak apakah? Tapi itu kan..bukan hak ku lagi tinggal disana!” kata Jin Ki berpikir keras, Minho mendesis, “Aishh, hyung.. Kau itu adalah bagian keluarga Appa juga! Kau berhak kembali..ayo kita pulang dan temui appa~!” ajak Minho menarik langsung tangan Jin Ki. Sebelumnya Dia menyapa kembali Ha Mun. “Ha Mun-ah, nanti kita bicara lagi..Annyeong!!” Minho mengecup kilat kening Ha Mun bagaikan sepasang kekasih yang sedang berpisah. Jin Ki hanya diam terpaku melihat mereka berdua, terasa sesuatu yang aneh dalam hatinya. Cemburu? Mungkin saja.

Mereka berdua pun pergi meninggalkan Ha Mun sendirian, namun Ha Mun sangat senang karena terlihat dari wajah sahabatnya yang mulai kembali tersenyum bahagia melihat saudaranya kembali dalam kehidupan Dia yang sepi itu……..

Sesampainya mereka di rumah megah itu, Jin Ki masih ingat sekali saat dia merasakan menjadi anak dari seseorang yang begitu hebat. Dialah Appa tirinya, dulu Jin Ki sangat menganggumi Appanya namun karena kejadian dua tahun lalu, Dia merasa Appanya adalah orang yang paling jahat yang pernah Ia kenal. Ibunya bagaikan telah menghasutnya dengan segala kejelekan mantan suaminya itu.

Jin Ki pun merebahkan dirinya di Sofa ruangan keluarga bersamaan dengan Minho yang masih melihat jam tangannya sejak tadi. “Hyung, tunggu sebentar..Appa mungkin akan kembali beberapa jam lagi..Hyung ingin bermain game denganku? Sudah lama sekali Aku ingin mengalahkan Hyung main game, tetapi.. Hyung sudah pergi jauh sewaktu itu..” pikir Minho menampakkan wajah kalutnya, Jin Ki mengelus kepala Minho dengan senyum singkatnya. “Arra arra.. Let’s Play Minho-yah!!” Jin Ki menarik lengan Minho menuju ruang yang masih tetap sama seperti dulunya, mereka pun duduk dan bertanding dalam game bersama. Sudah lama sekali tidak terdengar suara tawa dari dalam rumah ini. Suara tawa lepas Minho pun bisa terdengar sekarang dibanding saat Dia merasa kesepian ditinggal Hyungnya itu.

Beberapa jam kemudian Ayah dari Minho pun kembali dengan wajah sudah tampak kelelahan, biasanya rumah yang dia injaki ini terlihat sepi pada saat-saat dia kembali, namun kali ini nampak berbeda. Terdengar suara yang sudah lama Ia tak dengar.. Suara tawa kebahagiaan dari anaknya sendiri. Di lihatnya Minho dengan seorang yang berperawakan tak asing baginya, Yah Lee Jin Ki.. Anak tirinya dulu…

“Jin Ki?” kaget Appa saat melihat Jin Ki sedang bermain dengan Minho. Beberapa pengawal yang dibelakangnya juga tampak kaget melihat anak dari bosnya itu telah kembali. ”Err..  Adjussi..” sapa Jin Ki se’formal mungkin. Namun Appa langsung menggelengkan kepalanya cepat, “Aneyo, jangan panggil aku, adjussi! Aku ini masih Appa-mu bagaimana pun kondisi kita!!” ujar Appa yang langsung menghampiri mereka berdua, pengawal yang berada di belakangnya pun langsung pergi saat melihat keadaan tetap terkendali. “Eh, Ye! Gomawo Appa!” sahut Jin Ki sembari mencoba mendekat ke arah Appanya, mereka pun berpelukan erat. Appa sangat senang bisa kembali menemukan anak tirinya yang telah pergi sejak dua tahun lalu. “Bagaimana keadaanmu, Jin Ki-ssi? Kau tinggal di sini sekarang?” Tanya Appa dengan wajah penuh senyum merekah, kedua mata Minho terlihat berkaca-kaca sama seperti halnya Appa dan Jin Ki.

“Gweanchana Appa!?!” jawab Jin Ki dengan senyum khasnya, Minho pun menambahkan, “Hyung belum mencari tempat tinggal, jadi ku putuskan untuk membawa Hyung ke rumah, bolehkah Appa, hyung tinggal di sini lagi bersama kita? Jebal!” pinta Minho dengan puppy eyesnya. Appa langsung mengangguk saja mengisyaratkan persetujuannya. “Yah, kau tinggal disini saja bersama kami, lagipula selama di Seoul kau tak punya siapa pun! Eomma-mu pasti tidak akan khawatir jika kamu bersama kami!” perintah Appa sembari tangannya menapakkan di kedua bahu Jin Ki, tersyirat raut senyum di wajah Jin Ki. “Gomawo, Appa! Aku takkan merepotkan Appa di sini! Yaksokkhae!” janji Jin Ki yang tampak kebohongan di matanya. ‘Kita lihat saja apa yang akan ku buat setelah ini, Tuan Choi!’ pekiknya dalam hati. Dia sudah merencanakannya sejak awal. Hanya balas dendam yang membuat Ibunya yang sakit hati dapat terobati, menurutnya.

Akhirnya Jin Ki tinggal di sini bersama Minho dan Ayah tirinya. Ia pun cepat menyesuaikan diri dan suatu ketika di saat pagi menjelang, terlihat Jin Ki menghubungi seseorang secara diam-diam tanpa terdengar siapapun, “Hello?..Yes, I’m Jin Ki, doct! how about my mother? She is better now?…..Oh, I really miss her, can I talk with her?” Jin Ki berbicara dengan seorang dokter jiwa kenalannya di Paris, dia sengaja membawa Ibunya ke Paris untuk mengatasi gangguan jiwa yang di alami Ibunya tersebut, sejak Ibu di ceraikan oleh Appa, Ibunya berubah drastis. Hidupnya bagaikan hancur berkeping-keping. Jin Ki merasa kasihan melihat kondisi Ibunya yang semakin memburuk, tidak ingin bicara lagi bahkan kini Eomma bagaikan seperti mayat hidup yang tak mau melakukan aktivitas apapun, hanya berbaring di rumah sakit jiwa dan tak berbicara sedikitpun bahkan padanya.

Dokter itu memberikan ponselnya kepada Ibu dari Jin Ki, “Eomma?” sapa Jin Ki saat Ia tahu ponselnya sekarang berada di telinga Ibunya. “Eomma, mendengarku? Aku, Jin Ki.. Sekarang aku sudah berada di Seoul.. Aku akan membuat Eomma…tersenyum dari sana,…Eomma! Hikss..” Jin Ki berbicara dengan suara isak tangis, “Tapi ku mohon…tetaplah sabar menunggu hari kemenangan hati Eomma!.. Eomma..Hikss…saranghae~!” Jin Ki tak kuat lagi berbisik lagi di telinga Ibunya yang sudah dalam keadaan seperti itu. Dia hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ponselnya terbuang begitu saja ke lantai. Hatinya begitu perih ketika Ibunya tak pernah menanggapinya lagi, tak pernah ia rasakan kasih sayang ibu lagi dan tak pernah sedikitpun Ia berbicara lagi dengan Ibunya. Sungguh menyedihkan hidupnya kini……….

Hari ini, Appa pergi ke kedutaan besar seperti biasanya dengan segala urusan yang Ia jalani sedangkan Minho memilih pergi belanja ke supermarket menemani Ha Mun. Kini Jin Ki sendirian di rumah mewah itu, Dia pun melancarkan aksinya. Dia mengendap-endap pergi ke ruang kerja Appanya. Dengan sigap Dia mematikan kamera pengintai yang ada di ruangan itu juga. Dia memformat rekaman kamera itu agar tidak diketahui bahwa Ia dalang semua ini. Setelah itu dia menggeledah meja kerja Appanya, di mulai dari laci meja hingga rak-rak buku yang terpampang besar mengelilingi ruangan kerja ini. Setelah setengah jam mencari-cari akhirnya dia menemukan satu berkas dokumen lama yang membuatnya tersenyum lega. ‘Ah, ini dia yang ku cari! Appa akan tamat jika aku membongkar semua kejahatan lamanya!’ pikir Jin Ki dengan rencana busuknya. Dia tersenyum picik seraya meninggalkan ruang kerja Appanya.

Di tempat lainnya, malam itu Minho membawa Ha Mun ke sebuah taman kecil yang dihiasi bunga kersen di sekitarnya, Minho menutup kedua mata Ha Mun dan mulai membuka sapu tangan yang menutupinya, “Tarraaa…” sahut Minho yang berada di sebelahnya dan ‘Klik’ Minho menekan sebuah tombol, semua berubah dari taman yang gelap itu menjadi banyak cahaya seperti kunang-kunang kecil di atas bunga-bunga kersen itu, lampu-lampu kecil itu sengaja di pasang Minho untuk menggugah hati Ha Mun yang terlihat gelap awalnya, “Bagaimana, kau suka?” Tanya Minho sembari merangkul sahabatnya itu, Ha Mun mengangguk pelan, terlihat wajahnya sudah memerah melihat pemandangan yang sungguh cantik dimatanya. Minho pun menghadapkan dirinya bertatapan lurus pada Ha Mun, dia meraih kedua telapak tangan Ha Mun dan tersenyum hangat, nampak eyes smile terlukis di matanya, “Ha Mun-ah, ini special untukmu..Will you be a special person in my heart, Ha Mun-ah?” pinta Minho yang mencium telapak tangan Ha Mun secara lembut, setelah itu mereka saling bertatap kembali.

Ha Mun terperangah dengan pernyataan Minho barusan. “Ha Mun-ah, give me your choice, pleaseee!!” pinta Minho yang sudah tak sabar mendengar jawaban dari sahabatnya itu. “Err.. Aku bingung harus menjawab apa, Minho-ssi! Kau sudah ku anggap sesuatu yang berharga dalam hidupku, apa itu saja tak cukup?” Tanya balik Ha Mun dengan raut wajahnya yang bingung dan semakin merah merona. “Ani, itu tidak cukup! Aku ingin memilikimu seutuhnya.. Ku mohon berikan aku jawaban..” Minho memelas di depan Ha Mun bahkan bertekuk lutut di hadapannya, Ha Mun menggigit bibir bawahnya mencoba berpikir dingin, “Minho-ssi, yes I will!” kata Ha Mun menyatakan perasaannya juga terhadap Minho. Dia bersedia menjadi pengisi hatinya Minho sekarang, walau teramat berat melepas ikatan persahabatan mereka menjadi sepasang kekasih tetapi Ha Mun tak bisa mengingkari dia juga menyukai sosok sahabatnya yang baik ini…..

Keesokannya, Jin Ki sudah bersiap membereskan barang-barangnya di koper untuk pergi meninggalkan rumah ini sesegera mungkin dan melaksanakan rencana selanjutnya, namun Ia menghubungi seseorang dulu sebelum dia pergi. “Hello, doctor!…What?..Aishh, what happen with my Mom?….tuttt…tuttt….” ponselnya terputus seketika, Jin Ki ambruk seketika, dirinya tersungkur di lantai, wajahnya telah basah oleh air mata yang mengalir makin deras, kenyataan telah di laluinya.. Namun dia tak sanggup lagi berpijak.. “Hikss..hikss..Eomma.. hikss.. Mengapa kau meninggalkanku secepat ini.. Wae?? Waeeee??? Hikss.. Tuhan!! Ku mohon kembalikan Eomma.. Jeball!…hikss..hikss..andwee…andweeee…” Jin Ki menangis makin kencang, Dia memukul-mukul tangannya sendiri ke lantai tak bisa menerima kenyataan. Ibunya telah tiada.. Segera mungkin dia mengambil tasnya dan melangkah keluar dari rumah yang tampak sepi itu. Memang setiap hari yang terlihat dari rumah besar itu dimatanya. Selalu penuh dengan keheningan dan kelam……

>><<

Dua minggu setelah kejadian itu, Minho sulit sekali menghubungi Jin Ki dan Ia tak tahu menahu kepergiaan kakaknya tersebut secara tiba-tiba. “Tuttt…Tutt..” suara yang terdengar selalu dari ponselnya, Appa cukup khawatir dengan keadaan anak tirinya itu. Minho masih mencoba menghubunginya walau Ia tahu hanya kemungkinan kecil Jin Ki mengangkatnya. Ha Mun sedang berada di dekatnya sekarang, menemani kegelisahan yang di alami kekasihnya itu. “Minho-ssi, biar aku yang mencoba menghubunginya~!” sahut Ha Mun langsung membuka ponsel flipnya, dia mencoba menghubungi Jin Ki. ‘Huhftt..’ Ha Mun menarik nafas sejenak, dan tiba-tiba saja suara terdengar dari balik ponsel itu. “Hello?” sapa seorang namja di seberang sana. Ha Mun mengguratkan sebuah senyum penuh harap bahwa itu suara Jin Ki.

“Yoboseyo, Jin Ki-oppa? Kau kah itu??” sapa Ha Mun seketika, “Ne, ini aku.. Jin Ki imnida!” ternyata dugaannya tepat, Jin Ki telah mengangkatnya sekarang, Minho langsung meraih ponsel yang tertancap di telinga Ha Mun. “Yoboseyo? Hyung…hyung sekarang dimana? Hyung kemana saja selama ini? Aku dan Appa mengkhawatirkan hyung.. Kami telah mencari hyung kemanapun, kami kira hyung mendapat masalah, hingga Appa menurunkan bawahannya untuk mencari hyung… Apa hyung masih di Seoul? Hyung.. Hyung ceritalah padaku..” Minho yang teramat panik langsung melayangkan pertanyaan yang mencengangkan kepada Jin Ki.

‘Aisshhh’ Jin Ki berdesis dalam hatinya, Dia masih bisa membayangkan pemakaman Ibunya seminggu lalu. Bayangan yang buruk dan membuat amarahnya makin memuncak. “Gwean..chana.. Besok aku kembali ke Seoul! Tunggulah kedatanganku disana..Aku akan menceritakan semuanya saat Aku disana..” ujar Jin Ki tersenyum kecut di balik ponselnya itu. Minho hanya menjawabnya santai, “Err..Keunde besok akan ada perayaan ulang tahunku, ku mohon hyung datang tepat waktu! Ada sesuatu yang penting ingin ku sampaikan kepada semuanya..” ujar  Minho memintanya dengan suara memelas. “Pasti! Tunggu saja aku… Aku pasti datang, Minho-ssi!” lirih Jin Ki menampakkan suara yang sudah parau setelah berhari-hari menangis. “Hyung, benar-benar tak apa?” khawatir Minho setelah mendengar suara hyungnya yang begitu aneh. “Nde, gweanchana! Sudah ku tutup yah.. Bye!” Jin Ki menutup sambungannya cepat. Dia akan mempersiapkannya untuk besok.. Hari terakhir dia akan menyelesaikan balas dendamnya terhadap keluarga Choi…

Keesokan malamnya, rumah megah itu sudah di padati oleh orang-orang penting bersama mobil mewah yang terparkir memadati arena taman miliknya. Minho memilih pesta kebun untuk perayaan ulang tahunnya, tepat tanggal 12 Desember kini. Jin Ki hadir di antara mereka setelah pesta di mulai, Minho berdampingan bersama Ha Mun di hadapan orang-orang penting yang hadir, sambutan meriah terlayang untuknya. Appa selalu setia menemani anak semata wayangnya ini.

Acara di mulai dengan iringan pianist yang di bawakan oleh Minho sendiri, seiring melodi dari tuts-tuts piano itu, para hadirin yang datang bernyanyi ucapan selamat ulang tahun padanya. Semua bertepuk tangan di kala lagu itu selesai, Ha Mun membawakan sepotong kue tart besar yang menjulang tinggi bagai dirinya yang teramat terhormat seperti Appanya. Jin Ki hanya tersenyum getir melihat kebahagiaan adik tirinya sekarang dari jauh. Dia belum menampakkan dirinya. Minho memotong kue itu bersama Appanya, setelah itu saatnya Minho memberikan kue special yang harusnya dia berikan kepada Hyungnya, Jin Ki. Namun, Jin Ki masih belum terlihat, Jin Ki yang sengaja menghindari dari penglihatan Minho malam ini. Jin Ki hanya memperhatikannya jauh namun dengan lekat-lekat. Akhirnya Minho terpaksa memberikannya kepada Appa.

Setelah itu pengumuman penting pun di ungkapnya, “Semuanya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah hadir, di hari ulang tahun saya ini! Saya merasa beranjak dewasa dengan hari-hari yang sudah terlewati di dalam hidup saya.. Saya pikir hanya beberapa orang bisa dewasa dalam berpikir dan bertindak dengan melihat masa lalunya. Kali ini saya tidak akan menyia-nyiakan waktu saya yang makin berkurang karena bertambahnya umur saya! Saya bersama wanita yang berada di samping saya ini..” Minho mengeratkan dirinya dengan merangkul Ha Mun mesra, “Saya akan bertunangan dengan kekasih saya ini, Choi Ha Mun!” ucap Minho yang membuat Jin Ki ingin berteriak, baru saja dia kehilangan Ibunya, sekarang dia harus mendapat kenyataan Ha Mun telah terebut darinya.

‘Prangg’ tiba-tiba saja suara gelas pecah begitu saja karena Jin Ki tak sengaja oleng dengan keseimbangan pikirannya, Dia menggeleng cepat dan merasakan dadanya semakin sakit. Ia pun pergi dari tempat itu dengan berlari. Dia menangis, berlari menjauh dari rumah kediaman keluarga lalunya itu. ‘Cukup sudah Minho dan Appanya membuat Aku dan Eomma tersiksa..Hikss.. Eommaa..Hikss’

Minho dan Ha Mun mendekat ke arah pecahan gelas itu barusan setelah acara akan berakhir, “Minho-ssi, siapa yang memecahkan gelas kaca ini yah?” Tanya Ha Mun agak takut. Minho menaikkan bahunya mengisyaratkan ketidak tahuannya. Minho pun menarik tangan Ha Mun hingga ke tengah jembatan kecil di taman miliknya di belakang rumah. Minho merogoh saku celananya dan terlihat kotak berwarna merah, membukanya di depan Ha Mun.

“Ige..mwoya?” Tanya Ha Mun yang bingung dengan barang yang ada di depannya. “Ini sepasang kalung untuk menyatakan ikatan kita, Ha Mun-ah!” ujar Minho memasangkannya ke leher Ha Mun, wanita itu hanya memperhatikan bentuk kalung yang berbandul setengah lingkaran ini. Minho juga memakainya di lehernya. “Ini dinamakan kalung bulan sabit karena berbentuk setengah lingkaran, tetapi kau tahu jika kita menyatukan bandul kedua kalung ini, mereka bisa menjadi satu cincin! Itulah maknanya..Apa kau suka?” Tanya Minho yang mengusap perlahan poni yang menutupi setengah wajahnya yang cantik itu. Ha Mun hanya tersenyum singkat, Ia tak tahu harus berkata apalagi, “Minho-ssi gomawo, tetapi apa ini tak berlebihan hanya untuk seorang diriku saja!” Ha Mun merendah. Minho pun memeluknya sekejap. Mereka melewati malam ini dengan Indah..

>><<

Jin Ki mulai menghentikan pelariannya sejak tadi, Dia mengatur nafasnya yang tersengal akibat berlari di pinggir kota yang gelap gulita ini. Dia pun mulai menghubungi seseorang yang tak lain adalah Minho.

“Yoboseyo?” angkat Minho saat melihat nomor Jin Ki di layar ponselnya, “Minho-ssi, apakah kau itu?” Tanya Jin Ki dengan nafas makin memburu, “Nde.., hyung? Hyung kau dimana?” Tanya Minho dengan nada khawatir. Jin Ki menyunggingkan senyum iblisnya. “Kau tahu.. Aku bukanlah Jin Ki yang kau kenal.. Aku adalah pembawa kerusakan dalam hidupmu detik ini. Heh.. Kau semestinya mengetahui itu sebelumnya!” sahut Jin Ki dengan tawa kecilnya. “Apa maksudmu hyung?” Minho tak bisa mencerna ucapan Jin Ki barusan. “Hyakkk~ Kau harus buka pesan dariku.. Setelah itu kau akan tahu segalanya.. Kau yang sekarang harus beraksi.. Atau kau harus melihat Appamu mati.. Kyahahahah!” Jin Ki tertawa lepas, mentertawakan yang Minho tak ketahui. “Hyung.. Hyung apa maksudmu?” Tanya Minho menjadi makin penasaran. “Shit!! Kau..kau…yang membuat hidupku hancur.. Kau bedebah Minho-ssi! Keluargamu… semuanya omong kosong! Kau tahu.. eomma baru saja mati karena ulah appamu dulu.. setelah dia menceraikannya dan tidak memberikan harta sepeser-pun, Hiksss..Eomma menjadi stress dan gila..Hikksss.. Sekarang dia mati bunuh diri di rumah sakit jiwa karena ulah Appamu..Hyakkk~ Dia tak tahan hidup seperti ini terus-menerus..Sudah sejak lama aku menunggu saat-saat seperti ini.. Kau juga telah merebut Ha Mun, wanita yang baru saja ku cintai..Hikss.. Semua telah usai Minho-ssi! Penderitaanmu kini dimulai.. Rasakanlah itu…!!” Tuttt..Tuttt…

Sambungan terputus, Minho menganga seketika, akhirnya dia mendapat satu pesan yang berbentuk sebuah gambar.. Sebuah bingkisan berwaran biru pekat. Di bawahnya tertulis ‘di dalamnya ada sebuah map berkas kejahatan Appa-mu yang lalu. Appa-mu masih menyimpannya dan akan ku bongkar semuanya ke depan publish. Apa kau tak ingin mencegahnya? Jika tidak ingin Appa-mu terbunuh oleh masyarakat yang brutal ini, kau harus menemukannya di pusat kota Seoul dekat gedung pemberitaan. NOW OR NEVER!!!!’

Minho menelan ludahnya pahit, Dia berlari secepat mungkin meninggalkan Ha Mun yang di taman bersamanya barusan. “Minho-yah.. Kau mau kemana? Hyaakkk~!!” Ha Mun mencoba menghentikan langkahnya tetapi terlambat. Minho sudah berlalu dari hadapannya. Ia mencoba berdoa takkan terjadi sesuatu yang akan menimpa kekasihnya itu.

Choi Minho P.O.V

Aku berlari sekuat tenaga ke suatu tempat yang ditujukan pengiriman kotak itu ke gedung pemberitaan. Aku sama sekali tak ingin membuat senyuman Appa yang melihatku akan bertunangan menjadi pudar, Aku mempercepat langkahku hingga Aku sampai di dekat daerah itu. Aku menoleh ke segala arah namun suasana malam ini begitu sepi. Aku tak melihat orang-orang yang berlalu lalang di sekitar sini. Tetapi ini lebih baik dibanding harus banyak orang terlibat dalam masalah ini. Aku pun sampai hingga Gedung tempat dimana bingkisan itu akan di kirim ke sini. Tiba-tiba ada seorang pengantar membawa sepeda motornya berhenti di dekat gedung ini. Aku menghampirinya dengan wajah cemas.

“Silyehamnida.. Apakah kau pengantar bingkisan ini?” sapaku yang memperlihatkan gambar yang ada di ponsel milikku. “Ah, ne! Ini milikmu, silahkan tanda tangan disini!” kata pengantar barang itu dan memberikanku bingkisannya. “Khamsahamnida adjussi!” Aku membungkuk sopan ketika Adjussi itu pergi berlalu dari hadapanku.

“Huhft~!” Aku bernafas lega. ‘Ternyata ini tak begitu sulit~!!’ pikirku dalam hati. Aku pun membuka bingkisan itu. Yah memang terlihat sebuah map tetapi.. OMO!! Ada sesuatu berwarna hitam dan tombol merah di sampingnya. Ini peledak!!! Pikirku langsung sekilas melihatnya.. Mwo??? Waktunya…

‘00:10 seconds’

Aku berlari sembari melempar peledak itu menjauh dariku, Aku berlari dengan sisa tenagaku yang ada bersamaan dengan map berkas yang ku bawa, tubuhku sudah di cucuri keringat tetapi Aku belum menyerah. Beberapa meter dari tempatku akhirnya peledak itu tepat meledak di belakangku..

Buarrrrrrrrr….

Suara ledakan dari alat peledak itu pun hampir membuatku hancur berkeping-keping. Mungkin aku akan mati sesaat lagi… Yah beberapa detik lagi.. Semua terasa gelap dan seluruh tubuhku di buat remuk oleh suara dan getaran ledakannya.

>><<

Aku seakan mendapatkan sebuah cahaya yang menerangi benakku kini.. “Err.. Dimana aku?” ku mulai tersadar dari baringanku, Ha Mun sudah menangis di sebelah ranjangku, “Minho-ssi.. Akhirnya kau tersadar…” lirih Ha Mun dengan tangisnya yang belum reda. “Ha..Mun..Dimana Appa?” tanyaku langsung ke pokok permasalahannya. “Dia.. Adjussi sedang berada di kantor polisi.. Sepertinya Appa-mu akan turun dari jabatannya karena..dia..dia melakukan tindak korupsi.. mian mengatakannya di waktu tak tepat..!” gumam Ha Mun mengelus pipiku yang memucat.

“Ne, gwean..chana..Itu yang pantas untuknya..setidaknya..Ada seseorang yang bahagia Appa di sana…” ujarku terbata-bata. Aku ingin sekali menangis mendengar ucapan Ha Mun bahwa Appa sudah di tangkap tetapi Aku lebih bahagia jika Aku masih hidup sampai hari ini mengetahui kenyataannya.

“Ha Mun..siapa..yang membawaku kesini?” tanyaku dengan nafas yang sesak. “Err..Itu…Dia ada di luar pintu ruangan ini..Dia ingin melihat keadaanmu tetapi Dia tak berani menemuimu~!” kata Ha Mun memperlihatkanku ada sosok bayangan di luar pintu itu.

“Biarkan..dia masuk..” jawabku singkat. Ha Mun membawa orang itu masuk dengan menarik lengannya paksa, tetapi namja yang terlihat itu membuatku terkejut.

“Eh, hyung…?” sapaku saat melihat Jin Ki hyung lah yang menolongku. “Minho-ssi..Mianhada!..Aa..aku memang bersalah.. kau boleh membawaku ke kantor polisi sekarang..aku bisa menerima konsekuensinya..!” Jin Ki hyung menangis dan berlutut di depan ranjangku. “Ane..yo..Hyung…kau takkan menderita untuk sekian kalinya..” kataku yang mulai menitihkan air mata. “Sudah cukup penderitaan..mu hyung! Aku..aku tak ingin melihat hyung menangis lagi..hikss..Mianhae~!” lirihku yang tak kuat menahan tangis.

Jin Ki hyung dan Ha Mun semakin terisak. “Mian..aku tak tahu kalau hyung..selama ini menderita..mianhae!Aku bersalah pada hyung dan eomma..mianhae! Maafkan appa juga..!” tambahku. Aku sadar penderitaan Jin Ki hyung lebih berat dariku. Selama ini dia memendam segala masalah hidupnya sendiri tanpa meminta bantuan siapapun. Dia memendam keluhnya sendirian dan jauh tanpa seseorang yang ingin menemani di sisinya.

Deggg…

Tiba-tiba saja jantungku terasa lebih sakit dan semakin mengerut.. Aku memegang dadaku dengan kedua tanganku, Jin Ki hyung dan Ha Mun, keduanya menghampiriku memperlihatkan kekhawatirannya. “Minho-yah gweanchana?” Tanya Jin Ki hyung ikut merasakan sakit yang ku rasa semakin menusuk. “Hyung..Ku mohon…” aku memilih melanjutkan pembicaraan terakhirku kini..

“Wae?? Katakan saja.. Aku akan berusaha mengabulkannya..” jawab Jin Ki hyung menggenggam kedua tanganku erat. “Ku..tak kuat lagi..Hu’ukk.” aku pun sempat terbatuk merasakan nyeri di seluruh anggota tulang rusukku.

“Ku mohon..gan…tikan..a..ku..men…jadi…pemilik..kalung ini..!” Aku menarik kalung yang masih melekat di leherku, Aku meraih tangan Jin Ki hyung dan mencoba menyuruhnya untuk menggenggamnya erat. “Aku…ingin..kalian berdua…ber..sama..! Sarang..hae Jin Ki Hyung.. Ha mun-ah….Titttttttttttt….”

Suara alat pendeteksi detak jantung pun berhenti sekejap. “Andweeeeee….Minho….Minhoooo…!” Jae Suk dan Jin Ki menangis histeris di ruangan itu terdengar hingga luar.. “Hyakkk..Minho….Hiksss…Mengapa dongsaengku meninggalkanku juga disini..hikss..” Jin Ki menggoncangkan tubuh Minho yang sudah tanpa nyawa itu. Semua tenggelam dalam kesedihan.

>><<

Tepat 14 Desember sehari setelah peristiwa kelam itu.. Minho telah tenang bersama Eomma di alam surga sana.. Di sebuah taman bunga kersen sudah bermekaran.. “Saengil chukahamnida… Oppa!” pekik Ha Mun yang menutup kedua mata Jin Ki dari belakang kursi taman. “Ha Mun-ah~, sudah jangan seperti anak kecil! Aku sudah tahu itu pasti dirimu..” sahut Jin Ki mencoba melepaskan kedua tangan Ha Mun di pelupuk matanya.

“Oppa… Saranghae~!” kata Ha Mun memeluk Jin Ki dari belakang, Jin Ki tersenyum singkat, “Apa kau juga mengatakan ini kepada Minho?” Tanya Jin Ki yang terbesit dalam pikirannya. “Sebenarnya.. Dari awal aku mencintai oppa~! Tetapi.. Minho adalah bagian dalam hidupku oppa~!” kata Ha Mun melepas pelukannya dari tubuh Jin Ki. “Lalu aku?” potong Jin Ki begitu saja. “Oppa~ adalah bagian dalam hatiku…!” Ha Mun tersenyum lepas, Jin Ki memeluk pinggangnya erat dan mengecup bibirnya sekilas, “Na Do saranghae, Ha Mun-ah~!” bisik Jin Ki tepat di telinga Ha Mun. Semua berakhir dan mengalir begitu saja.. Gelap menjadi putih.. Balas dendam menjadi Kasih sayang abadi… Semua berlalu begitu cepat hingga tak seorang pun takkan tahu apakah akhirnya menjadi menyayat atau sempurna seperti mimpinya kali ini !!!

ƸӜƷ  Final ƸӜƷ

PS: Mohon dimaafkan jika panjang, banyak kesalahan kata dan tidak menjurus ke ff saat party Onew-Minho! Saya hanya author amatiran^_^)

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

36 thoughts on “[FF PARTY] Vengeance”

  1. Huaaah.. End’a kereeen.. Daebak authorr..

    Tpi.. Tapi.. Kok ada yg gnjil ya.. Kn d bilang klo appa’a minho hyung itu melakukan tindak kejahatan ‘dulu’.. Berarti kan dia korup’a dlu.. Knp hrus trun jbatan ?? Kn kasusnya juga dah berlalu.. =.=

  2. @lider: gomawo bwt comentny trharuuu lider jdi first ckckkc

    @rhy rhien: khamsahae bwt commentny.. Huhu trharu di coment sya kkk.. Oh itu krn bpkny pny ksus yg dismbunyiin dridulu n bru kbongkar pas onew skg. Jdi klo ksus bsa brlanjutt apalagi ksus korup kyk di ngara kita ini hehe..

  3. waah ..
    kerennya minta ampun !
    sempet bosen sih bacanya karena panjang banget, tapi mau berhenti kok aku penasaran.
    eh ngga taunya ini ff benar-benar menyayat hati .
    hikss.
    na do saranghae jinki oppa (?)

    1. wkwkwk begitulah~ sprtinya byk kendala buatnya kkk~
      tpi tpi gomawo sangat udh baca ff saya yg gaje ini *bow*
      arigataou~

  4. demi deh ff nya sru bgt 🙂 gue aj yg baca smpe nangis2 sgla.salut deh smpa yg bkin cerita 😀 abs ditikung banting stir blok kiri lngsung ngebut deh 🙂 hdup GTSM ayey.uh unyuunyu bgt sih crtanya :*

  5. DIKA-CHAAANN, kamu keren kali naaaak… *sok iye*

    XDDD walopun panjang berentet-tet-tet, namuuun…. SAYA SUKAAAA!!! aaaaaa~~~ 😀 😀 😀

    ditunggu karya lanjutannya yaaa! ekkekekekek~~~ HWAITING! ^ ^

    1. heheheh iia saya jg bingung O.o mw reply apa ckckck
      tpi tpi gomawo sangat udh baca ffku yg panjang serenteeet ini wkwkw
      yup hwaiting!!!

  6. omona~ aku suka ff ini! ceritanya keren banget…
    tpi ak sedih knp mesti nampyeonku yang ninggal? #BAGBIGBUG *digebukin flames yg laen* *abaikan
    Good job author!!! b^^d

  7. uweee minho nya meninggal…
    DAEBAKK!! gg nyangka end na bkalan bgini,,
    jinki hyung yg jahat tpi untungnya dia sadar..

  8. dicerita ini ceritanya minho ultah pas 12 desember ya??
    sama kaya ultahku dong.
    Hhahahy
    *gtu aja bangga*
    Keren deh, keren bgt ceritanya. ga nyangka akhirnya bakal jd gtu .
    ^^

    1. mian saya telat liat comment ini =.=” #ppabo kumad
      iia.. saya kayaknya salah tulis angka deh wkwkw
      tpi biarlah klo minho tgl segitu ultahnya wkwkwk
      gomawo iia chingu udh baca ffku walau aku bls commentnya telat/plakk pabbo

  9. fiuhh… *ngelap keringet* akhirnya selesai juga bacanya. huehehee
    huweeee… minho mati ?
    Andweee… lalu aku gmana?
    #gakpenting

    gaya bahasanya bagus, thor. jadi gampang dimengerti 😉

    1. huehehehehh authornya stress jadi lama buatnya wkwkw
      iia mati dia/plakk
      kamu ama yg laen aja wkwkw/plakk
      makasih yah udh suka gaya bahasany lol~
      kekeke

    1. heheheh bgitulah chingu/plakk
      gomawo sangat udh baca ff saya
      mian saya telat replynya #emang saya suka ppabo =.=”

  10. annyeong…
    hiks..hikss…
    koq minho na mati sich?
    ga aq sangka jinki?
    hahhaahah tapi cerita na seru koq….
    semangat onnie…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s