[FF PARTY] Stand By Me – (Jinki) Part 1

Title(*): Stand By Me (Jinki)

Author(*): Achiiey_Linda

Main Cast(*) : Haruka Rei as Rei-chan, Lee Jinki as Onew as Jinki, Choi Minho as Minho

Suport Cast(*) : nggak ada kayaknya. Cuma malaikat, ahjuma, bocah laki-laki, gadis kecil.

Other Cast : –

Genre(*) : Friendship, Romance, Sad

Type/Length(*) : sequel #3

Rating (*): general

Summary : Jika diberi satu permohonan terakhir sebelum kau mati, kau minta apa?

Credit Song : –

Ket(*) : Sekedar berpartisipasi. Tapi kalo memenuhi syarat jadi author tetap, boleh deh *kkk

Stand By Me (Jinki) Part 1

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Tiba-tiba saja aku merasakan perutku mual. Tubuhku sakit. Dan beberapa detik kemudian aku terjatuh. Di sekitarku yang kulihat hanya warna putih, tak berujung. Tuhan, aku dimana?

“Onew hyung…” seseorang memanggilku. Suara itu suara yang selama ini tidak pernah memanggilku lagi.

Aku menoleh. “Minho-ya?” Mengapa Minho berada di sini?

“Ne, hyung. Sudah lama tidak bertemu denganmu.”

Aku langsung memeluk Minho. “Minho-ya, mianhae. Aku tidak sengaja mendorongmu!”

“Arasseo, hyung. Aku tahu.” Katanya, menepuk pundakku.

“Kau pasti dendam kepadaku!”

“Andwae, hyung. Aku tahu kau melindungiku… Hyung, mengapa kau tidak mengatakan bahwa kau mengidap AIDS?”

Aku melepas pelukanku, kemudian menjauhkan diri dari Minho. “Aku, aku tidak mau kau menjauhiku karena penyakitku.”

“Hyung…”

“Aku tidak sanggup melihat kau meninggalkanku karena penyakitku. Aku sudah menganggapmu sebagai dongsaengku. 10 tahun, bukanlah waktu yang sebentar.”

“Hyung! Aku marah padamu! Aku marah karena kau tidak mengatakan yang sebenarnya padaku! Aku marah karena kau mengatakan kau cidera sehingga tidak bisa bermain basket lagi! Aku marah karena kau mengatakan kau selalu baik-baik saja! Aku marah karena aku baru mengetahui kau terkena AIDS sesaat sebelum aku meninggal! Aku marah karena kau berteriak ‘Pergi dariku, Minho! Aku kotor! Aku menderita AIDS!’

“Minho-ya…”

“Hyung, aku tahu kita sudah bersama selama 10 tahun! Apakah masih tidak bisa kau mengatakan yang sebenarnya kepadaku?”

“Minho-ya…”

“Satu lagi, hyung. Aku marah karena kau tidak mengatakan kepadaku bahwa kau mencintai Rei, kau mencintai kekasihku!”

“Darimana kau tahu?”

“Diary-mu, hyung. Apakah hatimu sakit? Setiap hari aku menceritakan tentang Rei, bahkan mengajakmu menontonku bertanding agar kau bisa melihat Rei berteriak untukku. Mengapa kau tidak mengatakan kau menyukainya? Jika aku tahu kau menyukainya, aku akan membiarkan dia bersamamu, hyung!”

“Andwae, dia tidak boleh bersamaku! Aku akan membuatnya bersedih! Aku terkena AIDS!”

“Tapi aku merasa bersalah karena membuat gadis yang kau cintai membencimu, hyung! Sekarang Rei menuduhmu sebagai pembunuh!”

“Arasseo. Aku memang mendorongmu hingga kau terjatuh…”

“Kau tidak bersalah, hyung!”

Aku lelah berdebat dengan Minho. Dia keras kepala. Akhirnya aku duduk, kemudian dia duduk di sebelahku. “Jika aku mengatakannya, apakah kau akan membiarkanku berkencan dengannya?”

“Tentu saja!”

Aku mendengus. Sudah terlambat. “Minho-ya, kita berada dimana?”

“Ini surga hyung, waeyo?”

“Sinca? Apakah aku sudah mati?”

“Mollayo. Tadi aku melihatmu sendirian di sini. Jadi aku menghampirimu.”

“Apakah mati itu enak?”

“Mm, aku tidak bisa menjawabnya, hyung. Aku kesepian selama hampir satu tahun di sini. Tetapi kata seorang malaikat yang kutemui tadi, sebentar lagi aku akan mendapatkan teman di surga.”

“Aku ingin berada di sini juga, denganmu.”

“Ya! Andwae! Kau harus kembali!” Minho mengeluarkan teriakannya tepat di telingaku.

“Ya! Shiro! Sepertinya mati itu enak!” aku balas berteriak di telinganya.

“Andwae! Kau harus kembali!” teriak Minho. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.

Sesaat setelah Minho berteriak kepadaku, aku lagi-lagi merasakan perutku mual dan tubuhku sakit.

“Lee Jinki…”

Aish… Sekarang aku berada dimana? Minho, dimana dia? Bukankah tadi aku sedang bersama Minho?

“Lee Jinki, kemarilah…”

Aku menoleh, menuju asal suara. “Siapa kau?”

“Malaikat, Jinki… Aku bertugas menjemputmu…” kata seseorang yang memakai pakaian serba putih itu.

“Menjemput? Kemana?”

“Surga…”

“Surga?”

“Ne, surga. Sebenarnya kami ingin kau kembali, Jinki. Tetapi kami mendengarmu bicara dengan Minho. Apakah kau serius ingin berada di surga?”

“Apa benar kau malaikat?”

“Ne…”

Aku menunduk lemah. “Aku memang ingin tinggal di surga. Badanku sakit semua, dan aku lelah melihat Omma menangis.”

“Baiklah, kami akan mengabulkan permohonanmu, Jinki. Kau boleh meminta sebuah permohonan sebelum kau ikut denganku.”

Aku tersenyum senang. Permohonan? Aa, aku tahu! “Aku ingin bertemu dengan Rei.”

“Baiklah, kami memberimu waktu satu hari, Jinki. Tetapi hanya Rei yang bisa melihatmu, tidak dengan orang lain. Besok, di jam yang sama aku akan menjemputmu.”

Aku mengangguk. “Aku setuju.”

***

Mual lagi. Sakit lagi. Beberapa detik kemudian aku berada di suatu tempat, sepertinya di dalam kereta. Aku mengedarkan pandanganku. Mataku tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk di dekat pintu. Dia tertidur pulas sekali. Aku mendekatinya.

Tuhan, ini adalah kali pertama dan terakhir untukku bisa sedekat ini dengannya.

Tiba-tiba dia menggeliat.

“Kau mau?” tanyaku sedikit gugup. Aku menawarkan permen yang entah mengapa tiba-tiba sudah berada di tanganku. Dia terlihat terkejut.

“Tidak, terimakasih.”

Aku mengangguk, menyimpan permenku tadi. “Siapa namamu?”

“Rei, kau?” jawabnya ketus.

“Jinki. Sendirian di Korea?”

“Aku baru saja pindah ke Korea sekitar satu bulan yang lalu.”

“Oh…”

Setelah itu dia tidur lagi, dan aku hanya bisa memandanginya lagi. Aku mendengar seorang gadis kecil berbiski-bisik sambil menunjuk Rei-chan-ku. “Omma, apakah eoni itu gila? Dia bicara sendiri…”

Aku tersenyum.

***

Kereta sampai di sebuah stasiun. Omo, stasiun kenangan ini! Stasiun tempatku biasanya turun untuk melihat Minho bertanding!

Rei-chan-ku turun. Aku mengikutinya. “Rei, bisakah kau membantuku sebentar?” tanyaku.  Dia berbalik menatapku. Aku tahu dia akan menjawab apa, karena itu aku segera menariknya, “Ayo kita berkencan!”

“Mwo?” tanyanya terkejut.

Aku tersenyum. “Ikut saja denganku!”

***

Aku mengajaknya ke stadion olahraga, tempat dimana Minho sering bertanding dan berlatih. Di tempat ini juga aku bertemu Minho saat kami masih kecil. Suatu hari saat pulang dari sini aku bertemu dengan Rei, dan langsung jatuh cinta padanya.

“Jinki….”

“Ne?”

“Bagaimana bisa kau mengetahui aku suka berada di sini?”

“Hanya menebak saja.”

Rei-chan-ku memandang sekeliling. “Aku mempunyai banyak kenangan di lapangan ini, Jinki…”

Hatiku sakit. “Benarkah? Kenangan tentang apa?”

“Tentang seseorang yang meninggalkanku…”

“Namjachingumu?”

“Ne. Dia orang yang suka berolahraga, dan suka bertanding. Aku selalu menemaninya ketika sedang berlatih. Membawakannya minuman dan handuk. Aku menemaninya ketika sedang bertanding, dan dia selalu menang. Dia tidak pernah kalah, karena dia tidak mau kalah. Dia akan menangisi kekalahannya. Dia selalu menjadi nomer satu, dan dia selalu terlihat tampan ketika berada di lapangan ini.”

“Dia, meninggal?”

“Ne, temannya membunuhnya.”

Aku mengejang. “Membunuh?”

“Minho selalu menganggapnya teman baik, kau tahu. Tetapi entah mengapa temannya mendorongnya hingga dia jatuh dan meninggal di hari ulang tahunnya.”

“Kau membenci temannya?”

“Tentu saja! Dia telah membuat orang yang kucintai meninggal di hari ulang tahunnya! Kau tahu mengapa aku kembali ke Korea lagi? Karena aku ingin balas dendam. Aku akan mencari tahu siapa namanya dan dimana dia tinggal. Selama ini dia hanya memanggilnya hyung, tanpa memberitahuku nama temannya.”

“Tetapi dia pasti sangat menyesal dan kehilangan Minho, sama sepertimu.”

“Menyesal? Saat hari pemakaman Minho, pembunuh itu tidak datang! Apakah dia terlihat menyesal? Apa dia terlihat kehilangan? Dia pasti tertawa bahagia telah membunuh Minho!”

Tuhan, tidak tahukah dia, bahwa aku juga membenci diriku sendiri? “Kau sangat membenci temannya…”

“Kau benar. Sangat membencinya. Sangat membenci sehingga membuatku ingin mengirimnya ke neraka.”

***

Aku mengajak Rei-chan-ku keluar. Aku belum memutuskan akan pergi kemana. Saat ini aku hanya ingin menghabiskan sisa waktuku berrsama Rei-chan-ku, itu saja. Minho pasti tidak keberatan aku mengajak yojachingunya berkencan.

Saat kami melewati sebuah toko, aku berhenti.

“Tunggu!” kataku. Aku berjalan memasuki toko tersebut. Sesampainya di dalam, aku langsung menjentikkan jariku. Berhasil. Beberapa saat kemudian aku keluar sambil membawa sebuah bingkisan. “Rei, ini untukmu!”

“Es krim? Terimakasih, Jinki! Kau tahu, aku sangat menyukai es krim!”

“Pasti karena kau mempunyai kenangan bersama Minho.”

“Ne, kenangan tentang es krim.” Dia diam sejenak. “Hari itu hari pertamaku bertemu dengan Minho. Aku menumpahkan es krim ke seragam basketnya. Ah! aku selalu membawanya di tasku!” Dia mengeluarkan sebuah seragam basket dari tasnya.

Omo, itu seragam basketku! Dia masih menyimpannya?

“Seketika itu juga dia marah dan membuka seragam ini, memintaku mencucinya sampai bersih.”

“Bagaimana kemudian kalian bisa berpacaran?”

“Noda es krimnya mengenai nomer punggungnya, 10, hingga sulit dibersihkan. Aku menyucinya beberapa kali sampai tanganku terluka. Minho membawaku ke lapangan dan mengobatiku di sana. Aku meminta maaf, dan berjanji akan membelikannya seragam basket yang baru saja karena nodanya tetap tidak bisa hilang. Dia setuju, kemudian meminta nomer ponselku. Sejak itu kami sering berhubungan, dan suatu hari dia bilang dia menyukaiku.”

Lagi-lagi hatiku sakit. Tetapi kuberanikan diriku untuk bertanya, “Kau menyukainya?”

“Sebelumnya tidak. Sama sekali. Aku tidak suka seorang namja yang menyukai olahraga, bagiku mereka tidak romantis dan mempunyai banyak penggemar. Tetapi Minho berbeda. Dia memang mempunyai banyak penggemar, dan tidak seromantis namja impianku. Yang Minho punya adalah cinta, dan aku bisa merasakannya. Bagiku itu sudah cukup.”

Aku tahu. Aku bisa merasakan cintamu. “Kau begitu mencintainya…”

“Kuraeso. Karena itu aku ingin membalas kematiannya.”

Aku mengejang. Maafkan aku, Rei-chan. Aku menyesal telah memisahkanmu dengan Minho…

“Omma, Noona yang makan es krim itu bicara sendiri…” aku mendengar seorang bocah laki-laki bicara di belakang Rei-chan-ku.

“Hush. Jangan bicara begitu, Yoogeun-ah!” kata ommanya. Aku kemudian mengajak Rei-chan-ku pergi dari situ, sebelum bocah kecil itu menganggap Rei-chan-ku gila.

– TBC to Stand By Me (Jinki) Part 2 –

N.A / P.S (kalau ada): ada yang mikir mirip filmnya Irwansyah, Acha, n Raffi Ahmad nggak? Tau deh judulnya apa aku lupa^^ gomawo udah baca, maaf kalo ada yang nggak suka… Ini Cuma fiksi ya… sampai jumpa di part berikutnya^^

ho


12 thoughts on “[FF PARTY] Stand By Me – (Jinki) Part 1”

  1. Lebih dramatis,beda ko chingu, kalo Love Is Cinta, Irwansyah nya minjem tubuh nya Raffi Ahmad orang lainnya masih bisa liat.. Kalo ini kan emang Onew nya gak bisa dilihat org lain (: ditunggu lanjutannya ya chingu (:

  2. Karena akuu ol di hp.. Bales langsung semua ya~

    @all di atas : MAKASII UDA BACA N KOMEN 🙂
    Tunggu part berikutnya,, hehehe

    dan sebelum banyak yg komen,, ak mo ingetin.. Ini Stand By Me yg Jinki PoV ya.. Yg blm baca PoV nya Rei, silahkan baca dulu.. Hehehe

  3. maksudnya film ‘ada cinta’ ya??
    Hmmp, beda kok. Kerenan ini aah.
    Hhe
    Kayanya lebih dpt feelnya baca yg dri sudut pandang Jinki deh.
    Kereen. Lanjuutanya jgn lama2 ya ^^

  4. Ahh~
    mian tidak membalas tepat waktu ~.~
    maklum jadwal padat merayap #plaks

    semuanyaaa… Makasi yak uda baca n komen.. Love ya^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s