[FF PARTY] End To Start – Part 4 (END)

END TO START

Part 4

Author: Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~

Main Cast: Choi Min Ho, Hanniisa Han

Support Cast: SHINee, Jang Hee Woong, Jung Ha Na, Dennis Midhya, Fabio Dinata, Yun Ho DBSK, etc.

Length: Sequel

Genre: Romance

Rating: General

Summary: Terkadang ada suatu hal yang sangat berharga yang harus kita lepaskan. Itu bukan pertanda segalanya sudah berakhir. Tapi, itu adalah awal dimulainya sesuatu yang baru dalam hidup ini.

Keterangan: Pengen jadi author tetap.. ;D

{PINNED AS DECEMBER SPECIAL – FF PARTY}

Choi Min Ho POV

Tiba-tiba tanganku digenggam oleh dokter Han. Ia tersenyum. Entah mengapa rasanya aku mendapat keberanian dan kekuatan untuk menghadapinya.

“Baguslah kalau begitu. Hyung-hyung DBSK dan Super Juniormu juga khawatir dengan keadaanmu, semuanya khawatir. Tidak ada yang mau memberitahu keadaanmu.” Yun Ho-hyung menggenggam erat tangan yeoja yang ada disebelahnya, “Lalu, ini siapa, Min Ho?”

Aku tersenyum, “Ini yeojaku.”

“Yeojachingu-mu?”

“Entahlah. Aku sendiri juga bingung. Yah, mungkin calon istriku.” Ujarku. Kugenggam erat tangan dokter Han.

Dokter Han menatapku. Aku hanya tersenyum kecil.

“Waaah… semoga itu benar. Kalian cocok kok.” Komentar Yun Ho-hyung, “Yeobo…kau tidak mau bicara dengan Min Ho? Bukannya sebelumnya kalian dekat?”

Yeoja disebelahnya hanya memandangku. Kupandang ia sekilas. Lalu kualihkan pandanganku kearah Yun Ho-hyung. Entah kenapa, aku tidak merasa apa-apa lagi. Apa hatiku sudah mati untuknya?

Aku menggeleng, “Tidak juga, hyung. Ah ya, kami harus melanjutkan jalan-jalan kami. Sampai berjumpa lagi ya, hyung.”

“Ne, baiklah. Sampai bertemu lagi.” Yun Ho-hyung tersenyum.

Dokter Han tersenyum kecil. Kulangkahkan kakiku kembali menyusuri jalan setapak.

“Dokter Han, maaf soal yang tadi.” Ujarku pelan. Tanganku masih menggenggam erat tangannya.

Kukira dokter Han akan marah, “Tidak apa, Min Ho-ssi. Aku paham, kok.”

“Kau tidak akan memintaku untuk menceritakannya?” tanyaku pelan.

Dokter Han menggeleng, “Untuk apa? Aku sudah bisa membacanya dari matamu. Yeoja tadi…?”

Aku mengangguk pelan, “Ne. tapi…”

Dokter Han menatapku.

“Tapi, aku tidak merasakan apa-apa, dokter. Hanya sedikit sekali yang bisa kurasakan saat aku melihat wajahnya. Apa hatiku sudah mulai mati untuknya?” ucapku perlahan.

Dokter Han hanya terdiam menatapku, “Manusia hanya butuh waktu untuk kembali menata kehidupannya, Min Ho-ssi. Aku yakin, kalau seandainya yeoja itu bukan ditakdirkan untukmu, yeoja itu akan perlahan pergi dari ruang hatimu.”

Kuresapi perkataan dokter Han. Benar juga… benar…

“Kkaja, kita jalan-jalan lagi, Min Ho-ssi!” ajak dokter Han.

Kuekeluarkan benda yang daritadi kugenggam ditanganku yang sebelah lagi. Sebuah kalung dengan liontin kecil ditengahnya. Aku menghela nafas.

“Dokter Han…” panggilku.

“Ne?” dokter Han menoleh kearahku.

“Kita ke pinggir sungai kecil itu ya?” aku menunjuk sungai kecil dengan jembatan ditengahnya.

“Ayo…” dokter Han tersenyum.

Kami melangkah menuju sungai kecil itu.

“Kenapa kau ingin kesini?” tanya dokter Han begitu kami sampai.

Aku tersenyum kecil, kutunjukkan kalung yang ada di telapak tanganku, “Ini…”

“Kalung? Apa…?” dokter Han mencoba menebak.

Aku mengangguk, “Benda dari masa laluku. Ya, benar… masa lalu…”

Dokter Han menatapku lembut, “Kenapa?”

“Aku ingin membuang semua kenangan itu.” ujarku sambil menatap kalung yang ada ditanganku.

Dokter Han terdiam sejenak, “Baiklah, Min Ho-ssi…aku menginginkan yang terbaik untukmu…”

Aku mengangguk. Kupejamkan mataku.

Hana…dul…set… kulempar kalung itu jauh kedalam sungai. Kutarik nafas panjang begitu aku membuka mataku. Kuharap ini awal dari segalanya dalam hidupku…

“Min Ho-ssi…” gumam dokter Han.

****************

Choi Min Ho POV

Perlahan kubuka pintu dorm yang tidak terkunci.

“Annyonghaseo…” sahutku pelan.

Tidak ada jawaban. Apa mereka pergi ya? Tapi kenapa pintu depan tidak dikunci sih??

“Annyong…~~” sahutku lagi sambil menutup kembali pintu dorm. Kulepaskan sepatuku perlahan.

“HYUNG?!!!” terdengar suara Tae Min. dia langsung menghampiriku, “Hyung! baik-baik saja kan? Hyung tadi pagi pergi saat orang-orang masih tertidur!! Tadi malam pulang saat orang-orang ketiduran!!”

Tae Min menggenggam tanganku erat. Matanya tampak khawatir. Aku tersenyum. Kuacak rambutnya pelan, “Tae Min… kau begitu khawatir ya?”

Ditatapnya aku tidak percaya, “Hyu…hyung sudah…?”

Aku tersenyum, “Ne… berkat dokter Han.”

Tae Min langsung memelukku erat, “Ah, hyung~~ syukurlaaah!!!”

Aku tertawa kecil. Kubalas pelukan Tae Min.

“Tae Min!! Kenapa sih teriak-teriak!” Key datang menghampiri kami, “Min Ho…? Kau sudah pulang???? Kau darimana saja???”

Key segera menarik tanganku keatas sofa diruang televisi, “Kau baik-baik saja kan? Tae Min… apa Min Ho baik-baik saja???”

Aku tersenyum, “Key… Jangan khawatir…”

Key menatapku, “Min Ho?? Kau sudah…sembuh…?”

Aku tertawa pelan, “Ne, Key-hyuung…”

Key langsung memelukku heboh.

Tae Min segera berlari ke kamar. Key menepuk-nepuk pipinya.

“Ah…aku tidak mimpi kan?” Key bergumam sendiri.

“Min Hoooo!!! Kau sudah sembuuuh??” Onew-hyung langsung menyerbuku. Dibelakangnya, Jong Hyun-hyung juga menghambur kearahku. Mereka langsung memelukku. Key juga kembali memelukku.

“Syukurlaah, Min Ho…” Jong Hyun-hyung tampak berkaca-kaca.

Tanpa terasa mataku ikut berkaca-kaca. Menyesal karena telah membuat mereka khawatir dan senang karena mereka selalu ada disisiku. Mereka sahabat-sahabat juga hyung dan dongsaeng terbaik untukku.

“Hyuung…aku juga ikutan pelukannya…” terdengar suara seseorang. Kami melepas pelukan kami semua.

“Tae Min??” ucapku.

Jong Hyun segera menarik Tae Min. Sekali lagi kami berpelukan. Rasanya nyaman sekali…aku jadi merasa sangat bodoh sudah menangisi kepergian yeoja itu. menyesal… gomawo, dokter Han yang sudah mengajarkanku arti hidup yang sebenarnya. Dokter yang sebenarnya adalah cinta pertamaku…

****************

Beberapa bulan kemudian

Sejak kejadian di danau itu, aku semakin merasa baik. Apalagi ada Hanniisa yang selalu ada untukku. Ia masih sering mengontrol kesehatan dan keadaan psikis-ku. Aku selalu merasa nyaman berada didekatnya.

“Hyung, ayo cepat…! Sebentar lagi kita tampiiil!!” teriak Tae Min.

“Ne!” balasku.

Kukeluarkan hpku.

From: Hanniisaaaaaa

Ya, aku tidak jadi datang. Tiba-tiba pasienku membutuhkanku. Mianhae, Min Ho. Tapi, kuharap kau menampilkan yang terbaik…!

Aish…! Kenapa sih…

“Min Ho…!” panggil Onew-hyung.

“Ne, hyung!!!” aku segera berlari kearah Onew-hyung.

“Ya, kenapa mukamu kusut begitu?” tanya Key, “Tadi pagi cerah sekarang malah kusut begini…”

“Hannii-noona kaaan?” goda Tae Min.

Kualihkan pandanganku kearah lain, “Sudah. Ayo, kita tampil yang benar.”

Kami melakukan comeback stage kami dengan baik. Walaupun pikiranku masih melayang ke psikiater muda itu. Tapi aku berusaha untuk tersenyum dan memberikan yang terbaik. Aku tidak mau mengecewakan Shawol…

Aku melangkah ke arah belakang panggung. Tiba-tiba Jong Hyun menghampiriku, “Min Ho… dokter Hanniisa datang menontonmu kok!”

Suara Jong Hyun-hyung tidak terdengar jelas karena suara musik di atas panggung.

“Mworagoo??” tanyaku.

Jong Hyun-hyung tertawa kecil, “Aku sengaja agar kau tidak dengar!!”

Jong Hyun-hyung langsung berlari ke ruang ganti. Aku menghela nafas panjang. Psikiater muda itu benar-benar mengganggu pikiranku.

“Min Ho…” terdengar suara lembut dari arah belakangku.

Kualihkan pandanganku, “Hanniisa?”

Hanniisa mengangguk, “Kenapa senyummu dipanggung begitu hambar sih?”

Kutatap Hanniisa dengan pandangan bingung

“Mau saja kukerjai. Dasar, Min Ho!” Hanniisa tertawa kecil.

“Jadi kau membohongiku?” tanyaku.

“Bukan salahku. Kau memikirkan aku?” tanya Hanniisa, “Aku bercanda…!”

“Hanniisa Han! Aku tidak akan memaafkanmu.” Candaku.

Hanniisa hanya tertawa, “Kau tidak mau tertangkap netizen ada disini berduaan denganku kan…?”

Langsung keraih tangannya. Kuajak ke ruang ganti SHINee.

“Annyong…” kubuka pintu ruang ganti. Tampak semuanya sedang membereskan barangnya.

“Min Ho… kau tidak akan ganti baju?” tanya Key, “Eh, Hanniisaaaa!! Kau berhasil mengerjai Min Ho!”

Hanniisa tertawa.

“Noona… Min Ho-hyung benar-benar memikirkanmu!” sahut Tae Min yang segera menghampiri kami.

“Ne… betul…” ujar Onew-hyung.

“Ah..sudahlah…aku ganti baju duluu!” kulepas genggaman tanganku. Segera kuambil bajuku dan masuk kedalam ruangan satu lagi.

Hanniisa Han POV

“Benar kan, Min Ho-hyung itu menyukaimu, noona…” ujar Tae Min sambil menatapku.

Aku menggeleng, “Sudahlah Tae Min…siapapun yang membatalkan janjinya pasti jadinya kepikiran… Ah ya, sesudah ini kalian akan kemana?”

Aku sengaja mengalihkan pembicaraan.

“Konferensi pers pertama untuk album ini.” jawab Key.

“Oooh… baiklah…”

“But if I let you go…I will never know…what my life would be, holding you close to me…Will I ever see you smiling back to me…How will I know…if I let you go…”

Terdengar dering hp.

Ah iya… itu dering hp ku. Segera kurogoh saku celanaku.

From: dokter Jang

Dokter Han, ada berkas yang harus kau tandatangani sekarang. Bisa kau datang ke rumah sakit? Tidak mungkin aku kembali ke Seoul. Urusan di Incheon belum selesai. Aku minta tolong ya, dokter Han.

Ah… giliran lagi sama Ha Na aja, kerjaan dikasih ke aku. Tapi, enggak apa-apa. Untuk dokter Jang sama Ha Na, apa sih yang enggak… hehhe… XD

To: dokter Jang

Baiklah, dokter… salam untuk Ha Na. Jangan sampai dia kelelahan mengurus pernikahannya. 😉

“Ah semuanya…aku harus kembali kerumah sakit. Ada yang harus aku selesaikan sebentar. Sukses untuk konfrensi pers nya ya…!” aku segera memasukkan hpku kedalam saku celana.

“Baiklah. Noona hati-hati di jalan ya.” Tae Min tersenyum.

Min Ho keluar dari ruangan sebelah.

“Min Ho aku harus kembali kerumah sakit. Sukses untuk konpers nya yaa… Aku permisi dulu, annyong, Onew-oppa…Jong Hyun-oppa! Key-oppa, aku pergi dulu… dadah, Tae Min!”

“Ya! Aku antar, hanniisa…!” ujar Min Ho sambil menarik tanganku.

Kutatap mata Min Ho, “Tidak usah. Aku bisa pergi sendiri, Min Ho. Lagipula apa jadinya kalau terlambat ke konfrensi pers. Ya sudah ya, Min Ho. Annyong!”

Aku ssgera membuka pintu dan melangkah keluar.

“Ya, tunggu!” samar-samar terdengar suara Min Ho.

“Min Hoooo!!! Bajukuuuu!!!” terdengar teriakan Jong Hyun-oppa.

Aku tertawa kecil.

****************

“Dokter Han, silahkan tanda tangan disini.” Ujar suster Geum.

Aku mengangguk. Kuambil pena yang diserahkan oleh suster Geum. Ternyata berkas tentang praktek pertamaku di rumah sakit ini. Tidak tertulis nama pasien seperti yang umumnya tertulis. Karena itu memang sudah kesepakatan antara agensi SHINee dengan rumah sakit ini.

Kutandatangani semua berkasnya. Setelah selesai, kuserahkan kembali map itu kepada suster Geum. Suster muda yang merupakan seorang shawol. Aku saja terkejut begitu mengetahuinya. Tidak kusangkaaa…

“Gomawo, dokter Han.” Suster Geum tersenyum.

Aku mengangguk. Kulirik televisi yang sedang menyala diruang dekat meja resepsionis rumah sakit.

“Ah ya, suster Geum… katanya SHINee akan ada konfrensi pers ya?” tanyaku sengaja. Berharap suster Geum akan menukar program tv nya.

Suster Geum mengangguk senang, “Ne… ini sebentar lagi disiarkan!! Ah… ini dia…!”

Suster Geum agak mendekat kearah tv. Aku ikut menatap layar televisi dengan antusias. Entah apa atau siapa yang membuatku begitu.

Konfrensi pers dimulai. Pertanyaan-pertanyaannya berkisar mengenai repackage album mereka. Tanpa kusadari aku tersenyum-senyum sendiri mendengar jawaban-jawaban mereka.

Pertanyaan untuk Min Ho-ssi… beberapa bulan yang lewat, SHINee mengakhiri masa promosi album sebelumnya dan kau tidak tampil dalam goodbye stages nya. Bisa kau ceritakan apa yang terjadi?” terdengar pertanyaan terlontar untuk Min Ho.

Aku menarik nafas panjang.

Apa benar kau sakit?” tanya wartawan yang lain.

Atau kau pergi keluar negeri?

Tolong ceritakan pada kami, Min Ho-ssi…

Min Ho tampak tersenyum, “Baiklah… aku minta maaf pada semuanya karena SHINee harus lebih awal mengakhiri goodbye stage nya pada promosi album sebelumnya. Mengenai ketidakikutsertaan ku pada goodbye stage kami, aku minta maaf. Saat itu aku sedang sedikit bermasalah dengan kesehatanku. Tapi, terimakasih buat orang  yang sudah merawatku selama itu…aku menyayangimu…

Aku tersenyum mendengar perkataan Min Ho. Dia menyayangiku? Ah, tidak! Bukan untukmuuu, Hanniisaaaaa!!

“Haaah… siapa yang merawatnya??? Aku jadi ingin tauuu!! Beruntung sekali bisa disayangi oleh Min Ho-oppa” gumam suster Geum.

Hanniisa…jangan merasaaa!!

Konferensi pers selesai. Aku tersenyum.

“Suster Geum, aku pulang dulu ya. Annyonghaseo…”

“Ah, dokter Han… kau tidak mau mengambil obat untuk pasienmu lagi? Bulan lalu kau memintanya pada tanggal segini.”

Aku menggeleng, “Sekarang dia sudah sembuh. Sangat sembuh.”

Aku tersenyum lalu kulambaikan tanganku. Aku segera menuju parkiran mobil. Tiba-tiba hpku berdering.

“But if I let you go…I will never know…what my life would be, holding you close to me…Will I ever see you smiling back to me…How will I know…if I let you go…”

From: Minhoooo-ppa

Dokter Hanniisa Han, kutunggu di atap gedung ShawoL tower. Malam ini jam 7. Jangan telat ya, dokter Han.

Ada apa ya? Sekarang masih jam 4 sore. Masih ada waktu 3 jam lagi untuk pulang dan bersiap-siap. Kenapa aku merasa akan terjadi sesuatu ya?

****************

Choi Min Ho POV

“Sudah hyung sms kan? Apa kata Hanniisa-noona?” tanya Tae Min.

“Dia tidak membalas apa-apa.” Kukeluarkan bajuku dari lemari, “Kenapa aku bingung mau memakai baju apa ya?”

Tae Min tertawa kecil, “Hanniisa-noona pasti datang kok, hyung. Kalau masalah bajumu, serahkan saja pada Key-hyung!”

“Ne. Benar. Ah ya, semoga sukses ya, Min Ho… aku tidak menyangka kau akan mendahuluiku.” Ujar Onew-hyung sambil tersenyum lebar. Matanya tampak tenggelam oleh senyumnya itu.

“Ah, hyung sih… orangnya ceroboh. Cuek lagi…” ujar Jong Hyun yang baru masuk ke kamar.

Aku dan Tae Min tertawa. Onew-hyung hanya manyun sambil kembali menatap layar laptopnya.

“Dasar dongsaeng durhaka.” Gumamnya pelan.

Aku tertawa kecil. Tae Min tertawa keras. Jong Hyun-hyung cemberut mendengar kata-kata Onew-hyung.

“Hyung yang durhakaaa…!”

“Yaaa! Kenapa lemari berantakan, Min Ho??” teriak Key yang baru saja menggebrak pintu.

Tae Min tertawa, “Min Ho-hyung bingung dengan pakaiannya.”

Jong Hyun hanya geleng-geleng kepala, Key menarik nafas panjang lalu tertawa kecil.

“Biar eomma kita saja yang pilihkan…!” sahut Onew-hyung dari balik laptopnya.

“Ya!!!” teriak Key pelan. Jong Hyun-hyung tertawa.

“Onew-hyung bikin masalah terus nih.” Ujar Tae Min.

“Sudaahlaah, Key-hyung pilihkan saja deh…” ujar Tae Min sambil mendorong Key kearah lemari pakaian.

“Mana bisa aku menolak permintaan anakku.” Key tertawa kecil.

Tae Min menatap Key aneh, “Mengerikan.” Gumamnya.

“Tolong ya, Key. Aku mau mandi dulu.” Ujarku pelan.

Key tersenyum, “Baiklah. Jangan khawatir…!”

Aku tersenyum, “Gomawooo!”

Aku segera masuk kedalam kamar mandi. Entah berapa lama aku menghabiskan waktuku dalam kamar mandi. Aku ingin tampil lebih dari hari biasanya.

Terdengar suara Tae Min dan Key, “Hyuuung! Bajunya sudah siap!!”

“Kuletakkan di kasurmu yaaa! Kami makan siang dulu!!!” teriak Key.

“NE!!! GOMAWO!!!” teriakku dari kamar mandi.

Aku segera menyelesaikan mandiku dan beranjak keluar kamar mandi. Segera aku masuk kedalam kamar. Kosong. Mereka semua paling cepat soal makanan. Aku tertawa kecil.

Kulihat diatas kasurku, sebuah kemeja putih cream dengan jas putih. Lalu celana jeans bewarna abu-abu. Aku tersenyum melihat pilihan Key. Ia tau benar seleraku. Tidak formal tapi tidak terlalu santai.

****************

Hanniisa Han POV

Kulihat lagi penampilanku di kaca. Sebuah dress selutut bewarna cream putih. Diluarnya aku mengenakan cardigan indigo. Ah tidak, ini lebih tua dari pada indigo.

Jam 6.15? Lama sekali aku bersiap-siap. Sepertinya aku harus segera berangkat. Aku tidak mau membuatnya menunggu terlalu lama. Segera kukenakan sepatu flat tanpa hak, kuraih tasku dan kunci mobil Ha Na. Kukunci pintu apartemen lalu aku segera menuju ke mobil.

Sampai di ShawoL tower aku segera memarkirkan mobil dan masuk kedalam. ShawoL tower adalah sebuah gedung yang tinggi, didalamnya terdapat departement store, toko-toko baju merek international, restoran, bioskop, salon. Yah, singkatnya seperti mall. Dan lantai atasnya yang luas itu disulap menjadi sebuah restoran terbuka. Malam-malam, kita bisa menyaksikan langit malam yang indah.

Aku masuk kedalam lift dan menekan angka 22. Apa ya yang mau dilakukan Min Ho? Mentraktirku makan karena comeback stage nya? atau apa yaa? Hah, memikirkannya saja sudah membuat jantungku berdegup tidak karuan.

Akhirnya aku sampai dilantai 22. Aku segera keluar lift dan melangkah menuju pintu yang menghubungkan atap dengan area restoran. Tampak sepi. Lampunya menyala. Tapi tidak semuanya. Apa aku salah tempat? BODOH!! Mana mungkiin!

Kubuka pintunya. Angin malam langsung menerpa tubuhku. Kurapatkan cardiganku erat. Perlahan aku melangkah. Entah kemana. Tidak tampak orang disini. Aku terus melangkah. Tiba-tiba mataku menangkap seseorang yang berdiri membelakangiku di dekat pembatas. Itu Min Ho!

Aku segera melangkah menujunya. Aku berhenti beberapa meter dibelakang Min Ho.

“Min Ho…” panggilku pelan.

Min Ho berbalik. Rambutnya sedikit terbang dibawa angin. Rapi sekali… jas bewarna putih dengan kemeja putih cream. Kenapa bisa sama dengan dress ku?

“Ne… kau datang tepat waktu.” Min Ho tersenyum. Ia mendekat kearahku.

Aku tersenyum, “Tentu saja.”

Min Ho terdiam sejenak, “Kau tau kenapa aku memintamu datang kemari?”

Aku menggeleng, “Aku tidak tau kenapa… kau mau mentraktirku karena comeback stage mu?”

Min Ho tersenyum, “Annyio. Bukan karena itu…”

“Lalu?” tanyaku.

“Apa kau menonton konfrensi pers kami tadi?” tanya Min Ho pelan.

Aku menggeleng. Bohong…

“Jadi kau tidak tau apa yang kukatakan?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng sekali lagi, “Memangnya apa yang kau katakan, Min Ho?”

Min Ho menghela nafas panjang. Sedetik kemudian ia tersenyum lembut. Tiba-tiba Min Ho mengeluarkan sesuatu dari kotaknya. Dibukanya kotak kecil itu. Jangan bilang…

Diraihnya tanganku,

“Aku mencintaimu. Apa kau mau menikah denganku, Hanniisa Han?” tanya Min Ho lembut. Lembuuut sekali.

Aku tidak dapat menguasai diriku. Kata-kata itu? Apa benar Min Ho mengucapkan kata-kata itu untukku? Apa tidak salah??

“Hanniisa…” panggil Min Ho.

Tidak terasa cairan bening itu jatuh dari pelupuk mataku. Min Ho menatapku dalam. Dihapusnya airmataku.

“Apa aku berbuat salah?” ujar Min Ho pelan.

Jantungku bedegup tidak karuan. Aku langsung memeluk Min Ho erat, “Saranghaeyo, Min Ho… aku mencintaimu…”

Min Ho tertegun, “Jadi?”

Aku mengangguk dalam pelukanku, “Ne… Min Ho…”

Sedetik kemudian ia langsung membalas pelukanku erat, “Gomawo, Hanniisa…Gomawo…”

****************

Beberapa bulan kemudian

Hanniisa Han POV

“Hann…” panggil Fabio.

Aku menoleh kearah belakangku, “Fabiooo?”

Fabio tersenyum, “Udah…gak usah berdiri.”

Fabio duduk disebelahku, “Selamat ya atas weddingnya. Ternyata kamu duluan nikah daripada aku. Sediiih…”

Aku tertawa kecil, “Nyusul deh, bi.”

Fabio tertawa, “Doain aja ya. Ah ya, kangen sama kamu deh, hann…”

“Aku juga, bi…” aku tersenyum.

“Mana Min Ho?” tanya Fabio.

“Ehm, lagi ke belakang. Ngambil minuman.” Aku tersenyum.

“Pesta kebun. Unik deh, hann…”

“Iya ya? Dennis ngusulin, bi. Katanya kenapa gak bikin pesta kebun aja. Makanya habis pesta di gedung, kita ngadain pesta pribadi gini nih… Kangen ma Dennis juga deh…”

“Keren deh. Iya, kangen ma Dennis nih.”

Aku tersenyum. Fabio tertawa kecil.

“Hann, gak nyangka ya… padahal kamu bilang gak pernah tertarik sama aktor atau penyanyi korea. Ingat gak?”

“Ya ampun, bi… kok masih inget sih? Dasar…” aku tertawa.

“Iya dong. Aku kan gak pikun. Untung bukan sama Ji Sung-hyung aja deh. Lagian, Ji Sung-hyung mana mau sama kamu.”

“Enak aja…!” aku tertawa kecil, “Fabii, Min Ho-oppa tuh bukan penyanyi atau aktor… Choi Min Ho itu pasien aku.”

Aku tersenyum. Fabio tertawa.

“Benar juga ya… Yaaah… tapi kan Choi Min Ho penyanyi juga. Dasar, Hanniisa…!”

****************

Choi Min Ho POV

“Aku tidak menyesal pernah depresi karena yeoja itu, nniisa…” ujarku sambil memeluk erat Hanniisa.

Hanniisa menoleh kebelakang, ditatapnya aku, “Kenapa tidak?”

“Yah… aku baru menyadarinya sekarang… kau pernah bilang ‘Terkadang ada suatu hal yang sangat berharga yang harus kita lepaskan. Itu bukan pertanda segalanya sudah berakhir. Tapi, itu adalah awal dimulainya sesuatu yang baru dalam hidup ini’. Aku baru benar-benar menyadari makna nya sekarang, nniisa… Karena depresi ku ini, akhirnya kita bertemu kan? Kalau saja aku tidak pernah depresi, mana mungkin kau bisa menjadi dokterku…”

Hanniisa tersenyum manis, “Ne…benar..”

Aku tersenyum, “Gomawo…”

“Gomawo apa, oppa?”

“Karena sudah menyadarkanku. Kau tidak hanya membuatku sembuh… tapi, kau datang untuk mengisi hatiku. Gomawo, dokterku…”

Hanniisa menatapku dalam, “Ne… chonmaneyo, pasienku…”

Hanniisa tersenyum manis. Manis sekali. Aku mengeratkan pelukanku, Hanniisa kembali menatap sunset yang indah di depan kami. Aku tersenyum.

FIN

©FF Party, SF3SI

This post made based on DECEMBER SPECIAL EVENT:

FF PARTY

 

Advertisements

10 thoughts on “[FF PARTY] End To Start – Part 4 (END)”

  1. Waaaa~
    akhirnyaaaa
    minho minho minho
    akhirnya mereka nikah jg,
    yeee happy ending…
    Keren sangat ff-mu ini thor…
    *angkat jempol bwt author*

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s