[FF PARTY] Canon In D(ecember)

CANON IN D(ECEMBER)

Title : CANON IN D(ECEMBER)

Author : Eci a.k.a PeppermintLight

Main cast : Lee Jin Ki SHINee, Choi Min Ho SHINee, Sabrina.

Supporting casts : Kim Ki Bum SHINee

Other casts : Lee Tae Min, Jung songsenim, Kim Sera

Genre : Friendship, romance

Type : One shot

Rating : General

Summary :

  • Dan aku akan memainkan biola jika sampah kayu itu bisa kumasukkan ke gawang lawan.
  • Siram semua kertas partitur itu dengan bensin dan bakar. Aku akan selalu memainkan Canon In D dengan biola sekolah dan jemariku sebagai partiturnya.
  • Aku belum menyerah padamu. Karena itu jangan dulu menyerah padaku.

Song Credit : Canon In D by Johann Pachelbel

Keterangan : Mendaftar sebagai author tetap *etdah nekat

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Choi Min Ho sekali lagi mencetak gol dan menyelubungi kepalanya dengan seragam tim kesebelasannya kemudian berlari-lari di lapangan. Itu sudah jadi ciri khasnya, mungkin seperti para pemain bola lainnya. Bertingkah ekspresif ketika berhasil memasukkan bola ke gawang lawan. Namja tampan itu ber-high five dengan teman-teman satu timnya. Kemudian ia membuka mulutnya lebar-lebar dan berteriak lantang.

“Sebentar lagi aku tidak berdiri di lapangan ini! Piala Dunia! Choi Min Ho akan menjeblos gawang Spanyol!”

“Hidup, Choi Min Ho!” seru yang lain lantang. Lantang dan bangga. Mereka membuka seragam tim dan meloncat-loncat kegirangan. Nggak peduli kalo mereka masih berdiri di lapangan sekolah mereka sendiri pas pelajaran olahraga. Mereka nggak peduli dengan beberapa pasang mata yang mulai melirik jengkel dari arah ruang staf pengajar dan ruang kelas. Mereka cuma peduli pada senyum bangga pelatih Han pada mereka. Lapangan, sepakbola, musuh, bau rumput, basah keringat, dan gawang.

Di kelas musik, Jung songsenim mengalihkan pandangannya dari standing book dengan partitur di atasnya, ke arah salah satu murid kesayangannya. Seorang namja berwajah putih dan imut berdecak kesal, matanya memandang ke luar jendela kelas musik yang nggak jauh dari lapangan olahraga.

“Kenapa berhenti, Lee Jin Ki?” tanya songsenim. Nggak biasanya Jin Ki berhenti di tengah-tengah musik yang dimainkannya.

“Ngg…tidak apa, songsenim…jeongmal mianheyo,” ucapnya tersadar. Songsenim tersenyum dan berdiri.

“Teruskan berlatih. Aku ke ruang staf sebentar,” ujarnya kemudian pergi meninggalkan kelas.

Barulah Jin Ki menumpahkan semua kekesalannya yang dipendam sejak dua jam yang lalu.

“Berisik banget sih di luar sana?! Lagian pelajaran olahraga aja kayak main di World Cup, gaduhnya nggak ketulungan? Ini sekolah, ngerti nggak sih mereka?! Aku daritadi nggak bisa konsentrasi nih main biolanya!” omel Jin Ki abis-abisan.

“Choi Min Ho tuh biangnya. Kerok tuh anak! Gara-gara dia pelatih Han jadi ngutamain sepakbola buat jadi olahraga utama anak cowok,” sahut Ki Bum nggak kalah sebel. Dia masih inget sama kecelakaan yang menimpa urat Achilles di pergelangan kakinya pas main sepakbola.

Jin Ki kembali mengumpat. Namun seketika ia berhenti ketika matanya tertumbuk pada seorang yeoja di kelas musiknya. Mata yeoja itu menatap keluar jendela. Jin Ki mengikuti arah yeoja itu memandang. Lapangan sepakbola. Jin Ki tersenyum kecut. Ia tidak suka. Ia benci setiap kali Sab memandang kagum pada Choi Min Ho. Makanya ia benci Choi Min Ho. Karena namja itu udah berhasil ngerebut perhatian Sab, teman sekelasnya yang udah lama disukainya.

Jin Ki bangkit dari kursinya.

“Sabrina,” panggilnya. Sab menoleh.

“Kenapa?” tanyanya.

“Konsentrasi aja sama partiturnya. Bulan depan kita mesti fasih mainin Canon In D ini buat festival bulan Desember. Kalo kamu ngeliat keluar terus kita nggak akan…”

“Kenapa memangnya? Aku suka melihat Choi Min Ho,” tandas Sab sinis. Wajah Jin Ki merah padam. Teman-teman mereka pura-pura sibuk dengan partitur masing-masing.

“Lagipula kamu kok ngurusin aku? Kalo ngerasa konsentrasi sama Canon In D itu penting, ya udah sana lakuin,”

“Kita ini tim. Paduan. Ngerti nggak sih? Kalo salah satu mainnya cacat, yang kecipratan yang lain juga kan?” Jin Ki mulai panas. Sab mendeliknya.

“Jadi menurut kamu permainan biola aku cacat gitu?”

“Iyalah, kalo mainnya sambil ngeliatin lapangan sepakbola mulu!”

“Aku peringatin sama kamu ya!! Berhenti ikut campur semua urusanku!!” darah Sab mendidih dan ia bangkit dari kursinya sembari menunjuk hidung Jin Ki. Beberapa anak termasuk Ki Bum segera melerai adu mulut mereka yang dikhawatirkan bisa berubah menjadi adu tangan. Syukurlah, nggak lama kemudian Jung songsenim membuka pintu. Jin Ki dan Sab kembali ke tempat duduk masing-masing dan mulai sibuk dengan partitur mereka. Jin Ki kesal. Kesal dan menyesal. Dia nggak pernah dengan sengaja berniat menghina Sab. Gadis itu yang tidak pernah mengerti perasaannya.

Usai kelas musik, Jin Ki menghampiri bangku Sab. Gadis itu sedang membenahi biola milik sekolah dan memasukkan lembaran-lembaran partiturnya ke map.

“Sabrina,” ujarnya. Sab melirik sesaat kemudian tampak sibuk lagi.

“Dengar, aku minta maaf…”

Sab bangkit dari bangkunya dan membawa seluruh barangnya keluar kelas tanpa menghiraukan Jin Ki lagi. Namja itu hanya menghela nafas. Betapa sulit baginya untuk mendapatkan sedikit tempat di hati Sab.

Sabrina teman sekelasnya dari kelas satu. Berarti udah dua tahun mereka sekelas. Dia gadis yang bagus nilai akademisnya. Entah apa yang bikin Jin Ki kagum padanya. Ia pernah menetapkan bahwa pacarnya nanti mesti pandai main musik, dan Sab nggak termasuk kriterianya. Sab bisa main biola karena biola merupakan alat musik wajib di sekolah. Awal masuk kelas musik Sab bahkan nggak tahu cara pegang penggesek biola yang benar. Ia megang penggesek kayak megang pensil.

Kemudian saat itu Sab membanting biolanya. Ia tampak kesal sekali waktu itu ketika kelas musik sedang berlangsung. Lima detik kemudian ia memungutnya lagi. Dan seisi kelas menyaksikan ia menangis. Ketika kelas usai dan songsenim menghiburnya, Jin Ki menghampirinya.

“Kenapa bukan pas mau ngebanting aja nangisnya? Kenapa baru sekarang?” tanya Jin Ki sambil membantunya membereskan partitur-partiturnya.

“Nyeselnya sekarang kok. Masa nangisnya tadi. Aneh!” tukas Sab sambil membersihkan sisa air matanya. Jin Ki ketawa geli.

“Trus kenapa tadi dibanting?” tanyanya.

“Aku kesel sama biolanya. Digesek bunyinya kayak engsel pintu karatan. Trus kadang malah nggak bunyi,” Sab menggerutu. Jin Ki ketawa.

“Nggak apa, Sab…kan masih ada biola sekolah. Sini aku bantu bereskan. Aku punya kenalan yang bisa mereparasi biolamu. Nanti kita bisa ke sana,”

“Eh, Lee Jin Ki. Jangan ketawa lantaran aku nggak sejago kamu main biolanya! Aku pasti bisa kok!”

“Aku? Jago?” Jin Ki tersentak. Banyak yang memuji kepiawaiannya menggesek biola. Tapi baru pujian Sab yang bikin dia tersentak.

“Jago banget,”

Sejak saat itulah jantung Jin Ki mulai belajar merespon keberadaan Sabrina.

$$$$$$$$$$

Jin Ki lagi dalam perjalanan pulang ke rumah ketika sebuah benda menghantam wajahnya dengan telak. Seketika matanya berkunang-kunang. Kepalanya pusing. Segerombolan namja menghampirinya. Aishh…timnya Choi Min Ho. Jadi yang tadi menghajarnya itu bola toh.

“Eh, maaf, maaf! Si Tae Min nih nendangnya nggak pake kompas. Nyasar dah! Maaf ya, kamu nggak apa-apa kan?” ujar seseorang. Jin Ki mengamati namja tampan bertubuh jangkung itu. Ia melengos. Si biang kerok ada di sini.

“Nggak, nggak apa-apa. Tapi bukannya kalian tuh diajarin main bola khusus ya sama pelatih Han? Masa masih nggak bisa main bener?” sindir Jin Ki tajam. Min Ho menyipitkan matanya nggak suka.

“Wah, kalo sakit ngomong dong. Nggak pake dendam. Mulut dijaga,” Min Ho berkata datar namun memperingatkan. Jin Ki menarik sudut bibir kanannya ke atas.

“Jaga mulut?”

“Aku kan udah minta maaf tadi. Nyantai aja sih, mau ke rumah sakit aku bayarin. Tapi nggak usah ngehina timku ya. Kamu Lee Jin Ki kan? Violis orkestra sekolah? Duduk di balik partitur ternyata bisa bikin sombong juga, ya,” Min Ho mulai berkoar. Jin Ki memelototinya. Ia nggak suka Min Ho ngebawa-bawa biolanya.

“Nggak usah bawa-bawa biolaku,” Jin Ki memperingatkan.

“Dan nggak usah menghina timku! Kayak kamu bisa aja main sepakbola. Nendang bola aja kamu susah,” gelak Min Ho diiringi tawa teman-temannya.

“Aku akan main sepakbola kalo kamu bisa mainin satu nomor partitur biola…”

“Dan aku akan memainkan biola jika sampah kayu itu bisa kumasukkan ke gawang lawan. MUAHAHAHAHA!” semua tertawa. Jin Ki panas. Ia tak tahan lagi.

“Brengsek!” tinjunya melayang ke wajah Choi Min Ho. Perkelahian pun tak terelakkan lagi. Teman-teman satu tim Choi Min Ho berusaha memisahkan mereka berdua dan…, tentu saja melindungi kapten tim mereka. Choi Min Ho aset sekolah. Tidak boleh ada yang melukainya.

“LEE JIN KI!!!” sebuah suara akhirnya bisa memisahkan perkelahian dua namja kebanggaan sekolah itu.

Jin Ki dan Min Ho menoleh. Sab sudah berdiri di situ. Min Ho merasa dapat angin. Belakangan ini ia merasa Sabrina memperhatikannya.

“Hai, Sabrina. Entahlah, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi pada temanmu…”

“Sebentar lagi orkestra sekolah mesti tampil di festival dan akan ada wakil dari mentri kebudayaan berkunjung melihat kami. Dan Lee Jin Ki salah satu harapan sekolah. Jadi jangan lukai dia,”

Jin Ki membelalakkan matanya. Dia nggak nyangka Sab akan membelanya. Seingatnya Sab bilang kalo dia suka melihat Choi Min Ho.

Min Ho nggak kalah kagetnya. Ia kecewa. Dikiranya Sab akan berada di pihaknya. Ia pergi dengan kesal diikuti anak-anak dari timnya.

$$$$$$$$$$

Kelas musik lagi latihan seperti biasa ketika Min Ho melintasinya. Ia melengos. Mendengar orkestra ia teringat kejadian kemarin. Bisa-bisanya Jin Ki merendahkan timnya. Dia pikir dengan menggesek biola Spanyol bisa menang?

Min Ho memperlambat jalannya. Ia familiar dengan lagu ini. Ini Canon. Canon In D dari Pachelbel. Ia pernah mendengar lagu itu di kelas balet adiknya. Lagu yang indah dan bersemangat. Bahkan ia pernah mendengar versi rocknya yang dimainkan dengan gitar elektrik. Ia suka Canon In D. Tanpa sadar Min Ho tersenyum. Dibiarkannya telinganya menikmati alunan orkestra tersebut.

“Eh, ada permainan solonya,” gumam Min Ho. Ia mendekatkan badannya ke dinding  kelas musik untuk memperjelas pendengarannya. Indah sekali. Jemari siapa yang sangat piawai memainkan Canon In D itu dengan biola? Min Ho terdiam. Bunyi biola itu benar-benar memanjakan gendang telinganya. Siapa itu yang memainkannya? Sabrinakah?

“Bagus sekali, Lee Jin Ki,” ujar Jung songsenim membuat Choi Min Ho tersentak kaget. Hah? Lee Jin Ki? Jadi anak itu yang memainkan porsi solo violin tadi? Lee Jin Ki? Min Ho menyesal telah menikmatinya.

“Kenapa nggak masuk aja?” sebuah suara mengagetkan Min Ho. Sabrina berdiri di belakangnya.

“Kamu kayak hantu,” ujar Min Ho kaget. Sab tersenyum.

“Masuk aja. di sana ada bangku dan biola sisa,”

“Oh…enggak deh. Aku nggak bisa main biola,” tolak Min Ho halus.

“Lho? Bukannya biola itu alat musik wajib di sini ya? Aku juga bisa karena terpaksa,”. Min Ho ketawa mendengar kalimat akhir Sab.

“Nggak terlalu bisa maksudku. Tapi aku suka lagu ini. Ini Canon In D kan? Pachelbel? Canon dalam tangga nada…”

“…D mayor,” sambung Sab. Min Ho tersenyum.

“Aku paling hafal sama tangga nada D mayor. Kelas kalian pernah ujian mainin lagu Rondo nggak? Yang pake D mayor. Di kelasku nilaiku yang tertinggi,” ujar Min Ho. Sab membelalakkan matanya.

“Sama dong. Maksudku sama, jariku lebih menikmati memainkan D mayor ketimbang yang lain,”

“Wow! Kok bisa banyak banget samanya? Sama-sama bisa biola karena terpaksa dan sama-sama lebih nyaman dengan D mayor? Kamu suka sepakbola?”

“Sayangnya enggak. Hahaha. Masuk yuk! Ayolah,” Sab menarik tangan Min Ho. Seisi kelas memandang mereka berdua. Jung songsenim tersenyum dan mempersilakan Min Ho masuk ke kelasnya. Namja itu masuk dengan canggung. Ia bukannya benci kelas musik. Dia cuma nggak suka disuruh melakukan apa yang dia nggak mau lakukan. Seperti kewajiban bermain biola.

“Kamu bisa memainkan satu judul untuk kami, Choi Min Ho?” tanya Jung songsenim. Min Ho mengambil biola di dekatnya dan mulai memainkannya.

Semua terpana. Min Ho memainkan The Star-Spangled Banner, lagu kebangsaan Amerika Serikat, dengan sangat baik.

Semua bertepuk tangan, kecuali Lee Jin Ki. Ia masih jengkel dengan Min Ho.

Duel,” ujar Jin Ki. Seisi kelas hening.

“Mainkan Duel denganku,” kemudian ia melanjutkan.

“Kamu tahu Bond kan, Min Ho? Pernah dengar Duel? Main biola bersahut-sahutan seolah-olah lagi duel?” Jin Ki tersenyum penuh kemenangan ngeliat perubahan air muka Min Ho.

“Ng…Bond…, aku cuma bisa memainkan Alexander The Great,” ujar Min Ho.

“Kalo gitu ngapain masuk sini?” tandas Jin Ki. Min Ho ngerasa ditusuk jantungnya. Jung songsenim hendak melerai ketika ia bangkit dari kursinya dan pergi keluar.

“Keterlaluan!” Sab menyusul Min Ho keluar setelah membentak Jin Ki. Jung songsenim hanya bisa menggelengkan kepalanya. Beliau menyesal tidak menguasai keadaan terlebih dahulu. Jin Ki anak baik kecuali sifat jeleknya yang masih sulit diubah. Rasa iri.

“Jin Ki,…” ujar Ki Bum.

Jin Ki menoleh ke belakang.

“Yang bisa mainin lagu Duel di kelas ini kan cuma kamu dan Jung songsenim…”

$$$$$$$$$$

Min Ho sedang meminum air mineralnya ketika Jung songsenim menghampirinya dari pinggir lapangan sepakbola.

“Selamat pagi, songsenim,” Min Ho berusaha menutupi rasa kesalnya begitu ingat kejadian kemarin. Songsenim tersenyum dan mengangguk.

“Ini,” beliau menyerahkan beberapa helai kertas ke arah Min Ho. Namja itu meliriknya dengan malas.

“Tidak perlu repot-repot padaku, songsenim. Toh aku…”

“Aku terpaku mendengarmu bisa memainkan The Star-Spangled Banner. Andai Barack Obama di sini akan kutahan kepulangannya ke Amerika untuk mendengarmu sejenak memainkan lagu kebangsaan negaranya,”. Min Ho tertawa geli mendengar gurauan songsenim.

“Partiturnya kan ada di buku pelajaran musik sekolah, songsenim…”

“Terima saja, ini Pachelbel,” ujar songsenim. Min Ho membelalakkan matanya begitu membaca judul partitur yang diberikan songsenim. Canon In D. Johann Pachelbel.

“Songsenim bercanda…”

“Pikirkan baik-baik. Desember sebentar lagi dan kita mesti latihan ekstra keras untuk orkestra. Aku membawa nama sekolahku di hadapan dewan kebudayaan Korea. Oiya, ngomong-ngomong itu lapangannya lagi dipake nggak? Ayolah main. Aku lagi senggang, bosan di kelas musik terus. Bisa tambah banyak rambut putihku,”. Min Ho lagi-lagi membelalakkan matanya. Dia nggak nyangka guru musiknya satu ini menaruh minat di lapangan. Ia bangkit dengan semangat.

“Ayo main, songsenim!”

$$$$$$$$$$

Jin Ki mengendap-endap. Ia tidak suka melakukan ini. Namun rasa irinya tak terbendung lagi ketika melihat songsenim memberikan partitur Canon In D pada Min Ho. Dilangkahkan kakinya pelan-pelan ke ruang ganti tim sepakbola sekolah. Tibalah ia di loker Choi Min Ho. Loker itu terbuka dengan bebasnya. Jin Ki tersenyum. Choi Min Ho memang ceroboh meninggalkan lokernya dalam keadaan tidak terkunci seperti ini.

Jin Ki menoleh ke segala penjuru arah untuk memastikan bahwa situasi aman-aman saja. Tim sepakbola lagi latihan untuk kompetisi bulan Februari. Dan Jin Ki tidak ingin Min Ho merusak momen di bulan Desember. Pemain biola payah sepertinya akan memainkan Canon In D? Yang benar saja. Apa kata dewan kebudayaan Korea Selatan yang menonton nanti? Choi Min Ho akan merusak orkestra bulan Desember.

Setelah ia mendapatkan kertas-kertas partitur dari loker Min Ho, Jin Ki pergi ke bukit belakang sekolah.

Setibanya di sana, ia mengeluarkan korek api dari sakunya yang akhirnya bisa ia pinjam setelah membayar mahal berandalan sekolah yang suka merokok di toilet pria. Dinyalakannya korek itu. Api mulai membakar ujung-ujung partitur Canon In D milik Min Ho.

“Siram semua partitur itu dengan bensin dan bakar. Aku akan selalu memainkan Canon In D dengan biola sekolah dan jariku sebagai partiturnya,”

Jin Ki tersentak kaget. Ia menoleh ke arah sumber suara. Min Ho sudah berdiri di situ dengan tatapan datarnya.

“Kamu salah! Kamu cuma bakal ngancurin orkestra yang udah kami latih berbulan-bulan dengan permainan payahmu! Kamu cuma bakal ngecewain Jung songsenim!”

“Apa yang membuatmu iri padaku, Jin Ki? Apa? Hak permainan solo violin di tengah orkestra itu udah nunjukin betapa Jung songsenim sangat membanggakan kamu! Dewan kebudayaan nggak akan dengar permainanku! Beliau hanya akan mendengar paduan orkestra dan permainanmu di tengahnya! Iya kan?! Kamu punya semuanya! Kamu mahir main biola, kamu dibanggakan songsenim dan teman-teman dan…dan mungkin Sabrina,” Min Ho begitu marahnya hingga nafasnya terengah-engah.

“Tutup mulutmu,” Jin Ki berusaha menutupi rasa kagetnya ketika Min Ho menyebut nama Sab dengan jelas.

“Aku menyukai Sabrina. Tapi dia menolakku. Meski dia tidak menyebutkan namamu tapi aku tahu dia menyukaimu. Apa lagi hah?!”

“BODOH! SABRINA TIDAK SUKA PADAKU! KAU MINTA DIHAJAR LAGI?!!” teriak Jin Ki.

“KAU YANG MINTA DIHAJAR!!!”

Mereka berdua sejenak terdiam. Kemudian serentak mengambil tempat duduk di bawah pohon bukit belakang sekolah.

“Kenapa jadi bicarain Sab sih? Bicara denganmu menyebalkan,” Jin Ki melunakkan suaranya. Choi Min Ho mendengus. Tapi kemudian tertawa.

“Kukira selama ini aku suka kalo ada yang iri padaku. Ternyata tidak.” Ujar Min Ho.

“Jangan ingatkan lagi. Aku bego banget. Bego!” tiba-tiba Jin Ki ngerasa perbuatannya barusan itu benar-benar memuakkan. Membakar partitur Min Ho padahal jelas-jelas semua perhatian di kelas musik tertuju padanya.

“Benar. Aku juga. Kebodohanku mungkin adalah mengikuti Sab masuk ke kelas musik dan memamerkan permainan biolaku yang payah. Aku tahu Jung songsenim cuma basa-basi pas bilang soal Barack Obama akan terpesona sama permainan The Star Spangled Bannerku,”

“Tidak juga. Aku benci mengatakan ini tapi The Star Spangled Bannermu memang bagus. Aku hanya iri,”

“Bodoh kamu, Lee Jin Ki,”

“Aku tahu, aku tahu. Tapi dengar, aku mau tanya. Kau menyerah soal Sabrina?” tanya Jin Ki. Min Ho memandangnya. Kemudian menggeleng.

“Belum,”

“Kalo gitu siap-siap saingan denganku, Beckham,”

“Tidak masalah…, Pachelbel,”. Mereka ketawa bareng. Dari balik pohon Sab dan Jung songsenim tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Baiklah, masalahku dan orkestraku sudah selesai. Selesaikan masalahmu sendiri, Sabrina,” ujar songsenim.

$$$$$$$$$$

Desember. Desember. Dan sekali lagi… DESEMBER.

Jung songsenim tidak pernah sepanik ini mengurus orkestranya. Hari ini dewan kebudayaan Korea Selatan akan datang di festival sekolah dan akan berkunjung secara khusus di aula sekolah mereka. Tamu kehormatan tersebut akan datang jam sepuluh pagi beserta beberapa petinggi negara lain dan ajudan mereka.

Jin Ki dan Min Ho membantu menenangkannya sementara yang lainnya menyusun bangku-bangku dan standing book lengkap dengan nomor-nomor partitur yang akan mereka bawakan nanti, termasuk lagu utama, Canon In D.

“Sabar, songsenim…” ujar Jin Ki.

“Gimana saya bisa sabar?! Gimana?! Jin Ki biola kamu udah di stem kan? Saya nggak mau ada suara fals pas kamu solo nanti!”

“Udah kok songsenim…tenang aja…”

“Min Ho! Meskipun kalian mainnya rame-rame tapi aku bisa tahu lho siapa yang bikin salah. Dan kalo kamu bikin salah, kamu akan…”

“…disuruh ngebersihin kelas musik kan, songsenim? Udah sepuluh kali songsenim bilang gitu ke aku. Aku udah latihan ekstra keras sama Jin Ki,” ujarnya sambil tersenyum ke arah Jin Ki. Namja itu mengajarinya sampe matahari terbenam kemarin.

“Ah tidak juga. Choi Min Ho selalu merendah kalo kubilang dia jago main biola…”

“Berhenti saling memuji, anak-anak!!! Astaga…, kurasa usiaku bertambah sepuluh tahun hari ini. KI BUM!!! MALAH PACARAN!!!” bentaknya pada Ki Bum yang lagi ngegodain Kim Sera, pianis mereka.

Dewan kebudayaan datang agak terlambat. Jadi para pemain musik bisa lebih tenang dan bersiap diri. Mereka memulai dengan beberapa nomor partitur, kemudian dilanjutkan dengan memainkan lagu kebangsaan Korea Selatan. Dan akhirnya mereka sampai di nomor terakhir. Canon In D.

Mereka memainkan nomor tersebut dengan penuh debaran jantung. Nomor utama, nomor utama. Mereka ingin tampil dengan sangat baik dan tidak ingin mengecewakan Jung songsenim. Dan utusan dari kebudayaan Korea Selatan benar-benar terpukau ketika Jin Ki memainkan porsi solonya.  Canon In D benar-benar dibawakan semua murid-murid anggota orkestra dengan indah.

PROK PROK PROK! Dewan kebudayaan bangkit dan memberikan standing ovation diikuti dengan hadirin yang lain. Jung songsenim tersenyum puas dari balik panggung. Anak-anak memberikan penghormatan pada seluruh hadirin dan berbaris rapi menuju backstage.

Jung songsenim nggak abis-abisnya bersyukur pada Tuhan atas suksesnya pertunjukan mereka. Dia dengan semangat memuji para siswanya. Ki Bum sampe ampir nangis, soalnya orangtuanya yang ikutan nonton tadi bilang ke wali murid lainnya : “Kim Ki Bum!!! Kim Ki Bum!!! Eh, Bu…itu lho anak kami! Ituuu…yang megang cello. Cello itu berat lho, Bu! Rentang jarinya mesti lebih panjang ketimbang biola!”

Sabrina nyaris memeluk Min Ho yang berada di dekatnya saking senangnya. Dia nggak nyangka dia bisa memainkan perannya dengan sukses di orkestra itu.

“Sori, sori,” ujar Sab. Min Ho memalingkan wajahnya yang merah padam.

“Nggak apa, Min Ho…” ujar Jin Ki yang berada nggak jauh di sampingnya.

“Sudahlah. Ntar aja ngomongin masalah ini. Kita lagi senang kan, Jin Ki?” Min Ho ngerasa nggak enak pada temannya itu. Jin Ki tersenyum. Ia tidak pernah tidak menyadarinya. Jin Ki benar-benar paham kalo Sab menyukai Min Ho. Karena itulah Jin Ki mulai berhenti mengharapkan Sab akan melihatnya lebih dari seorang teman.

Jin Ki pergi meninggalkan situasi riuh rendah di balik panggung. Sab dan Min Ho saling pandang.

“Kamu tahu sesuatu?” tanya Sab waspada. Min Ho tersenyum.

“Soal kamu menyukai Lee Jin Ki sejak naik ke kelas dua,…atau soal ternyata Jin Ki juga menyukaimu?”

“Astaga…” Sab mengernyitkan dahinya.

“Semua bisa menebaknya kecuali kalian sendiri,” ujar Min Ho ketawa.

“Maaf ya, Min Ho…”

“Nggak apa-apa. Pergilah, Sab,”. Min Ho benar-benar melepaskan Sab detik ini juga. Namja itu bohong pas dia bilang ke Jin Ki kalo dia belum menyerah. Ia menyimpan air matanya untuk ditumpahkan di kamarnya nanti.

Sabrina menjelajahi seluruh penjuru sekolah. Tidak ditemukannya Jin Ki di sana. Kemudian Sab pergi ke tempat terakhir. Bukit belakang sekolah. Jin Ki sedang memainkan biolanya di situ. Canon In D.

“Canon In D…mayor? Atau minor? Mainnya sedih banget sih,” Sab ketawa garing pas Jin Ki menoleh ke belakang.

“Lho? Mana Choi Min Ho?”

“Masih di backstage,”

“Oh…”

“Aku ingin bilang sesuatu,”

“Aku udah ngelepasinnya kok. Nggak apa-apa kalo emang kamu suka sama Min Ho,” ujar Jin Ki. Sab terdiam. Ekspresinya sulit dijelaskan.

“Kamu ini…mau kubunuh ya?” tanya Sab sinis. Jin Ki memandangnya heran.

“Bukannya kamu suka sama…”

“Tidak. Aku suka padamu. Dari dulu. Dari pas kita sekelas lagi kelas dua. Aku nggak ingat karena apa. Tapi aku nggak bisa ngelupain pas kamu nanyain kenapa aku nangis setelah  ngebanting biolaku. Aku suka kamu peduli. Awalnya aku kirain kamu cuma peduli sama partitur-partitur. Ternyata cuma kamu yang nolongin aku usai kelas musik,”

“Maksudmu…maksudmu kamu…”

“Lee Jin Ki. Aku belum menyerah padamu. Karena itu jangan menyerah dulu padaku,” kalimat Sab itu mampu membuat jantung Jin Ki kembali menemukan detak tidak normalnya yang dulu. Detak tidak normal setiap kali ia berada di dekat Sab.

“Sabrina, aku…”

“…tidak suka padaku? Sudah melepaskanku? Menyerah?”

“Bukan, bukan! Aku…begitu pengecut untuk menyatakan perasaanku. Lagipula kukira Min Ho tidak menyerah mengejarmu dan kukira…kukira kamu…menyukainya,”. Mereka berdua terdiam.

“Baiklah, aku ulang dari awal. Aku suka padamu, Sabrina. Maukah kamu…jadi pacarku?”. Sab tersenyum dan mengangguk. Jin Ki menarik nafas lega. Desember ini benar-benar penuh kejutan untuknya. Tampil di depan dewan kebudayaan, bersaing dengan Choi Min Ho, kemudian bersahabat dengannya, dan Sabrina ternyata…

Jin Ki mengambil biolanya dan mulai memainkan Canon In D. D mayor. Mayor yang terdengar mayor, bukannya terdengar minor seperti tadi. Dan bukan di hadapan utusan negara lagi, tapi di hadapan Sab,…yeojachingunya.

THE END

peppermintlight-

PS : sekilas tentang Canon In D >> Pachelbel’s Canon, juga dikenal sebagai Canon dalam D mayor (Canon In D), adalah bagian musik paling terkenal  dari komposer Jerman Baroque Johann Pachelbel (Wikipedia, diterjemahkan oleh Google translate dengan perubahan seperlunya). Gambar (1) diambil dari www.shutterstock.com dan Gambar (2) diambil dari http://www.harmoniousmusic.com Oiyaaa…summary poin terakhir itu kata-katanya aku ambil dari status facebook kakak tingkatku (masalah dia bikin sendiri atau ngambil darimana aku nggak tahu). Abis bagus sih! Hehe.

©2010 FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

Advertisements

79 thoughts on “[FF PARTY] Canon In D(ecember)”

    1. huaaa! kak nofaaa! makasih udah baca dan komen. mau kak sama minho? samperin buruan kak! sebelom dy beneran nangis! hehe. gomawo ^^

  1. Plokk-plookkk-plokk.
    kan tadii yg dikeplokiin Jinki karna bisa maen Canon in D…
    terus sekarang aku nge-plok-in kak ECI soalnya bisa buat ff yg hebat n’ bagus.
    pokoknya baguss banget..
    aku sukak persahabatannya disini.

    daah. pkoknnya super super terharu ama ni ff *Lebayy.
    ^^

    1. ayayayay, nadiaaa! *bow* terimakasih sama tepuk tangannya ^^ iyaa…di sini aku bikin cinta sekaligus persahabatan ^^. gomawo nadia ^^

  2. Sangat sangat keren…ff dengan bahasa dan cerita yg berbobot…
    Standing applause buat author…. Bener bener keren…*diulang ulang ampe mulut berbusa*

    1. wuaaa! ontaehe ^^ aduh aku jadi tersanjung 6 deh sama pujian kalian ^^ *makasi, makasiiiii*. gomawo buat komen dan pujiannya serta standing ovationnya ^^

  3. Waaa
    ff yg mantep sukses dan kerenn…
    Aku suka bgt dah ama ff ini…
    Seneng akhrnya jinki ama minho bs akur…
    Ummanya kibum gokil tuh..
    Kalo jinki ama sabrina,minho sm aku ajjaa..
    Minho:gak!
    Huwee T_T
    *abaikan/reader sarap*
    sekali lg,tepuk tangan bwt author…
    Oya,salam kenal~

    1. annyeong, jomiketa ^^ mantap??? sukses??? keren???? Alhamdulillah…! ummanya kibum? hehehe. iyaaa…haha, beliau bangga banget sm anaknya. ayo susul minho! siapa tw dy butuh bahu untuk menangis. fufufu. gomawo, jomiketa ^^

  4. HEI UJAAAAAAAAAAAA !!!
    SEKALI LAGI AKU MAU BILANG..
    AKU..
    SUKA..
    BANGET..
    PAS..
    “Berhenti saling memuji, anak-anak!!! Astaga…, kurasa usiaku bertambah sepuluh tahun hari ini. KI BUM!!! MALAH PACARAN!!!” bentaknya pada Ki Bum yang lagi ngegodain Kim Sera, pianis mereka.
    HAHAHAHAHAHAA
    SINI, JA..
    AKU CIUM..
    AKU CIUM BOLAK-BALIK, DEEEEEEHH
    MUAHAHAHAHA

    trustrustruuuus…
    uja tuh bahasanya udah ngkhas banget
    aku gak ngeliat nama authornya pun aku pasti tau kalo itu uja yang nulis
    weheheheheh

    ujaaaaaa
    si key godain aku terus, daah..
    aku seneng
    hahahaha

    yaudalah..
    aku tak bisa berkata2 lagi..
    lidah aku sudah terkunci oleh si key (?)
    *gak ada hubungannya kali, li*

    1. oh iyaaaaaa
      aku gak bisa ngelike T.T

      POKOKNYA KOMEN AKU INI UDAH PLUS PLUS !!

      AKU SUKA, DAN AKU LIKE LEWAT KOMEN GAJE
      MUAHAHAHAHA

    2. hahaseekkk…si ijjem punya scene favorit. haha. bahasa aku di sini masih ngekhas kah? padahal tadinya aku pikir udah setengah berubah jadi formalan dikit. nyaris mikir kehilangan taste tw ga sih, *ijjem : derita lo*
      huaaa! gomawo ijjem udah mampir baca dan komen ^^ *kiss

  5. Waaa
    ff yg mantep sukses dan kerenn…
    Aku suka bgt dah ama ff ini…
    Seneng akhrnya jinki ama minho bs akur…
    Ummanya kibum gokil tuh..
    Kalo jinki ama sabrina,minho sm aku ajjaa..
    Minho:gak!
    Huwee T_T
    *abaikan/reader sarap*
    sekali lg,tepuk tangan bwt author…
    Oya,salam kenal author..

    1. annyeong, jomiketa ^^ mantap??? sukses??? keren???? Alhamdulillah…! ummanya kibum? hehehe. iyaaa…haha, beliau bangga banget sm anaknya. ayo susul minho! siapa tw dy butuh bahu untuk menangis. fufufu. gomawo, jomiketa ^^ salam kenal kembali ^^

    1. annyeong diya ^^ iya diii…cari deh lagunya versi biola. baguuussss…bener. eh tp versi apa aja bagus sih. hehe. nyetrum? ahaha. iya itu aku ambil dr statusnya kakak tingkatku. gomawo diya udah baca dan komen ^^

  6. wooohoooo eciiii!!
    walopun aku udah baca duluuuaan..
    dibaca sekali lagi juga tetep kereeen!!
    kreatif!
    akuu dan suami sukaaa bangeeet!
    *peluk akang ichul*
    bahasanya okee, ceritanya okee :*

    1. wohoooo!! bibik nopalianti temankuuu! komenmu mengalihkan duniaku ^^ hehe. ah masa sih keren? huaaa! aku jadi tersanjung 1-6 dweehhh…*kiss lia
      gomawo lia sudah baca dan komen ^^

  7. whoaa ching, canon itu favoritkuu >< *ampun, gada yg tanya*
    hiaakhh! pokonya keren! lain kali buat yg vivaldi ya ching 😉 *ddhuagh! ditendang author kebanyakan bacot*

    1. iya amelee…canon juga favoritku. rasanya adem aja dengernya. hehe. vivaldi ya? dipertimbangkan ^^ gomawo amelee udah baca dan komen ^^

        1. yg main saxophone itu ya ching? sayangnya aku lebih suka instrumen piano, gitar sma biola
          komponis, aku suka beethoven, pachelbel sama vivaldi.
          yg moder-an dikit (?) maksim sama depapepe *malah curhat*

  8. KAK ECIIIIIII *rusuh magrib magrib*

    INI DAEBAK INI DAEBBAK INI DAEBBBBAAAK!!! *apasih*

    aaaaaaaa envy deh sama ka eci bisa bikin ff bagus banget nget nget ~_~

    suka suka suka~!

  9. @amelee : wahaha. gawat klo ngobrol di sini. add fb aku dong,ariesy perdana. hehe.

    @dayu :DAYUUU!! aaahhh….dayu jg pinter kok nge-ff nyaaa…sukses buat cerpennya yg kemaren ya sayang ^^ gomawo udh mampir ^^

  10. hhh… Eonn… INI DAEBAK, SEDAEBAK DAEBAKNYA! XDDD
    HAHA, paling ngakak pas jung seongnya marahin kibum yg pacaran ama ijem eonn! Akakakak!
    Sumpah, bahasa dan cara penulisannya MANTAP abisss…! Apalagi wkt ngjelasin ini itu dr canonnya lwt dialog antar.tokoh! Huaaa!!! *sbnrnya saya ini lg mabok gr2 ujian b.indo td, jd sok iye komennye* 😀

    1. yuhuuu…mayorminooorrr…ahaha, bisa terbang ga balik2 si ijjem dipuji scenenya. iya…hehe. aku pernah belajar biola,jadi dikit2 ngerti deh. hehe. gomawo, dancing machine ^^

    1. ditiaaaa!!! iyaaa…makanya kalian samperin sono si minoo…nih kuncinya (loh???) hahaha. iya, soalnya kebetulan aku ngerti dikit soal musik,jadi aku tampilin deh. hehe. gomawo ditia udah baca dan komen ^^ jadi inget chat kita waktu itu yak. aku terharu kamu mw baca ^^

  11. ECCCCIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII………………….. FF apaan ini… aku SUKAAAAAAAAAAAAAAA……
    tahu dah mau ngomong apa lagi… oh ya ada satu deng… pas minho mau berantem ama jinki… kok nggak jadi sih….aku ngerasa belum nyampek emosi tingkat tinggi tahu-tahu dan turun lagi…hehehehehe (maklum seka yang berantem mulu)
    Tapi… AKKKUUUUU SSSSUUUUKKKKKKAAAAA FF ini…..>>>PERSAHABATANNYA DAPET BANGET….
    AJARIN DONG…. coz kalo aku bikin pasti jatuhnya lawak…hehehe

    1. kwakwakwakwakwak! emang aku itu ya sebenernya ga bisa bikin adegan berantem. haha. ngedeskripsiinnya man,…repot! wkwkwk. lagian kasian zi, si onew udah nonjok mino wkt awal ketemu, kalo berantem lagi ntar berubah genre lagi nih cerita. haha. ah bisalah ente buat kayak gini, ente pan faseh nulis ep-ep. hehe. tapi Alhamdulillah kalo semua responnya positif ^^ gomawo ya,zi!

  12. Eci eonni~
    Mian aku baru bisa baca sekarang ya~
    Ngg~ aku mau komen apa ya??
    Kayaknya aku udah nggak bisa ngomong apalagi saking TERPESONA dan KAGUMNYA aku sama FF eonni~
    Bahasanya itu loh eonn, khas banget.. sekali baca pasti tahu yg ngarang Eci eonni~ Bagus banget, berasa baca novel.. Keren Keren, Jadi Novelis aja eonn?? kekeke
    Terus-terus, itu si Sab, emang nggak ketebak, aku kira dia suka ama Minho Eh ternyata ama Onew 😀 Senangnya~ fufufu~
    Bagian awalnya, waktu Minho bilang mau jebol gawang spanyol sama bagian hampir terakhir waktu Minho mau numpahin air matanya dikamar, fufufu~ aku ngakak lo eonn~~ wekekeke, maklum otak aku lagi konslet eonn (??)
    Pokoknya bagian Partitur Partitur sama nada apa itu yang Mayor Minor apalah itu~ Daebak bangetlah eonn~

    Dua kalimat yang sangat sangat aku suka dari FF eonni yg ini~
    Siram semua kertas partitur itu dengan bensin dan bakar. Aku akan selalu memainkan Canon In D dengan biola sekolah dan jemariku sebagai partiturnya.
    Aku belum menyerah padamu. Karena itu jangan dulu menyerah padaku.

    Waa~ keren keren keren~
    Ngg~ *ngelirik komen yg udah diketik diatas*
    Geje amat kayaknya komen(??) aku ya eonn, Berisik lagi ya~ ahahahaha~~
    Yasudahlah~ segini dulu sampah dari saya eonn~ 😀
    dadah eonni~ *melambai dari atas genteng (??)*

    1. wohouw! lynda kamu tw nggak, aku suka banget hampir tiap ngeliat komen dari kamu. soalnya kamu tuh kalo komen rame. hehe. tapi aku jawabnya malah pendek… ckckck.
      gomawo sangat udah baca, komen, muji, dan ngeramein ff aku ya, sayang ^^

  13. mbaaakk, mbaaakk!!! *manggil pake kentongan*
    daebak, daebakkkk…

    saran aja ya, coba jinkinya bisa maen bola..
    aahahaha,.

    love you author!! ^3^

    1. huaaa…monicaaa!!! terima kasih udah membaca dan komen (muji pula, cihuy!!!) di ff aku iniii ^^
      salam kenal ya,sayang ^^

  14. lagi aaah~

    sebagai pecinta musik, pas ngeliat judul ini, buset, BUAS! saya nya yang jadi buas. hehe 😀

    abiiiiiiisss, saya suka bangeeet nget nget nama sama instrumental2 piano dan gitar, jadi pas liat iniiii…iniii….pachabel…JOHAHN PACHABELELELELEL *plakkk!* HUAAAAAAAAA~ NAIK DARAH! *baca : Semangat ’45!* XDDD

    apalagi pas tau karyanya ‘Ecii a.k.a PeppermintLight’ beuuuuuhhhh~ langshooooong dah tuh DIBACA! gak nunggu2!

    sebenenya ini apaan banget komennya, tapi gapapakan eonn, cuma mau ngeramein komen ni FF biar ni FF tambah LAKU! huaaaaa~ *lebih*
    sudah lah, abaikan saja komen saya ini. saya rasa, ini seharusnya di spam, tapi saya nggak ngerti caranya ng-spam ._. ehehehe~ sekian deh, capek ngetik aku. hihihi 😀 HWAITING YA EONNI~~~!!!!!

    1. yihaaa!!! sebagai pecinta musik (juga) aku sangat berterimakasih sama nia mayor to de minor si dancingn machine udah mw meramaikan ff saya ini ^^ lagunya bagus ya,ni? aku suka banget sm canon in d soalnya. hehehe. gomawo nia ^^

  15. EONIIIEEE..
    AKU SELALU KEABISAN KATA-KATA KAL BACA FF MU TAHU!!!!
    JINKIII OHH JINKI.. KENAPA KAU BEGITU MENYEBALKAAAN????
    okkk sana kau dengan sabrina, biar Minho dengan ku hahhaa *sarap mode on*
    pokoknya ini ff asdfghjklerfghjkmn *speechless*
    cuma bisa bilang D to the A to the E to the B t the A t the K DAEBAK!!!

    Eoniie kau sangat sangat sangat SANGAAAT berbakat!!!

    1. serius suci keabisan kata2? ehe…ehe…jadi malllluuu…, huaaaaaaaa!!! Alhamdulillah ada yg komen lagi ^^
      gomawo ya suciii…udah baca dan komen di sini ^^ *kiss

    1. wahaha. iya…di sini minhonya aku buat lapang dada dan nerima gitu. hehehe. makasih sama komennya ya,hb ^^ salam kenal ^^

  16. keren banget ih…. aku suka banget ceritanya, ga ketebak…

    nambah pngetahuan juga tntang canon in D ;P

    ffnya kak eci daebak lah…. bahasanya juga khas kak eci… hahaha

    1. linaaaa~~ kemana saja kamu, nak ??? ih kok kayak lama aja dah ga ngeliat si lina iniiii…!
      ahehehe. Alhamdulillah kalo ff ini bisa nambah pengetahuan ^^
      soal bahasa,…hehehe. malahan aku pikir aku udah keluar dari kekhasan bahasa aku. kekeke~~
      gomawo, lina ^^

      1. ahaha… aku sibuk kak *sok sibuk* maklum udah kelas 12…
        jarang baca ff sekarang, lagi liburan aja nih pengen baca ff trus maen kesini… hehe

        iya sih, bahasanya agak beda tapi kata2 didalam dialognya masih khas kak eci… x)

      1. ya ampunn~~~~uda lama banget ga main…uda lupa.hehehhe
        aduh jangan deh.kalo duet ama aku bisa hancur dunia.hohohoho
        kamu bisa?duetlah ama jjong.dia main piano kamu main biola.hehehe

        1. wahaha…samaaaa! aku juga udah cukup lama ga maen. vakum pas di buku empat. hehehe. tangga nada aja cuman inget C,D, sama G. yang laen ga inget.

        2. emang terakhir main kpn?aku malah sd uda berenti.hehehe.malah tertarik ama gitar.sayang banget ya :(.coba kalo dilanjutin

  17. ooohhh…jadi gini. aku belajar gitar pas kelas 6, trus pas kelas satu SMP belajar biola juga. aku les-vakum-les-vakum gitulah. terakhir sih pas kuliah ini tp lupa kapan.

  18. UAHAAAA ECI ONNN XDD
    AKU NGAKAK BACA YANG INI “Aku kesel sama biolanya. Digesek bunyinya kayak engsel pintu karatan. Trus kadang malah nggak bunyi,” Sab menggerutu. Jin Ki ketawa.
    hahaha, btw ff nya seru onn XD two thumbs up buat onnie! ^^

    1. huaaa!!! oshiinnn!!! ternyata kamu komen juga!!! Alhamdulillah ada yang komen lagi ^^
      oh bagian yang itu? ahehehe. senang sekali saya kalo oshin suka ^^
      gomawo oshin ^^

    1. wahaha. benarkah bagus?? iya bagus sih, makanya aku pake. kadang ngedengernya adem aja. hehe. gomawo, mitanotaeminnie ^^

  19. huaaaa…. –>maksudnya malu ini komen paling bontot
    Huaaaaa……… Eciiii eonniiii gomawo udah ngebuka mataku sama musikkk klasikkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    abis selama ini naku cuma taunya Mozart ama Beethoven…. abis aku sukanya piano… huohohohohohoho…….
    gomawo gomawo sangat dah eonn udah nambahin pengetahuankuuuu……
    Ohya yang part si Jung sosaengnimnya marah-marah ngomel gajelas itu *dijitak jung sosangnim* aku ketawa sampe ngakak-ngakak…. huakakakakaka…….
    Huaaaa mian baru ketemu FF ini sekarang soalnya aku masih dalam tahap penjelajahan… T.T

    ah pokoknya daebak lahhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    b^^b

    1. haaaiiii~~~ halohalo.
      aduh…jadi maluuuu~
      apa?! piano??? ajarin aku!!! harus!!! *mupeng pengen jago*
      oh…gpp kok…yg penting mah di sini dan di mana saja kalo baca ff kudu komen ^^
      gomawo yaaa~

      1. Ah… cheonmaneyo eon…
        Aduh… aku piano juga masih perlu banyak belajar ama latihan…. soalnya masih sering salah ditempo… *lah malah curhat*
        Uwaaa… gamsahamnida!!! *bow*

  20. aigooo…..
    *tunjuk yang atas
    aku yang bontot eonn.
    daebak banget, daebak banget FF-nya. bahasanya ngalir. asyik dibacanya.
    aku juga suka canon, apalagi yang versi akustik dari depapepe. huaaaa….. aku suka FF-nya. point plusnya karena ada canon. hehe…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s