[FF PARTY] About You

Title                  : About You

Author              : Liyah a.k.a amelee

Main casts        :

  • YOU
  • Lee Jinki

Support casts   : Other SHINee members

Genre               : Romance

Length              : Oneshot

Rating               : T atau General-kan saja lah

Insert Songs     :

  • Can’t Stand It (Never Shout Never)
  • Your Name (SHINee)
  • The One Who Won My Heart (Christian Bautista)

Keterangan       : Sekedar berpartisipasi

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Aku melirik cermin kembali, memastikan make-up ku tidak berantakan. Kemudian kugerakkan badanku sedikit memutar di hadapan cermin, meyakinkan diriku sendiri bahwa dress yang kupakai benar-benar cocok kali ini. Yap, aku rasa sempurna.

Ini adalah kencanku yang penting. Kenapa? Karena hari ini namjachinguku berulang tahun. Sedikit memberikannya sebuah service dengan berpenampilan cantik, itu wajar bukan?

Kusandangkan mini-bag ku di lengan kiriku. Kuambil bungkusan agak besar di atas meja, cake ulang tahun yang aku buat untuknya tadi pagi. Memberanikan diri memakai high heels, aku melangkah keluar apartemen.

Ddrrrrtt dddrrrttt…. ada pesan masuk.

From    : Kibum

Hey, kapan kau sampai? Dia sudah menunggumu sejak setengah jam yg lalu.

Aku tersenyum, kemudian kugerakkan jemariku membalas pesan dari Kibum.

To        : Kibum

Dlm waktu 20 menit? Aku ingin membuatnya menunggu. Pastikan dia tdk bosan. J

Secepat kilat pesan balasan dari Kibum masuk.

From    : Kibum

Haha, baiklah. Aku mengerti.

Sebelumnya namjachinguku berulang kali mengirimiku pesan, menanyakan di mana posisiku sekarang. Tapi aku hanya membalas semua pesannya dengan satu pesan singkat “Aku agak terlambat”. Dia kesal? Mungkin. Bahkan lima kali teleponnya sengaja tak kujawab. Kekeke~, aku hanya menggodamu sedikit jagi.

Ini memang bukan kencan yang biasa. Aku, namjachinguku, Kibum, Jonghyun, Minho, dan Taemin di kafe milik Kibum. Kencan super ramai bersama lima namja tampan 😛

Aku memilih berjalan kaki. Lelah takkan menjadi masalah, karena setiap hari pun aku berjalan kaki. Make-up luntur? Aku menyimpan beberapa peralatan make-up penting di mini-bag ku. Akan kurapikan sesampaiku di kafe. Keringat? Hoho, aku bukan yeoja yang gampang keringatan, jadi ini sama sekali bukan masalah.

Entah mengapa kenanganku bersama namjachinguku melintas begitu saja. Aku dan dia sudah berapa lama ya? Hmm… dua tahun? Cukup lama juga.

Namjachinguku itu, adalah sebuah kesederhanaan.

Dia seorang anak tunggal dari sebuah keluarga yang menurutku cukup berada. Kemudahan yang diperolehnya sebagai anak tunggal tak lantas membuatnya jadi seorang namja yang manja. Dia memilih untuk tinggal sendiri di sebuah apartemen yang menurutku sih, cukup mewah. Mencoba hidup mandiri katanya. Tapi aku hanya tersenyum geli mengingat bahwa hampir seluruh kebutuhannya terpenuhi karena sistem pelayanan dan fasilitas apartemennya yang sangat memadai.

Aku malah hampir tidak mempercayai bahwa dia lebih suka mengendarai sepeda kuningnya daripada motor atau mobil yang ia punya. Pernah aku mengadakan pengamatan kecil-kecilan, mencari bukti apakah kebiasaannya naik sepeda hanya dijadikannya sebagai modus untuk berhemat. Tapi ternyata aku salah, dia memang sangat menyukai kegiatan bersepeda. “Aku sudah bersepeda sejak dulu. Sejak aku masih SMP. Bahkan sampai sekarang aku menjadi mahasiswa pun, aku tetap bersepeda” akunya padaku.

Sederhana, bukan berarti dia pelit padaku. Ia memberiku hadiah-hadiah kecil sederhana yang begitu berkesan untukku, meskipun tak terlalu sering. Jika bosan membawaku di boncengan sepedanya, tak jarang pula ia mengajakku pergi dengan motor atau mobilnya.

Sederhana, bahkan penampilannya. Tetapi itu sama sekali tidak menutupi kharisma dan kesan wajahnya yang imut itu. Walaupun pakaiannya dari brand terkenal dan mahal sih, tapi ia bisa menampilkan sesuatu yang tidak berlebihan.

Sederhana, bahkan pemikirannya. Terkadang karena terlalu sederhananya, siapapun tak bisa memprediksi apa yang dia pikirkan. Tapi bukan berarti hasilnya tidak bagus, kesederhanaan pikirannya itu bahkan terkesan cermat dan tepat.

Oke, mungkin deskripsi ‘sederhana’ dariku agak sedikit aneh. Tapi begitulah dia.

Hmmm… lalu…? Namjachinguku itu, orang yang romantis?

Hmmm, mungkin dia namja paling romantis yang pernah kutemui. Jejak-jejak kesederhanaannya itu tanpa disadarinya membuat ia menjadi seorang yang romantis, setidaknya itu menurutku. Ia bisa melakukan hal-hal yang tak terduga sebenarnya.

Dia pernah menjemputku di fakultas dengan berjalan kaki. Aku memang terbiasa jalan kaki, tetapi tentu aku heran dengan namjachinguku ini yang tidak biasanya tidak bersama sepeda kuning keramatnya itu. Tahu alasannya apa? Dengan polosnya dia bilang “Hmmm… aku sedang bosan bersepeda. Bukankah dengan jalan kaki bisa melihat lebih banyak? Lagipula, ehm, aku bisa menggenggam tanganmu sepanjang jalan.” Huwaaa, sontak ia membuatku salah tingkah. Dasar!

Dan yang dia lakukan adalah benar-benar menggenggam tanganku sepanjang jalan, tanpa sedetik pun melepaskannya. Dia gugup, apalagi aku yang malahan lebih parah. Tapi dia bisa mengatasi situasi jelek itu dengan mengajakku ngobrol, segala sesuatu yang dibincangkannya denganku bisa menjadi menyenangkan.

Ketika saat itu aku ingin makan es krim, dia membelikanku dengan satu cara yang mengejutkan. Ia mengaku kehabisan uang waktu itu, tapi ia tetap berusaha untuk bisa membelikanku es krim. Dengan cara apa? Dengan cara mengamen di pinggir jalan pusat pertokoan, persis seperti yang dilakukan Yoon Jihoo pada Geum Jandi di drama. Aigoo~

Pusat pertokoan tempat kami waktu itu juga dikenal sebagai gudangnya musisi jalanan. Hanya selang beberapa toko saja, para musisi jalanan berjejer rapi. Tidak sedikit dari pengunjung pusat pertokoan mengelilingi setiap musisi jalanan itu. Mereka memang benar-benar berbakat. Bahkan Jonghyun saja, teman kami, pernah menjajal pusat pertokoan ini di waktu senggangnya. Suara emas dan bakat musiknya yang luar biasa itu tentu membuat pengunjung pusat pertokoan berkerumun padat melihat penampilannya. Sepertinya lebih baik jika ia rekaman saja, pikirku dan namjachinguku.

Oke, kembali ke namjachinguku. Ia menghampiri seorang musisi jalanan yang menggunakan gitar, berbicara sejenak membuat kesepakatan sepertinya. Musisi itu kelihatannya baik dan ramah, ia melirik ke arahku dan tersenyum. Aku membungkuk sedikit memberi hormat. Sedangkan namjachinguku? Ia hanya tersenyum sumringah, mengedipkan sebelah matanya padaku. Aish, dying smilenya ituuu!

Kemudian ia memetik gitar dipelukannya perlahan dan mulai bernyanyi. Dheg! Aku sepenuhnya tersihir. Aku tahu bahwa sebenarnya ia punya bakat luar biasa seperti ini, suara serak khasnya itu benar-benar mengalir di telingaku kemudian menyusup perlahan ke hatiku. Satu per satu pengunjung pusat pertokoan menghampiri kami, menikmati persembahan dari namjachinguku.

Orang-orang sudah ramai berkerumun ketika ia mengakhiri lagu pertamanya. Ia melirikku sebentar, kemudian berbicara pada kerumunan di hadapannya. “Ini lagu terakhir untuk agasshi yang ada di sana. Dia yeojachinguku” Ia tersenyum dan langsung memainkan lagunya. Kerumunan sudah bertepuk tangan riuh dan bersorak sorai. Sementara aku, menunduk menahan malu.

Dia berjalan perlahan mendekatiku ketika sampai di bait lagu terakhirnya, bermain di sebelahku.

Baby i love you i never want to let you go

The more i think about the more i want to let you know

That everything you do, you super duper cute and i can’t stand it

No i can’t stand it, cause i can’t….

Lagunya selesai, tepuk tangan membahana. Tapi kemudian, CUP! Ia mencium pipiku kilat. Sontak itu menjadi bonus pertunjukannya waktu itu. Sementara aku? Entah harus senang, malu, salah tingkah, atau pingsan di tempat. Dia benar-benar sulit diprediksi. Dan kemudian, sekuntum bunga matahari sudah ada di depan mataku.

Ia menarikku cepat setelah mengambil sejumlah uang dari sang musisi asli, sementara sorak sorai penonton semakin riuh membahana bahkan setelah kami agak sedikit jauh dari tempat tadi. Kemudian ia membelikanku satu cone es krim cokelat dengan uang hasil kerja sintingnya itu.

“YA! Kau tidak berniat untuk memberiku beberapa jilatan saja?” rengeknya melihatku yang begitu lahap menikmati es krim cokelatku. Aku hanya memandangnya sekilas.

“YA! Itu sama sekali di luar rencanaku. Kau ingin beli es krim sih. Uang terakhirku itu tuh” ujarnya sambil menunjuk pada sebatang bunga yang aku pegang.

Aku luluh, toh aku juga senang. Kubagi es krimku dengannya. “Gomawoyo jagiya. Aku selalu memandangmu, itu artinya kan?” ujarku sambil mengangkat sebatang bunga matahari yang diberikannya tadi ke hadapannya. Dia tersenyum dan mengecup pipiku lagi.

Aish, mengingat kejadian itu selalu membuatku tersenyum ngga jelas. Sekarang pun wajahku mungkin sudah merona merah. Lalu, hmmm… apa lagi ya perlakuan romantisnya?

Ah ya, dia pernah menyuguhiku sebuah candle light dinner buatannya sendiri. Dia menyulap apartemennya drastis. Dibukanya gorden jendela kaca lebarnya sehingga memperlihatkan suasana kota di malam hari dengan segala gemerlap lampunya. Ruangan apartemennya penuh dengan kuntum mawar dan bunga matahari yang terlihat kontras. Lilin-lilin aromaterapi disusun berjejer dengan anggun. Bagaimana dengan hidangannya? Namjachinguku yang memasaknya sendiri dengan sedikit bantuan dari Kibum. Hasilnya? Perfectly delicious! Dia bahkan memperlakukanku secara anggun. Huwaaa, betapa aku seperti seorang putri malam itu.

Aku kembali tersenyum sumringah mengingat satu per satu hal-hal manis yang dibuat namjachinguku. Tapi, hey, aku merasakan pandangan-pandangan aneh dari sekelilingku. Ya ampun, aku lupa kalau ini jalan umum. Seenak jidatku saja aku tersenyum-senyum ngga jelas. Mungkin mereka pikir aku sinting, tapi aku memang sinting dan itu karena namjachinguku. Tapi aku hanya mampu menyunggingkan bibirku sedikit –nyengir lebih tepatnya –dan membungkukkan badan berkali-kali sekenanya. Ffiuuhh~

Tetapi kalau dipikir-pikir –aku masih melakukan kegiatan ingat-mengingat ini –dia tidaklah seperfect itu. Tentu ada hal-hal aneh yang mengiringi kebaikannya itu. Setiap orang punya kelemahan dan begitu juga dengan namjachinguku. Sikapnya yang sulit diprediksi terkadang membuatku sulit atau bahkan terabaikan. Dia punya dark side, dan itu muncul tanpa tanda apapun. Ia bisa menjadi sangat pendiam atau sangat sensitif atau malah menjadi seorang pemarah.

Aku cemburu pada Kibum, hanya dia yang bisa mengatasi namjachinguku. Bahkan Jonghyun, Minho, juga Taemin punya cara mereka masing-masing. Dan itu benar-benar membuatku terpukul. Sebagai yeojachingunya tentu aku merasa gagal. Kesepian? Itu pasti. Aku benar-benar merasa tidak berguna. Ah jagi, terkadang kau seperti badai yang siap menghantam hati dan pikiranku.

Tapi suatu saat aku menemukan satu cara yang tepat. Ketika aku mencoba memeluknya sembari menahan tangisku dan merasa tidak berguna. Aku memeluknya erat dan berbisik padanya “Jangan seperti ini. Kau menyiksaku.” Efeknya memang tidak langsung, aku harus memeluknya selama beberapa saat. Dan dia perlahan luluh dan kembali ke normal side-nya. Seperti berkepribadian ganda memang, tapi aku tahu cara yang tepat sekarang. Jika dia kumat lagi, aku siap dengan serangan pelukanku yang super hangat ini.

Kini aku telah sampai di depan kafe milik Kibum, tapi aku memilih duduk di bangku jalan yang ada. Aku ingin mengistirahatkan diri sebentar. Sudah 20 menit memang, seperti janjiku pada Kibum tadi. Tapi biarlah, niatku kan ingin membuat namjachinguku menunggu.

Kubuka mini-bagku, aku ingin merapikan make-upku sedikit.

Kupandangi kafe milik Kibum. Aku melihat namjachinguku di sana, di tempat favorit kami, di dekat jendela kaca yang lebar. Sudah ada Jonghyun, Kibum, Minho, dan Taemin di sana. Tapi, hohoho~ ia gelisah, berulang kali mengecek jam dan ponselnya sembari terus memperhatikan pintu masuk secara intens. Dia menungguku? Rencanaku berhasil! Benar-benar merasa khawatir eh?

Ah ya, satu lagi. Bagiku, namjachinguku itu adalah seperti matahari. Hangat, bersemangat, dan menyenangkan. Meski punya sikap pemalu yang menurutku kelewatan, tapi entah mengapa temannya bertaburan di mana-mana. Senyum dan kata-kata sopan dan juga hangat mungkin menjadi rahasianya. Aku akui, hanya dengan melihat senyumnya saja sudah membuatku salah tingkah tak karuan –meleleh tepatnya. Senyumnya itu benar-benar menenangkan, memberi semangat –efeknya seratus persen manjur. Karena bukan hanya bibirnya yang tersenyum dengan memamerkan gigi kelincinya, tetapi matanya juga benar-benar ikut tersenyum.

Dia juga memahami orang lain, termasuk aku. Mungkin dia memahamiku lebih dari diriku sendiri. Dia bisa menenangkan sifat jelekku yang moody ini dengan cepat. Sering dia mengusap pundakku dan mengacak rambutku sekedar memberiku semangat. Dia pula yang selalu menyediakan dadanya untukku menangis, memelukku ketika aku benar-benar merasa lelah dan tak berguna.

Dia juga salah satu motivatorku, tentu tanpa disadarinya. Kata-katanya yang hangat sering kujadikan motivasi dan penyemangatku. Dia juga mengajariku berpikir secara sederhana seperti yang dia lakukan selama ini, juga membimbingku menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang.

Waktuku dengannya memang berjalan cepat. Tapi aku merasa waktu seakan terhenti, dimana ia memberiku kesempatan lebih banyak untukku bersama namjachinguku. Ya jagi, selalu. Selalu waktu seakan terhenti ketika aku bersamamu. Aku menyayangimu, tentu saja. Aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu.

Kulangkahkan kakiku menuju kafe milik Kibum, tapi tidak dari pintu depan di mana pandangan namjachinguku terpaku. Keempat namja lainnya sudah tahu kalau aku akan masuk dari pintu belakang. Aku sudah mengirimkan pesan pada Kibum, memberitahunya bahwa aku akan segera masuk dari pintu belakang. Ia membalas pesanku dan memberitahuku bahwa Minho akan menungguku di sana.

Aku membuka pintu belakang kafe dan kutemukan sosok jangkung Minho dibaliknya. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada, dengan sedikit mengernyitkan dahi.

“Ya ampun. Kami hampir kehilangan akal membuatnya bertahan. Dia sudah hampir gila menunggumu. Satu jam lebih, heh?”

Aku hanya menjulurkan lidahku, dan dia tertawa. “Dasar kau” ejeknya.

Aku meletakkan bungkusan cake-ku di atas meja terdekat, mengeluarkannya dari kotak dan meletakkannya ke atas piring lebar yang sudah disediakan Minho.

“Ramai, eh?” ujarku melirik ke dalam kafe sembari menyusun lilin di atas cake. Minho membantuku.

“Hmm, Kibum tetap membuka kafenya. Sialnya dia memberitahu setiap pengunjung kafe bahwa Jinki berulangtahun. Bahkan dia memanfaatkan Taemin untuk bermain piano dan Jonghyun untuk menyanyi. Sebuah hadiah ulang tahun, begitu alasannya.”

Aku hanya tersenyum geli. Memanfaatkan orang lain adalah bakat tersembunyi Kibum selain bakat memasaknya. Taemin, dia bisa jadi seorang pianis terkenal nanti. Sementara Jonghyun, sudah kuberitahu kan kalau suaranya itu benar-benar emas?

“Nah, ini acara puncaknya” kudengar Kibum berkata pada para hadirin.

Kuperhatikan namjachinguku sekilas, kesal dan bingung eh? Hoho~ mianhaeyo jagiya~

Lampu kafe perlahan meredup. Dentingan piano Taemin mengalun perlahan, disusul oleh suara merdu Jonghyun kemudian. Para pengunjung kafe terpukau sesaat.

Minho menepuk pundakku “Ayo!”

Minho berjalan mendahuluiku, sementara Kibum kulihat menghampiri Minho dan berjalan beriringan dengannya menutupi kehadiranku. Taemin mengikuti Jonghyun bernyanyi, begitu juga dengan kedua namja di depanku ini. Seketika aku merinding, betapa suatu harmoni padu nan indah yang dihasilkan oleh keempat namja ini.

Kibum dan Minho mulai saling menjauh, memberikanku ruang untuk memperlihatkan wujudku. Ini mereka lakukan seakan akulah hadiah untuk namjachinguku ini. Tapi, tahu apa reaksinya?

“YA! Kau lama sekali eh?” selanya langsung ketika melihatku.

Keempat namja lain spontan berhenti menyanyi, juga Taemin yang menggantungkan nada pianonya. Mereka semua tertawa keras. Para pengunjung lainnya juga begitu, sedikit memberikan koor sorak sorai. Aku hanya menggembungkan pipiku, kemudian menjulurkan lidahku. Mencoba bertingkah polos.

“Yang penting dia datang” celetuk Jonghyun di sela tawanya.

“Dia sampai membuatkanmu cake hyung. Tidakkah itu enak?” sambung Taemin sambil melirik ke arah cake yang aku pegang. “Atau buatku saja ya hyung?”

Aish, anak ini benar-benar polos sekali. Aku memberikan tatapan tidak-akan-pernah-buatmu pada Taemin. Dia ciut sesaat dan menggaruk kepalanya. “Mian” ucapnya lirih.

Aku kembali memandang ke depan, memandang sosok Jinki namjachinguku yang memberiku tatapan apa-maksudmu-membuatku-menunggu. Aku hanya tersenyum semanis yang aku bisa, memasang wajah polos dan sama sekali tidak merasa bersalah.

“Sudah seharusnya seorang yeoja membuat seorang namja menunggu” kilahku. “Bagaimana jagiya?” ucapku kemudian.

“Satu jam lebih? Kau bercanda?” ia mengernyitkan dahi. Aku menggembungkan pipiku, berpura-pura merajuk.

“Oke oke, aku menyerah. Lagipula kau begitu cantik hari ini. Sayang jika harus menodainya” ucapnya sekenanya, salah tingkah.

Kudengar kata “Wow!” terucap bersamaan dari mulut keempat namja lainnya. Sementara para pengunjung kafe, mereka sangat menikmati drama yang kami suguhkan ini.

“Hey, tunda dulu gombalan menggelikan kalian itu” sindir Kibum. “Cepat tiup lilinnya Jinki, itu akan merusak cake-nya nanti.”

Jinki bangkit dari duduknya. Keempat namja lain sudah berdiri berjejer di kanan-kiriku. Sementara para pengunjung kafe memberikan tepuk tangan mereka dengan berirama.

“Make a wish” aku mengingatkannya.

Jinki memejamkan matanya pelan. Selang beberapa detik ia meniup lilinnya. Shuuu~ keduapuluhsatu lilin yang mengelilingi cake buatanku berhasil mati dalam beberapa tarikan nafas.

Semua yang ada bertepuk tangan meriah dan lampu ruang kafe kembali terang seperti semula. Kuserahkan dengan agak paksa cake yang kupegang pada Taemin yang ada di sebelah kananku. Mungkin ia sudah mencuri jilat cake-ku dengan jari telunjuknya. Sementara aku, dengan segera memeluk namjachinguku dengan erat.

“YA!” ujarnya panik.

Sorak sorai tentu semakin keras bermunculan. Kudengar suara keempat namja lain yang tertawa puas. Tapi aku hanya menggeleng di pelukannya. “Tetaplah seperti ini, sebentar saja.” pintaku.

Jinki, namjachinguku ini menyerah. Sambil tertawa senang dia membalas pelukanku erat.

Hey Jinki! Kau tahu, di dunia ini tidak ada yang sempurna. Baik aku dan kau, ataupun orang-orang di sekeliling kita. Tapi, keberadaanmu telah melengkapi diriku sekarang. Dan aku juga berharap bahwa aku lah yang melengkapi dirimu saat ini. Kau tahu betapa dalamnya aku mencintaimu? Mungkin debaran jantung yang mendekat di tubuhmu kini bisa menjawab semuanya. Bacalah perasaanku Jinki, dan kau akan menguak seluruhnya. Terimakasih untuk segalanya Jinki, terimakasih telah ada untukku. Aku akan selalu berusaha untuk menjadi yeojachingumu yang baik. Jeongmal saranghaeyo jagiya, saengil chukkae!

“Terima kasih untuk ada di dunia ini jagiya. Aku sangat bersyukur kau ada.” bisikku ke telinga Jinki.

Jinki melepas pelukanku perlahan. Ia memandangku lekat, lekat sekali sampai jantungku mau copot karena terlalu gugup. Aku hampir pingsan di tempat.

Dia mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum padaku. “Tentu.”

Aku membalas senyumannya, senyuman termanis yang aku punya. Dan seketika….

Chuu~ aku mengecup bibirnya kilat. Oke, tidak terlalu kilat, mungkin beberapa detik. Terdengar desahan “Wow” panjang dari seluruh manusia yang memperhatikan aku dan Jinki, tak terkecuali keempat namja lainnya. Tepuk tangan dan sorak sorai riuh menyusul kemudian.

Jinki? Lihatlah, dia membeku di tempat. Wajahnya memerah, melongo! Kekeke~ lucu sekali. Dan aku? Aku tersenyum puas sambil mengacungkan tangan kananku dengan jari yang membentuk huruf V di hadapannya.

END

Annyeong chingudeul! Salam kenal, Liyah imnida: reader sejati yang nekat terjun ke dunia per-ff-an. Akhirnya ini ff kelar sebelum ujian akhir blok, khu khu khu terharu sendiri. Uda baca FF aku? Gimana, gimana? Mian kalo jelek ato gaje banget, khu khu khuu~ *nangis di pojokan sambil ngeremes ini ff*

Yah, apapun dan bagaimanapun, terima kasih uda baca FF aku yang ga jelas dari mana asal mulanya ini. Saatnya aku minta pendapat dan komen dari kalian –mau panjang ato pendek, atau cuma satu kata atau satu huruf (?? emang ada?) akan aku terima dengan lapang dada.  Kayanya sih aku bakalan nyoba untuk terus nulis FF, tapi itu tergantung niat ke depan juga sih, hehe *ga ada yang tanya* Ayo ayo, ntar yang komen aku kasi cake deh *nyogok pake cake yang uda dicuil-cuil Taem :P*

Oiya, happy birthday to our beloved Minho and Jinki. Let us give them much more support and love, and also pray for the best 😉

Sekali lagi gomawoo~ uda baca (_ _) *langsung peluk-cium reader*

©FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

 

69 thoughts on “[FF PARTY] About You”

    1. yg nulis juga masi polos kok *plak!
      gomawo uda mau baca sma komen, biasanya aku yg bca sma ngomenin (?)
      skali lgi gomawoo (_ _)

  1. wuaaaa aku suka~
    abisnya di ff ini kesannya tuh jinki lemah lembut gituu. beda dari yang aku liat di youtube dia orangnya isengan. suka ngebanyol garing wkwkw. yang ini sukaaa. kesederhanaan~ weeew.
    good luck!

    1. aku mkir, diantara 5 makhluk yg ada yg mna yg lebih cocok. trus diantara onew sama minho aku milih onew aja, kalo minho aku bawaannya pgen yg sadis2 mulu sih, haha *jadinya curhat
      gomawo ya chingu uda mau baca sama komen 🙂

    1. haha, aku pake sudut pandang YOU kok, jadi terserah kalo mau diganti jadi diri sendiri 🙂
      gomawo ya chingu, uda mau baca sama komen 🙂

    1. haha, aku pake sudut pandang YOU kok, jdi masi tetep milikmu dia ching (?)
      gomawo chingu uda mau baca sama komen 🙂

  2. Nice ff.. Sumpah, gw suka alurnya.. Ga nyangka kalo jinki’a bakal ampir marah dlu.. Kirain jinki lngsung terpesona seketika pas liat cwe’a

    1. itu diluar rencanaku ching, kalo dipikir2 sapa juga yg mau nunggu lama2
      tpi syukurlah kalo kamu suka, gomawo chingu uda mau baca sama komen 🙂

  3. hwa……. bagus….
    aku suka begete…
    ceritanya ringan tp mengharu biru*lebay!*
    trusin lg nulisnya…. *balas peluk ciumnya author*

    1. wah, ternyata ff gaje ini banyak yg suka ><
      gomawo uda mau baca sama komen 🙂
      kalo ga males sih aku bakal usaha (?) buat ff, hehe
      *pelukan sama reader kaya teletubbies*

  4. daebak! Jinjja daebak! *junho-di-wildbunny mode : on*

    Tp kayany mksud author itu ‘killer smile’ kali yak?
    Kalo dying smile tu berarti snyuman sekarat..
    /plaak!! *di tabok author gra” protes gaje*

    1. huwaa… makasi chinguu ><
      gapapa kok, maklumin aja ya sering banget korslet nih otak *ngeles
      gomawo uda mau baca sma komen 🙂

  5. plok plok plok plok plok *tepuk tgn nih kisahnya*
    onyu beku,, ambil kampor!!! *halah*

    nice FF!! 2 jempol tgn + 2 jempol kaki,, jdi empat jempol buat author!! 😀

    1. yaolo, beginian romantiskah? *plak!
      syukur kalo kamu suka chingu, gomawo uda mau baca sama komen 🙂
      ntar kalo ga males aku coba bikin lagi kok 😉
      salam kenal juga ya chinguu! 😀

  6. kekeke lucu ngebayangin muka onew yg kesel nungguin. Kirain pas ‘aku’ dateng, dia bakal terharu ato kaget gmana. Taunya malah marah2 ahaha. Daebak!

  7. YAYAAAAA SWEET STORY XDD suka suka suka XDD
    aku suka cara author menggambarkan sosok jinki disini aaaah XD
    oya salam kenal yaa ^^

    1. jinjja?? ah, saya seneng jika reader suka XD
      gomawo ya chingu uda mau baca sama komen 😀
      salam kenal juga yaa 😉

  8. daebak, lanjutkan! *iklan*
    bagi bagi cakenya, aku kelaperan.. *krunyuukk..*

    HBD buat Onew Budubu.
    hahha ❤ you dah.

    salam budubu.. 😀

    1. apanya yg lanjutkan? perasaan aku gamain iklan? *plak! bego mode*
      loh, tadi uda aku sodorin kn cake-nya? *ngelirik taemin, ternyata uda diabisin*
      minta sma taem aja yaa chingu, hahaha!
      gomawo ya chingu uda mau baca sama komen 😀
      salam kenaaal 😉

  9. tgl 12 hari ini.
    Hhe
    Gomawo chingu ^^

    Oia, FF beneran keren loh. Lanjut dong bikin crita yg peran utamanya Onew oppa 😀
    *maksa*

    1. haha, kebetulan onew itu bias aku skarang *ntar pasti berubah lagi*
      makasi banyaakk dkungannya *terharu TT^TT*
      aku usahain kok ching 😉

  10. huwaa! akhirnya ff aku tayang jugaa, hikshikshiks TT^TT *telat*
    mian bru balesin komen sekarang, selama 24jam penuh aku jadi stalker di ffku sendiri. degdegan luar biasa *gada yg tanya*
    mkasi uda mau baca sama komen, mkasi juga buat yg like ini ff *bneran nangis terharu*
    aku jadi ngerti gmna prasaan author yg tayang ffnya, trnyata komen itu aliran energi smangat XD
    skali lagi makasii! jeongmal gomawo chingudeul! 😀
    salam kenal semuanya 😉 *banyak bacott!*

  11. Waaaaaaa aku pabo banget baru baca ff seeeeROMANTIS ini!!onew oppa jeongmal sarang sarang sarang sarang sarang saranghayeoo ❤ ! Jadi terharu baca ffnya :')

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s