[FF PARTY] Cracks Of My Heart – Part 1

Title                  : Cracks of my broken heart

Author              : E-blow (Echie)

Main cast         : Onew (SHINee) and Lee Yoo Jin

Other Cast       : Park Yoon Mi and SHINee

Genre               : AU, Romance, Fantasy, Angst

Length              : Oneshot

Rating               : PG-15

Summary          : a girl who left her father dead, his mother never care about her, her love unrequited.

Credit Song      : SHINee – Quasimodo and DBSK – Begin

Ket                  : Mendaftar sebagai author tetap.

Language          : Indonesian (and Korean in some case)

Disclaimer        : I don’t have Onew characters. He belong to himself. And Yoo jin are my original characters. All things that happen in here are only a fiction. So please don’t sue me.

Warning           : Un-beta-ed

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL –FF PARTY}

Pada akhirnya apapun yang terjadi, aku harus berusaha terus agar bisa melangkah dengan tenang. Melewati hidup walau debar-debar keperihan selalu mengikuti. Tak ada lagi yang dapat disesalkan, perih dan bahagia hanya dipisahkan oleh sehelai benang, sulit ditebak. Begitu kesimpulan yang kupahami tentang perjalanan hidupku yang rumit.

Bulan pucat pasi pada seperempat malam yang mengiba sedih. Aku menyisir malam sendirian, bersandar pada dinding-dinding dingin yang sepi. Bibirku berdesis garang, menenangkan pikiran yang jauh melayang dari tubuhku yang bersandar lemah di kursi kayu taman. Taman, dimana orang-orang banyak menghabiskan waktu yang kian terenggut rutinitasnya.

Aku menghitung sudah berapa kali aku duduk menyendiri seperti ini. Mengapa harus seperti ini. Kutatap layar handphoneku, terpampang wajah seorang pria, memakai baju merah yang sedang tersenyum. “Kaulah orang yang membuatku sakit saat ini” aku merintih, tertahan meredam dendam.

Bintang mangkin terang sedangkan bulan mangkin cerah saja memaknai setiap desah nafasku yang semangkin larut dalam sepi.

“Malam semangkin larut, sebaiknya aku pulang”.

Dalam setiap derap kakiku aku bergumam. “Kenapa dia memilih yoeja itu ?”. Ada titik hendak jatuh bergulir di mataku yang mulai cekung.

Malam semangkin memburu pagi. Subuh-subuh sekali aku keluar dari kamarku. Sayup-sayup terdengar lagu blues dari kamar Eommaku. Kulihat tadi malam ia datang dengan pria yang tak kukenal. Ceklektidak terkunci, kubuka pintu kamar Eommaku, yang benar saja mereka tidur berdua. “Kau laki-laki ke-22” rintihku pecah, namun kalimat yang ku ucapkan tidak terdengar jelas oleh laki-laki yang meniduri Eommaku.

Subuh yang datang kesekian kalinya dismbut dengan sesal dan sesak.

“Arrrgggg” Aku meremas rambutku. Seandainya Appa masih ada, mungkin Eomma tidak akan seperti ini, membesarkanku dengan cara seperti ini. “Appa, kapan aku menyusulmu ?”. Dadaku sesak setiap kali mengingat hal ini. Dan pada akhirnya apapun yang terjadi aku harus berusaha agar bisa melangkah dengan tenang melewati hidup. Aku menyimpan sekat duka yang tertahan di kerongkongan dan menumpuk pedih dalam hati. Wanita, kata banyak orang cenderung lebih banyak disakiti dari pada laki-laki dan aku menyadari hal itu, dan Eomma……

***

Seperti biasa setelah bangun dan mandi aku langsung pergi ke sekolahtanpa pamit dengan Eomma. Lesu dan letih mendera tubuh dan batinku. Gigil tubuhku kutahan. Terbayang wajah Appa, dan laki-laki yang kucintai selama ini. Tiga detik berselang, aku bergegas pergi ke sekolah dengan berjalan kakitanpa sedan mewah Appaku.

Di sekolah, aku tidak dapat berkonsentrasi dengan tenang, terbayang wajah Appa, Eomma dan pria itu.

“Ya !! kenapa kau melamun ?” terdengar teriakan seorang yoeja yang kukenal.

“Aku tidak apa-apa” desahku pelan.

“Nanti malam kau ikut dengan ku saja ya ?”

“Hah ? nanti malam ? kita mau ke mana ?”

“Nanti malam ada acara ulang tahun sekolah, pabo !” katanya sambil menjitak kepalaku pelan.

“Aku lupa”

“SHINee, juga ada”

“Oh !!”

“Ya, sudah aku mau ke kantin dulu, mau ikut ?”

“Ani, aku di sini saja”

“Ku tinggal yah, Annyeong” Yoonmi meninggalkanku sendirian di ruang kelas yang kosong. Kini yang tampak hanya punggung Yoonmidan menghilang.

***

“Sudah pukul 5 PM. Kegiatan belajar-mengajar yang monoton ini akan segera berakhir” gumamku.

“Ok, sekian dulu pelajaran kita hari ini sampai bertemu besok” Songsaengnimku membungkukan badannya sambil tersenyum dan pergi.

***

Aku berjalan sendirian di koridor sekolah. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku pelan.

“Ya !! kenapa kau tidak menungguku !”

“Oh, aku lupa. Mianhae !” aku sedikit membungkuk.

“Gwenchana, kau pulang dengan siapa ?”

“Biasa, aku jalan kaki”

“Kau denganku saja hari ini !”

“Baiklah kalau itu maumu”.

***

“Kamsahamnida, Yoon Mi-a !”

“Cheonmanayeo,  aku pulang dulu”

‘Annyeong, jaljayo” teriakku agak keras.

Dirumah seperti biasa, Eomma sedang meyiapkan makan malam untukku.

“Aku pulang”

“Kau sudah pulang ? bagaimana sekolahmu ? baik ?”

“Ternyata Eomma masih peduli denganku ?” runtukku dalam hati.

Aku tidak menjawabnya. Diam seribu bahasa, tatapanku kosong.

“Sayang, kenapa kau tidak menjawab pertanyaan Eomma ?”

“Huh, apa ?? Eomma !! Eomma ?? kau masih menganggap kau itu eommaku ? aku tidak akan memanggil orang yang telah menyakiti Appaku dengan ssebutan Eomma !”

“Ya Tuhan, apa yang kau katakan ?”

Eomma terisak, terdengar suaranya berubah parau. Tanpa mendengar, penjelasasnnya aku menutup pintu kamarmenguncinya rapat. Bulir-bulir tetes yang sejak tadi ku tahan akhirnya keluar dari mataku. “Ya Tuhan, apa yang tadi ku ucapkan ?”. Aku menagis dengan posisi terlungkup.

Sejak Appa meninggal, eomma megalami depresimarah pada dunia. Ia sering pergi dengan pria-pria yang tak ku kenal dan membawanya ke rumah. Ia bermulut sangat tajam dan telah mengucapkan hal-hal yang sangat menyakitkan kepada orang-orang baik disekitarnya. Tapi ketika ia berada di dekatku, seolah muncul satu sisi dirinya yang lembut, perhatian yang melihatkan sisi keibuannya.

Senja berselang mejadi malam yang sunyi.

Tok-tok-tok terdengar pintu kamarku di ketuk seseorang dari luar.

“Ya, siapa ?”

“Eomma”

“Ada apa ?”

“Yoon Mi mencari mu !”

“Tunggu sebentar”

Setelah siap, aku membuka pintu kamarku. Terlihat Yoon Mi sedang duduk di ruang keluarga.

“Ppali” aku mearik lenggannya kasar.

“Kau tidak pamit ?”

“Sudahlah, biarkan orang itu menikmati ‘dunianya’”

“Tampaknya kau tidak sabar melihat panggeranmu itu ?”

“Sudahlah jangan banyak bicara”

“Baiklah aku menyerah”

***

Aku dan Yoon Mi menuju sekolah yang terletak di Gwangju. Tak sampai sepuluh menit untuk kami sampai disana. Terlihat banyak mobil mewah terparkir disana. Katanya sekolahku ini sekolah elit yang hanya bisa di tempati oleh orang yang memiliki uang, harta, kekuasaan dan prestasi.

Aku menarik lengan Yoon mi, menyuruhnya agar keluar dari mobil Hyundai Genesisnya. Terlihat sudah banyak yang berkumpul di lapangan.

“Ya !!!! Oppadeul !!!!” teriakan cempreng seorang yoeja terdengar olehku.

Terlihat segerombolan gadis-gadis berkerumun bak semut yang menemukan gula.

“Eh, ada SHINee !” Yoonmi sedikit berteriak.

“Kau mau ke sana ?”

“Iya, Minho oppa sudah menugguku, kau tidak ingin melihat Onew oppa ?”

“Aku mau, tapi setelah gadis-gadis sialan itu pergi dari hadapan mereka”

“Baiklah, kita menuggu di sana saja” kata Yoonmi sambil menunjuk ke arah sebuah kursi dekat taman sekolah.

Sepuluh, dua puluh, tiga puluh menitaku menghitung, sudah lama aku dan Yoonmi duduk di bangku taman. Letih itulah yang kurasakan sekarang. Aku masih teringat Eomma.

“Yoon mi-a aku ke toilet dulu”

“Ne, jangan lama-lama’

“Ne”

Aku pun pergi dari hadapan gadis yang memakai dress berwarna Sapphire Blue itu. Sesampainya di toilet aku berpapasan dengan hoobaeku. Aku membasuh kedua tangganku di westafel dan merapihkan tatanan rambutku.

“Ya ampun, kau lihat Onew oppa tadi ? dia memegang tangganku !”

“Jongmal ?”

“Ne” kata hoobaeku, iya pun membentuk tanda peace di tanggan kanannya.

“Kau beruntung sekali” kata temannya.

Aku sudah muak dengan semua celotehan mereka. Sebelum aku benar-benar muntah sebaiknya aku pergi dari sini. Aku membalikkan badan. Brukaku ditabrak seorang yoeja cantik, rambutnya hitam pendek dan memakai dress putih senada dengan warna kulitnya yang putih, cantik.

“Jeosonghamnida, jongmal mianhae Sunbae” terdengar suaranya bergetar.

“Ne, gwenchana ?”

‘Gwenchana, Sunbae”

Aku memandang wajah yoeja itu lekat-lekat. Bukankah dia yoeja yang akhir-akhir ini dekat dengan Onew Oppa. Hatiku bagai terhunus pedang tajam milik ksatria tangguh. Tanggan dan bibirku bergetar, kepalaku mulai pusing.

“Sunbae ? gwenchana ?”

Aku langsung pergi dari hadapan yoeja itu. Aku berjalan sambil berpegangan dengan dinding. Tanggan kiriku memegang tas pemberian Appaku, erat.

“Yoojin-a, kau kenapa” terdengar suara panik Yoonmi di telinggaku.

“Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing”

“Sebaiknya kita kembali ke tempat semula, sebentar lagi oppadeul sudah mau performes”

Yoonmi membopongku, membawaku ke tempat yang agak dekat dengan panggung, agar kami bisa melihat penampilan SHINee.

Gaseum dadeukan geudae heunjeok nareul sumshige haeyo
Dalbiche gin bami modu muldeul myeon
Heyeo nalsu eopneun gidarim da kkeuti nalkkayo
Gijeogeul bireo mugo dapaeyo

Oh, geudae mame dako shipeun nal malhaji
Motae shirin gureum dwiye georin byeolbi deul cheoreom
Saranghae ibsul kkeute maemdol deon apeun geobaek modu
Kkeunae nunmure heulleo

Shimjange daheun ihwasareun ijen nae mom gagejyo
Jugeul mankeum neomu apado
Nae mame bakin geudaereul kkeonaelsu eopneyo
Sarangira seo nan sarangira seo

Na geudael gajji motaedo nae mami
Kkeunae seulpeun inyeone byeogape garo makyeodo
Saranghae barabol suman ineun goshira myeon
Geudaen nae jeonbu nikka

Su maneun bamjisae uda nae nunmul gateun byeol bichi
Meojji anneun biga dwemyeon
Giyeokaeyo naega sarang haeteon geol

Na geudael gajji motaedo nae mami
Kkeunae seulpeun inyeone byeogape garo makyeodo
Saranghae barabol suman ineun goshira myeon
Geudaen nae jeonbu nikka

Na geudael gajji motaedo nae mami
Kkeunae seulpeun inyeone byeogape garo makyeodo
Saranghae barabol suman ineun goshira myeon
Geudaen nae jeonbu nikka

Him gyeopji anayo, oh no
Nae geudaera geudae nikka apado ullyeodo saranghae

Suara tepuk tanggan membahana di seluruh lapangan.

Aku keluar dari kerumunan orang-orang, duduk menyendiri di sebuah kursi. Lama, aku menyendiri. Saat aku hendak berdiri, tampak seorang pria dan wanita sedang duduk di kursi di depanku. Apa aku tidak salah lihat, itukan Onew oppa, aku maju beberapa langkah memastikan apakah penglihatanku ini benar. Iya, ternyata itu memang Onew oppa, orang yang selama ini mengisi ruang kosong di hatiku. Tapi siapa wanita yang disampingnya. Aku maju lagi. Terlihat Onew oppa sedang mendekatkan bibirnya ke wanita itu. Kepalaku mulai pusing, kakiku gemetar, mungkin ini takakan bertahan lama. Satu langkah lagi, aku bisa melihat siapa wanita itu. Tapi, brukaku pingsan. Gelap, hanya itu yang kuingat semenjak kejadian itu.

***

Terlihat rungan kosong, putih dan aku sendirian. Aku tidak ingat kapan tepatnya aku berada di ruang putih ini. Semuanya berkelebat cepat. Kejadian itu terlalu rumit bagi seorang gadis berumur lima belas tahun, disaat dia sedang kacau, ada masalah lain yang harus dihadapinya.

Pikiranku melayang, aku teringat sepuluh tahun yang lalu, saat Appa mendudukanku diatas lututnya dan mendengarkan aku menangis. Ia membuat penderitaan dunia pergi dengan satu pelukan. Setiap kali aku melakukan kesalahan, ia selalu berbicara denganku tentang apa yang telah aku lakukan. Ia bertanya mengapa aku melakukan kesalahan itu, sementara semua figur penguasa lain yang ku kenal langsung memberikan hukuman fisik. Satu hal lagi yang kukagumi adalah ia tidak memperlakukanku seperti seorang bocah perempuan berusia lima tahun, yang hanya berhubungan dengan pita merah muda dan boneka barbie. Ia memperlakukanku seperti seorang manusia dewasa. Ketika aku berumur delapan tahun, sebuah kenyataan mengubah hidupku selamanya. Kenyataan itu adalah kematian. Aku tidak tahu arti kematian. Apapun arti kematian hal itu tidak nyata bagiku. Akhirnya kenyataan itu menghantamku: ia sudah tak ada. Aku masih mempunyai kenangan istimewa kami dalam hatiku.

Ceklek, terdengar pintu dibuka oleh seseorang. Eommalah yang membukanya. Terlihat ada gurat-gurat kesedihan di pipinya. Aku menagis. Eomma memelukku. Walau bagimanapun dia tetaplah Eommaku apapun yang terjadi. Eomma berbeda dengan Appa yang memberi nasihat, Eomma lebih sering memperlakukanku seperti seorang anak kecil, dia lebih sering memanjakanku berbeda denggan Appa.

“Kau tidak apa-apa sayang ?”

“Eum, siapa yang membawaku kesini ?”

“Yoonmi dan dua orang namja”

“Dua orang namja ? aku tahu satu orang namja yang Eomma maksud, dia pasti Minho oppa, nah, yang satunya lagi siapa ?” aku bertanya pada diriku sendiri.

“Dua orang namja ? siapa ?” tanyaku pada Eomma.

“Eomma juga tidak tahu. Tunggu sebentar, dia masih ada di luar”

Yah, yang kutempati sekarang adalah rumah sakit, di tangan kiriku terpasang sebuah alat.

Tak lama kemudian Eomma datang dengan tiga orang di belakangnyaYoon mi, Minho oppa dan … , aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa namja yang eomma maksud.

*To Be Continued*

A/N                 : In this is fanfic. I didn’t use any diction. So you can relax and read this fict with confort. I’am sorry for my fault, maybe any miss typo in this fict . But I hope you can enjoy it. NO SILENT READER PLEASE and no bashing, jebal !

©FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

 

Advertisements

14 thoughts on “[FF PARTY] Cracks Of My Heart – Part 1”

  1. whoa author nya keren euy XD
    kayaknya bener2 menguasai bahasa >o<
    sejauh ini belum terlalu kelihatan jelas jalan ceritanya, itu yoonmi minho sama onew ?
    yaya ditunggu part selanjutnya ^o^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s