[FF PARTY] End To Start – Part 2

END TO START

Part 2

Author: Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~

Main Cast: Choi Min Ho, Hanniisa Han

Support Cast: SHINee, Jang Hee Woong, Jung Ha Na, Dennis Midhya, Fabio Dinata, Yun Ho DBSK, etc.

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: General

Summary: Terkadang ada suatu hal yang sangat berharga yang harus kita lepaskan. Itu bukan pertanda segalanya sudah berakhir. Tapi, itu adalah awal dimulainya sesuatu yang baru dalam hidup ini.

Keterangan: Pengen jadi author tetap.. ;D

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Hanniisa Han POV

“Ting.” Terdengar suara lift berdenting. Pintu lift terbuka. Segera aku keluar dari lift.

“Apartemen nomor 1310? Itu kan nomor punggungnya Ji Sung-ajussi dan Rooney.” Gumamku asal.

Kususuri satu demi satu apartemennya.

1305…1306…1307… 1308… 1309… 1310… naah… ini dia!

Kutekan bel yang ada disamping pintu.

“Ne…” terdengar sahutan dari dalam. Suara seorang laki-laki.

Kutarik nafas panjang. Kenapa aku malah berharap pasienku ini Park Ji Sung siih? Pabo!

“Cklek.” Pintu terbuka. Tampak seorang lelaki berambut coklat. Wajahnya tampan dan manis. Bukan Park Ji Sung…! (PLAKKKKKKK! DARITADI PARK JI SUNG MULU DEH GW!!!)

“Annyonghaseo.” Sapaku sambil sedikit membungkukkan badanku.

Laki-laki itu melakukan hal yang sama, “Annyonghaseo. Kau pasti dokter Han?”

Aku mengangguk. Laki-laki itu segera mempersilahkanku masuk.

“Silahkan masuk dokter Han.” Ia tersenyum.

Aku mengangguk, “Gamsahamnida.”

Kulangkahkan kakiku masuk kedalam apartemennya. Rapi. Begitu kesan pertamaku. Apa ada wanita yang tinggal disini? Apartemen ini lebih rapi dari kamarku. Sungguh.

“Silahkan duduk, dokter. Aku kebelakang sebentar.” Laki-laki itu tersenyum sebelum berlalu ke belakang.

Kuperhatikan ruangan sekitarku. Di pojok ruangan tertempel foto-foto yang menarik perhatianku. Aku berjalan mendekat ke pojok ruangan.

“Itu foto-foto kami sejak debut dulu, dokter.”

Kualihkan pandanganku kearah sumber suara. Laki-laki tadi. Dibelakangnya ada seorang laki-laki lagi membawa nampan berisi teh.

“Mianhamnida, aku lancang.” Aku membungkuk sedikit. Haduuh…bikin malu deh Nniisa!!

“Gwenchana. Lagipula dipajang untuk dilihat kan?” laki-laki yang membawa nampan itu tertawa kecil, “Ayo, silahkan duduk dokter.”

Aku mengangguk lalu kembali ke sofa.

“Ah ya, aku belum memperkenalkan diriku.” Sahut laki-laki yang tadi membuka pintu. Ia duduk didepanku, “Namaku Lee Jin Ki. Tapi aku biasa dipanggil Onew.”

Aku tersenyum, “Aku juga belum memperkenalkan diriku. Aku Hanniisa Han. Psikiater dari Indonesia. Salam kenal, Onew-ssi.”

“Indonesia? Pantas saja kau tidak terlihat mirip orang korea, dokter. Ah ya, beberapa waktu yang lalu kami ke Indonesia. Tapi tidak sempat jalan-jalan. Eh, aku lupa… namaku Kim Ki Bum. Tapi orang-orang memanggilku Key. salam kenal kembali, dokter.”

Aku tertawa kecil, “Baiklah, Key-ssi. Ah, kalian pernah ke Indonesia?”

Onew-ssi menatapku, “Dokter tidak tau kami ke Indonesia?”

Lahh… memangnya mereka ini siapa? Kenapa aku harus tau ya? Kenal saja tidak.

“Apa dokter tidak mengenal kami?”

Aku menggeleng pelan.

Lee Jin Ki POV

“Jadi kalian SHINee? Ooh… aku ingat! Kalian yang datang ke Indonesia waktu itu! Aku lihat poster kalian… pantas saja rasanya aku pernah melihat kalian.” ujar dokter muda di hadapanku ini. dia lebih muda dari yang kubayangkan. Kukira yang datang adalah seorang wanita tua berkacamata. Ternyata, seorang wanita muda berwajah lonjong dan sebahu lebih. Matanya bulat dan tampak jernih. Matanya indah sekali.

Aku tertawa kecil, “Ne, dokter.”

“Ah… mianhamnida. Aku dari dulu kurang begitu tau. Aku tau SHINee tapi aku tidak mengetahui siapa saja personilnya.” Ujarnya lembut.

“Gwenchana, lagipula lebih bagus begitu kan. Jadi, kau tidak usah merasa sungkan didepan kami.” ujar Key, “Ah ya, tidak usah pakai –ssi. Aku merasa sangat formal. Kukira umur dokter masih muda kan?”

Aku mengangguk, “Umurku masih 24 tahun.”

“Waah… kalau aku sudah 26 tahun. Onew-hyung 28 tahun.” ujar Key sambil menunjukku.

Aku tersenyum kecil, “Ne.”

“Hmmm… baiklah. Sekali lagi mianhamnida.” Ucap dokter Han.

Key tersenyum, “Tidak usah berlebihan, dokter. Tidak apa-apa, kok.”

Dokter Han mengangguk. Ia tersenyum.

Kami terdiam sejenak.

“Baiklah. Apa kita bisa langsung membicarakannya?” ujar dokter Han.

Aku mengangguk, “Bisa, dokter. Silahkan.”

Dokter Han tersenyum, diraihnya tas tangannya dan sebuah map biru yang ada disampingnya. Dibukanya map biru itu, “Mmm… baiklah… sebelumnya aku ingin tau, hubungan kalian dengan pasien. Apa boleh aku tau? Apa hanya sekedar rekan kerja atau?”

“Kami sudah bersama sejak lama, dokter. Jadi, kami bukan hanya sekedar rekan kerja. Kami adalah keluarga. Kami sudah merasa seperti keluarga.” Ujarku pelan.

Dokter Han terdiam sejenak. Ia lalu tersenyum manis, “Baik, itu artinya kalian sudah saling mengenal pribadi satu sama lain kan?”

Key mengangguk, “Sangat.”

Dokter Han mengangguk, “Ooh… baiklah. Sudah berapa lama dia berpacaran dengan yeojachingunya?”

“Mereka sudah pacaran 3 tahun lebih. Mereka bahkan sudah merencanakan untuk segera menikah. Tapi, beberapa hari yang lalu yeoja itu malah datang kemari dan menyerahkan undangan pernikahannya dengan sunbae kami.” ujarku pelan.

Dokter Han tampak tertegun mendengarnya.

“Padahal kelihatannya mereka baik-baik saja sebelum yeoja itu datang. Aku sendiri shock mendengarnya.” Gumam Key.

“Apa yeoja itu tidak memberi alasan apapun?” tanya dokter Han perlahan.

Aku menggeleng, “Yeoja itu tidak berkata apapun setelah menyerahkan undangan itu. Yeoja itu bahkan tidak memberi waktu bicara berdua dengannya.”

Semua terdiam.

“Baiklah, apa aku bisa bertemu dengan… Choi Min Ho?” tanya dokter Han perlahan.

****************

Hanniisa Han POV

“Silahkan dokter…” Onew-ssi membuka kan pintu untukku.

“Gamsahamnida.” Aku melangkah masuk kedalam kamar itu. Kamarnya pun tidak tampak berantakan. Rapi sekali. Ada 2 buah tempat tidur yang tersusun rapi.

Di ujung kamar ada sebuah jendela yang cukup besar. Disana, seorang laki-laki duduk menatap lurus kearah luar. Wajahnya tidak tampak dari tempatku berdiri.

“Sejak dia jadi begitu, kami sengaja membiarkannya memakai kamar ini berdua. Kami bergantian menjaganya. Awalnya, kami tidur di kamar sebelah berlima. Tapi, seperti yang kau lihat. Keadaannya begitu.” Jelas Onew-ssi pelan.

“Boleh aku kesana?” tanyaku pelan.

Onew-ssi mengangguk, “Silahkan, dokter. Aku akan berdiri disini saja.”

Aku tersenyum kecil. Kulangkahkan kakiku menuju kearah laki-laki yang sedang termenung di jendela itu.

Laki-laki itu sama sekali tidak menoleh kearahku. Padahal ku yakin langkah kakiku pasti terdengar olehnya.

Aku berhenti di sampingnya. Kutatap wajahnya yang memandang lurus kearah jendela. Tatapannya kosong. Wajahnya jauh lebih tampan daripada yang ada difoto. Aigo…kenapa rasanya aku pernah mengenal atau bertemu dengannya? Kenapa wajahnya tidak asing untukku??? Aku bukan tipe orang yang akan lupa dengan seseorang segampang ini…!

“Choi Min Ho…” panggilku perlahan.

Choi Min Ho POV

Pikiranku terus melayang ke memori-memori indah yang pernah kulewati bersama yeoja itu. Semuanya berputar kembali di kepalaku. Aku tidak tau, mengingat semua itu membuat otakku seolah lumpuh. Tubuhku seolah menolak untuk kugerakkan. Mati rasa.

Kenapa yeoja yang paling kucintai di dunia ini harus meninggalkanku dengan cara yang sangat menyakitkan? Daripada ia harus meninggalkanku dengan cara seperti ini, lebih baik dia mengirimku keatas sana. Ke tempat dimana aku tidak akan merasakan rasa sakit ini. Lebih baik ia membunuhku…

“Choi Min Ho…” tiba-tiba telingaku menangkap sebuah suara. Suara yang lembut dan hangat.

Kugerakkan kepalaku perlahan. Disampingku berdiri seorang wanita. Kenapa rasanya aku mengenalinya?

“Kau bisa mendengarku kan?” tanyanya. Ia menatapku.

Aku tidak bisa mengatakan apapun.  Otakku masih belum sepenuhnya merespon. Kualihkan kembali wajahku kearah jendela. Kembali tenggelam dalam pikiranku. Tentang yeoja itu… tentang yeoja itu… ya…yeoja itu…

****************

Hanniisa Han POV

“Dokter, apa Min Ho bisa kembali seperti semula?” tanya Onew-ssi.

Aku mengangguk, “Pasti bisa, Onew-ssi.”

Onew-ssi menghela nafas panjang.

Aku tersenyum padanya, “Ya, jangan putus asa. Semua pasti butuh proses, Onew-ssi. Aku yakin Min Ho-ssi bisa kembali seperti biasa. Ia hanya memerlukan waktu untuk merenung, Onew-ssi.”

“Tapi sampai kapan, dokter Han?”

Aku menggeleng pelan, “Aku akan berusaha semampuku. Bibirnya tampak pucat, apa ia tidak mau makan?”

Onew-ssi menggeleng, “Dia belum makan, dokter Han. Kami tidak bisa membujuknya untuk makan.”

“Baiklah, usahakan hari ini dia makan, Onew-ssi. Bagaimana pun caranya. Dan beri ia vitamin secukupnya.” Ujarku pelan.

“Baik, dokter.”

“Hmm… apa sebelumnya Min Ho-ssi pernah seperti ini? Maksudku sampai sedih berlarut-larut seperti ini?”

“Walaupun ia seorang namja yang cukup ambisius, tapi dia tidak pernah depresi seperti ini. Ini pertama kalinya ia begini, dokter.”

Aku terdiam.

“Baiklah, sepertinya aku sudah harus pulang. Lusa aku akan datang lagi.” ku raih tas tanganku dan map biruku. Aku langsung berdiri.

Onew-ssi berdiri, “Ne. Gamsahamnida, dokter.”

Aku tersenyum.

****************

“Kesehatannya memburuk karena tidak makan. Tapi sepertinya ia masih kuat, dokter Jang. yah, bisa dikatakan secara fisik dia baik-baik saja.”

Dokter Jang tertegun sejenak, “Baiklah… kurasa ia shock. Mungkin kau bisa menggunakan terapi yang biasa…”

Kuketuk-ketukkan penaku keatas meja, “Tidak. Aku rasa tidak bisa, dokter Jang. ini malah akan memperparah keadaan Min Ho-ssi.”

Dokter Jang menghela nafas panjang, “Apa kau yakin? Orang depresi bisa disembuhkan dengan terapi ini.”

Aku menggeleng, “Kali ini kurasa tidak. Jika ia kembali dipertemukan dengan yeojachingu-nya itu, aku khawatir ia malah akan bertindak nekat. Atau malah, ia akan semakin bergantung dengan yeojachingu nya ini. Sekarang maslahnya adalah, bagaimana caranya agar Min Ho-ssi bisa lepas dari bayang-bayang yeojachingu nya dan ini masalah perasaan seseorang, dokter Jang.”

Dokter Jang terdiam mendengar penjelasanku yang panjang.

“Aku sendiri masih belum bisa memastikan langkah yang aku lakukan, dokter.” Ujarku pelan.

“Benar juga apa yang kau katakan, dokter Han. Kenapa aku tidak terfikir sampai kesana ya?” ucap dokter Jang.

Aku tersenyum kecil, “Mungkin karena aku adalah seorang wanita.”

Dokter Jang tersenyum, “Mungkin…”

Kulirik jam tangan di pergelangan tanganku, “Sudah sore. Dokter Jang, apa boleh aku permisi pulang dulu?”

Dokter Jang mengangguk, “Tentu saja. Kenapa harus bertanya, dokter Han? Silahkan saja. Tugasmu kan hanya Choi Min Ho-ssi.”

Aku tersenyum, “Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu, dokter Jang.”

“Ne. Hati-hati di jalan, dokter Han.” Dokter Jang tersenyum.

****************

“Hmm… jadi siapa pasien pertama mu, Hanniisa?” tanya Ha Na yang langsung duduk disebelahku dengan sepiring marshmallow di tangannya, “Silahkaan…”

Kuambil marshmallow nya satu, “Gomawo, Ha Na… ehm, darimana kau tau aku sudah punya pasien?”

Ha Na tertawa kecil, “Tentu saja dari dokter Jang.”

Aku memasukkan marshmallow dalam mulutku, “Haah… benarkah?”

“Ne. Tadi siang aku keruanganmu. Lalu saat makan siang kutanyakan pada dokter Jang.”

“Makan siang? Kedengarannya hubunganmu dengan dokter Jang cukup dekat, Ha Na?” tanyaku.

Ha Na tersenyum, “Sebenarnya…”

Diperlihatkannya cincin ditangannya. Sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil di tengahnya.

“Kau…”

“Aku tunangan dokter Jang, nniisa…” ujar Ha Na pelan.

“Jincaaaaaa? Kenapa tidak bilang dari awal, Ha Na??? Kau iniiiiiiiiii…” teriakku pelan.

Ha Na tertawa, “Mianhae…”

Aku tertawa kecil, “Haah… kalian sangat serasi, Ha Na.”

“Gomawo, Hanniisaaa…”

Aku tersenyum.

“Lalu apa kau tidak mau memberiathuku tentang pasien pertama mu? Dokter Jang juga menyembunyikannya dariku.” Ha Na menatapku.

Kualihkan tatapanku ke arah televisi yang sedang menyala, “Hah… kau tau sendiri, Ha Na… ini adalah rahasia. Mianhae…”

“Aahh…sudah kuduga. Tadi dokter Jang juga mengatakan hal yang sama.” Ujar Ha Na sambil menatap layar televisi.

Aku tertawa kecil, “Apa kau tidak punya panggilang lain selain ‘dokter Jang’ itu, Ha Na? Kedengarannya seperti kau sedang membicarakan orang lain saja.”

“Kau bisa sajaaa, nnisa…! Hah… iya sih… kalau diluar rumah sakit aku memanggilnya, Hee Woong-oppa.”

Aku tersenyum, “Kedengarannya lebih pas ditelinga.”

Ha Na tertawa kecil. Matanya kembali ke arah tv, “Ah ya… apa kau suka menonton acara musik korea?”

“Tidak. Aku jarang punya waktu untuk menonton musik. Kalau aku menghidupkan televisi, yang kutonton adalah siaran sepak bola…” ujarku sambil memakan marshmallow lagi.

“Haduuuh… kenapa kau malah suka sepak bola?? Padahal mereka keren-keren sekali, Hanniisa…” ucap Ha Na sambil meraih remote dan mengganti siaran tv, “Naah… ini dia. Ini acara musik. Ini Inkigayo, Hanniisa.”

Kuperhatikan layar televisi. Sekitar belasan orang sedang menari dan bernyanyi. Gerakan mereka terlihat serempak dan sangat indah.

“Naah… ini namanya Super Junior. Anggota mereka ada 13 orang dan mereka sudah lama sekali eksis di dunia musik Korea. Awalnya mereka ada 13 orang, kemudian ada masalah hingga akhirnya menjadi 10orang. Tapi, sekarang mereka sudah kembali menjadi 13 orang.” terang Ha Na.

“Hooo… iya, aku pernah mendengar nama Super Junior…” ujarku, “Mereka banyak sekali ya?”

Ha Na mengangguk, “Semuanya tampan-tampan. Walaupun mereka sekarang sudah tua, penggemar mereka tidak berkurang.”

Baiklaah, tadi itu Super Junioooor!!” Sahut pembawa acara. Seorang yeoja manis berwajah lonjong.

Ne. Saatnya goodbye stage dari hyung-hyung tampan kita.” Ujar penbawa acara yang satunya lagi. yang berdiri di sebelah kiri yeoja manis tadi.

Waktu promosi mereka lebih pendek daripada jadwal semula mereka. Sayang sekali ya. Ya sudaaah… langsung saja…” seorang namja disebelah kanan yeoja tadi.

INI DIA… SHINee!!!” teriak mereka bertiga serempak.

“SHINee?” ujarku heran.

Ha Na mengangguk, “Kau tau tentang mereka?”

Aku menggeleng pelan. Kuatatap layar kaca.

“Haah… Choi Min Ho tidak tampil lagi ya? Dia kemana ya? Apa netizen tidak berusaha mencari tau?” ujar Ha Na.

Ah… benar… mereka hanya berempat. Tidak ada Min Ho-ssi. Apa sekarang ia sendirian di apartemen mereka?! Aduh… itu kan berbahaya!

Langsung kuraih telepon genggamku, “Ha Na, aku mau menelepon sebentar ya.”

“Ne…”

Segera kuberlari ke kamar. Kutelepon nomor manager SHINee.

Terdengar suara ribut, “Yoboseyo…

“Yoboseyo. Mianhamnida, mengganggu. Aku dokter Hanniisa Han. Aku ingin bertanya padamu.”

Dokter Han? Ada apa? Ada yang bisa kubantu?

“Apa sekarang Min Ho-ssi sendiri di rumah??” tanyaku tergesa.

Ne. Dia sendiri. Kami belum bisa menemukan orang untuk menjaganya. Lagipula, kunci apartemen sudah dititipkan ke bagian front apartemen. Ada apa memangnya, dokter?

Aish… ternyata benar.

“Boleh aku kesana? Aku khawatir jika ia sendirian ada disana…” ujarku.

Tentu, dokter. Silahkan. Aku akan segera menelepon bagian front apartemen untuk memberitahu mereka. Gamsahamnida, dokter Han.

“Ne… Gamsahamnida!” aku segera menutup teleponku. Kuraih jaketku dan kumasukkan hpku dalam saku.

“Ha Na, aku ada keperluan di luar. Aku akan segera kembali ya…!” aku berjalan tergesa menuju pintu depan. Segera kupakai sneakerku.

“Ya, Hanniisa! Kau mau kemana? Biar kuantar!” Ha Na menghampiriku.

Aku menggeleng, “Tidak usah. Aku bisa pergi sendiri kok, Ha Na. Gamsahamnida.”

Ha Na berlari ke kamarnya. Belum selesai aku memasang sepatuku, ia sudah kembali, “Kau bisa menyetir kan?”

Aku mengangguk. Aku berdiri setelah selesai mengikat sepatuku.

Ha Na menyerahkan kunci mobilnya, “Ini… Bawa saja mobilku. Aku tidak mau melihatmu berlama-lama menunggu bus.”

Kuterima kunci Ha Na dengan ragu.

“Sudahlaah…” Ha Na meletakkan kunci itu ditanganku, “Hampir lupa, surat-surat kendaraan ada di dashboard mobil. Lengkap disana.”

Aku tersenyum, “Gomawo, Ha Na. Aku pergi dulu ya. Gomawoo…!”

“Ne! Hati-hati!”

****************

“Cklek.” Kubuka pintu asrama dengan hati-hati. Kulepas sepatuku.

“Min Ho-ssi…” panggilku pelan. Apartemennya begitu lengang. Ah… tentu saja! Mereka semua kan pergi, bodooh!

Kulangkahkan kakiku menuju kamar yang terletak di dekat ruang televisi. Lampunya tidak menyala. Namun ada sebuah cahaya dari dalam. Seperti lampu belajar.

Yah… memang tidak sopan sih kalau masuk begitu saja. Tapi, apa aku harus menunggu sampai Min Ho-ssi membukakan pintu untukku?

“Min Ho-ssi…” kuketuk pintu kamarnya. Tidak ada jawaban.

Perlahan kubuka pintu kamar itu. Ternyata benar. Hanya diterangi lampu belajar. Seorang laki-laki tampak terduduk disisi tempat tidur. Kepalanya dibenamkannya diantara kedua kakinya.

“Min Ho-ssi…” panggilku pelan.

Tak ada respon.

Kulangkahkan kakiku mendekat kearahnya. Aku berhenti tepat didepannya. Kujongkokkan badanku. Aku tidak tau kenapa, tapi aku merasa aku harus melakukannya. Kusentuh bahunya. Bahunya sedikit bergetar.

“Min Ho-ssi…” panggilku lagi.

Wajah itu perlahan-lahan terangkat. Matanya tampak basah. Pipinya juga. Ya Tuhan… kenapa wajahnya begitu menyiratkan kepedihan sih.

Ditatapnya aku cukup lama. Aku hanya terdiam. Balas menatapnya.

“Nu…gu…?” tanyanya. Aku tersenyum. Ini kata pertamanya untukku. Benar, Min Ho-ssi baik-baik saja. Dia hanya perlu waktu menenangkan dirinya.

“Aku dokter Han.” Jawabku perlahan, “Sahabat-sahabatmu sangat mengkhawatirkanmu, Min Ho-ssi. Jadi mereka minta bantuanku.”

Min Ho-ssi mengalihkan pandangannya.

“Aku tau… kau hanya butuh waktu, Min Ho-ssi. Kau hanya butuh waktu untuk merenung. Tapi, kau tidak bisa begini… jangan menyiksa dirimu.” Ujarku.

Ia menolehkan kepalanya kearahku, “A…ku…?”

Aku mengangguk.

Choi Min Ho POV

“Aku dokter Han. Sahabat-sahabatmu sangat mengkhawatirkanmu, Min Ho-ssi. Jadi mereka minta bantuanku.” Ujar wanita di depanku ini.

Kualihkan pandanganku. Dokter? Khawatir?

“Aku tau… kau hanya butuh waktu, Min Ho-ssi. Kau hanya butuh waktu untuk merenung. Tapi, kau tidak bisa begini… jangan menyiksa dirimu.” Ditatapnya aku.

“A…ku…?” kutatap wanita ini.

Dia mengangguk, “Terkadang ada suatu hal yang sangat berharga yang harus kita lepaskan. Itu bukan pertanda segalanya sudah berakhir. Tapi, itu adalah awal dimulainya sesuatu yang baru dalam hidup ini.”

Awal dimulainya sesuatu yang baru?

“Kita tidak diciptakan untuk menyesali sesuatu yang sudah pergi. Tapi, kita diciptakan justru untuk menghadapi itu dengan tulus.”

Benarkah? Apa aku benar-benar tidak bisa melepaskan diriku dari yeoja itu?

“Keluarkan saja. Jangan ditahan dalam hatimu. Jika kau ingin berteriak, aku bisa membawamu ketempat dimana kau bisa berteriak sekencangnya. Jika kau ingin menangis, kau bisa menumpahkannya. Jangan dipendam dengan diam mu itu, Min Ho-ssi.” Ujarnya lembut. Lembut sekali. Matanya yang bulat menatap mataku dalam. Kenapa rasanya aku sangat mengenali mata ini…?

“Kau boleh menangis, Min Ho-ssi. Boleh…”

Kupejamkan mataku. Kubiarkan memori-memori yang ada di otakku muncul kembali. Dadaku terasa sesak. Perlahan satu per satu air mataku tumpah.

Hanniisa Han POV

Mungkin sudah lebih setengah jam, Min Ho-ssi mengeluarkan airmatanya. Tangannya mencengkram erat karpet yang didudukinya. Sesekali terdengar teriakan memilukan dari Min Ho-ssi. Aku yang berdiri di sisi tempat tidur hanya bisa menatap Min Ho-ssi. Hatiku terasa sangat teriris mendengar isaknya. Rasanya sakit sekali. Tanpa kusadari dari tadi mataku berkaca-kaca.

Beberapa saat berlalu, Min Ho-ssi tampak sedikit lebih tenang. Ditatapnya aku yang duduk disampingnya. Tiba-tiba ia tersenyum. Senyumnya lemah tapi aku tau ia benar-benar tersenyum.

Kuelap pipinya yang basah menggunakan jemariku, “Mianhamnida.” Ucapku pelan.

Min Ho-ssi menatapku, “Gam…saham…nida…”

Aku mengangguk pelan, “Bagaimana sekarang?”

“Aku…merasa…sedikit…lega…rasanya…ada sesuatu yang…berkurang disini…” ditunjuknya dadanya.

Aku tersenyum. Syukurlah…

Min Ho-ssi terdiam.

“Baiklah, Min Ho-ssi. Apa kau sudah makan?” aku memecah keheningan.

“Aku…tidak ingin…”

Aku menggeleng, “Tidak boleh! Kau harus makan sekarang juga. Aku tidak peduli kau mau atau tidak.”

Min Ho-ssi menatapku.

“Aku kan doktermu, jadi kau harus menurut…” aku segera berdiri dari dudukku.

Aku langsung keluar dari kamar Min Ho-ssi. Kulangkahkan kakiku menuju dapur.

“Bubur saja deh…” kubuka satu per satu lemari yang ada.

Tiba-tiba tanganku menangkap sebuah benda. Bubur instan? Haaah! Annyiooo! Bubur manual saja deeh…

Setelah sekian lama mencari-cari beras dan berbagai bumbu lain, akhirnya aku mulai bekerja. Keahlian memasakku sih standar-standar aja. Tapi, seenggaknya belum tuh yang ngeluh soal masakan aku. Apalagi sampai keracunan… enggak ada!!

Akhirnya selesai jugaaaaa… segera kumasukkan buburnya kedalam mangkuk. Panasss! Kuambil air putih dari galon air yang ada disamping meja makan. Kutaruh semuanya dalam nampan. Termasuk sendok.

Aku segera melangkah menuju kamar Min Ho-ssi.

“Srrt…” terdengar langkah kaki yang diseret.

“Min Ho-ssi! Kenapa keluar dari kamarmu??” tanyaku. Segera kuletakkan nampan itu di meja ruang tamu.

Kuhampiri Min Ho-ssi. Kutuntun ia berjalan ke sofa yang ada di ruang televisi. Sampai di sofa, aku segera membantunya duduk.

“Min Ho-ssi, kenapa kau keluar? Kau belum makan beberapa hari. Pasti terasa lemas.” Ujarku perlahan. Kuambil kembali nampan yang kuletakkan di ruang tamu.

Min Ho-ssi terdiam.

“Apa aku terlalu lama memasak? Mianhamnida… tapi, aku kesulitan menemukan bumbu-bumbu nya.” ujarku, “Baiklah… minum dulu ya, Min Ho-ssi.”

Kubantu Min Ho-ssi untuk meneguk air minumnya. Tampak sekali ia haus.

“Kau bisa sendiri?” tanyaku sambil menatap mata Min Ho-ssi.

Ia menggeleng lemah, “Tangan…ku…”

Kuraih tangannya Min Ho-ssi. Sedikit bergetar.

“Baiklah. Aku akan membantumu. Buburnya masih panas…”

TBC

©FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

Advertisements

25 thoughts on “[FF PARTY] End To Start – Part 2”

  1. WahHh…
    Mian aq ru coMment dzni..
    Telat bgt bAcAnya..
    .
    Minho keren dEch..
    Q tnggU lanjuTanNya ea, author.. Hehe 😀

  2. astaga saya bacanya deg2an..

    aduhh sebenerna cwena ad hubungan apa sih sma MINHO d msa lalu??

    uaaaa…part 3 na cepet keluar yah..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s