[FF PARTY] Love Should Go On

TITLE : Love Should Go On

AUTHOR : Yuyu

MAIN CAST :

Lee Jinki (SHINee)

Han Yoomin (Ocs)

SUPPORT CAST :

Key SHINee

Jonghyun SHINee

Yunhee (Ocs)

Haeji (Ocs)

GENRE : Romance

TYPE/LENGTH : Oneshoot

RATING : PG-13

KET : Daftar jadi author tetap

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Rintik-rintik air hujan turun membasahi permukaan tanah yang bahkan belum mengering sejak hujan beberapa jam yang lalu. Aku memandang keluar jendela melalui gedung yang berada di Southampton Row, Holborn-London, Inggris. Dari lantai 5, aku bisa melihat samar-samar para pejalan kaki yang semakin mempercepat langkah mereka, berharap segera tiba di rumah masing-masing sebelum hujan semakin deras. Kendaraan-kendaraan yang lalu lalang pun tidak mau kalah, seolah-olah sedang dalam pertandingan racing, berebut untuk mendahului satu sama lain. Awan-awan hitam kembali menguasai langit, tidak ada cahaya matahari yang bisa kulihat dari sini.

Pikiranku melayang, ke tempat yang sangat jauh dari tempat ku berada sekarang, ke benua lain. Apa yang kau lakukan sekarang? Apa kau juga sedang memikirkanku? Apa mungkin di sana juga hujan? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berputar tidak berhenti di benakku setiap kali aku merasa kesepian. Nafasku menguap di jendela, menimbulkan bayangan buram. Kuukir sebuah nama yang selalu berhasil membuat degub jantungku berlomba.

“hey Onew, are you alright?” seorang namja berambut cokelat kemerahan menghampiriku dengan bertumpuk buku ditangannya.

“yeah, I’m alright, don’t worry.” Aku tersenyum kecil padanya.

“good to hear that. Our class will start soon, wanna go with me?” tawarnya sambil menunjuk ke koridor yang masih terlihat ramai. Aku menggeleng pelan.

“it’s okay, you can go without me. I’m going to skip the class today.”

“urgh, then I don’t think you’re alright. I’ll call Elaine to see you if i meet her on my way to class. See you later.” Key, temanku—keturunan Korea berdarah inggris yang telah menetap di sini sejak ia lahir—selama satu tahun aku berada di Holborn, melambaikan tangan dan bergegas masuk ke kelas. Aku kembali memfokuskan diri pada ukiran nama di jendela yang sekarang mulai memudar. Aku menghela nafas panjang, kembali menatap langit gelap.

Tidak terasa, sudah setahun aku datang ke kota ini, untuk meraih mimpiku. Aku tidak pernah meragukan keputusanku untuk datang ke sini, karena dengan ini, jalanku menuju impianku semakin dekat. Tapi, itu justru menjauhkan kebahagiaan dariku. Orang bilang, kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan, tapi bolehkah jika aku menjadi tamak kali ini saja? Mendapatkan mimpiku dan kebahagiaanku.

Aku beranjak dari tempatku berdiri semula, untuk terakhir kalinya aku kembali menatap ukiran nama itu sebelum memutuskan untuk pergi.

Kuturuni tangga satu persatu sambil sesekali berlari kecil, sedikit terburu-buru. Beberapa teman yang kukenal menyapaku dan kubalas dengan senyuman atau anggukan ketika aku melewati mereka di koridor maupun di depan ruang kelas mereka. Setelah keluar dari gedung Central Saint Martins (CSM), aku di sambut oleh langit gelap yang masih terlihat tidak bersahabat. Kupercepat langkahku, takut hujan rintik-rintik ini semakin deras dan menghentikan langkahku. Aku mengedikkan bahuku, menahan udara dingin yang menembus kulitku. Kukenakan hoodie abu-abuku sambil menerobos hujan. Beberapa blok dari CSM, masih di sekitar Southampton Row, aku masuk ke dalam café yang selalu menjadi langgananku sejak aku datang ke Holborn di hari pertamaku.

Seorang pelayan berambut pirang yang dikuncir kuda tersenyum melihat kedatanganku dan menghampiriku sambil meletakan secangkir minuman di mejaku.

“as usual, hot caffé au lait, less milk.” Sahut pelayan itu ramah.

“thanks Julia.” Balasku sambil mengambil cangkir itu dan menyesapkan isinya ke mulutku. Suasana café cukup ramai. Wajar saja, hujan ini membuat orang-orang malas untuk meneruskan langkah mereka dan memilih untuk menghangatkan diri dengan secangkir kopi hangat. Kukeluarkan i-phone yang dari tadi terus bersemayam di saku jaket, dengan cepat kubuka galeri dan menatap fotoku bersama seorang yeoja yang tersenyum manis. Yah, dia tersenyum, mencoba membohongiku bahwa dia baik-baik saja. Tapi aku tau ada sorot kesedihan di balik mata beningnya. Andai saja dia menahanku, andai saja dia memintaku untuk tidak pergi dan meninggalkan dia, maka aku akan berlari kepelukannya saat itu juga dan membuang jauh-jauh impianku.

“yaaa, do you miss her that much?” sebuah suara membuatku tersentak, aku melihat seorang yeoja berdiri dihadapanku, kemudian duduk tanpa menunggu permisi dariku. Kusimpan kembali i-phone putih milikku.

“yea, I do miss her, a lot.” Kataku tanpa alih-alih.

“then, call her. Or you can back to Seoul for a while.” Sarannya.

“Elaine, it’s not that easy. I can’t call her or meet her just like that. It’s probably my fault. I can’t face her.” Jawabku datar.

“are you worry about what will happen later?” tanyanya lagi. Kali ini aku mengangguk cepat.

“more than that, I’m scare.” Jawabku sambil tertunduk, memandangi meja café yang terbuat dari kayu oak.

“ah, it’s so cold. I must bring a coat tomorrow.” Elaine menggosok-gosokan kedua tanganya dilengannya, mengalihkan pembicaraan. Yah, dia selalu tau bahwa aku tidak terlalu suka topik pembicaraan ini, dan dia akan mengalihkannya ke hal lain.

“wanna borrow my coat?” tawarku, setengah bercanda. Dia hanya mencibir sambil bergumam tidak jelas.

“how come you’re here? Is Key calling you to look for me?” lanjutku lagi.

“ne, geureomyo, dia sangat mengkhawatirkanmu. Berterimakasihlah karena kau punya chingu sebaik aku.”

“ne, aku sangat berterima kasih pada Tuhan karena telah memberikan sahabat seperti Oh Youn Ji aggashi.” Ledekku.

“aissssh, kita ini di Inggris, Mr. Onew, call me Elaine.” Perintahnya. Aku tertawa melihat reaksi wajahnya. Detik selanjutnya, hening. Aku dan Elaine menyesap minuman kami dan hanyut dalam pikiran sendiri-sendiri. Hujan telah berhenti, tidak ada lagi rintik-rintik yang turun meskipun langit masih cukup gelap. Aku dan Elaine memutuskan untuk pulang. Genangan-genangan air masih tersisa, terkadang terciprat ke celana panjangku ketika aku melangkah diatasnya. Whetstone Park yang kami lalui pun tampak sepi. Kami berjalan beriringan, masih dalam kesunyian. Perjalanan kurang lebih 10 menit yang kami lalui dengan berjalan kaki tidak terasa selama itu karena pikiranku yang masih melayang entah ke mana.

Kami sampai di apartement yang kami tinggali di Saffron Hill EC1, dan langsung menaiki lift menuju lantai 21. kamar kami bersebelahan, aku melambai pada Elaine sebelum masuk ke apartementku sendiri dan mengunci pintu.

Pakaianku sedikit lembab, tapi itu tidak menggangguku. Aku masuk ke kamarku, melepaskan tas yang dari tadi kusandang, kemudian jaketku sendiri. Kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur berseprai silver. Aku sedikit berguling ke kanan, mengambil pigura yang terletak di meja kecil di depan lampu tidur. Aku memandanginya lagi, foto yeoja itu. Flashback-flashback masa lalu kembali menghantuiku.

FLASHBACK

“Jinki-ah, sebentar lagi kita akan lulus. Semoga saja kita bisa masuk di Seoul University. Kau sih tidak usah diragukan lagi. Tapi aku sudah belajar cukup keras kok. Semoga saja kita berdua lulus tes.” Yeoja disampingku terus saja menyampaikan impian-impiannya padaku.

“Jinki-ah, wae? Kau tidak senang?” tanyanya lagi begitu menyadari aku tidak merespon perkataannya.

“aniya, tentu saja akan menyenangkan kalau kita masuk di univesitas yang sama.” Kataku, mencoba menenangkan Yoomin. Yah, Han Yoomin, yeoja yang telah menjadi yeojachinguku hampir selama 1 tahun. Tapi sejujurnya, akulah yang merasa tidak tenang. Tidak tau bagaimana harus memulai pembicaraan yang kutau pasti akan menyakiti hatinya.

“ah, aku baru ingat. Haeji sedang menungguku di kantin. Aku ke kantin dulu ya.” Yoomin berlalu pergi meninggalkanku dengan cepat. Aku menghela nafas kecil. Sudah sejak 2 bulan lalu, aku ingin mengatakan sesuatu padanya. Tapi aku takut akan melukainya.

“Lee Jinki.” Panggil songsaenim begitu aku melintas di depan ruang guru. Aku membungkuk untuk memberi salam. Songsaenim keluar dari ruangan dan menghampiriku yang masih berdiri diambang pintu. Ditangan songsaenim ada selembar amplop cokelat, wajah songsaenim pun terlihat berseri-seri.

“Chukkae, Jinki. Kau benar-benar kebanggaan kami.” Kata songsaenim sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku mengerutkan kening tanda tidak mengerti. Akhir-akhir ini pikiranku sangat penuh dan kacau.

“dua bulan yang lalu, kau ikut tes kan? Chukkae, universitas itu sudah mengirimkan hasil tes, dan kau lulus. Mereka memintamu untuk segera berangkat ke London secepat mungkin.”

Hatiku sedikit lega mendengarnya. Aku berhasil, selangkah semakin dekat dengan impianku. Aku mengambil amplop yang diberikan songsaenim kemudian meninggalkan songsaenim, seulas senyum terbentuk diwajahku. Tapi senyum itu tidak bertahan lama, senyum itu langsung menghilang begitu aku melihat Haeji berdiri diambang tangga sambil menatapku dengan mata berairnya.

***

aku dan Yoomin duduk menunggu bus yang akan datang sekitar 20 menit lagi. Yoomin tidak bertanya apapun, dan aku memilih untuk diam.

“sejak kapan kau berencana untuk kuliah di London?” tanya Yoomin, masih terus menatap sepatunya.

“sejak 4 tahun lalu, saat aku menyadari bahwa aku sangat menyukai fashion. Aku memutuskan untuk kuliah di London. Aku bahkan telah membeli sebuah apartemen di daerah Holborn.” Jawabku, tanpa kebohongan.

“kenapa tidak memberitahukanku sebelumnya?” kali ini aku terdiam cukup lama.

“kau ingat ketika kubilang aku sudah tertarik padamu sejak tahun pertama? Waktu itu aku tidak pernah berpikir bahwa kita akan berakhir seperti ini. Sejak pacaran denganmu. Aku memikirkannya berkali-kali. Berkali-kali aku ingin melepaskan impianku, tapi aku takut aku tidak bisa melepaskannya. Central Saint Martins College of Art and Design, adalah salah satu universitas fashion terbaik di Eropa. Aku sudah mendaftar untuk masuk ke jurusan Fashion & Textile. Tidak mudah untuk bisa masuk ke sana. Aku tidak memberitahukannya padamu, karena aku takut kau akan seperti ini. Aku tidak ingin membuatmu sedih. Tapi setelah mendengar kabar bahwa aku lulus, aku sangat senang. Langkahku untuk menggapai impianku semakin dekat dan kurasa aku akan berangkat sehari setelah kelulusan kita. Bagaimana pendapatmu?” aku menoleh menatap Yoomin, berharap diapun akan menatapku. Tapi wajah pucat Yoomin terus tertunduk.

“kau bertanya tentang pendapatku sekarang? apa kau tidak merasa itu sudah telat? Apa kau berharap aku akan bilang jangan pergi, tetaplah tinggal di Korea? Apa kau berharap aku akan menjadi nappeun yeoja seperti itu?” aku tidak bisa menjawab, suara Yoomin terdengar sedikit bergetar.

“apakah fashion sangat penting bagimu?” tanya Yoomin selang beberapa menit.

“ne, fashion adalah segalanya bagiku. Aku ingin dunia internasional mengenal fashionku, aku ingin memiliki brand sendiri, dan orang-orang menggunakannya, brand karya seorang Onew Lee. Aku ingin dunia internasional mengakui fashion Korea.”

“kalau begitu pergilah.” Sahut Yoomin lemah. Dia menatapku dan tersenyum mencoba meyakinkanku.

“kau akan mendukung impianku?” Yoomin menangguk, sejurus kemudian airmata membanjiri pelupuk matanya. Aku mencoba menenangkannya, aku menghapus airmatanya. Tidak pernah terpikirkan bahwa melihat dia menangis bisa membuatku sangat menderita.

“uljima, Yoomin-ah.” Bujukku.

“Jinki-ah, kita putus saja ya.” Katanya pelan. Aku menghentikan kegiatanku dan menatapnya.

“bukankah kau bilang kau mendukung impianku?” tanyaku tidak percaya.

“ne, aku memang mendukung impianmu. Karena itu, pergilah ke London. Tapi aku tidak bisa berpacaran jarak jauh. Aku takut.” Yoomin menahan tangisnya yang sekarang terdengar menjadi isakan ditelingaku.

“apakah karena Yunhee noona?”

“ne, karena Yunhee unnie. Kau juga tahu kan? Dia dan Jonghyun oppa sudah pacaran sejak 5 tahun yang lalu. Jonghyun oppa, sama sepertimu, memutuskan untuk pergi ke China, menggapai impiannya. Awalnya mereka baik-baik saja. Tapi lama kelamaan, hubungan mereka menjadi hambar. Dan yang tersisa dari kenangan 5 tahun hubungan mereka hanyalah pertengkaran dan kesedihan. Mereka putus, tidak ada lagi kenangan manis diantara mereka. Aku tidak ingin menjadi seperti mereka. Jadi, selagi kita masih bisa mengenang kenangan manis kita, kita berhenti saja di sini. Jangan buat semua kenangan itu menjadi buruk. Sirheoyo.”

“geundae, Yoomin-ah. Kita tidak akan seperti itu. Kita akan baik-baik saja, Yoomin-ah. Kau tidak percaya padaku? Aku tidak akan membuat hubungan kita menjadi seperti itu” Aku membujuk Yoomin dan menggenggam erat tangannya. Yoomin terus menggeleng dan airmata kembali turun dipipinya.

“jebal, Jinki-ah. Aku tidak bisa. Aku takut, aku tidak akan bisa. London itu tempat jauh, bahkan kita akan berada di daratan yang berbeda. Aku tidak memiliki keyakinan diri bahwa hubungan kita tidak akan berakhir seperti hubungan Yunhee unnie dan Jonghyun oppa.” Yoomin semakin memelas. Aku tau, sangat berat bagi Yoomin untuk meminta putus. Dan aku tau, bagaimana dia memuja hubungan Yunhee noona dan Jonghyun hyung sebelum hubungan mereka akhirnya kandas beberapa bulan yang lalu. Long distance, begitu sulit kah?

***

“yeah!” kata Yoomin kecil sambil membentuk tanda V ditangannya, aku mencoba tersenyum manis, seperti yang dilakukan Yoomin. Ini akan menjadi foto terakhir kami. Haeji menjepretkan kamera digitalnya dengan cepat berkali-kali.

“nih, sudah. Apa kalian yakin kalian akan putus?” tanya Haeji, untuk yang kesekian kalinya. Aku menatap Yoomin, berharap dia mengubah keputusan. Yoomin kembali tersenyum dan menarikku pergi. Perayaan kelulusan sudah berakhir sejak beberapa menit yang lalu. Ini adalah hari terakhirku di Korea, dan juga kencan terakhirku dengan Yoomin.

Kami menyusuri berbagai tempat yang sudah sering kami kunjungi. Seperti kedai di dekat sekolah, game center tempat kami membolos bersama, taman bermain. Masih banyak tempa yang biasa kami kunjungi. Tapi kami tidak akan bisa menyelesaikannya hanya dalam sehari. Langitpun telah berganti warna. Aku memutuskan untuk mengantar Yoomin sampai ke rumahnya. Di depan rumahnya, kedua kaki kami terasa kaku, Yoomin tidak berniat beranjak masuk, akupun tidak berniat beranjak pergi.

“gomawo, untuk hari ini. Jangan lupakan aku meski kau sudah sampai di London.” sebuah senyum palsu mengembang diwajah Yoomin, detik berikutnya, tangis Yoomin pecah. Aku menariknya masuk ke dalam pelukanku, berharap itu dapat menghentikan tangisnya.

“Yoomin-ah..” kudongakkan kepala Yoomin hingga mata kami bertemu. Kukecup bibirnya lembut selama beberapa saat. Ini adalah first kiss kami. Teman-teman namjaku selalu menertawakanku karena kami tidak pernah sekalipun berciuman meski sudah berpacaran selama hampir setahun. Itu karena aku berpikir, waktu yang akan kami lalui masih sangat panjang, tidak perlu terburu-buru. Fakta bahwa besok aku sudah tidak berada di Korea lagi membuatku ingin mengecupnya, mendekapnya selamanya. Kuurangkan niatku, aku memisahkan diri dari Yoomin. Jika aku terus mendekapnya seperti itu, aku tidak akan pernah bisa melepaskannya.

“Yoomin-ah, kalau kau tidak ingin aku pergi, katakanlah.” Kataku sedikit memohon. Yoomin mencoba untuk menguasai dirinya, menenangkan dirinya sendiri dan tersenyum untuk yang kesekian kalinya.

“selamat tinggal Jinki.” Itulah kata terakhir yang kudengar darinya. Kupaksa kakiku untuk melangkah pergi, berbelok di belokan yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Langkahku kembali terhenti. Aku menengadahkan kepalaku menatap langit malam tanpa bintang, mencoba menahan airmataku yang mendesak turun. Upayaku sia-sia, tangis yang dari tadi kutahan, akhirnya pecah. Kudekap mulutku rapat-rapat, berharap Yoomin tidak akan mendengar isakanku, meski samar-samar aku kembali mendengar isakan Yoomin. Aku ingin kembali dan mendekapnya lagi. Tapi itu tidak mungkin.

FLASHBACK END

Aku terbangun begitu mendengar suara berisik dari luar apartemenku. Dengan malas aku meraih jam tangan yang kuletakan di meja sebelah tempat tidur.

“oh, shit! I’m gonna late!” aku terlonjak begitu tau sudah hampir pukul 8. hari ini adalah deadline untuk menyerahkan tugas semester. Aku sudah mendesign sebuah gaun yang akan kujadikan bahan semesterku, dan akan kuserahkan hari ini. Kalau aku tidak menyerahkannya, aku harus mengulang kelas sekali lagi.

Aku mandi secepat yang aku bisa, kupakai kaos v-neck abu-abu, celana skinny jeans hitam yang kupadankan dengan blazer hitam. Kuambil tasku yang masih tergeletak diatas tempat tidur, dan mulai kubuka laci meja satu per satu untuk mencari kunci mobilku. Aku memang sudah jarang menggunakannya, aku lebih suka berjalan atau naik kendaraan umum, kecuali disaat-saat seperti ini.

Sesampainya ditempat parkir, kubuka pintu mobilku, melempar tasku ke kursi kosong di sebelah dan melajukan Mercedez CLS Grand Editionku secepat mungkin.

“you’re late, huh? Thanks god, I’ve told the lecture that you’re had such a bad stomach-ache, so he still let you in.” Key berjalan disampingku.

“yea, I should said thank to you. Thank you very much, Key.” kataku sambil menepuk pundak bidangnya.

“yeah, don’t mention it.”

“wanna have some coffee at the cafetaria? My treat.”

“ofcourse!” Key terlihat bersemangat dan mempercepat langkahnya ke kantin.

“hai Elaine!” sapa Key begitu melihat Elaine duduk sendirian di kantin. Aku melonggokan kepala untuk melihatnya dan tersenyum. Key langsung menghampiri Elaine, sementara aku langsung menuju counter untuk membeli minuman. Selesai mengantri, aku kembali ke tempat Key dan Elaine sambil membawa minuman untuk mereka dan diriku sendiri.

“ah, Onew! I hear that news!” tiba-tiba Jinki berkata sambil menjentikkan jarinya ke udara.

“what?” tanya Elaine, menyuarakan pertanyaan yang sama yang ada dibenakku. Aku mencoba menerka-nerka apa yang dimaksud oleh Key.

“oh, no! I’m totally forget! I must go now! See you tomorrow!” teriak ley sebelum sempat menjawab pertanyaan Elaine, Elaine ganti menatapku.

“I don’t know. Mungkin yang dia maksud tentang rekomendasi yang kudapatkan.” Jawabku sesantai mungkin. Meski aku tau reaksi Elaine tidak akan datar-datar saja kalau kulanjutkan kata-kataku.

“rekomendasi apa?” tanya Elaine penasaran.

“hmm, you know John Galliano, right? Dosen mengatakan padaku, kalau dia berniat menarikku untuk bekerja di galerinya setelah aku lulus dari sini. Dia juga alumnus CSM.”

“jinjja??? Wah! That’s cool. Then you must go!” teriak Elaine tanpa memperdulikan pandangan dari seluruh orang di kantin yang bereaksi karena suara kerasnya.

“it’s a hard choice, Elaine. Selain John Galliano, kudengar perancang sepatu asal Malaysia, Mr. Lew juga ingin aku bekerja sama dengannya, dia ingin aku merancang busana yang sesuai untuk sepatu Lewre nya. Dan belum lagi Valentino Garavani. Aku pusing, Elaine. Ini bukan keputusan yang bisa kubuat dalam satu atau dua hari. Setidaknya, masih ada dua tahun sebelum aku lulus dan memutuskan ke mana aku akan melangkah.” Aku kembali menghela nafas dan menyandarkan punggungku di sandaran kursi.

“yah, setidaknya aku tidak perlu pusing sepertimu, Onew. Aku juga mendapat rekomendasi dari beberapa orang, meski pun orang-orang itu tidak seterkenal orang yang merekomendasikanmu. Tapi aku puas. Aku sudah memutuskan untuk bekerja di galeri Domenico Dolce & Stefano Gabbana setelah aku lulus, bersama dengan mereka aku akan ikut merancang busana untuk brand D&G.” Elaine meneguk minumannya dan mengambil cemilan yang tergelatak di atas meja. Raut wajahnya terlihat cuek, tapi aku yakin dia sudah sangat mantap dengan keputusannya.

“how about Seoul? Kau sungguh-sungguh tidak ingin kembali ke Seoul?” tanyaku waspada.

“Oh my, Onew! You know! Aku phobia dengan yang namanya Seoul. Jangan harap aku akan kembali menginjakkan kakiku di sana.” omel Elaine sambil melempar sedikit cemilannya, aku bergeser ke kiri  untuk menghindari lemparannya.

***

aku benci kalau sedang sendirian seperti ini. Aku tidak bisa mengontrol pikiranku untuk tidak memikirkan Yoomin. I-phone yang dari tadi kugenggam seolah berontak, menginginkanku untuk menekan angka 1. aku merasa ragu-ragu selama beberapa menit hingga bel apartemenku berbunyi.

“hai, am I disturb you?” Elaine berdiri di ambang pintu dengan pakaian casualnya.

“waeyo?” tanyaku melihat Elaine dengan tatapan aneh.

“dapurku sedikit bermasalah, boleh aku meminjam dapurmu? aku mau memasak makan malam.”

“boleh, tapi kau harus menyiapkan satu porsi untukku.”

“okay, deal!” seru Elaine sambil berlari ke dapurku. Kututup pintu apartemen dan kembali duduk di sofa, tempat kuberanjak sebelumnya. Kuketukkan jari-jariku diatas meja sambil berpikir keras. Tidak masalahkan kalau aku menelponnya? Toh kami masih berteman. Ini akan menjadi kali ketiganya aku menelpon Yoomin sejak aku datang ke sini. Pertama ketika aku baru sampai, aku menelpon dia terlebih dahulu untuk mengabari keadaanku, baru kemudian aku mengabari orangtuaku. Kali kedua adalah sebulan setelah aku pindah ke sini. Aku merasa sangat sulit, bukan karena aku tinggal jauh dari orangtuaku, atau language barrier, tapi karena aku sangat merindukan Yoomin. Sama seperti saat ini. Rasa rinduku sudah berkali-kali lipat.

Akhirnya, kutekan speed dial 1. Terdengar beberapa kali nada sambung hingga telponnya diangkat.

“yeoboseyo?” tanya Yoomin dari seberang sana.

“yeoboseyo, ini aku. Masing ingat?” suaraku sedikit meninggi karena sangat gembira.

“tentu saja. Apa kabarmu di sana?” terdengar Yoomin tertawa kecil, tanpa sadar aku juga ikut tertawa bersamanya.

“tidak begitu baik. Kau sendiri?”

“baik. Di sana sudah malam ya?”

“ne, di Seoul sudah pagi kan? Aku tidak menelponmu kepagiankan?” tanyaku agak panik, kalau-kalau aku mengganggu waktu tidurnya.

“aniya, sudah jam 9 disini. Bagaimana kuliahmu di sana? menyenangkan?” terdengar samar-samar suara berisik dari tempat Yoomin. Aku tidak mempedulikannya. Mungkin saja sinyalnya tidak terlalu bagus, kami kan berada di tempat yang sangat jauh.

“ne, menyenangkan. Baru tahun pertama, tapi aku sudah mendapat banyak tawaran pekerjaan. Tapi jujur saja, aku sedang bingung saat ini. Semua tawaran pekerjaan itu sangat jauh, di Italy, Malaysia dan satu lagi di London.” jelasku panjang lebar. Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, hanya saja begitu mendengar suaranya, aku jadi ingin mengeluarkan semua unek-unekku.

“jeongmal? Aku sih tidak heran. Lee Jinki kan memang yang terbaik.” Aku tau dia bermaksud meledekku, tapi aku tidak mendengar suara tawanya setelah mengatakan hal itu. Aku memilih diam, menunggu dia untuk kembali bicara.

“itu artinya, yang manapun yang kau pilih, kau tidak akan kembali ke Seoul?” suara Yoomin terdengar dingin, meski hanya mendengar suaranya, aku seolah merasa melihat wajahnya yang sayu ketika menanyakanku, dan kembali membuatku sedih.

“ne, tapi aku belum memutuskan. Masih ada banyak kemungkinankan?” aku tertawa datar, mencoba mencairkan suasana. Yoomin hanya diam, tidak menanggapi perkataanku. Aku kembali membuka multuku, hendak mengeluarkan kata-kata, tapi mulutku langsung terbungkam begitu mendengar suara di seberang sana.

“yaaaa, jagiya, mana blazer silver ku?” tanya suara di seberang sana, suara seorang namja. Sekilas aku mendengar suara ‘kresek’ dari seberang sana—suara tangan Yoomin yang mendekap ponselnya agar suaranya tidak terdengar terlalu jelas di tempatku—dan samar-sama mendengar suara Yoomin yang berkata ‘bukankah sudah kubilang kau seharusnya tidak meletakkan pakaianmu sembarang. Nanti akan kucarikan.’

Kepalaku diputari oleh berbagai macam pertanyaan. Jagiya? Apakah itu bermakna sama seperti apa yang ada di pikiranku saat ini? Atau mungkin kata jagiya telah berubah makna setahun sejak aku pindah ke sini? Apa yang sebenarnya terjadi?

“—oseyo? Yeoboseyo? Kibum kau masih di sana?” suara Yoomin kembali menyadarkanku yang tersesat dalam pikiranku sendiri.

“ah, ne.” aku tidak berani menanyakannya pada Yoomin, aku takut jawabannya sama seperti yang kupikirkan.

“Onew, makan malammu sudah siap!” Elaine berteriak dari dapur, aroma masakan memang sudah memanggil-manggil. Aku mendapatkan alasan untuk menutup telpon. Aku tidak tahan jika harus berlama-lama lagi berbicara dengan Yoomin, kurasa aku akan meledak.

“wait a minute, Elaine!” balasku berteriak sambil sedikit menjauhkan I-phone ku.

“Yoomin-ah, kutelpon lagi lain kali. Annyeong.” Kataku sebelum memutuskan saluran telpon.

“annyeong, Jinki-ah.” Setelah kata-katanya, langsung terdengar suara klik dari seberang sana.

aku berjalan gontai ke dapur. Berbagai hidangan yang tampaknya menggugah selera menyambutku, Elaine masih sibuk menyajikan beberapa hidangan dan meletakkan diatas meja.

Kami duduk bersama saling berhadapan, kupegang sumpit yang terletak tepat di depanku, memasukkan sesuap makanan ke mulutku. Namun, begitu mulutku terbuka, tanganku terhenti, aku tidak bisa menggerakkannya. Suara isakan meluncur dari mulutku, tidak bisa tertahankan lagi. Kurasakan Elaine memandangku dan segera berjalan ke samping.

“Onew, waegeure?” tanyanya sambil menepuk-nepuk punggungku.

“apa yang kutakutkan terjadi. Dia, sudah melupakanku. Sudah ada orang lain yang menggantikan posisiku di sana. ottokhae Elaine? Igeo aphayo. Ottokhae?” tanyaku pada Elaine sambil memegang dadaku yang terasa sesak, meski aku tau dia sama sekali tidak bisa menjawabku.

“aku sudah cukup menderita mengetahui bahwa dia bukan lagi milikku, tapi mengetahui dia sudah menjadi milik orang lain, itu lebih membuatku menderita. Ottokhae? Dia sungguh-sungguh bukan milikku lagi.” Kuarahkan kedua telapak tanganku untuk menutup mataku yang sudah berair.

“uljima, Onew-ah. Uljima, jebal..” Elaine mencoba menenangkanku, dia merangkulkan tangannya dipundakku. Kurasakan sesuatu membasahi pundakku, dan aku tau itu adalah airmatanya. Aku tau dia ikut menangis bersama. Tapi aku sama sekali tidak bisa berhenti, airmataku terus mengalir. Rasanya terlalu sakit, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Sesaat aku kesulitan bernafas karena dadaku terasa sangat sesak, aku membuka mulutku untuk membiarkan udara keluar dan masuk memenuhi paru-paruku.

“aku tau bagaimana rasanya, apalagi jika tidak ada orang yang bisa kausandarkan. Don’t worry, I’m here.” Elaine mencoba terdengar riang dibalik suaranya yang bergetar hebat.

“it’s over. Everything is over..” sahutku pelan.

“tapi kehidupanmu belum, kehidupanmu belum berakhir Onew. Jika kau merasa terlalu rapuh untuk hidup seorang diri, we can life together.”

***

Onew melangkah dengan pandangan kosong, tidak terlalu peduli kemana kakinya akan melangkah, toh dia tau pasti dia tidak akan mungkin tersesat dalam gedung itu. Suara hingar-bingar tidak sekalipun luput dari pendengarannya, tapi Onew memilih untuk berpura-pura tidak mendengarnya.

Dari jendela kaca yang besar, terdengar suara ketukan-ketukan kecil yang berhasil menarik perhatian pria berambut hitam kelam itu. Dahan pohon dari luar Central Saint Martins College of Art and Design (CSM) melambai-lambai sambil sesekali menabrak pelan kaca jendela, menimbulkan suara yang tidak kalah berisik dibanding kerumunan para mahasiswa yang saling bercengkrama sambil menunggu kelas berikutnya dimulai. Musim dingin memang sudah berakhir, tapi semilir-semilir angin masih saja membuat Onew sesekali bergidik karena kedinginan.

Langkah Onew terhenti di depan kaca jendela itu, sambil berdiri lurus menatap pemandangan di luar jendela, kedua tangannya disorokkan ke dalam saku celana, untuk menghangatkannya. Matanya menembus jendela dan menatap langit luas yang berwarna biru cerah, pemandangan yang tidak asing baginya. Hampir setiap hari langkahnya terhenti di sini—tepat di tempat ini—selama beberapa saat hanya untuk membiarkan pikirannya bermain-main bebas.

Konyol mungkin, bahkan Onew sendiri terkadang suka menertawakan pikirannya ini, tapi hanya dengan melihat langit dari tempat ini, dia merasa sangat dekat dengan kota kelahirannya, Seoul.

Onew Lee Jin Ki, seorang pria kelahiran Seoul yang memutuskan untuk menggapai impiannya menjadi fashion designer terkenal hingga akhirnya ia terdampar di salah satu universitas ternama di Eropa, bahkan di dunia. Tapi siapa yang tau apa saja yang telah dia korbankan demi impiannya? Hanya dirinya sendiri yang tau.

Seluruh mahasiswa di CSM mengenal Onew, ia adalah mahasiswa asal Seoul yang disebut-sebut sebagai The Next Generation of Genius Designer yang menjadi rebutan banyak top desainer untuk mengajaknya bergabung digaleri mereka, bahkan pada tahun pertamanya kuliah.

Jika ada Dewa dalam wujud manusia, Onew-lah perwakilan yang cocok untuk menggambarkan kalimat tersebut.

Dengan gelar yang disandangnya, tak perlu diragukan lagi kalau dia memiliki otak yang cemerlang, IQ tingginya diimbangi dengan EQ nya yang bagus. Latar belakang keluarganya bersih, berasal dari keluarga terhormat yang memiliki reputasi baik tidak hanya di Korea Selatan, tapi di seluruh dunia. Wajahnya pun sangat tampan, hanya dengan seulas senyum, seluruh wanita bersedia melakukan apapun untuk bisa berada disisinya. Sifatnya juga ramah, tidak menyombongkan apa yang dimilikinya. Tapi sedikit dari mereka yang tau, dibalik semua riwayat hidupnya yang berkilauan, ada satu cerita masa lalu yang terus melukainya. Semanis apapun dia tersenyum, sekeras apapun dia tertawa, sorot kesedihan tidak pernah lepas dari matanya.

Onew menghela nafas panjang dan berat mengingat hari itu, hari terakhir ia meneteskan airmatanya. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana perasaannya ketika itu, satu-satunya alasan yang mampu membuat ia menangis meraung-raung dalam pelukan Elaine Oh. Tidak pernah terbersit dibenaknya sebelumnya, bahwa ia akan menjadi seperti itu, kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri dan emosinya.

Sudah berapa lama kejadian itu terjadi? Sudah hampir dua tahun itu berlalu, tapi rasanya bagaikan baru terjadi kemarin bagi Onew.

“hey, jangan melamun!” seorang wanita menepuk pundak Onew yang sontak membuatnya terkejut, meski ia tau betul siapa pemilik suara itu.

“aniya, I’m just looking at the sky. It’s so comfortable, right Elaine?” Kilah Onew sambil mencoba memberikan senyuman terbaiknya. Elaine balas tersenyum dan mengangguk untuk mengiyakan, meski Elaine tau beberapa detik yang lalu, Onew kembali ke masa lalunya, mengingat seorang wanita yang sudah bukan miliknya lagi. Terkadang Elaine merasa kasihan melihat Onew yang terus berpura-pura baik-baik saja, ingin rasanya Elaine berteriak dan meminta Onew untuk sungguh-sungguh melupakan wanita itu kemudian membuka lembaran baru tanpa wanita itu didalamnya. Tapi Elaine sendiri sadar itu bukan hal yang mudah, tidak mungkin melupakan orang yang kita cintai begitu saja.

“masih ada kelas?” tanya Onew sambil beranjak dari posisinya, kembali melangkah tapi kali ini dengan kesadaran penuh. Elaine hanya menggeleng sebagai jawaban dan mengikuti langkah Onew yang tidak terlalu lebar.

“mau makan siang dimana?” ajak Onew.

“hmmm..” Elaine tampak berpikir sambil meletakkan jari telunjuknya di dagu ,” Cittie of Yorke, how about it?”

“terlalu jauh. Mercedezku sedang sakit. Bagaimana kalau Old Red Lion saja?” kali ini Onew yang memberikan usulan. Elaine tidak banyak protes. Mereka berjalan beberapa meter dari gedung universitas. Sebuah bangunan tua bergaya Victorian dengan cat merah yang sudah mulai mengelupas di sana-sini menjadi tujuan mereka untuk makan siang. Gedung ini memang terlihat sangat tua dan butuh perawatan lebih, tapi makanan yang disajikan cukup menggugah selera. Buktinya tempat ini selalu ramai disaat-saat seperti ini. Onew dan Elaine memilih untuk menyantap makanan mereka di lantai dua, karena dari lantai dua, matahari dapat dengan mudah menerobos masuk dari deretan jendela dan memberikan kesan menyejukkan. Tidak butuh waktu lama sampai makanan yang mereka pesan disajikan oleh pelayan di Old Red Lion.

“jadi, bagaimana Seoul?” tanya Elaine yang membuka percakapan sambil mengunyah beefsteaknya.

“kurasa masih tidak berubah. Aku selalu pulang ke Seoul dua kali setahun. Jadi aku tidak merasa ada perubahan berarti.” Jawab Onew enteng sambil mengangkat bahunya. Hanya perasaannya saja, atau memang Elaine mendengar ada nada mengejek yang terselip dibalik kata-katanya?

“yaaaaa, kau mengejekku?” suara Elaine terdengar lantang. Sesaat, pengunjung yang berada dilantai yang sama dengan mereka beralih menatap sepasang Korea yang tidak mereka mengerti bahasanya, tapi akhirnya mereka memutuskan untuk kembali menekuni aktifitas mereka semula, apapun itu.

“tsk, kembalilah ke Korea. Itu sudah berlangsung lama sekali Elaine. Tidak seharusnya kejadian itu membuatmu membenci Korea, tempat kelahiranmu, dimana keluargamu berasal.” Bujuk Onew, suaranya terdengar rendah, mencoba untuk tidak memancing emosi Elaine.

“aku tidak pernah membenci Korea. Tapi kau tidak tau bagaimana—bagaimana rasanya menjadi aku.” Suara Elaine sedikit bergetar. Seperti kata Onew, kejadian yang ia anggap sebagai mimpi buruk itu sudah berlangsung lama sekali, tapi hanya dengan percakapan seperti ini mampu membuatnya mengingat kembali dengan jelas setiap detil kejadian itu. “Setiap kali aku menginjakkan kakiku di Korea, flashback itu kembali menghantuiku. Memang sudah 13 tahun berlalu, dan waktu itu aku hanyalah anak kecil yang berumur 8 tahun, tapi kejadian itu berbekas sangat jelas tidak hanya dialam bawah sadar, tapi juga dialam sadarku. Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri, tidak ada yang bisa kulakukan, semuanya terjadi. Orang-orang itu datang terlambat dan hanya aku yang tersisa untuk diselamatkan. It’s worse than a nightmare.” Lanjut Elaine, masih mencoba menahan luapan emosinya.

Onew terdiam ditempatnya. Dia sadar kata-katanya telah membuka kenangan buruk Elaine. Wanita yang sangat dekat dengannya, sudah seperti keluarga baginya. Diam-diam Onew merutuki dirinya sendiri, karena telah mengangkat pembicaraan yang seharusnya tidak diangkat. Padahal Elaine selalu menghindari pembicaraan yang mungkin berkaitan dengan masa lalu Onew. Seperti ketika dia berbasa-basi bertanya tentang Seoul, Onew tau yang sebenarnya ingin ditanyakan Elaine adalah apakah ia bertemu dengan Yoomin atau tidak. Dan jawabannya adalah tidak. Onew tidak sebodoh dan segila itu untuk menemui seorang wanita yang jelas-jelas sudah menjadi pacar oranglain, sementara ia sendiri masih menyukai wanita itu.

***

Akhir pekan, tapi jalanan di London masih saja ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Kebanyakan melajukan kendaraan mereka menuju tempat-tempat wisata untuk melepas penat setelah beraktifitas.

Elaine duduk bersandar di sebuah sofa putih dalam ruang apartemen. Sementara si pemilik apartemen muncul dari dapur dengan semangkuk besar popcorn dan dua cangkir cola. Elaine dan Onew sudah biasa menghabiskan akhir pekan bersama. Kali ini acara akhir pekan mereka hanyalah menonton di apartemen Onew.

Melihat Key datang dengan semangkuk popcorn, dengan cepat Elaine menyambar dan mencomot isinya ke dalam mulutnya bersamaan dengan Onew yang menempatkan diri di samping Elaine, sambil sesekali tertawa keras menyaksikan Beethoven’s Big Break di channel Sky Movie Comedy. Onew tidak tertawa ataupun tersenyum sama sekali, ia sibuk memandangi Elaine dan berkutat dengan pikirannya.

“Onew-ah, waeiyo?” Elaine yang kini menyadari tatapan Onew menghentikan tangannya yang hendak mencomot popcorn lagi. Mulut Onew terbuka dan tertutup beberapa kali. Ia seperti merasakan déjà vu . sulit baginya untuk menyuarakan apa yang ingin dikatakannya pada Elaine. Elaine semakin tidak sabar dan menatap Onew dengan kening berkerut.

“tawaran kerja dari John Galliano, aku sudah menolaknya.” Kata Onew datar, sengaja memberikan waktu bagi Elaine untuk merespon. Kerutan di kening Elaine bertambah.

“geurom, kau menerima tawaran dari Mr. Lew?” terka Elaine. Onew menggeleng pelan, sangat pelan.

“aniya, aku juga tidak menerima tawaran dari Mr. Lew, atau dari siapapun. Aku sudah menolak semua tawaran itu.”

“wae?” keterkejutan dari suara Elaine memang terdengar jelas. Onew menghela nafas dengan gelisah, memandang langit-langit sesaat sebelum kembali menghadap Elaine.

“aku memutuskan untuk kembali ke Seoul. Aku akan berkarya di Seoul.” Jawab Onew mantap, meski kegelisahannya tidak berkurang. Kali ini hening cukup lama hingga ekspresi wajah Elaine berubah dari bingung menjadi kesal dan kemudian marah.

“kau akan kembali ke Seoul? Kau melepaskan semua kesempatan bagus itu?” ulang Elaine tidak percaya, Onew mengangguk.

“are you stupid!!!?” emosi Elaine meledak, suaranya meninggi, tapi Elaine sendiri sudah tidak mempedulikan nada suaranya yang memang naik beberapa oktaf, “back to Seoul? Oh, gosh! Onew, apa kau sadar? Kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali dalam hidupmu. Dan kau menolak semuanya karena kau memilih untuk kembali ke Seoul?”

“I know how stupid am I. Geundae, apa buruknya tentang kembali ke Seoul? Aku hanya ingin memulai dari nol. Aku ingin yang orang-orang lihat adalah karyaku, seorang Onew Lee, bukannya karya John Galliano atau siapapun.” Balas Onew, mencoba menahan emosinya yang ikut terpancing karena penolakkan yang jelas-jelas ditunjukkan oleh Elaine.

“that’s just an excuse. Kenyataannya adalah bahwa kau tidak bisa hidup tanpa yeoja itu, karena Han Yoomin lah kau kembali ke Seoul!” Elaine bangkit dari duduknya, Onew ikut berdiri dan menghadap Elaine. Emosi Onew tidak bisa dibendung lagi mendengar kata-kata Elaine.

“aku tidak seperti itu! Elaine, kupikir kaulah yang paling mengerti aku saat ini. Kau tau bagaimana terlukanya aku dan tidak mungkin aku masih mengharapkan Yoomin disaat aku tau ada namja lain yang selalu berada disisinya 24 jam. Seseorang yang bisa disentuhnya, seseorang yang bisa diandalkannya. Mana mungkin aku bisa menandingi namja itu!!?” teriak Onew tidak mau kalah.

“kalau begitu, pikirkan saja masa depanmu! Pikirkan impian yang selalu kau bangga-banggakan padaku!” bentak Elaine, setetes airmata turun membasahi pipinya, entah itu karena sedih atau karena emosinya yang meluap-luap.

“untuk itulah aku kembali ke Seoul, aku ingin mewujudkannya di sana.” kali ini Onew melunak setelah melihat airmata Elaine.

“lalu kenapa kau tidak bisa mewujudkannya di sini? Bersamaku!?”

Onew menghela nafas panjang. Dia tau, tidak akan semudah itu mendapat izin dari Elaine agar dia bisa kembali ke Seoul. Meski sesungguhnya, dia tidak perlu meminta izin. Dia bisa pergi ke manapun dan kapanpun ia mau, karena dia adalah pria bebas. Mereka tidak terikat hubungan apapun secara resmi. Tapi perasaannya melarang ia untuk pergi begitu saja, dan terjadilah perdebatan yang ditakutkannya.

“pada akhirnya kalian semua sama saja. Kalian meninggalkanku! Apa artinya aku bagimu Onew? Aku selalu ada disisimu disaat-saat kau membutuhkan seseorang, aku selalu menjadi satu-satunya orang yang mencoba untuk mengerti dirimu. Dan sekarang apa yang kudapatkan? Kau memutuskan untuk kembali ke Seoul, kembali pada Han Yoomin, dan meninggalkanku sendirian!”

“Elaine!!! Sudah kukatakan alasanku kembali bukanlah karena Han Yoomin, meski kuakui aku masih mencintainya sampai detik ini! Tapi bukan karena itu aku memutuskan untuk kembali!”

“Sadarlah Onew! Meskipun kau sangat menyukainya, meskipun kau tidak bisa hidup tanpa dia, yeoja itu tidak mungkin menjadi milikmu lagi! Dia masih bisa hidup tanpamu, dia menjalani hidupnya dengan sangat baik!” Elaine mengatakannya dengan nada sarkartis yang jelas sangat tidak disukai Onew.

“aku tau Elaine! Dan kau tidak perlu mengingatkan ku tentang itu, karena aku tau dengan jelas!”

“kalau begitu, gunakanlah akal sehatmu dan berpikiran waras sedikit!”

Kesabaran Onew sudah habis, dengan satu gerakan kasar, Onew mengambil jaketnya yang diletakkan di sandaran sofa. Onew berjalan cepat tanpa mempedulikan tatapan Elaine. Diambilnya kunci mobil yang tergantung didinding dan keluar dari apartemen dengan kesal. Terdengar suara pintu yang berdebam keras saat dibanting oleh Onew dari luar apartemen.

Elaine sepenuhnya sadar dia sudah sendirian sekarang. Tenaganya sudah terkuras habis karena berteriak-teriak, kakinya terasa sangat lemas. Dalam hitungan detik, Elaine terduduk diatas karpet. Airmata masih terus mendesak keluar dari kelopak matanya.

Elaine tau betapa kata-katanya telah melukai Onew. Key jelas-jelas tau bahwa Han Yoomin sudah memiliki namja lain, dan Elaine tetap saja mengungkapkan fakta itu dengan jelas dan kasar dihadapan Onew.

Tangis Elaine semakin menjadi-jadi, ditekuknya kedua kakinya, kemudian membenamkan kepalanya diatas lutut. Elaine hanya tidak ingin Onew terus berharap pada Yoomin. Elaine tau dengan jelas bagaimana rasanya kehilangan orang yang dicintai. Ia pun pernah mencintai seseorang dengan segenap hatinya, sama seperti Onew mencintai Yoomin. Tapi pada akhirnya, orang yang disukainya lebih memilih orang lain—sahabat Elaine sendiri. Cukup lama Elaine berlarut-larut dalam kesedihannya, berharap orang yang dicintainya akan kembali padanya. Tapi itu sia-sia, penantian dan harapan itu justru semakin melukai Elaine. Elaine tidak berharap Onew akan mengalami hal yang sama seperti dirinya, dilain pihak ia merasa dikhianati. Ia menganggap Onew sebagai keluarganya, saudaranya. Tapi Onew justru ingin kembali ke Seoul dan meninggalkan dirinya. Sama seperti yang dilakukan oleh orang yang dicintainya dan sahabatnya, juga kedua orangtuanya.

***

Onew mengendarai Mercedeznya mengelilingi London tanpa arah. Déjà vu itu kembali menghantuinya. Ketika Yoomin mengetahui keputusan dirinya untuk datang ke London dan melanjutkan study, rasanya sama mengerikannya seperti ketika ia memberitaukan pada Elaine tentang keputusan untuk kembali ke Seoul. Kesedihan yang terpancar jelas dari wajah Elaine membuat hatinya serasa tercabik-cabik.

Setelah berkeliling selama kurang lebih 2 jam, Onew memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Masih berjalan dengan lunglai, Onew terhenti didepan pintu apartemen Elaine. Ia ingin mengetuk pintu itu dan berbicara lagi dengan Elaine, tapi ia takut itu hanya akan membuat mereka kembali bertengkar dan terluka. Onew menggeleng pelan, melarang dirinya sendiri untuk menemui Elaine sekarang. mereka berdua sama-sama butuh waktu untuk menenangkan diri. Dibukanya pintu apartemen. Kegelapan yang menyelimuti seluruh ruangan langsung menyambut kehadirannya. Dengan malas, Onew meraba-raba mencari sakelar listrik dan menyalakannya. Matanya menyipit mendapati kegelapan yang tiba-tiba digantikan oleh cahaya lampu.

“andwea… andwea! Andwea!!” terdengar suara teriakan dari sofa, Onew berjalan cukup cepat untuk mencari sumber suara. Elaine masih berada di apartemennya, duduk menyadar di kaki sofa sambil memeluk kedua lututnya sendiri. Rambutnya terlihat sangat berantakan, tidak seperti Elaine yang biasanya selalu tampil rapi dan bersih.

“eomma, appa!!!” teriak Elaine lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Onew memberanikan dirinya untuk membangunkan Elaine. Elaine terbangun dengan nafas yang terengah-engah, melihat seorang pria yang sangat dikenalnya berjongkok dihapaannya. Tubuhnya gemetar oleh rasa takut yang selalu menjalarinya setiap kali dihadapkan pada kejadian masa lalunya. Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik, masih terbenam dalam pikiran mereka sendiri. Dorongan rasa takut dan beban yang ditanggungnya membuat Elaine memeluk Onew dengan erat, Onew balas memeluknya, memberinya rasa aman dan perlindungan yang memang sangat dibutuhkan Elaine saat ini. Kedua tangan Onew mengelus punggung Elaine yang masih bergetar.

“tenanglah, jangan takut. Aku ada disini, aku akan menemanimu. Semuanya sudah berlalu, jangan takut.” Kata Onew mencoba untuk menenangkan Elaine.

“itu bukan mimpi… aku melihatnya—aku melihat mereka melakukannya dihadapanku. Aku melihat bagaimana mereka—mereka…” disela-sela tangisnya, Elaine terus mengucapkan kata-katanya yang terpenggal-penggal.

“nan arraseo. Tapi itu sudah lama berlalu Elaine. Tidak akan ada seorang pun yang menyakitimu sekarang. Aku janji, tidak akan ada seorang pun yang menyakitimu lagi sekarang.” Onew melepaskan pelukannya ketika dirasa Elaine sudah jauh lebih tenang. Keheningan kembali merayapi ruangan itu. Pikiran mereka kembali ke pertengkaran yang terjadi beberapa saat lalu.

“mianhae, tadi kata-kataku menyakitimu.” Suara Elaine masih terdengar sangat lemah.

“aniya, kau tidak salah.”

“kembalilah ke Seoul, kalau memang itu yang kau inginkan. Aku tidak akan menahanmu. Aku akan baik-baik saja.” Elaine kembali membenamkan wajahnya dibalik lutut, berharap Onew tidak akan melihat kebohongan dalam matanya saat mengucapkan kalimat terakhir itu.

“ikutlah denganku Elaine.” Suara Onew yang terdengar sangat mantap membuat Elaine balas menatapnya dengan tidak percaya. Onew seolah bisa mengerti apa yang dipikiran Elaine dan langsung melanjutkan, “sejak awal, aku memang ingin mengajakmu untuk ikut denganku. Aku tidak mungkin tega meninggalkanmu sendirian saja di sini. Kembalilah ke Seoul bersamaku. Tidak akan ada yang menyakitimu, aku pasti akan melindungimu.”

THE END

©FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

Advertisements

14 thoughts on “[FF PARTY] Love Should Go On”

    1. ahaha, tadinya aku udah mau komen pedes, tapi author menyadarinya duluan. *tertunduk*

      overall, DAEBAAAAAAAAAKKKK…!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! >3<

  1. Uwah.. Keren ffnya..
    .
    Kasian oNew harus ngalamin d’javu..
    Ga enak bgt thu..
    Tp endingnya kok aq rasa agak gantUng?
    Mian, sbnrnya oNew suka ma elaine ga?
    .
    GoOd job, chingu..

    1. Iya, emang sengaja dibuat nge’gantung karena rencana nya mau author buat sekuel nya^^
      Nah, jadi pertanyaan nya ntar terjawab di sekuel nya, tapi belum dibuat, hehe^^

  2. keren deh chingu ff.a,tpi bner,kok agak gantung ya tmat.a?
    oh ya aku mau nanya ff hello bihyul part 3 kpan ya d.publish nya ?

    1. Tungguin aja sekuel nya ya =DD
      Author janji deh bakal kirim sekuel nya kalo udah selesai^^
      Kalo hello bihyul part3&4 nya aku kirim t’pisah dgn part1&2
      Dan kayak nya bakal telat di publish cos admin2 nya lagi pada sibuk~~
      Hehe, mian buat chingu nunggu lama~

  3. YAAAKK!! KEREEEEN!!
    aku kira endingnya Onew bakal bilang ‘menikahlah denganku’ *sotoy*
    iyaah ada salah2
    onew=kibum. bener ga?
    gapapa dah, yg penting FFnya DA-E-BAK ! *keinget snsd rdr*

  4. kereeeeen…..
    apa endingnya elaine sm onew?
    yah…emang byk typo nya, sbnernya rencana awal tokoh utamanya si onew ato key yu?
    tp ttp keren koq….
    annyeong….lama deh gak mampir sini… ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s