[FF PARTY] End To Start – Part 3

END TO START

Part 3

Author: Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~

Main Cast: Choi Min Ho, Hanniisa Han

Support Cast: SHINee, Jang Hee Woong, Jung Ha Na, Dennis Midhya, Fabio Dinata, Yun Ho DBSK, etc.

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: General

Summary: Terkadang ada suatu hal yang sangat berharga yang harus kita lepaskan. Itu bukan pertanda segalanya sudah berakhir. Tapi, itu adalah awal dimulainya sesuatu yang baru dalam hidup ini.

Keterangan: Pengen jadi author tetap.. ;D

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Hanniisa POV

Kutarik perlahan selimut yang menyelimuti badan Min Ho-ssi. Tangannya tidak gemetaran lagi. Wajahnya juga tidak tampak terlalu pucat.

“Mmm…hhh…hhh…” terdengar igauan Min Ho-ssi.

Kuhela nafas panjang. Sepertinya Min Ho-ssi harus minum Kukeluarkan hp yang masih tertinggal di saku jaketku. Kutekan nomor Ha Na.

Yoboseyo…” jawab Ha Na diseberang sana.

“Ha Na… kau sudah tidur?” tanyaku.

Beluum. Sekarang kau ada dimana, nniisa???? Apa yang kau lakukan??

Aku segera keluar dari kamar Min Ho-ssi. Kututup pintunya perlahan, “Mianhae. Tapi aku sekarang ada di rumah pasienku.”

“Kau baik-baik saja kan?”

Aku duduk diatas sofa, “Memangnya aku akan kenapa?”

Ha Na tertawa kecil, “Mana tau kau kenapa-kenapa.

Aku ikut tertawa kecil, “Tidak mungkin. Ha Na, aku mau minta tolong padamu.”

Silahkan, nniisa…

“Bisa aku minta tolong buatkan resep untuk obat tidur?”

Hah? Pasienmu susah tidur?

“Dia daritadi menggigau terus, Ha Na. Hanya untuk jaga-jaga.” Ujarku.

Baiklah. Apa aku harus mengantarnya kesana?

“Tidak usah. Besok pagi saja aku berikan. Tadi saja susah sekali ia tidur. Tidurnya gelisah dan dia terus menggigau.”

Begitu ya? Mungkin pikirannya belum tenang, nniisa. Coba besok kau ajak bicara di alam terbuka.

“Ne, rencananya begitu, Ha Na. Tapi lihat kondisinya dulu besok pagi.” Ucapku.

Baguslah. Semoga tugasmu lancar-lancar saja ya, nniisa.

“Ne, gomawo, Ha Na. Ya sudah ya, aku tutup dulu teleponnya.”

Ne. Jangan pulang terlalu larut ya, nniisa.

“Baiklah. Gomawo, Ha Na.” segera kumatikan panggilanku.

Kumasukkan hpku dalam kantong  celanaku. Perlahan kubuka kembali pintu kamar Min Ho-ssi. Ia tampak tertidur pulas.

“Annyonghaseooo…” sahut seseorang dari luar. Kedengarannya berisik sekali. Mereka sudah pulang ya?

Setengah berlari aku menuju ke depan pintu. Kuintip dari lubang kecil yang ada di pintu. Ternyata benar. SHINee sudah pulang. Segera kubuka pintu apartemen yang kukunci.

“Annyonghaseo.” Sapaku begitu melihat mereka.

“Annyong, dokter Han. Bagaimana keadaan Min Ho?” tanya Onew-ssi yang segera masuk ke dalam setelah menanggalkan sepatunya.

“Ne, bagaimana keadaan Min Ho sekarang? Apa yang dia lakukan tadi, dokter?” Key-ssi menarik tanganku untuk duduk di sofa.

Aku menghela nafas panjang, “Jangan khawatir. Tadi ketika kalian pergi, Min Ho-ssi tidak melakukan apa-apa kok. Ia hanya menangis. Lalu ketika aku datang, kuminta Min Ho-ssi untuk melepaskan semuanya. Ia menangis cukup lama. Kemudian setelah tenang, ia sudah kubantu untuk makan dan minum air. Juga sedikit susu. Sekarang ia sudah tertidur di kamarnya. Awalnya ia menggigau, tapi sepertinya dia sudah sedikit lebih tenang.”

Onew-ssi langsung menatapku dan duduk didepanku, “Benarkaah? Min Ho mau makan? Tadi sore aku dan Tae Min susah sekali menyuruhnya makan. Syukurlah.”

Key menghela nafas lega, “Syukurlah, dokter. Gomawo sudah datang. Haah… akhirnya dia sudah makan.”

“Apa yang kau berikan, dokter?” tanya seorang namja berambut pirang disebelah Onew-ssi.

Aku tersenyum, “Tadi aku memasakkannya bubur beras. Sedikit sulit karena aku tidak tau dimana letak bumbu-bumbu dapurnya.”

Key-ssi tertawa kecil, “Ah, mianhae merepotkan, dokter.”

Aku menggeleng, “Gwenchana, Key-ssi.”

“Ah ya, aku lupa. Ini member SHINee juga, dokter. Ini maknae kami. Lee Tae Min dan yang disebelah Key itu Kim Jong Hyun, main vocal kami.” jelas Onew-ssi.

“Annyong, dokter. Salam kenal. Gamsahamnida sudah menjaga Min Ho.” Ujar Kim Jong Hyun-ssi.

Aku mengangguk, “Salam kenal kembali, Jong Hyun-ssi. Aku Hanniisa Han. Itu memang sudah tugasku.”

“Dokter Han, gamsahamnida sudah menjaga Min Ho-hyung dan terimakasih sudah membuat Min Ho-hyung bisa makan sesuatu. Tadi sore ia menolak untuk makan.” Ucap Lee Tae Min-ssi.

“Itu sudah tugasku, Tae Min-ssi.” Aku tersenyum.

Tae Min-ssi juga tersenyum, “Dokter Han, Key-hyung bilang umurmu 24 tahun kan? Aku masih 23 tahun. Jadi, panggil Tae Min saja ya. Tidak usah pakai –ssi.”

Aku tertawa kecil, “Ah, baiklah, Tae Min. Mianhamnida.”

Tae Min mengangguk. Ia tersenyum manis.

“Sepertinya aku sudah harus pulang. Kalian juga harus istirahat kan?” aku berdiri dari dudukku. Kukenakan jaketku.

“Kuantar pulang ya, dokter. Ini sudah malam.” Onew-ssi berdiri.

Aku menggeleng, “Tidak usah, Onew-ssi. Aku bawa mobil, kok.”

“Dokter bawa mobil?” tanya Tae Min.

Aku mengangguk.

“Kau yakin akan menyetir sendiri, dokter?” tanya Jong Hyun-ssi.

“Ne. Tenang saja. Aku sudah terlatih kok, Jong Hyun-ssi.”

“Aku permisi dulu ya semuanya, selamat beristirahat.”

“Hati-hati di jalan, dokter Han. Jangan ngebut malam-malam begini.” Ujar Key-ssi.

Aku tertawa kecil, “Baiklah. Aku akan berhati-hati. Gamsahamnida, semuanya.”

****************

Dia tidur dengan pulas, dokter. Tapi sesekali ia menggigau. Sampai sekarang dia belum bangun dari tidurnya.” Ujar Key melalui telepon.

“Baiklah kalau begitu. Aku hanya ingin memastikan tidurnya tadi malam. Apa hari ini kalia sibuk?” tanyaku sambil menyeruput segelas mocchachino dari gelasku.

Hari ini kami tidak punya schedule. Jadi, kami akan berada di rumah seharian, dokter.

Aku terdiam sejenak, “Apa kalian keberatan jika aku mengajak Min Ho-ssi pergi menghirup udara segar pagi ini?”

Jinca? Ah, tentu saja kami tidak keberatan. Silahkan dokter. Aku akan mengganti bajunya dulu. Ummm, tapi…

“Wartawan?” tanyaku.

Ne…

“Tenang saja. Kami akan pergi ke tempat yang tenang dan kurasa tidak akan ada wartawan disana.”

Baiklah, gomawo, dokter. Apa dokter yang akan menyetir?

“Ne… aku. Tenang saja, Key-ssi. Aku akan menjemput Min Ho-ssi satu jam lagi di apartemen kalian ya.”

Ne, baik dokter. Gomawo.

“Chonmaneyo. Aku tutup teleponnya ya. Annyonghaseo.”

Annyonghaseo.

Pintu ruang kerjaku terbuka begitu aku menutup telepon, “Dokter Jang?”

Dokter Jang tersenyum, “Bagaimana, dokter Han? Kudengar tadi malam kau pergi ke apartemen SHINee?”

Aku mengangguk, “Silahkan duduk dokter Jang.”

Dokter Jang duduk di sofa ruang kerjaku. Aku duduk didepannya.

“Lalu bagaimana?” tanya dokter Jang.

Aku menghela nafas panjang, “Tadi malam aku datang ke apartemen mereka. Min Ho-ssi ada dikamarnya sendirian. Ia menangis, dokter Jang. Lalu kukatakan padanya jika ia ingin menangis, keluarkan saja.”

“Dia mengeluarkannya?”

“Ne. Lebih setengah jam ia menangis, dokter Jang. Aku sendiri bahkan tidak kuat melihatnya begitu. Aku lebih kuat menghadapi seorang psikopat daripada menghadapi seorang pria yang menangis. Rasanya teriris saat melihatnya menangis.”

Dokter Jang terdiam sejenak, “Laki-laki hanya mengeluarkan airmatanya disaat tidak ada pilihan. Mungkin Min Ho-ssi benar-benar merasakan sakit.”

Aku tertegun, “Benar…”

Dokter Jang menatapku, “Lalu setelah itu?”

Aku mengangguk pelan, “Setelah ia agak tenang, aku membuatkannya bubur dan memberinya air putih.”

Dokter Jang mengangguk-angguk, “Apa tadi malam ia tidur?”

“Ne. Setelah makan, kusuruh ia tidur. Awalnya ia terlihat gelisah dan susah untuk tidur. Sempat terfikir untuk memberikannya obat tidur. Tapi, mana mungkin apotik mau memberikannya tanpa resep dokter. Makanya kuberikan saja susu hangat. Setelah meminumnya, Min Ho-ssi terlihat tenang dan mulai tertidur. Key-ssi bilang tadi malam Min Ho-ssi tidur nyenyak tapi beberapa kali ia mengigau.”

“Syukurlah. Itu perkembangan yang bagus.”

Aku tersenyum kecil, “Min Ho-ssi hanya butuh waktu untuk berfikir jernih, dokter Jang. Sebenarnya ia juga tidak butuh seorang psikiater. Ia hanya butuh orang yang mengerti perasaannya.”

Dokter Jang mengangguk, “Benar. Kalau kudengar dari ceritamu, sepertinya begitu. Tapi, ia tetap membutuhkanmu, dokter Han.”

Aku terdiam.

Dokter Jang tersenyum, “Baiklah… Lalu apa rencanamu hari ini?”

“Aku akan membawa Min Ho-ssi untuk menghirup udara segar. Aku masih ingat sebuah tempat dimana aku sering menghabiskan waktu kecilku dulu. Di daerah pinggiran Seoul.

“Baiklah. Semoga lancar, dokter Han.”

“Ne. Gamsahamnida, dokter Jang.” Aku tersenyum.

****************

Choi Min Ho POV

Aku terus terdiam menatap pemandangan keluar jendela. Pagi ini, begitu aku bangun, Key menatapku dalam dan memintaku untuk makan. Aku dapat melihat pancaran kekhawatiran dari matanya itu. Setelah Key membantuku makan, ia membantuku untuk berganti baju. Aku hanya mengikuti apa yang Key lakukan.

Dan sekarang aku sedang berada di mobil. Entah akan kemana aku sekarang dengan dokter muda disampingku ini.

“Apa kau ingat kapan terakhir kau keluar rumah?” tanya dokter disebelahku ini. matanya tetap fokus kearah jalan raya. Ia tersenyum manis.

Aku tertegun. Benar juga…kapan ya? Sudah berapa lama aku berada dalam kamarku?

Dokter disebelahku tersenyum, “Naaah… kita sudah sampai.”

Ia segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku. Dibantunya aku untuk keluar dari mobilku. Tubuhku masih terasa sedikit lemas.

Kutatap alam disekitarku. Entah kenapa rasanya ada déja vu yang menyergapku. Aku merasa pernah berada di tempat ini.

“Kita duduk disana saja ya.” dokter ini memegang lenganku dan membantuku berjalan.

Dokter membawaku kesebuah bangku di pinggir danau.

“Hari ini sepi sekali ya.” gumam dokter.

Aku terdiam. Kepejamkan mataku, kehela nafas panjang. Rasanya sejuk dan menenangkan sekali. Perlahan-lahan dapat kurasakan sebagian bebanku lepas. Seperti daun kering yang lepas dari dahan pohon.

Tangan dokter yang hangat, udara yang sejuk, alam yang tenang… aku bisa merasakan aku mulai merasa tenang. Tidak terlintas sedikitpun bayangan tentang yeoja itu.

Hanniisa Han POV

Kulihat Min Ho-ssi memejamkan matanya. Lama sekali. Kukira akan ada air mata yang turun. Ternyata tidak. Yang kulihat bukan tangis. Tapi, senyuman. Perlahan bibirnya menyunggingkan senyum. Manis sekali… sangat manis. Apa ia sudah berhasil mengusir bebannya?

Kutatap tangannya yang masih kugenggam. Kurasakan makin lama tangannya yang dingin mulai menggenggam tanganku.

Degg… degg…degg…

Aduuh… kenapa grogi begini sih jadinya???

Lama sekali Min Ho-ssi terdiam. Matanya masih terpejam. Mungkin ia sedang merenung kembali.

Kutatap danau yang ada didepanku. Bertahun-tahun yang lalu aku pernah duduk disini dengan berlinangan air mata.

-Flashback-

“Apa kau sedang menangis?” tanya seorang anak laki-laki yang langsung duduk disampingku.

Aku hanya terdiam. Kematian Halmoni adalah pukulan berat buatku.

Dirogohnya saku jaketnya, saku celananya.

“Hah…aku tidak bawa sapu tangan atau tissue…” laki-laki itu menatapku.

Tiba-tiba dihapusnya air mataku menggunakan jemarinya.

“Eh?” responku. Aku sedikit terkejut.

“Air matamu keluar tapi kenapa kau tidak mengeluarkan suara? Apa kau benar-benar menangis?” suaranya terdengar khawatir dan hangat.

Tangannya menggenggam erat tanganku yang mulai dingin. Ia tersenyum.

“Aku akan menemanimu disini… tenang saja…”

-End of Flasback-

Perlahan kurasakan ada yang menyentuh pipiku. Kubuka mataku. Hal yang pertama aku lihat adalah Min Ho-ssi yang menatapku. Tangannya menyentuh pipiku.

“Air matamu keluar tapi kenapa kau tidak mengeluarkan suara? Apa kau benar-benar menangis, dokter?” tanyanya lancar.

Aku tertegun. Kata-kata itu pernah diucapkan anak laki-laki itu bertahun-tahun yang lalu.

“Dokter…” panggilnya lembut.

Aku segera tersadar, “Mianhae…”

Min Ho-ssi tersenyum, “Dokter, gamsahamnida sudah membawaku kemari. Tiba-tiba rasanya aku mendapat kekuatan untuk menghadapi semuanya. Aku bisa merasakan ada beban yang hilang dari hatiku… gamsahamnida…”

Kutatap Min Ho-ssi, “Jinca?”

Min Ho-ssi mengangguk pelan.

Tanpa terasa air mataku kembali turun. Cepat-cepat kuhapus air mataku, “Syukurlah, Min Ho-ssi…”

Min Ho-ssi kembali tersenyum.

“Apa boleh kutahu, kenapa tadi kau menangis, dokter?” tanya Min Ho-ssi perlahan. Suaranya masih terdengar sedikit lemah.

Aku tersenyum kecil, “Aku hanya mengingat masa kecilku… aku ingat bertahun-tahun yang lalu, aku pernah duduk disini. Aku menangis disini karena kematian halmoni ku yang depresi berat saat itu. dan aku ingat, seorang anak laki-laki datang ke tempatku. Dia duduk disebelahku.”

Aku menghela nafas sebelum melanjutkannya, “Dihapusnya airmataku dengan jemarinya yang hangat saat itu. ia yang menemaniku duduk disini hingga aku merasa lega. Entah kenapa tiba-tiba air mataku keluar memikirkan hal itu.”

Min Ho-ssi tertegun, “Rasanya…aku pernah…mengalaminya?”

Kutatap Min Ho-ssi.

“Aku merasakan déja vu saat…berada disini…” dipejamkannya matanya.

Aku terdiam.

Tiba-tiba ia membuka matanya, “Apa…kau…gadis…kecil yang…mengenakan syal warna putih…dress putih itu??”

Kutatap wajah Min Ho-ssi, “Bagaimana…bisa?”

Choi Min Ho POV

“Aku hanya mengingat masa kecilku… aku ingat bertahun-tahun yang lalu, aku pernah duduk disini. Aku menangis disini karena kematian halmoni ku yang depresi berat saat itu. dan aku ingat, seorang anak laki-laki datang ke tempatku. Dia duduk disebelahku.” Ujar dokter pelan, “Dihapusnya airmataku dengan jemarinya yang hangat saat itu. Ia yang menemaniku duduk disini hingga aku merasa lega. Entah kenapa tiba-tiba air mataku keluar memikirkan hal itu.”

Aku tertegun, “Rasanya…aku pernah…mengalaminya? Aku merasakan déja vu saat…berada disini…”

Kupejamkan mataku untuk menggali memoriku. Gadis kecil yang menangis? Tiba-tiba aku ingat!!! Gadis kecil itu… dress putih… syal putih… kuncir kuda… jadi, cinta pertamaku… dokter ini?

“Apa…kau…gadis…kecil yang…mengenakan syal warna putih…dress putih itu??” ujarku tergesa.

Ditatapnya wajahku, “Bagaimana…bisa?”

Akhirnya aku mengingatnya, memori yang terpendam itu… Belasan tahun yang lalu, aku melihat seorang gadis kecil duduk di sebuah bangku yang ada didepan danau ini. Ia sedang menangis. Tapi sama sekali tidak terisak. Itu sudah lama sekali. Dan sejujurnya…gadis itu bisa dibilang cinta pertamaku… Karena sejak saat itu, aku selalu mengingatnya. Ne, aku masih ingat gadis kecil bermata bulat itu… aku ingat…

Tiba-tiba air matanya mengalir lagi. Kali ini aku langsung menariknya dalam pelukanku. Entah apa yang mendorongku melakukannya…

****************

“Jadi, pasienmu itu anak laki-laki yang pernah kau temui belasan yang lalu, nniisa…?” tanya Ha Na lagi.

Aku mengangguk pelan, “Ne… aku bahkan tidak menyangka aku bisa bertemu dengannya, Ha Na.”

“Romantis sekali. Tapi, dokter Jang juga tidak kalah romantis sih…” ujar Ha Na pelan. Ia tertawa.

Aku tertawa kecil, “Lalu, kapan pesta pernikahan kalian dilangsungkan…?”

“Hmm… itu masih rahasia, nniisa… tapi yang bisa kupastikan saat ini adalah… pestanya beberapa bulan lagi.” ujar Ha Na sambil tersenyum.

“Baiklah… kapan saja, yang jelas wajib mengundangku. Ah, pestanya jangan sampai terlalu lama, bisa-bisa aku sudah kembali ke Indonesia.” Ujarku.

Ha Na menggeleng, “Annyio, tidak akan. Pestanya tidak lama lagi, kok. Dokter Jang sedang mencari tanggal yang pas. Haaah… aku tidak sekejam itu dengan tidak mengundangmu. Kau akan jadi orang pertama yang kuundang. Aku akan mengudangmu sekarang. Kau mau datang kan, nniisa?”

Aku tertawa kecil, “Baiklaah!!”

Kami tertawa bersama. Ha Na memang sosok yang ramah dan mudah bergaul. Aku saja hanya butuh beberapa jam saja untuk mengubah gaya bicara bahasaku dari formal menjadi non formal dengan Ha Na. Langsung klop deh kalau aku bicara dengan Ha Na.

“Ah, besok kau akan kemana dengan pasienmu?” tanya Ha Na.

Aku menggeleng, “Lusa. Mungkin hanya ke taman dalam kota saja, Ha Na. Pasienku itu keadaannya sudah semakin membaik. Doakan saja, dia bisa kembali seperti dulu lagi ya, Ha Na.”

“Ne. Pasti. Semoga semuanya lancar-lancar saja ya, nniisa…” Ha Na tersenyum.

Aku mengangguk, “Gomawo, Ha Na…”

****************

Keesokan pagi aku sudah bangun dengan wajah yang ceria. Setelah mandi dan memilih pakaian terbaikku, aku segera berangkat menuju apartemen SHINee. Ha Na meminjamkan lagi mobilnya. Sekarang dia sudah keenakan diantar jemput oleh dokter Jang. Makanya tidak menggunakan lagi mobilnya.

Saat aku berhenti di depan apartemen SHINee, Min Ho tampak sudah menuggu dengan tudung jaket yang terpasang dan kacamata hitamnya. Begitu ia melihatku, ia langsung menuju ke arahku dan masuk kedalam mobil.

“Annyonghaseo, Min Ho-ssi. Maaf sudah membuatmu menunggu lama.” Ujarku sambil langsung melajukan mobilku. Membelah jalanan kota Seoul yang masih tampak sedikit lengang.

“Gwenchana, dokter Hanniisa. Aku baru saja menunggu.” Jawab Min Ho-ssi. Mukanya jauh lebih baik daripada kemarin. Bibirnya sudah tidak pucat lagi.

“Suara mu agak sedikit parau. Apa tadi malam kau tidur nyenyak?” tanyaku.

Min Ho tersenyum kecil, “Ne… tapi, aku tetap meminum obat tidur yang kau berikan.”

Aku mengangguk-angguk, “Baiklah. Gunakan obat itu sesuai dosis saja ya. aku tidak mau kau malah keracunan gara-gara obat yang kuberikan.”

Min Ho-ssi mengangguk, “Tenang saja, dokter. Aku makan sesuai dosis.”

Aku tersenyum.

“Hari ini kau akan mengajakku kemana, dokter?” tanya Min Ho-ssi pelan.

Kutatap jalan raya yang ada didepanku, “Hari ini kita menghirup udara taman saja ya atau ke sungai Han?”

Min Ho-ssi tersenyum pelan, “Terserah dokter saja. Kau kan dokterku.”

Degg… degg…

Kenapa lagi ini, Hanniisa Han????

Choi Min Ho POV

Akhirnya dokter Han memutuskan membawaku kesebuah taman di pusat kota Seoul. Belum terlalu ramai di taman ini. Tentu saja. Hari ini kan bukan hari libur.

Kami menyusuri jalan setapak yang ada di taman. Dapat kurasakan udara segar kembali menerpaku. Aku merasa sangat nyaman. Kupejamkan mataku sesaat. Rasanya nyaman sekali.

“Min Ho?” terdengar suara berat seorang namja.

Kubuka mataku. Dokter Han sudah berjalan duluan. Kulihat ke belakangku. Aku langsung tercekat begitu melihat siapa yang ada dibelakangku.

“Min Ho… benar kan?” ujar laki-laki yang ada dibelakangku. Disebelahnya berdiri seorang wanita.

“An…annyong…” sapaku tergagap.

“Min Ho!” dokter Han menghampiriku.

“Wah, aku sudah lama tidak melihatmu, Min Ho. Kau kemana saja? Ah ya, ini siapa? Yeojachingu mu?” tanya laki-laki itu.

Dokter Han menatapku bingung. Kuhela nafas panjang. Aku belum siap dengan pertemuan mendadak ini. Kutatap mata bulat dokter Han yang sedang memandangku lembut. Kukuatkan hatiku. Untuk apa lagi aku meratapi yeoja yang sudah menjadi milik orang lain. Aku harus kuat. Min Ho, kau pasti bisa!

“Yun Ho-hyung…aku baik-baik saja, kok.” Ujarku sambil tersenyum. Dapat kurasakan tanganku agak bergetar.

Tiba-tiba tanganku digenggam oleh dokter Han. Ia tersenyum. Entah mengapa rasanya aku mendapat keberanian dan kekuatan untuk menghadapinya.

“Baguslah kalau begitu. Hyung-hyung DBSK dan Super Juniormu juga khawatir dengan keadaanmu, semuanya khawatir. Tidak ada yang mau memberitahu keadaanmu.” Yun Ho-hyung menggenggam erat tangan yeoja yang ada disebelahnya, “Lalu, ini siapa, Min Ho?”

Aku tersenyum, “Ini yeojaku.”

“Yeojachingu-mu?”

“Entahlah. Aku sendiri juga bingung. Yah, mungkin calon istriku.” Ujarku. Kugenggam erat tangan dokter Han.

TBC

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

10 thoughts on “[FF PARTY] End To Start – Part 3”

  1. huwaaa~ kereenn~ hah… aku calon istrinya minho? #BAGBIGBUG *digebukin flames yg lain*
    kekeke~ aku suka ffnya~ minho.. mendingan kmu sama ak aja yayaya? #PLAAKK *ditabok flames lain*
    lanjut lanjut lanjut thor~
    I’m wait for the next one… b^^d

  2. weeeewww minho kau sepertinya menderita sekali patah hati?tapi kan diganti sama yang jauuuhh lebih baik,sitsuiiiittt,,,,

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s